Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 2

Memang pemuda itu memakai jubah pendeta yang panjang dan berlengan baju lebar sekali maka tentu saja dalam pakaian seperti itu, gerakannya akan kurang leluasa. Akan tetapi, sambil tersenyum Gan Bu Gi menjawab,

“Ciangkun, ujian ini hanya main-main belaka, bukan? Biarlah siauwte tetap memakai jubah ini, hanya siauwte harap ciangkun suka menaruh kasihan kepadaku.” Biarpun Gan Bu Gi berkata demikian, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum hingga bagi Lie Bong seakan-akan pemuda itu mengejeknya dan memandang rendah. Menghadapinya dengan pakaian seperti itu saja berarti sudah memandangnya rendah, maka ia menjadi marah sekali.

“Kalau begitu, jangan kau menggunakan alasan bajumu itu kalau nanti kau roboh!” katanya sambil memasang kuda-kuda.

“Seranglah, ciangkun,” kata Gan Bu Gi yang masih tenang-tenang saja dan berdiri biasa seakan-akan tidak menghadapi lawan yang hendak menyerangnya. Tin Eng merasa geli dan juga heran melihat sikap pemuda itu dan ia menduga bahwa dalam satu-dua jurus saja Lie Bong tentu akan menjatuhkan.

“Awas seranganku!” Lie Bong berseru keras dan maju menyerang dengan gerakan Go-yang-pok-sit atau kambing lapar tubruk makanan. Pukulannya keras sekali dan gerakannya cepat hingga serangan pertama ini saja agaknya sudah cukup merobohkan lawan yang kurang gesit. Akan tetapi, dengan masih tenang pemuda itu mengelak ke samping hingga serangan lawan mengenai tempat kosong.

Lie Bong melanjutkan serangannya dengan pukulan Siok-lui-kik-ting atau Petir sambar kepala. Serangan kedua ini lebih hebat dan pukulan yang ditujukan ke arah kepala Gan Bu Gi itu. Kalau mengenai sasaran mungkin akan menghancurkan kepala pemuda itu. Sekali lagi pemuda itu mengelak dengan cepat luar biasa sehingga Lie Bong mulai merasa panas dan penasaran.

Ia tiada hentinya menyerang bertubi-tubi, kini tidak sungkan-sungkan lagi dan mengeluarkan serangan-serangan yang paling berbahaya. Namun sungguh mengherankan, jangankan mengenai tubuh pemuda itu, ujung baju yang panjang dari pemuda itu saja ia tak mampu menyentuhnya! Pemuda itu berkelebat ke kanan-kiri dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, gesitnya melebihi burung walet dan setelah menyerang belasan jurus, belum juga Lie Bong berhasil memukul lawannya.

Kini barulah para perwira merasa terkejut, sedangkan Tin Eng sendiri merasa kagum melihat kelincahan pemuda itu yang ternyata memiliki ilmu gin-kang atau keringan tubuh yang luar biasa sekali. Makin cepat Lie Bong menyerang, makin cepat pula pemuda itu bergerak sehingga sebentar saja tubuhnya seakan-akan menjadi tiga atau empat karena cepatnya gerakannya. Lie Bong mulai merasa pening karena ia tidak melihat dengan jelas ke jurusan mana lawannya mengelak dan tahu-tahu lawannya telah berada di kanan, di kiri, bahkan di belakangnya.

Tak terasa lagi Liok Ong Gun bertepuk tangan saking gembiranya.

“Gan-kongcu, balaslah, jangan sungkan!” teriaknya, lupa bahwa pertandingan itu sebetulnya hanya merupakan ujian bagi calon perwira itu.

Mendengar ini, Gan Bu Gi berkata kepada Lie Bong,

“Ciangkun, maafkan siauwte!” Baru saja kata-kata ini diucapkan, tahu-tahu Lie Bong memekik dan tubuhnya terlempar sampai dua tombak jauhnya, jatuh berdebuk dengan pantat di depan ke atas tanah sehingga debu mengepul ke atas dan ia merasa pantatnya sakit sekali!

Ternyata bahwa ketika ia sedang memukul, secepat kilat pemuda itu mengelak dan melompat ke samping dan ketika ia melanjutkan serangannya dengan sebuah tendangan, sambil mengelak pemuda itu lalu mendorong tubuh belakangnya dari samping dengan tenaga yang luar biasa besarnya sehingga tidak ampun lagi ia terbawa oleh tenaga tendangan dan dorongan itu sehingga terlempar jauh!

Terdengar suara terbahak-bahak dari Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin, dibarengi tepuk tangan Liok Ong Gun yang merasa kagum sekali.

Dengan mendongkol, malu, dan pemasaran Lie Bong merayap bangun dan hendak melawan dengan menggunakan senjata, akan tetapi ternyata bahwa tubuh belakangnya terasa sakit sekali sehingga ketika ia berdiri, ia merasa bahwa tak mungkin baginya untuk maju bertanding lagi. Ia hanya berdiri dan mengurut-urut pantatnya sambil meringis kesakitan!”

Sementara itu, empat orang perwira lainnya merasa penasaran sekali melihat betapa Lie Bong dipermainkan demikian mudahnya oleh pemuda itu. Thio Sin sebagai kepala perwira merasa penasaran dan melompat maju sambil menjura kepada Liok Ong Gun dan berkata,

“Taijin, oleh karena saudara Lie Bong sudah kalah dan tidak mungkin untuk melakukan ujian senjata, biarlah siauwte sendiri yang maju untuk melakukan ujian ini.”

Liok Ong Gun mengangguk dengan girang dan Thio Sin mencabut sepasang siang-kiam (sepasang pedang) yang tajam dan tipis. Ia terkenal sebagai ahli main siang-kiam yang jarang mendapat tandingan maka ia yakin bahwa kini ia akan dapat mengalahkan pemuda yang hendak mendesak kedudukannya itu. Hatinya merasa iri sekali melihat betapa Liok Ong Gun agaknya tertarik dan kagum sekali kepada Gan Bu Gi.

Setelah melompat dengan ringan dan gesitnya kehadapan pemuda itu, Thio Sin lalu berkata sambil menyilangkan sepasang pedangnya di dada.

“Gan-kongcu, harap kau suka mengeluarkan senjatamu agar kita dapat segera menguji kepandaian masing-masing. ” Dengan hati-hati Thio Sin menyebut “menguji kepandaian masing-masing” dan tidak menguji kepandaian pemuda itu, oleh karena ia menduga bahwa pemuda itu tentu berkepandaian tinggi dan belum tentu ia dapat mengalahkannya.

Gan Bu Gi balas menjura, “Ciangkun, biarlah kau saja yang mempergunakan senjata, siauwte akan menghadapimu dengan bertangan kosong saja. Bukankah kita hanya hendak main-main saja?”

Thio Sin marah sekali dalam hatinya karena jawaban ini. Biarpun tidak dikeluarkan untuk menghinanya akan tetapi maksudnya sama dengan memandang rendah. Ia adalah perwira kelas satu dikota Kiangsui, bahkan apabila ia menjadi perwira di kotaraja, sedikitnya akan menduduki kelas tiga. Ilmu silatnya tinggi dan sudah dikenal oleh semua orang. Apakah sekarang ia harus menghadapi seorang pemuda gunung yang bertangan kosong ini dengan senjatanya? Sungguh memalukan sekali. Jangankan sampai kalah, biarpun ia mendapat kemenangan, namanya akan jatuh dan ia akan ditertawakan orang karena sebagai seorang perwira tinggi ia melawan dan menjatuhkan seorang pemuda tak ternama yang bertangan kosong dengan menggunakan siang-kiam! Maka ia lalu berkata,

“Gan-kongcu, aku percaya bahwa kau memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya. Akan tetapi kalau kau tidak menghadapiku dengan senjata, terpaksa ujian ini tidak dapat dilanjutkan.”

Mendengar ucapan ini, Bong Bi Sianjin lalu bangun dari tempat duduknya dan berkata dengan suara keras,

“Ciangkun, kalau muridku sudah menggunakan senjata, maka pertandingan ini tidak akan menarik lagi. Akan tetapi oleh karena memang sudah menjadi peraturan, biarlah muridku mempergunakan senjata dan kau bersama tiga orang kawanmu itu maju berbareng hingga pertempuran ini akan menarik dan sedap ditonton! Bu Gi, kau pergunakanlah senjatamu, akan tetapi jangan yang tajam, cukup dengan jubahmu itu saja,” perintahnya kepada muridnya.

Gan Bu Gi mengangguk dan segera menanggalkan jubahnya yang panjang itu. Ternyata bahwa di sebelah dalam ia memakai pakaian yang ringkas dan kini ia nampak gagah sekali. Ia menggulung jubahnya itu dan memegang di tangan kanan, lalu berkata kepada Thio Sin,

“Ciangkun, kau telah mendengar usul suhu tadi. Harap kau dan ketiga orang kawanmu itu maju berbareng dan marilah kita main-main sebentar!”

Saking marah dan mendongkolnya melihat kesombongan Bong Bi Sianjin yang mengusul agar muridnya itu dikeroyok empat, Thio Sin tak dapat mengeluarkan kata-kata dan hanya memandang dengan mata terbelalak marah. Akan tetapi ketiga orang kawannya tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Mereka ini adalah tiga saudara yang disebut Kiangsui Sam-eng atau Tiga Pendekar Kiangsui karena sebelum mereka menjadi perwira-perwira pengawal Liok Ong Gun, memang mereka ini merupakan tiga saudara cabang atas dikota itu. Kepandaian mereka tidak rendah, hanya kalah sedikit saja dari Thio Sin, maka kini mendengar kesombongan itu, mereka menjadi marah sekali dan berbareng mereka melompat ke tengah lapangan sambil mencabut pedang masing-masing!

“Baik, kami akan maju bareng!” kata Thio Sin. “Akan tetapi, ini bukan kehendak kami.” Kemudian ia menghadapi Liok Ong Gun untuk minta perkenan pembesar itu.

Liok Ong Gun juga merasa penasaran ketika melihat betapa para perwiranya dipandang rendah. Ia ingin sekali melihat apakah benar-benar pemuda itu dengan sepotong jubah saja sanggup menghadapi keempat orang perwira yang memegang pedang, maka ia lalu mengangguk dan berkata,

“Karena mereka yang meminta, biarlah kalian mulai saja.”

Tin Eng merasa semakin kagum dan heran. Ia kagum melihat kelihaian pemuda itu dan heran melihat keberaniannya. Ia maklum bahwa empat orang perwira ayahnya itu memiliki kepandaian yang tidak rendah dan apabila mereka maju bersama, maka mereka merupakan merupakan lawan yang tangguh. Akan tetapi diam-diam ia merasa gembira oleh karena ia akan menyaksikan pertandingan yang benar-benar hebat.

Sementara itu, pelayan muda yang tadi masih mencabuti rumput dan hanya menonton pertandingan yang terjadi antara Gan Bu Gi dengan Lie Bong, kini juga tertarik sekali hingga lupa untuk melakukan pekerjaannya. Dengan tangan kiri memegang sekepal rumput yang sudah dicabut, ia berjongkok tanpa bergerak dan nongkrong di situ sambil memandang dengan hati berdebar.

Gan Bu Gi dengan tenangnya berdiri menghadapi empat orang perwira itu dengan jubah tergulung dalam tangannya. Sikapnya tenang, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya sehingga Liok Ong Gun makin lama makin kagum saja melihatnya. Pemuda yang baru berusia paling banyak dua puluh tahun itu benar-benar mengagumkan, baik kepandaian maupun keberaniannya.

Melihat sikap pemuda itu, Thio Sin lalu berkata sambil menahan marahnya, “Kongcu, kau sendiri yang memilih senjatamu, jangan kau menyesal kalau nanti roboh di tangan kami.”

“Tidak akan ada penyesalan dalam hal ini dan silahkan mulai, cuwi ciangkun!” jawab Gan Bu Gi yang memperlebar senyumnya. Pemuda ini merasa gembira sekali bukan karena kemenangannya, akan tetapi oleh karena ia maklum bahwa Tin Eng gadis bidadari itu sedang memandangnya dengan penuh perhatian dan ia mendapat kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya kepada dara jelita yang telah membetot hatinya.

Thio Sin dan kawan-kawannya lalu mulai menyerang dengan senjata mereka. Gerakan mereka itu gesit dan cepat sekali, setiap serangan yang mereka lakukan amat berbahaya. Akan tetapi pemuda itu dengan tenangnya lalu menggerakkan jubah di tangannya dan sekali gus saja semua senjata lawan dapat ditangkis dengan hebat. Empat orang perwira itu merasa terkejur sekali ketika merasa betapa tenaga yang keluar dari tangkisan itu hebat dan kuat sekali, maka mereka lalu maju lagi mendesak dari segala jurusan dengan berpencar. Sebentar saja pemuda itu terkepung dari empat penjuru dan datangnya serangan lawan bagai hujan. Akan tetapi ia segera berseru keras dan Tiba-tiba jubah di tangannya yang kini menjadi sebatang senjata yang keras dan kuat itu, diputar demikian cepatnya sehingga tubuhnya tertutup sama sekali oleh gulungan sinat senjata istimewa ini.

Tak terasa lagi Tin Eng berseru dengan suara nyaring, “Bagus sekali!”

Sementara itu, pelayan muda Bun Gwat Kong yang juga merasa kagum, tak terasa pula meremas-remas rumput digenggamannya sehingga menjadi hancur. Kini ia tidak berjongkok lagi akan tetapi berdiri dan memandang tanpa berkedip. Ia kagum melihat kehebatan permainan silat Gan Bu Gi dan diam-diam merasa iri hati melihat betapa senjata istimewa pemuda itu dapat melindungi dirinya sedemikian rupa terhadap kurunganlima batang pedang dari keempat perwira itu. Memang Gan Bu Gi hendak mendemonstrasikan kepandaiannya dan ia hanya memperlihatkan kekuatan menahan semua serangan itu tanpa membalas sedikit pun. Tiga puluh jurus lebih telah berjalan dan senjata empat orang perwira itu ternyata sama sekali tidak dapat mendesak padanya. Kini barulah mereka maklum dan mengakui keunggulan pemuda itu dan merasa kuatir karena tadinya mereka sama sekali tak pernah menyangka bahwa pemuda gunung itu demikian lihai.

“Bu Gi, rampas senjata mereka!” Tiba-tiba Bong Bi Sianjin berseru dengan gembira.

Mendengar perintah suhunya ini, Gan Bu Gi lalu berseru keras dan gulungan baju panjang di tangannya lalu bergerak secara luar biasa sekali. Kini baju itu bergulung-gulung dan sebentar saja ia berhasil melibat sepasang siang-kiam dari Thio Sin dan sekali membetot, sepasang pedang itu terlepas dari pegangan dan jatuh di atas lantai! Tiga pendekar Kiangsui terkejut melihat ini dan sebelum mereka sempat mengelak, pedang mereka telah terlibat pula dan terbetot sehingga terlepas dari pegangan pula!

Pada saat itu juga, Lie Bong yang berhati curang melihat kekalahan kawan-kawannya, dari belakang lalu mengirim tusukan dengan pedangnya tanpa memberi peringatan lebih dulu.

Tin Eng yang bermata tajam dapat melihat gerakan ini dan ia tak dapat menahan jeritannya, sedangkan pelayan muda yang berdiri di belakangnya lalu tanpa disadarinya menggerakkan tangan yang mengepal hancuran rumput tadi. Gerakan ini dilakukannya karena ia pun melihat hal itu dan terkejut. Maksudnya hendak mencegah kecurangan itu, akan tetapi karena ia tidak berani maju, maka tangannya secara otomatis lalu melempar bubukan rumput itu ke arah pedang yang ditusukkan!

Gan Bu Gi juga merasa datangnya angin tusukan senjata, maka secepat kilat ia memutar tubuh dan menggerakkan jubahnya untuk menangkis! Semua kejadian ini terjadi cepat sekali dan semua mata ditujukan ke arah Lie Bong dan Gan Bu Gi hingga tak seorangpun melihat datangnya hancuran rumput itu. Dengan tenaga yang luar biasa, hancuran rumput itu memukul pedang Lie Bong dan sambil berteriak keheranan, perwira ini merasa betapa pedangnya disambar oleh sebuah tenaga raksasa sehingga pedangnya terlepas dari pegangan! Sementara itu, jubah di tangan Bu Gi sudah menyambar ke arah tubuhnya. Akan tetapi, ‘senjata rahasia’ yang membentur dan melemparkan pedang Lie Bong tadi, terpental dan dengan tenaga yang masih hebat kini meluncur ke arah jubah Gan Bu Gi. “Brettt!” Jubah itu tertembus oleh hancuran rumput dan menjadi bolong!

Gan Bu Gi terkejut sekali dan cepat menarik kembali jubahnya yang ketika diperiksa ternyata telah menjadi bolong! Ia mengerling ke arah Tin Eng yang memandangnya dengan dada lega karena pemuda itu dengan secara lihai sekali telah menyelamatkan diri. Tak seorangpun tahu bahwa ada senjata rahasia yang aneh telah menolong pemuda itu. Orang satu-satunya yang tahu hanyalah Gan Bu Gi sendiri dan pemuda ini pun menyangka bahwa nona jelita itulah yang telah menolongnya, maka diam-diam ia menjadi girang sekali dan juga terkejut karena tak disangkanya bahwa nona itu sedemikian lihai sehingga tenaga sambitannya berhasil membuat jubahnya menjadi berlubang!

Dengan senyum manis Gan Bu Gi mengangguk ke arah Tin Eng dan berkata perlahan-lahan, “Terima kasih!”

Hal ini membuat Lie Bong merasa heran karena tadipun ia tak mengerti mengapa tiba-tiba pedangnya terlepas sedangkan jubah di tangan lawannya itu belum menyentuh sendjatanya. Juga Tin Eng merasa terheran karena ia tidak mengerti mengapa pemuda itu berterima kasih kepadanya. Yang paling merasa heran adalah si pelayan muda itu sendiri. Tanpa disengaja ia menyambit ke arah pedang Lie Bong dan melihat betapa benda lunak yang disambitkannya itu dapat melemparkan pedang perwira itu, bahkan menembus jubah di tangan Gan Bu Gi, ia merasa terheran-heran dan menjadi bengong! Kemudian ia lalu pergi dari situ, masuk ke dalam kandang kuda di mana ia duduk melamun sambil mengelus-elus kuda yang menjadi sahabat baiknya.

Sementara itu, Thio Sin dan kawan-kawannya lalu menjura kepada Gan Bu Gi dan dengan jujur berkata, “Gan taihiap benar-benar hebat! Kami berlima mengaku bahwa kau memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi dari pada kami. Sudah sepatutnya kalau kau diangkat menjadi Panglima Tertinggi di Kiangsui!”

Memang Thio Sin seorang yang cerdik. Tadinya ia merasa penasaran karena pemuda ini dianggap sebagai pendesak kedudukannya. Akan tetapi setelah menyaksikan betapa lihainya pemuda ini, ia merasa lebih baik menjadikannya sebagai sahabat dari pada sebagai musuh, maka ia lalu memuji-mujinya untuk mengambil hati.

Liok Ong Gun merasa girang bukan main. Ia menghampiri pemuda itu dan melepaskan ikat pinggang berikut pedangnya, diberikan kepada Gan Bu Gi sambil berkata, “Gan-hiante, mulai sekarang kau kuangkat menjadi kepala perwira di daerah Kiangsui ini dan terimalah pedangku ini sebagai tanda pangkatmu!”

Gan Bu Gi lalu menjatuhkan diri berlutut menghaturkan terima kasih.

Sementara itu, Bong Bi Sianjin dan Seng Le Hosiang juga menghampiri sambil tertawa tergelak-gelak.

“Liok Ong Gun,” kata Seng Le Hosiang. “Tugasku telah selesai dan pinceng merasa girang sekali bahwa kau dapat menerima Gan Bu Gi. Sekarang aku hendak kembali karena masih ada urusan lain yang harus pinceng selesaikan.”

“Pinto juga mau pergi, taijin. Tentang perjodohan itu, biarlah lain kali kita bicarakan! Bu Gi, berhati-hatilah dalam pekerjaanmu!”

Setelah berkata demikian, dua orang kakek pertapa itu berkelebat dan bagaikan dua ekor burung saja, tahu-tahu tubuh mereka telah berada di atas dinding yang mengelilingi gedung itu! Sekali lagi mereka melambaikan tangan kemudian berkelebat lenyap dari situ.

Tin Eng memandang semua itu dengan kagum dan ketika ia melihat betapa Gan Bu Gi sekali lagi memandangnya dengan mata mengandung penuh perasaan, ia menjadi malu. Wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat ia berlari masuk ke dalam gedung.

****

Bun Gwat Kong yang berdiri termenung di kandang kuda sambil mengelus-elus leher kuda itu masih saja terheran-heran. Ia lalu membungkuk dan mengambil sekepal makanan kuda yang sudah hancur, lalu ia sambitkan makanan kuda itu ke arah tiang dengan sekuat tenaga. Dengan mudah saja benda itu melesat ke dalam tiang kayu yang keras! Bukan main herannya sehingga ia bergidik sendiri karena ngerinya. Bagaimana ia bisa mempunyai kelihaian seperti itu?

Memang, di luar tahunya, pemuda ini memiliki kepandaian dan tenaga lweekang yang luar biasa sekali. Hal ini memang aneh sekali, akan tetapi baiklah kita berhenti sebentar untuk mengikuti pengalaman pemuda ini semenjak ia masih kecil sehingga ia menjadi pelayan di rumah gedung keluarga Liok.

Bun Gwat Kong ini sebenarnya adalah putera tunggal seorang tihu dikota Lam-hoat sebelah selatan. Ayahnya adalah seorang tihu yang amat adil dan bijaksana, serta jujur menjalankan tugasnya. Ketika Gwat Kong masih kecil, ayahnya, yakni Bun-tihu, memeriksa perkara seorang hartawan yang diadukan oleh orang-orang kampung karena memeras mereka dan merampas tanah hak milik rakyat tani. Sebagai seorang tihu yang adil, Bun-tihu menjatuhkan keputusan yang adil, mendenda hartawan itu dan merampas tanah itu untuk dikembalikan kepada yang berhak, orang-orang kampung yang miskin.

Hal itu tentu saja membuat hartawan she Tan itu menjadi sakit hati dan dengan pengaruh uangnya, Tan-wangwe (hartawan she Tan) itu lalu memfitnahnya kepada pembesar yang lebih tinggi pangkatnya dan dengan curang sekali ia menyuruh seorang penjahat untuk mencuri harta dan cap kebesaran pembesar itu lalu disembunyikan ke dalam kamar Bun-tihu. Kemudian Tan-wangwe mendakwa tihu itu sebagai seorang kepala pencuri yang diam-diam mengepalai serombongan pencuri untuk mengumpulkan harta kekayaan. Rumah Bun-tihu diperiksa dan benar saja, harta dan cap yang tercuri itu telah diketemukan di dalam kamarnya, sedangkan maling yang melakukan perbuatan itu pun lalu menyerahkan diri dan mengaku bahwa ia adalah anak buah Bun-tihu yang menjadi kepala gerombolan maling. Tentu saja semua ini adalah tipu muslihat Tan-wangwe yang sudah memberi suapan besar kepada pembesar itu sehingga Bun-tihu akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman. Diam-diam maling yang telah membantu itu dibebaskan, bahkan banyak mendapat hadiah dari Tan-wangwe.

Peristiwa ini merupakan malapetaka besar bagi keluarga Bun. Bukan hanya karena hukuman itu, akan tetapi yang lebih menyedihkan hati Bun-tihu ialah kehancuran namanya. Nama yang tadinya putih bersih dan yang dijaganya dengan baik itu tiba-tiba saja menjadi ternoda kotor dan hina. Ia tak kuat menahan kesedihannya dan akhirnya membunuh diri di dalam tahanan!

Nyonya Bun telah menjadi janda yang miskin karena setelah Bun-tihu ditangkap, harta bendanya dirampas semua dengan alasan bahwa harta benda itu datang dari hasil rampokan dan curian. Dengan kejamnya pembesar-pembesar atasan mengusir Nyonya Bun serta putera tunggalnya dari rumah itu. Nyonya ini lalu meninggalkan Lam-hoat dan dengan hati hancur, nyonya bangsawan yang tidak biasa hidup melarat ini merantau ke utara.

Ketika malapetaka itu menimpa keluarganya Bun Gwat Kong baru berusialima tahun dan anak kecil yang belum tahu apa-apa ini hanya dapat menangis di sepanjang perjalanan karena sebagai putera bangsawan ia pun tidak biasa melakukan perjalanan jauh dan sengsara seperti itu! Akhirnya ibu dan anak ini setelah mengalami kesengsaraan hebat, tiba di sebuahkota di sebelah utara Lam-hoat.Kota ini adalahkota Ki-hong dan di sinilah nyonya Bun memilih tempat tinggal. Mereka mondok di tempat seorang petani miskin dan nyonya Bun lalu mempergunakan kepandaiannya untuk membuat kain sulaman indah dan menyuruh puteranya menjual hasil kerajinan tangan itu ke rumah orang-orang hartawan. Karena hasil kerjanya memang indah dan bermutu tinggi, maka barang-barang itu laku baik dan mendatangkan penghasilan yang cukup untuk biaya sehari-hari.

Kalau ia mau, nyonya Bun tentu saja dapat pergi ke rumah orang tua atau keluarga lainnya yang terdiri dari orang-orang hartawan, akan tetapi nyonya ini mempunyai keangkuhan yang tinggi dan ia tidak mau menumpangkan diri membikin repot orang lain. Selain ini, ia pun merasa malu karena tahu bahwa nama keluarganya telah menjadi cemar karena peristiwa itu. Hatinya berduka dan sakit sekali kalau teringat betapa suaminya telah meninggal dunia dalam keadaan yang amat menggenaskan. Kalau dia tidak mengingat puteranya, Gwat Kong, tentu nyonya ini telah membunuh diri pula karena sedih dan malu.

Kini ia hidup hanya untuk putera tunggalnya. Dengan rajin ia mendidik puteranya itu dalam hal kepandaian membaca dan menulis. Gwat Kong belajar dengan tekun dan rajin sehingga ia dapat memiliki kepandaian itu dengan baik karena otaknya memang tajam. Selamalima tahun sehingga usianya menjadi sepuluh, Gwat Kong merupakan seorang anak yang rajin bekerja membantu ibunya dan rajin belajar pula hingga kesedihan hati ibunya banyak terhibur karenanya.

Akan tetapi, sudah menjadi lazimnya bagi seorang anak laki-laki untuk bermain-main dan bergaul dengan sesama kawannya. Di waktu senggang, Gwat Kong keluar dari rumah dan bermain-main dengan banyak kawan dikota itu dan memang sesungguhnya bahwa pergaulan itu mempengaruhi hidup dan tabiat seseorang. Setelah banyak bergaul dengan pemuda-pemuda yang nakal maka mulai berubahlah sifat Gwat Kong yang tadinya pendiam dan penurut. Ia mulai malas belajar, bahkan kadang-kadang pada saat ibunya menyuruh dia mengantarkan hasil sulaman, anak itu tidak ada di rumah, entah pergi bermain-main di mana.

Ibunya mulai berkuatir, apalagi setelah makin lama Gwat Kong makin menjadi malas, bahkan kini berani pula pergi membawa uang yang dimintanya dari nyonya itu. Nyonya Bun mulai menegur anaknya, akan tetapi tidak ada hasilnya. Diam-diam Gwat Kong telah kena pengaruh pergaulan yang kurang baik.

Kawan-kawannya yang suka berjudi itu menyeretnya sehingga anak remaja yang baru berusia sepuluh tahun itu kini gemar berjudi dan bertaruh mengadu jangkrik. Bahkan, yang lebih hebat lagi Gwat Kong mulai belajar minum arak dengan kawan-kawannya. Dan yang aneh, anak ini ternyata kuat sekali minum arak dan dalam beberapa bulan saja, tidak ada seorang pun anak dikota itu yang berani bertanding minum arak dengan Gwat Kong. Oleh karena itu, maka tak lama kemudian Gwat Kong disebut oleh kawan-kawannya ‘Ciu-siauwkoai’ atau setan arak kecil!

Baiknya bukan hanya keburukan yang ia dapat dari pergaulannya dengan anak-anak jahat itu, akan tetapi juga ada hasilnya yang baik yakni kepandaian silat. Ia mulai gemar belajar silat karena selalu kalau sedang bermain-main dan berkelahi, ia menjadi korban yang menderita kekalahan. Dan seperti juga dalam hal minum arak, dalam hal ilmu silat pun setelah ia mulai belajar dari guru silatkota itu yang menerima bayaran, tak seorangpun di antara kawan-kawannya, biar yang lebih besar sekalipun, dapat melawannya dalam perkelahian. Selain tenaganya besar, iapun memiliki kecerdikan sehingga dapat mempergunakan sedikit ilmu silat yang dipelajarinya dengan baik dan praktis, sedangkan sebagian besar kawan-kawannya itu hanyalah mempelajari ilmu silat untuk dipakai berlagak belaka, bagus dilihat kalau bersilat seorang diri, akan tetapi tidak ada gunanya jika menghadapi lawan.

Melihat keadaan puteranya ini, luka di hati nyonya Bun kambuh kembali. Tadinya hatinya yang terluka karena peristiwa yang menimpa keluarganya itu mulai sembuh dan terhibur, akan tetapi kini melihat keadaan puteranya, ia teringat kembali kepada suaminya dan berpikir bahwa anaknya takkan menjadi demikian apabila suaminya masih hidup! Hal ini amat mendukakan hatinya dan nyonya yang bernasibmalang itu jatuh sakit. Barulah Gwat Kong merasa terkejut dan menyesal sekali melihat ibunya jatuh sakit, dan sekali gus ia lalu menghentikan kebiasaannya pergi bermain dan meninggalkan rumah itu. Ia berdiam saja di rumah menjaga, akan tetapi terlambat. Penyakit nyonya ini bukanlah penyakit biasa, akan tetapi penyakit yang timbul dari kesedihan hati dan akhirnya, setelah menghabiskan uang simpanan untuk membeli obat guna menyembuhkan ibunya ternyata penyakit itu mengantar nyonya Bun pulang ke alam baka.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya itu, dengan suara terputus-putus menceritakan kembali peristiwa yang menimpa keluarganya kepada Gwat Kong yang telah lupa sama sekali akan hal itu. Setelah mengubur jenazah ibunya atas bantuan beberapa orang kawan Gwat Kong yang baru berusia dua belas tahun itu, tak pernah dapat melupakan sakit hatinya yang timbul serentak setelah mendengar cerita ibunya. Ia bersumpah di depan kuburan ibunya untuk membalas dendam ini kepada Tan-wangwe yang tinggal di Lam-hoat. Dengan tabah anak yang baru berusia dua belas tahun itu lalu pergi ke Lam-hoat dan setelah mendapatkan rumah gedung Tan-wangwe ia lalu masuk kedalam rumah itu dan memaki-maki lalu mengamuk.

Akan tetapi, apakah daya seorang anak tanggung yang hanya memiliki kepandaian silat pasaran? Ia dianggap anak gila yang datang mengacau dan setelah menerima gebukan-gebukan dari para penjaga sehingga tubuhnya bengkak-bengkak dan kulitnya matang biru, ia dibebaskan dan diusir bagaikan seekor anjing.

Bukan main hancur dan gemasnya hati Bun Gwat Kong menerima hinaan ini. Ia lalu keluar meninggalkan Lam-hoat dan terus merantau ke utara. Akhirnya ia sampai dikota Kiangsui dan setelah mencari pekerjaan di sana-sini, akhirnya ia diterima sebagai seorang pelayan di gedung keluarga Liok, Kepala daerah Kiangsui yang kaya raya itu.

Pada waktu itu, Gwat Kong telah berusia tiga belas tahun. Dengan pikiran dewasa telah membuat ia dapat merahasiakan keadaannya. Ia bekerja dengan rajin sekali. Sikapnya yang sopan dan pendiam membuat ia disukai oleh Liok Ong Gun dan orang-orang yang tinggal di gedung itu.

Cita-cita Gwat Kong hanyalah untuk bekerja dengan baik, mengumpulkan hasil upahnya untuk kemudian dipakai biaya mencari guru silat dan kemudian membalas sakit hati orang tuanya.

Di antara semua orang yang tinggal di gedung besar itu, yang paling menarik hatinya ialah puteri tunggal keluarga Liok, yakni Tin Eng. Semenjak ia melihat anak perempuan itu, ia merasa kagum sekali dan timbul perasaan yang aneh dalam dadanya. Biarpun Tin Eng selalu memperlakukannya dengan kasar dan menyuruhnya mengerjakan ini itu dengan lagak seorang majikan memerintah hambanya, namun selalu Gwat Kong melakukannya dengan taat dan girang. Entah mengapa, ia merasa girang sekali apabila ia dapat melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati gadis cilik itu!

Dengan adanya Tin Eng inilah maka Gwat Kong seakan-akan lupa akan segala. Lupa akan kesukaannya minum arak, lupa akan cita-citanya belajar silat dan bahkan lupa pula akan maksudnya membalas dendam sakit hati orang tuanya! Makin lama ia tinggal di situ, makin betahlah ia dan sedikitpun tidak ada keinginan dalam hatinya untuk meninggalkan tempat itu. Bahkan ia bekerja makin rajin hingga ia makin disuka saja.

Ia tahu bahwa Tin Eng suka sekali akan kembang-kembang indah, maka tiap hari ia merawat kebun kembang di belakang gedung itu, menjaganya baik-baik, menanaminya dengan bunga-bunga indah dan setiap hari selain menyapu kebun itu sehingga bersih, ia pun mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di situ. Tanpa diperintah ia lalu menggulung lengan baju dan mencangkuli tanah yang ditumbuhi tumbuhan liar di sebelah barat kebun itu untuk memperluas kebun kembang.

Dan kerajinannya inilah yang mendatangkan hal yang sama sekali tak pernah diduganya dan yang kemudian mengubah keadaan hidupnya sama sekali.

Pada suatu hari, ketika dengan rajinnya ia pagi-pagi sekali mencangkul tanah liar yang keras karena banyak terdapat batu-batu di tempat itu, Tiba-tiba ia berseru keras karena kaget. Ia telah memukul benda yang amat keras dengan cangkulnya dan ketika diperiksanya ternyata cangkulnya telah patah ujungnya! Dengan heran ia lalu menggali tanah itu, karena kalau hanya batu yang terpukul cangkulnya tadi, tak mungkin cangkul itu sampai rusak. Benar saja dugaannya, setelah ia menggali di bawah tanah itu terdapat sebuah peti logam yang kecil, akan tetapi berat dan kokoh kuat sekali.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: