Jaka Lola ~ Jilid 25

Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata yang lembut dari pemuda baju putih, tiba-tiba jantung Cui Kim terasa berdebar tidak karuan. Akan tetapi begitu ia melihat pedang hitamnya terietak di atas meja depan pemuda itu, timbul kemarahannya. Seketika sinar matanya berapi-api dan dia berteriak dengan nyaring.

“Dengan muslihat curang kau telah merampas pedangku. Orang she Yo, kalau kau memang jantan, kembalikan pedangku dan kita boleh bertanding sampai seribu jurus!”

Pemuda itu tersenyum, bangkit dari bangkunya lalu memberi hormat dengan membungkuk dalam-dalam. “Bukan salahku…..!” jawabnya sambil tersenyum ramah. “Aku mengutus orang mengundang kalian baik-baik, kalian tidak datang malah menyerang orangku. Kalau tidak merampas pedang mana bisa memancing kalian datang pada malam ini?” Berkata demikian, mata pemuda baju putih itu menatap wajah Hwat Ki dengan tajam dan pandang mata penuh selidik.

Hwat Ki tetap tenang, memang pemuda ini semenjak kecil memiliki sikap yang tenang. la maklum bahwa bersama sumoinya dia telah memasuki gua harimau, akan tetapi sedikit pun dia tidak gentar.

“Setelah kami datang untuk minta kembali pedang, apakah yang hendak kaubicarakan dengan kami?” tanyanya.

Pemuda baju putih itu kembali tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih dan rapi. Hwat Ki harus mengakui bahwa wajah orang ini memang amat tampan.

“Banyak yang hendak kami bicarakan. Akan tetapi, kalian berdua adalah tamu-tamu kami, silakan duduk. Sebelum menjamu tamu terhormat, mana bisa bicarakan urusan penting? Silakan duduk, ataukah….. barangkali kalian takut kalau-kalau kami menipu? Apakah kalian tidak berani duduk?”

Hwat Ki tersenyum mengejek. “Takut apa?” la lalu melangkah maju, diikuti sumoinya. Keduanya lalu duduk di atas bangku, berhadapan dengan empat orang itu. Tiga orang setengah tua itu pun berdiri dan mengangguk, dibalas oleh Hwat Ki dan Cui Kim yang merasa heran dan aneh, karena sama sekali tidak menyangka mereka akan diterima sebagai tamu. Hanya adanya pedang Hek-kim-kiam di atas meja itu yang membikin suasana menjadi kaku. Agaknya tuan rumah merasai hal ini. Dipungutnya Hek-kim-kiam dan disodorkannya pedang itu kepada Cui Kim sambil berkata,

“Silakan, Nona. Ini pedangmu, maaf atas kelancanganku tadi.”

Cui Kim menerima pedangnya dengan kedua pipi merah dan kembali jantungnya berdebar tidak karuan. Semangatnya serasa terbetot oleh senyum dan pandang mata yang menarik itu. Setelah menyimpan pedang ke dalam sarung pedangnya, kembali ia duduk dengan muka tunduk.

Si pemuda baju putih bertepuk tangan tiga kali dan bermunculanlah pelayan-pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik, berjumlah lima orang. Mereka sibuk membawa datang hidangan-hidangan lezat dan arak wangi yang mereka tuangkan ke dalam eawan enam orang itu dengan gerakan dan gaya yang manis. Si pemuda baju putih itu dengan ramah-tamah mempersilakan kedua orang tamunya makan dan minum arak.

Memang sehari itu, Hwat Ki dan sumoinya baru makan sekali, yaitu di rumah makan kota Leng-si-bun sebelum tengah hari, tentu saja pada saat itu mereka sudah merasa lapar. Hwat Ki yang tahu bahwa fihak tuan rumah menguji ketabahan mereka, tentu saja tidak sudi memperlihatkan kekhawatiran. Dengan wajar dan tenang dia mulai makan minum menemani tuan rumah dengan enaknya. Hanya Cui Kim yang merasa canggung. Sebagai seorang gadis, ia berbeda dengan gadis biasa dan baginya sudah biasa merantau di dunta kang-ouw, makan bersama orang-orang lelaki bukanlah hal yang menyulitkan. Akan tetapi entah bagaimana, berhadapan dengan tuan rumah she Yo yang muda, tampan dan luar biasa itu, membuat hatinya bergoncang dan sepasang sumpit yang dipegangnya agak gemetar!

“Nona, mengapa sungkan-sungkan? Marilah, harap kau suka mencoba masakan ini. Ini masakan sirip ikan Hiu Harimau, Nona tentu belum pernah mencobanya, bukan? Silakan!” Pemuda Yo itu mengangkat mangkok masakan itu dan menawarkannya kepada Cui Kim. Dengan amat ramah dia menawarkan beberapa macam masakan, malah menuangkan arak memenuhi cawan gadis itu sehingga si gadis menjadi makin canggung dan jengah.

Diam-diam Hwat Ki mendongkol sekali. Tuan rumah yang masih muda dan tampan ini, biarpun amat ramah, namun agaknya terlalu manis sikapnya terhadap Cui Kim. la diam-diam menduga bahwa orang she Yo ini tentulah seorang pemuda hidung belang, seorang kongcu yang gila akan wanita cantik. Buktinya para pelayannya tadi pun muda-muda cantik-cantik dan lagaknya menarik, membayangkan pendidikan cukup. la takkan heran kalau para pelayan itu pandai bernyanyi, menari dan main musik untuk menghibur hati sang kongcu hidung belang. Oleh karena dugaan ini, Hwat Ki bersikap waspada dan hati-hati. Siapa tahu, pancingan ini pada hakekatnya hanya untuk menjadikan sumoinya yang cukup cantik sebagai korban!

Sikap pemuda she Yo itu makin manis terhadap Cui Kim, selalu tersenyum dan mengajak Cui Kim bercakap-cakap Malah kelancangannya makin menjadi ketika dia bertanya sambil tersenyum manis dan rnengerling tajam.

“Nona, agaknya lebih patut aku menyebutmu adik. Aku berani bertaruh bah-wa usia kita sebaya, akan tetapi lebih enak aku menyebut adik. Berapakah usiamu tahun ini dan eh….. betul juga, aku belum mengetahui namamu. Namamu tentu indah, sama manis dengan orangnya.

Muka Cui Kim menjadi merah sekali, sampai ke telinga dan lehernya. Karena sikap yang manis dan pembicaraan yang manis tadi ia sampai lupa akan kewaspadaan dan agak terlalu banyak minum arak. Mungkin inilah yang membuat ia sekarang merasa betapa badannya panas dingin dan jantungnya berdegupan hampir meledak mendengar kata-kata itu. Biasanya, ia akan marah dan memukul atau sedikitnya memaki orang yang berani bersikap begini lancang kepadanya.

Akan tetapi entah mengapa, kali ini ia hanya menundukkan muka dan mulutnya berkata gagap,

“Aku….. namaku….. Bu Cui Kim dan….. dan…..”

“Sumoi, tak perlu memperkenalkan diri pada orang yang belum kita ketahui keadaannya!” tiba-tiba Hwat Ki memotong, lalu menarik bangkunya agak mundur dari meja, menggunakan ujung lengan baju menghapus bibirnya, kemudian dia berkata, suaranya tenang dan penuh wibawa,

“Sahabat, kami berdua sudah menerima undanganmu, sudah makan dan minum hidanganmu, semua ini kami lakukan untuk melayanimu sebagaimana lajimnya kebiasaan di dunia kang-ouw. Sebagai orang yang mengundang, berarti kaulah yang mempunyai urusan dengan kami, maka sudah sepatutnya kalau kau yang harus memperkenalkan dirimu kepada kami dan menyatakan secara terus terang apa yang tersembunyi di dalam hatimu terhadap kami.”

Begitu melihat sikap suhengnya dan mendengar ucapan ini, sadarlah Cui Kim. la pun segera menarik bangkunya menjauhi meja, mukanya masih merah akan tetapi kini pandang matanya berkilat dan penuh curiga!

Pemuda berbaju putih itu tersenyum lebar, sebelum bicara dia menggunakan sehelai saputangan putih bersih menghapus mulutnya. Agak keras dia menggosok-gosok bibirnya yang berleporan minyak masakan itu sehingga ketika dia menurunkan saputangan itu, sepasang bibirnya menjadi merah seperti dipulas gincu. Makin tampan wajahnya sehingga kembali Cui Kim harus menekan perasa-n hatinya yang bergelora. Selama hidupnya baru kali ini Cui Kim mengalami hal seaneh ini melihat seorang pemuda. Akan tetapi, memang pemuda ini luar biasa tampannya!

“Sayang, kalian masih belum percaya bahwa aku mengandung maksud hati yang baik. Padahal kalau dipikir, kau telah membunuhi belasan orang-orang kami, bahkan kau tadinya tidak mengindahkan undangan kanu. Baiklah aku memperkenalkan diri. Aku adalah keturunan campuran antara bangsamu dan darah Jepang, namaku Yosiko atau boleh diubah menjadi Yo Si Kouw.” la tersenyum.

Dengan masih berdiri dan sikapnya angker, Hwat Ki berkata, pandang matanya tajam menyelidik,

“Kau bernama Yosiko dan menjadi ketua dari perkumpulan bajak Kipas Hi-tam yang mengganggu keamanan Laut Po-hai dan muara Sungai Kuning. Terus terang saja, kami berdua kakak beradik seperguruan memang bertugas untuk membersihkan daerah ini daripada gangguan bajak! Karena itulah ketika anak buahmu mengganggu, kami bunuh mereka. Nah, sekarang kau mengundang kami, ada keperluan apakah?”

Ucapan Hwat Ki ini merupakan tantangan langsung. Akan tetapi Yosiko tidak menjadi marah, bahkan tersenyum dan memandang kagum.

“Kau benar gagah berani! Apa kaukira mudah saja membasmi kami? Apa kau berani menghadapi kami yang banyak, sedangkan banyak perwira kerajaan tewas di tangan kami?”

“Orang she Yo, kalau tadi aku sudah berani mengaku terus terang di depanmu, berarti kami tidak takut menghadapi kalian! Akan tetapi karena sikapmu berbeda dengan bajak-bajak yang kasar, bahkan kau telah mengundang kami dan menjamu sebagai tamu, biarlah kunasihatkan agar kau segera kembali ke tempat asalmu dan jangan melanjutkan pekerjaan kotor menjadi bajak di daerah ini. Aku sudah bicara dan kalau tldak menghargai saranku, baiklah, terpaksa aku melupakan kebaikanmu dan menganggapmu sebagai musuh!”

Yo-kongcu itu tertawa, giginya putih berkilat. “Ah, alangkah gagahnya! Kau tentu she Tan, bukan? Bukankah kau putera dari ketua Lu-liang-pai dan ayahmu bernama Tan Sin Lee?”

Hwat Ki tidak menjadi heran. Sebagai seorang kepala bajak, tentu saja kepala bajak muda ini mempunyai banyak kaki tangan dan penyelidik sehingga dapat mengetahui keadaan dirinya. “Memang aku Tan Hwat Ki dan ayahku bernama Tan Sin Lee ketua dari Lu-liang-pai. Setelah tahu akan hal itu, lebih baik kau menerima saranku, hentikan pembajakan-pembajakan di daerah ini.”

“Ahhh, benar dugaanku. Orang sendiri! Eh, Tan Hwat Ki, enak saja kau menyuruh orang menghentikan pekerjaan. Kalau aku tidak mau mundur, bagaimana?”

“Pedangku akan membereskan segalanya!” kata Tan Hwat Ki sambil menepuk gagang pedangnya. la maklum bahwa menghadapi kepala bajak yang aneh dan lihai ini, perlu sikap tegas, karena mereka berdua sudah berada di sarang harimau.

“Tapi….. tapi aku tidak ingin bermusuhan denganmu!”

Kini Cui Kim yang merasa tidak enak kalau diam saja, menjawab. “Kalau tidak ingin bermusuhan, lebih baik menerima saran Suhengku, sebelum terlambat dan pedang kami membasmi kalian!”

“Wah-wah-wah, galaknya!” Yo-kongcu mengeluh. “Tan Hwat Ki, dengarlah sekarang maksud hatiku. Aku sengaja mengundang kau dan Sumoimu ke sini dengan maksud baik. Ketahuilah bahwa telah lama aku mendengar nama besar jago-jago di daratan, di antaranya jago dari Lu-liang-san. Aku mempunyai seorang adik perempuan yang sedang mencari jodoh, sukarnya, dia menghendaki jodoh seorang pemuda yang dapat mengalahkan aku! Nah, kulihat kau cukup hebat, maka ingin aku mencoba kepandaianmu.” Setelah berkata demikian, Yo-kongcu yang aneh ini melolos sehelai sabuk sutera putih dan sebatang pedang yang kecil panjang.

Merah sekali wajah Hwat Ki, juga dia menjadi makin marah. “Ucapanmu tidak karuan, orang she Yo! Siapa sudi melayani ucapan gila-gilaan itu? Hayo lekas kau memilih, mengundurkan diri dari wilayah ini dengan aman atau harus makan pedangku!”

“Bagus, Tan Hwat Ki, kau majulah. Memang aku hendak menguji kepandaian-mu!” tantang ketua Hek-sin-pang (Perkumpulan Kipas Hitam) itu.

“Suheng, biarkai. aku maju merihadapi bajak ini!” tiba-tiba Cui Kim meloncat maju dengan pedang Hek-kim-kiam di tangan.

Pemuda tampan baju putih itu tersenyum, membuat wajahnya menjadi ganteng sekali. “Aha, adik yang manis. Apakah kau juga hendak memasuki sayembara?”

“Apa….. apa maksudmu?”

“Agaknya kau sama dengan adik pe-rempuanku, mencari jodoh dengan menguji kepandaian pemuda yang disukainya. Kau hendak menguji kepandaianku?”

Wajah Cui Kim menjadi merah sekali.

“Setan kau…..!!”

“Sumoi, tunggu! Laki-laki ceriwis ini tak perlu kaulayani, serahkan kepadaku. He, orang she Yo! Kalau kau memang laki-laki sejati, jangan mengganggu wa-nita dengan ueapan kotor. Hayo kau tandingi pedangku!”

“Srattt!” Tampak sinar berkilauan ketika pemuda dari Lu-liang-san ini mencabut pedang. Pedangnya pendek saja, akan tetapi pedang ini mengeluarkan cahaya menyilaukan dan mengandung hawa dingin. Inilah pedang yang terbuat daripada logam putih yang sudah terpendam di dalam salju ribuan tahun lamanya, maka diberi nama Swat-cu-kiam (Pedang Mustika Salju). Karena logam putih itu tidak banyak terdapat, maka hanya dapat dibuat menjadi sebatang pedang pendek saja. Logam putih itu didapatkan oleh Tan Sin Lee di puncak gunung yang selalu tertutup salju, dibuat menjadi pedang pendek dan diberikan kepada puteranya.

Pada saat itu, dari pintu samping melompat masuk seorang pemuda. Pemuda ini pendek tegap tubuhnya, kelihatan kuat sekali, mukanya agak hitam karena sering terbakar sinar matahari, pakaiannya ringkas dan kepalanya dicukur botak semodel dua orang kakek yang duduk di situ, tangannya memegang pe-dang Samurai dan matanya berkilat-kilat penuh kemarahan.

“Yosiko….. eh, Yo-kongcu, tidak ada laki-laki yahg cukup berharga menandingimu sebelum menangkan Shatoku!”

Yo-kongcu kelihatan kaget dan membentak, “Shatoku, mundur…..!”

“Maaf, dia harus mengalahkan aku lebih dulu!” Setelah berkata demikian, pemuda Jepang yang bernama Shatoku itu menerjang ke depan, ke arah Hwat Ki sambil memekik keras,

“Haaaiiiiittt!”

Pedang samurainya berkelebat bagaikan halilintar menyambar, kuat dan cepat bukan main, jauh lebih kuat dan lebih cepat daripada gerakan samurai di tangan Kamatari. Menyaksikan gerakan ini, Hwat Ki tidak berani memandang ringan. la dapat menduga apa yang terjadi. Tentu pemuda Jepang yang bernama Shatoku ini seorang yang mencinta atau tergila-gila kepada gadis adik ketua Kipas Hitam dan kini menjadi cemburu. Diam-diam dia mendongkol sekali kepada orang she Yo itu, juga dia marah kepada pemuda Jepang ini yang datang-datang menerjangnya dengan mati-matian. la harus perlihatkan kepandaian. Cepat dia mempergunakan langkah-langkah Kim-tiauw Sin-po (Langkah Ajaib Rajawali Emas) yang dia warisi dari ayahnya. Begitu dia mainkan langkah-langkah ini, sinar samurai yang menyambar-nyambar bagaikan halilintar itu selalu mengenai tempat kosong. Pemuda Jepang Shatoku itu menjadi penasaran sekali. Dia seorang yang terkenal paling hebat di antara pemuda bangsanya yang menjadi anggauta Kipas Hitam. Masa sekarang dia tidak mampu merobohkan seorang pemuda kurus yang kelihatan lemah? Samurainya diputar secepatnya dan kini serangannya mengeluarkan bunyi berdesingan di samping menciptakan gulungan sinar yang melibat-libat di sekitar tubuh Hwat Ki.

Setelah mainkan Kim-tiauw Sin-po sampai tiga puluh jurus sambil memperhatikan gerakan lawan, tahulah sekarang Hwat Ki rahasia dan kelemahan ilmu silat pedang lawannya yang aneh itu. Ilmu pedang itu hanya mengandalkan tenaga dan kecepatan, tanpa ada variasi atau kembangan, juga tenaga yang diandalkannya hanya tenaga kasar. Memang harus diakui amat cepat dan andaikata dia tidak mempunyai Ilmu Kim-tiauw Sin-po, agaknya serangan kalang-kabut seperti hujan badai itu sedikitnya akan membuat dia gugup dan kacau. Setelah mempelajari gerakan lawan, tiba-tiba Hwat Ki mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya berkelebat dan bagi pandangan Shatoku, tiba-tiba lawannya lenyap dari pandangan matanya. Kemudian dia mendengar angin di belakangnya, cepat samurainya dia kelebatkan ke belakang. Namun hanya mengenai angin belaka dan tahu-tahu, sebelum dia sempat menjaga karena tidak tahu lawan menyerang dari mana, Shatoku merasa betapa dadanya dimasuki sesuatu yang amat dingin sehingga membuat dia menggigil. Samurainya terlepas dari tangan, dia terhuyung-huyung lalu roboh miring. Dari dadanya mengucur keluar darah karena dada itu sudah ditebusi pedang Swat-cu-kiam!

“Yosiko…..” bibirnya berbisik sedangkan matanya yang sudah mulai pudar sinarnya itu ditujukan ke arah ketua Kipas Hitam.

Orang she Yo itu membuang muka dan berkata, “Salahmu sendiri, Shatoku. Kau tidak tahu diri, seperti si cebol merindukan bulan. Matilah dengan tenang, kau roboh di tangan seorang pendekar gagah!”

Mata Shatoku tertutup dan matilah pemuda Jepang itu. Atas isyarat Yo-kongcu, empat orang laki-laki muncul dan membawa pergi jenazah itu, sedangkan para pelayan wanita cepat membersihkan sisa-sisa darah di lantai dengan kain dan air. Cepat pekerjaan ini dan sebentar saja keadaan sudah bersih kembali seperti semula.

“Tan Hwat Ki, kepandaianmu cukup untuk menandingi aku. Hayo majulah!” Yo-kongcu berseru, pedangnya tegak lurus ke atas di depan keningnya, sabuk sutera putih di tangan kiri digulung. Gaya kuda-kuda ini indah dipandang, akan tetapi juga aneh dan asing.
“Orang she Yo, sekali lagi kunasihatkan supaya kau mundur dan menarik semua bajak dari daerah ini, kembali ke tempat asalmu. Contohnya orangmu tadi, terpaksa kurobohkan karena secara kurang ajar dia menyerangku tanpa sebab. Aku sungguh tidak ingin membunuh orang yang baru saja menjamu kami.”

“Tak perlu banyak cakap lagi, Tan Hwat Ki. Kalau kau dapat menangkan aku, kau akan menjadi jodoh adikku, kalau tidak, terpaksa kami memberi hukuman atas kelancanganmu membunuh banyak orang anggauta Kipas Hitam.”

“Bagus, kaulihat baik-baik pedangku!” Hwat Ki segera menikam dengan jurus Kim-tiauw-liak-sui (Rajawali Emas Sambar Air). Mula-mula jurus ini digerakkan dengan lambat, akan tetapi secara men-dadak berubah cepat dan dahsyat sekali, yang dijadikan sasaran sekaligus adalah tiga tempat, yaitu tenggorokan, ulu hati dan pusar! Ujung pedang tergetar menjadi tiga, biarpun menusuk secara berturut-turut, namun saking cepatnya seakan-akan merupakan tiga batang pedang menusuk sekaligus.

“Bagus!” Yo-kongcu memuji dalam bahasa Jepang, dan sepasang kakinya dengan cekatan melangkah ke samping dan sekaligus terhindarlah dia daripada pedang lawan.

“Ehhh…..!!” Hwat Ki berseru kaget melihat cara lawannya menghindarkan diri dan cepat dia menerjang lagi bertubi-tubi dengan tiga jurus dirangkai sekaligus tanpa memberi kesempatan lawan balas menyerang. Pancingannya berhasil karena Yo-kongcu melanjutkan langkah-langkahnya untuk menghindar. Lincah sekali gerakannya dan tiga jurus yang dilancarkan dengan cepat ini dapat dihindarkan dengan baik.

“Tahan!” teriak Hwat Ki yang tak dapat menahan keheranan hatinya lagi. “Orang she Yo, dari mana kau mencuri langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun?”

Yo-kongcu tertawa mengejek, mempermainkan sabuk sutera putih di tangar kirinya. “Tan Hwat Ki, apa kaukira hanya engkau sendiri yang mampu mainkan langkah Kim-tiauw-kun? Ihhh, kau terlampau memandang rendah kepadaku. Lihat serangahku!” Dengan cepat sekali sesosok sinar putih menyambar ke arah Hwat Ki. Pemuda ini mengenal sinar putih yang siang tadi telah merampas pedang Hek-kim-kiam dari tangan sumoinya. la tidak menjadi gentar, lalu memutar tangan kirinya dan mendorong ke depan.

“Plakkk!” Ujung sinar putih atau lebih tepat ujung sabuk sutera putih itu terpental kembali ketika bertemu dengan tangan kiri Hwat Ki yang ketika didorongkan mengeluarkan cahaya kehijauan itu. Kagetlah Yo-kongcu. Pukulan tangan kiri Hwat Ki tadi jelas adalah pukulan jarak jauh yang luar biasa sekali. Memang sesungguhnya demikianlah. Hanya satu macam ilmu pukulan jarak jauh di dunia ini yang dilakukannya dengan cara memutar-mutar lengan kiri seperti itu, yaitu Ilmu Pukulan Ching-tok-ciang (Tangan Racun Hijau)! Ilmu Pukulan Ching-tok-ciang ini diwarisi oleh Hwat Ki dari ayahnya, karena ilmu ini merupakan peninggalan neneknya, ibu dari Tan, Sin Lee. Karena ilmu yang sifatnya ganas dan liar, lebih tepat dipergunakan oleh golongan hitam, maka Tan Sin Lee tidak mengajarkannya kepada murid-muridnya yang lain kecuali kepada putera tunggal-nya, dengan pesan agar ilmu ini jangan dipergunakan kalau tidak perlu. Biarpun ilmu ini merupakan ilmu ganas, namun karena merupakan peninggalan ibunya, terpaksa dia wariskan kepada puteranya.

Akan tetapi pemuda she Yo yang tangkas itu hanya sebentar saja terkejut karena selain dia segera dapat mengatasi kekagetannya, juga pedangnya kini sudah menerjang dengan gerakan yang amat ganas dan cepat. Jauh bedanya sifat gerakan pedangnya kalau dibandingkan dengan gerakan samurai di tangan Shato-ku pemuda Jepang tadi. Gerakan samurai itu cepat bertenaga, akan tetapi tenaganya adalah tenaga kasar sedangkan kecepatannya wajar, berbeda dengan ilmu silat pedang yang lebih banyak mengandalkan kecepatan ginkang, tenaga dalam dan gerak-gerak tipu dan pancingan-pancingan yang berbahaya.

Hwat Ki menjadi heran dan kagum juga. Pemuda Jepang darah campuran ini ternyata memiliki ilmu pedang yang hebat dan aneh sekali, karena gerakan-gerakannya biarpun masih jelas merupakan ilmu pedang yang pilihan, juga tercampur gerakan silat Jepang. Ginkangnya cukup tinggi, tenaga sinkangnya juga amat kuat, sedangkan pedang di tangannya itu pun terbuat daripada bahan baja pilihan karena setiap kali bertemu dengan Swat-cu-kiam di tangannya, mengeluarkan warna seperti perak dan mempunyai tenaga getaran tanda logam pusaka. Selain ini, pemuda peranakan Jepang itu benar-benar lincah sekali menggunakan langkah-langkah bersumber Kim-tiauw-kun. la pernah mendengar dari ayahnya bahwa Kim-tiauw-kun merupakan sumber banyak macam ilmu langkah ajaib, di antaranya yang paling hebat adalah Si-cap-it Sin-po dan yang ke dua adalah Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te (Terbang di Langit Masuk ke Bumi). Berbeda dengan Si-cap-it Sin-po yang mempunyai empat puluh satu langkah, Hui-thian-jip-te mem-punyai dua puluh empat langkah. Agaknya, pemuda she Yo ini menggunakan Hui-thian-jip-te karena langkah-langkah-nya tidak terlalu banyak macamnya namun cukup untuk menghindarkan diri daripada serangan-serangan berbahaya. Yang lebih berbahaya adalah sabuk sutera putih ini berkelebatan menjadi gulungan sinar putih yang menyilaukan mata, kadang-kadang bergulung-gulung menjadi lingkaran-lingkaran besar kecil yang selain dipergunakan untuk menotok jalan darah lawan, juga suka dipergunakan untuk berusaha melibat pedang lawan dan merampasnya.

Namun Tan Hwat Ki tidak selemah sumoinya. Ilmu pedangnya mantep, gerakannya penuh tenaga dalam, sikapnya tenang dan pertahanannya kokoh kuat. Sama sekali sabuk sutera putih itu tidak membikin hatinya gugup, malah perlahan-lahan dengan dorongan-dorongan Ching-tok-ciang serta tekanan pedang Swat-cu-kiam di tangan kanan, dia mulai mendesak lawannya setelah pertandingan berlangsung seratus jurus lebih dengan amat serunya. Tiga orang tua yang masih duduk menghadapi meja, juga Bu Cui Kim, memandang penuh kekaguman. Diam-diam Cui Kim makin kagum terhadap pemuda Jepang yang tampan sekali itu. Tadinya ia menganggap bahwa di antara semua pemuda di dunia ini, sukarlah mencari tandingan suhengnya yang memiliki kepandaian luar biasa. Siapa kira, kini pemuda peranakan Jepang yang tampan sekali itu mampu menandingi Hwat Ki sampai seratus jurus lebih dalam pertandingan yang seru dan seimbang. Hatinya makin kagum dan ia memandang penuh perhatian. Setelah melihat betapa perlahan-lahan pemuda peranakan Jepang itu mulai terdesak oleh lingkaran-lingkaran sinar pedang suhengnya, diam-diam ia menaruh kekhawatiran kalau-kalau kakak seperguruan itu akan menurunkan tangan besi dan membunuh si pemuda Jepang seperti yang dilakukannya terhadap Shatoku pemuda Jepang tadi.

Memang Hwat Ki tidak mau memberi kesempatan lagi kepada Yosiko. la pikir lebih baik melenyapkan ketua Kipas Hi-tam ini karena kalau ketuanya sudah tewas, tentu akan lebih mudah membasmi gerombolan bajak laut yang mengganggu keamanan wilayah Po-hai. Maka dia makin hebat mendesak dengan jurus-jurus pilihan dari ilmu pedangnya.

Adapun Yo-kongcu yang terdesak itu, berkali-kali mengeluarkan seruan kagum atas ilmu kepandaian lawan. la tidak, kelihatan gelisah, biarpun terdesak dan tertekan, seruan-seruan kagum dari mulutnya mengandung kegembiraan.

“Hebat, kau patut menjadi jodohnya….” demikian berkali-kali dia berseru. “Ilmu pedangmu hebat!”

“Tidak usah banyak cakap, bersiaplah untuk mampus!” Hwat Ki membentak dan pedangnya menyambar-nyambar seperti tangan maut mencari korban.

Mendadak dia mendengar suara Cui Kim berseru keras, “Suheng, celaka….. kita tertipu…..!”

Hwat Ki kaget dan menengok. Ternyata adik seperguruannya itu terhuyung-huyung lalu roboh pingsan di atas lantai! la tidak tahu apa yang terjadi atas diri sumoinya, cepat dia meloncat ke arah adik seperguruannya itu, akan tetapi mendadak dia merasakan kepalanya pening, pandang matanya berkunang-kunang. Tahulah dia sekarang. la, seperti juga sumoinya, terkena racun! Agaknya tadi karena dia bertanding dan mengerahkan sinkang, racun itu tidak begitu terasa olehnya, apalagi memang sinkang yang dimiliki sumoinya tidak sekuat sinkangnya. Dengan penuh kemarahan Hwat Ki menengok. Dilihatnya Yosiko atau Yo-kongcu (tuan muda Yo) itu tersenyum, berdiri memandang kepadanya seperti orang mengejek.

“Keparat! Kau….. curang! Kau meracuni kami…..!” Hwat Ki menguatkan diri dan memaki.

Senyum itu melebar, akan tetapi kini pandangan mata Hwat Ki sudah remang-remang kurang jelas, hanya kelihatan gigi putih berkilat, kemudian terdengar suara pemuda Jepang kepala bajak itu berkata, terdengar oleh telinganya seperti suara yang datang dari jauh sekali,

“Tan Hwat Ki, kau belum mengenal kelihaian Kipas Hitam. Kalau kau kalah bertanding denganku, kau dan adikmu tentu sudah mati sekarang. Akan tetapi kalau menang, kau dan adikmu harus menjadi tawananku. Jangan khawatir, kami takkan membunuh kalian, racun itu hanya beberapa menit saja membuat kalian pingsan…..” Apa yang diucapkan selanjutnya, tak terdengar lagi oleh Hwat Ki yang sudah roboh pingsan di samping adik seperguruannya.

“Siauw-pangcu….. (Ketua Muda), untuk apa menawan mereka? Lebih baik lekas bunuh saja agar tidak menimbulkan kerewelan di belakang hari,” kata seorang di antara dua kakek itu, yang bertubuh kurus kering.

“Pauw-lopek (uwa Pauw), mereka itu masih orang sendiri, tak mungkin aku membunuh mereka, kecuali….. hemmm kecuali kalau mereka tidak mau menurut memihak kita,” jawab Yosiko dengan suara tegas.

“Bagus sekali! Kipas Hitam kiranya hanya perkumpulan bajak busuk yang dipimpin oleh seorang wanita curang'” tiba-tiba terdengar suara orang. Kaget bukan main hati Yosiko, serentak dia meloncat dan siap, demikian pula tiga orang tua itu. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ telah muncul seorang pemuda berpakaian serba putih yang sederhana, dengan wajah yang tenang dan penuh wibawa. Pemuda ini bukan lain adalah Yo Wan!

Seperti kita ketahui, secara kebetulan sekali Yo Wan berada di rumah makan dalam dusun Leng-si-bun dan me-nyaksikan peristiwa yang terjadi antara muda-mudi Lu-liang-san itu dengan orang-orang Kipas Hitam. Ketika muncul Yosiko yang mengaku she Yo dan memiliki gerakan yang hebat, dia kaget dan heran sekali, juga ingin tahu karena bagaimana ketua Kipas Hitam itu memiliki she (nama keturunan) yang sama dengan dia? Diam-diam dia menyelinap pergi sambil meninggalkan uang pembayaran makan minum, kemudian membayangi si pemuda ketua Kipas Hitam itu ke dusun Kui-bun dipantai Po-hai. Dengan kepandaiannya yang luar biasa, Yo Wan berhasil membayangi terus sampai di gedung tem-pat kediaman ketua Kipas Hitam itu dan bersembunyi. la dapat menduga bahwa muda-mudi yang dirampas pedangnya itu pasti akan menyusul ke Kui-bun, maka diam-diam dia bersembunyi sambil memasang mata, siap menolong muda-mudi itu apabila mereka terancam bahaya. Kalau muda-mudi itu bertentangan dengan golongan bajak laut yang mengganggu ketenteraman penghidupan para nelayan dan saudagar di tepi laut, pasti dia akan memihak mereka. Apalagi karena timbul dugaan di dalam hatinya bahwa muda-mudi itu sedikit banyak tentu mempunyai hubungan dengan gurunya, Pendekar Buta.

Ketika dugaannya terbukti dengan munculnya muda-mudi di ruangan besar gedung itu, dia mendapat kenyataan yang menggirangkan, juga mengherankan hatinya. Bahwa pemuda itu bernama Tan Hwat Ki putera Tan Sin Lee ketua Lu-hang-pai. Kini tidaklah heran dia mengapa pemuda itu dan sumoinya demikian lihai dan memiliki gerakan langkah Kim-tiauw-kun.

Tentu saja dia girang dan niatnya menolong atau membantu mereka lebih mantap lagi. Akan tetapi, hal yang amat rnengherankan hatinya adalah ketika dia melihat pula kenyataan bahwa pemuda baju putih yang disebut Yosiko atau Yo-kongcu dan menjadi ketua Kipas Hitam itu ternyata adalah seorang wanita! Pandang matanya yang tajam segera dapat membuka rahasia ini ketika Yosiko mulai bersilat melawan Hwat Ki. Ada gerakan-gerakan otomatis pada kaki dan lengan seorang wanita, yang amat berbeda dengan gerakan otomatis kaki tangan pria. Dalam menggerakkan lengannya, seorang wanita otomatis tidak mau membuka pangkal lengannya menjauhi dada, hal ini adalah sifat pembawaan tiap wanita. Tentu saja dalam mainkan ilmu silat, hal ini tidak mengikat benar, namun dalam ilmu silat pun tercampur dengan gerakan otomatis yang menjadi dasar menurut pembawaan masing-masing. Melihat gerak ini, kemudian melihat wajah yang terlalu tampan itu, kulit yang terlalu halus untuk pria, mudah saja Yo Wan menduga bahwa pemuda tampan itu adalah seorang gadis cantik yang menyamar pria! Keheranan ini belum seberapa kalau dibandingkan dengan keheranan ketika dia melihat betapa gadis peranakan Jepang ini menggerakkan kaki dalam langkah-langkah ajaib yang amat dikenalnya. Itulah inti ilmu langkah ajaib yang pernah dia pelajari dari suhunya, Pendekar Buta! Hanya bedanya, yang dia pelajari adalah lebih lengkap berjumlah ernpat puluh satu jurus, sedangkan yang dikuasai gadis Jepang itu adalah dua puluh empat jurus Hui-thian-jip-te! Benar-benar amat luar biasa dan hal ini meragukan hatinya untuk memusuhi dan membasmi ketua Kipas Hitam ini.

Demikian, ketika dia melihat Hwat Ki sudah mendesak hebat, seperti juga Cui Kim, dia khawatir kalau-kalau Hwat Ki dalam kemarahannya membunuh ketua Kipas Hitam itu, maka dia bersiap-siap untuk menghentikan pertandingan mati-matian itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat Cui Kim roboh pingsan, disusul oleh Hwat Ki dan mendengar ucapan Yo-siko, dia mengerutkan kening. Gadis peranakan Jepang itu benar-benar lihai, berani, juga liar dan curang, maka sambil mengejek dia lalu menampakkan diri.

Marahlah hati Yosiko ketika melihat munculnya seorang asing secara mendadak. la bertepuk tangan tiga kali dan muncullah enam orang pendek-pendek yang ternyata bukan lain adalah Kanna-tari dan lima orahg temannya. Si Pedang Cakar Naga ini bersama lima orang te-mannya menjura dalam-dalam sampai jidat mereka hampir menyentuh tanah di depan Yosiko.

“Apa yang dapat kami lakukan untuk Yo-kongcu yang terhormat?” tanyanya dalam bahasa Jepang.

“Kalian ini sekelompok udang goblok, bagaimana dengan tugasmu menjaga sehingga orang dusun ini bisa masuk ke sini tanpa ijin?” bentak Yosiko sambil menudingkan telunjuknya ke arah Yo Wan.

Kamatari melirik dan tampak kaget ketika melihat Yo Wan. “Dia….. dia adalah orang yang kelihatan di dalam rumah makan di Leng-si-bun!” katanya gagap dan heran.

“Goblok, seret dia keluar!” bentak Yosiko.

Diikuti lima orang temannya, Kamatari melangkah maju, lambat-lambat, selangkah demi selangkah, dengan gerak kaki menurutkan ilmu silatnya, kedua tangannya tergantung di kanan kiri, agak ditekuk sikunya dan jari-jari tangannya terbuka dan tertutup, sikapnya mengancam sekali! Lima orang temannya juga seperti itu gerakannya, malah dengan teratur mereka berenam membuat gerakan mengelilingi Yo Wan.

“Eh, cakar nagamu ke mana? Apakah sudah kautukar dengan cakar ayam maka kau malu mengeluarkannya?” Yo Wan berkata sambil menghadapi Kamatari, karena di antara enam orang itu, Si Cakar Naga inilah yang paling kuat.

Merah muka dan kepala yang botak itu, kemudian tiba-tiba Kamatari mengeluarkan pekik nyaring yang agaknya keluar dari dalam perutnya, disusul dengan gerakannya seperti katak melompat dan tahu-tahu pedang samurainya telah menyambar ke arah Yo Wan. Dalam detik-detik berikutnya, lima orang temannya juga sudah menerjang dengan samurai terhunus sehingga dari enam penjuru menyambarlah kilatan enam sinar samurai yang amat tajam!

“Cring-crang-cring!” Tampak bunga api berpijar menyilaukan mata ketika enam batang samurai itu saling bentur dalam kekacauan yang membingungkan. Tadinya Kamatari dan lima orang temannya merasa yakin bahwa samurai-samurai nnereka pasti akan mencincang hancur tubuh si pemuda desa yang agaknya sudah tidak dapat mengelak ke mana-mana karena semua jalan keluar sudah tertutup enam buah samurai, Enam buah samurai itu menghantam ke satu titik, yaitu di mana Yo Wan berada. Akan tetapi, ternyata tepat tiba di sasaran, pemuda itu tidak tampak bayangannya lagi dan enam buah samurai itu saling bentur. Karuan saja enam orang itu terheran-heran dan terkejut sekali, dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, mereka merasa didorong dari belakang oleh tenaga mujijat dan….. berturut-turut terdengar suara beradunya kepala sama kepala dan bergelimpanglah enam orang itu dengan tambahan benjol sebesar telor ayam pada botak kepala masing-maising. Mereka pingsan seketika.

“Hek-san-pangcu (ketua Kipas Hitam), udang-udang busuk begini kau pergunakan untuk menakut-nakuti orang? Memalukan sekali'” kata Yo Wan, kedua tangannya bergerak dan enam orang itu terlempar keluar pintu depan satu demi satu seperti rumput-rumput kering ditiup angin saja.

Sepasang alis Yosiko terangkat naik, lalu turun dan hampir bersambung. Marahlah dia, juga heran karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa “orang desa” ini ternyata lihai juga.

“Hemmm, kau boleh juga, akan tetapi belum cukup berharga untuk bertanding denganku. Pouw-lopek, harap wakili aku beri hajaran kepada bocah dusun ini!”

Kakek tinggi kurus yang kulitnya sudah berkeriput semua, melangkah lebar. Kagetlah Yo Wan karena sekali melangkah saja kakek itu sudah berada di depannya! Mana mungkin begini? Kalau kakek itu melompat, dia tidak merasa heran, bahkan hal itu biasa saja. Akan tetapi kakek itu sama sekali bukan melompat, melainkan melangkah. Betapapun panjang kakinya, tak mungkin dapat sekali melangkah sampai di depannya, padahal jaraknya kurang lebih lipa tombak (kurang lebih sepuluh meter)! Ilmu apakah ini? Yo Wan memutar otak dan dapat menduga bahwa kakek tinggi kurus ini tentu memiliki ilmu luar biasa yang mengandalkan kedua kakinya, dan hal ini mudah diduga bahwa ilmu itu tentulah ilmu tendangan. Apalagi yang dapat diperguhakan sepasang kaki dalam pertandingan untuk menyerang lawan kecuali menendang? Maka dia bersikap waspada dan mencurahkan sebagian besar perhatiannya kepada gerakan sepasang kaki calon lawannya.

“Orang muda” kata kakek itu, suaranya jelas menyatakan bahwa dia seorang dari daerah pesisir selatan, “kau sungguh seorang yang tak tahu diri, ta. mengenal luasnya lautan tingginya langit. Siapakah kau ini yang berani lancang memasuki gedung tempat tinggal ketua Hek-san-pang dan menjual lagak di sini? Dan apakah kehendakmu?”

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap yang berwibawa, Yo Wan dapat menduga bahwa kakek ini tentu mempunyai kedudukan yang cukup tinggi dalam perkumpulan Hek-san-pang, maka dia pun bersikap hormat. Setelah menjura dia menjawab, “Namaku Yo Wan dan secara kebetulan aku menyaksikan peristiwa di rumah makan. Karena tertarik mendengar bahwa ketua kalian juga she Yo, apalagi ditambah sepak terjangnya merampas pedang, biarpun urusan itu dengan aku tidak ada sangkut-pautnya, namun memaksa aku untuk datang ke sini dan menonton. Kiranya ketuanya seorang wanita yang begitu curang merobohkan dua orang muda ini dengan racun. Hal ini aku Yo Wan tak mungkin diam saja membiarkan kecurangan”.

Yosiko membentak marah, “Bocah dusun lancang. Kau sombong sekali. Apa maksudmu dengan kata-kata bahwa Hek-san-pang dipimpin oleh seorang wanita?”

“Seorang wanita curang kataku tadi,” jawab Yo Wan sambil tersenyum kepada ketua Hek-san-pang itu. “Mata orang lain boleh kaukelabuhi, akan tetapi bagiku jelas bahwa kau seorang wanita, mengapa memakai sebutan kongcu (tuan muda) segala macam? Dan memang kau curang sekali, mengambil kemenangan menggunakan racun…..”

“Pouw-lopek, hajar dia!” bentak Yosiko, tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Orang tua tinggi kurus itu sebetulnya adalah seorang bajak laut tunggal di pantai selatan yang bernama Pouw Beng, akhirnya dia ditarik oleh Kipas Hitam menjadi pembantu utama di samping dua orang lain yang selalu mendampingi ketua Kipas Hitam. Ketika tadi menyaksikan gerak-gerik Yo Wan, kakek yang bermata tajam ini maklum bahwa Yo Wan adalah seorang “pemuda gunung” (istilah murid pertapa di gunung) yang tak boleh dipandang ringan, maka dia bersikap sabar dan bertanya lebih dulu. Kini mendengar kemarahan Yosiko yang mendesaknya, dia lalu memasang kuda-kuda, kedua kakinya dipentang lebar pada bagian lutut, akan tetapi mata kakinya saling bertemu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: