Jaka Lola ~ Jilid 29

Perjalanan mereka penuh dengan kenang-kenangan memilukan. Kadang-kadang mereka memadu kasih dan janji, ingin sehidup semati. Ada kalanya mereka bertangis-tangisan mengingat keadaan keluarga mereka. Bahkan ada kalanya mereka cekcok mulut karena berbeda pendapat. Namun betapapun juga, Siu Bi selalu tekun dan rajin merawat Swan Bu sehingga luka pada lengannya sembuh.

Pada hari itu mereka tiba di lembah Surigai Huang-ho dengan maksud melanjutkan perjalanan dengan perahu karena perjalanan dengan perahu, tidak melelahkan tubuh Swan Bu yang perlu banyak istirahat. Akan tetapi sejak pagi tadi, sambil berjalan perlahan, mereka cekcok kembali ketika Swan Bu mendesak agar Siu Bi suka ikut dia pulang saja ke Liong-thouw-san, menghadap ayah bundanya dan berterus terang mengaku bahwa mereka sudah saling mencinta dan tak dapat terpisah lagi.

“Aku takut, Swan Bu. Aku takut untuk bertemu dengan ayah ibumu. Bagaimana kalau mereka tidak memperbolehkan aku dekat denganmu? Bagaimana kalau aku diusir? Aku pernah hendak membunuh mereka. Ibumu amat benci kepadaku! Ah, Swan Bu….. jangan paksa aku ke sana, lebih baik kita pergi yang jauh, biar kita mencari pulau kosong, hidup berdua sampai kematian memisah-kan kita…..” demikian keluh-kesah Siu Bi..

“Siu Bi!” Swan Bu membentak marah. “Kau hanya ingat kepada dirimu sendiri saja! Apa kau tidak ingat betapa aku pun tidak mungkin selamanya harus berpisah dari ayah bundaku? Anak macam apa kalau begitu aku ini? Apa kau hendak memaksa aku menjadi seorang anak yang paling puthauw (murtad) di dunia ini?”

“Sesukamulah! Boleh kautinggalkan aku, akan tetapi kau harus membunuh aku lebih dulu. Swan Bu, aku lebih baik mati daripada kau tinggalkan!”

Demikianlah percekcokan itu yang dilanjutkan di sepanjang jalan. Ketika mereka tiba di dekat tempat sembunyi Yosiko, percekcokan mereka sudah me-muncak dan jelas terdengar oleh Yosiko ketika Siu Bi berseru keras,

“Sudahlah! Kau boleh pergi dan kalau kau tidak mau nnembunuh aku, aku akan membunuh diriku sendiri di depanmu sebelum kau pergi!” Sambil berkata demikian, Siu Bi mencabut pedangnya dan sinar menghitam menyambar ke arah lehernya. Hampir saja Yosiko mengeluarkan jeritanngeri karena gadis ini melihat betapa gerakan pedang di tangan Siu Bi amat cepat sehingga agaknya sukar untuk menghindarkan gadis itu daripada kematian. Akan tetapi alangkah kagum hatinya ketika tiba-tiba pemuda itu meng-gerakkan tangan kanannya dan sinar keemasan berkelebat kemudian membentur sinar hitam menerbitkan suara berkerontangan nyaring. Kiranya pedang bersinar hitam di tangan gadis itu sudah ditangkis dan bahkan runtuh di atas tanah!

“Siu Bi, jangan gila kau! Kalau kau membunuh diri, mana aku dapat hidup lebih lama lagi?” kata Swan Bu sambil menyimpan pedangnya yang bersinar emas, yaitu pedang Kim-seng-kiam, pedang ibu-nya yang dia cabut dari dada jenazah Tan Kong Bu.

Siu Bi menangis. Swan Bu mendekatinya dan keduanya lalu berpelukan mesra sambil bertangisan,

“Siu Bi, bukankah kau sudah setuju bahwa aku harus mengawini Lee Si? Kau tahu, hanya itu satu-satunya jalan untuk mengusir awan kegelapan yang meliputi keluargaku. Hanya pengorbanan itu yang dapat kulakukan untuk menebus nama baik keluarga paman Tan Kong Bu. Kemudian bersama Lee Si aku harus mencari keterangan bagaimana matinya paman Tan Kong Bu. Betapapun juga, aku masih belum percaya benar bahwa ibuku yang membunuh paman Kong Bu.”

“Swan Bu, kau sudah bersumpah sehidup semati dengan aku. Biarpun tidak secara resmi, bukankah aku ini isterimu yang sah karena sumpah kita? Bukankah! Tuhan yang menyaksikan, langit, bumi, bintang dan bulan? Swan Bu, aku tidak akan tentang kau mengawini Lee Si, akan tetapi….. jangan kautinggalkan aku.”

Swan Bu mencium dan mengelus-elus rambut Siu Bi sehingga tangis gadis itu mereda.

“Siu Bi, harap kau suka berpikir dengan panjang. Aku mengajakmu menghadap ayah ibuku, kau merasa takut dan tidak mau. Kemudian kalau aku pulang lebih dulu seorang diri untuk kelak kita bertemu lagi, kau tidak membolehkan aku meninggalkanrnu. Bagaimana ini? Siu Bi, kau tahu betapa aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sudah bersumpah dan apa pun yang akan terjadi, sudah pasti aku akan kembali kepadamu. Sebaiknya kalau untuk sementara kita berpisah. Biarkan aku menghadap orang tuaku dan menyelesaikan urusan kami. Syukur kalau mereka tidak memaksaku mengawini Lee Si, andaikata begitu, aku tetap hendak menceritakan mereka tentang dirimu dan aku tetap hendak mengajukan syarat, yaitu aku mau menikah dengan Lee Si asal kau juga menjadi isteriku.”

Untuk sejenak Siu Bi diam, hanya menyandarkan kepalanya di dada kekasih-nya. “Betulkah, kau tidak akan lupa kepadaku?”

“Apa kaukira aku gila? Marilah kita mencari tempat untukmu, di mana kau dapat menantiku. Begitu urusanku selesai, aku pasti akan datang menjemputmu dan kau tidak perlu merasa khawatir lagi bertemu dengan orang tuaku.”

Keduanya berjalan lagi perlahan, Yo-siko yang berada di tempat sembunyinya, merasa kasihan kepada Siu Bi. Gerak-gerik gadis itu menarik hatinya, menimbulkan rasa suka. Agaknya, seperti juga dia, gadis bernama Siu Bi itu pun tidak beruntung dalam soal perjodohan. Dia  ingin berjodoh dengan Yo Wan tapi pemuda itu memilih Tan Cui Sian. Agaknya gadis bernama Siu Bi itu pun ingin bersuamikan pemuda buntung itu, namun si pemuda hendak mengawini gadis lain! Dengan seorang yang senasib ini boleh sekali ia berkawan.

Tiba-tiba terdengar seruan, “Swan Bu…..!!”

Swan Bu dan Siu Bi terkejut, berhenti dan menengok. Seorang gadis tampak datang dengan lari cepat sekali, sebentar saja sudah tiba di tempat itu. Dari tempat sembunyinya Yosiko menyaksikan ini dan menjadi kagum. Gadis yang baru datang ini pun hebat sekali ilmu lari eepatnya dan ia mulai merasa heran. Mengapa begini banyak berkumpul orang-orang muda yang lihai? Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia mendengar pemuda buntung itu menyebut nama gadis yang baru tiba.

“Sukouw (Bibi Guru) Cui Sian…..!!” teriak Swan Bu kaget karena dia benar-benar sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu dapat datang ke tempat sejauh ini.

Yang datang memang benar adalah Tan Cui Sian, gadis Thai-san, puteri Raja Pedang yang amat lihai. Dengan pandang rnata tajam Cui Sian mengerling ke arah Siu Bi yang biarpun tadi sudah didorong dari dadanya oleh Swan Bu, masih saja memegangi tangan kanan pemuda itu dengan erat, seakan-akan ia khawatir kalau-kalau kekasihnya akan direnggut orang.

“Swan Bu, mengapa kau berada di sini….. dengan dia ini? Ayah ibumu mencarimu, mereka amat mengharapkan kau pulang. Mau apa kau berkeliaran di sini bersarna dia?” Kembali ia melirik tajam ke arah Siu Bi, jelas wajahnya memperlihatkan hati tidak senang

“Sukouw…..” bingung sekali hati Swan Bu dan mau tak mau dia harus melepaskan tangannya dari pegangan Siu Bi karena merasa tidak enak di depan bibi gurunya itu memperlihatkan kasihsayangnya kepada Siu Bi, gadis yang tentu saja oleh bibinya dianggap musuh karena sudah membuntungi lengannya.

“Sukouw, bagaimana dengan….. ibu? Tidak apa-apakah? Siapa….. yang membunuh paman Kong Bu?”

“Tak usah khawatir, bukan ibumu yang membunuhnya, melainkan….. kawan bocah liar ini,” kata Cui Sian sambil melirik lagi ke arah Siu Bi.

Watak Siu Bi memang keras dan ia pantang mundur menghadapi musuh yang bagaimanapun. Tadi ia sudah mendongkol melihat sikap Cui Sian, akan tetapi ditahan-tahannya. Mendengar bahwa yang membunuh ayah Lee Si bukan ibu Swan Bu, diam-diam ia merasa lega dan girang juga. Akan tetapi mendengar ia disebut-sebut gadis liar dan pembunuh itu adalah kawannya, kemarahannya bangkit. Lalu segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke muka Cui Sian sambil berseru nyaring.

“Enak saja kau bicara! Aku tidak punya kawan pembunuh! Hayo buktikan bahwa yang membunuh adalah kawanku, jangan hanya pandai melempar fitnah!”

Cui Sian tersenyum mengejek. “Yang biasa melakukan fitnah adalah manusia macam kau dan teman-temanmu. Pembunuh kakakku Kong Bu adalah Ang-hwa Nio-nio! Nah, bukankah dia kawanmu?”

“Bukan! Ngaco kau, dia bukan kawanku, aku benci kepadanya!”

“Siapa tidak tahu akan kejahatanmu? Ang-hwa Nio-nio sudah mampus dan sekarang kau pun harus mampus!” Cepat sekali gerakan Cui Sian yang maju dan menerjang Siu Bi dengan pedangnya. Pedang hitam Siu Bi belum sempat ditarik untuk menangkis, namun gadis ini dengan gesit sudah meloncat ke kiri untuk menghindarkan diri daripada sambaran pedang, kemudian ia sudah mencabut pula pedangnya, siap bertanding mati-matian.

“Tahan! Sukouw, harap jangan serang dia!” kata Swan Bu sambil melompat ke depan, menghadang Cui Sian. Biarpun pemuda buntung ini tidak mencabut pedangnya, namun sinar matanya jelas mem-perlihatkan bahwa dia tidak akan membiarkan Siu Bi diganggu. Cui Sian ragu-ragu dan membentak,

“Swan Bu! Kau membela bocah liar ini, setelah apa yang terjadi semua? Setelah lenganmu dibuntungi dan setelah keluarga kita hampir rusak berantakan?”

“Sukouw, dia….. aku….. aku cinta kepadanya.”

Siu Bi sudah menyimpan pedangnya dan kini ia kembali menggandeng tangan kanan Swan Bu. Wajahnya berseri memperlihatkan sinar kemenangan dan mengejek.

Cui Sian tertegun, heran dan tidak tahu harus berkata apa. Dengan tarikan napas panjang, ia menyimpan kembalil pedangnya. Cinta memang aneh sekali, pikirnya, atau lebih tepat orang muda yang dilanda cinta memang tidak waras otaknya, seperti…. seperti.,… dia sendiri!

“Swan Bu, omongan apa yang kau keluarkan ini? Kau diharapkan pulang dan perjodohanmu dengan Lee Si sudah diatur orang tuamu.”

“Aku hanya mau menikah dengan Lee Si asal Siu Bi juga diperkenankan menjadi isteriku.”

Terbelalak mata Cui Sian, akan tetapi karena hal itu bukan urusannya, ia menjawab, “Sudahlah, aku tidak tahu akan hal itu. Kau boleh bicara sendiri dengan orang tuamu dan dengan ibu Lee Si. Sekarang kau harus pulang dulu. Bocah ini kalau betul-betul mencintaimu….. hemm, aku masih ragu-ragu akan hal ini, melihat betapa ia tega membuntungi lenganmu, kalau betul ia mencinta, ia harus setia dan suka menantimu.”

Swan Bu menoleh kepada Siu Bi. “Moi-moi, kau mendengar sendiri. Memang sebaiknya aku pulang lebih dulu. Aku yakin orang tuaku akan setuju dan kalau sudah demikian, baru aku akan menjemputmu.”

“Tapi….. tapi….. aku akan tidak senang sekali kalau kau pergi…..”

Cui Sian mendapat pikiran baik. Betapapun juga, Swan Bu harus dipisahkan dari gadis liar ini dan sekaranglah terbukanya kesempatan itu. Maka ia cepat berkata,

“Yang tidak berani berkorban adalah cinta palsu! Kalau bocah ini tidak membolehkan kau pulang untuk membereskan semua urusan, maka cintanya itu pura-pura saja.”

Usahanya berhasil. Memang Siu Bi orangnya keras dan jujur, tidak merasa diakali orang. Mukanya menjadi merah dan ia membentak, “Kalau kau bukan sukouw dari Swan Bu, sudah tadi-tadi kuterjang kau! Siapa bilang cintaku palsu? Swan Bu, kau pulanglah, aku akan menantimu. Pulanglah, kau dan semua orang di dunia ini akan melihat bahwa cintaku tidak palsu dan aku setia kepadamu!”

Lega hati Swan Bu, akan tetapi khawatir juga.

“Siu Bi, kita harus mencari tempat untukmu, di mana kau dapat menantiku…..”

“Bukankah di sini merupakan tempat juga? Aku akan tinggal di sini, Swan Bu di lembah sungai ini, menanti sampai kau datang menjemputku. Pergilah!”

Swan Bu merasa betapa berat perasaan hatinya harus meninggalkan kekasihnya di situ seorang diri. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan? Pertama, dia malu terhadap bibinya kalau terlalu memperlihatkan kelemahan hatinya akibat cinta kasih. Selain itu, kalau ia terlalu menahan dan tidak rela meninggalkan Siu Bi, tentu kekasihnya itu akan merasa rendah terhadap Cui Sian.

“Siu Bi, kautunggulah dan carilah tempat di sekitar ini. Pereayalah, aku pasti akan dataiig menjemputmu. Percayalah…..”

Siu Bi tersenyum sungguhpun kedua matanya menjadi basah. la pun merasa tidak rela dan berat harus berpisah dari orang yang paling ia cinta di dunia ini, niiliitenya satu-satunya yang masih tinggal. Tanpa Swan Bu di sampingnya, hidup tidak akan ada artinya baginya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, tak mungkin ia dapat merampas Swan Bu begitu saja dari orang tuanya. Kalau ia menghendaki agar selanjutnya ia boleh menghabiskan sisa hidupnya di dekat Swan Bu, maka urusan itu harus ada persetujuan orang tuanya. Baginya, tidak peduli Swan Bu akan menikah dengan Lee Si atau dengan siapa juga atas kehendak orang tuanya, asalkan hati dan cinta kasih pemuda itu dia yang memilikinya.

Bukan main terharunya hati Swan Bu menyaksikan gadis itu berdiri lemas dengan air mata di pipi dan senyum di bibir. Ingin dia memeluknya, ingin dia menghiburnya, namun ia malu melakukan hal ini di depan Cui Sian.

“Siu Bi, selamat berpisah untuk sementara…..”

“Pergilah Swan Bu, dan jaga dirimu baik-baik. Aku akan tetap menantimu.”

pergilah Swan Bu bersama Cui Sian dan ada tiga empat kali dia menengok sebelum bayangan mereka lenyap ditelan tetumbuhan.

Melihat wajah Swan Bu demikian sedih, diam-diam Cui Sian merasa terharu dan kasihan. Tentu saja, kalau menurutkan hatinya, ia tidak suka melihat Swan Bu berjodoh dengan Siu Bi, gadis liar dan semenjak kecil berdekatan dengan orang-orang jahat. Jauh lebih baik apabila Swan Bu berjodoh, dengan Lee Si, selain gadis itu memang berdarah ksatria, juga perjodohan ini akan merupakan penghapus bagi luka-luka yang diakibatkan oleh kesalahfahaman antara keluarga Pendekar Buta dan keluarga Raja Pedang. Akan tetapi, oleh pengalamannya sendiri pada saat itu sebagai korban asmara, ia dapat merasai pula keadaan hati pemuda ini, maka diam-diam ia menaruh rasa kasihan. Pemuda itu berjalan sambil menundukkan mukanya yang pucat, seakan-akan semangatnya tertinggal pada gadis kekasihnya yang tadi tersenyum dengan air mata bertitik.

“Swan Bu…..”

Pemuda itu kaget dan menengok. “Ada apakah, Sukouw?”

“Kau tentu maklum, bukan maksudku merusak kebahagiaanmu, akan tetapi aku memaksamu pergi menemui orang tuamu demi kebaikan kita bersama, demi kebaikan orang tuamu, kebaikan keluarga dan kebaikanmu sendiri!”

“Aku mengerti, Sukouw.” Swan Bu menarik napas panjang.

“Sekarang, sebelum kita pulang, mari kita singgah dulu di perkemahan pantai Po-hai, di mana kau akan dapat bertemu dengan banyak sahabat baik dan saudara…”

Suara Cui Sian terdengar gembira, karena memang sengaja gadis ini hendak menghibur Swan Bu dan membangkitkan semangatnya. Kalau pemuda ini bertemu dengan orang-orang gagah yang bertugas membasmi bajak-bajak laut, tentu akan terbangkit pula semangatnya sebagai keturunan seorang pendekar sakti seperti Pendekar Buta.

“Mereka siapakah, Sukouw?” Suara Swan Bu dalam pertanyaan ini tidak begitu mengacuhkan. Setelah berpisah dengan orang yang paling dia sayangi di dunia ini di samping ayah bundanya, siapa pulakah yang dapat menggembirakan hatinya dalam perjumpaan?

“Kau akan bertemu dengan Bun Hui!” “Mengapa saudara Bun Hui berada di tempat ini?”

“Dia mewakili ayahnya untuk memimpin pasukan dari Tai-goan yang bertugas membasmi bajak-bajak laut di dae-rah Po-hai.”

Swan Bu mengangguk-angguk, akan tetapi pikirannya melayang lagi, dia tidak begitu memperhatikan urusan pembasmian bajak laut yang dianggapnya bukanlah urusannya.

“Dan di sana kau akan menemui banyak orang-orang gagah, di antaranya adalah seorang yang sama sekali takkan dapat kau duga-duga siapa adanya!” Cui Sian memperdengarkan suara gembira agar pemuda itu tertarik. Memang ber-hasil dia karena Swan Bu benar-benar memperhatikan.

“Sukouw, siapakah dia?”

“Seorang pendekar muda yang hebat, dan dia masih keponakanku sendiri!”

Wajah Swan Bu mulai berseri. “Apa?” Sukouw maksudkan… dia….. Hwat Ki?”

Ketika Cui Sian mengangguk membenarkan, wajah pemuda ini sudah mulai berseri gembira, pernah dia berkenalan dan bertemu dengan Tan Hwat Ki sewaktu mereka berdua masih kecil, baru berusia belasan tahun. la membayangkan cucu Raja Pedang itu yang tampan dan gagah.

“Dia berada di sana bersama sumoinya, seorang gadis cantik dan gagah perkasa.”

Akan tetapi Swan Bu tidak memperhatikan ucapan ini karena pikirannya penuh oleh bayangan Tan Hwat Ki yang akan dijumpainya, dan perjalanan mereka kini dilakukan dengan cepat.

Yosiko yang semenjak tadi bersembunyi dan mengintai, tentu saja menjadi kaget sekali ketika tadi pemuda buntung itu memanggil nama gadis yang baru tiba. Gadis itu disebut “sukouw Cui Sian”! Jadi inikah Cui Sian, gadis yang menjadi pilihan hati Yo Wan? Hatinya dipenuhi kebencian dan ingin ia melompat ke luar untuk menyerang dan membunuh gadis itu. Memang ia meninggalkan tempatnya dengan satu niat di hatinya, membunuh gadis yang bernama Cui Sian.

Akan tetapi Yosiko bukanlah seorang gadis yang bodoh dan ceroboh. la tadi sudah menyaksikan gerakan gadis yang hendak membunuh diri dan gerakan pemuda buntung yang mencegahnya. Gerakan mereka itu hebat, membayangkan kepandaian ilmu silat yang amat tinggi. Pemuda buntung itu sudah lihai sekali, kalau Cui Sian adalah sukouw-nya (bibi gurunya), dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian Cui Sian! la tidak mau bertindak sembrono menurutkan nafsu amarah kemudian sekali turun tangan ia gagal, apalagi kalau diingat bahwa Cui Sian pada saat itu mempunyai dua orang kawan yang kalau mengeroyoknya tentu akan lebih sukar mencapai kemenangan.
la tertarik sekali ketika menyaksikan dan mendengar percakapan tiga orang muda itu. Keadaan Siu Bi selain menarik perhatiannya, juga mendatangkan sebuah pikiran baik sekali. Oleh karena ini, maka Yosiko mendiamkan saja ketika Cui Sian dan Swan Bu pergi. Untuk beberapa lamanya ia memandang Siu Bi yang sepergi kedua orang itu lalu duduk di atas tanah dan menangis.

Memang hati Siu Bi berduka sekali. la tidak dapat menahan kepergian kekasihnya. la maklum bahwa kalau ia tidak memperbolehkan Swan Bu pulang lebih dulu menemui orang tuanya, selamanya ia tidak akan dapat membereskan urusannya dengan Swan Bu. la percaya penuh akan cinta kasih pemuda yang lengannya ia buntungi itu, akan tetapi ia pun maklum betapa Swan Bu takkan dapat membantah orang tuanya. la takut sekali kalau-kalau ia akan kehilangan pemuda itu dan andaikata hal ini terjadi, hidup tiada artinya lagi baginya. Kekhawatiran inilah yang mengamuk di hatinya setelah di situ tidak ada siapa-siapa dan ia boleh puas menangis. Di depan Cui Sian tadi, tak sudi ia memperlihatkan kelemahan hatinya.

Yosiko keluar dari tempat sembunyi-nya menghampiri Siu Bi dengan perlahan.

la melihat gadis itu menangis sedih dan agaknya tidak tahu akan kedatangannya, maka ia pun duduk pula di depan Siu Bi yang menyembunyikan mukanya, di bela-kang kedua tangan. Air mata bercucuran keluar dari celah-celah jari tangannya.

Yosiko menarik napas panjang, “Dia memang seorang pemuda yang amat tam-pan dan gagah perkasa…..” katanya lirih.

“Tidak ada pemuda lebih tampan dan gagah daripada Swan Bu di dunia ini!” Serta merta Siu Bi menjawab tanpa menurunkan kedua tangan dari depan mukanya.

Kembali Yosiko menarik napas panjang. Kalau bagi Siu Bi ucapan Yosiko tadi cocok benar dengan suara hatinya, adalah jawaban Siu Bi juga tepat dengan perasaan Yosiko. Tentu saja keduanya melamunkan dua macam pemuda!

“Pemuda sehebat itu patut dicinta sampai mati…..” kembali Yosiko berkata seperti kepada dirinya sendiri.

Kembali seperti dalam mimpi, tanpa menurunkan kedua tangannya, Siu Bi me-nyambung. “Aku cinta kepada Swan Bu dengan sepenuh jiwa ragaku.”

Hening pula sejenak. Siu Bi masih terisak-isak, Yosiko duduk termenung. Keduanya duduk di atas tanah berhadapan, akan tetapi seakan-akan tidak tahu akan keadaan masing-masing.

“Perempuan yang bernama Cui Sian itu sungguh amat menjemukan'” kembali Yosiko berkata.

“Aku benci kepadanya! Aku benci kepadanya!” Tiba-tiba Siu Bi berseru dan menurunkan kedua tangannya. Tiba-tiba ia berseru keras dan meloncat bangun sambil mencabut pedangnya. Sinar hitam berkelebat ketika Siu Bi menerjang Yosiko dengan pedangnya itu. Akan tetapi Yosiko sudah menangkis dengan pedangnya pula sehingga keduanya terhuyung mundur,

“Siapa kau?” bentak Siu Bi.

Yosiko tersenyum. “Adik yang baik, simpanlah pedangmu. Aku bukan musuh, aku bukan Cui Sian. Kita senasib sependeritaan, kita sama-sama dibikin sengsara oleh perempuan bernama Cui Sian tadi!”

“Apa kau bilang? ”

“Namaku Yosiko, dan aku benar-benar suka kepadamu karena nasib kita sama. Kau berpisah dari kekasihmu karena Cui Sian, aku pun….. aku terpaksa berpisah dari dia karena Cui Sian. Adik Siu Bi, sebaiknya kita bersatu untuk menghadapi Cui Sian.”

“Kau mengerti namaku?” Yosiko menyimpan pedangnya. “Mari kita bicara secara sahabat baik. Sudah sejak tadi aku melihat dan mendengar semua.”

Siu Bi menjadi merah mukanya, akan tetapi karena melihat bahwa gadis cantik itu tidak bersikap sebagai musuh, ia pun menyimpan pedangnya dan kembali mereka duduk, akan tetapi kali ini mereka saling memandang dan memperhatikan.

“Mengapa sikapmu begini aneh? Apa yang kaukehendaki dari padaku?”
“Begini, adik Siu Bi. Aku tadi tanpa kusengaja sudah mendengar dan melihat semua apa yang terjadi. Kau dan pemuda buntung yang tampan tadi saling mencinta, bersumpah sehidup semati, akan tetapi lalu datang Cui Sian yang mengajaknya pergi, kalau tidak salah….. untuk menjodohkan pemuda kekasihmu itu dengan wanita lain, bukan?”

“Swan Bu takkan mau melupakan aku!” teriak Siu Bi bernafsu.

“Aku percaya, dia amat mencintamu tampaknya. Akan tetapi, jangan pandang rendah perempuan bernama Cui Sian itu. Dia, mendengar tadi, adalah bibi gurunya, tentu akan dapat membujuk dan mengubah pendiriannya.”

Pucat wajah Siu Bi. “Hemmm, tidak mungkin….. andaikata begitu, apa kehendakmu?”

“Aku pun benci kepada Cui Sian. Lebih baik kita berdua mencarinya dan membunuhnya!”

“Huh, enak saja kau bicara. Namamu Yosiko, agaknya kau orang asing dan tidak tahu siapa Cui Sian! Kaukira gampang membunuh dia? Kau tahu siapa dia? Dia adalah puteri tunggal dari Raja Pedang, tahukah engkau?”

Yosiko mengangguk dingin. “Tentu saja aku tahu. Kalau tidak tahu bahwa dia lihai, tentu tadi aku sudah muncul dan kubunuh dia. Karena dia lihai itulah, maka aku mengajak kau bersekutu, mari kita berdua mengeroyok dan membunuhnya.

“Hemmm, tidak segampang menggoyang lidah, Yosiko. Eh, nanti dulu, kau ini siapakah dan mengapa tiada hujan tiada angin begini benci kepada Cui Sian? Kalau kau tidak ceritakan persoalanmu lebih dulu, aku tidak sudi bicara lebih lanjut denganmu.” Siu Bi memandang curiga.

Yosiko kembali menarik napas pan-jang. “Baiklah, dan terserah kepadamu apakah kau suka berteman denganku atau tidak setelah kau mendengar keadaanku. Seorang sahabat tidak perlu pura-pura. Aku bernama Yosiko dan aku adalah Hek-san-pangcu, ketua dari bajak laut Kipas Hitam!” la berhenti sebentar untuk melihat reaksi pada wajah cantik itu. Akan tetapi karena Siu Bi tidak pernah mendengar tentang bajak-bajak laut, hanya ayem saja mendengarkan.

“Semenjak kecil aku dan ibu selalu bercita-cita agar aku mendapatkan jodoh seorang pendekar yang tinggi ilmu silatnya, yang tidak saja dapat menangkan aku, akan tetapi bahkan dapat mengalahkan ibu!”

“Baik sekali,” Siu Bi segera memberi komentar, “Swan Bu juga tiga kali lebih lihai daripada aku! Akan tetapi bagiku, andaikata Swan Bu tidak lebih lihai daripada aku, aku pun tetap akan cinta padanya!”

“Uh, salah besar! Aku tidak tahu tentang cinta, pendeknya, calon jodohku sudah cukup kalau kepandaiannya jauh melebihi aku!”

Siu Bi mengangkat pundak, tidak peduli. “Lalu bagaimana? Kepandaianmu tinggi, ini dapat kuketahui ketika kau menangkisku tadi. Adakah pria yang dapat menandingimu?”

“Bukan hanya menandingi!” kata Yo-siko, wajahnya berseri. “la malah patut menjadi guruku! Ibu sendiri tidak mampu menangkan dia! la hebat, wah, pendeknya di dunia ini tidak akan ada pria yang dapat mengalahkan dia!”

Siu Bi tersenyum mengejek. Belum tentu, pikirnya. Swan Bu memiliki kepan-daian yang luar biasa! “Siapa sih namanya laki-laki pilihanmu itu dan mengapa kau membenci Cui Sian? Apa hubungannya dengan laki-laki pilihanmu itu”

Seketika wajah Yosiko menjadi muram. “Laki-laki itu bernama Yo Wan dan celakanya, dia mencinta Cui Sian.”

Terbelalak mata Siu Bi memandang ketika ia mendengar disebutnya nama ini. “Yo Wan kaubilang? Yo Wan…..??” Yo Wan murid Pendekar Buta?”

Kini Yosiko yang menjadi tercengang dan kaget. “Apa? Kau kenal dia?”
“Kenal dia?” Siu Bi tertawa dan luculah melihat gadis yang matanya masih merah bekas menangis ini tertawa geli. “Aku mengenal Yo Wan? Ah, aku mengenalnya baik sekali! Suatu kebetulan yang amat tak tersangka-sangka, sahabatku! Tahukah kau siapa kekasihku, pemuda buntung yang paling tampan dan gagah di seluruh dunia tadi? Dia adalah putera tunggal Pendekar Buta!”

Untuk kedua kalinya Yosiko tercengang. Sesaat ia memandang Siu Bi dengan bengong, kemudiah ia merangkulnya.

“Kebetulan sekali! Kau mencinta putera Pendekar Buta, dan aku memilih muridnya. Bukankah dengan demikian kau dan aku masih ada hubungan dekat? Sudah sepatutnya kita tolong-menolong, sudah selayaknya kitabersatu. Kita sama-sama membenci Cui Sian yang agaknya menjadi perusak kebahagiaan kita!”

Siu Bi memandang ragu dan Yosiko yang cerdik sekali dapat menduga akan hal ini. Maka cepat-cepat Yosiko memutar otaknya dan berkata, “Kaudengar, Siu Bi adikku yang manis. Kaubantulah aku menghalau Cui Sian ini, dan kalau aku sudah berjodoh dengan Yo Wan, aku dapat membujuknya agar dia mau membantumu mendapatkan kekasihmu tanpa diganggu oleh siapapun juga. Sebagai murid Pendekar Buta, tentu dia akan dapat membujuk suhunya untuk meluluskan puteranya menikah dengan engkau seorang. Bukankah ini kerja sama yang baik sekali namanya?” Yosiko terus mem-bujuk dan karena Siu Bi berwatak sederhana, akhirnya ia kena bujuk juga dan menyanggupi. Menghadapi Yosiko, ia kalah bicara dan memang keduanya memiliki watak yang cocok, maka sebentar saja mereka merasa senasib sependeritaan dan menjadi dua orang sahabat baik.

“Mereka takkan pergi jauh!” kata Yosiko, “Aku tahu bahwa Cui Sian itu hendak membantu pembasmian bajak-bajak laut di daerah Po-hai ini, dan kurasa pekerjaan itu tidaklah mudah, tidaklah dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Kaulihat saja, tentu mereka masih berada di sekitar tempat ini, dan aku tahu kemana harus mencari Cui Sian!”

Mereka bercakap-cakap dan sama sekali mereka tidak tahu bahwa semenjak tadi ada seorang laki-laki yang mengintai, melihat dan mendengarkan percakapan mereka. Mendengar bujukan Yo-siko, laki-laki ini menggeleng-geleng kepala dan berkali-kali menarik napas panjang, keningnya berkerut dan tak lama kemudian setelah tahu apa yang menjadi rencana dua orang gadis yang diliputi perasaan dendam itu, dia meninggalkah tempat itu dengan diam-diam laki-laki ini bukan lain adalah Yo Wan!

* * * * * *

Apa yang dikatakan Yosiko memang betul, Bun Hui dengan dibantu oleh Tan Hwat Ki dan Bu Cui Kim, memimpin orang-orangnya untuk membasmi bajak-bajak laut yang merajalela di daerah Po-hai. Akan tetapi tidaklah mudah membasmi gerombolan penjahat itu, karena selain jumlah mereka banyak, juga mereka itu rata-rata adalah orang-orang yang pandai berkelahi dan dipimpin oleh orang-orang yang tangguh. Apalagi se-menjak digempur oleh pasukan kerajaan ini, para bajak laut lalu siap-siap dan bersatu, bahkan mereka lalu mengangkat ketua Kipas Hitam menjadi pemimpin untuk melakukan perlawanan. Semua gerombolan bajak laut sudah tahu belaka akan kelihaiari Hek-san-pangcu (ketua dari Kipas Hitam), Yosiko!

Ketika mendengar penuturan Tan Hwat Ki dan sumoinya tentang Yo Wan. Bun Hui merasa menyesal sekali mengapa orang gagah yang aneh itu tidak mau datang menggabungkan diri untuk bersama-sama membasmi bajak laut. Pemuda bangsawan ini ingin sekali dapat menangkap ketua Kipas Hitam yang tersohor, untuk dibawa sebagai tawanan ke kota raja sehingga dengan jasa itu dia akan dapat mengangkat nama besar ayahnya. Akan tetapi selama beberapa pekan ini, dia hanya dapat mendengar namanya saja yaitu Hek-san-pangcu yang bernama Yosiko, akan tetapi belum pernah dia melihat orangnya. Hampir dia tidak percaya ketika dua orang muda dari Lu-liang-san itu bercerita bahwa ketua Kipas Hitam adalah seorang gadis peranakan yang cantik.

“Itulah sebabnya mengapa saudara Yo Wan melarang kami berdua menyerang Yosiko,” demikian penuturan Tan Hwat Ki. “Saudara Yo Wan adalah murid Pendekar Buta, maka dia termasuk orang dalam dan dia tidak menghendaki kalau di antara keluarga terjadi permusuhan. Memang aneh sekali, kenapa segala hal bisa terjadi secara kebetulan sekali. Siapa kira kepala bajak laut itu adalah saudara misanku sendiri.”
Bun Hui mengerutkan keningnya. “Kalau memang begitu, mengapa tidak menginsyafkan gadis itu? Kalau dia dapat diinsyafkan dan anak buahnya tidak me-lakukan perlawanan, bahkan suka me-nyerah, bukankah tidak akan terjadi ribut-ribut lagi? Kalau memang dia itu masih cucu Raja Pedang dan suka membubarkan perkumpulan bajak laut, aku bersedia untuk mintakan ampun ke kota raja.”

Tan Hwat Ki menggelengkan kepala. “Agaknya sukar. Dia itu, biarpun wanita, lihai bukan main dan juga berwatak liar.”

“Biarpun ada hubungan keluarga, kalau dia jahat patut dibasmi!” sambung Bu Cui Kim yang masih merasa cemburu.

Demikianlah, setiap hari masih terus Bun Hui melakukan pengejaran terhadap para bajak lautyang melakukan perlawanan secara sembuhyi-sembunyi, dipimpin oleh Yosiko yang amat licin. Banyak di antara anak buah Bun Hui menjadi korban dan selama ini belum pernah dia berhasil rnendapatkan sarang bajak laut itu yang selalu berpindah-pindah.

Kedatangan Tan Cui Sian bersama Kwa Swan Bu nnenggirangkan hati semua orang. Tan Cui Sian merupakan bantuan yang hebat, karena semua maklum bahwa puteri Raja Pedangini memiliki kepandaian yang luar biasa. Apalagi setelah Bun Hui dan Tan Hwat Ki diperkenalkan kepada si pemuda buntung yang ternyata adalah putera Pendekar Buta, mereka menjadi girang bukan main. Mereka men-jadi terharu sekali menyaksikan lengan yang buntung dari pemuda tampan ini, akan tetapi karena wajah pemuda itu kelihatan muram dan sedih, mereka pun tidak berani banyak bertanya.

Lebih besar lagi kegembiraan hati Bun Hui ketika mendengar dari Cui Sian bahwa gadis perkasa ini tahu akan sarang Yosiko ketua Kipas Hitam. Malah di bawah pimpinan pendekar wanita ini mereka lalu melakukan penggerebekan, yaitu di dalam gua di mana Cui Sian melihat Yosiko bersama Yo Wan. Semenjak saat ia melihat Yo Wan tinggal bersama Yosiko itu, hati Cui Sian serasa ditusuk-tusuk, penuh cemburu. Akan tetapi dasar seorang wanita pendekar, ia dapat menyembunyikan perasaannya ini dengan baik.

Namun mereka kecewa karena ketika mereka menggeropyok tempat itu, burungnya sudah terbang pergi dari kurungan. Yosiko tidak tampak bayangannya, dan di situ hanya tinggal terdapat bekas-bekas ditinggali orang saja. Dan sewaktu Cui Sian bersama Swan Bu, Bun Hui, Hwat Ki, dan Cui Kim melakukan penggeroyokan di situ, ternyata perkemahan mereka yang hanya dijaga oleh pasukan dari tiga puluh orang lebih, diserbu oleh bajak laut yang jumlahnya dua kali lipat! Belasan orang penjaga tewas dan per-kemahan itu dibakar!
Hal ini membuat Bun Hui makin gemas dan pusing. Dan hal ini pula yang membuat Cui Sian terpaksa menunda perjalanannya, karena ia melihat para bajak laut itu tidak boleh dipandang ringan, dan sudah sepatutnya kalau ia membantu Bun Hui. Swan Bu juga tidak keberatan, karena sebagai seorang pendekar, dia pun tidak. mungkin dapat melihat saja tanpa membantu usaha Bun Hui yang bertugas memulihkan keamanan dan membasmi bajak-bajak laut yang begitu lihai.

Setelah tinggal di situ beberapa hari lamanya, akhirnya Bun Hui dapat men-dengar juga penuturan Swan Bu tentang buntungnya lengannya. Swan Bu segera tertarik kepada Hwat Ki dan Bun Hui yang gagah. Mereka segera menjadi sahabat-sahabat baik dan mulai beranilah mereka saling. membuka rahasia hati masing-masing. Akan tetapi betapa terkejut hati Bun Hui ketika mendengar bahwa yang membuntungi lengan Swan Bu adalah The Siu Bi, gadis yang pernah mengacau gedung ayahnya, pernah pula mengacau hatinya!

“Ah, kalau begitu betullah kekhawatiran ayah,” komentar Bun Hui.

“Ayah telah melihat betapa sakit hati nona Siu Bi itu sungguh-sungguh, sehihgga dahulu ayah sengaja menyuruh aku pergi menemui ayahmu untuk menyampaikan peringatan agar berhati-hati. Kiranya ekornya begini hebat…..”

Swan Bu tersenyum. “Tidak apa, saudara Bun Hui, dan ini agaknya sudah kehendak Thian. Buktinya, dibuntunginya lenganku oleh Siu Bi, malah menjadi perantara ikatan jodoh antara dia dan aku.”

“Heee…..???” Bun Hui kaget bukan main, juga Hwat Ki menjadi bingung. Akan tetapi Swan Bu hanya menarik napas panjang, tidak melanjutkan kata-katanya yang tadi tanpa sengaja terloncat dari bibirnya. “Karena kalian adalah sahabat-sahabat baik dan orang sendiri, kelak tentu akan mendengar juga.”

Mereka tidak berani mendesak, hanya Bun Hui diam-diam mencatat di dalam hatinya bahwa Siu Bi bukanlah jodohnya, sungguhpun gadis itu dahulu pernah meng-aduk-aduk hatinya dan pernah pula menjadi buah mimpinya setiap malam. Kiranya gadis yang hendak memusuhi Pendekar Buta, dan yang sudah berhasil membuntungi lengan Swan Bu, malah akan menjadi jodoh pemuda ini. Apalagi kalau bukan gila namanya ini?

Bun Hui masih termenung, menggeleng-geleng kepala, berkali-kali bibirnya me-ngeluarkan bunyi “Tsk-tsk-tsk” kalau dia teringat akan Siu Bi dan Swan Bu. Sukar dipercaya memang. Apakah Siu Bi sudah gila? Ataukah Swan Bu yang tolol? Atau juga, barangkali dia yang miring otaknya? Gadis itu dahulu bersumpah untuk memusuhi Pendekar Buta sekeluarga. Kemudian gadis itu berhasil dalam balas dendamnya, membuntungi lengan Swan Bu. Akan tetapi sekarang menurut pengakuan Swan Bu, mereka akan berjodoh, berarti mereka saling mencinta! Adakah yang lebih aneh daripada ini? Betapapun juga, diam-diam dia mengiri kepada Swan Bu. Ketika pemuda itu bercenta tentang Siu Bi, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar. Ah, alangkah senangnya mencinta dan dicinta. Kalau dia? Masih sunyi!

“Ah, dunia memang banyak terjadi hal aneh-aneh…..!” la menghela napas dengan kata-kata agak keras. Bun Hui sedang berada seorang diri di pinggir pantai yang sunyi, merenung dan menyepi karena hatinya kesal. Siang hari itu panas sekali dan seorang diri dia pergi ke pantai, sekalian melihat-lihat dan mengintai. Beberapa hari ini dia jengkel karena para penyelidiknya belum juga dapat mencari tempat sembunyi pimpinan bajak laut.

“Dunia memang aneh…..” Sekali lagi dia berkata dan kakinya menumbuk-numbuk pasir.

“Lebih aneh lagi pertemuan ini!” tiba-tiba terdengar suara orang dan Bun Hui kaget sekali, cepat dia menengok dengan tangan meraba gagang pedangnya. Akan tetapi seketika tangannya lemas dan ke-khawatirannya lenyap terganti kekaguman. Bukan musuh mengerikan atau bajak laut yang kejam liar yang dihadapi, melainkan seorang gadis yang cantik molek dengan pakaian sutera tipis warna putih berkem-bang merah, berkibar-kibar ujung pakaian dan rambut hitam halus terkena angin laut! Dewi laut agaknya yang dating hendak menggodanya! Kalau rnemang dewi laut atau siluman, biarlah dia di-goda! Pandang mata Bun Hui lekat dan sukar dialihkan dari lesung pipit yang menghias ujung bibir.

“Bun-ciangkun (Perwira Bun), panglima muda dari Tai-goan, bukan?” Gadis jelita itu menegur dan memperlebar senyumnya sehingga berkilatlah deretan gigi kecil-kecil putih yang membuat pandang mata Bun Hui makin silau.

Bun Hui terkejut dan heran sekali. Akan tetapi dia adalah seorang pemuda yang cerdas, dalam beberapa detik saja dia sudah dapat menduga siapa adanya nona yang cantik dan tidak pemalu ini. Maka dia pun cepat-cepat menjura dan berkata,

“Dan kalau tidak salah dugaanku, kau adalah Yosiko, Hek-san-pangcu, bukan?”

Yosiko kembali tersenyum, tapi pandang matanya berkilat. “Tak salah dugaanmu. Agaknya kau cukup cerdik untuk menduga pula apa yang harus kita lakukan setelah. kita saling berjumpa di tempat ini. Sudah berpekan-pekan kau memimpin orang-orangmu untuk membasmi aku dan teman-temanku. Sekarang kita kebetulan saling bertemu di sini, berdua saja. Nah, orang she Bun, cabutlah pedangmu dan mari kita selesaikan urusan antara kita.”

Aneh sekali. Timbul keraguan dan kesangsian di hati Bun Hui. Padahal, sering kali tadinya dia ingin dapat menangkap ketua bajak laut Kipas Hitam dengan tangannya sendiri, atau membunuhnya dengan pedangnya sendin. Semestinya dia akan menyambut tantangan ini dengan penuh kegembiraan. Akan tetapi entah bagaimana, bertemu dengan Yosiko, dia terpesona dan tidak tega untuk mengangkat senjata menghadapi nona jelita ini! Apalagi ketika dia teringat akan penuturan Tan Hwat Ki bahwa gadis ini masih terhitung cucu keponakan Raja Pedang sendiri, makin tidak tegalah dia untuk memusuhinya.

“Hayo lekas siapkan senjatamu, mau tunggu apa lagi? Menanti kawan-kawanmu agar dapat mengeroyokku?” Yosiko mengejek dan gadis ini sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan kanan dan sabuk sutera putih di tangan kiri, sikapnya gagah menantang, juga amat cantik.

“Hek-san-pangcu, dengarlah dulu omonganku,” akhirnya Bun Hui dapat berkata setelah dia menenteramkan jantungnya yang berdebaran keras. “Memang suatu kebetulan yang tak tersangka-sangka aku dapat bertemu denganmu di sini dan memang hal ini sudah kuharapkan selalu. Ketahuilah, setelah aku mendengar siapa adanya ketua Kipas Hitam yang memimpin para bajak, sudah lama sekali nafsuku untuk memerangimu lenyap. Aku mendengar bahwa engkau adalah cucu keponakan loeianpwe Tan Beng San, Raja Pedang ketua Thai-san-pai. Setelah kini aku berhadapan denganmu, melihat kau se-orang gadis muda yang gagah dan pantas menjadi cucu seorang pendekar sakti se-perti Raja Pedang, kuharap kau suka mendengar omonganku dan marilah kita berdamai…..”

“Apa? Kau perwira kerajaan mengajak damai bajak laut? Mengajak damai setelah kau mengobrak-abrik orang-orangku, membunuhi banyak anak buahku?”

“Pangcu…… Nona, ingatlah. Kita masih orang sendiri. Aku amat menghormati keluarga Raja Pedang, dan kau adalah cucunya. Aku merasa sayang sekali melihat kau tersesat. Kembalilah ke jalan benar. Kaububarkan para bajak, menyatakan takluk dan bertobat. Percayalah, aku yang akan menanggung, aku yang akan mintakan ampun agar kau tidak akan dituntut….”

“Huh, siapa minta kasihan darimu? Eh, orang muda she Bun, mengapa kau mendadak sontak begini sayang kepadaku?”

Wajah Bun Hui menjadi merah. Gadis jelita ini selain gagah dan liar, juga lidahnya amat tajam!

“Sudah kukatakan tadi, Nona. Karena kau seorang wanita muda, karena kau masih keluarga Raja Pedang.”

“Hemmm, karena kau takut! Karena kau seorang diri, tidak dapat mengandalkan bantuan orang-orangmu, maka kau takut melawan aku! Huh, begini sajakah panglima muda dari Tai-goan?”

Wajah pemuda itu sebentar pucat, sebentar merah. Perlahan-lahan dia menggerakkan tangannya meraba gagang pedang dan dengan sinar mata marah dia mencabut pedangnya. “Hek-san-pangcu, aku seorang laki-laki sejati, mengapa harus takut? Aku tadi bicara dengan kesungguhan hati karena sayang melihat engkau tersesat, seberapa dapat hendak menyadarkanmu. Akan tetapi kalau kau menganggap sikapku itu karena takut, silakan maju!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: