Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 18

GWAT Kong merasa terkejut dan ragu-ragu. Bagaimana ia bisa mengangkat sumpah untuk membalas musuh-musuh gurunya? Sedangkan musuh ayahnya pun ia tidak mau membalasnya karena ternyata bahwa puteri musuh ayahnya bukan orang jahat. Akan tetapi ia tidak berani membantah dan dengan cerdiknya ia mengulangi kata-kata suhunya dengan sedikit tambahan.

“Dan juga teecu akan membasmi musuh-musuh suhu yang jahat.”

Ia sengaja menambah kata-katanya, ‘yang jahat’ sehingga kalau kelak ia mendapatkan bahwa musuh suhunya bukan orang jahat, ia tidak usah membalas dendam dan berarti ia tidak melanggar sumpahnya. Kalau musuh suhunya memang jahat, jangankan menjadi musuh suhunya, biarpun tidak menjadi musuh, sudah menjadi kewajibannya untuk membasmi orang jahat! Memang Gwat Kong benar-benar cerdik dan berpikiran luas.

Bok Kwi Sianjin tertawa-tawa senang dan berkata kepada muridnya yang masih duduk di atas tanah, bersila sambil memukul-mukulkan pikulannya pada tanah keras,

“Gwat Kong kau tak kusangka-sangka adalah penemu dari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat yang kukira telah lenyap dari permukaan bumi ini. Aku tahu bahwa dulu yang mendapatkan kitab pelajaran ilmu pedang itu adalah Leng Po In atau Bu-eng-san, si Dewa Tanpa Bayangan. Akan tetapi ia menjadi gila dan entah ke mana ia buang kitab itu. Tak tahunya, kau yang mendapat jodoh dan mewarisi kitab itu dan telah pula mempelajari ilmu pedangnya yang luar biasa. Ketahuilah bahwa Sin-eng Kiam-hoat ini pada seratus tahun yang lalu menjadi ilmu yang paling terkenal di barat. Akan tetapi masih belum dapat mengalahkan pengaruh ilmu tongkat Sin-hong-tung-hoat dari timur. Sucouwmu (nenek moyang guru) yang menciptakan Sin-hong-tung-hoat adalah saudara seperguruan dan keduanya selalu berusaha untuk menang sehingga entah berapa kali kedua ilmu itu diadu. Betapapun juga, dibandingkan dengan ilmu-ilmu keluaran berbagai cabang persilatan, kedua ilmu itu tidak akan kalah. Selain Go-bi, Kun-lun, Thai-kek dan Hoa-san, yang berkembang luas dan telah terkenal, maka para ahli persilatan maklum bahwa di empat penjuru terdapat Sin-eng Kiam-hoat dari barat, Sin-hong-tung-hoat dari Timur, Pat-kwa-to-hoat (Ilmu Golok Pat-kwa) dari utara dan Im-yang Siang-kiam-hoat (Ilmu Pedang Berpasangan Im-yang) dari selatan. Keempat ilmu silat ini tingkatnya sedemikian tinggi sehingga tak usah menyerah terhadap cabang-cabang persilatan yang manapun juga, oleh karena semua ini adalah ilmu silat khusus. Sin-eng Kiam-hoat khusus pelajaran pedang. Sin-hong-tung-hoat pelajaran tongkat. Pat-kwa-to-hoat permainan golok dan Im-yang Siang-kiam-hoat permainan pedang berpasangan. Tidak seperti cabang-cabang persilatan yang selain mempelajarkan banyak macam permainan sehingga tidak dapat mencapai tingkat tinggi. Juga mereka menerima murid secara serampangan saja sehingga terbukti sekarang terdapat kekacauan dan permusuhan antara Go-bi dan Hoa-san.”

Mendengar ucapan suhunya yang panjang lebar itu, diam-diam Gwat Kong merasa girang karena ternyata bahwa sekali-kali suhunya bukanlah seorang gila seperti yang disangkanya semula. Memang suhunya mempunyai watak dan sikap yang aneh sekali akan tetapi setelah ia bicara, ternyata bahwa suhunya yang memiliki pengetahuan yang luas tentang keadaan di kalangan kang-ouw. Akan tetapi agaknya yang mendengar pembicaraan Bok Kwi Sianjin tadi bukan hanya Gwat Kong seorang, karena tiba-tiba terdengar suara orang mencela,

“Bok Kwi Sianjin, kau masih saja amat sombong dan tidak memandang kepada golongan lain.”

Berbareng dengan habisnya perkataan ini, orang yang bicara ini muncul dan ternyata bahwa ia tadi bersembunyi di atas pohon yang besar, agak jauh dari situ sehingga Gwat Kong merasa kagum karena orang itu mempunyai pendengaran yang amat tajam serta mempunyai gerakan yang amat cepat. Ia memperhatikan dan orang ini adalah seorang tosu (pendeta penganut agama To) yang bertubuh tinggi kurus bagaikan pohon bambu, keningnya telah penuh keriput dan giginya telah ompong semua.

Akan tetapi anehnya, kedua pipinya kemerah-merahan dan sehat sekali. Sedangkan rambut dan kumis jenggotnya yang panjang semua masih hitam seperti dicat. Di punggungnya tergantung sebuah tongkat yang gagangnya berbentuk kepala naga.

Melihat tosu ini, Bok Kwi Sianjin tertawa terkekeh-kekeh dan bangkit dari duduknya,

“Aha! Sin Seng Cu, tidak saja kau kelihatan makin muda, akan tetapi hatimu bertambah muda saja.”

Kemudian ia berkata kepada Gwat Kong yang juga sudah berdiri. “Muridku, inilah tokoh Hoa-san-pai, orang pertama yang menimbulkan kerusuhan antara Go-bi dan Hoa-san setelah ia mengalahkan Seng Le Hosiang. Agaknya ia masih saja beradat keras. Lihat saja matanya ditujukan kepadaku dengan penuh kehendak menguji kepandaian, ha ha ha!”

Mendengar nama ini, Gwat Kong menjadi terkejut dan memandang dengan penuh perhatian. Kalau tosu itu pernah mengalahkan Seng Le Hosiang, tokoh Go-bi-pai yang pernah dijumpainya itu, dapat dibayangkan betapa hebat dan tingginya ilmu kepandaian tosu ini.

Sementara itu, Sin Seng Cu ketika mendengar ucapan Bok Kwi Sianjin tadi, tertawa bergelak lalu berkata,

“Bok Kwi Sianjin, agaknya kau masih mengandalkan ilmu tongkatmu Sin-hong-tung-hoat. Mari-mari kita boleh main-main sebentar untuk saling mengukur sampai di mana kemajuan masing-masing.”

Sambil berkata demikian, kedua tangan tosu itu bergerak dan tahu-tahu tongkat kepala naga itu telah berada di tangannya.

Kembali Bok Kwi Sianjin tertawa, “Sin Seng Cu! Sebelum kita tua sama tua bermain gila dengan pedang harap kau suka berlaku murah sedikit kepadaku dan menguji kebodohan pemuda yang menjadi muridku ini. Kalau dia bisa bertahan sampai dua puluh jurus menghadapi Liong-thouw-koai-tung (Tongkat Iblis Kepala Naga) di tanganmu, aku takkan menganggapmu bodoh lagi!” Kemudian kakek itu tanpa menanti jawaban Sin Seng Cu, berkata kepada Gwat Kong.

“Hayo kau cabut pedangmu dan hadapi tosu ini dengan baik sampai dua puluh jurus!”

Diam-diam Sin Seng Cu merasa mendongkol karena hendak diadu dengan murid kakek itu. Akan tetapi iapun merasa heran sekali karena mengapa Bok Kwi Sianjin yang menjadi ahli ilmu silat tongkat, tiba-tiba mempunyai murid yang menggunakan pedang. Maka ia segera menjawab sambil tersenyum,

“Baik, baik! Kau majulah anak muda!”

“Harap totiang suka berlaku murah hati kepada teecu,” kata Gwat Kong dengan hormat karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh Hoa-san-pai yang tinggi ilmu silatnya.

Ia diberi waktu untuk melawan sampai dua puluh jurus, maka ia merasa penasaran, karena benarkah ia tidak kuat menghadapi tosu ini dalam dua puluh jurus saja? Dengan pikiran ini, ia lalu maju dan mulai menyerangnya dengan gerak tipu yang lihai dari Sin-eng Kiam-hoat.

Pertama-tama ia menyerang dengan tusukan pedang pada leher tosu itu dalam gerak tipu Sin-eng-chio-cu (Garuda Sakti Rebut Mestika) dan ketika tosu itu mengelak sambil gerakkan tongkatnya yang aneh itu untuk menyabet pedang, ia segera menarik kembali pedangnya dan membuka serangan kedua dengan gerakan Sin-eng-hian-bwe (Garuda Sakti Memperlihatkan Ekor). Gerakan kedua ini dilakukan dengan membalikkan tubuh lalu tiba-tiba pedang diluncurkan dari bawah lengan kiri dengan tidak terduga-duga dan cepat sekali.

“Bagus!” seru Sin Seng Cu memuji karena ia benar-benar tertegun melihat gerakan yang cepat dan aneh ini sehingga ia harus cepat menggerakkan tongkatnya untuk melindungi dadanya yang hendak disate. Tak pernah ia menyangka bahwa pemuda ini memiliki gerakan pedang yang demikian aneh dan cepat, maka ia segera berseru keras dan sebentar saja tongkat kepala naga di tangannya menyambar-nyambar ke atas dan ke bawah, mengurung Gwat Kong dengan sinarnya. Tongkat itu kini seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan semua mengancam jalan darah dan bagian yang berbahaya dari tubuh Gwat Kong.

Pemuda ini terkejut sekali dan cepat mempergunakan ginkangnya dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan perlawanan. Ia mengeluarkan gerakan Sin-eng Kiam-hoat yang paling sukar dan tinggi setelah ia putar-putar pedangnya dengan gerakan Hwee-eng-koan-jit (Garuda Terbang Menutup Matahari), barulah ia dapat pecahkan serangan tosu yang lihai itu.

Sin Seng Cu adalah seorang tosu yang terkenal mempunyai watak keras tidak mau kalah. Ketika tadi menerima permintaan Bok Kwi Sianjin untuk menghadapi pemuda itu, ia memandang rendah dan merasa pasti bahwa ia tentu akan berhasil mengalahkan pemuda itu sebelum dua puluh jurus.

Kini melihat betapa sepuluh jurus telah berlalu tanpa ia dapat merobohkan lawannya, ia menjadi penasaran sekali berbareng kaget. Ilmu pedang pemuda ini benar-benar lihai sekali dan tingkatnya tidak berada di sebelah bawah ilmu tongkatnya. Kalau pemuda ini sudah begini lihai, tentu Bok Kwi Sianjin telah memiliki ilmu silat yang tak dapat diukur tingginya. Ia heran sekali karena ia belum pernah mendengar kakek itu memiliki ilmu pedang dan ketika ia memperhatikan ilmu pedang dari Gwat Kong, ia makin menjadi heran.

Sambil berseru keras karena hatinya mulai menjadi panas, Sin Seng Cu lalu menyerang makin hebat dan kini ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk merobohkan pemuda itu. Biarpun untuk dapat mencapai maksudnya itu ia harus memukul hancur kepala lawannya yang muda!

Ia maklum bahwa terhadap pemuda ini ia tak bisa main-main dan berlaku murah karena tanpa penyerangan yang sungguh-sungguh dan mati-matian, agaknya tak mungkin ia akan dapat mengalahkan pemuda ini, jangankan hendak merobohkannya dalam dua puluh jurus.

Sebaliknya, sungguhpun Gwat Kong dapat mengimbangi permainan tosu itu, akan tetapi ia merasa betapa beratnya menghadapi lawan ini. Tiap kali tongkat itu menyerempet pedangnya, ia merasa seakan-akan lengannya menjadi kaku. Akan tetapi Gwat Kong memiliki ketabahan luar biasa yang membuat hatinya tenang dan matanya tajam waspada sehingga biarpun ia terdesak hebat.

Akan tetapi ia masih belum berada dalam keadaan berbahaya dan masih sanggup menangkis atau mengelak sambil melakukan serangan balasan yang tak kalah lihainya. Biarpun kedudukannya kalah kuat karena selain kalah tenaga, juga kalah pengalaman dan keuletan, akan tetapi ia dapat membalas tiap serangan sehingga boleh dibilang bahwa pertempuran itu tak terlalu berat sebelah dan cukup ramai.

Dua puluh jurus telah lewat tanpa ada yang terkena senjata. Dua puluh lima jurus, tiga puluh jurus! Tetap saja Gwat Kong dapat mempertahankan diri. Tiba-tiba Sin Seng Cu melompat mundur dan menahan tongkatnya, sedangkan Gwat Kong dengan hati lega juga berdiri dan menjura terhadap tosu itu.

“Bok Kwi Sianjin,” Sin Seng Cu menegur dengan muka merah. “Jangan kau main-main. Siapakah sebetulnya pemuda ini? Bukankah ilmu pedangnya itu Sin-eng Kiam-hoat?”

Bok Kwi Sianjin tertawa puas. “Ha ha ha! Matamu tajam juga, Sin Seng Cu. Memang dia ini ahli waris Sin-eng Kiam-hoat, dan sekarang dia juga calon ahli waris Sin-hong-tung-hoat.”

“Bok Kwi Sianjin, kau berlaku tolol,” kata Sin Seng Cu mengejek. “Bukan aku merasa takut kepada Sin-eng Kiam-hoat digabung dengan Sin-hong-tung-hoat. Akan tetapi, dengan terpisahnya kedua ilmu itu, kalau yang satu terbawa sesat, yang lain dapat menahannya. Kalau tergabung dalam diri seorang, lalu ia bermata gelap dan menjalani lorong kesesatan, bukankah sama dengan mencari penyakit?”

“Sin Seng Cu, kau berpandangan picik. Aku tidak sembarangan menurunkan ilmu kepada orang yang lemah iman. Tidak seperti kau dan golonganmu yang mengobral kepandaian kepada siapa saja yang mau belajar sehingga banyak anak muridmu yang memancing kekacauan dan permusuhan. Bagiku seorang murid yang baik lebih berharga dari pada seribu orang murid yang tak benar.”

“Bok Kwi Sianjin, masih saja kau memperlihatkan kesombonganmu! Sebetulnya sampai di mana sih, kelihaian Sin-hong-tung-hoat? Seakan-akan di kolong langit ini tak ada ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu tongkatmu itu.”

“Kepandaian dan ilmu yang tinggi memang banyak, sayangnya orang-orang yang patut memiliki kepandaian itu sedikit sekali,” jawab Bok Kwi Sianjin.

Diam-diam Gwat Kong mendengarkan perdebatan yang sukar ia mengerti ini dengan penuh perhatian.

“Bok Kwi, cukup kita bermain lidah. Marilah kita main-main sebentar agar aku dapat merasai di mana kemajuan tongkatmu.”

Bok Kwi Sianjin tersenyum lalu mengambil pikulannya yang tadi ditaruh di atas tanah dekat keranjang obatnya. Kedua kakek itu saling berhadapan dengan senjata masing-masing. Tongkat di tangan Sin Seng Cu lebih besar dan panjang dan nampak mengerikan dengan ujung kepala naga itu. Ia memegang tongkatnya dengan lengan kanan di depan lurus ke bawah dengan lengan di atas tongkat, sedangkan tangan kiri di belakang kepala memegang ujung tongkat yang berkepala naga, menyangga di bawah tongkat itu. Inilah sikap pembukaan dari ilmu toya Heng-cia-kun-hoat yang terkenal.

Sebaliknya Bok Kwi Sianjin juga lalu membuka permainannya dengan Sin-hong-kai-peng (Burung Hong Sakti Buka Sayap), yakni gerakan permulaan dari Sin-hong-tung-hoat. Kedua kakek ini saling pandang dengan tajam, bersikap waspada dan hati-hati karena keduanya maklum bahwa lawan yang dihadapinya bukanlah lawan yang ringan.

Gwat Kong duduk di bawah pohon dan memandang dengan penuh perhatian. Pertempuran yang akan berlangsung antara dua orang tokoh besar dunia persilatan ini amat menarik hatinya dan oleh karena ia akan mendpatkan latihan dari Bok Kwi Sianjin yang telah menjadi gurunya, maka ia pusatkan perhatiannya kepada Sin Seng Cu untuk melihat bagaimana tokoh Hoa-san-pai ini bersilat.

“Sin Seng Cu, majulah!” seru Bok Kwi Sianjin tanpa bergerak dari pasangan kuda-kudanya yang amat teguh.

“Bok Kwi, awas serangan!” Sin Seng Cu membentak dan berbareng dengan bentakan ini, tongkat kepala naga di tangannya bergerak cepat membuka serangan menyambar kepala lawan. Bok Kwi Sianjin juga menggerakkan pikulannya dan terdengar suara keras sekali ketika dua batang senjata itu bertumbuk.

Ternyata dalam gebrakan pertama ini, keduanya sengaja hendak mencoba senjata dan tenaga masing-masing dan terpentalnya kedua senjata itu membuat mereka maklum bahwa tenaga mereka seimbang. Maklumlah mereka bahwa untuk dapat memperoleh kemenangan, mereka hanya harus mengandalkan kegesitan dan kesempurnaan ilmu silat masing-masing.

“Bok Kwi, jagalah baik-baik!” Sin Seng Cu berseru keras dan ia segera melanjutkan serangannya dengan gerakan yang cepat dan berbahaya sekali datangnya.

“Bagus!” seru Bok Kwi Sianjin yang segera mengimbangi permainan lawannya dan pikulan di kedua tangannya lalu bergerak berputar-putar sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya lenyap terbungkus oleh sinar senjatanya. Sin Seng Cu kagum sekali melihat ini dan iapun menyerang lebih cepat lagi.

Tongkat kepala naga ditangannya menyambar-nyambar bagaikan seekor naga tulen yang tiba-tiba menjadi hidup dan mengancam kepala dan dada Bok Kwi Sianjin. Akan tetapi kakek ini dengan tenang, cepat sekali dapat menangkis semua serangan. Bahkan lalu mengembalikan serangan lawan dengan luncuran kedua ujung pikulannya yang dapat bergerak secara lihai sekali.

Sungguhpun pikulan di tangannya itu hanya berujung dua, akan tetapi gerakan-gerakannya membuat pikulan itu seakan-akan mempunyai lima bagian yang digunakan untuk menyerang dan inilah kelihaian Sin-hong-tung-hoat (Ilmu Tongkat Burung Hong Sakti). Burung Hong atau segala burung sakti apabila berkelahi selalu menggunakan lima senjatanya untuk menyerang, yakni sepasang sayapnya untuk menampar, sepasang kaki untuk mencengkeram dan sebuah paruh untuk menusuk dan mematuk.

Berdasarkan gerakan lima senjata inilah ilmu tongkat itu diciptakan sehingga pikulan itu kedua ujungnya menyambar-nyambar dengan gerakan dan perubahan yang aneh dan tak terduga oleh lawan. Kadang-kadang merupakan paruh burung menusuk mata atau menyerang kepala. Kadang-kadang merupakan sayap burung yang menyabet pundak kanan atau kiri. Dan kadang-kadang merupakan sepasang cakar burung yang menyerang dan menusuk tubuh bagian bawah dari lambung ke bawah.

Gwat Kong tidak begitu memperhatikan permainan silat gurunya oleh karena ia pikir kelak tentu akan mempelajarinya pula dan ia mencurahkan perhatiannya kepada Sin Seng Cu. Tadi ketika ia bertempur menghadapi tosu itu, keadaannya amat terdesak sehingga tak mungkin baginya untuk memperhatikan gerakan lawan. Maka kini ia memperhatikan dengan amat tertarik.

Ternyata olehnya bahwa gerakan-gerakan kaki dari tokoh Hoa-san-pai ini berdasarkan ilmu silat Sha-kak-kun-hoat (Ilmu Silat Segi Tiga). Kedua kakinya selalu membuat gerakan langkah segi tiga yang teratur sekali sehingga bagaimana tosu itu diserang oleh lawan, selalu lawannya berada tepat di depannya. Senjata lawan takkan dapat menyerangnya dari pinggir kanan maupun kiri karena setiap kali tubuh lawannya bergerak, kedua kakinya ikut pula bergerak membentuk segi tiga yang baru sehingga selalu ia menghadapi lawannya dengan hanya menggerakan sedikit kedua kakinya.

Memang dalam persilatan, menghadapi serangan dari jurusan depan yang lurus lebih mudah ditangkis atau dikelit dari pada menghadapi serangan dari samping. Perubahan serangan yang datang dari depan mudah sekali dilihat perubahannya dengan hanya memandang gerakan pundak lawan. Akan tetapi perubahan serangan dari samping lebih sukar diketahui dan sering kali seorang ahli silat dijatuhkan oleh lawannya dengan menggunakan serangan yang menyerong dari samping kiri. Oleh karena itu, maka gerakan kaki yang berdasarkan Sha-kak-kun-hoat dan yang selalu membentuk garis-garis segi tiga dengan sepasang kaki dalam pergerakkannya itu, amat praktis dan kuat kedudukannya.

Adapun gerakan ilmu tongkat yang dimainkan Sin Seng Cu, sungguhpun cukup mengagumkan dan mempunyai perkembangan yang amat banyak, namun bagi Gwat Kong tidak ada bagian-bagian yang luar biasa. Kalau saja permainan ilmu tongkat dari Sin Seng Cu itu tidak digerakkan dengan lweekang dan ginkang yang sedemikian tinggi tingkatnya, pemuda ini merasa sanggup untuk menghadapinya dan mengalahkannya.

Memang betul, ilmu tongkat yang dimainkan Sin Seng Cu, ternyata masih jauh untuk dapat melawan Sin-hong-tung-hoat yang dimainkan oleh Bok Kwi Sianjin. Tadi ketika melawan Gwat Kong, ia dapat mendesak mengatasi pemuda itu oleh karena dalam hal lweekang dan ginkang, ia masih lebih unggul.

Akan tetapi kini, menghadapi Bok Kwi Sianjin yang tingkat tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh tidak berada di sebelah bawahnya. Bahkan lebih menang sedikit, tentu saja ia menjadi sibuk dan sebentar saja, setelah mereka bertempur selama lima puluh jurus, Sin Seng Cu mulai merasa kewalahan! Beberapa kali ia kena dibingungkan oleh gerak tipu silat dari Sin-hong-tung-hoat dan sama sekali tidak dapat menduga bagaimana perubahan dari serangan selanjutnya. Dengan demikian, maka ia tidak berani membalas dengan serangan, hanya menanti datangnya serangan lawan yang membuatnya terdesak dan mulai main mundur.

Bok Kwi Sianjin tidak mau memberi kesempatan dan terus menyerang dengan pukulan-pukulan terlihai dari ilmu tongkatnya. Akan tetapi kakek ini tidak bermaksud kejam dan tiap kali ujung tongkatnya telah berhasil ‘memasuki’ lowongan pertahanan Sin Seng Cu, senjata itu tidak diteruskan, melainkan ditariknya kembali secepatnya tanpa melukai Sin Seng Cu.

Tosu dari Hoa-san-pai itu adalah seorang ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya. Maka tentu saja iapun tahu akan hal ini dan maklum pula bahwa apabila dikehendaki, Bok Kwi Sianjin pasti telah berhasil merobohkannya. Sin Seng Cu terkenal sebagai seorang tosu yang belum berhasil menundukkan ‘tujuh musuh di dalam tubuh’ yakni perasaan-perasaan senang-susah, marah, malu dan sebagainya. Maka ia terkenal sebagai seorang yang tidak mau kalah oleh orang lain. Nafsunya masih besar dan kuat menguasai hati dan pikirannya. Oleh karena itu, ia tidak pernah mau mengalah terhadap siapapun juga, terutama dalam hal mengadu kepandaian silat.

Akan tetapi, ia bukanlah seorang bermuka tebal yang tak tahu diri. Maka menghadapi Bok Kwi Sianjin, ia tahu bahwa kepandaiannya masih belum dapat menandingi kesaktian Bok Kwi Sianjin. Kalau ia teruskan dan sampai ia kena dirobohkan atau terluka, ia mendapat malu yang lebih besar lagi, maka cepat ia meloncat jauh ke belakang dan berkata,

“Bok Kwi, kau benar-benar lihai! Biarlah lain kali aku minta berkenalan lagi dengan tongkatmu!” Setelah berkata demikian tosu itu berkelebat cepat dan pergi dari tempat itu.

Bok Kwi Sianjin tertawa dan berkata kepada Gwat Kong, “Muridku, lain kali kau lah yang wajib menghadapinya!”

Gwat Kong buru-buru berlutut dan berkata, “Akan tetapi tosu itu lihai sekali suhu.”

“Memang dia lihai, namun bukan tak dapat terkalahkan! Ingatlah Gwat Kong, makin tinggi seseorang mengangkat diri sendiri, makin banyak bahaya ia akan jatuh ke bawah secepatnya. Sin Seng Cu terlalu mengagulkan kepandaian. Menilai kepandaian sendiri terlampau tinggi dan memandang rendah kepada orang-orang lain. Oleh karena itulah maka di antara saudara-saudaranya, yakni tokoh-tokoh besar dari Hoa-san-pai, hanya dia seorang yang mempunyai banyak musuh. Kalau hari ini ia tidak mengangkat diri sendiri terlalu tinggi, tak mungkin dia mengadu tongkat dengan aku dan ia takkan menerima kekalahan pula. Ha ha ha! Percuma saja dia menjadi seorang tosu yang sudah bertapa puluhan tahun. Ternyata ia belum dapat melihat bahwa tidak ada perbedaan antara atas dan bawah maupun antara tinggi dan rendah. Jangan kira bahwa siapa yang berada di atas itu lebih tinggi dari pada yang berada di bawah! Yang berpikir demikian, ia akhirnya akan kecele dan kecewa! Gwat Kong, kau tak usah takut terhadap seorang seperti Sin Seng Cu. Lebih berhati-hatilah terhadap seorang yang nampaknya bodoh tak berkepandaian karena biasanya mereka inilah yang benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Tepat sekali kata-kata tua yang menyatakan bahwa gentong penuh air takkan berbunyi.”

Gwat Kong menghaturkan terima kasih dan berjanji akan memperhatikan semua petunjuk dan petuah suhunya. Kemudian atas permintaan Bok Kwi Sianjin, Gwat Kong menuturkan asal mulanya ia belajar silat, yakni dari penemuan kitab ilmu silat Garuda Sakti.

Mendengar penuturan ini Bok Kwi Sianjin menjadi kagum sekali dan menarik napas panjang lalu berkata, “Aaah, kalau demikian, benar kata suhu dulu bahwa di antara empat ilmu yang terdapat di empat penjuru, Sin-eng Kiam-hoat boleh dibilang menduduki tempat tertinggi. Kau yang tadinya tidak pernah belajar silat, dengan hanya belajar sendiri tanpa pimpinan guru yang pandai, hanya membaca kitab pelajaran itu, telah mempunyai kepandaian lumayan dan dapat bertahan menghadapi Sin Seng Cu sampai tiga puluh jurus. Benar-benar hebat sekali! Kalau saja kau mempelajari Sin-eng Kiam-hoat lebih lama dan dipimpin oleh guru pandai, sekarang juga aku takkan dapat mengalahkan kau!”

Bok Kwi Sianjin lalu mengajak Gwat Kong pergi ke tempat pertapaannya, yakni di sebuah gua di tepi sungai Huang-ho. Karena gua ini berada di dalam hutan yang amat liar, maka tak ada orang lain yang mengetahui tempat ini, kecuali tokoh-tokoh persilatan kalangan atas yang telah kenal kepada Bok Kwi Sianjin. Akan tetapi, oleh karena merekapun tahu bahwa Bok Kwi Sianjin jarang berada di tempat pertapaannya dan seringkali pergi merantau, maka jarang ada kenalan yang datang ke tempat itu.

Gwat Kong mendapat latihan Sin-hong-tung-hoat atau Ilmu Tongkat Burung Hong Sakti yang amat lihai. Juga selain ilmu silat ini, ia mendapat tambahan latihan lweekang dan ginkang dan ilmu pedangnya juga mendapat kemajuan karena diberi petunjuk-petunjuk oleh Bok Kwi Sianjin yang memiliki dasar ilmu silat yang amat tinggi dan pengalaman yang luas sekali.

Setelah tinggal bersama kakek itu, Gwat Kong mendapat tahu bahwa selain tinggi ilmu silatnya, suhunya itu juga seorang ahli ilmu pengobatan maka ia menjadi kagum sekali dan sedikit-sedikit ia mempelajari pula ilmu pengobatan yang ada hubungannya dengan persilatan, misalnya cara menyambung tulang patah, mengobati luka-luka karena senjata tajam atau luka-luka dalam karena pukulan, serta obat-obat pemunah racun-racun yang banyak dipergunakan oleh ahli-ahli silat golongan hitam, yakni para penjahat yang berilmu tinggi.

Dengan amat rajin dan penuh ketekunan, Gwat Kong mempelajari ilmu kepandaian di tepi Huang-ho di bawah pimpinan dan gemblengan Bok Kwi Sianjin. Kakek ini merasa girang sekali melihat kerajinan muridnya dan merasa kagum karena pemuda itu ternyata amat cerdik dan cepat memperoleh kemajuan.

****

Kita tinggalkan dulu Gwat Kong yang sedang mengejar ilmu di tepi Sungai Huang-ho, di dalam hutan yang liar itu, dan marilah kita menengok keadaan Tin Eng yang tinggal di rumah pamannya, yakni Lie Kun Cwan atau Lie-wangwe (Hartawan Lie).

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tin Eng telah didatangi oleh Lui Siok yang menjadi suheng dari Gan Bu Gi dan gadis itu telah dikalahkan dalam sebuah pertempuran, bahkan pedangnya telah dipatahkan oleh Hoa-coa-ji Lui Siok si Ular Belang yang lihai itu. Karena kekalahan ini dan karena maklum akan kelihaian para pemimpin Hek-i-pang, maka Tin Eng makin giat mematangkan ilmu pedangnya di rumah pamannya.

Ia merasa lega karena ternyata bahwa Hek-i-pang selanjutnya tidak mengganggu kota Hun-lam lagi. Ia tidak tahu bahwa hal ini adalah karena kelicinan Song Bu Cu ketua dari Hek-i-pang yang tidak mau berlaku kasar, dan pula orang-orang Hek-i-pang itu masih merasa sungkan-sungkan untuk bermusuhan dengan Tin Eng, mengingat bahwa gadis ini adalah ‘calon isteri’ Gan Bu Gi dan puteri dari Liok Ong Gun, Kepala daerah Kiang-sui dan anak murid Go-bi-pai.

Di dekat kota Hun-lam terdapat sebuah danau yang cukup indah dan setiap datang musim semi, banyak sekali pelancong dari dalam dan luar kota menghibur diri di danau itu sambil berperahu atau duduk di tepi danau memancing ikan atau bercakap-cakap dengan sahabat-sahabat sambil minum arak.

Pada suatu hari, karena merasa kesepian berada di rumah seorang diri sedangkan pamannya mengurus perdagangan di luar kota, Tin Eng keluar dari rumah dan berpesiar seorang diri di danau itu. Telah dua kali Tin Eng mengunjungi danau Oei-hu itu dan ia senang sekali menyewa perahu kecil, mendayung seorang diri dan bermain-main di atas telaga yang indah.

Hari itu udara cerah dan di danau itu terdapat banyak sekali pelancong. Perahu-perahu kecil besar bergerak ke sana ke mari di atas danau yang airnya bergerak-gerak perlahan sehingga bunga-bunga teratai yang bertumbuh di pinggir telaga ikut pula bergoyang-goyang seakan-akan menari-nari gembira. Dari perahu-perahu itu terdengar suara orang bercakap-cakap dengan senang dan diselingi suara ketawa. Juga terdengar suara orang bernyanyi diiringi oleh yang-kim yang amat merdu.

Tin Eng menyewa sebuah perahu kecil yang pada saat seperti itu jumlah sewanya dinaikkan semuanya oleh tukang perahu. Saat-saat seperti itu merupakan saat yang baik dan menguntungkan bagi para tukang perahu oleh karena para pelancong itu, terutama yang datang dari luar kota, amat berani membayar mahal untuk perahu-perahu yang mereka sewa.

Perahu yang disewa oleh Tin Eng biarpun kecil, akan tetapi cukup indah dengan kepala perahu diukir seperti seekor ular besar menjulurkan lidahnya. Tin Eng mendayung perahunya ke tengah dengan gembira sekali. Banyak mata pemuda-pemuda pelancong memandang kagum kepada gadis yang mengenakan pakaian biru dengan lengan baju agak pendek itu sehingga nampak sampai di atas pergelangan tangan.

Sungguhpun mereka merasa kagum akan kecantikan Tin Eng dan merasa heran karena melihat seorang gadis muda yang cantik jelita berpesiar seorang diri bahkan mendayung perahu seorang diri pula. Akan tetapi melihat sikap dan gerak-gerik Tin Eng, mereka dapat menduga bahwa gadis itu tentulah seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian silat dan bukan seorang gadis biasa. Oleh karena itu, mereka tidak berani berlaku kurang ajar hanya memandang dengan kagum.

Tentu saja mereka ini terdiri dari laki-laki yang datang dari luarkota Hun-lam. Oleh karena orang-orang dari Hun-lam sendiri sebagian besar telah tahu dan kenal gadis ini, yang bukan lain ialah Sian-kiam Lihiap si pendekar Wanita Pedang Dewa yang telah mengobrak-abrik penjahat-penjahat yang mengganggu Hun-lam. Ketika Tin Eng tiba di tempat itu, mereka ini lalu memberi hormat dengan menjura atau menganggukkan kepala yang dibalas oleh Tin Eng dengan anggukan kepala dan senyuman manis.

Melihat betapa banyak orang agaknya kenal dan menghormati gadis muda itu, orang-orang dari luar kota segera mengajukan pertanyaan kepada orang-orang Hun-lam, dan yang ditanya dengan senang hati dan bangga menceritakan keadaan dan kelihaian Tin Eng. Tentu saja dengan bumbu dan tambahan betapa dara jelita itu seorang diri telah menghalau pergi ratusan perampok.

Bahkan di antara mereka itu ada yang secara berani mati menuturkan bahwa Tin Eng adalah sebangsa Kiam-hiap, pendekar pedang yang memiliki Hui-kiam (pedang terbang) dan yang dapat mengambil kepala penjahat dari jarak puluhan tombak dengan hanya melontarkan pedangnya yang dapat terbang, memenggal kepala lawan dan membawa kepala itu kembali kepada si gadis. Biarpun penuturan ini simpang siur dan dilebih-lebihkan, akan tetapi cukup untuk membuat para pendengarnya meleletkan lidah dan kini mereka memandang ke arah Tin Eng dengan lebih kagum lagi.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: