Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 3

Dengan hati berdebar ia membersihkan peti besi itu dan ternyata bahwa tutup peti itu tidak terkunci. Ia lalu membukanya dan karena tertutup itu rapat sekali, maka tidak ada tanah yang masuk ke dalam peti. Akan tetapi, kalau tadinya ia menyangka akan mendapatkan harta pusaka di dalam peti, ia kecewa, karena ternyata bahwa isi peti itu tak lain hanyalah tiga buah kitab yang kertasnya telah menjadi kuning saking tuanya. Terutama yang sebuah dan yang paling tebal, sudah amat tuanya dan pinggirannya telah banyak di makan kutu, akan tetapi tulisan di dalamnya masih lengkap.

Dengan ingin tahu sekali Gwat Kong membuka-buka kitab itu satu demi satu. Kitab pertama adalah sebuah kitab kecil yang berisi tulisan kecil-kecil dan ternyata kitab ini adalah semacam kamus yang menerangkan arti tulisan-tulisan kuno. Kitab kedua adalah semacam kitab pelajaran ilmu silat tangan kosong dan ilmu silat pedang yang ditulis dengan huruf-huruf amat buruk, akan tetapi mudah dimengerti isinya. Adapun kitab ketiga yang tertua dan paling tebal itu, pada sampulnya terdapat lukisan Burung Garuda yang indah sekali dan ketika ia membukanya ternyata bahwa kitab ini penuh dengan tulisan-tulisan tangan yang bukan main bagusnya. Akan tetapi sayang sekali, tulisan-tulisan itu agaknya dilakukan oleh seseorang di jaman dahulu sehingga bahasanya adalah bahasa kuno yang sukar untuk dimengerti.

Gwat Kong merasa girang juga karena mendapatkan kitab pelajaran ilmu silat itu dan mengambil keputusan untuk mempelajari ilmu silat dari buku itu. Ia segera mengubur kembali peti kosong itu dan membawa ketiga kitab tadi ke dalam kamarnya. Kedua kitab yang besar itu ia bawa dan kitab kecil seperti kamus itu ia masukkan ke dalam saku bajunya.

Dan pada saat itu, datanglah Tin Eng dari dalam. Ketika itu, Tin Eng baru berusia tiga belas tahun dan Gwat Kong berusialima belas tahun. Akan tetapi, gadis yang baru berusia tiga belas tahun itu telah nampak cantik sekali dan ilmu silatnya telah cukup baik karena ia mendapat didikan dan latihan dari ayahnya sendiri yang menjadi anak murid Gobi-san.

Melihat Gwat Kong membawa dua buah kitab tebal, Tin Eng segera menghampirinya dan bertanya,

“Eh, Gwat Kong! Apakah yang kau bawa itu?”

Kalau saja yang melihat bukan Tin Eng, pemuda itu tentu segan untuk memperlihatkan kitab-kitabnya, akan tetapi ia memang ingin sekali menyenangkan hati Tin Eng, maka jawabnya,

“Siocia, tadi aku telah mendapatkan sebuah peti terpendam di dalam tanah yang berisi kitab-kitab pelajaran silat!” katanya dengan dengan wajah berseri.

Tin Eng merasa tertarik dan menghampiri lebih dekat.

“Coba kulihat kitab itu!” perintahnya dan tanpa disengaja Gwat Kong memberikan kitab yang tertua dan yang amat tebal itu. Tin Eng membuka-bukanya sebentar, akan tetapi ia sama sekali tidak mengerti, bahkan banyak huruf yang tak dikenalnya. Memang gadis ini kurang pandai tentang ilmu membaca, maka sebentar saja kepalanya yang bagus itu telah menjadi pening ketika ia membalik-balik beberapa helai kertas dalam kitab itu.

“Ah, ini adalah kitab kuno!” katanya dan perhatiannya menipis.

“Apa isi kitab itu, siocia?” tanya Gwat Kong.

Tin Eng adalah seorang gadis cilik yang cerdik dan tinggi hati. Ia tidak mau kalau sampai pelayan ini mengetahui bahwa ia tidak mengerti atau tak dapat membaca kitab itu, maka dengan lagak gagah ia berkata sambil mengembalikan kitab itu,

“Ini adalah kitab berisi syair zaman kuno semacam kitab To Tik King hasil karya Lo cu!” Mendengar ini Gwat Kong menahan gelinya di dalam hati, karena biarpun ia hanya mengerti sedikit saja akan isi kitab kuno itu, namun ia tahu bahwa kitab ini bukanlah kitab syair!

Tin Eng lalu memeriksa kitab kedua dan makin lama wajahnya makin berseri-seri.

“Inilah kitab pelajaran silat yang hebat!” serunya dengan bisikan dan kedua pipinya menjadi merah. “Gwat Kong, kitab ini kau berikan kepadaku saja!”

“Boleh saja, siocia. Untuk apakah kitab seperti itu padaku?” jawab Gwat Kong, padahal kalau lain orang yang minta, belum tentu akan ia berikan begitu saja.

Akan tetapi, setelah membaca halaman pertama dari kitab itu, Tin Eng lalu berkata lagi, “Gwat Kong, kau harus merahasiakan hal ini dari siapa pun juga, bahkan kepada ayah sendiri kau tidak boleh menceritakan tentang kitab ini, mengerti? Kitab kuno itu boleh kau simpan, akan tetapi jangan sampai ketahuan orang lain!”

Gwat Kong mengangguk, akan tetapi ia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk mengetahui sebabnya, maka ia bertanya,

“Baik, siocia. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui sebabnya maka hal ini harus dirahasiakan?”

Tin Eng memandangnya dengan mata merah. “Kau tidak perlu tahu!” katanya, akan tetapi agaknya ia merasa bahwa ia berlaku keterlaluan, maka sambil membuka halaman pertama tadi ia berkata, ” Ini, kau baca sendiri!”

Gwat Kong melihat betapa pada halaman pertama itu, di sebelah bawah, terdapat tulisan yang tadi ia tidak memperhatikannya dan tulisan itu berbunyi demikian,

“Yang mendapatkan kitab ini berarti ada jodoh dan boleh mempelajari ilmu silat ini, akan tetapi dengan syarat bahwa ia sama sekali tidak boleh memberitahukan kepada orang lain tentang pelajaran ini.”

Biarpun sepintas lalu saja, Gwat Kong sudah dapat membaca habis kalimat itu, akan tetapi ia berpura-pura tidak mengerti dan memandang dengan bodoh.

“Aku, tak dapat membacanya, siocia.”

“Ah, ya …… aku lupa,” kata Tin Eng sambil menarik napas panjang. “Seorang pelayan muda seperti kau tentu saja tak pandai membaca.” Kemudian ia lalu membacakan kalimat itu kepada Gwat Kong dan berkata,

“Karena itu, kita harus merahasiakan hal ini dari siapapun juga, dan kitab syair kuno itu boleh kau simpan atau kau bakar saja karena tiada gunanya.”

“Kalau siocia sudah mempelajari ilmu silat ini tentu akan menjadi pandai sekali,” kata Gwat Kong dengan mata berseri.

“Sudahlah, jangan banyak mengobrol, lekas kau sembunyikan kitab tebal itu sebelum orang lain melihatnya,” kata Tin Eng tergesa-gesa dan ia menyembunyikan kitab pelajaran silat itu di dalam bajunya, lalu masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke kamarnya sendiri. Gwat Kong juga segera masuk ke dalam kamarnya dan menyembunyikan kitab tebal itu. Dan barulah ia teringat akan kitab kamus kecil di dalam saku bajunya, maka iapun segera menyimpan pula kitab kecil itu. Setelah itu ia kembali ke kebun dan melanjutkan pekerjaannya, akan tetapi hatinya selalu memikirkan penemuan kitab-kitab itu. Giranglah hatinya memikirkan bahwa ia telah memberi kesempatan kepada Tin Eng untuk mempelajari kitab itu dan kalau kelak Tin Eng menjadi seorang yang pandai, maka jasanyalah itu.

Setelah malam hari tiba, Gwat Kong mulai mengeluarkan kedua kitab tadi dan membuka-bukanya. Alangkah girangnya bahwa kamus kecil itu adalah catatan-catatan yang menerangkan isi kitab kuno itu sehingga ia mulai dapat membacanya dan bukan main terperanjat dan gembiranya ketika mendapat kenyataan bahwa kitab kuno itu adalah pelajaran ilmu silat tinggi terdiri dari tiga bagian.

Bagian pertama adalah pelajaran latihan lweekang dan ginkang, bagian kedua pelajaran ilmu silat tangan kosong yang disebut Sin-eng Kun-hoat, bagian ketiga adalah pelajaran ilmu silat pedang yang disebut Sin-eng Kiam-hoat! Kini mengertilah ia bahwa kitab yang dibawa oleh Tin Eng tadi hanyalah salinan dari pada kitab kuno ini dan yang disalin hanya bagian ilmu pedangnya saja, akan tetapi menurut dugaannya karena melihat buruknya tulisan penyalin itu, maka salinan itupun tidak sempurna. Inilah kitab aslinya, kitab kuno peninggalan seorang sakti yang kini dapat ia pelajari dengan pertolongan kamus kecil ini. Bukan main girangnya hati Gwat Kong dan ia segera berlutut sambil mengangkat tinggi-tinggi kitab itu dan berbisik,

“Teecu akan mempelajari isi kitab ini, harap locianpwe memberi berkah dan ijin.”

Semenjak saat itu, setiap malam ia mempelajari isi kitab itu dengan penuh ketekunan. Ia memperhatikan isi kitab itu dari baris pertama dan mempelajarinya dengan penuh kerajinan dan ketekunan, dengan bantuan kamus itu. Ternyata susunan pelajaran itu rapi sekali dan ia mulai mempelajari bagian pertama di mana terdapat pelajaran-pelajaran bersemedi dan latihan napas untuk memperkuat lweekang dan ginkang.

Demikian pula keadaan Tin Eng. Gadis ini dengan diam-diam mempelajari ilmu silat pedang yang tidak diketahui namanya itu di dalam kamarnya. Dengan girang ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang itu benar-benar lihai dan hebat sekali, jauh lebih tinggi dari pada ilmu silat yang ia pelajari dari ayahnya.

Selama dua tahun lebih, Tin Eng dan Gwat Kong mempelajari isi kitab itu dalam kamar masing-masing, akan tetapi tentu saja Tin Eng tidak tahu bahwa pemuda pelayan yang bodoh itu pun sedang mempelajari ilmu silat yang sama dengan yang dipelajarinya, bahkan yang aslinya. Gadis ini hanya melihat betapa tubuh pelayan itu makin kurus saja seperti orang sakit. Ia tidak pernah menduga bahwa hal ini adalah karena Gwat Kong hampir tak pernah tidur di waktu malam untuk mempelajari ilmu itu dengan penuh ketekunan.

Dan dalam hal mempelajari ilmu itu, Gwat Kong jauh lebih rajin dari pada Tin Eng dan juga pemuda itu tidak sering terganggu karena gadis itu tinggal di dalam gedung dan sewaktu-waktu ibunya dan ayahnya tentu datang ke kamarnya. Sedangkan Gwat Kong tidur di dekat kandang kuda karena tugasnya pula untuk merawat kuda, jarang sekali mendapat gangguan.

Baik Tin Eng maupun Gwat Kong, keduanya tidak sadar sama sekali bahwa mereka telah mempelajari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat yang pada ratusan tahun yang lalu telah menggemparkan dunia persilatan! Bahkan penyalin yang buruk tulisannya itu ketika masih hidup, merupakan jago silat yang tak terkalahkan sungguhpun ia hanya mempelajari ilmu silat itu dengan kurang sempurna oleh karena orang itu kurang pandai menyalin isi kitab!

Kedua orang muda itu tidak tahu bahwa di dalam tubuh mereka telah memiliki ilmu kepandaian yang amat mengagumkan. Terutama sekali Gwat Kong yang mempelajari kitab aslinya dan yang mempelajari dari tingkat permulaan. Pemuda itu sama sekali tidak merasa bahwa ia telah memiliki kepandaian kepandaian yang sukar diukur tingginya.

Ketika terjadi pertempuran melawan maling sakti dan berhasil mengalahkan maling itu, barulah Tin Eng sadar akan kelihaian ilmu pedang yang secara rahasia dipelajarinya itu dan tentu saja ia menjadi girang dan bangga sekali, akan tetapi pada waktu itu, tetap saja Gwat Kong sendiri belum menyadari bahwa ia telah memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada Tin Eng!

Gadis yang keras hati dan manja ini tetap memegang teguh rahasianya sehingga biarpun ayahnya sendiri yang bertanya karena terheran melihat kemajuannya setelah ia berhasil menangkap maling, tidak diberitahunya tentang kitab itu.

Maka tibalah saatnya Gwat Kong menyadari dan mengherankan kelihaiannya sendiri yakni ketika terjadi pertandingan sebagai ujian terhadap pemuda Gan Bu Gi itu. Tanpa disengaja ia menyambit dengan hancuran rumput yang digenggamnya dan ternyata bahwa berkat latihan lweekang dari kitab itu, ia memiliki pandangan mata yang luar biasa tajamnya sehingga bidikannya mengenai sasaran dengan tepat!

Sebagaimana dituturkan di bagian depan, Gwat Kong termenung di kandang kuda sambil mengelus-elus leher kuda itu. Semalam suntuk ia tidak dapat tidur, karena selain ia merasa bangga dan girang mendapat kenyataan tentang kelihaian ilmu silatnya. Iapun merasa amat gelisah.

Pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu amat tampan dan gagah dan agaknya Tin Eng tertarik hatinya kepada pemuda yang kini diangkat menjadi panglima dalam gedung keluarga Liok. Ia tidak tahu tentang percakapan kedua kakek itu dengan Liok Ong Gun tentang perjodohan. Kalau ia tahu, tentu ia akan merasa makin gelisah lagi! Diam-diam dan di luar tahunya, pemuda yang kini menjadi pelayan ini telah terkena panahasmara yang menancap dalam-dalam di lubuk hatinya.

****

Kawan-kawan baik yang merupakan hiburan bagi Gwat Kong hanyalah kuda-kuda di dalam kandang dan juga sebuah suling bambunya. Setahun yang lalu ketika ia membabat bambu-bambu di dalam kebun kembang, ia merasa suka melihat bambu kecil yang hijau dengan bintik-bintik kuning, maka dalam waktu senggangnya ia lalu membuat sebatang suling. Ia tidak pandai menyuling, akan tetapi oleh karena tidak ada hiburan lain, ia mulai mempelajari dan dapat juga meniup beberapa lagu dari suling buatan sendiri itu.

Akan tetapi ia jarang sekali meniup sulingnya. Malam hari itu, bulan bersinar terang dan Gwat Kong membawa sulingnya menuju ke kebun kembang. Ia merasa sedih sekali malam itu karena banyak hal yang mengganggu hatinya. Pertama-tama hal Gan Bu Gi. Telah enam bulan lamanya pemuda tampan itu bekerja pada Kepala daerah Liok dan kini pemuda itu selalu mengenakan pakaian panglima yang menambah kegagahannya.

Ternyata pemuda gunung yang dulu amat sederhana itu, setelah mendapat kedudukan tinggi dan tinggal dikota besar, kini menjadi seorang pesolek. Hal ini bukan merugikan baginya, karena ia tampak makin tampan dan makin gagah saja sehingga tidak heranlah apabila Tin Eng merasa tertarik hatinya. Hal ini amat menggelisahkan dan menyusahkan hati Gwat Kong. Hal kedua yang membuatnya bersedih pada malam hari itu adalah kenangan tentang dendam hatinya terhadap Tan-wangwe.

Ia kini telah memiliki kepandaian dan seharusnya ia boleh mencoba kepandaiannya itu untuk membalas dendam orang tuanya. Akan tetapi bagaimana ia bisa meninggalkan pekerjaan? Ia tidak merasa berat untuk meninggalkan pekerjaan, karena iapun tidak terlalu suka menjadi pelayan seumur hidupnya, akan tetapi yang berat baginya ialah bahwa ia harus meninggalkan Tin Eng. Tak sanggup rasanya untuk pergi meninggalkan dara jelita yang telah merebut hatinya itu. Jangankan harus meninggalkan sampai lama dan jauh, sedangkan sehari saja tidak jumpa, rasa hidupnya menjadi sunyi dan kosong!

Gwat Kong duduk di bawah pohon kembang sambil memandangi bulan yang nampaknya meluncur maju, melayang-layang dan menari-nari di antara mega-mega putih. Bulan yang bundar itu tiba-tiba berubah bentuknya, bermata, berhidung dan bermulut lalu perlahan-lahan terbentuklah wajah Tin Eng yang tersenyum padanya. Ia menggosok-gosok matanya dan pemandangan itu menjadi buyar lagi. Ah, … mengapa ia demikian tergila-gila? Ia sama sekali tidak mempunyai harapan dan mana bisa seorang pelayan rendah seperti dia menjadi jodoh puteri Kepala daerah yang kaya raya dan berkedudukan tinggi? Berpikir tentang keadaannya sebagai pelayan, tiba-tiba mengalir air mata dari kedua mata Gwat Kong. Teringatlah ia akan keadaannya di masa kecil dan kalau saja ia masih menjadi putera Bun-tihu dan tinggal di gedung besar berpakaian indah, tentu ia mempunyai banyak harapan dan tidak usah khawatir menghadapi seorang saingan seperti Gan Bu Gi!

Akan tetapi Gwat Kong adalah seorang pemuda yang telah banyak menelan pengalaman pahit getir sehingga hatinya menjadi kuat dan tabah. Segera ia mengusap pipinya yang basah dan dipaksanya senyum keluar menghias bibirnya. Sambil menatap bulan di atas kepalanya, ia berkata dalam hati,

“Kau goblok! Kalau kau masih menjadi putera tihu di Lam-hoat, mana bisa kau bertemu dengan dia? Mungkin kau menjadi seorang pemuda pemabukan!”

Ia tersenyum lagi dan teringatlah ia akan segala pengalamannya ketika masih kanak-kanak dan bermain gila dengan kawan-kawannya dikota Ki-hong. Ia merasa menyesal sekali karena kesesatannya itulah yang membuat ibunya sampai meninggal dunia.

“Aku harus membalas sakit hati ayah ibuku. Harus dan secepat mungkin! Kalau mungkin besok pagi aku harus pergi.”

Akan tetapi kembali bulan di atasnya itu berubah menjadi wajah Tin Eng yang cantik jelita, membuat ia menjadi ragu-ragu dan keputusannya tadi menjadi goyah!

“Tin Eng ….. Tin Eng …..” ia berbisik.

Tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya, “Gwat Kong, mengapa kau menyebut-nyebut namaku?”

Gwat Kong terkejut sekali dan menoleh. Ternyata di belakangnya telah berdiri Tin Eng yang nampak ayu sekali tertimpa cahaya bulan purnama.

“Kau …. siocia, eh … tidak, aku tidak menyebut-nyebut nama siapapun juga …..” jawabnya gugup.

Tin Eng lalu duduk di atas rumput dekat Gwat Kong, membuat pemuda itu merasa berdebar-debar jantungnya. Memang Tin Eng tidak merasa sungkan atau malu-malu pada Gwat Kong karena biarpun mereka itu majikan dan pelayan namun karena telah empat tahun mereka tinggal bersama di satu tempat, dan hubungan mereka telah terjadi semenjak Tin Eng baru berusia sebelas tahun dan Gwat Kong tiga belas tahun, maka Tin Eng menganggap Gwat Kong sebagai seorang pelayan dan sahabat yang baik.

Gadis itu duduk sambil memandang bulan, wajahnya tertimpa cahaya bulan sepenuhnya, yang menimbulkan pemandangan yang membuat hati Gwat Kong berdenyut-denyut lebih cepat dari pada biasanya.

“Alangkah indahnya bulan itu,” kata Tin Eng dengan wajah berseri-seri.

“Nona, kau nampak gembira sekali,” kata Gwat Kong perlahan, mengagumi wajah cantik itu selagi pemiliknya memandang bulan dan tidak memperhatikannya.

“Mengapa tidak? Hidup ini memang penuh kegembiraan,” jawab Tin Eng sambil tersenyum manis, dan dara itu tetap memandang bulan.

Gwat Kong juga mengalihkan pandangannya kepada bulan lalu bertanya tanpa menoleh, “Kalau begitu kau tentu berbahagia, siocia?”

“Tentu saja!” jawab yang ditanya secara langsung. “Mengapa aku tidak bahagia?”

Gwat Kong memandang kepada gadis itu lagi dan mereka bertemu pandang karena ketika menjawab tadi, Tin Eng juga menatap wajahnya.

“Kau berhak menikmati kebahagiaan, siocia,” katanya perlahan.

“Setiap manusia berhak berbahagia,” jawab Tin Eng memandang tajam. “Gwat Kong, apakah kau hendak berkata bahwa kau tidak bahagia?”

“Gwat Kong memandang ke arah bulan lagi. “Bahagia …? Apakah bahagia itu …?” pertanyaan ini diucapkan dengan ragu-ragu dan perlahan, seakan-akan ia menggajukan pertanyaan itu kepada bulan dan sang bulan agaknya tidak dapat menjawab karena buktinya ia menyembunyikan dirinya di balik awan untuk menghindari pandang mata dan pertanyaan Gwat Kong yang sulit itu!

Tin Eng merasa penasaran. “Setiap orang berhak berbahagia!” ia mengulangi. “Dan kau juga! Mengapa kau tidak harus berbahagia? Apakah bedanya kau dan aku? Setiap hari aku makan nasi dan kau pun juga. Aku boleh bergembira dan kau pun juga. Apakah perbedaan antara kita?” Tiba-tiba ia sadar dan segera disambungnya cepat-cepat, “Ah, barangkali karena kau merasa diri hanya sebagai seorang pelayan dan aku seorang puteri bangsawan. Di situkah letak perbedaannya? Akan tetapi Gwat Kong, hal itupun tidak menjadi penghalang bagimu untuk menikmati kebahagiaan hidup.” Memang gadis ini pandai sekali menghubungkan sesuatu dengan filsafat hidup yang banyak dibacanya ketika ia dipaksa mempelajari ilmu kesusasteraan oleh ayahnya.

Gwat Kong merasa tidak enak untuk melanjutkan percakapan ini, maka ia lalu berkata, “Entahlah, siocia, akan tetapi buktinya hingga sekarang aku masih belum tahu apakah artinya kebahagiaan, yang ada hanyalah penderitaan dan kekecewaan,” ia menghela napas.

“Kasihan kau, Gwat Kong,” kata Tin Eng dan untuk beberapa lama keduanya diam saja memandang bulan yang telah muncul kembali, terbenam dalam lamunan masing-masing. Tiba-tiba Gwat Kong insyaf betapa berbahagianya keadaan ini. Belum pernah ia mengadakan percakapan semesra ini dengan gadis impiannya itu dan ia maklum bahwa kalau sampai Liok-taijin melihat mereka duduk berdua di atas rumput menikmati cahaya bulan, akan berbahayalah jadinya. Teringat akan hal ini, ia merasa khawatir, bukan untuk diri sendiri, akan tetapi khawatir kalau-kalau gadis itu akan mendapat teguran dan marah dari ayahnya.

“Sudahlah, siocia, mari kita bicarakan tentang lain hal. Bagaimanakah dengan …. dengan kitab pelajaran silat itu?”

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini, Tin Eng agak terkejut dan ia sadar kembali dari lamunannya.

“Kitab itu? Ah, justru inilah maksud kedatanganku. Aku sengaja mencarimu dengan dua maksud, Gwat Kong. Pertama-tama untuk mengucapkan terima kasihku atas penemuan kitab pelajaran itu. Kalau bukan kau yang mendapatkan kitab itu dan menyerahkan kepadaku serta menjaga sehingga rahasia ini tertutup baik-baik, aku takkan mendapat kemajuan sehebat ini.”

Gwat Kong pura-pura tidak mengerti dan bertanya, “Jadi kitab itu berguna bagimu, siocia?”

“Berguna? Bukan main! Sepuluh orang guru silat yang mengajarku belum tentu sebesar itu gunanya! Setelah aku menangkap maling dulu itu, barulah aku merasa betapa hebatnya kemajuan silatku, bahkan kini kepandaianku sudah lebih tinggi dari pada kepandaian ayah sendiri!”

“Aduh, hebat sekali, siocia!” kata Gwat Kong dengan kagum dan girang.

“Karena itu, maka aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu dan sebagai pembalasan budi, kalau kiranya kau perlu akan sesuatu, aku bersedia membantumu, Gwat Kong. Kau ajukanlah permintaanmu dan aku akan memberikannya sebagai hadiah.”

Gwat Kong memandang dengan muka merah. “Apakah yang dapat kuminta, siocia? Aku … aku tidak membutuhkan sesuatu.”

“Uang misalnya, atau pakaian? Aku akan memberi dengan suka hati.”

Gwat Kong menggelengkan kepalanya. Pada saat itu, hanya satu hal yang dikehendaki dari gadis itu, akan tetapi seribu ujung pedang takkan kuasa memaksanya membuka mulut, karena yang dibutuhkan itu adalah …. hati penuh cinta kasih dari gadis itu. “Tidak, siocia, aku tidak membutuhkan sesuatu. Terima kasih atas kebaikanmu.”

Tin Eng menghela napas panjang. “Kau mengecewakan hatiku, Gwat Kong. Dengan demikian maka aku tetap berhutang budi kepadamu dan entah kapan aku dapat membayarnya. Sekarang hal kedua, yaitu aku hendak minta tolong kepadamu.”

“Bagaimanakah aku yang bodoh ini dapat menolongmu, siocia?”

“Dengarlah. Kau tentu tahu sendiri betapa lihai ilmu silat Gan-ciangkun yang kita saksikan ketika ia diuji dulu itu.”

Kalau saja cahaya bulan bukannya memang sudah pucat, tentu Tin Eng akan dapat melihat betapa wajah pemuda itu menjadi pucat ketika mendengar kata-kata ini. “Kau maksudkan pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu, siocia?”

Tin Eng mengangguk. “Ya, dialah, akan tetapi jangan sekali-kali kau menyebut namanya begitu saja, harus menyebut Gan-ciangkun karena ia telah menjadi perwira kelas satu, bahkan menjadi panglima dari ayah. Nah, aku ingin sekali mencoba kepandaiannya, kau harus menyampaikan kepadanya akan keinginan hatiku ini. Kalau mungkin, besok malam suruhlah dia datang ke tempat ini untuk mengadu kepandaian dengan aku. Kalau belum mengukur kepandaiannya dengan ilmu pedangku sendiri, aku masih belum puas.”

Untuk beberapa saat Gwat Kong tak dapat berkata-kata. Hatinya merasa perih sekali karena ia dapat menduga bahwa gadis ini tertarik oleh ketampanan wajah panglima muda itu, maka hendak mencoba kepandaiannya pula sebagai pembukaan isi hatinya!

“Bagaimana, Gwat Kong? Kau mau menolongku atau tidak?”

“Tentu saja, siocia. Besok pagi aku berusaha menyampaikan hal ini kepadanya. Akan tetapi, bagaimana kalau sampai ayahmu mendapat tahu?”

“Ah, hal itu tidak mengapa. Bukankah sudah lazim bagi orang-orang berkepandaian silat untuk mengadakan pibu (adu kepandaian)? Dan pibu inipun hanya untuk menguji kepandaian masing-masing saja. Kalau ayah marah, biarlah aku yang menghadapinya!” Anak manja ini memang tidak takut kepada ayahnya.

Sambil menekan hatinya yang perih, Gwat Kong mengangguk dan berkata, “Baiklah, siocia. Mudah-mudahan ia tidak akan mengecewakanmu.”

“Eh, eh, apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa, siocia. Maksudku mudah-mudahan dia mau menerima tantanganmu ini sehingga kau tidak akan menjadi kecewa.”

Tin Eng lalu meninggalkan Gwat Kong yang duduk termenung di tempat semula. Kini ia lebih berduka lagi dan makin tetap keputusannya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, betapapun juga ia harus memenuhi kehendak Tin Eng dulu dan iapun hendak menyaksikan sampai di mana kepandaian gadis itu, dan apakah ia akan dapat menandingi Gan Bu Gi yang lihai itu.

Pada keesokan harinya, Gwat Kong mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Gan Bu Gi. Dengan cepat ia menghampiri dan berkata,

“Gan-ciangkun, saya membawa pesan dari Liok-siocia untukmu.”

Panglima muda ini nampak tercengang dan memandang heran. Ia sudah kenal kepada pemuda pelayan ini yang pandai membawa diri maka ia lalu bertanya, “Gwat Kong, jangan kau main-main! Pesan apakah yang dapat disampaikan Liok-siocia kepadaku?”

Melihat di situ tidak ada orang lain, Gwat Kong lalu berkata, “Siocia minta agar supaya ciangkun suka datang di kebun bunga malam nanti untuk mengadu kepandaian pedang.”

Gan Bu Gi merasa makin terkejut, “Apa maksudmu? Mengadu pedang bagaimana?”

“Ah, benar-benarkah kau tidak tahu, ciangkun? Pendeknya siocia ingin mengajak pibu kepadamu dan harap saja ciangkun suka menerima tantangan ini. Malam nanti siocia menanti di taman bunga.”

Karena pada saat itu muncul pelayan lain, Gwat Kong lalu tinggalkan panglima muda yang masih berdiri dengan mata terbelalak itu. Gan Bu Gi masih terlampau muda dan kurang pengalaman untuk dapat mengetahui isi hati Tin Eng yang hendak mengukur sampai di mana tingkat ilmu silatnya itu. Namun ia merasa girang juga mendapat kesempatan untuk bertemu, bhakan mungkin bercakap-cakap dengan gadis yang cantik. Selama ia berada di situ sampai enam bulan, ia hanya mendapat kesempatan sedikit saja untuk bertemu muka dengan Tin Eng. Karena ia harus berlaku sopan dan menjaga diri agar jangan sampai tercela oleh Liok-taijin.

Pada malam hari itu, bulan masih bersinar terang, akan tetapi Gwat Kong tidak seperti biasanya, tidak keluar dari kamarnya, karena ia tidak mau mengganggu Tin Eng yang hendak mengadu kepandaian dengan Gan Bu Gi, sungguhpun ia ingin sekali menyaksikannya. Selagi ia duduk termenung di dalam kamarnya tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

Ketika ia membuka daun pintu, ternyata bahwa yang mengetuk itu adalah Tin Eng. Memang kamar Gwat Kong yang berada di dekat kandang kuda itu tidak jauh letaknya dari kebun kembang.

“Gwat Kong, kau harus ikut menyaksikan pibu ini hingga kalau sampai ketahuan oleh ayah aku mempunyai saksi bahwa aku tidak bermaksud buruk dalam hal ini.”

Gwat Kong menyembunyikan rasa girangnya. Ia bergirang oleh karena tidak saja ia mendapat kesempatan menyaksikan pertandingan, juga karena ternyata bahwa gadis itu benar-benar berhati bersih dan hanya ingin menguji kepandaian Gan Bu Gi belaka tanpa maksud-maksud lain.

Mereka lalu menuju ke tengah kebun kembang di mana memang terdapat lapangan berlatih silat yang dulu dipergunakan untuk menguji kepandaian Gan Bu Gi itu. Mereka tidak usah lama menanti, oleh karena Gan-ciangkun tak lama kemudian datang dengan sikapnya yang gagah. Ia menjura dengan hormat kepada Tin Eng yang dibalas dengan selayaknya. Jelas nampak kekecewaan membayang pada muka yang tampan itu ketika ia melihat Gwat Kong berada di situ pula.

“Saya mendengar dari Gwat Kong tentang pesanan siocia maka sekarang saya datang untuk memenuhi pesanan itu. Sebetulnya apakah kehendak siocia?” tanyanya.

“Tidak lain aku ingin mengadu kepandaian pedang denganmu, ciangkun. Marilah kita main pedang sebentar untuk menambah pengalaman,” jawab Tin Eng singkat dan ia agak malu-malu.

Gan Bu Gi tersenyum, senyum yang manis memikat dan yang membuat dada Gwat Kong terasa panas.

“Siocia, kepandaianmu telah kusaksikan dan aku masih berterima kasih atas pertolonganmu dulu itu. Baiklah, kalau kau masih penasaran dan hendak mengujiku, silahkan!”

Biarpun Tin Eng merasa heran mendengar ucapan yang tidak dimengertinya ini, akan tetapi ia tidak mau membuang waktu lagi dan mencabut pedangnya. Juga Gan Bu Gi mencabut pedang dari pinggangnya sedangkan Gwat Kong yang mengerti bahwa panglima itu salah sangka ketika dulu ia membantunya terhadap serangan gelap dari perwira Lie Bong, lalu duduk di atas rumput dan menonton mereka mengadu kepandaian.

“Silahkan menyerang, siocia,” kata Gan Bu Gi dengan tenang dan ia memasang kuda-kuda dengan melintangkan pedang pada dadanya dan tangan kirinya diangkat ke atas dengan sikap yang amat menarik.

“Awas pedang!” seru Tin Eng yang segera maju menyerang dan menggunakan ilmu pedang Garuda Sakti yang baru dipelajarinya selama hampir tiga tahun itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: