Jaka Lola ~ Jilid 5

“Sin-tung-kai-pangcu, jangan ladeni omongan seorang bocah nekat!” fiba-tiba Thian Beng Tosu berseru keras. “He, bocah tak melihat keadaan, apakah kau sudah menjadi gila? Jangan main-niain terhadap Sin-tung-kai-pang!”

Akan tetapi dengan tenang Yo Wan memberi hormat sambil membungkuk kepadanya, lalu berkata, “Urusan ini adalah urusan saya sendiri, harap para lopek yang terhormat dari Hoa-san-pai jangan ikut campur. He, pengemis kelaparan, masih tidak berani turun tangan terhadap kanak-kanak seperti aku? Memalukan benar!”

Terdengar teriakan marah dan si pengemis hidung bengkok yang memegang toya sudah melompat maju. Dia ini adalah sute (adik seperguruan) dari ketua pengemis itu, lihai sekali permainan toya besinya dan dia diberi julukan Tiat-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Bertoya Besi). Wataknya lebih keras berangasan daripada para tokoh Sin-tung-kai-pang yang lain. Mendengar ucapan yang menantang-nantang dari Yo Wan, dia tidak mau bersabar lagi.

“Ada hubungan dengan Hoa-san-pai atau tidak, kau bocah setan harus mampus sekarang juga!” bentaknya dan toyanya yang berat itu menyambar cepat, mendatangkan desir angin gemuruh.

Yo Wan sudah bertekad tidak akan membawa-bawa suhu dan subonya, sungguhpun tadi dia bersikap seakan-akan hendak membersihkan Hoa-san-pai, padahal sesungguhnya dia tidak hendak menyeret suami isteri itu. Maka sekarang menghadapi sambaran toya, dia tidak mau mempergunakan langkah-langkah ajaib yang dia pelajari dari Kun Hong. la siap menerima kematian karena memang ha-nya kematian yang dapat dia harapkan dalam menghadapi orang-orang berilmu tinggi seperti pimpinan Sin-tung-kai-pang ini. Namun dia juga tidak mau mati konyol begitu saja tanpa perlawanan. Melihat datangnya toya, otomatis kaki tangannya bergerak dan dengan amat mudah dia membiarkan toya itu menyambar lewat tanpa dapat menyentuh tubuhnya sedikit pun juga. Karena tanpa disadarinya dia sudah memiliki kesaktian ilmu silat yang mendarah daging, maka sesuai dengan . daya tahan dan daya serang yang berganti-ganti diturunkan Sin-eng-cu dan Bhewakala kepadanya, tentu saja setiap kali menghadapi serangan, begitu mengelak terus saja Yo Wan membalas serangan itu. Dan bukan hal kebetulan kalau pada saat itu dia menggunakan sebuah jurus dari Ilmu Silat Ngo-sin-hoan-kun (Lima Lingkaran Sakt!) yang dia pelajari atau lebih tepat dia “mainkan” menurut petunjuk Bhewakala. Hal ini adalah karena jurus penyerangan toya yang dilakukan oleh Tiat-pang Sin-kai tadi sifatnya hampir sama dengan jurus-jurus penyerangan Sin-eng-cu, maka otomatis tubuhnya lalu bergerak mainkan jurus ilmu yang diturunkan oleh Bhewa-kala kepadanya sebagai lawannya. Ilmu Silat Ngo-sin-hoan-kun adalah ilmu silat ciptaan pendeta Nepal pertapa Gunung Himalaya yang sakti itu, gerakannya dahsyat dan aneh, Tiat-pang Sin-kai melihat betapa kedua lengan pemuda itu membuat lingkaran-lingkaran yang mengaburkan pandangan matanya dan dia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.

Ingin dia memukul dengan toya, namun ujung toyanya seakan-akan terlibat oieh sebuah di antara lingkaran itu dan tak dapat digerakkan. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya berpusing seperti tenggelam dalam pusingan angin dan sebelum dia tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tubuhnya itu terlempar sambil berputaran dan robohlah dia dengan kepala di bawah kaki di atas. la menjadi pening, kepala-nya benjol, toyanya terlempar entah ke mana dan sampai lama dia hanya rebah sambil menggerak-gerakkan kepala mengusir kepeningan dengan mata menjadi juling!

“Ah…..!”

“Hebat…..!”

“Aneh…..!”

Seruan-seruan ini keluar dari mulut para tokoh Hoa-san-pai. Benar-benar mengejutkan peristiwa itu. Kui-san-jin dan yang lain-lain memang sudah siap untuk menolong orang muda yang tabah itu kalau fihak Sin-tung-kai-pang hendak membunuhnya. Siapa tahu, dalam dua gebrakan saja seorang tokoh Sin-tung-kai-pang yang cukup lihai dibikin me-layang seperti itu dengan gerakan tangan dan kaki yang luar biasa, ilmu silat yang membentuk lingkaran-lingkaran ajaib. Ilmu apakah yang dipergunakan pemuda ini?

Hanya Hui Kauw dan Kun Hong yang tidak mengeluarkan suara apa-apa. Hui Kauw memandang kagum dan juga heran. karena sepanjang pengetahuannya, murid ini hanya baru menerima dasar-dasar ilmu silat dan yang terakhir hanya ditinggali ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po oleh Kun Hong. Tadi Hui Kauw sengaja memperhatikan gerak kaki anak itu untuk melihat apakah Yo Wan sudah mahir melakukan langkah-langkah itu, karena kalau sudah mahir, tentu anak itu mampu menyelamatkan diri dengan langkah-langkah ajaib. Anehnya, langkah yanc dipergunakan Yo Wan sama sekali bukan langkah ajaib ajaran Kun Hong, sungguh-pun gerak dan langkah yang dilakukan anak itu pun amat aneh dan asing! Ketika Hui Kauw melirik ke arah suaminya, ia melihat suami ini miringkan kepala mengerutkan kening dan bibirnya meng-gumam, “Hemmm….. hemmm…,.”

Sebetulnya, robohnya Tiat-pan Sin-kai hanya dalam di jurus ini bukan semata-mata karena kelihaian Yo Wan, melainkan sebagian besar dikarenakan kesalahan pengemis itu sendiri. la terlalu memandang rendah bocah itu, dianggapnya sekali pukul dengan toya akan remuk kepalanya. Oleh karena memandang rendah inilah maka sekali balas saja Yo Wan berhasil merobohkannya. Andaikata pengemis itu lebih hati-hati, biarpun tak mungkin dia dapat mengalahkan Yo Wan yang sudah mewarisi ilmu-ilmu sakti, namun kiranya tidak akan roboh hanya dalam satu dua jurus saja!

“Bocah setan! Berani kau menghina saudaraku?” Kakek pengemis di sebelah kiri ketua pengemis meloncat ke depan, menghadapi Yo Wan dengan mencabut pedang di pinggangnya. “Hayo keluarkan senjatamu dan kaulawan aku!”

Sikap pengemis inl jauh lebih gagah daripada Tiat-pang Sin-kai dan memang dia tidak memandang rendah kepada Yo Wan, karena dia menduga bahwa Yo Wan tentu memiliki kepandaian yang tinggi. Memang dia seorang yang cukup berpengalaman dan tidak sembrono seperti temannya tadi. Pengemis ini menjadi pembantu Sin-tung Lo-kai karena ilmu pedangnya membuat dia jarang menemu-kan tanding. Dia bernama Souw Kiu, seorang ahli pedang dan ahli tenaga Iweekang.

Hati Yo Wan tergetar. la tidak pernah mengalami pertandingan-pertandingan, yaitu pertandingan yang sungguh-sungguh, karena pertandingan yang dia saksikan selama tiga tahun di puncak Liong-thouw-san adalah pertandingan “teori”. Ketika dia merobohkan dua orang pengemis kemarin dan pengemis bertoya tadi, dia sama sekali tidak mengira bahwa demikian mudah dia mencapai kemenangan. Disangkanya bahwa memang tiga orang pengemis itu hanya orang-orang sombong yang tidak ada gunanya. Sekarang, menghadapi Souw Kiu yang tenang, bermata tajam dan memegang pedang dengan sikap yang kokoh kuat, mau tak mau dia menjadi gentar puia untuk menghadapinya dengan tangan kosong.

‘”Tukang kuda, kaupakailah pedangku ini!” Tiba-tiba Swan Bu berseru sambil mencabut pedangnya yang amat indah.

Yo Wan tersenyum. Lenyap sudah rasa sakit di pundaknya oleh anak panah yang masih menancap itu. Sikap Swan Bu ini sekaligus telah menjatuhkan hatinya dan meluapkan maafnya terhadap putera dari suhunya itu. la tersenyum lebar sambil menoleh ke arah Swan Bu. “Tuan Muda, terima kasih. Tidak berani aku merusakkan pedangmu,” jawabnya dengan sungguh-sungguh dan jujur, sama sekall dia tidak tahu bahwa jawabannya ini membuat wajah Hui Kauw dan Kun Hong menjadi merah karena ayah dah ibu ini mterasa terpukul oleh jawaban muridnya kepada puteranya yang tadi memperlakukan Yo Wan dengan sewenang-wenang.

Yo Wan maklum bahwa untuk menghadapi pedang lawan, dia harus menggunakan senjata pula dan dia anggap bahwa senjata terbaik adalah melawan dengan pedang pula. Lupa bahwa pedangnya hanya sebatang pedang kayu saja, dia segera membuka jubah mengeluarkan pedang kayunya yang panjangnya hanya tiga puluh sentimeter, terbuat daripada kayu cendana yang harum itu.

Meledak suara ketawa dari anak buah Hoa-san-pai dan anak buah pengemis, akan tetapi tokoh-tokohnya sama sekali tidak tertawa, bahkan memandang dengan tercengang. Gilakah anak ini? Ataukah memang dia begitu sakti sehingga cukup menghadapi lawan dengan pedang kayu saja?

“Itukah senjatamu?” bentak Souw Kiu dengan suara kecewa. “Apakah kau hendak main-main?” Dia seorang tokoh ilmu silat, mana enak hatinya kalau dihadapi seorang lawan begini muda yang mem-pergunakan pedang kayu?

“Memang inilah senjataku dan aku tidak main-main, pengemis tua.”
“Jangan menyesal nanti dan bilang aku berlaku sewenang-wenang!” kata pula Souw Kiu, masih meragu. Pertandingan ini disaksikan banyak tokoh Hoa-san-pai, dia harus memperlihatkan kegagahannya.

“Aku tidak akan menyesal. Kalian memang sudah bertekad untuk membunuhku, tentu saja aku pun bertekad untuk mempertahankan nyawaku sedapat mungkin. Aku tidak biasa memegang pedang tulen, biasa main-main dengan pedangku ini. Kalau kau memang berkukuh hendak membunuhku, silakan.”

“Awas pedang!” Dengan cepat setelah mengeluarkan bentakan ini, Souw Kiu menerjang dengan pedangnya. Gerakan pedangnya amat cepat dan mengeluarkan suara berdesing mengerikan. Namun bagi Yo Wan, gerakan pengemis itu tidaklah terlalu hebat, apalagi cepat. Kalau dibandingkan dengan jurus-jurus yang dikeluarkan Sin-eng-cu dan Bhewakala, gerakan itu seperti anak kecil main-main belaka! Dengan tenang, dia lalu mainkan jurus-jurus yang sesuai dengan pedang yang dipegangnya, yaitu Ilmu Silat Liong-thouw-kun yang ditucunkan oleh Sin-eng-cu kepadanya. Memang pedang kayu itu adalah senjata buatan Sin-eng-cu yang dahulu dia pakai untuk menghadapi cambuk dari Bhewakala, maka ketika dia bersilat pedang dengan jurus-jurus dari Sin-eng-cu, seketika pedang kayu di tangannya itu berubah menjadi puluhan batang banyaknya dalam pandang mata lawannya! Angin yang diterbitkan pedang kayu ini berbunyi “whir-whir-whirrr…..” dibarengi kilatan sinar pedang kayu yang membingungkan hati Souw Kiu.

Karena maklum bahwa bocah ini benar-benar pandai, Souw Kiu mengerahkan seluruh tenaga dalam dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk mencapai kemenangan. la sengaja hendak mengadu senjata, karena dia merasa yakin bahwa sekali pedang kayu itu bertemu dengan pedangnya, tentu akan patah dan dia akan mudah merobohkan lawan.

Hui Kauw memandang kagum sekali. Ilmu pedang yang dimainkan Yo Wan itu benar-benar merupakan ilmu pedang yang selain indah, juga amat luar biasa. Dia sendiri belum tentu dapat mainkan pedang kayu seperti itu!” Ketika dia melirik ke arah suaminya, wajah Kun Hong tegang sekali dan bibir Pendekar Buta ini menggumam lirih, ” Ah….. mana mungkin…..?” Memang, dapat dibavangkan keheranan hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan ilmu silat Yo Wan yang kali ini cara bersilatnya sama sekali berlawanan dengan dua gerakan ketika merobohkan lawan pertama tadi, tidak demikian saja, malah ilmu pedang yang dimainkan ini mengandung jurus-jurus Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, yaitu ilmu silatnya sendiri! Padahal dia sama sekali belum pernah mengajarkan Umu itu meskipun hanya sejurus kepada muridnya.

Para tokoh Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh yang berilmu tinggi. Apalagi ketuanya, Kui-san-jin terkenal sebagai seorang ahli pedang Hoa-san-kiam-sut, di samping isterinya yang juga hadir di situ. Mereka semua kini berdiri bengong, kagum bukan main. Siapa orangnya yang tidak kagum kalau melihat betapa kacung kuda itu dengan hanya sebatang pedang kayu dapat menghadapi seorang ahli pedang seperti Souw Kiu? Dan kadang-kadang pedang di tangan pengemis itu dengan hebatnya menggempur pedang kayu, akan tetapi jangan kata pedang kayu menjadi patah karenanya, malah tampak jelas betapa lengan dan tangan Souw Kiu yang memegang pedang tergetar hebat. Ini hanya menjadi bukti bahwa bocah itu memiliki tenaga sinkang yang ampuh sekali, tenaga yang bukan sewajarnya dimiliki seorang pemuda tang-gung berusia enam belas tahun. Diam-diam mereka menduga-duga murid siapakah gerangan pemuda ini dan apa maksud orang muda yang memiliki kesaktian itu naik ke Hoa-san-pai? dengan berpura-pura menjadi tukang kuda, mengandung maksud tersembunyi yang bagaimanakah? Mereka juga merasa gelisah, menduga bahwa tentu pemuda itu mengandung suatu maksud tertentu.

Yang paling bingung dan kaget setengah mati adalah Souw Kiu sendiri. Pedang kayu di tangan bocah itu bukan main hebatnya, gerakannya aneh, daya tahannya amat kokoh kuat dan setiap kali beradu dengan pedangnya sendiri, tangannya tergetar hebat. la menjadi penasaran sekali. Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang kacung kuda? Kalau dia dikalahkan oleh seorang tokoh Hoa-san-pai, masih tidak apa, akan tetapi oleh seorang kacung kuda masih bocah lagi?

Dua puluh jurus telah lewat dan dalam penasarannya, Souw Kiu tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan pedangnya melakukan terjangan kilat. Hui Kauw menutup mulutnya dan seluruh urat tubuhnya menegang. Sebagai seorang ahli pedang, ia maklum bahwa pengemis itu melakukan serangan nekat, mengajak adu nyawa. la sudah siap untuk menyam-bar dan menolong muridnya, akan tetapi dia tidak mau tergesa-gesa karena kalau keadaan Yo Wan tidak berbahaya lalu ia menolongnya, hal itu akan merendahkan
diri sendiri.

Yo Wan sudah mempelajarl banyak sekali jurus-jurus ampuh dan ada kalanya Sin-eng-cu maupun Bhewakala dalam keadaan terdesak pun mengeluarkan jurus-jurus yang nekat. Karena itu, menghadapi serangan ini, dia tidak menjadi gugup. Dari pada dia terluka atau terpaksa membunuh orang, lebih baik mengorbankan pedang kayunya, pikirnya cepat. Melihat pedang lawan menyambar dengan babatan kilat, dia cepat menangkis de-ngan pedang kayunya, tapi dia sengaja tidak menyakirkan tenaga kepada pedahg kayu ini.

“Krakkk!” pedang kayu patah menjadi dua, tubuh Souw Kiu terdorong ke depan dan di lain saat dia sudah roboh terguling oleh pukulan tangan kiri Yo Wan yang tepat mengenai pundak kanannya sedangkan pedangnya entah bagaimana sudah berpindah ke tangan pemuda itu!

Souw Kiu bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba dia muntahkan darah merah. Ternyata satu kali pukulan Yo Wan itu sudah mendatangkan luka parah di dalam dadanya. Hal ini tidak mengherankan karena Yo Wan menggunakan pukulan Iweekang dari Sin-eng-cu sebagai timpalan permainan pedangnya tadi.

Tak dapat ditahan lagi, para tosu Hoa-san-pai bertepuk tangan memuji. Setelah ketua mereka berpaling dan memandang tajam, baru mereka berhenti. Biarpun tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang terang-terangan memuji dan berfihak, namun wajah mereka yang berseri menjadi tanda bahwa mereka merasa puas melihat rombongan Sin-tung-kai-pang yang sombong itu diberi hajaran oleh seorang luar yang mengaku sebagai kacung kuda Hoa-san-pai! Baru seorang pelamar kacung kuda saja sudah begini hebat, apalagi orang-orang Hoa-san-pai-nya sendiri! Biarpun tidak secara langsung, pemuda yang luar biasa itu telah mengangkat tinggi derajat dan nama Hoa-san-pai dengan sepak terjangnya menghadapi Sin-tung-kai-pang ini.

Yo Wan sendiri sarna sekali tidak mempunyai pikiran untuk memusuhi Sin-tung-kai-pang. la tahu telah membuat onar kemarin dan hanya untuk menjaga agar nama suhu dan subonya jangan terbawa-bawa, maka dia mempertanggung-jawabkannya sendiri. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau dibunuh tanpa melawan. Giranglah hatinya ketika dia berhasil mengalahkan dua orang lawan. Semangatnya timbul dan dia mulai mengerti, mulai terbuka mata hatinya bahwa kalau dia mau melawan, belum tentu orang-orang kasar ini mampu membunuhnya!

Sementara itu, Sin-tung Lo-kai sampai menjadi pucat mukanya saking marah. la merasa terhina sekali. Dua orang pembantunya yang paling dia andalkan, roboh berturut-turut secara mudah oleh seorang kacung kuda’

“Orang-orang Hoa-san-pai!” bentak-nya sambil mengangkat tongkatnya ke depan dada. “Apakah kalian diamkan saja bocah setan ini menghina kami?”

“Urusanmu dengan anak ini tiada sangkut-pautnya dengan kami, Pangcu,” kata Kui-san-jin dengan suara tenang. Kakek ketua Hoa-san-pai ini sekarang timbul kepercayaannya terhadap Yo Wan. Pantas saja bocah ini hendak membereskan sendiri, kiranya memiliki ilmu kepandaian yang begitu hebat. la tidak mengerti mengapa bocah ini suka menutupi dan melindungi Hoa-san-pai, akan tetapi jalan satu-satunya bagi ketua Hoa-san-pai ini untuk membalas budi hanya membiarkan bocah itu melanjutkan maksud hatinya. Inilah sebabnya maka dia sengaja menjawab seperti itu.

“Hemmm, biarlah kubikin mampus dulu bocah ini, baru kami akan bicara lagi dengan Hoa-san-pal!” Sin-tung Lo-kai berseru marah. “Bocah setan, lekas kau memilih senjata. Aku tidak sudi menyerang lawan tanpa senjata. Kalau kau butuh pedang, orang-orangku bisa memberi pinjam untukmu.”

Yo Wan maklum bahwa lawannya ini tentulah seorang yang pandai. Kemantapan gerakan tongkat itu saja sudah membayangkan tenaga Iweekang yang hebat. la tidak berani memandang ringan, maka dilolosnya cambuk peninggalan pertapa Bhewakala. Cambuk ini hitam warnanya, panjang dan berat, tapi di tangan Yo Wan terasa ringan dan enak. Maklum, selama tiga tahun dia main-main dengan cambuk ini.

“Ketua Sin-tung-kai-pang, sesungguhnya aku tidak suka berkelahi dengan siapapun juga aku tidak ingin mencari perkara dengan siapa juga. Akan tetapi kalau kau nekat hendak membunuhku, tentu saja aku akan berusaha menyelamatkan diri,” jawabnya sambil memegang gagang cambuk dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya membelai-belai ujung cambuk.

“Tak usah cerewet, lihat tongkatku!” Ketua pengemis itu menggerakkan tongkatnya dan berkelebatlah sinar beraneka warna seperti pelangi rnenyilaukan mata. Yo Wan kaget dan bingung seketika ka-rena gerakan tongkat itu hebat serta menyilaukan warnanya. Juga para tokoh Hoa-san-pai menahan napas. Kali ini mereka benar-benar khawatir karena tingkat kepandaian Sin-tung Lo-kai benar-benar tak boleh dipandang ringan. Anak muda remaja ini mana mampu mempertahankan diri?

“Tar-tar-tarrr…..!” Lecutan cambuk bertubi-tubi terdengar nyaring disusul berkelebatnya sinar cambuk yang hitam, bergerak-gerak macam ular naga hitam bermain di angkasa. Yo Wan telah mainkan ilmu cambuknya Ngo-sin-hoan-kun dan ujung cambuk itu melecut-lecut, menyambar-nyambar setelah membentuk lingkaran-lingkaran aneh di udara

Kagetlah semua orang dan Hui Kauw melihat betapa suaranya sambil mengerutkan kening telai mengepal tinjunya, “Bhewakala….. siapa lagi….. tentu Bhewakala…..” terdengar suaminya bersungut-sungut.

Yang paling kaget adalah Sin-tung Lo-kai sendiri. Permainan cambuk lawannya amat hebat, bagaikan gelombang samudera sedang mengamuk. Lingkaran-lingkaran yang bergelombang lima kali itu benar-benar amat dahsyat, menyem-bunyikan ujung cambuk yang kadang-kadang mematuk dan melecut bagaikan petir menyambar. Inilah ilmu cambuk yang amat aneh, yang belum pernah disaksikan Sin-tung Lo-kai selama hidupnya. la mengertak gigi, mengerahkan seluruh kepandaian dan mainkan ilmu tongkatnya untuk menahan gelombang dan petir itu.

Namun Yo Wan tidak mau memberi hati kepadanya. Pemuda ini memilih jurus-jurus serangan dari Ngo-sin-hoan-kun sehingga belum tiga puluh jurus, ketua pengemis itu sudah mundur-mundur dan hanya dapat menangkis dan mengelak ke sana ke mari, tak mampu membalas dan keadaannya repot sekali. Tiba-tiba pengemis tua itu mengeluarkan ben-takan keras dan sinar-sinar hijau menyambar ke arah Yo Wan. Inilah sinar senjata rahasia berupa paku-paku hijau beracun yang disambitkan secara diam-diam, merupakan senjata gelap yang amat berbahaya.

“Curang…..!” seru Hui Kauw, namun dia tahu bahwa dia sendiri tidak mampu menolong karena senjata-senjata gelap itu dilempar dari jarak yang amat dekat, yaitu selagi kedua orang itu bertanding berhadapan.

Yo Wan adalah seorang pemuda yang belum berpengalaman dalam hal bertempur, sungguhpun dia mewarisi ilmu-ilmu yang hebat, namun dia tidak tahu akan adanya akal-akal busuk dari lawan macam Sin-tung Lo-kai. Namun dia seorang yang amat cerdik. Melihat berkelebatnya sinar-sinar hijau dan mendengar seruan subonya, dia cepat menggunakan langkah ajaib. Terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan mainkan langkah-langkah yang dia pelajari dari suhunya karena maklum bahwa benda-benda yang menyambarnya itu amat herbahaya. Benar saja, dengan langkah-langkah ajaib yang dia mainkan, tujuh buah benda kecil kehijauan itu meluncur lewat di samping tubuhnya, tak sebuah pun mengenai diri-nya. Teringat akan bahaya ini, timbul kemarahan Yo Wan. la mencabut anak panah dengan tangah kiri, pecutnya kembali menerjang maju dan dia barengi dengan sambitan anak panah.

Sin-tung Lo-kai tadi terkejut bukan main melihat pemuda aneh itu dapat menghindarkan diri dengan gerakan kaki seperti orang mabuk. Selagi dia kecewa dan kaget, catrihiik lawannya menerjang bagaikan hujan badai. Cepat dia mengangkat tongkat menangkis dan melompat mundur. Tapi tiba-tiba dia berteriak keras dan roboh, anak panah itu menancap pada dadanya sebelah kanan! Baiknya anak panah itu tidak terlalu dalam menembus kulit dada, namun cukup membuat ketua Sin-tung-kai-pang ttu mengerang kesakitan dan tidak mampu bangun kembali. Anak buahnya cepat memberi, pertolongan dan tanpa pamit lagi Sin-tung Lo-kai menyuruh anak buahnya memanggulnya turun gunung! Mereka itu bagaikan serombongan anjing yang di-siram air panas, lari tersaruk-saruk sambil tunduk, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Andaikata mereka memiliki buntut, tentu buntut itu mereka kempit di antara kaki. Kekalahan yang diderita kali ini benar-benar membuat mereka kuncup dan selamanya mereka takkan berani memusuhi Hoa-san-pai. Baru melawan seorang kacung kuda saja, ketua mereka dirobohkan dengan mudah!

Setelah musuh pergi, Yo Wan tak dapat menyembunyikan diri lagi. la menghampiri Kwa Kun Hong dan Kwee Hui Kauw, serta merta dia menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara gemetar penuh keharuan.

“Suhu…..! Subo…..!” la tinggal berlutut, meletakkan mukanya di atas tanah dan meramkan kedua matanya, mulutnya berkata lirih, ” …. teecu datang menyusul…..”

“Wan-ji (anak Wan)! Kenapa baru sekarang kau datang…..?” Hui Kauw berkata, siap merangkul murid itu. Akan tetapi nyonya muda ini menahan kedua tangannya ketika melihat wajah suaminya. Jelas bahwa suaminya kelihatan marah.

“A Wan, apa maksudmu datang seperti ini?”

Yo Wan tak dapat menjawab dan pada saat itu, para tokoh Hoa-san-pa! sudah datang menghampiri. Dengan senyum lebar Kui-san-jin berkata,

“Ah, kiranya murid Kun Hong anak ini? Pantas begini lihai! Ha-ha-ha, benar-benar Sin-tung-kai-pang tidak tahu diri, dan senang sekali hati pinto mengetahui bahwa anak yang memberi hajaran kepada mereka kiranya adalah orang sendiri! Ha-ha-ha!” Para tokoh Hoa-san-pai benar-benar merasa gembira dan bangga. Kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta tentu saja sudah mereka ketahui dengan baik, dan biarpun Pendekar Buta terhitung golongan muda di Hoa-san, namun dialah sebetulnya yang merupakan andalan untuk membikin besar nama Hoa-san-pai. Kelihaian anak muda yang mengusir para tokoh Sin-tung-kai-pang ini merupakan bukti akan kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta. Tentu saja mereka tidak mengerti bahwa Pendekar Buta sendiri berpikir lain pada saat itu. Tidak tahu bahwa Kun Hong amat marah kepada Yo Wan, hanya menahan hatinya karena dia tidak ingin memarahi murid-nya di depan banyak orang.

“A Wan kau ikut aku…..!” kata Kun Hong kepada anak muda itu. Yo Wan mengerti bahwa suhunya marah, maka dengan kepala tunduk dia mengikuti guru-nya masuk ke dalam, diikuti pula oleh Kwee Hui Kauw yang menggandeng tangan Swan Bu. Para toRoh Hoa-san-pai yang masih bergembira itu juga mengun-durkan diri, membiarkan guru dan murid itu menikmati pertemuan tanpa diganggu.

“Nah, sekarang ceritakan tentang sikapmu yang aneh itu, A Wan. Aku ingin mendengar selengkapnya dan sejujurnya. Apa sebabnya kau datang menyusul kami secara sembunyi dan pura-pura menjadi kacung kuda?” tanya Kun Hong suaranya perlahan, akan tetapi Yo Wan maklum bahwa suhunya tak senang hati. Menggigil dia dan cepat-cepat dia berlutut di depan suhunya yang duduk di atas sebuah kursi lain, sedangkan Swan Bu berdiri memandang dengan matanya yang lebar tajam.

Dengan suara lirih Yo Wan lalu menceritakan pengalamannya semenjak suhu dan subonya turun gunung meninggalkannya seorang diri. Tentang niatnya menyusul ke Hoa-san-pai tiga tahun yang lalu dan betapa dia bertemu dengan Sin-eng-cu dan BhewakaJa yang sedang bertanding dan keduanya terluka, betapa kemudian dia menolong mereka dan selama tiga tahun menjadi perantara dalam adu ilmu sampai Sin-eng-cu meninggal dunia karena tua dan Bhewakala kembali ke dunia barat.

“Kemudian teecu menyusul ke Hoa-san, Suhu, dan sungguh tidak teecu kehendaki telah terjadi keributan di sini, dan teecu yang menjadi biang keladinya. Teecu mengaku salah dan siap menerima hukuman apa pun juga dari Suhu dan Subo.”

“Mengapa kemarin kau tidak langsung naik menemui kami, tapi bersembunyi dan menyamar sebagai tukang kuda?” suara Kun Hong masih bengis karena hatinya belum puas.

“Teecu merasa ragu-ragu….. dan takut kalau-kalau Suhu tidak menghendaki kedatangan teecu….. kebetulan teecu bertemu dengan dua orang tosu dan putera Suhu ini….. teecu ditawari pekerjaan tukang kuda, teecu lalu menerimanya, ingin melihat gelagat dulu sebelum teecu berani menghadap Suhu. Celakanya, di tengah jalan seekor di antara tiga kuda yang harus teecu bawa ke puncak, dibunuh pengemis itu. Teecu tidak ingin berkelahi, hanya minta ganti seekor kuda yang hidup, kiranya mereka marah dan menyerang teecu. Akhirnya mereka lari dan meninggalkan dua ekor kuda mereka, terpaksa teecu bawa sekalian ke puncak, dan kuda yang mati teecu kubur di pinggir jalan.”

“Yang mati itu kudaku! Ayah, suruh murid Ayah ini mencarikan pengganti kudaku, dia yang bertanggung jawab karena dia yang membawanya.” Swan Bu berseru nyaring.

“Hushhh, diam kau'” Kun Hong membentak puteranya lalu bertanya, “A Wan. setelah kau tahu rombongan Sin-tung-kai-pang datang kenapa kau pura-pura tidak mengenal kami dan melayani mereka seorang diri mengandalkan ilmu silatmu? Apakah kau hendak pamerkan kepandaian di Hoa-san-pai?”

Yo Wan mengangguk-angguk mencium lantai. “Ah tidak … suhu sama sekali tidak…..” katanya gagap dan takut. “Mana teecu berani begitu kurang ajar pamerkan kepandaian sedangkan teecu tidak bisa apa-apa? Hanya kebetulan saja teecu dapat menang, padahal teecu tidak bermaksud demikian. Setelah mellhat bahwa peristiwa kemarin itu menimbulkan keributan hebat, teecu menjadi takut kalau-kalau Hoa-san-pai terbawa-bawa. Terutama sekali kalau Suhu dan Sute terbawa-bawa oleh gara-gara yang teecu lakukan kemarin. Maka dari itu, teecu sengaja pura-pura tidak ada hubungan dengan Suhu dan Subo, juga dengan Hoa-san-pai. Teecu ingin mempertanggung-jawabkan sendiri, kalau perlu teecu rela mati untuk menebus kesalahan, asal jangan sampai menyeret Hoa-san-pai dan terutama Suhu berdua. Akan tetapi, tentu saja teecu seberapa dapat hendak mempertahankan diri tefhadap pengemis-pengemis yang jahat itu.”

Kun Hong mengangguk-angguk dan pada sepasang mata Hui Kauw tampak dua butir air mata. Nyonya muda itu menjadi terharu sekali melihat murid yang amat setia itu. Diam-diam dia memperhatikan dan menjadi kagum. Muridnya ini sekarang bukanlah seorang anak kecil lagi, melainkan seorang jejaka tanggung yang tampan dan sederhana, pandai merendahkan diri walaupun memiliki kepandaian yang amat tinggi.

“Yo Wan, apakah kehendakmu sekarang?” Kun Hong bertanya, suaranya halus kini.

“Suhu, tidak ada keinginan lain dalam hati teecu semenjak dahulu selain ikut Suhu dan Subo, bekerja untuk Suhu dan mengharapkan belas kasihan berupa pelajaran ilmu silat agar dapat teecu pakai kelak untuk membalas dendam terhadap The Sun.”

Kun Hong menggeleng kepala. “Tidak mungkin, Yo Wan, tidak bisa kau ikut dengan kami di sini…..”

“Suhu, biarlah teecu menjadi tukang kuda, menjadi kacung pelayan, teecu akan bekerja apa saja, biarkan teecu melayani Suhu berdua, dan adik….. adik Swan Bu, asal teecu boleh berdekatan dengan Suhu berdua…..” suara Yo Wan menggetar karena terharu dan khawatir kalau-kalau dia tidak akan diterima oleh suhunya.

“Yo Wan, kau bukan kanak-kanak lagi! Kau sudah dewasa, masa selama hidupmu hanya ingin menjadi kacung saja? Tidak, aku tidak mau menerimamu di sini, sudah ttba waktunya kau hidup sendiri, mengejar ilmu dan pengalaman, mengisi hidupmu dengan perbuatan-perbuatan yang bsfguna bagi orang lain dan bagi dirimu sendiri, Kay tidak boleh tinggal di sini.”

“Suhu, teecu ingin menerima pelajaran ilmu silat dari Suhu…..”

“Tidak bisa, Yo Wan. Ilmu silat dariku tidak boleh dicampur aduk. Kau sudah menerima warisan ilmu sitat yang tinggi dan hebat dari susiok-couwmu dan dari Bhewakala. Hanya belum kauselami inti sarinya dan belum matang saja. Kepandaianmu sudah cukup dan kalau kau menerima pelajaran dariku, salah-salah bisa rusak malah.”

“Suhu, teecu bukan murid kakek Sin-eng-cu, juga bukan murid Bhewakala locianpwe, teecu tidak belajar dari mereka. Apa yang teecu ketahui dari mereka boleh teecu buang mulai saat ini juga dan teecu akan mulai belajar dari suhu.”

Tiba-tiba angin pukulan mendesir dari arah belakang menyerang tengkuk Yo Wan, disusul sinar pedang yang menusuk lambungnya. Otomatis Yo Wan membuang diri, bergulingan dan cambuknya berbunyi nyaring melingkar-lingkar melindungi tubuhnya bagian belakang. Alangkah kagetnya ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya tadi adalah subonya sendiri, Kwee Hui Kauw yang kini sudah duduk kembali sambil menyarungkan pedangnya.

“Suhumu bicara benar, Yo Wan. Ilmu silat kedua orang kakek sakti itu sudah mendarah daging padamu, tak mungkin dibuang begitu saja lalu mulai belajar ilmu silat baru. Akan merusak segala-galanya. Kaulihat sendiri tadi, begitu ada bahaya mengancam, otomatis tubuhmu melakukan gerakan sesuai dengan jurus-jurus kedua orang kakek itu. Ilmu silatmu sudah cukup tinggi, tak perlu belajar lagi dari kami.”

Yo Wan tertegun, lalu menjatuhkan diri berlutut, air matanya bertitik per-lahan. “Suhu dan Subo…… biarkan teecu membalas budi Suhu berdua dengan pelayanan, tidak diberi pelajaran silat juga tidak apa, asal teecu dapat melayani Suhu berdua…..”

Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan terharu, Hui Kauw menghapus dua butir air matanya dengan saputangan.

“Yo Wan, kami mengusirmu bukan karena kami tidak cinta kepadamu. Sama sekali tidak. Semua peristiwa, baik yang terjadi di Liong-thouw-san maupun di sini, bukanlah salahmu. Aku mengusirmu turun gunung sekarang juga bukan dengan maksud tak baik, muridku, melainkan dengan maksud untuk kebaikanmu sendiri. Kau bukan anak murid Hoa-san-pai, juga tak bisa dibilang muridku dan kau sudah dewasa. Kau harus mencari kedudukan dan membuat nama baik di dunia.”

“Apakah Suhu mengira bahwa teecu sudah boleh pergi mencari The Sun dan membalas sakit hati ibu?”

Kun Hong menghela napas panjang. “Dendam….. balas membalas….. tiada habisnya, takkan aman dunia ini selama” nya. Yo Wan, mengapa kau tidak membalas dendam dengan kasih?”

Yo Wan bingung, tidak mengerti apa. yang dimaksudkan suhunya. “Bagaimana, Suhu? The Sun menyebabkan kematian ibu, sudah seharusnya teecu mencarinya dan balas membunuhnya.”

“Ha-ha-ha, anak bodoh. Siapakah The Sun itu yang bisa mendatangkan kematian pada seseorang? la hanya menjadi lantaran, karena memang nyawa ibumu sudah semestinya kembali pada saat itu, sudah dikehendaki oleh Thian Yang Maha Kuasa!”

Yo Wan makin bingung, menoleh kepada subonya. Nyonya muda itu rriaklum bahwa suaminya sedang kambuh, yaitu tenggelam dalam lautan filsafat kebatin-an, maka ia lalu berkata halus, “Yo Wan ingin mendengar apa yang selanjutnya harus dia lakukan. Bicara tentang filsafat yang tidak dimengerti olehnya, membuang waktu sia-sia saja.”

Kun Hong sadar daripada lamunannya, keningnya berkerut. “Yo Wan, jangan kaukira bahwa akan mudah saja menghadapi seorang seperti The Sun. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan kepandaian yang kau warisi dari kedua orang kakek itu masih mentah. Coba kau berdiri dan siap menghadapi seranganku, aku akan mengujimu!”

Yo Wan girang karena ini berarti dia akan mendapat petunjuk. Cepat dia bangkit berdiri, dan secepat kilat Kun Hong sudah menerjang. Yo Wan melihat gurunya memukul dengan gerakan cepat namun pukulan itu amat lambat tampaknya. la tidak berani berlaku sembrono, melihat betapa ilmu pukulan suhunya itu serupa benar dengan Liong-thouw-kun yang dia pelajari dari Sin-eng-cu, cepat dia mengeluarkan jurus-jurus Ngo-sin-hoan-kun dari Bhewakala. Sampai lima jurus dia dapat mengimbangi gurunya, tapi pada jurus ke enam, suhunya melakukan gerakan serangan yang aneh sekali dan….. pundak kirinya terdorong. Dorongan perlahan yang cukup hebat, membuat Yo Wan terpelanting.

“Aduhhh…..” Yo Wan menahan keluhannya. Dorongan itu semestinya tidak menimbulkan rasa nyeri, akan tetapl karena kebetulan yang didorong adalah pundak kiri yang tadi terluka oleh anak panah Swan Bu, terasa perih dan sakit sekali.

“….. ehhhhh, kenapa pundakmu…..?” Kun Hong bertanya kaget, diam-diam dia kagum karena muridnya yang masih mentah ilmunya ini ternyata mampu mempertahankan diri sampai lima jurus!

“….. ti….. tidak apa-apa, Suhu….. ” dorongan Suhu hebat bukan main, teecu rasa biar sampai seratus tahun teecu belajar, tanpa bimbingan Suhu, teecu takkan mampu menjadi seorang ahli…..”

“Hushhh, goblok kau kalau berpikir begitu. Kau hanya kurang matang, itulah. Pundakmu kiri itu….. coba kau mendekat.” Yo Wan mendekat dan Kun Hong meraba. “Eh, terluka senjata? Kapan terjadinya? Dalam pertempuran tadi kau sama sekali tidak terluka, kan?”

“Ayah, luka di pundaknya itu adalah terkena anak panahku!” Swan Bu berkata lantang.

“Ketika tadi dia muncul, kuanggap dia itu mengancau di Hoa-san, maka kupanah dia, kena pundaknya. Tapi dia memiliki ilmu sihir, Ayah, panahku terus menancap di pundaknya ketika dia bertempur tadi, malah ketika melawan Sin-tung Lo-kai, anak panahku itu dia pergunakan untuk melukai lawannya. Apakah itu bukan ilmu hitam?”

“Swan Bu…..! Ah, bagaimana kau menjadi rusak oleh kemanjaan seperti ini? Setan, kau lancang sekali. Hayo lekas minta maaf kepada Yo Wan koko!”

Swan Bu bersungut-sungut. “Aku tidak merasa salah, mengapa minta maaf?”

“Suhu, sudahlah. Adik Swan Bu masih kecil, dan dia memilikl watak gagah perkasa. Kalau tidak mengira bahwa teecu seorang jahat dan musuh Hoa-san-pai, kiranya dia tidak akan melepaskan anak panah. Dia tidak bersalah, Suhu.”

Kun Hong menarik napas panjang. “Yo Wan, setelah kau menerima semua ilmu itu, tak mungkin lagi kau menjadi muridku. Hanya Thian yang tahu betapa kecewa hatiku, karena mencari murid seperti kau, agaknya selama hidupku takkan kutemukan. Sekarang kauingat baik-baik pesanku. Turunlah dari sini dan kaucarilah Bhewakala. Hanya dia yang dapat menyempurnakan dan mematangkan ilmu yang berada padamu, karena selain sebagian ilmu itu dari dia datangnya, juga dalam pertandingan selama tiga tahun itu tentu dia dapat menyelami ilmu dari susiok-couwmu pula. Kau harus matang-kan ilmu yang kaumiliki itu di bawah petunjuk Bhewakala. Nah, setelah kepandaianmu matang, baru kau boleh datang kepadaku lagi untuk bicara tentang The Sun.”

Yo Wan merasa berduka sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Hui Kauw melangkah maju dan memegang kedua pundaknya. Sepasang mata bening subonya itu berair. “Yo Wan, kau tahu betapa besar kasih sayang kami kepadamu. Percayalah, semua pesan Suhumu adalah demi kebaikanmu sendiri. Taati pesannya itu, Yo Wan. Perjalanan mencari pendeta barat itu tentu sukar dan jauh, akan tetapi untuk mencapai sesuatu, makin jauh dan makin sukar makin baik. Terimalah ini untuk bekal di perjalanan.” Hui Kauw meloloskan pedang dari pinggangnya, memberikan pedangnya itu ke-pada Yo Wan, kemudian dia menyerahkan pula sekantung uang emas.

Bukan main terharunya hati Yo Wan. Ingin dia menangis menggerung-gerung oleh kasih sayang yang besar, yang dilimpahkan mereka kepadanya. Akan tetapi dia maklum bahwa suhunya tidak suka akan sikap cengeng macam ini, maka dia menekan perasaannya, lalu berpamit. Takut kalau-kalau air matanya bercucuran, setelah mendapat ijin dia lalu melangkah ke luar dengan langkah lebar, lalu berlari-larian secepatnya meninggalkan tempat itu agar tidak ada orang melihat betapa air matanya bercucuran di sepanjang jalan.

Akan tetapi sepasang suami isteri yang sakti itu tahu akan hal ini. Hui Kauw terisak menangis. “Dia anak baik…..” katanya.

“Sebaliknya anak kita yang akan rusak kalau terus-terusan mendapat kemanjaan yang luar biasa di sini. Hui Kauw, kita harus pergi dari sini, kembali ke Liong thouw-san, sekarang juga.”

Bukan main girangnya hati Hui Kauw mendengar ini. Memang inilah yang menjadi idam-idaman hatinya, namun tadinya Kun Hong menaruh keberatan karena dia ingin membiarkan puteranya hidup bahagia, dekat saudara-saudara di Hoa-san-pai yang amat mencinta anak itu. Siapa tahu, terlalu banyak cinta kasih yang dilimpahkan membuat anak itu tidak pernah dan tidak mau tahu akan kesukaran, membuatnya manja dan selalu ingin dituruti kehendaknya karena semenjak kecil tak pernah ada yang menolak keingmannya.

Perjalanan yang dilakukan Yo Wan amatlah sukar dan jauh. la mentaati pesan Kun Hong, juga dia teringat akan pesan Bhewakala bahwa pendeta itu selalu menanti kedatangannya di Anapurna, yaitu sebuah puncak di Pegunungar Himalaya. Perjalanan yang amat jauh dan membutuhkan ketekadan yang bulat serta keuletan yang tahan uji. Baiknya dia membawa bekal sekantung uang emas pemberian Hui Kauw, kalau tidak, tentu akan lambat perjalanannya kalau dia harus berhenti-henti untuk bekerja sekedar mencari pengisi perut. Kini dia dapat melakukan perjalanan dengan lancar, terus ke barat, hanya mau berhenti kalau kemalarhan di jalan atau kalau sudah amat lelah.

Melakukan perjalanan ke timur atau ke selatan jauh lebih cepat daripada perjalanan ke barat atau ke utara. Hal ini adalah karena semua sungai mengalir ke selatan atau ke timur, dan pada masa itu, di waktu perjalanan darat amatlah sukarnya, jalan satu-satunya yang paling cepat adalah perjalanan melalui air.

Namun Yo Wan adalah seorang pemuda yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Larinya cepat seperti kijang dan setiap kali melalui hutan atau gunung yang sukar, dia masih dapat berlari cepat. Juga sebagai seorang pemuda yang berpakaian sederhana, tidak membawa apa-apa, dia terbebas daripada gangguan para perampok yang hanya memperhatikan orang-orang yang membawa barang barang berharga.

Setelah tiba di Pegunungan Himalaya, barulah pemuda itu mengalami kesukaran hebat. Beberapa kali hampir saja dia celaka ketika perjalanannya sampai di bagian yang tertutup salju. Dinginnya hampir tak tertahankan lagi. Pernah ada gunung es longsor, gugur dan kalau dia tidak cepat melompat ke dalam jurang dan berlindung, tentu dia akan terkubur hidup-hidup dalam salju.

Kurang lebih sebulan dia melalui perjalanan yang amat sukar dan, sunyi ini. Hanya kadang-kadang dia berjumpa ,kelompok pengembara atau singgah di gubuk pertama. Di tempat seperti ini, uang tidak ada artinya lagi, tidak dapat menolong seseorang daripada kesengsaraan. Hanya sikap yang baik dapat menolongnya, karena pertolongan datang dari orang-orangyang tidak terbeli oleh harta, melainkan oleh keramahan.

Dari para pertapa inilah Yo Wan akhirnya sampai juga di Anapurna, tempat pertapaan Bhewakala. Pendeta Itu amat girang melihat kedatangan Yo Wan yang berlutut di depannya dan menceritakan semua pengalamannya di Hoa-san.

“Ha-ha-ha, Pendekar Buta memang hebat dan dia cukup menghargai orang lain maka dia menyuruh kau datang ke sini, muridku. Memang dia betul, biarpun ilmu-ilmu yang pernah kaulatih dan aku dan Sin-eng-cu telah mendarah daging pada tubuhmu, namun masih mentah karena kau belum dapat menyelami inti sarinya. Nah, mulai hari ini kau belajarlah baik-baik muridku.”

Ternyata Bhewakala tidak hanya menggembleng Yo Wan dalam ilmu silat untuk menyempurnakan ilmunya, akan tetapi juga memberi gemblengan-gemblengan ilmu batin kepada Yo Wan. Makin lama makin betah pemuda ini tinggal di Himalaya, makin meresap ke dalam hatinya. Pelajaran kebatinan dan biarpun dia masih buta huruf karena tidak pernah mempelajarinya, namun kini mata hatinya sudah terbuka dan dapatlah dia meneropong ke dalam penghidupan manusia. Mengertilah dia kini akan ucapan Kun Hong tentang dendam dan balas-membalas, dan makin lama makin tipislah keinginan hatinya untuk mencari The Sun dan membunuhnya. Lenyap pula hasratnya untuk merantau di dunia ramai karena di samping gurunya, di tempat yang sunyi dan dingin ini, dia telah menemukan ketenteraman hidup, kebahagiaan sejati manusia yang tidak digoda kehendak nafsu, sedikit demi sedikit melepaskan diri daripada lingkaran karma.

Waktu berjalan pesat seperti anak panah terlepas daripada busurnya, Sembilan tahun lamanya Yo Wan berada di Himalaya dan pada suatu hari Bhewakala yang sudah tua itu jatuh sakit. Pendcta ini maklum bahwa waktu hidupnya sudah tiba pada saat terakhir. la tidak ingin muridnya yang terkasih itu menyia-nyia-kan hidup sebagai pertapa selagi masih begitu muda. Dipanggilnya Yo Wan dan dengan suara lirih dan napas tinggal satu-satu pendeta inl meninggalkar pesan.

“Yo Wan, saat bagiku untuk meninggalkan dunia sudah hampir tiba. Aku girang dengan peristiwa ini, karena se-lain berarti kebebasanku, juga kau akan terlepas daripada ikatanmu dengan aku. Ilmu yang kaumiliki sudah cukup untuk bekal hidup. Bertahun-tahun kau tetap menolak perintahku untuk turun gunung dan merantau, dengan alasan ingin melayani aku yang sudah tua sebagai pembalas budi. Kau masih terikat oleh budi, tentu tak mudah melepaskan diri daripada ikatan dendam. Akan tetapi kau sudah masak sekarang, matang lahir batin. Pesanku terakhir ini harus kautaati, Yo Wan. Apabila aku meninggal dunia, kau harus bakar jenazahku di pondok ini, bakar semua yahg berada di sini. Kemudian kau harus tinggalkan tempat ini, kembali ke timur.”

“Tapi…… Guru

“Tidak ada tapi, kau sebagai seorang anak tidak boleh menjadi anak yang puthouw (tidak berbakti). Ada kuburan ayahmu, ada kuburan ibumu di sana, siapa yang akan merawatnya? Pula, kau bukan ditakdirkan hidup menjadi pertapa. Kau harus turun gunung, kembali ke dunia ramai, mencari jodoh, mempunyai turunan seperti manusia-manusia lain. Soal The Sun, terserah kebijaksanaanmu sendiri.”

“Ah, Guru…..”

Bhewakala tersenyum lebar. “Biarkan dirimu menjadi permainan hidup, men-jadi permainan kekuasan Tuhan, karena untuk itulah kau diberi hak hidup disertai kewajiban-kewajibannya. Kalau kau meng-ingkari pesanku ini, selamanya kau takkan dapat tenteram, karena kau tentu tidak akan suka mengecewakan aku.”

Yo Wan tak dapat membantah lagi karena dia maklum bahwa apa yang dikatakan gurunya itu betul belaka. la tidak mungkin mau mengecewakan orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya, sungguhpun masa depan di dunia ramai tidak menarik hatinya, bahkan menggelisahkan.

Pada malam harinya, Bhewakala menghembuskan napas terakhir di depan Yo Wan. Pemuda yang sekarang sudah berusia dua puluh lima tahun lebih hu menyambut kematian ini dengan wajar, tidak menangis, biarpun ada juga penyesalan akibat daripada perpisahan dengan orang yang disegani dan dihormati. la melaksanakan pesan gurunya itu dengan baik-baik, membakar jenazah berikut pondok dan segala benda yang berada di situ. Tiga hari tiga malam dia berkabung di tempat yang sudah menjadi gundul dan kosong itu, kemudian mulailah dia turun gunung, pagi-pagi berangkat ke arah munculnya matahari yang kemerah-merahan. Bergidik dia melihat keindahan ini, karena dia merasa seakan-akan dia sedang berjalan menuju ke api neraka yang merah, dahsyat dan akan menelannya!

* * *

Kita tinggalkan dulu Yo Wan yang sedang turun dari Pegunungan Himalaya, memulai perjalanannya yang amat sunyi dan jauh serta sukar untuk mulai dengan perantauannya, dan mariJah kita kembali mengikuti perjalanan Siu Bi, gadis lincah dan berhati tabah itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Siu Bi, puteri tunggal The Sun, meninggalkan Go-bi-san dengan hati sakit. Setelah ia mengetahui bahwa la bukan puteri The Sun, bukan keturunan keluarga The, simpatinya tertumpah kepada mendiang Hek Lojin yang telah terbunuh oleh The Sun. Ia merasa menyesal dan kecewa. Kiranya ia bukan puterii The Sun. Siapakah orang tuanya? Apakah ia bukan anak ibunya pula? Mengingat ini, menangislah Siu Bi di sepanjang jalan.Ia amat mencinta ibunya, dan sekarang ia pergi tanpa pamit. Biarpun orang yang selama ini mengaku ayahnya telah mengecewakan hatinya dengan memukul mati Hek Lojin dan dengan kenyataan bahwa orang itu bukan ayahnya yang sejati, namun ibunya tak pernah melukai hatinya. Ibunya selalu sayang kepadanya sehingga andaikata ia bukan ibunya yang sejati, Sui Bi tetap akan mencintanya

Betapapun juga, Siu Bi dapat menguasai perasaannya dan melakukan perjalanan dengan tabah. Tujuannya hanya satu, yaitu mencari dan membalas dendam kepada Kwa Kun Hong! la akan inenantang Pendekar Buta itu sebagai wakil Hek Lojin dan berusaha sedapatnya untuk membuntungi sebelah lengan Pendekar Buta, juga lengan isterinya dan anak-anaknya. la sudah bersumpah di dalam hati kepada kong-kongnya, Hek Lojin. la merasa yakin akan dapat melakukan tugas ini. Setelah mewarisi Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang, ia merasa dirinya cukup kuat dan tidak gentar menghadapl lawan yang bagaimanapun juga. Ingat akan hal ini, Siu Bi menjadi bersemangat dan di bawah sebatang pohon besar ia berhenti lalu berlatih dengan kedua ilmu silat itu. Memang hebat sekali ilmunya ini. Pedangnya, hanya sebatang pedang biasa saja, berubah menjadi gulungan sinar putih yang naik turun menyambar-nyambar, di antara awan menghitam yang merupakan uap dari pukulan-pukulan Hek-in-kang. Ketika ia berhenti berlatih sejam kemudian, di bawah pohon sudah penuh daun-daun pohon yang terbabat putus tangkainya oleh sinar pedangnya dan yang rontok oleh hawa pukulan Hek-in-kang! Siu Bi berdlri tegak, kepalanya tunduk memandangi daun-daun itu dengan hati puas. Pendekar Buta, pikirnya, lenganmu dan lengan-lengan anak isterimu akan putus seperti daun-daun ini!

Sebagai seorang gadis remaja yang baru berusia tujuh belas tahun lebih, Siu Bi melakukan perjalanan yang amat jauh dan sulit. Go-bi-san merupakan pegunungan yang luas dan jalan menuruni pegunungan ini sama sukarnya dwgan jalan pendakiannya. Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi Siu Bi tidak menemui kesukaran. Tubuhnya bergerak lincah dan ringan, kadang-kadang dia harus melompat jurang. Dengan ginkangnya yang tinggi ia dapat melompat bagaikan terbang saja, tubuhnya ringan meluncur di atas jurang, dilihat dari jauh tiada ubahnya seorang dewi dari kahyangan yang terbang melayang turun ke dunia. Pakaiannya yang terbuat daripada sutera halus berwarna merah muda, biru dan kuning itu berkibar-kibar tertiup angin ketika ia melompat. Ronce-ronce pedang yang tergantung di punggungnya menambah kecantikan dan kegagahannya.

Berpekan-pekan Siu Bi keluar masuk hutan, naik turun gunung, melalui banyak dusun-dusun di kaki gunung dan rnelalui beberapa kota pegunungan. Setiap kali dia bertemu orang, tentu dia menjadi pusat perhatian. Apalagi kaum pria, melihat seorang gadis remaja demikian cantik jelitanya, memandang penuh kekaguman. Namun tiada orang berani mengganggu, karena tidak hanya pedang di punggung Siu Bi yang membuktikan bahwa gadis remaja jelita itu seorang ahli silat, akan tetapi juga Siu Bi tidak menyembunyikan gerak-geriknya yang lincah dan ringan, sehingga setiap orang tahu bahwa dia adalah seorang pendekar wanita muda yang tidak boleh dibuat main-main!

Pada suatu hari sampailah ia di kota Pau-ling di tepi Sungai Huang-ho, setelah melakukan perjalanan sebulan lebih ke selatan.

Sebetulnya Pau-ling tidak patut disebut kota, melainkan sebuah dusun yang menghasilkan banyak padi dan gandum. Tanah di lembah Sungai Huang-ho ini amat subur sehingga pertanian banyak maju, hasilnya berlimpah-limpah. Karena letaknya dekat dengan sungai besar, maka dusun ini makin lama makin ramai dengan perdagangan melalui sungai. Hasil-hasil sawah ladang diangkut melalui, sungai dengan perahu-perahu besar.

Ketika Siu Bi lewat di pelabuhan sungai, ia melihat banyak orang mengangkat padi dan gandum berkarung-karung ke atas perahu-perahu besar. Orang-orang ini bekerja dengan wajah muram, tubuh mereka kurus-kurus dan pakaian mereka penuh tambalan. Beberapa orang yang memegang cambuk dan berpakaian sebagai mandor, membentak-bentak dan ada kalanya mengayun cambuk ke punggung seorang pengangkut yang kurang cepat kerjanya. Ada lima enam orang mandor yang galak-galak, dan melihat Siu Bi lewat, mereka tertawa-tawa dan memandang dengan mata kurang ajar. Ada yang bersiul-siul dan menuding-nuding ke arah Siu Bi.

Panas hati Siu Bi. Namun ia menahan sabar, karena ia tidak mau kalau perjalanannya tertunda hanya karena ada beberapa orang laki-laki yang memperlihatkan kekaguman terhadap kecantikannya secara kurang ajar. la mempercepat langkahnya dan sebentar saja ia sudah tiba di luar dusun Pau-ling.

Akan tetapi kembali di luar dusun, di kanan kiri jalan di mana sawah ladang membentang luas, ia disuguhi pemandangan yang amat menyolok mata. Belasan orang laki-laki yang keadaannya miskin dan kurus seperti para kuli angkut karung gandum dan padi tadi, bekerja di sawah, menuai gandum. Belasan orang wanita juga bekerja. Mereka bekerja dengan penuh semangat, akan tetapi jelas bukan semangat yang mengandung kegembiraan, melainkan semangat karena ketakutan. Beberapa orang mandor menjaga mereka dengan cambuk di tangart pula. Di sana-sini terdengar cambuk berbunyi ketika melecut punggung, diiringi jerit kesakitan.

Siu Bi berdiri terpaku. Hatinya mulai panas. Akan tetapi ia kiranya tidak akan sembarangan mau mencampuri urusan orang kalau saja tidak melihat kejadian yang membuat wajahnya yang jelita menjadi kemerahan saking marahnya. la melihat betapa seorang wanita setengah tua yang tampaknya sakit, roboh terpelanting setelah menerlma cambukan pada punggungnya. Seorang gadis yang usianya sebaya dengan dia menjerit dar menubruk wanita itu, menangisi ibunya yang sudah pingsan. Dua orang mandor cepat menghampiri mereka, yang seorang sekali sambar telah mengangkat tubuh gadis itu dan….. menciuminya sambil terkekeh-kekeh dan berkata,

“Ha-ha-ha, jangan mau besar kepala setelah terpakai oleh majikan! Lain hari kau tentu akan diberikan kepadah . Ha-ha-ha!”

Adapun mandor ke dua dengan marahnya menghajar wanita setengah tua itu dengan cambuk, memaki-maki, “Anjing betina! Siapa suruh kau pura-pura mampus di sini? Hayo berdiri dan bekerja, kalau tidak kucambuki sampai hancur badanmu!”

Siu Bi tak dapat menahan kesabarannya lagi. “Keparat jahanam, lepaskan mereka!” Bagaikan seekor burung walet cepat dan ringannya, tubuh Siu Bi sudah melayang dekat orang yang menciumi gadis tani, sekali kakinya bergerak menendang terdengar suara “bukkk!” dan mandor yang galak dan ceriwis itu terlempar sampai empat meter lebih dan jatuh terbanting ke dalam lumpur. Hanya beberapa detik selisihnya, tahu-tahu terdengar suara “ngekkk!” ketika orang ke dua yang mencambuki wanita setengah tua itu terlempar pula oleh tendangan Siu Bi, hampir menimpa kawannya yang baru merangkak-rangkak bangun.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: