Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 33

“Nona,” terdengar kakek tua itu berkata dengan suaranya yang halus dan sabar. “Apakah kau anak murid dari Sie Cui Lui?”

“Sie Cui Lui adalah kakekku, locianpwe. Teecu bernama Sie Cui Giok. Tidak tahu, siapakah locianpwe yang terhormat dan siapa pula adanya hwesio jahat tadi? Mengapa ia hendak menangkap adik kecil ini?”

Kakek ini menghela napas. “Biarpun amat memalukan untuk mengaku. Akan tetapi terus terang saja, hwesio itu adalah muridku sendiri. Lima tahun yang lalu, ia masih menjadi muridku yang baik, akan tetapi ia menyeleweng dan melakukan perbuatan zinah yang jahat, sehingga aku terpaksa mengusirnya dan tidak mengakui sebagai murid. Semenjak itu, ia merasa sakit hati dan karena tidak berani membalas dendam kepadaku, agaknya ia hendak menyakiti hatiku dengan menculik muridku yang kecil ini. Nona, ketahuilah aku adalah Lo Han Cinjin dari Kun-lun-san. Kakekmu Sie Cui Lui itu telah dikenal baik padaku.” Kemudian ia berpaling kepada muridnya dan berkata,

“Cu Ek, hayo kau menghaturkan terima kasih kepada nona ini yang telah membantu dan menolongmu.”

Kui Cu Ek lalu menghampiri Cui Giok dan menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi Cui Giok segera mengangkatnya bangun dan berkata sambil tertawa,

“Adik yang baik, ilmu pedangmu benar-benar mengagumkan sekali!”

“Belum ada sepersepuluh bagian dari kepandaian cici yang gagah,” kata anak kecil itu dengan suaranya yang nyaring.

Lo Han Cinjin berkata lagi, “Dengan sepasang pedang dapat mendesak dan mengalahkan muridku yang tersesat tadi telah menunjukkan bahwa kepandaianmu sudah cukup tinggi. Sebenarnya kau hendak kemanakah?”

Dengan singkat Cui Giok menuturkan bahwa ia sedang menuju Hong-san untuk mencari guha Kilin di mana tersimpan harta pusaka itu.

Kakek itu menarik napas panjang.

“Sayang …. sayang …. agaknya manusia takkan terlepas dari pengaruh harta …” Ia lalu merogoh keranjang obatnya dan mengeluarkan sebatang ranting yang penuh daun berwarna merah.

“Nona, kau telah bertemu dengan aku. Itu berarti ada jodoh. Aku tadi secara kebetulan sekali mendapatkan daun Ang-giok (daun bermata merah) ini. Karena tidak perlu bagiku, terimalah daun ini. Jangan kau anggap remeh daun ini karena segala luka di dalam tubuh dapat sembuh dengan mudah apabila orang yang terluka itu makan sehelai daun ini. Dan karena kau melakukan perantauan, terimalah lima butir pel ini. Kalau kau berada jauh dari rumah orang dan kehabisan ransum, sebutir pel ini kalau kau telan akan melindungi pencernaanmu dan kau dapat bertahan tidak makan sampai sepekan lamanya tanpa merasa lapar.”

Dengan girang Cui Giok menerima obat mujijat itu yang disimpannya di dalam buntalan pakaian yang diikatkan pada punggungnya, lalu menghaturkan terima kasih. Akan tetapi, tanpa berkata sesuatu lagi kakek yang aneh lalu menggandeng tangan muridnya dan pergi dari situ.

Di kemudian hari, anak kecil yang bernama Kui Cu Ek itu, akan menjadi seorang pendekar gagah perkasa yang menggemparkan dunia persilatan dengan ilmu pedang Sin-tiauw-kiamsut. Dia inilah yang akan mengharumkan nama Kun-lun-pai di kemudian hari.

Sementara itu, Cui Giok melanjutkan perjalanannya menuju ke Hong-san. Setelah dekat bukit itu, ia menyelidiki dengan penuh perhatian, akan tetapi tidak bertemu dengan orang-orang yang dicarinya, yakni anak murid Hoa-san-pai yang bernama Tan Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok itu. Maka, ia langsung mendaki bukit Hong-san untuk mencari di puncak bukit itu. Sama sekali ia tidak tahu bahwa pada hari itu juga, pagi tadi, tiga orang murid Hoa-san-pai yang dicarinya itu telah naik pula ke Hong-san. Bahkan tidak disangkanya sama sekali bahwa di tempat itu ia akan bertemu dengan Tin Eng, gadis puteri Liok-taijin yang telah seribu kali membuat ia cemburu itu, karena agaknya Gwat Kong amat memperhatikan gadis itu.

****

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tin Eng, Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok naik ke Hong-san pada pagi hari itu dengan maksud mencari harta pusaka dan kalau perlu membinasakan penjaga guha Kilin, yakni raksasa hitam yang menurut Kui Hwa bernama Badasingh.

Benar saja sebagaimana telah dituturkan oleh Kui Hwa, ketika mereka tiba di puncak itu, di depan guha Kilin, kelihatan Badasingh, orang tinggi besar yang seperti raksasa itu duduk di atas batu sambil memukul-mukulkan rantai bajanya ke atas batu karang, menerbitkan suara keras dan batu karang itu pecah berkeping-keping bagaikan batu merah dipukul oleh besi. Wajah raksasa hitam itu nampak muram.

“Mari kita hampiri dia!” ajak Kui Hwa dan dengan hati berdebar keempat orang muda itu berjalan menghampiri raksasa yang mengerikan ini.

Badasingh menengok cepat dan ketika melihat dua orang gadis cantik dan dua orang pemuda mendatangi, ia segera bangun berdiri. Bukan main tingginya orang ini. Kalau berdiri di dekat Pui Kiat dan Pui Hok yang sudah cukup tinggi itu barangkali hanya akan setinggi pundaknya.

“Kalian siapakah? Dan mau apa datang ke tempat ini?”

Badasingh bertanya dengan suaranya yang besar dan kaku, sedangkan sepasang matanya yang hitam bersinar tajam itu ditujukan kepada Kui Hwa dan Tin Eng. Kedua orang gadis ini merasa bulu tengkuk mereka meremang karena pandang mata itu sungguh-sungguh kurang ajar, bagaikan pandang mata seorang rakus memandang semangkok masakan yang enak dan masih mengebul hangat.

“Kami datang hendak menyelidiki guha ini dan mencari tempat penyimpanan harta terpendam,” kata Kui Hwa terus terang karena tahu bahwa raksasa ini telah mengetahui tentang harta itu. Ia hendak melihat bagaimana sikap raksasa itu setelah mendengar bahwa mereka datang untuk keperluan yang sama.

Untuk sesaat, wajahnya yang hitam itu bergerak-gerak marah mendengar ucapan ini. Akan tetapi kemudian ia tertawa bergelak-gelak sehingga suara ketawanya menggema di empat penjuru.

“Kalian, orang-orang kecil lemah ini? Ha ha ha! Kalian mau melihat guha Kilin? Boleh, boleh! Nah, mari lihatlah, kuantarkan!”

Pui Kiat dan Pui Hok melangkah maju ke arah guha diikuti oleh Kui Hwa dan Tin Eng. Ketika mereka masuk ke dalam guha itu, mereka berseru penuh kengerian karena di dalam guha itu ternyata merupakan sebuah sumur besar atau jurang yang tak berdasar saking dalamnya. Yang nampak hanya kehitaman di bawah jurang itu tak dapat diukur berapa dalamnya.

Melihat adanya beberapa kelelawar beterbangan di permukaan jurang, keluar masuk ke dalam sumur itu, maka dapat diduga bahwa tempat itu tentu amat dalam. Untuk menuruni jurang itu amat sukar, karena pinggirnya terdiri dari batu cadas yang amat licin dan tajam. Jalan masuk ke dalam guha itu semuanya penuh oleh jurang itu, hanya sebagian kecil saja di sebelah kanan terdapat batu karang yang dapat dijadikan tempat untuk berdiri atau duduk. Akan tetapi lebarnya hanya kira-kira satu kaki saja. Oleh karena itu, memasuki guha Kilin ini pada waktu gelap sungguh merupakan jalan maut yang mengerikan karena begitu masuk, orang akan terguling ke dalam jurang.

“Ha ha ha! Kalian mau masuk ke dalam? Masuklah!” Sambil berkata demikian, membuat gerakan tangan dan menyerang ke arah Pui Kiat dan Pui Hok.

Bukan main kagetnya Tin Eng dan Kui Hwa melihat ini dan untung sekali kedua gadis itu berdiri di belakang si raksasa sehingga mereka dapat bergerak cepat. Bagaikan sudah diatur lebih dahulu, Tin Eng menggerakkan tangan memukul ke lambung raksasa itu, sedangkan Kui Hwa menangkap kedua tangan kedua suhengnya dan menariknya ke belakang.

Raksasa itu dengan amat mudahnya dapat mengelak dari pukulan Tin Eng dan ketika keempat orang muda itu melompat ke belakang dengan muka pucat dan marah, ia tertawa bergelak dan melangkah maju mengejar mereka dengan sikap mengancam dan menakutkan.

“Ha ha ha! Kalian orang-orang lemah ini tak mungkin dapat mengambil harta itu untukku. Karena itu, kalian hrs mati di sini akan tetapi hanya kamu berdua yang harus mati!” Ia menunjuk kepada Pui Kiat dan Pui Hok.

“Dua orang bidadari manis ini harus mengawani aku di sini. Aku kesepian sekali dan amat haus. Kalian berdua, gadis-gadis manis, kalian akan dapat menghibur hatiku. Kalian menjadi pengganti anggur yang segar! Ha ha ha!”

“Siluman jahanam!” bentak Tin Eng dengan marah sekali. Hampir berbareng keempat orang muda itu mencabut pedang masing-masing dan menyerang dengan berbareng.

Akan tetapi keempatnya terpaksa harus meloncat mundur lagi karena sambil berseru keras, Badasingh memutar rantainya yang berat dan panjang itu sehingga merupakan segulungan sinar hitam menyambar di sekeliling tubuhnya. Empat orang muda itu tidak berani beradu senjata karena takut kalau pedang mereka akan rusak, maka mereka ini hanya mengandalkan kelincahan mereka untuk memasuki lowongan antara sambaran rantai baja. Namun kepandaian Badasingh benar-benar luar biasa, terutama sekali tenaganya yang hebat.

Ia melayani empat orang lawannya sambil mengeluarkan seruan-seruan liar bagaikan suara seekor beruang mengamuk. Kedua matanya terbelalak lebar, mulutnya menyeringai dan tangan kirinya yang tidak memegang senjata itu tidak tinggal diam, akan tetapi melakukan serangan-serangan mencengkeram dengan jari-jari tangannya yang panjang berbulu dan kukunya yang panjang dan tebal.

Badasingh benar-benar hebat. Biarpun yang mengeroyoknya adalah empat orang muda yang kepandaiannya telah cukup tinggi, namun ia tidak menjadi sibuk bahkan dapat mendesak dengan senjata rantai bajanya. Berkali-kali empat orang muda itu terpaksa harus melompat tinggi dan menjauhkan diri dari sambaran rantai yang besar dan berat itu, dan sukarlah bagi mereka untuk mendekati atau menyerang si raksasa.

Sebaliknya, Badasingh juga merasa penasaran. Jarang ada orang yang kuat menghadapinya sampai puluhan jurus, maka tiba-tiba ia berseru keras dan dengan langkah lebar ia mendesak terus kepada Kui Hwa dan Tin Eng sehingga kedua nona itu menangkis pedang mereka terpental dan terlepas dari pegangan.

Sebelum hilang rasa kaget mereka, lengan kiri Badasingh telah terulur maju dan Kui Hwa kena ditangkap pundaknya. Saking kaget dan takutnya, Kui Hwa sampai menjadi lemas dan dengan gerakan luar biasa sekali, jari tangan Badasingh menotok dan menekan jalan darah gadis itu pada pundaknya sehingga tubuh Kui Hwa seakan-akan menjadi lumpuh.

Badasingh melepaskan Kui Hwa dan kini ia mengulurkan tangan hendak menangkap Tin Eng. Gadis ini tak mau menyerah begitu saja dan mengirim pukulan ke arah lengan yang terulur hendak menangkapnya. Akan tetapi jari tangan Badasingh yang panjang-panjang itu bergerak ke bawah dan tertangkaplah lengan Tin Eng.

“Ha ha ha! Kalian berdua nona manis harus menjadi penghiburku dan mengawani aku di tempat ini. Ha ha ha!” Juga Tin Eng dibikin tak berdaya oleh totokannya yang lihai.

Pui Kiat dan Pui Hok terkejut sekali dan mereka berlaku nekad. Dengan marah mereka maju menyerang lagi, akan tetapi agaknya mereka itu hanya hendak mencari kematiannya sendiri karena sebentar saja rantai baja yang hebat itu telah bergerak-gerak mengancam mereka.

Pada saat terjadinya pertempuran dan tertangkapnya Tin Eng dan Kui Hwa, datanglah Cui Giok. Dara perkasa ini dari jauh sudah mendengar gerakan-gerakan aneh dari mulut Badasingh dan mendengar pula suara senjata beradu, maka ia mempercepat larinya bagaikan terbang menuju ke arah suara itu.

Ketika ia tiba di situ, ia terkejut sekali melihat betapa dua nona muda telah tertangkap dan kini duduk di atas tanah dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya sama sekali. Sedangkan dua orang pemuda sedang mengeroyok seorang raksasa hitam yang dahsyat dan mengerikan.

Sekali pandang saja, tahulah Cui Giok bahwa dua orang itu tentulah Pui Kiat dan Pui Hok. Akan tetapi ia merasa heran juga melihat adanya dua orang gadis di situ. Yang manakah gerangan yang bernama Kui Hwa? Akan tetapi ia tidak mau pusingkan semua itu karena ia melihat betapa kedua orang muda itu telah terdesak hebat dan keselamatan mereka terancam bahaya maut. Ia segera mencabut sepasang pedangnya dan melompat dengan gerakan Walet Hitam Keluar Dari Sarangnya, dan membentak,

“Siluman hitam, lihat pedang!”

Begitu tubuhnya tiba di depan Badasingh, ia lalu menyerang dengan kedua pedangnya ke arah kedua pundak raksasa itu. Badasingh melihat dua sinar cemerlang menyambar ke arah pundaknya menjadi terkejut sekali dan cepat berjumpalitan ke belakang sambil memandang. Alangkah girangnya melihat seorang gadis yang cantik jelita berdiri di depannya.

“Ha ha ha! Datang seorang lagi! Ha ha ha, bagus! Yang ini lebih hebat lagi, ha ha! Sekarang ada tiga! Cukuplah untukku!”

Sementara itu, Cui Giok bertanya kepada Pui Kiat dan Pui Hok,

“Apakah jiwi yang bernama Pui Kiat dan Pui Hok?”

“Benar, nona,” jawab Pui Kiat sambil memandang heran. “Nona siapakah?”

“Aku datang mewakili Gwat Kong!” kata Cui Giok dan tubuhnya melayang ke arah Kui Hwa dan Tin Eng. Dua kali tepukan saja ia sudah membikin dua orang gadis itu pulih kembali jalan darahnya. Kui Hwa memandang kagum sedangkan Tin Eng memandang dengan heran. Siapakah gadis ini yang menyebut nama Gwat Kong begitu saja?

Akan tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk banyak bicara. Karena pada saat itu, Badasingh yang merasa marah melihat Cui Giok membebaskan dua orang korbannya, telah datang untuk menangkap Cui Giok.

“Kalian berempat minggirlah, biarlah aku menghadapi siluman ini!”

Sambil berkata demikian, Cui Giok menyambut kedatangan Badasingh dengan sepasang pedangnya digerakan membuat penyerangan yang hebat dan berbahaya. Badasingh hanya menyeret rantainya karena tadinya ia hendak menawan hidup-hidup gadis cantik jelita ini. Akan tetapi ketika sepasang pedang itu menyerang dengan gerakan berlawanan yang aneh sekali, ia mengelak dan tetap saja ujung pedang di tangan Cui Giok berhasil menyerempet pundaknya.

Badasingh memekik keras dan mengeluarkan suara aneh, agaknya ia memaki-maki dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Cui Giok dan kawan-kawannya dan melihat darah mengalir membasahi baju di bagian pundaknya. Badasingh menjadi marah sekali. Sambil mengeluarkan seruan-seruan keras, ia memutar-mutar rantai bajanya dan menyerang Cui Giok dengan hebatnya bagaikan serangan air hujan dari atas.

Kalau Badasingh mengira akan dapat mengalahkan gadis yang baru datang ini dengan serangan-serangannya yang mengandalkan tenaga besar dan kecepatan, ia kecele. Dara perkasa ini kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada keempat orang muda tadi dan gerakan sepasang pedangnya masih melebihi kecepatan rantai bajanya.

Cui Giok yang memiliki ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat dan berotak cerdik itu maklum bahwa kalau ia merasa gentar dan bertempur sambil menjauhkan diri maka tak mungkin akan dapat menang. Karena senjata lawannya yang panjang dan berat itu lebih menguntungkan pihak lawan. Oleh karena itu, ia mengandalkan ginkangnya dan sikap kedua pedangnya yang berdasarkan Im dan Yang yakni tenaga lemas dan kasar. Ia mendesak maju dan mengajak bertempur dari jarak dekat.

Tentu saja cara bertempur menghadapi seorang raksasa mengerikan seperti Badasingh dari jarak dekat membutuhkan ketabahan besar. Karena demikian berat dan cepatnya gerakan rantai itu sehingga angin pukulannya terdengar bersiutan memenuhi telinga dan angin itu membuat pakaian Cui Giok berkibar-kibar bagaikan tertiup angin badai.

Namun Cui Giok berlaku tabah dan ketika kedua pedangnya digerakkan dengan cepat dan sinar pedangnya bergulung-gulung dan menyelinap di antara sambaran rantai sehingga tubuhnya lenyap sama sekali terbungkus oleh gulungan sinar itu.

Kalau Badasingh menjadi terkejut setengah mati melihat cara bertempur gadis yang lihai ini, adalah Kui Hwa, Tin Eng, Pui Kiat dan Pui Hok berdiri dengan bengong dan penuh kekaguman. Bagi Tin Eng dan dan kedua saudara Pui, mereka sudah menyaksikan kelihaian Kang-lam Ciu-hiap Gwat Kong dan merasa amat kagum. Akan tetapi agaknya gadis yang baru datang yang mengaku mewakili Gwat Kong ini, agaknya tidak kalah lihainya daripada Gwat Kong sendiri. Adapun Kui Hwa juga merasa kagum karena selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan permainan pedang sehebat itu.

Tadinya keempat orang muda ini hendak membantu bahkan Kui Hwa dan Tin Eng sudah mengambil pedang mereka yang tadi terpental dan terlepas dari tangan. Akan tetapi mereka masih ragu-ragu karena larangan Cui Giok. Kini mereka tidak merasa ragu-ragu lagi akan kelihaian nona penolong itu dan mereka menonton dengan penuh harapan dan kekaguman.

Lambat akan tetapi pasti, Cui Giok mendesak lawannya dan kini seruan-seruan yang keluar dari mulut Badasingh adalah seruan-seruan kaget bercampur marah. Ia hanya dapat memutar rantai melindungi dirinya sambil mundur, akan tetapi masih saja ujung pedang Cui Giok berhasil melukai lengan kiri dan kulit lehernya.

Cui Giok makin bersemangat. Ia benci kepada raksasa hitam ini karena tadi melihat dengan jelas betapa raksasa hitam ini bermaksud keji terhadap dua orang gadis itu, dan hal ini memang amat dibenci oleh Cui Giok. Dengan dada penuh nafsu membunuh, ia terus mendesak dan menindih senjata lawan tanpa memberi kesempatan sama sekali kepada raksasa itu untuk balas menyerang atau melarikan diri.

Badasingh bingung sekali. Ia mundur terus dan kini ia telah mendekati guha Kilin di dalam mana terdapat jurang yang mengerikan dan gelap itu. Tiba-tiba Badasingh yang sudah tak tahan lagi menghadapi desakan sepasang pedang di tangan Cui Giok, melompat mundur ke dalam guha. Cui Giok masih sempat mengirim tusukan yang mengenai pahanya sehingga Badasingh menjerit kesakitan lalu melompat ke dalam mulut guha Kilin.

Cui Giok masih merasa penasaran dan cepat melompat pula ke dalam guha yang gelap.

“Awas, jangan masuk ……..!!!” Kui Hwa dan Tin Eng menjerit hampir berbareng. Akan tetapi Cui Giok yang tidak tahu akan adanya bahaya di dalam guha, sudah melompat ke dalam dan terdengarlah jerit gadis itu mengerikan sekali ketika tubuhnya melayang ke bawah jurang yang amat gelap.

Ternyata bahwa Badasingh telah menggunakan akal memancing lawannya. Ia tahu bahwa di dalam guha itu hanya terdapat sebuah tempat di sebelah kanan, maka ketika ia melompat ke dalam guha yang gelap, ia melompat ke sebelah kanan, di atas batu karang yang lebarnya hanya satu kaki itu. Akan tetapi Cui Giok yang tidak tahu akan hal ini, langsung melompat dan ….. terjerumus ke dalam sumur atau jurang itu.

Setelah gema jeritan Cui Giok itu lenyap, terdengar gema suara ketawa Badasingh yang bergelak-gelak dari dalam guha. Kui Hwa dan Tin Eng tadinya menutupi kedua matanya dengan tangan karena merasa ngeri, kini mereka menjadi marah sekali. Tin Eng dengan pedang ditangan melangkah maju dan memaki,

“Siluman jahanam! Aku harus mengadu nyawa denganmu!” Ia hendak nekad dan menyerang raksasa itu, akan tetapi Kui Hwa, Pui Kiat dan Pui Hok memegang tangannya dan menariknya pergi dari situ.

“Adik Tin Eng, tak perlu membuang nyawa dengan sia-sia. Kita berempat bukanlah lawan siluman itu.”

“Tidak, tidak! Aku harus membalas kematian penolong kita itu!” kata Tin Eng sambil menangis. Akan tetapi Kui Hwa yang juga mengucurkan airmata itu memeluk dan menariknya dengan paksa.

Demikianlah keempat orang itu dengan hati sedih sekali turun dari gunung. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Badasingh telah terluka berat juga di pahanya sehingga kalau mereka nekad menyerbu, belum tentu raksasa itu akan dapat mempertahankan dirinya.

Sampai merah kedua mata Tin Eng dan Kui Hwa menangisi nasib Cui Giok, gadis penolong yang belum mereka ketahui siapa namanya itu. Mereka tidak berdaya dan tak dapat berbuat lain kecuali menanti datangnya Gwat Kong. Mereka tidak tahu dimana adanya Gwat Kong, karena nona yang katanya mewakili Gwat Kong itu tak sempat memberi penjelasan sesuatu kepada mereka.

“Lebih baik kita menanti saja di sini sampai datangnya Kang-lam Ciu-hiap,” kata Pui Kiat. “Ku rasa betapapun juga dia tentu akan datang di sini!”

Karena tidak mendapat jalan lain, kawan-kawannya menyatakan setuju dan untuk menghibur hati mereka yang ruwet, mereka menuju ke kota Thay-liok-kwan tak jauh dari situ. Kota ini letaknya di tepi pantai sungai dan menjadi pusat keramaian yang cukup menarik. Di tepi-tepi sungai terdapat perahu-perahu besar yang dipergunakan untuk orang berpelesir di sepanjang tepi sungai, bahkan ada beberapa perahu besar yang dipergunakan sebagai restoran dimana orang dapat naik perahu sambil memesan makanan.

Ketika empat orang muda itu sedang berjalan-jalan di dekat sungai sambil melihat-lihat perahu yang dicat indah, tiba-tiba terdengar seruan orang,

“Omitohud, alangkah cantik-cantiknya!”

Mereka segera menengok ke belakang dan melihat seorang hwesio muda yang kepalanya gundul sedang memandang kepada Tin Eng dan Kui Hwa dengan mata yang kurang ajar dan mulut menyeringai. Tin Eng dan Kui Hwa hendak marah, akan tetapi Pui Kiat mengedipkan mata mencegah mereka mencari keributan di tempat itu. Dengan hati sebal mereka lalu naik ke perahu restoran mengambil tempat duduk dan memesan makanan.

Akan tetapi, baru saja makanan yang mereka pesan itu dikeluarkan, tiba-tiba perahu itu menjadi miring dan para pelayan berteriak-teriak bingung. Ketika keempat orang muda itu memandang keluar, ternyata hwesio kurang ajar itu dan sungguh mengherankan karena biarpun tubuhnya tidak berapa besar dan ia berjalan dengan perlahan namun perahu itu miring dan bergoyang-goyang seakan-akan ada seekor gajah yang berjalan di situ.

Diam-diam keempat orang muda itu terkejut sekali. Terang sekali bahwa hwesio itu mendemonstrasikan ilmu Jian-kin-cui (tenaga seribu kati) untuk membuat tubuhnya menjadi berat. Akan tetapi, empat orang muda itu maklum bahwa kalau tidak mempunyai ilmu tinggi, tak mungkin dapat membuat perahu besar menjadi miring dan bergoyang-goyang.

Sambil tertawa-tawa hwesio itu sengaja memilih meja di dekat empat orang muda itu dan duduk dengan mulut menyeringai dan lagak sombong lalu pesan makanan dan arak kepada pelayan. Tentu saja keempat orang muda itu merasa sebal dan mendongkol sekali.

Akan tetapi oleh karena hwesio itu tidak melakukan sesuatu, mereka tidak mempunyai alasan untuk menyatakan kedongkolan hati. Apalagi mereka maklum bahwa hwesio itu berkepandaian tinggi, maka lebih baik tidak mencari permusuhan dengan hwesio yang aneh ini.

Hwesio ini bukan lain ialah Tong Kak Hwesio, murid dari Lo Han Cinjin tokoh Kun-lun-pai itu, dan hwesio inilah yang pernah bertempur dan dikalahkan oleh Cui Giok. Ia pernah menjadi murid tersayang dari Lo Han Cinjin dan mempelajari ilmu silat Kun-lun-pai yang tinggi. Akan tetapi karena pada suatu hari ia mengganggu gadis kampung, ia mendapat marah besar dari suhunya dan kemudian diusir dan tidak diakui lagi menjadi murid kakek sakti itu.

Di dalam perantauannya, Tong Kak Hwesio bertemu dengan Liok-taijinpm dan menjadi sahabat baik dari Ang-sun-tek. Karena tahu bahwa hwesio ini selain mata keranjang juga mata duitan serta memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Ang-sun-tek lalu mempergunakan tenaganya dan ketika ia sedang berusaha mencari tahu tentang rahasia peta harta terpendam di Hong-san itu, dari Tin Eng dengan perantara Liok-taijin.

Ia lalu minta pertolongan Tong Kak Hwesio untuk berangkat terlebih dahulu ke Hong-san dan menyelidiki keadaan murid-murid Hoa-san-paiyang telah berangkat ke tempat itu. Ang-sun-tek khawatir kalau-kalau murid-murid Hoasan itu mendahului mendapatkan harta itu.

Demikianlah, pada hari itu Tong Kak Hwesio bertemu dengan bekas suhunya bersama murid kecil suhunya itu yang hendak diganggunya sehingga ia bertempur dengan Cui Giok. Setelah ia dikalahkan, ia berlari cepat menuju ke Hong-san. Ia mencari-cari di sekeliling tempat itu. Akan tetapi ia tidak melihat murid-murid Hoa-san-pai, oleh karena pada waktu itu, Kui Hwa dan kawan-kawannya sedang bertempur melawan Badasingh di puncak Hong-san. Setelah Cui Giok terjerumus ke dalam jurang dan keempat orang muda itu turun gunung, barulah Tong Kak Hwesio melihat mereka sehingga ia menjadi girang sekali.

Tong Kak Hwesio memang mata keranjang dan mempunyai watak yang amat sombong dan mengagulkan kepandaiannya sendiri. Maka begitu melihat empat orang muda itu ia lalu mendekati mereka dengan terang-terangan. Kui Hwa dan kawan-kawannya tidak mau meladeninya, hanya makan dengan diam-diam saja dan cepat-cepat.

Setelah selesai mereka tanpa banyak cakap lalu meninggalkan perahu itu dan turun ke darat. Agaknya Tong Kak Hwesio maklum bahwa mereka merasa mendongkol kepadanya maka ia hanya makan minum sambil tertawa-tawa. Ia tidak mau turun tangan, oleh karena Ang-sun-tek hanya pesan agar supaya mengikuti dan menyelidiki keadaan mereka dan jangan mengganggu mereka sebelum melihat bahwa mereka telah mendapatkan harta pusaka itu.

Kui Hwa, Tin Eng dan kedua saudara Pui itu berjalan-jalan dengan hati rusuh dan bingung. Gwat Kong yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Dalam kesempatan ini, Kui Hwa bertanya tentang Gwat Kong kepada Tin Eng yang segera menceritakan riwayat Gwat Kong.

“Enci Kui Hwa, harap kau jangan kaget mendengar siapa adanya Gwat Kong itu. Karena ia telah bercakap-cakap dengan aku tentang dirimu dan berbeda dengan kebiasaan umum, pemuda itu sama sekali tidak mengandung hati dendam kepadamu.”

Kui Hwa terkejut sekali dan memandang kepada kawannya dengan alis berkerut.

“Apa maksudmu, adik Tin Eng?”

“Enci Hwa, bukankah kau puteri tunggal dari mendiang Tan-wangwe yang tinggal di Lam-hwat?”

Kui Hwa mengangguk dengan heran. “Bagaimana kau bisa tahu tentang mendiang ayahku?”

“Gwat Kong yang menceritakannya kepadaku. Kau kenal atau pernah mendengar pembesar di Lam-hwat itu yang bernama Bun-tihu? Tentu kau tahu pula akan permusuhan yang terjadi antara ayahmu dengan Bun-tihu?”

Kui Hwa menghela napas panjang. “Aku tidak tahu jelas. Memang aku tahu bahwa mendiang ayahku pernah melakukan sesuatu dosa terhadap Bun-tihu, karena sebelum meninggal dunia, ayah seringkali menyebut-nyebut nama Bun-tihu. Akan tetapi entah dosa apa yang diperbuatnya. Hanya setelah ayah menutup mata, beberapa kali ada orang datang menyerang rumah ayah dan mereka itu semua terpaksa ku lawan dan aku usir. Memang aku selalu masih memikirkan mengapa ayah dimusuhi orang-orang kang-ouw, sedangkan ibu juga tidak memberi keterangan sesuatu. Ada hubungan apakah hal ini dengan diri Gwat Kong?”

Tin Eng mengangguk-angguk. “Kalau begitu, kau sama sekali belum tahu tentang peristiwa itu, cici. Karena kita sudah menjadi kawan baik, maka tiada salahnya kalau aku menuturkannya kepadamu. Akan tetapi harap kau jangan salah duga, karena aku sependapat dengan Gwat Kong, yaitu bahwa perbuatan-perbuatan orang tua tiada sangkut pautnya dengan keturunannya.”

Kui Hwa mendengarkan dengan wajah berubah agak pucat. “Ceritakanlah, adikku.”

“Menurut penuturan yang kudengar, ayahmu dahulu adalah seorang hartawan besar dan pada suatu hari, ayahmu berurusan dengan para petani karena berebut tanah. Yang menjadi tihu ketika itu adalah Bun-tihu dan di dalam pemeriksaan pengadilan akhirnya Bun-tihu menangkan para petani itu. Ayahmu di denda dan tanah yang diperebutkan itu harus diberikan kepada para petani.

Hal ini agaknya membuat ayahmu marah sekali. Tak lama kemudian serombongan pencuri mengganggu Lam-hwat dan mereka ini bahkan berani mencuri cap kebesaran dari pembesar tinggi. Seorang di antaranya tertangkap. Dalam pengakuannya ia menyatakan bahwa pemimpin rombongan pencuri itu adalah …. Bun-tihu itulah. Sebagai buktinya, di dalam kamar Bun-tihu itu, ketika dilakukan penggeledahan, ditemukan cap kebesaran yang tercuri itu.

Kui Hwa mendengarkan dengan mata terbelalak.

“Dan kau bilang bahwa semua itu adalah tipu muslihat mendiang ayahku?” tanyanya dengan bibir gemetar.

“Sabar, cici! Aku sih tidak bisa berkata apa-apa, karena ketika hal itu terjadi, aku mungkin masih orok dan berada di pangkuan ibuku. Sekarang baik kulanjutkan cerita ini. Bun-tihu ditangkap dan harta bendanya dirampas. Karena merasa malu atas peristiwa ini, Bun-tihu lalu membunuh diri dalam tahanan!”

“Kasihan!” kata Kui Hwa. “Ia mati dalam penasaran kalau memang betul ia tidak melakukan kejahatan itu.”

“Semua penduduk Lam-hwat menyintai Bun-tihu dan tahu bahwa selama menjadi pembesar, Bun-tihu terkenal adil. Maka biarpun ada pengakuan maling itu, hampir semua orang tidak dapat percaya akan hal itu,” kata Tin Eng.

“Setelah Bun-tihu membunuh diri, maka isterinya yang sudah jatuh miskin, lalu pergi bersama seorang puteranya, mengembara dan hidup sengsara sampai tiba masanya ia meninggalkan dalam keadaan amat menderita.”

“Aduh, benar-benar kasihan nasibnya. Kalau memang ayah yang melakukan fitnah, amat besar dosa yang diperbuat oleh mendiang ayah!” kata Kui Hwa dengan terharu.

“Nah, demikianlah ceritanya. Dan tentu kau dapat menduga, bahwa putera Bun-tihu itu bukan lain ialah Bun Gwat Kong sendiri yang semenjak kecil hidup terlunta-lunta sebagai anak yatim piatu. Kemudian ia menjadi pelayan dari ayah. Kami menganggap ia seorang pelayan biasa dan aku … aku bahkan memperlakukan secara sewenang-wenang. Siapa tahu bahwa dia adalah pendekar perkasa yang berilmu tinggi!”

Menutur sampai di sini, tiba-tiba Tin Eng menjadi terharu karena teringat akan kasih sayang pelayan itu kepadanya. Ia menggunakan sapu tangannya untuk mencegah runtuhnya dua butir air mata.

Kui Hwa menarik napas panjang berulang-ulang.

“Dan dia tidak menaruh hati dendam kepadaku?” tanyanya.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: