Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 17

“SAM-wi, memang benar aku yang berkuasa, akan tetapi harus kalian ketahui bahwa yang menangkap mereka bukanlah aku! Semenjak dahulu hubunganku dengan saudara Touw baik sekali, sampai datang Kang-lam Ciu-hiap dan memaksaku memberi hukuman kepada mereka. Kalau sekarang aku melepaskan mereka, bukankah aku melakukan kesalahan besar terhadap kedua pendekar muda itu? Harus diketahui bahwa mereka itu lihai sekali dan apa dayaku terhadap mereka?”

Tiba-tiba Lui Siok si Ular Belang tertawa terbahak-bahak. “Anjing-anjing kecil itu untuk apakah ditakuti sekali? Mereka hanya pandai menyalak dan tak mampu menggigit! Tentang mereka, serahkanlah kepadaku, taijin. Setelah membebaskan Touw Cit dan Touw Tek, aku akan langsung mencari mereka di gedung Lie-wangwe.”

Lega juga Thio-tihu mendengar ini, karena memang maksudnya hendak mengadu orang-orang ini dengan kedua pendekar muda ini yang tentu takkan tinggal diam. Hanya sayangnya ia telah mendengar bahwa Kang-lam Ciu-hiap meninggalkan Hun-lam kemarin sehingga kini hanya tinggal Sian-kiam Lihiap seorang.

Terpaksa ia membuat sepucuk surat pembebasan bagi Touw Cit dan Touw Tek dan menyerahkan kepada Lui Siok. Si Ular Belang tertawa bergelak dan sekali lagi tangan kanannya digerakkan menghantam meja di depannya yang segera menjadi pecah bagaikan kena hantaman kampak.

“Taijin, kalau lain kali terjadi penangkapan atas diri anggauta-anggauta perkumpulan kami, bukan meja ini yang kupecahkan, akan tetapi kepala orang-orang yang bertanggung jawab dalam urusan penangkapan itu!”

Setelah berkata demikian, dengan senyum dimulut, Lui Siok mengajak kedua anak buahnya pergi meninggalkan Thio-tihu yang masih berdiri menggigil sambil memandang kepada meja yang telah rusak terpukul itu.

Dengansurat perintah dari Thio-tihu, maka mudah saja Lui Siok dan dua orang anak buahnya membebaskan Touw Cit dan Touw Tek. Kedua saudara ini segera memberi hormat dan menghaturkan terima kasih banyak kepada Lui Siok yang menjawab sambil tertawa,

“Sudahlah, pengalaman ini kalian jadikan contoh agar lain kali tidak bertindak semberono dan lebih dulu memberitahukan kepada kami apabila menghadapi urusan besar! Sekarang ceritakanlah bagaimana kalian sampai kalah terhadap Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap.”

Touw Cit menceritakan pengalamannya dan ketika ia menceritakan bahwa Sian-kiam Lihiap adalah seorang anak murid Go-bi-pai pula dan bahkan anak perempuan Liok Ong Gun Kepala daerah Kiang-sui, Lui Siok membuka matanya lebar-lebar dan berseru, “Ah, kalau begitu kita telah menghadapi orang sendiri!”

Touw Cit dan kawan-kawannya heran mendengar ini, akan tetapi Lui Siok tidak mau banyak bicara, hanya berkata, “Kalian lebih baik segera kembali dulu ke Tong-kwan. Biarlah aku sendiri yang membereskan segala urusan di sini. Tidak baik kalau kalian berada terlalu lama di sini.”

Touw Cit, Touw Tek dan dua orang anak buah Hek-i-pang itu tidak berani membantah dan mereka pergi menuju ke Tong-kwan. Adapun Lui Siok lalu pergi mencari Sian-kiam Lihiap Liok Tin Eng.

Siapakah sebenarnya Lui Siok ini dan mengapa ia menganggap Tin Eng sebagai orang sendiri? Si Ular Belang yang lihai ini sebenarnya bukan lain ialah murid kepala dari Bong Bi Sianjin tokoh Kim-san-pai itu! Dengan demikian maka Lui Siok ini masih terhitung kakak seperguruan dari Gan Bu Gi, pemuda yang hendak dijodohkan dengan Tin Eng dan yang sekarang menjadi perwira di gedung ayah Tin Eng itu! Lui Siok telah mendengar tentang keberuntungan Gan Bu Gi yang menjadi perwira itu, karena suhunya telah menceritakannya, maka ia tahu bahwa sutenya itu hendak dipungut menantu oleh Liok-taijin.

Ia telah mengetahui bahwa Liok-taijin adalah seorang anak murid Go-bi-pai yang pandai dan mendengar pula bahwa ilmu silat gadis yang hendak dijodohkan dengan sutenya itu bahkan lebih tinggi lagi. Maka tentu saja ia terkejut sekali mendengar bahwa yang memusuhi Touw Cit dan Touw Tek adalah Liok Tin Eng atau calon isteri dari Gan Bu Gi sutenya.

Pada saat itu, Tin Eng sedang berada di kebun belakang yang dikelilingi tembok tinggi dan gadis ini sedang berlatih silat seorang diri untuk menyempurnakan ilmu silat tangan kosong Sin-eng Kun-hoat yang ia pelajari dari Gwat Kong. Berbeda dengan Sin-eng Kiam-hoat yang pernah ia pelajari dari kitab salinan, untuk ilmu silat tangan kosong yang belum pernah ia pelajari sama sekali ini, ia mendapatkan berbagai kesulitan.

Baiknya ia telah ingat di luar kepala tentang teori-teorinya sehingga ia dapat melatih seorang diri dengan giat dan tekunnya. Ia sedang melatih berkali-kali gerakan dari Sin-eng Kai-peng (Garuda Sakti Membuka Sayap). Gerakan ini walaupun dimulai dengan dua lengan terpentang ke kanan kiri, akan tetapi mempunyai pecahan yang banyak macamnya, yang disesuaikan dengan gerakan dan kedudukan lawan.

Ia pernah melihat Gwat Kong mendemonstrasikan gerakan ini. Akan tetapi masih saja ia mendapatkan kesulitan dan belum merasa puas dengan gerakan sendiri yang dianggapnya masih kurang sempurna. Oleh karena itu semenjak tadi ia mengulangi lagi gerakan itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara teguran. “Aneh sekali, mengapa anak murid Go-bi-pai mainkan ilmu silat yang aneh semacam itu?”

Tin Eng cepat menengok dan melihat seorang laki-laki tua berbaju hitam berambut putih berdiri di atas tembok taman itu. Ia kaget sekali karena sama sekali ia tidak mendengar atau melihat gerakan orang ini sehingga ia dapat menduga bahwa kepandaian orang ini tentu tinggi sekali. Ia memandang dan bertanya,

“Kakek yang gagah siapakah kau dan apakah maksudmu melompat ke atas tembok lain orang?”

Kakek ini yang bukan lain adalah Lui Siok si Ular Belang, tertawa bergelak.

“Apakah kau yang disebut Sian-kiam Lihiap dan bernama Liok Tin Eng?” Ia balas bertanya. Tin Eng mendongkol sekali karena sikap kakek ini ternyata memandang rendah, belum menjawab sudah balas bertanya.

“Kalau aku benar Sian-kiam Lihiap Liok Tin Eng, habis kau mau apakah?”

“Benar galak …!” Lui Siok kembali tertawa. “Akan tetapi cantik manis dan gagah!” Kini ia berjongkok di atas tembok itu dan sambil tersenyum ia berkata kembali,

“Nona, ketahuilah bahwa kau berhadapan dengan Hoa-coa-ji Lui Siok (Si Ular Belang)!”

Tin Eng tersenyum mengejek. “Semenjak hidupku, aku belum pernah mendengar nama dan julukan itu.”

Lui Siok tidak marah, hanya tertawa lagi. “Tentu saja belum kenal karena kau masih hijau dan kurang pengalaman.”

Tin Eng makin mendongkol lalu berkata ketus, “Orang tua, sebetulnya apakah maksud kedatanganmu? Apakah kau datang hanya hendak memamerkan nama dan julukanmu? Kalau benar demikian, kau salah alamat. Seharusnya kau pergi ke pasar di mana terdapat banyak orang dan kau boleh menjual nama sesuka hatimu. Aku tidak butuh julukan!”

“Aduh aduh! Mengapa sute berani menghadapi nona yang begini galak?” kembali Lui Siok berkata. Akan tetapi ia benar-benar cantik jelita dan gagah. Ha ha, nona kecil, jangan kau berlaku galak kepadaku. Ketahuilah bahwa aku sebetulnya masih suhengmu (kakak seperguruan) sendiri!”

Tin Eng terkejut dan heran, akan tetapi ia makin gemas. Terang bahwa orang tua ini hendak mempermainkannya. Dari mana ia mempunyai kakak seperguruan seperti ini? Melihat atau mendengar namanya belum pernah.

“Aku tidak pernah mempunyai seorang suheng yang manapun juga!” katanya mendongkol. “Harap jangan mengobrol di sini dan pergilah!”

“Ha ha ha! Tentu sute belum menceritakan hal suhengnya ini kepadamu. Ah, kalau bertemu dengan Gan-sute, tentu ia akan kutegur! Ketahuilah nona, Gan Bu Gi, calon suamimu itu adalah suteku! Kalau aku menjadi suhengnya, bukankah kau juga harus menyebut suheng kepadaku?”

Kini mengertilah Tin Eng, akan tetapi pengertian ini bahkan menambah kemarahannya. Dengan muka merah ia menuding,

“Jangan kau ngaco belo! Siapa yang menjadi calon isteri orang she Gan itu? Jangan kau berlancang mulut!”

Kini Lui Siok memandang heran dan ia menggeleng-gelengkan kepala lalu berdiri di atas tembok itu.

“Heran, heran! Gan-sute benar-benar gila! Mengapa ia mau mencari jodoh dengan gadis segalak ini? Nona Liok! Ku berlaku kurang ajar terhadap saudara tua, kalau calon suamimu mendengar tentang hal ini, kau tentu akan mendapat teguran keras!”

“Tutup mulutmu yang busuk!”

Marahlah Lui Siok melihat sikap Tin Eng yang dianggapnya terlalu kurang ajar ini. Mana ada calon isteri seorang sute bersikap seperti ini terhadap seorang suheng?

“Hmmm, agaknya kau sombong karena kau telah mendapat julukan Sian-kiam Lihiap! Ketahuilah nona galak, kedatanganku ini sebenarnya untuk mencari dan membunuh Kang-lam Ciu-hiap yang telah mengganggu kawan-kawanku yaitu Touw Cit dan Touw Tek! Tadinya kaupun hendak kuhajar, akan tetapi mendengar bahwa kau adalah calon isteri suteku, tentu saja aku tidak mau turun tangan, hanya mengharapkan sikap manis darimu dan pernyataan maaf. Sekarang sikapmu begini kurang ajar, agaknya kau mau mengandalkan kepandaian Kang-lam Ciu-hiap. Suruh dia keluar agar dapat berkenalan dengan kelihaian Hoa-coa-ji Lui Siok!”

“Kang-lam Ciu-hiap tidak berada di sini!” jawab Tin Eng dengan tabah. “Tak perduli kau menjadi suheng siapapun juga, kalau kau membela Touw Cit, berarti kaupun bukan manusia baik-baik. Bukan hanya Kang-lam Ciu-hiap yang memberi hajaran kepada Touw Cit, akan tetapi akupun mempunyai saham terbesar! Kalau kau memang berani dan berkepandaian turunlah, siapa takuti omonganmu yang besar?”

“Bocah kurang ajar!” Lui Siok membentak dan ia segera melompat turun dengan gerakan Chong-eng-kim-touw (Burung Sambar Kelinci), langsung menubruk dari atas dengan kedua tangan diulur dan dibuka bagaikan seekor burung garuda menyambar dan menerkam tubuh Tin Eng. Akan tetapi gadis itu telah siap menanti dan ketika tubuh lawannya telah turun dekat, kaki kanannya menyambar sambil menendang dengan keras untuk memapaki dada musuhnya itu.

“Bagus!” seru Lui Siok yang segera mengulur tangan kirinya yang tadi dibuka untuk menangkap kaki kanan Tin Eng itu. Gadis itu terkejut sekali melihat gerakan tangan memutar yang hendak menangkap kakinya dari bawah, maka ia cepat menarik kembali kakinya melompat ke kiri dan mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah pelipis lawan.

Diam-diam Lui Siok memuji kegesitan gadis ini dan cepat ia miringkan kepala dan kembali tangan kanannya menyerbu cepat untuk menangkap pergelangan tangan yang memukul itu. Tin Eng maklum bahwa lawan ini memiliki lweekang yang kuat dan jari-jari tangan yang dibuka dan merupakan kuku garuda itu. Ia dapat menduga lawan tentulah seorang ahli dalam ilmu silat mencengkeram seperti halnya ilmu silat Eng-jiauw-kang, maka tentu saja ia tidak membiarkan tangannya ditangkap dan segera menarik kembali tangannya cepat-cepat dan menerjang lagi dengan pukulan tangan kiri.

Serangan-serangan yang dilakukan oleh Tin Eng ini adalah pukulan-pukulan dari Sin-eng Kun-hoat dan gerakannya demikian aneh sehingga untuk jurus-jurus pertama Lui Siok merasa bingung dan terkejut. Serangan-serangannya itu dapat dirubah sedemikian cepatnya dan disusul oleh serangan-serangan berikutnya yang makin lama makin cepat. Ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menggunakan cengkeraman dan tangkapannya.

Akan tetapi sayang sekali bahwa ilmu silat tangan kosong yang dipelajari oleh Tin Eng ini belum sempurna benar sehingga setelah beberapa jurus lamanya ia belum berhasil memukul lawannya. Tin Eng segera merubah ilmu silatnya dan kini ia bersilat dengan ilmu silat Go-bi-pai yang dipelajari dari ayahnya. Dalam hal ilmu silat ini, Tin Eng sudah mempunyai kepandaian yang cukup lumayan. Akan tetapi Lui Siok tertawa bergelak menghadapi ilmu silat yang dikenalnya dengan baik ini.

“Nona manis, kalau Seng Le Locianpwe melihat kau menyerang aku, tentu dia akan menegur kau! Aku kenal baik padanya!”

“Siapa sudi banyak mengobrol dengan kau?” seru Tin Eng dengan marah dan menyerang terus dengan bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan keras. Ia merasa sayang sekali bahwa pedangnya tidak dibawa dan ditinggalkan di dalam kamarnya. Karena memang tadi ia sengaja datang untuk berlatih silat tangan kosong, maka ia tidak membawa-bawa pedang.

“Bangsat tua bangka!” teriaknya memaki. “Kalau kau memang gagah, tunggulah aku mengambil pedangku!”

“Ha ha ha, bocah galak. Boleh, boleh, kau ambillah pedangmu. Memang aku ingin sekali menyaksikan bagaimana lihainya pedang dari Sian-kiam Lihiap!”

Tin Eng lalu berlari masuk dan tak lama kemudian ia telah kembali membawa pedangnya. Benar saja, Lui Siok masih menanti di situ dengan tersenyum-senyum mengejek.

“Awas pedang!” seru Tin Eng yang sama sekali tidak memperdulikan lawannya yang bertangan kosong. Seruannya ini dibarengi dengan tusukan pedangnya yang digerakkan secara luar biasa. Tadinya Lui Siok mengira bahwa ia akan menghadapi ilmu pedang Go-bi, dan melihat tingkat nona itu, ia merasa cukup kuat untuk menghadapi pedang nona itu dengan tangan kosong, mengandalkan lweekangnya yang jauh lebih kuat dan ilmu silatnya Siauw-kin-na Jiu-Hoat yang lihai. Akan tetapi, setelah nona itu menyerang bertubi-tubi dengan hebat sekali membuat ia harus melompat kesana ke mari menghindarkan diri, terkejutlah dia! Ilmu pedang ini sama sekali bukan ilmu pedang Go-bi-pai dan hebatnya bukan main! Belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang seperti ini.

Biasanya menghadapi ilmu pedang biasa, ia berani menghadapi dengan kedua tangannya mengandalkan lweekang dan ilmu silatnya. Akan tetapi melihat betapa pedang ditangan gadis itu, cara menusuk dan membacoknya berbeda dengan ilmu pedang yang lain, yakni tusukannya digetarkan dan bacokannya dibarengi gerakan mengiris, ia tidak berani berlaku gegabah dan tidak mau coba-coba untuk menangkap dan merampas pedang itu. Menghadapi serangan-serangan ini, Lui Siok tidak berani main-main lagi, bahkan kini ia berhenti tersenyum dan tak dapat mengeluarkan kata-kata ejekan lagi, akan tetapi mengerahkan seluruh perhatian dan kepandaiannya untuk menjaga diri.

Lui Siok benar-benar lihai, karena setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, pedang di tangan Tin Eng belum juga berhasil sama sekali. Gerakan kakek ini terlampau gesit dan tangannya yang kuat itu benar-benar lihai. Tiap kali pedang Tin Eng dengan gerakan aneh hampir berhasil mengenai tubuhnya, ia lalu mempergunakan jari-jari tangannya dikepretkan ke arah pedang sehingga senjata itu terpental dan tidak mengenai sasaran. Tin Eng benar-benar merasa terkejut sekali.

Akhirnya Lui Siok mengambil keputusan untuk mempergunakan senjatanya yang jarang sekali dikeluarkannya oleh karena ia maklum bahwa dengan hanya mengandalkan sepasang tangannya saja, sukarlah baginya untuk memperoleh kemenangan terhadap gadis yang lihai sekali ilmu pedangnya itu. Ia berseru keras dan tahu-tahu ia telah melepaskan sehelai sabuknya yang aneh, karena sabuknya ini ternyata adalah seekor ular belang yang telah kering akan tetapi masih lemas seperti hidup saja.

Inilah yang membuat dia diberi julukan si Ular Belang, karena senjatanya ini pernah menggemparkan dunia kang-ouw. Lui Siok adatnya sombong dan angkuh, maka apabila tidak menghadapi musuh yang benar-benar tangguh, ia jarang sekali mau mempergunakan senjatanya ini.

Tin Eng merasa agak geli melihat ular itu, dan juga jijik sekali, akan tetapi itu bukan berarti bahwa ia takut. Dengan cepat ia menyerang lagi dan ketika senjata ular itu menangkis, Tin Eng terkejut sekali karena bukan saja ular itu ternyata keras bagaikan logam, akan tetapi tangkisan itu membuat tangannya gemetar. Demikian hebatnya tenaga lweekang dari Lui Siok ini.

Tin Eng terus menyerang dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Akan tetapi ternyata bahwa ilmu kepandaian Lui Siok amat lihai dan tingkatnya masih lebih tinggi dari padanya. Perlu diketahui bahwa twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua) dari Gan Bu Gi atau murid yang paling lihai dari Bong Bi Sianjin, Lui Siok ini tentu saja mempunyai kepandaian yang amat tinggi, ditambah pula dengan pengalamannya bertempur yang sudah puluhan tahun, maka kini Tin Eng merasa terdesak hebat.

Betapapun juga, gadis itu masih dapat mempertahankan diri sampai hampir lima puluh jurus. Akhirnya, sebuah serangan dengan sabetan ular itu ke arah lehernya membuat Tin Eng terkejut dan memperlambat gerakan pedang karena ia harus melompat ke pinggir melindungi lehernya.

Kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Lui Siok yang mempergunakan tangan kirinya menyerang dengan ilmu silat mencengkeram. Sebelum Tin Eng dapat menarik, pedangnya itu telah dapat dicengkeram dan dirampas. Gadis ini masih nekad dan hendak merampas kembali pedangnya, akan tetapi pedang itu digerakkan oleh Lui Siok ke arah dada gadis itu dengan ancaman tusukan. Tin Eng miringkan tubuh dan “brett!” robeklah baju Tin Eng di bagian pinggang.

“Ha ha ha! Kau benar-benar lihai! Lihai, cantik dan galak. Kecantikan dan kepandaianmu memang membuat kau patut menjadi nyonya Gan Bu Gi, akan tetapi sayang kau terlalu galak. Kalau aku tak ingat bahwa kau adalah anak murid Seng Le Hosiang dan calon isteri Gan-sute, tentu kau telah menggeletak tak bernyawa di depan kakiku!”

Sambil berkata demikian, Lui Siok menggerakkan tangannya mencengkeram pedang itu dan “kreek!” patahlah pedang Tin Eng yang telah dirampas tadi. Kemudian ia melompat ke arah tembok dan lenyap dari pandangan mata Tin Eng yang marah dan penasaran sekali.

Kemudian ia mendengar dari pamannya yakni Lie-wangwe, betapa Touw Cit dan Touw Tek telah dibebaskan dari penjara oleh tihu karena ancaman Lui Siok yang lihai itu. Tin Eng menarik napas panjang dan berkata,

“Mereka memang lihai sekali. Baru terhadap seorang lawan saja aku dapat dikalahkannya, apalagi kalau mereka itu mengeluarkan jago-jago yang lain. Pek-hu, lebih baik untuk sementara waktu kita jangan mencari permusuhan dengan mereka. Kecuali kalau mereka datang mengganggu, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk membela diri. Kalau saja Gwat Kong berada di sini, tentu mereka itu akan disapu bersih. Tanpa adanya Kang-lam Ciu-hiap, mereka terlalu berat bagiku.”

Song Bu Cu, ketua Hek-i-pang adalah seorang cerdik, maka setelah berhasil membebaskan Touw Cit dan Touw Tek, ia melarang orang-orangnya untuk mengganggu kota Hun-lam. Ia adalah seorang yang ingin bekerja dengan aman, tidak suka lagi mempergunakan kekerasan seperti dulu-dulu. Ia ingin agar supaya keadaan di Hun-lam menjadi ‘dingin’ dulu untuk kemudian menggunakan kecerdikan untuk mengeduk uang para hartawan dan pembesar. Apalagi setelah ia mendengar dari Lui Siok bahwa Kang-lam Ciu-hiap yang menjadi musuh mereka telah pergi dan mendengar bahwa Sian-kiam Lihiap ternyata adalah tunangan Gan Bu Gi dan anak murid Seng Le Hosiang, maka tentu saja Song Bu Cu tidak berani mengganggunya.

Melihat keadaan yang aman dan tidak adanya gangguan dari pihak penjahat, tidak saja mendatangkan rasa heran kepada Tin Eng, akan tetapi juga perasaan lega, karena tanpa ada pembantu yang pandai, ia merasa percuma untuk memusuhi gerombolan yang memiliki banyak orang pandai itu. Kini ia merasa benci kepada Gan Bu Gi karena ternyata bahwa pemuda itu mempunyai seorang suheng yang berjiwa penjahat.

****

Gwat Kong melakukan perjalanan dengan perlahan, tidak tergesa-gesa dan orang-orang yang melihatnya akan menyangka bahwa ia adalah seorang pemuda pelancong yang lemah. Sama sekali takkan menyangka bahwa ia adalah Kang-lam Ciu-hiap, pendekar muda yang baru saja muncul di dunia kang-ouw dan dalam waktu singkat telah membuat nama besar dengan mengalahkan Ngo-heng-kun Ngo-hiap dan mengobrak-abrik anggauta-anggauta Hek-i-pang di kota Hun-lam.

Ia ingin pergi lagi ke Ki-hong di mana terdapat makam ibunya dan hendak bersembahyang di depan makam ibunya. Setelah ia selesai bersembahyang dan berjalan perlahan-lahan keluar dari tanah kuburan itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis sedih sekali. Hatinya menjadi tergerak dan ikut terharu.

Siapakah yang menangis di kuburan itu? Suaranya menyatakan bahwa yang menangis adalah seorang laki-laki, agaknya menangisi mendiang orang tuanya atau isterinya. Biarpun hal itu tiada sangkut pautnya dengan dia, akan tetapi oleh karena Gwat Kong mempunyai perasaan halus dan hatinya mudah tergerak, ia lalu membelokkan langkah kakinya menuju ke arah suara yang menangis itu.

Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia melihat bahwa yang menangis itu adalah seorang laki-laki tua. Seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua. Pakaiannya biarpun putih bersih akan tetapi penuh tambalan. Di dekatnya terdapat sebuah pikulan dan keranjang terisi daun-daun dan akar-akar obat-obatan. Kakek inilah yang mengeluarkan suara tangisan demikian sedihnya sambil memukul-mukul tanah dan menjambak-jambak rambutnya.

Akan tetapi tak mungkin dia dia menangisi orang yang sudah mati, oleh karena ia tidak duduk di depan makam tertentu. Akan tetapi duduk di bawah pohon sambil memandang ke arah gundukan-gundukan tanah kuburan itu. Ketika Gwat Kong berdiri agak jauh sambil memandang heran, ia mendengar keluh kesah kakek itu di antara tangisnya.

“Dasar aku yang bernasib buruk ….. Hidupku yang lampau terlalu banyak dosa, maka aku harus menderita entah berapa tahun lagi … ah … nasib … aku sudah bosan hidup …..!” Kata-kata ‘bosan hidup’ ini ia teriakan beberapa kali sambil mengangkat kedua tangan dan memandang ke angkasa, seakan-akan ia hendak mengajukan protesnya kepada langit biru.

Gwat Kong makin terheran-heran melihat sikap kakek ini. Mengapakah kakek ini begitu sedih? Siapakah gerangan orang aneh yang sudah bosan hidup ini dan apa pula yang menyusahkan hatinya? Terdorong oleh rasa kasihan, pemuda itu melangkah maju mendekati dan bertanya,

“Lopeh, agaknya ada sesuatu yang menyusahkan hatimu. Apakah yang mengganggumu dan dapatkah kiranya aku menolongmu?”

Kakek itu mengangkat muka dan memandang. Gwat Kong tercengang karena sepasang mata kakek itu bersinar tajam dan kuat sekali sehingga ia tak kuat menatapnya lama-lama.

Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak dan hal ini kembali membuat Gwat Kong tertegun keheranan. Baru saja kakek itu menangis demikian sedihnya sehingga air matanya masih nampak mengalir di sepanjang pipinya, akan tetapi kini telah dapat tertawa bergelak.

“Kau mau menolongku? Ha ha, boleh! Cabut pedangmu itu dan seranglah aku!”

Gwat Kong terkejut sekali. Pedangnya Sin-eng-kiam ia sembunyikan di balik jubahnya. Bagaimana kakek ini bisa tahu bahwa ia membawa pedang?

“Akan tetapi …. aku … tidak mempunyai maksud jahat, lopeh? Sesungguhnya dengan tulus hati aku ingin menolongmu kalau aku dapat.”

Tiba-tiba kakek itu berdiri dan menyambar pikulannya yang terbuat dari pada bambu kuning melengkung di bagian tengah, hampir menyerupai sebatang gendewa.

“Kau mau menolongku bukan? Nah, mari kita bertempur! Kalau kau bisa menewaskanku, berarti kau telah menolongku.”

Setelah berkata demikian, ia lalu menyerang dengan pikulannya ke arah kepala Gwat Kong. Pukulan ini cepat sekali dan mendatangkan angin keras sehingga Gwat Kong merasa terkejut dan cepat-cepat melompat ke belakang. Ia merasa heran, bingung dan mendongkol sekali. Gilakah orang ini?

Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir karena kembali pikulan itu telah menyambar dan melihat gerakan yang hebat itu, ia maklum bahwa kepandaian kakek ini tak boleh dibuat permainan. Maka ia lalu mencabut pedangnya dan bersiap sedia menghadapi kakek gila ini.

“Pokiam (pedang pusaka) yang bagus!” kakek itu berseru, lalu menyerang lagi dengan cepat lebih cepat dan keras. Terpaksa Gwat Kong menangkis serangan itu dan sekali lagi ia menjadi terkejut karena tangkisannya ini membuat telapak tangannya terasa perih sekali dan hampir saja pedangnya terlepas dari pegangannya. Dari benturan senjata ini saja, ia maklum bahwa senjata di tangan kakek itu adalah senjata pusaka yang ampuh dan tenga lweekang orang gila ini jauh lebih tinggi dari pada lweekangnya sendiri. Maka ia tidak berani memandang ringan dan segera mainkan Sin-eng Kiam-hoat untuk menjaga diri dan balas menyerang.

“Kiam-hoat yang bagus!” seru kakek itu lagi yang memuji ilmu pedang yang dimainkan oleh Gwat Kong.

Akan tetapi kembali Gwat Kong terheran-heran karena ternyata bahwa kakek itu tidak saja bertenaga kuat dan memiliki senjata yang luar biasa, akan tetapi ilmu silatnya pun amat tinggi. Baru beberapa belas jurus saja pertempuran ini berjalan, tahulah ia bahwa kakek ini benar-benar seorang yang sakti.

Tubuhnya berkelebat demikian cepat sehingga membuat pandangan matanya kabur, sedangkan tipu gerakan kakek itu mendatangkan sambaran angin yang dahsyat.

Gwat Kong telah mengeluarkan tipu-tipu serangan yang paling ampuh dan lihai dari Sin-eng Kiam-hoat. Akan tetapi dengan amat baiknya kakek itu dapat memecahkannya, bahkan membalas dengan serangan-serangan yang lebih aneh gerakannya dari pada gerakan pedangnya dan beberapa kali hampir saja ia menjadi sasaran pukulan itu kalau saja ia tidak berlaku gesit.

Pada suatu saat, Gwat Kong tak terasa mengeluarkan seruan kaget ketika pikulan itu dengan gerakan yang cepat sekali menusuk ke arah dadanya. Ia cepat memutar pedangnya melalui bawah lengan kirinya dan menyampok tusukan itu dari dalam dan menolak pikulan yang telah mengenai bajunya itu.

Pikulan terpental akan tetapi terus melayang lagi menghantam pinggangnya dengan kecepatan yang luar biasa sehingga tak mungkin dielakkan pula. Akan tetapi Sin-eng Kiam-hoat memang mempunyai bagian mempertahankan diri yang istimewa.

Tiba-tiba Gwat Kong ingat akan gerakan Garuda Sakti Mendekam Di Tanah. Tubuhnya lalu ditarik ke bawah dengan kaki di tekuk sehingga ia menjadi berjongkok dengan punggung direndahkan sehingga dadanya hampir menyentuh tanah, akan tetapi pedangnya terus diputar di atas kepalanya menjaga diri. Dengan gerakan yang cepat ini, ia terhindar dari pada serangan yang hebat tadi. Akan tetapi keringat dingin keluar dari jidatnya karena tadi hampir saja ia terkena celaka. Ia makin gelisah dan menjadi gentar menghadapi kakek yang benar-benar lihai ini.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak menunda serangannya.

“Ha ha ha! Anak muda yang baik, maukah kau menjadi muridku? Hanya memiliki Sin-eng Kiam-hoat saja, seakan-akan kau tahu barat tidak kenal timur!”

Gwat Kong adalah seorang pemuda yang cerdik dan memang sudah menjadi wataknya suka merendah. Maka tanpa sangsi-sangsi lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu dan berkata,

“Kalau locianpwe sudah memberi bimbingan kepada teecu yang bodoh, teecu Bun Gwat Kong akan merasa beruntung sekali.”

Melihat pemuda itu berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya kepadanya, kakek itu tertawa girang, lalu mengangkat pikulan bambunya dan memukulkan pikulannya ke arah kepala Gwat Kong dengan keras.

Gwat Kong tentu saja tahu akan hal ini. Akan tetapi pemuda ini mengeraskan hatinya dan meramkan matanya. Sama sekali tidak bergerak, karena memang sesungguhnya ia memang takluk dan percaya kepada kakek yang sakti ini. Ketika pikulan itu telah dekat sekali dengan kepala Gwat Kong, tiba-tiba pikulan itu seakan-akan tertolak oleh tenaga aneh dan membalik, dibarengi suara ketawa kakek itu.

“Bagus, bagus! Kau benar percaya kepadaku. Mulai sekarang kau menjadi muridku. Namamu Bun Gwat Kong? Bagus sekali, dan aku adalah Bok Kwi Sianjin!”

Kakek itu lalu melangkah maju menghampiri gundukan-gundukan kuburan yang terdekat dan memukul-mukulkan tongkat bambunya itu kepada gundukan tanah itu sambil berkata,

“Aku tarik kembali omonganku tadi. Sekarang aku tidak ingin mati, belum bosan hidup karena aku harus menurunkan Sin-hong-tung-hoat kepada muridku ini.”

Ia lalu menengok kepada Gwat Kong dan berkata,

“Gwat Kong, kau kesinilah dan bersumpah dihadapan kuburan ini bahwa kau akan mempelajari Sin-hong-tung-hoat dengan baik kemudian mewakili suhumu membasmi kejahatan dan memperebutkan sebutan ahli silat kelas satu di waktu mendatang!”

Gwat Kong maklum bahwa suhunya adalah seorang kakek yang beradat aneh, maka tanpa banyak bertanya ia lalu berlutut di depan beberapa gundukan tanah yang tidak diketahuinya kuburan siapa itu, lalu bersumpah.

“Teecu Bun Gwat Kong dengan disaksikan oleh gundukan kuburan-kuburan ini, bersumpah bahwa teecu akan mempelajari ilmu silat yang diajarkan oleh suhu Bok Kwi Sianjin sebaik-baiknya. Kemudian kepandaian itu akan teecu pergunakan untuk membela kebenaran dan keadilan, membasmi kejahatan!”

“Dan juga mewakili aku memperebutkan sebutan ahli silat kelas satu dan ilmu silat terbaik,” kata Bok Kwi Sianjin.

“Dan juga mewakili aku memperebutkan ahli silat kelas satu dan ilmu silat terbaik,” Gwat Kong mengulangi.

“Juga akan membasmi musuh-musuhku,” kata pula Bok Kwi Sianjin.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: