Jaka Lola ~ Jilid 6

Semua pekerja serentak menghentikan pekerjaan mereka, berdiri terpaku,. Muka mereka pucat dan hampir saja mereka tidak percaya apa yang mereka lihat tadi. Seperti dalam mimpi saja. Siapakah orangnya berani melawan para mandor? Kiranya hanya seorang gadis yang cantik jelita, seorang gadis remaja.

“Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwa” Im) menolong kita…..” bisik seorang laki-laki tua dan serentak mereka menjatuhkan diri berlutut menghadapi Siu Bi Pada masa itu, kepercayaan orang-orang, terutama orang-orang dusun, tentang kesaktian Dewi Kwan Im yang sering kali muncul atau menjelma untuk membersihkan kekeruhan dunia dan menolong orang-orang sengsara, masih amat tebal. Dewi Kwan Im, terkenal sebagai Dewi Welas Asih, dewi lambang kasih sayang dan pe-nolong yang juga terkenal amat cantik jelita. Kini melihat seorang dara jelita berani melawan dua orang mandor, dan sekali tendang dapat membuat dua orang mandor galak itu terpelanting dan roboh, otomatis mereka menganggap bahwa Dewi Kwan Im yang menolong mereka.

Akan tetapi dua orang mandor itu tidak berpendapat dermkian. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang kasar, yang tahu akan wanita-wanita pandai ilmu silat seperti Siu Bi. Mereka malu dan marah sekali, akan tetapi untuk beberapa menit mereka tak berdaya karena ketika terbanting tadi, muka mereka mencium lumpur sehingga sibuk mereka membersihkan lumpur dari mata, hidung, dan mulut, meludah-ludah dan menyumpah-nyumpah.

Empat orang kawan mereka sudah datang berlari, diikuti para pekerja yang ingin melihat apa yang terjadi di situ. Para pekerja ketika melihat teman-temannya berlutut menghadapi Siu Bi dan melihat dua orang mandor merangkak dengan muka penuh lumpur seperti monyet, segera mengerti atau dapat menduga duduknya perkara. Tanpa banyak komentar lagi mereka segera menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada Dewi Kwan Im yang menjelma sebagai gadis cantik dan sedang menolong mereka itu!

Empat orang mandor tadinya masih belum menduga apa yang terjadi, akan tetapi dua orang mandor yang merangkak di lumpur itu segera berkaok-kaok, “Tangkap gadis setan itu, berikan padaku nanti”

Mendengar ini, empat orang mandor lari menghampiri Siu Bi. Seorang di antara mereka yang berkumis tikus membentak, “Bocah, siapa kau dan apa yang kaulakukan dl sini?”

“Apa yang kalian lakukan, bukan apa yang aku lakukan, yang menjadi persoalan,” suara Siu Bi merdu dan nyaring sehingga para pekerja miskin itu makin percaya bahwa dara ini, tentulah penjelmaan Kwan Im Pouwsat! “Kalian berenam ini manusia ataukah binatang-binatang buas, menekan orang-orang miskin ini, mencambuki mereka, menghina wanitanya. Yang kulakukan tadi hanya menendang dua orang kawanmu itu sebagai pelajaran. Kalau kalian serupa dengan mereka, kalian berempat pun akan kuberi tendangan seorang sekali.”

Dapat dibayangkan, betapa marahnya empat orang itu. Mereka adalah mandor-mandor jagoan alias tukang-tukang pukul dari Bhong-loya (tuan tua she Bhong) yang menjadi lurah dan manusia paling kaya di Pau-ling. Semua sawah ladang adalah milik Bhong-loya, semua perahu ! besar adalah milik Bhong-loya. Siapa berani menentang Bhong-loya yang mempunyai pengaruh besar pula di kota raja? Para pembesar dari kota raja adalah teman-temannya, para buaya darat adalah kaki tangannya, dan para mandor adalah bekas-bekas jagoan dan perannpok yang memiliki kepandaian. Kini anak perempuan yang masih hijau iru berani memandang rendah mereka?

“Bocah setan, kau harus diseret ke depan Bhong-loya dan ditelanjangi, terus dipecut seratus kali sampai kau menjerit-jerit minta ampun, baru tahu rasa” bentak seorang di antara mereka. Akan tetapi baru saja tertutup mulutnya, tubuhnya sudah terlempar ke dalam lumpur oleh sebuah tehdangan kaki kiri Siu Bi!

Gerakan Siu Bi tadi cepat bukan main, tendangannya hanya tampak perlahan saja akan tetapi akibatnya terlihat oleh semua orang. Tubuh si tukang pukul yang tinggi besar itu melayang bagaikan sehelai daun kering tertiup angin. Tiga mandor yang lain dengan marah menerkam maju. Mereka tidak menggunakan aturan perkelahian lagi, karena di samping kemarahan mereka, juga mereka kagum dan tergila-gila akan kecantikjelitaan yang jarang bandingannya di kota Pau-ling. Maka mereka berusaha meringkus dan memeluk gadis galak itu untuk memuaskan kemarahan dan kegairahan mereka.

“Brukkk!” tiga orang itu mengaduh karena mereka saling tabrak dan saling adu kepala. Dalam kegemasan tadi, mereka menubruk berbareng, seperti tiga ekor kucing menubruk tikus. Tapi ang ditubruk hilang, yang menubruk saling beradu kepala. Siu Bi tidak mau bertindak kepalang tanggung. Dengan gerakan yang cepat sekali kedua kakinya menendang dan di lain saat tiga orang tukang pukul itu juga sudah terpelanting masuk ke dalam lumpur di sawah.

“Lopek, mengapa mereka itu amat kejam terhadap kalian?” Siu Bi bertanya kepada seorang petani tua yang berlutut paling dekat di depannya, sama sekali ia tidak peduli lagi pada enam orang mandor yang kini sibuk berusaha membuka mata yang kemasukan lumpur.

“Pouwsat (Dewi) yang mulia…… kami adalah petani-petani dusun yang sengsara dan miskin….. tolonglah kami, karena sekarang sekedar untuk dapat makan kami telah diperas dan ditekan oleh Bhong-loya….. mereka itu adalah tukang-tukang pukul Bhong-loya…..”

“Tan-pek, kenapa kau begitu lancang mulut…..?” tegur seorang petani di belakangnya yang nampak ketakutan sekali. “Apa kau tidak takut akan akibatnya kalau Pouwsat sudah kembali ke kahyangan?”

Siu Bi menahan senyum geli hatinya mendengar bahwa ia disebut Pouwsat. Dianggap Kwan Im! Mengapa tidak? Kwan Im Pouwsat adalah seorang dewi yang penuh kasih terhadap manusia. Kata kong-kongnya, dunia kang-ouw banyak orang-orang pandai yang rnempunyai nama julukan. Dia telah mewarisi kepandaian tinggi, sudah sepatutnya mempunyai nama julukan pula. Kwan Im? Nama julukan yang baik sekali.

“Jangan takut. Aku akan membela kalian dan memberi hajaran kepada mereka yang jahat. Apakah mandor-mandor ini jahat terhadap kalian?”

“Jahat?” Petani tua yang disebut Tan-lopek oleh temannya tadi mengulang kata-kata ini, mukanya memperlihatkan bayangan kemarahan yang memuncak. “Mereka itu lebih jahat daripada Bhong-loya sendiri! Mereka itu seperti serigala-serigala kelaparan, entah berapa banyak dl antara kami yang mereka bunuh, mereka aniaya menjadi manusia-manusia cacad dan selanjutnya hidup sebagai jembel.”

Makin panas hati Siu Bi. Orang-orang jahat yang suka menganiaya dan mem-bunuh orang patut dihukum, pikirnya. Ketika ia membalikkan tubuh ke arah enam orang mandor itu, ternyata rnereka sudah bangkit dari lumpur, berhasil mencuci muka dengan air sawah, lalu kini mereka melangkah lebar sambil mencabut pedang. Dengan sikap mengancann mereka menghampiri Siu Bi, pedang di tangan, nafsu membunuh tampak pada mata mereka yang merah.

“Setan betina. Berani kau main gila dengan para ngohouw (tukang pukul) dari Bhong-loya? Bersiaplah untuk mampus dengan tubuh tercincang hancur!” teriak si kumis tikus sambil menerjang lebih dulu dengan ayunan pedangnya.

Melihat gerakan mereka, Siu Bi memandang rendah. Mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan kekuasaan saja, sama sekali tidak memiliki ilmu kepandaian yang berarti. Oleh karena ini ia merasa tak perlu harus menggunakan pedangnya. Tanpa mencabut pedang, ia menghadapi serangan si kumis tikus. Dengan ringan ia miringkan tubuh, tangan kirinya menyambar. Pada waktu itu, tangan kiri Siu Bi telah terlatih dan penuh terisi hawa Hek-in-kang. Ada bayangan sinar hitam berkelebat ketika tangan kirinya bergerak. Tahu-tahu si kumis tikus berteriak keras dan terpelanting roboh, pedang di tangan kanannya sudah berpindah ke tangan Siu Bi. Cepat bagaikan kilat menyambar, pedang itu membabat ke bawah dan buntunglah tangan kanan si kumis tikus itu sebatas siku. Orangnya menjerit dan pingsan!

Lima orang kawannya segera menerjang dengan marah. Namun kali ini Siu Bi tidak inau memberi ampun lagi. Pedang rampasan di tangannya berkelebatan dan lenyap bentuknya sebagai pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Jerit susul-menyusul dan dalam beberapa jurus saja, lima orang itu sudah kehilangan lengan kanan mereka sebatas siku. Agaknya, teringat akan janjinya kepada kakeknya, Hek Lojin, gadis ini kalau marah terdorong oleh nafsu membuntungi lengan orang, terutama orang-orang jahat, seperti enam orang mandor inl, seperti Pendekar Buta Kwa Kun Hong dan anak isterinya!

Dengan tenang Siu Bi membalikkan tubuh menghadapi para petani yang masih berlutut dan yang kini semua pucat wajahnya karena ngeri menyaksikan peristiwa pembuntungan enam orang mandor itu. Di dalam hati mereka puas karena ada “Sang Dewi” yang membalaskan dendam mereka terhadap mandor-mandor yang kejam itu, akan tetapi mereka juga amat takut akan akibatnya. Alangkah akan marahnya Bhong-loya, pikir mereka.

“Para paman dan bibi, jangan kalian takut. Sekarang mari antarkan aku ke rumah orang she Bhong yang sewenang-wenang itu, jangan takut, aku akan menanggung semua perkara ini, kalian hanya mengantar dan menonton saja.”

Mula-mula para petani itu ketakutan. Mendatangi rumah Bhong-loya? Sama dengan mencari penyakit, mencari celaka. Akan tetapi petani tua itu bangkit berdiri. “Mari, Pouwsat, saya antarkan. Biar aku akan dipukul sampai mati, aku sudah puas melihat ada yang berani membela kami dan memberi hajaran kepada manu-sia-manusia berwatak binatang itu.”

Melihat semangat, empek tua ini banyak pula yang ikut bangkit. Akan tetapi hanya beberapa belas orang saja dan semua laki-laki. Yang lain-lain tetap berlutut tak berani mengangkat muka. Akan tetapi bukan maksud Siu Bi untuk mengajak banyak orang, karena yang ia kehendaki hanya petunjuk jalan agar ia tidak usah mencari-cari di mana rumah manusia she Bhong itu.

Dengan wajah membayangkan perasaan geram dan nekat, belasan orang laki-laki yang sebagian besar bertelanjang kaki dan berpakaian penuh tambalan itu mengantar Siu Bi menuju ke dalam dusun. Rombongan ini tentu saja menarik perhatian banyak orang, apalagi ketika mereka mendengar dari para pengiring Siu Bi tentang perbuatan gadis jelita itu membuntungi lengan enam orang mandor di sawah. Gempar seketika keadaan dusun Pau-ling, lebih-lebih ketika para petani miskin itu menyatakan. tanpa keraguan bahwa dara jelita yang mereka iringkan ini adalah penjelmaan Kwan Im Pouwsat! Segera banyak orang ikut meng-iringkan walaupun dari jarak agak jauh sebagai penonton karena mereka tidak ingin menimbulkan kemarahan Bhong-loya, maka tidak menggabungkan diri dengan rombongan petani itu, melainkan sebagai rombongan penonton.

Gedung besar yang menjadi tempat tinggal Bhong-loya memang amat besar dan amat menyolok kalau dibandingkan dengan kemelaratan di sekelilingnya. Bhong-loya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, menjadi lurah di dusun itu sudah bertahun-tahun. Karena korupsi besar-besaran dan penghisapan atas tenaga murah para tani yang sebagian besar dahulunya merupakan pelarian daripada banjir besar Sungai Huang-ho, maka dia menjadi kayaraya. Betapapun juga, harus diakui bahwa Bhong-loya (tuan tua Bhong) yang sebenarnya bernama Bhong Ciat itu tidaklah seganas dan sekeji orang-orangnya. Bukan menjadi rahasia lagi bahwasannya anjing-anjing peliharaan penjaga rumah jauh lebih galak dan ganas daripada majikannya. Para petugas rendahan merupakan serigala-serigala buas yang selalu mengganggu rakyat miskin, tentu saja dengan bersandar kepada kekuasaan dan pengaruh Bhong Ciat. Ransum untuk para pekerja kasar yang sudah ditentukan oleh Bhong Ciat, hanya sebagian kecil saja sampai di tangan para pekerja itu. Upah pun demikian pula, dicatut, dipotong, dikurangi banyak tangan-tangan kotor sebelum sisanya yang tidak berapa itu masuk ke kantong para pekerja. Celakanya, Bhong Ciat sudah terlalu mabuk akan kesenangan dan kemuliaan, sama sekali tidak memperhatikan keadaan rakyatnya, sama sekali tidak tahu bahwa orang-orangnya melakukan tekanan yang amat kuat dikiranya bahwa semua berjalan lancar dan licin, dan dia merasa bahagia di dalam rumah gedungnya, setiap hari menikmati makanan lezat dilayani oleh selir-selir muda dan cantik.

Lebih celaka lagi bagi para penduduk miskin di Pau-ling, lurah Bhong itu mempunyai seorang anak laki-laki, bukan anak sendiri melainkan anak pungut karena Bhong Ciat tidak mempunyai keturunan sendiri, seorang anak laki-laki yang sudah dewasa bernama Bhong Lan. Pemuda inilah yang membuat keadaan menjadi makin berat bagi para penduduk karena Bhong Lam merupakan pemuda yang selalu mengumbar nafsu-nafsu buruknya. Tidak ada seorang pun wanita yang muda dan cantik di dusun itu yang dapat hidup aman. Tidak peduli anak orang, isteri orang, siapa saja asal gadis itu termasuk keluarga miskin, pasti akan dicengkeramnya. Untuk maksud-maksud keji ini, Bhong Lam tidak segan-segan menghambur-hamburkan uang ayah angkatnya. Setiap hari dia berpesta-pora kadang-kadang kalau sudah bosan di dusun lalu pergi pesiar ke kota-kota lain diikuti rombongan tukang pukulnya dan di kota. Inilah dia menghamburkan uang dan main gila.

Bhong Lam tidak hanya ditakuti karena dia putera angkat Bhong-loya, akan tetapi juga karena dia merupakan seorang pemuda yang lihai ilmu silatnya. la pernah belajar ilmu silat pada seorang hwesio Siauw-lim perantauan, dan terutama sekali permainan toyanya amat kuat dan semua tukang pukul keluarga Bhong tidak seorang pun dapat mengalahkannya. Agaknya kepandaian inilah yang membuat Bhong Lam makin bertingkah, merasa seakan-akan dia sudah menjadi seorang pangeran!

Sebagai keluarga yang paling berkuasa di Pau-ling, tentu saja banyak kaki tangannya. Banyak pula petani-petani miskin yang berbatin rendah sehingga suka menjadi penjilat. Oleh karena itu, peristiwa di sawah tadi sudah pula sampai kabarnya di rumah gedung Bhong Ciat sebelum rombongan yahg mengiringkan Siu Bi tiba di situ. Ada saya petani mis-kin yang lari lebih dulu dan dengan mak-sud menjilat mencari muka, melaporkan kepada Bhong-loya. Pada saat itu, kebetulan sekali Bhong Lam juga berada di rumah. Mendengar tentang peristiwa itu marahlah pemuda ini. Cepat dia me-nyambar toyanya dan menyatakan kepada ayah angkatnya bahwa orang tua itu tidak perlu khawatir karena dia sendiri yang akan memberi hajaran kepada “dewi palsu” itu. Dengan geram Bhong Lam melompat dan lari keluar dari dalam ge-dung ketika mendengar suara ribut-ribut di luar gedung karena rombongan petani itu memang sudah tiba di sana.

Kemarahan Bhong Lam memuncak. Akan dia bunuh wanita jahat itu dan semua petani yang mengiringkannya. Tak seorang pun akan diberi ampun karena hal ini perlu untuk menakuti hati para petani agar tidak memberontak lagi.

“Setan betina, berani kau main gila….?” Bhong Lam melompat keluar sambil menudingkan telunjuknya. Akan tetapi tiba-tiba dia berdiri terpaku dan biarpun telunjuk kirinya masih menuding dan toyanya dipegang di tangan erat-erat, namun matanya terbelalak mulutnya ternganga. la melongo tak dapat nnengeluarkan suara memandang wajah Siu Bi bagaikan terpesona dan kehilangan semangat. Sungguh mati dia tidak mengira sama sekali bahwa wanita yang telah membuntungi lengan enam orang mandornya itu adalah dara secantik bidadari. Pantas saja. disebut-sebut sebagai Dewi Kwan Im! Belum pernah selama hidupnya dia melihat dara secantik ini, kecuali dalam alam mimpi dan dalam gambar. Lebih suka dia rasanya untuk maju berlutut dan menyatakan cinta kasihnya daripada harus menghadapi dara ini sebagai lawan yang harus dibunuhnya. Dibunuh? Wah, sayang Lebih baik ditangkap dan….. ah, belum pernah dia mendapatkan seorang dara pendekar. Alangkah baiknya kalau dia berjodoh dengan gadis yang pandai ilmu silat pula seperti dia! Senyum lebar menghias wajahnya yang tampan juga dan kini mulutnya dapat bergerak.

“Nona….. eh, kau siapakah dan….. eh, kudengar kau bertengkar dengan orang-orang kami? Kalau mereka. berbuat salah terhadap Nona, jangan khawatir, aku yang akan menegur dan menghukum mereka!”

Kalau saja Siu Bi dalam perjalanan ke rumah keluarga Bhong itu tidak mendengar penuturan petani tua tentang keadaan Bhong Ciat dan putera angkatnya, Bhong Lam, tentu ia akan tercengang dan heran menyaksikan sikap dan mendengar omongan pemuda ini. Karena ia sudah mendengar bahwa pemuda yang menjadi putera angkat keluarga Bhong, seorang ahli main toya, adalah pemuda yang paling jahat dan yang mata kerajang, maka sikap Bhong Lam sekarang ini baginya merupakan sikap ceriwis, bukan sikap ramah tamah. Berkerut aiisnya yang kecil panjang ketika Siu Bi menodongkan pedang rampasannya sambitt bertanya,

“Kaukah yang bernama Bhong Lam?”

“Aduh mati aku….” Bhong Lam bersambat dalam batinnya mendengar suara yang merdu itu. Bertanya dengan nada marah saja sudah begitu merdu, apalagi kalau suara itu dipergunakan untuk merayunya.

“Hayo jawab!” Siu Bi tak saba” lagl melihat pemuda itu memandangnya tak berkedip.

Bhong Lam sadar dan tersenyum dibuat-buat. “Betul, Nona. Silakan Nona masuk.” Pada para petani itu Bhong Lam berseru, “Kalian pergilah, kembali ke sawah. Tidak ada urusan apa-apa di sini. Nona ini adalah tamu agung kami, kesalahfahaman di sawah tadi habis sampai di sini saja.”

“Siapa sudi mendengar omongan manismu yang beracun?” Siu Bi membentak. “Kau seorang yang amat jahat, mengandalkan kedudukan orang tua, mengandalkan harta benda dan kekuasaan untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Orang macam engkau ini tidak ada harganya diberi hidup lebih lanna lagi.” Memang Siu Bi amat marah dan benci kepada pemuda ini setelah tadi ia mendengar penuturan para petani betapa pemuda ini telah menghabiskan semua gadis muda dan cantik di dusun itu, merampasi isteri orang sehingga banyak timbul hal-hal yang mengerikan, banyak di antara wanita-wanita itu membunuh diri. Sekarang melihat sikap pemuda ini yang ceriwis, matanya yang berminyak itu menatap wajahnya dengan lahap, kemarahannya memuncak.

“Nona, antara kita tidak ada permusuhan. Aku mengundang Nona menjadi tamu…..”

“Jahanam perusak wanita! Tak usah berkedok bulu domba karena aku sudah tahu bahwa kau adalah seekor serigala yang busuk dan jahat!”

Bhong Lam adalah seorang pemuda yang selalu dihormat dan ditakuti orang. Selama hidupnya, baru sekali ini dia dimaki-maki dan dihina. Biarpun dia tergila-gila akan kecantikan Siu Bi, namun darah mudahnya bergolak ketika dia dimaki-maki seperti itu. Mukanya menjadi merah sekali, apalagi melihat betapa para petani itu masih belum mau pergi, memandang kepadanya dengan mata penuh kebencian.

“Keparat, kau benar-benar lancang mulut, tidak bisa menerima penghormat-an orang. Kaukira aku takut kepadamu? Kalau belum dihajar, belum tahu rasa kau, dan biarlah aku memaksamu tunduk kepadaku dengan jalan kekerasaan!” Setelah berkata demikian, Bhong Lam menerjang maju sambil memutar toyanya.

Dengan senyum mengejek Siu Bi berkelebat, menghindarkan terjangan toya dan balas menyerang. la mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini memang jauh lebih tinggi daripada para mandor dan tukang pukul yang tiada gunanya tadi, namun baginya, pemuda inipun rherupakan lawan yang empuk saja. Pada saat itu, terdengar suara berisik dan para tukang pukul berdatangan ke tempat itu sambil membawa senjata. Tukang-tukang pukul keluarga Bhong ada dua puluh orang jumlahnya, kini mendengar berita bahwa gedung majikan mereka didatangi seorang wanita yang mengamuk, tergesa-gesa mereka lari mendatangi. Ketika mendengar bahwa ada enam orang teman mereka yang dibuntungi lengannya, mereka itu marah sekali. Apalagi ketika melihat betapa Bhong-siauw-ya (tuan muda Bhong) mereka sekarang sedang bertempur melawan wanita itu dan berada dalam keadaan terdesak, kemarahan mereka memuncak dan tanpa diberi komando lagi, empat belas orang tukang pukul itu serentak maju mengeroyok.
Siu Bi tadi sudah mendengar keterangan para petani bahwa lurah itu mempunyai dua puluh orang tukang pukul, maka melihat serbuan ini, maklumlah ia bahwa mereka semua sudah lengkap berkumpul di situ. Memang inilah yang ia kehendaki, maka tadi ia tidak lekas-lekas merobohkan Bhong Lam, yaitu hendak memancing datangnya semua tukang pukul, baru ia hendak turun tangan.

“Para paman, lihatlah aku membalaskan dendam kalian!” terdengar bentakan merdu dan nyaring di antara hujan senjata itu. Para petani sudah gelisah sekali dan menggigil, maka mereka menjadi girang mendengar suara ini.

Seiring dengan bentakan merdu dan nyaring itu, lenyaplah tubuh Siu Bi, berubah menjadi bayangan berkelebat dibungkus sinar kehitaman. Pedang Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang digunakan oleh gadls itu, dan akibatnya mengerikan se-kali. Jerit dan tangis terdengar susul-menyusul. Tubuh para tukang pukul roboh bergelimpangan satu demi satu dengan cara yang cepat sekali. Paling akhir Bhong Lam yang tadinya mainkan toya dengan ganas itu pun roboh tersungkur tak dapat berkutik lagi. Tidak sampai seperempat jam lamanya, empat belas orang tukang pukul itu roboh semua dengan lengan kanan terbabat putus sedangkan Bhong Lam sendiri roboh tak berkutik, darah mengucur dari dadanya yang sudah tertembus pedang. Mandi darah dan hujan rintihan memenuhi halaman itu. Para petani yang tadinya menonton dengan jantung berdebar, kini tidak be-rani memandang lagi. Mereka adalah korban-korban kekejaman dan sering kali mereka itu disiksa, akan tetapi menyak-sikan ini membuat mereka menggigil dan tidak berani memandang lagi. Mereka memang menaruh dendam dan ingin sekali menyaksikan penyiksa-penyiksa’ mereka itu terbalas dan terhukum, namun apa yang dilakukan oleh “Dewi Kwan Im” ini benar-benar amat menyeramkan. Empat belas orang dan enam orang mandor di sawah, dibuntungi lengannya sedangkan Bhong-kongcu tewas. Semua tukang pukul merihtih-rintih memegangi lengan kanan yang buntung dengan tangan kiri, bingung melihat darahnya sendiri mengucur se-perti pancuran.

Siu Bi seperti seekor harimau betina mencium darah. Dengan sikap beringas karena mengira bahwa akan datang antek-antek keluarga Bhong, ia menantang, “Hayo, kalau masih ada binatang-binatang keji penindas orang-orang miskin, majulah dan inilah lawanmu, aku Cui-beng Kwan Im!”

Seorang laki-laki setengah tua, Bhong-loya sendiri, yaitu lurah Bhong Ciat, diiringi isterinya, berlari tersaruk-saruk keluar gedung dan menangislah kedua suanm isteri ini setelah melihat putera tunggal mereka menggeletak mandj darah tak bernyawa lagi.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan datanglah serombongan orang berkuda. Melihat pakaian mereka, terang bahwa mereka adalah perajurit-perajurit istana, berjumlah dua puluh empat orang, dikepalai oleh seorang muda yang amat gagah dan tampan.

“Minggir! Bun-enghiong (pendekar Bun) datang…..!” teriak orang-orang yang tadinya berkumpul memenuhi tempat itu, menonton kejadian yang hebat di depan gedung lurah Bhong.

Pemuda tampan itu memberi tanda dengan tangan menyufuh barisannya berhenti. Dia sendiri melompat turun dan atas kudanya dan lari memasuki pekarangan. Alisnya yang tebal itu bergerak-gerak, matanya terbelalak heran menyaksikan empat belas orang tukang pukul merintih-rintih dengan lengan buntung serta Bhong-kongcu tewas ditangisi ayah bundanya.

Adapun Bhong Ciat, ketika mendengar seruan orang-orang dan melihat pemuda gagah itu, segera menangis sambil menyambut dan berlutut di depan pemuda itu.

“Aduh, Bun-enghiong….. tolonglah kami….. malapetaka telah menimpa keluarga kami, anak kami tewas….. orang-orang karpi buntung semua lengan me-reka….. penasaran….. penasaran…..’.”

“Paman Bhong, siapa yang melakukan perbuatan keji itu?” Si pemuda tampan bertanya, pandang matanya mencari-cari.

“Aku yang melakukan!” tiba-tiba terdengar bentakan halus.

Pemuda itu cepat memandang dan dia melongo. Sinar matanya yang tajam itu jelas tidak percaya, dan sampai lama dia memandang Siu Bi. Kemudian dia tersenyum, sama sekali tidak mau percaya ketika dia berkata,

“Nona, harap kau jangan main-main dalam urusan yang begini hebat. Lebih baik Nona tolong memberi tahu siapa mereka yang telah melakukan pengamukan seperti ini.”

“Siapa main-main? Huh, memberi hajaran kepada anjing-anjing ini saja apa sih sukarnya? Biar ada sepuluh kali mereka banyaknya, semua akan kurobohkan!” Siu Bi menyombong, pedangnya digerakkan melintang di depan dada, gerakan yang amat indah dan gagah.
Berubah wajah pemuda tampan itu, sinar matanya menyinarkan kekerasan dan kekagetan.

“Nona siapakah?”

“Huh, baru bertemu tanya-tanya nama segala, mau apa sih? Kau sendiri siapa, lagaknya kaya pembesar, datang-datang main urus persoalan orang lain!”

Pemuda itu memberi hormat sambil menjura, bibirnya tersenyum dan matanya untuk sedetik menyinarkan kegembiraan. “Nona, ketahuilah, aku yang rendah bernama Bun Hui. Bolehkah sekarang aku tahu, siapa Nona?”

“Aku Cui-beng Kwan Im!” jawab Siu Bi berlagak, mengedikkan kepala membusungkan dada dan pandang matanya menantang, memandang rendah, sungguhpun diam-diam dia kagum melihat pemuda yang tampan dan gagah ini,

Bun Hui tercengang. la tahu bahwa nona itu menggunakan nama samaran, atau nama julukan. Julukan yang hebat. Memang cantik jelita seperti Kwan Im, dan ganas seperti setan pengejar nyawa! la mengingat-ingat. Sudah banyak dia mengenal tokoh-tokoh dunia kang-ouw, lebih banyak lagi yang sudah dia dengar namanya, namun belum pernah dia mendengar nama julukan Cui-beng Kwan Im! Apalagi kalau yang punya nama itu seorang dara jelita seperti ini!

Sementara itu, petani tua yang tadi mempelopori kawan-kawannya kini mendekati Siu Bi dan berbisik, “Pouwsat (dewi), dia itu adalah Bun-enghiong, putera Bun-goanswe (Jenderal Bun) yang amat berkuasa di kota raja dan terkenal sebagai keluarga yang amat adil dan.ditakuti pembesar macam Bhong-loya.”

Siu Bi mengangguk-angguk, akan tetapi hatinya mendongkol. Jadi pemuda ini putera pembesar tinggi yang ditakuti semua orang? Hemmm, dia tidak takut!

“Eh, orang she Bun, kiranya kau putera pembesar yang katanya adil? Huh, siapa sudi percaya? Kalau kau atau ayahmu benar adil, tentu tidak akan membiarkan para penduduk miskin dusun ini ditekan dan dicekik oleh lurah Bhong dan kaki tangannya. Karena kau dan ayahmu, biarpun merupakan pembesar-pembesar tinggi, tidak becus memberi hajaran kepada bawahanmu macam anjing-anjing ini, maka aku yang turun tangan memberi hajaran. Sekarang kau mau apa?’ Mau membela mereka? Boleh! Aku tidak takut!”

Bun Hui terheran-heran dan diam-diarn dia amat kagum di samping ke-marahannya akan kesombongan dara ini. Ia menoleh ke arah Bhong Ciat yang masih berlutut, lalu bertanya, “Betulkah apa yang dikatakan Nona ini, paman Bhong?”

Bhong Ciat adalah seorang yang pandai mengambit hati, karena kekayaannya dia pandai bermuka-muka sehingga banyak pembesar di kota raja dapat dikelabuhi, mengira dia seorang baik dan pandai mengurus kewajibannya. Tadinya Bun Hui juga mendapat kesan baik akan diri lurah ini, maka hari itu dia hendak membelokkan tugas kelilingnya ke dusun Pau-ling.

“Bohong, Bun-enghiong, Nona itu mengatakan fitnah!” Bhong Ciat cepat membantah. “Siapa yang menindas orang? Harap tanyakan saja kepada para saudara petani.”

Akan tetapi belum juga Bun Hui melakukan pertanyaan, para petani itu serempak berteriak-teriak, “Memang betul ucapan Pouwsat! Bertahun-tahun kami ditindas dan hidup sengsara di bawah telapak kaki Bhong-kongcu dan kaki tangannya yang kejam! Bhong-loya tidak tahu apa-apa, enak-enak saja di dalam gedung tidak peduli, akan keganasan puteranya, selalu berfihak kepada putera-nya!” Biarpun orang-orang itu bicara tidak karuan dan saling susul-menyusul, namun isi teriakan-teriakan itu adalah cukup bagi Bun Hui. la kini menghadapi Siu Bi kembali, yang masih berdiri tegak menantang.

“Nah, apakah kau masih hendak me-mihak lurah yang bejat moralnya ini? Boleh, aku tetap berfihak kepada mereka yang tertindas!”

“Sabar, Nona. Aku tidak berfihak kepada siapa-siapa, melainkan berfihak kepada hukum. Ketahuilah, oleh yang mulia kaisar, ayahku diberi tugas untuk meneliti dan mengawasi sepak-terjang para petugas negara. Sekarang, sebagai wakil ayah, aku menghadapi peristiwa ini. Bukanlah kewajibanku untuk mengambil keputusan di sini, khawatir kalau-kalau aku terpengaruh oleh salah satu fihak dan dianggap tidak adil. Oleh karena itu, aku persilakan Nona suka ikut bersamaku, juga paman Bhong, dan beberapa orang saudara tani sebagai saksi. Beranikah Nona menghadapi pemeriksaan pengadilan yang berwenang?”

Biarpun masih muda, baru dua puluh lewat usianya, Bun Hui memiliki kecerdikan yang berhubungan dengan tugasnya mewakili ayahnya. Oleh kecerdikannya ini dia dapat menghadapi Siu Bi. la dapat menyelami watak dara lincah yang tidak mungkin mau mengalah itu, maka sengaja dia menantang apakah Siu Bi berani menghadapi pemeriksaan pengadilan. Benar saja dugaannya, dengan mata berapa gadis itu membentaknya,

“Mengapa tidak berani? Hayo, biar malaikat sendiri datang mengadili, aku tidak takut karena aku membela keadilan!” serunya.

“Bagus sekali!” Bun Hui berseru girang, “Nona betul gagah perkasa. Banyak orang kang-ouw yang tidak mau tahu akan pemeriksaan pengadilan negara, seakan-akan mereka itu tidak bernegara, dan tidak mengenal hukum. Mereka suka menjadi hakim sendiri menurut kehendak hati, sehingga terjadilah balas-membalas dan permusuhan di mana-mana.”

Siu Bi mengerutkan keningnya. Ini tidak menyenangkan hatinya, karena ia sendiri menganggap dirinya seorang tokoh kang-ouw pula, biarpun belum ternarna. “Karena mereka itu tidak berani!” seru-nya, ingin menang.

“Memang, karena nnereka itu tidak berani, dan Nona tentu saja berani menghadapi apa saja.”

“Tentu aku berani, takut apa? Kalau aku tidak bersalah, siapapun juga akan kulawan dan kuhadapi dengan pedangku!”

Bun Hui tersenyum dan segera memberi perintah kepada anak buahnya untuk menyiapkan kuda. la sendiri lalu memberikan kudanya kepada Siu Bi. “Mari, Nona, kita berangkat.” Kepada para petani yang tidak ikut menjadi saksi, dia berkata, “Paman sekalian harap rawat mereka yang terluka. Mulai saat ini di dusun Pau-ling tidak boleh terjadi keributan, tidak boleh ada yang menggunakan kekerasan. Kalau terjadi sesuatu penasaran, harap lapor kepadaku.”

Berangkatlah rombongan itu. Siu Bi naik kuda di samping Bun Hui, di depan barisan. Lurah Bhong dan enam orang petani saksi berada di tengah rombongan. Para penduduk Pau-ling mengantar rombongan itu dengan pandangan mata mereka. Banyak yang berlinang air mata karena girang, terharu dan juga khawatir akan keselamatan Siu Bi. Nama Cui-beng Kwan Im akan tetap terukir di sanubari para petani miskin di Pau-ling karena sesungguhnya, semenjak Siu Bi turun tangan, penderitaan mereka lenyap, setelah di dusun itu diperintah oleh se-orang lurah baru yang adil sehingga tidak ada lagi terjadi pemerasan dan penindas-an di situ.

Tak seorang pun tahu bahwa semua peristiwa semenjak Siu Bi dikeroyok tadi, dilihat oleh sepasang mata yang amat tajam, yang tadi memandang kagum, kemudian memandang khawatir ketika melihat gadis itu ikut pergi bersama rombongan Bun Hui. Tanpa diketahui siapa-siapa, pemilik sepasang mata ini diam-diam mengikuti rombongan. Hebatnya, biarpun rombongan itu berkuda, dia dapat berlari cepat dan tetap mengikuti di belakang rombongan. Dia seorang laki-laki muda, kurang dari tiga puluh tahun, pakaiannya sederhana, sikapnya halus dan pendiam. Siapa lagi kalau bukan Si Jaka Lola, Yo Wan!

Seperti kita ketahui, Yo Wan meninggalkan Pegunungan Himalaya, menuju ke timur dalam perantauannya. Timbul pikirannya untuk mengunjungi Hoa-san. Ketika dia mengenangkan peristiwa di Hoa-san beberapa tahun yang lalu, dia menyesalkan akan sikapnya sendiri yang telah mendatangkan gara-gara di sana. la tidak perlu merasa takut, karena maksud kedatangannya sekarang hanya ingin mengunjungi suhu dan subonya, untuk memberi hormat dan melihat keadaan kedua orang tua itu. Gembira juga hatinya kalau memikirkan bahwa tentu sekarang Swan Bu, anak yang dahulu amat manja itu, sekarang sudah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah. Tampan dan gagah, tak salah lagi. Dahulu di waktu kecil saja sudah memperlihatkan ketampanan dan kegagahan. la akan merasa bangga melihat adik seperguruan ini.

Pada hari itu, secara kebetulan sekali dia tiba di dusun Pau-ling dan mendengar ribut-ribut. Ketika dia memasuki dusun, tepat dilihatnya seorang gadis remaja dikeroyok banyak orang. la tidak tahu akan persoalannya, maka ditanyakannya kepada seorang petani di antara banyak penonton itu. Dan apa yang didengarnya benar-benar membuatnya kagum luar biasa. Gadis itu, yang berjuluk Cui-beng Kwan Im, ternyata membela para petani miskin yang ditindas lurah, dan sekarang dikeroyok oleh tukang pukul-tukang pukui yang biasanya menyiksa penghidupan para petani miskin. la kagum, akan tetapi juga khawatir kalau-kalau gadis pendekar itu akan celaka di tangan para tukang pukul yang galak. Akan tetapi, alangkah kagumnya menyaksikan sepak-terjang gadis itu, sepak-terjang yang amat ganas dengan ilmu pedang serta ilmu pukulan yang dahsyat dan ganas pula. Uap hitam yang keluar dari tangan kiri gadis itu! Terang merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun, dan ilmu pedang yang juga bersinar hitam, semua ini membuktikan bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian dari golongan hitarr, Akan tetapi harus diakui bahwa kepandaian gadis itu benar-benar luar biasa!

Munculnya pemuda bernama Bun Hui mengagumkan hatinya, juga gerak-gerik pemuda itu mendatangkan rasa suka di hatinya. Sekali pandang saja Yo Wan dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan, langkah kakinya yang mantap, gerak-geriknya yang ringan, terang menjadi tanda seorang ahli silat tinggi. Maka diam-diam dia mentertawai gadis itu yang amat tinggi hati. Kau terlalu memandang rendah pemuda ini, pikirnya. Betapapun juga, dia mengkhawatirkan gadis perkasa yang agaknya masih hijau ini, dan diam-diam dia mengikuti dari jauh.

Gembira juga hati Siu Bi, kegembiraan yang timbul karena kebanggaan, ketika rombongan memasuki kota Tai-goan, sebuah kota besar di sebelah barat kota raja, rombongan itu menjadi tontonan banyak orang. Dan terutama sekali, dirinya yang menjadi pusat perhatian para penonton. Dengan lagak angkuh ia duduk di atas kudanya yang berendeng dengan kuda Bun Hui. Di sepajang jalan tadi, ia tidak mempedulikan pemuda ini, juga Bun Hui tidak satu kalipun bicara dengan Siu Bi. Biarpun di dalam hatinya Bun Hui amat kagum dan tertarik oleh gadis ini, .namun dia adalah seorang pemuda gagah yang menjunjung tinggi kesopanan, maka dia menahan perasaannya dan tidak mau mengajak bicara Siu Bi di depan orang banyak. Namun tidak sedetik pun per-hatiannya beralih dari diri gadis di sampingnya. la heran sekali bagaimana seorang gadis semuda dan sejelita ini bisa bersikap demikian ganas, dan diam-diam dia menduga-duga murid siapakah gerangan gadis ini, siapa pula namanya. Ingin dla segera tiba di kota raja agar dalam pemeriksaan dla akan dapat men-dengar riwayat dara yang telah menjatuhbangunkan hatinya itu.

Siapakah sebetulnya pemuda ini? Para pembaca cerita Pendekar Buta tentu telah mengenal ayah pemuda ini yang bukan lain adalah Bun Wan, putera tunggal dari ketua Kun-lun-pai! Di dalam cerita Pendekar Buta telah dituturkan bahwa Bun Wan menikah dengan seorang gadis lihai puteri majikan Pulau Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau) yang bernama Giam Hui Siang. Kemudian, karena jasanya dalam perjuangan membantu Raja Muda Yung Lo yang mengalahkan keponakannya sendlri, setelah Yung Lo mengganti kedudukan sebagai kaisar dan memindahkan ibu kota dari selatan ke utara, Bun Wan diberi kedudukan tinggi sesuai dengan jasanya, malah pernah menjabat sebagai seorang jenderal.

Dari perkawinannya dengan Giam Hui Siang, dia memperoleh seorang putera yang diberi nama Hui. Kemudian, melihat watak Jenderal Bun yang amat jujur keras dan adil, oleh kaisar Jenderal Bun diangkat menjadi pengawas dan pemeriksa semua alat negara. Kekuasaannya amat tinggi sehingga dengan pedang kekuasaannya yang diberikan oleh kaisar, Jenderal Bun berkuasa memeriksa semua petugas, dari yang terendah sampai yang paling tinggi. Inilah yang menyebabkan dia ditakuti dan disegani oleh para menteri sekalipun, karena jenderal ini ter-kenal sebagai seorang yang berdisiplin, keras dan adil, tak mungkin disuap dan tidak mengenar ampun pada para pembesar yang korup. Di samping keseganan, tentu saja Jenderal Bun ini mendapatkan banyak sekali musuh yang membencinya secara diam-diam. Tapi siapakah orangnya berani menentangnya secara berterang? Jenderal Bun selain lihai ilmu silatnya, memiliki perajurit-perajurit pilihan, disayang dan dipercaya kaisar, di samping ini, masih ada Kun-lun-pai sebagai partai persilatan besar yang se-ratus prosen berdiri di belakangnya!

Jenderal Bun adalah seorang ahli silat Kun-lun-pai yang memiliki kepandaian tinggi, juga Giam Hui Siang isterinya adalah seorang , ahli silat tinggi yang mewarisi kepandaian Ching-toanio majikan Pulau Ching-coa-to. Tentu saja sebagai putera Bun Hui semenjak kecil digem-bleng ayah bundanya sendiri sehingga memilikl kepandaian yang hebat. Pemuda ini mewarisi watak ayahnya, keras, jujur dan adil. Oleh karena inilah maka dia dipercaya oleh ayahnya dan sering kali dia mewakili ayahnya yang sibuk dengan pekerjaan di Tai-goan, untuk mengadakan pemeriksaan di wilayah yang dikuasakan oleh kaisar.

Pada hari itu, Bun-goanswe (Jenderal Bun) yang sedang sibuk di kamar kerjanya, menjadi terheran-heran melihat puteranya pulang bersama seorang gadis cantik jelita yang sikapnya angkuh dan gagah, diiringkan pula oleh lurah Bhong dari dusun Pau-ling dan beberapa orang petani miskin. Lurah Bhong dan para petani segera menjatuhkan diri berlutut di depan meja jenderal itu, akan tetapi Siu Bi tentu saja tidak sudi berlutut, malah berdiri tegak dan memandang laki-laki tinggi besar yang duduk di belakang meja. la melihat seorang laki-laki yang gagah, berusia sepantar ayahnya, pakaian-nya seperti seorang pangllma perang matanya sebelah kanan buta, akan tetapi hal ini malah menambah keangkerannya. Mau tidak mau Siu Bi menaruh segan dan hormat kepada orang tua ini, maka ia diam saja, hanya memandang.

Sejenak Bun-goanswe menatap wajah Siu Bi, maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw yang tinggi hati dan merasa dirinya paling pandai, maka dia tersenyum di dalam hati dan tidak menjadi kurang senang melihat gadis remaja itu tidak memberi hormat kepadanya. Dengan tenang dia mendengar-kan penuturan Bun Hui tentang keributan di dusun Pau-ling. Mata yang tinggal sebelah itu bersinar marah dan alisnya yang tebal hitam berkerut. Segera dia menoleh ke arah lurah Bhong yang masih berlutut tanpa berani mengangkat mukanya.

“Lurah Bhong, betulkah pendengaranku bahwa kau tidak memperlakukan penduduk desamu dengan adil, melakukan tindakan sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu?”

“Mohon ampun, Taijin….. hamba….. hamba tidak merasa melakukan perbuatan sewenang-wenang. Ham….. hamba sudah tua….. jarang bekerja di luar….. semua urusan hamba serahkan kepada petugass petugas hamba…..”

“Hemmm, sudah keenakan lalu bermalas-malasan dan bersenang di dalam gedung saja, ya? Melalaikan kewajiban, tidak peduli akan keadaan penduduk, bersikap masa bodoh asal kau sendiri senang? Begitukah sikap seorang kepala kampung? Tentang keributan antara anakmu dan orang-orangmu dengan Nona ini, bagaimana?”

“Hamba tidak jelas….. hanya gadis liar ini datang menyerang, membunuh anak hamba….. melukai semua petugas, membuntungi lengan mereka, tak seorang pun selamat. Hamba….. hamba monon Taijin sudi menghukum gadis liar ini, dia jahat!”

Bun-goanswe menoleh ke arah Siu Bi, sinar matanya penuh selidik. la tak senang juga mendengar gadis ini telah membunuh orang dan membuntungi lengan dua puluh orang lebih. Sungguh ganas! Akan tetapi Siu Bi menentang pandang matanya dengan berani, berkedip pun tidak. Sepasang mata yang amat tajam dan penuh ketabahan dan kekerasan hati. Seorang gadis berbahaya, apalagi kalau berkepandaian tinggi.

“Nona, kau siapakah?”

“Orang-orang dusun menyebutku Kwan Im Pouwsat, akan tetapi aku lebih senang memakai nama Cui-beng Kwan-im,” jawab Siu Bi, suaranya merdu dan lantang.

Bun-goanswe tak dapat menahan senyumnya, senyum maklum dan setengah mengejek. la pernah muda, pernah dia melihat gadis-gadis kang-ouw seperti ini di waktu mudanya. Malah isterinya sendiri, dahulu lebih ganas daripada gadis ini!

“Namamu siapa? Siapa orang tuamu dan siapa pula gurumu?”

Siu Bi mengerutkan kening. Untuk apa tanya-tanya orang tua ini, pikirnya. Akan tetapi ia tidak berani menjawab secara kurang ajar, hanya menjawab sewajarnya, “Tentang orang tuaku, kiranya tidak perlu disebut-sebut di sini. Namaku Siu Bi, dan tentang guruku….. hemmm, mendiang guruku berjuluk Hek Lojin.”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bun-goanswe mendengar nama ini. Di dalam cerita Pendekar Buta telah diceritakan betapa dia dan isterinya pernah bertemu dengan Hek Lojin dan terluka hebat, mungkin binasa kalau tidak ditolong oleh Kwan Kun Hong Si Pendekar Buta! Hek Lojin adalah seorang kakek iblis, yang dulu pernah hampir membunuh dia dan isterinya, dan sekarang muridnya, gadis ini yang tentu juga seorang gadis iblis pula, berdiri di depannya’ Kalau saja Bun-goanswe bukan seorang tua yang sudah matang pengalamannya, berwatak adil dan pandai menyembunyikan perasaan, tentu dia sudah melompat untuk menerjang murid bekas musuhnya ini. la menekan perasaannya dan mengangguk-angguk.

“Kenapa kau membunuh putera lurah Bhong dan membuntungi lengan banyak orang?” tanyanya, sikapnya tetap tenang akan tetapi suaranya sekarang tidak sehalus tadi, terdengar agak ketus sehingga Bun Hui yang mengenal watak ayahnya, nnengangkat muka memandang.
Siu Bi mengedikkan kepalanya, mengangkat kedua pundak, gerakan yang membayangkan bahwa ia tidak peduli. “Harap ,kau orang tua suka tanya saja kepada para petani ini bagaimana duduknya per-kara sebenarnya. Kalau benar seperti yang kudengar dari paman tani bahwa kau seorang pembesar yang adil, tentu kau akan menghukum lurah brengsek ini, kalau tidak, akulah yang akan turun tangan memberi hajaran kepadanya!” Siu Bi mengerling kepada lurah Bhong dengan pandang mata jijik.

Merah muka Bun-goanswe. Seorang bocah bicara seperti itu di depan banyak orang, benar-benar hal ini amat merendahkannya. Akan tetapi dia bertanya, “Dengan cara apa kau hendak menghajarnya?”

Siu Bu menepuk gagang pedangnya. “Dengan ini!, Mungkin akan kulepaskan kedua daun telinganya yang terlalu lebar itu.

Menggigil tubuh lurah Bhong mendengar ini, bahkan kedua telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci saking rigeri hatiriya. Bun Hui yang otomatis, melirik ke arah telinga lurah itu, menahan geli hatinya.

Bun-goanswe lalu bertanya kepada para petani. Mereka ini serta-merta, sambil berlutut dan menempelkan jidat pada lantai, menceritakan penderitaan mereka sedusun, tentang perbuatan sewenang-wenang dari Bhong-kongcu dan para kaki tangannya, tentang perampasar» wanita, perampasan sawah ladang, pemerasan dan tentang upah yang tidak cukup mereka makan sendiri.

Kemarahan Bun-goanswe membuat mukanya makin merah lagi. Ada seorang lurah macam ini di dalam wilayah yang dikuasakan kepadanya, benar-benar amat memalukan!

“Hemmm, urusan ini harus kuselidiki sendiri di Pau-ling. Kalau betul lurah ini sewenang-wenang, akan kuhukum dan kuganti. Sebaliknya, pembunuhan dan penganiayaan berat sampai membuntungi lengan dua puluh orang, bukanlah hal kecil seakan-akan di sini tidak ada hukum yang berlaku lagi. Perkara ini diputuskan besok setetah aku meninjau ke sana. Nona, kau harus ditahan semalam ini, serahkan pedangmu kepadaku. Tidak ada tahanan yang boleh membawa pedang atau senjata lain.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: