Jaka Lola ~ Jilid 28

“Sumpah, sungguh tak enak keadaan begini!” Akhirnya berkatalah Hwat Ki dengan suara marah pula. “Semenjak pertemuan kita dehgan ketua Kipas Hitam malam tadi, kau sudah berubah, kemudian setelah meninggalkan gua, kau benar-benar berbeda sekali…..”

Dengan gerakan serentak Cui Kim membalikkan tubuh memandang, matanya bersinar penuh kemarahan dan suaranya keras kaku, “Suheng, apa perlunya memutarbalikkan kenyataan? Siapakah yang berubah? Kau ataukah aku?”

Hwat Ki membelalakkan matanya. “Eh-eh, bagaimana ini? Kau bilang aku yang berubah? Sumoi, kau mencari-cari Aku berubah bagaimana?”

“Masa berpura-pura tanya lagi!” Kem-bali Cui Kim membuang muka, memutar tubuh membelakangi suhengnya. Benar-benar aneh sekali ini, pikir Hwat Ki. Belum pernah sumoinya ini bersikap seperti ini terhadapnya.

“Sumoi, bilanglah, apa kesalahanku sehingga kau marah-marah macam ini?”

“Hemmm, setelah melihat bahwa ketua Kipas Hitam ternyata seorang gadis secantik bidadari, gadis jelita yang malam tadi menyatakan terang-terangan hendak menjodohkan kau dengan dirinya sendiri, kau….. kau….. melepaskan dia begitu saja!”

“Eh-eh…… aku hanya mentaati permintaan saudara Yo Wan…..”

“Alasan kosong. Biarpun dewa yang minta ia dilepaskan, mengingat dialah ketua Kipas Hitam, seharusnya kita membunuhnya atau setidaknya menangkapnya. Tapi kau….. dengan mudah kau melepaskannya, karena kau….. karena kau cinta padanya…..” Kini suara ini mengandung isak.

Hening sejenak, Hwat Ki mengerutkan kening, kepalanya dimiringkan, memutar otak. Kemudian mendadak dia tertawa bergerak. “Ha-ha-ha-ha-ha!”

“Apanya yang lucu!” Cui Kim yang tadinya kaget menengok, bertanya.
Hwat Ki masih tertawa terus, kemudian katanya, “Terang kau cemburu kepada Yosiko! Ha-ha-ha, dan malam tadi aku cemburu pula kepada Yosiko karena kau agaknya tertarik sekali ke-padanya! Ha-ha-ha, kumaksudkan tentu saja aku cemburu kepada Yosiko laki-laki dan kau cemburu kepada Yosiko wanita! Ha-ha-ha, kita cemburu kepada satu orang, malam tadi aku mengira kau tergila-gila kepada Yosiko, sekarang kaulah yang menyangka aku tergila-gila kepada Yosiko pula. Bukankah lucu sekali ini?”

Seketika wajah Cui Kim pun menjadi merah dan jantungnya berdebar. Bagaimanapun juga ucapan ini mengenai perasaannya karena ia tak dapat menyangkal hatinya sendiri bahwa malam tadi memang ia tertarik oleh gerak-gerik Yosiko yang disangkanya pemuda yang amat tampan dan gagah! Akan tetapi sebagai seorang gadis, tentu saja ia tidak sudi mengakui hal ini, maka dengan tersipu-sipu ia berkata,

“Cih! Siapa tergila-gila pada seorang bajak? Suheng, jangan kau hendak menutupi kesalahan sendiri dengan fitnah pada orang lain!”

Namun Hwat Ki yang sudah mengenal sumoinya semenjak kecil, dengan lega mendapat kenyataan bahwa adik seperguruannya ini tidak marah lagi seperti tadi. la melangkah maju mendekati Cui Kim dan menegur.

“Sumoi, sungguh mati, aku berani bersumpah bahwa aku melepaskan Yosiko hanya karena melihat muka saudara Yo Wan, dan mungkin juga terdorong oleh kenyataan bahwa dia adalah puteri bibi Tan Loan Ki. Kau tahu, bibi Tan Loan Ki adalah saudara misan ayah. Akan tetapi, sudahlah, hal itu tak perlu dibicarakan lagi. Yang benar-benar membuat aku heran dan tidak mengerti, Su-moi, andaikata benar-benar aku jatuh cinta kepada Yosiko, kenapa kau menjadi marah-marah? Apakah….. sebabnya? Andaikata aku mencinta dia dan dia inencintaku….. ah, ini hanya andaikata, Sumoi…..” Sambung Hwat Ki cepat-cepat karena melihat wajah sumoinya itu tiba-tiba menjadi pucat.

Sejenak mereka saling pandang. Kemudian Cui Kim berkata, suaranya gemetar, “Suheng, sebaliknya engkau sendiri….. mengapa kaucemburukan Yosiko laki-laki? Andaikata aku benar mencinta seorang pemuda…… mengapa engkau marah-marah…..?”

Mereka saling pandang sampai lama dengan sinar mata penuh selidik. Seakan-akan baru kini mata mereka terbuka, baru sekarang mereka melihat kenyataan bahwa masing-masing merasa tidak rela kalau yang mencinta orang lain!

“Sumoi….. kau tidak senang melihat aku mencinta gadis lain…..?” Suara Hwat Ki juga gemetar kini. Cui Kim meng-geleng kepala keras-keras.

“Aku pun tidak senang melihat kau mencinta pemuda lain! Sumoi…… kalau begitu…… kau mencintaku?” Cui Kim menundukkan mukanya yang merah dan mengangguk perlahan.

Hwat Ki melangkah maju dan di lain saat dia sudah merangkul sumoinya dan Cui Kim menyembunyikan muka pada dada suhengnya sambil menangis. Hwat Ki mendekap kepala dengan rambut yang harum itu, menengadah dan berkata lirih,

“Ah, alangkah bodoh kita! Seperti buta! Selama ini kusangka bahwa antara kita hanya ada kasih sayang seperti saudara. Sumoi…… kiranya sekarang aku yakin betul bahwa aku tak dapat mencinta wanita lain! Sumoi, mari kita kembali ke Lu-liang-san, biar aku yang akan beritahukan ayah ibu tentang urusan kita!”

Cui Kim merenggangkan tubuhnya dan ketika mereka saling pandang, sinar mata mereka sudah jauh berbeda. Kini di antara mereka terdapat rahasia mereka berdua, sinar mata mereka membawa seribu satu macam pesan hati yang mesra, pandang mata bergulung menjadi satu, sepaham.

“Suheng,” kata Cui Kim, suaranya penuh kesungguhan. “Aku pun sejak dahulu sudah yakin bahwa aku tak dapat mencinta laki-laki lain. Tentang urusan kita, terserah kepadamu, Suheng. Kelak kalau kita sudah pulang terserah kau yang menyampaikan kepada suhu dan subo. Akan tetapi sekarang kita belum boleh pulang. Bukankah kita bertugas untuk membasmi bajak? Suhu sendiri yang mewakilkan kepada kita. Bajak laut belum terbasmi habis, malah kepalanya, ketua Kipas Hitam, masih hidup berkeliaran. Apa yang akan kita katakan kepada suhu tentang ini?”

Hwat Ki menjadi bingung diingatkan demikian. “Habis, apa yang harus kita lakukan, Sumoi? Yo Wan itu adalah murid paman Kwa Kun Hong, dia sudah menolong nyawa kita, dan dia amat lihai. Kalau dia melarang kita menangkap atau membunuh Yosiko, bagaimana baiknya?”

“Di dalam menunaikan tugas, kita tidak boleh mundur oleh segala kesukaran. Murid Pendekar Buta mestinya seorang pendekar pula yang bertugas membasmi penjahat. Kalau Yo Wan melindungi ketua Kipas Hitam berarti dia menyeleweng daripada kebenaran. Biar dia sepuluh kali lebih lihai, sudah menjadi kewajiban kita untuk menentangnya.”

Terbangkit semangat Hwat Ki oleh kata-kata sumoinya yang tercinta itu. Kini pandangannya terhadap Cui Kim berbeda dan dia merasa bangga sekali mendengar ucapan kekasihnya itu.

“Kau betul, Sumoi. Akan tetapi Yo Wan sudah berjanji hendak memberi penjelasan. Mari kita awasi gerak-geriknya dan kita berunding dengan saudara Bun Hui agar gua itu dikurung dan jangan sampai Yosiko dapat terbang.”

“Itu benar, Suheng. Mari kita mencari saudara Bun Hui dan pasukannya.”

Sambil bergandengan tangan mesra kedua orang muda-mudi yang semenjak kecil menjadi teman baik dan berkumpul, akan tetapi yang baru sekarang menemukan cinta kasih antara mereka, meninggalkan tempat yang indah sunyi itu.

Tiga hari lamanya Yo Wan dirawat oleh Yosiko di dalam gua. Selama tiga hari tiga malam, Yosiko merawatnya penuh ketekunan, hanya pergi meninggalkan pemuda itu untuk mengambil obat dan makanan.
“Obat ini adalah obat yang amat manjur untuk membersihkan darah, dan untuk menyembuhkan luka dengan cepat. Obat ini dari Jepang, akan tetapi ibu pandai membuat sendiri sekarang,” kata Yosiko dengan suara bernada bangga.

“Terima kasih kepada ibumu, dia baik hati.”

Yosiko terkekeh, “Hi-hik, kaukira dia memberi obat karena baik hati kepadamu? Sama sekali tidak. la ingin kau lekas-lekas sembuh agar dia segera dapat datang untuk menguji kepandaianmu.”

Yo Wan tercengang. Aneh sekali wanita setengah tua itu, keponakan Raja Pedang.

“Kemarin ibu bilang, kau hari ini sudah sembuh betul dan nanti ibu tentu datang, kau diminta siap melayaninya.”

Memang Yo Wan sudah merasa sembuh dan dia bersyukur sekali. Sebetulnya kalau dia mau, bisa saja dia pergi sekarang juga. Namun dia bukan seorang pengecut yang melarikan diri dari seseorang, apalagi dia harus bertemu dengan ibu gadis ini, pertama untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian obat, ke dua untuk menjelaskan keadaan Yosiko agar niat buruk tentang pemilihan calon jodoh itu diubah.

“Biarlah ibumu datang, aku memang ingin sekali bertemu dengan ibumu. Bukan untuk bertanding, melainkan untuk bicara.”

Yosiko tersenyum. “Bicara tentang perjodohan kita? Ibu tetap tidak percaya bahwa kau bisa menangkan dia, malah ibu juga tidak percaya bahwa kau adalah murid Pendekar Buta Kwa Kun Hong.” “Eh, ibumu mengenal suhu?” “Tentu saja! Sahabat baik sekali, kata ibu, malah bekas kekasih, kata ibu.”

“Apa,….???” Kini Yo Wan yang tidak percaya. Suhunya seorang pria yang sakti dan gagah, berbatin mulia dan tangguh, setia kepada isteri, mana mungkin main gila dengan nenek galak itu?

Mendadak di depan gua berkelebat bayangan yang amat gesit. Yo Wan sudah melompat dan mengejar pada saat Yosiko baru saja melihat bayangan itu. Gadis ini menyambar pedang dan loncat mengejar pula.

“Dia bukan ibu! Tentu mata-mata musuh!” teriak Yosiko. Akan tetapi Yo Wan sudah mengejar lebih dulu. Bayangan itu gesit sekali, sebentar saja sudah lenyap di dalam hutan.

“Adik Cui Sian…..!” Yo Wan berteriak dengan jantung berdebar ketika dia tadi melihat bayangan tadi sebelum lenyap. Tak salah lagi, gadis itu tentu Cui Sian! Mengapa berada di sini dan apa sebabnya melarikan diri dari padanya? Karena bayangan gadis itu lenyap dan melihat sikapnya jelas tidak mau bertemu dengannya, Yo Wan menghentikan pengejarannya, berdiri termenung dengan bengong.

Dengan terengah-engah karena kalah cepat larinya, Yosiko akhirnya tiba juga di situ.

“Mana dia, Yo Wan? Siapa dia…..?”

Akan tetapi Yo Wan tidak menjawab karena pemuda ini dalam bingungnya teringat akan bayangan gesit di luar gua pada beberapa hari yang lalu, di waktu malam. Bayangan itu ternyata bukan ibu Yosiko, juga agaknya bukan Hwat Ki dan Cui Kim. Apakah bayangan tiga malam yang lalu itu juga bayangan Cui Sin? Berpikir sampai di sini mendadak wajah-nya berubah. Celaka! Kalau benar bayangan itu bayangan Cui Sian, tentu gadis pujaan hatinya itu mengetahui pula bahwa selama tiga hari tiga malam dia tinggal berdua saja dengan Yosiko, gadis eantik! Itukah sebabnya mengapa Cui Sian menghindarkan pertemuannya dengan dirinya?

“Yo Wan, kenapa kau? Siapa yang kaupanggil-panggil tadi?” Yosiko kini memegang lengannya dan mengguncang-guncangnya.

Yo Wan menggeleng kepala, menarik napas panjang. “Kau yang mendatangkan gara-gara ini.”

“Aku? Lho! Apa maksudmu?” Yosiko terheran dan penasaran.

“Kalau saja kau membiarkan aku pergi tiga hari yang lalu…..”

“….. tentu kau akan mampus karena luka-lukamu!” sambung Yosiko.

Mendengar kata-kata ini, Yo Wan sadar dari lamunannya dan memandang. Mereka saling pandang dan melihat wajah yang ayu itu cemberut sehingga wajahnya berubah lucu, mau tidak mau Yo Wan tersenyum dan menghela napas lagi.

“Lebih baik mampus daripada dia menyangka yang bukan-bukan, Yosiko.”

“Dia? Siapa dia? Laki-laki atau wanita tadi? Larinya cepat amat!”

Yo Wan merasa tidak perlu lagi untuk menyembunyikan sesuatu kepada gadis ini, malah lebih baik bicara sejujurnya untuk menghapus lamunan kosong gadis ini tentang perjodohan.

“Tentu saja ia lihai dan larinya cepat, dia itu bibimu!”

Saking kagetnya, hampir Yosiko meloncat tinggi. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka dan lidahnya dikeluarkan sedikit.

“Jangan main-main kau! Siapa bibiku?” “Dia itu Tan Cui Sian, puteri tunggal Raja Pedang Tan Beng San. Karena ibumu adalah keponakan Raja Pedang, maka berarti dia itu saudara misan ibumu dan dia itu bibimu!”

“Ahhh…..!” Yosiko mengeluh. “Dan dia agaknya telah sejak tiga malam yang lalu memata-matai kita.” “Ohhh…..!” Yosiko mengeluh lagi. “Mengapa ah-oh-ah-oh? Apa kau kehilangan suaramu?”

“Yo Wan, kau tadi bilang lebih baik mampus, daripada dia menyangka yang bukan-bukan! Kalau begitu…… kalau begitu…… kau tidak suka dia menyangka yang bukan-bukan?”

“Tentu saja tidak suka!” ” “Jadi kau….. kau suka kepadanya?”

Yo Wan mengangguk. “Aku cinta ke-padanya dan kalau ada wanita di dunia ini yang kuinginkan menjadi jodohku, maka satu-satunya wanita itu adalah dia orangnya!”

“Ihhhhh…..!!” Kali ini Yosiko benar-benar meloncat mundur, kemudian mulutnya mewek dan terdengar suara, , “Uhhhu-hu-hu…..!” dan dia menangis!

“Yosiko, tak usah kau menangis. Sudah kukatakan, perjodohan hanya dapat terjadi atas dasar saling mencinta,” kata Yo Wan sambil melangkah maju dan memegang pundak gadis itu. Betapapun juga, dia merasa kasihan kepada gadis ini yang kembali telah menjadi kecewa. Mula-mula gadis ini memilih Hwat Ki yang mengecewakannya karena ternyata pemuda itu memusuhi dan membunuh orang-orangnya, kini pilihannya kepada dirinya kembali keliru.

Mendadak gadis itu menghentikan tangisnya. “Kubunuh dia! Kubunuh dia!” la meronta lepas dan meloncat, mengejar ke arah larinya bayangan tadi. Akan tetapi dengan loncatan panjang Yo Wan sudah mengejarnya dan memegangi tangannya.

“Jangan, Yosiko. Kau takkan menang!”

“Peduli amat! Aku menang dia mampus, aku kalah aku mampus!”

“Hush, jangan. Adikku yang baik, kau bersabarlah. Bukan begini caranya mencari jodoh. Dunia bukan sesempit telapak tangan, masih banyak sekali terdapat pria yang jauh melebihi pilihanmu sekarang.”

Yosiko memandang kepadanya dengan mata terbelalak beberapa lamanya seakan-akan hendak menyelidiki isi hatinya, kemudian ia menggelengkan kepalanya.

“Tidak! Kau bohong!”

“Ah, kau benar-benar seperti katak dalam tempurung. Yosiko, sudah kukatakan bahwa memilih jodoh dengan dasar tingkat ilmu silat adalah cara yang amat bodoh. Ilmu kepandaian adalah seperti tingginya langit, sukar diukur. Gunung Thai-san yang tinggi masih kalah oleh awan, awan yang tinggi masih kalah oleh langit. Kalau kau memilih aku berdasarkan ilmu kepandaian, bagaimana kalau di sana ada beberapa ratus orang laki-laki yang melampaui aku tingkat kepandaiannya? Apakah kelak kalau, ada pria yang lebih pandai, kau akan menyesal dan memilih dia?”

Kembali Yosiko tertegun, memandang dengan mata terbelalak, agaknya ia mulai mengerti akan maksud kata-kata Yo Wan dan mulai bimbang akan sikapnya. Yo Wan girang sekali, tersenyum dan berkata halus, “Nah, kau agaknya mulai mengerti sekarang. Bagaimana, andaikata ada seorang kakek tua masih jejaka yang rupanya buruk, tangan kiri dan kaki kanan buntung, mata dan telinga kiri tidak ada, hidungnya patah, tapi kepandaiannya mengalahkan aku? Apa kau akan memilih dia sebagai jodohmu?”

Mata yang indah jeli itu bergerak-gerak, tapi tiba-tiba gadis itu menubruk dan merangkul lehernya, menangis. “Tidak! Tidak! Aku tidak mau memilih siapapun juga. Biar dia lebih pandai daripada engkau, tapi tidak ada yang seperti engkau, Yo Wan aku tidak mau memilih orang lain!”

Mampus kau sekarang! Yo Wan me-nyumpahi dirinya sendiri. Kenapa tiga hari yang lalu dia tidak pergi saja diam-diam meninggalkan gua, Celaka sekarang, celaka sekali kalau gadis perahakan Jepang ini nnulai jatuh hati kepadanya, mulai mencintainya!

“Eh, Yosiko, jangan begitu, eh….. nanti dulu…..” Yo Wan melepaskan sepasang lengan halus yang merangkul lehernya seperti dua ekor ular itu.

Dengan terisak dan ujung hidungnya merah Yosiko memandang kepadanya.

“Lihat siapa yang datang!” kata Yo Wan sambil memandang ke depan.
Yosiko menoleh dan wajahnya berubah. Cepat gadis ini menghapus air matanya dan menyusut hidungnya dengan ujung baju, dengan gerak dan sikap sewajarnya di depan Yo Wan, sama sekali tidak sungkan-sungkan!

Ternyata yang datang itu adalah seorang wanita setengah tua, ibu Yosiko. Wanita ini masih kelihatan cantik dan gagah, sikapnya galak dan cekatan sekali, pakaiannya ringkas, wajahnya yang masih cantik itu tidak dirias, namun kesederhanaan rias dan pakaiannya menambahkan kesegarannya yang aseli. Inilah ibu Yosiko yang bernama Tan Loan Ki yang di waktu mudanya dahulu ter-kenal dengan julukan Bi-yan-cu (Walet Jelita) dan yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dengan kelincahan, ke-pandaian dan keberaniannya (baca cerita Pendekar Buta)! Dengan gerakan lari cepat yang tangkas sebentar saja wanita ini sudah tiba di tempat itu, menghadapi Yo Wan dengan pandang mata penuh seiidik, seakan-akan seorang yang ingin menaksir barang dagangan sebelum dibelinya!

Ada lima detik ia menatap wajah Yo Wan, keningnya berkerut. Kemudian ia menoleh ke arah Yosiko. “Kenapa kau menangis?” tanyanya tiba-tiba.

Yosiko menjadi merah mukanya. Agaknya merupakan hal yang memalukan baginya dan aneh bagi ibunya melihat dia menangis. Memang semenjak Yosiko remaja dan suka memakai pakaian pria, belum pernah ibunya melihat puterinya itu menangis.

“Aku menangis karena girang melihat Yo Wan sembuh, Ibu. Lekas kauuji dia dan kalau dia menang, kau tidak boleh membohongi aku, Ibu.”

“Hemmm, bohong apa?” tanya wanita itu agak gelisah karena anaknya demikian berterus terang di depan Yo Wan yang belum dikenalnya.

“Kalau Yo Wan menang, Ibu harus mengawinkan aku dengan dia. Kalau tidak tentu aku akan menganggap Ibu tukang bohong dan penipu!”

“Anak setan! Selain belum tentu dia mampu mengalahkan aku, laki-laki ini pun tidak berharga menjadi suamimu! Seperti orang gunung…..”

“Memang aku tidak berharga menjadi mantumu, Twanio (Nyonya Besar),” kata Yo Wan sambil menjura kepada wanita itu.

“Apa kau bilang?” Tan Loan Ki membentak.

“Terus terang saja, aku sama sekali tidak cukup berharga untuk menjadi suami seorang gadis seperti nona Yosiko.”

“Apa? Kau berani menolaknya setelah dia setengah mati merawatmu dan kalian tinggal tiga hari tiga malam dalam segua?”

Wajah Yo Wan menjadi merah padam, dan kembali dia menjura. “Harap Twanio sudi memaafkan. Aku sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi. Akan tetapi Yosiko….. eh, nona Yosiko ini memaksaku dan mengobatiku. Aku amat berterima kasih kepadanya, dan juga amat berterima kasih kepadamu, Twanio, yang sudah memberi obat kepadaku. Percayalah, Yo Wan akan menganggap Twanio sebagai seorang locianpwe terhormat dan Yo….. eh, nona Yosiko sebagai seorang sahabat yang baik…..”

“Cukup! Muak aku dengan pidatomu! Kutanya mengapa kau menolak anakku!
Kauanggap kurang cantik dia? Kurang pandai? Apa kau terlalu bagus untuknya? Kau merasa terlalu pandai menjadi suaminya, terlalu berharga?”

“Bukan begitu, Twanio. Sama sekali tidak, malah aku merasa diri sendiri kurang berharga. Aku tidak berani menerima maksud hati nona Yoslko karena….. sesungguhnya aku tidak setuju dengan dasar pemilihan jodoh itu. Menurut nona Yosiko, Twanio dan dia sendiri sudah mengambil keputusan untuk mencari jodoh bagi nona Yosiko dengan cara menguji kepandaian. Siapa yang dapat mengalahkan dia dan Twanio akan menjadi pilihannya.”

“Kalau betul begitu, mengapa?”

“Maaf, Twanio. Kurasa hal ini amatlah tidak baik, karena perjodohan harus didasari saling pengertian, saling kasih sayang dan saling cocok. Kalau dasarnya hanya kepandaian ilmu silat, aku khawatir sekali kelak nona Yosiko akan mendapat jodoh yang tidak cocok wataknya dan akhirnya akan menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya.”

“Cerewet! Baru ini aku melihat laki-laki yang cerewet! Yosiko, benarkah kau memilih orang macam ini? Dia cerewet sekali, apakah kautidak menyesal kelak?

“Tidak, Ibu. Aku tidak mau menikah dengan orang lain kecuali dengan Yo Wan!”

“Kalau dia kalah olehku?” “Tak mungkin. Kau takkan menang, Ibu!”

Mendengar ini, diam-diam Yo Wan mengambil keputusan untuk mengalah dan sengaja memberi kemenangan kepada ibu Yosiko apabila dia dicoba kepandaiannya. Akan tetapi seketika maksud hatinya ini buyar sama sekali ketika dia mendengar wanita itu mendengus dan berkata,

“Huh, belum tentu! Dan biarlah aku mengalah dan membolehkan dia menjadi suamimu kalau aku kalah, biarpun dia cerewet dan aku tidak menyukai laki-laki cerewet. Mendiang ayahmu tidak banyak cakap, seorang jantan sejati! Akan tetapi kalau si lidah tak bertulang ini kalah olehku, dia harus mampus karena dia berani menolakmu, Yosiko!”

“Ibu takkan menang!” Yosiko bersungut-sungut.

Tan Loan Ki tidak bicara lagi melainkan meloncat mundur sambil mencabut pedangnya. “Keluarkan senjatamu!” bentaknya.

“Twanio, aku tidak mempunyai senjata,” jawab Yo Wan sejujurnya karena memang tiga macam senjatanya telah habis semua, rusak ketika dia melawan Bhok Hwesio yang sakti.

“Hemnnm, lekas kau cari senjata, aku tidak sudi menyerang orang bertangan kosong!”

Pikiran baik menyelinap di benak Yo Wan. “Twanio, memang aku tidak ingin bertempur denganmu, dan aku tidak bersenjata. Nah, selamat tinggal…..” Sambil berkata demikian dia melangkah hendak pergi.

“Berhenti'” Tan Loan Ki berteriak keras dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang dan menghadang di depan pemuda itu. “Aku tidak menyerang lawan bertangan kosong, akan tetapi aku akan membunuhmu sekarang juga kalau kau berani menghina dan tidak menerima tantanganku. Hayo lawan!”

Diam-diam Yo Wan mendongkol juga. Wanita ini amat galak, dan perlu ditundukkan. Akan tetapi dia menjadi serba salah. Kalau dia menang, berarti dia “lulus” sebagai calon mantu. Kalau kalah, tentu dia dibunuh. Tak mungkin dia mau dibunuh dan mati konyol. Matanya mencari-cari.

“Yo Wan, kau pakailah pedangku ini!” kata Yosiko dengan suara manis.

Yo Wan hendak menerima pedang, akan tetapi cepat-cepat menarik kembali tangannya yang sudah dia gerakkan. Tidak baik ini. Kalau dia menang dan kemenangannya menggunakan pedang Yosiko, hal itu lebih-lebih akan menguatkan mereka mengikatnya sebagai calon jodoh
Yosiko.

“Terima kasih, Yosiko. Aku tidak perlu menggunakan pedang, cukup dengan ini, karena aku memang tidak ingin bertempur sungguh-sungguh dengan ibumu. Bukankah ini hanya ujian saja?” Sambil berkata demikian dengan sepatu barunya pemberian Yosiko. Yo Wan mencukil sepotong kayu, agaknya ranting pohon kering yang terletak di atas tanah. Kayu sebesar ibu jari kaki itu tersontek ke atas dan dia sambar di tangan kanan. Ranting yang kecil ini panjangnya kurang lebih empat kaki, kecil dan hanya kayu kering, mana bisa dipakai senjata menghadapi pedang pusaka? Wajah Tan Loan Ki menjadi merah sekali. Selama hidupnya baru kali ini ia merasa dipandang rendah orang! Wajah yang merah berubah pucat dan merah lagi, tanda bahwa hatinya bergolak dan kemarahannya memuncak.

“Bocah sombong! Kau hendak menghadapi aku dengan ranting itu?”

“Twanio, karena pertempuran ini hanya coba-coba saja, aku yakin kau tidak bermaksud melukaiku, maka dengan sebatang ranting sudah cukuplah.”

“Setan! Kau memandang rendah kepadaku, ya? Berjanjilah, kalau pedangku mengantar nyawamu ke neraka, jangan rohmu menjadi penasaran kepadaku kelak!”

Yo Wan menggelengkan kepalanya dengan sabar. “Aku yakin Twanio tidak akan dapat membunuhku.”

“Apa?? Kau begini sombong??” Nyonya itu menjerit.

“Bukan sombong, Twanio. Akan tetapi hldupku adalah pemberian Tuhan, bagaimana kau akan dapat mengakhiri hidupku? Hanya Tuhan yang akan dapat melakukan hal itu!”

“Wah kau bersilat lidah! Lidahmu bercabang, tak bertulang! Kaulihat pedangku!” Sambil berkata demikian, Tan Loan Ki menerjang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada dengan gerakan yang amat cepat dan kuat. Ujung pedang itu bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya melayang merupakan kilatan menyilaukan mata.

“Cring! Cring! Cring!!” Tiga kali pedang itu berkelebat dan tiga kali pula membalik seperti terbentur tembok baja.

“liihhhhh!!” Nyonya itu meloncat ke belakang dengan gerakan memutar, diam-diam ia merasa terkejut dan mulai percaya akan kata-kata puterinya. Betapa mungkin ranting kayu kecil itu menangkis pedangnya menerbitkan bunyi senyaring itu seakan-akan ranting itu telah men-jadi sebatang besi baja pilihan?

Namun ia tidak gentar, dan cepat ia menubruk maju lagi dengan cekatan sekali. Kini ia mainkan ilmu pedang keturunan yang ia pelajari dari ayahnya dahulu. Ayahnya adalah Tan Beng Kui yang dahulu berjuluk Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) yang menjadi raja kecil dihutan Pek-tiok-lim (Hutan Bambu Putih), di tepi pantai Po-hai. Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini adalah murid terkasih dari Bu-tek-kiam-ong Cia Hui Gan (Raja Pedang Tanpa Tanding), dan menjadi suheng dari isteri Raja Pedang ke dua, yaitu adik kandungnya sendiri. Sebagai murid terkasih Cia Hui Gan, tentu saja dia mewarisi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang gerakannya indah dan lemah gemulai, akan tetapi mengandung daya serang dan daya tahan yang luar biasa (baca cerita Raja Pedang dan cerita Rajawali Emas).

Demikianlah, Tan Loan Ki sekarang mainkan IImu Pedang Sian-li Kiam-sut dengan hebat, dan ditambah dengan gerak langkah Hui-thin-jip-te (Terbang ke Langit Ambles ke Bumi) yang dulu pernah ia pelajari dari Kwa Kun Hong (baca cerita Pendekar Buta). Dengan penggabungan kedua ilmu yang ampuh ini, tidaklah mengherankan apabila nyonya setengah tua yang masih cantik dan galak ini jarang menemui tandingan. Dan tidaklah mengherankan pula bahwa puteri tunggalnya menjadi jagoan di antara bajak sehingga diangkat menjadi ketua.

Namun kali ini ia menghadapi Yo Wan! Seperti kita ketahui, Ilmu Langkah Hui-thain-jip-te yang dimainkan Tah Loan Ki itu hanya merupakan sebagian saja daripada Si-cap-it Sin-po yang berdasar pada Kim-tiauw-kun, sedangkan Yo Wan sudah hafal semua, bahkan sudah menguasai dengan sempurna semua langkah Si-cap-it Sin-po. Tentu saja langkah dari nyonya itu dikenalnya baik-baik, seperti seorang guru mengenal langkah muridnya! Ada pun ilmu pedang yang dimainkan nyonya itu, Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang sukar sekali dikalahkan orang lain, juga tidak membingungkan Yo Wan. Seperti kita ketahui orang muda ini telah digembleng secara hebat oleh dua orang guru sakti yang merniliki tingkat ilmu amat tinggi, sejajar dengan tingkat tokoh besar seperti Si Raja Pedang sendiri. Bahkan ilmu yang dia warisi dari Sin-eng-cu, merupakan ilmu yang sesumber dengan Sian-li Kiam-sut, yaitu ilmu lemas yang menyembunyikan tenaga keras, sebaliknya dari pendeta Bhewakala dia mempelajari ilmu sakti yang kelihatan kasar akan tetapi menyembunyikan tenaga lemas.

Sannbil membuat gerakan seperti orang menari-nari, Tan Loan Ki mainkan pedangnya. Pedang itu sama sekali tidak menyerang, melainkan digerakkan seperti orang menari, indah dan lemas sekali. Akan tetapi kadang-kadang dari gulungan sinar pedang yang indah itu menyambar keluar kilatan pedang yang merupakan tangan maut. Ketika kilatan pedang macam itu menyambar ke arah leher Yo Wan, pemuda ini cepat menangkis dengan rantingnya. Sudah lebih dari lima puluh kali rantingnya tadi menangkis dan membalikkan pedang lawan. Kini dia menangkis lagi.

“Prakkk!” Patahlah ranting kayu itu. Yo Wan terkejut dan diam-diam dia memuji kecerdikan lawan. Kiranya Tan Loan Ki yang maklum bahwa pemuda luar biasa ini telah mengetahui rahasia ilmu pedangnya, telah dapat menangkis pedang dengan hanya sebuah ranting karena pemuda itu mengimbangi permainannya dan setiap kali menangkis pedang yang digerakkan secara lemas akan tetapi mengandung tenaga keras itu ditangkis dengan pengerahan tenaga Im yang lemas dan lembek. Karena itu, dalam penyerangan ke arah leher, diam-diam Tan Loan Ki membalikkan tenaganya, menyimpan tenaga keras dan menggunakan tenaga Iweekang yang lemas disalurkan melalui pedangnya. Inilah sebabnya maka ketika ranting yang mengandung tenaga lemas yang sama itu bertemu pedang yang juga mengandung hawa Im, ranting itu yang pada dasarnya jauh kalah kuat daripada pedang, menjadi patah!

“Hemmm, bocah sombong, kau tidak mengaku kalah?”. bentak Tan Loan Ki, akan tetapi di dalam hatinya ia diam-diam merasa kagum bukan main dan mulailah ia percaya bahwa pemuda macam ini sangat boleh jadi murid Kwa Kun Hong!

Yo Wan menjura dan melemparkan ranting di tangannya. “Twanio benar-benar lihai bukan main, aku tidak kuat menahan, mengaku kalah!”

Yosiko meloncat ke atas. “Tidak bisa! Tidak adil! Ibu, kau dengan pedang pusaka dilawannya dengan ranting, sampai lima puluh jurus lebih. Dan rantingnya patah setelah menangkis puluhan kali, apa anehnya? Dia sengaja mengalah, dia tidak kalah olehmu?”

Tan Loan Ki biarpun galak dan keras wataknya namun dia adalah seorang gagah yang jujur. Mendengar ucapan anaknya ia mengangguk.

“Kau benar, Yosiko. Orang muda ini memang hebat dan kalau dia melawan sungguh-sungguh, agaknya aku takkan mudah mencapai kemenangan. He, orang muda yang bernama Yo Wan. Apakah betul kau murid Kwa Kun Hong?”

“Betul, Twanio. Beliau adalah guruku, sungguhpun aku malu sekali harus mengaku sebagai muridnya karena kepandaianku tidak ada sepersepuluh kepandaian suhu yang sakti.”

“Aku pernah diajar Hui-thian-jip-te oleh Kun Hong. Kau agaknya pandai pula ilmu langkah itu, akan tetapi mengapa lebih lengkap dari padaku? Apakah kau dilatih pula ilmu itu oleh Kun Hong?”

“Ah, mana bisa aku yang bodoh disamakan dengan suhu? Aku hanya dapat menerima sedikit sekali, dan suhu pernah menurunkan Si-cap-it Sin-po kepadaku.”

Tan Loan Ki berdiam sejenak, mata-nyakini memandang penuh selidik. Hemm, pikirnya, wajah bocah ini tidak buruk. Malah tampan, biarpun sederhana dan kelihatan bodoh. Akan tetapi tidak muda lagi!

“Yo Wan, berapa usiamu sekarang?”

Yo Wan kaget. Pertanyaan yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Sungguh sukar mengikuti jalan pikiran nyonya ini yang berubah-ubah seperti angin laut! Setengah terpaksa dia menjawab,

“Kalau tidak salah, tahun ini aku berusia dua puluh delapan tahun, Twanio.”

“Berapa orang anakmu?”

“Heh …… ??? Anak ……. ??”.

“Ya, berapa orang anakmu. Berapa laki-laki dan berapa perempuan?”

Wajah Yo Wan menjadi merah sekali.

Sinting! Mau dibawa ke mana dia dengan pertanyaan-pertanyaan macam ini?

“Twanio, aku….. aku tidak punya anak…..”

Terdengar suara cekikikan tertawa. Yosiko yang tertawa ini dan ia berkata lantang, “Ah, Ibu, dia adalah Jaka Lola!”

“Apa? Jaka Lola?”

“Ya, dia tidak berayah ibu lagi, tidak bersanak kadang, tentu saja tidak punya anak atau isteri. Dia masih jaka!”

Nyonya itu mencebirkan bibirnya mengejek. “Biasa! Biarpun anaknya sedang penuh, di luaran laki-laki selalu mengaku jejaka! Usia dua puluh delapan tahun belum kawin? Bohong! Sekali berhadapan dengan perawan cantik, laki-laki lupa isteri lupa anak.”

Muka Yo Wan makin merah. “Twanio! Aku bukanlah laki-laki macam itu. Aku betul-betul belum pernah menikah dan sama sekali tidak punya anak.”

“Bagus!! Kalau begitu, biar agak tua, aku terima kau menjadi suami Yosiko!”

Hampir saja Yo Wan mengemplang mulut sendiri dan dia hanya bengong memandang Yosiko yang lari dan menubruk ibunya, merangkul leher dan menciumi kedua pipi ibunya. Menyaksikan adegan macam ini, terharu juga Yo Wan dan diam-diam dia merasa menyesal sekali mengapa dia terpaksa tak mungkin memenuhi maksud hati ibu dan anak ini. Kalau saja di sana tidak ada Cui Sian agaknya….. agaknya….. hemmm!

“Maaf, Twanio…..” katanya dengan suara gemetar. “Maaf, terpaksa sekali aku tidak dapat memenuhi kehendak Twanio yang suci ini. Betapapun juga, aku merasa amat berterima kasih dan biarpun aku tidak mungkin dapat men-jadi suami Yosiko, biar dia kuanggap sebagai adikku…..”

“Apa kaubilang?!” Tan Loan Ki berseru dan mendorong anaknya. Sepasang matanya berkilat.

“Kau….. kau menolak menjadi suami Yosiko?”

“Bukan aku menolak, Twanio, melain-kan….. menyesal sekali, aku….. aku tidak dapat memenuhi kehendakmu, aku…., tak mungkin menjadi suaminya…..”

“Keparat, kalau begitu kau harus mampus!'” Sambil memekik nyaring nyonya itu menerjang Yo Wan dengan pedangnya dengan tusukan maut yang dilakukan penuh kemarahan.

Yo Wan cepat menghindar. Dari gerakan ini tahulah dia sekarang bahwa kali ini lawannya tidak main-main lagi, melainkan menyerang dengan penuh nafsu hendak membunuh. Ngeri juga hatinya. Kepandaian wanita ihi sudah hebat, apalagi dalam keadaan marah. Sama sekali dia tidak boleh memandang ringan, dan tidak boleh membuang waktu, karena kalau dia terlena sedikit saja pasti akan tewas.

“Maaf, Twanio…..!” katanya berkelebat cepat. Tan Loan Ki berseru kaget karena kehilangan lawannya. Ketika ia membabatkan pedangnya ke belakangnya di mana ia mendengar angin gerakan lawan, tiba-tiba ia merasa tangan kanannya lumpuh dan pedangnya mencelat sampai lima meter lebih jauhnya. Cepat ia membalik dan dilihatnya Yo Wan berdiri sambil menjura dan berkata,

“Maaf, Twanio, bukan maksudku hendak pamer”.

Tan Loan Ki mendengus. Ia makin kagum dan diam-diam ia kini mengharapkan sekali mendapatkan mantu seperti ini. ”Uhhh, kau…..biar kucari Kwa Kun Hong. Biar dia yang mengadili dan dia yang memaksamu. Kalau tidak, kutantang Kun Hong!” Sambil berkata demikian, nyonya itu lari, menyambar pedangnya dan dengan loncatan-loncatan jauh menghilang dari situ.

Yo Wan menghela napas panjang. la mendengar isak tangis. Ketika dia menengok, dilihatnya Yosiko berdiri sambil memandangnya dengan air mata ber-cucuran membasahi kedua pipinya.

“Maafkan aku, Yosiko. Aku….. kau tahu sendiri….. aku mencinta gadis lain. Ah, mengapa kita tidak menceritakan hal itu kepada ibumu tadi…..”

Dengan terisak-isak Yosiko berkata, “Aku akan mencari Tan Cui Sian dan membunuhnya’!” Maka larilah gadis ini, lenyap ke dalam semak-semak di hutan itu, meninggalkan Yo Wan yang berdiri bengong dan menggeleng-geleng kepala berkali-kali dengan hati bingung. Akhirnya dia melangkah pergi dari situ dengan maksud mencari Tan Hwat Ki.

Kiranya di dunia ini tidak ada rasa sakit hati yang lebih hebat bagi seorang wanita daripada rasa sakit hati karena ditolak oleh seorang pria! Dan kiranya tidak ada rasa sakit yang lebih parah dan sengsara daripada rasa sakit dirundung asmara! Sudah tentu saja bagi yang sudah mengerti, perasaan sengsara ini adalah dibuat-buat sendiri, perasaan sakit hati dan hancur merana yang tanpa disadarinya sengaja ia timpakan kepada dirinya sendiri. Perasaan sengsara yang bersumber kepada rasa kasihan kepada diri pribadi (self pity) yang merupakan cabang terdekat daripada rasa mementingkan diripribadi (egoism).

Namun bagi Yosiko yang tidak memiliki self-pity dan egoism yang terlalu besar, sakit hatinya tidak membuat ia berduka, melainkan membuat ia marah dan penasaran. la tetap tidak mau menerima kenyataan bahwa Yo Wan menolak dia karena mencinta Tan Cui Sian. la marah kepada Cui Sian dan ingin membunuhnya karena ia menganggap Cui Sian telah merampas calon suaminya. la pun penasaran dan ingin memaksa supaya Yo Wan tetap menjadi jodohnya. Perasaan ini memang tidak wajar bagi seorang gadis, akan tetapi Yosiko adalah seorang gadis yang lain daripada yang lain. la dibesarkan dalam asuhan ibunya yang keras hati dan yang selama ini hidup di alam bebas yang liar, di tengah-tengah para bajak laut, setiap hari menyaksikan pertempuran-pertempuran dan peristiwa yang kejam dan mengerikan. Hal inilah yang mempengaruhi dirinya karena sesungguhnyalah kalau dikatakan orang bahwa keadaan sekeliling inilah yang membentuk watak.

Yosiko menyusup-nyusup di dalam hutan di sepanjang Sungai Kuning yang amat luas. Tiba-tiba ia menyelinap ke dalam semak-semak. Dilihatnya beberapa orang anggauta tentara kerajaan berkelompok dan menjaga di situ. Dengan hati-hati dan cepat Yosiko mengambil jalan lain menjauhi mereka. la tidak takut terhadap mereka, akan tetapi karena ia maklum bahwa orang-orang ini dipimpin oleh putera Bun-goanswe yaog lihai, dibantu pula oleh Tan Hwat Ki dan sumoinya, maka ia tidak berani sembarangan turun tangan. Kini tujuan per-jalanannya lain lagi, bukan sebagai ketua Kipas Hitam lagi, melainkan sebagai seorang gadis yang mencari saingannya!

Akan tetapi ketika ia menyusup-nyusup mengambil jalan ke timur, kembali ia melihat kelompok lain yang sudah menjaga di situ. Bahkan di sini terdapat sebuah tenda dan samar-samar ia melihat Tan Hwat Ki dan orang-orang lain berada di dalam tenda! Cepat la memutar lagi dan diam-diam ia merasa khawatir. Tahu-lah ia sekarang bahwa gua yang menjadi tempat persembunyiannya itu, yang sudah diketahui oleh Tan Hwat Ki, kini telah
dikurung dari segala penjuru. Apakah kehendak mereka? Hendak menangkapnya? Yosiko mengulum senyum mengejek. Ja-ngan kira mudah menangkap ketua Kipas Hitam! Kalau saja ia tidak sedang men-cari Tan Cui Sian, agaknya ia akan menggunakan akal dan membasmi mereka. Setidaknya ia tentu akan berhasil membunuh beberapa puluh orang di antara mereka! Akan tetapi ia tidak ada waktu dan terutama sekali tidak ada nafsu untuk “main-main” dengan nyawa mereka.

Yosiko memasuki sebuah hutan bambu yang dahulu menjadi tempat tinggal ka-keknya, yaitu Pek-tiok-lim, kemudian dari tengah-tengah rumpun bambu ia menggulingkan sebuah batu hitam yang menyembunyikan sebuah lubang. Orang lain tentu tidak akan menduga bahwa di bawah batu ini ada lubangnya. Andaikata ada orang lain mendapatkan lubang ini, tentu ia menyangka bahwa lubang itu adalah lubang ular atau binatang lain yang berbahaya sehingga tak mungkin orang berani masuk. Akan tetapi Yosiko segera memasuki lubang ini, menutupnya dari dalam. Lubang ini bukanlah lubang ular atau lubang binatang lain, melainkan sebuah lubang yang menuju kepada terowongan kecil di bawah tanah. Yosiko merayap di dalam gelap sampai beberapa menit lamanya. Ketika ia keluar, ia telah berada jauh di luar hutan, keluarnya dari sebuah gua di antara batu-batu karang di mana terdapat banyak gua kecil. Juga gua ini mempunyai sebuah pintu rahasia, maka tidak pernah ada orang dapat memasukinya, mengiranya sebuah gua buntu.

Yosiko tersenyum karena ia telah keluar daripada kepungan. Ia percaya bahwa ibunya tadi agaknya juga mengambil jalan ini dan dugaannya ini memang tidak keliru.

Yosiko berpikir sejenak. Tan Cui Sian tadi mengintai ke gua. Tentu gadis saingannya ini tidak berada jauh. Mungkin berada bersama Tan Hwat Ki dan kawan-kawannya.. la harus dapat mencari kesempatan untuk berjumpa berdua dengan Cui Sian dan menantangnya berkelahi mati-matian memperebutkan Yo Wan!

Perutnya terasa lapar sekali. la harus mencari makanan. Celakanya, hutan yang mengandung buah-buahan dan binatang-binatang yang dapat dijadikan makanan adalah hutan yang terkepung perajurit-perajurit kerajaan tadi. Dan satu-satunya cara mendapatkan makanan hanya pergi ke dusun-dusun untuk membeli dari warung-warung nasi. Akan tetapi ia harus mencari dusun yang agak jauh, siapa tahu di situ terdapat mata-mata atau penjaga-penjaga yang tentu akan mengepung dan mengejarnya, mengacaukan urusannya sendiri.

Berjalanlah Yosiko menuju ke sebuah dusun yang agak jauh. Akan tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba ia menyelinap dan bersembunyi ketika ia melihat dua orang mendatangi dengan langkah perlahan. la tertarik sekali ketika melihat betapa mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis cantik. Mula-mula ia kaget dan mengira bahwa mereka adalah Tah Hwat Ki dan sumoinya, akan tetapi setelah mereka datang dekat, terriyata mereka adalah dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Gadis itu cantik sekali, juga gagah dan membayangkan bahwa gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Akan tetapi pada saat itu, gadis itu wajahnya pucat, kedua pipinya basah air mata, rambutnya kusut dan matanya merah. Adapun yang seorang lagi, adalah pemuda yang memiliki wajah tampan bukan main. Belum pernah Yosiko melihat seorang pemuda setampan itu, dengan sikap yang gagah pula, sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang. Sayang sekali, pemuda itu buntung lengan kirinya, sebatas siku! Mereka berjalan perlahan dan bercakap-cakap, keduanya memperlihatkan kesedihan dan kemuraman.

Siapakah mereka ini? Demikian pikir Yosiko dengan heran. la tertarik sekali karena dua orang ini jelas membayangkan orang-orang yang memiliki kepandaian, bukan orang-orang biasa. Apakah mereka ini juga merupakan anggauta rombongan orang gagah yang hendak membasmi bajak laut di sekitar Lautan Po-hai? Akan tetapi mengapa mereka berdua jalan di sini dan kelihatan sedih sekali? Bahkan terang bahwa si gadis itu bekas menangis, matanya merah, pipinya masih basah dan hidungnya merah.

Yosiko tidak mengenal mereka, akan tetapi pembaca tentu mengenal mereka. Mereka itu bukan lain adalah Kwa Swan Bu dan The Siu Bi! Sudah lama sekali kita meninggalkan mereka. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Swan Bu yang masih menderita itu bersama Siu Bi melarikan diri setelah Siu Bi berhasil membunuh Ouwyang Lam dan kemudian mereka ditolong oleh The Sun yang me-ngorbankan nyawa untuk anak tirinya di tangan Ang-hwa Nio-nio. Dua orang muda-mudi yang saling mencinta tapi yang terlibat dalam permusuhan dendam-mendendam antara orang-orang tua mereka itu, melarikan diri tanpa tujuan, dengan niat menjauhkan diri daripada ancaman fihak musuh.

Rasa sakit pada lengannya tidak membuat Swan Bu terlalu berduka. Yang membuat dia merasa amat bersedih adalah karena urusannya membuat hal-hal yang amat ruwet dan hebat terjadi. Nama baik Lee Si ternoda sebagai seorang gadis, malah ayah gadis itu telah dibunuh orang dengan pedang ibunya menancap di dada, pedang yang kini berada di tangannya. Dengan terjadinya peristiwa ini, dia tidak berani pulang! Bagaimana kalau ternyata ibunya yang membunuh ayah Lee Si? Bagaimana kalau paman Tan Kong Bu benar-benar dibunuh ibunya karena kesalahfahaman? Ah, hebat perkara itu dan dia tidak ada keberanian untuk menghadapi peristiwa menyedihkan itu. Selain itu, juga dia tidak dapat berpisah dari Siu Bi. Andaikata ayah Siu Bi tidak meninggal, dia tentu akan memaksa diri meninggalkan Siu Bi. Akan tetapi kini Siu Bi tidak berayah ibu lagi, tidak ada sanak saudara, hidup sebatangkara. Bagaimana dia tega melepaskan Siu Bi merawat seorang diri begitu saja?

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: