Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 23

MELIHAT betapa Si Kwi berjongkok dan menutup mukanya sambil mengaduh-aduh, Cong Si Ban menjadi terkejut sekali dan juga marah. Tanpa bertanya lagi siapa adanya pemuda itu dan tanpa mengingat bahwa sebetulnya adiknya sendirilah yang mencari penyakit dan bersikap sewenang-wenang terhadap pemuda itu. Si Ban telah maju dan menghantam dengan toyanya ke arah kepala Gwat Kong.

Pada saat itu, Gwat Kong masih duduk di tempat semula. Melihat sambaran toya di tangan Si Ban ini, ia maklum bahwa kepandaian Si Ban lebih lihai dari Si Kwi. Maka tanpa membuang waktu lagi, ia lalu menggelindingkan tubuhnya ke kiri sambil membawa guci araknya dan ketika ia melompat berdiri, ternyata bahwa guci araknya telah digantungkan ke pinggang dan kini tangan kanannya telah memegang ranting pohon yang tadi dipungutnya ketika ia menggelundung dan menghindarkan diri dari sambaran toya Si Ban. Ia tersenyum dan diam-diam ingin menguji kepandaiannya yang baru dipelajarinya dari Bok Kwi Sianjin, yakni ilmu to Sin-hong Tung-hoat.

Melihat gerakan Gwat Kong ketika mengelak dari sambaran toyanya, Si Ban maklum bahwa pemuda ini adalah seorang yang “berisi” maka diam-diam ia mengeluh mengapa hari ini demikian banyaknya orang-orang pandai datang mengganggunya! Ia tidak tahu hubungan apakah adanya pemuda ini dengan gadis dari selatan itu. Akan tetapi karena melihat adiknya telah dilukai, ia lalu mendesak maju dengan mainkan toyanya dalam ilmu toya Sai-cu-tung-hoat yang juga memiliki gerakan amat ganas dan dahsyat.

Kalau tadi ia merasa bahwa menghadapi ilmu pedang nona itu ia akan kalah, maka kini ia hendak mendapat kemenangan dari pemuda yang hanya pegang sebatang ranting ini. Akan tetapi, bukan main terkejutnya ketika dalam satu gebrakan saja ia hampir celaka! Ketika ia mulai menyerang dengan membabat ke arah leher pemuda itu dengan gerakan cepat dan keras dari kanan ke kiri, Gwat Kong tidak mengelak mundur.

Akan tetapi ia diam saja dan menanti sampai toya itu datang dekat di pinggir pundaknya. Tiba-tiba pemuda ini merendahkan tubuh dan melangkah maju di bawah sambaran toya dan mengirim tusukan dengan rantingnya ke arah jalan darah Kiu-ceng-hiat di pundak kirinya! Untung bahwa ia masih sempat melepaskan tangan kiri yang ikut memegang toya dan menggunakan tangannya menangkis ranting itu yang membuat lengannya yang menangkis merasa sakit sekali dan ujung ranting itu biarpun tidak mengenai jalan darahnya di pundak, namun masih tetap mengait bajunya di bagian pundak.

Dan “brettt!” sobeklah bajunya. Dalam segebrakan saja mendapat pelajaran sedemikian rupa, Cong Si Ban tentu saja merasa terkejut dan pucat. Maka ia berlaku hati-hati sekali dan menjaga dirinya rapat-rapat dari serangan ujung ranting di tangan pemuda itu yang kini berkelebatan bagaikan kilat di hari hujan di depan matanya membuat ia merasa silau karena lawannya seakan-akan telah menjadi beberapa orang yang menyerangnya dari seluruh jurusan.

Sementara itu, pertempuran yang berlangsung antara Sin Seng Cu dan Sie Cui Giok makin ramai dan seru sekali. Terdorong oleh wataknya yang tidak mau kalah biarpun mereka telah bertempur lebih dari empat puluh jurus, namun Sin Seng Cu belum merasa puas karena ia belum berhasil mengalahkan gadis muda itu!

Masa dia, seorang tokoh besar dari Hoa-san-pai, yang telah mengangkat tinggi namanya karena kelihaian ilmu tongkatnya kini tak dapat mengalahkan seorang gadis muda yang masih hijau? Diam-diam ia mengeluh karena benar-benar pedang di kedua tangan gadis itu amat lihai dan sukar sekali dibobolkan oleh tongkat kepala naga di tangannya.

Gadis itu telah meyakinkan ilmu pedang Im-yang Kiam-hoat secara sempurna sekali sehingga biarpun dalam hal keuletan dan tenaga ia masih berada di bawah tingkat tosu itu, namun ia dapat mengimbangi permainan silat Sin Seng Cu dan selama itu tidak nampak terdesak sama sekali.

Juga Sie Cui Giok merasa penasaran dan marah melihat kenekatan tosu itu karena desakan-desakan Sin Seng Cu ini benar-benar di luar dugaannya. Tak disangkanya bahwa seorang tokoh persilatan yang telah menduduki tempat tinggi itu memiliki watak yang demikian buruk. Maka ia lalu menggertak gigi dan melawan sebaik-baiknya untuk menjaga namanya sendiri. Ia kini tidak mau mengalah dan membalas setiap serangan dengan balasan yang tak kalah lihainya.

Pada saat pertempuran antara mereka sedang berjalan amat ramainya, tiba-tiba ia mendengar seruan kaget dan tubuh seorang tinggi besar terlempar di antara mereka! Keduanya memandang dan melihat bahwa tubuh yang melayang dan terlempar itu adalah tubuh Cong Si Ban! Baik Cui Giok maupun Sin Seng Cu yang sedang mencurahkan perhatian karena menghadapi lawan berat, tadi tidak melihat peristiwa lain terjadi tak jauh dari tempat mereka bertempur yaitu tentang perkelahian antara Gwat Kong melawan kedua saudara Cong.

Maka kini melihat betapa tubuh Si Ban tiba-tiba terlempar dalam keadaan tunggang-langgang ke tengah kalangan pertempuran tentu saja mereka menjadi terkejut dan juga terheran-heran lalu menarik senjata masing-masing dengan cepat agar jangan sampai tersesat ke tubuh Si Ban yang melayang itu. Tubuh itu jatuh ke atas tanah mengeluarkan suara “bukk!” dan debu dari atas tanah yang tertimpa tubuh itu, sama sekali tak bergerak dan berada dalam keadaan kaku, hanya kedua matanya saja yang masih bisa melirik!

Sin Seng Cu maklum bahwa Si Ban telah ditotok orang secara luar biasa sekali, maka ia lalu maju dan memulihkan totokan itu dengan urutan dan ketukan. Kemudian Sin Seng Cu menoleh ke arah Gwat Kong dan memandang kepada pemuda itu dengan mata tajam. Ia seperti pernah bertemu dengan pemuda itu, akan tetapi ia lupa lagi entah di mana. Bagaimanakah Si Ban bisa di”terbang”kan dalam keadaan tertotok oleh Gwat Kong?

Ketika kedua orang ini tadi bertempur, makin lama mata Si Ban menjadi silau dan kabur. Ia tak dapat melihat dengan baik lagi dan terpaksa ia lalu memutar toya sedemikian rupa untuk melindungi seluruh tubuhnya. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa bahwa toyanya telah menempel pada ranting di tangan lawannya.

Gwat Kong telah mempergunakan tenaga “cam” (melibat/mengikat) sehingga toya Si Ban menempel pada rantingnya dan tak dapat lepas lagi. Si Ban mengerahkan lweekangnya dan berusaha membetotnya, dan tiba-tiba Gwat Kong melepaskan tenaganya lalu membarengi betotan tenaga Si Ban itu untuk menusukkan rantingnya ke arah sambungan lutut Si Ban! Kalau tusukan itu mengenai sasaran, tentu Si Ban akan roboh berlutut di depannya.

Akan tetapi Si Ban tentu saja tidak mau membiarkan lututnya dihajar, maka ia lalu berseru keras dan melompat ke atas menarik kedua kakinya ke dekat tubuh belakang. Pada saat itu, tak pernah disangkanya, ranting di tangan Gwat Kong kembali menyambar dan kini hendak memukul kepalanya!

Si Ban benar-benar lihai karena dalam keadaan meloncat itu, masih sempat buang tubuh atas ke depan sehingga kepalanya ditundukkan ke bawah mengelak serangan ranting itu. Akan tetapi kini tubuhnya menjadi telungkup dengan kepala dan kaki ditarik bagaikan seekor anjing sedang merangkak.

Gwat Kong masih tidak melepaskan korbannya dan secepat kilat ujung rantingnya menotok jalan darah di iga lawan itu sehingga tubuh Si Ban menjadi kaku. Dan berbareng dengan serangan itu Gwat Kong mengangkat sebelah kakinya menendang pantat lawannya sehingga tubuh Si Ban tanpa dapat dicegah lagi melayang ke depan bagaikan sebutir pelor dan jatuh di tengah-tengah gelanggang pertempuran Sin Seng Cu dan Cui Giok!

Setelah melakukan perbuatan yang nakal itu, Gwat Kong berdiri bertolak pinggang dan memandang dengan senyum. Ketika ia melihat betapa Sin Seng Cu memandangnya, ia segera menjura dan bertanya, “Sin Seng Cu totiang, apakah selama ini totiang baik-baik saja?”

Sin Seng Cu memandang tajam, kemudian ia teringat dan bertanya, “Bukankah kau pemuda yang mahir ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan kemudian diambil murid oleh Bok Kwi Sianjin?”

Gwat Kong tersenyum, “Totiang memang memiliki pandangan mata yang tajam.”

Sementara itu ketika mendengar bahwa pemuda yang baru datang ini adalah seorang ahli ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan bahkan menjadi murid Bok Kwi Sianjin. Nona baju kuning itu nampak terkejut sekali dan kini ia memandang kepada Gwat Kong dengan penuh perhatian.

Melihat hubungan pemuda ini yang agaknya telah kenal baik kepada Sin Seng Cu, diam-diam ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda ini akan berpihak kepada tosu itu. Baru menghadapi tosu itu saja ia tadi telah merasa sukar untuk mengalahkannya, apalagi kalau mendapat bantuan pemuda yang memiliki ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat!

“Maafkan, aku tak dapat mengganggu lebih lama lagi!” kata Sie Cui Giok, nona baju kuning itu dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berlari cepat keluar dari pekarangan itu dan sebentar saja sudah lenyap dari pandangan mata.

“Hmm, seorang gadis muda yang memiliki kepandaian mengagumkan,” kata Sin Seng Cu perlahan setelah bayangan gadis itu lenyap. Kemudian ia teringat kepada Gwat Kong dan sambil memandang tajam ia berkata,

“Kau agaknya juga hendak memperlihatkan kepandaian, maka datang-datang kau telah menghina Cong Si Ban!”

Akan tetapi, Gwat Kong hanya mendengar setengah-setengah saja. Oleh karena pikirannya ikut terbang menyusul nona baju kuning yang menarik hati dan yang menimbulkan kekagumannya itu.

“Ah, akupun harus pergi!” katanya perlahan dan membalikkan tubuh hendak pergi.

“Anak muda, jangan harap bisa pergi sebelum aku mencoba kepandaianmu dan menebus kekasaranmu terhadap tuan rumah,” seru Sin Seng Cu yang mengulur tangannya hendak menangkap pundak pemuda itu untuk mencegahnya pergi.

Akan tetapi, tanpa menoleh, Gwat Kong menggerakkan tangannya ke belakang dan jari tangannya dengan cepat sekali mengirim totokan ke arah pergelangan tangan Sin Seng Cu yang hendak mencengkeram pundaknya, maka terpaksa tosu itu menarik kembali tangannya dengan hati terkejut dan kagum.

Tanpa menengok dapat melihat datangnya serangan bahkan dapat mengirim totokan yang tepat ke arah pergelangan tangannya hanya dapat dilakukan oleh seorang yang ilmu kepandaiannya sudah tinggi. Maka tosu ini menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan niatnya menguji kepandaian lawan ini.

Tadi, menghadapi seorang gadis muda saja tak dapat mengalahkannya dan baiknya pertempuran tadi tidak berakhir kekalahan baginya dan keburu terhenti karena Si Ban terlempar. Maka kalau kini ia berkeras menghadapi Gwat Kong untuk kemudian ia kalah dalam tangan pemuda ini, biarpun yang menyaksikannya hanya kedua saudara Cong. Akan tetapi namanya akan terbanting turun dengan hebat!

Maka ia diamkan saja Gwat Kong berlari keluar mengejar Cui Giok. Dan setelah pemuda itu lenyap dari pandangan mata, ia bahkan lalu menegur kedua saudara Cong itu yang dikenalnya baik. Ia memberi nasehat agar kedua saudara itu suka merobah pikirannya dan jangan berlaku sewenang-wenang kepada kaum tani yang miskin. Karena hal itu tentu akan menimbulkan hal-hal yang tidak enak seperti yang telah terjadi sekarang ini.

“Sebagai orang gagah kalian harus berwatak terlepas dan berlaku baik terhadap orang yang patut ditolong. Karena kalau tidak demikian, tentu kalian akan dimusuhi oleh banyak orang kang-ouw.

Kedua saudara Cong itu tak berani membantah dan hanya menyatakan kesanggupannya untuk menurut nasehat tosu ini. Keduanya benar-benar telah merasa betapa hari ini mereka telah mendapat hajaran keras dari dua orang muda yang kelihatannya masih hijau. Mereka baru insyaf bahwa ilmu kepandaian mereka sesungguhnya masih rendah dan dangkal.

Maka mereka lalu mengajukan permohonan kepada Sin Seng Cu untuk melatih dan memberi pelajaran silat kepada mereka. Tosu ini tidak keberatan dan untuk beberapa hari lamanya ia memberi petunjuk-petunjuk kepada kedua saudara Cong itu dan banyak memberi nasehat kepada mereka sehingga keduanya sedikitnya terbuka mata mereka dan diharapkan takkan berlaku sewenang-wenang dan kejam terhadap kaum petani selanjutnya.

****

Gwat Kong percepat larinya untuk menyusul nona baju kuning yang amat dikaguminya itu. Ia bukan kagum karena kecantikan gadis itu, akan tetapi kagum karena menyaksikan ilmu pedangnya. Semenjak gurunya, yakni Bok Kwi Sianjin menceritakan kepadanya bahwa selain Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat masih ada lagi Pat-kwa To-hoat dari utara dan Im-yang Siang-kiam-hoat dari selatan. Ia ingin sekali bertemu dengan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian itu.

Kini tak disangka-sangkanya, ia bertemu dengan seorang ahli waris Im-yang Siang-kiam dan ternyata ahli waris itu adalah seorang gadis muda yang cantik dan gagah dan berpribudi tinggi. Oleh karena inilah maka Gwat Kong ingin sekali berkenalan dan kalau mungkin mencoba ilmu pedang Im-yang Siang-kiam itu dalam sebuah pertandingan persahabatan.

Ia tadi melihat betapa gadis baju kuning itu berlari keluar dari dusun itu menuju ke barat, maka kini ia berlari cepat mengejar. Ia telah berlari cepat sekali dan cukup lama, akan tetapi belum juga ia dapat menyusul gadis itu. Ia menjadi penasaran dan mempercepat larinya hingga ia tiba di sebuah hutan yang penuh dengan pohon liu (semacam pohon cemara).

Hutan itu indah sekali dan dari dari jauh ia mendengar suara air sungai mengalir. Akan tetapi ia merasa heran sekali karena tidak melihat bayangan orang yang dikejarnya. Kemanakah perginya gadis baju kuning itu? Apakah benar-benar ia memiliki ilmu lari cepat yang demikian luar biasa sehingga ia tidak mampu mengejarnya?

Gwat Kong masih merasa penasaran, maka ia lalu mendapat akal. Ia melompat ke atas cabang pohon liu dan terus memanjat ke atas bagaikan seekor kera. Setelah tiba di puncak pohon, ia berdiri dan memandang sekelilingnya. Akhirnya ia mengeluarkan seruan girang ketika melihat bayangan kuning berlari-lari di sebelah kiri hutan itu. Ia cepat melompat turun dan melakukan pengejaran ke arah kiri.

Tak lama kemudian, benar saja ia melihat gadis baju kuning itu berlari-lari di dalam hutan itu dengan gerakan yang gesit dan tubuh yang ringan. Gwat Kong lalu mempercepat larinya dan berseru,

“Lihiap (nona yang gagah)! Tunggulah sebentar!”

Akan tetapi ia kecele kalau menyangka bahwa nona itu akan memperhatikan seruannya, karena mendengar teriakannya ini, tanpa menoleh lagi dara baju kuning itu bahkan lalu mempercepat larinya dan menggunakan ilmu lari cepat Jouw-sang-hwe (Terbang di atas rumput). Gwat Kong menggigit bibirnya saking gemas. Jangan kau kira aku akan kalah dalam hal ilmu lari cepat darimu, demikian pikirnya dengan hati panas.

Ia tidak mau teriak-teriak lagi dan hanya mempercepat larinya dan menggunakan ilmu lari cepat yang belum lama ini disempurnakan atas petunjuk suhunya, yakni ilmu lari Teng-peng-touw-sui (Injak rumput seberangi sungai). Demikianlah, pada senja hari yang cerah itu, di dalam hutan pohon liu yang indah dua orang muda yang lihai sedang berlari cepat seakan-akan berlomba atau berkejar-kejaran!

Dengan mendongkol Gwat Kong mendapat kenyataan bahwa gadis itu ternyata memang sengaja hendak mempermainkannya, karena gadis itu bukan terus berlari ke depan. Akan tetapi membuat putaran dan seakan-akan sengaja main kejar-kejaran mengelilingi hutan. Ia tidak mau kalah dan terus mengejar dengan cepat.

Akhirnya dara baju kuning itu terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu lari cepat Gwat Kong karena jarak di antara mereka makin lama makin dekat. Tiba-tiba ketika ia sampai di tempat terbuka, yakni sebuah lapangan rumput yang hijau dan segar, ia menunda larinya dan membalikkan tubuh dengan sepasang pedangnya di kedua tangan!

Gwat Kong segera mengangkat kedua tangan memberi hormat setelah berhadapan dengan nona baju kuning itu. Akan tetapi penghormatannya dibalas dengan sebuah tusukan kilat yang dilakukan oleh pedang di tangan kanan Sie Cui Giok. Gwat Kong segera mengelak dan berkata,

“Maaf, lihiap! Jangan marah dulu. Aku …….”

“Kau adalah seorang laki-laki ceriwis! Tukang mengejar wanita!” Kata-kata ini disusul dengan sebuah serangan pula. Kini pedang di tangan kanan membabat leher dan pedang di tangan kiri menyerampang kaki. Menghadapi serangan luar biasa lihainya ini Gwat Kong tak dapat membuka mulut karena ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mengelak lagi dengan lompatan jauh ke belakang.

“Tidak nona. Aku tidak ceriwis! Aku hanya ingin kenal …… aku ….. tertarik dan kagum sekali padamu ….”

“Cih, tak tahu malu! Ucapanmu ini membuktikan bahwa kau adalah seorang laki-laki ceriwis, seorang pemuda hidung belang!” Kembali Cui Giok maju menyerang dengan hebat. Kini pedang di tangan kanan menusuk hulu hati dan pedang di tangan kiri membelek perut! Serangan-serangan ini biarpun amat berbahaya dan lihai mendatangkan rasa girang dan gembira di hati Gwat Kong. Oleh karena ia benar-benar mengagumi gerakan-gerakan dua pedang yang mempunyai gaya dan kelihaian tersendiri itu.

Ia maklum akan bahayanya dua serangan itu, maka ia melempar tubuh ke belakang lagi, sambil berjungkir balik membuat salto ke belakang sampai dua kali. Ia melompat agak tinggi, sehingga dapat mencapai cabang pohon yang paling rendah dan ketika tubuhnya kembali menginjak tanah, di tangannya telah terdapat sepotong kayu yang dipatahkannya dari cabang tadi. Kini Gwat Kong mencabut-cabut daun dari ranting kayu itu dan berkata,

“Nona, kau salah sangka! Yang mengagumkan dan menarik hatiku adalah ilmu pedangmu yang luar biasa itu! Telah lama aku mendengar ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat, maka kini aku merasa kagum dan tertarik sekali menyaksikan bahwa ilmu pedang itu benar-benar indah dan luar biasa!”

Aneh sekali, mendengar ucapan ini, nona itu wajahnya menjadi merah dan agaknya ia marah sekali.

“Kau hanya mengagumi keindahan ilmu pedangku? Nah, rasakanlah siang-kiamku!” Tanpa banyak cakap lagi Cui Giok lalu menyerang dengan sepasang pedangnya dengan gerakan yang amat aneh dan cepat.

Gwat Kong menggerakkan kayu di tangannya itu dengan hati gembira. Tercapailah maksudnya untuk menguji ilmu pedang Im-yang Siang-kiam yang dipuji-puji oleh gurunya. Sungguhpun ia agak kecewa karena nampaknya ia telah mendatangkan kesan buruk di dalam hati gadis itu, yang seakan-akan marah dan membencinya. Apa boleh buat, pikirnya. Akupun hanya ingin mencoba kepandaiannya belaka.

Ia lalu kerahkan seluruh kepandaiannya dan mainkan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat yang ia pelajari dari Bok Kwi Sianjin. Biarpun yang dipegangnya hanya sebatang kayu ranting biasa, akan tetapi karena digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi dan mainkan ilmu silat yang luar biasa sekali, maka ranting di tangannya itu bergerak-gerak dan menyambar-nyambar dengan amat ganas dan lincahnya sehingga ia dapat mengimbangi permainan siang-kiam dari Cui Giok yang benar-benar hebat itu.

Gwat Kong dengan teliti sekali memperhatikan gerakan kedua pedang di tangan nona itu, dan beberapa kali ia sengaja mengadu tenaga dengan pedang di tangan kanan maupun yang di kiri. Setelah beberapa kali mengadu tenaga, tahulah ia bahwa tangan kanan gadis itu mempergunakan tenaga yang-kang (tenaga kasar/besar), sedangkan di tangan kiri menggunakan tenaga Im-jin (halus/mulus), maka kedua pedang itu dapat digerakkan dengan berlainan sekali.

Kalau pedang di tangan kanan menyambar-nyambar dengan ganas luar biasa dengan kecepatan yang menyilaukan mata, adalah pedang di tangan kiri digerakkan dengan lambat. Akan tetapi, biarpun kelihatannya lambat, Gwat Kong maklum bahwa pedang di tangan kiri inilah yang paling berbahaya di antara kedua pedang itu, karena kelambatan dan kelemasan itu sebetulnya hanya nampaknya saja. Sebetulnya di dalam kelambatan itu mengandung kecepatan yang lebih hebat dari pada pedang di tangan kanan.

Memang agaknya tak masuk diakal dan aneh, akan tetapi hal ini memang sebetulnya. Kecepatan di tangan kanan adalah kecepatan tenaga gadis itu sendiri yang dikerahkan dengan maksud menyerang dan membacok lawan dan pengerahan tenaga tangan untuk menggerakkan pedang inilah maka disebut bahwa tenaga tangan kanan itu adalah kasar/keras. Kecepatan hanya terletak pada sambaran senjata dan tergantung sepenuhnya dari besarnya dorongan tenaga nona itu.

Akan tetapi, pedang di tangan kiri itu tidak mengandalkan tenaga sendiri, akan tetapi mengandalkan tenaga lawan. Pedang yang nampaknya lambat apabila menyerang itu jangan sekali-kali dipandang rendah karena kalau ditangkis oleh senjata lawan, pedang ini mengambil atau mencuri tenaga lawan yang menangkis itu dan dengan dorongan tenaga yang dipinjam itu ia melakukan serangan lanjutan yang luar biasa cepatnya dan tidak diduga sama sekali oleh lawan.

Juga, setiap kali pedang di tangan kiri ini digunakan untuk menangkis serangan lawan, pedang ini tidak menggunakan tenaga kekerasan, akan tetapi menguasai atau menangkap tenaga lawan sedemikian rupa sehingga tenaga lawan yang besar itu akan lenyap sendiri. Bahkan dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk melakukan serangan balasan pada saat menangkis itu juga.

Memang agak sukar untuk mengerti bagi mereka yang tidak tahu akan ilmu silat tinggi. Akan tetapi memang tenaga “im” atau tenaga dalam yang lemas ini benar-benar luar biasa. Sebagai contoh untuk memudahkan penjelasan tentang perbedaan tenaga kasar dan tenaga lemas adalah seperti berikut.

Kalau kita melemparkan sebuah benda yang berat ke atas udara dan kemudian benda itu kembali menimpa ke arah tangan kita, maka ada dua jalan bagi kita untuk menerima kembali jatuhnya benda itu dengan tenaga kasar dan tenaga lemas. Dengan tenaga kasar, yakni berarti bahwa kita menggunakan kekuatan kita untuk menerima benda itu begitu saja dengan mengandalkan kekuatan urat-urat di lengan kita sehingga akibatnya kalau tenaga kita lebih besar dari pada luncuran benda yang jatuh itu, maka benda tersebut akan dapat kita terima dengan mudah dan enak. Akan tetapi sebaliknya apabila tenaga luncuran benda yang jatuh itu lebih besar dari pada tenaga tangan kita banyak bahayanya tangan kita akan tertimpa sampai patah tulangnya atau keseleo dan benda itu akan terlepas dari tangan kita.

Adapun penggunaan tenaga lemas ialah apabila kita menerima benda yang meluncur dari atas itu dengan ringan tanpa menggunakan tenaga besar atau kasar. Akan tetapi dengan tenaga lemas dan lemah kita menyambutnya dan menuruti luncurannya dari atas itu ke bawah kemudian dengan hanya sedikit tenaga saja kita mendorong benda itu ke samping untuk mematahkan tenaga luncurannya yang menimpa itu kemudian dengan gaya yang baik, yakni seakan-akan merupakan kemudi bagi tenaga luncur yang seperti raksasa itu. Kita bisa mendorong benda itu ke samping terus kembali ke atas, seakan-akan benda itu jatuh melalui sebuah pipa yang di bagian bawah dibengkokkan dan membelok ke atas lagi.

Nah, demikianlah sekedar penjelasan singkat tentang perbedaan tenaga kasar dan tenaga lemas. Permainan pedang di kedua tangan Sie Cui Giok adalah berdasarkan tenaga kasar dan lemas maka ilmu pedang ini disebut Im-yang Siang-kiam-hoat atau ilmu pedang pasangan Im dan Yang. Gwat Kong benar-benar merasa kagum karena setelah ia mengerahkan seluruh kepandaiannya berdasarkan permainan tongkat Sin-hong Tung-hoat yang baru-baru ini dipelajarinya dari Bok Kwi Sianjin, ia tetap saja terdesak oleh sepasang pedang itu sehingga ia harus menambah ekstra kegesitan tubuhnya agar jangan sampai terbabat atau tertusuk pedang nona itu.

“Ha ha! Tak tahunya Sin-hong Tung-hoat yang ternama itu hanya begini saja!” tiba-tiba nona itu menyindir dan memutar kedua pedangnya lebih hebat dan lebih cepat lagi mendesak Gwat Kong dengan serangan-serangan berbahaya dan yang paling lihai dari ilmu pedangnya.

Selain sibuk menghadapi desakan serangan ini, juga hati Gwat Kong merasa amat mendongkol mendengar sindiran yang memandang rendah ilmu tongkatnya ini. Kalau saja ia sudah melatih cukup masak, belum tentu ia akan kalah, pikirnya dengan mendongkol. Ia tahu bahwa kekalahannya yang membuat ia amat terdesak ini tak lain hanya karena kalah latihan.

Ia dapat menduga bahwa melihat kemahiran nona ini mainkan ilmu pedangnya, tentu ia telah melatih ilmu pedang ini bertahun-tahun lamanya. Maka ia segera berseru marah dan tiba-tiba ia melempar rantingnya ke atas tanah dan tahu-tahu pedang Sin-eng-kiam pemberian Bu-eng-sian Leng Po In dulu telah berada di tangannya, berkilau-kilau mendatangkan sinar putih yang panjang.

“Bagus! Hendak kulihat sampai di mana kehebatan Sin-eng Kiam-hoat!” seru nona baju kuning itu. “Benar-benar hebat ataukah hanya namanya saja yang hebat seperti Sin-hong Tung-hoat yang kau mainkan tadi!”

Saking mendongkolnya, Gwat Kong tak dapat menjawab sindiran ini dan segera menyerang dengan pedangnya sambil membentak, “Awas pedang!”

Kini pertempuran menjadi lebih hebat lagi, karena sungguhpun Sin-hong Tung-hoat yang baru tadi dimainkan oleh Gwat Kong tak kalah hebatnya, akan tetapi ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat telah dilatihnya lama juga dan ia lebih biasa menggerakkan pedang dari pada menggerakkan ranting tadi. Ketika memutar pedang tunggalnya, maka lenyaplah tubuhnya tertutup oleh sinar pedangnya itu karena Cui Giok juga tidak mau kalah dan mainkan sepasang pedangnya dengan cepat, maka yang nampak sekarang adalah tiga sinar pedang yang saling menggulung, seakan-akan seekor naga jantan yang gagah perkasa dikeroyok oleh sepasang naga betina yang memiliki gerakan indah.

Pertempuran ini benar-benar ramai dan hebat, jauh lebih ramai dari pada pertempuran yang pernah dihadapi oleh Cui Giok maupun Gwat Kong. Keadaan mereka benar-benar berimbang. Dalam hal gerakan ilmu pedang, Gwat Kong masih kalah mahir, dan hal ini adalah karena ia memang kalah latihan. Cui Giok semenjak kecil digembleng oleh engkongnya (kakeknya) dan telah belasan tahun ia mempelajari ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat ini, maka setiap gerakannya amat sempurna.

Akan tetapi sebaliknya, gadis ini masih kalah dalam hal lweekang karena Gwat Kong telah mendapat latihan dari dua macam ilmu silat tinggi. Ginkang mereka setingkat, mereka sama-sama maklum bahwa kalau pertempuran dilanjutkan, yang lebih dulu kehabisan napas dan tenaga, dialah yang akan kalah. Dan sebelum mereka kehabisan tenaga dan napas, entah beberapa ratus jurus mereka sanggup bertahan. Sementara itu, keadaan telah mulai menjadi remang-remang, tanda bahwa senjakala telah hampir terganti malam.

Gwat Kong merasa sudah cukup menguji ilmu kepandaian gadis itu, maka tiba-tiba ia berseru keras dan gerakan pedangnya berubah hebat. Cui Giok terkejut sekali dan hampir saja pundaknya terkena sambaran ujung pedang pemuda itu. Gwat Kong makin gembira melihat hasil perubahan ini dan menyerang makin hebat. Benar saja, Cui Giok menjadi terdesak dan gadis ini nampak sibuk sekali.

Ternyata bahwa Gwat Kong telah mencampur adukkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat. Ilmu pedang dan ilmu tongkat memang berbeda, akan tetapi banyak pula persamaannya, yakni dalam hal serangan menusuk dan membacok. Hanya berbeda, pedang menusuk untuk menembus kulit daging lawan sedangkan tongkat menusuk ke arah jalan darah lawan. Diserang dengan ilmu silat campuran yang memang luar biasa ini, Cui Giok benar-benar merasa bingung dan akhirnya ia merasa bahwa ia takkan kuat menghadapi pemuda yang luar biasa ini, Maka ia lalu melompat ke belakang dan melarikan diri.

Gwat Kong merasa tidak puas. Setelah bertempur sekian lamanya, ia harus dapat mengalahkan gadis itu, atau setidaknya nona itu harus mengakui bahwa Im-yang Kiam-hoat masih kalah oleh ilmu silatnya yang campuran ini. Maka melihat nona itu melarikan diri, ia juga berlari cepat mengejar.

Sie Cui Giok berlari menuju ke utara dan tiba-tiba di depannya terdapat sebatang anak sungai yang cukup lebar dan airnya jernih itu nampak kehijauan, tanda bahwa sungai itu cukup dalam. Pemandangan di situ amat indahnya karena pohon-pohon dan bunga tumbuh di kedua tepi sungai, dan di situ terdapat pula sebuah jembatan terbuat dari pada tiga batang bambu yang disambung-sambung.

Rupa-rupanya para pemburu binatang yang membuat jembatan darurat ini.

Tanpa pikir panjang lagi Cui Giok lalu melompat dan berlari melalui bambu itu. Bambu itu ketika diinjak dengan keras lalu bergerak-gerak dan bukan main sukarnya melintasi bambu-bambu yang kecil, licin dan bergerak-gerak ini. Akan tetapi gadis itu sudah tak dapat kembali lagi, karena ia melihat Gwat Kong sudah tiba di pinggir sungai pula dan agaknya hendak melintasi jembatan itu pula.

“Awas nona, kau nanti jatuh!” Gwat Kong berseru kaget melihat betapa tubuh nona itu bergerak-gerak di atas bambu yang bergoyang-goyang. Ia sendiri tidak berani melompat ke atas jembatan karena maklum bahwa kalau ia ikut melompat, bambu-bambu itu belum tentu kuat menahan beratnya dua tubuh orang.

Cui Giok agaknya akan dapat menyeberang dengan selamat, akan tetapi tiba-tiba gadis itu berteriak ketakutan. Di tengah-tengah jembatan itu terdapat seekor tikus hutan yang besar dan yang sedang menyeberangi jembatan itu pula. Dan Cui Giok termasuk seorang di antara para gadis yang jijik dan takut serta geli melihat tikus. Wajahnya pucat, dan ia menjadi begitu takut dan kaget sehingga ia tidak dapat mengatur imbangan tubuhnya lagi. Dengan teriakan ngeri, gadis itu terpeleset dari jembatan bambu dan tubuhnya melayang ke bawah.

“Jebur!!” Air memercik tinggi dan Gwat Kong menahan napas ketika melihat betapa tubuh gadis itu timbul dipermukaan air dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, tanda seorang yang tak dapat berenang. Gadis itu memandangnya seketika, kemudian tenggelam timbul dengan tangan terangkat. Keadaannya sungguh menyedihkan sekali.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: