Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 13

GWAT Kong mainkan senyum pada bibirnya dan bertanya,” Kalau benar demikian kalian mau apa?”

“Bangsat!” Lim Can memaki dan mengayunkan tongkat naga dari belakang, mulai menyerang ke arah kepala Gwat Kong. Akan tetapi pemuda itu dengan tenangnya mengelak ke pinggir dan berdiri diam tak bergerak, menanti datangnya serangan lawan yang lain. Serangan itu tidak kunjung datang, karena sesungguhnya gerakan Ngo-heng-tin dilakukan dengan otomatis yakni kalau orang yang terkurung itu melakukan serangan. Barulah orang-orang yang berdiri di belakangnya maju menyerang sedangkan orang yang berada di depan dibantu oleh seorang kawan terdekat melakukan tangkisan.

Gwat Kong tertawa bergelak-gelak karena mereka juga diam saja tidak mau menyerang dulu. “Eh he, mengapa kalian berdiam saja! Apakah takut menyerangku? Kalau begitu, baiklah, aku yang akan menyerang. Kalian berhati-hatilah!”

Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri Gwat Kong mencabut sulingnya dan mulai menyerang ke depan dengan suling itu. Sebagaimana yang ia duga, ketika dua orang lain di belakangnya maju menyerang dengan hebat sekali. Akan tetapi Gwat Kong sudah tahu akan hal ini, maka ia tanpa menoleh lalu mengangkat tangan kanannya dan menggunakan Sin-eng-kiam utk diputar sedemikian rupa hingga tiga buah senjata lawan kena tertangkis, sedangkan dengan sulingnya ia tetap mendesak lawan yang berada di depan.

Gwat Kong sengaja melancarkan serangan-serangannya kepada Lim Hwat yang bersenjata cambuk panjang dan Lim Can yang bersenjata tongkat kepala naga, karena selain dua orang ini memiliki ilmu kepandaian yang paling tinggi, juga senjata-senjata mereka lebih panjang sehingga kalau dibiarkan melakukan serangan dari jarak jauh, ia akan menderita rugi. Maka ia lalu mengeluarkan ilmu pedangnya Garuda Sakti Mencari Ikan yang dimainkan oleh suling di tangan kirinya.

Sungguhpun yang dipakai menyerang hanya sebuah suling bambu, akan tetapi oleh karena gerakannya demikian cepat bagaikan paruh garuda menyambar-nyambar mencari sasaran yang tepat di tubuh lawan, maka amat berbahaya bagi kedua lawannya itu. Sedangkan tiga orang lain yang bersenjata pendek, dapat digagalkan serangan mereka oleh tangkisan pedang Sin-eng-kiam di tangan kanannya.

Menghadapi akal Gwat Kong yang amat lihai ini, Lim Hwat dan kawan-kawannya tidak berdaya, maka ia lalu berseru keras memberi tanda sehingga kawan-kawannya segera merobah gerakan mereka. Kini mereka mainkan ilmu silat Ngo-heng-soan, dan mereka mulai berlari-lari mengitari Gwat Kong! Sambil berlari mengitari pemuda yang terkurung itu, kadang-kadang mereka melancarkan serangan-serangan yang tak terduga datangnya sehingga terpaksa Gwat Kong mengikuti gerakan memutar itu dan mainkan pedang dan suling untuk menjaga diri! Pergantian serangan yang tiba-tiba ini agak membingungkan pemuda itu sehingga untuk beberapa jurus lamanya ia tidak kuasa membalas dan hanya menjaga diri dengan kuatnya.

Sementara itu, Tin Eng memandang ke arah pertempuran itu dengan keheranan dan kekaguman yang makin memuncak. Dadanya berdebar keras karena berbagai macam perasaan mengaduk hatinya. Bangga, girang, heran dan malu bercampur aduk di dalam pikiran dan hatinya. Tak pernah disangkanya bahwa Gwat Kong, pemuda yang nampak bodoh dan jujur itu, yang selalu menurut perintahnya dan selalu berusaha menyenangkan hatinya, ternyata adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi ia mulai merasa khawatir melihat betapa kelima orang pengeroyok Gwat Kong itu benar-benar lihai dan kini dengan agak bingung dan gelisah ia melihat betapa kelima orang itu sambil berlari-lari mengitari Gwat Kong menyerang dan menghujani pemuda itu dengan serangan bertubi-tubi.

Sebetulnya, Gwat Kong sedang mencari jalan untuk memecahkan cara menyerang yang aneh dan membingungkan ini. Akan tetapi selagi ia mencari lowongan, tiba-tiba kelima orang itu mengubah lagi gerakannya. Dan kini mereka mengelilingi tubuh Gwat Kong dengan cara yang berlawanan yakni tiga orang lain berlari mengitari pemuda itu dari kiri memutar ke kanan, sedangkan Lim Hwat dan Lim Can berlari dari kanan memutar ke kiri.

Sementara itu, serangan mereka datangnya lebih gencar lagi dan kembali Gwat Kong dapat dibikin bingung karena ia tidak tahu dengan cara bagaimana ia dapat mengikuti gerakan memutar yang berlawanan ini. Memang Ngo-heng-tin atau Barisan Lima Daya ini benar-benar hebat dan luar biasa sekali.

Sungguhpun hatinya ingin sekali membantu Gwat Kong, akan tetapi Tin Eng tidak berani turun tangan oleh karena ia maklum akan kelihaian lawan dan sekarang setelah pedangnya tidak ada, ia sama sekali tidak berani membantu, takut kalau-kalau bahkan mengacaukan perlawanan Gwat Kong.

Tiba-tiba Gwat Kong mendapat akal dan matanya mulai menjadi biasa dengan gerakan memutar dari kelima orang lawannya itu. Ia berhenti bergerak dan kini ia berdiri diam di tengah-tengah kurungan, membiarkan kelima orang lawannya berlari-lari makin cepat. Kalau ada senjata lawan yang melayang ke arahnya barulah ia menggerakkan suling atau pedangnya untuk menangkis.

Yang paling lihai di antara kelima macam senjata lawan itu adalah cambuk Lim Hwat dan tongkat kepala naga Lim Can, maka perhatiannya ditujukan sepenuhnya ke arah kedua senjata tersebut. Pada suatu saat, cambuk Lim Hwat menyambar ke arah dadanya dalam sebuah sabetan keras.

Gwat Kong membuat dua gerakan yang amat cepat sambil melompat ke atas menghindarkan kedua kakinya dari sapuan tongkat kepala naga. Gerakan ini ialah dengan sulingnya ia menangkis ujung cambuk dan ketika suling itu diputar maka ujung cambuk melibat suling itu. Secepat kilat Sin-eng-kiam di tangan kanannya menyambar ke arah cambuk yang tertarik dan menegang itu dan putuslah cambuk itu di bagian ujungnya terkena babatan Sin-eng-kiam yang tajam.

“Kurang ajar!” Lim Hwat berseru marah dan pada saat itu karena gerakan tadi membuat kawan-kawannya terpaksa menunda lari mereka. Maka dalam keadaan kepungan itu tidak bergerak memutar, Gwat Kong lalu menyerang dengan kuat ke arah dua orang yang dianggapnya paling lemah di antara mereka, yakni Teng Ki dan Teng Li yang bersenjata pedang.

Ketika sulingnya meluncur menotok pundak Teng Ki yang berpedang panjang dan pedang Sin-eng-kiamnya diluncurkan membabat lengan Teng Li. Kedua orang itu segera menangkis dan Oey Sian yang bersenjata golok dan berdiri di sebelah kiri Teng Li lalu menyerang dengan goloknya ke arah leher Gwat Kong. Pemuda ini menggunakan pedangnya yang tertangkis oleh Teng Li secepat kilat tanpa menunda lagi lalu mendahului Oey Sian dengan tikaman pedang itu ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang golok.

Maka terdengar Oey Sian memekik kaget dan segera menggulingkan tubuhnya ke belakang untuk menghindarkan babatan pedang kepada pergelangan lengannya itu. Kesempatan itu dipergunakan oleh Gwat Kong untuk melompat keluar dari kepungan sambil memutar pedangnya menerjang ke tempat lowong yang tadi di tempati Oey Sian, yakni di antara Teng Li dan Lim Hwat.

Tentu saja Lim Hwat sebagai otak barisan itu yang memimpin pengepungan tidak membiarkan lawannya terlolos dari kepungan, maka ia lalu berteriak sambil menggerakkan cambuknya yang telah terputus ujungnya itu untuk memaksa Gwat Kong kembali ke dalam kurungan. Akan tetapi, Gwat Kong berseru lagi dengan nyaring dan ketika ia berjungkir balik dengan gerakan Garuda Sakti Menembus Mega, tubuhnya mumbul tinggi dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Saat itu ia pergunakan untuk mengirim bacokan ke arah pundak Lim Hwat yang tak berdaya mengelak sehingga pundak kirinya terserempet ujung pedang. Ia berseru keras dan terhuyung-huyung ke belakang dengan pundak mengalirkan darah.

Gwat Kong tidak mau berhenti sampai sekian saja. Sambil mempergunakan kesempatan selagi para pengeroyoknya kacau keadaannya. Ia lalu mengerjakan dua senjata di tangannya dan kembali terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika pedangnya berhasil memutuskan dua buah jari tangan Oey Sian sehingga goloknya terpental jauh dan sulingnya dapat menotok jalan darah pada pundak Teng Li sehingga orang ini roboh dengan lemas.

Dua orang pengeroyok lain, yakni Lim Can yang bersenjata tongkat kepala naga dan Teng Ki yang bersenjata pedang panjang, memburu untuk menolong saudara-saudaranya. Akan tetapi sekali pedang dan suling di tangan Gwat Kong bergerak, ujung tongkat yang berbentuk kepala naga itu terbabat putus dan pedang di tangan Teng Ki terpental jauh pula karena suling Gwat Kong dengan tepat telah menghantam pergelangan tangannya.

Demikianlah, dengan sekali gus dan dalam waktu yang luar biasa cepatnya sehingga Tin Eng sendiri memandang dengan bingung dan mata kabur, lima orang jago Ngo-heng-tin itu kena dikalahkan oleh Gwat Kong yang masih berlaku murah hati dan tidak membinasakan mereka. Hanya memberi pukulan-pukulan yang membuat mereka terluka, akan tetapi cukup membuat mereka tak dapat maju pula.

Lim Hwat sambil meringis kesakitan dan memegang-megang pundaknya yang berdarah dan wajahnya sebentar pucat sebentar merah, lalu menjura dan membungkukkan tubuh kepada Gwat Kong sambil berkata,

“Anak muda, kau benar-benar lihai sekali dan ternyata kau telah memiliki ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan juga pedang Sin-eng-kiam telah berada di tanganmu! Siapakah sebenarnya kau?”

Dengan sikap masih tenang dan suara biasa saja, Gwat Kong menjawab, “Aku bernama Bun Gwat Kong atau boleh juga kau sebut Kang-lam Ciu-hiap sebagai mana orang-orang Kang-lam menyebutku.”

“Bagus, bagus! Nama ini takkan kami lupakan. Saat ini kami mengaku kalah, akan tetapi tunggulah satu dua tahun lagi, Kang-lam Ciu-hiap. Pasti kami akan mencarimu untuk membuat perhitungan.”

“Bun-ko, mintakan kitabku!” Tiba-tiba Tin Eng berseru dan Gwat Kong tiba-tiba merasa betapa mukanya menjadi panas dan warna merah menjalar dari telinga kiri sampai ke telinga kanan ketika mendengar betapa gadis itu kini menyebutnya ‘Bun-ko’!”

Sementara itu, Lim Hwat ketika mendengar ucapan Tin Eng ini, dengan tersenyum pahit lalu mengeluarkan kitab itu dari saku bajunya sebelah dalam dan memberikan itu kepada Tin Eng sambil berkata,

“Terimalah kitab palsu ini. Kau boleh mempelajarinya sampai seratus kali akan tetapi tidak akan ada gunanya!” Setelah berkata demikian, kembali Lim Hwat menjura terhadap Gwat Kong dan kemudian memberi tanda kepada empat orang saudaranya untuk masuk ke dalam rumah yang lalu ditutupkan pintunya keras-keras.

Gwat Kong menghampiri Tin Eng yang memandangnya dengan mata kagum sekali. Tanpa berkata sesuatu, keduanya lalu berjalan menuju kota Ki-Ciu kembali. Di tengah jalan, Gwat Kong tidak dapat menahan lagi keadaan yang sunyi di antara mereka itu, maka dengan muka merah ia lalu berkata,

“Liok-siocia, maafkan aku yang telah menyembunyikan keadaanku darimu.”

Tin Eng memandangnya dan tersenyum. “Mengapa minta maaf? Kau hebat dan lihai sekali, seratus kali lebih hebat dari padaku.”

Makin merahlah wajah Gwat Kong mendengar ini, karena ia merasa seakan-akan ia disindir. “Kau juga cukup lihai, nona, hanya sayangnya kau telah mempelajari kitab yang salinan belaka. Masih ingatkah kau akan kitab yang sebuah lagi, yang kau sebut kitab berisi sajak dan syair kuno itu?”

Tin Eng mengingat-ingat lalu mengangguk.

“Nah, kitab yang kau anggap tidak berguna itulah sebetulnya kitab pelajaran Sin-eng Kun-Hoat dan Sin-eng Kiam-hoat yang asli. Aku diam-diam mempelajari kitab itu sehingga dapat juga memiliki sedikit ilmu kepandaian.”

Tin Eng makin merasa kagum dan terheran sehingga ia menunda kedua kakinya. Keduanya berdiri di pinggir jalan, berhadapan dan saling pandang.

“Bun-ko ……”

“Nona, mengapa kau menyebutku demikian, aku masih tetap Gwat Kong yang dulu bagimu.”

Tin Eng menggelengkan kepalanya. “Jangan membuat aku merasa malu terhadap diri sendiri, Bun-ko. Aku selalu menganggap kau sebagai orang yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Tidak tahunya kau bahkan pandai membaca kitab kuno. Satu hal yang sama sekali tak pernah kusangka. Tadinya ku kira kau buta huruf tidak tahunya kau terpelajar pula. Aku tidak berhak menyebutmu dengan nama begitu saja.”

“Mengapa begitu? Sungguh, aku merasa tidak enak sekali mendengar sebutan itu, nona. Aku lebih senang kalau kau sebut namaku saja!”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Boleh, aku akan menyebutmu biasa saja, akan tetapi kaupun harus membuang jauh-jauh sebutan nona itu! Aku boleh kau sebut Tin Eng saja tanpa embel-embel nona. Bagaimana?”

Dengan muka merah Gwat Kong berkata, “Baiklah, nona.”

“Hussh! Bagaimanakah ini? Mengapa menyebut baik, akan tetapi kembali menyebut nona?”

“Eh … aku … aku lupa, non ..” jawab Gwat Kong gugup sehingga Tin Eng memandang geli.

“Gwat Kong, kau benar-benar hebat. Aku merasa kagum sekali. Kau harus mengajarku dengan ilmu silatmu itu!”.

Setelah menyebut nama Gwat Kong seperti biasa, Tin Eng merasa biasa kembali dan lenyaplah keraguan dan rasa malu-malu tadi. Juga Gwat Kong merasa lebih enak dan leluasa.

“Tentu … Tin Eng, kalau kau kehendaki, aku akan dapat memberi pelajaran kepadamu sedapat mungkin.”

Mereka duduk di pinggir jalan dan berteduh di bawah lindungan pohon. Kemudian Gwat Kong menceritakan semua pengalamannya semenjak ia mendapatkan kitab itu. Betapa ia mempelajari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat dengan diam-diam dan rajin. Ia menceritakan pula tentang semua pengalamannya semenjak ia meninggalkan gedung Liok-taijin dan betapa ia mendapat julukan Kang-lam Ciu-hiap.

“Kau memang patut menjadi pendekar arak, karena kau memang seorang pemabok!” kata Tin Eng yang teringat kembali akan peristiwa di dalam gedungnya ketika ia hampir membunuh Gwat Kong yang sedang mabok. Merahlah muka pemuda itu mendengar hal ini disebut-sebut.

“Gwat Kong, sebetulnya kau berasal dari manakah? Kau telah bertahun-tahun bekerja di rumah orang tuaku, akan tetapi aku belum pernah mendengar riwayatmu. Apakah kau tidak keberatan untuk menceritakan kepadaku?”

Sebetulnya Gwat Kong merasa ragu-ragu untuk menceritakan hal ini kepada siapapun juga akan tetapi kepada Tin Eng, tiba-tiba ia timbul rasa seakan-akan gadis ini bukan orang lain dan bahkan seakan-akan sudah seharusnya ia menceritakan keadaannya kepada Tin Eng. Maka secara singkat ia menceritakan riwayatnya, betapa ia dahulu adalah seorang putera Bun-tihu di Lam-hwat dan ayahnya difitnah orang sehingga ia dibawa pergi oleh ibunya yang hidup penuh penderitaan. Ketika menceritakan betapa ia tersesat, mabok-mabokan dan bergaul dengan segala orang muda yang tidak baik sehingga ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia di Ki-hong, tak tertahan pula Gwat Kong mengalirkan air mata yang segera disusutnya dengan ujung lengan bajunya.

Tin Eng mendengar penuturan ini dengan hati amat terharu sehingga ia ikut pula melinangkan air mata. Tak disangkanya bahwa Gwat Kong adalah putera seorang tihu yang adil dan jujur. Diam-diam ia merasa girang mendapatkan kenyataan ini sungguhpun ia tidak tahu mengapa ia boleh merasa girang.

“Sudahkah kau membalas dendam orang tuamu itu, Gwat Kong?” tanyanya.

“Musuh besar itu telah meninggal dunia hanya tinggal seorang puterinya. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Haruskah aku membalas kepada anaknya itu?”

Tin Eng merasa ragu-ragu untuk menjawab, karena iapun merasa betapa sulitnya untuk mengambil keputusan dalam hal ini. “Dan bagaimana pendapatmu sendiri?” ia balas bertanya.

“Menurut pendapatku, puteri musuh besar orang tuaku itu tidak ikut apa-apa dan ia tidak berdosa. Maka tidak seharusnya kalau aku membalas dendam kepadanya. Apakah hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa keluarga ayahku? Yang bersalah adalah ayahnya dan ia tidak tahu menahu tentang hal itu. Oleh karena inilah maka aku tidak berniat membalas dendam kepada orang yang sama sekali tidak berdosa.”

Tin Eng mengangguk menyatakan persetujuannya. “Kau adil dan mulia Gwat Kong. Kalau aku sendiri menjadi puteri musuh besar itu, aku akan merasa ngeri mendapatkan musuh yang membalas dendam seperti kau!”

Setelah agak lama mereka berdiam saja, Gwat Kong lalu bertanya,

“Dan sekarang kau hendak pergi ke manakah, Tin Eng?”

Ditanya demikian, Tin Eng kembali teringat akan semua barangnya yang telah hilang, maka jawabnya sambil menarik napas panjang, “Entahlah, aku tidak mempunyai tujuan tetap, apalagi sekarang setelah semua uangku tercuri orang. Untuk membayar sewa kamar saja aku tidak mampu.”

“Akupun tidak mempunyai uang, akan tetapi apa susahnya hal ini? Kau bisa ‘pinjam’ dari para hartawan di kota Ki-ciu.”

“Pinjam? Tanya Tin Eng heran.

Gwat Kong tersenyum. “Biarpun aku sendiri baru saja merantau dan menerjunkan diri dalam dunia kang-ouw, akan tetapi agaknya dalam hal ini aku lebih matang dari padamu, Tin Eng. Istilah ini digunakan oleh orang-orang kang-ouw untuk mengambil sedikit uang para hartawan untuk digunakan sebagai biaya perjalanan.”

“kau maksudkan …. mencuri? Gwat Kong! Bagaimana kau bisa memberi nasehat kepadaku supaya menjadi pencuri?”

“Dalam hal ini, mencuri yang dilakukan oleh orang-orang kang-ouw berbeda sifatnya, Tin Eng,” katanya dengan wajah sungguh-sungguh. “Orang-orang perantau di dunia kang-ouw pekerjaannya menolong orang-orang yang perlu ditolong tanpa mengharap akan upah atau pembalasan jasa dan dari manakah mereka bisa mendapatkan uang untuk biaya perjalanan dan membeli makanan? Mengambil sedikit uang dari para hartawan bukan berarti apa-apa lagi bagi hartawan itu dan kalau digunakan bukan untuk mencari kesenangan diri, maka dosanya tidak begitu besar!”

Tin Eng menjadi geli mendengar alasan ini. “Benar-benar lucu, apakah dosa itu ada yang besar dan kecil?”

Gwat Kong juga tersenyum mendengar ini dan pada saat itu, tiba-tiba dari jauh datang berlari seorang laki-laki yang setelah dekat ternyata bukan lain ialah Lok Ban si Tangan Seribu, kepala maling dikota Ki-ciu.

Melihat orang ini, Tin Eng yang sudah mengambil kembali pedangnya tadi, melompat dan mengejar dengan pedang di tangan. Akan tetapi, kepala maling itu memang sengaja menghampiri mereka dan datang-datang ia lalu menjura dengan hormat sekali.

“Ji-wi, harap jangan salah sangka. Kedatangan siauwte ini bukan membawa maksud buruk akan tetapi semata-mata hendak mengembalikan barang-barang lihiap yang tadi telah diambil oleh seorang kawan kami yang salah tangan!” Sambil berkata demikian, ia memberikan bungkusan pakaian Tin Eng yang ternyata masih lengkap.

Tin Eng menerima buntalan pakaian dan perhiasan serta uangnya itu dengan girang dan juga terheran-heran, lalu bertanya,

“Sahabat, bagaimanakah maksudnya semua ini? Tadinya kau dan kawan-kawanmu mencuri barang-barangku dan sekarang tanpa diminta kau mengembalikannya!”

Si raja maling itu tersenyum dan menjura lagi. “Kami tidak tahu bahwa yang kami ambil barangnya adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, bahkan kawan baik seorang pendekar besar seperti Kang-lam Ciu-hiap, harap saja ji-wi sudi memberi maaf kepada kami.”

Gwat Kong yang telah berdiri bertanya dengan heran, “Eh, kau juga sudah mendengar namaku?”

Lok Ban tersenyum. “Biarpun belum lama kau membuat nama besar, taihiap, akan tetapi kami telah mendengarnya. Bahkan kami telah menyaksikan pula betapa kau telah mengalahkan Ngo-heng-kun Ngo-hiap yang tangguh itu. Benar-benar membuat kami merasa tunduk!”

“Kau terlalu memuji, kawan,” kata Gwat Kong merendah.

“Untuk menebus kesalahan kawan kami, kami mengundang kepada ji-wi untuk datang menghadiri sedikit perjamuan makan yang kami adakan untuk menghormati ji-wi dan menyatakan maaf kami. Harap ji-wi tidak menolak.”

Kedua orang muda itu saling pandang dan sambil tersenyum, kemudian mereka mengikuti Lok Ban yang ternyata membawa mereka ke kota Ki-ciu dan dalam sebuah rumah makan terbesar telah berkumpul belasan maling-maling yang terbesar, di antaranya si botak yang dulu mengambil barang-barang Tin Eng. Mereka menyambut Gwat Kong dan Tin Eng dengan penuh penghormatan dan mempersilahkan mereka duduk di kursi kehormatan.

Gwat Kong dan Tin Eng dijamu dengan penuh penghormatan oleh Lok Ban si Tangan Seribu dan kawan-kawannya, yakni seluruh anggauta perkumpulan maling. Kedua orang muda itu setelah mulai makan, saling pandang dengan penuh keheranan, oleh karena masakan-masakan yang dihidangkan luar biasa enaknya dan tidak kalah oleh hidangan-hidangan orang-orang besar atau orang-orang hartawan.

“Masakan ini sedap sekali!” seru Tin Eng yang doyan makan hidangan lezat. “Saudara Lok, bumbu apakah yang dipakai untuk masakan-masakan ini?”

Lok Ban si Tangan Seribu tersenyum-senyum senang mendengar pujian ini, dan kemudian berkata dengan bangga,

“Lihiap, tidak sembarangan orang dapat menikmati masakan yang memakai bumbu dari istana kaisar ini! Kami sengaja menggunakan sisa bumbu yang dulu kami ambil dari dapur istana kaisar untuk membuat masakan ini dan menjamu ji-wi (kalian berdua)!”

Gwat Kong tertawa. “Jadi tanganmu sudah kau ulur demikian panjang sehingga sampai di dapur istana kaisar?”

Lok Ban tersenyum lagi. “Hanya untuk mengambil bumbu ini Ciu-hiap! Kami tidak berani mengambil barang-barang berharga. Oleh karena itu, kami tidak dikejar-kejar dan dimusuhi oleh perwira-perwira kerajaan. Siapa yang mau meributkan soal kehilangan bumbu masakan? Paling-paling hanya tukang masak istana saja ribut-ribut seperti terbakar jenggotnya!” Lok Ban tertawa, membuat Gwat Kong dan Tin Eng juga tertawa geli.

Tiba-tiba Lok Ban yang tadinya tertawa-tawa itu berubah menjadi bersungguh-sungguh dan ia berdiri dari kursinya. Melihat kepala maling ini berdiri, semua anggauta yang hadir di situ lalu menghentikan percakapan mereka dan keadaan menjadi hening.

“Saudara-saudara sekalian,” katanya dengan suara nyaring. “Kalian tentu telah mendengar nama Kang-lam Ciu-hiap yang biarpun baru saja membuat nama besar, akan tetapi telah amat terkenal. Dengan kedua mataku sendiri, aku menyaksikan bagaimana Ciu-hiap mempermainkan dan mengalahkan Ngo-heng-kun Ngo-hiap yang lihai. Setelah kini Ciu-hiap berada di tengah-tengah kita, mengapa kita tidak minta agar supaya Ciu-hiap memimpin kita? Aku Lok Ban si Tangan Seribu, kalau dibandingkan dengan Kang-lam Ciu-hiap, menjadi Lok Ban si Tangan Buntung.”

“Setuju ….! Setuju …!” Kawan-kawannya berseru gembira oleh karena mereka ini telah percaya sepenuhnya kepada Lok Ban sehingga apa saja yang diusulkan oleh si Tangan Seribu ini mereka anggap baik dan tepat.

Lok Ban lalu menjura kepada Gwat Kong dan berkata,

“Ciu-hiap, sebagaimana telah kau dengar sendiri, maka kami mohon sudilah kiranya mulai sekarang Ciu-hiap menerima pengangkatan sebagai Pangcu (ketua) kami dan memimpin kami yang bodoh!”

Gwat Kong menjadi bingung dan terkejut mendengar ini. Dia hendak diangkat menjadi kepala maling? Pemuda itu hanya duduk dengan mata terbelalak dan mulutnya ternganga, bengong tak dapat menjawab, hanya memandang kepada Tin Eng dengan muka bodoh.

Gadis itu tertawa geli melihat keadaan ini dan teringat akan ucapan Gwat Kong bahwa pemuda itu juga pernah melakukan pencurian uang untuk biaya perjalanan. Maka ia segera menggoda,

“Mengapa kau merasa sangsi? Bukankah kau juga mempunyai kesukaan untuk mencuri seperti yang kaukatakan tadi sebelum datang ke sini? Ha ha ha, kau memang pantas menjadi raja maling!”

Gwat Kong hendak menegur, akan tetapi pada saat itu terdengar suara tertawa keras dan tiba-tiba sesosok bayangan orang melompat ke atas loteng di mana perjamuan para maling itu diadakan. Bayangan ini adalah seorang pemuda tinggi besar yang bermuka hitam. Matanya lebar dan hidungnya besar, sedangkanan dua telinganyapun lebar sehingga mukanya nampak lucu akan tetapi membayangkan kebodohan, kekasaran dan kejujuran.

“Maling-maling berpesta pora di rumah makan dengan terang-terangan, Ha ha ha! Pemandangan yang aneh! Sungguh lucu sekali kota Ki-ciu ini.”

Setelah berkata demikian, pemuda tinggi besar itu tertawa bergelak-gelak. Tubuhnya yang besar itu bergerak-gerak, mukanya berdongak dan kedua tangannya bertolak pinggang.

Marahlah maling botak itu yang dulu mencuri barang-barang Tin Eng melihat kedatangan orang muda yang mengejek mereka ini. Dengan gerakan yang amat gesit, menunjukkan bahwa ginkangnya sudah tinggi, si botak ini lalu melompat ke depan pemuda tinggi besar itu dan membentak,

“Bangsat, kurang ajar dari manakah berani mengejek kami?”

Pemuda muka hitam itu menghentikan suara ketawanya dan menundukkan mukanya, karena ia jauh lebih tinggi sehingga ia harus menundukkan muka untuk dapat menentang wajah lawannya. Akan tetapi oleh karena ia benar-benar tinggi, ketika menunduk, ia melihat botak yang licin di kepala itu sehingga kembali ia tertawa terbahak-bahak.

“Ha ha ha! Si botak ini apakah juga seorang maling? Ha ha! Aku berani bertaruh bahwa kau tentu seorang maling ayam!”

Biarpun merasa marah melihat datangnya orang tinggi besar yang terang-terangan hendak menghina mereka, akan tetapi mendengar ucapan ini dan melihat sikap yang lucu ini, mereka terpaksa tersenyum. Si botak marah sekali dan sambil berseru keras ia lalu memukul perut pemuda muka hitam itu dengan tangan kanannya.

Gerakannya memang cepat sekali oleh karena si botak ini memang sengaja mempelajari ginkang yang amat berguna bagi pekerjaannya sebagai maling. Ia dapat berlari-lari cepat, dapat melompat dan berlari-lari di atas genteng dan gerakannya memang luar biasa cepatnya. Akan tetapi, dalam hal ilmu berkelahi, ia tidak memiliki kepandaian yang tinggi.

Pemuda tinggi besar itu terkejut juga melihat kecepatan gerakan lawannya. Akan tetapi ketika melihat datangnya pukulan yang tak berapa kuat itu, ia sengaja menerima pukulan itu dengan perutnya sambil mengerahkan sinkangnya.

“Bukk!” Pukulan itu menghantam perut si pemuda. Akan tetapi yang dipukul tidak apa-apa, sebaliknya yang memukul terhuyung ke belakang.

Si botak marah sekali dan menyerbu lagi dengan penasaran. Akan tetapi tiba-tiba pemuda tinggi besar itu lalu mengulurkan tangan kanannya dan karena lengannya jauh lebih panjang, sebelum si botak dapat memukulnya, ia telah dapat menahan tubuh lawan dengan menangkap kepala botak itu dengan telapak tangannya yang lebar.

Dengan tangan menahan kepala lawannya yang botak, ia tertawa-tawa sedangkan si botak berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kepalanya. Kedua tangannya memukul-mukul ke depan, akan tetapi karena lengannya jauh lebih pendek, pukulannya itu tidak mengenai tubuh lawan.

Sambil memperdengarkan suara ketawa geli, pemuda tinggi besar itu lalu menggerakkan tangan kirinya dan tahu-tahu belakang leher si botak telah ditangkap lalu diangkat. Kini kedua kaki si botak tak menginjak tanah dan bergerak-gerak dalam usahanya untuk melepaskan diri.

Sungguh pemandangan yang amat lucu, karena si botak itu bagaikan seekor kelinci yang dipegang pada telinganya. Tak dapat ditahan pula Tin Eng terkekeh-kekeh saking geli hatinya melihat pemandangan yang lucu ini. Juga Gwat Kong tersenyum karena ia maklum bahwa betapapun sombongnya, pemuda tinggi besar yang lihai itu tidak berhati kejam.

Buktinya, setelah tertawa bergelak, ia melemparkan tubuh si botak ke depan sehingga maling ini jatuh bergulingan tanpa menderita luka sedikitpun. Akan tetapi, pelajaran itu sudah cukup membuat hatinya menjadi gentar dan ia tidak berani maju lagi.

Tentu saja peristiwa ini membuat wajah Lok Ban menjadi pucat karena orang telah mengalahkan muridnya. Orang telah menghina pestanya, berarti menghina perkumpulan maling di Ki-ciu dan menghina Lok Ban si Tangan Seribu. Dengan gerakan ringan ia melompat dan menghadapi pemuda tinggi besar itu sambil berkata,

“Orang gagah dari manakah datang memancing keributan? Aku Jian-jiu Lok Ban si Raja Maling di Ki-ciu selamanya belum pernah mengganggu orang luar daerahku, mengapa orang lain tidak memandang mukaku?”

Ucapan ini dikeluarkan oleh Lok Ban bukan dengan maksud menyombongkan diri, akan tetapi karena ia telah melihat kelihaian orang, maka ia memperkenalkan namanya yang sudah banyak dikenal oleh semua orang gagah di sekitar dan di daerah Ki-ciu. Akan tetapi ia kecele kalau menyangka bahwa pemuda itu sudah mengenal nama dan mengubah sikapnya, karena setelah mendengar ucapannya itu, ia bahkan tertawa geli dan menjawab,

“Eeeh eh, memang aneh-aneh di Ki-ciu ini. Ada raja malingnya segala macam! Jadi kaukah raja maling di Ki-ciu? Hmmm, kebetulan sekali, aku adalah nenek moyangnya maling, maka kau seharusnya menyebut kong-couw (kakek buyut) kepadaku!”

Terlalu sekali, pikir Lok Ban dengan marah maka ia lalu berkata, “Baiklah, kau sengaja mencari keributan. Apa boleh buat! Lihat pukulan!” Ia mulai menyerang dengan gerakan tipu Pek-wa-hian-to (kera Mempersembahkan Buah Tho). Serangannya selain cepat juga bertenaga kuat maka pemuda tinggi besar itu tidak berani main-main seperti ketika menghadapi si botak tadi.

Ia mengelak ke kiri sambil menyampok dengan tangan kanannya. Kemudian dengan menggeser kakinya merobah bhesi (kuda-kuda) dan membalas dengan serangan yang disebut Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku Tanah). Serangannya ini dilakukannya dengan tenaga yang bukan main kuatnya sehingga Gwat Kong diam-diam berkata perlahan kepada Tin Eng,

“Dia seorang ahli gwakang (tenaga kasar)! Lok Ban takkan menang!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: