Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 12

KEMBALI terdengar suara ketawa yang menyeramkan. “Kalian memang harus mampus! Ha ha ha, Ngo-heng-kun kelima-limanya harus mampus, mengapa minta tolong padaku? Aku boleh menolongmu, menolong mengantarkan kalian iblis-iblis Ngo-heng ini ke neraka, ha ha!”

Setelah berkata demikian, secepat kilat ia menubruk maju dan menyerang rombongan orang-orang itu. Ia mengamuk bagaikan seekor harimau gila dan pedangnya digerakkan dengan hebat sekali.

Orang tua pemimpin rombongan itu berseru keras memberi aba-aba kepada para kawannya untuk mengepung, sedangkan ia sendiri lalu menggerakkan tongkat bambunya yang lihai. Ketika orang gila itu menusuk dengan pedangnya, tongkat bambu kakek itu menangkis dan beradunya kedua senjata itu membuat kakek itu berseru keras karena terkejut. Ia merasa tangannya perih sekali dan tongkatnya hampir terlepas dari pegangan.

“Ha ha ha!” Iblis-iblis Ngo-heng, sekarang kalian mampus!” orang gila itu tertawa-tawa dan hendak menyerang lagi. Akan tetapi pada saat itu, sebelas orang pengikut kakek bertongkat tadi menyerbu dari belakang dan belasan golok dan pedang berkelebat menimpanya bagaikan air hujan.

Orang gila itu ternyata lihai sekali. Ia agaknya telah mendengar angin senjata menyambar ke arahnya, maka sambil tertawa mengerikan, ia membalikkan tubuhnya dan pedang pusaka di tangannya itu berkelebat cepat mendatangkan sinar putih yang gemilang. Teriakan-teriakan terdengar dan beberapa batang pedang terlepas ke atas, bahkan banyak pula golok dan pedang yang putus karena terbabat oleh pedang orang gila itu.

“Ha ha ha! Iblis-iblis Ngo-heng, rasakan pembalasanku! Lihatlah kelihaianku!” Sambil berkata demikian, ia lalu memutar-mutar pedangnya dan bersilat dengan gerakan-gerakan yang aneh dan hebat sekali sehingga semua pengeroyoknya mundur takut dan jerih. Akan tetapi orang gila itu masih terus bersilat pedang seorang diri sambil tertawa-tawa. Juga kakek bertongkat yang memiliki ilmu silat cukup tinggi itu tidak berani maju karena maklum ia bukan tandingan orang gila yang amat berbahaya dan lihai itu.

Gwat Kong yang melihat ilmu silat pedang orang gila itu, tak terasa pula berseru keras sehingga semua orang menengok ke arahnya dengan heran. Ternyata bahwa orang gila itu telah bersilat pedang Sin-eng Kiam-hoat yang biarpun tidak sempurna benar, akan tetapi masih lebih tinggi dan hebat dari pada Sin-eng Kiam-hoat yang dimiliki oleh Liok Tin Eng.

Saking tertariknya Gwat Kong tidak memperdulikan pandangan mata terheran-heran dari semua orang dusun Ma-chun itu dan segera melangkah maju menghampiri orang gila yang masih saja bersilat pedang dengan cepatnya. Pemuda ini lalu mencabut keluar sulingnya dan ia segera bersilat pula, mengimbangi permainan orang gila itu. Kakek bongkok yang berotak miring itu ketika melihat gerakan suling Gwat Kong, tiba-tiba menghentikan permainan pedangnya dan memandang dengan mata terbelalak dan mulut berbusa.

“Kau mencuri ilmu pedangku!” teriaknya keras.

“Tidak, locianpwe, karena ilmu pedangku yang lebih asli. Ilmumu itu hanya tiruan belaka yang tidak sempurna!” jawab Gwat Kong dengan berani.

Orang gila itu memekik keras lalu tertawa bergelak. “Kau ….. kau memiliki Sin-eng Kiam-hoat! Kau tentu orangnya iblis-iblis Ngo-heng!”

“Bukan, aku tidak kenal kepada iblis-iblis Ngo-heng!”

Akan tetapi orang gila itu menjadi makin marah lagi. “Kau pencuri!” Setelah memaki marah, ia lalu menggerakkan pedangnya dan menyerang Gwat Kong dengan ilmu gerakan Sin-eng-tian-ci atau Garuda Sakti Pentangkan Sayap. Serangan ini hebat sekali dan Gwat Kong yang sudah hafal benar akan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat, melihat betapa gerakan ini biarpun kurang tepat, akan tetapi dilakukan dengan ginkang yang luar biasa tingginya sehingga tubuh orang gila itu lenyap terbungkus sinar pedang.

Sebagai seorang ahli ilmu pedang ini, bahkan yang memiliki kepandaian dari kitab aslinya, tentu saja Gwat Kong tahu bagaimana harus menghadapi lawannya, maka ia lalu mainkan gerak tipu Sin-eng-hian-jiauw atau Garuda Sakti Pentang Kuku. Sulingnya bergerak cepat dan mengikuti gerakan pedang lawan hingga ke mana saja ujung pedang itu selalu bertemu dengan sulingnya dan dapat disampok kembali ke arah penyerangnya.

“Maling … pencuri ilmu …” berkali-kali orang gila itu berteriak-teriak marah dan gerakannya makin nekat dan buas. Dari mulutnya keluar busa putih dan sepasang matanya terputar-putar makin cepat dan kini telah berubah merah.

“Locianpwe, jangan salah duga. Aku bukan pencuri, dan marilah kita bicarakan baik-baik,” kata Gwat Kong sambil membalas dengan serangannya. Akan tetapi kakek gila itu tidak mau memperdulikan ucapannya, bahkan menyerang makin hebat.

Terpaksa Gwat Kong lalu melayaninya dan kini pemuda ini tidak mau memberi kelonggaran pula. Ia keluarkan ilmu pedangnya yang paling kuat dan karena ilmu pedang itu walaupun sama dengan kepandaian si gila, akan tetapi lebih asli dan sempurna. Sebentar saja sulingnya dapat mendesak pedang lawan dan beberapa kali ia berhasil menotok jalan darah lawannya.

Namun, alangkah terkejut dan herannya ketika mendapat kenyataan betapa lawannya yang gila itu ternyata memiliki kekebalan dan tidak roboh karena totokannya yang tepat mengenai jalan darah. Dapat dibayangkan betapa tingginya ilmu lweekang kakek itu yang sambil berkelahi dapat menutup jalan darahnya sehingga menjadi kebal terhadap totokan-totokan.

Sungguhpun demikian, namun tenaga totokan Gwat Kong yang kuat dengan lweekangnya yang sudah tinggi karena dilatih secara rahasia dan luar biasa menurut petunjuk kitab pelajarannya membuat kakek gila itu tergetar tubuhnya dan makin lama permainannya makin menjadi lemah. Yang lebih merepotkannya, ialah karena tangan kirinya telah mati kaku dan tak dapat digerakkan lagi sehingga permainan pedangnya kurang mendapat imbangan tubuh yang baik. Terutama sekali ia telah menderita luka-luka di dalam tubuh yang makin menghebat karena tidak terawat dan karena makan obat secara serampangan saja.

Tiba-tiba kakek gila itu mengeluarkan teriakan menyeramkan dan roboh pingsan dengan pedang masih terpegang erat-erat di tangannya. Gwat Kong merasa heran sekali dan ketika ia memeriksa, ternyata kakek itu berada dalam keadaan yang amat payah. Pemuda itu yang tadinya merasa heran mengapa lawannya roboh tanpa kena pukulannya, kini mengerti kakek itu memang telah menderita sakit dan luka-luka di dalam tubuh. Maka timbullah rasa kasihan di dalam hatinya.

Ia menurunkan guci araknya dan setelah memberi minum seteguk, kakek itu membuka matanya. Heran sekali, sinar gila yang liar itu kini lenyap dari matanya dan ia memandang kepada Gwat Kong dengan kagum. Napasnya tinggal satu-satu dan keadaannya payah benar, tubuhnya lemas. Akan tetapi pedangnya itu tidak pernah terlepas dari pegangannya.

“Kau … kau bukan anggauta Ngo-heng?” tanyanya kepada Gwat Kong.

Pemuda itu men             ggelengkan kepalanya. “Locianpwe, aku hanyalah seorang perantau yang kebetulan lewat di sini saja. Orang-orang kampung itu datang hendak minta tolong kepadamu, minta akar obat untuk menyembuhkan kawan-kawan yang menderita sakit kuning.”

Kakek itu mengangguk-angguk dan sambil menggerakkan tangannya ke arah orang-orang kampung yang memandang dengan heran dan kagum, ia berkata, “Ambillah, ambillah … obat itu di dalam gua …” lalu ia menjatuhkan tangannya yang memegang pedang itu di atas tanah lagi.

“Terima kasih, lo-enghiong,” kata kakek bertongkat tadi dan ia mengajak kawan-kawannya memasuki gua. Akan tetapi tiba-tiba kakek gila itu berseru keras,

“Mundur semua!”

Orang-orang itu menjadi kaget, demikianpun Gwat Kong yang menyangka bahwa kakek ini kambuh kembali penyakit gilanya. Akan tetapi, pada saat semua orang itu mundur kembali dengan ragu-ragu, terdengar suara mendesis-desis dari dalam gua dan keluarlah belasan ekor ular yang biarpun kecil-kecil akan tetapi bergerak maju dengan gesit, kepala terangkat dan mendesis-desis menyemburkan uap putih. Sekali pandang saja tahulah semua orang bahwa ular-ular itu berbahaya dan berbisa.

Selagi semua orang dusun Ma-chun tercengang dan terkesima, Gwat Kong lalu menuangkan arak dari gucinya ke dalam mulut, lalu ia berdiri dan mendekati mulut gua yang penuh dengan ular-ular itu. Ia lalu menyemburkan arak dari mulutnya ke arah binatang-binatang itu yang segera berkelenjetan di atas tanah dan mati. Bukan main hebatnya tenaga semburan arak dari mulut Gwat Kong ini dan tetesan-tetesan arak yang meluncur keluar itu bagaikan anak panah menancap dan menembus kepala ular-ular itu sehingga menyerang ke dalam benak!

Melihat kelihaian ini, orang-orang dusun Ma-chun segera memuji dengan amat kagum. Bahkan seorang di antara mereka lalu berseru, “Dia tentu Kang-lam Ciu-hiap!”

Gwat Kong memandang heran dan bertanya, “Sahabat, bagaimana kau bisa tahu aku disebut Kang-lam Ciu-hiap? Baru tiga hari aku mendapat sebutan itu di Kang-lam?”

Kakek bertongkat itu lalu menjura dan berkata, “Jangan mengherankan hal ini, orang muda yang gagah. Berita memang berjalan cepat laksana angin lalu. Sebelum kau tiba di tempat ini, namamu telah terbawa angin dan telah terdengar sampai jauh di kampung kami. Kawan-kawan tadi hanya menduga-duga saja bahwa kaulah orangnya yang disebut Kang-lam Ciu-hiap karena kau selain masih muda dan lihai, juga membawa-bawa arak dan bahkan dapat mempergunakan arak sebagai senjata yang demikian ampuhnya!”

Sementara itu, kakek gila tadi tidak tahu akan nasib semua ular peliharaannya karena ia sendiri telah lemas dan hanya rebah di atas tanah sambil meramkan mata. Kini orang-orang kampung itu dapat masuk gua dan tak lama kemudian mereka membawa akar-akar obat berwarna putih.

Kakek bertongkat itu menjura lagi kepada Gwat Kong sambil menghaturkan terima kasihnya. Juga tidak lupa ia menjura kepada kakek gila yang rebah di atas tanah itu sambil menghaturkan terima kasihnya. Kemudian ia pimpin kawan-kawannya untuk kembali ke dusun mereka untuk segera memberi pertolongan kepada sanak keluarga yang terserang penyakit kuning yang pada waktu itu berjangkit di dusun mereka.

Gwat Kong yang tinggal seorang diri, lalu menghampiri kakek gila itu dan berlutut.

“Bagaimana, locianpwe, apakah kau masih merasa sakit?” tanyanya.

Orang tua itu membuka mata, tersenyum sedih dan berkata, “Anak muda, siapakah namamu?”

“Aku bernama Bun Gwat Kong.”

“Tadi aku mendengar mereka menyebut Kang-lam Ciu-hiap, kaukah itu?”

Gwat Kong diam-diam merasa kagum oleh karena biarpun keadaannya demikian lemah tak berdaya, namun kakek ini mempunyai pendengaran yang amat tajam.

“Aku mendapatkan sebutan itu di Kang-lam,” jawabnya sederhana.

“Kang-lam Ciu-hiap, sebutan yang bagus! Dulupun aku mempunyai sebutan yang cukup gagah. Bu-heng-sian. Dewa Tanpa Bayangan! Ah … semua itu telah berlalu, habis dimakan usia … tiba-tiba ia bangun dan duduk, lalu memandang tajam kepada Gwat Kong yang membantunya karena agak sukar sekali kakek itu dapat bangun sendiri.

“Kau ……. dari manakah kau dapatkan ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat?”

“Aku mendapatkan kitab-kitabnya secara kebetulan sekali, locianpwe. Ketika aku menggali sebuah tempat belukar di Kiang-sui.”

“Di Kiang-sui katamu? Hm, jadi kaukah yang mendapatkan kitab-kitabku? Bagus, ketahuilah, akulah orangnya yang menyimpannya di sana dan aku pula yang menyalin kitab itu!” Setelah bicara sampai di sini, kakek itu nampak lelah sekali dan kembali ia menjatuhkan dirinya yang segera dipeluk oleh Gwat Kong dan dibantunya rebah di atas tanah kembali.

“Kalau begitu, teecu harus menghaturkan terima kasih kepadamu, locianpwe.”

“Tak usah, tak usah …. akupun hanya mendapatkan kitab itu … dan kau agaknya lebih berjodoh … kitab aslinya sukar sekali bagiku yang setengah buta huruf …. kau lihat pedang ini …. aku mendapatkan kitab kuno itu bersama pedang ini …” Ia memberikan pedangnya yang bersinar mengkilap itu dan Gwat Kong melihat sebuah gambar kepala garuda terukir pada gagang pedang itu.

“Inilah Sin-eng-kiam … biar kuberikan padamu … kau lebih patut memegangnya, kau lebih gagah dariku …”

“Tapi, locianpwe, kepandaianmu tinggi sekali …”

“Jangan banyak cakap! Kau telah memiliki kepandaian aslinya. Hal itu sudah kuketahui …. akan tetapi berhati-hatilah kau … kelima iblis Ngo-heng mencari-cari kitab itu dan kau takkan diberinya ampun …” Setelah berkata demikian, kakek yang malang itu kembali roboh pingsan. Gwat Kong merasa kasihan sekali dan ia lalu mengangkat tubuh kakek itu ke dalam gua.

Sehari semalam kakek itu rebah pingsan dan kadang-kadang Gwat Kong menuangkan arak ke dalam mulutnya. Ketika siuman kembali, kakek itu nampaknya merasa terharu karena pemuda itu masih menjaganya, maka ia lalu berkata,

“Kau … baik sekali … aku tak tahan lagi, tubuhku telah penuh luka di sebelah dalam akibat pukulan-pukulan Ngo-heng … kau berhati-hatilah …” Dan tak lama kemudian kakek yang tadinya menderita penyakit gila itu menghembuskan napas terakhir di pangkuan Gwat Kong.

Gwat Kong lalu mengubur jenazah kakek yang berjuluk Bu-eng-sian itu di dalam gua tadi. Kemudian ia lalu tinggalkan gua itu sambil membawa pedang Sin-eng-kiam yang disembunyikan di balik pakaiannya. Ia tak sempat mengetahui nama kakek itu karena ketika ia bertanya jawabnya hanya “Bu-eng-sian … aku Bu-eng-sian ….”

****

Demikianlah kisah perjalanan Gwat Kong dan beberapa hari kemudian, perantauannya yang dilakukan tanpa tujuan tertentu itu membawanya sampai ke dekat kota Ki-ciu di mana secara kebetulan ia dapat melihat Tin Eng dikeroyok oleh Ngo-heng-kun Ngo-hiap dan berhasil menolong nona itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia telah datang di hotel tempat Tin Eng bermalam. Ia takut kalau-kalau ia datang terlampau pagi. Jangan-jangan Tin Eng masih tidur, pikirnya. Akan tetapi, ketika ia tiba di halaman hotel, ternyata nona itu telah menantinya di situ dengan tak sabar. Nona ini bangun pagi-pagi sekali dan telah lama berdiri menanti di depan hotel.

“Mari kita berangkat!” kata Tin Eng setelah melihat Gwat Kong datang dan suara nona ini terdengar gembira sekali.

Mereka lalu berjalan keluar dari halaman hotel, keadaan di dalam kota masih sunyi sekali karena sebagian besar penduduknya masih tidur. Gwat Kong memang tahu di mana tempat tinggal Ngo-heng-kun Ngo-hiap itu karena sebelum bertemu dengan Tin Eng, ia telah melakukan penyelidikan karena hatinya tertarik dan ingin sekali ia tahu lima orang yang agaknya pernah bermusuhan dengan Bu-eng-sian sehingga kakek itu menderita luka-luka hebat. Biarpun tidak diminta, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa penasaran dan ingin mencoba kepandaian mereka yang telah menjatuhkan Bu-eng-sian yang bagaimana pun juga dianggap sebagai orang berjasa kepadanya.

Bukankah kalau kitab itu tidak disimpan di Kiang-sui ia takkan dapat memiliki ilmu pedang dan lain-lain kepandaian itu? Dan bukankah kakek itu pun telah memberi pedang Sin-eng-kiam kepadanya?

Rumah kelima orang jago ilmu silat Ngo-heng-kun itu berada di sebelah timurkota Ki-ciu dan nama mereka ini amat terkenal. Lima jago-jago Ngo-heng-kun ini terdiri dari lima orang gagah yang telah mengangkat saudara mempelajari ilmu silat Ngo-heng-kun bersama.

Yang tertua bernama Lim Hwat dan keistimewaannya ialah permainan senjata cambuk panjang yang amat lihai karena cambuk itu selain lemas dan kuat, juga digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi, sehingga selain dapat digunakan untuk menotok jalan darah lawan juga baik sekali untuk membelit dan merampas senjata tajam lawan.

Orang kedua adalah adik kandungnya sendiri, Lim Can yang juga amat lihai dan menduduki tempat kedua dalam perkumpulan itu oleh karena ia pandai sekali bersilat dengan sebatang tongkat berkepala naga. Selain gerakannya yang amat lincah, juga tenaga gwakangnya besar melebihi seekor kerbau jantan.

Orang ketiga biarpun bukan seorang hwesio, akan tetapi selalu menggunduli kepalanya. Ia memiliki ilmu ginkang yang paling tinggi di antara semua saudaranya. Namanya Oey Sian dan ia bersenjata golok yang kecil dan tipis sehingga gerakannya cepat luar biasa.

Orang keempat dan kelima adalah sepasang saudara kandung bernama Teng Ki dan Teng Li. Teng Ki bersenjata pedang panjang, sedangkan Teng Li bersenjata pedang pendek. Juga kedua orang ini bukanlah orang-orang yang rendah ilmu silatnya.

Selain memiliki kepandaian-kepandaian khusus ini, mereka berlima merupakan sebarisan yang amat tangguhnya karena bersama-sama mereka membentuk sebuah ilmu silat berantai yang disebut Ngo-heng-kun atau Ilmu Silat Lima Daya. Apabila mereka berlima bersama-sama melakukan penyerangan, maka mereka merupakan barisan Ngo-heng yang mengepung lawan dari lima jurusan dan dalam kedudukan mereka yang amat kuat ini jarang sekali ada lawan yang dapat mengalahkan mereka.

Mereka ini cukup kaya dan memiliki tanah yang lebar di mana para petani bekerja untuk mereka dengan mendapat bagian sepantasnya. Dan mereka amat disegani oleh penduduk di sekitar Ki-ciu karena selain gagah perkasa, juga mereka terkenal keras hati dan mudah menjatuhkan tangan kepada mereka yang berani menentangnya.

Ketika Tin Eng dan Gwat Kong tiba di dekat rumah mereka, Gwat Kong berkali-kali memberi peringatan, “Nona, harap kau berlaku hati-hati karena menurut pendengaranku, mereka itu lihai sekali!”

Akan tetapi Tin Eng yang tabah itu hanya tersenyum dan berkata, “Tenanglah Gwat Kong dan kalau aku bertempur menghadapi mereka jangan kau terlalu dekat agar tidak sampai terkena senjata mereka!”

Setelah berada di depan pintu rumah mereka yang masih tertutup, Tin Eng berseru keras, “Orang-orang Ngo-heng-kun! Keluarlah untuk membuat perhitungan!”

Dengan sikap gagah gadis itu berdiri sambil memegang pedang di tangan kanan. Dan sikapnya yang tabah ini membuat Gwat Kong merasa kagum sekali. Seorang dara yang benar-benar gagah perkasa, pikirnya dengan hati senang.

Tin Eng tidak perlu menanti lama karena tiba-tiba pintu rumah itu terpentang dari dalam dan keluarlah kelima jago Ngo-heng-kun itu sambil membawa senjata masing-masing. Tadinya mereka mengira bahwa gadis itu tentu datang dengan kawan-kawannya. Akan tetapi ketika melihat bahwa gadis itu datang seorang diri, dikawani oleh seorang pemuda yang nampak lemah bodoh dan yang menanti di bawah pohon sambil berjongkok, mereka tersenyum menghina.

“Nona manis, kau benar-benar bernyali besar, berani datang menemui kami! Apakah kau belum merasa kapok setelah kami robohkan kemarin?” kata Lim Hwat sambil mengayun-ayun cambuknya dan tersenyum mengejek.

“Bangsat curang!” Tin Eng memaki sambil menudingkan pedangnya kepada orang itu. “Kalian merobohkan aku karena menggunakan kecurangan yang hanya patut dilakukan oleh bajingan-bajingan rendah. Kalau kalian memang jantan, marilah kita mengadu kepandaian secara jujur. Kalau tidak berani, lebih baik kembalikan kitabku dan berlutut minta maaf!”

Ucapan yang amat sombong ini membuat Oey Sian si gundul merasa marah sekali. “Apa sih kepandaianmu maka kau berlaku begini kurang ajar?” teriaknya sambil melompat maju ke depan Tin Eng. Akan tetapi gadis itu dengan marah lalu menyambut kedatangannya dengan serangan pedangnya yang ditusukkan ke dada Oey Sian sehingga orang ini cepat-cepat menangkis dengan goloknya.

Akan tetapi serangan pertama ini hanya merupakan pancingan belaka dan tiba-tiba Tin Eng menarik kembali pedangnya dan melanjutkan dengan serangan Garuda Sakti Menyambar Air. Pedangnya berkelebat cepat sekali menebas leher lawannya sehingga dengan seruan terkejut Oey Sian yang tak keburu menangkis lagi itu segera miringkan kepalanya yang gundul untuk mengelak. Pedang Tin Eng menyerempet dekat sekali dengan kulit kepalanya yang gundul sehingga kalau kepala itu ada rambutnya, tentu rambut itu akan terbabat putus. Pedang terus meluncur dan menyerempet pundaknya. “Breet!” Pecahlah baju Oey Sian di bagian pundak kanannya.

Dengan muka pucat OeySian melompat mundur dan pada saat itu juga, keempat saudaranya yang maklum bahwa gadis ini tidak boleh dipandang ringan, lalu maju mengeroyok dan mengurungnya darilima jurusan. Secara otomatis mereka telah membentuk barisan Ngo-heng-tin.

“Bagus, bagus! Majulah semua dan kalau perlu, keluarkan senjata racun yang kemarin. Aku tidak takut akan kecuranganmu!”

Tin Eng sebenarnya merasa jerih menghadapi obat bubuk merah mereka, dan sengaja mengucapkan kata-kata ini agar mereka menjadi malu. Benar saja, sebagai lima orang gagah yang telah terkenal, menghadapi seorang gadis muda yang menantang secara berani, tentu saja mereka merasa malu sekali apabila mereka harus menggunakan cara yang curang itu. Mereka merasa yakin bahwa dengan Ngo-heng-tin mereka pasti akan berhasil merobohkan gadis yang sombong dan berani ini.

Akan tetapi Tin Eng tidak merasa jerih. Ia putar-putar pedangnya dan kakinya bergerak dengan ilmu silat Jiauw-pouw-poan-san, yakni bertindak berputaran untuk menghadapi kelima lawannya. Sedangkan pedangnya mainkan gerak tipu Garuda Sakti Mengitari Pohon Liu. Pedang di tangannya berkelebat menimbulkan sinar pedang yang panjang dan yang menyambar-nyambar ke arah lima orang lawannya.

Akan tetapi Ngo-heng-tin itu benar-benar lihai. Tiap kali pedang Tin Eng menyerang seorang lawan yang berada di depannya, maka dua orang yang berada di depannya menangkis serangan itu dan tiga orang lain yang berada di belakang lalu menyerangnya dari belakang dengan hebatnya. Kalau gadis itu cepat memutar tubuh untuk menghadapi penyerang-penyerangnya yang berbalik menangkis, maka seorang diantara mereka yang dibantu oleh dua orang yang ditinggalkan dan kini berada di belakangnya itu, berbalik menjadi penyerang.

Oleh sebab ini, Tin Eng menjadi bingung sekali. Setiap serangannya dihadapi oleh dua senjata yang menangkis dan dibarengi dengan serangan tiga orang lain dari belakang. Sungguh-sungguh merupakan hal yang amat berbahaya sekali.

Tin Eng adalah seorang gadis yang amat pemberani dan keras hati, maka tanpa mengingat akan keadaan diri sendiri, ia lalu mengamuk dan menyerang membabi buta. Siapa saja yang paling dekat diserangnya dengan hebat. Ia hendak menjatuhkan seorang lawan dulu yang berada di depannya untuk kemudian menghadapi empat lawan lain.

Namun kelima saudara Ngo-heng-kun itu telah dapat menangkap maksudnya. Maka mereka melakukan penjagaan keras dan dari belakang datanglah serangan bertubi-tubi tiap kali Tin Eng menggerakkan pedang. Sehingga terpaksa gadis itu tidak dapat mencurahkan seluruh perhatian dan kepandaiannya karena ia harus pula menjaga diri. Dengan terpecah-pecahnya perhatian serta tenaga ini, ia menjadi cepat lelah dan mulai merasa pening. Keadaannya mulai berbahaya sekali dan senjata lawan makin mendesak dan mengurung rapat.

“Ha ha ha, nona manis, kau hendak lari ke mana? Kau seperti tikus terjebak ke dalam kurungan, ha ha ha!” Lim Hwat menyindir sambil putar-putar cambuknya yang terlihai di antara senjata-senjata adik-adiknya.

“Menyerahlah untuk menjadi bini mudaku saja!” Oey Sian yang terkenal mata keranjang berkata, sehingga Tin Eng menjadi marah dan mendongkol sekali. Gadis ini menggigit bibirnya dan mengambil keputusan untuk mengadu jiwa. Ia rela mati dalam pertempuran ini akan tetapi sedikitnya ia harus dapat membunuh pula seorang atau dua orang lawannya.

Akan tetapi, sebelum ia dapat menjatuhkan korban, tiba-tiba ujung cambuk Lim Hwat telah meluncur dan membelit kedua kakinya. Tin Eng menggerakkan pedang menyabet ke arah cambuk, akan tetapi tongkat Lim Can menangkis pedangnya itu dan berbareng pada saat itu, Lim Hwat mengerahkan lweekangnya dan sambil berseru keras ia membetot cambuknya. Tak dapat dicegah lagi tubuh Tin Eng terguling dan pedangnya terlepas dari pegangan.

Akan tetapi sebelum terjadi hal yang lebih hebat lagi, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Tin Eng merasa betapa tubuhnya disambar oleh sebuah tangan yang cepat dan kuat sekali, kemudian orang itu lalu melompat keluar dari kepungan, sebelum kelima orang itu sempat sadar dari rasa heran dan terkejut mereka.

Ketika Tin Eng diturunkan dari pondongan orang itu dan memandang, ia menjadi bengong. Sepasang matanya yang indah dan bening itu terpentang lebar-lebar dan memandang bodoh, sedangkan mulutnya celangap tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Ternyata bahwa orang yang menolongnya tadi adalah Gwat Kong sendiri yang kini berdiri di depannya dengan senyum manis di bibirnya dan seri gembira pada wajahnya.

“Jangan marah, siocia. Aku akan berusaha membalas mereka dan menebus kekalahanmu!”

Merahlah seluruh muka Tin Eng karena suara pemuda itu masih saja halus merendah seperti ketika menjadi pelayannya dulu. Ia tidak dapat menjawab sesuatu, hanya memandang dengan masih bengong ketika pemuda itu dengan tindakan kaki tenang dan perlahan menghampiri kelima jagoan Ngo-heng-tin yang berdiri dengan heran pula.

“Ah, pantas saja nona itu berani bersikap sombong, tidak tahunya dia membawa seorang pembantu yang pandai!” kata Lim Hwat mencoba menyembunyikan kekagumannya.

“Tentu kau pula yang kemarin mempermainkan kami?” kata Lim Can sambil memandang tajam dan menggerak-gerakkan tongkat naganya dengan sikap mengancam.

“Ngo-wi Lo-enghiong (tuan-tuan berlima yang gagah), hal ini tidak perlu kita persoalkan sekarang, yang terpenting ialah bahwa sebenarnya tidak sepatutnya kalau kalian yang tersohor sebagai orang-orang gagah yang menjagoi daerah ini, merampas kitab milik seorang nona muda. Apakah kalian tidak merasa malu, kalau hal ini sampai terdengar oleh orang-orang gagah sedunia? Apakah benar-benar kalian yang telah memiliki kepandaian tinggi ini ingin pula mencuri ilmu pedang nona ini?”

“Enak saja kau membuka mulut!” seru Lim Hwat dengan marah. “Siapa yang mencuri ilmu pedang? Bukan kami, kalau tidak, kami takkan mau memberi ampun kepadanya!”

Gwat Kong memandang heran. “Bagaimana kalian bisa menyatakan bahwa kitab ilmu pedang itu adalah hak milik kalian? Sepanjang pengetahuanku pemiliknya adalah orang yang disebut Bu-eng-sian.”

Mendengar disebutnya nama ini, tiba-tiba kelima orang itu lalu maju mengurung Gwat Kong, “Di manakah setan tua itu? Apakah dia belum mampus?” tanya Oey Sian.

Gwat Kong menggeleng kepala. Kini ia ketahui nama Bu-eng-sian, maka ia berkata dengan tenang. “Leng locianpwe telah meninggal dunia karena luka-lukanya yang diderita dan yang disebabkan oleh pukulan-pukulan kalian yang kejam. Sebetulmya mengapakah kalian memusuhinya? Apakah karena kitab itu?”

Terdengar seruan kecewa dari Lim Hwat. “Agaknya kau kenal baik kepada setan tua itu, anak muda. Aku memberi nasehat agar supaya kau bicara terus terang. Ketahuilah bahwa pada beberapa belas tahun yang lalu, kami berlima dengan Leng Po In adalah sahabat-sahabat baik dan kami berlima bersama dia mendapatkan kitab dan pedang Sin-eng-kiam di dalam sebuah gua di bukit Thai-san. Akan tetapi, secara curang sekali orang she Leng itu membawa lari kitab dan pedang.

Bertahun-tahun kami berlima mencarinya dan akhirnya berhasil melukainya, akan tetapi kitab dan pedang itu telah disembunyikan entah di mana. Kini tahu-tahu gadis ini pandai mainkan Sin-eng Kiam-hoat. Bukankah itu berarti bahwa dia telah mencuri ilmu pedang yang menjadi hak kami? Kitab yang kami ambil hanyalah salinan dari Leng Po In dan kami menuntut dikembalikannya kitab asli dan pedang Sin-eng-kiam.”

Gwat Kong tidak tahu bahwa Lim Hwat membohong dalam penuturannya ini karena sesungguhnya yang mendapatkan kitab dan pedang itu adalah Leng Po In sendiri. Mereka berlima melihat hal ini dan berusaha merampasnya. Akan tetapi, biarpun ia tidak tahu, namun melihat sikap mereka yang galak ini. Gwat Kong dapat menduga bahwa mereka ini bukanlah orang baik-baik, maka ia lalu menjawab,

“Nona Liok ini tanpa disengaja dapat mempelajari Sin-eng Kiam-hoat, bahkan aku sendiripun telah mempelajarinya. Kami berdua tidak tahu menahu tentang perebutan kitab dan pedang. Dan apabila kedua benda itu terjatuh ke dalam tangan kami yang tidak sengaja menemukannya, maka sekarang benda-benda itu adalah menjadi hak milik kami!”

“Bangsat benar!” seru Oey Sian yang menjadi marah. “Kalau begitu, kau dan nona itu harus mampus!”

“Cobalah!” tantang Gwat Kong sambil tersenyum tenang.

“Bunuh dia dan tangkap nona itu!” teriak Lim Hwat dan kelima orang itu kembali bergerak dan mengurung Gwat Kong dalam lingkaran Ngo-heng-tin mereka yang lihai. Leng Po In sendiri yang berjuluk Bu-eng-sian dulu roboh oleh karena kelihaian Ngo-heng-tin ini sehingga mendapat luka-luka berat. Maka Gwat Kong yang tadi telah menyaksikan kehebatan barisan Lima Daya ini, segera mencabut pedang yang disembunyikan di balik bajunya.

Melihat berkelebatnya pedang itu, kelima orang lawannya berseru hampir berbareng,

“Sin-eng-kiam!”

Gwat Kong menggerak-gerakkan pedangnya sambil tersenyum dan berkata, “Ya, memang ini Sin-eng-kiam, akan tetapi aku menerimanya secara sah dari penemunya, yakni dari Leng Locianpwe sendiri.”

“Kalau begitu, kitab aslinya juga berada padamu!” bentak Lim-hwat.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: