Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 36

TANPA sungkan-sungkan lagi, Tin Eng memegang tangan Gwat Kong.

“Gwat Kong, kau terluka?” tanyanya sambil memeriksa pundak pemuda itu. Baju Gwat Kong di bagian pundak itu robek dan kulit pundaknya matang biru akan tetapi tidak terluka parah.

“Jahanam ini benar-benar kuat,” kata Gwat Kong menghela napas. “Akan tetapi aku puas, sakit hati Cui Giok telah terbalas!”

Louw Tek dan Louw Siang menyatakan kekagumannya terhadap Gwat Kong yang dipuji-pujinya. Kemudian untuk menyatakan kegemasan mereka terhadap Badasingh, dengan dayung mereka sehingga hancur dan mayatnya mereka lemparkan ke dalam jurang di dekat guha, di mana tadi Badasingh melemparkan tubuh Tong Kak Hwesio. Setelah itu, kedua kepala bajak itu lalu pamitan dan meninggalkan tempat itu untuk menyusul adik mereka.

“Kita harus bekerja cepat,” kata Gwat Kong kepada Tin Eng. “Rombongan perwira dari kerajaan tentu akan menyusul kemari dan kalau sampai mereka melihat kita, tentu kita akan menghadapi pertempuran lagi. Pihak mereka itu bukan lawan ringan, karena di antara mereka terdapat Liok-te Pat-mo yang lihai.”

Sambil berkata demikian, Gwat Kong terkenang kepada Cui Giok karena tadinya gadis itu bermaksud mencari Liok-te Pat-mo untuk mengadu kepandaian. Kini gadis itu takkan tercapai pengharapannya, pikirnya sambil menghela napas sedih.

Mereka lalu mengadakan perundingan dan Tin Eng yang hafal akan isi peta yang dibakarnya, lalu memberi keterangan.

“Menurut peta itu,” katanya sambil membuat coretan-coretan di atas tanah. “Memang ditunjukkan bahwa harta terletak di dalam guha Kilin. Akan tetapi ada petunjuk yang menyatakan bahwa jalan masuk untuk mengambil harta itu adalah dari atas, melalui batu karang kembar di sebelah kanan guha Kilin. Melihat keadaan guha ini yang isinya hanya sumur amat dalam, maka tentu jalannya bukan dari situ. Sekarang kita harus mencari batu karang kembar itu.”

Ketika mereka mengambil jalan memutar ke sebelah kanan guha itu, benar saja di situ terdapat sepasang batu karang yang sama bentuk dan ukurannya, maka mereka lalu memanjat batu karang itu terus ke atas. Gwat Kong dan Tin Eng berjalan di depan, yang lain di belakang.

Oleh karena petunjuk peta itu menyatakan bahwa tempat harta terletak tepat di guha Kilin, maka dari atas itu mereka lalu merayap naik ke atas guha Kilin. Aneh sekali, tepat di atas guha itu terdapat alang-alang yang hijau dan tinggi, seakan-akan merupakan jambul atau rambut Kilin dan guha itu merupakan mulutnya. Gwat Kong menyingkap rumput alang itu dan di situlah terdapat sebuah batu licin yang bentuknya bulat.

Ia mencoba mengangkat batu itu, akan tetapi amat beratnya sehingga setelah kawan-kawannya membantu, barulah batu itu dapat digeser. Dan ternyata bahwa di bawah batu terdapat sebuah lubang yang lebarnya kira-kira dua kaki persegi. Karena lubang itu tidak seberapa dalam, Gwat Kong lalu turun ke bawah dan kakinya menginjak batu karang pula sedangkan dalamnya lubang itu sampai sebatas lehernya. Ia memandang ke bawah dan disekelilingnya. Akan tetapi di situ hanya batu karang semua dan tidak terlihat tanda-tanda lain yang menarik perhatian.

“Tidak ada apa-apa di sini!” kata Gwat Kong.

“Kalau begitu, mari kita pergi saja dari sini,” kata Tin Eng.

“Hatiku tidak enak sekali untuk berada di tempat aneh ini lebih lama lagi. Tempat ini seakan-akan terkutuk dan sudah banyak orang tewas di sini. Apalagi kalau rombongan perwira kerajaan datang, tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan.”

“Jangan khawatir, Tin Eng!” kata Gwat Kong tersenyum menghibur. “Kita sudah sampai di sini, masa harus pulang dengan tangan kosong? Bagaimana nanti kau akan menjawab kepada kedua saudara Phang yang menyerahkan kepercayaan kepadamu? Soal para perwira, jangan takut, ada aku di sini dan saudara-saudara yang gagah inipun tentu akan membantu.”

Gwat Kong merasa penasaran lalu menggenjot-genjot tubuhnya dan ia berseru heran, “Ah, lantai yang kuinjak ini dapat bergoyang!” Ia meraba-raba ke kanan kiri. “Tentu ada rahasianya di sini!”

Pemuda itu menggunakan jari-jari tangannya meraba-raba di sekitar dinding batu karang, sedangkan kawan-kawannya yang di atas yang tak dapat melihat apa-apa kecuali kepalanya, memandang sambil menahan napas.

Tiba-tiba jari tangan Gwat Kong meraba sesuatu yang keras dan ternyata benda itu adalah sebuah gelang besi yang dipasang di dinding itu.

“Ada gelang besi di sini!” katanya gembira. Karena gelang besi itu letaknya agak di bawah lutut, terpaksa ia merendahkan tubuh dan menekuk lututnya agar tangannya dapat mencapai gelang itu. Ia memegang erat-erat dan menarik keras. Benda itu tidak bergerak. Ia mengumpulkan tenaga dan menarik lagi dan …. benda itu dapat bergerak sedikit.

“Aku hampir dapat membuka gelang ini!” katanya dari bawah sambil menahan napas lalu menarik lagi sekuat tenaga.

Terdengar suara keras dan tiba-tiba batu karang yang diinjaknya itu nyeplos ke kanan sehingga tubuhnya yang kini tidak menginjak sesuatu lagi, lalu nyeplos ke bawah. Gelang besar itu terlepas dan Gwat Kong melayang ke bawah. Ia melihat bahwa tubuhnya melayang terus melalui mulut guha Kilin dan dalam kengeriannya ia berteriak,

“Tin Eng …..!” Akan tetapi tubuhnya terus melayang turun dengan kecepatan hebat yang tak dapat ditahannya lagi.

“Gwat Kong ….! Gwat Kong …..!” Tin Eng berteriak-teriak, menjerit-jerit memanggil nama pemuda itu bagaikan seorang gila dan dengan nekad ia lalu melompat ke dalam lubang itu. Akan tetapi tiba-tiba sepasang tangan menangkapnya dan ia meronta-ronta dalam pelukan Kui Hwa.

“Biarkan aku menyusulnya. Lepaskan aku, …. lepaskan!” Ia meronta-ronta bahkan memukul Kui Hwa, akan tetapi kedua saudara Pui membantu Kui Hwa dan memegang kedua tangan Tin Eng yang menjadi kalap bagaikan orang gila itu.

“Gwat Kong …! Gwat Kong …. kau dimana??” Suara Tin Eng makin lemah, tangisnya tersedu-sedu menyayat hati Kui Hwa dan kedua saudara Pui. Kemudian Tin Eng roboh pingsan tak sadarkan diri lagi.

“Celaka ……!” kata Pui Kiat yang menjenguk ke dalam lubang. Lubang itu sekarang tak berdasar lagi dan ternyata menembus ke dalam sumur di guha Kilin itu.

Kui Hwa hanya menangis tersedu-sedu sambil memeluki tubuh Tin Eng. Juga Pui Hok tak dapat menahan air matanya lagi yang mengalir turun. Mereka lalu mengangkat tubuh Tin Eng, dibawa turun ke depan mulut guha Kilin yang kini merupakan mulut iblis maut yang haus akan nyawa manusia.

Pada saat itu, serombongan orang berlari naik ke tempat itu. Ketika Kui Hwa dan kedua suhengnya menengok, ternyata bahwa mereka itu adalah rombongan perwira yang dikepalai oleh Liok-taijin sendiri. Selain Liok Ong Gun, nampak juga Gan Bu Gi, Liok-te Pat-mo, Seng Le Hosiang, Bong Bi Sianjin dan perwira-perwira lain yang jumlahnya semua dua puluh orang.

Mereka memburu ke arah guha itu dan ketika melihat Tin Eng rebah dipangkuan seorang gadis dalam keadaan tak bergerak seperti mayat. Liok Ong Gun cepat memburu sambil bertanya gugup,

“Dia kenapakah ……? Anakku Tin Eng ….. kenapakah dia …..?”

Juga lain orang datang mengepung dan memandang dengan heran. Gan Bu Gi dan Bong Bi Sianjin yang mengenal kepada murid-murid Hoa-san-pai itu, memandang dengan amat terheran-heran.

“Taijin, jangan khawatir. Anakmu hanya pingsan saja,” kata Kui Hwa dengan tenang sambil mengerling ke arah Gan Bu Gi dengan pandang mata yang membuat pemuda itu cepat membuang muka dengan wajah tiba-tiba menjadi merah.

“Nona siapa dan mengapa anakku berada di sini dalam keadaan pingsan?”

“Dia mencari tempat harta pusaka. Kami membantunya juga Kang-lam Ciu-hiap Bun Gwat Kong.”

“Bangsat itu berada di sini? Mana dia?” tanya Liok Ong Gun.

“Orang yang taijin maki sebagai bangsat itu kini telah tewas dalam membela anakmu. Baru saja Bun-taihiap memasuki lubang di atas itu, dan ia menyeplos ke bawah, di dalam sumur maut itu. Tidak ada harta pusaka di sini, yang ada iblis maut telah makan banyak nyawa.”

Setelah berkata demikian, dengan singkat Kui Hwa menuturkan tentang tewasnya Cui Giok, juga diceritakannya serba singkat tentang Badasingh. Semua orang mendengarkan dengan penuh keheranan dan kengerian.

“Inilah anakmu, kami tidak ada keperluan lagi di sini!” kata Kui Hwa yang lalu berdiri dan memberi isyarat kepada kedua suhengnya untuk meninggalkan tempat itu.

“Taijin, mereka ini adalah murid-murid Hoa-san-pai. Kita Harus bunuh mereka!” kata Gan Bu Gi tiba-tiba ketika melihat tiga orang itu hendak pergi.

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Kui Hwa berhenti dan memutar tubuh, memandang kepada pemuda itu dengan mata tajam,

“Orang she Gan, manusia berhati binatang. Kalau kau menghendaki kematianku, cabutlah pedangmu. Mari kita sama lihat, siapa yang akan mampus di ujung pedang!”

Akan tetapi Liok Ong Gun melangkah ditengah-tengah dan berkata kepada Gan Bu Gi. “Gan-ciangkun, betapapun juga, kalau tidak ada nona ini, entah bagaimana nasib anakku.”

Ia menoleh kepada Kui Hwa dan berkata dengan muka menunjukkan betapa kesal dan rusuh hati serta betapa bosannya menghadapi permusuhan antara kedua cabang persilatan itu.

“Nona, harap kau suka pergi bersama kedua kawanmu. Hatiku sudah cukup menderita.”

Kui Hwa dan kedua suhengnya lalu pergi dari situ. Akan tetapi tiba-tiba Seng Le Hosiang berkata kepada mereka,

“Hei, anak-anak murid Hoasan. Beritahukan kepada guru-gurumu terutama si sombong Sin Seng Cu agar mereka jangan lupa untuk pergi ke puncak Thaysan pada permulaan musim Chun!”

Kui Hwa dan kedua suhengnya belum sempat mendengar cerita Gwat Kong bahwa pemuda itu telah menemui Pek Tho Sianjin di Hoasan, maka Kui Hwa lalu menjawab,

“Baik, jangan khawatir! Akan kami sampaikan pesan itu!” Mereka bertiga lalu turun gunung dengan hati mendongkol.

Setelah Tin Eng siuman dari pingsannya dan melihat ayahnya dan para perwira, ia menangis terisak-isak dengan amat sedihnya.

“Sudahlah, Tin Eng. Jangan menangis. Katakan saja di mana Gwat Kong terjerumus karena mungkin di situlah tempat harta itu,” kata ayahnya.

Mendengar betapa ayahnya hanya meributkan soal harta terpendam saja dan sama sekali tidak memperdulikan nasib Gwat Kong, makin hebatlah tangis Tin Eng.

Seng Le Hosiang dapat mengerti perasaan gadis ini, maka ia lalu berkata, “Tidak saja harta itu, akan tetapi mungkin kita dapat menolong atau setidaknya menemukan jenazahnya.”

Mendengar ucapan ini, terbangunlah semangat Tin Eng. Ia lalu mendekati guha Kilin dan menuding ke arah sumur, “Disitulah ….. disitulah Cui Giok dan Gwat Kong terjerumus!” Jari tangannya menggigil dan suaranya gemetar.

“Biar aku memeriksa ke bawah!” kata Ang Sun Tek. Mereka segera mengeluarkan tambang yang kuat dan amat panjang. Memang rombongan ini sudah mempersiapkan segalanya. Tambang itu lalu dilepas ke bawah dan diganduli batu. Panjangnya tambang itu tidak kurang dari seratus kaki. Akan tetapi setelah habis diulur ke bawah, ternyata batu yang mengandulinya masih dapat digerakkan ke kanan kiri yang berarti bahwa tambang itu masih belum mencapai dasar sumur.

“Bukan main dalamnya!” kata Ang Sun Tek membelalakkan matanya dengan penuh kengerian. Sedangkan Tin Eng mendekap mukanya sambil menangis lagi. Tak dapat diragukan lagi nasib Gwat Kong. Orang yang terjatuh ke dalam tempat sedemikian dalamnya tentu akan putus nyawanya.

Dibantu oleh kawan-kawannya yang memegang tambang itu di luar sumur, Ang Sun Tek lalu turun ke bawah melalui tambang. Bagi seorang yang tidak memiliki kepandaian tinggi, pekerjaan ini amat berbahaya karena tambang itu panjang sekali dan sekali saja pegangan tangan terlepas sudah jelaslah nasibnya.

Akan tetapi, Ang Sun Tek adalah seorang yang memiliki tenaga daam yang cukup besar. Maka dengan cepat bagaikan seekor kera, ia meluncur melalui tambang itu ke bawah. Ketika ia memandang ke bawah, yang nampak hanyalah halimun gelap keputih-putihan dan makin dalam hawa udara makin dingin sehingga Ang Sun Tek menggigil kedinginan. Akhirnya ia tiba di ujung tambang karena kakinya menginjak batu kekar pada akhir tambang itu. Benar saja, batu itu masih tergantung di udara.

Karena keadaan gelap sama sekali dan bukan main dinginnya, Ang Sun Tek tidak mau berdiam lebih lama lagi di tempat itu, lalu memanjat kembali ke atas dengan cepat. Ia merasa tak enak dan ngeri sekali. Ketika tiba di atas dan dihujani pertanyaan oleh kawan-kawannya, ia menarik napas panjang,

“Bukan main dalamnya, dalam, dingin, gelap. Tambang ini masih kurang panjang, kukira belum setengahnya. Tak mungkin di tempat seperti itu terdapat harta pusaka. Siapa orangnya yang menyimpan harta di tempat itu? Seperti lubang neraka. Aku merasa pasti bahwa di dasarnya tentu air karena halimun bergulung dari bawah dan hawanya amat dingin.”

Tin Eng menahan isaknya dan ia masih saja menangis ketika rombongan ayahnya itu kembali turun dari gunung. Ia naik kuda dengan lemah tak bergaya sama sekali, lemas lahir batin dan merasa seakan-akan semangatnya tertinggal bersama Gwat Kong di dalam sumur itu.

****

Pada saat Gwat Kong dan kawan-kawan berada di atas guha Kilin, juga pada saat mereka masih bercakap-cakap di depan guha, maka suara mereka itu terbawa oleh angin yang memasuki sumur dan dapat terdengar oleh Cui Giok yang berada di dalam jurang. Memang sungguh aneh suara dari luar dapat terbawa masuk dan dapat terdengar sampai ke dasar sumur itu, sungguhpun tidak sangat jelas, bagaikan suara orang dari jauh saja. Sebaliknya suara dari dalam, sama sekali tak dapat keluar, terbawa kembali oleh angin yang masuk dari atas.

Ketika Gwat Kong berseru di atas guha karena mendapatkan lubang dan gelang besi yang ditariknya, maka Cui Giok yang mendengar di bawah, di dekat tanah berlumpur di mana ia terjatuh dahulu, dapat mengenal suaranya. Suara lain orang tak dapat dikenalnya, akan tetapi suara Gwat Kong biarpun hanya terdengar sayup sampai saja, dapat dia kenal baik.

“Gwat Kong …..!” teriaknya keras ke atas dengan girang sekali.

“Gwat Kong …..!” suaranya kembali merupakan gema yang besar dan menyeramkan.

Percuma saja Cui Giok memekik-mekik dan memanggil-manggil nama Gwat Kong berkali-kali, karena suaranya tak dapat menembus halimun itu bahkan terbawa kembali oleh angin yang meniup ke bawah.

Ia masih mendengar suara-suara di atas, kemudian terdengar suara keras dan ia mendengar pula teriakan wanita yang menjerit-jerit memanggil nama Gwat Kong. Ia makin girang karena tak salah lagi bahwa Gwat Kong telah tiba dan berada di atas. Suara wanita yang memanggil-manggil Gwat Kong itu adalah Tin Eng yang menjerit-jerit melihat pemuda itu jatuh ke dalam lubang.

Karena jurang itu benar-benar amat dalam, maka tubuh yang terjerumus ke dalam membutuhkan waktu lama sebelum mencapai dasarnya.

Seperti juga dulu ketika Cui Giok terjerumus ke bawah, Gwat Kong juga mengerahkan ginkang dan tenaga dalam untuk melindungi dari benturan hebat pada dinding sumur atau bantingan pada dasar sumur itu. Akan tetapi, lehernya bagaikan tercekik oleh hawa dingin dan kelajuan tubuhnya yang meluncur ke bawah membuat ia tak dapat bernapas, maka ia tak sadarkan diri lagi sebelum tubuhnya mencapai dasar jurang.

Karena suara-suara di atas kini telah lenyap, dan keadaan menjadi sunyi lagi, maka Cui Giok duduk termenung dan hati yang lebih sunyi. Akan tetapi tiba-tiba ia melompat bangun dengan mata terbelalak memandang ke atas. Ia melihat sebuah benda panjang turun dari tengah-tengah halimun yang menyusap pandang dari bawah itu. Benda itu terus jatuh ke bawah dan tepat sekali menimpa tanah berlumpur seperti dulu ketika ia jatuh.

Alangkah kagetnya ketika melihat bahwa benda itu adalah tubuh seorang manusia. Ia memburu ke depan dan memandang wajah orang yang penuh dengan lumpur karena jatuhnya dalam kedudukan miring itu.

“Gwat Kong ……!” Untuk beberapa lama Cui Giok berdiri bagaikan patung. Ia takut kalau-kalau ini hanya sebuah mimpi dan mimpi ini akan lenyap kalau ia menggerakkan tubuhnya.

“Gwat Kong …..!” ia berbisik dan tak terasa lagi air mata menitik turun berbaris sepanjang pipinya. “Be….. benarkah …..???”

Karena air matanya keluar, maka matanya terasa perih sehingga terpaksa ia berkedip. Alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa ini bukan mimpi. Tubuh pemuda itu masih berada di situ, sungguhpun telah berkali-kali ia berkejap mata. Ia gosok-gosok kedua matanya dan ketika dibukanya kembali tubuh itu masih berada di tempat itu.

“Gwat Kong …….!” jeritnya penuh perasaan girang, terharu, sedih, lega, campur aduk menjadi satu. Ia menubruk ke tempat berlumpur itu, mengangkat tubuh Gwat Kong, dibawa keluar dari lumpur, lalu diletakkan di atas pasir dekat alat penerangan yang dibuatnya secara sederhana sekali, yakni sumbu terbuat dari robekan pakaian dengan minyak dari lemak burung dan tempat minyaknya dari batu karang yang dilubangi merupakan mangkok yang kasar.

“Gwat Kong ……. kau datang …… menyusulku!” Ia membersihkan muka pemuda itu, memeluknya, mendekap kepala itu pada dadanya, mencium pipinya dan semua ini dilakukan sambil menangis, tertawa, menangis lagi.

“Gwat Kong ….. Ya Tuhan, terima kasih ….. Gwat Kong, kekasihku …..!” Tiada hentinya bibir dara itu berbisik-bisik.

Dapat dibayangkan betapa perasaan gadis itu ketika tiba-tiba melihat pemuda yang dicintainya berada di situ seakan-akan dilemparkan ke bawah oleh tangan ajaib. Sengaja dilempar ke bawah agar pemuda itu dapat menemaninya. Tadinya ia merasa bahwa untuk selama hidupnya ia takkan dapat bertemu dengan manusia lagi, apalagi dengan Gwat Kong. Oleh karena itu, melihat Gwat Kong, ia merasa seakan-akan seorang yang telah mati dan jiwanya merana dan terasing di neraka, tiba-tiba bertemu dengan seorang yang selalu dijadikan kenangan.

Seperti Cui Giok dahulu, pemuda itupun pingsan sampai berapa lama. Cui Giok telah memetik setangkai daun merah dan karena Gwat Kong masih pingsan, maka ia menjadi amat bingung dan gelisah. Ia takut kalau-kalau pemuda itu menderita luka berat di bagian dalam tubuhnya dan lebih-lebih lagi takutnya kalau pemuda itu akan mati.

Pikiran ini membuat ia bergidik. Bagaimana ia harus masukkan daun obat ini kedalam perut Gwat Kong? Untuk mencampuri dengan air, sukar sekali karena tahu bahwa daun ini kalau diperas seperti berminyak dan tak dapat campur air.

Dalam kekhawatirannya, Cui Giok mendapat akal. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak perlu merasa malu-malu atau sungkan lagi. Apalagi pemuda itu adalah Gwat Kong, pemuda yang telah dikasihinya, yang telah menawan hati dan jiwanya.

Cui Giok berlutut lagi dan mengangkat kepala Gwat Kong yang lalu dipangkunya. Ia masukkan daun merah itu ke dalam mulutnya sendiri dan lalu mengunyah daun itu sampai hancur dan lembut. Kemudian ia merangkul leher Gwat Kong dengan lengan kirinya, diangkatnya seperti seorang ibu menggendong anaknya. Sedangkan jari-jari tangan kanannya membuka mulut Gwat Kong lalu ……… ia menundukkan mukanya dan masukkan kunyahan daun merah itu dari mulutnya ke mulut Gwat Kong.

Ia melakukan hal ini dengan hati tulus dan bersih, tanpa dipengaruhi nafsu birahi sedikitpun, bagaikan seorang ibu menyusui anaknya, bagaikan seekor burung betina meloloh anaknya, dengan hanya satu tujuan di dalam pikirannya dan satu kehendak di dalam hati yakni ingin melihat Gwat Kong terhindar dari pada bahaya maut, maka berhasillah ia memasukkan daun obat itu ke dalam tubuh Gwat Kong.

Sampai lama Gwat Kong tak sadarkan diri dan selama itu Cui Giok tak pernah meninggalkannya. Bahkan kepala pemuda itu tak pernah dilepaskan dari pelukannya.

“Gwat Kong ……..!” bisiknya berkali-kali memanggil-manggil nama pemuda itu perlahan-lahan di dekat telinganya. Lenyaplah segala keputus harapan, segala kedukaan. Kehadiran pemuda itu didekatnya membuat tempat yang tadinya seperti neraka berobah menjadi sorga.

Kini ketabahannya timbul kembali. Kegembiraannya hidup lagi. Ia tidak takut mati di situ. Rela diasingkan selama hidupnya, asal berdua dengan Gwat Kong, pemuda yang dicintainya. Dengan Gwat Kong disampingnya, jangankan baru penderitaan seperti ini, biarpun harus memasuki api neraka yang berkobar-kobar mengerikan, ia takkan ragu-ragu, mundur.

“Gwat Kong …….!” kembali ia memanggil mesra sambil mengusap rambut dan jidat pemuda itu penuh kasih sayang.

Akhirnya Gwat Kong siuman kembali. Ia bergerak dalam pelukan Cui Giok dan hal ini membuat dara itu tiba-tiba merasa malu. Dengan perlahan dan hati-hati menurunkan kepala pemuda itu, diletakkan di atas pasir dengan amat perlahan, seakan-akan takut kalau-kalau gerakannya ini akan menyakitkan Gwat Kong.

Gwat Kong membuka matanya perlahan-lahan. Untuk sesaat lamanya tidak bergerak. Ia masih bingung dan tidak tahu di mana ia berada. Tubuhnya terasa sakit, akan tetapi sebagai seorang ahli silat, otomatis ia menahan napas dan mengalirkan jalan darahnya untuk merasakan apakah ia menderita luka dalam, dan menjadi lega bahwa ia tidak terluka. Kemudian, dengan mata masih setengah tertutup, ia memusatkan pikirannya dan mengingat.

Tiba-tiba teringatlah ia akan kecelakaan yang telah terjadi itu, dan teringat bahwa ia telah jatuh ke dalam sumur. Hal ini amat mengejutkan hatinya, dan ketika ia membuka matanya, cepat ia melompat berdiri. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang gadis bangun berdiri pula di depannya. Karena matanya masih belum biasa dengan penerangan yang hanya suram-suram itu, ia tidak melihat wajah gadis itu dengan jelas. Akan tetapi, setelah mengenal gadis itu, ia menjadi makin terheran-heran.

“Cui Giok …….! Kaukah ini ……..???” Ia maju selangkah dan memegang lengan gadis itu. “Bukankah kau sudah … sudah mati ….??” Tiba-tiba ia teringat pula akan sesuatu dan wajahnya berobah menjadi pucat. “Ah, Cui Giok …..aku tahu ……. akupun sudah mati ……! Apakah ini yang disebut neraka …….?” Ia memandang ke sekelilingnya dengan mata mengandung kengerian.

Cui Giok merapatkan tubuhnya dan memeluk pundak pemuda itu. “Benar, Gwat Kong! Dalam pandangan manusia-manusia di luar tempat ini, kau dan aku memang sudah mati!”

“Akan tetapi kita masih hidup. Sungguh aneh … kita masih hidup!” Gwat Kong berseru gembira dan seperti orang yang masih belum mau percaya, ia meraba-raba kepala dan lengan Cui Giok. “Benar. Kau masih hidup dan aku juga.”

Ia memandang ke sekelilingnya lagi, lalu memandang ke atas, dari mana ia terjatuh. “Benar-benar menakjubkan. Kita berdua jatuh dari tempat yang tak terukur tingginya. Akan tetapi kita masih hidup. Bahkan aku tidak mendapat luka.”

“Kita terjatuh ditempat itu, Gwat Kong. Tempat itu lunak dan berlumpur. Karena itulah kita tidak terbanting hancur.” Cui Giok menunjuk ke arah tempat berlumpur di bawah lubang sumur itu. Gwat Kong lalu mendekat dan memeriksa tempat itu dengan penuh keheranan. Kemudian ia teringat bahwa Cui Giok sudah seminggu berada di tempat ini, maka dengan muka berubah pucat, ia menengok dan memandang ke arah gadis itu.

“Cui Giok … alangkah anehnya! Mengapa kau berada di tempat ini sampai begitu lama! Bagaimana kau bisa hidup? Dan mengapa pula kau tidak berusaha untuk keluar dari sini?”

“Aku sudah berusaha, akan tetapi sia-sia Gwat Kong. Tidak ada jalan keluar dari tempat ini. Kita telah terkubur hidup-hidup. Kita telah terasing dari dunia ramai untuk selama-lamanya!”

Wajah Gwat Kong makin memucat. “Tak mungkin!” serunya. “Pasti ada jalan keluar! Harus ada jalan keluar!”

Bagaikan orang gila, ia lalu berlari-lari mengitari tempat itu, memeriksa batu dinding, bahkan lalu keluar dari lubang yang digali oleh Cui Giok. Sambil menghela napas, Cui Giok tidak berkata sesuatu, hanya mengikuti di belakang pemuda itu sambil membawa penerangan.

“Kita harus keluar dari sini! Harus, kataku!” Gwat Kong membentak-bentak sambil memeriksa seluruh tempat itu.

“Carilah, Gwat Kong. Dan periksalah! Agar kau merasa puas. Akan tetapi sesungguhnya aku sendiri telah mencari jalan keluar tiada hentinya, tanpa hasil sedikitpun.”

Gwat Kong masih penasaran. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memeriksa dinding batu, mencoba untuk menggunakan kepandaiannya memanjat ke atas, mengetuk-ngetuk batu mencari terowongan. Sampai sehari penuh ia berusaha dan juga pada keesokan harinya berusaha lagi sampai lupa makan lupa tidur, akan tetapi hasilnya nihil.

Cui Giok selalu menghiburnya. “Mengasolah, Gwat Kong. Kau terlampau lelah. Aku tahu, tubuhmu masih sakit-sakit karena jatuh itu. Pikiranmu tidak tenang. Kau tidurlah dan makanlah daging burung ini. Di sini hanya ada daging burung dan buah di luar lereng itu. Akan tetapi cukup baik untuk mengenyangkan perut.

“Aku, tidak! Aku tidak mau tidur, tidak mau mengaso, tidak ingin makan! Aku harus mencari jalan keluar. Kau dan aku harus keluar dari neraka ini!” Gwat Kong membandel dan terus mencari-cari kemungkinan keluar dari tempat itu.

“Kalau begitu, kau telanlah pel ini. Kau dapat bertahan sampai sepekan, kalau kau menelan pel ini!” Ia memberi sebutir pel pemberian dari Lo Han Sianjin dulu itu. Gwat Kong menerimanya dan menelannya. Kemudian tanpa mengaso sedikitpun ia mencari lagi. Kini menggunakan pedangnya untuk berusaha membuat tangga pada batu karang yang tegak lurus ke atas itu. Batu karang itu amat keras, akan tetapi pedang Sin-eng-kiam memang tajam sekali.

“Lihat, Cui Giok! Bantulah aku! Dengan pedang, kita dapat membuat lobang pada batu karang ini sehingga kita dapat membuat tangga ke atas. Asalkan ada tempat untuk berpegang dan menaruhkan kaki, mengapa kita tidak dapat mendaki ke atas?”

Cui Giok menggelengkan kepalanya. “Takkan ada gunanya, Gwat Kong. Aku pernah memikirkan hal itu. Apakah ketika jatuh kau tidak terbentur pada pinggiran sumur?”

Gwat Kong menggelengkan kepalanya.

“Aku terbentur pada pinggir sumur berkali-kali,” kata Cui Giok. “Dan pinggir sumur bagian atas terdiri dari tanah lembek. Memang kita dapat membuat tangga ke atas pada batu-batu karang yang keras ini, akan tetapi bagaimana kalau sudah sampai di bagian tanah lembek?”

Namun Gwat Kong tidak putus asa dan tetap hendak mencoba! Terpaksa Cui Giok membantu untuk jangan mengecewakan hati pemuda yang tak mudah tunduk kepada nasib itu. Sampai sepuluh hari mereka bekerja membuat tangga, terus ke atas. Dan pada hari kesebelas, tepat sebagaimana dikatakan oleh Cui Giok, batu padat yang keras itu berubah menjadi tanah lihat yang amat lembek. Tentu saja tak mungkin memanjat naik melalui tanah selembek itu dan berair pula. Tanah itu akan melesak kalau diinjak dan licinnya bukan main!

Gwat Kong turun lagi ke bawah dan duduk menutup kedua tangannya pada muka dengan hati sedih sekali. Air matanya tak dapat tertahan pula mengalir keluar melalui celah-celah jari tangannya.

“Kita tak dapat keluar …. ah, Cui Giok, begini kejamnya nasib mempermainkan kita …? Benar-benarkah kita harus mati di tempat ini …….?”

Cui Giok berlutut di sebelahnya dan tanpa malu-malu lagi memeluk lehernya. Hatinya penuh keharuan. Akan tetapi ia tidak teringat akan kesedihannya sendiri. Ia kasihan melihat Gwat Kong yang berduka dan berusaha menghiburnya.

“Gwat Kong, mengapa bersedih?”

Gwat Kong menurunkan kedua tangannya dari depan muka. “Cui Giok, alangkah anehnya pertanyaanmu ini! Kita terkurung di tempat celaka ini untuk selamanya! Tidak ingatkah kau? Kita takkan bisa keluar, harus tinggal di sini selama hidup kita sampai mati! Apakah hal ini tidak menyedihkan hatimu?”

Benar-benar Gwat Kong merasa heran ketika melihat dara itu menggelengkan kepala dan bibirnya bahkan tersenyum. Mula-mula memang aku bersedih, yakni sebelum kau datang! Akan tetapi sekarang ….. apakah yang kusedihkan? Ada kau di sini! Dan aku …. aku tidak bisa merasa berduka selama kau di sampingku, Gwat Kong, biar dimana pun kita berada. Ditengah-tengah api nerakapun asal bersama kau, takkan merasa berduka, bahkan berbahagia!”

Bukan main terharunya hati Gwat Kong mendengar pengakuan ini. Ia telah tahu bahwa gadis ini mencintainya, menyinta dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi tak pernah mengira bahwa cinta kasih gadis ini terhadapnya demikian besarnya, demikian suci murninya! Tak terasa pula ia mengulurkan kedua tangan memeluk gadis itu yang segera menangis di atas dadanya, sedangkan Gwat Kong sendiri tak dapat menahan sedu sedan yang naik dari dadanya.

“Cui Giok, kita serahkan nasib kita kepada Thian Yang Maha Agung,” bisiknya perlahan.

****

Berkat hiburan-hiburan dan sikap jenaka dan gembira dari Cui Giok, terhibur jugalah hati Gwat Kong. Bahkan timbul pula kegembiraannya. Ia menyerahkan nasib sebulatnya kepada Yang Maha Kuasa dan karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, ia hanya mengharapkan pertolongan yang datang dari luar sumur. Ini bukan hanya pengharapan kosong belaka, oleh karena ia telah kenal banyak orang gagah di dunia kang-ouw.

Apabila mereka mendengar tentang nasibnya, mustahil kalau mereka tidak datang menolongnya atau berusaha menolongnya? Ia tak tahu bahwa tak lama semenjak ia terjerumus ke dalam jurang itu, namanya dan juga nama Cui Giok telah terhapus dari daftar orang-orang hidup! Semua orang yang mendengar tentang nasibnya itu telah menganggap dia tewas di bukit itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: