Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 34

TIN Eng menggelengkan kepala. “Dia sudah bicara dengan aku tentang hal ini. Memang tadinya mendendam kepada ayahmu, bahkan sudah mencari ke Lam-hwat untuk membalas dendam. Akan tetapi ia mendengar bahwa ayahmu telah meninggal dunia maka ia menghabiskan urusan itu sampai di situ saja dan biarpun ia ingin bertemu dengan kau untuk menguji kepandaian, akan tetapi ia sama sekali tidak merasa sakit hati kepadamu.”

“Biarlah, biar dia mendendam kepadaku. Biar kalau dia datang nanti, kami bertempur untuk menentukan kemenangan. Aku tidak menyesal mati di ujung pedangnya kalau memang ayah bersalah!”

Tin Eng memegang tangan Kui Hwa. “Cici, jangan kau berkata demikian. Apakah kau hendak memperbesar dosa yang telah dilakukan oleh mendiang ayahmu? Gwat Kong tidak mendendam kepadamu. Apakah kau bahkan hendak memusuhinya, setelah ayahmu mencelakakan ayahnya?”

Kui Hwa berdiri dengan muka pucat. “Tin Eng …!! Benar-benarkah ayah melakukan fitnahan keji itu?”

Tin Eng menghela napas. “Apa yang harus kukatakan? Itu memang kenyataan, cici Hwa. Hampir semua penduduk Lam-hwat mengetahui hal itu. Ayahmu telah menyewa penjahat-penjahat untuk memfitnah Bun-tihu. Akan tetapi, sudahlah. Tidak baik membicarakan kesalahan orang yang telah meninggal. Apalagi kalau orang itu, ayahmu sendiri.”

Kui Hwa berdiri bagaikan patung, dadanya turun naik dan kedua matanya basah,

“Ayah ….. kau yang berdosa …. aku, anakmu yang terhukum …,” bisiknya perlahan.

Tin Eng memeluknya dan kedua orang gadis itu sama-sama mengeluarkan air mata. Tin Eng maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Kui Hwa adalah peristiwa yang menimpa dirinya karena perbuatan Gan Bu Gi. Sungguhpun ia belum tahu dengan jelas apakah yang terjadi antara kedua orang itu.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan orang dan keadaan menjadi amat ribut.

“Penculik …..!!! Tangkap … tangkap ..!!”

Orang-orang berlari-lari membawa senjata dan ketika Kui Hwa dan Tin Eng menengok dan berlari ke tempat itu, diikuti oleh Pui Kiat dan Pui Hok yang juga telah mendengar suara ribut-ribut itu. Mereka berempat melihat bayangan hitam yang amat tinggi besar berlari memanggul seorang wanita muda yang menjerit-jerit

“Badasingh …!!” seru Kui Hwa dan kawan-kawannya.

Ternyata bahwa yang menculik wanita muda itu benar-benar adalah raksasa hitam di puncak Hong-san itu. Sedangkan keempat pendekar muda itu sendiri tak berdaya menghadapi Badasingh, apalagi penduduk kota itu. Mereka hanya dapat berteriak-teriak, akan tetapi gerakan Badasingh yang amat cepat itu hampir tak terlihat oleh mata mereka. Mereka hanya melihat bayangan hitam berkelebat cepat dan mendengar jerit tangis wanita yang terculik itu.

“Celaka! Si bedebah itu telah berani turun gunung untuk menculik wanita!” kata Pui Kiat.

“Apa yang kita harus lakukan?” tanya Pui Hok dengan muka pucat.

“Kejar dia dan tolong wanita itu!” Tin Eng dan Kui Hwa berkata berbareng sambil mencabut senjata masing-masing.

Akan tetapi, Pui Kiat menggelengkan kepala. “Dia bukan lawan kita, akan sia-sia saja. Wanita itu tidak akan tertolong, bahkan kita sama dengan mengantar nyawa!”

“Habis apakah kita harus diam berpeluk tangan saja melihat kejahatan ini?” kata Tin Eng dengan penasaran.

Tiba-tiba Kui Hwa teringat akan sesuatu dan berkata, “Ah, mengapa aku begitu bodoh? Menanti kedatangan Kang-lam Ciu-hiap belum tentu kapan? Dan kalau didiamkan saja, kasihan nasib wanita itu. Mengapa kita tidak minta pertolongan Huang-ho Sam-kui? Mereka cukup gagah dan dengan tenaga kita ditambah lagi dengan mereka bertiga, mustahil kita takkan dapat binasakan siluman itu, menolong wanita tadi!”

Kawan-kawannya teringat pula akan hal ini. Mengapa tidak Huang-ho Sam-kui? Sungguhpun kepala-kepala bajak, akan tetapi telah mereka kenal baik setelah mereka bertempur. Dan agaknya kalau mereka datang minta pertolongan mereka takkan menolak.

Diam-diam dengan cepat mereka berempat lalu berlari menuju ke hutan yang dijadikan sarang para bajak itu.

Kedatangan mereka disambut oleh para bajak dengan penuh kecurigaan. Mereka itu masih teringat kepada empat orang muda yang dahulu pernah mengamuk. Akan tetapi dengan cepat Kui Hwa berkata,

“Kami ingin bertemu dengan pemimpin-pemimpinmu. Di manakah adanya Huang-ho Sam-kui? Beritahukan bahwa kami datang untuk sesuatu yang amat penting.

Para bajak itu memberi laporan dan tak lama kemudian muncullah tiga orang kepala bajak itu. Huang-ho Sam-kui yang gagah, dan tidak ketinggalan mereka membawa senjata dayung mereka yang lihai.

Melihat kedatangan empat orang muda ini, mereka bertiga menjura dan Louw Tek yang tertua berkata,

“Saudara-saudara yang gagah mengunjungi tempat kami, ada maksud apakah?”

“Sam-wi Tay-ong,” kata Kui Hwa dengan cepat. “Kami datang untuk minta pertolongan dari sam-wi yang gagah perkasa. Baru saja terjadi hal yang membutuhkan pertolongan kita, dan karena kami berempat merasa tidak kuat menghadapi lawan yang amat tangguh, maka sengaja datang mohon bantuan.”

Dengan singkat ia lalu menceritakan tentang penculikan wanita yang dilakukan oleh Badasingh itu. Mendengar ini, ketiga bajak sungai itu saling pandang dengan muka berobah.

“Jadi siluman barat itu kini berada di puncak Hong-san?”

“Sam-wi sudah mengenal siluman itu?”

“Siapa yang tidak mengenal Badasingh, siluman hitam dari barat yang amat jahat dan lihai itu? Beberapa tahun yang lalu, pernah ia membuat geger di daerah ini dan tak seorangpun dapat melawannya karena ia memang amat lihai.

“Kalau begitu tentu Sam-wi suka membantu kami untuk menggempur dan membinasakannya,” kata Kui Hwa.

Louw Tek mengangguk-angguk. “Memang semenjak mendengar namanya, kami bertiga ingin sekali bertemu dengan siluman itu dan membunuhnya. Akan tetapi telah bertahun-tahun ia tidak muncul, agaknya kembali ke barat. Sekarang setelah ia muncul kembali, sudah tentu kami akan berusaha membunuh atau mengusirnya. Apalagi mendapat bantuan saudara-saudara berempat yang gagah.”

“Kalau begitu mari kita berangkat!” seru Tin Eng. “Kasihan wanita itu!”

Untuk mempercepat perjalanan, Huang-ho Sam-kui mengajak empat orang muda itu untuk menggunakan sebuah perahu besar. Dengan lajunya perahu itu meluncur menuju ke Hong-san. Setelah tiba di kaki bukit itu, mereka mendarat dan segera berlari-lari ke atas bukit.

Mereka tidak melihat raksasa hitam itu di depan guha Kilin dan selagi mereka menduga-duga, tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita dari sebuah guha di dekat guha Kilin. Cepat-cepat mereka lalu berlari memburu ke tempat itu.

Dengan penerangan cahaya matahari yang menyinari guha itu, mereka dapat melihat betapa wanita yang terculik tadi meringkuk di sudut guha dalam keadaan ketakutan bagaikan seekor kelinci yang tersasar memasuki lobang harimau. Sedangkan si raksasa hitam sambil tertawa-tawa girang duduk memandang wanita itu dan tangan kanannya memegang seguci arak yang tadi dirampoknya dari kota bersama dengan wanita muda itu.

“Badasingh, siluman jahat! Keluarlah untuk menerima binasa!” Kui Hwa berseru keras sambil mengacung-ngacungkan pedangnya.

Melihat kedatangan orang-orang yang mengganggu kesenangannya itu, Badasingh mengeluarkan gerengan marah dan keluarlah ia sambil menyeret rantai bajanya.

“Tin Eng, kaulah yang bertugas menolong wanita itu apabila siluman itu telah bertempur dengan kami dan bawa wanita itu keluar guha dan suruh dia turun gunung lebih dulu,” Kui Hwa berbisik.

Badasingh benar-benar marah ketika melihat bahwa di antara tujuh orang yang datang itu, yang empat adalah orang-orang yang dulu pernah dikalahkannya. Ia tertawa bergelak dan berkata kepada Kui Hwa,

“Apakah kau datang hendak menemani aku? Bagus, bagus!”

“Bangsat rendah!” Kui Hwa memaki marah dan segera memberi tanda kepada kawannya yang menyerang maju berbareng.

“Kalian mencari mampus!” Badasingh membentak keras dan menggerakkan rantai bajanya bagaikan kitiran.

Kui Hwa, Pui Kiat, Pui Hok dan ketiga Huang-ho Sam-kui lalu menyambutnya, sedangkan Tin Eng segera melompat masuk ke dalam guha untuk menolong wanita itu. Melihat hal ini, Badasingh berseru keras dan hendak mengejar. Akan tetapi keenam orang lawannya menggerakkan senjata dan menghalanginya mengejar Tin Eng.

Bukan main marahnya Badasingh dan segera mainkan rantainya makin cepat dan keras pula sehingga enam orang pengeroyoknya terpaksa berlaku amat hati-hati. Huang-ho Sam-kui dengan berbareng memukulkan dayungnya yang besar. Akan tetapi dengan mudah saja tiga dayung itu ditangkis oleh rantai baja sehingga terdengar suara keras dan bunga-bunga api beterbangan ke atas.

Dayung dari Huang-ho Sam-kui itu bukanlah dayung biasa terbuat daripada kayu, akan tetapi adalah dayung istimewa yang terbuat dari baja tulen. Karena memang bukan dayung yang dibuat untuk keperluan mendayung perahu, akan tetapi khusus untuk senjata mereka.

Pertempuran berjalan amat serunya dan biarpun dikeroyok enam orang yang kepandaiannya tidak rendah, namun Badasingh dapat mempertahankan diri dengan baik. Bahkan ia dapat membalas dengan serangan-serangan yang sekali saja mengenai tubuh lawan tentu akan mendatangkan bahaya maut.

Sementara itu, Tin Eng sudah berhasil menolong wanita itu keluar guha. Akan tetapi oleh karena ia amat lemah sehingga tidak dapat turun gunung seorang diri, pula amat ketakutan setelah mengalami peristiwa hebat yang menimpa dirinya, terpaksalah Tin Eng mengantarnya turun dari puncak dan melepaskan di lereng, menyuruh perempuan itu pulang seorang diri. Kemudian Tin Eng berlari naik lagi ke puncak untuk membantu kawan-kawannya.

Dengan datangnya Tin Eng maka kini Badasingh dikeroyok tujuh. Akan tetapi raksasa hitam ini makin marah melihat betapa korbannya ditolong Tin Eng. Maka sambil putar-putarkan rantai bajanya, ia berseru kepada Tin Eng,

“Kau melepaskannya? Baik, sekarang kaulah penggantinya!”

Setelah berkata demikian, dengan amat cepat dan nekad ia menyerbu ke depan tiba-tiba menyambar ke bawah dan tangan kirinya telah mencengkram beberapa potong batu karang campur debu yang segera dilontarkan ke arah pengeroyoknya. Kui Hwa dan kawan-kawannya terkejut sekali dan cepat mengelak sambil memutar senjata untuk menangkis sambitan itu.

Akan tetapi dengan gerakan yang luar biasa cepatnya dan tidak tersangka-sangka, Badasingh menggulingkan dirinya di atas tanah ke arah Tin Eng dan sebelum gadis itu dapat mengelak, ia telah dapat memegang kaki kiri Tin Eng dan menariknya ke bawah sehingga gadis itu terguling di atas tanah.

“Ha ha ha! Kau menjadi penggantinya!” seru Badasingh dengan liar sambil mengulurkan tangan hendak memeluk tubuh dara itu.

Bukan main terkejutnya Tin Eng mengalami bahaya ini dan Louw Tek yang berdiri terdekat dengan raksasa itu lalu mengayunkan dayungnya menghantam punggung Badasingh.

“Bukkk!!”

Alangkah terkejutnya hati Louw Tek ketika pukulannya itu seakan-akan mengenai karet saja dan dayungnya terpental kembali. Ternyata raksasa hitam itu amat lihai dan dapat mengerahkan tenaga dalam untuk menerima pukulan ini.

Sungguhpun pukulan itu tidak mencelakakannya, akan tetapi tenaga Louw Tek cukup keras untuk membikin punggungnya terasa sakit, maka pegangannya pada kaki Tin Eng mengendur dan ia menggereng marah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tin Eng untuk membetot kakinya sehingga terlepas dan ia lalu melompat cepat ke belakang. Keringat dingin menitik turun dari jidat Tin Eng karena ia merasa terkejut, takut dan ngeri menghadapi lawan yang luar biasa tangguh dan kejamnya ini.

Kembali tujuh orang itu mengepung Badasingh. Raksasa hitam ini merasa kewalahan juga menghadapi tujuh orang pengeroyoknya yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, maka ia lalu melompat ke belakang dan berlari. Pengeroyoknya mengejar dengan marah, akan tetapi raksasa itu lalu melompat masuk ke dalam guha Kilin yang gelap.

“Sam-wi Tay-ong, jangan memasuki guha itu!” Kui Hwa memperingatkan Huang-ho Sam-kui, karena ia takut kalau-kalau ketiga orang ini akan mengalami nasib seperti Cui Giok.

Tin Eng yang masih merasa gemas dan marah karena tadi hampir saja menderita malu dan celaka, segera mengeluarkan piauwnya dan ketika tangannya bergerak tiga batang piauw menyambar ke dalam guha yang gelap. Akan tetapi, hanya terdengar suara ketawa mengejek dari dalam guha dan tiba-tiba dari dalam guha itu melayang keluar batu-batu karang kecil, yang disambitkan dengan menggunakan tenaga luar biasa besarnya. Batu-batu itu menyambar ketujuh orang itu dengan kecepatan luar biasa sehingga mereka menjadi terkejut dan buru-buru melompat jauh.

“Tidak ada gunanya!” kata Kui Hwa. “Kedudukannya di dalam guha yang gelap itu amat menguntungkannya. Kita hanya dapat menyerang dengan ngawur karena tidak melihat di mana ia berada. Akan tetapi ia dapat melihat kita dengan mudah dan dapat menyerang lebih baik!”

Baru saja ia habis bicara, kembali melayang keluar banyak batu-batu karang bagaikan hujan lebat sehingga terpaksa ketujuh orang itu melarikan diri dari situ dan bersembunyi di balik batu-batu karang yang besar dan banyak terdapat di tempat itu.

“Bagaimana sekarang?” tanya Tin Eng dengan hati bingung dan cemas. Ia teringat akan nasib dara pendekar yang kini terjerumus ke dalam jurang. Bagaimanakah nasib pendekar wanita yang dulu menolong mereka itu? Sudah empat hari gadis itu terjerumus ke dalam jurang dan tidak diketahui bagaimana nasibnya, entah hidup entah mati. Tak terasa pula kembali airmata Tin Eng keluar ketika ia teringat akan nasib gadis yang menolongnya itu.

“Perempuan yang terculik sudah tertolong,” kata Louw Tek. “Untuk apa lagi kita berada lebih lama di tempat berbahaya ini? Badasingh benar-benar tangguh dan setelah kini ia bersembunyi di dalam guha, lebih baik kita pulang saja. Tanpa ada sebab yang penting kurasa tiada gunanya kita bermusuhan dengan seorang liar dan lihai seperti dia!”

Setelah berkata demikian, Louw Tek mengajak kedua adiknya pergi dari tempat itu. Kui Hwa dan kawan-kawannya hanya dapat menghaturkan terima kasih atas bantuan mereka. Tentu saja Kui Hwa tak dapat menceritakan tentang alasan mereka memusuhi Badasingh, karena dengan demikian berarti bahwa ia harus membuka rahasia tentang harta pusaka itu. Berbahayalah menceritakan berita tentang adanya harta pusaka kepada orang-orang seperti Huang-ho Sam-kui yang menjadi kepala bajak dan hal ini hanya akan menambah jumlahnya musuh atau saingan saja.

Dengan hati amat berat, keempat orang muda itupun turun dari Hong-san. Harapan mereka satu-satunya tinggal Gwat Kong dan mereka hanya bisa menanti kedatangan pendekar muda itu.

Ketika mereka turun dari Hong-san, tiba-tiba mereka melihat bayangan orang berkelebat, dan bukan main cemas hati mereka melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah hwesio muda yang selalu mengikuti mereka.

“Benar-benar bangsat gundul tak tahu malu!” Tin Eng memaki gemas.

“Tentu semenjak tadi dia mengintai kita,” kata Kui Hwa.

“Melihat kita mengeroyok Badasingh tanpa keluar membantu, Hmmm, benar-benar hwesio itu bukan seorang baik-baik dan kita harus berhati-hati menghadapi dia. Siapa tahu dia mempunyai maksud buruk terhadap kita,” kata Pui Kiat.

“Akan tetapi, tanpa sebab tak perlu kita bentrok dengan dia. Kepandaiannya tinggi. Di perahu dulu, ia telah mendemonstrasikan ilmunya Jeng-kin-cui, sekarang ia mendemonstrasikan ginkangnya,” kata Pui Hok.

Memang hebat benar ilmu lari cepat hwesio itu. Empat orang muda itu hanya melihat bayangannya berkelebat dan sebentar saja lenyaplah hwesio itu. Kalau bukan empat orang itu yang melihatnya, orang lain bahkan takkan tahu siap adanya bayangan yang berkelebat bagaikan setan itu.

Terpaksa keempat orang muda itu menanti lagi, menanti datangnya Gwat Kong karena mereka tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa. Hwesio itu kadang-kadang kelihatan mendekati mereka tanpa mengeluarkan sepatah kata, hanya memandang ke arah Kui Hwa dan Tin Eng dengan pandang kurang ajar dan mulut menyeringai. Akan tetapi oleh karena dia tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu, kedua orang dara itu pura-pura tidak melihatnya dan tidak mau meladeninya.

Diam-diam Tin Eng merasa heran, mengapa rombongan perwira kerajaan yang hendak mencari harta pusaka itupun belum nampak muncul di tempat itu. Hatinya makin gelisah. Mengapa Gwat Kong belum juga datang? Ia tidak tahu bahwa Gwat Kong harus pergi dahulu ke Hoasan dan kemudian sebagaimana dituturkan di bagian depan pemuda itu pulangnya mampir lagi ke Kiang-sui sehingga ia bertempur dengan Seng Le Hosiang.

****

Marilah kita menengok dulu keadaan Cui Giok, gadis yang malang itu. Apakah dia telah mati? Apakah ia tewas karena terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam dan tidak kelihatan dasarnya itu?

Syukur sekali tidak demikian. Ketika dara perkasa itu melompat ke dalam guha Kilin untuk mengejar Badasingh, ia merasa kedua kakinya menginjak tempat kosong dan tak dapat dicegahnya lagi. Tubuhnya melayang turun ke tempat kosong yang amat gelap. Cui Giok mengerahkan ginkangnya dan juga segera menggunakan ilmu Pik-hu-hiat, menutup hawa dan melindungi jalan darahnya serta mengerahkan lweekangnya agar tubuhnya tidak terluka kalau tertumbuk batu karang.

Akan tetapi aneh sekali, ketika tubuhnya terbentur pada dinding sumur itu, ia merasa betapa dinding itu lembek dan empuk lagi basah, sedangkan tubuhnya terus melayang turun lama sekali. Makin lama makin cepat dan beberapa kali tubuhnya terbentur dinding, melayang-layang ke kanan kiri di tempat kosong. Kepalanya menjadi pening, pengerahan tenaganya makin mengurang dan akhirnya lenyap ketika tak dapat ditahannya lagi. Ia menjadi pingsan di waktu tubuhnya masih melayang-layang turun ke bawah. Kedua pedangnya juga terlepas dari genggaman dan melayang turun pula di tempat yang gelap itu.

Kalau ada orang yang melihat tubuh Cui Giok melayang jatuh sampai sekian lamanya di tempat yang demikian dalamnya, tentu ia takkan ragu-ragu lagi menyatakan bahwa gadis itu pasti akan tewas. Akan tetapi kenyataan tidak demikian, karena ketika tubuh Cui Giok dengan kerasnya terbanting ke dasar jurang atau sumur itu, tubuhnya tidak remuk dan gepeng, melainkan melesak ke bawah karena tanah di mana ia jatuh itu merupakan tanah lembek berlumpur.

Hanya sebuah kenyataan yang membuktikan bahwa Tuhan belum menghendaki tewasnya gadis itu, yakni bahwa kebetulan sekali jatuhnya dalam keadaan setengah berdiri sehingga yang masuk ke bawah lumpur hanya kaki dan tubuh bagian bawah. Kalau kepalanya yang masuk lebih dulu ke dalam lumpur, biarpun bantingan itu tidak menewaskannya, tentu gadis itu akan mati juga karena tak dapat bernapas.

Ada setengah hari gadis itu diam tak bergerak, tak sadarkan diri bagaikan sudah mati. Akan tetapi ia membuka matanya. Ia melihat bahwa ruang itu cukup terang, sungguhpun hanya suram-suram saja. Ia melihat bahwa dirinya terbenam separuh di dalam lumpur, maka dengan susah payah karena seluruh tubuhnya terasa sakit, ia merangkak keluar dari lumpur itu. Ternyata bahwa ruang itu amat luas dan di kanan kiri terdapat tanah keras yang berdinding batu karang yang mengeluarkan cahaya terang.

Cui Giok merangkak dan duduk di atas tanah keras. Tubuhnya yang terasa sakit-sakit itu menandakan bahwa ia mendapat luka-luka di dalam tubuh karena bantingan dari tempat tinggi itu. Maka dengan tangan gemetar, ia lalu mencari bungkusan dan sepasang pedangnya di tempat tak jauh dari situ, untungnya tidak jatuh di dalam lumpur pula.

Jari-jari tangannya menggigil ketika ia membuka bungkusan pakaiannya. Ia teringat akan obat-obat yang diberikan kepadanya oleh Lo Han Cinjin. Tangkai daun merah itu masih ada, bahkan tidak layu, satu hal yang benar-benar luar biasa. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memetik sehelai daun dan makan daun itu yang rasanya asam sekali.

Benar-benar manjur daun itu, karena tak lama kemudian ia merasa tubunya segar dan rasa sakit-sakit itu lenyap. Mulailah Cui Giok memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ketika ia memandang ke atas, ia melihat betapa sinar terang masuk bagaikan benang-benang emas, akan tetapi sinar itu tertutup oleh awan putih yang bergerak-gerak. Itulah embun atau halimun yang memenuhi sumur itu.

Anehnya dari atas mengalir masuk angin sejuk yang membuat dasar sumur itu mempunyai hawa udara yang bersih dan segar. Dasar itu merupakan guha yang amat luas, semacam bilik terkurung batu-batu karang yang bersinar-sinar.

Cui Giok mulai memeriksa ke sekeliling ruangan itu dan mencari jalan keluar. Akan tetapi hatinya bagaikan disayat pisau ketika ia mendapat kenyataan betapa tempat ini merupakan kurungan baginya untuk selama hidupnya. Tidak ada terowongan atau jalan keluar sama sekali dan memanjat ke atas merupakan sebuah ketidak mungkinan yang tak dapat dibantah lagi. Batu-batu karang itu selain tajam, juga amat licin, maka tak dapat dipanjat. Sedangkan dinding pada tempat ia jatuh, terdiri dari tanah lembek yang lebih sukar lagi untuk digunakan sebagai jalan keluar.

Ia memandang lagi ke atas ke arah sinar-sinar itu lalu berteriak memanggil sambil mengerahkan seluruh khikangnya. Akan tetapi, ketika suaranya kembali lagi ke bawah meninggalkan gema suara yang amat menyeramkan dan aneh.

Cui Giok menjadi putus asa dan tak terasa lagi ia menjatuhkan diri di atas tanah yang berpasir lalu menangis.

“Ibu ….. ibu, bagaimana jadinya dengan anakmu ini ….?” ia menangis sambil menjambak-jambak rambutnya. “Apakah aku harus tinggal di tempat ini sampai mati?”

Sampai lama Cui Giok menangis sambil berlutut di atas tanah. Akan tetapi siapakah yang akan dapat mendengar semua ratapannya? Sampai kering air matanya ditumpahkan. Sampai parau suaranya karena banyak meratap tangis. Akhirnya timbullah semangat kegagahannya. Ia duduk dan menetapkan hatinya. Sudah jelas bahwa ia harus mati di tempat ini, karena siapakah yang dapat menolongnya? Pada saat bahaya maut berada di depan mata terbayanglah semua peristiwa yang pernah dialami selama hidupnya.

Ia teringat betapa ayahnya meninggal dunia sewaktu ia masih kecil dan kemudian bersama ibunya ia tinggal di kota Cang-bun di propinsi Ciang-si, tinggal bersama kakeknya, Sie Cui Lui. Teringat pula ia betapa semenjak kecilnya ia dilatih ilmu silat oleh kakeknya sehingga ia dapat mewarisi ilmu silat Im-yang-kiam-hoat.

Pada saat itu Cui Giok membayangkan semua ini, terbayanglah wajah ibunya yang amat buruk nasibnya. Ayahnya meninggal dunia ketika ibunya masih amat muda dan selanjutnya ibunya hidup dalam kesunyian. Terbayanglah wajah ibunya yang cantik dan halus, dan aneh sekali, bayangan wajah ibunya itu terdesak oleh bayangan wajah lain, yakni bayangan …. Gwat Kong. Makin sedihlah hati Cui Giok teringat kepada Gwat Kong, maka kembali ia menangis tersedu-sedu.

“Gwat Kong … aku cinta padamu …. aku cinta padamu …., aku takkan dapat bertemu lagi dengan kau, Gwat Kong …..!!”

Hebat sekali penderitaan batin Cui Giok di dalam dasar sumur itu. Namun imannya masih cukup kuat sehingga ia tidak membunuh diri dengan pedangnya. Memang ada keinginan ini memasuki otaknya. Daripada menderita dan bersedih terlebih lama lagi di tempat ini, lebih baik sekarang juga mati agar terbebas dari penderitaan, demikianlah bisikan di dalam otaknya.

Akan tetapi Cui Giok dapat menekan perasaannya, dan sebagai seorang gadis yang telah digembleng kegagahan semenjak kecil oleh kakeknya yang sakti, ia mempunyai keteguhan iman dan tidak mudah menyerah kalah terhadap kesengsaraan yang bagaimanapun juga hebatnya. Ia lalu melepaskan pakaiannya yang penuh lumpur, lalu mengganti pakaian dengan pakaian bersih yang diambil dari buntalan pakaiannya.

Sementara itu, di dunia luar matahari mulai condong ke barat dan senja hari tiba. Di dalam sumur itu cahaya yang sedikit menerangi tempat itu mulai menyuram dan kemudian hilang sama sekali sehingga tempat itu menjadi gelap segelap-gelapnya.

Belum pernah selama hidupnya Cui Giok berada di dalam tempat yang segelap itu. Kegelapan ini membuat membuat ia bingung dan kepalanya menjadi pening sekali. Akhirnya ia tidak kuat menahan lagi dan dengan sepasang pedang di tangan ia lalu bersilat di dalam gelap. Bagaikan orang gila Cui Giok mainkan ilmu pedang Im-yang-kiam-hoat, membacok, menusuk, dan memutar kedua pedangnya sehingga angin gerakan pedangnya menimbulkan bunyi yang aneh.

Tiba-tiba tanpa disengaja ujung pedangnya membacok dinding batu karang yang siang tadi mengeluarkan cahaya. “Prak!” dan silaulah mata Cui Giok ketika tiba-tiba pertemuan antara ujung pedang dan batu karang itu menimbulkan cahaya api yang besar seakan-akan bintang dari langit, tiba-tiba jatuh masuk ke dalam sumur itu.

Cui Giok terkejut dan menghentikan permainannya. Akan tetapi ia menjadi girang karena ternyata bahwa batu karang itu adalah semacam batu api yang mudah mengeluarkan api apabila terpukul oleh logam keras. Ia dapat membuat api. Api amat perlu baginya, terutama untuk penerangan di tempat yang amat gelap itu.

Sambil meraba-raba, Cui Giok membuka buntalannya dan mengeluarkan sebuah bajunya yang terbuat daripada bulu. Baju itu amat disayanginya, karena selain mahal, baju ini adalah pemberian ibunya dan hanya satu-satunya, dipakai kalau sedang hawa amat dingin.

Akan tetapi pada saat dan keadaan seperti itu, Cui Giok tidak kenal lagi akan sayang kepada pakaiannya. Ketika ia menggerakkan kedua tangannya, maka “bret!” dirobeklah pinggir baju itu yang berbulu. Lalu ia memukulkan ujung pedangnya pada dinding batu karang lagi dengan keras sambil mendekatkan robekan baju bulu.

Sampai dua kali api memancar, akan tetapi belum cukup besar untuk membakar robekan baju. Pada pukulan yang ketiga kalinya dan yang dilakukan dengan tenaga besar, maka baju bulu itu terbakarlah. Cui Giok menjadi girang sekali melihat betapa keadaan di situ menjadi amat terang.

Ia menengok ke kanan kiri dan melihat betapa dinding batu karang itu bersinar-sinar terkena cahaya api yang membakar robekan baju. Dengan terkejut dan amat tertarik ia melihat sinar yang paling terang di ujung kanan, sinar yang beraneka warna dan amat indahnya.

Akan tetapi sebentar saja robekan baju itu terbakar habis dan jari tangannya terasa panas. Maka ia cepat membuang robekan baju yang tinggal sedikit itu dan sebentar saja padamlah api tadi dan keadaan menjadi gelap lagi, bahkan lebih gelap daripada tadi sebelum ada api menyala. Lenyaplah segala sinar berikut sinar yang indah di ujung kanan itu.

Cui Giok hendak menggunakan seluruh bajunya untuk membuat penerangan, akan tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa apabila bajunya itu habis terbakar, ia takkan dapat membuat api lagi. Baju-baju yang lain hanya terbuat daripada kain biasa dan akan sukarlah terbakar oleh percikan api dari batu karang itu.

Ia berpikir sebentar, kemudian merobek lagi bajunya di bagian kiri, agak panjang. Sebelum membuat api lagi, ia menggunakan tenaganya untuk memilin robekan itu menjadi semacam sumbu panjang. Dengan cara demikian, maka robekan baju itu akan lebih awet dan tahan lama menyala.

Kemudian ia membuat api lagi dan benar saja, kini robekan baju yang berupa sumbu itu terbakar dengan baik dan lebih tahan lama, sungguhpun nyalanya tidak begitu besar. Dengan cerdiknya, Cui Giok lalu membasahi sumbu bagian bawah dengan tanah yang basah agar api tidak menyala cepat.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: