Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 28

NELAYAN tua itu membawa bekal beras dan dialah yang masak nasi dan memanggang ikan yang mereka dapat memancing di sungai. Kadang-kadang Gwat Kong atau Cui Giok pergi ke hutan dekat sungai untuk mencari binatang hutan seperti kijang, kelinci, ayam hutan dan lain-lain untuk dimakan dagingnya bersama nasi. Memang enak sekali makan di tempat-tempat terbuka, dekat api unggun itu!”

“Nah, untuk mencari kota Kiang-sui, dari sinilah yang paling dekat.” Ia menunjuk ke arah bukit di dekat pantai. “Dengan mengambil jalan mengitari bukit di depan itu, lalu membelok ke kanan, maka paling jauh enam atau tujuh li, kongcu akan tiba di Kiang-sui.”

Gwat Kong memandang kepada Cui Giok dan aneh sekali, kembali gadis itu nampak muram dan cemberut.

“Cui Giok, apakah kau mau ikut ke Kiang-sui?” tanyanya manis.

Dara itu menggelengkan kepala. “Pergilah, biar aku menanti di sini saja!”

“Apakah kau tidak merasa kesal menanti seorang diri di sini? Tempat begini sunyi, jauh dari perkampungan,” kata Gwat Kong sambil memandang ke sekeliling. Memang di situ sunyi, yang nampak hanyalah pohon dan bukit-bukit.

Di dalam hatinya Cui Giok maklum bahwa ia tentu saja akan merasa kesal, akan tetapi mulutnya berkata, “Mengapa kesal? Di sini ada lopek dan aku bisa memancing ikan!”

Tetap saja Gwat Kong merasa tidak puas dan tidak enak hati untuk meninggalkan Cui Giok, maka ia membujuk lagi,

“Apakah tidak lebih baik kau ikut saja, Cui Giok? Kau bisa melihat-lihat keindahan kota, mungkin ada barang-barang yang kau sukai, kau dapat berbelanja dan …..”

“Sudahlah,” Cui Giok memotong. “Kau pergilah sendiri karena kau mempunyai kepentingan di sana.

“Kau mempunyai sahabat-sahabat baik di sana. Aku tidak mempunyai kenalan, untuk apa aku harus pergi ke sana pula? Aku akan menunggu di sini saja!”

“Siocia berkata benar,” tiba-tiba nelayan tua itu ikut bicara. “Memang sudah menjadi kelaziman bahwa wanitalah yang selalu harus menanti dengan sabar.”

Gwat Kong dan Cui Giok memandang kepada kakek nelayan itu.

“Eh, lopek apa maksudmu?” tanya Gwat Kong.

Karena sepasang anak muda itu memandangnya dengan mata tajam penuh pertanyaan, kakek ini menjadi gugup.

“Aku ….. aku teringat akan permainan anak wayang yang kutonton belum lama ini …. kata-kata siocia yang hendak menunggu tadi mengingatkan aku akan nyanyian yang diucapkan oleh pelaku cerita sandiwara itu.” Kakek itu berhenti dan tertegun karena ia telah mengeluarkan kata-kata yang makin mempersulit kedudukannya.

Bagaimana nyanyiannya? Coba kau jelaskan lopek,” Cui Giok juga mendesak.

“Ah …. eh …” Ia ragu-ragu, akan tetapi kemudian berdehem untuk menetapkan hatinya, lalu berkata, “Cerita itu adalah cerita tentang dua orang sahabat baik seperti kongcu dan siocia ini. Si teruna hendak pergi meninggalkan si dara dan nyanyian dara itu begini,

“Pergilah kanda, pergilah ke kota raja,

Dinda akan menanti dengan setia,

Pergilah dengan hati ringan, kanda!

Seribu tahun dinda akan menanti juga!

“Ah, lopek! Gwat Kong mencela. “Aku tidak pergi ke kota raja, juga tidak pergi lama. Bagaimana kau bisa membandingkan kami dengan mereka?”

“Akupun takkan menanti sampai seribu tahun!” Cui Giok mencela.

Kakek itu hanya tertawa dan karena kata-kata nelayan itu membuat menjadi merah muka, maka Gwat Kong segera melompat ke darat dan setelah berkata, “Aku pergi takkan lama!” Ia lalu pergi dengan berlari menuju ke bukit itu.

Nelayan tua itu dan Cui Giok memandang sampai bayangan Gwat Kong lenyap di balik bukit. Nona itu masih berdiri termenung sehingga ia terkejut ketika nelayan itu berkata,

“Dia seorang pemuda yang baik, seorang calon suami yang sukar dicari bandingannya!”

Cui Giok memandang nelayan itu dengan mata tajam. “Lopek, jangan kau bicara sembrono. Gwat Kong hanya sahabatku belaka. Sahabat yang kebetulan melakukan perjalanan yang sama.”

Nelayan tua itu menarik napas panjang. “Aku sudah tua siocia. Mataku menjadi tajam karena pengalaman. Aku berani menyatakan bahwa siocia tertarik kepada pemuda itu. Tak usah membantah siocia. Aku pernah mempunyai anak perempuan yang juga jatuh hati kepada seorang pemuda. Akan tetapi oleh karena aku yang bodoh menghalanginya. Akhirnya ia jatuh sakit dan … meninggal dunia ….” Kakek itu menjadi berduka dan wajahnya muram.

Tadinya Cui Giok hendak marah, akan tetapi ketika kakek itu berkata tentang anaknya, gadis ini menjadi tak tega hati.

“Aku tidak begitu bodoh untuk menyinta seorang pemuda yang sudah mempunyai kekasih, lopek.”

Mendengar ini, kakek itu memandang dengan sinar mata yang demikian lembut dan penuh iba, sehingga tanpa disadarinya dua butir air mata menitik turun dari mata Cui Giok. Gadis ini buru-buru membalikkan tubuh, duduk di tepi perahu dan menatap air sungai dengan pikiran melayang jauh.

****

Gwat Kong berlari cepat mengitari bukit itu dan benar saja, tak lama kemudian nampaklah tembok kota Kiang-sui di depan matanya. Hatinya berdebar ketika ia melihat kota yang pernah ditinggalinya sampai beberapa tahun itu dan teringatlah ia kepada Tin Eng. Bagaimana kalau ia mengunjungi gedung Liok-taijin? Apakah pembesar itu masih marah kepadanya? Ia teringat pula kepada Gan Bu Gi yang pernah menyerang dan hendak menangkapnya. Ia lalu turunkan pedang dan menggantungkan sarung pedang Sin-eng-kiam di pinggangnya. Tadi ia sengaja membawa pedang yang biasanya disimpan dalam bungkusan pakaian ini, untuk menjaga kalau-kalau terjadi sesuatu. Ia tak perlu menyembunyikan kepandaiannya lagi, bahkan kalau perlu ia hendak memperlihatkan kepada Liok-taijin bahwa dia bukanlah Gwat Kong si pelayan yang bodoh dan lemah.

Kota Kiang-sui tidak banyak berubah semenjak ditinggalkan. Keadaannya masih tetap ramai, bahkan restoran-restoran besar makin banyak dikunjungi orang. Gwat Kong berjalan-jalan melihat-lihat kota, bahkan ia berjalan di jalan raya depan gedung Liok-taijin. Akan tetapi pada saat ia berjalan lewat di depan gedung itu, ia tidak melihat seorangpun di depan gedung. Ia tidak berani masuk karena apakah yang akan dijadikan alasan untuk memasuki rumah itu? Bagaimana kalau ia diusir seperti pengemis?

Gwat Kong lalu menuju ke sebuah restoran besar yang dulu hanya dilihat dari luar saja. Ia maklum bahwa masakan restoran ini amat lezat dan mahal. Ia dahulu hanya dapat merasai masakan restoran ini apabila Liok-taijin membeli masakan dari situ dan ia mendapatkan sisanya. Kini ia ingin masuk dan membeli masakan sendiri, ingin duduk di bangku menghadapi meja di restoran yang besar dan mewah itu.

Restoran besar itu mempunyai tiga ruang dan karena ruang di sebelah kanan dan tengah sudah padat dengan tamu-tamu, Gwat Kong lalu melangkah memasuki ruangan sebelah kiri. Baru saja kakinya melangkah ke ambang pintu, ia mendengar ribut-ribut di ruang itu dan ketika ia memandangnya, alangkah terkejutnya melihat dua orang pemuda yang masih dikenalnya, yakni Pui Kiat dan Pui Hok kedua orang murid Hoa-san-pai yang pernah bertemu dengannya dahulu itu duduk menghadapi meja dan sedang dibentak-bentak oleh seorang setengah tua yang berjenggot runcing.

“Kalian ini bajingan-bajingan kecil sungguh menjemukan sekali!” si jenggot runcing itu membentak-bentak. “Tidak tahukah kau siapa aku? Apakah kalian mencari mampus? Aku tahu bahwa kalian selalu mengikuti rombonganku semenjak dari Keng-hoa-bun sampai ke Kiang-sui. Aku sengaja mendiamkan saja karena menyangka bahwa kalian hanya dua orang penjahat tangan panjang. Akan tetapi sampai sekarang kalian tidak bergerak, bahkan masih terus mengintaiku. Sekarang, katakanlah terus terang apakah kehendakmu? Awas, kalau tidak berkata terus terang, kepalanku akan meremukkan kepalamu berdua seperti ini!” Sambil berkata demikian, si jenggot runcing itu menggunakan kepalan tangannya ditekukkan dengan perlahan pada ujung meja di mana kedua saudara Pui itu duduk dan …. hancurlah kayu tebal itu bagaikan terpukul dengan penggada baja.

Gwat Kong merasa amat terkejut melihat kehebatan tenaga orang itu dan melihat demonstrasi ini saja ia maklum bahwa kedua murid Hoa-san-pai itu bukanlah lawan orang yang kosen ini. Maka ia lalu melangkah maju dan pada saat itu melihat seorang lain duduk menghadapi meja di belakang si jenggot runcing yang sedang marah itu. Orang ini bukan lain adalah Gan Bu Gi yang berpakaian sebagai panglima besar yang indah dan mentereng. Akan tetapi Gwat Kong tidak memperdulikan. Gan Bu Gi hanya langsung menghampiri meja. Pui Kiat dan Pui Hok, sengaja menuju ke depan si jenggot runcing itu dan berdiri membelakanginya.

“He, saudara2 Pui!” tegurnya keras.

Pui Kiat dan Pui Hok masih duduk dengan muka pucat. Mereka tidak mengira sama sekali bahwa diam-diam Ang Sun Tek yang memimpin pasukan dan menawan Tin Eng itu mengenal mereka dan tahu bahwa mereka mengikutinya sampai ke Kiang-sui. Karena terkejut, heran dan gelisah, mereka tadi duduk diam saja bagaikan patung tak tahu harus berbuat apa.

Melihat pukulan Ang Sun Tek pada meja, mereka terkejut dan percaya kepada penuturan Kui Hwa bahwa Ang Sun Tek memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada mereka. Maka mereka berdua menjadi gentar juga. Selagi Pui Kiat dan Pui Hok tercengang dan mencari-cari alasan untuk menjawab, tiba-tiba muncul Gwat Kong di depan mereka.

Untuk beberapa lama mereka tidak mengenal Gwat Kong, akan tetapi Pui Kiat lalu teringat akan pemuda aneh dan lihai yang pernah menolong mereka ketika mereka terdesak oleh Bong Bi Sianjin.

“Ah, Bun-taihiap!” katanya girang sekali. Bagaimana pemuda ini selalu muncul pada waktu mereka terancam bahaya? “Kau dari mana? Silahkan duduk!”

Sementara itu, Ang Sun Tek menjadi marah sekali melihat pemuda yang tidak memperdulikannya dan bahkan secara sengaja berdiri menghalanginya dan membelakanginya.

“Minggir kau, bedebah!” katanya sambil menggunakan tangan kanan memegang siku lengan kiri Gwat Kong.

Angin gerakan Ang Sun Tek ini membuat Gwat Kong maklum bahwa apabila sambungan sikunya terpegang, ada bahaya sambungan sikunya akan terluka atau terlepas maka dengan cepat sekali sehingga tidak terlihat oleh kedua saudara Pui yang memandang cemas, ia menggerakkan sikunya ke atas mengelak pegangan itu sehingga tangan Ang Sun Tek yang mencengkeram itu tidak mengenai siku akan tetapi mengenai lengan.

Gwat Kong menggeser kakinya dan membalikkan tubuh sambil mengerahkan tenaga dalam dengan ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup hawa melindungi jalan darah), sehingga lengan yang dicengkeram itu tidak terluka bagian dalamnya. Kemudian ia melangkah ke belakang dengan cepat sambil membetot lengannya itu terlepas dari pegangan Ang Sun Tek.

Ang Sun Tek terkejut bukan main ketika tangannya yang mencengkeram itu merasa betapa lengan tangan pemuda itu keras dan licin seperti besi, sehingga tenaga cengkeramannya dapat terpental kembali. Dan tiba-tiba ia merasa betapa lengan tangan itu licin dan lemas bagaikan belut sehingga dapat terlepas dari cengkeramannya ketika ditarik kembali oleh pemuda itu. Inilah ilmu Jui-kut-kang atau ilmu melemaskan tulang yang hebat.

“Bagus!” teriaknya marah sekali. “Tidak tahunya kau memiliki sedikit ilmu kepandaian!” Ia tahu bahwa pemuda ini lihai dan tindakannya tadi sengaja hendak mencari permusuhan untuk melindungi kedua pemuda yang mengikutinya. Maka ia lalu menggerakkan tangan memegang goloknya yang selalu tergantung di pinggang sambil membentak, “Barangkali kau sudah bosan hidup!”

Dari pegangan pada lengannya tadi Gwat Kong dapat menduga bahwa orang berjenggot runcing ini seorang ahli ilmu silat yang pandai karena biarpun ia berhasil melepaskan tangannya, akan tetapi ketika ia membetot lengannya tadi, merasa betapa lengannya panas tanda bahwa ilmu dan tenaga dalam orang ini tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri. Maka iapun meraba gagang pedang Sin-eng-kiam dan berkata,

“Manusia sombong, apa kau kira, kau seorang saja yang mempunyai senjata tajam? Cabutlah golokmu dan jangan kira bahwa aku takut kepadamu!”

Dua orang jago silat itu berdiri berhadapan dengan tangan memegang gagang senjata masing-masing, siap untuk mencabutnya dan mata mereka saling pandang dengan tajam, seakan-akan dua ekor ayam jago berlaga dan hendak bertempur mati-matian.

Pui Kiat dan Pui Hok memandang dengan penuh kekhawatiran. Dua orang murid Hoa-san-pai ini yang maklum akan kelihaian Ang Sun Tek, merasa gelisah dan takut kalau-kalau Gwat Kong takkan dapat melawan ketua Liok-te Pat-mo itu maka Pui Kiat lalu bangun berdiri dan menghampiri Gwat Kong sambil membujuk.

“Bun-taihiap, sudahlah, jangan kau berkelahi karena urusan kami. Mari kita pergi dari sini. Ada urusan amat penting yang perlu kami sampaikan kepadamu.”

Sementara itu, Gan Bu Gi juga merasa cemas. Ia maklum pula akan kelihaian Gwat Kong dan kalau sampai Ang Sun Tek kalah, tentu ia akan berada dalam bahaya menghadapi Gwat Kong yang membencinya, maka ia membujuk Ang Sun Tek,

“Ang-ciangkun, jangan kau meladeni bocah ini!”

Memang Ang Sun Tek masih ragu-ragu untuk mencabut goloknya. Ia adalah seorang ternama dan sedang menjalankan tugas sebagai seorang perwira kerajaan, maka di tempat umum ini kalau sampai ia kalah oleh pemuda ini, tidak saja namanya akan jatuh, akan tetapi biar ia menang sekalipun, namanya takkan menjadi harum karenanya. Melihat kepandaian pemuda itu ketika melepaskan tangannya dari pegangannya, maka resikonya terlalu besar untuk melawan pemuda ini yang sama sekali tidak berdasarkan permusuhan sesuatu. Maka iapun hanya berdiri saja tak mau mencabut goloknya lebih dahulu.

Sementara itu, Gwat Kong ketika mendengar bujukan Pui Kiat, menjadi tertarik hatinya. Ia tahu bahwa kedua orang ini bukan tanpa sebab berada di Kiang-sui dan tuduhan orang berjenggot tadi terhadap kedua saudara Pui membuat ia menduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat. Apalagi ia melihat bahwa orang berjenggot itu bersama Gan Bu Gi, maka ia lalu melepaskan gagang pedangnya dan berpaling kepada Pui Kiat,

“Akupun tidak hendak mencari permusuhan dan perkelahian, asal saja orang tidak mendahului dan menyerangku.”

Tanpa banyak cakap lagi, Pui Kiat lalu menggandeng tangan Gwat Kong dibawa keluar dari restoran. Sedangkan Pui Hok lalu membayar harga makanan kepada seorang pelayan yang semenjak tadi berdiri di sudut dengan muka pucat melihat pertempuran yang hampir saja terjadi itu.

Setibanya di luar restoran, Pui Kiat dan Pui Hok membawa Gwat Kong ke tempat yang sunyi. Mereka sudah mendapat tahu tentang keadaan Tin Eng.

Sebagaimana dituturkan di bagian depan, kedua saudara Pui ini mendapat tugas dari Kui Hwa untuk mengikuti rombongan Ang Sun Tek yang menawan Tin Eng. Mereka merasa lega ketika melihat bahwa Tin Eng benar-benar dikembalikan ke rumah orang tuanya dan tidak mendapat gangguan di jalan.

Akan tetapi mereka masih tidak mengerti apakah sebenarnya kehendak Ang Sun Tek dengan penangkapan atas diri Tin Eng itu dan mengapa pula Ang Sun Tek yang tadinya hendak pergi ke Hong-san sampai menunda perjalanannya di Kiang-sui. Kemudian mereka melihat betapa Ang Sun Tek mengadakan pertemuan dengan Gan Bu Gi dan masuk ke dalam restoran untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Saudara Pui, sebenarnya mengapakah kalian berada di kota ini dan mengapa pula orang itu hendak menyerangmu? Siapakah dia yang kepandaiannya tinggi itu?”

Pui Kiat lalu menuturkan pengalamannya dengan singkat dan menutup penuturannya dengan menghela napas,

“Bun-taihiap, memang dia bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang yang kini menjadi pembantu istimewa pada perwira-perwira kerajaan. Namanya Ang Sun Tek. Dialah ketua dari Liok-te Pat-mo, delapan iblis bumi yang amat terkenal itu!”

Terkejutlah Gwat Kong mendengar penuturan Pui Kiat. Sungguhpun nama Ang Sun Tek ini membuatnya menjadi tercengang. Karena ini tidak disangkanya sama sekali bahwa ia akan bertemu dengan orang yang sedang dicari-cari oleh Cui Giok. Namun ia lebih terkejut lagi mendengar bahwa Tin Eng telah ditawan oleh Ang Sun Tek itu dan dengan paksa dikembalikan ke rumah orang tuanya.

“Saudara Pui berdua, kalau begitu, serahkanlah urusan ini kepadaku. Kalian telah diketahui bahwa kalian mengikuti rombongan mereka, dan hal ini berbahaya sekali. Aku kenal baik dengan nona Liok Tin Eng, bahkan sekarang juga aku akan menengoknya. Tentang Ang Sun Tek itu, memang sudah lama aku hendak mencoba kepandaiannya, bahkan terus terang saja, aku ingin menghadapi delapan iblis itu sekali gus. Lebih baik sekarang kalian berdua cepat pergi dari kota ini, menyusul dan membantu sumoimu itu.”

Pui Kiat dan Pui Hok tercengang mendengar ucapan ini, akan tetapi karena merekapun maklum bahwa keadaan mereka di kota Kiang-sui akan membahayakan keselamatan mereka, maka mereka menyatakan setuju dan segera meninggalkan Gwat Kong untuk keluar kota dan pergi menyusul Kui Hwa ke Hong-san.

Gwat Kong tidak mau membuang banyak waktu lagi. Ia maklum akan kesedihan hati Tin Eng dan ia merasa gemas kepada Ang Sun Tek yang telah menawan dan memaksa Tin Eng pulang. Kalau saja ia tidak sedang merasa cemas memikirkan keadaan Tin Eng, tentu ia akan kembali ke restoran itu menemui Ang Sun Tek dan mengajaknya berkelahi! Akan tetapi, ia perlu sekali mendapatkan Tin Eng dan menengok keadaan gadis pujaan hatinya itu. Kalau perlu menolongnya keluar dari gedung Liok-taijin.

Mudah saja bagi Gwat Kong untuk memasuki pekarangan belakang dari gedung keluarga Liok, oleh karena ia memang hafal akan keadaan dan jalan di situ. Ia maklum bahwa kalau ia mengambil jalan dari pintu depan dan masuk secara berterang, tak mungkin Liok-taijin akan suka menerimanya. Atau andaikata pembesar itu suka menerimanya juga, sungguh amat tak mungkin kalau ia diperkenankan bertemu dengan Tin Eng. Oleh karena itu, Gwat Kong sengaja mengambil jalan belakang dan masuk ke dalam kebun bunga secara sembunyi-sembunyi bagaikan maling.

Ia tidak berani mengambil jalan dari atas genteng, oleh karena maklum bahwa di dalam gedung itu terdapat orang-orang pandai dan juga Liok-taijin sendiri memiliki ketajaman telinga yang cukup sehingga hal itu akan membuat ia ketahuan orang sebelum dapat bertemu dengan Tin Eng. Maka ia hanya bersembunyi dan mengintai menanti saat yang baik. Kebetulan sekali seorang pelayan yang dikenalnya baik, keluar dari pintu belakang. Pelayan ini adalah seorang wanita tua yang telah ikut keluarga itu semenjak Tin Eng masih kecil, bahkan ia menjadi bujang pengasuh dari gadis itu.

“Bibi Song ……!” Gwat Kong memanggil perlahan sambil keluar dari tempat sembunyinya.

Nenek pelayan itu terkejut memandang. Eh, kau itu, Gwat Kong? Aduh, sampai kaget setengah mati aku! Seperti setan saja kau muncul tiba-tiba.”

“Ssst ……. jangan keras-keras, bibi Song! Kehadiranku di sini tidak dikehendaki orang!”

Nenek itu mengangguk-angguk. “Aku tahu, aku tahu! Kalau kau terlihat oleh taijin, kepalamu akan digebuk!”

“Bibi yang baik, tolonglah aku. Aku ….. aku ingin bertemu dengan siocia, di manakah dia?”

Nenek itu mainkan matanya. “Hm, ….. kau main api!”

“Bibi tolonglah! Bukankah siocia sedang berduka? Tolonglah beritahu bahwa aku berada di sini dan ingin berjumpa dengan dia!”

“Bagaimana kau bisa tahu dia berduka?” nenek itu bertanya heran.

“Bibi lekaslah kau beritahukan padanya. Apakah kau ingin ada orang melihat kita bicara di sini? Kaupun akan mendapat gebukan kalau taijin melihatnya!”

Terkejut dan takutlah bibi Song mendengar hal ini. “Akan tetapi, tak mungkin siocia dapat keluar. Ia dilarang keras untuk meninggalkan kamarnya!”

“Kalau begitu, beritahulah saja. Aku menanti di sini untuk mendengar jawabannya.”

Nenek itu lalu masuk ke dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang sudah putih rambutnya itu.

Memang semenjak Tin Eng ditawan oleh Ang Sun Tek, gadis ini sama sekali tidak berdaya dan terpaksa menurut saja dibawa pulang ke rumah orang tuanya dengan paksa. Ketika tiba di rumah, ia disambut dengan wajah muram dan marah oleh ayahnya. Akan tetapi ibunya segera menubruk dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Tin Eng terkejut melihat betapa ibunya menjadi kurus sekali dan pucat seperti orang yang bersedih. Ia dibawa masuk ke dalam kamar oleh ibunya di mana ibunya itu sambil menangis berkata,

“Tin Eng ….. apakah kau tidak kasihan kepada ibumu. Anakku, janganlah kau pergi lagi meninggalkan ibumu!”

Tin Eng menjadi terharu dan memeluk ibunya sambil menangis pula.

Ayahnya menyusul ke dalam kamar dan pembesar ini marah sekali.

“Tin Eng, bagus sekali perbuatanmu, ya? Kau sebagai puteri tunggal seorang pembesar telah menodai nama baik orang tuamu! Kau telah membikin malu ayah ibumu dan membikin kami merasa susah sekali. Apakah benar-benar kau tidak mempunyai rasa sayang kepada orang tua dan akan menjadi anak yang puthauw (tidak berbakti)?”

Tin Eng melihat betapa di dalam kemarahannya, ayahnya itu nampak amat berduka sehingga muka ayahnya itu kelihatan makin tua. Ia menjadi kasihan juga dan dengan tangis sedih ia menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya. Hati seorang ayah betapa bengispun akan menjadi lunak apabila melihat anak tunggalnya berlutut dan menangis di depan kakinya, maka pembesar ini lalu mengelus-elus kepala puterinya.

“Tin Eng, jadilah seorang anak yang baik dan jangan kau menyusahkan hati ayah ibumu.”

“Ayah, anak berjanji takkan pergi lagi, asal saja jangan memaksa anak harus kawin dengan orang she Gan itu! Kalau ayah memaksa, biarlah anak membunuh diri saja!”

Ibunya menjerit dan memeluknya, sedangkan Liok-taijin menjadi pucat wajahnya. Kemudian ia hanya menghela napas berulang-ulang dan menggelengkan kepala.

“Kau memang keras kepala ….. terlalu dimanja tadinya ….” kemudian ia bicara keras-keras, “Hal ini kita bicarakan kelak saja. Akan tetapi, mulai sekg kau jangan keluar dari kamarmu. Berlakulah sebagai seorang gadis bangsawan yang terhormat. Jangan kau berkeliaran di luar seperti seorang gadis kang-ouw yang liar dan tidak tahu kesopanan!” Ayah ini lalu meninggalkan anaknya yang masih bertangisan dengan ibunya.

Demikianlah, semenjak saat itu Tin Eng tidak pernah keluar dari dalam rumah. Ia bermaksud untuk mentaati ayah ibunya, asal jangan dikawinkan dengan Gan Bu Gi.

Pada waktu Gwat Kong datang, Tin Eng sedang berada di dalam kamarnya bersama ibunya. Gadis ini sedang membaca sebuah kitab kuno untuk menghibur hatinya waktu senggang. Ibunya menyulam dan duduk di dekatnya. Tiba-tiba pintu diketuk dan bibi Song masuk dengan membungkuk-bungkuk.

Nyonya Liok mengangkat muka memandang pelayan itu. “Ada keperluan apakah?” tanyanya.

Bukan main bingungnya hati nenek itu. Ia memandang ke arah Tin Eng yang sudah mengangkat muka memandang nenek itu. “Hamba …….. hamba ……. ada pesanan untuk siocia ……”

Tin Eng lalu berdiri dan menghampiri nenek itu. “Ada apakah bibi Song? Pesanan apa dan dari siapa?”

Nenek itu ragu-ragu dan memandang kepada nyonya Liok dengan takut-takut. Bagaimana ia harus menyampaikan pesanan Gwat Kong di depan nyonya majikannya itu?

“Jangan takut, katakanlah bibi Song!” Tin Eng mendesak.

“Gwat Kong …..”

Mendengar nama ini, Tin Eng memegang pundak pelayan itu. “Apa …..? Dia di mana …..?”

Juga nyonya Liok bangun berdiri dari kursinya. “Kau bilang Gwat Kong berada di sini? Berani betul anak itu! Tin Eng, ada perlu apakah kau dengan bekas pelayan itu?”

“Ibu, Gwat Kong bukan pelayan kita lagi! Dia ….. dia adalah …. guruku yang mengajar ilmu pedang. Biarkan aku betemu dengan dia!”

Pandangan mata gadis itu kepada ibunya membuat nyonya Liok tertegun dan terkejut sekali. Sepasang mata gadis itu bersinar dan wajahnya berseri-seri.

“Bagaimana mungkin? Kau tidak boleh keluar dari sini. Kalau ayahmu melihatnya, ia tentu akan marah sekali. Apa lagi kalau dilihatnya kau bertemu dengan Gwat Kong!”

“Kalau begitu, biar dia masuk ke kamar ini!” Tin Eng mendesak.

“Gila!” Ibunya berseru kaget. “Kau lupa daratan, Tin Eng. Bagaimana seorang laki-laki muda boleh memasuki kamar kita? Tidak, hal itu tidak boleh jadi!”

Tin Eng membanting-banting kakinya dengan manja. “Akan tetapi, aku harus bertemu dan bicara dengan dia, ibu!”

Nyonya Liok menarik napas panjang dan ia bingung sekali. Kemudian ia menengok ke arah jendela kamar yang beruji besi dan berkata,

“Begini saja, suruh dia masuk dan bicara kepadamu dari balik jendela itu!”

Tin Eng memberi isyarat kepada nenek pelayan tadi untuk melakukan usul ibunya ini. Bibi Song segera keluar lagi menemui Gwat Kong yang masih menanti di belakang rumah.

“Bagaimana, bibi yang baik?” tanya pemuda itu dengan penuh gairah.

“Sssst, jangan banyak ribut. Kau pergilah ke kamar siocia melalui ruang pelayan dan kau boleh bicara dengan siocia dari balik jendela!”

Gwat Kong sudah hafal keadaan rumah itu. Maka setelah mendengar kata-kata ini, ia lalu masuk ke dalam rumah itu melalui ruang pelayan dan langsung menuju ke ruang dalam, terus menghampiri jendela kamar Tin Eng yang menembus di ruang dalam itu. Ia melihat Tin Eng sudah berdiri di dekat jendela dan memandang keluar.

“Tin Eng ……” bisik Gwat Kong sambil menghampiri dengan cepat.

“Gwat Kong ……..” Tin Eng memanggil dengan girang.

Panggilan yang disertai pandangan mata mesra ini sudah cukup bagi keduanya untuk menyatakan perasaan hati mereka yang girang dan gembira sekali. Wajah Tin Eng menjadi merah padam, akan tetapi Gwat Kong menjadi pucat ketika melihat bahwa di belakang Tin Eng itu nampak nyonya Liok duduk sambil menyulam. Nyonya itu mengerling ke arahnya dan Gwat Kong buru-buru menjurah memberi hormat. Akan tetapi nyonya Liok segera membuang muka pura-pura tidak melihatnya.

“Tin Eng …. kau …. baik-baik saja?”

Tin Eng mengangguk singkat lalu berkata, “Gwat Kong aku dikalahkan Ang Sun Tek ….”

“Aku sudah tahu akan hal itu. Aku sudah bertemu dengan kedua saudara Pui!”

“Bagus kalau begitu. Kau harus balaskan penasaranku kepada bangsat she Ang itu!”

“Jangan khawatir, memang aku hendak mencari dan mencoba kepandaiannya.”

“Dan ……. Gwat Kong, karena aku tak mungkin melanjutkan tugasku yang sudah kujanjikan kepada dua orang sdr Pang, kau harus mewakili aku dan meneruskan usahaku. Aku tak dapat bercerita panjang lebar. Gwat Kong, kau pergi dan carilah sahabatku Kui Hwa, si Dewi Tangan Maut!”

“Hm, dia …. ?”

“Ya, dia musuh besarmu itu! Akan tetapi, kau tak boleh memusuhinya, biarpun ia anak Tan-wangwe yang menjadi musuh besarmu. Ia seorang baik dan gagah, bantulah dia, Gwat Kong. Tanpa bantuanmu, tak mungkin ia akan dapat menemukan harta itu.”

“Mengapa?” tanya Gwat Kong yang hanya mengetahui sedikit saja dari kedua saudara Pui tentang harta terpendam itu.

“Karena dahulu aku belum memberitahukan dengan jelas tempat harta itu tersembunyi. Majulah dan perhatikan ini!”

Gwat Kong mendekat dan Tin Eng lalu mengeluarkan sehelai saputangan sutera hijau dari kantong bajunya bagian dalam. Ia memang telah menyediakan sebuah peta yang digambarnya di atas saputangan itu karena takut kalau-kalau ia akan lupa lagi. Ia membuka sapu tangan yang berbau harum itu dengan telunjuknya yang kecil runcing. Ia menunjuk sebuah titik pada saputangan yang bergambar peta itu.

“Tempatnya memang di sini, akan tetapi enci Kui Hwa belum tahu bahwa jalan masuknya bukan dari kanan atau kiri, melainkan dari atas! Orang harus naik ke atas dan di bawah sebuah batu besar terdapat jalan masuk itu. Simpanlah saputangan ini, Gwat Kong!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: