Jaka Lola ~ Jilid 24

“Ha-ha-ha'” sambung seorang yang matanya sipit hampir meram dengan ketawanya yang kasar. “Pui-twako tentu saja berhati-hati, apalagi menghadapi mawar merah yang selain berduri, juga dijaga siang malam oleh tukang kebunnya! Jangan-jangan tangan akan tertusuk pedang dan kepala akan dikemplang tukang kebun! Ha-ha-ha!” Si mata sipit mengerling ke arah meja muda-muda itu.

“Ah, mana Pui-twako takut akan semua itu? Pedang itu hanya untuk berlagak agar harganya naik menjadi mahal, tukang kebunnya pun kecil kurus, bisa berbuat apa terhadap Pui-twako? Tidak percuma Pui-twako dijuluki Tiat-houw (Macari Besi), siapa yang tidak mengenal Harimau dari Huang-ho?”

Orang yang disebut Pui-twako dan berjuluk Harimau Besi itu hanya tersenyum-senyum dan mengerling ke arah meja muda-mudi itu. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya pendek tapi tegap dan kelihatan kuat, sikapnya seorang jagoan aseli, tersenyum-senyum mengejek dengan pandangan mata acuh tak acuh dan memandang rendah segala di sekelilingnya. Mukanya yang kekuningan itu kini menjadi merah oleh pengaruh arak dan jelas sekali dia menjadi bangga mendengar puji-pujian teman-temannya.

“Aku bukan termasuk lelaki rendah yang suka mengganggu wanita baik-baik,” katanya dengan suara lantang, agaknya sengaja dikeluarkan agar didengar oleh gadis di seberang itu.

Yo Wan mengenal orang macam ini. Seorang dengan hati palsu dan mulut pandai bicara, pandai berlagak dan pandai pura-pura menjadi seorang gagah dan seorang yang baik hati. Akan tetapi ucapan ini dikeluarkan berlawanan dengan isi hatinya, hanya dengan maksud agar supaya dia kelihatan “berharga” dalam pandang mata wanita itu. Yo Wan tahu betul akan hal ini, karena suara dan pandang mata orang she Pui itu berlawanan, seperti bumi dengan langit.

“Ahhh, Pui-twako. Siapa yang tidak tahu bahwa kau seorang gagah perkasa? Mengganggu lain lagi dengan mengajak berkenalan. Gagah sama gagah, berkenalan dengan segala macam cacing busuk yang lemah, lebih baik berkenalan dengan Harimau Besi, sedikit banyak bisa ketularan kegagahannya!” kata si muka cacad sambil mengerling ke arah meja muda-mudi itu penuh arti.

Yo Wan makin mendongkol. Alangkah kurang ajar dan beraninya enam orang itu. Terang bahwa si pemuda diejek dan dihina, karena memang sikap dan pakaian pemuda itu seperti seorang pelajar yang pada masa itu sering kali diejek dengan sebutan cacing buku atau kutu buku. Akan tetapi muda-mudi yang dijadikan bahan percakapan dan bahan ejekan itu masih saja makan dengan lambat dan tenang, sama sekali tidak menghiraukan mereka berenam. Hanya terdengar gadis itu berkata, suaranya halus dan perlahan, seakan-akan bicara pada diri sendiri, tanpa melirik ke arah enam orang itu.

“Hemmm, banyak lalat-lalat kotor menjemukan di sini. Sayang…… biar bukan gangguan besar, sedikitnya mengurangi selera makan…..”

“Biarlah, Sumoi….. biasanya dekat sungai besar memang banyak lalat kotor. Tapi mereka tidak ada artinya…..” kata pemuda itu menghibur.

Yo Wan hampir tak dapat menahan ketawanya. Bagus, pikirnya. Kiranya mereka itu adalah kakak beradik seperguruan, dan tepat sekali sindiran mereka itu yang diam-diam memaki enam orang kasar itu sebagai ‘lalat-lalat hijau yang kotor’.

Tentu saja enam orang itu mengerti pula akan sindirian ini. Si pipi cacad bangkit berdiri menepuk meja. “Pui-twako, masa diam saja dihina orang? Kalau suhengnya kutu buku, tentu pedang sumoinya itu hanya hiasan belaka, untuk menakut-nakuti orang supaya dianggap pendekar-pendekar jempolan. Hayo minta maaf pada…..”

“Sssttttt, Gong-lote, jangan mencari gara-gara di sini!” tiba-tiba si Harimau Besi berkata tajam dan si pipi cacad itu segera duduk kembali.

“Pui-twako, orang-orang bilang singa-singaan batu dari restoran ini beratnya lebih dari tiga fratus kati dan tidak pernah ada yang kuat mengangkat. Dasar orang-orang lemah, siapa bilang tidak ada yang kuat angkat? Harap Pui-twako suka membantah kabar itu dengan membuktikan kepada mereka!”

Si Harimau Besi hanya tersenyum-senyum saja? “Ah, kalian ini ada-ada saja,” katanya ketika teman-teman yang lain juga membujuknya.

“He, pelayan-pelayan, ke sinilah!” teriak si mata sipit. Lima orang pelayan berlari menghampiri mereka sambil tertawa-tawa. Agaknya enam orang itu memang langganan mereka. “Apa betul selama ini tidak ada orang yang mampu mengangkut singa-singaan batu di depan itu?” tanya si sipit sambil menuding ke arah sebuah singa-singaan batu yang terukir kasar dan diletakkan di depan pintu restoran sebagai hiasan.

“Betul, Loya. Singa itu berat sekali. Empat orang baru dapat mengangkatnya, itu pun harus orang-orang kuat dan menggunakan tambang,” jawab seorang pelayan yang kurus.

“Ah, dasar orang-orang tiada guna. Lihat, Pui-twako akan mengangkatnya seorang diri tanpa bantuan siapa pun juga!” kata si mata sipit sambil memandang kepada orang she Pui.

“Ahhh, harap Loya jangan main-main! Singa itu beratnya lebih dari tiga ratus kati! Jangankan mengangkat, kalau hanya sendiri, menggeser saja tidak ada yang , mampu lakukan!”

Si mata sipit melotot, akan tetapi tetap sipit, karena memang lubang pelupuk matanya sempit. “Menggeser? Huh, dasar kalian ini gentong-gentong kosong. Lihat!” la melangkah lebar menghampiri singa-singaan batu, kedua lengannya memegang kepala singa-singaan itu dan sambil berseru “Hiyaaahhh!” la menggeser singa-singaan itu beberapa dim jauhnya!

“Wah, Loya kuat sekali!” lima orang pelayan itu memuji dan memandang kagum.

Si mata sipit mengangkat dadanya yang tipis dan yang bersengal-sengal. “Ini belum!” la menyombong. “Tapi Pui-twako yang di sana itu, dia mampu mengangkat singa-singaan ini. Kalian tidak tahu siapa itu adalah Tiat-houw Pui-enghiong, Harimau Besi dari Huang-ho! Aku sendiri, tenagaku tidak sebesar Pui-twako, akan tetapi sepasang golokku ini siapa berani melawan Huang-ho Siang-to (Sepasang Golok Huang-ho) inilah orangnya! Dan saudaraku di sana itu” Ia menudingkan telunjuknya ke arah pipi cacad, “Siapa tidak pernah mendengar nama Huang-ho Sin-piauw (Piauw Sakti dari Huang-ho)? Kami bertiga sudah ma-lang-melmtang di sepanjang Huang-ho, baru sekarang berkesempatan memperkenalkan diri di Leng-si-bun.”

Mendengar ini, lima orang pelayan itu segera menjura dengan muka berseri-seri, “Kiranya Sam-wi (Tuan Bertiga) tiga orang gagah juragan-Juragan perahu yang terkenal itu? Maaf, kami tidak tahu dan kurang hormat. He, teman-teman, lekas sediakan arak wangi, untuk menghormati tamu-tamu besar'”

Melihat sikap para pelayan yang menghormat mereka, diam-diam Yo Wan memperhatikan. Kiranya mereka itu adalah tiga orang juraga! perahu yang terkenal juga. Dan agaknya yang tiga lagi adalah pedagang-pedagang langganan mereka.

“Pui-twako, setelah kita memperkenalkan diri, harap suka turun tangan sedikit agar cacing-cacing buku tidak tertutup matanya!” kata pula Huang Siang-to yang bermata sipit.
“Bhe-lote, apa sih artinya angkat-angkat batu macam ini? Tidak ada artinya bagiku!” kata orang she Pui, akan tetapi dia melangkah ke arah singa-singaan batu, membungkuk, mengangkat dengan kedua tangannya lalu sekali dia berseru keras, singa-singaan batu itu sudah terangkat ke atas kepalanya!

Tepuk tangan menyambut demonstrasi ini, tepuk tangan para pelayan dan lima orang teman-teman si Harimau Besi. Ketika singa-singaan batu itu sudah diturunkan kembali, si Harimau Besi tidak kelihatan tersengal napasnya hanya mukanya yang kuning berubah merah.

Yo Wan yang memandang dari sudut matanya tentu saja tidak heran menyaksikan demonstrasi itu dan dia sekaligus maklum bahwa si Harimau Besi adalah seorang ahli gwakang yang bertenaga besar. Ketika dia melirik ke arah muda-mudi itu, dia melihat si gadis tersenyum mengejek. Diam-diam Yo Wan terkejut juga. Kalau gadis itu masih berani tersenyum mengejek setelah menyaksikan demonstrasi ini, tentu saja gadis itu mempunyai andalan dan menganggap demonstrasi itu bukan apa-apa. Mulailah dia menaruh perhatian dan kalau tadi dia agak mengkhawatirkan keselamatan muda-mudi itu, sekarang perhatiannya terbalik dan dia malah mengkhawatirkan keselamatan enam orang itu. la melihat kilatan mata yang penuh ancaman di atas bibir yang tersenyum mengejek.

“Dasar manusia-manusia tak tahu diri,” diam-diam Yo Wan berpikir, “benar-benar seperti rombongan monyet berlagak, mencari penyakit sendiri.”

Ahli golok bermata sipit she Bhe itu cengar-cengir, kini terang-terangan me-mandang ke arah meja si muda-mudi sambil berkata, “Kalau si kutu buku dan sumoinya sanggup mengangkat batu ini, biarlah kami takkan banyak bicara lagi. Akan tetapi kalau tidak sanggup, si kutu buku harus membiarkan sumoinya yang cantik manis untuk menemani kami minum beberapa cawan arak.”

Sungguh keterlaluan si mata sipit ini, kekurangajarannya sudah memuncak. Yo Wan ingin sekali memberi tahu agar muda-mudi itu pergi saja meninggalkan restoran dan menjauhi keributan. Akan tetapi muda-mudi itu enak-enak saja makan, lalu terdengar si gadis berkata mengomel,

“Suheng, makin lama lalat-lalat hijau busuk itu membosankan. Bagaimana kalau aku tepuk mampus binatang-binatang hina itu?”

“Ihhh, apa perlunya melayani segala macam lalat bau, Sumoi? Biarkan saja, memang biasanya lalat-lalat hijau itu hanya berkeliaran di tempat-tempat kotor, lalu menimbulkan suara ribut dan menyebar penyakit. Biarkan saja, mereka tentu akan mampus sendiri kelak.”

Muda-mudi itu tertawa geli sambil melanjutkan makan minum. Tiga orang jagoan itu kelihatan marah sekali, juga si pendek yang mengangkat batu tadi. Mukanya yang kuning menjadi merah, matanya melotot. la lalu mengangkat lagi singa-singaan batu, mengerahkan tenaga dan melontarkan singa-singaan itu ke atas, ke arah meja si muda-mudi. la sudah memperhitungkan bahwa dua orang muda itu tentu akan mengelak dengan melompat pergi sehingga singa-singaan batu akan menimpa dan menghancurkan meja dan mereka akan dapat mentertawakan dua orang itu. Batu besar itu berputaran ke atas, lalu menyambar ke arah meja si muda-mudi yang masih enak-enak saja makan minum seakan-akan tidak melihat datangnya bahaya!

Akan tetapi setelah singa-singaan batu itu melayang di atas kepala mereka dan agaknya akan menimpa mereka ber-dua dan meja di depan mereka, si nona cantik itu menggerakkan tangan kiri, dengan jari-jari terbuka, jari-jari tangan yang kecil meruncing dan halus itu hanya menyentuh batu itu tampaknya, akan tetapi batu itu tiba-tiba terputar diudara dan melayang kembali ke arah meja enam orang itu!

“Wah, celaka, lari….!” teriak si mata sipit. Karena tiga orang saudagar yang menjadi langganan mereka itu tak pandai silat, maka si mata sipit, si pendek, dan Si pipi cacad masing-masing menarik ? tangan seorang saudagar dan dibawa meloncat pergi dari dekat meja. Terdengar suara hiruk-pikuk ketika singa-singaan batu jatuh menimpa meja. Meja pecah, keempat kakinya patah-patah, mangkok piring hancur berantakan, sumpit beterbangan dan cawan-cawan arak tumpah.

“Ha-ha-ha!” Si pemuda tertawa.

“Hi-hi-hik!” Si pemudi mengikutinya. Akan tetapi mereka tetap saja makan minum tanpa pedulikan tiga orang jagoan yang melotot marah dan tiga orang saudagar yang menjadi pucat mukanya. Adapun Yo Wan yang masih duduk tenang, memandang kagum, akan tetapi juga merasa betapa gadis itu agak terlalu ganas. Enak saja bermain-main dengan batu seberat itu. Bagaimana kalau tadi menimpa kepala orang? Tentu akan remuk dan mati seketika juga.

“Kurang ajar!” Tiat-houw atau si Harimau Besi berseru marah. Dengan muka merah dia menarik singa-singaan batu dari atas meja yang sudah ringsek, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan kini dia melontarkan batu itu sekuatnya ke arah si nona manis! “Kauterimalah ini!”

Singa-singaan batu itu kali ini tidak melayang seperti tadi yang hanya dilon-tarkan ke atas ke arah meja si muda-mudi, melainkan langsung menyambar ke arah nona itu merupakan sambitan keras dan berbahaya. Namun, seperti juga tadi, nona itu dengan amat tenang masih terus asyik makan minum, malah pada saat singa-singaan batu sudah menyambar dekat, nona itu dengan tangan kirinya mengangkat cawan arak dan meminumnya! Para pelayan memandang dengan muka pucat, bahkan ada yang meramkan mata, tidak sampai hati menyaksikan nona cantik jelita yang sedang minum itu remuk kepalanya oleh singa-singaan batu Hanya Yo Wan yang dapat menduga apa yang akan terjadi maka dia pun enak-enak minum araknya.

Tepat seperti dugaan Yo Wan, nona itu dengan tangan kanannya mengangkat sepasang sumpitnya, dan secara mudah dan enak saja ia “menerima” batu itu dengan sumpit. Batu besar berbentuk singa itu terputar-putar di ujung sumpit, kemudian sekali menggerakkan lengan kanan, singa batu itu terbang dari ujung sumpitnya, kembali ke alamat pengirim. Semua ini dilakukan dengan cawan arak masih menempel di bibir!

“Aiiihhh…..”‘ Orang she Pui yang berjuluk Harimau Besi itu berteriak kaget sekali ketika melihat singa-singaan batu itu tiba-tiba menyambar ke arahnya. la tidak sempat lagi mengelak, terpaksa dia menggerakkan kedua lengannya menerima singa-singaan batu itu. Sambil mengerah-kan tenaganya dia menerima, akan tetapi alangkah kagetnya ketika singa-singaan batu itu ternyata berlipat kali lebih berat daripada tadi. Hal ini adalah karena batu itu dilontarkan dengan tenaga sinkang. Si pendek sombong berusaha menahan, namun dia terhuyung-huyung ke belakang, singa batu menghimpit dadanya dan setelah terhuyung-huyung sampai lima meter ke belakang dan menabrak meja, baru dia berhenti. Singa-singaan batu itu dia lemparkan ke sebelah kanannya dan dia batuk-batuk. Darah segar tersembur keluar ketika dia batuk-batuk itu, temudian dengan lemas dia men-jatuhkan diri ke atas kursi, napasnya terengah-engah, mukanya pucat, matanya meram. Jelas bahwa dia menderita luka di sebelah dalam dadanya, yang cukup hebat!

Kini terbukalah mata si mata sipit dan si pipi cacad bahwa gadis yang mereka tadi sebut-sebut sebagai bunga hutan liar itu benar-benar liar dan tentang durinya, jangan tanya lagi! Melihat teman mereka terluka hebat, si pipi cacad yang berjuluk Huang-ho Sin-piauw dan she Gong menjadi amat marah. Dengan gerakan yang tak dapat diikuti pandang mata saking cepatnya, tahu-tahu dia telah mengayun kedua tangannya bergantian ke arah muda-mudi itu dan terdengar teriakannya.

“Bocah-bocah mau mampus, makanlah ini!”

Sinar hitam berkelebatan menyambar ke arah meja muda-mudi itu ketika beberapa batang piauw menyambar. Tidak heran si pipi cacad ini berjuluk Piauw Sakti dari Huang-ho. Kiranya dia pandai sekali bermain piauw dan dapat menyambitkan senjata rahasia itu dengan gerakan yang cepat. Agaknya orang akan kalah cepat kalau harus berlumba mencabut dan mempergunakan senjata rahasia dengan si pipi cacad yang bermuka lonjong buruk itu.

“Menjemukan!” seru si gadis, matanya yang bening dan indah itu memancarkan cahaya kemarahan.

“Biarlah, Sumoi…..!” kata si pemuda yang mendahului sumoinya, menggerakkan & sumpitnya. Sumpit itu bergerak-gerak seperti tergetar. Terdengarlah suara “cring-cring-ering” beberapa kali disusul berkelebatnya sinar-sinar hitam ke atas lalu “cap-cap-cap-cap-cap!”, empat batang piauw sudah menancap pada langit-langit di atas pes luda itu! Si pemuda yang wajahnya masih belum tampak oleh Yo Wan karena pemuda itu duduknya membelakangi Yo Wan, kini bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa, minum araknya kemudian berdongak ke atas dan dari mulutnya tersembur arak lembut seperti uap yang terus menyambar ke langit-langit. Terdengar suara nyaring dan….. empat batang piauw yang menancap pada langit-langit itu rontok dan runtuh semua ke bawah!

“Hebat…..!!”

“Luar biasa…..!”

“Bagus sekali…..!!” demikian teriakan para pelayan yang menjadi amat gembira menyaksikan kesudahan-kesudahan dari serangan-serangan yang tadinya amat mengkhawatirkan itu. Yo Wan enak minum araknya. Semua ini sudah diduganya dan dia tidak heran, hanya dia merasa kagum akan sikap muda-mudi yang begitu tenang. Timbul keinginan keras di hati-nya untuk mengenal mereka.

Akan tetapi yang paling marah adalah si Piauw Sakti! Bagaimana julukannya Piauw Sakti akan dapat bertahan terus kalau permainan piauwnya diperlakukan seperti lalat-lalat menyambar oleh pemuda tak terkenal itu? Timbul pikiran yang licik dalam benaknya. Tadi si gadis mendemonstrasikan tenaga yang hebat ketika menghadapi singa-singaan batu. Kini yang menghadapi piauwnya adalah si pemuda, agaknya ini membuktikan bahwa si gadis tidaklah sehebat si pemuda dalam menghadapi piauw. Untuk menebus kekalahannya, si pipi cacad kembali mengayun senjata-senjata rahasianya, kali ini sekaligus dia nienyambitkan enam batang piauw yang kesemuanya menyambar ke arah si gadis, bahkan menyambar ke enam bagian tubuh yang berbahaya.

“Suheng, kali ini jangan larang aku!” terdengar si gadis berkata halus, tiba-tiba ia meloncat bangun dan sepasang sumpit telah berada di kedua tangannya. Dengan gerakan yang cepat kedua tangan yang memegang sumpit itu menangkis, terdengar suara nyarlng berkali-kali dan sinar-sinar hitam itu menyambar kembali ke arah penyerangnya!

Si pipi cacad kaget sekali, cepat mengelak, namun dia hanya dapat menghindarkan diri dari empat batang piauw, sedangkan yang dua batang lagi telah menancap di pundak dan pahanya. la memekik dan roboh, termakan senjatanya sendiri seperti keadaan kawannya si pendek tadi!

Melihat perkembangan peristiwa itu menjadi pertandingan yang mengakibatkan luka dan darah, para pelayan yang tadi gembira menyaksikan demonstrasi kepan-daian yang mengagumkan, sekarang men-jadi bingung dan ketakutan. Ingin mereka melerai, ingin mereka minta agar supaya orang keluar dari restoran kalau hendak berkelahi, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka berani bicara. Karena itu mereka hanya lari ke sana ke mari dan saling pandang dengah muka pucat, tak tahu harus berbuat apa seperti ayam hendak bertelur.

Kini tinggallah seorang jagoan lagi, yaitu si mata sipit yang berjuluk Huang-ho Siang-to. Orang she Bhe ini melihat dua orang kawannya sudah terluka, diam-diam merasa gentar juga dan maklum bahwa ternyata mereka bertiga yang selama ini menjagoi daerah lembah Sungai Huang-ho di bagian Leng-si-bun, kiranya telah tersandung batu! la maklum bahwa kedua orang muda itu adalah pendekar-pendekar yang berilmu tinggi. Akan tetapi melihat dua orang kawannya terluka, tak mungkin dia diam saja. Ke mana akan disembunyikan mukanya kalau dia tidak membela? Nama besarnya tentu akan menjadi bahan ejekan orang. Maju dan kalah oleh lawan yang lebih lihai bukanlah hal memalukan, akan tetapi mundur teratur tanpa melawan, benar-benar tak mungkin dapat dia lakukan.

“Bocah-bocah sombong, siapakah kalian berani bermain gila di daerah ini? Hayo layani sepasang golok dari Huang-ho Siangrto, kalau dapat mengalahkan sepasang golokku, barulah boleh disebut gagah!”

Pemuda itu hanya tersenyum, akan tetapi si pemudi mendengus dengan sikap mengejek. “Suheng, agaknya tukang cacah daging bakso ini sudah sinting, mau apa dia bawa-bawa golok pencacah bakso?
Biar kuhabiskan saja dia…..”

“Ssttt, jangan. Biarkan, kita lihat mau apa tikus ini…..” kata si pemuda.

Tentu saja si mata sipit tahu bahwa dirinya yang dimaki tukang cacah bakso dan tikus, maka kemarahannya memuncak. Matanya menjadi makin sipit dan mukanya merah sekali. “Keparat, kalian yang akan kujadikan bakso…..” Sambil berkata demikian, dia mengayun dan menggerakkan kedua goloknya di atas kepala. Sepasang golok itu berkelebatan mengeluarkan sinap berkeredepan.

Mendadak gerakannya terhenti dan si mata sipit terkejut dan heran karena dia merasa betapa sepasang goloknya terhenti di tengah udara, di belakang kepalanya seakan-akan tersangkut sesuatu. Betapapun dia berusaha membetotnya, tapi sia-sia. Cepat dia membalikkan tubuh dengan bulu tengkuk meremang dan terpaksa dia melepaskan kedua goloknya. Apa yang dilihatnya? Ketika dia membalikkan tubuh, di depannya telah berdiri seorang laki-laki bertubuh pendek, berkepala botak. Laki-laki ini mengangkat kedua tangannya dan ternyata sepasang goloknya itu telah dijepit oleh jari tengah dan telunjuk yang ditekuk. Dapat dibayangkan betapa hebat tenaga orang ini, kareha dengan dua jari menjepit sebuah punggung golok, si mata sipit tak mampu membetotnya! Ketika si mata sipit melihat bahwa di belakang orang pendek ini masih terdapat tujuh orang pendek lain kesemuanya berdiri tegak dan angker, tiba-tiba tubuhnya meng-gigil dan dia berkata gagap.

“Ki….. kipas….. Kipas Hitam…..” Mendengar suara ini, para pelayan berserabutan lari melalui pintu belakang restoran dan sebentar saja mereka tidak tampak lagi. Diam-diam Yo Han memperhatikan hal ini dan dia dapat menduga bahwa nama Kipas Hitam tentulah sudah terkenal dan ditakuti orang. Cepat dia memandang penuh perhatian. Laki-laki yang menjepit sepasang golok dengan jari tangannya itu, benar-benar pendek tubuhnya, pendek gempal dan tegap, tampak amat kuat sepasang lengannya yang juga pendek itu. Di pinggangnya tergantung sarung pedang yang panjang dan agak bengkok, sedangkan di ikat pinggang depan terselip sebuah kipas berwarna hitam. Tujuh orang di belakang-nya pun seperti itu dandanannya, hanya bedanya, orang yang di depan itu sarung pedangnya lebih indah. Agaknya kipas-kipas hitam yang berada di pinggang mereka itulah yang menjadi tanda bahwa mereka adalah anggauta-anggauta Kipas Hitam. Dan lucunya, mereka semua, delapan orang ini kepalanya dicukur botak tinggal di atas kedua telinga dan di sebelah belakang saja.

Laki-laki pendek yang menjepit golok itu lalu berkata, suaranya kaku dan asing, “Tiga ekor cumi-cumi banyak tingkah!” Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan entah bagaimana, tahu-tahu tubuh si mata sipit sudah melayang keluar dari restoran setelah melalui jarak belasan meter. Dua orang jagoan lain, si pipi cacad dan si pendek muka kuning yang sudah terluka, tahu-tahu sudah melarikan diri diikuti oleh tiga orang saudagar. Mereka inilah yang mengangkat si golok sakti dan setengah diseret pergi dari tempat itu!

Yo Wan dapat menduga sekarang. Agaknya rombongan Kipas Hitam ini adalah perampok-perampok atau lebih tepat agaknya bajak-bajak laut, mengingat akan makiannya tadi. Hanya orang orang yang biasa berlayar saja agaknya yang akan menggunakan nama binatang laut cumi-cumi untuk memaki orang, Apalagi orang pendek ini suaranya kaku dan asing. Mereka inilah bajak laut-bajak laut Jepang seperti yang pernah didengar Yo Wan dari percakapan orang-orang di sepanjang perjalanan!

Sementara itu, sepasang muda-mudi ywng tadinya kelihatan tenang-tenang saja itu, kini bangkit dari tempat duduk mereka. Agaknya sebutan Kipas Hitam tadi yang membuat mereka serentak bangkit dan memandang tajam kepada delapan orang yang baru tiba. Kini Yo Wan dapat melihat bahwa si pemuda juga amat tampan dan gagah, tubuhnya tegap dan biarpun tidak tampak, Yo Wan dapat mengetahui bahwa pemuda itu menyembunyikan sebatang pedang di balik jubahnya, jubah seorang pelajar. Pandang mata yang amat tajam dari pemuda itu satu kali melirik ke arahnya, dan tercenganglah hati Yo Wan. Biarpun hanya melirik satu kali, namun pandang mata itu tajam menembus hati, seakan-akan si pemuda itu sudah dapat menilainya hanya dengan sekali lirikan saja!

“Hemmm, bukan pemuda sembarangan. Harus hati-hati menghadapi orang seperti ini…..” pikirnya.

Keadaan di restoran itu tegang. Para pelayan sudah lari menyingkir, juga di depan restoran tampak sunyi. Agaknya orang-orang di sltu sudah mehdengar akan kedatangan delapan orang pendek-pendek ronibongan Kipas Hitam. Muda-mudi itu sudah berdiri berhadapan dengan pemimpin rombongan, saling pandang seperti lagak jago-jago mengukur pandang dan saling menaksir lawan. Akhirnya si pendek itu bertanya, suaranya ketus, kasar dan kaku, “Kalian berdua yang membunuhi teman-teman kami di pantai Laut Po-hai seminggu yang lalu?”

Gadis itu melangkah maju dan dengan sikap menantang ia berkata nyaring,

“Kalau betul, kalian mau apa? Kalian inikah bajak laut Kipas Hitam? Apakah kau kepalanya?”

Kepala rombongan itu mengeluarkan suara makian dalam bahasa asing, sikapnya mengancam. “Kami tidak diberi perintah untuk membunuh kalian, hanya diperintah untuk mengajak kalian ikut menghadapi kongcu (tuan muda) kami.

“Mau apa dia? Siapa kongcu kalian itu?” tanya si gadis, lalu terdengar bisiknya kepada suhengnya, “Suheng, kau awasi tikus di belakang kita itu, dia mencurigakan…..”

Si pemuda membalikkan tubuhnya dan sekali lagi Yo Wan tercengang ketika melihat sinar mata tajam menyambarnya dl samping senyuman mengejek. Ia tahu bahwa dirinya dicurigai, maka untuk menyembunyikan wajahnya, dia menegak araknya dan berkata seperti orang sinting, “Ahhh ….. arak habis para pelayan pergi semua. Ke manakah orang-orang tolol itu?”

Sementara itu, si pendek menerangkan dengan suara kaku, “Kongcu adalah pemimpin kami, sekarang kongcu menanti di pantai. Kalian harus ikut dengan kami menghadap kongcu.”

“Mau apa dia?”

“Kalian bicara sendiri dengan kongcu, kami hanya diperintah untuk mengajak kalian dengan baik, harap kalian jangan membantah lagi…..”

“Kalau kami tidak mau?” tanya pula si gadis.

“Hemmm……. hemmmmm……. mudah-mudahan jangan begitu. Mau tidak mau kalian harus menghadap kongcu. Kongcu bilang bahwa kalian bukanlah orang-orang pengecut yang tidak berani menghadapi pemimpin Kipas Hitam'”

“Aku tidak mau! Persetan dengah kongcu kalian! Pergi dari sini, kalian mau apa kalau aku tidak mau?” tantang si gadis dengan sikap menantang, sedangkan si pemuda tetap tenang saja, kadang-kadang melirik ke arah Yo Wan yang dicurigai.

Si pendek itu sejenak memandang dengan mata mengancam, kemudian dia menarik napas panjang. “Sayang,” katanya, “Sudah lama aku tidak bertemu lawan yang pandai. Segala macam cumi-cumi seperti juragan-juragan perahu tadi hanya menjemukan saja. Alangkah senangnya kalau dapat mengadu ilmu dengan kalian yang kabarnya lihai. Sayangnya, kongcu tidak memperkenankan kami mengganggu kalian. Kongcu mengundang kalian dengan baik-baik, untuk diajak bercakap-cakap entah urusan apa. Kalau saja tidak ada pesan dari kongcu, sudah sejak tadi samuraiku bicara!” Sambil berkata demikian dia menepuk-nepuk pedang panjang yang tergantung di pinggangnya sambil berkata, “Cakar Naga, jangan kecewa, mereka bukan musuh…..”

“Sumoi, kalau orang yang mereka sebut kongcu itu hendak bicara, mari kita pergi menemuinya. Kita bukanlah pengecut, takut apa bertemu dengan peminipin Kipas Hitam?” kata si pemuda, agaknya tertarik juga menyaksikan sikap orang Jepang itu.

“Wah, tidak ada alasan untuk bersikap murah dan mengalah, Suheng. Kalau memang ingin bicara, mengapa yang menyebut dirinya kongcu itu tidak datang sendiri menemui kita? He, orang pendek. Pedangmu kausebut Cakar Naga, tentu kau pandai bermain pedang. Dengarlah! Kalau kau dapat mengalahkan aku dengan pedangmu, baru kuanggap kau cukup pantas menjadi utusan untuk mengundang kami. Kalau tidak dapat, jangan banyak cerewet lagi!”

Orang Jepang itu mengangkat muka, keningnya berkerut lalu dia menepuk dada dengan tangan kirinya. “Aku Kamatari tidak pernah mundur menghadapi tantangan siapapun juga, akan tetapi aku taat kepada perintah kongcu. Nona, mungkin kau berkepandaian, akan tetapi harap kau jangan memandang rendah samurai Cakar Naga di tanganku. Lihatlah betapa saktinya Cakar Naga!” Sambil berkata demikian, Kamatari menggunakan kakinya menendang sebuah bangku kayu yang berada di dekatnya. Bangku itu terlempar ke atas dan pada saat bangku melayang turun, tiba-tiba tampak sinar berkeredepan berkelebat beberapa kali, terdengar suara “crak-crak!” perlahan. Dalam sekejap mata, sinar berkeredepan itu, lenyap dan….. bangku yang sudah terbelah menjadi tiga potong itu runtuh ke bawah. Anehnya, yang sepotong melayang ke arah meja Yo Wan menimpa di atas meja membikin pecah mangkok dan menggulingkan cawan arak!

Yo Wan tidak berkata apa-apa, hanya berdiri sebentar, mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena percikan arak, lalu duduk kembali dengan tenang. la maklum bahwa orang Jepang yang lihai ilmu pedangnya dan besar tenaga dalamnya itu agaknya mencurigainya dan sengaja mementalkan sepotong kayu bangku kearahnya untuk memancing. Tentu saja dia dapat melihat betapa tadi orang pendek itu mencabut pedang samurainya dengan gerakan yang betul-betul cepat serta mengandung tenaga yang hebat. Demikian cepatnya gerakan Kamatari sehingga bagi mata orang biasa, orang pendek ini tidak berbuat apa-apa, karena sebelum potongan-potongah bangku jatuh ke tanah, samurainya sudah kembali ke sarungnya. Seperti main sulapan saja!

Kamatari mengerling sekejap ke arah Yo Wan, kemudian dia menghadapi nona itu, wajahnya membayangkan kepuasan dan harapan bahwa kali ini gadis itu akan menjadi Jerih dan suka menurut. Akan tetapi dugaannya meleset jauh. Gadis itu berpaling kepada suhengnya dan berkata, “Suheng, bukankah lucu sekali badut pendek ini?”

“Sumoi, jangan main-main. Agaknya dia jujur dan mari kita menemui kongcu itu, kita lihat apa kehendaknya,” jawab suhengnya yang agaknya tidak ingin men-cari keributan.
“Suheng, setelah dia mengeluarkan pedang cakar ayamnya, kalau kita menurut saja, bukankah orang akan meng-anggap kita ini tidak becus apa-apa? Biarkan aku main-main sebentar dengannya.”

Si pemuda menghela napas, lalu jawabnya lirih, “Sesukamulah, akan tetapi jangan menimbulkan gara-gara.”

Si gadis tersenyum manis. “Aku hanya ingin main-main, siapa hendak menimbulkan gara-gara?” Kemudian ia menghampiri Kamatari dan berkata, “Namamu Kamatari dan pedangmu yang bengkok adalah pedang cakar ayam, ya? Sengaja ia mengganti Cakar Naga dengan cakar ayam. “Bagus, aku pun punya pedang yang saat ini kuberi nama pedang penyembelih ayam. Boleh kau coba-coba layani pedangku ini, Kamatari. Sekali lagi kunyatakan bahwa kalau kau tidak bisa menangkan pedangku ini, aku tidak sudi bertemu dengan kongcumu!” Setelah berkata demikian, gadis itu mencabut sebatang pedang dengan perlahan. Tertawalah orang-orang Jepang yang berada di belakang Kamatari ketika melihat sebatang pedang pendek dengan ukuran kurang lebih dua puluh cun (satu cun ±2 senti meter), warnanya hitam sama sekali tidak mengkilap, bahkan warna hitamnya hitam kotor seperti tanah. Dan jauh tampak seperti pedang terbuat dari-pada tanah lempung saja. Tentu saja orang-orang Jepang yang terkenal dengan pedang-pedang samurai mereka yang terbuat daripada baja tulen dan berkilauan saking tajamnya itu tertawa mengejek menyaksikan pedang si nona yang begitu buruk dan pendek. Akan tetapi diam-diam Yo Wan kagum. Ia maklum bahwa pusaka yang ampuh tampak sederhana. seperti juga orang pandai kelihatan bodoh dan air dalam kelihatan tenang.

Kamatari juga tertawa. Suara ketawanya pendek-pendek susul-menyusul dan kepalanya bergoyang-goyang, kemudian dia menoleh kepada teman-temannya yang masih berdiri seperti barisan de-ngan tubuh tegak di belakangnya. “Kalian mendengar sendiri, dia yang memaksaku bermain-main, harap. kalian nanti dapat melaporkan kepada kongcu agar aku tidak dipersalahkan.” Setelah berkata demikian, dia melangkah maju menghadapi gadis itu sambil berkata, lagaknya sombong.

“Aku sudah siap Nona!”

Nona itu tersenyum mengejek, akan tetapi alisnya yang hitam kecil itu bergerak-gerak. “Cabut pedangmu, orang sombong!”

“Cakar Naga tak pernah meninggalkan sarungnya kalau tidak perlu. Nona boleh menyerang.”

“Cih, siapa sudi? Aku bukan orang yang suka menyerang orang tak memegang senjata. Kalau kau mengajak kami menemui kongcumu, kau harus menyerang dan mengalahkan pedangku. Habis perkara!”

“Begitukah? Nah, lihat pedangku!” Kamatari tiba-tba mengeluarkan pekik menyeramkan, tubuhnya menerjang maju didahului sinar berkilauan. Bagi mata orang biasa, gerakan mencabut dan mempergunakan pedang samurai tidak akan tampak, yang kelihatan hanya sinar pedang yang menyilaukan mata. Akan tetapi gadis itu agaknya dapat melihat jelas karena sekali menggeser kaki ia telah mengelak ke kiri.

“Crakkk!” terdengar suara kayu terbelah. Kamatari sudah berdiri tegak lagi, tangan kiri dengan jari terbuka melindungi dada, tangan kanan tergantung di plnggang, dekat gagang pedang, akan tetapi pedangnya sendiri sudah bersarang di dalam sarung pedangnya lagi. Meja yang tadi berada di dekat gadis itu, meja kosong, bergoyang-goyang, tidak kelihatan disentuh, tidak kelihatan rusak, akan tetapi perlahan-lahan miring lalu roboh menjadi dua potong. Begitu tajamnya samurainya, seakan-akan meja itu terbuat daripada agar-agar saja!

“Hi-hi-hik, mengapa kau berhenti, Kamatari? Kalau hanya membelah meja, anak kecil pun bisa!”

“Jagalah ini. Haiiiiittttt!” Kamatari sudah menerjang lagi, didahului sinar samurainya yang berkelebatan menyambar-nyambar. Sambaran pertama dihindarkan oleh gadis itu dengan melejit ke kanan, sambaran ke dua yang menyerampang kakinya dia hindarkan dengan loncatan indah ringan ke atas melalui meja. Serangan ke tiga yang luar biasa sebat dan berbahayanya, dia tangkis dengan pedang hitamnya.

“Cring….. tranggggg…..!!” Dua kali samurai tajam mengkilat bertemu pedang pendek hitam buruk. Bunga api berpijar menyilaukan mata dan tampak Kamatari terhuyung ke belakang sedangkan gadis berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tersenyum.

“Kenapa berhenti lagi? Kau mau merusak pedangku?” Gadis itu mengeJek.

Kini Kamatari mengurangi lagaknya. Pedang samurai tidak dimasukkan ke dalam sarung Pedangnya, melainkan dipegang di tangan kanan. la tadi terkejut setengah mati karena selain Pedang buruk lawannya itu dapat menahan samurainya, juga telapak tangannya serasa hendak pecah-pecah dan kuda-kuda kakinya tergempur. Tahulah dia bahwa gadis di depannya ini sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Kini dia tidak main-main aksi-aksian lagi, dan menyerang dengan sungguh-sungguh. Terdengar mulutnya mengeluarkan pekik berkali-kali, pekik serangan, dan samurainya menyambar-nyambar menjadi gulungan sinar memanjang. Gerakannya penuh tenaga dan gesit samuramya selalu membalikdan mengikuti gerakan si gadis yang mengelak ke sana ke mari. Namun dia seakan-akan menyerang bayangannya sendiri. Ke manapun dia menyabet, selalu samurainya membelah angin belaka.

Diam-diam Yo Wan terkejut dan matanya terbelalak, jantungnya berdebar. Baginya, pemandangan di depan mata ini mengejutkan. Betapa tidak? Ia mengenal baik gerakan gadis itu, gerakan mengelak sambil berloncat-loncatan, jongkok, berdiri, terhuyung-huyung. Biarpun ada beberapa perbedaan, namun tak salah lagi, itulah gerakan-gerakan yang mirip sekali dengan Si-cap-it Sin-po, yaitu empat puluh satu jurus langkah ajaib yang dia pelajari dan suhunya, Pendekar Buta. Memang gaya dan perkembangannya berbeda, namun dasarnya memiliki persamaan yang tidak dapat diragukan lagi tentu dari satu sumber. Keduanya memiliki ciri-ciri yang khas dari gerakan seekor burung, atau jelasnya, gerakan seekor burung rajawali.

Setelah bertempur kurang lebih lima puluh jurus lamanya, tiba-tiba gadis itu membuat gerakan aneh, tubuhnya meloncat ke atas seperti hendak menubruk. Kamatari berseru heran, pedangnya menyambar memapaki tubuh itu, akan tetapi secara indah dan mengagumkan sekali kaki kiri gadis itu menendang dari samping sehingga sekaligus mengancam pergelangan tangan lawan sedangkan pedang hitamnya berkelebatan di depan muka Kamatari. Sebelum jago Jepang itu dapat menyelami jurus yang aneh ini, tiba-tiba dia merasa pundaknya sakit dan terhuyunglah dia ke belakang. Kiranya pundak kirinya sudah terluka oleh ujung pedang hitam, membuat tangan kirinya serasa lumpuh!

Cepat dia menyimpan samurainya dan menutupi lukanya, lalu menjura sampai dalam. “Ilmu pedang Nona sungguh hebat …”.

Pada saat itu berkelebat bayangan putih, cepat dan tak terduga gerakannya, seperti seekor burung dara melayang memasuki restoran itu.

“Sumoi, awas…….!” seru si pemuda yang sudah melompat maju.

Gadis itu cepat mengangkat pedangnya, akan tetapi ia tertahan dan tertegun melihat bahwa yang meloncat masuk ini adalah seorang pemuda berpakaian serba putih berkembang-kembang kuning yang indah sekali, sebuah muka yang tampan luar biasa, dengan sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang pagi, sepasang bibir yang merah dan tersenyum amat tampannya! Begitu kaki pemuda ini menginjak tanah, tangannya bergerak dan dua bayangan putih melayang ke depan, langsung sinar ini menyambar ke arah leher si gadis. Gadis itu berseru keras dan mengelak ke belakang, akan tetapi tiba-tiba sinar putih ke dua menyambar pedangnya dan di lain saat pedang itu sudah terlibat sesuatu dan terampas dari tangannya!

“Kembalikan pedang, Sumoi!” Si pemuda menerjang maju, gerakannya cepat dan amat kuat sehingga diam-diam Yo Wan kagum melihatnya. Akan tetapi lebih kagum lagi hati Yo Wan menyaksikan gerakan pemuda baju putih yang baru masuk, karena sekali menjejakkan kedua kaki, tubuh pemuda baju putih itu sudah melayang keluar restoran, meninggalkan dua sinar putih menyambar yang diikuti teriakannya nyaring, “Awas senjata rahasia!”

Si pemuda kaget sekali, apalagi ketika melihat dua sinar putih berkilauan menyambar ke arah jalan darah yang berbahaya di tubuhnya. Cepat dia me-ngibaskan lengan baju dan runtuhlah dua senjata rahasia itu. Anehnya, senjata rahasia itu hanyalah dua potong uang perak! Uang perak untuk senjata rahasia benar-benar merupakan hal yang langka, pemboros mana yang menghamburkan uang perak begitu saja? Ketika dia memburu keluar, pemuda baju putih itu sudah lenyap!

Marahlah si pemuda. Sekali dia bergerak, dia sudah menangkap Kamatari, menjambak baju pada punggungnya dan mengangkatnya ke atas seperti orang mengangkat seekor kelinci saja!

“Tikus busuk! Kalau kami menghendaki, apa susahnya mencabut nyawamu yang tak berharga? Hayo katakan, siapa bangsat tadi'”

Kamatari terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa si pemuda begini galak dan begini kuat. Tentu saja dia tidak sudi diperlakukan seperti ini, maka dia membentak, “Lepaskan bajuku!” dan tangannya memukul. Akan tetapi tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi kaku, kedua lengannya yang bergerak hendak memukul seakan-akan berubah menjadi dua batang kayu kering!

“Keparat, jangan banyak lagak kau! Hayo bilang siapa dia tadi!”

Tahulah kini Kamatari bahwa pemuda ini memiliki ilmu yang luar biasa. Percuma untuk berkeras kepala lagi, maka dengan suara merintih dia berkata,

“Dia adalah kongcu kami. Baiknya kongcu masih tidak berniat memusuhi kalian. Kalau kalian ada kepandaian, boleh datang merampas pedang di pantai Po-hai di dusun Kui-bun, cari gedung Yo-kongcu!”

Dengan sekali gerakan, pemuda itu melempar tubuh Kamatari ke belakang. Jago Jepangini menambrak kawan-kawan-nya dan roboh terguling, ditolong teman-temannya, lalu mereka pergi dari tempat itu dengan cepat. Si pemuda teringat akan Yo Wan, cepat dia melompat dan membalikkan tubuh. Akan tetapi pemuda tenang yang mencurigakan hatinya tadi telah lenyap dari situ, di atas mejanya terletak beberapa potong uang, agaknya untuk membayar makanan dan minuman. Makin curigalah pemuda itu.

“Sumoi, kita harus mengejar si baju putih she Yo itu.”

“Mari, Suheng. Aku pun gemas sekali terhadap manusia itu. Kalau dia tidak menyerang secara menggelap, jangan harap dia bisa merampas pedangku Hek-kim-kiam (Pedang Emas Hitam)!” Biarpun mulutnya berkata demikian, diam-diam hatinya berdebar, matanya terbayang wajah yang tampan itu dan ia sendiri merasa sangsi apakan ia akan mampu menandingi pemuda luar biasa itu.

Pemuda itu memanggil pelayan, dengan suara nyaring. Datanglah seorang pelayan berlari-lari, diikuti oleh empat temannya. Agaknya para pelayan yang sejak tadi bersembunyi, sekarang berani keluar lagi setelah keadaan menjadi reda dan pertempuran berhenti.

“Hitung semua, termasuk pengganti kerusakan-kerusakan di sini akan saya bayar.”

Pelayan itu membungkuk-bungkuK dan tersenyum-senyum penuh hormat. “Harap Kongcu jangan repot-repbt, semua sudah dibayar lunas.”

“Siapa yang membayar?” Pemuda itu mengangkat alisnya.

“Yang membayar pemberi benda ini kepada Kongcu, semua sudah dibayarnya dan meninggalkan benda ini yang harus saya serahkan kepada Kongcu.” Sambil berkata demikian, pelayan itu menyerahkan sebuah kipas dari sutera hitam.

Pemuda itu mengerutkan kening, akan tetapi menerima juga kipas itu sambil bertanya, “Siapa dia?”

“Siapa lagi kalau bukan yang terhormat pangcu (ketua) dari Hek-san-pang (Perkumpulan Kipas Hitam) yang tersohor? Kiranya Kongcu dan Siocia (Tuan Muda dan Nona) adalah sahabat-sahabat Hek-san-pangcu, maaf kalau kami berlaku kurang hormat…..”

Pemuda itu mengerutkan kening, menggeleng-geleng kepala lalu meninggalkan restoran itu bersama sumoinya.

“Benar-benar manusia aneh. Apa artinya dia membayari semua hidangan, mengganti semua kerusakan dan memberi kipas hitam ini kepada kita? Apakah ini semacam hinaan lain lagi? Keparat!”

“Kurasa kalau orang membayar makan minum kita dan memberikan kipasnya, hal itu bukanlah berarti penghinaan, Suheng. Coba buka kipasnya, barang kali ada maksud di dalamnya.”

Pemuda itu membuka kipas sutera hitam. Benar saja, kipas sutera hitam yang amat indah dan berbau semerbak harum itu ditulisi dengan tinta putih, merupakan huruf-huruf bersyair yang halus indah gayanya,

“Berkawan sebatang pedang menjelajah laut bebas, sunyi sendiri merindukan kawan dan lawan seimbang hati mencari-cari…..”

“Bagus…..!” tak terasa lagi ucapan ini keluar dari mulut mungil gadis itu. Si pemuda cepat menoleh, memandang dan sepasang pipi gadis itu menjadi merah sekali. la merasa seakan-akan sajak itu ditujukan khusus kepadanya. Pemuda yang aneh, luar biasa, tampan dan berkepandaian tinggi, merasa sunyi, merindukan kawan yang memiliki kepandaian seimbang! Dan pedangnya dirampasnya, dengan maksud supaya ia datang ke sana!

“Pemuda sombong, atau cengeng…..’.”

Si pemuda malah mencela. Sumoinya diam saja, takut kalau-kalau tanpa disadarinya mengucapkan sesuatu yang membuka rahasia hatinya. Mereka segera melakukan perjalanan cepat, menuju ke timur, melalui sepanjang lembah Sungai Kuning, menuju ke pantai Po-hai.

Pemuda dan sumoinya itu bukanlah pendekar-pendekar biasa, bukanlah petualang-petualang biasa di dunia kang-ouw. Si pemuda adalah putera tunggal dari pendekar besar Tan Sin Lee. Seperti kita ketahui, pendekar besar putera Raja Pedang ini tinggal di Lu-liang-san, ber-sama isterinya yang bernama Thio Hui Cu murid Hoa-san-pai. Pemuda inilah putera sepasang suami isteri pendekar itu yang bernama Tan Hwat Ki, berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, seorang pemuda yang sejak kecilnya digembleng oleh orang tuanya dan mewarisi ilmu silat tinggi.

Adapun sumoinya, gadis jelita itu, bernama Bu Cu Kim. Pendekar besar Tan Sin Lee mempunyai murid sepuluh orang jumlahnya termasuk putera mereka. Akan tetapi di antara para murid, yang paling menonjol kepandaiannya adalah Bu Cui Kim. Cui Kim adalah anak yatim piatu, ayah bundanya sudah meninggal dunia karena penyakit yang merajalela didusunnya. Karena kasihan kepada anak yang bertulang baik ini, Tan Sin Lee mengambilnya sebagai murid, bahkan karena mereka tidak mempunyai anak perempuan sedangkan Cui Kim sejak kecil kelihatan amat rukun dengan Hwat Ki, Cui Kim lalu dianggap anak sendiri. Demikianlah, semenjak kecil Cui Kim seakan-akan menjadi adik angkat Hwat Ki dan bersama putera suhunya itu mempelajari ilmu silat tinggi.

Pada suatu hari di puncak Lu-liang-san menerima kunjungan seorang tamu yang bukan lain adalah Bun Hui, putera Bun-goanswe yang tinggal di Tai-goan. Boleh dibilang, di antara pendekar-pendekar keturunan Raja Pedang, yang paling dekat tinggalnya dengan Tai-goan dan kota raja, adalah Tan Sin Lee inilah. Lu-liang-san terletak di sebelah barat kota Tai-goan, bahkan dari kota itu sudah kelihatan puncaknya. Maka, begitu menghadapi kesulitan, Bun-goanswe teringat akan sahabat baiknya ini dan menyuruh puteranya mengunjungi Tan Sin Lee. Di dalam suratnya, Bun-goanswe minta bantuan Tan Sin Lee dan muridnya untuk membantu negara yang sedang menghadapi banyak gangguan. Di dalam surat itu, dia ceritakan betapa gangguan dari fihak Mongol di utara masih makin menghebat sehingga kaisar sendiri berkenan memimpin barisan untuk menumpas perusuh-perusuh dari utara itu. Diceritakan pula betapa bajak-bajak laut di laut timur juga merupakan penggang-gu-pengganggu keamanan, tidak saja bagi para nelayan di laut, akan tetapi juga di darat sepanjang pesisir Laut Po-hai. Demikian besar gangguan ini sehingga kai-sar sendiri memerintahkan kepada Bun-goanswe untuk mengerahkan tenaga menumpas para bajak laut itu kalau mereka berani mendarat. Bun-goanswe sudah melakukan usaha ini, akan tetapi ternyata bahwa para bajak laut Jepang itu bersama-sama bajak laut bangsa sendiri, mempunyai banyak orang-orang yang berilmu tinggi sehingga banyak sudah perwira dari kota raja yang tewas di tangan para bajak laut. Karena inilah Bun-goanswe mengharapkan pertolongan Tan Sin Lee dan murid-muridnya.

Dan inilah pula sebabnya maka pendekar Lu-liang-san itu menyuruh puteranya sendiri ditemani oleh Cui Im, turun gunung melakukan penyelidikan ke pantai Po-hai. Sepasang orang muda ini sengaja menyewa perahu berlayar di sepanjang pantai Po-hai. Betul saja, pada suatu hari perahu itu diganggu bajak laut yang menggunakan bendera Kipas Hitam. Akan tetapi kali ini para bajak laut menemui hari naas karena mereka itu kocar-kacir dan banyak yang tewas di tangan sepasang pendekar dari Lu-liang-san ini. Kemudian karena mendengar bahwa banyak bajak mengganas pula di sepanjang Sungai Huang-ho, Hwat Ki dan sumoinya lalu pergi ke kota Leng-si-bun di tepi Sungai Huang-ho, memasuki rumah makan dan terjadi peristiwa dengan anak buah Kipas Hitam seperti yang telah dituturkan di bagian depan.

Tentu saja Hwat Ki dan Cui Im menjadi girang karena mereka mendapatkan jejak ketua perkumpulan Kipas Hitain yang merupakan gerombolan bajak laut yang cukup terkenal, di samping bajak-bajak laut lainnya yang banyak mengganas di sepanjang pantai timur.

Hari telah menjadi hampir malam ketika kedua orang pendekar muda dari Lu-liang-san ini tiba di dusun Kui-bun. Dusun ini bukanlah dusun besar, hanya didiami oleh para nelayan yang tidak lebih dari tiga puluh buah keluarga banyaknya. Di setiap rumah nelayan itu nampak jala-jala dibentangkan, dan di pinggir rumah banyak terdapat bekas-bekas perahu dan tiang-tiang layar. Di ujung yang paling jauh dari pantai, terdapatlah sebuah rumah gedung besar yang kelihatan ganjil karena jarang terdapat gedung sedemikian besarnya di dusun sekecil itu. Di pantai laut itu sendiri banyak terdapat para nelayan besar kecil sibuk bekerja, agaknya mereka itu sedang memasang atau pun menarik jaring dari pantai. Biasanya kalau hari mulai gelap itulah mereka menarik jaring dan kalau untung mereka baik, mereka akan menarik banyak ikan di dalam jaring.

Hwat Ki dan Cui Kim segera tertarik oleh rumah gedung itu. “Kiranya takkan salah lagi, tentu gedung ini sarang mereka,” kata Hwat Ki kepada sumoinya.

“Akan tetapi sebaiknya kalau kita mencari keterangan dulu, Suheng. Di tempat yang asing ini, sungguh tak baik kalau kita keliru memasuki rumah orang.

Hwat Ki mengangguk, menyuruh adik Seperguruannya itu menanti di tempat gelap, lalu dia sendiri melangkah cepat menuju ke pantai. Dengan lagak seperti sudah mengenal baik orang yang dicarinya, dia bertanya dengan lantang kepada seorang nelayan,

“Sahabat, ingin saya bertanya. Di manakah tinggal seorang bernama Yo-kongcu? Apakah rumah gedung itu?”

Mendadak sekali orang-orang yang tadinya sibuk bekerja itu berhenti bergerak dan memandang kepada Hwat Ki. Melihat ini, pemuda itu dapat menduga bahwa agaknya mereka ini pun anak buah pimpinan Kipas Hitam itu, atau setidaknya tentu teman-teman baik, maka cepat-cepat dia menyambung, “Saya adalah sahabat baiknya, belum pernah datang ke sini, tidak tahu di mana rumahnya. Apakah gedung besar itu?”

Seorang nelayan setengah tua mengangguk pendek. “Betul.” Kemudian dia memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

Hwat Ki lega hatinya, cepat dia kembali ke tempat Cui Kim menanti. “Sudah kuduga bahwa orang she Yo itu tentu berkuasa di sini. Orang-orang itu agaknya takut kepadanya. Sumoi, mari kita ke sana.”

Keduanya lalu berjalan menghampiri gedung besar. Di sekitar gedung itu gelap, akan tetapi tampak sinar lampu-lampu menerangi sebelah dalam gedung yang dikelilingi tembok setinggi satu setengah tinggi orang. Hwat Ki dan adiknya mengelilingi luar tembok dan mendapat kenyataan bahwa pintu satu-satunya hanyalah pintu depan yang tertutup rapat.

“Kita ketuk saja pintunya,” kata Cui Kim.

“Hemmm, takkan ada gunanya. Mengunjungi tempat lawan tak perlu banyak aturan. Mengetuk pintu berarti membuat mereka siap untuk menjebak kita. Mari!” Pemuda itu menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya melayang naik ke atas tembok, diikuti oleh Cui Kim. Bagaikan dua ekor burung walet mereka sudah meloncat dan berdiri di atas tembok.

Terang sekali di sebelah dalam tembok. Ruangan depan rumah gedung itu pun amat terang dan bersih, akan tetapi sunyi tidak tampak ada orangnya.

“Orang she Yo! Kami datang untuk minta kembali pedang!” teriak Tan Hwat Ki dengan suara lantang. Adapun Cui Kim berdiri di dekatnya dengan tegak, siap menghadapi segala kemungkinan.

Sunyi menyambut suara teriakan Hwat Ki yang bergema sedikit di dalem gedung. Kemudian terdengar suara halus dan nyaring, “Silakan masuk, pintu tidak dikunci dan kami menanti di ruangan tengah!”

“Hati-hati, Suheng, jangan-jangan musuh mengatur perangkap!” bisik Cui Kim.

“Tak usah takut, marilah!” kata Hwat Ki yang melayang turun ke ruangan depan. Dengan gerakan lincah sekali Cui Kim mengikutinya, melompat turun ke atas lantai ruangan depan yang licin dan bersih itu tanpa mengeluarkan suara. Sejenak keduanya berdiri memandang ke sekeliling dengan sikap waspada. Ruangan ini, yang merupakan ruangan depan menyambung halaman, amat bersih dan indah. Ketika mereka memandang ke dalam, di sebelah kiri dinding ruangan penuh dengan tulisan-tulisan bersajak. Mereka lalu melangkah ke dalam melalui di pintu besar yang memang tidak tertutup.

Ruangan tengah itu luasnya ada lima belas meter persegi, juga terhias lukisan-lukisan indah dan di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar dikelilingi bangku-bangku terukir burung hong. Empat orang duduk mengelilingi meja dan seorang di antaranya adalah kongcu yang berpakaian serba putih. Melihat pemuda baju putih ini duduk di kepala meja, dapatlah diduga bahwa dia menjadi pemimpinnya. Tiga orang yang lain adalah dua orang laki-laki setengah tua dan seorang wanita berusia empat puluh tahun yang rambutnya sudah berwarna dua dan di gelung tinggi-tinggi di atas kepala. Melihat sikapnya, tiga orang setengah tua ini tentu bukan orang sembarangan pula. Seorang di antara dua laki-laki itu bertubuh pendek gemuk, modelnya seperti Kamatari, juga di pinggang orang ini tergantung pedang samurai. Mudah diduga bahwa dia seorang Jepang, tubuh dan mukanya tidak bergerak-gerak, akan tetapi sepasang matanya lincah bergerak ke kanan kiri. Yang seorang pula bertubuh tinggi kurus, bajunya lebar dan lengan bajunya panjang, kumisnya tipis panjang bertemu dengan jenggotnya yang menutupi dagu dan leher. Mereka berempat kini memandang kepada sepasang orang muda yang baru datang.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: