Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 14

RAMALAN ini ternyata terbukti tak lama kemudian. Biarpun memiliki ilmu kepandaian silat yang lumayan, akan tetapi ternyata ia kalah tenaga menghadapi pemuda raksasa itu. Tiap kali pukulannya kena tangkis, tubuhnya sampai terhuyung-huyung ke samping dan ia merasa lengan tangannya yang tertangkis sakit sekali.

Sebaliknya, tiap kali pemuda itu menghantam, Lok Ban tidak berani menangkis, hanya cepat mengelak mempergunakan kegesitan dan keringanan tubuhnya. Celaka bagi Lok Ban bahwa ia tidak dapat menarik keuntungan dari kecepatannya, karena pemuda itupun cukup gesit dan memiliki ketenangan dan gerakan yang tetap sehingga tidak gugup menghadapi kegesitan Lok Ban.

Setelah bertempur dua puluh jurus lebih, akhirnya pundak kanan Lok Ban kena di dorong sehingga tubuhnya terpental dan kemudian roboh bergulingan menabrak kursi. Juga dalam serangan ini ternyata bahwa pemuda tinggi besar itu tidak bermaksud kejam sehingga pundak Lok Ban tidak terluka, hanya agak biru saja karena kerasnya tangan lawan. Lok Ban juga maklum akan hal ini, maka ia merasa bahwa ia tidak akan menang melawan pemuda itu, lalu sambil melirik kepada Gwat Kong, raja maling itu berkata,

“Anak muda, kau boleh menghina aku Lok Ban dan kawan-kawanku. Akan tetapi kau sungguh keterlaluan karena perbuatanmu ini berarti tidak memandang maka kepada Kang-lam Ciu-hiap!”

Gwat Kong maklum bahwa kini tuan rumah sedang berusaha untuk minta bantuannya. Sementara itu Tin Eng juga merasa betapa pemuda itu memang agak keterlaluan, maka ia lalu menggunakan sumpitnya untuk menjepit sepotong daging dan sekali ia menggerakan tangan, daging itu melesat dengan cepatnya menuju ke arah muka pemuda itu.

“Tamu tak diundang rasakanlah sedikit daging!” seru gadis itu sambil tersenyum, dan kini sumpitnya telah menjepit sepotong daging pula, siap menyusul serangan pertama kalau gagal.

Pemuda muka hitam itu terkejut melihat menyambarnya benda kecil itu dan maklum bahwa orang hendak menghinanya, maka ia cepat miringkan kepala sehingga daging yang dilemparkan oleh Tin Eng itu mengenai tempat kosong. Akan tetapi daging kedua telah menyambar tepat di tempat pemuda itu membuang mukanya, maka hampir saja ia menjadi korban sambaran daging. Untung ia masih berlaku cepat dan menundukkan muka.

Akan tetapi kini sambaran ketiga datang menyusul amat cepat. Kali ini yang menyambarnya adalah sepotong bakso yang bundar bagaikan pelor. Pemuda itu kaget sekali karena tahu-tahu bakso bundar itu telah mendekati mulutnya dan telah tercium baunya yang sedap. Ia miringkan kepalanya, akan tetapi kurang cepat sehingga bakso itu masih menghantam daun telinganya sebelah kanan.

“Kurang ajar!” serunya sambil memandang marah kepada Tin Eng dan Gwat Kong yang tertawa bergelak, diikuti oleh suara ketawa semua orang yang hadir.

“Bukan salahku!” kata Tin Eng menyindir. “Mengapa telingamu besar amat? Kalau telingamu tak sebesar itu, tentu takkan kena!”

Pemuda itu menggunakan tangan untuk menyusuti telinganya yang berlumur kuah dan mendengar ejekan ini mukanya menjadi merah. Memang telinganya besar sekali, ini dapat ia ketahui apabila ia meraba daun telinganya.

“Jangan berlaku seperti seorang pengecut!” teriaknya sambil membelalakkan matanya yang besar.

“Menyerang orang secara menggelap. Sungguh patut dilakukan oleh seorang maling rendah! Kalau mempunyai kegagahan majulah, aku tidak takut segala macam Pendekar Arak maupun setan arak!” Ia sengaja menghina Kang-lam Ciu-hiap (Pendekar Arak Dari Kang-lam) karena memang ia belum pernah mendengar nama ini.

Gwat Kong merasa suka melihat pemuda itu, karena ia maklum bahwa betapa pun kasarnya akan tetapi pemuda itu memiliki sifat-sifat baik, yakni jujur dan tidak kejam, juga ilmu silatnya cukup baik. Setelah mengambil keputusan di dalam hatinya, Gwat Kong lalu berdiri mendahului Tin Eng karena bila gadis itu yang menghadapi pemuda tinggi besar ini, tentu keadaan akan menjadi rusak.

Gwat Kong lalu menghampiri pemuda itu lalu menjura, “Enghiong (orang gagah) dari manakah dan siapa namamu? Kepandaianmu membuat kami merasa kagum!”

Akan tetapi pemuda itu yang masih marah karena telinganya disambar bakso, lalu menjawab dengan pertanyaan pula sambil memandang tajam. “Apakah kau juga maling?”

“Buka matamu lebar-lebar!” seru seorang yang hadir. “Orang gagah itu adalah Kang-lam Ciu-hiap! Kau berani kurang ajar?”

“Hmm, jadi inikah Kang-lam Ciu-hiap yang disebut raja maling tadi? Tak berapa hebat! Dan karena berkumpul dengan para maling, tentu Kang-lam Ciu-hiap juga maling!” kata pemuda tinggi besar itu dengan beraninya.

Gwat Kong tersenyum. “Sesukamulah, boleh kau sebut apa saja. Akan tetapi, siapakah kau dan mengapa kau datang-datang membikin ribut di sini?”

“Aku adalah seorang laki-laki sejati, bukan maling bukan perampok, tak pernah mengganti she menyembunyikan nama. Aku datang tak disengaja ke rumah makan ini dan melihat sekumpulan maling memilih ketua! Maling yang memperlihatkan diri di muka umum, bukan maling lagi namanya, akan tetapi perampok-perampok jahat dan aku paling benci kepada segala macam perampok!”

Gwat Kong tersenyum lagi. “Kau benar-benar orang gagah!” Kemudian ia berpaling kepada semua yang hadir dan berkata, “Cuwi sekalian, kalau pemuda gagah ini menjadi pangcu, akan bagus sekali.”

“Aku mau kau jadikan raja maling? Jangan menghina, akan kuhancurkan kepalamu!” seru pemuda itu marah sekali sambil membelalakkan matanya.

“Apa kau berani melawan aku?” tanya Gwat Kong.

“Mengapa aku takut?”

“Bagaimana kalau kau kalah?” tanya pula Gwat Kong dan sengaja memperlihatkan sikap memandang ringan.

“Ha ha ha! Aku yang kalah terhadap kau yang lemah ini? Kalau aku kalah, aku akan pai-kui (memberi hormat sambil berlutut) kepadamu delapan kali dan mengangkat kau sebagai guru!”

“Tak usah, tak usah mengangkat guru, hanya satu permintaanku yakni kalau kau kalah dapat kukalahkan dalam sepuluh jurus kau harus menurut segala perintahku!”

“Sepuluh jurus? Ha ha ha! Baik, baik, kalau aku kalah olehmu dalam sepuluh jurus, kau boleh memerintahku apa saja, aku akan menurut.”

“Benar-benarkah?” Gwat Kong menegaskan. “Kau takkan melanggar janji?”

Pemuda itu marah sekali. “Ucapan seorang jantan lebih berharga dari pada sepuluh ribu tail emas!”

Kemudian ia memandang dengan senyum menghina. “Dan bagaimana kalau kau kalah dan tidak dapat menjatuhkan aku dalam sepuluh jurus?”

“Hmm, sesukamulah, apa yang kau minta?”

“Kalau kau kalah olehku, kau kugantungi papan di dadamu yang bertuliskan bahwa kau adalah seorang maling besar di Ki-ciu, kemudian kau harus berjalan keliling kota setengah hari lamanya!”

“Baik, baik!” kata Gwat Kong yang segera melangkah maju mendekati. “Nah, kau jagalah pukulanku jurus pertama!”

Sambil berkata demikian Gwat Kong menyerang dengan pukulan tangan secara sembarangan saja. Dengan tangan kanan ia menonjok dada Nyo Leng dengan perlahan sambil berseru,

“Jurus pertama!”

Melihat datangnya jotosan ke arah dadanya itu, Nyo Leng tersenyum mengejek dan tidak mengelak. Bahkan mengangkat dadanya itu sambil mengerahkan tenaganya. Ia hendak membuat Gwat Kong terpental seperti si botak ketika memukul perutnya tadi.

Akan tetapi ketika pukulan Gwat Kong yang dilakukan tangan kosong tiba di dadanya, Nyo Leng berteriak kesakitan dan terhuyung-huyung ke belakang. Akan tetapi ia benar-benar kuat. Biarpun Gwat Kong tadi telah memukul uratnya, ia tidak sampai roboh dan dapat menahan rasa sakit pada dadanya lalu melompat sambil berseru marah untuk membalas dengan serangan pukulan tangannya yang keras itu.

Diam-diam Gwat Kong merasa kagum melihat daya tahan pemuda ini, maka ia lalu mengelakkan diri dari pukulan lawannya, lalu menyerang lagi sambil berseru,

“Jurus kedua!” Kali ini Gwat Kong menyerang dengan mendorongkan kedua tangannya ke arah bahu kanan kiri lawannya dengan maksud untuk mendorong jatuh pemuda itu. Nyo Leng tidak berani berlaku semberono lagi setelah tadi merasa betapa ampuhnya bekas tangan lawan, maka kini melihat dua tangan Gwat Kong mendorongnya, ia lalu berseru keras dan tiba-tiba iapun mendorongkan kedua lengannya memapaki lengan Gwat Kong.

Ternyata pemuda kasar itu hendak mengadu tenaga. Sepasang lengannya yang besar dan kuat itu yang mengandung tenaga gwakang luar biasa besarnya bagaikan tenaga kerbau jantan, meluncur cepat dan hendak menumbuk dua tangan Gwat Kong yang menyambar ke arah kedua pundaknya.

Akan tetapi, Gwat Kong yang cerdik tidak mau mengadu tenaga dan begitu kedua tangannya hampir bertumbukkan dengan kedua tangan lawan, ia lalu gerakan kedua tangan ke samping dan ketika lengan lawan meluncur lewat, secepat kilat ia memegang pergelangan tangan lawan dan sambil memiringkan tubuh ia menarik lengan Nyo Leng itu ke depan.

Tenaga dorongan Nyo Leng sudah besar bukan main, kini ditambah oleh tarikan Gwat Kong, maka tidak dapat tertahan lagi, tubuh Nyo Leng terdorong ke depan dengan kerasnya sehingga kalau saja ia tidak memiliki kecepatan dan berjungkir balik dengan tangan menepuk lantai sedangkan kaki dilempar ke atas lalu membuat pok-sai (salto), tentu mukanya akan beradu dengan tanah. Gerakan ini membuat kagum semua orang, karena sekali lagi Nyo Leng memperlihatkan kekuatan dan kegesitannya.

Akan tetapi baru menghadapi dua jurus serangan Gwat Kong saja ia sudah hampir mendapat kekalahan, maka kini Nyo Leng berlaku hati-hati sekali. Ia tidak mau mengadu tenaga dan kini mulai bersilat dengan teratur dan tenang. Dengan baiknya ia dapat menjaga diri tanpa mau membalas oleh karena ia maklum bahwa Kang-lam Ciu-hiap ini ternyata benar-benar lihai bukan main, sehingga ia harus mencurahkan seluruh perhatian, tenaga dan kepandaiannya untuk menjaga diri agar jangan sampai dapat dikalahkan dalam sepuluh jurus!

Benar saja, ia telah berhasl menghindarkan serangan-serangan Gwat Kong sampai jurus ke tujuh. Akan tetapi tiba-tiba Gwat Kong mempergunakan ginkangnya yang tinggi sekali sehingga Nyo Leng kehilangan lawannya! Selagi ia merasa bingung terdengar suara Gwat Kong membentak,

“Jurus ke delapan!” Dan sebelum Nyo Leng dapat menjaga diri, jalan darahnya bagian Thian-hi-hiat telah kena ditotok oleh jari tangan Gwat Kong sehingga tiba-tiba ia merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi lemas. Akan tetapi Nyo Leng adalah seorang yang memiliki kemauan dan semangat baja, sehingga biarpun seluruh tubuhnya lemas sekali, ia masih dapat mempertahankan diri sehingga tidak roboh.

Gwat Kong merasa heran sekali dan menyangka bahwa totokannya tidak mengenai dengan tepat, maka ia berseru,

“Jurus ke sembilan! Akan tetapi ia tidak jadi menyerang karena melihat lawannya sama sekali tidak bergerak dan ketika ia mendorong perlahan kepada pundak Nyo Leng dan memulihkan jalan darahnya. Pemuda itu lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

“Kang-lam Ciu-hiap benar-benar lihai dan hebat! Teecu (murid) Nyo Leng menerima kalah!”

Dengan girang Gwat Kong mengangkat bangun pemuda itu dan mengajaknya duduk bersama di mejanya. Kemudian ia minta pemuda itu menuturkan riwayatnya.

Ternyata bahwa Nyo Leng adalah seorang yatim piatu yang semenjak kecil suka sekali mempelajari ilmu silat. Akan tetapi ia paling suka mengadu kepandaiannya dengan orang-orang lain yang didengarnya memiliki kepandaian tinggi sehingga kepandaiannya makin meningkat. Karena tiap kali kalah, ia lalu mengangkat guru kepada orang yang mengalahkannya.

Biarpun ia kasar dan tidak cerdik, akan tetapi berkat sukanya belajar silat, ia memiliki kepandaian yang lumayan juga. Ia merantau ke sana ke mari tanpa tempat tujuan tertentu dan biarpun ia bodoh, akan tetapi ia amat jujur dan membenci kejahatan.

Mendengar riwayat pemuda ini, Gwat Kong lalu berkata, “Saudara Nyo, mulai sekarang kau harus tinggal di Ki-ciu dan memimpin saudara-saudara ini!”

No Leng berdiri dan memandang kaget, “Apa? Benar-benar aku harus menjadi raja maling? Ah, bagaimana aku bisa menjadi orang jahat?”

“Kau salah saudara Nyo. Kau bukan menjadi orang jahat, akan tetapi dengan adanya kau yang mengawasi semua saudara ini, kau akan mencegah terjadinya kejahatan. Kau harus melarang semua perbuatan sewenang-wenang dan harus mengadakan peraturan bagi semua anggauta. Biarpun menjadi maling harus memakai aturan dan melihat siapa orangnya yang diganggu.

Para dermawan yang suka menolong orang, orang-orang kang-ouw yang kebetulan lewat di kota ini, orang-orang miskin, pembesar-pembesar yang bijaksana dan adil, mereka ini tidak seharusnya diganggu. Hartawan-hartawan kikir dan pembesar-pembesar kejam boleh diambil hartanya.”

Nyo Leng memandang dengan wajah berseri. “Benar juga! Kalau aku dapat mengatur sehingga maling-maling ini tidak berbuat sewenang-wenang, berarti aku telah menghalangi kejahatan. Boleh-boleh! Aku terima jabatan ini sekarang juga!”

Gwat Kong lalu berkata kepada Lok Ban. “Saudara Lok, kau dan kawan-kawanmu tadi minta kepadaku utk menjadi pangcu. Hal ini tak dapat kuterima oleh karena aku tak dapat tinggal di tempat ini dan apakah artinya seorang pemimpin yang tidak berada di sini dan tidak memimpin dengan langsung? Kalian telah melihat kepandaian saudara Nyo Leng ini yang ternyata lebih tinggi dari pada kepandaian kalian. Maka sekarang jabatan yang tadi kalian tawarkan kepadaku kuserahkan kepada saudara Nyo Leng ini. Harap kalian tidak menolak.”

Lok Ban dan kawan-kawannya menyatakan persetujuannya, oleh karena mereka maklum bahwa pemuda muka hitam itu memang lebih lihai dari pada mereka. Dan juga bahwa pemuda itu mempunyai hati yang baik, jujur dan tidak kejam. Maka, dengan gembira mereka lalu merayakan pengangkatan ini dengan hidangan-hidangan baru.

Semenjak terjadinya pertempuran tadi, para tamu restauran ini telah pergi jauh-jauh karena kuatir kalau-kalau terbawa-bawa sehingga keadaan di situ menjadi sunyi. Pesta berjalan sampai jauh malam dan akhirnya Gwat Kong dan Tin Eng mengundurkan diri dan kembali ke hotelnya.

****

Atas permintaan Tin Eng, Gwat Kong mengawani gadis itu menuju kekota Hun-lam.

“Disana aku mempunyai seorang paman, yakni kakak dari ibuku,” kata gadis itu. “Aku pernah pergi ke sana bersama ibu ketika masih kecil dan kalau tidak salah, pamanku seorang hartawan besar yang baik hati.”

Perjalanan dilakukan tanpa tergesa-gesa dan di sepanjang jalan, Tin Eng mendapat petunjuk-petunjuk dari Gwat Kong dan kadang-kadang mereka berhenti untuk berlatih dalam ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat. Tin Eng pernah mempelajari ilmu pedang ini dengan amat tekun dan rajinnya dan walaupun yang dipelajarinya hanyalah salinan yang kurang sempurna, akan tetapi pengetahuannya cukup untuk dijadikan dasar.

Maka kini setelah mendapat petunjuk dan latihan-latihan dari Gwat Kong, ia mulai dapat merobah permainannya dengan ilmu yang asli, sehingga ia memperoleh kemajuan yang pesat sekali. Juga dalam hal ilmu lweekang, ia mendapat petunjuk-petunjuk menurut pelajaran dalam kitab aslinya.

Hubungan mereka makin erat dan kini mereka bukan bersikap sebagai dua orang sahabat karib. Biarpun dari mulut mereka tak pernah mengeluarkan ucapan yang menyatakan betapa perasaan hati mereka, akan tetapi pandangan mata mereka telah mewakili hati masing-masing.

Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di kota Hun-lam. Kota ini cukup besar dan ramai, dan karena iklimnya sedang, maka banyak pengunjung dari luar kota datang bertamasya ke situ.

Terutama sekali di sebelah barat kota terdapat sebuah telaga yang indah, yakni telaga Oei-hu di mana banyak pelancong menghibur diri di atas perahu.

Sungguhpun Tin Eng telah lupa lagi di mana letak rumah pamannya. Bahkan telah lupa lagi akan wajah orang tua itu, karena dulu ketika mengunjungi tempat ini ia baru berusialima tahun. Akan tetapi karena ia mengerti nama pamannya, mudah saja mereka mencari gedung dari Lie Kun Cwan atau Lie-wangwe (hartawan Lie) oleh karena Lie-wangwe adalah hartawan yang paling ternama di kota itu. Bukan hanya kekayaannya, akan tetapi karena ia terkenal sebagai seorang dermawan.

Ketika Tin Eng bersama Gwat Kong diterima oleh Lie-wangwe, Tin Eng sama sekali pangling melihat pamannya itu. Sebaliknya Lie Kun Cwan juga memandang heran karena ia tidak pernah bertemu dengan gadis cantik dan pemuda yang gagah itu. Memang ada persamaan antara mata orang tua itu dengan ibunya, demikian Tin Eng berpikir dengan terharu karena ia melihat betapa wajah pamannya ini nampak seakan-akan ia sedang berada dalam kedukaan besar.

Dengan ramah tamah Lie-wangwe mempersilahkan kedua tamunya yang muda itu mengambil tempat duduk, kemudian dengan tenang ia berkata,

“Ji-wi (kalian berdua) ini siapakah dan keperluan apakah yang ji-wi bawa?”

“Peh-peh, apakah benar-benar aku berhadapan dengan Lie peh-peh (uwa Lie)?” tanya Tin Eng sambil berdiri.

“Aku benar bernama Lie Kun Cwan, akan tetapi, …. siapakah nona?”

Sementara Tin Eng lalu menjura, “Ah, Lie peh-peh! Lupakah kau kepada Tin Eng?”

Untuk sejenak Lie-wangwe yang juga bangkit berdiri itu memandang dengan heran, kemudian ia berseru,

“Apa…?? Kau … Tin Eng anak Liok Ong Gun …?”

“Benar, peh-peh dan apakah selama ini peh-peh dan peh-bo baik-baik saja?”

Mendengar pertanyaan ini tiba-tiba air mata menitik turun dari kedua mata orang tua itu. Tin Eng terkejut dan segera bertanya,

“Ada apakah, pek-hu? Apakah yang terjadi?” tanyanya kuatir.

“Peh-bomu …. telah meninggal dunia tiga bulan yang lalu …”

“Ah …” Tin Eng mengeluh dengan hati terharu. Lalu keponakan dan paman ini saling tubruk di antara hujan air mata. “Bagaimana peh-bo bisa meninggal dunia, peh-peh …?” tanya Tin Eng di antara tangisnya.

“Dia menderita sakit jantung … tak dapat diobati lagi …” Orang tua ini menarik napas panjang. Lalu berkata sambil mengelus-elus rambut Tin Eng. “Akan tetapi semua itu telah menjadi takdir Thian Yang Maha Kuasa …. harta benda tak dapat menghibur hati orang yang berduka. Tak dapat menahan nyawa yang telah dipanggil oleh Thian! Sudahlah, keringkan air matamu, Tin Eng. Tangismu hanya membuat aku merasa pilu.”

Tin Eng lalu duduk kembali di kursinya dan mengeringkan air matanya dengan sapu tangannya.

“Nah, sekarang ceritakanlah keadaanmu, nak. Kau datang dari mana dan mengapa seorang diri saja? Dan kawanmu ini siapakah? Apakah ayah-ibumu baik-baik saja?

Baru saja Tin Eng mengeringkan airmatanya, akan tetapi kini mendengar pertanyaan ini, ia menangis lagi. Tangisnya bahkan lebih sedih lagi sehingga tubuhnya terisak-isak dan ia menggunakan sapu tangan untuk menutupi mukanya. Gwat Kong menggeleng kepalanya dan menghela napas. Ia merasa ‘bohwat’ (kehabisan akal) menyaksikan pertunjukkan tangis menangis ini.

Kini Lie-wangwe yang nampak terkejut dan segera bertanya mengapa keponakannya itu menangis sedemikian sedihnya. Dengan terisak-isak Tin Eng menceritakan kepada pamannya betapa ia hendak dipaksa menikah oleh orang tuanya dan karena ia tidak suka, maka ia lalu melarikan diri.

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hmm, tidak seharusnya kau membikin susah hati orang tuamu, Tin Eng. Seorang anak wajib menurut sebagai seorang anak berbakti terhadap orang tuanya.”

“Akan tetapi, pek-hu, kalau hendak dijodohkan dengan seorang yang tak ku suka, apakah aku harus menurut saja?” tanya Tin Eng penasaran dan pamannya tersenyum.

“Aah, beginilah kalau anak perempuan pandai ilmu silat. Kabarnya kau memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, melebihi ayahmu! Benarkah?”

Tin Eng diam saja dan menundukkan kepalanya.

“Sudahlah, jangan kau berduka. Urusan ini akan kucoba damaikan dengan orang tuamu. Kau tinggallah di sini untuk sementara waktu. Hitung-hitung menghibur hati pamanmu. Hidupku sunyi sekali semenjak bibimu meninggal. Aku seorang bernasib malang, tidak mempunyai anak, dan isteri meninggal dunia dalam usia belum tua, Aaah … biarlah kau menjadi seperti anakku sendiri, Tin Eng. Aku akan menulis surat kepada ayah-ibumu minta agar mereka tidak terlalu memaksa.”

“Terima kasih, pek-hu.”

“O, ya! Kau belum ceritakan, siapakah orang muda ini?” tanyanya. Dan Gwat Kong menarik napas lega, karena tadinya ia kuatir kalau-kalau kedua orang itu telah melupakan sama sekali bahwa ia berada pula di tempat itu.

“Dia adalah Bun Gwat Kong, seorang pendekar yang diberi julukan Kang-lam Ciu-hiap!” kata Tin Eng yang lalu menceritakan bahwa ketika ia mendapat halangan di tengah perjalanan dan hampir mendapat celaka di tangan Ngo-heng-kun Ngo-hiap. Ia mendapat pertolongan dari pemuda ini yang bahkan mengantarkan sampai di Hun-lam. Tentu saja Tin Eng tidak menceritakan bahwa pemuda itu bukan lain ialah bekas pelayan ayahnya sendiri!

Mendengar bahwa pemuda itu berjuluk Ciu-hiap atau Pendekar Arak, Lie Kun Cwan menjadi girang sekali dan segera berkata,

“Aah, tidak tahunya kau seorang pendekar muda yang gagah berani! Ciu-hiap, melihat nama julukanmu, kau tentu suka sekali minum arak. Dalam hal ini kita mempunyai kesukaan yang sama!” Hartawan itu tertawa bergelak lalu memberi perintah kepada seorang pelayan untuk segera mengeluarkan araknya yang terbaik.

“Marilah kita minum arak, hendak kusaksikan sampai di mana kekuatanmu minum!” Kemudian ia memanggil seorang pelayan wanita dan memberi perintah untuk membereskan sebuah kamar besar untuk Tin Eng.

“Tin Eng kau membereslah sendiri kamar menurut sesuka hatimu. Segala kekurangan boleh kau minta kepada pelayan itu. He, A-sui! Kau layani nonamu baik-baik!”

Melihat sikap yang manis dan kebebasan pamannya ini, Tin Eng merasa girang sekali dan segera ia meninggalkan ruangan itu bersama pelayan muda yang membawanya ke ruang dalam. Sementara itu, dengan girang dan sebagian besar kedukaannya terlupa, Lie-wangwe lalu mengajak Gwat Kong minum arak. Ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar kuat sekali minum araknya yang wangi, Lie-wangwe merasa gembira sekali. Ia sendiri adalah seorang ‘setan arak’ akan tetapi sekarang ia menemukan tandingan.

Tak lama kemudian Tin Eng muncul lagi dan ternyata gadis itu telah berganti pakaian yang lebih longgar dan rambutnya telah di sisir rapi. Mukanya nampak segar karena gadis ini telah mandi dan tukar pakaian. Sungguhpun sepatunya masih sepatu kulit yang tadi ia pakai, yakni sepatu yang kuat dan yang biasa dipakai oleh ahli-ahli silat.

“Ha ha, Tin Eng! Kawanmu ini benar-benar Pendekar Arak! Hebat sekali. Lihat, ia telah menghabiskanlima cawan arak wangi yang keras. Akan tetapi mukanya sama sekali tidak berobah. Padahal aku telah merasa betapa pelupuk mataku berdenyut-denyut tanda bahwa hawa arak mulai naik. Ha ha ha! Kalian menggirang hatiku. Kedatangan kalian benar-benar menggembirakan hatiku.”

Gwat Kong melirik ke arah Tin Eng dan dengan matanya gadis itu memberi tanda bahwa ia merasa berterima kasih kepada pemuda itu yang telah menyenangkan hati pamannya yang sedang berduka.

Pada saat itu, dari luar terdengar suara keras,

“Lie-wangwe! Sumbanganmu untuk bulan ini lagi-lagi terlambat! Kau harus didenda dengan tiga cawan arak wangi dan uang tambahan istimewa sepuluh bagian!”

Mendengar suara ini, Lie Kun Cwan mengerutkan keningnya, “Aah, celaka! Sedang senang-senangnya, datang lagi buaya darat yang menjemukan!”

Akan tetapi ia segera memanggil pelayannya dan berkata, “Sediakan uang lima puluh tail perak dan tambahan lima tail lagi dan ambil cawan kosong.”

Pada saat itu, seorang laki-laki baju hitam yang bertubuh tinggi besar melangkah masuk dengan tindakan kaki lebar, diiringkan oleh seorang pelayan yang kelihatan takut. Orang itu selain tinggi besar, juga wajahnya menunjukkan bahwa ia adalah bangsa orang kasar yang hidup di kalangan liok-lim, dengan matanya yang lebar dan alisnya yang tebal serta brewokan yang kaku.

Di pinggangnya tergantung sebatang pedang, membuat ia nampak gagah sekali. Di lihat dari ikat kepalanya, bajunya yang hitam dan celananya yang putih sampai ke sepatunya yang mengkilap, ia adalah seorang yang mewah, karena semua pakaiannya terbuat dari pada bahan kain yang mahal.

Melihat kedatangan orang ini, Lie-wangwe dengan cepat segera berdiri dan menjura,

“Ah, ji-kauwsu, silahkan duduk! Kebetulan sekali kami sedang minum arak, mari aku akan membayar denda itu dengan pernyataan maaf akan kelambatanku.”

Orang tinggi besar itu, yang disebut ji-kauwsu (guru silat kedua) itu mempergunakan sepasang matanya yang besar untuk memandang ke arah Gwat Kong dengan penasaran dan tak puas karena melihat pemuda yang tak dikenal ini sama sekali tidak mau berdiri menyambutnya dan memberi hormat kepadanya. Ia hendak menegur, akan tetapi pada saat itu ia dapat melihat Tin Eng yang sedang berdiri menyadar tiang. Kemarahannya lenyap, terganti oleh senyum menyeringai yang dimaksudkan untuk memperindah mukanya yang tak sedap dipandang, sehingga mukanya nampak makin menjemukan.

Bagitu melihat orang ini, baik Tin Eng maupun Gwat Kong merasa tak suka dan jemu. Akan tetapi oleh karena mereka belum tahu apa hubungan orang ini dengan Lie-wangwe, maka mereka diam saja sambil memandang saja.

Sementara itu, ketika melihat Tin Eng yang cantik molek berada di situ, si baju hitam yang tinggi besar lalu tertawa bergelak,

“Lie-wangwe, tidak tahunya kau sedang menjamu dua orang tamu. Ha ha, tentu saja aku tidak menolak tawaran arak wangi. Harap kau perkenalkan aku kepada dua orang tamumu ini, Lie-wangwe!”

Sambil berkata demikian, ia menjura kepada Tin Eng yang sama sekali tidak dibalas oleh gadis itu yang hanya tersenyum mengejek.

“Duduklah, ji-kauwsu!” kata Lie Kun Cwan membujuk karena ia merasa tidak enak melihat sikap orang itu. “Dan marilah minum arak ini. Dia adalah seorang keponakanku, bukan tamu dan pemuda inilah yang menjadi tamuku.”

Akan tetapi orang tinggi besar itu nampak mendongkol sekali. “Aku tidak biasa duduk seorang diri sedangkanan orang lain hanya berdiri menonton saja. Lie-wangwe, apakah aku Hun-lam Ji-kauwsu Touw Tek (Touw Tek si Jago Silat Nomor Dua di Hun-lam) terlampau rendah untuk duduk minum arak semeja dengan keponakanmu?”

“Ah, tidak, tidak! Bukan demikian, ji-kauwsu, hanya karena keponakanku itu tidak biasa minum arak. Tin Eng … kau masuklah saja …” Lie-wangwe nampak gelisah sekali.

Hal ini membuat Gwat Kong merasa mendongkol bukan main. Ia memberi isyarat dengan mata kepada Tin Eng yang sudah merasa ‘gatal-gatal’ tangannya menyaksikan lagak orang tinggi besar itu.

“Lie-lopeh.” Katanya dan ikut-ikutan menyebut lopeh (uwa) kepada hartawan itu. “Sebetulnmya apakah kehendak ji-kauwsu ini datang ke rumahmu?”

“Ji-kauwsu ini datang hendak menerima sumbangan bulanan yang harus kuserahkan untuk biaya penjagaan kota,” jawab Lie-wangwe. “Twa-kauwsu (guru silat pertama) Touw Cit dan ji-kauwsu ini adalah dua orang saudara yang menjaga keamanan kota Hun-lam. Aku diwajibkan membayar sumbangan lima puluh tail perak sebulan.”

“Kalau kami tidak menjaga dan ada perampok datang, tidak hanya semua uang dan harta benda akan lenyap, bahkan nyawapun belum tentu akan dapat diselamatkan!” kata Touw Tek yang tinggi besar itu sambil membusungkan dada.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: