Jaka Lola ~ Jilid 27

“Aku harus pergi dari sini! Harus!” la mengeluh karena pundak kirinya sakit sekali. Dengan tangan kanan dia meraba ke belakang pundak kiri, memegang gagang anak panah dan mengerahkan tenaga mencabutnya. Anak panah tercabut, darah muncrat keluar dan gadis itu menjerit berbareng dengan robohnya tubuh Yo Wan, pingsan di atas perahu!

Gadis itu cepat menerima tubuhnya sehingga tidak sampai terbanting, lalu dengan cekatan dan kelihatan ringan sekali dia memondong tubuh Yo Wan ke darat dan berlari-Iarilah gadis itu menuju ke sebuah hutan yang penuh dengan bunga, hutan Jeng-hwa-lim. Bagaikan berlarian di dalam taman bunga miliknya sendiri, gadis itu dengan cepatnya menuju ke sebuah gua yang berada di hutan ini. Indah sekali tempat ini. Letaknya tepat di tepi Sungai Kuning yang terjun ke dalam air Laut Po-hai, lembah yang subur dan indah. Air sungai yang amat tenang itu mengalir tak jauh di depan gua.

Apa yang diceritakan oleh gadis itu kepada Yo Wan memang tidak bohong. Orang-orang di dalam perahu-perahu sunyi gelap pada malam hari itu, bukan lain adalah orang-orang Bun-goanswe yang berusaha membasmi dan menangkap ketua bajak laut, dipimpin sendiri oleh Bun Hui, pemuda putera Bun-goanswe yang tampan dan gagah perkasa.

Adapun Hwat Ki dan Cui Kim, ketika sadar daripada pengaruh obat memabukkan di dalam gedung tempat tinggal ketua Kipas Hitam, roboh kembali oleh Yo Wan yang menyelamatkan mereka daripada sambaran senjata-senjata rahasia ampuh dan berbahaya yang dilontarkan oleh si ketua Kipas Hitam. Namun sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, Hwat Ki dan sumoinya sudah meloncat bangun lagi. Mereka tahu bahwa pemuda sederhana yang membantu mereka itu telah terluka dan kini mengejar Yosiko, maka serentak mereka berdua pun meloncat melakukan pengejaran. Akan tetapi begitu tiba di depan gedung, mereka dihadang oleh banyak sekali anak buah bajak laut Kipas Hitam yang bersenjata lengkap. Kemarahan Hwat Ki dan sumoinya memuncak. Mereka tadi sudah memungut pedang masing-masing dan kini sambil berseru inarah muda-mudi Lu-liang-pai ini mengamuk. Pedang mereka berkelebatan bagaikan dua ekop naga sakti yang menyambar-nyambar.

Namun para pengeroyok mereka ternyata bukan orang-orang sembarangan pula. Barisan bajak yang mengeroyok mereka berdua dipimpin oleh tiga orang kakek yang tadi dikalahkan Yo Wan. Agaknya maklum bahwa yang hendak dikeroyok adalah dua orang muda perkasa, maka yang maju adalah anggauta-anggauta bajak laut pilihan yang sedikit banyak sudah memiliki kepandaian silat lumayan.

Seorang demi seorang, para bajak laut itu mulai roboh. Akan tetapi yang datang membantu jauh lebih banyak daripada yang roboh, sedangkan muda-mudi Lu-liang-pai ini masih agak pening karena pengaruh racun tadi, maka keduanya lalu beradu punggung dan mempertahankan diri daripada hujan senjata dari kanan kiri. Mereka dapat merobohkan seorang dua orang, akan tetapi tidak mampu keluar daripada kepungan yang makin tebal itu. Agaknya para bajak sudah mendapat instruksi dari atasannya untuk bertahan sampai dua orang itu dapat ditangkap atau dibunuh. Keadaan ini bukan tidak berbahaya. Hwat Ki maklum akan hal ini maka sambil mengeluarkan teriakan keras dia menubruk maju, tangan kirinya menggunakan pukulan-pukulan Cheng-tok-ciang dan terdengarlah pekik berturut-turut ketika empat orang roboh oleh pukulan dahsyat ini!

Akan tetapi, pukulannya yang dahsyat dan berhasil baik ini ternyata malah mendatangkan malapetaka, karena tiga orang kakek itu yang melihat akan hebatnya Cheng-tok-ciang, lalu memberi aba-aba dan kini para bajak menggunakan obor untuk mengurung Hwat Ki dan Cui Kim! Pucat wajah kakak beradik seper-guruan ini. Menghadapi senjata-senjata tajam dari para pengeroyok, mereka masih mampu mempertahankan diri. Akan tetapi kalau begitu banyaknya pengeroyok menggunakan api untuk menyerang, celakalah mereka!

“Sumoi, terjang ke kiri, cari jalan keluar melalui darah mereka!” teriak Hwat Ki kepada adik seperguruan itu. la mendapatkan akal untuk menggabung tenaga menerjang ke kiri, membuka jalan berdarah.

Cui Kim mengerti akan maksud suhengnya, maka dia segera memutar pedangnya sedemikian cepatnya sehingga seorang pengeroyok yang tidak sempat menangkis, terbabat putus bahu kiri berikut lengannya. Orang itu menjerit ngeri dan roboh. Akan tetapi Cui Kim terpaksa meloncat mundur lagi karena ada empat orang yang menyorongkan obor kepada-nya. la merasa ngeri juga dan takut. Api adalah benda yang amat berbahaya Sekali mencium ujung pakaiannya, akibatnya tentu amat mengerikan.

Hwat Ki juga berhasil merobohkan dua orang, akan tetapi para bajak itu ternyata dipimpin oleh orang-orang yang pandai juga, karena agaknya mereka tahu akan niat dua orang muda ini sehingga begitu mereka berdua menerjang ke kiri, bagian ini diperkuat sehingga sukarlah untuk membobolkannya.

“Gunakan jala!!” Tiba-tiba terdengar perintah dan para bajak itu kini menyeret jala ikan. Ketika mereka mulai menggunakan benda ini, Cui Kim dan Hwat Ki makin kaget. Kiranya jala ikan itu mereka lemparkan ke arah kaki kakak beradik ini. Hwat Ki dan Cui Kim cepat meloncat, akan tetapi obor-obor menyala menyambut mereka sehingga terpaksa mereka turun lagi menginjak jala. Dapat dibayangkan sukarnya orang bersilat di atas jala-jala ikan yang malang-melintang. Tiba-tiba terdengar Cui Kim memekik karena gadis ini terlibat kakinya dan terguling! Seorang bajak laut cepat menubruk maju, karena para bajak yang terdiri daripada orang-orang kasar dan liar itu di dalam hati saling berlomba untuk dapat menangkap si gadis cantik dari Lu-liang-san agar sebelum menyerahkannya kepada ketua, mereka dapat memuaskan kekurangajaran mereka. Bajak yang me-nubruk maju ini berseru girang karena dia merasa menang dalam perlumbaan ini, lebih dulu memeluk Cui Kim. Akan tetapi seruan girang itu berubah seketika pekik mengerikan ketika lehernya ditembusi pedang yang berada di tangan Cui Kim. Sebagai seorang anak murid Lu-liang-pai yang terkasih, tentu saja gadis ini bukan seorang gadis sembarangan. Biarpun dia sudah terlibat dan jatuh terguling, namun dalam robohnya dia sudah dapat membalikkan tubuh dan bersiap dengan pedangnya. Maka begitu ada bajak yang menubruknya, pedangnya bergerak dan berhasil menusuk tembus leher si bajak, sehingga bajak itu tewas seketika sambil membawa nafsu kekurangajarannya ke neraka!

Cui Kini kaget sekali ketika pedangnya sukar dicabut kembali. Agaknya pedang ini menembus tulang, maka tidaklah begitu mudah dicabut, padahal pada saat itu, tiga orang bajak yang melihat kawannya mati dalam keadaan mengerikan, segera maju dengan obor dan golok di tangan. Cui Kim sudah meramkan mata menanti datangnya maut, akan tetapi ia segera membuka matanya kembali ketika di sampingnya roboh berdebukan tiga orang bajak laut itu. Cepat ia bangkit berdiri dan sekuat tenaga menarik pedangnya, sambil melirik gi-rang kepada suhengnya yang dapat menolongnya dalam waktu yang tepat. Akan tetapi suhengnya kelihatan lelah sekali, juga dia merasa amat lelah biarpun kinl berhasil membebaskan kakinya dari libatan jala.

Pada saat kedua orang jago muda dari Lu-liang-pai ini amat terancam kedudukannya, tiba-tiba terdengar sorak-sorai yang riuh-rendah dan kacaulah barisan para bajak laut. Mereka yang mengeroyok Hwat Ki dan Cui Kim makin berkurang dan akhirnya sisa daripada mereka yang roboh tewas, membuang obor mereka dan melarikan diri, menghilang ke dalam gelap setelati terdengar tanda suara seperti terompet.

Apakah yang terjadi? Selagi Hwat Ki dan Cui Kim menduga-duga dengan hati lega karena terbebas daripada bahaya, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang memegang pedang yang berlepotan darah.

“Saudara Hwat Ki…..! Syukur kau dan sumoimu selamat…..!”

“Eh, Bun-lote (adik Bun)! Kiranya kau yang menolong kami? Dengan siapa kau datang?” kata Hwat Ki gembira ketika mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Bun Hui.

“Dengan pasukan khusus dari Tai-goan, dibantu pasukan dari Cin-an! Bajak laut Kipas Hitam itu harus dibasmi, mereka mengganas di mana-mana. Kau melihat ketuanya? Di mana dia?”

“Lari, tadi dikejar oleh saudara baju putih yang lihai. Mudah-mudahan tertangkap,” kata Hwat Ki.

“Ke mana larinya?”

“Ke sana!” kata Cui Kim yang juga girang melihat putera jenderal ini, yang pernah ia jumpai ketika pemuda itu naik ke puncak Lu-liang-san untuk bertemu dengan suhunya.

“Mari kita kejar!” Mereka bertiga mengejar ke luar dan ternyata di sekitar tempat itu sudah penuh dengan anak buah yang dibawa Bun Hui. Akan tetapi ketika mereka tiba di tepi laut di mana anak buah Bun Hui dengan perahu-perahu mereka mengepung Yosiko, mereka kecewa mendengar betapa ketua Kipas Hitam itu berhasil melenyapkan diri sambil menyelam.

Yang amat khawatir dan kaget hatinya adalah Hwat Ki dan Cui Kim. Me-reka mendengar dari orang-orang kerajaan ini bahwa mereka berhasil memanah seorang pemuda, entah ketua Kipas Hitam entah bukan karena tadinya ada dua orang pemuda yang berenang seakan-akan berkejaran atau hendak melarikan diri. Hwat Ki dan sumoinya khawatir, jangan-jangan penolong mereka itu yang terkena anak panah!

Mereka semua harus terus melakukan pengejaran dan mencari-cari. Hwat Ki dan sumoinya memisahkan diri, juga mereka berdua mencari. Kalau Bun Hui dan para anak buahnya mencari jejak para bajak laut yang hendak mereka basmi, adalah kedua orang muda dari Lu-liang-san ini mencari jejak pemuda baju putih yang telah menolong mereka. Mereka berdua dapat membayangkan betapa berbahayanya keadaan mereka ketika mereka roboh oleh makanan yang mengandung racun. Mereka sudah pingsan dan tidak berdaya sama sekali. Entah apa yang akan dilakukan oleh ketua Kipas Hitam kepada mereka dalam keadaan pingsan itu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kalau saja tidak muncul pemuda baju putih yang demikian aneh, yang tadinya  sudah mereka lihat di dalam restoran di dusun Leng-si-bun. Melihat cara pemuda pakaian putih itu menggempur Yosiko dan membuat ketua Kipas Hitam itu terdesak hebat, sudah membuktikan bahwa pemuda baju putih itu lihai bukan main. Mereka mencari terus, mencari di sepanjang lembah Huang-ho, menyusuri pantai Sungai Kuning ini.

Sementara itu, Yo Wan sadar dari pingsannya. Tubuhnya terasa enak dan nyaman, akan tetapi lemas sekali. Cepat dia ingat akan segala peristiwa yang menimpa dirinya, maka segera dibukanya matanya. Heran dia ketika mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan yang terbuat daripada kayu kasar sederhana, dan berada di dalam sebuah gua yang gelap. akan tetapi harus dia akui bahwa gua ini bersih sekali, kering dan dari luar masuk bau semerbak harum dibawa oleh siliran angin. Ketika dia melihat tubuhnya, dia merasa heran sekali karena bajunya sudah terganti dengan baju baru yang berwarna putih, terbuat daripada sutera. Baju ini bersih dan baru jauh bedanya dengan bajunya sendiri yang sudah agak kumal. Juga sepatunya yang lenyap ketika dia bergumul dengan Yo-siko di dalam laut, kini telah mendapat pengganti berupa sepatu baru yang mengkilap. Yo Wan terheran-heran. Tentu gadis adik Yosiko itu yang memberi semua ini, karena dia sudah teringat akan peristiwa di atas perahu. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah sekali. Tak mungkin! Siapa yang menggantikan pakaiannya selagi dia pingsan? Apakah gadis jelita itu?
Teringat akan ini, Yo Wan melompat bangun, jantungnya berdebar-debar. la mengeluh karena merasa jantung dan isi dadanya seakan-akan ditusuk-tusuk pisau. Tiba-tiba dia terbatuk dan darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Terdengar suara kaki berlari-lari ri-ngan memasuki gua. Gadis jelita itu masuk, bagaikan dewi. Akan tetapi yang sedang cemas, matanya yang indah terbelalak, kedua tangannya berkembang, dan inulutnya yang kecil berseru kaget, “Ah, kau sudah sadar…… jangan berdiri, berbaringlah dulu. Yo Wan, kau terluka parah…..!”

Hanya dengan pengerahan tenaga dalamnya Yo Wan dapat menahan dorongan dari dalam untuk batuk dan muntah darah. la kaget bukan main dan tahulah dia bahwa dia betul-betul telah menderita luka yang hebat di sebelah dalam tubuhnya. Akan tetapi dia merasa malu kalau harus berbaring lagi, malu karena gadis ini sudah menggantikan pakaiannya. Sungguh tak tahu malu! Wajahnya menjadi merah sekali dan hampir dia tidak berani menentang pandang mata itu.

“Aku….. aku harus pergi…..” Ia memaksa bibirnya berkata demikian, sungguhpun hatinya merasa tidak enak. Gadis itu sudah begitu baik kepadanya, agaknya sudah mengobati luka di pundaknya karena pundak itu tidak terasa sakit lagi.

Dengan tenang akan tetapi ramah dan bebas, gadis itu melangkah dekat, memegang tangan Yo Wan sambil menuntunnya setengah memaksa, duduk di atas pembaringan kayu. Yo Wan merasa halusnya kulit tangan, kehangatan yang keluar dari jari-jari tangan kecil itu menjalari seluruh tubuhnya, membuat dia menjadi makin bingung dan memaksanya untuk tidak membantah.

“Yo Wan, ketahuilah. Biarpun luka di pundakmu sudah tidak berbahaya lagi, akan tetapi agaknya anak panah itu terlalu dalam menghunjam di tubuhmu, mungkin melukai bagian penting dalam dadamu. Tadi kaumuntahkan banyak darah, sudah kubersihkan, terpaksa kuganti pakaianmu dengan pakaian bersih. Tapi sekarang kau batuk-batuk lagi. Kau berbaringlah! Aku bukan ahli pengobatan, akan tetapi aku maklum bahwa dalam keadaan seperti ini, tak baik kau mengerahkan tenaga dan menggerakkan tubuh. Lebih baik kau berbaring, biar kuberi minuman yang mengandung khasiat menguatkan tubuh, kemudian akan mencari seorang tabib yang pandai untuk mengobatimu.”

Mendengar ucapan ini, diam-diam Yo Wan kaget dan bingung. Omongan gadis ini sama sekali tidak mengandung maksud buruk, bahkan amat baik dan membuat dia berhutang budi.

“Kenapa….. kenapa kau melakukan hal ini kepadaku?” tanyanya, suara lemah, akan tetapi karena maklum akan kebenaran kata-kata gadis itu, dia tidak membantah lagi dan membaringkan tubuhnya.

Gadis itu memandang kepadanya, agaknya terheran mengapa Yo Wan masih bertanya macam itu. Akan tetapi ketika pandang mata mereka bertemu, tiba-tiba warna merah menjalar ke arah ke-dua pipi sampai ke telinga, dan….. aneh sekali, gadis itu menundukkan muka sambil menyembunyikan senyum dikulum. Apa-apaan ini, pikir Yo Wan, namun jantungnya berdebar lagi sehingga dia harus cepat-cepat mengerahkan sinkang untuk menekan perasaannya yang berdebar dan yang akan menjadi bahaya bagi keselamatannya.

“Yo Wan, kau telah mengalahkan ketua Kipas Hitam, ingat? Kepandaian kakakku itu bukan apa-apa bagimu, kau jauh lebih lihai, sepuluh kali lipat lebih lihai daripada kakakku. Karena itu, sudah sewajarnya dan seharusnya kalau aku merawatmu.”

Yo Wan meramkan mata, mengingat-ingat. Teringat dia akan ucapan Yosiko ketika hendak bertanding menghadapi Hwat Ki. Yosiko menyatakan bahwa adik perempuannya menghendaki jodoh yang dapat mengalahkan Yosiko! Dan kini, adik Yosiko ini agaknya kagum akan kepandaiannya. Celaka! Hampir Yo Wan melompat bangun, kalau saja tidak merasa betapa dadanya yang sebelah kiri sakit. Ini hanya berarti bahwa gadis liar dan bebas ini….. telah memilihnya sebagai calon jodoh!

Ah, gerak-gerik gadis ini! Sepasang mata dan senyum itu! Salahkah dugaannya bahwa Yosiko ketua Kipas Hitam adalah penyamaran gadis ini? Akan tetapi mengapa gadis ini mengaku sebagai adik ketua Kipas Hitam? Andai-kata betul gadis ini adiknya, dapat dipastikan bahwa mereka tentulah saudara kembar, karena serupa benar wajah dan gerak-geriknya. Hanya pakaian saja yang berbeda!

Sambil berbaring di atas dipan kayu itu. Yo Wan mengingat-ingat. Hatinya girang kalau dia teringat akan muda-mudi dari Lu-liang-san itu, terutama melihat betapa Tan Hwat Ki, cucu Raja Pedang, ternyata adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, patut menjadi cucu Raja Pedang, patut menjadi keponakan….. Cui Sian! Berpikir sampai di sini, mendadak saja semua lamunannya lenyap, yang tampak dan teringat hanya gadis puteri Raja Pedang itu, Cui Sian!

“Mengapa? Sakit sekalikah rasanya? Kau mengasolah, biar besok aku pergi mengundang seorang tabib yang pandai.”

Yo Wan tidak menjawab, hanya mengangguk, akan tetapi keningnya berkerut. la telah dirawat oleh keluarga bajak laut yang mengganas di pesisir Laut Po-hai! la berada di tangan orang jahat, akan tetapi “orang jahat” itu justeru merawat lukanya yang menjadi akibat serangan anak panah seorang anggauta pasukan pemerintah! Gadis ini mencurigakan sekali. Apa alasannya merawat dia yang terang-terang memusuhi ketua Kipas Hitam? Tak mungkin! Gadis ini amat cantik jelita, dan kalau benar adik ketua Kipas Hitam, berarti seorang yang memiliki kedudukan, biarpun hanya menjadi ketua Hek-san-pang. Mana mungkin seorang gadis jelita seperti ini mencintainya! Lalu apa kehendaknya? Merawat seorang musuh. Tentu ada apa-apa yang tersembunyi di balik perawatan ini. Mendadak dia merasa amat mengantuk. Rasa kantuk yang tak tertahankan. Ingat dia akan obat yang diminumnya tadi, yang di-minumkan oleh gadis itu. Kecurigaannya makin menebal. Jangan-jangan dia diberi minum obat bius. ia ingin melompat, ingin menangkap gadis itu dan memaksanya membuat pengakuan, akan tetapi rasa kantuknya tak dapat dia tahan lagi dan di lain saat Yo Wan sudah jatuh pulas.

Suara orang bercakap-cakap dengan bisikan-bisikan lirih membuat dia sadar dari tidurnya. Akan tetapi Yo Wan tidak segera membuka mata, melainkan mem-perhatikan percakapan itu dengan heran. Ada dua orang bicara, seorang adalah gadis yang merawatnya, yang seorang lagi tentu seorang wanita pula, suaranya merdu dan tekanan kata-katanya tegas.

“la kelihatan lemah, aku tidak percaya…..” kata suara ke dua.

“Pernahkah aku membohong?” kata suara si gadis, manja dan marah. “la hebat kau sendiri takkan mampu menang…..”

“Hemmm, sebelum mencoba, mana aku bisa percaya obrolanmu?”

Yo Wan membuka sedikit pelupuk matanya. Dari balik bulu matanya dia melihat pakaian-pakaian tergantung di atas, agaknya pakaian-pakaian yang baru habis dicuci. Kelihatan olehnya pakaiannya sendiri, dan pakaian sutera putih, pakaian Yosiko! Ah, lagi-lagi pakaian ketua Kipas Hitam, kalau pakaiannya berada di sini, bahkan bisa memberi pinjam pakaian kepadanya, orangnya tentu di sini pula. Dan siapa lagi kalau bukan gadis ini orangnya?

“Tampan sekali dia tidak, juga tidak muda lagi, sedikitnya enam tujuh tahun lebih tua dari padamu…… hemmm, aku khawatir kau salah pilih…..”

“Lihat, dia sadar…..”

“Biar kucoba dia!”

Yo Wan cepat menggunakan ginkangnya untuk membuang tubuhnya dari atas pembaringan ketika dia mendengar desir, angin pukulan yang menggetar-getar. Angin pukulan itu tidak mengenai dirinya, menyambar pembaringan kayu, akan tetapi tidak menimbulkan kerusakan pada pembaringan itu, melainkan tikar yang menjadi tilam pembaringan seperti tertiup angin. Diam-diam Yo Wan terkejut. Iweekang wanita itu hebat, akan tetapi jelas bahwa wanita itu tidak mengirim pukulan maut, mungkin inilah yang dimaksudkan dengan mencoba atau meng-ujinya! Cepat dia membalikkan tubuh dan memandang. Kiranya di samping gadis itu berdiri seorang wanita setengah tua yang cantik pula, sikapnya keren, sepasang matanya tajam membayangkan kekerasan hati, bentuk mukanya serupa benar dengan gadis itu, dan di punggung wanita setengah tua ini tersembul gagang sebuah pedang. Yang amat berbeda dengan gadis itu adalah pakaiannya. Kalau gadis itu mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan warna merah muda, adalah wanita setengah tua itu pakaiannya serba hitam.

Yo Wan hendak bertanya, namun dia tidak diberi kesempatan lagi karena wanita itu sudah menerjangnya dengan pedang di tangan. Serangan-serangannya hebat dan ganas sekali, namun amat indah seperti orang menari-nari. Menyaksikan ilmu pedang ini, jantung Yo Wan berdebar. Ilmu pedang hebat! Serupa benar dengan ilmu pedang yang pernah dilihatnya dalam permainan pedang Cui Sian. Indah seperti tarian, namun mengandung daya serang yang amat ganas! Dan gerakan kaki itu! Jelas adalah inti daripada Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te, yang merupakan cabang daripada Ilmu Langkah Kim-tiauw-kun. Siapakah wanita ini?

Karena dia bertangan kosong, Yo Wan terpaksa mainkan langkah-langkah ajaib untuk menyelamatkan diri. Ruangan d-lam gua itu remang-remang, hanya diterangi oleh sinar penerangan pelita sumbu minyak sederhana, maka untuk menyelamatkan diri tidak cukup mengandalkan penglihatan yang menjadi silau oleh berkelebatnya kilatan pedang. Namun Yo Wan telah memiliki kepandaian yang tinggi, dengan perasaannya yang peka dan pendengarannya yang tajam dia dapat mengetahui dari mana senjata lawan menyambar dan bagaimana sifat-sifat penyerangan lawannya yang cukup lihai ini.

Berkali-kali wanita setengah tua itu mengeluarkan ucapan heran menyaksikan betapa Yo Wan selalu dapat menghindarkan serangannya, dari sikap heran menjadi penasaran, kemudian menjadi marah. Hal ini terbukti pada serangannya yang makin gencar dan sungguh-sungguh, bahkan kini setiap sambaran pedangnya merupakan jurus-jurus maut.

Yo Wan terkejut dan khawatir. la merasa betapa nyeri di dalam dadanya masih hebat, punggungnya terasa panas dan setiap gerakan yang membutuhkan pengerahan tenaga agak banyak, terasa darah segar naik ke kerongkongannya. la maklum bahwa untuk membalas serangan wanita galak ini, tidaklah mungkin tanpa membahayakan lukanya sendiri, maka terpaksa dia hanya dapat mengelak dan seratus prosen mengandalkan keampuhan langkah-langkah ajaib Si-cap-it Sin-po.

Masih untung bagi Yo Wan bahwa ruangan dalam gua itu cukup luas sehingga dengan leluasa dia dapat mainkan Si-cap-it Sin-po. Dan lebih untung lagi bahwa wanita setengah tua ini agaknya hanya paham Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te yang tentu saja tidak seluas Si-cap-it Sin-po yang mempunyai ragam sebanyak empat puluh satu langkah, sedangkan Hui-thian-jip-te hanya mempunyai dua puluh empat langkah. Dengan demikian, maka sebegitu jauh Yo Wan selalu masih dapat meloloskan diri, sungguhpun kadang-kadang dia seperti telah terkurung dan hanya bisa lolos melalui lubang jarum! Makin lama gerakan Yo Wan makin lemah karena rasa nyeri dalam dada dan di punggungnya makin menghebat. la telah mempertahankan diri sampai lebih dari lima puluh jurus, selalu diserang tanpa dapat membalas kembali.

“Cukup!” teriak si gadis dengan suara gelisah. “Dia dapat mempertahahkan diri sampai puluhan jurus, padahal dia terluka hebat di punggungnya, dan racun masih belum bersih betul! Bukankah itu luar biasa sekali? Mana ada orang lain sanggup menahan seranganmu sampai puluhan jurus dengan tangan kosong?”

Akan tetapi wanita setengah tua itu agaknya sudah terlanjur marah dan penasaran. la hanya mengeluarkan suara mendengus dengan hidungnya, pedangnya terus mendesak dan melancarkan serangan yang hebat. Pada saat itu, Yo Wan sudah merasa pening kepalanya, pandang matanya kabur dan ketika dia melangkah mundur, kakinya tertumbuk pembaringan dan dia terguling. Pedang di tangan wanita setengah tua itu menyambar ke arah lehernya.

“Tranggggg…..!” Pedang itu tertangkis oleh pedang di tangan si gadis.

“Masa kau hendak berlaku curang terhadap dia?” Gadis itu memekik. Si wanita setengah tua melompat mundur, lalu mendengus marah,

“Hemmm, biarkan dia sembuh dan beri dia senjata. Dia harus bisa kalahkah aku, baru hatiku puas!” Setelah berkata demikian, wanita itu berkelebat dan melompat keluar dari dalam gua itu. Gadis itu menarik napas panjang dan melemparkan pedangnya ke atas meja.

Yo Wan sudah bangkit kembali dan dengan hati penuh kemarahan dia melompat maju, lalu menangkap tangan kanan gadis itu.

“Apa artinya semua ini? Siapa wanita itu tadi? Hayo kau lekas mengaku semuanya dan apa maksudmu menahan dan pura-pura menolongku di sini! Lekas kau mengaku, kalau tidak…..!”

Gadis itu tersenyum. Bukan main cantiknya wajah di depan Yo Wan itu. Matanya terbuka, terbelalak lebar seperti orang kaget dan heran, mulutnya agak terbuka, dan dari balik sepasang bibirnya yang merah basah dan mungil itu terdengar suara seperti orang menahan tawa. la sama sekali tidak melawan ketika tangannya dipegang, bahkan dia merapatkan tubuhnya.

“Yo Wan, kau hebat! Dengan tangan kosong kau…..”

“Cukup! Tak perlu melanjutkan per-mainan sandiwara ini. Hayo katakan semua, kalau tidak…..!”

“Ihhh…… dua kali kau bilang kalau tidak! Kalau tidak….. kau mau apa sih?”

“Hemmm, biarpun kau sudah menolongku, mungkin pertolongan palsu, kalau kau tidak mau berterus terang, aku….. aku akan mematahkan tanganmu ini!”

Mulut Yo Wan berkata demikian, namun hatinya meragu apakah dia akan tega merusak tangan yang berkulit halus dan hangat itu, apakah dia akan sanggup menyakiti gadis yang sejak bertemu telah menolong dan merawatnya ini.

Gadis itu makin merapatkan tubuhnya sarnpai mukanya hampir menempel di dada Yo Wan. “Kau….. betul-betul hendak mematahkan tanganku?”

“Kalau kau tidak berterus terang!”

“Wah, kau benar-benar amat tega…..” Pada saat itu, keduanya hampir berbareng merenggutkan tubuh masing-masing, melangkah mundur, bahkan si gadis cepat menyambar pedangnya dan melompat ke arah pintu gua itu. Tampak berkelebat bayangan orang yang amat gesit di luar gua itu. Akan tetapi ketika si gadis me-ngejar, bayangan itu telah lenyap. Dengan muka berkerut gadis itu kembali ke dalam gua.

“Siapa?” tanya Yo Wan.  Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Agaknya yang akan berani mengintai ke sini tentu hanya ibu seorang, akan tetapi kalau ibu tak mungkin melakukan per-buatan seperti pencuri begitu.”

Yo Wan menarik napas panjang. “Nona, kuharap kau tidak mempermainkan aku dan sukalah kau bercerita terus terang. Bukankah kau ini yang menyamar sebagai pria yang menjadi ketua Kipas Hitam dan bernama Yosiko?”

Gadis itu melemparkan pedangnya di atas meja kayu, menghela napas dan menggandeng tangan Yo Wan, diajak duduk di atas pembaringan kayu yang kasar. “Duduklah dan dengarkan ceritaku.”

Yo Wan tidak membantah karena se-sungguhnya perlawanannya terhadap wanita setengah tua yang lihai tadi membuat tubuhnya lelah dan gemetar. Pula, dia memang ingin sekali mendengar penuturan gadis yang aneh ini, gadis yang membuat hatinya bingung karena biarpun gadis ini seorang bajak, namun gerak-geriknya tidak patut menjadi bajak laut yang kejam dan ganas, lagi pula ilmu kepandaiannya lihai dan mengenal langkah-langkah Kim-tiauw-kun!

“Tiada guna menipu orang yang berpemandangan tajam seperti kau,” Gadis itu mulai bicara. “Aku memang Yosiko atau Yo-kongcu kalau berpakaian pria, juga ketua dari Kipas Hitam.” la berhenti untuk melihat reaksi pada wajah Yo Wan. Akan tetapi oleh karena pemuda ini sudah menduga akan hal itu, maka wajahnya tidak membayangkan sesuatu, tetap tenang saja.

“Hemmm, kalau begitu kita masih satu she (nama keturunan),” komentar Yo Wan, keningnya berkerut karena sungguh tak sedap hatinya mendapat kenyataan bahwa dia mempunyai seorang kerabat yang kepala bajak!

Akan tetapi Yosiko tertawa. Tidak ada keindahan pada wajah manusia melebihi di waktu ia tertawa. Seorang yang buruk rupa sekalipun akan tampak menyenangkan kalau sedang tertawa. Apalagi tawa seorang gadis jelita seperti Yosiko!

“Namaku memang Yosiko akan tetapi sama sekali bukan she Yo! Yosiko adalah nama Jepang, ayahku seorang Jepang, seorang tokoh besar pendekar samurai yang dijuluki orang Samurai Merah!” Agaknya Yosiko bangga sekali ketika menyebut ayahnya. “Ibuku yang tadi datang menggempurmu adalah seorang pendekar wanita. Dahulu berjuluk Bi-yan-cu (Walet Cantik) Tan Loan Ki. Kepandaiannya hebat, bukan?”

Akan tetapi Yo Wan amat terkejut ketika mendengar nama-nama ini karena dia pernah mendengar dari suhunya bahwa Raja Pedang mempunyai seorang keponakan perempuan yang menikah dengan seorang pendekar Jepang. Kiranya wanita setengah tua yang tadi menyerangnya adalah keponakan Raja Pedang. Pantas saja wanita itu dan gadisnya ini mengerti akan ilmu pedang indah seperti yang di-miliki Cui Sian! Akan tetapi dia masihi belum percaya begitu saja oleh karena dia merasa ragu-ragu mengapa keponakan Raja Pedang sampai menjadi bajak laut!

“Hemmm, kiranya baik ayah maupun ibumu keduanya adalah pendekar-pendekar besar! Sayang anaknya menjadi kepala bajak!”

Bibir yang merah itu merengut. “Apa salahnya menjadi bajak? Kami menjadi bajak secara terang-terangan, kami menuntut pajak bagi lalu lintas laut, minta bagian dari saudagar yang banyak untung-nya, apa salahnya? Mana lebih jahat daripada menjadi pembesar-pembesar yang memeras rakyat melebihi bajak? Apalagi aku menjadi kepala Kipas Hitarri karena terpaksa, karena kami harus menuntut balas dan melanjutkan pekerjaan mendiang ayahku.”

“Hemmm, jadi ayahmu sudah meninggal dunia dan dahulunya juga bajak laut? Ibumu juga?” tanya Yo Wan yang kini menjadi terheran-heran sekali. Bagaimana keponakan Raja Pedang bisa menikah dengan seorang kepala bajak? (Tentang Tan Loan Ki dan Samurai Merah, baca cerita Pendekar Buta).

Ditanya demikian, wajah gadis itu menyuram, suaranya juga terdengar sedih, dan sebelum menjawab ia menarik napas panjang. “Ayahku dahulunya bukan bajak. Sudah kukatakan, ayah seorang pendekar samurai, karena tidak sudi diperbudak oleh kaum ningkrat, ayah merantau ke Tiongkok dan di sana bertemu dengan ibuku, pendekar wanita Bi-yan-cu Tan Loan Ki. Mereka saling mencinta dan akhirnya ibu ikut dengan ayah ke Jepang. Akan tetapi, di negara ayah ini, ayah menerima penghinaan dan ejekan dari para samurai lain karena telah mengawini ibu, bukan gadis bangsa sendiri. Terjadi pertengkaran dan perkelahian. Karena dikeroyok, akhirnya ayah lari dan men-adi bajak laut antara lautan Jepang dan Tiongkok. Akan tetapi, baru tiga tahun yang lalu karena keroyokan pendekar Jepang dan Tiongkok, ayah tewas. Aku melanjutkan pekerjaannya, memimpin Kipas Hitam dibantu ibu!”

Yo Wan mengangguk-angguk dan mulai teranglah sekarang baginya mengapa ke-ponakan Raja Pedang menikah dengan seorang bajak laut. Hanya dia masih merasa heran bagaimana ibu dan anak ini dapat mainkan langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun, padahal Raja Pedang sendiri tidak mengerti, akan ilmu ini.

Yang mengerti hanyalah suhunya, Pendekar Buta, dan tentu saja Tan Sin Lee, ketua dari Lu-liang-pai.

“Hemmm, kiranya begitukah? Tetapi, Nona…..”

“Namaku Yosiko, tak perlu kau tambahi nona segala, biasanya aku malah disebut kongcu (tuan muda)…..” potong Yosiko sambil tersenyum.

Hemmm, gadis ini lincah jenaka dan galak, persis seperti sifat-sifat Siu Bi gadis Go-bi-san itu.

“Baiklah, kusebut kau Yosiko. Setelah kau menjadi ketua bajak laut dan kau telah tahu pula bahwa muda-mudi itu adalah putera dan murid Lu-liang-pai, kenapa kau memusuhi mereka?”

“Mereka adalah komplotan alat pemerintah, mereka agaknya mata-mata yang menyelidiki keadaan kami, dan mereka telah membunuh beberapa orangku! Tadinya aku masih mengampuni mereka! Hemmm, kalau aku tahu bahwa mereka itu berkomplot dengan tentara pemerintah, tentu kemarin sudah kubunuh mereka!”

“Kau menaruh murah hati ataukah….. karena tertarik kepada Tan Hwat Ki yang gagah perkasa dan tampan? Tahukah kau bahwa Tan Hwat Ki adalah cucu pendekar sakti Raja Pedang Tan Beng San lo-kiam-ong (raja pedang tua) ketua Thai-san-pai? Bukankah dia itu masih saudara misanmu sendiri? Bagaimana kau hendak membunuhnya?”

Yosiko terkejut dan heran. “Wah-wah,  kau agaknya mengetahui banyak hal tentang diriku! Yo Wan, kau duduklah, mari, kita bicara. Agaknya terhadap orang yang sudah tahu akan segala hal ini, tak perlu lagi aku menyimpan rahasia. Kau duduklah dan dengar penjelasanku.”

Karena memang kesehatannya belum pulih benar, Yo Wan yang ingin sekali mengetahui keadaan gadis ini dan ingin tahu pula latar belakang mengapa dia dirawat setelah dilukai, dan mengapa pula ibu gadis ini menyerangnya mati-matian tadi, dia tidak membantah dan duduklah dia di atas pembaringan kayu. Gadis itu sendiri lalu duduk di atas sebuah bangku yang berdekatan. Sambil membetulkan dan memainkan kuncir rambutnya, Yosiko berkata,

“Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku adalah saudara misan dengan Tan Hwat Ki! Sesungguhnya, Raja Pedang Tan Beng San yang kausohorkan itu adalah paman ibuku. Akan tetapi kami tidak peduli akan dia, karena dia bukanlah paman yang baik dari ibu!”

Yo Wan pernah mendengar pula akan hal ini. Kakak dari Raja Pedang Tan Beng San bernama Tan Beng Kui dan ibu dari Yosiko ini yang bernama Tan Loan Ki adalah puteri Tan Beng Kui itulah. la mendengar bahwa memang ada pertentangan antara kedua orang saudara itu, akan tetapi suhunya, Pendekar Buta, tidak pernah menceritakan dengan jelas (baca kisah Raja Pedang dan Rajawali Emas).

“Apakah karena pertentangan antara kakekmu dan Raja Pedang itu maka kau hendak membunuh cucu Raja Pedang? Akan tetapi kau….. tadinya kau kagum kepada Hwat Ki, bahkan kau berkata hendak menjodohkannya dengan….. adikmu yang ternyata adalah kau sendiri!”

Gadislain yang ditegur seperti ini,yang sekaligus membuka rahasia hatinya, tentu akan menjadi malu dan marah. Akan tetapi Yosiko tersenyum dan mengangguk-angguk!

“Betul, begitulah! Akan tetapi setelah kau muncul, aku tidak kagum lagi kepada Tan Hwat Ki, bahkan setelah tahu dia berkomplot dengan bala tentara pemerintah yang membasmi kami, aku benci kepadanya.”

Kini Yo Wan yang terheran-heran mendengar ucapan yang begini terus terang dari seorang gadis remaja. “Yosiko, benar-benar kau tidak mengerti bagaimana seorang gadis sepandai engkau, memilih-milih pria seperti ini…..??”

Kembali Yosiko tersenyum seakan-akan pertanyaan yang bagi gadis lain tentu akan merupakan pisau yang menusuk perasaan ini baginya hanya merupakan pertanyaan yang wajar dan biasa. “Mengapa tidak? Yo Wan, semenjak aku masih kecil, ibu dan aku bercita-cita agar aku mendapatkan jodoh seorang pria yang jauh lebih lihai daripada aku. Hal ini adalah karena aku dan ibu tidak ingin melihat kematian seperti ayah terulang kembali. Ayah meninggal karena kurang pandai ilmunya, dan aku memang tidak sudi diperisteri laki-laki yang lemah, yang tak dapat menangkan aku. Akan tetapi selama beberapa tahun ini, di antara bajak laut aku hanya melihat laki-laki yang tidak becus, paling hebat hanya macam Shatoku murid ayah yang tewas oleh Tan Hwat Ki kemarin. Sedangkan di darat, aku pun belum pernah bertemu laki-laki yang mampu mengalahkan aku. Itulah sebabnya mengapa pertemuanku dengan Tan Hwat Ki menarik hatiku. Dia lebih lihai daripada aku, biarpun hanya sedikit selisihnya. Tentu saja pada saat itu hatiku tertarik dan tadinya aku hendak mencalonkan dia sebagai jodohku. Akan tetapi, kemudian muncul kau yang dalam beberapa gebrakan saja mengalahkan aku. Terang bahwa tingkat kepandaianmu jauh melampaui Tan Hwat Ki, karena itu….. karena itu…..”

Tentu saja Yo Wan maklum akan apa yang dimaksudkan oleh gadis itu. Akan tetapi hal ini membuatnya menjadi mendongkol sekali. Boleh jadi Yosiko seorang gadis yang Cantik jelita, yang sukar dicari bandingannya baik dalam hal kecantikan maupun kepandaian. Akan tetapi dia bukanlah laki-laki yang boleh dipilih jodoh lalu jadi begitu saja! Kemendongkolan hatinya membuat dia tega untuk mendesak Yosiko yang mulai merasa jengah dan malu karena betapapun juga ia adalah seorang gadis.

“Karena itu….. bagaimana, Yosiko? Kau melukai aku dengan jarum beracun, kemudian kau menolongku di laut dan merawatku di sini. Apa kehendakmu?”

Yosiko masih tersenyum, akan tetapi kini tidak selancar tadi ia menjawab, bahkan kelihatan gagap, “Yo Wan, tak mengertikah kau? Aku….. aku….. karena kau jauh lebih lihai daripada Tan Hwat Ki, aku….. aku memilih engkau!”

Diam-diam Yo Wan merasa terharu sekali. Gadis ini amat polos dan jujur, terang bahwa di dalam sanubari seorang gadis seperti ini terkandung watak yang bersih dan tidak dibuat-buat. Mungkin gadis ini belum pernah mengenal rasa cinta kasih antar muda sehingga dalam soal pemilihan jodoh, sama sekali ia tidak mendasarkan pada cinta, melainkan pada “tingkat kepandaian” Dan semua itu ia kemukakan dengan jujur dan apa adanya!

“Hennmm…..! Dan ibumu, mengapa tadi ia menyerangku mati-matian?”

“Ibu tidak percaya kepadaku akan kelihaianmu, tidak puas kalau tidak mencoba sendiri.”

Ah, anaknya gila ibunya sinting, gerutu Yo Wah di dalam hatinya. la pernah tertarik sekali kepada Siu Bi dan agaknya kali ini dia akan jatuh cinta oleh gadis aneh yang jelita ini kalau saja hatinya tidak sudah terampas oleh Cui Sian puteri Raja Pedang! Setelah dia mengenal Cui Sian yang berhasil menjatuhkan hatinya dan merenggut cinta kasihnya, kini Yo Wan menganggap Yosiko sebagai seorang bocah yang nakal. la harus segera membebaskan diri dari ibu dan anak ini, akan tetapi kalau lukanya belum sembuh, agaknya tidak mungkin hal itu dia lakukan. Gadis ini sudah cukup berbahaya, apalagi di situ masih ada ibunya yang lihai. la haru? bersabar dan menanti sampai lukanya sembuh betul.

Berpikir demikian, Yo Wan lalu merebahkan dirinya tanpa berkata apa-apa.

“Bagaimana? Menarikkah penuturanku? tanya Yosiko.

“Menarik juga, tapi sudahlah. Aku mau tidur.”

Yosiko merengut gemas. “Bagaimana pendapatmu? Kau tentu tidak keberatan menjadi pilihanku?”

Edan, pikir Yo Wan. Terpaksa dia menjawab, “Yosiko, kau memandang terlalu rendah tentang perjodohan. Apa kaukira syarat kebahagiaan perjodohan adalah ilmu silat yang tinggi? Apakah kalau kau menjadi isteri seorang ahli silat yang lebih lihai dari padamu, hidupmu lalu bahagia?”

“Tentu saja!” jawab Yosiko tanpa ragu-ragu lagi. “Ayah tewas karena kepandaiannya kurang tinggi, sehingga ibu menjadi janda. Bukankah itu celaka sekali? Seandainya ayah berkepandaian tinggi seperti engkau, kiranya sekarang ayah masih hidup. Dengan seorang suami yang kepandaiannya paling tinggi hidupku akan terjamin, karena itu aku memilih engkau!”

Yo Wan menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya, akan tetapi dia tidak bangkit dari pembaringan.

“Yosiko, agaknya kau sejak kecil hidup dikelilingi kekerasan dan kekejaman, sehingga kau tidak mempedulikan tentang perasaan. Apakah kau tidak mempunyai perasaan halus? Apakah ibumu tidak pernah memberi tahu kepadamu bahwa syarat perjodohan adalah kasih sayang?”

“Tentu saja sudah!” Yosiko tersenyum lagi, matanya bersinar-sinar gembira. “Apakah kau tidak kasih dan sayang kepadaku?”

Yo Wan mengeluh di dalam hatinya. Sukar bicara dengan gadis liar ini, pikirnya. la harus bicara dengan ibu gadis ini yang tentu lebih mudah diajak bicara. Diam-diam dia pun kasihan kepada Yosiko karena kalau dibiarkan demikian, kelak mungkin sekali berjodoh dengan seorang pria tanpa kasih sayang sehingga akhirnya akan merana dalam kesengsaraan batin. Hatinya lega juga karena kini dia yakin bahwa perawatan gadis itu, sikap manisnya, bukan terdorong oleh rasa cinta yang dia khawatirkan, melainkan oleh rasa kagunn akan kepandaiannya sehingga dia dipilih menjadi calon jodoh dan karenanya harus dirawat sampai sembuh! Diam-diam Yo Wan merasa seakan-akan dirinya menjadi seekor binatang peliharaan terkasih yang sedang sakit!

“Bagaimana, Yo Wan? Apakah kau tidak kasih dan sayang kepadaku?”

Yo Wan menarik napas panjang. “Sudahlah, Yosiko, biarkan aku mengaso. Kelak kalau aku sudah sembuh, hal ini akan kita bicarakan bersama ibumu. Tentu saja aku sayang kepadamu, kau gadis yang baik.”

Girang sekali hati Yosiko dan wajahnya berseri. la cepat mengambil sehelai selimut dan menyelimuti tubuh Yo Wan yang segera tidur nyenyak. Yosiko juga berbaring di atas sebuah pembaringan kayu kecil di sudut ruangan, wajahnya kelihatan puas dan berseri.

Menjelang pagi, Yo Wan terbangun dari tidurnya ketika dia mendengar orang berseru girang, “Dia di sini…..!”

Sebagai seorang ahli silat yang lihai, begitu sadar Yo Wan sudah meloncat turun dari pembaringannya, siap menghadapi bahaya. Akan tetapi wajahnya berubah ketika dia melihat sepasang muda-mudi dari Lu-liang-pai yang berdiri di mulut gua dan memandang kepadanya dengan terheran, apalagi ketika mereka memandang kepada Yosiko yang juga sudah duduk di atas pembaringannya.

Tentu saja Yo Wan menjadi jengah dan bingung. Betapa tidak? Orang melihat dia berduaan dengan seorang gadis cantik dalam sebuah gua, melewatkan malam di situ! Di lain fihak, Tan Hwat Ki dan sumoinya yang tidak mengenal keadaan Yo Wan, tentu saja mengira bahwa wanita itu tentu ada hubungannya dengan pendekar yang telah menolong mereka.

“Saudara yang gagah, kiranya kau berada di sini dan dalam keadaan selamat. Syukurlah…..” kata Hwat Ki sambill melirik ke arah Yosiko.

Lirikan inilah yang membuat Yo Wan cepat-cepat memperkenalkan, “Aku juga girang melihat kalian selamat dan….. Nona ini….. eh, dia nona Yosiko…..”

“Apa…..? Dia….. dia ketua Kipas Hitam…..?”

Yosiko tersenyum, sepasang matanya yang puas tidur itu berseri.

“Aku adiknya!”

“Srattt!” Tampak sinar hitam berkelebat ketika Bu Cui Kim mencabut Hek-kim-kiam dan sambil berseru nyaring nona ini menerjang maju ke arah Yosiko.

“Eh, ah, galaknya…..!” Yosiko mengejek dan sekali meloncat ia telah menghindarkan diri.

“Sumoi…..!” Hwat Ki berseru bingung. “Suheng, tidak lekas-lekas membantu aku mennbasmi bajak laut mau tunggu apa lagi?” Bu Cui Kim berseru dan terusl menyerang lagi. Hwat Ki menjadi merah mukanya, akan tetapi biarpun tadinya dia ragu-ragu, mengingat betapa lihainya Yosiko, dia sudah mencabut pedangnya pula dan melompat maju untuk membantu sumoinya.

“Tahan senjata!” Yo Wan berseru sambil melangkah maju. Suaranya berpengaruh sekali sehingga tidak saja Hwat Kt dan Cui Kim menghentikan penyerangannya, juga Yosiko yang sudah memegang pedangnya, berhenti dan memandang dengan senyum mengejek kepada dua orang muda Lu-liang-san itu.

“Saudara Tan Hwat Ki, ketahuilah ibahwa nona Yosiko bukanlah orang lain, melainkan saudara misanmu sendiri. Dia adalah puteri dari bibimu Tan Loan Ki yang menikah dengan seorang pendekar Jepang.”

Tentu saja Hwat Ki sudah mendengar nama-nama ini dari ayahnya, maka dia memandang dengan bingung, kemudian dia menatap wajah Yo Wan penuh curiga.

“Kau siapakah? Bagaimana mengetahui namaku?”

Yo Wan menjura sambil tersenyum.

“Aku Yo Wan…..”

Hwat Ki terkejut. “Apa? Kau murid paman Kwa Kun Hong Pendekar Buta?”

“Ahhh…..!” Seruan ini keluar dari mulut Cui Kim dan mulut Yosiko.

“Beliau adalah suhuku yang terhormat,” jawab Yo Wan sederhana.

“Saudara Yo….. tapi….. tapi mengapa dia menjadi….. eh, ketua bajak laut? Dan di mana pula bibi Loan Ki?”

“Suheng, biarpun masih ada ikatan keluarga, kalau jahat harus kita basmi!” Cui Kim berseru, matanya masih melotot marah.

“Yo Wan, dua orang ini bersekongkol dengan orang pemerintah, anak buahku banyak yang tewas. Biarkan kubunuh mereka!” bentak Yosiko pula.

Yo Wan maklum akan sulitnya keadaan. Kalau dibiarkan, tiga orang ini tentu akan bertanding mati-matian. la mengangkat kedua tangannya dan berkata, suaranya keren.

“Tidak boleh! Saudara Hwat Ki, biarlah lain kali aku menerangkan semua ini kepadamu. Sekarang kuminta dengan hormat agar kau dan sumoimu meninggalkan tempat ini dan kuminta pula agar kau tidak memberitahukan tempat ini kepada orang lain.”

Hwat Ki meragu. Cui Kim mengomel, “Mana bisa? Dia bajak…..”

Akhirnya Hwat Ki menjura kepada Yo Wan. “Saudara Yo Wan, karena kau pernah menolong kami, maka aku percaya kepadamu, apalagi mengingat bahwa kau adalah murid paman Kwa Kun Hong. Namun, aku tetap mengharapkan penjelasanmu kelak mengapa kau melarang kami.” Setelah berkata demikian, Hwat Ki mengajak sumoinya keluar dari gua itu.

Setelah dua orang muda itu pergi, Yosiko mengomel, “Yo Wan, mengapa kau menghalangi aku membunuh dua orang itu? Mereka musuh Kipas Hitam…”

“Mereka adalah pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa, pembasmi kejahatan, apalagi Tan Hwat Ki adalah putera Lu-liang-pai, cucu Raja Pedang. Mana mungkin aku membiarkan dia terbunuh? Aku tidak menghendaki permusuhan dengan kau dan kalali kau menyerangnya, terpaksa aku membantunya.”

Dengan muka masih cemberut Yosiko berkata, “Hemmm, kau memang tak kenal budi, tidak mengasihani, orang. Hwat Ki sendiri saja kepandaiannya sudah lebih lihai daripada aku, melawan dia saja aku belum tentu dapat menang, kau masih hendak membantunya. Sama saja dengan kau dan dia sengaja hendak membunuh aku!” Aneh sekali, secara tiba-tiba gadis itu menangis! Akan tetapi hanya sebentar saja air matanya bercucuran keluar, karena segera dihapusnya dan sikapnya kembali keras. “Kau mau bunuh aku, mengapa masih memakai jalan memutar, plintat-plintut? Mau bunuh hayo bunuh!”

“Eh-eh, kenapa kau mengamuk tidak karuan, Yosiko? Siapa ingin membunuhmu? Aku bilang membantu mereka, yaitu kalau kau hendak membunuh mereka, karena biarpun ilmu silatmu kalah lihai, namun akalmu lebih banyak dan tipu muslihatmu mungkin akan mengalahkan mereka berdua. Kalau terjadi sebaliknya, yaitu mereka mengancam keselamatanmu dan hendak membunuhmu, sudah tentu akan kuhalangi niat mereka dan kubela engkau.”

Seketika berubah wajah Yosiko, ke-marahannya lenyap bagaikan awan tipis ditiup angin. Akan tetapi ia masih men-cela, “Yo Wan, kalau memang kau suka kepadaku, mengapa kepalang tanggung? Kalau kau membenciku, juga kenapa tidak terus terang saja? Kau orang aneh ….. tapi sudahlah, kau mengaso biar sembuh, baru kita bicara lagi. Sebentar lagi ibu tentu akan mengantarkan obat yang kuminta, atau aku akan mencari ke sana.”

Yo Wan tidak mau membantah lagi. la maklum bahwa menghadapi seorang gadis remaja yang galak ini, lebih baik dia menutup mulut dan bersabar sampai dia sembuh benar. Kalau dilawannya cekcok mulut tentu akan menjadi-jadi dan hal ini amat tidak baik baginya.

Di tempat lain, terjadi percekcokan lain lagi. Semenjak meninggalkan gua yang dijadikan tempat pepsernbunyian ketua Kipas Hitam itu, Bu Cui Kim tampak cemberut dan pendiam. Beberapa kali Hwat Ki mengajaknya bicara, akan tetapi sumoinya yang biasanya amat ramah dan taat kepadanya, kini hanya menjawab singkat-singkat saja, kadang-kadang bahkan tidak menjawab sama sekali. Seakan-akan kegembiraan dan semangat sumoinya tertinggal di gua!

Diam-diam Hwat Ki curiga. Hatinya sudah merasa amat tidak enak ketika malam tadi mereka dijamu sebagai tamu ketua Kipas Hitam, karena dia menduga bahwa sumoinya tertarik oleh ketua Kipas Hitam yang tampan jenaka. Apakah sumoinya menjadi kecewa melihat ketua Kipas Hitam yang disangkanya seorang pemuda tampan gagah itu seorang wanita? Ataukah….. sumoinya tertarik kepada Yo Wan, pemuda sederhana yang amat sakti itu? Akhirnya Hwat Ki tidak dapat menahan perasaannya. la berhenti di tempat yang amat indah di tepi su-ngai. Amat sejuk hawa pagi itu dengan sinar matahari yang mulai mengeluarkan suara berdendang ketika alirannya ber-main dengan batu-batu karang. Burung-burung pagi berkicau dan menari-nari di atas dahan-dahan pohon. Angin pagi yang semilir merontokkan daun-daun tua dan mutiara-mutiara embun yang menempel di ujung daun-daun hijau. Daun bambu dilanda angin berkeresekan halus seperti sepasang kekasih berbisikan mesra. Pagi yang indah, akan tetapi anehnya, wajah muda-mudi dari Lu-liang-san ini muram! Melihat Hwat Ki berhenti dan berdiri bersandarkan batu karang, Cui Kim juga berhenti, berdiri termeoung memandang air sungai, sama sekali tidak mempedulikan suhengnya. Suasana kaku dan tegang ini terasa benar oleh mereka dan Hwat Ki maklum bahwa sesuatu yang meng-ganjal ini kalau tidak lekas dia dongkel dan singkirkan, akan merupakan penghalang yang amat tidak menyenangkan dalam pergaulannya dengan sumoinya. Selama bertahun-tahun, sumoinya menjadi murid ayahnya, semenjak mereka berdua baru berusia dua tiga belas tahun, mereka telah bermain-main bersama, rukun dan tak pernah bercekcok, seperti kakak beradik kandung saja. Baru sekarang ini terjadi hal yang amat aneh, yang membuat mereka murung dan. seakan-akan enggan menatap wajah masing-masing, hati penuh kemarahan dan ketidakpuasan!

“Sumoi, apakah yang kaupikirkan?”

“Tidak apa-apa…..”

Hemmm, jawaban yang dipaksakan sebetulnya enggan menjawab dan kemarahan serta sakit hati yang amat besar terkandung dalam suara itu, pikir Hwat Ki. Rasa cemburunya makin membesar dan dia pun membuang muka. Sampai beberapa lama keduanya diam saja. Hwat Ki berdiri dengan kaki kanan di atas batu karang, bersandar pada batu karang yang agak tinggi, membelakangi, sungai. Sebaliknya, Cui Kim berdiri menghadapi sungai, mukanya lurus memandang ke arah sungai, mulutnya yang biasanya manis itu cemberut. Karena keduanya berdiam diri, makin teganglah suasana.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: