Jaka Lola ~ Jilid 32 ~ Tamat

Yo Wan bukan seorang sembrono. Cepat dia menghampiri seorang kepala regu dan bertanya apa maksudnya semua itu.

“Siauw-ciangkun masuk gua untuk menolong nona Yosiko yang menjadi tawanan bajak!” Orang itu menerangkan cepat. “Orang lain tak boleh masuk…..”

Yo Wan cepat melompat ke depan gua, berteriak, “Bun-lote! Kembalilah cepat, kau terjebak…..!”

Akan tetapi terlambat sudah terdengar suara keras dan dari sebelah atas di dalam gua itu tiba-tiba runtuhlah batu-batu karang yang besar dan berat menutupi mulut gua di mana tadi Bun Hui lari masuk! Debu mengebul tinggi keluar dari gua disertai pecahan-pecahan batu yang berhamburan ke sana ke mari. Yo Wan menggerakkan kakinya melompat keluar sehingga terhindar daripada hujan batu kecil yang hancur beterbangan tertimpa batu karang besar dari atas itu.

Selagi Yo Wan, Hwat Ki dan para perajurit tertegun dan gelisah, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari belakang, “Apa yang terjadi? Mana Yosiko anakku?”

Ketika Yo Wan menengok, ternyata yang datang ini adalah wanita setengah tua yang pernah menguji kepandaiannya, yaitu Tan Loan Ki, ibu dari Yosiko. Wanita ini wajahnya pucat, agaknya sudah mendengar tentang perang antara pasukan pemerintah dengan anak buah bajak laut, dan kini mencari Yosiko.

“Dia tertawan oleh Bong Ji Kiu dan berada di dalam gua ini. Komandan pasukan, Bun-ciangkun sedang berusaha menolongnya, akan tetapi terjebak ke dalam gua,” kata Yo Wan. Wanita itu mengeluarkan seruan marah keras sekali, lalu tiba-tiba ia lari dari tempat itu! Yo Wan tidak mempedulikanya lagi, lalu maju dan bersama Hwat Ki memimpin para perajurit untuk membongkar runtuhan batu-batu dari atas yang menutup gua.

Bagaimanakah Yosiko bisa tertawan oleh Bong Ji Kiu? Betulkah ia tertawan? Memang sebetulnyalah. Setelah kalah bertanding melawan Bun Hui, hati gadis ini kagum sekali dan ia sudah mengannbil keputusan untuk membubarkan orang-orangnya dan mencuci tangan, menyerah kepada Bun Hui yang bersikap baik terhadap dirinya.

la tidak pedulikan anak buahnya yang tampak tidak puas. Dengan kata-kata singkat ia berkata kepada Bong Ji Kiu dan yang lain-lain,

“Aku lelah sekali. Biarlah aku mengaso malam ini dan besok kau kumpulkan semua kawan, aku mau bicara penting sekali. Jangan bergerak dan jauhkan dari pasukan kota raja agar tidak terjadi bentrokan.”

Yang kelihatan tidak puas sekali adalah Bong Ji Kiu. Adik kandungnya telah kehilangan lengan kanan dan kini pemimpin ini tampaknya tidak mempedulikan, bahkan tadi dalam pertandingan kelihatan mengalah terhadap musuh!

Malam itu Yosiko tidur di dalam pondoknya, bersama Siu Bi. Gadis ini tak dapat tidur, apalagi ketika ia tadi mendengar dari Yosiko tentang Swan Bu yang masih berada bersama pasukan kota raja, malah Yosiko memuji-muji Swan Bu dan menceritakan betapa pemuda buntung itu dengan hebatnya telah membuntungi lengan Bong Kwan yang menghinanya.

“Pilihanmu tidak keliru, Siu Bi. Putera Pendekar Buta itu hebat. Akan tetapi, Bun-ciangkun lebih hebat. Mereka memang orang-orang yang mengagumkan.” demikian kata Yosiko menutup ceritanya sebelum gadis kepala bajak itu pulas. Siu Bi tak dapat pulas, gelisah hatinya. Mungkin sekali kekasihnya akan salah sangka, mengira bahwa dia kini menjadi bajak pula membantu Yosiko. Padahal ia bersama Yosiko karena tadinya hendak bersama-sama memusuhi Cui Sian. Aku harus pergi dari sini, pikirnya. Tidak ada gunanya lagi berkumpul dengan Yosiko.

Tiba-tiba Siu Bi mencium sesuatu yang harum sekali. la menjadi curiga dan cepat ia mengerahkan sinkang menahan nafas. Dilihatnya Yosiko bernapas panjang dan tenang dalam tidurnya. Ada asap kekuningan memasuki kamar itu dari celah-celah dinding. Siu Bi makin curiga. Dengan masih menahan napasnya, ia mengguncang-guncang tubuh Yosiko. Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Yosiko membuka sedikit matanya akan tetapi gadis itu lemas dan tidak mampu bangun.

“Asap beracun!” bisik Siu Bi kaget. Cepat ia mencabut pedangnya dan meloncat turun dari pembaringan, terus menerjang ke arah pintu. Ternyata di depan pintu sudah menanti banyak anak buah bajak, dipimpin oleh Bong Ji Kiu yang langsung menyerangnya dengan pengeroyokan, Siu Bi memutar pedangnya,, akan tetapi karena ia memang sudah mengambil keputusan untuk pergi dari tempat itu, setelah berhasil merobohkan dua orang pengeroyok, ia lalu melompat ke dalam gelap, terus melarikan diri. Kemudian di dalam hutan itu ia mendengar keributan dan perang tanding antara bajak-bajak laut melawan pasukan pemerintah. la tetap bersembunyi.

Adapun Yosiko yang sudah menjadi korban asap beracun itu, sama sekali tidak dapat melawan ketika Bong Ji Kiu membelenggunya dan memanggulnya pergi. Andaikata gadis ini tidak berada dalam keadaan tidur pulas, seperti halnya Siu Bi, tentu ia takkan menjadi korban. Akan tetapi dalam keadaan pulas, ia telah menyedot asap beracun dan terbius dalam keadaan setengah pingsan.

Ketika melihat anak buahnya terdesak hebat dan banyak yang tewas, akhirnya Bong Ji Kiu maklum bahwa fihaknya akan kalah. Maka dia lalu membawa Yosiko lari ke dalam gua rahasia dan berhasil menjebak masuk Bun Hui. la hendak menggunakan Bun Hui dan Yosiko untuk menjadi jaminan menyelamatkan diri.

Sementara itu, Swan Bu yang lebih dulu menyerbu ke daerah musuh dalam usahanya mencari Siu Bi, menjadi gelisah karena dia tidak melihat gadis itu di antara para bajak. Juga dia tidak melihat Yosiko. Pemuda ini mengamuk dan setiap orang bajak yang berani menghadangnya tentu roboh dengan sekali gerakan. Banyak sudah dia merobohkan anak buah bajak, menangkap mereka dan bertanya di mana adanya kekasihnya, Siu Bi. Akan tetapi para bajak itu tidak ada yang tahu, atau tidak ada yang mau memberi tahu sehingga Swan Bu menjadi makin bingung.

Akhirnya dia dikepung oleh belasan orang bajak yang dipimpin oleh kepala bajak Yauw Leng yang bertubuh tinggi besar dan memegang sepasang pedang. Yauw Leng kemarin ikut dengan rombongan Yosiko, karena itu dia mengenal pemuda buntung ini yang kemarir telah membuntungi lengan kanan temannya, Bong Kwan. Maka melihat pemuda ini, marahlah Yauw Leng dan ingin membalas dendam sahabatnya. la lalu mengerahkan anak buahnya mengepung. Akan tetapi kasihan bajak-bajak kecil itu. Mereka seakan-akan merupakan serombongan laron yang menerjang api lilin. Api itu hanya bergoyang-goyang, sama sekali tidak padam, akan tetapi laron-laron itu satu demi satu roboh! Swan Bu berpikir bahwa sebagai pemimpin bajak, tentu orang tinggi besar yang kemarin datang bersama Yosiko ini sedikitnya tahu akan Siu Bi. Maka dia lalu mempercepat permainan pedangnya, merobohkan para bajak dan dengan gerakan yang tak tersangka-sangka dia meloncat ke depan Yauw Leng yang tadinya hanya memberi komando dari jarak aman.
Bajak laut itu kaget setengah mati. Tak disangkanya pemuda buntung itu dengan mudahnya mampu menembus kepungan belasan orang anak buahnya dan tahu-tahu sudah berkelebat di depannya. la cepat menggerakkan sepasang pedangnya menyerang, pedang kanan menyerang tubuh lawan, pedang kiri menyerang bagian atas. Gerakannya cepat dan ganas, tenaganya besar sehingga sepasang pedangnya mengeluarkan bunyi berdesingan.

Namun hal ini bajak laut yang biasanya jarang menemukan lawan dengan sepasang pedangnya yang dahsyat itu, menemui lawan yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya. Biarpun Swan Bu telah kehilangan lengan kirinya, namun kalau baru lawan setingkat bajak laut ini, biar ada sepuluh orang macam Yauw Leng kiranya dia takkan kalah. Pedang Kim-seng-kiam, berkelebat bagaikan halilintar menyambar, dari mulutnya keluar bentakan yang menggetarkan jantung, kemudian terdengar bunyi nyaring dan tahu-tahu sepasang pedang di tangan Yauw Leng telah patah-patah, disusul pekik kesakitan ketika bajak itu tertotok roboh oleh gagang pedang Swan Bu.

Para anak buah bajak berteriak-teriak menyerbu, namun sekali memutar pedang, empat orang bajak laut roboh. Kemudian Swan Bu menyambar tubuh Yauw Leng dan sekali dia berkelebat, lenyaplah dia dari depan para bajak laut yang menjadi kebingungan karena kehilangan pinpinan. Akhirnya mereka itu lari cerai-berai ketika melihat pasukan pemerintah sudah berlari-lari dari lain jurusan dengan senjata diacung-acungkan penuh ancaman!

“Hayo katakan, di mana adanya nona Siu Bi yang tadinya bersama ketuamu Yosiko? Katakan sebenarnya, kalau tidak …..akan kucincang hancur tubuhmu!” Swan Bu rnengancam setelah dia berada di tempat sunyi dan membanting tubuh bajak ke bawah.

Yauw Leng mengeluh panjang, lalu berkata, “Dia….. dia tertawan oleh….. Bong Kwan yang kemarin kaubuntungi lengannya! Dia tentu akan tewas oleh Bong Kwan yang sakit hati kepadamu kalau tidak lekas kau tolong…..”

“Di mana dia? Di mana bangsat itu dan di mana Siu Bi ditawan?” tanya Swan Bu dengan gugup.

“Apa gunanya aku memberi tahu kalau kau akhirnya toh membunuhku? Berjanji dulu bahwa kau takkan membunuhku, baru aku mau menunjukkan tempatnya.”
Karena amat khawatir akan keadaan Siu Bi, Swan Bu segera berkata, “Baiklah kau akan kubebaskan. Lekas tunjukkan tempatnya.”

la menotok bebas bajak itu dan menyeret tangannya diajak lari ke tempat yang ditunjukkan oleh Yauw Leng. Tibalah mereka di depan batu-batu karang di tepi laut, di mana terdapat banyak sekali” gua-gua batu karang yang liar. Kadang-kadang kalau ombak laut besar, air laut sampai di mulut gua-gua ini, dan batu-batu karang di tempat ini amat runcing, tajam dan licin.

“Di sinilah tadi malam Bong Kwan membawa Siu Bi. Kaucarilah sendiri ke dalam gua, aku tidak berani,” kata Yauw Leng.

Cepat bagaikan kilat menyambar, tangan kanan Swan Bu menotok Yauw Leng roboh. “Akan kubuktikan, kalau kau tidak membohong, kau kubebaskan. Akan tetapi awas kalau kau bohong!”

Dengan pedang di tangan, Swan Bu lalu meloncat memasuki gua itu dengan gerakan tangkas. la meloncat ke atas batu-batu karang yang runcing, terus  memasuki gua yang amat dalam itu.

“Siu Bi…..!!” la memanggil. Tidak ada jawaban kecuali gema suaranya dari dalam gua. la meloncat ke atas batu karang sebelah dalam lagi.

“Siu Bi…..!'”

Mendadak telinganya menangkap suara yang terdengar dari jauh.

“Swan Bu…..!!”

Itulah suara Siu Bi! Tak salih lagi! Gemetar kaki Swan Bu mendengar suara ini, suara yang sukar diketahui dari mana datangnya, akan tetapi terpengaruh oleh keterangan Yauw Leng tadi, ia menduga bahwa suara itu pasti datang dari dalam gua ini. Dengan cepat dia meloncat terus, memasuki bagian yang gelap.

Tiba-tiba terdengar angin menyambar dari kanan kiri. Swan Bu terkejut, pedangnya bergerak cepat, diputar sedemikian rupa sehingga dia berhasil menangkis banyak anak panah yang beterbangan dari kanan kiri menyambarnya. Anak-anak panah itu runtuh ke bawah dan dia meloncat lagi ke depan. Sekali lagi dia menangkis sambaran senjata-senjata gelap yang terbang dari depan.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan asap hitam tebal memenuhi tempat itu. Swan Bu terbatuk-batuk dan cepat menahan napas, maklum bahwa asap itu beracun, akan tetapi karena tempat itu gelap, ketika meloncat ke atas batu karang di sebelah kanan yang kelihatah hanya hitam saja, dia tergelincir. Pada, saat itu dia merasa pundak kanannya sakit. Sebatang senjata piauw telah menancap di pundaknya. Tak tertahan lagi Swan Bu roboh terguling, tubuhnya terbanting di atas batu-batu karang yang runcing dan tajam. Lalu sunyi senyap!

Bagaikan terbang cepatnya, Siu Bi datang berlari-lari. la tadi mendengar suara Swan Bu yang memanggilnya dan ia telah menjawab dengan menyerukan nama pemuda itu sambil berlari ke arah datangnya suara. Ketika ia tiba di depan gua, dari dalam gua berlompatan empat orang bajak yang tadi bersembun di situ dan menghujankan anak panar ke pada Swan Bu. Siu Bi marah sekali melihat Yauw Leng menggeletak dalam keadaan tertotok, pedangnya menyambar dan putuslah leher kepala bajak itu. Empat orang bajak menjadi marah, beramai menyerbu. Namun Siu Bi memutar pedangnya dan dalam beberapa menit saja empat orang bajak itu sudah roboh tak bernyawa lagi, mandi darah!

“Swan Bu.” Siu Bi menjerit ke dalam gua.

Tiba-tiba dari dalam gua itu terdengar suara orang tertawa bergelak, menyeramkan suara ini.

“Ha-ha-ha, Manis! Kau mencari kekasihmu? Si buntung lengan? Ha, ha, ha, dia di sini. Masuklah!” Siu Bi terkejut. Itulah suara Bong Kwan yang katanya kemarin dibuntungi lengannya oleh Swan Bu. la tidak percaya dan memanggil lagi.

“Swan Bu…..!!”‘

“Ha-ha-ha, kau tidak percaya? Lihat, apakah ini?” Dari dalam gua itu melayang sebatang pedang yang mengkilap putih, menyambar ke arah Siu Bi. Dengan cekatan Siu Bi menyambar pedang itu dengan tangan kirinya. Tangannya menggigil. Itulah pedang Kim-seng-kiam, pedang kekasihnya!

“Swan Bu…..!”

“Masuklah kalau hendak menemui kekasihmu!” kembali suara Bong Kwan mengejek.

Pada saat itu, Cui Sian dan Cui Kim datang berlari-lari. Melihat Siu Bi dengan sepasang pedang berdiri di depan gua, timbul kemarahan mereka berdua. Gadis liar ini telah bersekutu dengan Yosiko dan terang bahwa Yosiko telah bersikap curang, melanggar janji dan diam-diam melakukan penyerbuan yang menewaskan banyak perajurit. Terang bahwa Siu Bi ini membantu penyerbuan Yosiko.

“Gadis jahat!” Cui Sian melompat maju hendak menyerang. Kemudian ia mengenal pedang Kim-seng-kiam di tangan Siu Bi.

“Eh, itu pedang Kim-seng-kiam milik Swan Bu! Di mana dia? Kauapakan dia?” bentaknya.

Muka Siu Bi pueat sekali. “Dia….. dia….. entah bagaimana keadaannya, tapi….. dia….. dia di dalam gua ini, ditawan…..!” Sambil berkata demikian. Siu Bi lalu melompat memasuki gua dengan sepasang pedang di tangan.

“Swan Bu…..!” la berseru lagi sambil berlari dan berloncatan dari batu karang ke batu karang sebelah dalam.

Tiba-tiba terdengar ledakan keras dan asap hitam memenuhi tempat di sebelah dalam gua di mana Siu Bi berdiri. Gadis ini menjadi limbung, pandang matanya gelap dan dalam keadaan matanya gelap dan dalam keadaan setengah sadar itu, tiba-tiba ia merasa dadanya sakit sekali. la terhuyung-huyung dan terbanting roboh di samping Swan Bu yang menggeletak pingsan di antara batu-batu karang.

“Swan Bu……” Siu Bi merintih lemah, merangkak dan merangkul pemuda itu.

Cui Sian dan Cui Kim terkejut sekali. Mereka lalu meloncat masuk pula dengan pedang terhunus, bergerak hati-hati sekali. Cui Sian di depan, Cui Kim di belakangnya.

“Mundur…..!” teriak Ciui Sian sambil melompat keluar lagi ketika dia mencium bau yang memuakkan, bau asap hitam yang masih tergantung tebal di dalam gua. Terpaksa keduanya melompat keluar lagi dan berdiri bingung.

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di depan gua itu sudah berdiri sepasang suami isteri yang gagah perkasa. Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Buta sendiri bersama isterinya.

Kedatangan mereka ini sebetulnya bersama Tan Loan Ki. Seperti kita ketahui. Tan Loan Ki mencari Pendekar Buta untuk memaksa pendekar ini menjodohkan muridnya, Yo Wan dengan puterinya, Yosiko. Mendengar permintaan yang aneh ini, Pendekar Buta yang kebetulan bertemu di jalan dengan Tan Loan Ki sepulang mereka dari Thai-san, segera ikut dengan wanita aneh itu. Perjalanan dilakukan cepat bukan main karena biarpun sudah setengah tua, Tan Loan Ki masih berwatak keras dan tidak mau kalah, maka dia seakan-akan mengajak suami-isteri dari Liong-thouw-san itu berlumba adu lari cepat!

Setiba di daerah Po-hai, melihat kekacauan dan peperangan, Tan Loan Ki merasa khawatir sekali dan cepat-cepat ia mencari puterinya sehingga ia bertemu Yo Wan di depan gua di mana puterinya tertawan. Adapun Pendekar Buta dan isterinya, mendengar keterangan dari para perajurit bahwa Swan Bu putera mereka juga berada di situ malah ikut bertempur. Atas petunjuk para prajurit inilah mereka berdua mencari dan akhirnya mereka bertemu dengan Cui Sian dan Cui Kim yang berloncatan keluar dari dalam gua yang penuh asap hitam beracun!

“Cui Sian…… apa yang terjadi? Apa kau melihat Swan Bu?” tanya Hui Kauw, isteri Pendekar Buta, tak sabar lagi.

“Saya khawatir….. Swan Bu berada di dalarn gua….. dan Siu Bi baru saja meloncat masuk untuk mencarinya, akan tetapi agaknya….. agaknya dia mengalami kecelakaan. Gua ini penuh asap hitam beracun….”

“Ahhh…..!” Hui Kauw rnencabut pedangnya dan bergerak hendak meloncat masuk, akan tetapi cepat Kwa Kun Hong si Pendekar Buta menyambar lengan isterinya.

“Tunggu! Biar aku yang masuk!” katanya dan sebelum isterinya sempat membantah, tubuhnya sudah bertindak ke depan, dengan hati-hati dia melangkah masuk, meraba-raba dengan kedua kakinya. Segera dia mencium bau asap hitam yang beracun.

“Bahan ledak berbahaya…..” katanya perlahan, kemudian Pendekar Buta menggerak-gerakkan kedua tangannya, mendorong ke dalam gua. Asap hitam ituiyang tadinya mengambang di dalam gua, menjadi buyar, terdorong oleh angin pukulan dahsyat yang memenuhi gua. Karena dorongan ini, asap itu lalu terbang keluar gua dan sebentar saja habislah asap hitam itu. Kemudian dari dalam gua menyambar senjata-senjata rahasia piauw bagaikan hujan lebatnya. Namun, hanya dengan gerakan kedua tangannya yang mengeluarkan angin pukulan luar biasa, semua piauw itu terpental, ada pula yang membalik dan menyambar lebih eepat lagi ke dalam gua. Terdengar pekik kesakitan ketika piauw-piauw beracur itu menyambar tubuh Bong Kwan sendiri yang segera terjungkal dari atas batu karang di sudut gua, tewas seketika itu juga.

Pada saat itu, matahari telah naik tinggi dan sinarnya memasuki gua. Hui Kauw, Cui Sian dan Cui Kim sudah berani memasuki gua setelah asap hitam itu buyar semua.

“Swan Bu…..!” Hui Kauw menjerit ketika melihat puteranya yang kini sudah buntung lengannya itu menggeletak seperti mayat, dipeluki oleh Siu Bi yang tubuhnya mandi darah.

Sekali lagi Kun Hong mencegah isterinya, malah dia berjongkok dan memeriksa puteranya dengan rabaan tangannya. Hati lega karena luka di pundak puteranya tidak berbahaya. Swan Bu hanya pingsan karena ketika tadi terguling, kepalanya tertumbuk batu. Hanya keadaan Siu Bi yang payah. Ketika Kun Hong memeriksanya sebentar, pendekar ini mengerutkan keningnya.

“Biarkan dia sebentar…..” katanya, hatinya penuh keharuan. Tiga batang piauw beracun yang menancap di dada Siu Bi tak mungkin dapat dicegah pengaruhnya lagi.

“Swan Bu…..” Siu Bi berbisik, tetap merangkul leher pemuda itu erat-erat.

“Swan Bu…… aku hanya punya engkau…..”

Ucapan ini gemetar dan lemah, mendatangkan rasa haru kepada mereka yang menyaksikan dan mendengar. Mata gadis itu penuh air mata, akan tetapi sinarnya sudah redup. Jari-jari tangannya dengan lemah meraba-raba muka Swan Bu yang masih pingsan.

“Swan Bu….. aku tidak punya apa-apa lagi….. hanya ingin punya engkau….. masa tidak boleh…..? Swan Bu….. kenapa diam saja…..? Kau marah kepadaku? Swan Bu….. ah, kau….. kau terluka….. kau mati? Aku pun ikut….. Swan Bu….. aku ikut!!” Gadis itu lalu berkelojotan, menjerit-jerit, “Aku ikut! Aku ikut!!” Pelukannya mengeras, akan tetapi hanya sebentar, tubuhnya menjadi lemas dan kata-kata terakhir yang keluar dari bibir-nya hanya helaan napas dan bisikan, “Swan Bu kekasihku….. aku….. ikut…..”

Terdengar sedu-sedan dari kerongkongan Hui Kauw yang memeluk dua tubuh itu, tubuh Siu Bi yang sudah tak bernyawa lagi dan tubuh Swan Bu yang masih pingsan. Juga Cui Sian menangis terisak-isak, ingat betapa tadinya ia membenci Siu Bi. Baru kini dia sadar betapa Siu Bi patut dikasihani, seorang gadis yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini, tidak punya apa-apa, tidak punya orang yang dikasihinya, tidak punya harapan. Sekali lagi ia sadar betapa benar pendapat kekasihnya, Yo Wan. Adapun Cui Kim berdiri bengong, air matanya juga membasahi pipinya.

“Sudahlah, mari kita angkut keluar mereka. Swan Bu perlu diobati,” kata Pendekar Buta. Hui Kauw memondong tubuh puteranya, Cui Sian memondong mayat Siu Bi dan mereka keluar dari gua itu, terus menuju ke perkemahan di dalam hutan. Di sepanjang jalan Hui Kauw menangis sesunggukan, menangisi puteranya yang kehilangan lengan tangan, menangisi Siu Bi yang betapapun juga sampai di akhir hidupnya membuktikan cinta kasih dan pengorbanan yang besar kepada Swan Bu. Hanya Pendekar Buta yang berjalan dengan muka tunduk itu diam-diam berterima kasih kepada Tuhan bahwa Tuhan telah mengatur sedemikian rupa demi kebaikan. Memang sebaiknya begini. la tahu bahwa puteranya mencinta Siu Bi, akan tetapi dia tahu pula bahwa demi kebenaran, demi menjaga kerukunan keluarga, demi mencuci bersih nama dan kehormatan keluarga Raja Pedang, Swan Bu harus berjodoh dengan Lee Si.

Dengan pengerahan tenaga para prajurit, dan dia sendiri pun menggunakan kepandaiannya untuk menggulingkan batu-batu yang besar dan berat, akhirnya sejam kemudian, Yo Wan berhasil membongkar batu-batu karang yang tadi menutupi gua. Cepat dia menerjang masuk dan apa yang dia lihat? Tempat itu kini sudah terang, diterangi oleh dua buah obor yang dipasang di kanan kiri. Di atas sebuah batu karang halus tampak duduk seorang wanita yang bukan lain adalah Tan Loan Ki, duduk sambil tersenyum-senyum. Di depannya berlutut dua orang yang bergandeng tangan, Bun Hui dan Yosiko! Adapun di sudut ruangan gua itu menggeletak mayat si cambang bauk Bong Ji Kiu, lehernya putus! Yo Wan berdiri tertegun, namun hatinya merasa lega.

Apakah yang terjadi? Kiranya ketika Bun Hui memasuki gua itu, Bong Ji Kiu menggerakkan sebuah alat rahasia dan runtuhlah batu-batu dari atas menutupi gua, sebagian dari batu-batu itu menimpa Bun Hui yang cepat melompat ke dalam akan tetapi karena keadaan gelap, dia tidak dapat menghindarkan serangan Bong Ji Kiu. Sambaran golok Bong Ji Kiu melukai pahanya dan sebuah tendangan mengenai dadanya, membuat Bun Hui terpelanting dan roboh tak dapat bangun pula. Kemudian Bong Ji Kiu menyalakan obor dan dengan hati penuh kegelisahan Bun Hui melihat betapa Yosiko benar benar berada di situ, terbelenggu kaki tangannya!

“Ha-ha-ha, kau berani datang untuk melihat kekasihmu? Kau mencinta Yosiko, bukan? Ha-ha, bagus sekali. Kau saksikanlah betapa nona manis ini rnenjadi isteriku, kemudian kau mampus! Kaukira akan dapat mengalahkan Kim-bwee-liong Bong Ji Kiu? Ha-ha-ha!” Kemudian secara kasar kepala bajak ini memeluk dan menciumi Yosiko.

“Bangsat! Kalau kau laki-laki, jangan mengganggu wanita! Hayo bertanding secara laki-laki, jangan menggunakan kecurangan!” Bun Hui memaki sambil merangkak bangun dengan susah payah. la berhasil berdiri setelah mengambil pedangnya, lalu meloncat menggunakan sebelah kaki menyerang kepala bajak itu.

Sambil tertawa Bong Ji Kiu menangkis dengan goloknya. Tangkisannya keras sekali dan karena Bun Hui masih pening  dan luka di pahanya parah serta dadanya masih membuat napasnya sesak, tangkisannya ini saja cukup membuat pedangnya terlepas dan kembali dia terguling roboh karena tendangan lawan.

“Ha-ha-ha, macam kau berani melawan aku?” Bong Ji Kiu melangkah maju dengan golok di tangan.

“Bong Ji Kiu!” Yosiko berseru keras. “Kalau kaubunuh dia, aku bersumpah akan mencari kesempatan menghancurkan kepalamu sampai lumat!”

“Ha-ha-ha, kiranya kau benar-benar mencinta bocah ini? Ah, Yosiko, kau benar-benar aneh sekali dan mengecewakan hati. Sepatutnya kau, anak bajak laut, berjodoh dengan bajak laut pula. Akan tetapi kau memang tak kenal budi, tak menghargai kawan sendiri. Dulu Shatoku, murid ayahmu sendiri tewas di tangan Tan Hwat Ki dan kau tidak peduli, padahal Shatoku amat mencintamu. Juga kau tidak mau pedulikan lamaranku, sebaliknya kau mencinta bocah ini, padahal dia ini adalah komandan pasukan kerajaan yang sengaja datang hendak membasmi kita! Ah, di mana kegagahan ayahmu? Mana setia kawanmu?” Setelah berkata demikian, Bong Ji Kiu menggunakan sehelai tambang untuk mengikat kaki tangan Bun Hui yang sudah tidak berdaya. lagi. Kemudian dia meraih hendak memeluk Yosiko lagi untuk menyiksa hati Bun Hui.

“Jangan sentuh aku! Dengar, Bong Ji Kiu, aku hanya bersedia menjadi isterimu kalau kau membebaskan Bun Hui dan jangan menyentuhku di depannya. Kalau kau melanggar pantangan ini, biarpun kau akan memaksaku, pasti akan tiba saatnya aku merobek dadamu dan mengeluarkan jantungmu!”

“Ha-ha-ha, baiklah, Manisku. Akan tetapi tidak bisa aku membebaskan dia sekarang. Dia harus ikut dengan kita ke pantai dan ke perahu. Aku akan membawamu lari ke pulau selatan di mana kita dapat membuat sarang baru yang aman, sebagai suami isteri bajak laut. Dia harus menjamin keselamatan kita sampai kita berlayar, baru dia kubebas-kan. Mari, mari kita pergi, Manisku!”

Bong Ji Kiu memondong tubuh Yosiko dan menyeret tubuh Bun Hui melalui terowongan yang kasar sehingga dapat dibayangkan betapa tersiksanya Bun Hui.

Diam-diam Yosiko cemas sekali. Terowongan rahasia ini adalah peninggalan kakeknya dahulu, tidak ada yang tahu kecuali dia dan ibunya, dan anak buahnya. Agaknya Kamatari telah membocorkan rahasia ini sehingga kini dipergunakan oleh Bong Ji Kiu untuk menjebak Bun Hui dan melarikan diri melalui terowongan rahasia. Kalau sampai Bong Ji Kiu dapat menggunakan Bun Hui sebagai jaminan, agaknya apa yang dikatakan bajak ini akan terlaksana!

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa yang menyeramkan. Bong Ji Kiu kaget bukan main sehingga pondongannya terlepas, tubuh Yosiko terguling di dekat tubuh Bun Hui. Bajak laut itu menghunus golok besarnya dan membentak,

“Siluman dari mana berani mengganggu Kim-bwee-liong?”

“Bong Ji Kiu, kematian sudah di depan mata masih berani berlagak?”

Suara itu terdengar aneh karena bercampur dengan kumandangnya, seperti suara yang datang dari alam lain.

“Keluarlah dan makan golokku ini…..!” Tiba-tiba suara Bong Ji Kiu terhenti dan matanya terbelalak lebar ketika dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Tan Loan Ki telah berdiri di depannya dengan pedang di tangan!

“Toa….. Toanio…..! Saya terpaksa menangkap Yosiko karena dia berkhianat dan bersekutu dengan pasukan kota raja, dan….. dan ini….. komandan pasukan juga sudah saya tangkap…..”

“Setan kau.  Anakku boleh memilih jodoh siapa juga, peduli apa dengan kau? Keparat! Hayo berlutut menerima kematian!”

Menggigil sepasang kaki Bong Ji Kiu. ….. tidak, Toanio….. ini tidak adil! Aku….. aku…..” Akan tetapi terpaksa dia menghentikan kata-katanya karena Tan Loan Ki dengan kemarahan meluap-luap sudah menerjangnya dengan serangan kilat.

Terpaksa Bong Ji Kiu melawan dan memutar goloknya. Terjadilah pertempuran mati-matian yang amat seru di dalam ruangan gua yang kini diterangi obor itu. Bong Ji Kiu berlaku nekat, akan tetapi mana mungkin dia dapat menandingi Tan Loan Ki? Belum tiga puluh jurus, sambaran pedang merobek kulit lengan dan hampir membuntungi pergelangan tangannya sehingga golok besarnya terbang.

“Ti….. tidak….. Toanio….. ampun…..”

Bong Ji Kiu meloncat ke belakang de-ngan tubuh gemetaran dan muka pucat. Akan tetapi Tan Loan Ki menghampirinya dengan mata berapi-api dan langkah-langkah lambat sampai akhirnya Bong Ji Kiu tak dapat lari lagi karena punggungnya menyentuh dinding di sudut. Pedang Tan Loan Ki berkelebat, hanya tampak cahayanya dan tahu-tahu tanpa dapat sambat lagi Bong Ji Kiu terguling dengan kepala terpisah dari tubuh!

Tan Loan Ki cepat membebaskan dua orang muda itu dan dengan gembira sekali Yosiko menceritakan kesemuanya kepada ibunya.

“Ibu, aku memilih dia ini menjadi suamiku. Kalau tidak dijodohkan dengan, Bun Hui, aku lebih baik mati! Ibu, permintaanku hanya sekali ini kepadamu, harap kau suka mengabulkan.”

“Hemmm….. kau bocah aneh. Mula-mula Tan Hwat Ki, kemudian Yo Wan, dan sekarang Bun Hui komandan pasukan kota raja. Bagaimana ini ?”
“Dulu aku tidak tahu, Ibu. Kukira hanya laki-laki yang dapat mengalahkanaku saja yang patut menjadi jodohku, akan tetapi setelah mendengarkan nasihat Yo Wan, dan mendengar pula penuturan Siu Bi, aku….. aku tahu bahwa tanpa cinta tak mungkin menjadi isteri orang. Dan aku….. aku mencinta Bun Hui!” Bukan main girang hati Bun Hui mendengar pengakuan ini, pengakuan yang begini terus terang, terbuka, membayangkan kejujuran dan kepolosan hati gadis ini. Yo Wan benar, pikirnya, gadis ini jujur dan baik, hanya liar karena pengaruh pendidikan dan lingkungan.

“Bun Hui, kau anak siapa?”

“Ibu, dia itu cucu ketua Kun-lun-pai, bukan pemuda sembarang pemuda!” Yosiko yang menjawab cepat.

“Ehhh?” Tan Loan Ki tercengang. “Kalau begitu, kau ini putera Bun Wan?”

“Betul, Bibi,” jawab Bun Hui, girang dan heran bahwa ibu Yosiko ini kiranya mengenal ayahnya.

“Hemmm, dia juga baik dan boleh saja. Tapi….. eh, Bun Hui, anakku mencintamu, apakah kau juga cinta kepadanya?”

“Dia tentu cinta kepadaku, Ibu, dia….. dia membujukku untuk insyaf dan dia hendak membawaku ke Thai-goan…..

“Diam kau! Harus dia sendiri yang menjawab. Bagaimana, Bun Hui? Apakah kau mencinta Yosiko?”

“Saya….. saya mencintanya, Bibi.”

Yosiko meloncat dan memegang tangan Bun Hui, wajahnya berseri gembira dan ia mengguneang-guncang lengan itu. “Betulkah itu, Bun Hui? Ah, alangkah bahagia dan lega hatiku. Tadinya….. tadinya kukira kau tidak mencintaiku…. aku sudah khawatir sekali…..”

Tan Loan Ki tertawa dan berkata, “Anak-anakku, aku girang melihat Kalian bahagia. Bun Hui, kau tidak memberi hormat kepada ibu mertuamu?”

Bun Hui dengan muka merah, dengan tangan masih digandeng Yosiko, aegera berlutut di depan wanita itu. Mereka berbahagia, tidak peduli akan suara hiruk-pikuk dari Yo Wan dan para perajurit yang membongkar batu-batu di depan gua. Demikianlah, ketika akhirnya Yo Wan menerjang masuk dengan hati penuh kekhawatiran menyaksikan adegan yang tenteram bahagia, yang membuatnya bengong terlongong keheranan!

Bajak laut menjadi kocar-kacir setelah kehilangan pimpinan. Apalagi ketika Tan Loan Ki dan Yosiko keluar dan menyerukan perintah agar rnereka menyerah, sebagian besar di antara mereka lalu membuang senjata dan berlutut, menyerah.

Bun Hui cukup bijaksana untuk menyerahkan urusan mereka kepada Yosiko dan ibunya, yang membubarkan Hek-san-pang dan perkumpulan bajak laut yang lain, kemudian harta kekayaan yang ada oleh Yosiko dibagi-bagikan kepada mereka dengan peringatan agar mereka memulai hidup baru, jangan melakukan kejahatan lagi.

Adapun Swan Bu setelah sadar dan melihat kekasihnya, Siu Bi, meninggal karena membelanya, menjadi berduka sekali. Namun, sebagai seorang yang telah menerima gemblengan batin dari orang tuanya, apalagi di situ terdapat Pendekar Buta yang menasihati dan menghiburnya, dia menerima kenyataan pahit ini yang menimpa dan mendukakan hatinya. Semenjak saat itu, Swan Bu berubah menjadi seorang yang pendiam, seorang yang masak jiwanya, dan biarpun dia kehilangan lengan kiri dan kehilangan Siu Bi yang dikasihinya, namun dia mendapatkan pengalaman hidup yang membuat dia menjadi seorang yang kuat lahir batin

Orang-orang gagah ini berpisahan dari daerah pantai Po-hai ketika para bajak laut sudah dibubarkan. Bun Hui memimpin sisa pasukannya ke kota raja, tentu saja selain membawa kemenangan lahir juga kemenangan batin, karena di sebelahnya ikut pula Yosiko dan ibunya, sedangkan di dalam sakunya terdapat sebuah surat dari Pendekar Buta untuk ayahnya, surat yang membantu dan mengusulkan agar Bun Wan memperkenankan perjodohan antara Bun Hui dan Yosiko.

Tan Hwat Ki dan sumoinya, yang masing-masing menyimpan rahasia kebahagiaan sendiri, yang dalam perjalanan kali ini telah menemukan cinta kasih mereka satu kepada yang lain, buru-buru kembali ke Lu-liang-san, dengan pengharapan besar mendapat restu ayah dan guru mereka, dengan lamunan dan cita-cita yang muluk-muluk!

Pendekar Buta dengan isterinya dan puteranya, kembali ke Liong-thouw-san. Tentu saja Swan Bu membawa keperihan hati karena dia harus meninggalkan Siu Bi di dalam gundukan tanah kuburan di dalam hutan tepi pantai. la merasa kasihan sekali kepada kekasihnya ini. Sampai mati pun harus bersunyi sendiri, dikubur di tempat sunyi. la baru mau pergi bersama ayah bundanya setelah dia menemani kuburan Siu Bi semalam suntuk, di mana dia duduk bersamadhi di dekat gundukan tanah kuburan baru itu. Masih terngiang di telinganya ketika dia mulai sadar, dia sempat mendengar jeritan Siu Bi berkali-kali, “Swan Bu, aku ikut….. aku ikut…..!” Kenangan inilah yang akhirnya membesarkan hatinya karena ketika dia melakukan perjalanan pulang, dia merasa seakan-akan Siu Bi benar-benar mengikutinya. Biarpun bukan Siu Bi dalam kenyataan, atau bayangannya, namun setidaknya cinta kasih gadis itu selalu mengikutinya!

Sebelum pergi, Pendekar Buta memanggil Yo Wan, lalu berkata, di depan Cui Sian yang menundukkan mukanya karena jengah. “Muridku, Yo Wan. Aku sebagai wakil orang tuamu, telah membicarakan urusan perjodohanmu dengan Tan Beng San locianpwe. Beliau berkenan menjodohkan Cui Sian denganmu. Segala hal telah kami rundingkan dengan masak-masak, dan sekarang, kauajaklah calon isterimu itu kembali ke Thai-san. Kelak pada saat pernikahan kalian, sudah pasti aku akan datang ke sana menghadirinya. Yo Wan, aku merasa bangga kepadamu dan aku sungguh-sungguh merasa bahagia bahwa dahulu aku ikut mendidikrnu sehingga sekarang kau menjadi seorang yang benar-benar tak mengecewakan. Arwah ibumu akan ikut bahagia, muridku.”

Yo Wan tak dapat menjawab, hanya berlutut dan memeluk kaki gurunya itu dengan air mata bertitik yang cepat-cepat dihapusnya. “Banyak terima kasih atas budi kebaikan Suhu dan Subo. Semoga Thian yang akan membalasnya kalau teecu tidak mampu membalas.”

Maka berangkatlah Yo Wan. dan Cui Sian berdua, sebagai orang-orang terakhir yang meninggalkan tempat itu, menuju ke Thai-san, tentu saja dengan hati penuh kebahagiaan dan perjalanan itu merupakan perjalanan yang paling menyenangkan selama hidup mereka, karena bukankah di depan mereka terbentang masa depan yang penuh madu? Memang tidak ada kebahagiaan yang melebihi bagi orang muda selain kebahagiaan menghadapi hidup baru berdampingan, membina rumah tangga bersama, mendayung biduk rumah tangga mengarungi samudra hidup, menempuh gelombang dan ombak samudera bersama-sama, menuju pantai cita yaitu keluarga bahagia. Susah sama diderita, senang sama dirasa, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Biarlah kita mendoakan mereka itu, Bun Hui dan Yosiko, Hwat Ki dan Cui Kim, Swan Bu dan Lee Si, Yo Wan dan Cui Sian, semoga orang-orang muda yang gagah perkasa, pengabdi kebenaran dan keadilan itu, akan menjadi pasangan suami isteri yang rukun dan menurunkan manusia-manusia yang selalu akan sadar dan ingat. Sadar sebagai manusia yang harus bertindak dengan dasar prikemanusiaan, dan ingat selalu kepada Yang Maha Kuasa. Karena hanya manusia yang sadar dan ingat demikianlah yang akan menjadi manusia-manusia berdua bagi dunia dan akhirat.

Sampai di sini, pengarang mengakhiri cerita JAKA LOLA ini yang merupakan bagian terakhir daripada rangkaian cerita RAJA PEDANG, RAJAWALI EMAS, PENDEKAR BUTA, dan JAKA LOLA. Harapan pengarang, semoga cerita-cerita tersebut di samping memberi kepada para pembaca sebagai cerita khayal hiburan ringan yang tegang romantis, juga sedikit banyak mengandung teladan dan sumbangan bagi pembangunan moral.

Teriring salam bahagia pengarang dan sampai jumpa di lain cerita.

Tamat

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: