Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 15

GWAT Kong mengangguk-angguk dan berkata dengan suara nyaring dan mengejek. “Orang yang menjual kepandaian dapat disebut pengemis, hal itu masih tidak apa. Akan tetapi kalau kepandaian digunakan untuk memeras dan berlagak, maka ini sudah keterlaluan sekali!”. Sambil berkata demikian, Gwat Kong minum arak dari cawannya.

Lie-wangwe menjadi pucat mendengar ini. Sedangkan Touw tek memandang kepada Gwat Kong dengan mata terbelalak karena heran. Bagaimana pemuda ini berani mengucapkan kata-kata demikian terhadap dia? Keheranan lebih besar dari pada kemarahannya, maka ia lalu bertanya,

“Eh eh, apa maksudmu, bocah lancang?”

Gwat Kong menunda cawannya yang masih dipegangnya, lalu berkata,

“Maksudku bahwa orang yang berlagak seperti kau ini tak mungkin dapat menjaga keamanan, hanya pandai memeras uang orang belaka!”

“Tikus kecil!” Touw Tek memaki marah. “Siapa berani mengacau di Hun-lam? Coba hendak kulihat, siapa berani?”

“Tikus besar!” Gwat Kong balas memaki. “Sekarang juga kau telah mengacau, hendak kulihat kau mampu berbuat apa?”

Setelah berkata demikian, dengan tenang, Gwat Kong lalu minum habis arak di cawannya, seakan-akan tak memandang sebelah mata kepada orang tinggi besar itu.

“Bun-hiante …. jangan cari perkara …” Lie-wangwe berseru kuatir. Akan tetapi Tin Eng yang masih berdiri menyandar di tiang, berkata, “Peh-peh, jangan kuatir, tikus besar ini memang perlu diberi sedikit hajaran!”

Sementara itu Touw Tek menjadi marah sekali. Dengan gerakan yang galak, ia mencabut goloknya. Tubuh Lie-wangwe menjadi menggigil ketika ia melihat golok yang berkilau saking tajamnya itu digerak-gerakkan di tangan Touw Tek.

“Ji-kauwsu … ji-kauwsu … mohon kau sudi memaafkan tamuku ini. Aku akan memberi seratus tail perak kepadamu, maafkanlah kami …”

Akan tetapi Gwat Kong telah bangkit dari tempat duduknya dan berkata, “Lie-lopeh, tenanglah dan biarkan aku menghadapi bajingan ini.”

Lie-wangwe menduga bahwa Gwat Kong telah menjadi mabuk, maka ia hendak mencegah, kuatir kalau-kalau pemuda ini akan disembelih oleh Touw Tek di dalam rumahnya. Akan tetapi kembali Tin Eng berkata,

“Peh-peh, biarkanlah Gwat Kong menghadapi tikus besar itu. Jangan kuatir, peh-peh!” Terpaksa Lie Kun Cwan berdiri memandang dengan wajah membayangkan kegelisahan besar.

Sementara itu, Gwat Kong lalu melangkah maju dengan tenang menghadapi Ji-kauwsu Touw Tek yang memperlihatkan muka mengancam.

“Golokmu yang tumpul itu hanya cukup baik untuk menakuti anak kecil belaka, apa sih bagusnya? Membeli setail saja aku tak sudi, untuk apa kau perlihatkan kepadaku?”

“Bangsat kecil, lekas kau keluarkan senjatamu, kalau kau berkepandaian!” bentak Touw Tek yang hampir tak dapat menahan marahnya lagi.

“Bangsat besar, menghadapi golok tumpul itu tak perlu aku bersenjata!”

“Kau cari mampus!” Touw Tek berseru lalu menyerang dengan goloknya. Gerakannya dahsyat, ganas dan cepat. Goloknya diputar di atas kepala, kemudian ia membacok dengan tipu Hong-sauw-pai-yap (Angin Menyapu Daun Rontok).

“Ha ha ha, gerakanmu ini hanya cukup baik untuk menyembeli babi!” Gwat Kong mengejek sambil melompat ke pinggir mengelak dengan cepat sekali. Melihat bacokannya tak berhasil, Touw Tek berseru marah dan menyerang lagi lebih hebat. Kini dengan gerak tipu Pek-miauw-po-ci (Kucing Putih Terkam Tikus) yang dilakukan dengan nafsu membunuh bernyala-nyala keluar dari matanya.

Kembali Gwat Kong mengelak cepat sambil tersenyum-senyum. Sementara itu Tin Eng menonton pertempuran itu sambil berdiri bersandarkan tiang dan iapun tersenyum melihat betapa Gwat Kong mempermainkan orang kasar dan sombong itu. Sedangkan Lie-wangwe berdiri dengan kaki terpentang dan muka dikerutkan tanda amat gelisah dan khawatir hatinya. Ia tidak mengerti ilmu silat dan melihat serangan golok yang berkelebat cepat menyilaukan mata itu, berkali-kali ia menutup matanya agar jangan melihat betapa tubuh pemuda itu akan terbabat putus menjadi beberapa potong.

Akan tetapi, ketika ia membuka matanya kembali, Gwat Kong masih hidup, bahkan kini berlompat-lompatan ke sana ke mari di sekeliling tubuh Touw Tek. Mempermainkan bagaikan seekor tikus yang gesit sekali sedang mempermainkan seekor kucing tua yang lambat dan ompong.

“Kau mau uang? Lima puluh tail perak? Seratus?” Gwat Kong mengejek sambil mengelak cepat dari sebuah sabetan golok. “Nah, ini terimalah lima puluh tail!” Tangan kanannya menyambar dan “Plok” pipi kiri Touw Tek telah kena ditamparnya.

Touw Tek merasa betapa pipinya panas dan pedas sedangkan mulutnya merasa asin tanda bahwa lidahnya merasai darah yang keluar dari bibirnya yang pecah. Bukan main marahnya dan sambil berseru keras ia menyerang dengan goloknya makin cepat. Ingin sekali ia membacok tubuh lawannya ini sampai hancur seperti bakso.

“Masih kurang?” kembali Gwat Kong mengejek. “Mau lagi? Nah, ini lima puluh tail perak lagi!” Kakinya menyambar cepat bagaikan sambaran kilat dan “buk” dada Touw Tek kena tendang sehingga tubuhnya yang tinggi besar itu terhuyung-huyung ke belakang. Ia merasa dadanya sakit sekali akan tetapi Gwat Kong memang tidak ingin mencelakakannya sehingga tendangannya itu tidak mendatangkan luka berat.

Dasar Touw Tek berwatak sombong dan jumawa sekali, maka tendangan dan tamparan tadi yang sebetulnya harus memperingatkan dia, bahwa lawannya tidak bermaksud kejam. Bahkan diterimanya salah dan dianggapnya bahwa betapapun juga, lawannya itu tidak memiliki tenaga yang cukup besar. Ia pikir bahwa biarpun ia terkena pukul berkali-kali kalau tenaga lawannya hanya sedemikian saja, ia takkan roboh dan sekali saja ia berhasil membalas, akan mampuslah lawan ini. Maka ia tidak mundur, bahkan lalu mendesak maju dengan serangan-serangan maut.

Melihat kebandelan ji-kauwsu Touw Tek ini, Gwat Kong menjadi sebal dan penasaran juga.

“Ah, bosan aku melayani kau bertempur, kau tak pernah dapat melakukan serangan cukup baik!” katanya dan tiba-tiba pemuda itu melompat ke arah meja di mana tadi ia duduk dan menyambar cawan arak yang terus diminumnya. Sama sekali ia tidak memperdulikan Touw Tek lagi, seakan-akan menganggap lawan itu bukan apa-apa.

Hinaan ini membuat darah Touw Tek bergolak.

“Keparat!” teriaknya dengan mata merah. “Kalau hari ini aku tak dapat membunuhmu, jangan sebut aku Hun-lam Ji-kauwsu lagi!”

Akan tetapi dari samping berkelebat bayangan yang cepat dan tahu-tahu gadis cantik molek yang hendak diganggunya telah berdiri di depannya sambil tersenyum manis.

“Tikus besar!” kata Tin Eng sambil memainkan senyum dan lirikannya. “Bagaimana kau dapat melawan Kang-lam Ciu-hiap? Kalau kau bisa mengalahkan aku, kau baru patut disebut Tikus Kedua! Mana kau patut disebut Guru Silat?”

Touw Tek tertegun. Apakah gadis inipun pandai ilmu silat? Ia ragu-ragu, karena biarpun mengerti ilmu silat, tak mungkin gadis cantik jelita yang pinggang ramping ini memiliki kepandaian tinggi.

“Nona, kau minggirlah dan biarkan aku membunuh bangsat itu!”

“Minggir? Kau cobalah membuat aku minggir!” Tin Eng menantang.

“Lie-wangwe!” Touw Tek berseru marah kepada hartawan itu. “Jangan kau persalahkan aku apabila aku terpaksa memberi hajaran kepada keponakanmu ini!”

“Tin Eng, jangan ….!” Lie-wangwe mencegah.

Akan tetapi Tin Eng telah maju menyerang dengan tangan kosong. Touw Tek tadinya memandang rendah dan pukulan tangan kanan Tin Eng itu disambutnya dengan cengkeraman tangan kiri. Maksudnya ia hendak tangkap tangan itu dan dengan begitu membuat dara itu tak berdaya.

Tak disangkanya, ketika tangannya bergerak hendak menangkap pergelangan tangan Tin Eng, gadis itu menarik kembali pukulan tangan kanannya dan tangan kirinya bergerak cepat ke arah kepala Touw Tek dan tahu-tahu ikat kepala si tinggi besar itu telah berada di tangan Tin Eng.

Touw Tek menjadi marah sekali, dan dengan rambut awut-awutan ia segera menyerang dengan goloknya, membabat pinggang Tin Eng. Gadis itu tertawa mengejek dan melompat mundur untuk menghindarkan diri dari pada babatan golok. Kemudian tubuhnya menyambar dan membalas dengan serangan-serangan kilat. Ia menggunakan ikat kepala yang dirampasnya tadi untuk menyerang dan “Plak!” muka Touw Tek telah kena ditampar dengan keras oleh ikat kepalanya sendiri. Tamparan menggunakan ujung ikat kepala ini rasanya lebih pedas dari pada tamparan Gwat Kong tadi sehingga Touw Tek merasa betapa matanya berkunang.

Sebelum ia dapat membalas, ia mendengar suara ketawa dan tahu-tahu kaki gadis itu melayang dan menendang pergelangan tangan kanannya yang memegang golok. Terdengar bunyi “keekk!!” dan Touw Tek menjerit kesakitan, goloknya terlepas dari pegangan.

“Bangsat sombong, kau pergilah!” seru Tin Eng. “Dan lain kali jangan kau berani menginjak lantai rumah pamanku!”

Dengan muka merah dan mulut meringis-ringis kesakitan. Touw Tek lalu menjumput goloknya dan pergi dari situ setelah melayangkan pandang mata sekali lagi ke arah Gwat Kong dan Tin Eng.

Lie-wangwe merasa terheran-heran sehingga ia berdiri bengong tak dapat mengeluarkan kata-kata melihat kelihaian keponakannya. Setelah penjahat itu pergi, barulah ia dapat menarik napas panjang, sedangkan banyak pelayan yang tadi menonton pertempuran itu kini berdiri dekat pintu, memandang dengan penuh kekaguman. Lie-wangwe memberi isyarat dengan tangan sehingga semua pelayannya mengundurkan diri.

“Tin Eng, tak kusangka bahwa kaupun selihai itu! Ciu-hiap ini dan kau telah dapat mempermainkan ji-kauwsu dengan tangan kosong. Sungguh takkan dapat kupercaya kalau aku tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Seharusnya aku berterima kasih dan merasa girang sekali karena kalian telah memberi hajaran kepada bangsat itu dan memang aku merasa girang ….. Akan tetapi, disamping kegirangan ini, akupun merasa amat khawatir, Tin Eng.”

“Jangan khawatir, pek-hu! Bangsat-bangsat kecil macam dia itu kalau berani datang lagi, akan aku putar batang lehernya seorang demi seorang!” kata Tin Eng dengan gagahnya.

“Memang mudah bagimu, karena kau memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi bagaimana kalau kau sudah tidak berada di sini lagi? Bagaimana aku harus membela diri kalau kalian tidak ada dan bangsat-bangsat itu datang mengganggu? Ahh, kalian tidak tahu siapa ji-kauwsu dan terutama kakaknya toa-kauwsu itu …”

“Sebetulnya mereka itu siapakah dan apa artinya uang sumbangan itu, Lie-lopeh?” tanya Gwat Kong.

Juga Tin Eng ingin sekali mengetahui hal itu dan gadis ini lalu duduk di dekat mereka. Setelah menuangkan arak dan minum secawan, Lie Kun Cwan lalu menceritakan keadaan di kota Hun-lam dan tentang pemerasan yang dilakukan oleh bangsat-bangsat itu.

Ternyata bahwa pada beberapa bulan yang lalu, dikota Hun-lam itu tiba-tiba timbul gangguan orang-orang jahat yang melakukan penggedoran, pencurian, dan perampokan di dalam dan di sekitarkota Hun-lam. Pembesar yang berkuasa di Hun-lam, tak berdaya oleh karena biarpun ia telah mengerahkan pasukan untuk menindas gangguan ini namun para penjahat itu ternyata memiliki ilmu silat tinggi dan tidak mudah dikalahkan atau ditangkap.

Selagi orang-orang penduduk Hun-lam merasa gelisah dan ketakutan, tiba-tiba muncul dua saudara Touw itu, yakni Touw Cit dan Touw Tek yang segera membuka perguruan silat di kota itu dan kedua saudara ini datang menghadap kepada pembesar untuk menawarkan bantuannya. Akan tetapi bantuan yang ditawarkan oleh mereka itu istimewa sifatnya, yakni bukan bantuan tenaga dan kepandaian untuk mengusir para penjahat yang mengganggu, akan tetapi untuk memberi ‘suapan’ kepada mereka.

Touw Cit dan Touw Tek mengusulkan agar supaya para hartawan dan orang berpangkat di kota Hun-lam mengumpulkan sumbangan uang yang diberikan kepada ‘kepala penjahat’ dengan perantaraan mereka berdua. Dan ternyata hal ini mendapat persetujuan semua hartawan, karena dari pada didatangi orang-orang jahat itu, tentu saja lebih baik mengeluarkan uang puluhan atau bahkan ratusan tail sekali gus dan aman.

Usaha dua orang saudara Touw ini rupanya berhasil baik. Oleh karena setelah uang dikumpulkan, benar saja penjahat itu tidak muncul lagi. Dengan amat cerdiknya kedua orang saudara Touw ini mengadakan hubungan dengan para penjahat dan berkompromi, mengadakan ‘kerjasama’ yang amat baik. Tentu saja semua orang tidak tahu bahwa sebenarnya kedua saudara Touw ini bukan lain adalah dua orang di antara para pemimpin penjahat-penjahat itu sendiri.

Mereka menggunakan tipu daya yang amat cerdik dan kini mereka setiap bulan mengumpulkan uang sumbangan yang besar jumlahnya. Seorang hartawan sedikitnya harus menderma dua puluh lima tail perak tiap-tiap bulannya sehingga setiap bulan kedua orang ini dapat mengumpulkan uang ratusan tail perak.

Memang enak sekali pekerjaan ini, tidak berbahaya seperti kalau menjadi penjahat yang banyak resikonya. Kini mereka boleh ‘pensiun’, hanya bekerja sekali setiap bulan, yakni mengumpulkan uang sumbangan itu. Biarpun penjahat-penjahat sudah tak nampak mata hidungnya lagi, akan tetapi uang sumbangan setiap bulan tetap saja ditariknya.

Setelah berjalan beberapa bulan memang para penyumbang merasa ragu-ragu dan bercuriga, dan menganggap bahwa setelah para penjahat kini pergi dan tidak mengganggu lagi, apa perlunya diadakan uang-uang sumbangan? Akan tetapi, baru saja siang hari itu seorang hartawan menolaknya, pada malam harinya gedungnya didatangi lima orang penjahat yang selain menggondol pergi barang-barang berharga yang banyak jumlahnya, juga melukai hartawan yang menolak memberi uang sumbangan itu.

Peristiwa itu tentu saja membuat lain-lain hartawan menjadi takut untuk menolak lagi dan kini setiap bulan mereka dengan ‘setia’ memberi uang sumbangan. Sungguhpun hati mereka tidak rela karena mereka tetap saja merasa curiga dan sangsi dan timbul dugaan-dugaan mereka bahwa kedua guru silat itu main gila.

Hal ini terjadi berbulan-bulan dan kedua orang guru silat she Touw ini menjadi ‘hartawan-hartawan’ mendadak. Mereka membuat gedung besar dan hidup dengan mewah sekali. Tak seorangpun berani menganggu mereka. Akan tetapi, nasib orang memang tidak selamanya mujur dan betapapun seorang dilindungi oleh payung kemujuran pasti akan tiba masanya payung itu akan bocor, membuat ia tertimpa hujan kemalangan.

Demikian yang terjadi dengan kedua saudara she Touw itu, yakni ketika Touw Tek bertemu dengan Kang-lam Ciu-hiap dan Tin Eng di dalam gedung Lie Kun Cwan. Touw Tek benar-benar bertemu dengan ‘batu’ yang bertumbuk dengan batu karang yang membuatnya ‘babak bundas’.

Semua ini diceritakan oleh Lie Kun Cwan kepada Gwat Kong dan Tin Eng dan sungguhpun hartawan ini tidak ragu akan tipu muslihat Touw Cit dan Touw Tek, akan tetapi ia mengutarakan kecurigaannya dan berkata,

“Aku dan juga pembesar dan lain-lain hartawan yang menolak itu didatangi penjahat yang lima orang itu. Semuanya memakai kedok. Mungkin sekali mereka adalah dua orang she Touw itu dan kaki tangannya, siapa tahu? Akan tetapi kami tidak berdaya, karena mereka itu lihai!”

“Hmm, kalau begitu Lie-lopeh segera memberi tahu kepada semua penyumbang agar supaya menghentikan sumbangan mereka sekarang juga. Bahkan uang-uang sumbangan yang sudah diberikan, akan kuminta kembali dari kedua orang bangsat itu.”

Lie-wangwe percaya penuh kepada kedua orang muda yang sudah disaksikan kelihaiannya ini, maka ia segera menulissurat pemberitahuan dan mengutus orang-orangnya untuk menyebarkansurat pemberitahuan itu.

Sementara itu, Gwat Kong dan Tin Eng lalu pergi mengunjungi gedung baru tempat tinggal Touw Cit dan Touw Tek. Mereka berdua telah bersiap sedia untuk menghadapi pertempuran. Akan tetapi alangkah heran mereka ketika mereka mendapat sambutan yang manis dari Touw Tek dan Touw Cit. Seperti juga Touw Tek, Twa-kauwsu Touw Cit bertubuh tinggi besar dan berbaju hitam bercelana putih. Akan tetapi keningnya tinggi membuat kepalanya nampak seperti botak dan ia tidak bertopi atau berikat kepala.

Ketika Gwat Kong dan Tin Eng tiba di rumah besar itu, Touw Cit dan Touw Tek sendiri lalu menyambut dan Touw Cit segera menjura dengan sikap yang menghormati sekali.

“Ji-wi yang gagah!” katanya dengan suara yang besar. “Aku telah mendengar dari adikku Touw Tek tentang kegagahan ji-wi yang muda. Sungguh membuat kami merasa kagum sekali. Harap saja ji-wi sudi memaafkan kekasaran adikku tadi.”

Gwat Kong benar-benar tertegun karena tak pernah menyangka akan mendapat sambutan seperti ini. Ia membalas penghormatan tuan rumah dan berkata,

“Saudara tentulah yang bernama Hun-lam Twa-kauwsu Touw Cit. Kami berdua juga mohon maaf apabila kami telah mengganggu adikmu di rumah Lie-wangwe tadi. Kedatangan kami ini tak lain hendak membantu usaha ji-wi dalam menghadapi para penjahat yang suka mengganggu kota ini. Akan tetapi kami berdua tidak hendak mempergunakan cara yang telah dipergunakan oleh ji-wi (tuan berdua). Akan tetapi kami hendak menghadapi para penjahat itu dengan pedang kami. Oleh karena itu, para penyumbang yang telah menyetor uang kepada ji-wi harap saja ji-wi suka mengembalikan uang sumbangan itu kepada mereka.” Touw Cit mengerutkan keningnya, sungguhpun mulutnya tetap tersenyum.

“Akan tetapi bagaimana kalau mereka nanti marah dan menyerbu ke sini?”

Gwat Kong tersenyum. “Biarlah, kalau mereka benar-benar datang menyerbu, siauwte dan kawanku ini yang bertangguing jawab menghadapi mereka!”

Touw Cit tersenyum, “Ah, taihiap benar-benar gagah, akan tetapi agaknya kau belum tahu siapakah mereka yang kau hendak hadapi ini. Tidak tahu siapakah nama taihiap yang semuda ini telah mempunyai keberanian hebat dan kegagahan yang mengagumkan? Kalau tidak salah, julukan taihiap adalah Kang-lam Ciu-hiap seperti tadi yang didengar oleh adikku. Akan tetapi siapakah taihiap dan siapa pula guru taihiap?”

Gwat Kong tersenyum. “Namaku adalah Bun Gwat Kong dan tentang suhuku, terus terang saja aku tidak mempunyai guru, kecuali diriku sendiri!”

Touw Cit nampak tak puas, akan tetapi ia tetap tersenyum lalu berkata,

“Tidak apalah kalau Kang-lam Ciu-hiap menganggap diri terlalu tinggi untuk memperkenalkan diri kepada kami orang-orang bodoh. Ha, Touw Tek, kau lekas kumpulkan uang pemberian para dermawan tadi dan mengembalikannya sekarang juga.” Touw Tek segera masuk ke dalam rumah.

“Masa bodoh, kalau ada kerusuan, siauwte serahkan saja kepada Kang-lam Ciu-hiap dan kawannya!” kata pula Touw Cit kepada Gwat Kong yang segera menyanggupinya. Dan kemudian setelah mengucapkan terima kasih, ia mengajak Tin Eng pergi dari situ kembali ke rumah Lie-wangwe.

Ternyata ketika mereka tiba di situ, rumah Lie-wangwe telah penuh tamu, yakni orang-orang yang tadinya dikenakan sumbangan oleh kedua saudara Touw itu. Bahkan tihu kota itu juga memerlukan datang. Mereka ini merasa gelisah sekali, takut kalau-kalau ada penyerbuan para orang jahat sebagai akibat ditolaknya uang sumbangan itu. Terpaksa Gwat Kong menghibur mereka dengan kata-kata gagah,

“Cu-wi sekalian! Terus terang saja, sesungguhnya bagi siauwte, tidak ada hubungannya dan tidak ada ruginya meskipun cu-wi harus mengeluarkan banyak uang sumbangan. Oleh karena orang-orang kaya seperti cu-wi ini tentu saja tidak berat untuk mengeluarkan uang barang puluan atau ratusan tail perak tiap bulannya. Akan tetapi sebagai seorang perantauan yang memperhatikan segala peristiwa yang diterbitkan oleh orang-orang jahat yang suka mengganggu, tentu saja siauwte tidak suka melihat adanya orang-orang jahat yang mengganggu di kota ini dan siauwte akan berdaya sekuat tenaga untuk membasmi mereka. Kalau mereka datang, siauwte akan menghadapi mereka!”

“Kau hanya seorang diri atau berdua dengan nona ini, bagaimanakah kalau kalian berdua kalah? Apakah itu bukan berarti keadaan kami makin celaka?” berkata seorang hartawan yang selalu mengingat kepentingan dan keselamatan diri sendiri belaka, sehingga dalam pertanyaan inipun sama sekali tidak perduli akan keadaan dua orang muda itu kalau kalah, akan tetapi yang terutama mengingat keadaan sendiri dulu.”

Gwat Kong tersenyum menyindir. Sebenarnya ia tidak senang harus menjadi pelindung sekian banyak orang-orang hartawan ini. Akan tetapi ia mengingat bahwa di antara mereka ada paman Tin Eng yang baik hati dan dermawan dan ia harus melindungi. Maka ia lalu menenggak secawan arak, lalu disemburkannyalah arak itu dari mulutnya ke arah tiang yang besar di tengah ruangan itu.

Tiang itu terbuat dari kayu yang keras sekali dan jaraknya dari Gwat Kong ada dua tombak. Akan tetapi ketika semburan arak itu mengenai kayu yang keras itu, tampak tiang itu menjadi bolong-bolong, seakan-akan tiap tetes arak berubah menjadi pelor besi.

“Apakah kepala para penjahat itu lebih keras dari pada tiang ini?” Gwat Kong bertanya. Semua mata memandang ke arah tiang itu dengan terbelalak lebar dan untuk sejenak tak seorangpun terdengar mengeluarkan suara. Kemudian bagaikan mendapat komando, mereka berseru memuji tiada habisnya dan kemudian mereka pulang ke rumahnya masing-masing dengan hati besar.

“Maaf, Lie-lopeh,” kata Gwat Kong kepada Lie-wangwe setelah semua tamu itu pergi. “Bukan maksudku untuk menyombongkan kepandaian, hanya untuk melenyapkan kegelisahan mereka.”

Lie Kun Cwan tahu akan hal ini. Kemudian Gwat Kong berunding dengan Tin Eng untuk mempersiapkan diri menanti datangnya serbuan orang-orang jahat.

“Tin Eng, malam ini kita berdua harus berjaga dengan amat hati-hati. Sudah pasti orang-orang jahat itu akan datang. Entah benar-benar orang dari luar, ataupun anak buah kedua saudara Touw itu sendiri. Kita belum tahu dari mana mereka akan datang. Oleh karena itu lebih baik kita berjaga dengan berpencar. Kau berkeliling dari selatan memutar ke timur dan aku dari selatan memutar ke barat sehingga kita bertemu di ujung utara kota. Dengan cara meronda seperti ini, kalau mereka berani datang pasti akan bertemu dengan kau atau aku!”

“Baik, Gwat Kong!” jawab Tin Eng dengan gagah dan sedikitpun gadis ini tidak nampak jerih.

“Akan tetapi, apakah tidak perlu kalian minta bantuan pasukan penjaga dari tihu? Bagaimana kalau jumlah mereka banyak dan kalian di keroyok? Apakah itu tidak berbahaya?”

“Memang baik kalau mereka itu mau membantu,” jawab Gwat Kong. “Dan siauwte menghaturkan terima kasih atas perhatian Lie-lopeh. Akan tetapi, harap lopeh beritahu kepada tihu agar para penjaga itu disuruh bersembunyi, menjaga-jaga kalau-kalau ada penjahat diam-diam memasuki kota. Mereka tak perlu turun tangan, kecuali kalau perampokan pada rumah yang jauh letaknya dari tempat kami sehingga kami tak dapat menolongnya. Mereka itu boleh menyediakan banyak belenggu untuk merantai para penjahat!”

Lie-wangwe menyatakan setuju dan ia segera pergi sendiri menemui tihu untuk mengatur penjagaan pasukan bersembunyi itu. Seluruh kota Hun-lam terasa tegang menanti datangnya malam hari. Semenjak masih sore, rumah-rumah telah menutup pintunya dan para penghuninya tak dapat tidur, berkumpul di dalam dengan hati kebat-kebit. Setiap bunyi gaduh yang terdengar oleh mereka, baik bunyi tikus ataupun kucing, membuat mereka pucat dan menjumbul karena kaget setengah mati.

Gwat Kong dengan tenang lalu mengajak Tin Eng keluar dari rumah dan mereka lalu melompat di atas genteng dan menuju ke pinggirkota sebelah selatan. Setelah tiba di situ, mulailah mereka berpisah untuk melakukan perondaan, menjaga datangnya para penjahat yang hendak mengganggukota .

****

Malam itu tidak terlalu gelap. Lebih dari tiga perempat bagian bulan nampak di angkasa tersenyum-senyum manis dan bermain-main dengan mega-mega putih. Bayangan tubuh Gwat Kong dan Tin Eng yang melakukan penjagaan masing-masing, nampak berkelebat bagaikan bayangan setan malam.

Akan tetapi, sudah dua kali putaran mereka meronda sehingga mereka bertemu di bagian utara kota, akan tetapi sama sekali tidak terlihat penjahat yang menyerbu kota.

“Benar aneh!” kata Gwat Kong kepada Tin Eng ketika mereka bertemu untuk ketiga kalinya di atas wuwungan rumah, sebelah utara. Mereka berdua duduk mengaso di atas wuwungan rumah yang tinggi itu.

“Mungkin mereka tidak berani muncul karena tahu bahwa kita mengadakan penjagaan,’ kata Tin Eng sambil membereskan segumpal rambut yang terlepas karena tiupan angin malam dan berjuntai di atas keningnya.

“Atau memang barangkali sama sekali tidak ada penjahat dari luar kota,” kata Gwat Kong sambil memutar otaknya. “Jangan-jangan penjahat-penjahat sudah bersembunyi di dalam kota dan tinggal bereaksi saja.”

Tiba-tiba Tin Eng berdiri dengan kaget. “Ah, mengapa kita begini bodoh! Kita sudah mencurigai dua saudara Touw, mengapa tidak menyelidik mereka? Kalau mereka pemimpinnya, tentu penjahat-penjahat itu sudah bersembunyi di dalam gedung mereka!”

“Mungkin kau benar Tin Eng!” kata Gwat Kong kaget. “Mari kita menyelidiki tempat mereka!”

Mereka lalu berlari-lari di atas genteng. Pada waktu itu, tengah malam telah lewat lama bahkan telah mendekati fajar dan ketika mereka tiba di tengah kota kembali, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan-teriakan para penjaga. Mereka segera lari ke arah suara teriakan itu, dan tiba-tiba dari lain jurusan terdengar teriakan-teriakan penjaga lain.

“Benar saja mereka itu beraksi selagi kita melakukan penjagaan di pinggir kota. Tin Eng kita berpencar! Kau jagalah rumah pamanmu!”

Tin Eng terkejut ketika teringat kepada pamannya, maka cepat tubuhnya melesat menuju ke rumah pamannya. Sementara itu, Gwat Kong segera menyambar turun, dan melihat betapa empat orang penjaga sedang mengeroyok dua orang penjahat berkedok yang ilmu silatnya cukup tinggi sehingga penjaga-penjaga itu terdesak hebat. Dua orang penjahat itu bersenjata golok besar dan ketika Gwat Kong tiba di situ, seorang penjaga telah rebah mandi darah dan yang empat inipun telah kacau permainan silatnya.

Gwat Kong menyambar dengan pedang ditangan dan sekali dia gerakan pedangnya, “Trangg….!!” Dua golok di tangan penjahat itu terlempar jauh dan dua kaki dan tangan kirinya bergerak, penjahat itu telah roboh dan tak berdaya.Para penjaga dengan girang lalu menubruknya dan mengikat kaki tangan mereka.

Gwat Kong berlari ke arah lain di mana juga terdapat dua orang penjahat yang dikeroyok oleh para penjaga. Dua orang penjahat ini lebih lihai lagi sehingga di tempat ini sudah ada empat orang penjaga yang terluka, sedangkan lima orang lagi yang mengeroyok berada dalam keadaan terdesak sekali.

“Serahkan mereka kepadaku!” teriak Gwat Kong dan para penjaga yang melihat datangnya Kang-lam Ciu-hiap segera melompat mundur. Dua orang penjahat inipun berkedok dan begitu melihat Gwat Kong, mereka lalu maju mengeroyok dengan pedang mereka. Gwat Kong menangkis dengan pedangnya dan ternyata bahwa dua orang penjahat ini cukup gesit sehingga dapat melayani untuk beberapa jurus.

Akan tetapi Gwat Kong tidak mau membuang banyak waktu untuk melayani mereka. Terpaksa ia mainkan pedangnya dengan cepat dan dua gebrakan kemudian menjeritlah dua orang penjahat itu dan pedang mereka terlepas dari tangannya karena lengan mereka terluka oleh pedang Gwat Kong. Para penjaga menubruk dan mengikat mereka erat-erat.

Gwat Kong lalu melakukan penyelidikan dan ternyata bahwa di atap rumah seorang hartawan yang biasanya memberi sumbangan didatangi dua orang atau tiga orang penjahat. Benar-benar para penjahat itu berani dan cerdik sehingga mereka bergerak dengan berbareng pada waktu yang sama sehingga bagi Gwat Kong sukar sekali untuk membagi-bagi tangannya. Terpaksa ia bekerja cepat dan berlari ke sana ke mari untuk membantu para penjaga yang terdesak oleh para penjahat itu.

Para penjahat mendengar bahwa Kang-lam Ciu-hiap mengamuk dan menangkap banyak kawan mereka, maka mereka lalu bersatu dan ketika Gwat Kong sedang dikeroyok oleh tiga orang penjahat di rumah tihu yang juga diganggu, datanglah enam orang penjahat lain dan sebentar saja Gwat Kong dikepung oleh sembilan orang penjahat yang bersenjata pedang dan golok.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: