Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 24

SUNGGUHPUN ia sendiri tak amat pandai berenang, akan tetapi kalau hanya berenang dan menolong orang tenggelam saja Gwat Kong masih sanggup, maka tanpa banyak pikir lagi ia lalu melompat dan terjun ke bawah.

“Jebur!!” Air memercik lagi tinggi-tinggi dan Gwat Kong menggunakan kakinya untuk mengangkat tubuh ke permukaan air. Kepalanya telah tersembul ke atas. Ia memandang ke kanan kiri. Akan tetapi ia tidak melihat tubuh gadis yang sedang hanyut tadi!

“Nona ….. nona ….!” Ia berteriak-teriak dengan panik menyangka bahwa nona itu tentu tenggelam. Ia berenang ke sana ke mari sampai kaki dan tangannya terasa lemas karena selain ia tidak biasa berenang, juga rasa lelah cepat membuatnya lemas.

Tiba-tiba Gwat Kong melihat ke pinggir sungai dan nampak nona baju kuning itu sedang duduk dalam keadaan basah kuyup, dan sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum. Gwat Kong merasa seakan-akan hidungnya dipukul dari depan. Dengan gemas ia dapat menduga bahwa tadi gadis ini hanya berpura-pura belaka. Dengan susah payah, Gwat Kong lalu berenang ke pinggir sambil diam-diam menyumpahi ketololannya sendiri.

Ia merayap ke atas melalui tanah lumpur sehingga ketika ia telah berhasil duduk di dekat nona itu dengan napas terengah-engah, seluruh pakaiannya kotor terkena lumpur dan seluruh tubuhnya basah kuyup. Dalam keadaan basah dan hawa senja amat dinginnya itu, Gwat Kong merasa amat tidak enak. Akan tetapi, tidak hanya tubuhnya terasa tidak enak, malah hatinya terasa lebih-lebih tak enak lagi. Ia merasa mendongkol sekali, apalagi ketika melihat betapa gadis itu memandangnya seperti seorang kakak memandang adiknya yang tolol.

“Nona, kau benar-benar keterlaluan!” katanya.

Cui Giok bangun berdiri, mencari-cari, lalu membungkuk dan mengumpulkan daun-daun dan ranting kering. “Sebelum mengobrol, lebih baik membuat api unggun untuk mengusir dingin dan mengeringkan pakaian,” katanya.

Gwat Kong menyetujui usul ini dan juga berdiri lalu membantu pengumpulan kayu-kayu kering yang ditumpuk di dekat sungai itu. Lalu mereka membuat api dan tak lama kemudian mereka duduk di dekat api unggun yang bernyala besar dan hangat.

“Kau benar-benar keterlaluan!” kata Gwat Kong sambil membuka jubah luarnya dan memanggangnya di dekat api setelah diperasnya tadi.

“Mengapa keterlaluan?” Nona itu balas memandang sambil melonjorkan kakinya ke dekat api karena sepatu dengan kaos kaki yang masih basah itu terasa tidak enak sekali.

“Kukira tadi kau betul-betul akan tenggelam sehingga aku melompat ke air. Kalau aku tahu kau pandai berenang, untuk apa aku bersusah payah sampai basah semua macam ini?”

Nona itu tertawa dan bukan main manisnya kalau ia tertawa. Dekik-dekik manis sekali menghias kanan kiri mulutnya. “Hmm, memang kau seorang muda yang usilan dan selalu mencampuri urusan orang lain. Siapakah yang minta kau menolongku? Apakah kau mendengar aku menjerit minta tolong?”

Terpaksa Gwat Kong harus mengakui bahwa gadis itu tadi memang tidak minta tolong. Akan tetapi mengapa kedua tangan gadis itu bergerak seakan-akan tak pandai berenang dan akan tenggelam? Diam-diam Gwat Kong dapat menduga bahwa gadis ini selain cerdik sekali, juga mempunyai kejenakaan. Sifatnya ini membuatnya teringat akan Tin Eng dan diam-diam ia memandang dengan penuh perhatian.

Biarpun tubuhnya telah mulai hangat karena terpanggang api dari luar, namun ia masih merasa dingin perutnya. Maka Gwat Kong lalu mengeluarkan guci araknya dan membuka tutupnya. Ia mengulurkan tangan menawarkan minuman itu kepada Cui Giok.

“Minumlah supaya perut menjadi hangat!”

Cui Giok menerimanya dan memandang guci perak itu dengan kagum dan tanyanya,

“Mana cawannya?”

Gwat Kong menggeleng kepala. “Aku tidak pernah membawa cawan.”

“Habis bagaimana minumnya?”

“Teguk saja dari mulut guci!”

“Kau kira aku setan arak?” kata Cui Giok. Akan tetapi karena iapun merasa betapa perut dan dadanya dingin, ia lalu membawa mulut guci itu ke bibirnya dan menuangkan sedikit isinya ke dalam mulut. Ia merasai minuman yang manis dan wangi, sama sekali berbeda dengan arak biasa, akan tetapi juga mempunyai sifat panas seperti arak. Ia menunda minumnya, dan memandang kepada pemuda itu dengan heran dan mata mengandung pertanyaan.

“Itu sari buah, bukan arak biasa. Disebut arak obat oleh suhu, baik untuk peredaran darah.”

Cui Giok tersenyum lalu minum lagi beberapa teguk. Benar saja, tubuhnya terasa hangat dan enak setelah arak obat itu mengalir masuk ke dalam perutnya. Ia mengembalikan guci itu kepada Gwat Kong yang menerimanya dan terus meneguknya dengan gaya seorang ahli minum benar-benar.

Melihat betapa pemuda itu tidak membersihkan atau menghapus dulu mulut guci yang tadi menempel di bibirnya dan terus meneguknya, tak terasa lagi muka gadis itu menjadi merah karena jengah. Akan tetapi melihat cara pemuda itu minum arak ia teringat akan sesuatu dan setelah Gwat Kong menurunkan guci dan menutupnya kembali, Cui Giok berkata,

“Kau, tentulah Kang-lam Ciu-hiap yang disohorkan orang!”

Gwat Kong tercengang, akan tetapi ia memandang kepada guci araknya dan tersenyum. “Kau pandai sekali menghubungkan sesuatu. Tentu guci arakku ini yang telah membuka rahasia. Nona bicaramu seperti orang selatan. Apakah benar-benar kau ahli waris Im-yang Siang-kiam-hoat sebagaimana yang aku dengar tadi? Telah lama sekali aku mendengar dari suhu tentang kelihaian Im-yang Siang-kiam dan hari ini benar-benar aku membuktikan kebenaran ucapan suhu itu. Ilmu pedangmu benar-benar hebat!”

Merahlah wajah gadis itu. “Kalau kau tidak mengeluarkan ilmu silat cap-jai itu, ilmu pedangku takkan kalah oleh Sin-eng Kiam-hoat atau Sin-hong Tung-hoat!”

Gwat Kong tersenyum mendengar betapa ilmu silat campuran yang ia mainkan tadi untuk mengalahkan gadis ini disebut ilmu silat cap-jai.

“Memang Im-yang Siang-kiam hebat sekali,” ia memuji. “Nona sebetulnya siapakah kau dan hendak pergi ke mana?”

Nona itu memandang dengan mata yang tajam, lalu menjawab,

“Kau yang mengejarku dan karena gara-gara kau aku menjadi basah semua, maka sudah sepatutnya kalau kau yang menceritakan lebih dulu siapa kau ini dan apa maksudmu mengejarku tadi!”

Kembali Gwat Kong tertegun karena banyak sekali persamaan watak gadis ini dengan Tin Eng akan tetapi ia mengalah dan mulai menuturkan keadaan dirinya.

“Aku bernama Gwat Kong, she Bun seorang ….. biasa saja, tidak ada apa-apa yang aneh padaku dan …. eh, apalagi yang harus kuceritakan padamu?”

Ia memandang dengan bingung sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Ketika ia melihat betapa mata gadis itu memandang dengan lucu seakan-akan mentertawakannya, ia buru-buru melanjutkan penuturannya.

“Aku Bun Gwat Kong … eh, sudah kukatakan tadi …. hmmm …….. kau juga sudah tahu bahwa aku disebut Kang-lam Ciu-hiap. Aku yatim piatu, sebatang kara tak berhandai taulan, tiada kawan kenalan, dan aku ….. tadi tanpa kusengaja aku melihat sepak terjangmu dan mendengar bahwa kau adalah ahli waris Ilmu pedang Im-yang Siang-kiam. Oleh karena itu, aku sengaja hendak berkenalan dengan ilmu pedangmu.”

Gwat Kong menarik napas lega karena dapat bicara lancar dan dapat menyelesaikan penuturan itu, karena sesungguhnya belum pernah ia menuturkan riwayatnya sendiri di depan orang lain, terutama kalau orang lain itu seorang gadis muda yang memandangnya dengan sepasang mata yang bersinar demikian tajam dibarengi bibir menahan senyum geli seakan-akan mentertawakan.

“Jadi, kau murid Bok Kwi Sianjin?”

“Benar”

“Kalau begitu, untung aku bertemu dan bertempur dengan kau!”

Gwat Kong memandang heran. “Mengapa bertempur dengan aku, kau anggap untung?”

“Kalau tidak bertemu dan bertempur dengan kau, tentu aku akan bertemu dengan Bok Kwi Sianjin!”

“Nona, apa maksudmu?”

Sie Cui Giok menarik napas panjang dan berkata sambil mulai menguncir kembali rambutnya yang telah mulai kering. Tadi ia melepaskan kuncirnya sehingga rambut terurai di atas pundaknya.

“Untuk menjelaskan maksud kata-kataku tadi, terpaksa aku harus menceritakan riwayatku.”

“Ceritakanlah!” kata Gwat Kong dengan gembira dan penuh perhatian.

“Namaku Cui Giok, she Sie. Keluargaku tinggal di daerah selatan, di propinsi Ciang-si. Aku memang keturunan langsung dari pencipta Im-yang Kiam-hoat, yakni Sie Cui Lui, kakekku. Ayah telah meninggal dunia semenjak aku masih kecil. Ibu tinggal bersama kakek dan nenek. Jadi nasibku tak banyak bedanya dengan kau.

“Tapi kau masih punya ibu!” Gwat Kong mencela.

“Ya, akan tetapi ada ibu tidak ada ayah, apa artinya?”

“Tapi kau masih punya kakek, punya nenek!” Gwat Kong mengejar dan mendesak lagi.

Cui Giok memandangnya dan tersenyum, “Sudahlah, biar kau menang! Memang nasibmu lebih buruk. Semenjak kecil aku mendapat latihan Im-yang Kun-hoat dan kiam-hoat dari kakekku.”

“Kemudian aku mulai melakukan perjalanan perantauan, yakni kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Aku mendapat dua macam pesanan dari kakek yang merupakan tugas bagiku dan belum terlaksana. Pertama-tama kalau aku kebetulan lewat di daerah di mana tinggal Bok Kwi Sianjin, aku harus menemuinya dan mengajak pibu sebagai wakil dari kakekku yang menjadi kawan baik Bok Kwi Sianjin! Karena kakek berpesan bahwa pibu ini harus dilakukan secara persahabatan untuk mengukur kepandaian masing-masing. Maka setelah kini bertemu dengan kau yang menjadi murid Bok Kwi Sianjin, bahkan kita sudah bertempur pula, kurasa tugas pertama ini sudah kupenuhi!”

Gwat Kong mengangguk-angguk. “Kurasa memang benar begitu!” Ia sengaja membenarkan pandangan nona ini agar nona yang karena hari ini tidak mencari suhunya untuk mengajak pibu.

“Karena inilah maka tadi kukatakan untung telah bertempur dengan kau!” kata pula nona itu dan karena melihat betapa api unggun itu mengecil karena kayu bakarnya telah hampir habis, ia berkata,

“Apa ini perlu ditambah bahan bakar lagi?”

Gwat Kong tersenyum, karena ia maklum bahwa secara tidak langsung, gadis ini minta ia mencari tambahan kayu kering. Tak terasa lagi, ketika ia mencari kayu kering di bawah-bawah pohon, ia mendapat kenyataan bahwa pada saat itu senja telah terganti malam. Ia cepat mengumpulkan kayu kering dan menambahkannya pada api unggun itu yang segera membesar lagi nyalanya.

“Dan apakah adanya pesan kedua dari kakekmu?” tanya Gwat Kong setelah menambah kayu pada api itu dan duduk di atas rumput lagi.

Untuk beberapa lama gadis itu tidak menjawab, kemudian tiba-tiba ia berkata, “Kau putarlah tubuhmu dan harap duduk membelakangiku, jangan sekali-kali melihat aku!”

Tentu saja Gwat Kong menjadi bengong dan memandang dengan terheran-heran lalu bertanya, “Bagaimanakah ini? Jawabanmu sama sekali tidak sejalan dengan pertanyaanku. Dan mengapa aku harus duduk membelakangimu? Apakah mukaku begitu mengerikan dan menjijikan sehingga kau tidak kuat memandang lebih lama lagi? Kalau kau tidak tahan duduk lebih lama di dekatku, katakanlah saja, aku bersedia untuk pergi!”

“Bodoh!” gadis itu menjawab dengan muka merah. “Pakaianku telah kering, akan tetapi sepatu dan kaos kaki ini sukar sekali keringnya. Kalau dibiarkan basah amat tidak enak maka aku hendak membuka dan memanggangnya dekat api. Karena itu kau harus memutar tubuhmu!”

Merahlah muka Gwat Kong mendengar ini dan cepat-cepat ia memutar tubuhnya membelakangi gadis itu. Ia mendengar suara sepatu dan kaos kaki dilepas dan diam-diam ia tersenyum geli. Gadis ini berani, tabah dan lucu.

“Bagaimana kau begitu percaya kepadaku? Mengapa kau begitu yakin bahwa aku bukan seorang laki-laki kurang ajar yang akan menengok dan melihatmu pada saat ini?” tanya Gwat Kong tanpa menggerakkan kepalanya.

“Tak mungkin! Laki-laki seperti kau takkan berani berbuat sekurang ajar itu!”

Gwat Kong menggigit bibirnya. Benar-benar berani sekali gadis itu, lebih berani dari Tin Eng. Ia merasa heran mengapa malam ini ia bisa duduk-duduk di dekat api unggun bersama seorang gadis yang tadinya sama sekali tak pernah dikenalnya, bercakap-cakap bagaikan dua sahabat baik. Baru saja bertemu dan berkenalan belum beberapa lama, ia telah merasa dekat sekali dengan nona ini, sama sekali tidak merasa asing, seakan-akan gadis ini adalah adik perempuan sendiri.

Ia terkenang kepada Tin Eng, gadis yang telah merebut hatinya itu. Alangkah senangnya kalau saja ia bisa melakukan perjalanan bersama Tin Eng, duduk di pinggir sungai di dekat api unggun seperti sekarang ini.

“Gwat Kong, mengapa kau diam saja?”

Gwat Kong terkejut. Gadis ini tanpa banyak peraturan lagi telah memanggilnya berani. Hampir saja ia lupa menengok. Untung ia masih teringat dan menjawab,

“Aku sedang memikirkan tentang tugasmu yang kedua yang dipesankan oleh kakekmu. Kau belum menceritakannya itu kepadaku.”

Terdengar gadis itu tertawa perlahan. “Kau benar-benar seorang pemuda yang ingin mengetahui segalanya seperti watak seorang perempuan saja. Baiklah, dari pada kita diam saja akan kuceritakan kepadamu. Pesan kakekku yang kedua ialah bahwa aku harus mencari Liok-te Pat-mo (Delapan Iblis Bumi) dan membalaskan sakit hati kakekku kepada mereka. Karena mencari mereka itulah maka aku sampai di tempat ini.”

“Siapakah delapan iblis bumi itu? Namanya amat mengerikan!”

“Ilmu kepandaian mereka lebih mengerikan lagi,” kata gadis itu. “Mereka adalah ahli-ahli ilmu golok Pat-kwa To-hoat.”

Gwat Kong terkejut sehingga ia menengok. Akan tetapi untung bahwa ia hanya memandang muka gadis itu dan segera membalikkan kepala kembali sebelum melihat kaki gadis itu yang telanjang. (Pada masa itu, kaki seorang wanita dianggap sebagai bagian tubuh yang tak boleh diperlihatkan kepada sembarangan orang, terutama kepada laki-laki, seperti halnya anggauta tubuh lain yang dirahasiakan dan ditutup).

“Aku pernah mendengar dari suhu bahwa Pat-kwa To-hoat adalah ilmu golok yang menjagoi di daerah utara, yang kedudukannya sama tingginya dengan Im-yang Siang-kiam-hoat!”

“Memang suhumu berkata benar,” jawab Cui Giok perlahan. “Di empat penjuru, Sin-eng Kiam-hoat dari barat, Sin-hong Tung-hoat dari timur, Im-yang Siang-kiam-hoat dari selatan dan Pat-kwa To-hoat dari utara telah amat terkenal. Kurasa Pat-kwa To-hoat tidak kalah hebatnya dari ilmu pedangmu Sin-eng Kiam-hoat atau ilmu tongkatmu Sin-hong Tung-hoat.”

“Akan tetapi, mengapa pula kakekmu bermusuhan dengan mereka?”

Untuk beberapa lama Cui Giok tidak menjawab dan Gwat Kong mendengar betapa gadis itu mengenakan kembali kaos kaki dan sepatunya pada kakinya.

“Sekarang kau boleh memutar tubuhmu.”

Gwat Kong memutar duduknya dan menghadapi gadis itu yang menarik napas panjang dan kelihatan senang dan puas.

“Aaah ….. katanya senang. “Sekarang enaklah rasanya kedua kakiku. Hangat sekali!”

Gwat Kong merasa betapa sepatunya yang basah memang mendatangkan rasa dingin pada telapak kakinya yang menjalar naik ke perut dan dada, maka iapun lalu melepaskan kedua sepatunya dan mendekatkannya pada api.

“Kau pandai memancing cerita orang,” kata Cui Giok. “Karena untuk menjawab pertanyaanmu terpaksa aku harus menuturkan pula riwayat Liok-te Pat-mo itu dan mengapa mereka sampai dibenci oleh kakekku.”

Gwat Kong merasa betapa ia memang keterlaluan semenjak tadi hanya menjadi pendengar saja dan ia belum menuturkan riwayatnya sendiri.

“Biarlah kau menuturkan ceritamu dulu, Cui Giok, nanti baru tiba giliranku untuk bercerita. Aku berjanji akan menceritakan keadaanku seluruhnya. Tentang riwayatku mempelajari ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan lain-lain!”

“Nah, itu baru adil namanya!” Cui Giok berseru girang. Nah, sekarang dengarlah. Ilmu golok Pat-kwa To-hoat diciptakan oleh mendiang Lok Kong Hosiang yang tinggal di propinsi Ce-kiang. Sebagaimana sering kali terjadi pada ahli-ahli silat yang pandai, Lok Kong Hosiang ternyata telah salah menerima murid. Murid tunggalnya ini bernama Ang Sun Tek, seorang yang amat pandai membawa diri sehingga setiap orang akan menganggapnya sebagai seorang pemuda yang amat berbudi. Oleh karena inilah maka Lok Kong Hosiang sampai tertipu olehnya dan telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada pemuda she Ang itu. Ang Sun Tek mempelajari Pat-kwa To-hoat sampai sempurna betul dan tidak ada satupun gerakan yang belum ia pelajari dari Lok Kong Hosiang. Kemudian, suhunya anggap ia telah tamat belajar dan menyuruhnya mencari pengalaman di dunia kang-ouw. Akan tetapi, begitu ia turun gunung, ia membuka kedoknya dan nampaklah wajah serigala kejam di balik kedok domba itu. Ang Sun Tek berubah menjadi seorang penjahat yang kejam, yang melakukan segala macam perbuatan hina. Merampok, membunuh, mengganggu anak bini orang, ah …. pendeknya segala macam perbuatan jahat tidak ada yang tak dilakukan oleh penjahat itu!”

“Benar-benar manusia rendah budi dan bejat akhlak!” seru Gwat Kong.

“Bukan itu saja,” Cui Giok melanjutkan penuturannya. “Bahkan ia lalu mengumpulkan kawan-kawan lamanya yang terdiri dari orang-orang jahat. Kemudian memilih empat pasang saudara yang berbakat, yakni dia dan adiknya sendiri yang bernama Ang Sun Gi dan tiga pasang saudara lain she Liem, Thio dan Tan. Empat pasang saudara ini merupakan delapan orang muda yang berbakat baik. Kemudian Ang Sun Tek melatih tujuh orang kawannya ini dengan ilmu Pat-kwa To-hoat itu. Memang ia memiliki kecerdikan yang luar biasa, sehingga ia dapat menciptakan Pat-kwa-tin (Barisan Pat-kwa atau segi delapan), dan pat-kwa-tin inilah yang hebat luar biasa. Entah berapa banyak orang gagah tewas dalam menghadapi Pat-kwa-tin ini. Karena setelah membentuk delapan sekawan ini, Ang Sun Tek dan kawan-kawannya makin mengganas dan berlaku sewenang-wenang, maka mereka diberi julukan Liok-te Pat-mo atau Delapan Iblis Bumi dan banyak orang gagah datang untuk menumpasnya. Akan tetapi mereka semua dipukul hancur, ada yang terluka, ada pula yang tewas. Bahkan, ketika Lok Kong Hosiang mendengar hal ini dan datang pula untuk menghukum muridnya, ia disambut dengan keroyokan delapan orang itu. Ang Sun Tek telah menyerang dan mengeroyok gurunya sendiri mempergunakan Pat-kwa-tin!”

“Benar-benar manusia bong-im-pwe-gi (tak mengenal budi)!” seru Gwat Kong gemas.

Sebagai pencipta dari Pat-kwa To-hoat, tentu saja Lok Kong Hosiang dapat menghadapi dengan baik Pat-kwa-tin itu, yang diciptakan oleh muridnya berdasarkan Pat-kwa To-hoat pula. Akan tetapi, hwesio itu telah amat tua ketika meghadapi keroyokan mereka dan pula, ia tidak tega untuk membunuh delapan orang-orang muda itu, sehingga akhirnya dia sendirilah yang menderita luka-luka parah dan terpaksa melarikan diri.”

“Terkutuklah si jahanam Ang Sun Tek!” Gwat Kong memaki marah.

“Lok Kong Hosiang adalah sahabat baik dari kakekku dan ketika kakekku mendengar akan hal itu, ia segera mencari Lok Kong Hosiang di propinsi Ce-kiang. Akan tetapi, kakek terlambat karena ketika ia tiba di kelenteng tempat tinggal Lok Kong Hosiang, hwesio itu telah menghembuskan napas terakhir.”

“Hmmm, muridnya sendiri yang membunuhnya! Benar-benar manusia she Ang itu harus dibinasakan!” kata Gwat Kong sambil mengepal tinjunya.

“Kakek juga berpikir begitu, maka kakekku lalu pergi mencari mereka ke kota Sianuang di propinsi Ce-kiang.”

“Bagus!” kata Gwat Kong memuji.

“Sama sekali tidak bagus!” Cui Giok mencela. “Ternyata bahwa kakekku sendiri masih tak cukup kuat menghadapi Pat-kwa-tin mereka sehingga hampir saja kakek mendapat celaka. Untung kakek masih dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi, kakek merasa amat terhina dan malu karena dikalahkan oleh mereka!”

“Sungguh lihai!” Gwat Kong memuji.

“Memang mereka lihai sekali. Akan tetapi aku tidak takut kepada mereka. Kakek telah menggemblengku dan menurut pendapat kakek, kepandaianku telah lebih kuat dari pada keadaan kakekku ketika menyerbu Pat-kwa-tin itu. Aku telah menyusul ke Ce-kiang. Akan tetapi ternyata bahwa sekarang Liok-te Pat-mo telah pindah dan mereka itu telah diangkat menjadi busu (perwira istana kaisar). Bahkan Ang Sun Tek dan kawan-kawannya merupakan pasukan perwira istana yang istimewa dan mereka tinggal di kota raja.”

“Jadi sekarang kau hendak menyusul ke kota raja?”

“Tentu saja! Jangankan ke kota raja, biarpun mereka itu pindah ke pulau api, aku tentu akan mengejar mereka!” kata Cui Giok dengan suara gagah.

“Akupun akan ke sana dan membantumu!”

Cui Giok memandangnya dan merengut.

“Apa kau kira aku takut kepada mereka dan memerlukan bantuanmu?”

“Bukan begitu. Akupun ingin sekali mencoba kepandaian mereka yang sombong dan jahat hati itu. Suhu pernah bercerita tentang adanya Pat-kwa To-hoat. Agaknya suhu belum tahu tentang kejahatan anak murid Pat-kwa To-hoat ini. Kalau suhu tahu tentu aku diperintahkan pula untuk menghancurkan mereka!”

Tiba-tiba Cui Giok tersenyum lebar. “Bagus kalau begitu, empat besar akan bertemu di kota raja. Dengan adanya kau, aku merasa lebih yakin bahwa mereka tentu akan mengalami kehancuran. Aku tidak malu datang bersama kau mencari mereka, karena merekapun delapan orang!”

“Terima kasih Cui Giok. Kau baik sekali dan aku girang kau percaya kepadaku.”

“Sekarang tiba giliranmu untuk menceritakan semua pengalamanmu semenjak kau terlahir sampai sekarang!” kata Cui Giok yang mengumpulkan daun kering ditumpuk lalu ia membaringkan tubuhnya berbantal daun kering setumpuk itu, di dekat api.

Gwat Kong tersenyum geli mendengar ucapan itu, maka dengan singkat ia lalu bercerita tentang riwayatnya, tentang ayahnya yang difitnah oleh hartwan Tan, tentang ibunya yang hidup sengsara dan menderita. Kemudian ia menceritakan pula betapa ia bekerja sebagai pelayan di rumah pembesar she Liok dan bagaimana ia menemukan kitab ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat secara kebetulan.

Pendeknya ia menceritakan seluruh riwayatnya, kecuali tentu tentang Tin Eng ia tidak menceritakan sama sekali. Lama juga ia bercerita sambil memandang ke arah api dengan pikiran melayang ke masa lampau. Setelah ia berhenti bercerita dan memandang kepada Cui Giok karena gadis itu semenjak tadi diam saja tidak bersuara sedikitpun, ia melengak. Karena ternyata bahwa nona baju kuning itu telah tidur pulas!

Gwat Kong merasa mendongkol sekali karena agaknya sudah sejak tadi gadis itu tertidur sehingga tadi ia bercerita kepada …. api unggun! Akan tetapi ia merasa geli juga dan memandang kepada gadis itu dengan hati girang karena ia merasa suka melihat sikap gadis itu yang begitu terbuka. Ia percaya bahwa Cui Giok bukan tertidur karena kesal mendengar ceritanya. Akan tetapi karena memang benar-benar ia lelah sekali sehingga tertidur tanpa terasa lagi.

Gwat Kong mencari ranting-ranting kering untuk menambah bahan bakar, kemudian iapun duduk melenggut bersandarkan pohon dan tak lama kemudian iapun tertidur.

Pada keesokan harinya, pundaknya digoyang-goyang orang dan ketika ia terbangun ia mendengar suara Cui Giok. “Bangun! Bangunlah, pemalas benar.”

Gwat Kong membuka matanya dan melihat bahwa malam telah berganti pagi dan api unggun di depannya telah padam. Cui Giok nampak segar. Agaknya gadis ini pagi-pagi telah mandi di sungai itu. Melihat pakaiannya sendiri yang masih kotor berlumpur, Gwat Kong lalu membuka buntalan pakaiannya karena pakaian ini telah kering dan bersih. Kemudian ia berlari menuju ke sungai untuk mandi dan bertukar pakaian. Ketika ia kembali ke tempat itu, ternyata Cui Giok memanggang dua potong daging kelinci di atas api unggun. Bau daging panggang yang sedap itu membuat perut Gwat Kong berbunyi keras dan panjang.

“Aduh sedapnya!” ia berkata sambil menelan ludah.

Cui Giok mengerling dan berkata, “Akan kuberikan sepotong kepadamu asal kau duduk dengan baik dan menceritakan riwayatmu kepadaku. Kau belum menceritakannya sedangkan aku telah menuturkan semua riwayatku.”

“Siapa bilang belum kuceritakan? Semalam telah kuceritakan semua dari awal sampai akhir. Akan tetapi kau telah tertidur dan tidak mendengarkannya sama sekali!”

“Benarkah …..??” Suara ini terdengar demikian kecewa dan wajah yang manis itu nampak demikian menyesal sehingga Gwat Kong segera berkata, “Ah, tidak, aku membohong. Kau memang tertidur dan akupun menghentikan ceritaku. Nah, kau makanlah daging itu, aku akan menuturkan riwayatku dengan singkat!”

Demikianlah, Gwat Kong untuk kedua kalinya menuturkan riwayatnya dan beberapa kali ia memandang tajam, takut kalau-kalau ia dipermainkan lagi. Akan tetapi melihat perhatian yang dicurahkan oleh Cui Giok, ia maklum bahwa gadis itu tidak mempermainkannya.

Setelah daging itu matang, mereka makan dengan lezat dan enaknya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja untuk mencari Liok-te Pat-mo si delapan iblis bumi.

Di sepanjang jalan mereka merasa gembira dan cocok sekali, bagaikan dua orang sahabat yang telah bertahun-tahun menjadi sahabat.

****

Setelah merobohkan Lui Siok si Ular Belang yang menjadi wakil ketua dari Hek-i-pang dan menjadi suheng (kakak seperguruan) Gan Bu Gi, kemudian melukai kuda yang ditunggangi oleh Song Bu Cu ketua Hek-i-pang sehingga ketua itu bersama Gan Bu Gi tak berdaya dan tak dapat mengejar. Tin Eng dan Kui Hwa melarikan kuda mereka dengan senang dan di sepanjang jalan kedua orang nona pendekar ini tertawa terkekeh-kekeh karena merasa geli hatinya.

“Aah, cici Hwa, benar-benar puas hatiku dapat mempermainkan mereka! Ha ha ha !! Kedua ketua dari Hek-i-pang bersama si keparat Gan Bu Gi itu telah mendapat hinaan dari kita berdua. Aah, sungguh senang melakukan perjalanan dengan kawan segagah engkau, enciku yang baik.”

Sebaliknya Kui Hwa menarik napas panjang. “Akan tetapi aku merasa kecewa, adik Eng. Kalau saja aku dapat bertemu berdua saja dengan Gan Bu Gi, tanpa adanya bantuan dari Lui Siok dan Song Bu Cu yang tangguh tentu pedangku akan menamatkan riwayat pemuda jahanam itu!”

“Enci Hwa, mengapakah sebetulnya maka kau amat membenci Gan Bu Gi? Dahulu kau mengatakan bahwa orang she Gan itu pernah menyakitkan hatimu. Penghinaan apakah yang telah ia perbuat?”

Tiba-tiba Kui Hwa menghentikan kudanya bahkan lalu turun dan pergi duduk di tepi jalan di bawah sebatang pohon. Tin Eng juga melompat turun dan melihat betapa kedua mata Kui Hwa tiba-tiba menjadi merah dan beberapa titik air mata turun membasahi pipinya. Tin Eng merasa terkejut sekali. Ia memegang tangan kawannya itu dan bertanya, “Ah, maafkan aku telah menyinggung perasaan hatimu, enci Hwa.”

Alangkah herannya ketika ia melihat Kui Hwa tiba-tiba menangis sedih, menutupi mukanya dan dengan ujung lengan baju dan tak dapat menjawab, hanya terisak-isak.

“Enci Kui Hwa, agaknya orang she Gan itu telah memberikan sesuatu yang hebat kepadamu. Ketahuilah bahwa aku juga menderita oleh karena dia.”

Kui Hwa mengangkat mukanya yang merah dan memandang kepada Tin Eng. Ucapan Tin Eng ini benar-benar menarik perhatiannya. Tin Eng maklum bahwa kawannya itu ingin mengertahui riwayatnya dan karena menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat antara Gan Bu Gi dan Kui Hwa, maka ia lalu menuturkan riwayatnya.

“Enci Kui Hwa, entah apa yang ia lakukan terhadapmu sehingga kau merasa amat berduka. Akan tetapi, Gan Bu Gi yang menjadi biang keladi sehingga aku terpaksa meninggalkan rumah orang tuaku dan merantau seperti seorang yang tak berkeluarga.”

Diceritakannya betapa Gan Bu Gi itu diantar oleh gurunya, yakni Bong Bi Sianjin tokoh Kim-san-pai juga oleh Seng Le Hosiang tokoh Go-bi-pai mengunjungi ayahnya sehingga kemudian Gan Bu Gi diberi kedudukan sebagai komandan pasukan pengawal. Betapa kemudian ayahnya bahkan hendak memaksanya untuk menjadi isteri perwira she Gan itu.

“Demikianlah enci Kui Hwa, maka aku lalu melarikan diri dari rumah karena ayah memaksaku. Aku tidak sudi menjadi isterinya, aku …. aku benci kepadanya. Akhir-akhir ini aku mendapat perasaan bahwa orang she Gan itu bukanlah seorang manusia baik.”

“Kau benar, adikku dan dalam hal ini kau lebih cerdik dan awas dari padaku,” akhirnya Kui Hwa berkata setelah berkali-kali menghela napas. “Gan Bu Gi memang hanya di luarnya saja kelihatan tampan dan gagah serta halus, sopan sikapnya. Akan tetapi ia memiliki watak yang tidak baik dan palsu.”

“Kalau kau percaya kepadaku, enci Kui Hwa, ceritakanlah pengalamanmu ini sehingga aku dapat mendengar sampai di mana kejahatan Gan Bu Gi.”

Tadinya Kui Hwa masih merasa ragu-ragu untuk menuturkan riwayatnya. Akan tetapi melihat pandang mata Tin Eng yang jujur dan karena ia memang merasa suka kepada dara ini dan mempunyai perasaan seolah-olah Tin Eng menjadi adiknya sendiri, ia lalu menuturkan riwayatnya secara singkat.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: