Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 21

TIBA-tiba Tin Eng mendapatkan akal dan ia lalu mengeluarkan piauwnya dari kantong piauw. Ia memberi dua batang piauw kepada Kui Hwa dan berkata perlahan,

“Kita hajar kuda mereka dan melarikan diri!”

Kui Hwa maklum akan maksud kawannya, maka ia menerima dua batang piauw itu dan keduanya lalu melompat ke atas kuda masing-masing.

Song Bu Cu dan Gan Bu Gi telah mengenal kedua orang gadis itu, dan ketika Gan Bu Gi melihat Kui Hwa, musuh besarnya ia berseru,

“Dewi Tangan Maut, jangan lari!”

Akan tetapi, Kui Hwa dan Tin Eng yang sudah siap sedia, tiba-tiba lalu menggerakkan tangan mereka dan dua batang piauw menyambar dengan cepat sekali, sebatang ke arah Gan Bu Gi dan sebatang lagi ke arah Song Bu Cu. Piauw yang dilepas oleh Kui Hwa mengarah ke tubuh Gan Bu Gi sedangkan piauw dari Tin Eng menyambar dengan lebih cepat ke arah dada Song Bu Cu. Dalam hal melepaskan senjata rahasia, Tin Eng lebih pandai dari Kui Hwa, karena Tin Eng memang telah mempelajarinya dengan sempurna.

Gan Bu Gi dan Song Bu Cu yang berkepandaian tinggi, tentu saja tak dapat dirobohkan dengan sambaran piauw itu. Maka mereka cepat mengelak di atas kudanya, sambil menyampok piauw itu dengan tangan mereka.

Akan tetapi, beberapa detik setelah piauw pertama menyambar, dua batang piauw menyambar lagi dan kini mengarah kuda yang ditunggangi oleh kedua orang itu! Hal ini sungguh-sungguh di luar dugaan Gan Bu Gi dan Song Bu Cu sehingga mereka menjadi terkejut. Piauw yang dilepas oleh Kui Hwa menyambar ke arah kuda Gan Bu Gi, akan tetapi bidikannya terlalu tinggi sehingga Gan Bu Gi dapat menendangnya dengan ujung sepatu sehingga piauw itu terlempar ke samping.

Akan tetapi, Tin Eng yang melemparkan piauwnya ke arah kuda Song Bu Cu, telah membidik dengan tepat sekali dan sebelum Song Bu Cu dapat menghalanginya, piauw itu telah menancap pada perut kudanya! Kuda Song Bu Cu meringkik kesakitan, berdiri di atas dua kaki belakang dan melompat-lompat dengan liar, sehingga Song Bu Cu tak kuasa mengendalikannya lagi dan terpaksa melompat turun.

Pada saat itu, Tin Eng dan Kui Hwa sudah membalapkan kuda mereka sambil tertawa senang. Song Bu Cu menyumpah-nyumpah dengan amat marah. Akan tetapi ia tidak berdaya untuk mengejar. Sedangkan Gan Bu Gi, sungguhpun kudanya tidak terluka dan dapat mengejar, akan tetapi merasa jerih untuk menghadapi dua orang pendekar wanita itu sendiri saja, maka iapun tidak mau mengejar.

Lui Siok yang terluka pundaknya oleh pedang Tin Eng dan terkena tendangan Kui Hwa menjadi marah sekali dan tiada hentinya mengeluarkan makian-makian kotor terhadap kedua orang gadis itu.

“Gan-sute,” katanya kepada Gan Bu Gi ketika Song Bu Cu berusaha merawat lukanya. “Mengapa kau memilih seorang gadis liar dan jahat seperti dia untuk calon isterimu? Dia sekarang telah menjadi musuh kita, telah berani membantu si jahat Tan Kui Hwa.”

Gan Bu Gi menarik napas panjang dan berkata, “Namun ia cantik dan pandai, suheng, dan pula harus diingat bahwa dia adalah puteri dari Liok-taijin Kepala daerah Kiang-sui dan anak murid Go-bi-pai. Kalau aku menjadi menantu Kepala daerah, bukankah hal itu akan memperkuat kedudukan Kim-san-pai kita? Hal ini adalah rencana dari suhu dan Seng Le Hosiang dan aku hanyalah menurut saja perintah suhu!”

Memang, kedua kakek bersahabat itu, yakni Bong Bi Sianjin ketua Kim-san-pai dan Seng Le Hosiang, tokoh Go-bi-pai, membuat rencana yang amat baik demi keuntungan masing-masing.

Pada saat itu, cabang-cabang persilatan di Tiongkok tidak mendapat nama baik bagi pemerintah yang mulai merasa curiga dan khawatir kalau-kalau orang-orang kang-ouw memiliki kepandaian tinggi itu sewaktu-waktu akan mengadakan pemberontakan. Kaisar dan para penasehatnya maklum akan bahayanya hal ini, maka mulailah diadakan pengawasan dan tekanan terhadap para ahli-ahli silat.

Partai-partai besar seperti Go-bi-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain yang berpusat di gunung-gunung yang luas daerahnya dan sukar didatangi pasukan negeri, tidak merasa khawatir akan hal ini. Akan tetapi golongan-golongan kecil mempunyai kekhawatiran juga kalau-kalau cabang persilatan mereka akan mendapat gangguan.

Seng Le Hosiang merasa sakit hati dan menaruh hati dendam terhadap Hoa-san-pai dan tokoh-tokoh Go-bi-pai yang lain tidak mau menghiraukan dan tidak ada nafsu untuk ikut campur memperbesar permusuhan dengan Hoa-san-pai, lalu mencari kawan-kawan dan pembantu dari luar. Di antaranya yang ia paling harapkan, adalah Bong Bi Sianjin sendiri ketua Kim-san-pai. Oleh karena selain Bong Bi Sianjin sendiri berkepandaian tinggi, juga tokoh Kim-san-pai ini mempunyai beberapa orang murid yang tingkat kepandaiannya sudah boleh diandalkan.

Bong Bi Sianjin bukanlah seorang yang bodoh. Sungguh pun ia bersahabat baik dengan Seng Le Hosiang, akan tetapi ia maklum bahwa mencampuri urusan permusuhan itu berarti mendatangkan bahaya baginya dan para muridnya, karena iapun tahu akan kelihaian anak murid Hoa-san-pai. Maka ia takkan mau membantu begitu saja kalau ia tidak melihat hal-hal yang kiranya akan mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi partainya sendiri.

Ia maklum bahwa di antara anak murid Go-bi-pai, terdapat Liok Ong Gun yang menjadi Kepala daerah dan mempunyai hubungan dekat dengan kotanya. Maka alangkah baiknya kalau ia bisa mendekati pembesar itu, agar kedudukan cabang persilatan Kim-san-pai terlindung.

Oleh karena pikiran ini, maka ia lalu mengajukan usul agar supaya muridnya yang bungsu, yakni Gan Bu Gi, dapat dipekerjakan pada Liok-taijin. Bahkan dapat dijodohkan dengan puteri pembesar itu. Seng Le Hosiang suka melihat Gan Bu Gi, maka karena iapun mengharapkan bantuan dari Kim-san-pai, dalam hal ini ia membantu sekuat tenaga, sehingga Liok-taijin akhirnya tidak hanya menerima Gan Bu Gi sebagai perwira akan tetapi juga sebagai calon mantu!

Gan Bu Gi mendengarkan dari calon mertuanya bahwa Tin Eng berada di Hun-lam. Sebelum berangkat ke kota itu, ia lebih dulu mampir di kota Tong-kwan pusat perkumpulan Hek-I-Pang karena ia tahu bahwa sesungguhnya Lui Siok berada di tempat itu menjadi wakil ketua.

Akan tetapi ia tidak bertemu dengan suhengnya yang sedang pergi ke Hun-lam dan hanya bertemu dengan Song Bu Cu. Ketika mendengar bahwa Lui Siok menyelidiki ke Hun-lam karena mendengar tentang adanya Tan Kui Hwa, si Dewi Tangan Maut yang menjadi musuh besarnya, Gan Bu Gi lalu menyusul ke Hun-lam bersama Song Bu Cu dan di tengah jalan kebetulan sekali mereka bertemu dengan Lui Siok yang sedang berada dalam bahaya.

Lui Siok dan Song Bu Cu lalu menceritakan kepada Gan Bu Gi betapa mereka mendapat tugas dari Pangeran Ong Kiat Bo untuk menyelidiki halnya kedua orang muda yang kini telah kembali ke kota raja.

“Mungkin sekali peta rahasia itu oleh kedua saudara Pang diberikan kepada Tin Eng dan Kui Hwa,” kata Lui Siok. “Maka lebih baik kita mengejar mereka. Pertama-tama untuk membinasakan perempuan rendah Dewi Tangan Maut itu, kedua untuk menawan tunanganmu yang keras kepala, dan ketiga untuk merampas peta.”

“Akan tetapi, aku harus pergi ke Kim-san-pai untuk menemui suhu lebih dulu,” kata Gan Bu Gi. “Karena suhu dulu berpesan bahwa apabila aku menghadapi kesulitan, aku harus melaporkan kepada suhu. Hal ini amat ruwet. Tin Eng telah membawa kehendak sendiri bahkan telah bersekutu dengan Dewi Tangan Maut. Sebagaimana kita semua mengetahui, Dewi Tangan Maut selain lihai, juga seorang anak murid Hoa-san-pai yang paling jahat dan paling banyak kawan-kawannya. Kini kalau betul-betul dia mendapatkan peta harta pusaka dan bersama Tin Eng pergi mencarinya, maka hal yang penting ini harus kuberitahukan kepada suhu. Apalagi kini telah muncul Kang-lam Ciu-hiap yang benar-benar gagah dan tak boleh dipandang ringan!”

Gan Bu Gi teringat akan pengalaman pahit ketika ia bersama kawan-kawannya sama sekali tak berdaya menghadapi Gwat Kong. Akan tetapi hal ini ia tidak mau menceritakan kepada Lui Siok dan Song Bu Cu karena malu. Adapun kedua ketua Hek-I-Pang ini biarpun telah mendengar nama Kang-lam Ciu-hiap, akan tetapi belum pernah bertemu dan belum merasai sendiri sampai di mana kelihaian pemuda pendekar itu.

“Aaah,” Lui Siok yang sombong mencela. “Mengapa harus ditakuti Kang-lam Ciu-hiap? Sayang ia sudah pergi ketika aku datang di gedung Lie-wangwe. Kalau dia berada di sana ketika itu, tentu sekarang Kang-lam Ciu-hiap tinggal namanya saja!”

Di dalam hatinya, Gan Bu Gi tidak menyetujui ucapan suhengnya ini, karena ia tahu bahwa kepandaian suhengnya ini jauh untuk menandingi kelihaian Gwat Kong, akan tetapi ia tidak mau membuka mulut, hanya berkata,

“Biarlah suheng dan Song twako berangkat dulu menyusul mereka, aku mau mencari suhu lebih dulu agar kelak tidak mendapat teguran dari suhu yang menanti-nanti berita dariku.”

Demikianlah, Gan Bu Gi lalu berangkat mencari suhunya ke Kim-san dan kedua ketua Hek-I-Pang itu lalu mengadakan perundingan untuk menyusul Tin Eng dan Kui Hwa.

****

Perjalanan ke Hong-san jauh sekali dan biarpun menggunakan kuda, akan makan waktu berbulan-bulan. Maka biarlah kita tinggalkan dulu Tin Eng dan Kui Hwa yang menuju ke bukit Hong-san untuk mencari harta pusaka rahasia itu. Dan marilah kita menengok keadaan Gwat Kong, Kang-lam Ciu-hiap, yang sedang menerima gemblengan ilmu silat dan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat dari Bok Kwi Sianjin di tepi sungai Huang-ho.

Gwat Kong memang memiliki bakat yang baik sekali dan otak cerdas. Setelah belajar selama seratus hari di gua pertapaan Bok Kwi Sianjin itu, ia telah dapat mempelajari Sin-hong Tung-hoat dan Sin-hong Kun-hoat dengan baik. Ia telah dapat menghafal semua kouw-koat (teori persilatan) ilmu silat itu di luar kepala. Sedangkan dalam prateknya iapun telah menguasai dasar-dasar yang penting sehingga tinggal melatih dan mematangkannya.

Bok Kwi Sianjin merasa girang sekali dan amat puas melihat kemajuan muridnya ini. Maka ketika Gwat Kong menyatakan hendak melanjutkan perjalanannya ia tidak keberatan.

“Maksudmu hendak berusaha mendamaikan permusuhan yang ada antara Hoa-san-pai dan Go-bi-pai memang baik,” kata Bok Kwi Sianjin dalam pesannya ketika ia mendengarkan muridnya menyatakan pendapatnya. “Akan tetapi kukira hal itu takkan mudah kau lakukan dengan berhasil. Memang di dunia ini segala hal mempunyai dua muka, terutama sekali bagi manusia yang belum sadar akan rahasia Im-yang (positif dan negatif). Segala sesuatu yang dianggap mendatangkan kebaikan bagi manusia selalu mempunyai bagian yang sebaliknya, yakni keburukan. Ilmu kepandaian silat memang baik sekali dimiliki oleh setiap orang, demi untuk alat penjaga diri dan kesehatan. Akan tetapi tetap saja ada pengaruhnya yang tidak baik dan merugikan orang itu, yakni bagi orang yang lemah iman, kepandaian ini mendatangkan watak sombong dan suka berkelahi ilmu kepandaian silat mendatangkan sifat pemberani dan tabah. Karena orang yang memiliki kepandaian ini merasa dirinya terlindung oleh kepandaiannya dan tidak menakuti apapun juga. Akan tetapi sifat tabah dan berani yang berlebih-lebihan, membuat ia makin gelap dan hanya mengandalkan keberaniannya, siap sedia setiap saat untuk bertempur melawan siapapun juga, membangkitkan nafsu ingin memperlihatkan kegagahan sendiri tanpa mau mengalah sedikit juga terhadap orang lain karena takut kalau-kalau disangka jerih dan takut kalah. Karena sifat-sifat inilah maka terbit permusuhan di antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai.”

“Akan tetapi suhu, menurut penuturan dua orang anak murid Hoa-san-pai, yakni kakak beradik she Pui, banyak murid-murid Go-bi-pai yang jahat dan melanggar pantangan-pantangan orang gagah, melakukan perbuatan sewenang-wenang dan jahat sehingga golongan Hoa-san-pai turun tangan memberi hajaran. Dan inilah yang menimbulkan perselisihan,” kata Gwat Kong.

Suhunya tersenyum. “Mungkin benar juga kata kedua orang itu, akan tetapi muridku, penuturan itu tak boleh kau jadikan dasar untuk memandang buruk kepada Go-bi-pai dan membenarkan Hoa-san-pai. Kalau pandanganmu dipengaruhi oleh penuturan-penuturan kedua belah pihak, kau lebih-lebih takkan berhasil menjadi pendamai di antara mereka. Seorang pendamai tak boleh berpikir berat sebelah. Kalau hatinya dikotori oleh sifat memihak, lebih baik jangan jadi pendamai karena hal itu berarti bahwa kau menaruh dirimu dalam kedudukan yang amat berbahaya, yakni jangan-jangan kau akan dimusuhi oleh kedua belah pihak! Orang-orang yang sedang bermusuhan dan marah memiliki perasaan curiga yang amat besar, maka kau harus berhati-hati.”

Gwat Kong terpaksa membenarkan pernyataan suhunya itu dan menundukkan mukanya.

“Muridku, di antara dua orang atau dua pihak yang bermusuhan, mereka itu masing-masing tentu membesar-besarkan kesalahan pihak musuh dan mencoba seberapa bisa untuk menghapus dan menyembunyikan kesalahan sendiri. Kalau kau bertanya kepadaku, siapakah yang bersalah di antara dua orang yang bermusuhan? Maka jawabku tentu bahwa dua orang itu kedua-duanya bersalah! Karena orang yang sudah menjadikan orang lain sebagai musuhnya, atau yang dijadikan musuh oleh orang lain, pokoknya dipengaruhi rasa benci kepada orang lain atau menimbulkan benci, ia itu sudah bersalah!”.

Kakek ini tertawa geli ketika melihat bahwa muridnya nampak bingung mendengar jawaban yang sulit dimengerti ini. Maka lalu ia berkata pula,

“Gwat Kong, tak perlu kau memusingkan hal ini. Kau masih terlalu muda untuk dapat mengerti. Untuk mengetahui hal ini, orang harus berdiri di luar perputaran arus kehidupan, sedangkan kau berada di dalamnya dan ikut terputar! Hal yang baik bagimu ialah harus dapat menyesuaikan dirimu dengan keadaan di sekelilingmu, dan semua perbuatanmu harus berdasarkan keadilan dan kebajikkan. Lenyapkanlah pandanganmu yang berat sebelah terhadap permusuhan yang timbul di antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai dan aku tahu betul bahwa baik di pihak Go-bi maupun pihak Hoa-san, para ketua dan tokohnya yang tertinggi sama sekali tidak mempunyai permusuhan, dan semua itu hanyalah akibat sikap ‘keras kepala’ dn ‘tak mau kalah’ dari tokoh-tokoh kecil kedua pihak seperti Seng Le Hosiang dan Sin Seng Cu. Jangan sampai kau ikut menanam bibit permusuhan muridku, dan ingatlah akan ucapan para cerdik pandai di jaman dahulu bahwa seribu orang kawan masih terlampau sedikit, akan tetapi seorang musuh sudah terlalu banyak bagi seorang budiman.”

Setelah menghaturkan terima kasih kepada suhunya dan berjanji akan mengingat segala nasehat dari kakek ini, Gwat Kong lalu keluar dari hutan liar itu. Pemuda yang keluar dari hutan itu jauh bedanya dengan Gwat Kong yang dulu memasuki hutan untuk mengikuti suhunya belajar silat.

Dia telah mendapat kemajuan yang luar biasa sekali dalam waktu tiga bulan lebih itu. Tidak saja tenaga lweekangnya telah meningkat karena petunjuk-petunjuk yang tepat dan cara berlatih yang penuh rahasia, dan ginkangnya juga maju pesat berkat latihan-latihan pernapasan dan bersamadhi, dalam hal ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat sungguhpun Bok Kwi Sianjin tidak pernah mempelajarinya akan tetapi kakek ini telah memberi nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk yang penting untuk menyempurnakan permainan pedang pemuda itu.

Yang lebih hebat lagi, kini Gwat Kong dapat mengkombinasikan ilmu pedangnya dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat. Apabila ia mainkan pedangnya, ia dapat memasukkan gerakan Sin-hong Tung-hoat di dalam pedang dan apabila memegang sebatang tongkat, ia dapat memasukkan pula ilmu pedangnya, sehingga di dalam gerakannya telah dapat ia mengawinkan dua macam ilmu silat yang lihai itu.

Dan selama seratus hari di dalam hutan itu bersama suhunya, terpaksa Gwat Kong menekan kesukaannya akan arak, karena suhunya pernah berkata bahwa biarpun arak merupakan minuman yang baik dan sehat, akan tetapi apabila dilakukan dengan berlebih-lebihan tak kenal batas, sebagaimana hal lain di dunia ini, maka akan mendatangkan pengaruh buruk bagi kesehatannya.

Sebagai gantinya, Bok Kwi Sianjin menganjurkannya untuk minum arak ringan yang terbuat dari pada buah yang mengandung khasiat menyehatkan dan membersihkan darah. Kini guci arak dari perak yang tergantung di pinggang Gwat Kong terisi oleh minuman ini.

Gwat Kong merasa rindu sekali kepada Tin Eng. Selama ini, ia makin merasa betapa sesungguhnya ia amat mencintai gadis itu, dan berkali-kali usahanya untuk mengusir bayangan gadis itu dari pikirannya, ternyata gagal. Tanpa disadarinya, kini kedua kakinya membawa ia menuju ke Hun-lam. Ia telah lupa ke mana arah jalan yang menuju ke kota itu. Akan tetapi berlawanan dengan maksud hatinya untuk berdaya melupakan Tin Eng, tiap kali bertemu dengan orang dan bertanyakan jalan, ia selalu bertanya arah jalan ke Hun-lam.

Pada suatu hari, ia tiba di dusun Ngo-bun-chung di kaki bukit Siang-san. Dusun ini cukup besar dan padat penduduk yang hidup sebagai petani. Biasanya dusun ini terkenal makmur karena memang tergolong tanah subur. Akan tetapi pada waktu itu di Tiongkok banyak daerah yang menderita karena musim kering yang luar biasa sekali.

Sudah lima bulan daerah yang menderita itu kehabisan air sehingga akibatnya, tanaman-tanaman di sawah menjadi kering. Rakyat di daerah itu tidak saja menderita kekurangan makan, akan tetapi juga kekurangan air sehingga harga air menjadi semahal harga emas.

Dusun Ngo-bun-chung termasuk daerah yang sedang kekurangan air dan rakyat di situpun amat menderita. Pemandangan yang amat menyedihkan dari rakyat jelata yang menderita kelaparan dan kehausan ini telah dilihat oleh Gwat Kong semenjak ia meninggalkan hutan di mana ia belajar ilmu silat.

Daerah di dekat Sungai Kuning itu masih nampak subur dan tidak sangat menderita karena musim kering. Akan tetapi makin jauh ia menuju ke selatan, makin menyedihkan keadaan daerah-daerah yang kering itu. Akan tetapi, belum pernah Gwat Kong melihat dusun yang menderita gangguan alam itu sehebat dusun Ngo-bun-chung.

Baru masuk saja ia melihat keadaan yang amat menyedihkan dan mendengar suara tangis memilukan dari beberapa rumah, tanda bahwa terdapat pula orang-orang yang mati kelaparan. Di dusun-dusun lain yang ia lewati, keadaan belum demikian hebat karena penduduk dusun dengan secara gotong rotong saling membantu dan membagi persediaan ransum sehingga jumlah kematian karena kelaparan sangat sedikit.

Tiba-tiba Gwat Kong melihat serombongan petani berjalan menuju ke barat. Mereka itu nampak pucat-pucat dan bersungguh-sungguh dengan tangan memegang senjata tajam seperti cangkul, kampak, golok, dan lain-lain. Sikap mereka jelas menyatakan bahwa mereka itu tengah menghadapi perkelahian.

Gwat Kong menjadi tertarik hatinya dan diam-diam ia mengikuti rombongan petani yang terdiri tidak kurang dari dua puluh lima orang itu. Setelah rombongan itu tiba di ujung dusun sebelah barat, mereka berhenti di depan pintu pekarangan sebuah rumah yang membuat Gwat Kong merasa heran sekali. Rumah itu tak pantas berada di tempat semelarat ini. Sebuah rumah kuno yang amat besar dan megah dengan pekarangan yang amat luas mengelilingi bangunan itu. Pantasnya gedung ini menjadi tempat peristirahatan kaisar atau orang-orang besar dari kota raja.

Para petani ini agaknya nampak ragu-ragu setelah tiba di tempat tujuan, dan untuk beberapa lama berdiri di luar pintu pekarangan yang besar terbuat dari kayu tebal itu. Akan tetapi seorang di antara mereka mempelopori kawan-kawannya sambil berseru keras, “Serbu!”

Ia membuka pintu itu yang ternyata diikat dengan rantai besi. Tentu saja ia tidak kuat membukanya, akan tetapi kini kawan-kawannya telah dibangunkan semangat mereka oleh contoh ini dan dua puluh orang itu lalu merenggut dan menarik pintu pekarangan itu sehingga dengan mengeluarkan suara keras pintu itu roboh.

Suara roboh pintu yang gaduh ini seakan-akan menambah semangat kepada para petani itu karena mereka serentak menyerbu ke pekarangan gedung itu sambil mengangkat senjata-senjata mereka di atas kepala. Gwat Kong tidak ikut masuk hanya memandang dari luar pagar dengan heran dan penuh perhatian, ingin melihat apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba daun pintu yang lebar dari gedung besar itu terbuka dari dalam, dan semua petani yang memberontak itu memandang dengan mata terbelalak, seakan-akan tiba-tiba mereka merasa takut sekali. Akan tetapi sungguh aneh, ketika daun pintu itu terbuka, di dalamnya kosong tidak nampak sesuatu.

Gwat Kong merasa heran sekali dan sebelum ia dapat menduga, tiba-tiba dari dalam pintu yang kosong itu berkelebat bayangan orang yang bertubuh tinggi besar dan memegang toya kuningan. Tanpa banyak cakap bayangan itu menyambar dan tiga orang petani yang berada di depan sekali berteriak ngeri dan roboh pingsan!

Ributlah para petani melihat hal ini dan beberapa orang dengan marahnya mengangkat senjata untuk mengeroyok laki-laki tinggi besar itu. Akan tetapi, kembali toya kuningan itu bergerak dan empat orang petani roboh lagi sambil mengeluarkan teriakan keras!

Melihat ini, lenyaplah nyali besar orang-orang itu karena kini orang-orang yang terberani di antara mereka dan yang dianggap menjadi pemimpin-pemimpin telah disapu roboh oleh toya kuningan yang lihai itu. Mereka lalu melemparkan senjata masing-masing dan menjatuhkan diri berlutut. Seorang di antara mereka yang paling tua berkata,

“Ji-cukong-ya …. (majikan kedua) harap suka memberi ampun kepada kami …. sesungguhnya keluarga kami amat menderita dan dalam keadaan kelaparan, tolonglah kami.”

Orang tinggi besar itu berdiri dengan toya di tangan. Ia memandang dengan marah dan bibirnya yang tebal itu menggulung ke atas. Ia membanting-banting kakinya dan memaki marah.

“Anjing-anjing rendah tak tahu diri! Kalian ini orang-orang malas yang maunya hanya makan milik lain orang! Kalian ini benar-benar anjing-anjing yang bong-im-pwe-gi (manusia tak mengenal budi)! Kurang baik bagaimanakah keluarga Lai? Telah tiga bulan ini kami sengaja tidak memungut uang pajak tanah dan memberikan tanah kami dengan cuma-cuma kepada kalian untuk dikerjakan dan dimakan hasilnya. Sekarang kalian berani sekali datang seperti perampok? Sungguh harus dipukul mampus!” Sambil berkata demikian, dua kali ia menggerakkan kakinya dan tubuh dua orang, termasuk orang tua yang tadi mewakili kawan-kawannya bicara, terlempar sampai terguling-guling dua tombak lebih!

Petani-petani lain berlutut dengan tubuh menggigil dan memandang dengan wajah cemas. Mereka lebih menakuti penolakan pertolongan dari hartawan ini dari pada pukulan-pukulan yang mungkin dijatuhkan kepada mereka, maka seorang berkata,

“Ji-cukong, biarlah kami dipukul, dimaki, bahkan boleh dibunuh sekalian asal saja cukong sudi mengeluarkan sedikit gandum dan membiarkan anak-bini kita mengambil air dari sumber air hijau itu!”

“Bangsat benar, apakah benar-benar kalian ingin mampus? Hayo pergi, .. pergi! Dan jangan lupa untuk memperbaiki pintu pekarangan kami!” Ia mengancam lagi, dengan toyanya dan mengusir mereka. Akan tetapi, tak seorangpun di antara mereka mau bergerak.

“Pergi, kataku!” teriak pula laki-laki tinggi besar itu dengan marah.

“Ji-cukong, kami telah berjanji takkan mau pergi sebelum mendapat pertolongan itu, karena kalau kami pulang tanpa membawa gandum dan air, kami hanya akan melihat anak-bini kami mati kelaparan!”

“Anjing rendah, kalau begitu biarlah kalian kubikin mampus dulu!” Orang tinggi besar itu memaki kalang kabut dan ia nampak marah sekali. Agaknya ia benar-benar hendak menggunakan toyanya yang hebat itu untuk membunuh belasan orang tani yang berlutut di depannya itu.

Gwat Kong merasa marah sekali, dan sungguhpun ia belum tahu dengan jelas siapakah gerangan orang tinggi besar itu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang tuan tanah yang kaya raya dan kikir, yang menyimpan banyak gandum akan tetapi tidak mau menolong petani-petani miskin yang menderita kelaparan. Ia benci sekali melihat kekejaman orang itu dan selagi ia hendak bergerak untuk menolong para petani itu yang agaknya hendak dihajar, tiba-tiba dari atas genteng gedung besar itu menyambar turun bayangan orang berpakaian serba kuning.

Gerakan orang ini amat cepatnya dan Gwat Kong menahan gerakan kakinya yang tadi sudah akan melompat ke dalam pekarangan. Ia merasa heran dan kagum melihat bayangan itu ternyata adalah seorang gadis yang cantik dan gagah sekali. Gadis itu memakai pakaian kuning gading dengan ikat pinggang dan ikat rambut warna merah dan di kedua tangannya memegang sepasang pedang yang bercahaya saking tajamnya.

Pada saat itu, si tinggi besar itu telah menggerakkan toyanya dan hendak memukul seorang petani yang terdekat, akan tetapi tiba-tiba ia merasa ada sambaran angin dari atas dibarengi bentakan nyaring, “Orang she Cong yang kejam! Jangan berlaku sewenang-wenang!”

Orang tinggi besar itu adalah Cong Si Kwi dan terkenal dengan sebutan Ji-sai-cu (Singa Kedua), seorang yang amat terkenal di daerah itu yakni di sekeliling bukit Siang-san. Cong Si Kwi dan kakaknya, yang bernama Cong Si Ban berjuluk Tai-sai-cu (Singa Tertua) adalah dua kakak beradik yang kaya raya di daerah itu dan tiga perempat bagian tanah di sekitar bukit Siang-san adalah milik mereka. Oleh karena ini, maka penghidupan sebagian besar rakyat petani di sekitar daerah itu, boleh dibilang bersandar kepada kedua saudara Cong ini dan tidaklah berlebihan kalau ada orang di dusun itu berkata bahwa nyawa mereka berada dalam telapak tangan kedua singa itu.

Semua kepala dusun di seluruh daerah adalah pembantu atau kaki tangan kedua saudara Cong, dan tak seorangpun yang berani menentang mereka karena selain mereka amat kaya raya dan menjadi pemilik tanah yang dijadikan sumber nafkah para petani, juga kedua orang itu memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi dan dahsyat. Kedua kakak beradik she Cong ini memiliki ilmu silat keturunan yang disebut Sai-cu-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Singa) dan keduanya memiliki ilmu toya yang tinggi juga.

Sebetulnya kedua saudara Cong ini tidak biasa memeras rakyat. Mereka mengadakan pajak tanah yang cukup pantas dan ketika musim kering mengganggu, mereka bahkan membebaskan para petani dari pajak. Akan tetapi mereka ini terkenal berhati keras dan kejam tidak mengenal kasihan, lagi pula amat kikir. Melihat keadaan rakyat di sekitar mereka yang amat menderita dan kelaparan, mereka sama sekali tidak mengambil perhatian dan tumpukan gandum dan padi di gudang mereka tetap bertumpuk.

Berkali-kali rakyat datang mohon pertolongan mereka, untuk meminjam gandum dengan perjanjian pembayaran berlipat ganda. Akan tetapi semua permohonan tidak dihiraukan oleh kedua saudara Cong itu. Yang lebih hebat lagi ialah ketika semua sumur dan anak sungai kering, ternyata yang masih mengeluarkan air hanya sebuah sumber air yang disebut sumber air hijau dan yang ada di sawah milik kedua saudara yang kaya itu. Karena tanah sawah itupun disewakan pada petani, maka selama musim kering tiba, sumber air hijau itulah yang menjadi penolong para petani karena mereka semua mendapat air minum dari sumber ini.

Akan tetapi, tiba-tiba kedua saudara Cong yang juga kehabisan air, lalu memblokir sumber ini dan mengurungnya dengan pagar serta dijaga kuat oleh penjaga-penjaga bersenjata tombak. Tak seorangpun boleh mengambil air dari sumber itu, kecuali pelayan keluarga Cong.

Cong Si Ban melakukan hal ini bukan karena ia berhati dengki, akan tetapi oleh karena ia berkhawatir kalau-kalau sumber air itu akan menjadi kering jika diambil airnya oleh sekian banyak orang dan ia mengkhawatirkan keadaan keluarganya sendiri. Demi keselamatan keluarga sendiri, ia tidak perduli apakah orang-orang di luar gedungnya akan mati kehausan atau tidak.

Hal ini membuat para petani merasa bingung dan keadaan mereka makin menderita. Akhirnya mereka tidak dapat menahan lagi dan demikianlah, maka dua puluhlima orang petani itu memberanikan diri menyerbu ke gedung keluarga Cong untuk minta gandum dan air. Dan yang keluar menyambut mereka adalah Cong Si Kwi, senga kedua yang lebih kejam dari pada kakaknya.

Ketika Cong Si Kwi mendengar bentakan dari atas dan merasa ada angin senjata menyambar, ia cepat melompat ke kiri dan menggerakkan toyanya ke atas untuk memukul orang yang menyambar dari atas ini. “Traaangg!” terdengar suara keras sekali ketika toyanya kena bentur sebatang pedang yang menyambar dari atas. Bunga api memancar keluar dan alangkah kagetnya hati Cong Si Kwi ketika melihat betapa ujung toyanya telah somplak!

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: