Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 27

SEMENTARA itu, nelayan tua ketika mendengar ucapan-ucapan ini dan melihat sikap Song Bu Cu dan Lui Siok yang galak mengancam menjadi ketakutan. Ia berjongkok di dalam perahunya dengan tubuh menggigil dan mulutnya tiada hentinya menyebut nama Budha sambil memohon,

“Omi-tohud! Lindungilah hamba ……..”

Dengan sikap tenang sekali Gwat Kong dan Cui Giok lalu keluar dari perahu dan berjalan maju menyambut kedatangan kedua orang itu. Setelah mereka berhadapan, Lui Siok menudingkan telunjuknya ke arah muka Gwat Kong dan membentak,

“Bangsat kecil, apakah kau yang bernama Gwat Kong dan yang menyombongkan diri sebagai Kang-lam Ciu-hiap?”

“Bangsat besar!” Gwat Kong balas memaki. “Memang cocok sekali watakmu sebagai bangsat besar, datang-datang memaki orang, seperti orang yang miring otaknya.”

“Kang-lam Ciu-hiap! Dengarlah baik-baik. Aku adalah Lui Siok, wakil ketua dari Hek-i-pang di Tong-kwan, sedangkan twako ini adalah Song Bu Cu, ketua dari Hek-i-pang. Kau telah berlaku kurang ajar dan telah menghina Touw Cit dan Touw Tek di Hun-lam. Mereka itu adalah anggauta-anggauta perkumpulan kami.”

“Pantas, pantas!” Gwat Kong mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pantas saja nama Hek-i-pang dibenci semua orang. Tidak tahunya yang menjadi ketua dan wakil ketuanya orang-orang macam ini.”

“Akupun pernah mendengar tentang kebusukan nama Hek-i-pang,” tiba-tiba Cui Giok ikut bicara. “Karenanya sudah lama aku ingin menegurnya. Sekarang pemimpin-pemimpinnya datang menyerahkan diri. Sungguh bagus, tidak usah aku mencapekkan diri mencari.”

Bukan main marahnya Song Bu Cu dan Lui Siok mendengar ucapan kedua orang muda ini.

“Perempuan busuk!” Song Bu Cu membentak. “Siapakah kau yang lancang mulut ini?”

Cui Giok tertawa. “Mau tahu aku siapa? Aku adalah malaikat penjaga sungai Yung-ting ini dan aku telah mendapat pesan dari Hay-liong-ong (Raja naga laut yang menguasai air) agar supaya aku menangkapmu dan melemparkan kau ke air agar dosa-dosamu dicuci bersih dengan air sungai ini.”

“Anjing betina!” Song Bu Cu memaki dengan marah yang meluap-luap. Belum pernah ada orang yang berani menghina sedemikian rupa. Apalagi seorang dara muda seperti Cui Giok. Maka ia lalu bergerak maju hendak menyerang, akan tetapi ia didahului oleh Lui Siok yang berkata,

“Twako, biarlah aku yang menangkap domba betina yang pandai berlagak ini. Harap twako membereskan saja Kang-lam Ciu-hiap!”

Memang Lui Siok berwatak licik. Ia telah mendengar dari Gan Bu Gi tentang kelihaian Kang-lam Ciu-hiap, maka biarpun dulu di depan Gan Bu Gi ia bicara sombong, akan tetapi karena kini Gwat Kong berkawan seorang gadis muda, ia hendak mengambil rsiko sekecil-kecilnya dengan melawan gadis itu. Melawan Kang-lam Ciu-hiap ada bahayanya menderita kalah. Akan tetapi menghadapi gadis muda ini tak mungkin akan kalah, demikian pikirnya.

Ia bermaksud membikin malu dara muda yang cantik itu, maka begitu ia menubruk maju, ia mengeluarkan ilmu silatnya yang lihai, yakni ilmu tangkap yang disebut Siauw-kin-na-jiu-hoat, sebagaimana pernah ia pergunakan ketika ia melawan Tin Eng. Siauw-kin-na-jiu-hoat ini dilakukan mengandalkan kekuatan jari tangan dan kecepatan gerakan. Setiap tangkapan atau cengkeraman ditujukan kepada jalan darah sehingga sekali saja tangan atau bagian tubuh lain dari lawan kena tertangkap, maka amat sukarlah bagi lawan itu untuk dapat melepaskan diri.

Sambil berseru keras, Lui Siok menyerang ke arah kedua pundak Cui Giok dan ia merasa bahwa serbuannya ini pasti akan berhasil karena selain ia lakukan dengan amat cepatnya, juga ia melihat betapa gadis itu masih berdiri dengan bertolak pinggang, sama sekali tidak memasang kuda-kuda.

Sementara itu, Song Bu Cu juga maju menyerbu Gwat Kong. Ketua dari Hek-i-pang terlalu percaya kepada kepandaian sendiri dan ia memandang rendah kepada Gwat Kong yang masih amat muda, maka ia menyerang menggunakan kedua tangannya saja. Melihat betapa pemuda itu dengan sikap sembarangan berdiri dengan kaki kiri di depan dan dua tangan disilangkan di dada, ia lalu memajukan kaki kanan dan memukul dengan gerak tipu Pek-wan-hian-tho (Kerah putih persembahkan buah Tho) dengan maksud untuk menipu. Dan apabila lawannya mengelak sambil mengundurkan kaki kiri, ia akan menyusul dengan kaki kirinya mengirim tendangan dibarengi dengan pukulan tangan kanan.

Serangan yang dilakukan oleh Lui Siok dan Song Bu Cu datangnya pada saat yang sama, dan keduanya telah merasa yakin bahwa serangan pertama itu tentu akan merobohkan lawan. Akan tetapi, tiga orang anak buah Hek-i-pang dan nelayan tua yang menonton pertempuran itu, tiba-tiba membelalakkan mata dan memandang dengan penuh keheranan ketika serangan itu bukan mengakibatkan robohnya Gwat Kong dan Cui Giok, bahkan tiba-tiba terdengar suara kaget disusul oleh melayangnya tubuh Song Bu Cu dan Lui Siok ke sungai.

“Byur…….. byur …….!!” air memercik ke atas ketika dua tubuh ketua Hek-i-pang itu menimpa air. Song Bu Cu masih untung oleh karena ia terjatuh di air dengan kepala lebih dahulu sehingga ia dapat meluruskan tubuhnya dan kedua tangannya dipergunakan untuk memasuki air dengan baik. Akan tetapi Lui Siok terjatuh dengan pantat lebih dulu sehingga ia merasa pantatnya panas dan pedas.

Gwat Kong dan Cui Giok saling pandang dengan alis terangkat dan ulut tersenyum geli. Sungguh tak pernah mereka duga bahwa mereka mempunyai maksud dan gerakan yang sama yakni melemparkan kedua lawan itu ke dalam air. Maka tak tertahan pula keduanya tertawa bergelak sambil memandang ke arah dua orang lawannya yang sedang berenang ke pinggir.

Song Bu Cu dan Lui Siok menjadi marah sekali. Memang tadi mereka telah sangka dan terlalu memandang rendah kepada lawan yang muda-muda ini. Ketika tadi Lui Siok mencengkeram ke arah pundak Cui Giok, gadis itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, akan tetapi mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya ke arah pundak dan mengeluarkan ilmu sia-kut-hoat (melepas tulang melemaskan tubuh). Sehingga ketika kedua tangan Lui Siok mencengkeram pundak gadis itu, si Ular Belang terkejut karena kulit pundak gadis itu terasa amat licin dan tak dapat ditangkap. Sebelum ia menginsyafi bahwa ia telah melakukan serangan yang amat berbahaya bagi kedudukannya sendiri, tiba-tiba kedua tangan Cui Giok telah menangkap leher dan bajunya, lalu melontarkan dengan tenaga lweekang hebat ke sungai.

Adapun Song Bu Cu ketika menyerang Gwat Kong dengan pukulan Pek-wan-hian-tho sama sekali tidak mengira bahwa Gwat Kong sudah dapat menduga maksudnya, maka dengan sengaja pemuda itu melangkahkan kaki kiri ke belakang. Song Bu Cu menjadi girang dan cepat menyusul dengan tendangan kaki kirinya dan pukulan tangan kirinya. Akan tetapi, tiba-tiba Gwat Kong berjongkok meluputkan diri dari pukulan lawan. Adapun kaki kiri Song Bu Cu menyambar kearahnya. Ia menyambut kaki kiri itu dengan tangkapan tangan kanan dan sambil ‘meminjam’ tenaga tendangan lawan, ia membetot dan melontarkan tubuh Song Bu Cu ke dalam air.

Demikianlah, maka dengan amarah yang menyesakkan pernapasan dan dengan pakaian basah kuyup, Song Bu Cu dan Lui Siok berenang ke pinggir dan melompat ke darat.

Cui Giok menyambut Lui Siok dengan tertawa mengejek, “Nah, baru sekali kau mencuci dosa, masih belum bersih. Masih kurang lama kau mencuci dosamu.”

Gwat Kong menjadi gembira juga mendengar kejenakaan Cui Giok, maka sambil tersenyum-senyum yang memanaskan hati, ia berkata kepada Song Bu Cu,

“Pangcu (ketua), orang bilang bahwa air sungai Yung-ting ini rasanya asin seperti air laut, betulkah itu?”

Song Bu Cu dan Lui Siok menjawab ejekan ini dengan mencabut senjata masing-masing. Song Bu Cu mengeluarkan sepasang pedangnya, sedangkan Lui Siok melepaskan sabuk ular belang yang tadi melibat di pinggangnya,

Gwat Kong dan Cui Giok maklum bahwa kedua orang lawan ini betapapun juga tak boleh di pandang ringan dengan senjata-senjata mereka, maka kedua orang muda itupun lalu mencabut pedang masing-masing. Gwat Kong mengeluarkan Sin-eng-kiam yang bercahaya gemilang sedangkan Cui Giok juga mengeluarkan sepasang pedangnya yakni Im-yang Siang-kiam.

Berbareng dengan bentakan-bentakan mereka, Song Bu Cu menyerang Gwat Kong sedangkan Lui Siok menyerang Cui Giok. Pertempuran yang amat seru terjadi di pinggir sungai itu. Benar-benar hebat dan menarik, karena Gwat Kong yang berpedang tunggal menghadapi sepasang pedang Song Bu Cu. Sedangkan sabuk ular belang di tangan Lui Siok yang lihai bertemu dengan sepasang pedang pula di tangan Cui Giok.

Lui Siok adalah seorang murid tertua Kim-san-pai. Maka ilmu silatnya sudah cukup tinggi. Dibandingkan dengan sutenya, yakni Gan Bu Gi, kepandaiannya masih lebih tinggi dan ditambah pula dengan pengalaman bertempur berpuluh tahun, maka ia benar-benar tangguh dan merupakan lawan berat.

Juga Song Bu Cu lebih lihai lagi. Sepasang pedangnya berputar-putar cepat bagaikan sepasang naga berebut mustika dan sebagai seorang ahli lweekeh yang memiliki ilmu lweekang amat tinggi, maka gerakan sepasang pedangnya itu mengeluarkan angin dingin yang mengerikan.

Akan tetapi kini kedua orang pemimpin Hek-i-pang itu benar-benar menjumpai batu karang. Betapapun lihainya Song Bu Cu, kini menghadapi Sin-eng Kiam-hoat yang dimainkan oleh Gwat Kong, ia seakan-akan bertemu dengan gurunya. Pedang tunggal Gwat Kong bergerak lebih cepat dan tiap gerakannya merupakan tangkisan dan serangan balasan yang berbahaya sekali sehingga dalam beberapa belas jurus Song Bu Cu telah terdesak mundur dan sepasang pedangnya tertindih, membuat ia sukar sekali mengirim serangan balasan.

Apalagi Lui Siok. Orang ini setelah bertempur belasan jurus, diam-diam mengeluh dan memaki kepada dirinya sendiri yang dianggapnya goblok dan buta sehingga tadi memilih gadis ini untuk menjadi lawannya. Biarpun ia belum pernah bertempur melawan Gwat Kong, akan tetapi menghadapi kelihaian gadis ini, ia berani bersumpah untuk menyatakan bahwa kepandaian Gwat Kong tak mungkin dapat setinggi gadis ini.

Sebentar saja gerakan sabuknya menjadi kalut sekali. Sepasang pedang dari Cui Giok yang bergerak dengan tenaga lemas dan keras berganti-ganti membuat Lui Siok menjadi pening kepala dan pandangan matanya menjadi kabur berkunang.

Cui Giok memang seorang dara yang jenaka sekali dan ia paling suka mempermainkan orang. Apalagi kalau orang itu seorang penjahat yang dibencinya. Bagaikan seekor kucing betina menangkap tikus, ia tidak mau menamatkan riwayat tikus itu demikian saja tanpa dipermainkan terlebih dahulu.

Kalau ia mau, sudah semenjak gebrakan pertama ia dapat membabat putus sabuk lawannya, atau bahkan melukai tubuh Lui Siok. Akan tetapi ia tidak melakukan hal ini dan sengaja menanti sampai Gwat Kong mengalahkan lawannya lebih dulu. Maka ujung pedangnya hanya ‘mampir’ saja dipakaian lawannya sehingga baju Lui Siok sudah bolong-bolong dimakan ujung pedang. Bahkan kulit tubuhnya di beberapa bagian juga terbawa hingga mengeluarkan darah dan terasa perih sekali.

Di lain pihak, Gwat Kong tidak mau mempermainkan Song Bu Cu sebagaimana yang dilakukan oleh Cui Giok. Pemuda ini mainkan pedangnya dengan hebat dan mendesak terus sambil mengirim serangan-serangan yang berbahaya. Sungguhpun ia tidak mau melakukan serangan yang mematikan atau membahayakan keselamatan lawannya.

Ia hanya ingin merobohkan lawannya dengan luka seringan mungkin. Beberapa kali ia berusaha membuat kedua pedang lawan terlepas. Akan tetapi ternyata bahwa usaha ini amatlah sukar. Oleh karena itu Gwat Kong menjadi penasaran sekali. Ia maklum bahwa berkat keuletan lawannya, maka amat sukarlah baginya untuk dapat merobohkan lawan ini tanpa mengirim serangan hebat yang dapat mengakibatkan luka berat atau kebinasaan. Maka setelah berpikir agak lama, Gwat Kong lalu mencabut sulingnya yang disimpan pada buntalan pakaian yang diikat di punggungnya. Kemudian dengan suling di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, ia mendesak lagi.

Bukan main terkejutnya hati Song Bu Cu melihat gerakan suling ini, karena tidak saja hebat dan lihai, bahkan lebih berbahaya agaknya dari pada pedang pemuda itu. Ia tidak tahu bahwa Gwat Kong mainkan sulingnya dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat, ilmu silat tingkat tinggi yang dipelajari dari Bok Kwi Sianjin. Dengan suling dan pedang ditangannya, maka sekali gus pemuda itu telah mainkan Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat.

Sudah tentu Song Bu Cu tidak kuat menghadapi dua ilmu silat yang telah menggemparkan daerah barat dan timur ini. Maka mukanya menjadi pucat dan sepasang pedangnya tak berdaya sama sekali. Pada saat yang tepat, suling di tangan kiri Gwat Kong bergerak menyerang dengan totokan jalan darah di bagian pundak dan pedangnya berkelebat mengancam pergelangan tangan lawan.

Song Bu Cu menjadi bingung oleh karena gerakan kedua senjata lawannya itu benar-benar tak dapat diduga semula, maka ia terpaksa harus miringkan tubuh ke kiri untuk menghindarkan totokan suling dan menggerakkan siang-kiamnya untuk menangkis sambaran pedang. Akan tetapi pada saat itu ketika kedudukan tubuhnya masih buruk dan lemah, tiba-tiba kaki kanan Gwat Kong menyambar dibarengi dengan ketokan sulingnya pada pergelangan tangan kanan lawannya.

Song Bu Cu memekik nyaring dan untuk kedua kalinya, tubuhnya yang tinggi itu terlempar ke tengah sungai.

Cui Giok gelak terbahak melihat hal ini, maka sambil tertawa-tawa ia lalu mempercepat gerakan pedangnya yang menyambar-nyambar dan mengancam ulu hati dan leher lawan bertubi-tubi. Lui Siok merasa bingung dan gelisah sekali, terutama karena ia melihat Song Bu Cu telah dikalahkan, maka sambil menangkis ia main mundur saja tanpa dapat membalas serangan Cui Giok.

“Hayo mundur! Terus sampai ke sungai. Kau harus mandi sekali lagi!” Sambil berkata demikian, pedangnya berkelebat menghadang jalan keluar bagi Lui Siok, sehingga si Ular Belang ini hanya mempunyai sejurus jalan, yakni di belakangnya di mana membentang sungai Yung-ting. Makin cepat Cui Giok berjalan dan mendesak, makin cepat pula ia mundur sehingga akhirnya ia sampai di pinggir sungai itu.

“Hayo, lekas lompat ke air! Kau harus mandi lagi seperti kawanmu!”

Karena pedang Cui Giok menyambar-nyambar dengan hebatnya, terpaksa Lui Siok melompat ke belakang dan “byuuur..!” untuk kedua kalinya iapun dipaksa minum air sungai.

Bukan main hebatnya hinaan yang diderita oleh kedua orang pemimpin Hek-i-pang itu. Mereka adalah jago-jago silat yang terkenal dan ditakuti, dan banyak orang kang-ouw menganggap mereka sebagai ahli-ahli silat berkepandaian tinggi. Siapa nyana bahwa pada hari ini mereka bertemu dengan dua orang muda yang mempermainkan mereka semaunya, seakan-akan mereka adalah dua ekor tikus kecil berhadapan dengan dua kucing besar.

Lebih-lebih Song Bu Cu. Pangcu ini telah membuat nama besar dan belum pernah ia dikalahkan orang dengan mudah. Kini setelah dipaksa untuk berenang melawan air sungai oleh seorang pemuda yang baru saja muncul di dunia kang-ouw, ia merasa gemas dan marah, sedih, malu dan penasaran sehingga ketika tubuhnya telah timbul dipermukaan air lagi, ia memekik keras dan pingsan.

Tubuhnya hanyut dibawa air dan baiknya pada saat itu tubuh Lui Siok yang melompat ke air jatuh menimpa badannya yang mulai hanyut. Lui Siok tadinya merasa terkejut sekali dan mengira bahwa yang ditimpa oleh tubuhnya adalah seekor buaya atau ikan besar. Akan tetapi ketika melihat bahwa yang disangka ikan itu bukan lain adalah Song Bu Cu, ia segera menolongnya dan membawanya ke pinggir.

Ia dan Song Bu Cu lalu ditolong oleh tiga orang anak buahnya dan ketika Lui Siok memandang ke arah kedua orang muda lawannya, ternyata Cui Giok dan Gwat Kong telah naik ke atas perahu dan menyuruh nelayan tua itu mendayung perahu ke tengah. Sepasang anak muda itu berdiri di kepala perahu sambil tersenyum memandangnya. Lui Siok tak dapat berkata sesuatu hanya mendelikkan mata memandang penuh kebencian dan sakit hati.

Pengalaman dan pertempuran melawan dua orang pemimpin Hek-i-pang itu membuat pergaulan antara Gwat Kong dan Cui Giok makin erat. Sambil menikmati pemandangan yang sungguh indah di sepanjang sungai tiada hentinya mereka membicarakan kedua orang itu sambil tertawa-tawa gembira. Yang lebih gembira lagi adalah tukang perahu yang tua itu. Tiada habisnya ia memuji dan matanya yang sudah tua itu berseri-seri.

“Seumur hidupku belum pernah aku menyaksikan dua orang muda yang sehebat dan segagah kalian!” katanya sambil mendayung. “Kalian merupakan pasangan yang paling cocok dan hebat yang pernah kujumpai, sama gagah, sama elok, pendeknya …. hebat! Anak kalian kelak tentu seorang yang luar biasa dan ….”

“Hush ….” Lopek jangan bicara sembarangan! Kami bukan suami isteri, juga bukan tunangan!”

Nelayan itu melongo dan memandang dengan heran. Jelas bahwa ia merasa amat kecewa. Adapun Cui Giok ketika mendengar ucapan kakek nelayan itu, merahlah wajahnya sampai ke telinganya. Semenjak saat itu, apabila mata mereka bertemu, Gwat Kong melihat cahaya gemilang yang aneh di dalam manik mata gadis itu, sinar yang sebelumnya tak terlihat olehnya.

Dan kalau dulu Cui Giok memandangnya dengan berani dan terbuka, kini gadis itu tidak berani menentang pandang matanya terlalu lama. Aneh, pikirnya. Akan tetapi sama sekali ia tidak dapat menduga apakah sebenarnya yang terdapat dibalik sinar mata itu.

Benar sebagaimana keterangan nelayan tua itu, perjalanan melalui air sungai Yung-ting itu aman dan mnyenangkan. Tidak terdapat gangguan bajak sungai dan mereka kadang-kadang hanya bertemu dengan perahu-perahu nelayan yang menjala ikan. Akan tetapi ketika telah memasuki daerah Kiang-sui yang banyak terdapat hutan-hutan lebat, muncullah bajak sungai yang pernah dituturkan oleh nelayan tua itu kepada mereka.

Perahu mereka sedang berlayar dengan tenang melalui sebuah hutan dan pada sebuah tikungan yang tajam, ketika perahu mereka baru saja membelok, tiba-tiba mereka berhadapan dengan lima buah perahu besar penuh dengan bajak-bajak sungai.

“Celaka!” nelayan tua yang mengemudikan perahu kecil itu berseru dengan wajah pucat.

“Minggirkan perahu ke darat!” kata Gwat Kong yang duduk bersama Cui Giok. Kedua anak muda ini masih tenang saja, bahkan ketika saling pandang, senyum gembira membayang di bibir mereka.

Perahu-perahu bajak itu ketika melihat calon korbannya mendayung perahu ke pinggir, segera meminggirkan perahu pula dan terdengar seruan-seruan mereka diselingi suara ketawa. Mereka merasa gembira melihat betapa korban-korban mereka itu seperti hendak melarikan diri ke darat. Akan tetapi, alangkah heran mereka ketika melihat sepasang orang muda yang berada di perahu kecil itu setelah melompat ke darat. Bukannya mereka melarikan diri sebagaimana mereka sangka, akan tetapi bahkan berdiri di pantai menanti mereka dengan sikap menantang.

Kepala bajak ini adalah seorang bermuka hitam bertubuh kurus tinggi. Ia bernama Oey Bong dan telah bertahun-tahun ia hidup sebagai kepala bajak yang ditakuti orang. Tadinya ia bersama anak buahnya berpangkal di sungai Yung-ting dekat kota Kiang-sui. Akan tetapi belakangan ini setelah Kepala daerah Kiang-sui, yakni Liok-taijin, mengerahkan tentara di bawah pimpinan Gan Bu Gi yang pandai untuk menggempurnya, sehingga pasukan bajak itu menjadi kocar-kacir. Terpaksa ia melarikan diri dan kini melakukan pencegatan dan pembajakan di dalam hutan itu.

Melihat betapa sepasang muda-mudi yang hendak dirampok itu mendarat, Oey Bong lalu mengerahkan anak buahnya untuk mengejar dan iapun terheran-heran ketika melihat sepasang orang muda itu tidak melarikan diri. Maka ia menduga bahwa kedua orang muda itu tentulah memiliki kepandaian.

Setelah perahunya berada dekat dengan daratan, ia lalu berseru keras dan tubuhnya melompat ke darat dengan gesit. Beberapa orang pembantunya yang juga pandai ilmu silat, lalu melompat pula ke darat dan sebentar saja Gwat Kong dan Cui Giok yang masih tersenyum-senyum itu telah dikurung oleh belasan orang yang dipimpin oleh pemimpin bajak. Para anggauta bajak hanya berdiri mengurung agak jauh sambil bersorak-sorak. Sementara itu, kakek nelayan yang mengantar Gwat Kong, duduk mendekam di dalam perahunya dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Kalian ini orang-orang kasar menghadang perahu kami, mempunyai maksud apa?” tanya Gwat Kong kepada si muka hitam Oey Bong.

Oey Bong tertawa geli dan kawannyapun tertawa bergelak mendengar pertanyaan ini.

“Orang muda,” kata Oey Bong. “Kami adalah orang baik-baik dan kami takkan mengganggumu, asal saja kautinggalkan semua barang-barangmu, berikut isterimu yang cantik jelita ini!” Dengan jari telunjuknya yang panjang, kepala bajak ini menunjuk ke arah Cui Giok.

Merahlah wajah Cui Giok mendengar ini. Telah dua kali orang menyangka ia dan Gwat Kong sebagai suami isteri. Akan tetapi, kalau persangkaan nelayan tua membuat ia malu dan hanya diam-diam berdebar girang, adalah sangkaan kepala bajak yang amat kasar dan menghina ini membuat ia jadi marah sekali.

“Anjing bermuka hitam!” ia memaki sambil menuding ke arah muka Oey Bong. “Apa sih yang kau andalkan maka anjing buduk macam kau ini berani menjadi kepala bajak sungai?”

“Ha ha ha!” Oey Bong yang dimaki itu tertawa bergelak. “Sungguh galak, makin galak makin manis! Kau cocok sekali untuk menjadi permaisuriku. Ha ha!

“Kurang ajar!” seru Gwat Kong sambil mencabut pedangnya. Hatinya panas dan marah sekali melihat kekurang ajaran bajak itu. Akan tetapi Cui Giok berseru menahannya,

“Jangan Gwat Kong! Biar aku yang memberi hajaran kepada anjing buduk ini. Kalau dia belum melepaskan dua buah telinganya, aku tak mau ampunkan dia!” Cui Giok mencabut sepasang pedangnya.

Gwat Kong tersenyum. “Ah, dasar kau yang sudah bernasib harus kehilangan telinga! Jagalah baik-baik daun telingamu, muka hitam!” Sambil berkata demikian, Gwat Kong menggenjotkan kedua kakinya dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dan ketika para penjahat dengan terkejut memandang ke atas, ternyata pemuda itu telah duduk di atas sebuah cabang pohon yang tinggi.

Mereka merasa kaget sekali karena gerakan itu saja sudah cukup membuka mata mereka bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka. Akan tetapi telah terlanjur dan karena pemuda yang lihai itu tidak ikut menghadapi mereka, maka Oey Bong lalu mencabut goloknya dan mendahului menyerang Cui Giok.

Ia maklum bahwa pemuda itu amat lihai, maka lenyaplah keinginannya mengganggu Cui Giok. Ia hendak merobohkan gadis itu terlebih dahulu sebelum pemuda itu turun tangan. Kemudian kalau pemuda itu terlalu lihai baginya, ia akan mengeroyok dengan semua anak buahnya. Cepat sekali ia mencabut golok dan menyerang Cui Giok dengan sebuah sabetan ke arah pinggang. Inilah tipu gerakan Hon-cui-pai-hio (Angin Meniup Daun Tua) yang dilakukan cukup gesit dan kuat.

Akan tetapi dengan tertawa mengejek, pedang di tangan Cui Giok melakukan gerakan berbareng. Pedang kiri menangkis sambaran golok sedangkan pedang di tangan kanan menghantam ke arah pergelangan tangan lawan. Oey Bong terkejut bukan main dan cepat menarik kembali goloknya untuk menghindarkan tangannya terbabat putus. Akan tetapi percuma saja ia mencoba menghindarkan diri. Oleh karena ujung pedang Cui Giok bagaikan hidup dan bermata. terus mengikuti pergelangan tangannya dengan kecepatan yang menyilaukan mata, maka Oey Bong menjadi makin gelisah.

“Lepaskan golok!” Cui Giok membentak dan Oey Bong merasa betapa pergelangan tangannya menjadi perih sekali karena telah tertempel oleh mata pedang yang tajam. Ia tak dapat berbuat lain dan terpaksa melepaskan goloknya. Dalam kegugupannya, ia berteriak memberi komando kepada kawan-kawannya.

“Serbu!”

Setelah berteriak, kepala bajak yang licik ini lalu melompat mundur hendak lari.

Kawan-kawannya yang semenjak tadi telah berdiri dengan senjata di tangan, segera maju menyerbu, mengeroyok Cui Giok. Akan tetapi gadis itu berseru keras dan begitu tubuhnya berkelebat, maka terdengarlah seruan kaget dan pedang atau golok di tangan para bajak itu beterbangan ke atas, ada yang patah, ada yang mencelat berikut jari-jari tangan yang terbabat putus. Jerit dan pekik terdengar dan keadaan menjadi amat gaduh. Oey Bong masih mencoba untuk melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring di belakangnya,

“Anjing muka hitam! Tinggalkan dulu dua telingamu!” Sebelum ia dapat mengelak, tiba-tiba kedua telinganya mendengar sambaran angin yang luar biasa dan tiba-tiba ia merasa kepalanya menjadi sakit dan perih di kanan kiri. Ketika ia menggunakan kedua tangan untuk meraba ia menjerit keras karena daun telinga di kanan kiri kepalanya benar-benar telah lenyap. Oey Bong berhenti berlari dan membalikkan tubuh. Ia melihat gadis yang luar biasa itu telah berdiri dengan tertawa bergelak sedangkan daun telinganya telah putus dan kini berada di depan kakinya.

Melihat ini, makin sakitlah rasanya kepala yang luka itu. Maka tanpa dapat dicegah lagi, ia lalu menjatuhkan diri berjongkok dan mengaduh-aduh seperti seekor anjing kena gebuk.

“Nah, siapa lagi yang sudah bosan mempunyai daun telinga?” seru Cui Giok sambil memalangkan pedangnya di depan dada.

Para pemimpin bajak telah merasai kelihaian nona itu karena tadi ketika mereka menyerbu, dalam segebrakan saja gadis itu telah berhasil merampas senjata dan melukai beberapa orang, maka kini tak seorang pun berani bergerak. Juga anak buah bajak yang tadinya bersorak-sorak, kini berdiri bagaikan patung, sama sekali tak berani bersuara maupun bergerak.

Nelayan tua yang tadinya ketakutan, dengan memberanikan hati ia merangkak ke pinggir dan menyaksikan pertempuran itu. Kini ia menjadi lega dan girang bukan kepalang, maka ia lalu bangun berdiri dan dengan dada terangkat tinggi-tinggi dan kaki melangkah tetap, ia menghampiri kepala bajak dan kawan-kawannya. Sambil bertolak pinggang ia lalu berkata dengan suara keras,

“Nah, biarlah kali ini kalian mendapat pelajaran dan kapok. Kalian telah banyak mengganggu orang, banyak membunuh nyawa orang-orang tak berdosa. Kalau sekarang mendapat hukuman sebesar ini boleh dikatakan masih ringan dan terlalu murah. Jangan anggap bahwa di kolong langit ini tidak ada orang yang gagah seperti siocia dan kongcu ini. Tadi baru siocia sendiri yang turun tangan, kalau kongcu ikut marah, mungkin kepala kalian ini semua telah putus. Tidak berlutut minta ampun sekarang, mau tunggu kapan lagi?”

Bentakannya terakhir ini amat berpengaruh karena tiba-tiba semua anggauta bajak itu lalu menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun. Bukan main senangnya hati kakek itu. Belum pernah ia mengalami hal seperti itu dan karena para bajak itu berlutut di depannya, maka ia merasa seakan-akan menjadi seorang raja. Ia lalu berkata lagi dengan suara gagah,

“Mulai sekarang jangan kalian berani sekali lagi mengganggu lalu lintas di sungai Yung-ting ini. Ketahuilah aku adalah kawan baik sepasang pendekar ini. Aku tukang perahunya dan kalau kalian mengganggu perahuku dan perahu kawan-kawanku. Tentu kedua pendekar gagah ini akan datang untuk menghukum kalian.

Kemudian ia berkata kepada Cui Giok dan Gwat Kong,

“Jiwi yang mulia, marilah kita melanjutkan perjalanan kita!”

Melihat sikap nelayan tua ini, Cui Giok dan Gwat Kong tertawa geli dan merasa lucu sekali. Akan tetapi mereka menganggap bahwa sikap nelayan tua itu bukan tak ada artinya bagi keselamatan para nelayan. Maka Gwat Kong hendak memperkuat ucapan nelayan tadi. Ia melompat turun bagaikan seekor burung garuda, kemudian menghampiri sebatang pohon yang besarnya sepelukan lengan.

“Ucapan lopek ini harus kalian perhatikan dan taati, karena kami tidak mengancam kosong belaka. Kalau kalian melanggar, inilah contohnya!” Dengan tangan kanannya, Gwat Kong lalu memukul batang pohon itu dengan tangan dimiringkan sambil mengerahkan ilmu keraskan tangan Cin-kong Pek-ko-jiu.

“Kraaak!” batang pohon itu terpukul patah dan dengan mengeluarkan suara keras pohon itu tumbang.

Para bajak melihat ini dengan muka pucat dan mata terbelalak. Batang pohon yang besar dan kuat itu sekali pukul saja patah, apalagi tubuh atau leher mereka. Maka mereka kembali mengangguk-anggukan kepala bagaikan ayam mematuk beras dan mulut mereka tiada hentinya minta ampun sambil berjanji akan mentaati larangan mengganggu sungai Yung-ting.

Gwat Kong, Cui Giok dan nelayan tua itu lalu berjalan kembali ke perahu mereka. Nelayan tua itu berjalan dengan lenggang dibuat-buat, kepala dikedikkan dan dadanya yang kurus ditonjolkan dengan perasaan seakan-akan dialah yang menjadi pendekar gagah dan mengalahkan semua bajak kejam itu.

Pelayaran itu dilanjutkan dengan penuh kegembiraan. Makin lama, hubungan antara kedua orang muda itu makin erat dan ternyata mereka saling cocok. Terutama sekali Cui Giok. Nona ini tidak saja merasa kagum melihat Gwat Kong akan tetapi juga apiasmara telah membakar dan berkobar-kobar di dalam dadanya. Kalau dahulu dengan pedang ia sukar dirobohkan oleh Gwat Kong, sekarang ia roboh betul-betul dan merasa bahwa tanpa Gwat Kong di dekatnya, hidup akan sunyi tak berarti baginya.

Oleh karena itu semenjak gangguan bajak-bajak sungai, mereka tidak mendapat gangguan lain, maka pelayaran berjalan lancar dan cepat. Apabila malam tiba, mereka berhenti di pinggir sungai, membuat api unggun dan tidur di bawah pohon. Kadang-kadang Cui Giok tidur di dalam perahu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: