Jaka Lola ~ Jilid 26

“Orang muda she Yo, lihat serangan!” bentaknya mengguntur dan sekali meraba punggung, kakek ini sudah mencabut ke-luar sebatang ruyung lemas (joan-pian) yang berwarna hitam lalu menerjang dengan senjata seperti pecut ini dengan gerakan yang dahsyat.

“Wuuuttttt!” angin pukulan joan-pian ini menyambar ke arah kepala ketika Yo Wan mengelak, namun dengan kelincahannya, mudah saja Yo Wan melompat lagi ke samping. Ketika joan-pian ini seperti seekor ular hidup mengejarnya terus dengan cepat, Yo Wan diam-diam menjadi kagum dan memuji kepandaian si kakek mainkan joan-pian yang dapat terus-menerus melakukan serangan sam-bung-menyambung. la masih belum dapat melihat bahayanya ancaman joan-pian ini maka Yo Wan tetap saja mengelak ke sana ke mari sambil tiada hentinya memperhatikan kedua kaki lawan. Benar saja dugaannya, gerakan joan-pian yang menyerang kalang kabut ini hanyalah usaha untuk membingungkan lawan, karena tiba-tiba kedua kaki kakek itu bergerak menyambar, susul-menyusul dengan kecepatan yang tak terduga-duga dan de-ngan kekuatan yang luar biasa! Yo Wan kagum. Hal ini sudah diduganya, dan memang sesungguhnya tendangan-tendangan inilah yang merupakan inti daripada penyerangan kakek kurus itu. Seorang lawan yang kurang waspada pasti akan roboh oleh tipu muslihat ini, karena hanya tampaknya saja joan-pian yang mengancam, akan tetapi sesungguhnya bukan demikian, sehingga lawan yang terlalu mencurahkan perhatian terhadap serangan joan-pian yang bertubi-tubi, akan celaka oleh tendangan-tendangan tersembunyi ini.

Yo Wan bukan seorang pemuda sombong dan dia tidak suka memamerkan kepandaiannya. Akan tetapi keadaan sekarang memaksa dia untuk mengeluarkan kepandaiannya. Pertama, karena dia ber-ada di sarang harimau yang berbahaya, ke dua untuk menolong muda-mudi putera ketua Lu-liang-pai atau cucu Raja Pedang itu, ke tiga memang sudah menjadi tugasnya untuk membasmi bajak laut, apalagi setelah dia teringat akan ucapan penuh sindiran dari ketua Siauw-lim-pai, yaitu Thian Seng Losu. Maka melihat datangnya tendangan, dia sengaja bersikap seakan-akan dia kurang waspada dan merhberi kesempatan orang menendangnya!

Karuan saja Pouw Beng girang bukan main, “Pergilah!” bentaknya sambil mengerahkan tenaga pada tendangannya ketika lawan muda itu sibuk mengelak daripada sambaran joan-pian.

“Dukkk!” Bukan tubuh Yo Wan yang mencelat seperti yang telah dibayangkan si penendang dan teman-temannya, melainkan kakek itu sendiri yang terpelanting dan bergulingan, tak mampu bangkit lagi karena tulang kakinya yang menendang tadi remuk sedangkan joan-pian di tangannya pun sudah mencelat entah ke mana! Kiranya tadi ketika kakinya sudah hampir mengenai sasaran, yaitu perut Yo Wan, pemuda ini secepat kilat menggunakan tangan kirinya menotok jalan darah lalu menggencet. Karena dia mempergunakan jurus ainpuh Ilmu Silat Liong-thouw-kun yang dia warisi dari kakek sakti Sin-eng-cu, seketika remuklah tulang kaki lawannya, sedangkan tangan kanan Yo Wan pada detik yang sama juga menghantam pergelangan lengan yang memegang joan-pian sehingga joan-pian itu terpental dan mencelat entah ke mana.

Yosiko melongo. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa pemuda dusun itu demikian lihainya. Pouw Beng dirobohkan hanya dalam beberapa gebrakan saja! Tendangan maut itu diterima tangan kiri dan kaki Pouw Beng remuk! Mana mungkin ini? Apakah pemuda sederhana baju putih itu main sihir? Dia sendiri yang sudah mengenal kelihaian Pouw Beng, agaknya sebelum seratus jurus tak mungkin dapat mengalahkannya!

“Paman Sakisoto, majulah!” teriaknya karena dia masih merasa penasaran. Kalau terhadap Tan Hwat Ki, dia maju sendiri karena dia sudah yakin akan kelihaian pemuda Lu-liang-pai itu. Akan tetapi pemuda dusun yang tak ternama ini, yang kelihatan begitu lemah dan sederhana, mana berharga menghadapinya?

Para pelayan mengangkat pergi tubuh Pouw Beng yang masih pingsan, sedangkan kakek yang botak dan pendek sekali itu sudah melangkah maju menghampiri Yo Wan. Kakek tua yang pendek botak ini adalah seorang jagoan Jepang yang terkenal dengan ilmunya Yiu-yit-su. la seorang jago gulat yang jarang menemui tandingan di antara sekalian bajak laut, dan menjadi juara di kalangan Kipas Hitam. Kedudukannya tinggi, sejajar dengan kedudukan Pouw Beng dan dia menjadi tangan kanan Yosiko pula, terutama untuk urusan mengendalikan anak buah bajak laut Kipas Hitam. Semua anak buah bajak laut, terutama yang berasal dari Jepang, takut belaka kepada Sakisoto, demikian nama jagoan tua ini. Selain ahli dalam ilmu gulat dan ilmu tangkap Yiu-yit-su, dia pun termasuk seorang jago samurai yang ampuh. Kalau dibandingkan dengan Pouw Beng sukarlah untuk menilai karena keduanya memiliki keistimewaan masing-masing.

“Bocah sombong, hayo lekas berlutut menyerahkan diri sebelum kubanting tubuhmu sampai remuk!” bentak Sakisoto, karena bagaimanapun juga dia merasa malu, kalau harus melawan seorang pemuda tak ternama, apalagi kelihatannya kurus kering dan lemah begitu, maka dia memberi peringatan lebih dulu agar bocah itu menyerah saja.

Yo Wan tentu saja sudah pernah mendengar tentang ilmu gulat dan ilmu tangkap dari Jepang, tentu semacam Ilmu Silat Sauw-kin Na-jiu-hoat, pikirnya. la maklum akan kelihaian ilmu ini yang sama sekali tidak membolehkan anggauta badan tertangkap. Akan tetapi menyaksikan gerakan kakek ini, dia berbesar hati. Larigkah kakek ini sedikit banyak sudah membayangkan keadaan tenaga Iweekang yang dimilikinya dan dia merasa sanggup untuk menghadapinya.

“Orang tua, kau tentulah seorang ahli membanting orang. Biarlah, aku ingin merasakan bantinganmu, kalau aku kalah tak usah kau suruh menyerah, tentu saja aku sudah tak berdaya lagi. Silakan!” la sengaja bicara dengan lambat agar kakek Jepang itu dapat mengikuti kata-katanya karena tadi ketika bicara, orang Jepang ini juga lambat-lambat dan agak sukar.

“Bocah sombong, kau cari mampus” Sakisoto berseru, lalu kedua kakinya yang pendek itu bergerak maju, kedua lengannya menyambar dengan gerakan kuat dan Jari-jari tangan terbuka. Alangkah heran dan juga girangnya ketika dia melihat lawannya sama sekali tidak mengelak sehingga begitu dia menggerakkan kedua tangannya, Yo Wan sudah kena dicengkeram lengan kiri dan pundak kanannya! Dengan sepasang mata sipitnya berseri-seri saking gembiranya akan hasil ini, Sakisoto mengerahkan tenaga dari perut, disalurkan kepada jari-jari tangannya dengan maksud untuk meremas hancur pergelangan lengan kiri dan pundak kanan pemuda kurang ajar itu. Jari-jari tangannya mengeras, menggigil karena terisi getaran tenaga yang dahsyat, tenaga yang membuat jari-jari tangan itu mampu meremas hancur batu karang! Akan tetapi alangkah kagetnya ketika jari-jari tangannya meremas kulit yang lunak dan licin seperti kulit belut, lunak akan tetapi ulet seperti karet sehingga tenaga remasan jari-jari tangannya lenyap tertelan atau tenggelam, sama sekali tidak ada hasilnya seperti orang meremas kapas?

Dalam kagetnya jago tua Jepang yang sudah banyak pengalamannya itu dapat menduga bahwa pemuda ini memiliki tenaga dalam dari orang-orang daratan yang memang amat luar biasa, maka secepat kilat dia mengubah getaran tenaganya, kini jari-jarinya tidak menceng-keram untuk meremuk lagi melainkan mencengkeram erat-erat lalu dia mengerahkan tenaga perut untuk mendongkel dan melontarkan lawannya dengan gerak tipu dalam Ilmu Yiu-jiu-su. Kakinya menjegal dan tangannya yang satu mendorong yang lain menyentak kuat. Namun, orang yang disentaknya tidak bergeming sama sekali. Hal ini tidak mengherankan oleh karena Yo Wan sudah pula mengganti tenaga dalamnya, kini dia mengerahkan tenaga Selaksa Kati yang disalurkan ke arah kedua kaki dan berdiri dengan kuda-kuda Siang-kak-jip-te (Sepasang Kaki Berakar di Tanah), Jangankan baru seorang Sakisoto, biar kedua kaki itu ditarik oleh lima ekor kuda kiranya belurn tentu akan dapat terangkat!

Mulut jago tua Jepang itu mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh-uh, ketika dia beberapa kali mengganti kedudukan dan jurus untuk berusaha mengangkat kaki lawan untuk terus dilontarkan di atas pundak dan dibanting remuk. Keringatnya sudah memenuhi muka, otot-ototnya menonjol keluar, napasnya terengah-engah, namun hasilnya sia-sia belaka. Pemuda yang kurus itu masih berdiri tegak dengan senyum manis, sedikit pun tidak kelihatan mengerahkan tenaga. Hal ini selain membuat Sakisoto merasa penasaran, juga membuatnya menjadi malu dan marah sekali.

“Mampus kau!” bentaknya dan secepat kilat kedua tangannya melepaskan cengkeraman pada lengan dan pundak, kini berganti dengan serangan memukul dengan telapak tangan dimiringkan. Tangan kanan memukul leher dan tangan kiri memukul lambung! Jangan dipandang ringan serangan ini karena kedua tangan itu sudah terlatih, ampuh sekali. Kepala orang bisa remuk terpukul oleh tangan miring ini, apalagi tempat-tempat gawat macam leher dan lambung. Sekali pukul tentu nyawa akan melayang!

Mendengar menyambarnya hawa pukulan, Yo Wan maklum bahwa serangan ini cukup berbahaya. Cepat dia menyambar dengan kedua tangannya, jauh lebih cepat daripada datangnya pukulan. Tahu-tahu kedua pergelangan tangan jago tua itu sudah dia tangkap dan seketika bagaikan dilolosi semua urat syaraf dalam tubuh Sakisoto. Tiba-tiba Yo Wan berseru keras dan tubuh pendek tegap itu melayang ke atas dan terbang sampai sepuluh meter jauhnya. Namun, begitu dilepaskan, jago tua yang sudah berpengalaman ini dapat menggerakkan tubuhnya sehingga ketika terbanting ke bawah, dia dapat mendahulukan daging belakangnya, sehingga hanya terdengar suara berdebuk, tubuhnya membal ke atas dan dia turun lagi dalam keadaan berdiri dan mulutnya meringis karena daging tua di belakang pantatnya terasa kesemutan dan sakit! Kemarahannya memuncak dan dengan kerongkongan mengeluarkan gerengan seperti beruang, dia menubruk maju, didahului pedang samurainya yang panjang dan besar.

Yo Wan cepat miringkan tubuh, membiarkan sinar berkelebat pedang panjang itu lewat, jari tangannya bekerja dan di lain saat sekali lagi tubuh Sakisoto terguling, kali ini jatuh tersungkur tak mampu bangkit untuk beberapa menit lamanya karena jari-jari tangan Yo Wan telah berhasil menyentil sambungan tulang pundak kanan dan menotok jalan darah di punggung kiri! Jago tua Jepang itu hanya mampu mengulet dan merintih perlahan.

Kalau tadi sepasang mata Yosiko berapi-api marah, kini mulai bersinar penuh kekaguman. Dua orang jagonya dirobohkan demikian mudahhya. Bukan main pemuda sederhana ini. Mungkinkah ada pemuda yang lebih pandai daripada jago tampan dari Lu-liang-pai? Diam-diam dia melirik ke arah Hwat Ki yang masih pingsan di dekat sumoinya, di sudut ruangan. Kemudian dia memberi tanda dan para pelayan datang membangunkan Sakisoto dan mengangkatnya keluar dari ruangan itu.

Yo Wan tersenyum menghadap Yosiko. “Bagaimana? Cukupkah?”

“Hemmm, setelah kau mampu merobohkan dua orang pembantuku kau mau apa?”

“Tidak apa-apa, hanya minta supaya kau bebaskan kedua orang muda dari Lu-liang-san itu, kemudian gulung tikar dan kembali ke Jepang, jangan lagi kau atau anak buahmu mengganggu pantai dan perairan Po-hai.”

“Peduli apa dengan kau? Kau murid siapa? Dari partai apa?”

“Heran sekali. Kau masih tanya peduli apa denganku? Tentu saja aku tidak bisa membiarkan kau mengganggu keamanan wilayah ini, mengacau ketenteraman hidup bangsaku. Soal aku murid siapa, tidak ada sangkut-pautnya denganmu dan aku tidak punyai partai. Nona, kulihat kepandaianmu lumayan, mengapa kau memilih jalan sesat? Mengapa kau mendirikan perkumpulan bajak laut Kipas Hitam? Sayang sekali, kau lihai dan sepatutnya kau menjadi seorang pendekar wanita yang cantik, gagah, dan terhormat, berguna bagi bangsamu di Jepang…”

“Tutup mulutmu yang lancang!” Yosiko berteriak nyaring dan kini penyamarannya gagal karena setelah ia marah-marah, sepasang pipinya menjadi ke-merahan, merah jambu yang hanya dapat timbul pada pipi seorang gadis, dan teriakannya pun teriakan marah seorang gadis, tidak lagi suara berat pria seperti yang ia tirukan dalam percakapan biasa. “Kau begini sombong! Apa kaukira aku takut padamu? Kami belum kalah. Gak-lopek, harap kau beri hajaran bocah sombong ini!

Kakek ke tiga yang gendut perutnya melompat maju. Gerakannya perlahan dan lambat saja, seakan-akan dia terlalu malas untuk bergerak, apalagi main silat, patutnya orang ini bertiduran di atas kursi malas sambil mengisap huncwe (pipa tembakau) dengan mata meram melek. Akan tetapi Yo Wan cukup waspada dan dia maklum bahwa di antara tiga orang kakek tadi, si gendut inilah yang paling lihai. Wajahnya yang agak pucat kekuningan, kedua lengannya yang tidak kelihatan ada otot menonjol, langkahnya yang tenang dan kelihatan berat serta seakan-akan kakinya menempel dan lengket pada lantai yang diinjaknya, semua ini menandakan bahwa dia seorang ahli Iweekeh (ahli tenaga dalam) yang kuat. Diam-diam Yo Wan lalu mengumpulkan hawa murni di dalam pusarnya, lalu mendesaknya ke seluruh bagian tubuh, terutama kepada kedua lengannya untuk berjaga-jaga. Pemuda ini mendapat gemblengan tenaga dalam dari dua orang sakti, yaitu Sin-eng-cu dan Bhewakala, apalagi latihan tenaga dalam ini dia sempurnakan dengan tekun di pertapaan Bhewakala, yaitu di Pegunungan Himalaya. Oleh pendeta sakti ini, Yo Wan digembleng hebat, malah sudah mengalami gemblengan terakhir yang amat berat, bahkan yang dilakukan dengan taruhan nyawa, yaitu kalau tidak tahan dapat mati seketika. Latihan ini adalah latihan bersamadhi mengumpulkan sinkang dan memutar-mutar hawa murni ke seluruh tubuh dengan cara bertapa telanjang bulat selama tujuh hari di bawah hujan salju di puncak gunung. Kalau dia tidak dapat menahan, dia akan mati dalam keadaan beku dan terbungkus es!

“Orang muda, kau benar-benar lihai sekali! Akan tetapi, untuk dianggap berharga melayani Yo-kongcu, kau harus dapat menandingi aku lebih dulu! Perkenalkan, aku bernama Gak Tong Sek!” Sambil berkata demikian, seperti seorang yang menghormat tamu, dia menjura dengan kedua tangan dirangkap di depan dada, selayaknya orang memperkenalkan diri.

Tepat seperti dugaan Yo Wan, begitu kakek gendut ahli Iweekeh ini mengangkat kedua lengan memberi hormat, dadanya terasa sesak karena terserang oleh hawa pukulan tersembunyi yang amat kuat, yang menyambar keluar dari gerakan kedua tangan yang dirangkapkan itu. Cepat Yo Wan menggerakkan kedua lengannya, diangkat ke atas sehagai pembalasan hormat sambil diam-diam mengerahkan sinkang mendorong ke depan. Hawa pukulannya dan hal ini terasa benar oleh Gak Tong Sek karena wajahnya tiba-tiba berubah kaget dan jelas tampak dia mengerahkan tenaga untuk menahan dorongan lawan yang amat kuatnya itu. la merasa heran karena tidak mengira bahwa lawan yang demikian muda ini tidak saja dapat menahan dorongan pukulan jarak jauhnya, melainkan mengembalikan hawa pukulan itu dengan tambahan dorongan yang lebih kuat lagi. Tentu saja dia tidak mau menyerah kalah, merasa malu untuk pergi menghindar, maka sambil memasang kuda-kuda sekuatnya pada kedua kaki, dia menahan dorongan lawan.

Yo Wan merasa betapa dorongannya tertahan dengan kuatnya, dia menambah tenaganya dan terus mendorong. Gak Tong Sek mempertahankan dengan amat kuatnya, namun yang mendorong lebih kuat lagi. Terdengar suara keras dan tubuh kakek gendut itu terdorong mundur, akan tetapi sepasang kakinya tetap dalam keadaan memasang kuda-kuda, sedikit pun tidak terangkat dan dia tidak roboh terguling, melainkan terdorong ke belakang dengan kedua kaki menyeret lantai sehingga retak-retaklah lantai batu yang terseret kedua kakinya! Makin jauh kakek ini terdorong, makin berkuranglah kekuatan dorongan Yo Wan, sehingga setelah terdorong tiga kaki jauhnya, kakek ini berhenti. Wajahnya pucat dan keringat dua butir tampak di dahinya.

“Orang tua, kau benar-benar amat lihai, aku yang muda merasa kagum sekali,” kata Yo Wan tersenyum. Ucapannya ini sejujurnya saja karena memang dia merasa kagum akan daya tahan kakek itu sehingga dia tidak mampu merobohkan malah membuat kakek itu mengangkat kaki pun tidak sanggup. Benar-benar seorang kakek yang selain memiliki tenaga Iweekang tinggi, juga amat ulet dan tahan uji.

Akan tetapi bagi kakek Gak, ucapan ini dianggap sebagai ejekan, maka dia menjadi penasaran dan marah sekali. Biarpun dia maklum akan besarnya tenaga sinkang pemuda itu, namun belum tentu dia akan kalah dalam ilmu pukulan yang telah dilatihnya puluhan tahun lamanya, yang agaknya telah dia miliki sebelum orang muda ini lahir. Selama ini, hanyalah ketua Kipas Hitam saja orang muda yang mampu menandinginya dan hal ini tidak membuat dia kecil hati karena dia cukup maklum bahwa pangcunya itu mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa dari orang tuanya. Namun dia anggap bahwa di dunia ini tidak ada ke duanya dicari orang muda, seperti pangcu (ketua) dari Hek-san-pang.

“Bocah sombong, belum tentu aku kalah!” bentaknya marah sambil mengayun kedua tangannya, melancarkan pukulan-pukulan maut dari jarak jauh. Terdengarlah suara angin menyambar bersiutan sehingga api penerangan di empat penjuru ruangan itu bergoyang-goyang hampir padam. Demikianlah hebatnya ilmu pukulan jarak jauh dari kakek Gak Tong Sek yang dia sendiri namai Swan-hong-sin-ciang (Pukulan Sakti Angin Puyuh). Para pelayan yang tahu akan hebatnya ilmu pukulan ini, tanpa diperintah, lagi segera mundur dan menyelinap ke balik pintu. Hanya Yosiko yang masih berdiri tegak, pakaian dan penutup rambutnya berkibar-kibar oleh angin pukulan, namun dia sendiri tidak apa-apa karena ia pun telah mengerahkan sinkang melindungi seluruh tubuhnya.

“Bagus !” mau tak mau Yo Wan memuji kehebatan ilmu pukulan ini. Akan tetapi tidak sia-sia dia digembleng habis-habisan di puncak Himalaya. Dengan amat tenang, penuh kepercayaan akan diri sendiri, dia melangkah maju sambil memangku kedua lengan, sama sekali tidak mengelak atau menangkis. Pukulan-pukulan jarak jauh datang bagaikan hujan badai menimpa dirinya, namun hanya pakaian dan rambutnya saja yang berkibar-kibar, namun semua hawa pukulan itu terbentur dan membalik ketika bertemu dengan hawa sinkang yang menyelubungi seluruh tubuhnya! Sudah penuh keringat muka dan leher Gak Tong Sek, namun semua pukulannya sia-sia belaka. Saking marah dan penasarannya, dia melompat maju, kini menggunakan kedua tangannya memukul dari jarak dekat dengan pengerahan tenaga Iweekang sepenuhnya.

Tentu saja Yo Wan maklum bahwa pukulan ini terlalu berbahaya untuk diterima seperti dia menerima pukulan jarak jauh tadi. Cepat kedua tangannya bergerak. “Duk-duk!” Dua kali empat buah lengan itu bertemu dan tubuh kakek Gak Tong Sek melayang keluar dari pintu ruangan, jatuh berdebuk di luar ruangan itu, tak dapat bangun lagi, hanya terdengar dia mengorok seperti kerbau disembelih. Di antara tiga orang kakek yang melawan Yo Wan, kakek Gak inilah yang paling berat lukanya. Hal ini adalah karena dia terpukul oleh tenaga Iweekangnya sendiri, sehingga biarpun tidak akan kehilangan nyawanya, namun sedikitnya tiga bulan dia harus berbaring!

Kini lenyaplah sama sekali kemarahan dari wajah Yosiko, terganti bayangan ke-kaguman pada wajahnya yang tampan berseri. Sepasang matanya berkilauan dengan gerakan-gerakan cepat biji matanya yang bening menandakan kecerdikan otaknya, bibirnya tersenyum-senyum ketika ia melangkah maju dengan senjata di tangan. Seperti tadi ketika menghadapi Hwat Ki, kini tangan kanannya memegang pedang, dan tangan kirinya memegang sabuk sutera putih. Dengan langkah cepat ia bertindak maju, sepasang matanya tak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah Yo Wan.

“Hebat…… kau….. kau lebih lihai daripada Tan Hwat Ki…… kau hebat…..!”

Ketua Hek-san-pang yang muda dan oleh Yo Wan dianggap wanita itu melangkah maju. “Tapi….. kau harus dapat mengalahkan aku lebih dulu, baru dapat kunilai apakah kau lebih patut daripada dia…..”

“Hek-san-pangcu, kau bicara apa ini? Aku tidak ingin bermusuhan dengan engkau, akan tetapi kalau kau mendesakku, jangan menyesal kalau aku turun tangan besi dan membasmi gerombolan bajak yang kau pimpin. Jangan kaukira bahwa setelah kau mengerti Ilmu Langkah Kim-tiauw-kun, kau mengira tidak akan ada yang dapat melawanmu. Justeru karena kau mengenal Kim-tiauw-kun, aku makin berkeras untuk melarangmu melakukan perbuatan jahat!”

Berubah wajah Yosiko, akan tetapi sinar matanya makin berseri. “Kau….. kau tahu tentang langkah-langkah ajaib?”

“Tentu saja aku mengenal Hui-thian-jip-te. Orang yang menggunakan ilmu ini harus menjadi seorang pembela kebenaran dan keadilan, sama sekali tidak boleh menjadi penjahat!”

Yosiko tersenyum. “Wah, kiranya kau pun bukan orang sembarangan, dapat mengenal Hui-thian-jip-te. Kau bilang tadi namamu Yo Wan? Kau murid siapakah? Apakah kau kenal dengan Tan Hwat Ki dan sumoinya dari Lu-liang-pai ini?” Dalam mengajukan pertanyaan ini, lenyaplah sikap bermusuhan, seakan-akan Yo Wan menghadapi seorang kenalan baru saja, ketua Hek-san-pai itu demi-kian ramah. Akan tetapi Yo Wan tidak ingin memperkenalkan diri, apalagi membawa-bawa nama Pendekar Buta.

“Namaku Yo Wan dan habis perkara, aku seorang yatim piatu, tak bersanak tak berkadang.”

“Dan belum menikah?”

Merah wajah Yo Wan. Celaka orang ini benar-benar cerewet dan tak tahu malu. Karena sungkan dan jengah, dia tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. Yosiko tersenyum lagi.

“Wah, seorang jaka lola kalau begitu. Eh, jaka lola yang lihai, dengar baik-baik. Adikku mencari jodoh dan agaknya kau patut menjadi jodohnya karena agaknya kau lebih lihai daripada Tan Hwat Ki. Akan tetapi kau harus dapat me-ngalahkan aku untuk membuktikan kelihainmu.”

“Pangcu, harap kau jangan main-main. Aku tidak peduli adikmu itu akan menikah dengan siapapun juga, bukan urusanku. Aku pun sekali-kali tidak ingin membuktikan kelihaianku. Aku hanya minta kaubebaskan dua orang muda itu dan tarik mundur semua anak buahmu, jangan lagi mengganggu daerah Po-hai. Kalau tidak, terpaksa aku akan membasmi Kipas Hitam!”

Yosiko tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih berkilauan dan rapi. “Yo Wan, kalau kau bisa menangkan aku dan menikah dengan adikku, kau akan menjadi ketua Kipas Hitam dan terserah apa yang hendak kaulakukan. Lihat senjata?”‘ Secepat kilat pedang di tangan Yosiko menyambar, menjadi sebuah tusukan sutera putih di tangan kirinya sudah bergerak pula menjadi lingkaran bundar yang melayang dari atas mengarah kepala Yo Wan. Pedang itu sudah tentu saja amat berbahaya, akan tetapi sinar putih sabuk sutera itu kiranya tidak kalah bahayanya, karena ujung sabuk itu dapat menjadi alat menotok jalan darah yang sekali mengenai kepala akan merenggut nyawa!

Mendongkol juga hati Yo Wah. la sebetulnya merasa sayang bahwa seorang muda seperti Yosiko, baik ia gadis seperti dugaannya atau pun betul laki-laki, yang jelas adalah seorang peranakan Jepang, tak dapat dia sadarkan kembali ke jalan benar. Akan tetapi orang ini terlalu memandang rendah kepadanya, kalau tidak diberi hajaran tentu tidak kapok!

“Kau menghendaki kekerasan? Baik!” katanya dan cepat kakinya menggunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindar-kan serangan pedang dan sabuk sutera. Malah dia segera balas menyerang dengan tangan kosong, menggunakan Ilmu Silat Long-thouw-kun yang amat lihai. la merasa sayang sekali bahwa dia kini sudah tidak memiliki senjata apa pun, karena dalam pertandingan mati-matian melawan Bhok Hwesio yang sakti, tiga buah senjatanya rusak semua. Liong-kut-pian (Cambuk Tulang Naga) pemberian mendiang Bhewakala sudah putus ketika dia berebutan dengan Bhok Hwesio, pedang Pek-giok-kiam pemberian subonya (ibu gurunya) patah-patah menjadi tiga potong, sedangkan pedang Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Wangi) yang dia buat di Himalaya hancur remuk, semua berkat kesaktian Bhok Hwesio, lawan yang paling hebat pernah dia tandingi di dunia ini! Kini dia bertangan kosong dan meng-hadapi lawan seperti ketua Hek-san-pang ini, sungguh tidak menguntungkan kalau hanya dengan tangan kosong.

Terdengar Yosiko berseru kagum dan heran berkali-kali. Tentu saja dia merasa heran karena pemuda dusun lawannya ini ternyata mampu bermain langkah ajaib yang malah lebih hebat, lebih lengkap dan lebih lincah daripada kepandaiannya sendiri! Keheranannya membuat dia gugup dan pada saat sabuk sutera putihnya menyambar, ujung sabuk ini kena dicengkeram oleh Yo Wan yang cepat mengirim pukulan jarak jauh dengan pengerahan tenaga ke arah lengan kiri lawan. Hawa pukulan dahsyat menyambar dan Yosiko berteriak kaget, terpaksa melepaskan sabuk sutera putihnya sambil meloncat mundur sampai tiga meter jauhnya!

Yo Wan berdiri sambil tersenyum, mempermainkan sabuk sutera putih yang halus dan berbau harum itu. Makin yakinlah hatinya bahwa Yosiko pastilah seorang gadis.

“Bagaimana? Menyerahkah kau sekarang?” ujarnya, nadanya mengejek.

Sepasang pipi itu merah padam. Bukan main, pikirnya. Dalam waktu kurang dari Sepuluh jurus saja, pemuda ini dengan tangan kosong sudah mampu merampas sabuk suteranya! Padahal tadi Hwat Ki dengan pedang di tangan tak mampu merobohkannya sampai puluhan jurus lamanya. Benar-benar pemuda aneh dah memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Bahkan ilmu langkah dari Hwat Ki sekalipun tidak seindah dan sehebat ilmu langkah pemuda yang sederhana ini. Jantungnya berdebar penuh kekaguman, namun ia masih penasaran dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia menerjang lagi, kini memutar pedangnya sehingga pedang itu lenyap berganti gulungan sinar seperti payung di depan dadanya, langsung menerjang Yo Wan.

“Tar-tar-tar-tar-tar!!” Nyaring sekali ledakan-ledakan kecil ini yang tercipta dari ujung sabuk sutera yang diledakkan seperti cambuk oleh Yo Wan. Bukan main kagetnya hati Yosiko ketika melihat betapa sabuk suteranya, yang biasanya amat ia andalkan sebagai senjata di samping pedangnya, kini di tangan pemuda itu berubah menjadi senjata yang lebih ampuh lagi. Sabuk suteranya itu kini berubah menjadi sinar putih yang panjang membentuk lingkaran-lingkaran aneh yang susul-menyusul dan telan-menelan, lingkaran kecil yang ditelan lingkaran lebih besar, berubah-ubah dan sukar diikuti perkembangannya, namun yang dibarengi ledakan-ledakan kecil mengancam semua jalan darah di tubuh-nya secara bertubi-tubi! Tentu saja Yo Wan pandai memainkan sabuk sutera ini sebagai senjata karena memang inilah sebuah di antara ilmu-ilmunya yangsakti, yaitu Ilmu Cambuk Ngo-sin-hoan-kun yang merupakan gerakan daripada lingkaran sakti yang terbuat daripada ujung cambuk atau benda lemas panjang. Kalang kabutlah permainan pedang Yosiko.

Selama hidupnya, baru kali ini ia mengalami hal macam itu, baru kali ini ia menghadapi lawan yang begini lihainya. Saking kagetnya, ia sampai lupa akan ilmu pedangnya dan menjadi kacau-balau gerakannya. Mendadak ia menjerit dan pedangnya “terbang” meninggalkan tangan! kanannya karena pedang itu ternyata telah terlibat sabuk sutera dan terbetot tanpa dapat ia pertahankan lagi. Kemudian ujung sabuk itu seperti cemeti meledak-ledak dan mencambut toya.

“Aduh…..! Ihhh…..! Aduhhh…..!” Yosi-ko berteriak-teriak karena sabuk sutera itu tiap kali berbunyi pasti menghantam tubuhnya, membuat pakaiannya robek di tempat yang dicium ujung sabuk, dan kulitnya menjadi merah-merah dan matang biru, rasanya sepert ditampar atau dicubit keras!

Yo Wan tidak tega untuk merobohkan ketua Hek-san-pang ini, akan tetapi dia memang hendak memberi hajaran. Meng-ingat bahwa ketua itu adalah seorang wanita muda, maka dia hanya menggunakan sabuk sutera itu untuk mencambuki-nya agar kapok!

“Sahabat yang gagah, tolong kau bantu kami menangkap dia! Dia ketua bajak, kamu harus menangkapnya untuk dihadapkan kepada Bun-goanswe di Tai-goan!” Tiba-tiba terdengar suara Hwat Ki yang kebetulan pada saat itu sudah sadar. Pemuda ini meloncat bangun, disusul oleh Cui Kim yang juga sudah sadar. Memang racun yang dipergunakan oleh ketua Kipas Hitam dalam jamuan makan tadij hanya racun untuk membikin mabuk orang untuk sementara saja, sama sekali tidak berbahaya, hanya sekedar membuat lawan tidak berdaya. Begitu sadar dari pingsannya dan melihat betapa Yosiko dicambuki secara aneh oleh pemuda asing yang dia kenal sebagai pemuda di rumah makanj dalam dusun Leng-si-bun, Hwat Ki segera berseru untuk menangkapnya. Pemuda Lu-liang-san ini dapat menduga bahwa Yo Wan tentulah seorang pendekar yang berfihak kepadanya dan memusuhi bajak laut.

Mendengar seruan ini, sejenak Yo Wan bingung dan agaknya kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Yosiko. la telah mengeluarkan sebuah kipas hitam dan ketika ia menekan gagangnya, dari kedua ujung kipas itu menyambarlah sinar hitam ke depan.

“Awas…..!!” Yo Wan berseru dan sekali sabuk sutera putihnya dia gerakkan, Hwat Ki dan Cui Kim roboh oleh sabuk itu, terpelanting karena kaki mereka terlibat dan dibetot. Yo Wan sengaja melakukan ini karena dapat menduga akan bahayanya sinar hitam itu. Namun usahanya menyelamatkan kedua orang muda itu membuat dia kurang waspada akan dirinya sendiri. la sudah mengebutkan tangan kiri menyampok, namun dia merasa pundak kirinya sakit dan panas, maka maklumlah dia bahwa dia telah terkena senjata rahasia yang halus dan beracun. Rasa panas bercampur rasa gatal membuat dia kaget sekali dan cepat dia melompat ke depan mengejar Yosiko yang lari.

“Berhenti, serahkan obat pemunah racun!” teriak Yo Wan marah. Karena ginkangnya memang jauh lebih menang daripada Yosiko, sebentar saja dia hampir dapat menangkapnya di luar gedung itu. Namun tiba-tiba Yosiko melompat dan….. “byurrr…..!” ketua Kipas Hitam itu sudah terjun ke dalam air laut yang berbuih-buih.

Biarpun bukan ahli, namun kalau hanya berenang saja Yo Wan dapat juga.

la maklum bahwa tubuhnya sudah terkena senjata beracun, dan ketua Hek-san-pang itulah satu-satunya orang yang mempunyai obat penawarnya, maka harus dia tangkap. Dengan pikiran ini, Yo Wan menjadi nekat dan….. “byurrr…..!!” air laut yang hitam gelap itu untuk kedua kalinya muncrat ketika tubuh Yo Wan terjun ke dalamnya. Yo Wan melihat di bawah sinar bulan yang remang-remang itu lawannya berenang ke tengah di mana terdapat beberapa buah perahu nelayan.

“Hemmm, ke manapun kau lari, jangan harap dapat terlepas dari tanganku,” pikirnya dan dia merasa girang ketika mendapat kenyataan bahwa setelah berada agak ke tengah, ternyata laut itu tenang airnya, memudahkan dia berenang melakukan pengejaran. Perahu-perahu di depan itu adalah perahu yang berlabuh, kelihatannya sunyi dan gelap. Tak mungkin kalau perahu nelayan berlabuh dalam keadaan gelap dan berada di tengah. Agaknya perahu-perahu bajak laut. Yo Wan tidak mempedulikan perahu-perahu itu. Ke manapun juga Yosiko pergi, akan dia kejar sampai dapat, karena kalau tidak, keadaannya bisa berbahaya. Mulailah dia menduga-duga. Agaknya senjata rahasia yang halus itu merupakan jarum-jarum kecil halus yang dapat menembus kulit dan menyusup ke bawah kulit sehingga kalau beracun maka racunnya dapat langsung terbawa oleh darah. Pundak kirinya mulai terasa kejang-kejang. Air laut mengurangi rasa sakit, akan tetapi makin lama pundaknya terasa makin kaku dan lengan kirinya hampir tak dapat digunakan lagi. la berenang mengandalkan kedua kaki dan lengan kanannya sehingga tiap kali tubuhnya miring ke kiri mukanya terbenam ke dalam air.

Akan tetapi girang hatinya karena agaknya Yosiko tak dapat berenang cepat, buktinya sebentar saja dia sudah hampir dapat menyusulnya. la mengerahkan tenaganya bergerak maju, berseru keras,

“Pangcu dari Kipas Hitam, berhentilah’ Kauberikan obat pemunah racun dan baru aku mau memberi ampun kepadamu!”

Yosiko menoleh dan tertawa, kemudian, tiba-tiba lenyaplah kepala yang tertawa itu. Yo Wan terkejut. Celaka, pikirnya. Apakah orang itu tenggelam? Jangan-jangan kakinya diseret ikan buas! Kalau Yosiko kena celaka, berarti dia sendiri pun menghadapi bahaya maut. Akan tetapi tiba-tiba bulu tengkuknya meremang saking ngeri dan kagetnya ketika dia merasa betapa kakinya terjepit sesuatu dan dia ditarik ke bawah! Celaka, pikirnya, tentu ikan buas! Yosiko menjadi korban ikan buas dan kini ikan-ikan itu mulai menyambar kakinya dan menarik ke bawah. Cepat dia mengerahkan tenaganya dan menggerakkan kaki sehingga sepatunya terlepas. Akan tetapi berbareng dengan terlepasnya sepatu kanannya, ikan yang menggigit kakinya itu pun terlepas.

Mendadak ada suara orang tertawa di sebelah belakangnya. Cepat dia menengok dan….. kiranya Yosiko yang tertawa, mentertawakannya.

“Mana kegagahanmu, Yo Wan? Agaknya di air kau tidak segagah di darat!”

Yo Wan menggerakkan tangan kanan meraih untuk menangkap lawan itu, akan tetapi tiba-tiba kepala itu lenyap lagi. Yo Wan terkejut dan maklumlah dia bahwa Yosiko kiranya adalah seorang ahli dalam air! Tentu yang mempermainkannya, yang mencopot sepatunya adalah Yosiko inilah! Berabe, pikirnya. Kalau harus bertanding di air, melihat gerakan Yosiko demikian cepatnya, dia pasti takkan berdaya. Benar saja, Yosiko muncul di sana-sini, main kucing-kucingan, sedangkan Yo Wan sudah payah dan lelah sekali.

Mendadak perahu-perahu yang sunyi dan gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang, agaknya ada tanda rahasia yang membuat orang-orang yang bersembunyi di dalam perahu secara serentak memasang lampu penerangan. Terdengar teriakan-teriakan gaduh.

“Itu dia! Benar dia kepala bajak Kipas Hitam. Serbu!

“Tangkap!”

“Bunuh…..!”

“Hadiahnya besar kalau bisa tangkap dia, hidup atau mati!”

“Mari serbu, hadiahnya bagi rata!”

Ramai sorak-sorai itu dan perahu-perahu hitam tadi mulai bergerak mengurung tempat Yo Wan dan Yosiko main kucing-kucingan di dalam air. Kemudian telinga Yo Wan yang tajam dapat me-nangkap mengaungnya suara anak-anak panah menyambar. la terkejut sekali, akan tetapi apa dayanya. Di dalam air, dia tidak dapat mengelak atau bergerak secepat di darat, apalagi pundak kirinya mulai kena pengaruh racun. Tiba-tiba….. “ceppp!” pundak kirinya sebelah belakang terkena anak panah yang menancap cu-kup dalam. Yo Wan mengeluh.

Yosiko mengeluarkan seruan kaget. “Cepat, tahan napasmu…..!” suara ini hanya terdengar seperti bisikan di dekat telinga Yo Wan, akan tetapi dia mentaatinya, menahan napasnya. Sebagai i seorang ahli Iweekeh tentu saja hal ini mudah dilakukannya dan pada saat itu dia merasa betapa tubuhnya ditarik ke bawah permukaan air, lalu dibawa berenang sambil menyelam dengan kecepatan luar biasa. Beberapa menit kemudian Yo Wan tidak ingat apa-apa lagi.

Yo Wan bermimpi. la melihat seorang laki-laki sederhana, berpakaian seperti petani, namun berwajah tampan dan bersikap gagah, bersama seorang wanita cantik yang wajahnya diliputi kedukaan. Mereka tersenyum-senyum kepadanya, melambatkan tangan ketika mereka berjalan meninggalkannya.

“Ayah….. ibu…..!” Yo Wan memanggil, mengeluh karena tidak dapat menggerakkan tubuh untuk mengejar mereka.

la merasa seperti dalam neraka. Api neraka membakarnya, tenaganya habis dan dia tidak berdaya menyingkir dari-pada api yang mengelilinginya itu. Dada-nya terasa sesak, kepalanya panas dan serasa hanipir meledak. Sekali lagi dia memanggil ayah ibunya untuk minta pertolongan, namun mereka sudah terlalu jauh, hanya tampak bayang-bayang mereka saja, tidak jelas lagi. Betapapun, Yo Wan masih dapat mengenal mereka, ayahnya yang gagah berani, ibunya yang cantik peramah.

Tiba-tiba muncul bayangan seorang gadis jelita. Sejenak dia bingung dan tidak mengenal siapa gadis ini. Wajahnya aneh, sebentar seperti Siu Bi, kemudian berubah seperti Lee Si, berubah lagi seperti wajah Bu Cui Kim, akhirnya menjadi wajah Cui Sian. Girang hatinya. Berdebar jantungnya. Mulutnya bergerakl hendak memanggil Cui Sian, akan tetapi rasa malu dan rendah diri menahan niatnya. Cui Sian puteri Raja Pedang, mana bisa disejajarkan dengan dia? Dia seorang jaka lola, miskin dan bodoh.

Mendadak semua bayangan itu lenyap. Yo Wan kecewa dan menyesal, mencari-cari Cui Sian, namun gadis itu tetap tidak tampak lagi. Sadarlah dia daripada mimpi, sebuah mimpi kacau balau ketikaj dia pingsan. Kini terasa betapa tubuhnya panas sekali dan sakit-sakit. la mengeluh, membuka matanya, heran dan bingung. Teringat dia kini betapa dia tenggelam, menahan napas, kemudian dibawa berenang di bawah permukaan air oleh Yosiko. Otomatis dia menahan napasnya, takut kalau-kalau air memasuki hidung dan mulut. Akan tetapi dia tidak merasakan air lagi di sekeliling tubuhnya. Perlahan dibukanya mata yang tadi dia tutup kembali. Sekali lagi dia melihat bahwa dia tidak berada di dalam air, kini lebih jelas. Ada air tampak olehnya, namun di bawah, dan dia rebah di atas sebuah perahu yang bergerak perlahan dan tenang. Badannya panas seperti ter-bakar, pundak kirinya sakit sekali. Teringatlah dia bahwa pundaknya terluka oleh senjata rahasia beracun yang dilepas oleh Yosiko. Di manakah dia sekarang? Masih hidupkah perjalanan menuju ke alam baka melalui sungai dan naik perahu? Kembali dia mengeluh, tenggorokannya terasa haus bukan main. la mengumpulkan tenaga dalam tubuhnya yang lemas, mencoba untuk bangkit dan duduk.

“Uuhhh…..” Pundak kirinya terasa sakit sekali dan ketika tangan kanannya meraba, kiranya di pundak kiri sebelah belakang masih menancap sebatang anak panah! Teringatlah kini Yo Wan bahwa sebelum dia tenggelam, ada anak panah yang mengenai pundaknya.

“Ee-e-eee….. tidak boleh bangun dulu…… kau harus rebah terus, miring kanan…..” tiba-tiba terdengar suara halus seorang wanita dan jari-jari tangan yang halus pula merangkul pundak kanannya, kemudian dengan tekanan perlahan menyuruh dia rebah kembali, terlentang agak miring ke kanan agar anak panah di pundak kirinya tidak menyentuh lantai perahu.

Yo Wan serasa mengenal suara ini, dan ini membuat hatinya kecewa. Ketika untuk pertama kali mendengar suara wanita tanpa melihat orangnya, sepenuh hatinya dia mengharapkan bahwa orang itu Cui Sian adanya. Akan tetapi kini dia merasa pasti bahwa itu bukanlah suara Cui Sian, dan kenyataannya ini mengecewakan hatinya. Suara siapakah? Serasa mengenalnya, akan tetapi dia tidak dapat memastikan siapakah wanita ini. Setelah rebah, dia memutar leher dan memandang. Seorang gadis cantik jelita sedang sibuk mendayung perahu itu. Gadis itu memandangnya dengan bibir tersenyum dan mata bersinar-sinar. Mata itu! la tidak mengenal wajah ini, akan tetapi dia mengenal benar mata itu. Di mana gerangan? Dan suara itu! Payah Yo Wan mengingat-ingat, namun dia tetap tidak tahu di mana dan bila rnana dia pernah mendengar suara ini dan melihat mata itu. Rasa panas menyesakkan napasnya.

“Uhh-uhhh…… panas…… haus…..” bisiknya.

Gadis itu dengan gerakan perlahan menancapkan sebatang bambu panjang ke bagian yang dangkal di pinggir sungai dan perahu itu kini terikat pada bambu. Kemudian dia nienghampiri Yo Wan.

“Haus? Minumlah ini, jangan banyak-banyak. Kau terserang demam, akan tetapi tidak berbahaya, jangan khawatir. Nanti setelah tiba di hutan Jeng-hwa-lim (Hutan Seribu Bunga), di sana banyak obat untuk mengusir demam, juga untuk menahan keluarnya darah. Karena itu, biar sementara kita diamkan anak panah itu, sesampainya di sana baru dicabut.”

Gadis itu bicara dengan halus dan ramah seakan-akan mereka sudah menjadi kenalan baik sejak bertahun-tahun. Tiada canggung, tiada keraguan, tidak sungkan-sungkan lagi. Siapakah gadis jelita ini? Matanya begitu tajam dan bening, bersinar-sinar seperti bintang pagi yang pada saat itu masih berkedap-kedip di angkasa, menghias pagi yang dingin. Hidungnya kecil mancung, menjadi imbangan yang manis dari bibirnya yang lunak, merah dan berbentuk indah.

“Kau siapakah, Nona?” Tak tahan lagi Yo Wan bertanya, matanya memandang wajah itu, akan tetapi keningnya berkerut-kerut menahan sakit.

Sebelum menjawab, gadis itu mengulurkan tangan kanannya. Gerakan ini membuat ujung lengan bajunya tersingkap dan tampaklah lengannya yang berkulit putih halus sampai ke siku membayang-kan di balik lengan baju. Jari-jarinya kecil meruncing dengan kuku mengkilap terpelihara. Tangan halus itu dengan gerakan lembut dan mesra menyentuh dahi Yo Wan seperti biasanya orang hendak melihat panas seorang terserang demam. Kemudian dicabutnya sehelai saputangan merah muda dari balik bajunya dan dihapusnya dahi yang penuh keringat itu, terus ke pipi dan leher Yo Wan. Biarpun sedang menderita demam dan sakit, perbuatan ini membuat jantung Yo Wan berdebar jengah dan malu. Siapakah gadis ini yang begini mesra dan begini telaten merawathya?

“Kau….. kau siapa…..?” tanyanya lagi. “Kau minum dulu ini, bukankah tadi kau bilang haus?” kata si gadis yang tanpa ragu-ragu menyorongkan lengan kirinya yang kecil ke bawah leher Yo Wan, mengangkat kepala pemuda itu ke atas sedikit, kemudian tangan kirinya mendekatkan sebuah cawan ke mulut  Yo Wan. Pemuda ini merasai hal yang aneh di dalam hatinya. Seluruh isi dadanya serasa bergejolak, darahnya berdenyar-denyar dan bergelora. Betapa tidak? Biarpun usia Yo Wan sudah cukup dewasa, sudah dua puluh delapan tahun, namun baru kali ini lehernya dirangkul lengan seorang wanita! Kepalanya seakan-akan bersandar kepada pundak dan dada orang, hidungnya mencium keharuman yang asing baginya, dan hampir saja dia tidak sanggup menelan air yang diminumnya karena tenggorokannya serasa tercekik. Namun, sebagai seorang ahli tapa, dia dapat menenteramkan hatinya dan biarpun dia sedang menderita sakit, dia dapat merasa betapa lengan kiri yang lembut dan kecil halus itu mengandung tenaga yang hebat!

“Siapakah kau, Nona?” tanyanya lagi setelah gadis itu merebahkannya kembali.

Si gadis tersenyum. Dekik kecil pada ujung mulut sebelah kiri membuatnya manis sekali. Dekik pipi kiri ini mengingatkan Yo Wan akan sesuatu, akan tetapi dia tidak tahu benar apa dan siapakah “sesuatu” itu. Hanya dia merasa pasti bahwa pekik ini bukan baru sekarang dia lihat!

“Apakah kau tidak bisa menduga? Aku adalah adik dari ketua Kipas Hitam! Kau teriuka dan hampir celaka di laut, kakakku menolongmu, kemudian menyerahkan kepadaku untuk merawatmu sampai sembuh.”

Yo Wan memandang penuh perhatian. Salahkah dugaannya? Betulkah Yosiko ketua Kipas Hitam itu mempunyai seorang adik perempuan? Wajahnya serupa benar dan kini teringatlah dia bahwa sinar mata dan dekik pada ujung mulut itu dia lihat pada wajah Yosiko! Hemmm, gadis ini adalah Yosiko sendiri, dia hampir merasa pasti akan hal itu. Hanya ada sebuah kemungkinan, yaitu bisa juga gadis ini adiknya, akan tetapi adik kembar. Hanya adik kembar yang mempunyai persamaan seperti ini, bagai pinang dibelah dua. Akan tetapi, andaikata benar adiknya, mengapa begini hebat? Sebaliknya, apabila gadis ini adalah Yosiko sendiri, mengapa harus seaneh ini sikapnya? la tidak mau meributkan soal itu, mengingat akan keadaannya. Akan tetapi diapun tidak mau berhutang budi kepada kepala bajak. Dengan menahan rasa sakit, Yo Wan bangun lagi, tidak peduli akan cegahan gadis itu.

“Eh, jangan bangun…… kau mau apa.,…?” Gadis itu bertanya, memegang lengannya.

“Aku….. aku harus pergi dari sini.”

“Eh, jangan! Kau masih terluka hebat, racun di pundakmu belum keluar habis, dan anak panah itu berbahaya sekali. Kau hendak pergi dari sini, pergi kemanakah?”

“Aku harus menolong muda-mudi dari Lu-liang-san. Di mana mereka? Dan apa yang terjadi?”

Kini mereka duduk berhadapan di atas perahu dan terlihatlah kini dengan jelas oleh Yo Wan bahwa gadis di depannya itu benar cantik jelita, akan tetapi pada wajah yang elok itu terbayang sifat liar dan terbuka, bebas dan lincah seperti terdapat pada wajah Siu Bi si gadis liar dari Go-bi-san. Gadis ini masih muda, takkan lewat dua puluh tahun usianya. Melihat kulit muka dan kulit tangan yang agak gelap dapat diduga bahwa gadis ini banyak berada di alam terbuka, banyak terkena sinar matahari. Bagian yang paling menarik pada wajahnya adalah mata dan mulut.

Mendengar pertanyaan Yo Wan tentang muda-mudi dari Lu-liang-san, mata gadis itu berkilat. “Bocah-bocah kurangi ajar itu! Menyesal mengapa aku tidakjmembunuh mereka saja. Hemmm, semestinya kakakku membunuh mereka dan melempar mayat mereka ke laut agar menjadi makanan ikan hiu, ketika mereka kena tawan!”

Yo Wan mengerutkan kening. Benar-benar gadis ini seperti Siu Bi, liar, ganas. Akan tetapi, ucapan itu melegakan hatinya karena kegemasan gadis itu sudah jelas menyatakan bahwa muda-mudi Lu-liang-san itu tidak tewas, mungkin sudah bebas. Kelegaan hati ini membuatnya tersenyum, tapi karena pundaknya terasa nyeri, senyumnya menjadi senyum me-nyeringai masam.

“Apa yang terjadi? Siapakah orang-orang di dalam perahu yang menyerang kita….. eh, yang menyerang aku dan….. kakakmu?”

“Mereka itu adalah orang-orang yang dipimpin oleh Jenderal Bun di Tai-goan dipimpin oleh putera jenderal itu sendiri. Mereka berusaha hendak menangkap….. kakakku. Hemmm, tikus-tikus itu mana mampu menangkap ketua Kipas Hitam? Apalagi membasmi Kipas Hitam! Kau lihat saja betapa kami akan menghancurkan mereka nanti.”

Diam-diam Yo Wan terkejut. Kiranya mereka yang menyergapnya dengan Yosiko, yang telah melukai pundaknya, adalah orang-orang pemerintah yang bermaksud membasmi bajak laut. Dan dalam kegelapan malam tentu saja dia yang bersama-sama dengan Yosiko disangka bajak pula! Diam-diam dia mengeluh.

“Dan mereka itu, muda-mudi Lu-liang-san itu, bagaimana dengan mereka?”
“Uh, mereka? Biar dimakan setan neraka mereka itu. Mereka bergabung dengan orang-orang Tai-goan, menyebar kematian di antara anak buah kami. Awas kalau nnereka terjatuh ke tanganku!” Yo Wan girang sekali. Tak salah dugaannya dan tak salah ketika dia membantu muda-mudi Lu-liang-san itu. Mereka adalah pendekar-pendekar muda yang perkasa, sedangkan Yosiko, dan….. adiknya ini kalau benar adiknya, serta semua anak buahnya adalah bajak laut-bajak laut yang ganas dan patut dibasmi. Berpikir demikian, tiba-tiha dia merasa malu. Mengapa dia harus membiarkan dirinya dirawat oleh seorang pemimpin bajak laut? Kalau para pendekar kang-ouw mengetahuinya, alangkah akan rendah dan malunya. Pikiran ini membuat dia serentak bangkit.

Gadis itu kaget. “Eh, mau apa kau? Mau ke mana?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: