Jaka Lola ~ Jilid 9

Perjalanan dilangsungkan melalui darat. Dua orang itu dengan mudah mendapatkan tiga ekor kuda dari kawan-kawan mereka yang memang banyak terdapat di sekitar daerah itu, merajalela dan boleh dibilang menguasai keadaan di sebelah selatan dan barat dan kota raja.

Akhirnya mereka menyeberang telaga dan mendarat di Pulau Ching-coa-to di tengah telaga. Pulau ini sekarang berubah keadaannya jika dibandingkan belasan tahun yang lalu. Setelah Ang-hwa-pai berdiri dan pulau ini dijadikan pusat, pulau ini dibangun dan dari jauh saja sudah tampak bangunan-bangunar yang besar dan megah. Taman bunga yang dahulu menjadi kebanggaan Ching-toanio dan puteri-puterinya, terpelihara baik-baik, malah dilengkapi pondok-pondok mungil karena tempat ini terkenal sebagai tempat Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam bersenang-senang.

Siu Bi merasa heran dan kagum juga setelah ia dibawa mendarat dari perahu yang menyeberangi telaga. Pulau itu benar indah, juga megah. Apalagi ketika mereka mendarat di pulau, mereka disambut oleh sepasukan penjaga yang berpakaian lengkap, seragam dan bersikap gagah. Di dada kiri mereka tampak sebuah lencana, yaitu sulaman berbentuk bunga merah.

Si rambut putih yang agaknya memiliki kedudukan lumayan di pulau ini, segera menyuruh seorang penjaga lari melapor kepada pai-cu (ketua) dan kong-cu (tuan muda). Penjaga itu berlari cepat. Siu Bi digiring berjalan memasuki pulau dengan perlahan, diiringkan sepasukan penjaga dan diapit oleh kedua orang penawannya.

Tak lama kemudian rombongan ini berhenti dan dari depan tampak serombongan orang berjalan datang dengan cepat. Siu Bi membelalakkan mata, memandang penuh perhatian. la melihat barisan wanita-wanita muda cantik yang gagah sikapnya, memegang pedang telanjang di tangan, berjalan dengan teratur di kanan kiri. Di tengah-tengah tampak berjalan dua orang. Yang seorang adalah wanita tua yang berkulit hitam dan pakaiannya biarpun terdiri dari sutera mahal dan amat mewah, akan tetapi sungguh tidak serasi karena warnanya merah darah dan berkembang-kembang. Amat tidak cocok dengan kulit hitam itu, apalagi karena muka itu biarpun dibedaki dan ditutupi gincu, tetap saja memperlihatkan keriput-keriput usia tua. Seorang nenek yang amat pesolek dan sinar matanya tajam dan liar. Akan tetapi langkah kakinya demikian ringan seakan-akan tidak menginjak bumi, menandakan bahwa ginkang dari nenek ini luar biasa
hebatnya. Orang kedua adalah seorang laki-laki muda, kurang lebih dua puluh tahun, tubuhnya tegap, agak pendek tapi wajahnya tampan sekali dengan kulit yang putih kuning, alis hitam panjang dan matanya bersinar-sinar. Mereka ini bukan lain adalah Ang-hwa Nio-nio atau paicu, ketua dari Ang-hwa-pai, bersama Ouwyang Lam atau kongcu yang sesungguhnya memiliki kekuasaan tertinggi di situ karena si ketua itu berada di telapak tangan si pemuda ganteng!

Tempat itu kini penuh dengan para anggauta Ang-hwa-pai dan semua orang memandang Siu Bi penuh perhatian. Mereka bersikap hormat ketika ketua mereka muncul. Si rambut putih dan si brewok juga segera berlutut memberi hormat, lalu berdiri lagi.

Pandang mata Ouwyang Lam untuk sejenak menjelajahi Siu Bi dari rambut sampai ke kaki, kemudian menoleh kepada si rambut putih. Adapun Ang-hwa Nio-nio segera menegur.

“Betulkah seperti yang kudengar bahwa bocah ini telah membunuh A Bian? Mengapa kalian tidak segera membunuhnya dan perlu apa dibawa-bawa ke sini?”

“Maaf, kami sengaja menangkap dan membawanya ke sini agar mendapat putusan sendiri tentang hukumannya dari Paicu dan Kongcu,” kata si rambut putih dengan nada suara menjilat. “Pula, bagaimana kami dapat membuktikan tentang kematian A Bian kalau pembunuhnya tidak kami seret ke sini?”

“Hemmm, bocah yang berani membunuh seorang pembantuku, apalagi hukumannya selain mampus? Biar aku sendiri membunuhnya!” Tangan nenek ini bergerak, terdengar angin bercuitan ketika angin pukulan meluncur ke arah dada Siu Bi. Gadis ini kaget bukan main. Hebat pukulan ini dan karena kedua tangannya masih dibelenggu, hanya kedua kakinya saja yang bebas, ia terpaksa melompat cepat ke kiri.

“Srrrttt!” pinggir bajunya tersambar angin pukulan, pecah dan hancur berantakan. Wajah Siu Bi berubah. la maklum bahwa nenek ini merupakan lawan yang berat, seorang yang amat lihai ilmunya.

“Ihhh, kau berani mengelak?” Nenek itu memekik, suaranya melengking tinggi dan kembali tangannya bergerak, sekarang angin yang berciutan itu menyambar ke arah leher Siu Bi. Gadis ini kembali mengelak, akan tetapi kurang cepat sehingga pundaknya terhajar. Baiknya ia telah siap dan mengerahkan Hek-in-kang di tubuhnya, maka ia tidak mengalami luka, hanya terhuyung dan roboh miring di atas tanah.

Muka nenek itu berubah. Baru kali ini ia mengalami hal seaneh ini. Biasanya, kalau pukulannya dilakukan, tentu seorang lawan akan roboh binasa. Apalagi kalau pukulannya yang mengandung hawa racun merah ini mengenai sasaran, tentu yang terkena akan terluka dalam. Akan tetapi gadis ini hanya terhuyung dan roboh tapi tidak terluka. Ini membuktikan bahwa gadis ini “ada isinya”. Saking penasaran, ia mengerahkan tenaga dan hendak memukul lagi. Akan tetapi Ouw-yang Lam mencegah, menyentuh lengan nenek itu sambil berkata,

“Nio-nio, harap sabar dulu…..”

“Apa? Kau masih belum puas dengan mereka itu dan hendak mengambil dia? Hati-hati, perempuan seperti ia bukan untuk hiburan, sekali ia lolos akan men-datangkan bencana!” kata Ang-hwa Nio-nio sambil menuding ke arah Siu Bi yang sudah melompat bangun lagi dan me-mandang mereka dengan mata terbelalak penuh kemarahan dan kebencian. Sedikit pun gadis ini tidak memperlihatkan rasa takut.

“Bukan begitu, Nio-nio. Ingat Nona ini memiliki kepandaian, akan tetapi meng-hadapi seorang nona muda, dua orang kita menawannya dan membelenggunya seperti itu, sudah merupakan hal yang meremehkan nama besar kita. Apalagi sekarang kau hendak membunuhnya dalam keadaan terbelenggu, aku khawatir nama besarmu akan ternoda. Nio-nio, biarkan aku menghadapinya setelah belenggunya dilepas, agaknya ia lihai, patut aku berlatih dengannya. Eh, Nona, setelah kau lancang tangan membunuh seorang pembantu kami dan kau telah ditangkap ke sini, kau hendak berkata apa lagi?”

Siu Bi mengerutkan alisnya, matanya seolah-olah mengeluarkan api ketika memandang kepada wajah tampan itu. “Mengapa banyak cerewet? Mau bunuh boleh bunuh, siapa takut mampus? Pura-pura akan membebaskan, hemmm, kalau benar-benar kedua kakiku bebas, aku akan membunuhi kalian ini semua, tak seekor pun akan kuberi ampun!”

Inilah makian dan hinaan hebat. Semua orang sampai melongo. Alangkah beraninya bocah ini. Sudah tertawan, berada di tangan musuh dan tidak berdaya, nyawanya tergantung di ujung rambut, masih begitu besar nyalinya. Benar-benar hal yang amat mengherankan bagi seorang gadis remaja seperti ini.

Akan tetapi Ouwyang Lam tertawa girang. Hatinya amat tertarik kepada gadis ini. Cantik jelita dan gagah perkasa. Biarpun baginya tidaklah sukar untuk mencari gadis cantik, malah boleh jadi lebih cantik daripada Siu Bi, namun takkan mudah mendapatkan seorang gadis yang begini gagah perkasa dan bernyali harimau. Kalau dia bisa mendapatkan seorang seperti ini di sampingnya, selain dia mendapatkan pasangan yang setimpal, juga gadis ini dapat merupakan penambahan tenaga yang amat penting dan memperkuat kedudukan mereka. Memang Ouwyang Lam orangnya cerdik, penuh tipu muslihat dan akal yang halus sehingga biarpun dia mempunyai niat di hatinya yang tidak baik, namun pada lahirnya dia bisa kelihatan amat baik dan peramah.

“Nona, kau seorang gagah, maka kuberi kesempatan untuk membela diri. Kami dari Ang-hwa-pai juga orang-orang gagah dan menghargai kegagahan. Nah, kau kubebaskan daripada belenggu dan boleh membela diri dengan kepandaianmu!” Tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu belenggu pada kedua tangan Siu Bi sudah putus. Kiranya itu tadi adalah sinar pedang di tangan Ouwyang Lam!

Siu Bi kagum. Maklum ia bahwa juga  pemuda ini merupakan lawan yang berat. Namun, mana ia menjadi gentar karena-nya? la tersenyum mengejek, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir rasa pegal. Berhari-hari, ia dibelenggu dan hal ini membuat kedua lengannya terasa pegal. la mengerahkan tenaga sin-kang untuk mendorong peredaran darahnya, terutama di bagian kedua lengan sehingga ia dapat mengusir semua rasa kaku dan dapat bergerak lincah kembali. Setelah merasa dirinya sehat kembali, ia menghadapi Ouwyang Lam dan berkata,

“Nah, aku siap. Siapa akan maju menghadapi aku? Ataukah barangkali kalian mengandalkan kegagahan dengan cara pengeroyokan?” Ucapan ini merupakan tantangan yang mengandung ejekan. Muka Ang-hwa Nio-nio yang hitam sampai berubah menjadi makin hitam saking marahnya. Gadis ini benar-benar memandang rendah Ang-hwa-pai. Akan tetapi Ouwyang Lam tersenyum dan melangkah maju. Pedangnya masih berada di tangan, akan tetapi dia tidak segera menyerang, melainkan berkata halus,

“Nona, aku sudah siap dengan pedangku. Harap kau suka mengeluarkan senjatamu.”

Diam-diam Siu Bi menghargai sikap pemuda tampan ini, setidaknya pemuda ini nnempunyai watak yang gagah, tidak seperti nenek yang tak tahu malu menyerangnya ketika masih terbelenggu kedua tangannya tadi. Akan tetapi pedang Cui-beng-kiam ia tinggalkan di depan kaki Yo Wan.

“Aku mengandalkan kedua kepalan tangan dan kakiku. Kalau pedangku Cui-beng-kiam berada di sini, mana orang-orangmu mampu menghinaku?”

Ouwyang Lam makin besar rasa kagumnya dan dia yakin bahwa gadis ini tentulah seorang pendekar wanita yang gagah. la segera menyimpan kembali pedangnya dan berkata, “Kalau begitu, marilah kita main-main dengan tangan kosong. Majulah, Nona.”

Siu Bi tidak mau sungkan-sungkan lagi. Setelah sekarang ia ditantang dan tidak dikeroyok, ini merupakan keuntungannya dan ia harus membela diri sekuat tenaga. Sambil berseru panjang ia lalu menerjang maju. Akan tetapi betapapun juga, ia ingat akan budi pemuda ini. Biarpun merupakan seorang musuh, pemuda ini harus ia akui telah menolong nyawanya tadi ketika ia hendak dibunuh dalam keadaan terbelenggu oleh nenek yang lihai itu. Maka ia pun hanya ingin merobohkan pemuda ini saja, kalau mungkin tanpa melukainya, apalagi membunuhnya. Oleh karena inilah maka ia lalu mainkan ilmu silat biasa yang ia pelajari dari ayahnya dan dari Hek Lojin. Gerakannya gesit, serangannya ganas dan dahsyat, juga tenaga dalamnya amat kuat.

“Bagus!” Ouwyang Lam berseru ketika menyaksikan ketangkasan lawannya. la juga menggerakkan kaki tangannya, bersilat dengan gaya yang indah. Dalam sekejap mata saja, keduanya sudah saling terjang, saling serang dengan hebat, gerakan mereka begitu cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata karena bayangan itu sudah menjadi satu. Angin pukulan dan gerakan tubuh rnenyambar-nyambar ke kanan kiri dan empat puluh jurus lewat dengan amat cepatnya.

Diam-diam Ang-hwa Nio-nio mendongkol melihat murid dan kekasihnya itu tidak segera menggunakan jurus-jurus Ilmu Silat Hui-seng-kun-hoat, yaitu Ilmu Silat Bintang Terbang yang merupakan ilmu silat tertinggi yang dimilikinya. Sementara itu, diam-diam Siu Bi mengeluh. Kiranya pemuda ini benar-benar lihai sekali sehingga jangan bicara tentang merobohkan tanpa melukai, mengalahkan pemuda ini saja masih merupakan hal yang belum tentu kecuali kalau ia mainkan Hek-in-kang. Akan tetapi kalau ia keluarkan ilmu ini, tak mungkin lagi mengalahkan tanpa membahayakan jiwa lawannya.

“Kenapa tidak keluarkan Hui-seng (Bintang Terbang)??” tiba-tiba nenek itu berseru menegur murid dan kekasihnya. Melihat Ouwyang Lam sampai puluhan jurus belum mampu mengalahkan lawan, Ang-hwa Nio-nio menjadi marah dan penasaran. Hal ini akan membikin malu padanya, merendahkan nama Ang-hwa Nio-nio sekaligus Ang-hwa-pai! Memang hal ini amat luar biasa bagi para anggauta Ang-hwa-pai. Biasanya, Ouwyang-kongcu merupakan orang yang amat lihai, hanya kalah oleh Ang-hwa Nio-nio dan begitu ia turun tangan semua tentu beres. Belum pernah para anggauta ini me-lihat ada lawan yang mampu melawan Ouwyang-kongcu lebih daripada sepuluh jurus. Akan tetapi sekarang, dara remaja yang menjadi tawanan dua orang pembantu itu ternyata mampu menahan terjangan Ouwyang-kongcu sampai begitu lama tidak tampak terdesak! Tentu saja hal ini tidak mengherankan bagi Ouwyang-kongcu dan bagi Ang-hwa Nio-nio karena kedua orang ini cukup maklum bahwa dua orang pembantu mereka sama sekali bukanlah lawan gadis ini. Mereka capat melawannya tentu karena hasil daripada Ang-tok-san yaitu bubuk racun merah yang dapat membius lawan.

Mendengar seruan Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam ragu-ragu. Betapapun juga, dia belum kalah dan biarpun dia tidak dapat mendesak gadis itu, namun sebalik-nya dia pun tidak terdesak. Mereka sama kuat dan hal ini membuat hatinya gembira dan kagum bukan main. Belum pernah selamanya ia bertemu dengan seorang gadis yang begini hebat. Tadinya dia sama sekali tidak mengira bahwa Siu Bi akan begini kosen sehingga dapat mengimbangi permainan silatnya. Tentu saja hal ini membuat rasa sayangnya terhadap Siu Bi makin menebal. la tidak tega untuk mempergunakan ilmu silat yang lebih dahsyat, khawatir kalau-kalau melukai Siu Bi dan membikin gadis itu menjadi sakit hati. la hendak membaiki gadis ini, hendak memikat hatinya karena dia betul-betul jatuh hati yang baru pertama kali ini dia alami.

Akan tetapi, di fihak Siu Bi, seruan itu merupakan tanda bahaya. Kalau lawannya mempunyai “simpanan” yang belum dikeluarkan, inilah berbahaya. la tidak mau didahului, maka tiba-tiba Siu Bi mengeluarkan seruan nyaring seperti pekik burung elang dan kedua lengannya bergerak aneh, diputar-putar secara luar biasa. Akan tetapi segera tampak sinar menghitann menyambar-nyambar, dari kedua lengan itu tampak uap hitam dan Ouwyang Lam merasai sambaran hawa pukulan yang amat dahsyat. Ketika dia menangkis, lengannya terasa panas sekali dan sampai menembus ke ulu hati. Kagetlah dia dan terhuyung-huyung dia ke belakang dengan muka pucat. Akan tetapi karena dia maklum bahwa lawannya ini benar-benar hebat, memiliki simpanan ilmu dahsyat yang baru sekarang dikeluarkan, cepat dia mengerahkan tenaga mengusir rasa nyeri, berbareng dia membentak keras dan tubuhnya mumbul ke atas, lalu menukik ke bawah melakukan penyerangan balasan. Inilah sebuah jurus dari Ilmu Silat Hui-seng-kun-hoat, Ilmu Sllat Bintang Terbang yang selain hebat sekali gerak-geriknya, juga me-ngandung hawa pukulan beracun, racun ang-tok (racun merah)! Ketika Siu Bi menangkis dengan tenaga Hek-in-king, keduanya terhuyung mundur dengan muka berubah. Tahulah mereka bahwa masing-masing kini telah mengeluarkan kepandaian dan tenaga simpanan. Ilmu Pukulan Hek-in-kang yang mengandung racun hitam kini bertemu tanding dengan hawa pukulan racun merah. Akan tetapi keduanya menyesal bukan main karena kalau dilanjutkan, mereka berdua terpaksa akan mempergunakan dua macam ilmu dahsyat ini dan akibatnya, yang kalah tentu akan celaka, kalau tidak tewas sedikitnya tentu akan terluka parah di sebelah dalam tubuh!

“Tahan dulu…..!” Tiba-tiba Ang-hwa Nio-nio berseru dan melayanglah tubuhnya menengahi kedua orang muda. yang sedang bertanding itu. Karena nenek ini menggunakan kedua tangan mendorong, kedua orang muda itu terpaksa meloncat ke belakang.

“Kau mau mengeroyok?” Siu Bi mendahului membentak. Bentakan yang merupakan gertak belaka karena sesungguhnya di dalam hati ia merasa khawatir kalau-kalau nenek ini benar-benar mengeroyoknya. Kalau benar demikian, biarpun ia tidak akan mundur, namun boleh dipastikan bahwa ia akan kalah dan roboh. Dalam pertemuan tenaga dengan pemuda itu tadi saja sudah dapat ia bayangkan bahwa takkan mudah baginya mengalahkan Ouwyang Lam. Apalagi kalau nenek ini yang agaknya malah lebih lihai lagi daripada si pemuda, turun tangan mengeroyoknya.

Akan tetapi Ang-hwa Nio-nio tidak bergerak menyerang. Wajahnya keren dan suaranya berwibawa, “Bocah, jangan som-bong terhadap Ang-hwa Nio-nio! Kau tadi mainkan Hek-in-kang, orang tua Hek Lojin masih terhitung apamukah?”

Siu Bi kaget. Baru kali ini semenjak ia turun gunung, ada orang yang mengenal Hek-in-kang. Banyak orang lihai ia temui, termasuk Jenderal Bun, isterinya, puteranya dan Si Jaka Lola. Akan tetapi mereka itu tidak mengenal ilmunya. Bagaimana nenek genit ini dapat mengenal Hek-in-kang? Malah tahu pula bahwa Hek-in-kang adalah ilmu mendiang kakeknya, Hek Lojin yang dikenalnya pula? Setelah nenek ini mengetahui semuanya, agaknya tidak perlu lagi berbohong, malah ia hendak menyombongkan kakeknya yang ia tahu amat lihai dan amat terkenal di dunia kang-ouw. ”

“Hek Lojin adalah kakekku. Mau apa kau tanya-tanya?” jawabnya dengan nada suara sombong dan tidak mau kalah.

“Kakekmu?” Keriput-keriput pada wajah nenek itu mendalam. “Bagaimana bisa jadi? Maksudmu kakek guru? Kau mengenal The Sun?”

Berdebar jantung Siu Bi. Terang bahwa nenek ini bukan orang yang asing bagi ayah dan kakeknya. Biarpun di dalam hati ia tidak mau lagi mengakui The Sun sebagai ayahnya karena ia maklum sekarang bahwa The Sun memang bukan ayahnya, akan tetapi agaknya nama The Sun dan Hek Lojin akan dapat menolongnya pada saat itu, Siu Bi biarpun seorang yang amat tabah dan tidak takut mati, namun ia bukan gadis bodoh. la amat cerdik dan ia maklum bahwa saat ini ia berada di sarang harimau. la berada di pulau orang, musuh-musuhnya lihai dan berjumlah banyak. Nekat memusuhi me-peka berarti mati. Maka ia lalu menekan perasaannya dan menjawab,

“Dia adalah ayahku.” Segan hatinya menyebut nama The Sun, maka ia hanya menyebut “dia” saja.

Tiba-tiba terjadi perubahan hebat pada muka nenek itu. Sejenak ia memandang Siu Bi dengan mata terbelalak, mulut ternganga, kemydian perlahan-lahan kedua mata itu menitikkan air mata dan ia lalu lari merangkul Siu Bi sambil menangis! Tentu saja Siu Bi jadi tercengang keheranan.

“Aihhh, siapa kira….. kita adalah orang-orang sendiri, anakku…..!”

Meremang bulu tengkuk Siu Bi dan tiba-tiba perutnya menjadi mulas mendengar ini karena timbul dugaan yang mengerikan di dalam hatinya. Jangan jangan….. jangan-jangan….. la tidak saja bukan anak The Sun, akan tetapi ]uga bukan anak ibunya dan….. dan….. perem-puan mengerikan ini adalah ibu kandungnya! Dengan muka pucat diam-diam berdoa semoga dugaan ini tidak benar adanya. Akan tetapi hatinya demikian risau, membuat tenggorokannya serasa tercekik dan ia tidak mampu bertanya apa yang dimaksudkan oleh nenek mi dengan kata-kata “orang-orang sendiri” tadi. Adalah Ouwyang Lam yang juga terheran-heran itu yang mengajukan pertanyaan, “Nio-nio, apakah artinya ini? Siapakah Nona ini?”

Ang-hwa Nio-nio tersenyum dibalik air matanya, melepaskan pelukan dan menggandeng tangan Siu Bi. “Mari kita pulang, mari….. kita adalah orang sendiri. Mari dengarkan keteranganku di rumah…… ah, untung tadi kau keluarkan Hek-in-kang itu, anakku…..”

Mual rasa perut Siu Bi mendengar nenek ini menyebutnya “anakku”. Akan tetapi karena bekas lawan bersikap begini ramah, tak mungkin ia memper-tahankan sikap bermusuhan lagi. Betapa-pun juga, ia masih ragu-ragu. Siapa tahu ada apa-apanya di balik sikap aneh ini. Siapa tahu ada kepiting di balik batu!

“Aneh sekali sikapmu, Paicu. Kalau benar aku ini orang sendiri, masa orang-orangmu memperlakukan aku sedemikian rupa? Penghinaan besar yang tiada taranya, menjadikan aku tawanan berhari-hari dan membelenggu kaki tangan.”

“Ohhh, mereka tidak tahu…,.”

“Kalau pun tidak tahu, sudah melakukan penghinaan kepada orang sendiri, apa yang akan kaulakukan kepada mereka?”

Ang-hwa Nio-nio sadar dan mengedikkan kepalanya, memutar tubuh memandang ke saha ke mari mencari-cari. Akhirnya ia menemukan mereka dengan pandang matanya, si rambut putih dan sl brewok. Seakan-akan dari pandang matanya itu keluar perintah, karena tanpa kata-kata lagi kedua orang ini sudah maju dan menjatuhkan diri berlutut!

“Kami….. karti betul-betul tidak ta-hu…..” kata si rambut putih, suaranya sudah gemetar tidak karuan.

“Kalian menghina puteri sahabat baikku The Sun, kalian sudah menjadikan  cucu murid orang tua Hek Lojin sebagai tawanan? Ahhh, kalau di Ang-hwa-pai masih ada orang-orang macam kalian, perkumpulan kita takkan dapat lama berdiri tegak.” Tiba-tiba, tanpa peringatan lagi, kedua tangan Ang-hwa Nio-mo bergerak. Terdengar jerit dua kali den tubuh dua orang pembantu itu terjengkang ke belakang, mata mereka mendelik, muka mereka berubah rnerah seperti darah dan napas mereka sudah putus! Mereka terkena pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga beracun ang-tok sepenuhnya!

Ang-hwa Nio-nio tersenyum ketika menoleh kepada Siu Bi, “Nah, itulah hukuman mereka yang berani menghinamu, anakku. Mari, niari…… mari ikut bibi Kui Ciauw, sahabat baik ayahmu…..”

Siu Bi merasa begitu lega seakan-akan batu sebesar gunung yang menindih hatinya diangkat orang ketika mendengar ucapan terakhir itu. Kiranya nenek ini yang bernama Kui Ciauw, berjuluk Ang-hwa Nio-nio, adalah sahabat baik “ayahnya”, jadi bukanlah ibu kandung seperti yang ia khawatirkan. Karena hati yang lega dan puas ini, tidak membantah lagi ketika digandeng pergi, malah ia ter-senyum kepada “bibi Kui Ciauw” dan membalas senyum Ouwyang Lam yang berjalan di sebelahnya!

Sikap Kui Ciauw atau Ang-hwa Nio-nio terhadap Siu Bi itu sebetulnya bukan dibuat-buat, juga tidaklah aneh. Belasan tahun yang lalu wanita ini bersama dua orang saudaranya disebut Ang-hwa Sam-ci-moi (Tiga Kakak Beradik Bunga Merah), dan mereka bertiga bekerja sama dengan The Sun dan Hek Lojin, melakukan perang terhadap Pendekar Buta dan kawan-kawannya. Kemudian mereka ini semua dikalahkan oleh Pendekar Buta, malah dua orang adiknya tewas, The Sun terluka hebat dan Hek Lojin buntung sebelah lengannya. Oleh karena itulah, maka begitu mendengar bahwa gadis ini adalah puteri The Sun dan cucu murid Hek Lojin, sikap Ang-hwa Nio-nio seketika berubah. la menganggap Siu Bi sebagai orang segolongan yang menaruh dendam kepada Pendekar Buta. la tadi telah menyaksikan betapa kepandaian Hek Lojin telah diwariskan kepada gadis ini, maka sebagai orang segolongan, tentu saja ia menganggap gadis ini amat penting untuk bersama-sama menghadapi musuh besar mereka, Pendekar Buta. Tentu saja mendapatkan tenaga bantuan seperti gadis ini jauh lebih berharga daripada orang-orang seperti si rambu putih dan si brewok, maka sebagai pengganti mereka, ia rela menerima Siu Bi dan menewaskan dua orang pembantu itu untuk menyenangkan hati Siu Bi.

Siu Bi kagum bukan main ketika melihat bangunan-bangunan indah di atas pulau dan memasuki gedung besar tempat tinggal Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam. Perabot rumah serba indah dan mahal, gambar-gambar indah, tulisan-tulisan dengan sajak-sajak kuno menghias dinding membuat gedung itu kelihatan seperti sebuah istana.

Setelah mereka bertiga duduk di ruangan tengah dan para pelayan cantik menghidangkan minuman, Ang-hwa Nio-nio lalu bercerita, “Anak baik, ketahuilah, aku adalah Ang-hwa Nio-nio atau ketua dari Ang-hwa-pai, tapi kau boleh menyebutku bibi Kui Ciauw saja, karena aku adalah sahabat baik dan teman seperjuangan dengan ayahmu. Dia ini adalah muridku, Ouwyang-kongcu atau Ouwyang Lam, muridku yang tersayang, dan karenanya dia ini masih terhitung saudara segolongan denganmu. Anak baik, siapakah namamu tadi?”

“Namaku Siu Bi.”

“The Siu Bi, hemmm, bagus sekali. Tak kunyana bahwa The Sun bisa mempunyai seorang anak secantik engkau, dan ilmu kepandaianmu juga hebat, agaknya malah lebih hebat daripada ayahmu sendiri. Siu Bi, apakah ayah dan kakekmu tidak pernah bercerita tentang aku?”

Dengan jujur Siu Bi menggeleng kepalanya, dan Ang-hwa Nio-nio mengerutkan alisnya. “Ah, bagaimana mereka bisa begitu cepat melupakan aku? Tidak ingat akan perjuangan bersama dan penderitaan senasib? Siu Bi, anakku yang baik, apakah mereka juga tak pernah bicara tentang Pendekar Buta?”

Bangkit semangat Siu Bi mendengar disebutnya musuh besarnya ini. “Aku memang sengaja turun gunung untuk mencari Pendekar Buta, membalaskan dendam mendiang kakek dan membuntungi lengan tangan Pendekar Buta sekeluarga.”

Berubah wajah Ang-hwa Nio-nio, “Kau bilang….. mendiang kakek? Apakah Hek Lojin si orang tua sudah meninggal?”

Siu Bi mengangguk dan wanita lu meramkan kedua matanya. “Ah, sungguh sayang sekali. Akan tetapi, kau penggantinya, anakku. Biarlah, mari kita sama-sama menggempur Pendekar Buta, kita hancurkan kepalanya, cabut keluar jantungnya untuk kita pakai sembahyang kepada roh-roh yang penasaran!”

Siu Bi boleh jadi seorang gadis yang tabah, akan tetapi mendengar ancaman menyeramkan ini ia bergidik juga. “Bibi, aku sudah bersumpah hendak mencarinya dan dengan tanganku sendiri aku akan membuntungi lengannya, lengan isterinya dan anak-anaknya.”

“Aku akan membantumu…..”

“Aku tidak perlu bantuan, Bibi. Aku sendiri cukup untuk menghadapinya.”

“Dia lihai sekali.”

“Tidak peduli. Aku tidak takut!” Ang-hwa Nio-nio membelalakkan kedua matanya. la tak berdaya menghadapi gadis ini yang begini sukar diajak berunding. la mulai tidak sabar dan hal ini dapat dilihat oleh Ouwyang Lam yang segera berkata sambil tersenyum.

“Tentu saja adik Siu Bi tidak takut. Masa terhadap seorang musuh yang buta kedua matanya saja takut? Kalau takut kan bukan orang gagah namanya! Akan tetapi kami yang lemah memerlukan bantuan dan kami mohon bantuan adik Siu Bi yang gagah perkasa untuk Bersama-sama menghadapi Pendekar Buta. Kita mempunyai kepentingan bersama dan kita sama-sama bersakit hati terhadap dia.”

Enak didengar ucapan Ouwyang Lam ini dan seketika hati Siu Bi dapat dikalahkan. Gadis ini menjadi tidak enak sendiri mendengar ia diangkat-angkat dan mereka berdua yang ia tahu tidak kalah lihai itu merendahkan diri. Untuk menghilangkan rasa tidak enak ini ia bertanya. “Mengapakah kalian juga bermusuh de-ngan Pendekar Buta? Kalau kakek sudah terang dibuntungi lengannya.”

Ang-hwa Nio-nio girang melihat hasil bujuk dan kata-kata halus muridnya, maka kini ia yang memberi penjelasan, “Siu Bi, agaknya kakek dan ayahmu tidak memberi penuturan yang lengkap kepada-mu. Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu sebelum kau teriahir, ayahmu merupakan musuh besar Pendekar Buta, dan karena ayahmu tidak dapat menangkan musuhnya maka kakekmu Hek Lojin datang membantu. Akan tetapi ternyata kakekmu juga kalah, malah dibuntungi lengannya. Adapun aku sendiri, bersama dua orang adik perempuanku, juga memusuhi Pendekar Buta untuk membalas dendam suci (kakak seperguruan) kami, akan tetapi dalam pertempuran itu, kedua orang adikku tewas, hanya aku seorang yang berhasil menyelamatkan diri. Karena itulah, aku bersumpah untuk membalas dendam atas kematian saudara-saudaraku dan juga atas kekalahan para kawan segolonganku, termasuk ayahmu dan kakekmu. Dengan demikian, bukankah kita ini orang sendiri dan segolongan?”

Siu Bi diam-diani terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa Pendekar Buta sedemikian lihainya sehingga dikeroyok begitu banyak orang sakti masih dapat menang! Makin ragu-ragu ia apakah ia akan dapat menangkap musuh besar itu, dan mulailah ia melihat kenyataan akan pentingnya bekerja sama dengan orang-orang pandai seperti Ang-hwa Nio-nio dan muridnya yajng tampan ini. Apalagi dengan adanya Ang-hwa Nio-nio, akan lebih mudah mengenal kelemahan-kelemahan lawan karena Ang-hwa Nio-nio pernah bertempur menghadapi Pendekar Buta.

“Kau betul, Bibi. Maafkan keraguanku tadi. Kalau begitu, marilah kita berangkat ke Liong-thouw-san mencari musuh besar kita.”

Ang-hwa Nio-nio tertawa. “Hi-hi-Hik, kau benar-benar seorang gadis yang keras hati dan penuh semangat Siu Bi, tidak mudah menyerbu ke Liong-thouw-san. Kita harus menghubungi teman-teman segolongan. Banyak yang akan suka ikut menyerbu ke sana untuk menyelesaikan perhitungan lama. Di antaranya ada pamanku Ang Moko yang sudah menyanggupi. Di samping itu, kau harus membantu kami lebih dulu, karena kami pada saat ini sedang menanti kedatangan musuh-musuh kami yang datang dari Kun-lun. Sebagai orang segolongan, tentu kau tidak suka melihat kami dihina orang dan tentu kau mau membantu kami, bukan?”

“Tentu saja, Bibi. Akan tetapi tidak enaklah membantu sesuatu tanpa mengetahui persoalannya. Mengapa kau bermusuhan dengan orang-orang Kun-lun? Aku pernah mendengar dari kakek bahwa Kun-lun-pai adalah sebuah partai persilatan yang besar.”

Ang-hwa Nio-nio menarik napas pan-jang dan mengangguk-angguk, “Sebetulnya, dengan Kun-lun-pai langsung kami tidak mempunyai urusan. Yang menjadi biang keladinya adalah Bun-goanswe sehingga menyeret Kun-lun-pai berhadapan dengan kami.”

“Jenderal Bun di Tai-goan?” tanya Siu Bi, kaget.

Tercenganglah Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam mendengar ini. “Kau kenal dia?”

“Tidak kenal, tapi aku tahu. Pernah aku dijadikan tahanan di sana karena aku membantu para petani yang ditindas.”

“Dia memang sombong!” kata Ouwyang Lam. “Puteranya juga sombong sekali. Dumeh (mentang-mentang) jenderal itu sahabat baik Pendekar Buta dan putera dari ketua Kun-lun-pai, sama sekali tidak memandang mata kepada orang-orang seperti kita!”

Mendengar bahwa Jenderal Bun  itu adalah sahabat baik musuh besarnya, tentu saja Siu Bi menjadi makin tak senang kepada keluarga Bun. “Apakah yang terjadi?” tanyanya.

“Ketahuilah, adik Siu Bi. Kami dari Ang-hwa-pai selalu melakukan hubungan baik dengan para pembesar, malah kami tidak pernah berlaku pelit. Semua pembesar dari yang rendah sampai yang tinggi di wilayah ini, apabila mengalami kesukaran, tentu minta bantuan kami dan tidak pernah kami menolak mereka. Akan tetapi, Jenderal Bun dan puteranya itu malah menghina kami, dan ada empat orang anak buah Ang-hwa-pai mereka tangkap dan mereka jatuhi hukuman. Tiga orang anak buah kami yang melawan mereka bunuh. Coba kaupikir, bukankah mereka itu bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan dan ke-pandaian?”

“Hemmm, lalu apa yang terjadi?”

“Agaknya urusan ini terdengar oleh ketua Kun-lun-pai yang menjadi ayah dari Jenderal Bun. Kun-lun-pai mengirim utusan memberi teguran kepada partai kami, dinyatakan oleh partai Kun-lun bahwa setelah negara menjadi aman, kami tidak semestinya mengacau. Tentu saja aku tidak dapat menahan kemarahan mendengar pernyataan yang amat memandang rendah ini, kumaki utusan itu dan terjadi pertandingan yang mengakibatkan utusan Kun-lun-pai itu tewas. Dan dalam beberapa hari ini, kurasa akan datang pula utusan Kun-lun-pai ke sini.  Kalau terjadi keributan dengan fihak Kun-lun-pai yang sombong, kuharap saja kau suka membantu kami, adik Siu Bi.”

Siu Bi kembali mengangguk-angguk. Dia sendiri memang tidak suka kepada Jenderal Bun, apalagi karena jenderal itu adalah sahabat musuh besarnya. Dengan Kun-lun-pai ia tidak mempunyai hubung-an apa-apa, sedangkan orang-orang Ching-coa-to ini adalah orang segolongan dengannya, sama-sama musuh besar Pendekar Buta.

“Baiklah, tentu aku membantu. Setelah melihat lurah Bhong yang jahat itu dan sikap Jendepal Bun, aku pun tidak suka kepada para pembesar itu. Kalau mereka keterlaluan harus kita lawan.”

Hidangan yang mewah dikeluarkan oleh para pelayan cantik dan tiga orang ini berpesta-pora. Siu Bi diam-diam merasa girang juga karena nenek dan pemuda itu benar-benar amat ramah kepadanya, malah pesta itu diadakan untuk menghormatinya! la merasa beruntung dapat bertemu dengan Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam, karena jelas bahwa pertemuan ini akan mendekatkan ia kepada hasil gemilang tujuan perjalanannya. Juga di samping ini, ia tertarik dan suka kepada Ouwyang Lam yang tampan, gagah perkasa dan amat manis budi terhadapnya. Tidak mengecewakan menipunyai seorang sahabat seperti dia, pikirnya.

Baru saja mereka seleisai makan minum, seorang penjaga berlari masuk, memberi laporan bahwa ada dua orang tosu menyeberangi telaga dan datang berkunjung ke pulau.

“Mereka mengaku datang dari Kun-lun-pai dan minta bertemu dengan Paicu,” penjaga itu mengakhiri laporannya.

Ouwyang Lam meloncat berdiri. “Biarkan aku yang pergi menemui mereka,” katanya kepada Ang-hwa Nio-nio, kemudian menoleh kepada Siu Bi. “Adik Siu Bi, adakah hasrat main-main dengan orang-orang Kun-lun-pai?”

Dasar Siu Bi berwatak nakal dan pemberani. Mendengar bahwa dua orang Kun-lun-pai datang ke pulau ini, tentu dengan maksud mencari perkara, ia menjadi ingin tahu dan gembira sekali kalau ia dipercaya mewakili tuan rumah. la menoleh ke arah Ang-hwa Nio-nio yang tersenyum kepadanya dan berkata,

“Pergilah, Siu Bi, dan bergembiralah bersama kakakmu Ouwyang Lam.”

Pemuda itu sudah meloncat ke luar, diikuti Siu Bi dan dua orang muda ini berlari-lari menuju ke pantai. Benar saja seperti yang dilaporkan oleh penjaga tadi, di pantai berdiri dua orang tosu setengah tua yang bersikap keren dan angker. Perahu mereka yang kecil berada di darat dan tak jauh dari tempat itu tampak orang-orang Ang-hwa-pai berjaga-jaga sambil memasang mata penuh perhatian. Semenjak terjadi peristiwa utusan Kun-lun-pai, mereka telah menerima perintah dari ketua mereka supaya jangan bertindak sembrono kalau bertemu dengan orang-orang Kun-lun-pai, akan tetapi langsung melaporkan kepada ketua, inilah sebabnya mengapa para anggauta Ang-hwa-pai tidak mengganggu dua orang tosu itu.

Dua orang tosu itu ketika melihat munculnya dua orang muda-mudi yang tampan dan cantik jelita, menjadi tercengang dan saling pandang. Apalagi ketika melihat dua orang muda itu langsung menghampiri mereka dan menatap mereka sambil tersenyum-senyum mengejek. Ouwyang Lam segera bertanya,

“Apakah Ji-wi (Kalian) tosu dari Kun-lun-pai?”

Tosu yang mempunyai tahi lalat besar di bawah mulutnya menjawab, “Betul, Orang muda. Pinto (Aku) adalah Kung Thi Tosu dan ini sute Kung Lo Tosu. Kami berdua mentaati perintah ketua kami mengantar seorang suheng (kakak seperguruan) kami menyampaikan pesan ketua kami kepada Ang-hwa-pai. Oleh karena itu, harap kau orang muda suka memberi tahu kepada Ang-hwa-pai bahwa kami datang berkunjung.”

Ouwyang Lam tertawa. “Totiang berdua tak perlu sungkan-sungkan. Kalau ada perkara, beritahukan saja kepadaku. Aku Ouwyang Lam mewakili ketua kami, dan segala urusan cukup kalian bicarakan dengan aku.”

“Hemmm, begitukah?” Kung Thi Tosu berkata sambil menatap wajah Ouwyang . Lam tajam-tajam. “Sudah lama pinto mendengar nama Ouwyang-kongcu. Kedatangan kami ini tidak lain akan menanyakan tentang suheng kami yang beberapa hari yang lalu datang ke sini. Di manakah suheng kami itu?”

Wajah yang tampan itu menjadi muram. “Totiang, apa kaukira aku ini seorang pengembala keledai maka kau tanya-tanya kepadaku tentang keledai yang hilang? Sudahlah, lebih baik kalian pergi, cari di tempat lain. Pulau kami bukan tempat bagi para tosu.”

Jawaban ini biarpun terdengar halus namun amat menghina dan menyakitkan hati karena menyamakan suheng mereka dengan keledai! Kung Lo Tosu yang bermuka kuning menjadi makin pucat mukanya ketika dia melangkah maju dan berkata dengan suara keras.

“Orang muda she Ouwyang bermulut lancang! Kami dari Kun-lun-pai tidak biasa menelan hinaan-hinaan tanpa sebab. Ketua kami mendengar tentang sepak terjang Ang-hwa-pai yang mengacau ketenteraman, lalu ketua kami mengutus suheng dan kami berdua untuk datang mengunjungi kalian guna memberi peringatan secara halus, mengingat sama-sama partai persilatan. Akan tetapi suheng yang amat hati-hati dan tidak ingin kalian salah faham, menyuruh kami menanti di seberang dan suheng seorang diri yang datang ke sini empat hari yang lalu. Suheng tidak kelihatan kembali, maka kami datang menyusul. Kiranya datang-datang kami hanya kau sambut dengan ucapan menghina. Orang muda lekas katakan dimana adanya Kun Be Suheng”.

Berubah wajah Ouwyang Lam, agak merah karena dia menahan kemarahannya.

“Aku tidak tahu yang mana itu suhengmu, akan tetapi beberapa hari yang lalu memang ada seseorang kurang ajar mengacau disini. Karena dia tidak mau disuruh pergi, terpaksa aku turun tangan dan dia sudah tewas.

“Keparat, jadi kau….. kau membunuh suheng…..?” Kun Thi Tosu kini pun menjadi marah sekali. “Kalau begitu Ang-hwa-pai benar-benar jahat sekali, membunuh seorang utusan…..”

Ouwyang Lam tertawa mengejek “Tosu bau, dengar baik-baik. Kalau terjadi sesuatu pertengkaran dan pertempuran, jelas bahwa yang salah adalah orang yang datang menyerbu. Aku membela tempatku sendiri yang dikacau orang, mana bisa dianggap jahat? Adalah kalian ini yang bukan orang sini, datang-datang mengeluarkan omongan besar, kalianlah yang jahat!”

“Ang-hwa-pai partai gurem yang baru muncul berani memandang rendah Kun-lun-pai! Benar-benar keterlaluan. Bocah sombong, kau harus mengganti nyawa suheng!

Ouwyang Lam menoleh ke arah Siu Bi. “Kau lihat, betapa menjemukan. Mau membantuku melempar mereka ke dalam telaga?”

Siu Bi sudah biasa dengan watak aneh kasar dan liar. Watak kakeknya, Hek Lojin, jauh lebih kasar, liar dan aneh lagi. la pun tadi jemu menyaksikan lagak orang-orang Kun-lun-pai ini dan dalam pertimbangannya, Ouwyang Lam berada di fihak benar. Orang dihargai karena sikapnya, karena kebenarannya, sama sekali bukan karena kedudukannya, atau karena partainya yang besar. Dalam hal ini, Kun-lun-pai terlalu memandang rendah Ang-hwa-pai, tidak semestinya mencampuri urusan partai orang lain, apalagi menegur. Orang-orang Kun-lun-pai men-cari penyakit sendiri dengan sikap tinggi hati dan tekebur.

“Mari…..!” kata Siu,Bi, juga dengan senyum mengejek.

Dua orang tosu itu sudah marah sekali mendengar betapa suheng mereka yang datang di pulau ini sebagai utusan, telah ditewaskan. Serentak mereka menerjang maju, dengan maksud untuk menangkap pemuda sombong ini untuk ditawan dan dipaksa ikut mereka ke Kun-lun, dihadapkan kepada ketua mereka agar diadili.

Akan tetapi mereka keliru kalau mengira bahwa mereka akan dapat merobohkan dan menangkap Ouwyang Lam dengan mudah. Begitu pemuda itu menggerakkan kaki tangan, dia telah menyambut terjangan kedua orang ini dengan pukulan dan tendangan yang dahsyat, memaksa dua orang tosu itu mengelak sambil menyusul dengan serangan dari samping. Akan tetapi pada saat itu, Siu Bi sudah membentak nyaring dan menerjang Kung Lo Tosu sehingga lerpaksa tosu ini bertanding melawan Siu Bi. Hal ini tidak mengecilkan hati kedua orang tosu Kun-lun-pai. Siu Bi hanya seorang gadis remaja, juga Ouwyang Lam yang mereka pernah dengar sebagai Ouwyang-kongcu yang terkenal kiranya hanya seorang pemuda biasa saja. Dengan cepat mereka memainkan kaki tangan, mengeluarkan Ilmu Silat Kun-lun-pai. Mereka adalah tosu-tosu tingkat ke empat di Kun-lun-pai, ilmu kepandaian mereka tinggi. Biarpun mereka percaya bahwa suheng mereka tewas, akan tetapi mereka mengira bahwa tewasnya sang suheng itu adalah karena pengeroyokan, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa tewasnya Kung Be Tosu adalah karena bertanding satu lawan satu dengan pemuda ini!

Setelah bergebrak beberapa jurus, barulah kedua orang tosu itu kaget dan mendapat kenyataan bahwa kedua orang lawannya ternyata lihai bukan main. Jangankan menangkap, menyerang saja mereka tidak mampu lagi, hanya dapat mempertahankan diri, menangkis dan mengelak ke sana ke mari karena kedua orang muda itu mendesak mereka dengan pukulan-pukulan yang cepat dan luar biasa. Kung Lo Tosu menjadi kabur matanya melihat sinar hitam bergulung-gulung dari kedua lengan lawannya, dan pukulan-pukulan gadis remaja ini mengandung hawa yang panas bukan main. Adapun Kung Thi Tosu juga bingung menghadapi sinar merah dari pukulan Ouwyang Lam, kepalanya pening mencium bau harum yang aneh.

“Adik Siu Bi, kalau kita bunuh mereka, mereka tidak akan dapat mengingat-ingat akan kelihaian kita. Hayo berlomba lempar mereka ke telaga!” kata Ouwyang Lam sambil tertawa.

Siu Bi memang tidak mempunyai maksud untuk membunuh lawannya karena ia sendiri tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan tosu Kun-lun-pai. Mendengar ajakan ini, ia berseru keras dan tahu-tahu ia telah berhasil mencengkeram pundak lawannya dan dengan genrakan cepat ia melemparkan tubuh Kung Lo Tosu ke air telaga di depannya. Tepat pada saat itu juga, Ouwyang Lam berhasil pula melemparkan lawannya sehingga tubuh kedua orang tosu Kun-lun-pai ini melayang dan terbanting ke dalam air yang muncrat tinggi-tinggi. Mereka gelagapan, tenggelam dan beberapa saat kemudian timbul kembali megap-megap, berusaha berenang akan tetapi tak berani ke pinggir karena para anggauta Anghwa-pai  sudah berdiri di situ sambil tertawa bergelak.

“Mereka sudah diberi hajaran, biarkan mereka pergi,” kata Siu Bi, kakinya ber-gerak dan….. perahu, kecil itu sudah di-tendangnya sampai terbang melayang ke air, dekat kedua orang tosu yang gelagapan itu. Cepat mereka berenang mendekati, meraih perahu terus mendayung perahu dengan kedua tangan mereka di kanan kiri perahu. Perahu bergerak perlahan ke tengah telaga, diikuti sorak-sorai dan ejekan para anggauta Ang-hwa-pai. Dapat dibayangkan betapa malunya Kung Thi Tosu dan Kung Lo Tosu, mereka terus berusaha sedapat mungkin menggerakkan perahu tanpa dayung, menjauhi pulau dengan niuka sebentar pucat sebentar merah.

Baru setelah perahu mereka bergerak sampai ke tengah telaga, jauh dari pulau, mereka menyumpah-nyumpah dan mengancam akan melaporkan hal ini kepada ketua mereka.

“Pemuda jahanam, gadis liar'” Kung Thi Tosu memaki gemas. “Awas kalian orang-orang Ang-hwa-pai, Kun-lun-pai takkan mendiamkan saja penghinaan ini!”

“Sudahlah, Suheng. Mari kita gerakkan perahu mendarat dan cepat-cepat kita kembali ke Kun-lun untuk lapor kepada sucouw (kakek guru).” Kung Lo Tosu menghibur. Mereka terus mendayung perahu mempergunakan kedua lengan. Karena mereka berkepandaian tinggi dan tenaga mereka besar, biarpun perahu hanya didayung dengan tangan, perahu dapat meluncur cepat menuju ke darat.

Tiba-tiba dari sebelah kanan meluncur sebuah perahu kecil. Penumpangnya hanya seorang wanita muda yang berdiri di tengah perahu dan menggerakkan dayung ke kanan kiri sambil berdiri saja. Namun perahunya dapat meluncur laksana digerakkan tenaga raksasa! Melihat ini saja, dua orang tosu itu dapat menduga bahwa gadis yang cantik dan gagah ini tentulah seorang berilmu. Sebaliknya gadis itu pun dapat mengerti bahwa dua orang tosu yang mendayung perahu hanya  dengan tangan itu tentulah orang-orang berkepandaian tinggi.

Kung Thi Tosu dan Kung Lo Tosu tidak mempedulikan gadis itu, malah mereka segera membuang muka. Mereka mengira bahwa gadis yang lihai ini tentulah orang Ang-hwa-pai, sebangsa dengan gadis remaja yang tadi merobohkan Kung Lo Tosu. Mereka tidak mau mencari penyakit, tidak mau mencari gara-gara, maka lebih aman membungkam dan pura-pura tidak melihat. Akan tetapi, tidak demikian dengan gadis itu. la sengaja memotong jalan, menghadang perahu mereka. Karena tidak ingin perahu mereka bertumbukan, terpaksa mereka menahan lajunya perahu dan memandang.

Yang berdiri di tengah perahu kecil itu adalah seorang gadis yang masih muda, seorang gadis yang cantik manis, senyumnya selalu menghias bibir, sepasang matanya tajam berpengaruh, dan di balik kecantikan itu tersembunyi kegagahan Tubuhnya ramping padat, pakaiannya sederhana dan rambutnya yang hitam itu, dikuncir ke belakang, melambai-lambai tertiup angin telaga.

Gadis itu menggunakan dayung menahan perahunya, memberi hormat sambil membungkuk dalam dan mengangkat kedua tangan yang memegang dayung ke depan dada, lalu berkata, suaranya halus merdu membayangkan watak yang halus pula.

“Maaf, Ji-wi Totiang. Bukan maksudku mengganggu Ji-wi, melainkan saya mohon bertanya, telaga ini telaga apakah namanya dan pulau di depan itu pulau apa, siapa yang tinggal di sana?”

Kung Thi Tosu dan sutenya saling pandang, kemudian Kung Thi Tosu ber-tanya, “Nona bukan orang sana? Bukan anggauta Ang-hwa-pai?”

Kini gadis itu yang memandang heran, “Bukan, Totiang. Kalau saya orang pulau itu, masa masih bertanya-tanya. Saya seorang pelancong yang tertarik akan keindahan telaga ini, dan ingin sekali tahu nama telaga dan pulau itu.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: