Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 1

Pendekar Arak dari Kanglam

by Kho Ping Hoo


DI sekitar tahun 600, Tiongkok berada di bawah pemerintahan Kaisar Yang Ti yang lalim dan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Kaisar ini memeras dan memaksa rakyatnya untuk membuat bangunan-bangunan dan pekerjaan-pekerjaan raksasa dalam usahanya memperkuat pertahanan negaranya dan juga demi kesenangannya sendiri. Kota Lokyang di bangun kembali dengan hebat mempergunakan tukang-tukang dan ahli-ahli yang didatangkan dari tempat jauh di sebelah selatan sungat Yangtse. Sebagian dari para pekerja ini boleh dibilang dipekerjakan sampai mati.

Hasil pekerjaan paksa yang banyak makan jiwa rakyat Tiongkok itu masih dapat disaksikan hingga sekarang. Kaisar Yang Ti memerintahkan untuk menggali saluran besar yang memanjang dari utara sampai ke selatan sungai Yangtse, yakni sampai ke Hongcou.

Pekerjaan besar ini selain membutuhkan banyak sekali tenaga manusia, juga membutuhkan banyak biaya hingga kekayaan istana kaisar dikeduk habis. Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu dan dengan kejam sekali Kaisar Yang Ti kembali memeras rakyat dengan memerintahkan agar pajak-pajak dibayar sepuluh tahun di muka.

Selain pembuatan saluran besar itu, Kaisar Yang Ti juga memerintahkan agar supaya tembok besar diperbaiki dan dibetulkan, yang kembali memerlukan tenaga ahli dan tukang-tukang yang pandai serta tenaga pekerja-pekerja yang ribuan orang banyaknya.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa apabila pemimpin jahat, anak buahnya pun kurang benar. Kaisar yang lalim itu bagaikan seorang guru memberi contoh buruk sekali kepada pembesar-pembesarnya hingga pada waktu itu, para pembesar sebagian besar merupakan pemeras-pemeras rakyat yang bahkan lebih kejam lagi dari pada Kaisarnya sendiri. Mereka mempergunakan segala macam akal dan kesempatan untuk memperkaya diri, sama sekali tidak memperdulikan keadaan rakyat yang diperas habis-habisan. Dan pada saat-saat yang amat menyedihkan bagi rakyat Tiongkok inilah cerita ini terjadi.

****

Di sebelah selatankota raja terdapat sebuahkota bernama Kiang-sui.Kota ini cukup ramai dan besar karena dekat dengan ibukota dan di situ terdapat banyak sekali rumah-rumah gedung yang indah dan megah. Hal ini tidak aneh oleh karena para pembesar dan hartawan mempergunakan kesempatan untuk memakai tenaga para ahli bangunan yang didatangkan oleh kaisar itu guna mendirikan gedung-gedungnya sendiri.

Di tengah-tengahkota Kiang-sui terdapat sebuah gedung yang terbesar dan paling megah nampak dari luar, dan apabila orang masuk ke dalamnya, ia akan kagum melihat keindahan gedung itu. Perumahan ini tidak hanya terdiri dari satu bangunan, akan tetapi ada beberapa bangunan yang bentuknya menarik, ada yang bertingkat tiga, ada pula yang tidak bertingkat akan tetapi kesemuanya indah dan merupakan sekelompok bangunan yang dikelilingi tembok dua tombak tingginya. Kalau dilihat dari luar, yang nampak hanya dinding ini dan loteng-loteng yang bercat warna warni menyedapkan mata.

Gedung indah ini adalah tempat tinggal Residen atau Kepala Daerah di Kiang-sui yang bernama Liok Ong Gun. Kepala daerah ini memang keturunan bangsawan dan semenjak dahulu nenek-moyangnya memang orang-orang berpangkat yang setia dan mempunyai kedudukan tinggi. Ia amat berpengaruh, tidak saja karena kedudukannya sebagai Kepala daerah, akan tetapi juga karena kekayaannya. Pada waktu itu, siapa yang kaya ia berkuasa, sedangkan Liok Ong Gun ini memang semenjak lahir boleh dibilang hidup di atas tumpukan harta benda.

Liok Ong Gun berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap dan memelihara jenggot pendek yang hitam menghias muka bagian bawah, dari bawah telinga kiri sampai ke bawah telinga kanan. Sepasang matanya lebar dan bersinar tajam. Ia seorang yang pandai dalam ilmu sastera dan silat, dan di waktu mudanya ia telah mencapai gelar siucai setelah lulus dalam ujian di kotaraja. Dalam hal ilmu silat, iapun tidak lemah oleh karena ia menjadi murid dari ketua cabang Go-bi-pai yang pada waktu itu meninggal dunia karena sakit. Permainan goloknya cukup lihai dan hal ini membuat ia lebih disegani orang.

Dalam pernikahannya dengan seorang gadis bangsawan yang selain cantik juga berbudi halus, Liok Ong Gun memperoleh seorang anak tunggal. Anak ini perempuan dan diberi nama Liok Tin Eng yang kini telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik seperti ibunya. Akan tetapi beradat keras dan galak seperti ayahnya. Biarpun dalam hal kepandaian membaca dan menulis, dara ini tidak sepandai ayahnya dan dalam hal pekerjaan tangan tidak sepandai ibunya, namun terdengar desas-desus orang bahwa dalam hal ilmu silat, dara ini jauh melebihi kelihaian ayahnya sendiri!

Tin Eng sebagai puteri tunggal tentu saja manja sekali dan biarpun ia disohorkan sebagai kembangkota Kiang-sui dan banyak sekali pemuda merindukannya, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka berani mengajukan pinangan.

Kedudukan Liok Ong Gun memang amat kuat, selain ia sendiri memiliki kegagahan, iapun selalu dikawal oleh pasukan perwira Sayap Garuda yang berkepandaian tinggi. Selain para pengawal ini, iapun selalu didampingi oleh seorang kunsu atau penasehat yang cerdik pandai bernama Lauw Lui Tek yang bertubuh gemuk.

Demikianlah keadaan penghuni gedung-gedung Kepala daerah itu dan selanjutnya masih banyak pula para pelayan yang mengerjakan segala macam pekerjaan sehingga gedung-gedung di situ selain nampak indah juga bersih. Liok-hujin, isteri Liok Ong Gun tak pernah mencampuri urusan suaminya dan nyonya ini selalu tinggal di dalam, mengatur rumah tangga dan mengepalai semua pelayan yang amat taat dan tunduk terhadap nyonya yang berbudi halus itu. Dari pelayan wanita yang bekerja di dalam kamar sampai pelayan laki-laki yang bekerja di kebun atau di kandang kuda, semua amat taat dan setiap saat bersedia melakukan perintah Liok-hujin dengan senang hati.

Pada suatu hari, seorang penjaga pintu gerbang melaporkan kepada Liok Ong Gun bahwa di luar datang tiga orang tamu yang minta bertemu dengan Kepala daerah itu.

“Siapakah mereka itu?” tanya Liok Ong Gun yang sedang duduk dengan Lauw Lui Tek dan beberapa orang perwiranya guna membicarakan perintah kaisar untuk membangun sebuah istana di atas bukit Bwee San sebelah timurkota Kiang-sui.

“Hamba telah bertanya tentang nama mereka, akan tetapi mereka tidak mau memberi tahu, hanya supaya hamba melaporkan kepada taijin,” jawab penjaga itu dengan hormat.

“Tamu-tamu yang tidak mau menyebutkan namanya tak perlu diterima,” kata Lauw Lui Tek, penasehat Kepala daerah itu dengan sikapnya yang hati-hati.

“Kenapa kau tidak usir saja mereka dan berani melaporkan kedatangan orang-orang yang mencurigakan itu?” Liok Ong Gun menegur sehingga penjaga itu menjadi pucat.

“Ampun, taijin. Tiga orang tamu itu bukanlah orang-orang biasa, maka hamba tidak berani bertindak sembarangan. Seorang di antara mereka adalah seorang hwesio gundul yang telah tua dan memelihara jenggot panjang, sikapnya agung dan di pundaknya tergantung pedang. Orang kedua juga seorang tosu tua yang gagah. Menurut pandangan hamba yang bodoh, mereka ini bukanlah orang-orang jahat, maka hamba berani berlaku lancang memberi laporan kepada taijin.”

Liok Ong Gun merasa heran mendengar bahwa tamu-tamunya adalah dua orang pertapa dan seorang pemuda. Ketika Lauw Lui Tek hendak memaki penjaga itu, Liok Ong Gun mendahuluinya dan berkata kepada penjaga tadi,

“Cobalah kau panggil mereka masuk.”

Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara halus menegur,

“Liok Ong Gun, kau benar-benar memegang aturan keras sekali!”

Pembesar itu terkejut dan segera bangun dari tempat duduknya dan menuju ke ruang depan, diikuti oleh Lauw Lui Tek dan para perwira Sayap Garuda. Ketika mereka tiba di ruangan depan, muncullah tiga orang tamu tadi. Memang benar, ketiga orang itu terdiri dari seorang hwesio tua yang gagah, seorang tosu tua dan seorang anak muda yang tampan sekali.

Melihat Hwesio berjubah hitam itu Liok Ong Gun merasa terkejut sekali dan ia cepat-cepat menjura dengan hormatnya dan berkata,

“Ah tidak tahunya susiok-couw (kakek guru) yang datang. Mohon maaf sebanyaknya karena teecu tidak mengetahui kedatangan susiok-couw terlebih dahulu hingga tak dapat mengadakan penyambutan yang layak.”

Hwesio itu tertawa bergelak dengan senangnya. Ia menoleh kepada tosu itu dan berkata, “Bong Bi Toyu, apa kataku tadi? Biarpun telah menjadi seorang pembesar tinggi, namun Liok Ong Gun tidak melupakan hubungan antara guru dan murid.”

Tosu itu mengangguk-angguk puas dan tersenyum. Siapakah mereka ini? Hwesio tua itu sebenarnya adalah seorang tokoh besar dari Go-bi-san yang bernama Seng Le Hosiang dan kakek ini adalah paman guru dari suhu Liok Ong Gun, dengan demikian maka hwesio ini masih terhitung paman kakek gurunya! Adapun tosu itu juga bukan sembarang orang, karena ia ini adalah Bong Bi Sianjin, seorang yang sangat ternama dalam kalangan persilatan, sebagai tokoh besar dari Kim Lun San yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tosu ini adalah kawan baik Seng Le Hosiang.

Liok Ong Gun dengan amat hormatnya lalu membungkukkan diri dan berkata, Susiok-couw dan kedua jiwi (tuan berdua) silahkan masuk dan duduk di dalam.”

Seng Le Hosiang sambil tersenyum di balik kumis dan jenggotnya yang putih itu berkata memperkenalkan, “Ketahuilah dulu, Liok Ong Gun. Kawanku ini adalah Bong Bi Sianjin, pertapa di bukit Kim Lun San, dan anak muda ini bernama Gan Bu Gi, murid Bong Bi Sianjin. Untuk keperluan mereka berdua inilah maka pinceng datang menjumpaimu.”

Liok Ong Gun menjura kepada Bong Bi Sianjin dan Gan Bu Gi. Lalu ia memperkenalkan pula Lauw Lui Tek kepada mereka, demikian pula kelima orang perwira yang berada di situ. Kemudian mereka semua masuk ke ruang dalam dan ketiga orang tamu itu tiada habisnya mengagumi keindahan gedung itu dan sekalian isinya. Dinding-dinding yang putih bersih penuh digantungi lian (kain penghias dinding yang ditulis sajak) dan lukisan-lukisan indah. Semua perabot rumah tangga tersebut dari kayu-kayu mahal yang terukir indah dan halus, bahkan lantainya berkembang indah dan di sana-sini terbentang permadani Turki berkembang.

“Bagus, bagus, rumahmu bagus sekali,” Seng Le Hosiang memuji dan memandang kagum. Gan Bu Gi yang semenjak kecil berada di atas gunung juga memandang ke kanan-kiri dengan kagum dan mata terbelalak lebar. Ia merasa malu-malu dan ketika kakinya menginjak lantai yang berkembang dan halus mengkilap itu, ia merasa takut kalau-kalau sepatunya akan merusak lantai maka ia berjalan dengan hati-hati sekali!

Setelah semua orang mengambil tempat duduk di ruangan tamu, Liok Ong Gun menanti sampai pelayan datang membawa minuman.

“Susiok-couw suka minum apa?Arak wangi atau teh wangi? Juga Bong Bi Locianpwe dan Gan-hiante ingin minum apa?” Liok Ong Gun menawarkan dengan ramah tamah.

“Araksaja, boleh keluarkan arak yang paling wangi!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira hingga diam-diam para perwira merasa heran mengapa ada hwesio yang suka minum arak. Bagi Bong Bi Sianjin, tidak ada pantangan minum arak, akan tetapi dengan malu-malu Gan Bu Gi menjawab,

“Harap taijin jangan terlalu merepotkan penyambutan. Siauwte biasanya hanya minum air gunung.”

Jawaban pemuda yang sederhana ini membuat semua orang tersenyum dan Liok Ong Gun merasa suka kepadanya. Ia heran melihat betapa Bong Bi Sianjin yang terkenal akan kegagahannya itu mempunyai murid yang demikian lemah lembut.

Setelah semua orang minum, pembesar itu bertanya kepada susiok-couwnya, “Teecu merasa mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan ini. Apakah kiranya yang dapat teecu lakukan untuk sam-wi?”

“Sudah pinceng katakan tadi bahwa kedatanganku semata-mata hanya untuk urusan kedua orang ini, terutama sekali untuk memperkenalkan Gan Bu Gi kepadamu. Ketahuilah, Liok Ong Gun bahwa sahabatku Bong Bi Sianjin ini datang bersama muridnya kepadaku dengan permintaan agar pinceng menjadi orang perantara terhadap dua hal yang hendak kukemukakan kepadamu, yaitu pertama: sukakah kiranya kau menerima pemuda ini dan memberi pekerjaan yang layak karena ia telah tamat belajar silat pada gurunya dan tentang kepandaian silat patut kupuji dan dengan adanya pemuda ini di sini, agaknya kedudukanmu akan makin kuat.”

Sambil berkata demikian, hwesio tua itu melirik ke arah para perwira yang duduk di pinggir. “Terus terang saja aku berani menyatakan bahwa tenaganya akan jauh lebih berguna dari pada tenaga dua puluh orang pengawalmu yang terpandai.”

Mendengar ucapan ini, tentu saja para perwira merasa mendongkol dan tak senang, akan tetapi mereka tidak berani menyatakan dengan terang-terangan, hanya menundukkan kepala dengan muka berubah merah. Sedangkan Kepala daerah itupun merasa tak enak hati terhadap para perwiranya, maka ia lalu menjawabnya,

“Tentang hal itu, karena susiok-couw yang menjadi penghubung, tentu saja teecu akan memberi pekerjaan yang layak bagi Gan-hiante sesuai dengan kepandaiannya.”

“Boleh diuji, boleh diuji!” kata Seng Le Hosiang sambil meraba jenggotnya yang putih. “Jangan diterima demikian saja, sebelum kau menguji kepandaian. Akan tetapi hal ini boleh dilakukan belakangan. Sekarang soal kedua. Pinceng tahu bahwa kau mempunyai seorang puteri yang baik, dan karena pinceng sudah tahu jelas akan keadaan Gan Bu Gi ini, maka atas persetujuan kami bertiga, pinceng dan sahabatku Bong Bi Sianjin ini bermaksud menjodohkan Gan Bu Gi dengan puterimu! Tentu saja kalau puterimu itu belum dipertunangkan dengan orang lain.”

Bukan main terkejutnya hati Liok Ong Gun mendengar ini. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam akan tetapi ia tidak berani menyatakan marahnya. Siapakah orang muda ini yang hendak dijodohkan dengan puterinya? Mengapa susiok-couwnya demikian lancang? Diam-diam ia memandang tajam kepada Gan Bu Gi yang menundukkan kepalanya. Memang pemuda ini cukup tampan dan sikapnya baik akan tetapi hal ini belum cukup pantas menjadi menantunya, menjadi suami Tin Eng puteri tunggalnya.

“Maafkan teecu, susiok-couw. Tentang hal perjodohan puteri teecu, sungguhpun puteriku itu belum dipertunangkan, akan tetapi agaknya hal ini tidak dapat diputuskan dengan tergesa-gesa dan harus mendapat pertimbangan semasak-masaknya dari teecu sekeluarga. Bukan teecu tidak percaya kepada susiok-couw yang tentu tidak akan memuji sembarangan saja, akan tetapi biarlah hal perjodohan ini ditunda dulu, karena betapapun juga, puteri teecu itu baru berusialima belas tahun dan masih terlalu muda untuk meninggalkan orang tua.”

Seng Le Hosiang tertawa terbahak-bahak dan memandang kepada Bong Bi Sianjin. “Nah, kau telah mendengar sendiri, toyu. Pinceng hanya menjadi orang perantara, segala keputusan tergantung dari cucu-muridku.”

Sambil mengelus-elus jenggotnya yang juga sudah putih semua, tosu ini mengangguk ke arah Liok Ong Gun dan berkata, “Terima kasih banyak atas segala perhatianmu, taijin. Muridku adalah seorang anak muda yang bodoh dan masih hijau serta hanya memiliki sedikit kepandaian yang tak berarti belaka. Oleh karena pinto ingin melihat muridku yang bodoh itu mencari pengalaman dan ikut membantu pemerintah, mengangkat nama sendiri sebagai orang yang gagah, maka harapanku yang terutama ialah agar supaya taijin sudi menolongnya dan memberi pekerjaan yang layak. Sudah tentu saja ia perlu diuji terlebih dahulu dan pinto mempersilahkan kepada taijin untuk menguji.”

“Memang harus diuji!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira.

Liok Ong Gun merasa serba salah. Ia percaya bahwa pemuda itu tentu memiliki kepandaian berarti sungguhpun nampaknya lemah, akan tetapi ia masih ragu-ragu untuk menguji yang tentu saja seakan-akan merupakan kekurangpercayaan terhadap Bong Bi Sianjin, terutama sekali terhadap susiok-couwnya. Dengan ragu-ragu ia lalu mengerling kepada penasehatnya yang selalu dapat diharapkan pertolongannya di waktu ia terdesak oleh suatu keadaan.

Lauw Lui Tek dengan tenang lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya yang gemuk ke arah para tamu,

“Maafkan kalau saya berlancang mulut karena sudah menjadi kewajiban saya untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi oleh taijin. Mendengar segala uraian jiwi lo-suhu tadi, saya dapat menduga bahwa kongcu ini tentu memiliki ilmu kepandaian silat dan yang dimaksudkan dengan pekerjaan tentulah dalam bidang keperwiraan. Sebagaimana lazimnya apabila kami menerima seorang perwira baru, ia harus diuji lebih dulu dan cara pengujiannya itu biasanya diadakan sebuah pertandingan adu kepandaian antara perwira baru itu dengan kepala-kepala pengawal untuk menentukan sampai di mana tingkat kepandaiannya. Oleh karena itu, menurut pendapat saya, hendaknya diadakan ujian seperti itu pula kepada kongcu ini dan para pengujinya ialah kelima ciangkun yang sekarang hadir di sini.”

Mendengar ini, diam-diam kelima orang perwira Sayap Garuda itu menjadi girang. Tadinya mereka merasa mendongkol sekali karena dirinya dipandang rendah oleh tamu-tamu itu dan sekarang mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. Hendak mereka beri hajaran kepada pemuda yang datang hendak mendesak kedudukan mereka itu! Mereka adalah panglima-panglima terkemuka di Kiang-sui yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, sedangkan pemuda itu kelihatan demikian malu-malu dan bodoh seperti pemuda gunung. Apa susahnya mengalahkan pemuda macam itu dalam pertandingan pibu (silat)?

Sementara itu, Liok Ong Gun mengangguk-angguk dan berkata kepada Seng Le Hosiang, “Susiok-couw, memang tepat ucapan Lauw-toako tadi dan demikianlah memang sudah menjadi kebiasaan di sini, juga kebiasaan dikota raja apabila kaisar hendak mengangkat perwira baru.”

Bong Bi Sianjin bangun berdiri dan berkata, “Bagus, memang seharusnya demikian, taijin. Harap jangan berlaku sungkan dan marilah kita menyaksikan ujian itu dilaksanakan sekarang juga.”

Liok Ong Gun lalu mempersilahkan mereka menuju ke belakang gedung di mana terdapat kebun kembang yang indah dan di tengah-tengah terdapat pekarangan luas yang memang dipergunakan sebagai lian-bu-tia (tempat berlatih silat). Ketika mereka beramai-ramai tiba di tempat itu, kebetulan sekali puteri Kepala daerah itu sedang berlatih silat pedang seorang diri.

Gadis itu berusia kurang lebihlima belas tahun, tubuhnya kecil padat, pinggangnya ramping. Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, diramaikan oleh sepasang mata yang lebar berseri-seri dan mulut yang manis berwarna merah delima. Rambutnya hitam dan tebal digulung ke belakang dan dihiasi dengan bunga segar warna merah yang dipetiknya di kebun itu. Segumpalan rambut menghias di depan telinganya, terurai sampai ke pipinya menambah kecantikannya. Bajunya ringkas dengan lengan baju pendek sampai di bawah siku, baju itu berwarna biru dengan pinggiran merah dan ikat pinggang warna merah pula. Celana berwarna hijau menutupi kedua kakinya yang ringan gerakannya, sepatunya kecil berwarna hitam. Biarpun pakaiannya itu sederhana saja, akan tetapi bahan pakaiannya terbuat dari sutera mahal yang halus dan lemas.

Selain kembang hidup yang menghiasi rambutnya, gadis ini tidak mengenakan perhiasan lain sebagaimana biasa dipakai oleh puteri-puteri bangsawan yang kaya. Memang Tin Eng tidak suka memakai segala macam perhiasan emas permata yang mahal dan mewah. Namun kesederhanaannya ini tidak mengurangi kecantikannya, bahkan membuat kejelitaannya makin menonjol dan asli.

Tin Eng demikian asyiknya bermain silat pedang hingga ia tidak memperhatikan mereka yang datang. Disangkanya bahwa mereka yang datang hanyalah ayahnya dan para perwira yang sudah berada di situ dan ia tidak menghiraukannya.

Semua perwira di dalam gedung itu merasa kagum dan segan terhadap gadis itu karena maklum bahwa ilmu kepandaian gadis itu amat tinggi, bahkan tidak berada di sebelah kepandaian perwira yang manapun juga dikota Kiang-sui! Tadinya tak seorangpun menyangka bahwa Tin Eng memiliki ilmu silat tinggi dan lihai dan hanya menyangka bahwa gadis itu pernah belajar ilmu silat karena ayahnya pun seorang yang pandai ilmu silat, akan tetapi semenjak terjadi sebuah peristiwa yang mengagumkan, barulah mereka tahu bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Bahkan Liok Ong Gun sendiri tadinya tidak pernah menyangka bahwa puterinya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada ilmu silatnya sendiri!

Hal itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika itu,kota Kiang-sui kedatangan seorang pencuri yang lihai sekali. Kepala daerah Liok telah mengerahkan para penjaga dan perwira untuk menangkap pencuri itu, akan tetapi maling itu ternyata amat tangguhnya hingga tak dapat ditangkap, bahkan ketika pada suatu malam dikepung, maling itu telah melukai beberapa orang perwira! Dalam kesombongannya karena tidak menemukan tandingan, maling itu akhirnya berani mendatangi gedung Liok Ong Gun untuk mencuri! Dan di tempat inilah ia menemui tandingannya, yakni Tin Eng sendiri!

Ketika maling itu sedang mencari-cari di atas genteng, tiba-tiba ia diserang oleh Tin Eng dan mereka bertempur hebat sekali. Ribut-ribut ini terdengar oleh Liok Ong Gun yang segera mengerahkan para perwira dan menyusul ke atas di mana dengan bengong mereka menyaksikan sebuah pertempuran hebat antara Tin Eng dan maling itu! Bukan main kagum hati mereka ketika akhirnya Tin Eng berhasil merobohkan maling itu yang segera dibekuk dan dihukum. Dan semenjak malam itulah maka Tin Eng terbuka rahasianya, dan semua orang, termasuk ayah sendiri, baru maklum bahwa dara jelita itu memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dari pada para perwira dikota Kiang-sui.

Pada saat Liok Ong Gun dan tamu-tamunya datang di kebun itu, Tin Eng sedang berlatih silat pedang yang mempunyai gerakan-gerakan luar biasa cepatnya. Sinar pedangnya bergulung-gulung menyelimuti tubuhnya dan angin sabetan pedang menyambar-nyambar sampai jauh.Para perwira memandang kagum, demikian pula Liok Ong Gun karena tidak mudah untuk menyaksikan ilmu silat puterinya itu yang belum pernah mau memperlihatkan kepandaiannya kepada siapapun juga.

Sementara itu, melihat kecantikan gadis yang hendak dijodohkan dengannya, pemuda murid Bong Bi Sianjin tercengang dan pada saat itu yang kelihatan olehnya hanya kecantikan Tin Eng, sama sekali tidak memperdulikan ilmu pedang yang dimainkan oleh dara itu.

Akan tetapi, Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin saling pandang dengan mata mengandung keheranan besar. Selama mereka hidup, baru satu kali saja mereka pernah menyaksikan ilmu pedang seperti ini, yaitu ketika mereka masih muda. Inilah ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat yang jarang terlihat di atas dunia ini. Pencipta ilmu pedang ini telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu, dan orang itu setahu mereka tidak mempunyai murid, bagaimana ilmu pedangnya kini terjatuh kepada puteri Liok Ong Gun?

Dengan penuh perhatian, kedua kakek itu memandang ilmu pedang yang dimainkan Tin Eng. Mereka maklum bahwa ilmu pedang itu benar-benar hebat sekali, akan tetapi sayang dara itu masih belum sempurna kepandaiannya dan terdapat kesalahan di sana-sini, sungguhpun mereka berdua juga tidak paham ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (ilmu pedang garuda sakti), namun sebagai ahli-ahli ilmu silat mereka dapat melihat kesalahan-kesalahan dan cacat dalam permainan gadis itu.

Sementara itu, Bong Bi Sianjin tak dapat menahan lagi kegembiraannya dan berseru, “Bagus sekali Kiam-hoat ini!”

Mendengar seruan ini, barulah Tin Eng sadar bahwa di antara rombongan terdapat orang asing, maka ia segera melompat mundur dan menahan gerakan pedangnya. Dengan mata mengandung keheranan ia memandang ke arah dua orang kakek dan pemuda yang tak dikenal itu, kemudian ia mengundurkan diri dengan malu-malu.

Liok Ong Gun menghampiri puterinya dan sambil tertawa berkata, “Tin Eng, kau berhadapan dengan susiok-couw, beliau inilah yang bernama Seng Le Hosiang, susiok dari mendiang suhuku.”

Tin Eng terkejut sekali dan segera menjura dengan hormatnya.

“Bagus, bagus! Kau patut menjadi puteri Liok Ong Gun. Cantik jelita dan kepandaian hebat pula! Entah siapa yang memberi pelajaran ilmu pedang tadi kepadamu.”

Tin Eng tidak menjawab, hanya memberi hormat kepada Bong Bi Sianjin dan Gan Bu Gi ketika ayahnya memperkenalkan mereka kepadanya. Mendengar bahwa pemuda yang tampan dan nampak malu-malu itu hendak masuk menjadi perwira dan kini akan diuji kepandaiannya, Tin Eng merasa gembira dan segera berdiri di tempat yang agak jauh dari situ untuk menonton. Ayahnya tak dapat melarang puterinya yang manja dan keras hati ini, maka ia mendiamkan saja.

Di dekat tempat gadis itu berdiri, terdapat seorang pelayan muda yang sedang mencabuti rumput pengganggu pohon kembang. Dan melihat pemuda ini, Tin Eng segera berkata,

“Gwat Kong, tolong beritahu kepada ibu bahwa aku berada di sini untuk menyaksikan ujian perwira baru!”

Pemuda itu mengangguk dan menjawab, “Baik, siocia.” Dan sebelum ia pergi jauh tiba-tiba Liok Ong Gun memanggilnya. Ia segera berjalan kembali dan pembesar itu berkata,

“Kalau kau masuk ke dalam, sekalian ambil dua buah kursi untuk jiwi locianpwe ini!”

“Baik, taijin,” kata pemuda pelayan itu setelah memandang sekilas ke arah Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin.

“Siapakah pemuda itu?” tanya Seng Le Hosiang kepada Liok Ong Gun. Ia merasa tertarik karena melihat betapa sepasang mata pelayan muda itu mengeluarkan cahaya yang tajam.

“Ah, dia adalah seorang pemuda she Bun yang telah tiga tahun bekerja di sini sebagai pelayan. Orangnya jujur, pendiam, dan pekerjaannya baik,” jawab Liok Ong Gun sambil lalu.

Sementara itu, Liok Ong Gun lalu memberi perintah kepada seorang perwiranya untuk bersiap menguji pemuda yang hendak menjadi perwira itu. Perwira ini adalah seorang perwira yang sudah berusia empat puluh tahun lebih dan bernama Thio Sin. Dia memang dianggap sebagai pimpinan para panglima yang berjumlahlima orang dan kepandaiannya dianggap paling tinggi.

“Thio-ciangkun, harap kau segera melakukan upacara ujian ini sebagaimana mestinya dan boleh kau pilih siapakah yang diharuskan maju untuk berpibu dengan Gan-kongcu,” kata Liok Ong Gun kepadanya.

“Biarlah siauwte maju dan mengujinya, Thio-twako,” kata seorang perwira yang bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar. Perwira ini adalah Lie Bong yang beradat kasar. Ia tadi merasa penasaran dan mendongkol sekali, maka kini ia hendak menggunakan kesempatan untuk membalas penghinaan tadi.

Thio Sin mengangguk sambil tersenyum. Ia percaya penuh kepada kegagahan Lie Bong yang memiliki tenaga besar dan ilmu silat cukup tinggi.

“Majulah, Lie-lote, akan tetapi hati-hatilah,” kata Thio Sin.

Lie Bong berseru girang dan segera bersiap sedia. Ia membereskan topinya yang dihias bulu garuda panjang, lalu memasukkan kuncir rambutnya ke dalam punggung bajunya dan menyingsing lengan bajunya, kemudian ia melompat ke tengah lapangan. Di tengah lapangan itu terdapat sebongkah batu besar yang biasanya digunakan untuk melatih tenaga. Melihat batu besar itu dengan congkaknya Lie Bong lalu menempelkan kakinya kanannya kepada batu itu dan sekali ia menggerakkan kaki, batu itu terlempar jauh ke bawah pohon.

Setelah melakukan demonstrasi untuk memperlihatkan kehebatan tenaganya itu, Lie Bong lalu menjura ke arah pemuda gunung yang masih berdiri sambil tersenyum malu-malu di dekat suhunya sambil berkata,

“Gan-kongcu, aku mendapat kehormatan untuk melayani bermain-main denganmu. Silahkan maju!”

Gan Bu Gi berpaling kepada suhunya seakan-akan minta perkenan dan setelah Bong Bi Sianjin mengangguk, ia lalu berjalan dengan tenang ke dalam lapangan itu, menghadapi Lie Bong.

Pada saat itu, pelayan muda yang diperintah mengambil kursi telah datang. Biarpun hanya disuruh mengambil dua buah kursi, pemuda itu ternyata membawa empat buah kursi. Dua buah diletakkan di belakang kedua pendeta tua itu, sebuah diberikan kepada Liok Ong Gun dan yang sebuah lagi lalu ia bawa menuju tempat Tin Eng berdiri dan ia memberikan kursi kepada gadis itu!

Tak seorangpun memperhatikan pekerjaan ini dan Liok Ong Gun juga sudah lupa bahwa ia tadi hanya memerintahkan mengambil dua buah kursi saja untuk Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin. Mereka duduk dan memperhatikan ujian yang hendak dilangsungkan, sedangkan pemuda pelayan yang bernama Bun Gwat Kong itu lalu melanjutkan pekerjaan mencabuti rumput sambil kadang-kadang menengok ke arah tempat duduk Tin Eng.

“Gan-kongcu,” kata Lie Bong dengan suara keras. “Menurut kebiasaan, pibu ini dilakukan dua kali. Pertama kali dengan bertangan kosong, dan kedua kalinya menggunakan senjata untuk menguji kepandaian main senjata dari calon perwira. Sekarang marilah kita main-main sebentar dengan bertangan kosong. Harap kau suka menanggalkan jubahmu yang panjang itu agar supaya gerakanmu lebih leluasa.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: