Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 19

TIN ENG tidak memperdulikan itu semua dan ia pura-pura tidak melihat pandang mata orang-orang yang ditujukan kepadanya dengan kagum, akan tetapi segera mendayung pergi perahunya menuju ke tengah danau. Ia tidak tahu bahwa di antara sekian banyak pendengar yang menjadi kagum mendengar dongeng dan obrolan orang-orang Hun-lam itu terdapat dua orang muda yang cukup menarik perhatian.

Mereka ini adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia mereka paling banyak delapan belas tahun akan tetapi sikap mereka menyatakan bahwa mereka itu selain agung dan tampan, juga bersikap gagah seperti orang-orang yang pandai ilmu silat. Gadis ini berbaju hijau, bercelana hitam dan wajahnya cantik manis dengan rambut dikuncir yang melambai ke belakang punggung. Di atas rambutnya sebelah kanan terdapat sebuah hiasan rambut bunga emas.

Pemudanya tampan dan gagah, tidak memakai topi dan rambutnya yang panjang dan hitam juga dikuncir ke belakang seperti biasa pemuda-pemuda bangsawan-bangsawan pada waktu itu. Bajunya putih dan celana Hitam, terbuat dari pada bahan-bahan yang mahal.

Setelah mendengar penuturan orang-orang Hun-lam itu, mereka berdua memandang ke arah Tin Eng dengan penuh perhatian. Kemudian mereka menjauhkan diri dari orang banyak dan bicara bisik-bisik, lalu menyewa perahu dan mendayungnya ke tengah danau.

Setelah berada di tengah-tengah danau itu, Tin Eng melepaskan dayungnya ke dalam perahu dan membiarkan perahunya bergerak perlahan. Ia menikmati pemandangan di sekitarnya sambil duduk termenung. Pikirannya makin melayang jauh ketika sayup-sayup ia mendengar suara penyanyi wanita dari sebuah perahu besar menyanyikan lagu asmara yang mengelus hati.

Ia lalu mendayung perahunya mendekat, karena suara itu merdu benar dan ia ingin mendengar kata-katanya lebih jelas. Setelah berada dekat, lagu asmara itu diulangi lagi dengan suara merdu dari penyanyi di dalam perahu besar dan kini ia dapat mendengar dengan jelas.

Danau Oei dengan airnya yang seperti kaca,

Bagaikan hati seorang teruna yang setia!

Biarpun musim bunga datang dan pergi pula.

Biarpun teratai jelita akan lenyap sebelum lama

Danau Oei tetap menanti ……… menanti setia!

Ah, betapa inginku menjadi teratai jelita.

Mempunyai kekasih yang demikian setia …….!

Betapa inginku ……… menjadi teratai jelita ……!

Lagu asmara yang dinyanyikan dengan suara merdu merayu ini membawa Tin Eng ke alam lamunan yang lebih tinggi. Ia menatap permukaan air yang penuh bayang-bayang indah dari luar dan tiba-tiba ia melihat wajah orang di dalam bayangan air yang ketika diperhatikannya betul-betul ternyata adalah bayangan wajah Gwat Kong! Tin Eng terkejut dan sadar dari lamunannya, dan ketika ia memandang kembali ke dalam air, ternyata bayangan itu telah lenyap. Mengapa tanpa terasa wajah pemuda itu terbayang? Ia suka dan kagum sekali kepada pemuda itu, akan tetapi cinta …..?

Ah, ia tidak mengerti. Ketika Gwat Kong masih menjadi pelayan, ia telah suka kepada pemuda itu tanpa disertai kekaguman. Dan tentang kekaguman ini dulu iapun kagum kepada Gan Bu Gi. Dan ternyata bahwa kini jangankan mencinta, bahkan ia merasa benci kepada pemuda she Gan itu!

Kata-kata dalam lagu tadi membuat ia berpikir-pikir tentang cinta dan sampai saat itupun ia tidak tahu apakah ia mencinta Gwat Kong. Memang mendalam sekali isi kata-kata lagu itu dan iapun suka menjadi seperti teratai jelita kalau mempunyai kekasih yang demikian setia air danau Oei-hu. Ia tahu bahwa Gwat Kong mencintainya. Hal ini telah diutarakan oleh pemuda itu ketika mabok di rumahnya dan pengutaraan itu dulu telah membuatnya menjadi marah sehingga hampir saja ia membunuh pemuda itu!

Akan tetapi, sesungguhnya kemarahan itu bukanlah sekali-kali karena Gwat Kong karena mencurahkan cintanya dengan ucapan-ucapan penuh sindiran itu. Akan tetapi adalah karena tuduhan-tuduhan Gwat Kong yang mengatakan bahwa ia tidak berjantung tidak kenal budi dan menyindir pula menyatakan bahwa setelah bertemu dengan Gan Bu Gi, lalu lupa kepada pemuda itu yang hanya seorang pelayan. Bahwa ia tergila-gila oleh harta dan kedudukan!

Akan tetapi, ia maklum bahwa tentu Gwat Kong menduga bahwa ia marah karena tidak sudi mendengar pengakuan cinta pemuda itu yang dianggapnya rendah! Dengan demikian, dalam anggapan Gwat Kong, ketika pemuda itu masih menjadi pelayan, ia tidak menyukainya, dan sekarang setelah diketahuinya bahwa Gwat Kong ternyata pandai ilmu silat bahkan putera pembesar pula, apakah ia akan menyatakan cintanya kepada pemuda itu?

Memikirkan hal ini, tiba-tiba wajah Tin Eng menjadi merah. Tentu, tentu Gwat Kong akan berpikir demikian dan tentu pemuda itu akan memandangnya sebagai seorang gadis yang rendah budi, yang hanya memandang keadaan dan tergila-gila oleh pangkat dan kedudukan. Seorang gadis yang dulu membenci pemuda pelayan, akan tetapi berbalik pikir karena melihat bahwa pelayan itu ternyata seorang putera pembesar yang pandai! Ah, tidak! Aku tak boleh merendahkan diri semacam itu!

Demikian Tin Eng berpikir dengan marah kepada diri sendiri. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa berduka karena semenjak Gwat Kong lari dari rumah, semenjak ia menusuk dada pemuda itu, telah timbul perasaan yang aneh dalam hatinya terhadap Gwat Kong. Perasaan itulah yang membuat ia mengeluarkan air mata apabila teringat akan luka di lengan pemuda itu akibat ujung pedangnya. Dan perasaan itu pulalah yang memperkuat hatinya sehingga terpaksa ia melarikan diri dari rumah ketika ayahnya hendak memaksa dia kawin dengan Gan Bu Gi.

Dalam keadaan masih dimabok lamunan, Tin Eng tidak melihat atau mendengar ketika sebuah perahu lain dengan cepat meluncur ke arah perahunya, seakan-akan hendak menubruk perahunya!

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari sebuah perahu yang juga meluncur cepat menuju ke tempat itu, “Adik Tin Eng! Awas perahu di sebelah kanan!”

Terkejutlah Tin Eng yang sadar dari lamunannya. Ia cepat menoleh dan melihat sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh seorang pemuda dan seorang gadis, sedang meluncur cepat ke arah perahunya sendiri, hanya terpisah setombak saja lagi! Dua orang penumpangnya itu kini memegang dayung mereka untuk mendorong perahu Tin Eng yang menghadang di jalan.

Tin Eng terkejut karena maklum bahwa dorongan itu akan berbahaya sekali bagi perahunya karena kalau terlalu keras bisa membuat perahunya terguling. Maka ia lalu cepat menyambar dayungnya dan menggerakkan dayungnya itu cepat-cepat ke kanan sambil membentak,

“Minggir!” Tin Eng menggunakan tenaga lweekangnya dan dengan cepat dayungnya digerakkan menyapu dua dayung pemuda dan gadis itu yang segera tertangkis dan terpental hampir terlepas dari pegangan! Tin Eng tidak berhenti dengan tangkisan itu saja oleh karena kepala perahu itu hampir menumbuk perahunya, sehingga keadaan masih tetap berbahaya. Ia lalu membungkukkan tubuhnya dan dayungnya cepat sekali didorongkan ke arah kepala perahu itu yang segera meluncur lewat di dekat kepala perahunya dan tubrukan hebat dapat digagalkan.

Akan tetapi, dorongannya yang keras itu membuat perahu yang ditumpangi oleh kedua anak muda itu miring dan hampir terguling. Tiba-tiba kedua anak muda itu berseru keras dan tubuh mereka telah melompat ke atas dengan gerakan yang amat ringan! Perahu yang kosong itu menjadi balik kembali kedudukannya dan barulah kedua orang muda itu melompat turun di dalam perahunya.

Tin Eng merasa kagum melihat pertunjukan ginkang dan ketabahan ini. Akan tetapi ia merasa mendongkol juga mengapa mereka seakan-akan sengaja hendak menggulingkan perahunya. Selagi ia hendak menegur, mereka telah menoleh dan tersenyum kepadanya sambil berkata,

“Lihiap, maafkan kami!” lalu mereka mendayung perahu mereka dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Tin Eng teringat akan seruan orang yang memperingatkannya tadi, maka ia lalu menengok ke arah belakang dan kedua matanya terbelalak girang ketika ternyata olehnya bahwa yang tadi memanggilnya adalah seorang gadis cantik dan gagah yang sedang mendayung perahunya dengan kecepatan luar biasa menuju ke arahnya. Gadis itu bukan lain adalah Dewi Tangan Maut Tan Kui Hwa, dara perkasa anak murid Hoa-san-pai yang dulu pernah bertemu dengan dia dan menolongnya ketika ia hampir menjadi korban para bajak.

“Enci Kui Hwa ….! serunya gembira dan mendayung perahu menyambut kedatangan si Dewi Tangan Maut.

Kui Hwa tersenyum manis. Gadis ini nampak cantik dan gagah sekali dengan baju hijau, ikat kepala merah, ikat leher dan sabuk hitam. Gagang pedangnya nampak tersembul dari balik punggungnya.

Pertemuan yang tak tersangka-sangka dengan Tan Kui Hwa si Dewi Tangan Maut di atas danau Oei-hu itu benar-benar mendatangkan kegembiraan luar biasa kepada Tin Eng. Setelah perahu mereka berendeng, Tin Eng lalu melompat ke dalam perahu Kui Hwa dan memeluk gadis itu dengan gembira sekali.

“Enci Kui Hwa, sekali lagi kaulah orangnya yang menolongku dari bahaya, kini bahaya terguling dari perahu.”

“Tin Eng, mengapa kau tidak mengejar mereka? Dua orang kurang ajar itu terang-terangan sengaja hendak menubruk perahumu dan membuat kau terlempar ke dalam air! Mereka perlu diberi hajaran!”

Tin Eng memandang dengan senyum simpul. “Wah, enci Kui Hwa, kau benar-benar masih galak sekali, membikin aku takut saja!”

Kui Hwa balas memandang dan melihat sinar mata kawannya. Ia tertawa geli dan lenyaplah kekerasan yang tadi membayang pada wajahnya yang cantik, ketika ia marah terhadap dua orang di dalam perahu yang menubruk perahu Tin Eng tadi. “Ah, jangan kau menggoda adik Tin Eng. Kujiwir nanti bibirmu yang merah itu!”

Memang semenjak pertemuannya yang pertama dengan Kui Hwa, Tin Eng merasa tertarik dan suka sekali kepada pendekar wanita ini. Karena dari sikap gadis ini terbayang kekerasan hati, dan kejujuran, dan sifat-sifat yang amat baik, yakni bencinya terhadap segala macam kejahatan. Hanya harus diakui bahwa gadis ini memiliki watak yang amat ganas dan tak kenal ampun. Sebaliknya Kui Hwa yang belum pernah mempunyai kawan wanita yang amat baik kepadanya, merasa suka pula kepada Tin Eng.

“Adik Tin Eng, bukankah kau yang disebut orang Sian-kiam Lihiap di kota Hun-lam?”

“Eh, eh bagaimana kau bisa tahu akan hal itu, enci Kui Hwa?”

Kui Hwa tersenyum. “Namamu cukup terkenal, siapa yang tidak mengetahuinya?”

Kini Tin Eng merasa gemas. “Sekarang akulah yang ingin menjiwir bibirmu, enci!”

Kui Hwa tertawa, lalu berkata dengan sungguh-sungguh,

“Adikku yang manis, terus terang saja sudah dua hari aku berada di Hun-lam! Aku telah mendengar tentang nama Sian-kiam Lihiap dan Kang-lam Ciu-hiap yang menggemparkan kota Hun-lam, yang namanya dipuji-puji setinggi langit. Akan tetapi sungguh mati aku tidak pernah mengira bahwa Sian-kiam Lihiap adalah kau sendiri. Kau agaknya jarang keluar, maka aku tak dapat bertemu dengan kau, dan karena tadi melihat kau berada di dalam perahu seorang diri maka mudahlah bagiku untuk menduga bahwa Sian-kiam Lihiap tentulah kau! Siapa lagi ahli pedang yang patut disebut Pendekar Wanita Pedang Dewa selain kau?”

“Cici, kau terlalu memuji, padahal orang yang dipuji-puji ini baru beberapa hari yang lalu telah dikalahkan oleh orang lain secara memalukan sekali. Sebutan itu sebenarnya tak patut bagiku dan hanya membuat aku malu saja.”

Tan Kui Hwa memandang tajam lalu berkata. “Apakah yang mengalahkan kau itu Song Bu Cu dan Lui Siok, kedua pangcu (ketua) dari Hek-i-pang?”

Tin Eng memandang kagum. “Enci, matamu benar-benar awas. Agaknya tidak ada sesuatu yang tak kau ketahui! Kau benar-benar hebat dan luas pengetahuanmu. Memang benar, aku telah dikalahkan oleh Lui Siok si Ular Belang! Bagaimana kau bisa tahu?”

“Adikku yang baik, aku tidak tahu apa-apa, hanya dugaan saja. Kalau kau tidak terlalu banyak bersembunyi di dalam kamar dan suka keluar pintu melakukan perantauan seperti aku maka bagimu juga akan mudah saja menduga-duga hal-hal itu. Aku tahu bahwa kau dan Kang-lam Ciu-hiap telah mengobarak-abrik anggauta Hek-i-pang di kota Hun-lam, sedangkan aku telah tahu pula bahwa sarang Hek-i-pang berpusat di Tong-kwan dengan diketuai oleh Song Bu Cu dan Lui Siok yang lihai! Kepandaian mereka berdua itu memang tinggi sekali, sehingga aku sendiripun tidak akan dapat melawan mereka. Maka, setelah kau mengobarak-abrik anggauta Hek-i-pang, lalu siapa lagi kalau bukan mereka berdua yang datang membalas dendam dan mengalahkan kau?”

“Ah, hal ini hanya menunjukkan kecerdikanmu, enci Kui Hwa.”

“Siapa bilang aku cerdik! Saat ini ada dua hal yang membuat aku merasa menjadi sebodoh-bodohnya orang!”

Sambil tertawa Tin Eng bertanya, “Apakah gerangan dua hal itu?”

“Pertama melihat kau masih segar bugar dan bahkan bertambah cantik setelah kau tadi bilang pernah dikalahkan oleh Lui Siok. Aku kenal Lui Siok sebagai seorang kejam dan aneh sekali kalau dia atau Song Bu Cu mau mengampunkan kau yang telah merusak pekerjaan anak buah mereka! Nah, hal itulah yang membikin aku menjadi bingung dan tak dapat menjawab. Kedua kalinya, aku heran sekali melihat mengapa kau tidak mengejar dua orang muda yang tadi sengaja menubruk perahumu. Apakah benar-benar kau telah menjadi seorang yang demikian sabarnya?”

Tin Eng menarik napas panjang dan menjawab, “Cici, jawaban kedua pertanyaan itu memang ada hubungannya. Pertama-tama kujawab pertanyaan kedua. Aku memang tidak mau mengejar kedua orang tadi yang menubruk perahuku. Oleh karena mungkin sekali mereka itu adalah orang-orang dari Hek-i-pang yang sengaja mencari perkara dan pula akupun merasa ragu-ragu karena melihat keadaan mereka itu seperti bukan orang jahat, sehingga mungkin sekali mereka tidak sengaja hendak menubrukku. Mengapa aku harus mencari-cari permusuhan baru sedangkan baru beberapa hari saja aku telah dikalahkan orang dan masih terasa mendongkol? Dan tentang pertanyaan pertama itu agak panjanglah penjelasannya.”

Tin Eng lalu menuturkan tentang pertempurannya melawan Lui Siok, dan menuturkan pula bahwa Lui Siok adalah suheng dari Gan Bu Gi, perwira muda yang telah dipilih oleh ayahnya untuk dikawinkan dengan dia, dan bahwa Lui Siok memandang muka Seng Le Hosiang maka tidak berani mengganggunya atau melukainya.

Kui Hwa mengangguk-angguk lalu berkata, “Masih baik bahwa dia tidak berani mengganggumu, kalau tidak, sukarlah bagimu untuk melepaskan diri dari bencana. Memang Lui Siok itu memiliki kepandaian tinggi, lebih-lebih Song Bu Cu yang menjadi ketua dari Hek-i-pang. Aku pernah bertemu dengan Song Bu Cu dan kalau tidak keburu datang kedua suhengku, tentu aku tewas dalam tangannya. Kau dan aku tak dapat menandingi mereka, adik Tin Eng!”

Si Dewi Tangan Maut menarik napas panjang dan nampak menyesal dan kecewa sekali. Lalu katanya gagah, “Akan tetapi, kalau kau tak dapat menahan sakit hatimu dan hendak membalas dendam sekarang juga, jangan takut, aku tentu akan membantumu menghadapi mereka!”

Tin Eng terharu dan memegang lengan Kui Hwa, “Enci Kui Hwa, mereka memang jahat dan perlu dibasmi, akan tetapi setelah tahu bahwa tenaga sendiri tak kuat menghadapi mereka namun terus maju menyerbu bukankah itu amat bodoh namanya dan sama halnya dengan membunuh diri? Takut sih tidak, akan tetapi lebih baik kita menanti saat yang lebih sempurna dan mencari kawan-kawan yang sehaluan untuk menyingkirkan serigala-serigala buas itu.”

Kui Hwa mengangguk-angguk. “Kau sekarang telah banyak maju, adikku! Dari ucapanmu tadi saja sudah menyatakan bahwa kau kini telah dewasa!”

“Aah, bisa saja kau memuji! Aku malah khawatir kalau-kalau kau menganggap aku pengecut dengan ucapan tadi.”

Kui Hwa memandang dengan sikap sungguh-sungguh. “Tidak Tin Eng. Biarpun terus terang kuakui bahwa adatku keras dan mudah marah, akan tetapi akupun sependapat dengan kau. Keberanian dan ketabahan harus disertai kesadaran dan perhitungan yang masak sebagaimana layak dilakukan oleh orang berakal. Keberanian yang dilakukan dengan serampangan dan serudukan bagaikan kerbau gila secara hantam kromo tanpa perhitungan sama sekali, tidak termasuk kegagahan, akan tetapi adalah kebodohan orang yang kurang pikir. Kita tidak menyerbu dan menghalau penjahat-penjahat itu pada waktu ini bukan karena kita takut. Akan tetapi karena kita menggunakan siasat, menanti saat baik di mana kekuatan kita melebihi mereka sehingga gerakan kita akan berhasil.”

“Terima kasih, cici. Sebetulnya kau hendak pergi ke manakah?”

“Aku hanya merantau saja tanpa tujuan tertentu, dan ketika aku mendengar nama besar Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap, aku menjadi tertarik dan menuju ke kota ini. Tidak tahu siapakah sebetulnya Kang-lam Ciu-hiap yang baru saja muncul telah membuat nama besar itu? Di mana dia dan anak murid mana?”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Kang-lam Ciu-hiap telah pergi meninggalkan Hun-lam. Kalau ia masih berada di sini, tak mungkin ada orang berani menggangguku dan Hek-i-pang pasti telah rusak olehnya. Sayang ia telah pergi. Namanya adalah Bun Gwat Kong dan kalau kau ingin mengetahui dari cabang persilatan mana ia datang, aku sendiripun tidak tahu. Hanya satu hal yang boleh kau ketahui bahwa dia itu boleh juga disebut …. guruku!”

“Apa???” Kui Hwa memandang dengan mata terbelalak. “Menurut berita yang kudengar, Kang-lam Ciu-hiap masih amat muda. Bagaimana bisa menjadi gurumu? Jangan kau main-main Tin Eng!”

“Aku tidak main-main, memang ilmu pedangku kudapatkan dari dia! Cici, hayo kau ikut aku ke rumah pamanku. Jangan pergi dulu sebelum ada sesuatu yang memaksamu. Dari pada seorang diri saja bukankah lebih senang kita berdua?”

“Ah, aku hanya akan mengganggu kau dan pamanmu saja.”

“Siapa bilang mengganggu? Paman jarang berada di rumah, selalu mengurus perdagangannya. Sedangkan aku selalu menganggur dan duduk termenung seorang diri di rumah.”

Sambil tertawa-tawa mereka lalu mendayung perahu ke pinggir. Kemudian setelah membayar sewa perahu, mereka lalu berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke rumah Lie-wangwe. Kebetulan sekali Lie-wangwe berada di rumah, maka Tin Eng lalu memperkenalkan kawannya itu yang diterima dengan ramah tamah oleh Lie Kun Cwan. Kemudian Tin Eng mengajak kawannya menuju ke taman bunga yang indah di mana mereka bercakap-cakap dengan gembira sambil menikmati hidangan yang dikeluarkan oleh pelayan.

Belum lama kedua orang gadis itu bercakap-cakap, seorang pelayan memberitahukan bahwa di luar ada dua orang muda datang minta bertemu dengan Sian-kiam Lihiap.

“Bagaimana macamnya orang-orang itu?” tanya Tin Eng.

“Mereka adalah seorang pemuda yang cakap dan seorang gadis yang cantik, siocia,” jawab si pelayan. “Katanya mereka minta bertemu untuk menyampaikan hormatnya dan katanya tadi mereka telah bertemu dengan siocia di danau Oei-hu.”

Tin Eng dan Kui Hwa saling pandang. Tak salah lagi, kedua orang itu tentulah dua orang penumpang perahu yang menubruk perahu Tin Eng tadi. Apakah kehendak mereka datang?

“Suruh mereka datang ke taman ini, Tin Eng,” kata Kui Hwa.

“Persilahkan mereka masuk dan antarkan mereka datang ke sini, kemudian kau ambil tambahan hidangan untuk mereka!”

Pelayan itu mundur dan melakukan tugas yang diperintahkan itu. Tak lama kemudian, benar-benar saja kedua orang yang tadi menubruk perahu Tin Eng, muncul dari pintu taman dengan wajah nampak bersungguh-sungguh. Setelah bertemu dengan Tin Eng, mereka berdua lalu menjura dan pemuda itu berkata, “Maafkan kami sebanyak-banyaknya kalau kami mengganggu kepada lihiap!”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Ah, sama sekali tidak. Silahkan ji-wi (kalian berdua) duduk.”

“Terima kasih, lihiap. Kami tak berani mengganggu terlalu lama. Terus terang saja kedatangan kami ini tak lain mohon pengajaran sedikit dari lihiap tentang ilmu pedang untuk meluaskan pengetahuan kami yang amat dangkal!”

“Hmm, bagus!” tiba-tiba Tan Kui Hwa berkata menyindir. “Dengan dayung tidak berhasil sekarang hendak menggunakan pedang!”

Pemuda dan gadis muda itu mengerling ke arah Kui Hwa, akan tetapi mereka tidak menjawab, bahkan tidak memperdulikan sama sekali, dan kini gadis cilik itu yang bertanya kepada Tin Eng.

“Bagaimana, lihiap? Sudikah kau bermurah hati dan memberi sedikit petunjuk kepada kami?” Sambil berkata demikian, gadis itu meraba-raba gagang pedangnya.

Tin Eng di atas perahu telah mengukur tenaga dan kegesitan mereka menangkis dengan dayungnya, maka ia maklum bahwa kepandaian kedua anak muda ini tidak seberapa. Hanya ia merasa heran sekali mengapa dua orang ini mengejar-ngejarnya! Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik kelakuan mereka itu.

Tiba-tiba Kui Hwa yang juga mempunyai pikiran yang sama dan mempunyai sifat yang suka akan kejujuran dan terus terang, berkata, “Kalian berdua anak kecil ini mengapa mengejar-ngejar Sian-kiam Lihiap? Apakah yang tersembunyi di balik sikap kalian yang mencurigakan ini? Awas, jangan kalian berani main gila!”

Kedua orang itu merasa terhina, akan tetapi tidak marah, sedangkan Tin Eng juga menyambung. “Benar juga kata-kata kawanku itu. Sebetulnya mengapakah kalian hendak mengajak pibu (adu kepandaian) dengan aku?”

“Terus terang saja lihiap. Kami berdua kakak beradik pernah mempelajari sedikit permainan pedang dan ketika kami tiba di kota ini, kami mendengar tentang namamu sebagai Pendekar Wanita Pedang Dewa. Maka kami merasa amat tertarik karena kami yakin bahwa lihiap tentu memiliki ilmu pedang yang amat tinggi. Pertemuan kita yang amat kebetulan di danau tadi membuat kami kakak beradik mengambil keputusan untuk mencoba lihiap dan ternyata dugaan kami tak meleset. Lihiap memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai. Hanya kami belum merasa puas kalau belum melihat ilmu silat lihiap. Maka, mohon sedikit pengajaran dari lihiap!”

Alasan ini masih meragukan hati Kui Hwa. Akan tetapi Tin Eng telah merasa puas dan ia segera melompat ke atas jalan taman yang sengaja dibuat dengan lantai tembok dan biasanya ia berlatih silat di tempat ini. Sambil berdiri di tengah-tengah lorong tembok itu, ia tersenyum dan berkata,

“Baiklah, cabut pedang kalian dan mari kita main-main sebentar!”

Kedua anak muda itu saling pandang, lalu mencabut pedangnya. Akan tetapi melihat Tin Eng berdiri dengan tangan kosong, pemuda itu berkata sangsi,

“Lihiap, kuharap lihiap segera mengeluarkan pedang untuk menghadapi kami kakak beradik.”

Tin Eng tersenyum. “Ini hanya main-main saja, mengapa mesti berpedang? Hayo, jangan sangsi-sangsi, gerakkanlah pedang kalian, hendak kulihat sampai di mana tingkat pelajaranmu.”

Sementara itu, Kui Hwa berdiri tak jauh dari situ sambil memandang dengan khawatir. Ia menganggap perbuatan Tin Eng ini terlalu gegabah maka diam-diam ia bersiap sedia menjaga kalau-kalau kawannya itu akan dicelakakan oleh kedua orang muda yang mencurigakan itu.

Sementara itu, pemuda dan adik perempuannya itu telah bersiap pula dengan pedang masing-masing di tangan. Pemuda itu di sebelah kanan Tin Eng dan gadis cilik itu di sebelah kirinya. Tin Eng tersenyum lagi dan berkata,

“Hayo, jangan ragu-ragu. Kalian maju dan seranglah baik-baik!”

Bukan watak Tin Eng untuk menyombongkan kepandaiannya dan memandang rendah kepandaian lawan. Akan tetapi karena ia telah mengukur tenaga dan kegesitan kedua orang muda itu di atas perahu dan maklum bahwa kepandaian mereka tak perlu ditakuti, pula karena seperginya Gwat Kong, ia telah melatih ilmu silat tangan kosong Garuda Sakti dan kini ia ingin mencoba kepandaiannya ini.

“Maaf, lihiap!” Pemuda itu berseru dan mulai menyerang dengan tusukan pedangnya, juga adiknya menyerang dari samping kiri dengan gerakan indah.

Tin Eng segera mengelak dan mempergunakan ginkangnya yang telah memperoleh banyak kemajuan. Gerakannya gesit dan tubuh seakan-akan burung garuda beterbangan di antara sambaran pedang. Kedua tangannya dipentang ke kanan kiri atau ke depan belakang, menghadapi keroyokan kedua orang lawannya.

Benar saja sebagai dugaan semula, biarpun kedua orang muda itu agaknya telah mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai yang indah gerakannya, akan tetapi tingkat kepandaian mereka masih rendah, sehingga mudahlah bagi Tin Eng untuk menghadapi mereka ini.

Tin Eng bersilat memperlihatkan gaya silat Garuda Sakti sambil tersenyum manis dan diam-diam Dewi Tangan Maut Tan Kui Hwa memuji kelincahan kawannya itu. Ia dapat melihat betapa dalam waktu yang tak berapa lama, Tin Eng telah memperoleh kemajuan pesat sekali.

Setelah mereka bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, Tin Eng merasa sudah cukup dan tiba-tiba ia berseru keras. Dengan gerakan Garuda Sakti Hinggap Di Cabang, ia berdiri menghadapi pemuda itu dengan kaki kanan berdiri berjingkat dan kaki kiri diangkat tinggi ke kiri lengan kanan dengan jari-jari tangan terbuka menghadapi gadis yang berada di belakangnya.

Pemuda itu menyerang dengan menyabetkan pedangnya ke arah kaki kanan Tin Eng yang berdiri itu. Tin Eng berseru nyaring dan kaki kanannya tiba-tiba melompat ke atas. Pada saat itu, ia mendengar sambaran angin pedang gadis yang berada di belakangnya membacok kepalanya. Maka dalam keadaan melompat tadi dan tubuhnya masih di tengah udara, ia cepat mengayun diri ke depan menghindarkan kepalanya dari bacokan sambil tangannya bergerak cepat ke arah pergelangan tangan pemuda yang tak berhasil menyerampang kakinya tadi.

Pemuda itu hendak mengelak dan menarik kembali pedangnya, akan tetapi terlambat, gerakan Tin Eng lebih cepat darinya dan pergelangan tangannya telah kena ditotok oleh jari tangan Tin Eng. Ia berseru kesakitan dan pedangnya terlepas.

Pada saat itu juga, Tin Eng telah membalikkan tubuh dan sebelum gadis cilik itu sempat menyerang lagi, ia telah mendesak maju, menggerakkan tangan kiri mencengkeram ke arah muka gadis itu yang menjadi terkejut sekali dan miringkan kepala untuk mengelak. Akan tetapi ternyata bahwa serangan ini hanyalah gertakan saja, karena sebenarnya yang dikendaki oleh Tin Eng hanya untuk mengacaukan pandang mata lawannya dan ketika lawannya miringkan muka, tahu-tahu pedang di tangan lawannya telah kena dirampas dan kini pindah ke dalam tangannya.

Tin Eng sambil tersenyum melompat ke dekat Kui Hwa dan berkata, “Cukup, cukup …. kepandaian kalian tidak jelek hanya kurang latihan dan pengalaman!”

Bukan main terkejutnya hati kedua orang muda itu ketika melihat betapa tanpa terduga lebih dahulu, pedang mereka telah dapat dirampas dan dipukul jatuh. Mereka saling pandang dengan mata penuh arti, kemudian tiba-tiba mereka menghampiri Tin Eng dan menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu.

Tentu saja hal ini membuat Tin Eng menjadi gelagapan dan gugup sekali.

“Eh, eh …. apa-apaankah kalian ini? Kalau kalian bermaksud mengangkat guru kepadaku, jangan harap! Aku masih belum begitu tua untuk mengambil murid. Juga kepandaianku masih terlampau rendah!”

“Hmm, Hmm, mereka ini benar-benar mencurigakan. Hayo kalian katakan terus terang saja. Sebenarnya apakah kehendak kalian mengganggu Sian-kiam Lihiap?” tegur Kui Hwa yang tidak suka melihat segala macam kelakukan yang berahasia ini.

“Sian-kiam Lihiap, harap jangan salah mengerti. Bukan maksud kami untuk mengangkat guru, sungguhpun hal itu akan mendatangkan kebahagiaan bagi kami yang bodoh. Akan tetapi …. kami berdua mohon sudilah kiranya lihiap menolong kami, anak-anak yang amat sengsara ini ….”

Setelah berkata demikian, gadis cilik itu lalu menangis.

Tentu saja Tin Eng makin terheran-heran mendengar ini dan ia memandang kepada Kui Hwa yang mengerutkan keningnya. Tin Eng segera mengangkat bangun gadis itu sambil berkata,

“Tenanglah adik yang manis dan ceritakanlah dengan jelas semua maksudmu!”

Ia membelai rambut yang halus itu dan diam-diam dia merasa makin heran karena melihat sikap dan keadaannya, gadis cilik dan kakaknya ini bukanlah orang sembarangan. Kata-kata mereka diucapkan dalam bahasa yang baik dan sopan sebagaimana biasa diucapkan oleh orang-orang terpelajar. Pakaian mereka juga indah dan terbuat dari pada bahan yang halus, sedangkan sedangkan kulit muka mereka halus dan bersih, semua menunjukkan perawatan yang teliti. Siapakah mereka ini?

Gadis cilik itu ketika mendengar betapa Tin Eng menyebutnya adik yang manis, berubah sikapnya. Ia memeluk Tin Eng dan berkata,

“Cici yang gagah, selain kau agaknyatidak ada orang lain yang akan dapat menolong aku dan kakakku ini. Sebetulnya kami berdua …..” tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan mengerling kepada Kui Hwa. “Cici, siapakah kawanmu ini? Kalau boleh, aku ingin bicara dengan kau sendiri saja!”

Tin Eng tersenyum sedangkan Kui Hwa bermerah muka. “Jangan kau pandang rendah nona ini. Dia adalah Tan Kui Hwa yang disebut Dewi Tangan Maut! Biarpun ia berjulukan seram dan nampaknya galak, akan tetapi dia adalah seorang pendekar wanita yang kegagahannya jauh di atasku!”

Mendengar disebutnya nama yang amat terkenal ini, kedua orang muda itu menjadi pucat dan segera menghampiri Kui Hwa dan menjura.

“Tan-lihiap, mohon maaf sebanyaknya bahwa mata kami kakak beradik seakan-akan buta tidak melihat gunung Tai-san menjulang di depan mata!” kata pemuda tanggung itu.

Kui Hwa tersenyum menyindir. “Sudahlah tak perlu banyak peradatan ini. Lebih baik kalian segera menceritakan segala hal kepada Tin Eng dan aku, karena apa yang boleh diketahui oleh Tin Eng, boleh pula kuketahui, demikian sebaliknya. Sikap yang diliputi rahasia dan sembunyi-sembunyi, bukanlah sikap orang-orang gagah. Kalau tidak ada kepentingan lain, lebih baik kalian segera pergi saja, jangan mengganggu aku dan kawanku ini bercakap-cakap.”

Setelah mengetahui bahwa gadis yang nampaknya galak itu adalah pendekar wanita yang namanya telah terkenal sebagai pembasmi penjahat itu, kedua anak muda ini tak lagi merasa ragu-ragu untuk menceritakan riwayat mereka.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: