Jaka Lola ~ Jilid 31

Swan Bu sudah mendengar bahwa Siu Bi berada bersama Yosiko, kini tidak melihat kekasihnya itu muncul bersama Yosiko, dia tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi lalu melangkah maju dan bertanya,

“Kaukah pangcu dari Hek-san-pang?
Aku mendengar bahwa Siu Bi bersamamu. Di mana kau menahan dia? Lekas bebas-kan dia dan jangan bawa-bawa dia dalam kejahatanmu!”

Yosiko hanya memandang tajam dan sebelum ia sempat menjawab, dari sebelah kirinya, terdengar Bong Kwan si kepala baJak pucat kurus membentak marah, agaknya menunjukkan wibawa.

“Bocah buntung mengapa banyak mulut? Tutup mulutmu, atau aku akan membuntungi lenganmu yang sebelah lagi!”

Penghinaan yang tak tersangka-sangka ini membuat Yosiko dan fihak Bun Hui terkejut sekali sehingga mereka tak dapat berkata-kata.

Swan Bu dengan muka tenang seperti biasa, akan tetapi sepasang matanya memancarkan api, bertanya,

“Kau siapakah, orang gagah?”

Bong Kwan yang pucat kurus membusungkan dada, karena ucapan Swan Bu yang merendah itu dia anggap sebagai tanda gentar terhadap dirinya. “Aku Bhong Kwan berjuluk Si Ular Terbang!”

“Dengan apa kau hendak membuntungi lenganku yang sebelah ini?” Swan Bu bertanya lagi, wajahnya masih tenang seperti biasa, hanya suaranya agak gemetar, tanda bahwa dia menahan ke-inarahan yang meluap-luap.

“Dengan apa? Hah, dengan golokku ini!” kembali Bong Kwan menyombong sambil mencabut goloknya.

Inilah agaknya yang dikehendaki Swan Bu. Terdengar ucapannya, “Bersiaplah!” dan tubuhnya berkelebat lenyap, yang tampak hanya gulungan sinar pedang berkelebat hagaikan halilintar menyambar ke depan, ke arah Bong Kwan.

Kejadian ini begitu cepatnya sehingga tidak ada yang dapat mencegah. Bong Kwan sendiri segera menggerakkan goloknya membacok sinar berkeredepan yang menyambarnya itu. Terdengar bunyi “Tranggg!” diiringi pekik kesakitan dan ketika semua orang memandang, ternyata Swan Bu sudah melesat kembali dan berdiri seperti biasa, pedangnya masih tergantung di dalam sarung pedang, wajahnya biasa seperti tadi. Akan tetapi di fihak sana, Bong Kwan berkelojotan dan mengerang-erang kesakitan, golok berikut lengan kanannya telah terbabat buntung!

Kejadian ini terjadi amat cepatnya sehingga semua orang melongo dan kaget. Pasukan bajak laut lalu berlarian datang, dan atas perintah Bong Ji Kiu si cambang bauk yang raarah sekali melihat adiknya menjadi buntung, mereka menggotong pergi Bong Kwan dari tempat itu. Diam-diam Yosiko kagum bukan niain. Ilmu pedang si pemuda buntung kekasih Siu Bi itu hebat bukan main, membuat ia merasa gentar juga. Dia sendiri merasa yakin bahwa dia bukanlah lawan pemuda buntung putera Pendekar Buta yang luar biasa itu, dan bergidiklah ia kalau mengingat betapa Bun Hui didampingi orang-orang yang begitu lihai. Alangkah banyaknya orang lihai di dunia ini dan ia teringat akan ucapan Yo Wan betapa kelirunya kalau ia memilih jodoh orang yang terlihai kepandaiannya. Di dunia ini kiranya sukar dicari orang yang paling pandai, karena tentu ada saja yang melebihinya.

“Ah, tidak keliru Siu Bi memilih!” Ucapan ini tak terasa keluar dari mulut Yosiko. “Kau putera Pendekar Buta yang bernama Swan Bu? Jangan khawatir, Siu Bi tidak ditahan, ia tidak ikut muncul karena takut kepada dia ini!” la menu-dingkan telunjuknya ke arah Cui Sian sambil mengerling nakal. “Dia galak benar sih! Akan tetapi Siu Bi titip pesan bahwa dia selalu menantimu dengan setia.”

Wajah Swan Bu berseri mendengar ini, akan tetapi dia hanya mengangguk, merasa agak malu untuk menjawab.

“He, Bun-ciangkun, kau datang bersama begini banyak orang lihai, apakah kau merasa jerih terhadap aku dan hendak mengandalkan pengeroyokan mereka ini untuk mengalahkan aku?”

“Ihhh, sombongnya!” Cui Sian membentak. “Aku sendiri pun cukup untuk membereskan orang seperti kau ini, masa harus mengeroyok?”

Yosikp tersenyum kepadanya. “Aku bicara dengan Bun-ciangkun, siapa minta kau turut campur? Eh, Bun-ciangkun, bagaimana jawabmu?”

“Mereka hanya menemaniku sebagai saksi,” jawab Bun Hui. “Kulihat kau juga membawa teman, apa bedanya?”

“Kalau begitu biar kita suruh mereka menyingkir mundur yang jauh. Aku hanya ingin bicara dan bertanding denganmu, yang lain-lain tak boleh mencampuri!”

Tanpa diminta Cui Sian lalu mengajak Swan Bu, Hwat Ki, dan Cui Kim untuk mengundurkan diri dan berdiri dari jauh, hanya untuk menjaga kalau-kalau musuh niieropergunakan tipu curang. Dari tempat mereka berdiri, mereka hanya dapat melihat, akan tetapi tidak dapat mendengar kata-kata mereka berdua. Juga Bong Ji Kiu dan dua orang temannya lalu mengundurkan diri di tempat pasukan anak buah mereka, juga cukup jauh dari tempat pertandingan.

“Nah, sekarang kita hanya berdua. Bebas untuk bicara. Nona Yosiko, sebetulnya apakah maksudmu mengadakan tantangan seperti ini? Sudah kukatakan dahulu bahwa aku tidak ingin bermusuhan denganmu, malah ingin menawarkan perdamaian.”

“Hemmm, pertandingan antara kita tempo hari belum selesai. Sekarang kita selesaikan dengan perjanjian, kalau kau kalah, kau harus menarik pulang pasukanmu dan jangan mengganggu kami lagi.”

“Kalau kau yang kalah?”

“Kalau aku yang kalah, aku tetap memegang janjiku lima hari yang lalu, aku menyerah dan menurut segala kehendakmu.”

“Nona…., betulkah itu? Kau takkan melanggar Janji?”

“Janji lebih berharga daripada nyawa.”

Gemetar suara Bun Hui ketika dia berkata, “Nona, kalau Thian mengabulkan dan aku berhasil menangkan engkau, aku hanya minta agar kau membubarkan semua bajak, melarang mereka melakukan perbuatan jahat lagi, kemudian kau ikut bersamaku ke Thai-goan, kuhadapkan ayah, kumintakan ampun….. bagaimana, setujukah engkau?”

Yosiko mengangguk. “Aku sudah berjanji, dan aku menurut segala kehendakmu.”

“Bagus! Mari kita mulai, mudah-mudahan aku akan menang,” kata Bun Hui gembira. Mereka mencabut pedang masing-masing dan memasang kuda-kuda.

“Akan tetapi kau harus mempergunakan ilmu pedang, jangan menggunakan ilinu sihir seperti dahulu,” kata Yosiko sebelum mulai.

Bun Hui tersenyum. Yahg disangka llmu sihir itu tentulah bantuan Yo Wan secara diam-diam. “Tidak, aku hanya akan menggunakan ilmu silatku, akan tetapi kau pun harap jangan menggunakan senjata gelap dan segala racun.”

“Baiklah, mulailah!”

Bun Hui menggerakkan pedangnya menyerang dan beberapa menit kemudian mereka sudah saling terjang dengan hebat dan seru. Sebetulnya hanya Yosiko yang terus-menerus melakukan penyerangan, karena mentaati pesan Yo Wan, Bun Hui tidak mau menyerang, hanya melindungi tubuhnya dengan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang amat kuat. Pedangnya membentuk benteng baja yang sukar ditembus sehingga makin penasaran-ah hati Yosiko. Namun, biarpun hanya mempertahankan diri, Bun Hui selalu mengincar kedudukan kaki Yosiko untuk menanti kesempatan seperti yang diajarkan oleh Yo Wan.

Kesempatan pertama terbuka ketika Yosiko menyerangnya dengan mengembangkan lengan kiri dan menusukkan pedang ke dadanya. Kedudukan kaki dan posisi badan gadis itu persis seperti yang diajarkan Yo Wan kepadanya. Cepat dia miringkan tubuh ke kiri seperti diajarkan Yo Wan, kemudian pedangnya berkelebat menyabet lengan kiri gadis yang dikembangkan itu dengan cepat sekali.

Kagetlah Yosiko menghadapi serangan balasan ini. Lengan kirinya terancam bahaya dan serangan balasan yang tiba-tiba ini sama sekali tidak pernah ia sangka karena justeru kelemahan kedudukannya adalah pada lengan kiri itu. Tepat seperti diperhitungkan dan diajarkan Yo Wan kepada Bun Hui, gadis itu menarik lengan kirinya dan melangkah mundur setindak dengan kaki kiri pula. Bun Hui mempergunakan kesempatan itu untuk mencengkeram dengan tangan kirinya ke arah pedang si gadis sambil berseru, “Lepaskan pedang!”

Kembali Yosiko terkejut sekali dan cepat ia menarik gagang pedangnya sambil menggoyang pergelangan tangan untuk menangkis cengkeraman itu dengan mata pedang. Akan tetapi ternyata cengkeraman itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu yang, betul-betul menyerang adalah pedang di tangan kanan Bun Hui. Pedang itu berkelebat dan….. putuslah sabuk sutera yang mengikat pinggang Yosiko, putus kedua ujungnya yang berkibar-kibar!

“Ihhh…..!!” Yosiko meloncat lagi air mukanya menjadi merah sekali.

“Maaf…… tidak sengaja…..” kata Bun Hui sambil tersenyum.

“Aku belum kalah!” kata Yosiko menutupi rasa malunya dan pedangnya berkelebat lagi melakukan serangan yang lebih hebat. Bun Hui yang sudah siap cepat memutar pedangnya melindungi tubuhnya dan kembali mereka bertanding dengan seru. Pedang mereka berkali-kali bertemu mengakibatkan bunyi nyaring dan percikan bunga api.

Kesempatan ke dua tiba ketika Bun Hui melihat posisi menyerang lawannya dengan tubuh miring. Cepat ia “memasuki” lowongan dengan memukulkan tangan kirinya ke arah pundak sambil menangkis pedang Yosiko. Tepat seperti yang di-ajarkan Yo Wan. Yosiko mengelak sambil menusukkan pedangnya dari samping. Cepat bagaikan kilat karena sudah menduga akan perubahan atau perkembangan kaki Yosiko, Bun Hui menekan pedang lawan ke bawah dan selagi gadis itu, mengerahkan tenaga untuk menarik pedangnya, kaki Bun Hui menyapu dan…., terjungkallah Yosiko! Namun gadis itu dapat cepat melompat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak. la terheran-heran karena seakan-akan pemuda itu mengenal baik jurus-jurusnya dan tahu pula akan perubahannya, kalau tidak demikian bagaimana dapat tahu bahwa pada saat itu kelemahannya terletak pada kedudukan kakinya sehingga dapat melakukan penyerangan yang begitu tepat?

“Maaf…..!” untuk kedua kalinya Bun Hui berkata perlahan.

“Aku tetap belum mengaku kalah!” kata pula Yosiko yang merasa penasaran dan cepat menerjang lagi. Diam-diam Bun Hui menarik napas panjang. Tepat, betul penafsiran Yo Wan tentang gadis ihi. Keras dan liar wataknya, namun gerak-geriknya benar-benar telah mencengkeram hati Bun Hui.

la telah melakukan pesan Yo Wan dengan baik. Menurut petunjuk Yo Wan, dia tidak boleh sekaligus merobohkan gadis ini, karena hal itu akan melukai harga dirinya. Maka setelah dua kali memperlihatkan keunggulannya, baru Bun Hui menanti kesempatan baik untuk mengalahkannya. Kesempatan itu tiba setelah Yosiko mulai mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh. Memang sudah diperhitungkan oleh Yo Wan bahwa setelah dua kali berturut-turut menderita kekalahan, pasti Yosiko yang keras hati itu akan mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat dan oleh karena inilah untuk menjatuhkan Yosiko, dia sengaja mengajar Bun Hui untuk menghadapi jurus yang paling berbahaya. Pada saat Yosiko menerjang dengan bacokan pedang ke arah leher diteruskan sabetan ke bawah mengarah pinggang dibarengi dengan dorongan-dorongan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan jarak jauh, terbukalah kesempatan ke tiga itu bagi Bun Hui.

Tepat seperti ajaran Yo Wan yang sudah dilatihnya baik-baik, karena tahu bahwa pedang lawan yang membacok leher itu akan terus menyabet pinggang, otomatis pedang Bun Hui menjaga leher dan pinggang sehingga dua serangan itu otomatis gagal. Adapun gukulan atau dorongan tangan kiri Yosiko itu oleh Bun Hui sengaja diterima dengan pundak kanannya. Girang sekali hati Yosiko karena ia melihat bahwa ia bakal menang, karena sekali pukulannya mengenai pundak, tak dapat tidak pemuda itu tentu akan roboh, sedikitnya terhuyung-huyung sehingga memudahkan dia untuk mendesak terus.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pada saat pukulannya mampir ke pundak, tangan kiri Bun Hui dengan kecepatan luar biasa telah menotok bawah siku kanannya, membuat lengan kanannya setengah lumpuh dan sebelum ia dapat mencegahnya, tangan kiri pemuda itu sudah berhasil merampas pedangnya dari tangan kanan yang setengah lumpuh itu. Memang betul pukulan kirinya tepat mengenai pundak Bun Hui dan membuat pemuda itu terhuyung ke belakang dengan muka pucat, akan tetapi pedangnya telah berada di tangan kiri pemuda itu. Hal ini berarti ia kalah mutlak!

Dengan pandang mata penuh kekaguman Yosiko berdiri memandang Bun Hui. Tak mungkin ia melawan terus setelah pedangnya terampas. Jelas bahwa pemuda ini lebih lihai dari padanya!

“Kau lihai sekali, Nona. Pundakku terluka oleh pukulanmu!” kata Bun Hui merendah sambil mengangsurkan pedang rampasannya kepada Yosiko.

“Tidak, aku telah kalah dan aku mengaku kalah. Tak dapat aku menerima kembali pedangku. Aku sudah berjanji dan biarkan aku kembali untuk membubarkan mereka, besok baru aku akan datang kepadamu dan selanjutnya terserah.”

Saking girangnya Bun Hui tak dapat berkata-kata, hanya memandang dengan sinar mata penuh kebahagiaan dan dia hanya dapat menjura ketika nona itu mengundurkan diri. Dari tempat dia berdiri, dia melihat Yosiko memberi tanda dengan tangan kepada anak buahnya dan mereka lalu menghilang di balik semak-semak di hutan.

Cui Sian dan yang lain-lain segera lari menghampiri.

“Selamat, saudara Bun Hui, kau telah menang!” kata Tan Hwat Ki girang.

“Setelah ia kalah, apa yang akan ia lakukan?” tanya Cui Sian.

“la telah berjanji akan membubarkan anak buahnya, dan ia sendiri menyerahkan diri besok untuk menjadi tawanan dan dibawa ke kota raja,” kata Bun Hui. “Semua ini adalah jasa Yo-twako. Ehhh, Yo-twako mengapa tidak muncul?” la menoleh ke arah belakang di mana terdapat banyak pohon besar. la menduga bahwa Yo Wan tentu bersembunyi di situ dalam persiapannya membantunya apabila rencananya gagal.

Benar saja, Yo Wan muncul dari balik pohon dan tertawa girang. “Kau berhasil baik, Bun-lote. Bagus sekali! Kurasa seorang seperti Yosiko akan memegang janjinya. Alangkah baiknya urusan ini dapat dibereskan dengan jalan damai se-hingga daerah ini akan bebas daripada gangguan bajak laut tanpa banyak banjir darah.”

“Betapapun juga, aku sangsi apakah jalan ini cukup baik dan menjamin keamanan. Andaikata para bajak itu betul-betul mau pergi dari sini, kiranya mereka akan mengganas di tempat lain,” kata Cui Sian menyatakan pendapatnya.

“Setuju sekali dengan ucapan Bibi,” sambung Hwat Ki, “membasmi pohon jahat harus sampai ke akar-akarnya, kalau tidak tentu akan tumbuh kembali. Penjahat-penjahat itu kalau tidak dibasmi habis, kelak tentu akan melakukan kejahatan pula.”

Yo Wan menggeleng-geleng kepalanya, lalu berkata, suaranya sungguh-sungguh, “Kurasa tidak demikian persoalannya. Kejahatan bukanlah suatu sifat daripada jiwa. Tidak adalah manusia yang lahir sudah jahat atau selama hidupnya setiap saat ia jahat. Kejahatan adalah kebodohan atau penyelewengan daripada kesadaran hati nurani oleh keadaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu keduniawian. Memang sudah menjadi kewajiban kita yang mempelajari ilmu dan mengabdi kebenaran dan keadilan untuk mennberan-tas kejahatan-kejahatan, akan tetapi bukanlah cara yang sempurna kalau kita harus niembunuhi setiap orang yang melakukan kejahatan yang sesungguhnya hanya kebodohan itu. Hal ini akan merupakan pekerjaan sia-sia belaka, bahkan membunuh itu sendiri pun termasuk kebodohan yang berdasar kebencian, jadi pada umumnya juga disebut jahet! Yang kita musnahkan bukanlah orangnya melainkan kebodohannya itulah.” Yo Wan berhenti sebentar mengumpulkan ingatannya tentang filsafat yang pernah dia pelajari ketika dia bertapa di Himalaya.

Orang-orang muda yang gagah mendengarkan dengan tertarik.

“Yo-twako, teruskanlah, aku masih belum dapat memahami filsafatmu ini.” kata Bun Hui.

“Anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap jahat akan menjadi jahat selamanya, dan anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap baik akan menjadi baik selamanya, adalah anggapan yang sempit. Apa yang disebut jahat maupun baik hanyalah akibat daripada kesadaran si orang itu pada saat itu, apabila dia lupa dan lemah, bodoh mengha mbakan diri pada hamba nafsu, maka dia melakukan perbuatan yang dianggap jahat. Sebaliknya apabila pada saat itu ia sadar dan kuat menghadapi godaan nafsu, ia akan ingat dan menjauhi perbuatan yang dianggap jahat. Jadi hanyalah akibat sementara saja daripada kesadaran. Tidak akan selamanya begitu. Yang sadar mungkin lain waktu akan lupa, sebaliknya yang sekarang lupa tentu saja mungkin sekali lain waktu akan sadar. Saudara-saudaraku yang baik, pada hakekatnya, apakah itu yang disebut baik dan jahat? Dari manakah timbulnya sebutan ini? Ingat, banyak sekali di antara kita yang menyalahtafsirkan istilah baik dan jahat ini, bahkan banyak yang menyeleweng daripada kebenaran dan keadilan dalam menentukan tentang orang baik dan orang jahat,”

“Bagaimana ini? Baru sekarang aku mendengarnya. Yo-koko, coba kau beri penjelasan,” kata Cui Sian dengan hati tertarik sehingga ia lupa bahwa ia menggunakan sebutan mesra sekali, yaitu sebutan “koko”. Baiknya semua orang pun sedang dalam keadaan tertarik oleh filsafat Jaka Lola sehingga tidak ada yang memperhatikan sebutan itu.

“Sebelumnya maaf. Kalian adalah putera-puteri pendekar-pendekar sakti yang berilmu tinggi, tentu sudah menerima gemblengan-gemblengan batin yang dalam. Akan tetapi, tiada salahnya kalau sekarang kita bertukar pikiran untuk memperlengkapi ilmu dan mencari persesuaian pendapat. Yang kumaksud penyelewengan dalam penilaiatt seseorang terhadap orang lain yang dianggap baik dan jahat, adalah karena sebagian besar manusia menilai orang lain berdasarkan nafsu kokati (egoism)…..”

“Nanti dulu, Yo-twako. Apa artinya kokati?” tanya Hwat Ki.

“Nafsu kokati adalah nafsu mementingkan diri pribadi, demi kesepangan sendiri, demi keuntungan sendiri, demi kepentingan sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Orang menilai orang lain sebagai orang baik kalau orang lain itu mendatangkan keuntungan atau kesenangan kepadanya. Dan orang menilai orang lain sebagai orang jahat kalau orang lain itu mendatangkan kerugian atau kesusahan kepadanya.”

“Tentu saja, bukankah itu wajar?” Bun Hui berkata.

Yo Wan mengangguk. “Wajar bagi penilaian yang berdasarkan kokati. Memang ini menjadi kesalahan atau penye-lewengan yang tak terasa lagi oleh manusia yang dalam setiap geraknya dikendali oleh nafsu kokati. Akan tetapi sebetulnya tidak wajar bagi orang yang mengabdi kepada kebenaran dan keadilan!”

“Mengapa begitu?” tanya Hwat Ki.

“Agaknya persoalan ini sulit dimengerti. Baiklah aku menggunakan contoh. Ada seorang yang menjadi perampok, merampasi barang lain orang dengan jalan kekerasan. Orang ini pada umumnya disebut jahat, bukan? Akan tetapi orang ini amat baik kepadamu, tidak saja merampokmu, malah mennbantumu, menolongmu dengan ikhlas. Nah, saudara Hwat Ki, bagaimana penilaianmu terhadap orang ini? Tentu kau akan sukar sekali menganggap dia orang jahat, dan akan inenerima dia sebagai seorang yang baik karena memang ia amat baik terhadapmu. Sebaliknya, andaikata ada seorang yang oleh umum dianggap baik, suka menolong orang lain, akan tetapi justeru kepadamu orang itu berbuat hal yang merugikan, misalnya menghina atau menyusahkan. Bukankah kau akan sukar sekali menilai dia sebagai orang baik, Bun-lote? Kiranya akan lebih mudah bagimu untuk menilai dia sebagai seorang yang jahat karena ia kauanggap amat jahat kepadamu. Nah, bukankah jelas bahwa penilaian saudara Hwat Ki dan Bun-lote ini menyeleweng daripada kebenaran dan keadilan? Karena penilaian ini hanya mendasarkan kepada untung atau rugi bagi dirinya sendiri! Bagaimana pendapat kalian?”

“Betul sekali! Baru sekarang aku dapat mengerti!” kata Cui Sian, sepasang matanya berseri penuh kekaguman.

“Memang betul apa yang dikatakan Yo-twako. Aku pun pernah mendengar filsafat seperti ini diwejangkan oleh ayah,” kata Swan Bu.

Yo Wan mengangguk. “Suhu adalah seorang yang bijaksana. Sungguhpun suhu kehilangan kedua alat penglihatannya, namun mata batinnya terbuka lebar sehingga tidak mudah suhu terperosok ke
dalam jurang penyelewengan. Banyak orang yang kedua matanya awas, namun mata batinnya seperti buta sehingga terjadilah di dunia ini perebutan kebenaran yang diperebutkan itu adalah kebenaran palsu, kebenaran diri sendiri yang bukan lain hanyalah penyamaran daripada nafsu kokati juga. Kebenaran sejati tidak diperebutkan orang, karena sesungguhnyalah bahwa siapa yang merasa diri tidak benar, dialah yang paling dekat kepada kebenaran sejati! Perasaan bahwa diri sendiri tidak benar ini menghilang atau setidaknya mengurangi nafsu yang amat buruk, yaitu nafsu raembencl orang lain. Tentu saja orang lain dibenci karena dianggap jahat. Kalau kita merasa bahwa diri kita sendiri pun tidak benar, maka tidak mudah menilai orang lain jahat dan karenanya pun berkuranglah rasa benci. Hapuskan rasa benci dari dalam lubuk hati, dan kita akan mudah menerinna cahaya kasih, yaitu kasih sayang kepada sesama manusia, dan ini merupakan jembatan yang akan membawa kita kepada kebenaran sejati.”

Hening sejenak karena orang-orang muda itu seakan-akan terpesona dar terpengaruh hikmat kata-kata yang mengandung filsafat hidup itu. Kemudian dengan perasaan kagum dan bangga Cui Sian tertawa, memecah suasana yang tercekam oleh kesunyian itu.

“Wah-wah, mengapa kita jadi menyimpang jauh dari persoalan pokok? Bukankah kita tadi bicara tentang bajak-bajak itu?”

Yo Wan juga tertawa, hatinya gembira karena dia dapat menangkap suara kekasihnya yang mengandung kekaguman dan kebanggaan. “Kita tidak menyimpang karena apa yang kita bicarakan tadi juga ada hubungannya dengan para bajak. Aku tidak membenci mereka, namun kasihan terhadap kebodohan dan penyelewengan mereka. Aku akan merasa lebih bersyukur apabila mereka itu dapat diinsyafkan dan dapat ditunjukkan jalan benar. Kalau hal ini tidak berhasil, tentu saja kita harus mencegah mereka melakukan kejahatan, menggunakan kepandaian kita. Cuma baiknya kalau tidak terpaksa sekali untuk mempertahankan diri, tidak perlu membunuh lain orang.”

“Wah, nasihat Yo-twako sama benar dengan nasihat ayah, kata Swan Bu lagi.

“Memang aku murid ayahmu, tentu saja sependirian.”

Malam ini tidak terjadi sesuatu, akan tetapi pada keesokan harinya pagi-pagi sekali menjelang subuh, di waktu ayam hutan ramai berkokok, tiba-tiba terjadi penyerbuan besar-besaran dari fihak bajak laut. Para penjaga malam di perkemahan pasukan kota raja yang hanya berjumlah dua puluh orang lebih, tak dapat menahan serbuan ratusan bajak itu sehingga dalam waktu beberapa puluh menit saja dua puluh orang lebih penjaga itu telah tewas. Ributlah keadaan pasukan ketika malam keadaan masih nanar karena baru bangun tidur secara mendadak menghadapi musuh-musuh menyerbu itu.

“Wah, agaknya Yosiko tidak pegang janji!” seru Cui Sian marah sambil mencabut pedangnya setelah para orang muda gagah itu berkumpul di ruangan depan.

“Belum tentu,” jawab Yo Wan. “Mari kita berpencar, kita tahan serbuan mereka dari empat penjuru, membantu Bun Hui yang sudah pergi lebih dulu mengatur pasukannya.”

Orang-orang muda itu lalu berloncatan ke luar di dalam cuaca yang masih gelap itu. Hwat Ki dan sumoinya berlari ke arah barat untuk menahan gelombang serangan bajak laut dari arah iii. Cui Sian berlari kearah utara sedangKan Yo Wan berlari ke Selatan. Swan Bu sendiri yang sejak malam tadi gelisah memikirkan Siu Bi, kini mehghilang seorang diri dengan tujuan untuk mencari kekasihnya di antara para bajak laut.

Hebat perang kecil yang terjadi di pagi buta yang masih gelap itu. Banyak anggauta pasukan pemerintah roboh karena hujan anak panah, akan tetapi setelah orang-orang muda perkasa itu keluar turun tangan, keadaan berubah dan banyak bajak laut yang roboh dan banyak pula yang mengundurkan diri. Akan tetapi tak seorang pun di antara para muda perkasa itu melihat Yosiko. Bahkan pimpinan bajak laut yang lain hanya dua orang yang muncul, yaitu Thio Kong dan Yauw Leng, sedangkan yang dua orang lagi, Bong Ji Kiu dan adiknya Bong Kwan yang lengannya kanan kemarin buntung oleh serangan kilat Swan Bu, juga tidak tampak batang hidungnya.

Bun Hui memimpin anak buahnya mengamuk dan mengejar bajak-bajak yang melarikan diri. Karena tidak melihat Yosiko memimpin mereka, setelah merobohkan Thio Kong, Bui Hui, mgmbentak kepala bajak yang terluka ini, “Hayo katakan, di mana adanya Hek-san-pangcu Yosiko?”

Biarpun sudah terluka parah, Thio Kong masih tertawa mengejek, “Kau takkan melihat dia hidup lagi! Dia menjadi tawanan Bong Ji Kiu di dalam gua di tepi laut!”

Bukan main kagetnya hati Bun Hui. Di samping kaget dan khawatir akan keselamatan Yosiko, diam-diam dia juga lega. Ternyata gadis itu tidak mengingkari janji, tidak mengkhianatinya, melainkan menjadi tawanan bawahannya Sendiri yang memberontak! “Hayo kau tunjukkan aku di mana gua tempat ia ditawan!” bentaknya sambil mengempit tubuh Thio Kong yang terluka dan membawanya lari. Pasukannya itu ikut pula mengejar para bajak, dan selebihnya lalu mengikuti komandan mereka ke tepi laut.

Di depan sebuah gua yang besar dan gelap, Bun Hui berhenti. Dengan napas empas-empis Thio Kong berkata, “Di situlah tempatnya….. Bong-twako pesan bahwa kau sendiri harus memasuki gua melawannya kalau kau ingin bertemu dengan Yosiko. Kalau membawa pasukanmu menyerbu, dia akan dibunuh….. Setelah berkata demikian, Thio Kong roboh pingsan.

Bun Hui memerintahkan anak buahnya untuk menawan Thio Kong. Kemudian dia menghampiri mulut gua. Gua ini lebar, akan tetapi gelapnya bukan main. Dari luar tidak tampak apa-apa, hanya hitam gelap menyeramkan, agaknya ada terowongannya. Gua batu karang itu merupakan mulut naga yang mengerikan dan tahulah Bun Hui bahwa memasuki gua ini merupakan bahaya benar. Akan tetapi mengingat akan nasib Yosiko di tangan Bong Ji Kiu, tak mungkin dia berdiam diri saja di luar gua.

Pada saat itu, Yo Wan dan Hwat Ki berlari-lari menghampiri Bun Hui. Dua orang muda ini tadinya bersama Cui Kim dan Cui Sian, bertemu setelah merekapun berhasil mengundurkan para bajak laut. Akhirnya Yo Wan mengajak Hwat Ki untuk membantu Bun Hui, sedangkan Cui Sian mengajak Cui Kim untuk mengejar ke lain jurusan sambil mencari Swan Bu yang belum tampak.

Pada saat Yo Wan dan Hwat Ki tiba di tempat itu, Bun Hui sudah mulai meloncat memasuki gua setelah dia memerintahkan anak buahnya menjaga di luar. “Bun-lote! Ke mana kau?” Yo Wan berteriak heran.

Akan tetapi Bun Hui yang khawatir kalau-kalau Yo Wan dan Hwat Ki akan merintanginya jika mendengar bahwa Yosiko tertawan di dalam dan hanya dia yang boleh masuk seorang diri, tidak mempedulikan seruan ini dan terus melompat ke dalam.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: