Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 16

GWAT Kong tidak menjadi jerih, bahkan dengan tertawa bergelak ia lalu keluarkan seguci arak dari jubahnya. Dengan tangan kiri ia menenggak araknya yang dibawanya dari rumah Lie-wangwe, sedangkan tangan kanannya yang memegang pedang diputar sedemikian rupa sehingga senjata para pengeroyoknya tidak ada yang dapat menembus sinar pedangnya itu. Kemudian, ia menyimpan kembali guci araknya di dalam saku jubahnya dan para penjaga yang melihat ini diam-diam merasa heran sekali. Mengapa pemuda itu demikian doyan arak sehingga dalam keadaan pertempuran hebat dan dikeroyok sembilan orang ia ada kesempatan untuk minum arak?

“Benar-benar setan arak!” kata seorang penjaga.

“Kalau tidak doyan arak, masa disebut Ciu-hiap (Pendekar Arak)?”

Akan tetapi, mereka itu kecele bahwa Gwat Kong itu demikian gila arak sehingga dalam pertempuran sempat menikmati rasa arak yang wangi. Karena setelah menyimpan kembali guci araknya, tiba-tiba tubuhnya melesat maju dan pedangnya diputar sedemikian rupa sehingga terdengar dua kali teriakan dan tubuh dua orang pengeroyok jatuh tersungkur.

Kemudian tiba-tiba pemuda itu membentak keras dan dari mulutnya tersemburlah arak yang diminumnya tadi dan para penjaga kini bengong dan memandang dengan mata terbelalak karena terdengar pekik kesakitan danlima orang di antara tujuh pengeroyok itu segera melemparkan pedangnya atau goloknya dan menggunakan tangan untuk menutupi muka mereka sambil merintih-rintih kesakitan. Ternyata bahwa semburan arak itu bagaikan jarum-jarum tajam menusuk-nusuk muka mereka, bahkan yang tidak keburu memeramkan mata ada yang rusak matanya bagaikan ditusuk jarum.

Dua orang penjahat ketika melihat hal ini hendak lari, akan tetapi begitu Gwat Kong melompat dan pedangnya digerakkan, dua orang inipun roboh terguling dengan pundak mereka terluka hebat.

Tentu saja para penjaga menjadi girang luar biasa melihat hal ini. Mereka berebutan maju untuk memasang belenggu pada tangan para penjahat itu. Tiada henti-hentinya mereka memuji-muji Gwat Kong. Akan tetapi yang dipuji sudah semenjak tadi pergi dari tempat itu dan cepat berlari menuju ke rumah Lie-wangwe untuk menyusul Tin Eng.

Juga Tin Eng menghadapi lawan-lawan, bahkan lawannya lebih berat dari pada yang dihadapi oleh Gwat Kong ketika gadis itu tiba di atas genteng rumah Lie-wangwe. Ternyata ia melihatlima orang penjahat sedang mengamuk dan biarpun di rumah pamannya itu terjaga oleh para penjaga yang sepuluh orang banyaknya, akan tetapi mereka tak berdaya apa-apa dan enam orang penjaga sudah rebah sambil merintih-rintih.

Limaorang inipun mengenakan kedok pada mukanya. Akan tetapi Tin Eng mengenal potongan badan dua orang di antara mereka yang terlihai, yang ia tahu adalah Touw Cit dan Touw Tek. Segera ia menyambar turun dengan pedang di tangan sambil membentak,

“Touw Cit dan Touw Tek, dua bangsat rendah! Tak perlu kalian memakai ledok, karena kalian tak dapat menipu nonamu!”

Touw Cit tertawa mendengar ini dan melemparkan kedoknya yang menutupi mukanya sehingga sisa penjaga yang melihat ini menjadi terheran-heran!

“Mundurlah biar aku menghadapi tikus-tikus ini!” seru Tin Eng kepada mereka. Para penjaga tentu saja menjadi girang karena mereka telah mendengar akan kelihaian nona ini, maka mereka menolong kawan-kawan yang terluka itu.

Sementara itu, Touw Tek yang juga sudah melemparkan kedoknya, segera maju menyerang dengan goloknya. Penjahat tinggi besar ini masih teringat akan sakit hatinya siang tadi ketika ia dipermainkan oleh Tin Eng, maka kini ia hendak menggunakan kesempatan dan mengandalkan kakak dan kawan-kawannya untuk membalas dendam.

Akan tetapi Tin Eng tertawa mengejek sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya. “Kau masih belum kapok?” Dan ketika ia membarengi tangkisan pedangnya itu dengan serangan mendadak, Touw Tek terkejut sekali dan cepat melempar tubuhnya ke belakang karena tahu-tahu ujung pedang nona itu telah berada di depan hidungnya.

Akan tetapi, betapapun cepat ia melempar diri ke belakang, ujung pedang itu agaknya tidak mau meninggalkan lehernya. Untung baginya bahwa Touw Cit segera bergerak dan menusuk lambung Tin Eng dari kanan. Nona itu terpaksa membatalkan serangannya kepada Touw Tek dan menangkis tusukan Touw Cit.

Akan tetapi diam-diam ia merasa terkejut ketika merasa betapa benturan pedang itu membuat tangannya tergetar. Maklumlah ia bahwa Touw Cit bukanlah seperti adiknya, Touw Tek. Kepala gerombolan ini agaknya memiliki tenaga lweekang yang tinggi dan melihat gerakan pedangnya, ia merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan.

Maka Tin Eng tidak mau membuang banyak waktu lagi karena ia maklum bahwa kini ia menghadapi Touw Cit yang lihai ditambah dengan empat orang lagi. Dengan seruan garang, ia lalu putar-putar pedangnya dan mainkan Sin-eng Kiam-hoat yang telah disempurnakan atas petunjuk-petunjuk dari Gwat Kong.

Ilmu pedang ini memang lihai sekali dan baru beberapa gebrakan saja, kembali Touw Tek telah terkena ujung pedang Tin Eng yang melukai pangkal lengan kanannya. Tiga orang kawannya yang berkepandaian hanya setingkat dengan Touw Tek, menjadi jerih.

Pada saat itu, dari luar mendatangi serombongan penjaga lagi yang berjumlah enam orang. Mereka itu lalu menggabung dengan sisa penjaga dan mengeroyok Touw Tek dan tiga orang penjahat itu, karena tadi pun yang membuat para penjaga kewalahan hanyalah Touw Cit seorang yang amat lihai. Dengan berteriak-teriak para penjaga mengeroyok Touw Tek yang telah terluka dan sebentar saja Touw Tek yang kenyang mendapat gebukan dari para penjaga, kena ditangkap erat-erat bagaikan seekor babi mau disembeli!

Tiga orang kawannya melihat hal ini, menjadi kacau permainannya dan mereka lalu mencoba untuk melarikan diri. Dua orang kena dikepung dan dihantam oleh para pengeroyoknya sehingga tertangkap pula, sedangkan yang seorang lagi telah berhasil melompat naik ke atas genteng. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar seruan Tin Eng,

“Turun kau!” Tangan kiri gadis yang masih bertempur hebat dengan Touw Cit ini diayun dan sebatang piauw meluncur ke arah kaki penjahat yang mencoba untuk melarikan diri. Terdengar teriakan ngeri dan tubuh penjahat itu menggelinding kembali ke bawah genteng disambut oleh para penjaga dengan teriakan dan gebukan-gebukan.

Kini Tin Eng hanya menghadapi Touw Cit seorang lawan seorang. Ketika Touw Cit mainkan pedangnya, diam-diam Tin Eng terkejut sekali. Ternyata bahwa penjahat ini mainkan ilmu pedang Go-bi-pai. Ilmu pedang penjahat ini sama benar dengan ilmu pedang ayahnya dan yang telah ia pelajari pula.

“Kau anak murid Go-bi-pai!” tak terasa lagi mulut dara itu berseru kaget sambil menangkis serangan lawannya dengan pedang.

Touw Cit terkejut dan memandang tajam sambil menunda serangan.

“Siapakah kau?”

“Akupun anak murid Go-bi-pai!” jawab Tin Eng. “Kau sungguh memalukan dan mencemarkan nama baik Go-bi-pai. Tak ingatkah kau akan sumpahmu ketika kau mulai belajar silat?”

“Bohong!” seru Touw Cit. “Permainan pedangmu sama sekali bukan ilmu pedang Go-bi-pai!”

“Aku bukan membohong seperti kau! Buka matamu lebar-lebar!” Setelah berkata demikian, Tin Eng lalu merobah permainan pedangnya dan kini ia menyerang lawannya itu dengan ilmu pedang Go-bi-pai yang ia pelajari dari ayahnya. Touw Cit segera menangkis dan untuk beberapa belas jurus lamanya mereka bertempur dalam ilmu pedang yang sama.

“Betul, betul kau, pandai mainkan ilmu pedang Go-bi-pai!” seru Touw Cit girang. “Mengapa kau memusuhi saudara seperguruan sendiri?”

“Cih, siapa sudi kau sebut saudara seperguruan?” bentak Tin Eng. “Orang yang melakukan kesesatan dan kejahatan macam kau tak berhak menyebut dirimu sebagai anak murid Go-bi-pai lagi!”

Kembali Tin Eng menyerang sambil mempergunakan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat oleh karena ternyata bahwa ilmu pedang Go-bi-pai yang ia miliki masih kalah tinggi apabila dibandingkan dengan Touw Cit. Penjahat itu menjadi marah sekali dan mengerahkan seluruh kepandaian untuk melayani gadis yang lihai itu. Pertempuran berjalan makin seru dan hebat sehingga pedang mereka berkelebat dan sinarnya bergulung-gulung.

Para penjaga yang kini telah membereskan semua penjahat yang menjadi korban, hanya menonton saja karena mereka maklum bahwa kepandaian mereka masih jauh untuk dapat membantu gadis pendekar itu. Mereka hanya berteriak-teriak menambah semangat Tin Eng.

Pada saat itu terdengar seruan, “Jangan lepaskan penjahat itu!” Dan dari atas wuwungan nampak bayangan Gwat Kong mendatangi.

Melihat ini Touw Cit menjadi gentar juga dan segera mengirim tusukan kilat ke arah dada Tin Eng yang mengelak cepat. Touw Cit menggerakkan tangan kiri dan dua butir peluru besi sebesar telor ayam menyambar ke arah leher dan lambung Tin Eng. Gadis ini cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dengan terkejut karena hampir saja ia menjadi korban serangan senjata gelap lawan.

Kesempatan ini digunakan oleh Touw Cit untuk melompat jauh dan melarikan diri di dalam gelap.

“Bangsat rendah hendak pergi ke mana!” teriak Tin Eng yang segera mengejar.

“Bagus, kejar dia Tin Eng!” Gwat Kong juga berseru dan menyusul pula untuk mengejar penjahat yang lari itu. Para penjaga juga berteriak-teriak dan berlari-lari mengejar dari belakang. “Kejar …..! Tangkap Touw Cit si bangsat besar ….!!”

Akan tetapi oleh karena penjahat itu menggunakan lari cepat, demikian pula Tin Eng dan Gwat Kong, sebentar saja para penjaga itu tertinggal jauh dan menjadi bingung karena tidak melihat tiga orang itu sehingga mereka tidak tahu harus mengejar ke jurusan mana?

Ternyata bahwa ilmu lari cepat dari Touw Cit sudah cukup tinggi, sehingga untuk beberapa lama Tin Eng dan Gwat Kong belum berhasil menyusulnya. Akan tetapi, jarak antara mereka dan Touw Cit makin mengecil juga sehingga penjahat itu menjadi bingung dan terus berlari ke luar dari kota dan bermaksud untuk bersembunyi ke dalam hutan yang berada di luar kota.

Sementara itu, fajar telah mulai menyingsing dan karena pagi itu tidak ada halimun, maka sebentar saja keadaan menjadi terang. Hal ini amat menggelisahkan hati Touw Cit yang melarikan diri, oleh karena ia lari memasuki hutan, kedua orang pengejarnya terus mengejar dan tak mau melepaskannya dan keadaan yang mulai terang itu tidak memungkinkan ia untuk menyembunyikan diri.

“Touw Cit, tidak ada gunanya kau melarikan diri, biarpun akan masuk ke dalam tanah, kau takkan terlepas dari tangan kami!” seru Gwat Kong sambil tertawa.

Karena kedua pengejarnya kini telah dekat sekali di belakangnya, ketika tiba di tempat terbuka, tiba-tiba Touw Cit menahan langkah kakinya dan dengan pedang di tangannya menanti datangnya para pengejar untuk berkelahi mati-matian!

“Keparat!” ia memaki sambil menudingkan pedangnya kepada Tin Eng. “Sebagai anak murid Go-bi-pai, kau benar-benar tidak memandang perguruan kita! Sebenarnya kau ini murid siapakah?”

Tin Eng dengan pedang ditangan berdiri menghadapi Touw Cit sambil tersenyum. “Ayahku adalah murid Go-bi-pai. Akan tetapi, aku sendiri bukan langsung menjadi anak murid Go-bi-pai. Aku lebih senang mempergunakan ilmu pedang lain! Ayahku adalah Liok Ong Gun Kepala daerah Kiang-sui, seorang anak murid Go-bi-pai tulen dan sama sekali tidak dapat disamakan dengan kau penjahat kejam yang hanya mengotorkan nama Go-bi-pai!”

Merahlah muka Touw Cit mendengar ini. “Aku pernah mendengar nama ayahmu yang tingkatnya sama dengan aku. Kalau kau seorang gadis yang mengerti peraturan, kau seharusnya menyebut aku susiok (paman guru).”

Tin Eng tersenyum mengejek. “Aku harus menyebut paman guru kepada seorang perampok, penipu dan pemeras rakyat? Hm, nanti dulu, kawan! Pada saat ini, aku adalah seorang petugas yang membawa dendam penduduk Hun-lam yang telah lama kau ganggu. Kalau kau hendak menganggap aku sebagai anak murid Go-bi-pai, baiklah, aku mewakili Go-bi-pai pula untuk membersihkan nama Go-bi-pai dari anak muridnya yang tersesat dan yang patut menerima hukuman berat!”

“Boca sombong!” Touw Cit menjadi marah sekali lalu menyerang dengan pedangnya. Tin Eng menangkis sambil tersenyum manis dan sebentar kemudian mereka telah bertempur kembali dengan hebatnya. Gwat Kong hanya berdiri tak jauh dari situ dengan kedua tangan bertolak pinggang dan bibir tersenyum. Ia hendak menyaksikan kemajuan ilmu pedang Tin Eng.

Pertempuran kali ini benar-benar hebat dan jauh lebih sengit dari pada tadi oleh karena Touw Cit yang telah menghadapi jalan buntu dan tidak mempunyai harapan untuk melarikan diri dan melepaskan diri dari kedua orang muda yang lihai ini, telah mengambil keputusan untuk berlaku nekad dan bertempur mati-matian. Sepasang matanya memandang marah, seakan-akan mengeluarkan sinar berapi, mengandung nafsu membunuh. Ia lebih mengerahkan kepandaian dan tenaganya untuk menyerang dari pada mempertahankan diri, dalam usahanya untuk membunuh atau dibunuh.

Menghadapi serangan-serangan nekad ini, Tin Eng berlaku tenang dan hati-hati sekali dan biarpun mulutnya masih memperlihatkan senyum manis, akan tetapi ia mencurahkan seluruh perhatiannya karena maklum bahwa lawannya telah nekad untuk mengadu jiwa. Dara ini mempergunakan ilmu ginkangnya yang lebih tinggi dari pada Touw Cit yang bertubuh besar pula. Tubuh Tin Eng nampak ringan sekali dan gerakan kedua kakinya demikian cepat dan gesit sehingga ia seakan-akan bertempur sambil menyambar-nyambar tanpa menginjak tanah. Bagaikan seekor burung walet bermain di antara mega.

Pertempuran berjalan dengan ramainya sampai lima puluh jurus dan diam-diam Gwat Kong merasa girang melihat kemajuan ilmu pedang gadis itu karena ia maklum pula bahwa gadis itu sengaja mempermainkan lawannya. Kalau Tin Eng mau, memang sudah semenjak tadi ia dapat merobohkan lawannya yang dalam kenekatannya telah membuka banyak lowongan pada dirinya sendiri.

Akan tetapi Tin Eng masih tidak tega untuk memberi tusukan yang dapat membinasakan lawannya atau mendatangkan luka berat. Karena betapapun juga ia masih ingat bahwa lawannya ini adalah anak murid Go-bi-pai atau masih saudara seperguruan ayahnya.

Pertahanan Touw Cit makin lemah karena ia telah menggunakan tenaga terlalu banyak dan terlalu dipaksakan, menuruti hatinya yang penuh dendam dan marah. Juga kegelisahannya membuat permainan pedangnya kacau balau. Dan tak lama kemudian, ia mulai terdesak dan berkelahi sambil mundur!

Tiba-tiba Tin Eng berseru keras dan tubuhnya melompat ke atas dan mengirim serangan dengan gerak tipu Air Mancur Menyiram Bunga. Pedangnya di tangan kanan ditusukkan ke arah dada lawan sedangkan tangan kirinya dipentang ke belakang, kedua kakinya membuat imbangan untuk menahan turun tubuhnya dari atas.

Serangannya cepat sekali sehingga dengan terkejut Touw Cit lalu melangkah mundur dan menggerakkan pedangnya untuk menangkis dengan sabetan dari atas ke bawah dengan maksud menghantam pedang gadis itu agar terlepas. Akan tetapi secepat kilat, pedang Tin Eng ditarik mundur dan setelah pedang Touw Cit lewat ke bawah, ia lalu menindih pedang lawan itu. Dengan pedangnya di atas pedang Touw Cit yang tak berdaya itu, maka kini dada Touw Cit terbuka dan bagi Tin Eng dengan mudah saja kalau ia hendak merobohkan lawannya. Sekali ia menusukkan pedangnya akan tertembus dada lawan.

Akan tetapi Tin Eng tidak mau melakukan hal ini, hanya menggerakkan pedang ke atas, ke arah tangan Touw Cit yang memegang pedang. Penjahat itu menjerit kesakitan dan pedangnya terlepas karena tangannya telah termakan oleh pedang Tin Eng sehingga ibu jarinya hampir putus. Tin Eng menarik kembali pedangnya pada saat itu digunakan oleh Touw Cit untuk melompat mundur dalam usahanya melarikan diri.

Akan tetapi, nampak berkelebat bayangan yang cepat sekali dan sebuah tendangan pada lututnya membuat Touw Cit terjungkal tak dapat bangun kembali. Ternyata bahwa sambungan lutut kanannya telah terlepas akibat tendangan yang dikirim oleh kaki Gwat Kong.

Pada saat itu, para penjaga yang mengejar baru dapat menemukan mereka dan dengan girang mereka lalu menubruk dan mengikat kaki tangan Touw Cit, lalu diseretnya kembali kekota . Dengan jatuhnya Touw Cit, maka boleh dibilang semua penjahat yang melakukan pengacauan itu, yang semua berjumlah empat belas orang telah diringkus.

KotaHun-lam merayakan peristiwa itu dengan gembira sekali. Touw Cit dengan kawan-kawannya dimasukkan ke dalam penjara dan mendapat hukuman berat atas dosa-dosanya. Para penjahat di luar kota yang mendengar hal ini, menjadi ketakutan dan nama Kang-lam Ciu-hiap makin terkenal. Sementara itu penduduk Hun-lam juga memberi nama pujian bagi Tin Eng, yakni Sian-kiam Lihiap atau Pendekar Wanita Pedang Dewa.

****

Setelah tinggal di gedung Lie Kun Cwan sepekan lamanya, Gwat Kong lalu meninggalkan kota Hun-lam. Atas permintaan Tin Eng, Gwat Kong hendak berusaha mendamaikan permusuhan yang timbul antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai.

“Betapapun juga aku merasa bersedih kalau mengingat keadaan permusuhan itu, karena ayah adalah anak murid Go-bi-pai dan tidak suka kalau ayah sampai terlibat dalam permusuhan ini. Harap kau suka memberitahukan kepada setiap orang gagah dari Hoa-san-pai bahwa tidak semua anak murid Go-bi-pai jahat-jahat belaka. Juga kalau kau bertemu dengan tokoh-tokoh Go-bi-pai harap beritahukan bahwa tidak semua anak murid Go-bi-pai baik dan benar. Buktinya Touw Cit itu juga telah mengotorkan nama Go-bi-pai dan melakukan perbuatan yang jahat,” kata Tin Eng kepadanya.

Sebetulnya Gwat Kong merasa berat untuk berpisah dari Tin Eng, gadis yang diam-diam dicintainya semenjak ia masih menjadi pelayan di gedung orang tua gadis itu. Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa terus-terusan tinggal di rumah paman gadis itu. Lagi pula juga tidak enak bagi Tin Eng untuk ikut pergi merantau dengan dia. Karena sebagai gadis sopan, tidak selayaknya melakukan perantauan dengan seorang pemuda yang bukan menjadi keluarganya.

Ia hanya berpesan agar supaya gadis itu suka berlatih dengan giat. Karena biarpun telah mendapat petunjuk-petunjuk darinya, namun gadis ini belum lama mempelajari Sin-eng Kiam-hoat yang tulen sehingga gerakannya masih agak kaku.

Gwat Kong pergi dengan diantar oleh Lie-wangwe sampai di luarkota . Hartawan ini merasa suka dan kagum sekali kepada Gwat Kong yang masih muda akan tetapi memiliki kepandaian tinggi. Ia bahkan memberi hadiah sebuah guci arak terbuat dari pada perak terukir yang amat indah kepada pemuda itu, berikut isinya yakni arak Hang-ciu yang bukan main keras dan wanginya dan telah berusia tua sekali.

Gwat Kong menyimpan guci ini dengan menggantungkannya pada pinggangnya dan berangkatlah dia, mulai dengan perantauannya. Ia cinta kepada Tin Eng, akan tetapi tidak berani ia menyatakan cintanya itu. Sungguhpun dulu pernah ia menyatakan di luar kesadarannya, yakni ketika ia mabuk di rumah gadis itu sebelum ia meninggalkan gedung Liok-taijin.

Ia tidak berani menyatakan cintanya kepada seorang gadis puteri Kepala daerah, bangsawan tinggi dan keponakan dari seorang yang demikian kaya seperti Lie-wangwe. Ia seorang pemuda yatim piatu yang miskin, maka Gwat Kong merasa lebih baik ia menjauhkan diri dari Tin Eng dan berusaha melupakannya sebelum terlambat, yakni sebelum ikatan hatinya makin erat.

Sementara itu, Tin Eng yang ditinggal pergi oleh Gwat Kong, lalu berlatih diri dengan giatnya. Ia senang tinggal di rumah pamannya yang amat baik terhadap dia dan Lie Kun Cwan juga merasa terhibur dengan adanya gadis itu yang seakan-akan ia anggap sebagai anak sendiri.

Kejenakaan dan kegembiraan watak gadis itu seolah-olah merupakan matahari yang menyinari kesuraman suasana dalam gedungnya yang kosong setelah isterinya yang tercinta meninggal dunia. Lie-wangwe telah mengirim surat kepada Liok-taijin suami isteri menceritakan bahwa Tin Eng berada di rumahnya dan membujuk agar supaya suami isteri itu tidak terlalu memaksa kepada Tin Eng yang disebutnya masih berwatak anak-anak.

Baik Gwat Kong maupun Tin Eng sama sekali tidak tahu bahwa dua orang bersaudara Touw Cit dan Touw Tek adalah anggauta-anggauta dari perkumpulan Hek-i-pang, yakni perkumpulan baju hitam yang berpusat di Tong-kwan, sebelah selatan Hun-lam. Ketika menjalankan pemerasan pada para hartawan di Hun-lam, Touw Cit dan Touw Tek juga dapat perlindungan dari perkumpulan gelap ini dan kedua saudara itu setiap bulan memberi bagian kepada perkumpulan itu.

Yang menjadi Pangcu atau ketua Hek-i-pang adalah seorang tua bernama Song Bu Cu, berusia lima puluh tahun dan terkenal sebagai seorang ahli silat yang memiliki lweekang tinggi. Song Bu Cu ini adalah bekas perampok tunggal yang telah ‘mengundurkan diri’ dan untuk melewati hari tuanya ia membentuk perkumpulan baju hitam itu di mana ia menjadi ketuanya dan hidup dari hasil ‘pensiun’ yang diterimanya dari para anak buahnya.

Perkumpulan ini mempunyai banyak anggauta dan Song Bu Cu yang cerdik itu tidak mau menggunakan tenaga para anak buahnya untuk melakukan kejahatan secara terang-terangan dan kasar seperti merampok, mencuri dan lain-lain. Ia lebih mengutamakan pekerjaan yang aman baginya, yakni pekerjaan pemerasan yang tidak terlalu menyolok mata.

Dengan pengaruhnya yang besar, ia menyebar anak buahnya untuk minta ‘sumbangan’ dari para hartawan dengan cara halus, yakni dengan berkedok menjaga keamanan sebagaimana yang telah dijalankan dengan baiknya oleh Touw Cit dan Touw Tek dikota Hun-lam. Selain ini juga setelah mendapat banyak uang, Song Bu Cu lalu menggunakan uang itu sebagai modal dan membuka rumah-rumah gadai dengan bunga tinggi.

Bahkan di kota Tong-kwan ia memonopoli rumah-rumah makan, sehingga sebagian besar rumah makan yang berada di kota Tong-kwan adalah milik perkumpulan Hek-i-pang, kecuali rumah-rumah makan yang kecil dan bukan merupakan saingan besar. Orang-orang tidak berani membuka rumah makan besar di kota itu karena mereka sungkan dan segan untuk membukanya dan menghadapi perkumpulan gelap itu sebagai musuh.

Semua anggauta Hek-i-pang selalu mengenakan jubah hitam, sungguhpun celana mereka boleh sesukanya. Ada yang putih, hijau dan menurut kesukaan masing-masing, akan tetapi jubahnya selalu hitam. Inilah tanda pengenal anggauta perkumpulan Hek-i-pang. Oleh karena itu pula, maka Touw Cit dan Touw Tek selalu memakai jubah hitam.

Ketika Song Bu Cu mendengar tentang para anak buahnya yang diobrak-abrik oleh Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap di Hun-lam, ia menjadi marah sekali. Ia mengumpulkan semua pembantunya untuk merundingkan hal ini. Kemudian memutuskan untuk mendatangi tihu dari Hun-lam dan minta agar supaya para penjahat yang ditangkap itu dibebaskan kembali.

Song Bu Cu sendiri hendak turun tangan dan membalas dendam kepada Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap. Akan tetapi seorang pembantunya yang cukup pandai dan lihai, yakni seorang yang bernama Lui Siok berjuluk si Ular Belang, segera berkata,

“Untuk apa pangcu harus maju sendiri? Menangkap dan memukul anjing-anjing kecil seperti dua anak-anak muda itu tak perlu mempergunakan pentungan besar. Biarlah aku saja ke Hun-lam untuk membereskan urusan ini!”

Semua orang merasa girang mendengar ini karena mereka telah maklum akan kelihaian Lui Siok ini yang juga menjadi wakil ketua dari Hek-i-pang. Kepandaian Lui Siok hampir seimbang dengan kepandaian Song Bu Cu, bahkan si Ular Belang ini terkenal sekali dengan kepandaiannya Siauw-kin-na Chiu-hwat, yakni ilmu silat yang berdasarkan tangkapan dan cengkeraman tangan seperti ilmu Jujitsu dari Jepang.

Oleh karena memiliki kepandaian ini, maka Lui Siok jarang sekali mempergunakan senjata di waktu menghadapi lawan. Sekali saja lawannya terkena pegang oleh tangannya maka lawan itu takkan mudah dapat melepaskan diri tanpa mendapat luka patah tulang atau urat keseleo.

“Kalau Lui-te (adik Lui) mau mewakili aku pergi, itu adalah yang baik sekali. Aku percaya penuh bahwa kalau Lui-te yang pergi turun tangan, hal ini akan beres dan sakit hati kiranya akan terbalas!” kata Song Bu Cu dengan girang. Dibandingkan dengan Song Bu Cu, Lui Siok ini lebih muda dua tahun karena usianya baru empat puluh delapan. Akan tetapi melihat rambut di kepalanya, ia nampak lebih tua karena rambutnya telah putih semua.

Demikianlah, beberapa hari kemudian, Lui Siok dengan diantar oleh dua orang kawannya datang kekota Hun-lam. Ia langsung menuju ke rumah tihu dan berkata kepada penjaga bahwa ia datang dari Tong-kwan hendak bertemu dengan tihu karena urusan yang amat penting. Penjaga lalu melaporkan dan tihu kota Hun-lam segera keluar dan menanti di ruang tamu. Ketika tiga orang tamunya itu memasuki ruang tamu, ia melihat bahwa mereka adalah orang-orang tak dikenal, akan tetapi baju mereka yang hitam itu menimbulkan perasaan kurang enak di dalam hatinya mengingatkan tihu itu kepada Touw Cit dan Touw Tek yang juga selalu berpakaian hitam.

“Taijin, kami datang dari Tong-kwan untuk menyampaikan surat ini dari perkumpulan kami!” kata Lui Siok setelah dipersilahkan duduk.

Dengan heran dan tanpa banyak curiga tihu menerima surat itu dan membukanya. Akan tetapi, setelah ia membaca surat itu wajahnya menjadi pucat dan ia mengerling ke arah Lui Siok. Makin pucatlah dia ketika melihat betapa Lui Siok tersenyum-senyum penuh arti. Akan tetapi ketika tihu melihat ke arah kedua tangan Lui Siok yang memegang pinggir meja, ternyata meja itu telah remuk pinggirnya karena dicengkeram oleh sepuluh jari tangan tamunya yang aneh itu. Seakan-akan orang mencengkeram keripik saja. Kedua tangan pembesar itu mulai menggigil dan ia membaca sekali lagi surat yang dipegangnya:

Thio-tihu dari Hun-lam,

Kami mengutus seorang wakil perkumpulan kami bersama dua orang anak buah kami, untuk menyampaikan hormat kami kepada taijin. Tentu taijin telah mendengar tentang nama perkumpulan kami yang merupakan jaminan bagi keamanan daerah Tong-kwan, termasuk Hun-lam.

Oleh karena mengingat akan perhubungan ini, kami minta dengan sangat kepada taijin agar supaya berlaku bijaksana dan suka membebaskan kedua anggauta perkumpulan kami Touw Cit dan Touw Tek yang telah ditahan oleh Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Li-hiap! Juga kawan-kawan mereka harap diberi kelonggaran.

Terima kasih atas kebijaksanaan taijin.

Hormat kami,

Ketua dari Hek-i-pang

Di Tong-kwan.

Thio-tihu memang pernah mendengar tentang perkumpulan ini, akan tetapi ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa Touw Cit dan Touw Tek adalah anggauta perkumpulan yang berpengaruh itu. Baru satu kali saja ia berurusan dengan perkumpulan itu, yakni pada tahun yang lalu ketika hari tahun baru, di Hun-lam kedatangan serombongan pemain Barongsai yang minta derma tanpa memberitahukan kepada rombongan Barongsai pribumi, yakni rombongan dari Hun-lam sendiri. Maka terjadilah pertengkaran yang diakhiri dengan perkelahian.

Akan tetapi ternyata bahwa rombongan Barongsai Baju Hitam ini lihai sekali sehingga rombongan dari Hun-lam banyak yang menderita luka-luka. Para penjaga tak berdaya terhadap mereka, sedangkan Touw Cit dan Touw Tek yang diminta bantuannya, hanya menyatakan bahwa lebih baik rombongan dari Tong-kwan itu jangan diganggu. Maka rombongan itu melanjutkan permainannya di depan tiap rumah dan pada para hartawan di Hun-lam mereka minta jumlah sumbangan yang telah ditetapkan.

Kini setelah menerima surat ini dan melihat demonstrasi kelihaian yang diperlihatkan oleh Lui Siok dengan mencengkeram hancur ujung mejanya yang tebal dan keras itu, tentu saja Thio-tihu menjadi terkejut, gelisah dan ketakutan. Dengan lemas ia duduk kembali di kursinya dan berkata dengan suara gemetar,

“Harap saja Samwi-enghiong (bertiga orang gagah) jangan marah karena sesungguhnya urusan ini tak dapat dilakukan dengan mudah begitu saja. Bagaimana aku bisa membebaskan orang-orang yang telah menjadi tahanan karena dianggap penjahat-penjahat?”

“Taijin,” berkata Lui Siok yang masih tersenyum ramah, akan tetapi matanya bersinar tajam mengerikan. “Kami orang-orang dari Hek-i-pang selalu berlaku sabar, mengalah dan memandang persahabatan. Kalau kami mau, apakah sukarnya mendatangi tempat tahanan itu dan mengeluarkan kawan-kawan kami? Akan tetapi kami tidak mau melakukan kekerasan itu dan sengaja minta kebijaksanaan taijin karena bukankah taijin yang berkuasa dan berhak membebaskan mereka? Lebih baik taijin segera menulis sepucuk surat pembebasan agar dapat kami bawa ke tempat tahanan untuk membebaskan kawan-kawan kami itu!”

Thio-tihu menjadi bingung. Menolak ia tidak berani karena maklum bahwa ketiga orang ini bukanlah orang baik-baik dan tentu akan mencelakakannya apabila ia menolak, akan tetapi untuk mentaati permintaan itu, juga sukar baginya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: