Jaka Lola ~ Jilid 30

Yosiko tersenyum lagi. “Nah, ini baru namanya jantan. Orang she Bun, bersiaplah untuk mampus!” Pedangnya berkelebat diikuti gerakan sabuk suteranya ketika gadis ini menyerang dengan hebat.

Terkejut juga hati Bun Hui. Tak disangkanya gadis ini demikian ganas dan serangannya begitu dahsyat. Cepat dia memutar pedang menangkis sambil meloncat ke samping menghindarkan diri daripada sambaran sabuk sutera yang mendatangkan angin pukulan hebat itu.

“Tranggggg…..!” Sepasang pedang bertemu dan keduanya terhuyung mundur. Akan tetapi tiba-tiba Yosiko terguling dan hanya dengan berjungkir balik saja gadis ini dapat menahan diri tidak jatuh. la terheran-heran. Mungkinkah pemuda she Bun ini begitu kuat sehingga sekali benturan senjata membuat dia terguling hampir jatuh? Diam-diam ia kaget dan juga kagum. Yo Wan sendiri yang pernah ia uji kepandaiannya, tak mungkin sekuat ini!

Di lain fihak, Bun Hui juga terkejut dan heran. la tadi merasa betapa pedangnya terbentur membalik oleh pedang gadis itu dan biarpun dia sudah meng-hindar, hampir saja ujung sabuk sutera putih itu menyentuh lambungnya. Akan tetapi entah mengapa, tiba-tiba sabuk itu  berkibar pergi dan dia merasa ada sambaran hawa panas lewat di samping tubuhnya dan melihat gadis itu hampir jatuh. la maklum bahwa nama besar ketua Kipas Hitam ini bukanlah nama kosong belaka, dan bahwa gadis jelita ini benar-benar lihai, maka dengan hati pe-nuh kekaguman dan penyesalan, dia siap menghadapi serangan lawan.

Dengan hati penasaran Yosiko menerjang maju lagi, kini lebih hebat. Pedangnya diputar di atas kepala lalu melayang turun ke arah leher lawan, sedangkan sabuk suteranya meluncur maju menotok ulu hati yang akan mendatangkan maut apabila mengenai sasaran dengan tepat. Kembali Bun Hui menggerakkan pedangnya menangkis, sedangkan tangan kirinya dikebutkan untuk menyambar ujung sabuk yang menyerang dada.

“Tranggg…..!” Kembali keduanya terhuyung dan alangkah kaget hati Yosiko ketika ia merasa tadi betapa sabuknya tiba-tiba hilang kekuatannya dan bahkan membalik ke belakang dan menyerang dirinya sendiri! la membanting tubuh ke belakang dan bergulingan, wajahnya pucat. Hebat pemuda ini! Ilmu siluman apakah yang digunakan pemuda itu sehingga dalam dua gebrakan saja ia hampir celaka, padahal pemuda itu bukannya menyerang, melainkan menghadapi serangannya? Bukan Yosiko saja yang terheran-heran dan kagum, juga Bun Hui merasa heran sekali. la tadi merasa tangannya kesemutan dan kalau dilanjutkan, tentu serangan ujung sabuk akan mencelakakannya sungguhpun serangan pedang dapat dia tangkis, akan tetapi kembali dia merasa ada angin pukulan menyambar membantunya dan membuat gadis penyerangnya itu terserang sabuk sendiri. la cepat menoleh, akan tetapi tidak melihat apa-apa.

Yosiko kini mengeluarkan sebuah kipas hitam! la benar-benar merasa kagum, akan tetapi di samping kekagumannya ini pun terkandung rasa penasaran. Pemuda bangsawan yang tampan ini tidak kelihatan terlalu sakti, akan tetapi mengapa ia sama sekali tidak berdaya menghadapinya?

Bun Hui sudah mendengar akan jahatnya kipas hitam yang mengandung racun ini, maka dia khawatir sekali. “Nona, aku sungguh-sungguh tidak ingin bertempur mati-matian melawanmu, marilah kita bicara baik-baik!”

“Terima ini!” Yosiko membentak dan sudah melompat maju, pedangnya menyambar, diikuti gerakan kipas yang dikibaskan ke arah Bun Hui. Uap hitam menyambar dan agaknya pemuda itu akan celaka kalau pada saat itu tidak tampak sinar menyilaukan berkelebat dan tahu-tahu Yosiko memekik kesakitan, kipasnya mencelat jauh dan pundaknya terluka ujung pedang Bun Hui. la roboh dan mengerang kesakitan.

Melihat ini, kagetlah Bun Hui. Kini dia merasa yakin, bahwa diam-diam ada orang yang membantunya. Tadi pedangnya bergerak menangkis lagi, akan tetapi entah bagaimana pedangnya itu meleset dan terus menusuk ke arah leher Yosiko, sedangkan sinar yang berkelebat dari belakangnya menghantam kipas. Baiknya dia masih cepat menarik pedangnya sehingga tidak menembus leher yang indah, melainkan menyeleweng dan melukai pundak.

Mungkin saking kaget, penasaran dan sakit, Yosiko rebah pingsan! Ketika ia membuka mata, ia rebah di tanah dan Bun Hui sedang mengobati pundaknya! Bukan main kaget dan herannya hati Yosiko, akah tetapi ia pura-pura masih pingsan. Dari balik bulu matanya yang panjang ia mernandang Wajah tampan itu yang dengan penuh perhatian memeriksa lukanya dan kemudian mengobatinya dengan obat bubuk yang terasa dingin sekali.

Melihat gadis itu menggerakkan matanya, Bun Hui cepat menyelesaikan pengobatan Hu dan berkata perlahan. “Maaf…… maaf, aku menyesal sekali, bukan maksudku untuk…..”

Yosiko sudah melompat bangun. Mukanya merah dan ia memungut pedangnya yang menggeletak di atas tanah. Ketika ia melihat kipas hitamnya yang sudah remuk, ia menendang kipas itu jauh-jauh, lalu menarik napas panjang.

“Maaf, Nona, aku….. aku tidak sengaja.”

Yosiko berpaling, dan kembali wajahnya berubah ketika memandang Bun Hui. Pandang matanya masih penuh kekaguman, penuh keheranan, penuli penasaran.

“Kau hebat sekali! Gerakanmu begitu cepat sehingga aku tidak lahu bagaimana caranya kau mengalahkan aku. Agaknya aku kurang hati-hati. Bun-ciangkun, mari kita lanjutkan, aku masih penasaran. Kalau kau dapat mengalahkan aku tanpa menggunakan ilmu siluman itu, aku….. aku bersedia menuruti segala kehendakmu, tanpa syarat!” la tersenyum dan diam-diam Bun Hui morat-marit hatinya. Senyum dengan lesung pipit itu bukan main manisnya. la juga bingung. la tahu bahwa kepandaiannya hanya dapat mengimbangi gadis ini. Kemenangan-kemenangan. aneh yang oleh gadis itu dianggap ilmu siluman tadi adalah kemenangan karena bantuan orang sakti yang dia tidak tahu siapa adanya.

“Nona Yosiko, sudahlah, aku tidak ingin bertempur denganmu. Aku bahkan rninta maaf dan ingin berdamai, kita habisi permusuhan ini…..”

“Kalahkan dulu. Pedangku, perlihatkan ilmu silatmu!”

Sambil membentak demikian kembali Yosiko menyerang, kini ia hanya menggunakan pedang saja, namun ia mengerahkan seluruh ilmu pedangnya untuk menyerang. Karena ia mendapat kesan bahwa pemuda panglima dari Tai-goan ini memiliki ilmu kesaktian yang hebat, maka timbullah rasa sayangnya dan Yosiko tidak lagi ingin mempergunakan senjata gelap, melainkan hendak menguji dengan ilmu pedangnya.

Melihat gerakan nona ini sungguh-sungguh tentu saja Bun Hui tidak mau tinggal diam. la pun lalu menggerakkan pedangnya dan mainkan ilmu silatnya, yaitu Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat yang amat kuat dan lihai. Setelah bergerak beberapa jurus kembali Yosiko menahan pedangnya, meloneat mundur dan berseru,

“Pernah aku menyaksikan Ilmu Pedang Kun-lun yang hebat. Apakah kau anak murid Kun-lun-pai?”

Dengan perasaan bangga di hati Bun Hui menjawab tenang, “Ketua Kun-lun-pai adalah kakekku'”

Makin kagumlah hati Yosiko dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang lagi dengan jurus yang amat berbahaya.

Bun Hui terkejut dan cepat dia mengelak ke kiri. Akan tetapi gulungan sinar pedang lawannya seperti uap menyambanya terus, kini mengancam lambung. Dengan pemutaran pergelangan tangan Bun Hui menangkis. Bunga api berpijar ketika sepasang pedang bertemu, akan tetapi kali ini dengan cerdik sekali Yosiko sengaja mementalkan pedangnya, bukan ditarik ke belakang, melainkan menyeleweng ke depan terus menusuk dada. Inilah gerak tipu yang amat hebat dan tak tersangka-sangka.

Semua ini dibantu dengan langkah-langkah kaki gadis itu yang membuat Bun Hui benar-benar bingung. Jalan satu-satunya hanya menggerakkan pedang membabat kaki lawan yang terdekat, akan tetapi untuk melakukan hal ini dia merasa tidak tega. Pada saat yang berbahaya itu, kembali ada angin menyambar dan….. tubuh Yosiko terhuyung-huyung ke samping, serangan pedangnya kembali menyeleweng.

“Kau gunakan ilmu setan!” bentaknya marah.

Pada saat itu muncullah Siu Bi. Melihat betapa Yosiko bertanding dengan Bun Hui, ia merasa khawatir. Betapapun juga, pemuda putera jenderal di Tai-goan ini pernah bersikap baik sekali kepadanya, dahulu ketika ia menjadi tawanan Jenderal Bun.

“Yosiko, mari pergi! Dia seorang diri di sana, kesempatan baik. Mari!”
Yosiko ragu-ragu, akan tetapi mendengar ucapan-ucapan terakhir itu ia segera menibalikkan tubuh, lalu lari meninggalkan Bun Hui sambil menoleh dan berkata,

“Aku masih belum puas. Lain kali kita lanjutkan!”

Bun Hui berdiri bengong. la benar-benar bingung dan kaget melihat nona yang mengajak pergi Yosiko itu. Dia merasa mengenal baik nona itu, nona yang pernati mengobrak-abrik hatinya Siu Bi. Siu Bi bersekutu dengan Kipas Hitam? Ini hebat.

Namun pengalamannya bertanding melawan Yosiko tadi masih meninggalkan ketegangan di hatinya. Apalagi setelah melibat munculnya Siu Bi di samping Yosiko, membuat dia termenung berdiri seperti patung dengan pedang masih di tangan. Dia tidak boleh mengharapkan dlri Siu Bi lagi, yang dahulu perhah merampas cintanya. la mendengar pengakuan Swan Bu dari mulut pemuda itu sendiri, bahwa antara Swan Bu dan Siu Bi terjalin kasih sayang yang mendalam. Kalau Siu Bi mencinta Swan Bu, tentu dia tidak akan mau mengganggunya. Biarlah mereka bahagia dalam cinta kasih mereka. Akan tetapi….. ketika tadi dia berhadapan dengan Yosiko, dia segera merasa bahwa gadis peranakan Jepang gadis liar ketua bajak laut inilah yang menggantikan Siu Bi di hatinya. la jatuh cinta kepada Yosiko! Hal ini Bun Hui dapat mengetahui dengan cepat, karena sebagai putera bangsawan yang terkenal, tampan dan gagah, tentu saja sudah banyak dia bertemu dengan gadis-gadis kota, puteri-puteri bangsawan yang cantik dan yang oleh orang tuanya maupun handai-taulannya seakan-akan ditawarkan kepadanya untuk menjadi jodohnya. Banyak sudah dia bertemu dengan gadis-gadis cantik, akan tetapi tidak pernah dia merasa seperti ketika dia berhadapan dengan Siu Bi dahulu, atau ketika dia berurusan dengan Yosiko tadi! Bukan hanya kecantikan kedua orang gadis itu agaknya yang mengguncangkan jantungnya dan membetot semangatnya, melainkan sikap mereka, agaknya karena keduanya sama lincah, sama liar, dan sama aneh!

Bun Hui menarik napas panjang, bingung memikirkan keadaan hatinya sendiri. Mengapa dia selalu jatuh cinta kepada wanita yang sebenarnya menjadi musuh! Ayahnya tentu takkan setuju. Dan bagaimana dia dapat berjodoh dengan seorang seperti Yosiko? la tahu bahwa hal ini amatlah tidak mungkin, akan tetapi dia tidak dapat menyangkal perasaan hatinya yang benar-benar tertarik sekali oleh lesung pipit di sebelah pipi Yosiko tadi. Dengan murung Bun Hui meninggalkan tempat itu, sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada bayang-an orang yang kini berkelebat mengejar ke arah larinya Yosiko dan Siu Bi. Bayangan orang yang tadi secara rahasia telah membantunya mengalahkan Yosiko dengan mudah.

Apa kata gadis tadi? “Kalau dapat mengalahkan aku, aku bersedia menuruti segala kehendakmu tanpa syarat!” Ucapan Yosiko ini berdengung-dengung dalam  telinga Bun Hui ketika dia berjalan kembali ke perkemahannya. la kembali dalam keadaan jauh berbeda daripada tadi ketika berangkat. la telah menjadi seorang Bun Hui yang lain, seorang pemuda yang linglung terombang-ambing gelora asmara!

Bayangan yang dengan gesit bagaikan Setan tadi membantu Bun Hui dan kini melesat secepat terbang mengejar Yosiko dan Siu Bi, kemudian mengikuti dua orang gadis itu secara diam-diam, bukan lain adalah Jaka Lola! Yo Wan selalu mengikuti Yosiko dan karenanya dia tahu akan gerak-gerik gadis ini. la tahu pula, bahwa Yosiko dan Siu Bi bersekutu untuk mencelakai Cui Sian! Dan ia menjadi saksi pula akan adegan-adegan aneh dari dua orang muda itu tadi, melihat betapa dengan mesra dan penuh perasaan Bun Hui merawat luka di pundak Yosiko. Dia sengaja membantu Bun Hui karena dia tahu bahwa tanpa dia bantu, biarpun ilmu kepandaian Bun Hui belum tentu kalah oleh Yosiko, namun gadis yang amat lincah itu mungkin merobohkan Bun Hui dengah senjata rahasianya.

Ketika Yo Wan melihat Siu Bi muncul memanggil Yosiko kemudian dua orang gadis itu berlari cepat, hatinya menjadi khawatir sekali. Dan kekhawatirannya terbukti karena tak lama kemudian dia melihat Cui Sian sedang bertempur mati-matian dikeroyok belasan orang bajak laut anak buah Yosiko! Kiranya Siu Bi memariggil Yosiko untuk melaksanakan kehendak mereka, yaitu mengeroyok dan membunuh Cui Sian.

Seperti juga Bun Hui, siang hari itu Cui Sian berada seorang diri di pinggir laut. la termenung-menung memikirkan Yo Wan, Semenjak ia melihat Yo Wan berada di dalam gua bersama Yosiko, hatinya terasa sakit sekali. la ingin marah, ingin membunuh wanita itu dan juga ingin menantang Yo Wan untuk mengadu kepandaian, ia penasaran dan merasa terhina. Bukankah Yo Wan terang-terangan menyatakan perasaannya ketika perjumpaan mereka dahulu? Kiranya Yo Wan hanya seorang pemuda yang gila perem-puan, seorang hidung belang yang menjemukan.

Selagi ia termenung, mukanya sebentar merah sebentar pucat, tiba-tiba ia tersentak kaget dan cepat ia mengelak. Sebatang anak panah menyambar di atas kepalanya, lenyap ke dalam pohon-pohon. Cui Sian cepat mencabut pedangnya dan bermunculanlah lima belas orang laki-laki, dipimpin oleh seorang gadis yang membuat Cui Sian membelalakkan matanya. Gadis itu adalah Siu Bi!

“Bocah jahat! Kau….. kau berserta bajak-bajak ini…..?” tegurnya, terheran-heran dan kemarahannya meinuncak. Memang ia tidak suka kepada Siu Bi yang membuat Swan Bu tergila-gila, maka dapat dibayangkan kebenciannya melihat Siu Bi muncul bersama para bajak itu.

Akan tetapi Siu Bi tidak mempedulikannya, malah memberi aba-aba, “Kurung dia, jangan boleh lolos!” la sendiri lalu melarikan diri untuk pergi mencari Yosiko!

Demikianlah, dengan kemarahan meluap-luap Cui Sin memutar pedangnya menghadapi pengeroyokan belasan orang itu. Dalam waktu beberapa menit saja pedangnya sudah merobohkan empat orang pengeroyok, sedangkan yang lainnya ha-nya berani mengurungnya dari jarak yang tidak terlampau dekat. Namun pengurungan mereka ketat, tidak memberi kesempatan gadis ini keluar dari kepungan.

Cui Sian adalah puteri tunggal Raja Pedang. Ilmu silatnya tinggi, akan tetapi sebagai puteri pendiekar sakti yang namanya dipuji-puji di mana-mana, tentu saja sifatnya tidaklah ganas. Ilmu pedangnya bersih, mengandung daya Im dan Yang, tidak gentar menghadapi kepungan. Namun, sudah menjadi sifat ilmu pedang keturunan Raja Pedang, selalu menitikberatkan kepada serangan balasan, yaitu apabila diserang barulah timbul keampuhannya untuk merobohkan si penyerangnya. Oleh karena sifat ini pula, agaknya Cui Sian merasa segan untuk menyerang para bajak laut yang ia anggap bukan lawan sebanding itu. Ia hanya menanti dan empat orang yang roboh tadi pun adalah karena mereka dengan ganas menyerangnya, maka akibatnya hebat pula. Kini karena para pengeroyoknya hanya mengepung dari jarak agak jauh, Cui Sian hanya berdiri tegak saja. Baru setelah para bajak menerjang maju dari segenap penjuru, ia mainkan pedangnya dan kembali dua orang roboh mandi darah!

Kedatangan Yosiko dan Siu Bi meng-gembirakan para bajak yang sudah mulai menjadi gentar. Yosiko berseru keras dalam bahasa Jepang, memberi perintah agar anak buahnya siap mengepung dari jarak jauh dengan anak panah disiapkan, memberi kesempatan kepada dia untuk menangkap musuh. Para bajak mundur sambil menyeret enann mayat temannya.

Yosiko dan Siu Bi dengan pedang terhunus sudah melompat maju menghadapi Cui Sian. Gadis dari Thai-san ini menjadi merah mukanya. Dengan pedang menuding ke depan ia memaki, “Sungguh kebetulan Sekali! Memang besar keinginanku membasmi kalian berdua perempuan yang tak tahu malu!”

“Sombong!” bentak Yosiko. “Kaukah yang bernama Cui Sian? Hemmm, kematian sudah di depan mata masih berani berlagak!” Setelah berkata demikian Yo-siko menggerakkan pedang dan meloloskan sabuk suteranya. Siu Bi juga sudah melangkah maju dengan sikap mengancam. la membenci Cui Sian yang dianggapnya hendak menjauhkan Swan Bu dari padanya.

Hebat penyerangan Yosiko dan Siu Bi, terdorong oleh kebencian hati mereka. Namun, makin kuat ia diserang, makin kuatlah pertahanan Cui Sian. Liong-cu-kiam di tangannya laksana halilintar menggulung-gulung dan gerak Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut dimainkan dengan indahnya seakan-akan ia menjadi seorang dewi yang menari-nari. Dengan gaya permainannya yang ampuh ini ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada senjata lawan untuk dapat mendekatinya. Betapapun juga, ketika Cui Sian menyaksikan gerakan pedang Yosiko mainkan jurus-jurus yang serupa, yaitu jurus-jurus campuran dari Sian-li Kiam-sut, tergeraklah hatinya. Teringat ia akan penuturan Tan Hwat Ki, bahwa gadis ini adalah puteri Tan Loan Ki yang masih terhitung saudara misannya sendiri, masih sedarah!

Teringat ia akan penuturan orang tua-nya tentang paman tua (uwaknya) Tan Beng Kui, yaitu ayah Tan Loan Ki atau kakek gadis ini! Dengan bentakan keras ia menangkis, sehingga terpentallah pe-dang kedua orang lawapnya, kemudian ia meloncat mundur.

“Tahan dulu!”

“Mau bicara apa lagi?” bentak Yosiko.

“Yosiko, bukankah kau ini puteri enci Tan Loan Ki? Tahukah engkau bahwa aku masih bibimu sendiri? Dan kau, Siu Bi, kau sudah berjanji hendak menanti Swan Bu. Beginikah kesetiaanmu kepadanya?”

“Bibi macam apa engkau ini! Aku tidak peduli, kau adalah musuh Kipas Hitam!” balas Yosiko.

“Tan Cui Sian, kaulah yang memisahkan Swan Bu dari sampingku!” bantah Siu I Bi.

“Ah, dua bocah liar! Kalian jahat…..”

“Cukup! Apa kau takut menghadapi kami?” ejek Yosiko.

“Hemmm, boleh ditambah sepuluh orang lagi macam kalian aku takkan mundur. Aku hanya mengingat bahwa kau masih terhitung keponakanku, dan Siu Bi….. ah, aku ingat Swan Bu maka aku mau bicara!”

“Cerewet!” Yosiko membentak dan menerjang lagi, diikuti Siu Bi. Kembali mereka bertanding dengan seru. Sementara itu, dengan tanda suitan Yosiko sudah mengundang anak buahnya sehingga tempat itu kini terkurung oleh kurang lebih lima puluh orang bajak! Namun mereka tidak ada yang turun tangan sebelum mendapat perintah pemimpin mereka.

“Yosiko! Sui Bi! Mundur…..!!” Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan orang ini bukan lain adalah Yo Wan! Kagetlah kedua orang gadis itu ketika melihat munculnya Yo Wan.

“Kau?”

Yosiko berseru. “Kau….. membelanya?”

“Tentu saja! Yosiko, kenapa kau belum juga mau insyaf ?  Siu Bi, kenapa kau ikut-ikut?”

“Dia membawa pergi Swan Bu. Dia memisahkan aku…..!” Siu Bi bingung menjawab. Gentar hatinya kalau harus menghadapi Yo Wan, apalagi kalau diingat bahwa Yo Wan yang telah menolongnya sehingga ia tidak terbunuh dahulu oleh Lee Si dan Cui Sian.

Tiba-tiba dua orang pimpinan bajak dengan pedang di tangan menerjang Yo Wan. Serangan ini mendadak sekali, dilakukan dari belakang. Namun dengan gerakan ringan Yo Wan menggeser kaki, tanpa menengok tangannya bergerak ke belakang dan kakinya menendang. Akibat  gerakan ini, sebatang pedang terampas! dan dua orang pimpinan bajak itu terlempar oleh tamparan dan tendangannya!

Ributlah para  bajak. Seorang yang bercambang bauk dan bermata lebar melompat maju dengan golok besar di tangannya, diikuti anak buahnya!

“Bong-twako, jangan serang!” bentak Yosiko.

“Tapi…..” bantah si cambang bauk.

“Tidak ada tapi, mundur semua!” bentak Yosiko yang segera memimpin anak buahnya pergi dari situ, diikuti oleh Siu Bi yang beberapa kali memandang ragu ke arah Yo Wan. Dalam waktu sebentar saja tempat itu telah menjadi sunyi kembali setelah Yosiko dan anak buahnya menghilang di balik pohon-pohon besar di hutan tepi pantai. Hanya tinggal Yo Wan dan Cui Sian berdua yang masih berdiri di situ.

“Bagus, akhirnya kita bertemu juga. Nah, kebetulan kau sudah mendapatkan pedang. Lihat seranganku!” Setelah berkata demikian, Cui Sian lalu menyerang Yo Wan dengan pedangnya!

Bukan main kagetnya hati Yo Wan. “Eh…..! Bagaimana ini…..?” la cepat mengelak ketika melihat betapa gadis itu tidak main-main, serangannya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan amat berbahaya.

“Tak perlu pura-pura kaget! Kau ber-ekutu dengan kepala Kipas Hitam?” kata Cui Sian marah. “Karena itu kau adalah musuh kami!” Kembali ia menyerang dengan gerakan kilat. Kembali Yo Wan mengelak dan mengelebatkan pedang rampasannya untuk menangkis. la maklum bahwa pedang di tangan Cui Sian adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh, sedangkan pedang yang di tangannya hanyalah pedang biasa yang tajam. Sekali ber-du tentu akan patah. Oleh karena itu, dia sengaja mengerahkan sinkangnya dengan tenaga lemas sehingga ketika terbentur, pedangnya hanya membalik dan tidak menjadi rusak. Hal ini bagi Yo Wan adalah merupakan hal yang amat mudah, dan memang di sini terletak kelihaiannya sehingga jangankan sebuah pedang baja, sedangkan sebatang pedang kayu merupakan senjata yang dapat menghadapi pusaka-pusaka ampuh jika berada di tangannya. Ketika kedua pedang bertemu dan pedang di tangan Yo Wan ti-dak rusak, diam-diam Cui Sian kaget dan kagum sekali. Sebagai seorang ahli silat tinggi, ia pun dapat menduga bahwa pemuda ini sudah mahir dalam memindahkan tenaga sakti ke dalam benda yang dipegangnya. Hal ini membutuhkan Iweekang yang mendalam dan kiranya hanya orang-orang setingkat ayahnya atau Pendekar Buta saja yang mampu melakukan hal itu!

“Eh, nanti dulu…… Sian-moi (adik Sian)….. sejak kapan aku bersekutu dengan kepala Kipas Hitam?”

“Pembohong pandai berpura-pura….. laki-laki mata keranjang! Jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga)!” Cui Sian menusukkan pedangnya ke arah dada Yo Wan.

Yo Wan begitu kaget mendengar tuduhan ini sehingga dia meloncat ke atas, akan tetapi dia segera menangkis pedang Cui Sian, mengerahkan tenaga dan pedangnya berhasil menindas pedang gadis itu ke bawah. Betapapun Cui Sian mengerahkan tenaga, ia tidak mampu mengangkat pedangnya yang tertihdas itu!

“Wah, nanti dulu, Sian-moi! Apa artinya tuduhan jai-hoa-cat dan mata keranjang itu?” Yo Wan bertanya gugup.

“Hemmm, apa kau hendak menyangkal bahwa kau tinggal siang malam berdua saja dengan….. dengan….. ketua Kipas Hitam yang cantik itu?”

Yo Wan menarik napas panjang. Hal ini sudah dia khawatirkan. la melepaskan pedangnya dan berkata,

“Aahhh, kau salah duga, Moi-moi. Kaudengarlah penjelasanku, atau kalau kau tidak percaya lagi kepadaku, boleh kaugunakan pedangmu itu menusuk mam-pus padaku, aku takkan melawan lagi!”
Cui Sian meragu, memandang tajam, pedangnya tidak bergerak, ia menanti. Dengan tenang Yo Wan lalu menuturkan pengalamannya ketika dia mencari Swan Bu, betapa di tengah jalan dia melihat Tan Hwat Ki dan sumoinya menyerang sarang Kipas Hitam, betapa dia menolong Tan Hwat Ki dan Bu Cui Kim, kemudian dia mengejar Yosiko dan terluka, lalu dirawat oleh gadis yang menjadi kepala Kipas Hitam itu.

“Memang kasihan gadis itu, semenjak kecil terdidik liar. Dia dan ibunya beranggapan bahwa pemuda yang dapat mengalahkan mereka adalah calon jodohnya…..,” demikian Yo Wan menutup ceri-tanya sambil menarik napas panjang. “Akan tetapi aku tentu saja menolak-nya….. aku bukan mata keranjang atau jai-hoa-cat…..”

Cui Sian tersenyunn mengejek, akan tetapi wajahnya sudah ditinggalkan kemuramannya. “Siapa percaya kau akan menolak seorang gadis yang begitu cantik jelita?”

“Sian-moi…..!!”

“Sudahlah, percaya atau tidak, apa bedanya? Kau suka menjadi jodohnya atau tidak, sebetulnya aku pun tidak peduli. Bukan urusanku, kan?”

Hampir Yo Wan tertawa bergelak menyaksikan sikap ini. Tadi gadis ini menyerangnya hebat, hampir membunuhnya karena cemburu, akan tetapi sekarang setelah menerima penjelasan, mengatakan bahwa ia tidak peduli dan bukan urusannya! Memang aneh sekali watak perempuan, pikirnya.

“Sian-moi….,” Yo Wan memegang tangan Cui Sian, yang berkulit halus lunak dan yang tidak ditarik ketika diapegang, “kuharap kau tidak kehilangan kepercayaanmu kepadaku. Sian-moi, tahukah kau mengapa Yosiko tadi hendak mengeroyok dan membunuhmu? Karena aku secara terus terang menolak usul perjodohannya dan mengatakan bahwe di dunia ini hanya seorang gadis yang kucinta dan kuharapkan menjadi calon jodohku, yaitu gadis yang bernama Tan Cui Sian. Dia menjadi marah dan hendak, membunuhmu, bahkan ibunya juga marah lalu pergi hendak menemui suhu agar suka memaksaku. Akan tetapi ibunya tidak tahu akan pengakuanku tentang kau, hanya mengira aku menolak begitu saja. Sian-moi, apa pun yang terjadi, siapapun yang akan menggodaku, tak mungkin aku mengubah pendirian hatiku yang sudah teguh bagaikan karang dipantai laut. Lihat, benda inilah yang menjadi saksi akan kesetiaanku kepadamu, Moi-moi!”

Cui Sian tidak mengangkat mukanya, yang sejak tadi menunduk, hanya matanya mengerling kepada benda yang dikeluarkan Yo Wan dari sakunya. Ternyata benda itu adalah sehelai saputangan, saputangannya yang ia berikan kepada pemuda itu ketika Yo Wan menghadapi lawan-lawan sakti, di antaranya Bhok Hwesio. Kepala itu makin menunduk.

“Sian-moi…… percayakah kau kepadaku kini?”

Cui Sian tidak menjawab dengan mulut, akan tetapi dua titik air mata yang terjatuh di tangan Yo Wan ketika kepala itu mengangguk perlahan merupakan jawaban yang cukup meyakinkan.

Sampai beberapa lama keduanya hanya berdiri saling berpegang tangan, tidak ada suara keluar dari mulut mereka, namun hati masing-masing dipenuhi kebahagiaan. Akhirnya, setelah agak terlambat karena selalu menolak para pemuda yang merayunya, Cui Sian mendapatkan juga jodohnya.

Akhirnya Cui Sian juga yang memecahkan kesunyian karena terdorong rasa sungkan dan malu di samping rasa bahagianya. la menarik tangannya, mengangkat muka dan sepasang mata bintang bersinar-sinar menentang wajah Yo Wan, bibirnya tersenyum. Yo Wan membalas dengan pandang mata mesra dan tersenyum pula senyum dan sinar mata itu cukup mewakili hati, menyampaikan seribu satu macam bahasa yang penuh madu asmara.

“Ah, kita melamun sampai melupakan urusan!” kata Cui Sian, wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya. la memasukkan pedangnya dan berkata, “Hatiku masih bingung memikirkan keadaan Swan Bu dan Siu Bi si gadis liar itu. Aku berjumpa dengan mereka sedang berdua, dan agaknya Swan Bu merasa berat untuk berpisah dari Siu Bi. Padahal ayah bundanya tentu saja mengharapkan agar Swan Bu dapat mencuci segala kesalahfahaman dan noda akibat fitnah jahat dengan jalan mengawini Lee Si…..”

Yo Wan mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. “Kita tidak mungkin dapat menyalahkan Swan Bu. Moi-moi, kalau hati sudah menyerah kepada kasih, apalagi yang dapat menjadi halangan? Banyak sudah contoh-contohnya kita dapat petik daripada cerita lama. Tentu kau tahu akan riwayat ayahmu sendiri yang diombang-ambingkan oleh asmara, kemudian riwayat suhu yang juga menjadi korban kasih tak sampai. Dan aku maklum benar bahwa pada dasarnya, gadis-gadis seperti Siu Bi dan Yosiko bukanlah jahat. Hanya karena mereka sejak kecil terdidik dalam suasana yang kasar dan liar, mereka menjadi orang yang ber-watak liar dan keras. Soal Swan Bu dan Siu Bi, biarlah kita urus perlahan-lahan dan kita bicarakan bersama dengan orang-orang tua bagaimana baiknya.”

Cui Sian mengangguk-angguk. Dia sendiri sedang diamuk cinta, tentu saja ia dapat merasakan keadaan Siu Bi sehingga rasa bencinya berkurang.

“Akan tetapi bagaimana tentang Yosiko? Biarpun dia itu masih keponakanku sendiri, bagaimana aku bisa membenarkannya kalau dia menjadi ketua gerombolan bajak laut? Apakah kita harus mendiam-kannya saja? Kurasa hal ini amat tidak sejalar dengan sikap yang harus diambil orang gagah menghadapi kejahatan. Biarpun keluarga sendiri, kalau jahat, harus ditentang!”

Yo Wan memandang kekasihnya dengan bangga. “Kau seorang pendekar wanita sejati, Moi-moi. Memang seharusnya demikianlah. Akan tetapi, sebelum mengambil jalan kekerasan, marilah kita mencari jalan yang lebih halus dan agaknya aku melihat jalan yang baik sekali untuk mengatasi hal ini. Kalau kita bisa mengaturnya…..” la lalu bercerita tentang pertemuan dan pertandingan antara Bun Hui dan Yosiko, menyatakan dugaannya bahwa Bun Hui tertarik dan suka kepada ketua Kipas Hitam yang cantik itu.

Sambil berjalan perlahan kembali ke perkemahan bersama Yo Wan, Cui Sian mendengarkan cerita kekasihnya. Per-temuan antara Yo Wan dan orang-orang gagah di situ amatlah menggembirakan, terutama Swan Bu dan Tan Hwat Ki. Mereka bercakap-cakap sampai jauh ma-lam, akan tetapi tidak sepatah kata pun Yo Wan atau Cui Sian bicara tentang diri Siu Bi.

“Apakah kalian tidak percaya lagi kepadaku?” terdengar Yosiko membentak marah dan meloncat turun dari atas batu yang tadi ia duduki. Di depannya, puluh-lanorang bajak yang dipimpin oleh empat orang laki-laki tampak bersungut-sungut.

Empat orang ini adalah empat orang kepala bajak yang kini menggabungkan diri dengan Kipas Hitam untuk bersama-sama menghadapi dan melawan pasukan kota raja yang dipimpin Bun Hui dan teman-temannya. Orang pertama adalah si cambang bauk yang bernama Bong Ji Kiu yang berjuluk Kim-bwee-liong (Naga Berekor Emas). Mungkin julukan ini diadapatkan karena dia bersenjatakan sebatang golok besar yang bergagang emas, golok yang terukir dengan gambar naga dan ekornya tiba di gagang yang terbuat daripada emas. la tadinya seorang kepala bajak Sungai Kuning dan terkenal akan kelihaian dan kekejamannya.

Tiga orang yang lain adalah kepala-kepala bajak laut yang selama ini mengganas di pantai selatan. Seorang di antara mereka, yang kurus pucat adalah adik kandung Bong Ji Kiu bernama Bong Kwan, sedangkan yang dua lagi adalah teman-teman yang sudah mengangkat saudara. Mereka ini juga bukan orang-orang lemah. Kalau Bong Kwan, seperti kakaknya, pandai pula bermain golok, adalah dua orang temannya yang bernama Tio Khong dan Yauw Leng merupakan ahli-ahli bermain pedang.

Empat orang pimpinan bajak itu, kini menghadapi Yosiko yang kelihatan marah-marah. Mula-mula adalah Bhong Ji Kiu sij cambang bauk yang menyatakan tidak puasnya terhadap pimpinan ini karena Yosiko melarang Bong Ji Kiu dan anak buahnya mengeroyok Yo Wan dan Cui Sian.

“Mengapa Pangcu (Ketua) kelihatan memihak musuh? Terang bahwa mereka adalah sahabat-sahabat pimpinan pasukan musuh, kenapa tidak menangkap atau membunuh mereka?” Bong Ji Kiu yang mewakili tiga orang temannya dan juga puluhan orang anak buahnya mengajukan tuntutan ini dengan suara menantang, sehingga Yosiko menjadi marah dan mem-bentak apakah mereka tidak percaya lagi kepadanya.

“Kalau tidak percaya lagi kepada Pangcu, kiranya kita tidak akan berkumpul di sini,” jawab Bhong Ji Kiu. “Sayang toanio (nyonya besar) tidak berada di sini, kalau ada tentu dapat kami mintai pertimbangan. Hendaknya Pangcu ingat bahwa anak buah Pangcu kini tinggal sedikit, sudah banyak yang tewas, tinggal dua puluh orang lebih saja. Apakah Pangcu tidak merasa sakit hati? Jika tidak ada kami yang membantu dengan orang-orang kami yang semua mendekati seratus orang jumlahnya, bagaimana kita dapat melawan pasukan pemerintah?”

“Hemmm, Bong-twako! Apa perlunya kau bersikap mengancam? Habis, apa yang kalian kehendaki? Apa yang kalian ingin lakukan?”

“Kami hanya menghendaki supaya Pangcu sungguh-sungguh berdaya upaya untuk menghancurkan mereka, bukan melindungi mereka. Buktikan bahwa Pang-cu tidak miring hatinya terhadap pimpinan pasukan pemerintah atau kalau tidak demikian, kami terpaksa akan meninggalkan Pangcu dan tidak mau lagi bekerja sama menghadapi musuh.”

“Boleh! Kalian boleh tinggalkan aku, aku masih mempunyai anak buah yang setia!” bentak Yosiko marah.

Tiba-tiba Kamatari, jagoan Kipas Hitam, bangsa Jepang yang terkenal dengan samurai Cakar Naga, maju dan memberi hormat kepada Yosiko, sikapnya tenang dan tegas, kata-katanya nyaring.

“Pangcu, terus terang saja kami melihat gejala-gejala tidak baik terhadap diri Pangcu. Agaknya Pangcu memilih musuh menjadi sahabat, bahkan Pangcu hendak memilih jodoh dari golongan musuh. Hal ini mengecewakan hati kami dan kami membenarkan ucapan Bong-twako bahkan kami pun akan berfihak kepadanya kalau terjadi perpecahan.”

Pucatlah wajah Yosiko. Baru kali ini semenjak ia kecil, anak buahnya berani mencelanya. Kalau tidak ingat akan jasa-jasa Kamatari, tentu ia sudah turun tangan membunuhnya di saat itu juga. Melihat keadaan Yosiko ini, Siu Bi maju menghampiri dan berkata perlahan, “Sudahlah, Yosiko, biarkan mereka itu semua pergi. Apa sih enaknya menjadi kepala bajak?”

Ucapan ini membuat para bajak menjadi marah. Mereka sudah berdiri dan slkap mereka mengancam, seakan-akan mereka siap untuk mengeroyok dua orang nona cantik itu. Melihat gelagat tidak baik ini, Yosiko lalu mengangkat tahgannya dan berkata nyaring,

“Baiklah, kalian orang-orang tiada guna! Kalian berani menghinaku, berani mengira bahwa Yosiko memihak musuh? Biar kubuktikan bahwa aku tidak takut terhadap musuh. Kamatari, kausampaikan surat tantanganku kepada panglima pasukan musuh. Biar kutantang dia maju dan bertanding satu lawan satu denganku, sampai dia atau aku yang mampus. Selama dia bertanding denganku, karena tidak ada pimpinan, tentu pasukannya juga lengah. Nah, pada saat itu boleh Bong-twako memimpin orang-orangnya mengadakan serbuan besar-besaran. Bagaimana?”

Wajah orang-orang di situ menegang. Kamatari yang diam-diam menaruh rasa sayang kepada Yosiko berkata, “Tapi….. tapi….. bukankah itu berbahaya sekali? Pemimpin mereka, panglima muda itu, kabarnya lihai bukan main.”

“Siapa takut dia? Lakukah perintahku, habis perkara!” Yosiko lalu menyuruh anak buahnya menyediakan alat tulis, kemudian dengan huruf-huruf tebal ia menulis surat tantangan yang ditujukan kepada “Panglima muda she Bun” dari Tai-goan! Panglima muda itu ditantang untuk mengadakan “duel” di tepi laut untuk menentukan siapa lebih unggul antara pemimpin bajak laut dan pemimpin pasukan kota raja.

Malam hari yang gelap gulita itu menyembunyikan gerak-gerik Kamatari yang menancapkan surat tantangan itu dengan sebatang anak panah di batang pohon besar yang tumbuh di luar per-kemahan pasukan pemerintah. Keesokan harinya, ributlah para pasukan pemerintah ketika melihat surat ini dan cepat-cepat mereka menyampaikan kepada Bun Hui. Bukan main bingungnya hati panglima niuda ini ketika membaca surat tantangan Yosiko. la ingin mencari jalan damai dengan gadis kepala bajak yang telah merebut hatinya itu, siapa kira si gadis malah menantangnya untuk melakukan pertandingan secai’a terbuka! la maklum bahwa gadis itu kepandaiannya tinggi, dan bahwa belum tentu dia dapat menang. Hal ini bukan merupakan hal yang mengecilkan hatinya, akan tetapi dengan adanya surat tantangan ini, habislah jalan untuk dapat mengadakan perdamaian, untuk dapat menginsyafkan Yosiko.

Kalau surat tantangan macam itu tidak dia terima, tentu dia akan menjadi bahan ejekan orang. Kalau dia terima dan mereka bertanding, tentu seorang diantara mereka akan tewas!

Selagi Bun Hui kebingungan dan ter-menung di dalam kamarnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang dan ternyata orang ini adalah Yo Wan. Bun Hui cepat mempersilakan pendekar ini dengan ramah.

“Saudara Bun, mengapa bingung memikirkan pertandingan melawan Yosiko?” tanya Yo Wan sambil tersenyum. Muka Bun Hui menjadi merah ketika dia menjawab dengan pertanyaan pula.

“Yo-twako bagaimana tahu bahwa aku bingung memikirkan pertandingan itu?”

“Ah, aku tahu semua, saudara Bun. Jangan khawatir, aku mendapat akal agar kau dapat mengalahkan Yosiko dengan mudah seperti yang terjadi kemarin dulu.”

Sejenak Bun Hui melongo, kemudian dia tersenyum maklum dan meloncat dari tempat duduknya, memegang tangan Yo Wan. “Wah, kiranya kau yang telah mem-bantuku, Yo-twako? Ah, pantas saja begitu mudah aku mendapat kemenangan! Mengapa kaulakukan itu, Yo-twako?”

“Bun-lote, ada sebabnya mengapa aku membantumu. Seperti juga engkau, aku merasa sayang melihat Yosiko dan tidak ingin melihat dia tersesat lebih jauh. Dia sebetulnya adalah seorang gadis baik, ke-turunan keluarga Raja Pedang, berdarah pendekar. Sayang dia terdidik dalam ling-kungan liar. Oleh karena itu, aku akan merasa girang sekali kalau kau berhasil menundukkan dia, Bun-lote, membujuknya kembali ke jalan benar dan membubarkan anak buahnya. Kauhadapilah dia dan kau akan menang!”

“Tapi….. aku belum yakin bahwa aku akan bisa menang, Yo-twako. Ilmu pedangnya hebat dan karenanya aku tahu bahwa yang menjatuhkannya kemarin dulu bukanlah aku. Tanpa bantuanmu, belum tentu aku menang, atau andaikata dapat mencapai kemenangan juga, kiranya harus melalui pertandingan mati-matian dan seorang di antara kami harus tewas di ujung pedang!” Keperihan hati Bun Hui terbayang pada wajahnya yang tampan dan diam-diam Yo Wan merasa geli. Cinta kasih memang tidak memilih bulu, tidak memandang pangkat, kedudukan, atau pun keadaan orang yang dicinta. Melihat kedudukannya, semestinya Bun Hui menganggap Yosiko sebagai musuh besar yang harus dibasminya, akan tetapi bahkan rintangan berat ini dapat dilalui dengan mudah oleh cinta kasih.

“Bun-lote, kau cinta kepada Yosiko, bukan?”

Ditanya begini langsung Bun Hui rasa seakan-akan diserang tusukan pedang yang langsung menembus jantungnya. Wa-jahnya menjadi merah sampai ke telinga-nya, dan dengan gagap dia menjawab, “Aku….. aku tertarik kepadanya…..”

“Kau cinta padanya?”

“Aku….. aku suka…..”

“….. dan cinta padanya?” Akhirnya Bun Hui mengangguk. “Nah, karena itu kau harus menangkan dia, Lote. Yosiko seorang gadis yang cukup pantas dilindungi. la memang berwatak aneh dan akan tunduk jika kau dapat memenangkannya. Karena itu, kau harus menang.”

“Bagaimana caranya? Aku belum tentu dapat…..”

“Waktu yang ia tentukan untuk bertanding masih tiga hari lagi. Biarlah aku menurunkan beberapa jurus ilmu pukulan pedang kepadamu. Aku sudah hafal akan ilmu pedang Yosiko, pernah aku bertanding melawan dia dan aku tahu di mana letak kelemahan-kelemahannya. Memang dia pandai, ilmu pedangnya adalah Sian-li Kiam-sut yang sudah tercampur ilmu lain, juga ia pandai Ilmu Langkah Hui-thian-jip-te. Akan tetapi dengan ilmu pedangmu Kun-lun Kiam-sut, kau tentu dapat menghadapinya dan mempertahankan diri. Jika kau melihat kesempatan baik, nah, kaugunakan jurus-jurus yang kuajarkan, tentu ia akan roboh. Kau perlihatkan baik-baik, Lote. Kalau kau melihat dia berada dalam kedudukan langkah seperti ini, nah, kau lalu pergunakan jurus ini sebagai paneingan, dan tentu dia akan bergerak begini, maka kau cepat-cepat menekan pedangnya dan me-nyapu kaklnya dengan jurus ini.” Sambil bicara Yo Wah memberi contoh gerakan yang diperhatikan baik-baik oleh Bun Hui.

Yo Wan menurunkan lima jurus serangan, disesuaikan dengan keadaan atau posisi yang akan dilakukan Yosiko. Dengan tekun Bun Hui mempelajarinye selama tiga hari sehingga dia hafal betul.

“Kau pasti akan berhasil, Bun-lote. Andaikata tidak, percayalah, aku takkan berada jauh dan akan menggunakan akal lain. Kalau dia sudah mengaku kalah, kaubujuk dia supaya membubarkan anak buahnya dan mengusir mereka dari wilayah ini, kemudian kauajak dia pergi ke Thai-goari menghadap ayahmu untuk kaumintakan ampun. Tentang bagaimana kau membujuk ayahmu supaya mengambilnya sebagai mantu, terserah…..” Yo Wan tertawa melihat Bun Hui menjadi merah mukanya.

“Terima kasih, Yo-twako. Baru satu kali aku bertemu denganmu, akan tetapi kau sudah begini baik kepadaku…..”

“Bukan satu kali, Bun-lote. Pernah aku mengunjungi gedung ayahmu beberapa bulan yang lalu, mengunjungi tempat tahanan untuk membebaskan adik Siu Bi.

“Ahhh…..!” Bun Hui berseru kagum. “Kiranya kau yang melakukan halitu, Yo-twako? Kau benar-benar lihai! Akan te-tapi….. mengapa kau menolong nona Siu Bi?” Bun Hui mengerutkan kening lalu menyambung, “Kau adalah murid Pendekar Buta, sedangkan nona Siu Bi bermaksud membalas dendam kepada Pendekar Buta sekeluarga, bahkan kini berhasil membuntungi lengan Swan Bu.”

Yo Wan meriarik napas panjang. “Dia hidup sebatangkara, seperti aku, patut dikasihani. Tentang dendam dan balas membalas itu, ahhh…… bukan salah Siu Bi. la hanya menjadi korbah pendidikan keliru, seperti….. Yosiko. Kasihan Siu Bi, dan kasihan Swan Bu…..”

Bun Hui mengerti apa yang dimaksudkan Yo Wan, maka keduanya berdiam sejenak, tenggelam dalam keharuan hati masing-masing. Kemudian Bun Hui kembali berlatih jurus-jurus yang dia terima dari Yo Wan sampai Yo Wan merasa puas karena gerakan Bun Hui sudah boleh dibilang cukup memenuhi syarat.

Saat pertandingan antara pimpinan bajak dan pimpinan pasukan pemerintah tiba, seperti yang diajukan dalam surat tantangan Yosiko. Tempatnya di tepi laut, di mana tiga hari yang lalu Bun Hui sudah mengadu ilmu melawan Yosiko.

Pagi hari itu, Bun Hui dengan ditemani Tan Hwat Ki, Kwa Swan Bu, Tan Cui Sian, dan Bu Cui Kim, mendatangi tempat itu dengan langkah kaki tenang. Tentu saja Bun Hui besar dan tabah karena di sebelahnya berjalan empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sehingga andaikata terjadi pengeroyokan, dia tidak usah merasa khawatir. Sesungguhnya, andaikata para bajak laut itu melakukan pertempuran secara terbuka, dia dengan bantuan empat orang muda perkasa ini, apalagi ditambah dengan Yo Wan sudah cukup untuk membasmi para bajak laut. Akan tetapi celakanya, para bajak laut itu tidak pernah melakukan pertempuran terbuka, melainkan melakukan penyerangan tiba-tiba dan di waktu malam secara diam-diam dan curang! Ini yang menyebabkan sukarnya usaha pembasmian para bajak itu.

Di lain fihak, Yosiko sudah muncul pula dengan pakaian serba putih yang ringkas, sikapnya gagah dan wajahnya cantik sekali, membuat jantung Bun Hui makin berdebar kencang, seakan-akan dia merasa bahwa pertemuannya dengan Yo-siko ini bukan pertemuan untuk bertanding, melainkan pertemuan sebagai pengantin! Yosiko diiringkan oleh empat orang pula, yaitu empat orang kepala bajak, sedangkan belasan orang anggauta bajak pilihan kelihatan agak jauh di belakang, merupakan pasukan pengawal.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: