Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 11

“BAGUS, kalian mencari mampus!” teriak Tin Eng yang segera memutar pedangnya sedemikian rupa menurut gerakan-gerakan Sin-eng Kiam-hoat. Sebetulnya pelajaran pedang Sin-eng Kiam-hoat yang dipelajari oleh Tin Eng masih belum matang betul, akan tetapi ilmu pedang itu benar-benar hebat. Gerakan-gerakannya demikian cepat dan tidak tersangka sehingga seakan-akan merupakan seekor Garuda Sakti yang menyambar dan menyerang mempergunakan paruh, sepasang cakar, dan sepasang sayapnya. Biarpun kedua orang itu mengeroyoknya dengan sengit, namun Tin Eng dapat mendesak mereka dengan serangan-serangan hebat.

“Kalau tidak dikembalikan kitab itu, kalian mampus!” Kembali Tin Eng mengancam oleh karena sesungguhnya ia tidak bermaksud membunuh orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai permusuhan dengannya itu. Akan tetapi, kedua orang lawannya tanpa banyak cakap mengadakan perlawanan hebat, agaknya merekapun tidak mau mengalah dan hendak mempertahankan kitab itu dengan nyawa mereka.

“Twako, kau bawalah kitab itu kepada suhu! Biar aku yang menahan iblis wanita ini,” seru yang seorang dan orang yang membawa kitab itu lalu melompat jauh dan lari pergi. Tin Eng merasa marah sekali dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba orang yang lari itu berseru girang,

“Suhu telah datang!” Dan dengan pedang di tangan ia lalu menyerbu lagi!

Tin Eng memandang dan ternyatalima orang yang usianya rata-rata empat puluh tahun berlari seperti terbang cepatnya menyerbu ke tempat itu.

“Suhu, perempuan ini hendak merampas kitab Sin-eng Kiam-hoat!”

Mendengar ini, seorang di antara mereka yang berbaju hitam panjang berseru, “Robohkan dia, akan tetapi jangan membunuhnya!”

Sehabis berkata demikian, orang ini lalu melepaskan ikat pinggangnya, yang ternyata terbuat dari kulit yang panjang dan kuat, merupakan senjata cambuk! Juga empat orang lain mengeluarkan senjata mereka yang hebat, karena senjata mereka itu semua berlainan. Seorang memegang tongkat besar yang kepalanya melengkung berbentuk kepala naga, seorang lain memegang sebuah pedang pendek, orang ketiga memegang sebatang pedang panjang dan orang keempat memegang sebatang golok kecil. Akan tetapi gerakan mereka ternyata gesit dan bertenaga.

Tin Eng merasa terkejut sekali dan segera memutar pedangnya untuk menghadapi lima orang itu.

“Jangan turun tangan!” kata pemegang cambuk kepada kawan-kawannya. “Gunakan bubuk Ang-hoa!” Kelima orang itu lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan dan ketika mereka mengebut, maka berhamburanlah bubuk bunga merah dan bau yang amat wangi keras menyerang hidung Tin Eng, yang tiba-tiba menjadi pening. Bumi yang dipijaknya terasa berputar-putar dan betapapun dia menguatkan tubuhnya, akhirnya ia menjadi limbung, terhuyung-huyung dan roboh pingsan.

Kelima orang itu tertawa dan si pemegang cambuk berkata, “Nona manis, terpaksa kami tidak ingin kau menderita luka atau binasa!” Ia menghampiri Tin Eng untuk memondongnya. Akan tetapi baru saja ia mengulurkan tangan, tiba-tiba ia menarik tangannya sambil berseru kaget. Ternyata sebutir buah le mentah telah menyambar dan tepat mengenai tangannya dan sungguhpun buah itu kecil dan tidak keras, akan tetapi tangannya terasa sakit sekali.

Ia bangun berdiri, memandang ke sekelilingnya dan berseru, “Siapakah yang berani main-main dengan Ngo-heng-kun Ngo-hiap?” Seruan ini keras sekali sehingga menggema sampai jauh. Akan tetapi tidak ada jawaban, hanya suara gemercik air sungai yang menjadi jawabannya.

Ketika mereka hendak mengangkat tubuh Tin Eng tanpa memperdulikan penyambit itu, tiba-tiba berhamburanlah batu-batu kecil yang tepat menghantam tubuh mereka sehingga mereka menjadi kaget dan wajah mereka jadi pucat sekali. Si pemegang cambuk tahu bahwa ada orang luar biasa yang datang menolong gadis itu, maka karena kitab telah berada di tangan mereka, ia lalu memberi tanda dan kelima orang itu bersama dua orang muridnya lalu melompat pergi dan lari dari tempat itu.

Setelah mereka pergi jauh, muncullah seorang pemuda yang tadi bersembunyi di balik sebuah pohon yang tumbuh di dekat sungai kecil dekat tempat itu. Pemuda ini dengan tenang lalu menghampiri tubuh Tin Eng sambil membawa seguci arak yang diturunkan dari gendongan. Guci arak ini besar dan pada lehernya diberi gantungan sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Ia lalu berlutut membuka mulut Tin Eng dan menuangkan sedikit arak ke dalam mulut gadis itu kemudian ia menggunakan arak pula untuk dipercikan ke arah muka Tin Eng.

Tak lama kemudian gadis itu bergerak dan membuka mata. Bukan main herannya ketika ia melihat pemuda itu berjongkok di dekatnya. Ia melompat bangun dan berseru keras,

“Gwat Kong …..!!”

Pemuda itu tersenyum lalu berdiri dan menjura memberi hormat kepadanya.

“Liok-siocia, apakah selama ini kau baik-baik saja?” suaranya masih halus dan merendah, seperti sikapnya dulu ketika masih menjadi pelayan di rumah keluarga Liok.

Mendengar pertanyaan dan melihat sikap Gwat Kong ini, tiba-tiba merahlah seluruh muka Tin Eng dan tak dapat ditahannya lagi, ia segera menangis tersedu-sedu. Ia merasa malu, menyesal dan juga gemas, karena teringat akan kitabnya yang hilang.

Ketika tadi ia duduk di tepi sungai Liang-ho, termenung memikirkan keadaan dan nasibnya, ia merasa berduka dan mengharapkan kedatangan seorang seperti Gwat Kong yang tentu dapat dimintai tolong. Akan tetapi setelah sekarang benar-benar Gwat Kong yang muncul dengan tak tersangka-sangka, ia menjadi makin sedih. Bagaimana pemuda lemah ini dapat menolongnya?

Selain membutuhkan uang untuk membayar sewa kamar dan biaya melanjutkan perantauannya, juga ia membutuhkan bantuan orang pandai seperti Dewi Tangan Maut untuk merampas dan mencari kembali kitabnya yang hilang. Gwat Kong mempunyai apa yang dapat digunakan untuk membantunya dalam hal-hal itu? Namun, hatinya terharu juga melihat pelayan ini.

“Nona, janganlah kau bersedih, nona. Bagaimanakah kau bisa sampai tiba di tempat ini?”

Tin Eng menyusut air matanya dan memandang kepada Gwat Kong dengan penuh perhatian. Pemuda ini nampak lebih tegap dan air mukanya yang lebar dan jujur itu, kini nampak berseri dan kulitnya kemerah-merahan, menandakan bahwa selain hatinya riang gembira, juga keadaannya sehat sekali. Pakaiannya masih sederhana, walaupun bukan seperti pakaian pelayan lagi dan rambutnya diikat pula oleh sehelai sapu tangan lebar.

“Gwat Kong, apakah kau tidak marah kepadaku?” tanya Tin Eng, sambil mengerling ke arah lengan tangan Gwat Kong, seakan-akan hendak menembus lengan baju untuk melihat bekas luka karena tusukan pedangnya dulu itu.

“Liok-siocia, mengapa kau ajukan pertanyaan ini? Mengapa aku mesti marah kepadamu?” Gwat Kong memandang dengan mata terbuka lebar karena ia memang benar-benar merasa heran.

“Aku … aku telah melukaimu bahkan … hampir membunuhmu.”

Gwat Kong mengerti dan ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Liok-siocia, harap kau jangan mengingatkan aku akan hal itu lagi. Aku masih merasa menyesal sekali kepada diri sendiri karena perbuatanku yang kurang ajar itu dan kau memang berhak untuk melukaiku, bahkan kalau kau membunuhku, akupun tidak merasa penasaran.”

“Gwat Kong, kau benar-benar seorang yang baik hati dan aku … ah, aku seorang tak tahu budi yang bernasib malang.”

Kembali Tin Eng mengalirkan air mata dari kedua matanya karena terharu.

“Nona, sebenarnya mengapa kau bisa berada di tempat ini? Aku mendapatkan kau dalam keadaan pingsan dan melihat bangsat-bangsat itu berlari pergi. Kau datang dari manakah dan hendak kemana?”

“Bangsat-bangsat itu telah mencuri kitab pelajaran ilmu pedang yang dulu kauberikan kepadaku!” kata Tin Eng dengan gemas. “Ketahuilah, Gwat Kong, setelah kau pergi, ayah memaksaku untuk menerima pinangan Gan Bu Gi.”

Gwat Kong mengangguk-angguk dan menarik napas panjang. “Aku telah tahu dan dapat menduga akan hal itu, siocia, dan sekali lagi aku menghaturkan selamat kepadamu.”

“Tariklah kembali ucapanmu itu!” kata Tin Eng sambil merengut. “Siapa yang butuh ucapan selamat dalam keadaan seperti ini?”

“Eh eh, bukankah kau memang …. suka kepada panglima muda itu, siocia?” Gwat Kong memandang tajam.

“Kalau aku suka, mengapa aku bisa sampai di tempat ini. Dengarlah baik-baik, Gwat Kong dan jangan memotong penuturanku. Terus terang saja, aku memang tertarik kepada Gan-ciangkun yang pandai sekali ilmu silatnya. Akan tetapi itu bukan berarti aku suka kepadanya. Karena belum mempunyai keinginan untuk mengikat diri dengan perjodohan, maka aku menolak kehendak ayah itu, sehingga ia menjadi marah sekali dan … ayah telah menamparku, satu hal yang belum pernah ia lakukan selama hidupku! Dan aku …. karena dipaksa-paksa, aku lalu melarikan diri pada malam hari. Aku merantau sehingga sampai di Ki-ciu ini. Malang sekali bagiku. Buntalan pakaian berikut semua uang bekal, perhiasan dan juga kitab pelajaran ilmu pedang itu telah dicuri orang. Dalam usahaku mencarinya aku bertemu dengan kepala maling di kota ini dan dibawa kesini untuk menerima kembali kitab yang harus ditebus. Biarpun aku tidak mempunyai uang, aku ikut padanya dengan maksud untuk merampasnya kembali. Tidak tahunya, kitab itu telah dijual kepada dua orang yang tidak mau mengembalikannya kepadaku, sehingga kami bertempur dan selagi aku berhasil mendesak dua orang itu, datanglah lima orang guru mereka yang lihai. Dan menghadapi kelima orang itu aku tidak berdaya karena mereka mempergunakan bubuk yang disebar kepadaku dan yang membuatku pening dan roboh pingsan. Aku tidak ingat apa-apa lagi sehingga tahu-tahu kau berada di sini menolongku.”

“Barang-barang sudah tercuri orang, mengapa harus bersedih, siocia? Memang daerah Ki-ciu ini banyak terdapat maling-maling yang lihai sehingga seringkali pengunjung-pengunjung dari luar kota menjadi korban mereka.”

“Kehilangan pakaian dan barang-barang sih tidak sangat menyusahkan hatiku, sungguhpun sekarang aku telah kehabisan uang sama sekali, hingga untuk membayar sewa kamar pun aku tidak mempunyai uang. Akan tetapi yang paling menyusahkan hatiku ialah kitab itu.”

“Mengapa pula, siocia? Bukankah kitab itu telah berada lama di tanganmu? Apakah kau belum hafal dan belum mempelajari semua isi kitab itu?”

Tin Eng menarik napas panjang. Sukar baginya untuk membicarakan tentang kitab itu kepada seorang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali. “Gwat Kong, biarpun aku telah hafal, akan tetapi belum matang benar dan perlu sekali aku mempelajari lebih mendalam. Terutama sekali, kitab itu adalah kitab pelajaran ilmu silat yang tinggi dan apabila pelajaran itu terjatuh dan dipelajari oleh seorang jahat, maka ia akan menjadi seorang penjahat yang amat berbahaya. Aku harus mendapatkan kembali kitab itu. Lebih baik melihat kitab itu terbakar musnah dari pada melihat ia terjatuh ke dalam tangan orang jahat.”

“Kalau begitu, mengapa tidak kau kejar saja mereka?” tanya Gwat Kong. Dan mendengar pertanyaan yang dianggapnya bodoh ini Tin Eng berkata bersungguh-sungguh,

“Enak saja kau bicara! Mereka telah lari selagi aku pingsan dan ke mana aku harus mengejar mereka? Aku tidak mengenal mereka dan tidak tahu di mana mereka tinggal.”

“Akan tetapi aku kenal mereka dan tahu tempat tinggal mereka, siocia.”

Tin Eng memandang heran. Gadis ini telah merasa biasa lagi dan sebagian besar rasa sedihnya telah lenyap setelah bertemu dengan Gwat Kong. Karena bercakap-cakap dengan pemuda itu membuat ia merasa seakan-akan ia kembali berada di tempat tinggal orang tuanya, seakan-akan ia tak pernah pergi dari rumah dan Gwat Kong masih menjadi pelayan ayahnya. Pemuda itu sikapnya masih demikian polos dan menghormat. Entah bagaimana, biarpun tak ia perlihatkan akan tetapi di dalam hatinya timbul kegirangan besar sekali setelah bertemu dengan Gwat Kong, bekas pelayannya itu. Dan kini pemuda ini menyatakan bahwa ia kenal dan tahu tempat tinggal kelima orang yang membawa pergi kitab ilmu pedangnya.

“Kau, Gwat Kong? Benar-benarkah kau tahu tempat tinggal mereka? Siapakah sebenarnya mereka itu?” sambil ajukan pertanyaan ini Tin Eng memandang kepada pemuda itu dengan kagum oleh karena semenjak ia masih kecil dan bergaul dengan pelayan ini, sudah seringkali Gwat Kong merupakan sumber pertolongan baginya. Apalagi dalam hal mengatur taman bunga, hanya Gwat Kong saja yang dapat memuaskan hatinya.

Pemuda itu mengangguk. “Tadi ketika aku melihat mereka pergi, aku tahu bahwa mereka itu adalah Ngo-hiap. Lima jago tua yang amat terkenal di Ki-ciu. Mereka itu bertempat tinggal di sebelah timur kota.”

“Bagus sekali, Gwat Kong. Kalau begitu hayo kau antar aku ke tempat mereka!”

“Jangan sekarang, siocia. Lebih baik besok pagi, karena tidak baik malam-malam mendatangi tempat mereka. Dan pula mereka itu terkenal sebagai jagoan-jagoan yang lihai. Apakah tidak berbahaya kalau kau datang kesana ?”

“Aku tidak takut!” jawab Tin Eng dengan sikap gagah. “Tadipun kalau mereka tidak berlaku curang, belum tentu aku akan kalah! Pendeknya, lihai atau tidak, aku harus datang ke sana mengadu nyawa untuk merampas kembali kitab itu!”

“Kau benar-benar hebat dan gagah sekali, Liok-siocia.” Tiba-tiba sepasang mata Gwat Kong memandang dengan penuh kekaguman dan mesra sekali. Akan tetapi oleh karena keadaan tidak begitu terang, Tin Eng tidak melihat pandang mata itu.

Mereka lalu meninggalkan tempat itu dan berjalan di bawah sinar bulan kembali ke kota Ki-ciu. Gwat Kong mengantarkan Tin Eng sampai di hotelnya dan ketika gadis itu bertanya di mana tempat pemuda itu, Gwat Kong menjawab sambil tersenyum,

“Aku juga seorang perantau seperti kau sendiri, siocia. Akan tetapi, aku tidak bisa tidur di hotel sebesar ini.”

“Kalau begitu, kau minta saja sebuah kamar, biar aku yang akan membayar ….” Tiba-tiba Tin Eng menghentikan omongannya, karena ia teringat betapa ia sendiripun belum tentu dapat membayar sewa kamarnya.

Gwat Kong mengerti akan keraguan gadis itu maka ia tersenyum dan berkata, “Jangan kuatir, nona. Bagiku sih mudah saja, tidur di kelenteng atau di emper rumah pun cukup dan tentang uang sewa kamarmu, tak usah kau kuatir pula, kalau memang kau telah kehabisan uang dan semua uangmu telah dicuri orang biarlah besok kucarikan uang pembayaran sewa kamar itu.”

Tin Eng menarik napas lega. Selalu pemuda ini dapat memecahkan kesulitannya sehingga ia merasa berterima kasih sekali.

“Nah, selamat malam, nona. Besok pagi-pagi aku akan datang ke sini untuk mengantarkan kau ke tempat mereka itu.”

“Selamat malam, Gwat Kong dan … kau maafkanlah segala kekasaranku terhadapmu dulu!” Ucapan ini dikeluarkan dengan suara isak di tenggorokan.

“Jangan sebut lagi hal itu, siocia” kata Gwat Kong yang melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan hotel.

“Dan … terima kasih kepadamu, Gwat Kong, kau .. kau baik sekali.”

Gwat Kong menengok dan tersenyum, wajahnya yang tersorot lampu di ruang hotel itu nampak tampan dan berseri girang. “Tidurlah, siocia!” katanya, kemudian ia menghilang di dalam gelap.

Tin Eng masuk ke dalam kamarnya dan malam itu ia tidur dengan nyenyak seakan-akan berada di dalam kamarnya sendiri di gedung ayahnya. Biarpun semenjak siang tadi ia belum makan, akan tetapi ia tidak merasa lapar dan semua kedukaannya lenyap kalau ia mengingat bahwa besok pagi ia akan pergi ke tempat lima jago tua yang telah mengambil kitabnya itu bersama Gwat Kong.

****

Mari kita ikuti dulu perjalanan Gwat Kong semenjak ia berpisah dari Gui A Sam bekas kepala pengawal mendiang ayahnya itu. Tertarik oleh penuturan A Sam tentang diri Dewi Tangan Maut, puteri tunggal hartawan Tan, musuh besarnya yang telah meninggal dunia itu, ia lalu berangkat menuju ke Kang-lam.

Ia dapat mencari rumah hartawan Tan, akan tetapi ternyata rumah gedung itu ditutup rapat dan tidak ada penghuninya dan ketika ia mencari keterangan, ternyata bahwa pemilik rumah gedung itu, yakni yang disebut oleh orang-orang di Kang-lam sebagai Tan-lihiap sedang pergi merantau. Orang memberi keterangan kepada Gwat Kong menambahkan,

“Kalau saja Tan-lihiap berada di sini, tak mungkin dua orang penjahat itu berani mengacau!”

Gwat Kong tertarik hatinya. “Penjahat yang manakah?”

“Kau belum tahukah, kongcu? Bukankah ada pengumuman ditempel di mana-mana? Pembesar di sini telah menjanjikan hadiah besar bagi siapa yang dapat menangkap kedua orang penjahat itu!”

“Aku baru saja datang dari luarkota , mana aku tahu akan segala peristiwa yang terjadi di sini? Sesungguhnya, apakah yang telah terjadi?”

“Kalau kongcu benar-benar tertarik dan ingin tahu, lebih baik kongcu datang kepada tihu di tempat ini untuk mendapatkan keterangan lebih jelas lagi. Aku tidak berani banyak bicara, oleh karena kedua penjahat itu lihai sekali dan pernah ada orang yang membicarakan mereka, pada malam harinya didatangi dan dibunuh.”

Bukan main herannya hati Gwat Kong mendengar ini. Akan tetapi ia tidak bisa mendapat keterangan selanjutnya dari orang yang ketakutan itu, maka terpaksa ia lalu mengarahkan langkahnya ke gedung tihu.

Tihu di Kang-lam orangnya ramah tamah dan Gwat Kong disambut dengan baik sekali olehnya sehingga pemuda ini merasa suka. Karena jarang pada dewasa itu menemui seorang pembesar sedemikian baik dan ramah sikapnya.

“Telah hampir sebulan kota kami mendapat gangguan dua orang penjahat,” tihu itu mulai menerangkan. “Kami telah berusaha sedapatnya untuk menangkap mereka akan tetapi selalu gagal. Banyak orang di kota ini tak sanggup menghadapi mereka yang amat lihai. Apakah kedatangan hiante ini hendak membantu kami?”

“Hendak saya coba, taijin dan mudah-mudahan saja tenagaku yang lemah dapat merupakan bantuan sekedarnya.”

Melihat sikap yang sopan santun dan merendah dari Gwat Kong, berbeda dengan sikap orang-orang ahli silat lainnya, tihu itu merasa ragu-ragu akan tetapi juga girang sekali. Ia lalu memerintahkan pelayannya untuk mengeluarkan hidangan dan arak wangi, sedangkan Gwat Kong yang telah beberapa hari tidak mencium bau arak wangi tanpa sungkan-sungkan lagi lalu minum dengan lahapnya.

Tihu itu merasa heran dan gembira melihat betapa Gwat Kong kuat sekali minum arak. Berkali-kali ia memerintahkan pelayan menambah arak sehingga sebentar saja Gwat Kong telah menghabiskan hampirlima belas cawan besar arak wangi yang amat keras. Bukan main herannya tihu itu beserta para pelayan karena orang biasa saja belum tentu akan sanggup menghabiskan tiga cawan tanpa terserang mabuk. Akan tetapi pemuda yang nampak halus itu telah menghabiskan lima belas cawan besar dan tidak terlihat tanda-tanda mabuk sama sekali.

Sambil makan minum, tihu itu menceritakan kepadanya bahwa dua orang pengacau yang datang mengganggu itu adalah dua orang jahat yang selain mencuri harta-harta benda, juga mengganggu anak bini orang dan tidak segan-segan membunuh. Sudah enam orang menjadi korban senjata mereka, di antranya dua orang penjaga dan seorang gadis. Bukan main marahnya Gwat Kong ketika mendengar ini.

“Malam ini saya akan menjaga di atas rumah dan mudah-mudahan saja mereka itu akan muncul agar dapat saya serang,” katanya.

Malam itu keadaan sunyi dan orang-orang telah pergi tidur sebelum gelap benar. Sungguhpun mereka tidak berani meramkan mata dan selalu mendengar kalau-kalau para penjahat itu datang ke rumah mereka. Sebelum melakukan penjagaan di atas rumah-rumah para penduduk, Gwat Kong minta seguci arak wangi lagi karena memang arak wangi dari Kang-lam luar biasa enaknya.

Dengan membawa seguci arak wangi dan sulingnya yang terselip di pinggang, pemuda itu melompat naik ke atas genteng dan mulai berkeliling mengadakan penjagaan. Hawa malam itu dingin sekali, akan tetapi oleh karena ia berteman dengan araknya, ia tidak merasa dingin. Arak itu ia minum begitu saja tanpa menggunakan cawan, langsung dituang dari mulut guci ke mulutnya.

Menjelang tengah malam, ketika ia sedang meneguk guci araknya yang tinggal sedikit lagi, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar ke arah perut dan lehernya. Ia maklum bahwa itu tentulah sambaran senjata rahasia. Akan tetapi untuk memperlihatkan kepandaiannya, Gwat Kong tidak menghentikan minumnya dan sekali tangan kirinya bergerak cepat, ia berhasil menangkap dua buah senjata piauw yang menyambarnya itu.

Barulah ia menurunkan guci araknya dan berkata, “Penjahat-penjahat rendah yang manakah yang berani mengganggu orang minum arak?”

Sementara itu, kedua orang penjahat yang pada siang harinya telah mendengar bahwa ada seorang pemuda pemabokan hendak menangkap mereka, menjadi geli sekali. Dan semenjak tadi mereka diam-diam telah mengikuti gerak-gerik Gwat Kong yang mereka anggap tolol. Ketika pemuda itu sedang minum araknya, mereka lalu menyerang dengan piauw tadi untuk membuatnya mati selagi minum arak. Akan tetapi, tak mereka sangka sama sekali bahwa pemuda itu demikian lihai sehingga dapat menangkap piauw mereka sambil minum arak.

Gwat Kong berkata lagi, “Ini, terimalah kembali piauw kalian!” Ia mengayun tangannya secara sembarangan ke arah mereka, lalu menenggak araknya lagi tanpa perdulikan apakah sambitannya itu mengenai sasaran atau tidak. Piauw yang disambitkan dengan tenaga lweekangnya yang hebat itu meluncur cepat sekali dan dengan kaget kedua penjahat itu lalu mengelak agar jangan sampai terkena senjata rahasia mereka sendiri.

Mereka menjadi marah sekali dan dengan pedang di tangan mereka lalu melompat dan menyerang Gwat Kong yang masih minum araknya. Gwat Kong tiba-tiba melompat jauh dan menghindarkan diri dari serangan itu sambil menurunkan guci araknya yang kini telah kosong. Dan ketika kedua orang itu menyerangnya lagi, tiba-tiba ia menyemburkan arak dari mulutnya yang menyerang muka kedua orang lawannya bagaikan puluhan anak panah.

Kedua orang penjahat itu sama sekali tak pernah menduga dan tentu saja mereka tidak takut terhadap semprotan arak ini. Akan tetapi ketika serangan arak yang disemburkan dengan tenaga lweekang itu mengenai muka mereka, kedua orang penjahat itu memekik ngeri dan tubuh mereka terhuyung-huyung di atas genteng dan pedang mereka terlepas karena kedua tangan digunakan untuk menutupi muka mereka yang terasa sakit sekali.

Sambil tertawa tergelak-gelak, Gwat Kong lalu menggerakkan tangan kanannya untuk mengirim totokan sehingga kedua orang penjahat itu roboh tak berkutik lagi dalam keadaan lemas. Sambil tertawa-tawa karena telah agak terlampau banyak minum arak sehingga menjadi riang gembira wataknya, Gwat Kong mengempit tubuh kedua penjahat itu di tangan kanan kiri, meninggalkan guci araknya yang telah kosong. Lalu melompat turun dan terus membawa mereka ke gedung tihu.

Tihu dari Kang-lam yang diberitahukan tentang kedatangan pemuda itu segera menyambutnya. Gwat Kong melemparkan dua tubuh penjahat itu ke depan kaki tihu, lalu menjura dalam-dalam dan berkata,

“Inilah kedua orang penjahat yang mengacau Kang-lam, taijin.”

Bukan main heran dan girangnya pembesar itu dan ketika melihat bahwa Gwat Kong hendak pergi lagi, lalu menahannya dan berkata, “Nanti dulu, taihiap! Kau belum menerima hadiahmu.”

Gwat Kong tertawa bergelak, “Sudah, sudah kuterima, taijin. Hadiahnya ialah keramah-tamahanmu dan arak wangi yang amat enak itu.”

Tihu itu juga tertawa dan makin kagumlah ia terhadap pendekar muda yang aneh ini. “Kalau begitu, biarlah kutambahkan lagi arak yang terbaik untuk kau bawa pergi. Dan kami pun harus ketahui dulu siapa namamu, taihiap. Semenjak siang tadi, kau selalu menolak untuk memberitahukan namamu kepada kami.”

Kembali Gwat Kong tertawa. “Apakah artinya nama? Disebut apapun saya tidak keberatan, tajin dan tentang arak terbaik itu ….. hmmm, kalau memang taijin hendak memberi kepadaku tentu saja kuterima dengan ucapan terima kasih.”

Tihu itu lalu memerintahkan seorang di antara pelayan yang juga memenuhi ruangan itu untuk mengambil sebuah guci araknya yang terbuat dari pada perak dan memakai tali gantungan, lalu memberikan benda itu kepada Gwat Kong.

“Taihiap, jangan pandang rendah guci arak ini, karena arak yang disimpan di dalam guci ini akan dapat tahan sampai bertahun-tahun tanpa menjadi kurang kenikmatan rasanya dan segala macam minuman apabila dimasukkan ke dalam guci ini, maka akan menjadi bersih dari segala racun. Air beracun yang amat jahat akan menjadi air minum yang tidak berbahaya apabali dimasukkan ke dalam guci ini karena racunnya telah dihisap oleh dasar guci. Dan tentang namamu taihiap, kalau kau memang tidak mau memperkenalkannya, biarlah kami memberi nama kehormatan Kang-lam Ciu-hiap (Pendekar Arak dari Kang-lam) kepadamu,”

Gwat Kong menerima guci yang berisi penuh arak terpilih itu, menggantungkan talinya pada ikat pinggang dan tertawa girang.

“Nama yang bagus sekali! Dengan tihunya seperti taijin ini yang ramah tamah dan bijaksana, Kang-lam merupakan kota istimewa bagiku, maka aku suka sekali disebut Kang-lam Ciu-hiap. Nah, selamat malam, taijin!”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, tubuh Gwat Kong telah lenyap dari depan tihu dan para pelayannya itu sehingga mereka merasa kagum sekali. Makin besar kegembiraan mereka ketika ternyata bahwa kedua orang yang tak berdaya itu benar-benar adalah dua orang penjahat yang selama ini mengacau kota mereka. Segera kedua orang itu dibelenggu dan dimasukkan ke dalam penjara.

Gwat Kong lalu pergi keluar darikota itu dan malam itu ia tidur dengan amat nyenyaknya di sebuah kelenteng yang berada di luarkota . Hatinya merasa amat girang oleh karena selain mendapat kenyataan bahwa latihan-latihannya selama ini makin memajukan kepandaiannya, juga kebaikan hati tihu itu menyenangkan hatinya.

Hanya ia merasa agak penasaran dan kecewa karena belum dapat bertemu dengan Dewi Tangan Maut, puteri musuh besarnya yang amat disohorkan orang itu. Ia tidak berniat untuk membalas dendam orang tuanya kepada gadis itu. Hanya ia ingin melihat sampai di mana kelihaian gadis yang amat terkenal ini dan hendak melihat pula apakah benar-benar gadis itu amat jahat dan kejam sebagaimana yang dikabarkan oleh Gui A Sam kepadanya.

Kalau toh ia harus menyerang gadis itu, ia akan menyerang karena kejahatannya, bukan karena dendamnya kepada Tan-wangwe. Ucapan orang yang memberi keterangan kepadanya tentang adanya dua orang penjahat di Kang-lam, yang berkata bahwa kalau Dewi Tangan Maut berada di Kang-lam maka penjahat-penjahat itu tentu tak berani berlagak, menimbulkan kesan baik terhadap gadis itu padanya.

Pada kesokan harinya, ia melanjutkan perjalanannya. Dua hari kemudian, ketika tiba di luar sebuah hutan ia melihat serombongan orang yang terdiri dari dua belas orang-orang gagah dikepalai oleh seorang tua yang membawa tongkat bambu, berlari-lari memasuki hutan itu. Mereka ini semua membawa senjata pedang atau golok seakan-akan mereka hendak menyerbu musuh. Gwat Kong merasa tertarik dan diam-diam ia mengikuti mereka dari belakang dengan sembunyi.

Rombongan itu berhenti di depan gua besar yang berada di tengah hutan dan orang tua bertongkat itu segera berteriak ke arah gua,

“Sahabat, keluarlah! Kami hendak bicara denganmu!”

Teriakan itu bergema di seluruh hutan, akan tetapi setelah itu sunyi karena tidak terdengar jawaban. Tak lama kemudian, keluarlah seorang laki-laki tua dari dalam gua itu dan Gwat Kong yang mengintai sambil bersembunyi, merasa kaget melihat keadaan orang yang aneh itu. Orang ini telah tua sekali, tubuhnya bongkok dan tangan kanannya memegang sebuah pedang yang mengeluarkan sinar gemilang.

Kakek bongkok ini mempunyai sepasang mata yang menakutkan dan melihat betapa sepasang mata itu berputaran secara liar. Tahulah Gwat Kong bahwa orang ini tentu miring otaknya. Kakek yang aneh ini lalu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara menyeramkan sekali. Kemudian sambil menuding dengan pedangnya ia berkata tidak keruan,

“Ha ha ha, Ngo-heng-kun Ngo-koai,lima siluman jahat, kalian datang mengantarkan nyawa? Ha ha ha!” Kakek ini lalu berjingkrak-jingkrak di atas kedua kakinya dan menari-narikan pedangnya seperti orang atau anak kecil yang amat bergirang hati.

Orang tua bertongkat bambu yang memimpin rombongannya itu berkata dengan suara sabar, “Lo-enghiong, jangan salah sangka. Kami adalah penduduk dusun Ma-chun yang datang hendak minta pertolongan lo-enghiong. Dusun kami terserang penyakit kuning dan telah banyak yang mati dan lebih banyak pula yang kini terancam bahaya maut. Karena lo-enghiong telah mengambil semua akar putih yang berada di hutan ini, maka tolonglah memberi kami obat itu untuk menyembuhkan kawan-kawan dan saudara-saudara kami.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: