Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 37

MEREKA berdua tidak kekurangan makan dan kini Gwat Kong dapat menikmati rasa buah yang berwarna kuning di lereng itu. Buah yang berbau harum dan lezat dan belum pernah ia makan selama hidupnya. Juga daging burung itu merupakan makanan yang lezat. Mereka tidak kekurangan air karena di lereng itu terdapat pancuran air yang jernih dan sering kali mereka menikmati pemandangan yang amat indahnya di luar lobang yang menembus ke lereng bukit.

Pemandangan yang amat indah dan juga amat mengerikan. Apabila mereka berdiri di depan lobang itu, memandang ke bawah, mereka merasa seakan-akan mereka berdiri di tengah angkasa raya, di atas sebuah bintang yang tidak ada tangganya untuk turun kepermukaan bumi.

Telah setengah bulan Gwat Kong tinggal di tempat itu. Sikap Cui Giok yang amat menyintainya menggerakkan hatinya. Kalau tadinya ia masih selalu terkenang kepada Tin Eng, gadis yang lebih dahulu menawan hatinya itu, sekarang ia berusaha melempar kenangan ini jauh-jauh!

Ia tahu bahwa mengenangkan Tin Eng adalah satu perbuatan yang amat bodoh dan hanya akan mendatangkan kesedihan dan gangguan batin belaka. Ia telah terasing, untuk selama hidupnya tidak ada kemungkinan sedikitpun untuk bertemu kembali dengan Tin Eng atau dengan siapa yang di dunia ramai. Maka mengenangkan Tin Eng bukanlah pikiran yang sehat.

Bagi Tin Eng, ia sudah mati dan mungkin gadis itupun telah melupakannya, menganggapnya mati, dan barang kali kawin dengan lain pemuda. Siapa tahu, mungkin Tin Eng akhirnya mau juga kawin dengan Gan Bu Gi! Ia sama sekali tidak mau memikirkan hal ini.

Dunianya hanyalah dasar sumur dan lereng itu, dunianya terpisah dari dunia ramai, dan kawan hidup satu-satunya hanya Cui Giok seorang! Seorang kawan hidup yang amat baik budi, gadis perkasa dan cantik jelita! Kalau dibuat perbandingan, tentu saja hatinya masih condong kepada Tin Eng dari pada Cui Giok. Karena sebelum ia bertemu dan berkenalan dengan Cui Giok, terlebih dahulu hatinya telah tertambat kepada Tin Eng.

Cinta pertama tak mudah dilupakan. Akan tetapi diam-diam ia harus mengakui bahwa selain gagah perkasa, Cui Giok tidak kalah cantiknya dari Tin Eng, dan dalam hal cinta kasih, Cui Giok nampaknya bahkan lebih besar cintanya dari pada cinta Tin Eng yang belum pernah dinyatakan itu.

Pada hari ketujuh belas, ketika Gwat Kong dan Cui Giok keluar dari guha itu dan duduk di lereng bukit menikmati hawa gunung yang sejuk, melihat sepasang burung yang besar terbang di dekat lereng. Kemudian burung itu hinggap pada cabang pohon di lereng itu, saling membelai dengan leher dan saling membersihkan bulu kawannya dengan patuk mereka. Burung itu adalah burung rajawali yang besar dan bagus bulunya.

“Lihat Gwat Kong!” kata Cui Giok sambil menunjuk kepada burung-burung itu. “Alangkah senangnya hidup mereka, begitu rukun dan saling menyinta!”

Gwat Kong memandang ke arah burung itu kemudian ia menoleh dan menatap wajah Cui Giok. Pada waktu itu, senja telah mendatang dan angin yang bertiup perlahan membuat rambut Cui Giok awut-awutan dan sebagian rambutnya yang halus dan panjang itu melambai-lambai di depan jidatnya.

“Alangkah cantikmu, Cui Giok ….” Gwat Kong tak terasa berbisik perlahan.

Cui Giok menengok dan pura-pura tidak mendengar bisikan itu. “Apa katamu, Gwat Kong?”

Merahlah wajah pemuda itu. “Alangkah …. indah rambutmu …”

Kata Cui Giok tersenyum, “Jangan kau mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan hatimu. Rambutku awut-awutan, tak pernah disisir, tak pernah diminyaki sampai berhari-hari. Bagaimana kau katakan bagus?”

“Akan kubuatkan sisir untukmu, Cui Giok. Sisir dari kayu pohon itu. Kukira aku akan dapat membuatnya.”

Tiba-tiba Cui Giok bangkit berdiri, tercium bau daging terbakar hangus. “Celaka! Aku sampai lupa kepada daging panggang itu!”

Ia berlari masuk sambil tertawa-tawa, diikuti oleh pandang mata Gwat Kong yang ikut gembira. Alangkah cantik menarik dara ini, pikirnya. Heran sekali, dahulu belum pernah ada perasaan demikian. Akan tetapi semenjak ia masuk ke tempat ini, entah mengapa, darahnya seakan-akan mendidih tiap kali ia mengagumi kecantikan Cui Giok! Belum pernah ia tergoda oleh kecantikan Cui Giok! Belum pernah ia tergoda oleh kecantikan wanita. Bahkan Tin Eng sendiri belum pernah datangkan gelora yang demikian menggelombang hebat di sanubarinya.

“Gwat Kong …..!” terdengar panggilan Cui Giok dari dalam dengan nada mesra. “Daging sudah matang …! Mari kita makan!”

Gwat Kong tersenyum. Ia merasa seakan-akan ia berada di rumah sendiri, seakan-akan ia telah membangun sebuah rumah tangga seperti yang sering ia impikan. Ia dahulu sering bermimpi mempunyai rumah tangga dengan Tin Eng sebagai isterinya. Dan kini, sungguh aneh ia merasa seakan-akan ia telah berumah tangga dan hidupnya bahagia.

Sambil tersenyum-senyum ia berbangkit berdiri dan masuk ke dalam lubang yang kini diperlebar merupakan pintu itu. Bahkan Cui Giok telah membuat tirai pada pintu ini dari selimutnya. Sebelum masuk pintu istimewa ini, Gwat Kong masih sempat melihat sepasang burung rajawali itu terbang melayang ke atas, mengembangkan sayap mereka yang lebar dan besar.

Gwat Kong dan Cui Giok menghadapi makan malam yang terdiri dari daging panggang dan buah dimasak. Baik Gwat Kong maupun Cui Giok tidak tahu bahwa makanan-makanan ini mengandung zat yang amat baik dan yang menguatkan tubuh mereka. Memang Tuhan Yang Maha Adil. Buah-buahan yang berada di lereng itu dan daging burung ayam gunung yang mereka dapatkan, mengandung zat-zat yang amat dibutuhkan oleh tubuh mereka sehingga biarpun mereka tak pernah dapat makan nasi dan gandum, mereka tetap sehat, bahkan merasa kuat.

Akan tetapi, mereka juga tidak tahu bahwa makanan itu mengandung zat yang memanaskan darah, yang membuat darah di tubuh mereka mengalir cepat dan yang mendatangkan pengaruh merangsang pada hati mereka. Kalau tadi Gwat Kong mengherankan perasaannya terhadap Cui Giok, maka jawabannya sebetulnya terletak pada makanan yang sedang dihadapinya dan dimakan bersama Cui Giok itulah! Daging burung itu mempunyai khasiat yang aneh dan membuat sepasang mata Gwat Kong memancarkan cahaya berseri dan yang membuat sepasang pipi Cui Giok menjadi makin kemerah-merahan.

Seperti keluarga di dalam sebuah rumah tangga biasa. Sehabis makan Cui Giok mencuci tempat-tempat makanan yang terbuat dari pada batu itu pada pancuran di luar guha. Kemudian keduanya duduk pula di lereng, dan pada malam hari itu bulan memancarkan cahayanya sepenuh dan sebulatnya, mendatangkan pemandangan yang luar biasa indahnya dan berbareng mendatangkan suasana yang romantis.

Seperti biasa, pada saat seperti itu, kakek tua yang baik hati, yang bersemayam di atas bulan yang biasa disebut orang tua yang menjadi penghubung perjodohan menurunkan kesaktiannya melalui cahaya bulan yang keemasan, menyebarkan sihirnya kepada hati-hati orang muda.

Kedua orang muda itu duduk di atas rumput bersandarkan batu karang. Mereka menikmati keindahan alam itu dengan hati ikhmat, lupa bahwa mereka berada di tempat yang terasing, lupa akan kesengsaraan mereka. Bahkan hati mereka penuh dengan kegembiraan yang luar biasa dan yang mereka sendiri tidak tahu apa yang menjadi sebabnya.

“Aduh ……! Alangkah cantiknya bulan!” kata Cui Giok sambil memandang ke atas.

Akan tetapi tidak terdengar jawaban dari Gwat Kong, bahwa pemuda itu tidak bergerak sedikitpun juga. Biasanya setiap ucapan yang keluar dari mulut Cui Giok selalu mendapat sambungan dari pemuda itu. Hal ini terasa aneh bagi Cui Giok yang segera menengok kepadanya.

“Cui Giok …..” terdengar Gwat Kong berbisik dengan suara gemetar. “Jangan gerakan mukamu ….. jangan menengok ….!”

“Eh eh, kau mengapa, Gwat Kong?” tanya Cui Giok terheran-heran. Akan tetapi ia mentaati permintaan ini, tetap memandang bulan, sungguhpun matanya mengerling ke arah Gwat Kong.

“Alangkah cantiknya kau ……..! Dengan mendapat sinar bulan sepenuhnya, mukamu bagaikan menyinarkan cahaya emas! Alangkah indah dan cantikmu, Cui Giok! Bulan sendiri akan malu terhadapmu …..” Sambil berkata demikian, Gwat Kong mengulur tangannya hendak memeluk gadis itu.

Cui Giok tiba-tiba tertawa dan mengelak. Sepasang pipinya menjadi makin merah, sampai ke telinga-telinganya.

“Ah … kau gila …!” katanya dan ia lalu melompat dan berlari ke dalam guha.

Gwat Kong juga berdiri dan mengejarnya. Cui Giok hendak berlari terus, akan tetapi kemana? Kalau saja mereka berada di dunia luar tentu ia akan berlari terus mempermainkan Gwat Kong. Akan tetapi tempat terkurung oleh dinding batu karang, maka sebentar saja Gwat Kong telah dapat menangkap tangannya.

“Cui Giok …. kau …. cantik sekali. Aku cinta kepadamu.”

Tiba-tiba Cui Giok berdiri menghadapinya.

“Kau cinta kepadaku? Benarkah? Seperti cintaku kepadamu?? Katakan sekali lagi, Gwat Kong!”

“Aku cinta padamu, Cui Giok. Demi Thian Yang Maha Suci, demi bulan yang murni, aku cinta padamu!”

“Kau tidak ingat kepada Tin Eng?”

Bagaikan terserang seekor ular berbisa, Gwat Kong melangkah mundur. Akan tetapi ia berkata lagi, “Jangan sebut-sebut nama lain di tempat ini, Cui Giok! Dunia kita bukan dunia orang lain. Di dunia kita hanya ada kau dan aku, orang lain tak masuk hitungan! Agaknya Thian memang sengaja menjodohkan kita maka kita berada di tempat ini, terpisah dari dunia ramai. Cui Giok, kita hanya menanti mati di tempat ini. Sebelum kita mati, maukah kau menjadi isteriku? Kita hidup berdua di tempat ini, akan mati bersama pula di tempat ini …. dan kita akan menghadap kepada Giam-lo-ong (Malaikat pencabut nyawa) sebagai suami isteri! Cui Giok, kekasihku, maukah kau menjadi isteriku?”

Terdengar gadis itu menarik napas panjang. “Tidak ada yang lebih kuingini selain menjadi isterimu, Gwat Kong. Tak perlu kujelaskan lagi, kau tahu bahwa aku mencintaimu. Akan tetapi tanpa saksi, tanpa upacara … ah, bagaimana kita bisa melakukan upacara pernikahan?” suaranya mengandung isak.

Gwat Kong memegang tangannya dan menariknya keluar dari pintu guha itu.

“Bulan purnama akan menjadi saksi, kekasihku! Dan Thian yang akan memberkahi kita, yang akan menjodohkan kita, karena Thian pula yang menjadi perantara perjodohan kita …..”

Demikianlah, kedua orang muda itu berjalan keluar guha, dan mereka berlutut dengan penuh khidmat, mengucapkan sumpah sebagai suami isteri, disaksikan oleh bulan purnama yang tersenyum-senyum, disaksikan pula oleh angin yang bersilir perlahan menciptakan janji indah pada daun-daun pohon. Upacara pernikahan yang amat sederhana, tanpa saksi manusia, sumpah yang diucapkan dengan bibir gemetar dibarengi mengalirnya air mata keharuan karena merasa betapa mereka hanya berdua saja di dunia ini. Upacara yang paling sederhana, akan tetapi yang tidak kurang sucinya!

Sepasang orang muda yang senasib sependeritaan, yang sehidup semati terkurung di tempat terasing, yang sudah yakin bahwa takkan dapat keluar dari situ sampai hayat meninggalkan badan. Sepasang hati yang menderita sehebat-hebatnya ini akhirnya bertemu, mencari hiburan satu kepada yang lain saling meminta, saling mengisi.

Dapatkah kedua orang ini disalahkan? Mereka masih muda, darah mereka sedang menggelora, ditambah pula oleh khasiat makanan-makanan yang luar biasa. Mereka sama muda, sama elok, sehingga mudah sekali Dewi Asmara memainkan peranan menguasai hati mereka.

Bagi Cui Giok hal ini sudah sewajarnya, karena semenjak dahulu ia memang mencintai Gwat Kong, menyinta dengan sepenuh hatinya dengan sesuci jiwanya. Bagi Gwat Kong, sungguhpun tadinya hatinya sudah tertambat kepada Tin Eng, namun ia juga tertarik kepada Cui Giok. Ia kagum kepada gadis itu. Ia merasa bersimpati dan ini sudah cukup untuk membuka hatinya dan untuk menyambut cinta kasih Cui Giok.

Oleh karena itu, sungguhpun dengan amat sederhana, tanpa hio tanpa meja sembahyang, tanpa wali dan tanpa saksi, upacara pernikahan mereka sudah syah dan sewajarnya. Upacara pernikahan yang tercipta dari sepasang hati yang saling menyinta, bukan karena nafsu semata, bukan karena dorongan birahi yang digerakkan oleh iblis. Adakah yang lebih syah dari pada ini?

****

Setelah menjadi suami isteri, Gwat Kong dan Cui Giok hidup dengan penuh kebahagiaan. Mereka lupa akan keadaan mereka, lupa bahwa mereka hidup terasing. Dunia ini tak sunyi bagi mereka. Setiap lambaian bunga, daun dan rumput merupakan gerakan gembira, seakan-akan tarian indah dalam pandangan mata mereka. Setiap suara yang ditimbulkan oleh daun-daun tertiup angin, kicau burung, api membakar kayu kering, mendatangkan irama lagu yang amat merdu dan menyedapkan telinga, menyegarkan hati dan perasaan.

Mereka saling menyinta, saling mengasihi, saling menghormat dan saling menjaga. Hidup mereka hanya mempunyai satu tujuan, bagi Gwat Kong untuk menyenangkan hati Cui Giok dan bagi Cui Giok untuk membahagiakan suaminya. Apakah yang lebih indah, yang lebih suci dari perasaan ini?

Mereka mendapatkan lagi kegembiraan mereka, kegembiraan untuk hidup, untuk merawat diri. Kalau tadinya mereka bersikap masa bodoh, acuh tak acuh terhadap kesehatan tubuh, kini mereka mulai memperhatikan keadaan diri masing-masing. Bahkan mereka mulai lagi berlatih silat di tempat itu dan karena tiada pekerjaan lain maka mereka makin maju ilmu silatnya, dapat menciptakan gerakan pedang yang luar biasa.

Waktu berlalu cepat dan tak terasa sehingga berbulan-bulan telah lewat tanpa terasa lagi. Mereka telah berdiam di tempat itu sampai enam bulan atau setengah tahun. Waktu yang amat lama bagi mereka yang bersusah hati, akan tetapi amat cepat bagi yang hidup gembira ria.

Akan tetapi, seperti juga kata pribahasa bahwa tiada gading yang tak retak, yang berarti bahwa tiada keindahan tanpa cacad, demikianpun tidak ada kebahagiaan yang tak bernoda oleh kekhawatiran atau kesusahan. Telah sebulan lebih Gwat Kong dan Cui Giok menderita kecemasan dan kegelisahan. Perasaan ini mereka derita semenjak saat Cui Giok menyatakan kepada suami bahwa ia telah mengandung!

Ketika mendengar hal itu, untuk sekejap wajah Gwat Kong berseri-seri, sepasang matanya bercahaya gembira dan ia memeluk isterinya penuh kasih sayang. Akan tetapi, tiba-tiba pelukannya mengendur dan ia melangkah maju mundur sambil menatap wajah isterinya dengan muka pucat dan mata terbelalak seakan-akan ia melihat setan di tengah hari!

“Kau, kenapakah?” tanya isterinya cemas.

“Cui Giok …. Ya Tuhan ….. Cui Giok …..” Dan Gwat Kong lalu menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Isterinya terkejut sekali dan segera memeluknya. “Suamiku, kau kenapa? Sakitkah tubuhmu?”

Gwat Kong menekan perasaannya dan setelah gelora hatinya menjadi tenang kembali, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mukanya nampak sedih sekali.

“Cui Giok, mengapa Thian menghukum kita sampai sedemikian hebat?”

“Mengapa Gwat Kong. Kenapa kau berkata demikian? Bukankah Thian telah memberi berkah kepada kita? Kita akan mendapatkan seorang putera? Bukankah hal ini yang baik bagi kita?”

Akan tetapi, tiba-tiba Cui Giok bagaikan disadarkan ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata suaminya. Wajahnya memucat dan tak terasa pula tangan kirinya meraba ke arah perutnya, lalu ia menangis terisak-isak! Gwat Kong segera memeluk dan menyandarkan kepala isterinya pada dadanya. Kalau tadi dia yang bersedih dan gelisah, kini ia dapat menghibur kesusahan hati isterinya.

“Sudahlah, Cui Giok!” katanya sambil mengusap-usap rambut isterinya yang bagus. “Marilah kita pikirkan baik-baik dan mencari jalan yang sebaik-baiknya. Memang amat menggelisahkan keadaan kita ini. Anak kita akan terlahir di sini dan bagaimanakah kita harus perbuat? Di tempat ini …. ah, tak kuat aku memikirkan dan membayangkan hal itu. Bagaimana kau akan melahirkan ? Dan anak kita … anak kita itu …. bagaimana kita akan dapat mendidiknya baik-baik? Dan kelak ….!

Sudah berbulan-bulan Gwat Kong menyebut tempat mereka itu sebagai surga dan baru sekarang terlompat kata-kata “neraka” sebagai sebutan tempat ini! Ah, manusia! Memang aneh sekali! Apa yang kemaren mendatangkan tawa gembira, ini hari dapat menimbulkan tangis sedih. Kemaren dianggap sorga, kini dianggap neraka.

Cui Giok tak dapat menjawab, hanya tangisnya makin keras sehingga tubuhnya tergoyang-goyang dalam pelukan suaminya. Gwat Kong perlu mendapatkan hawa segar, maka dengan perlahan ia menuntun isterinya keluar dari guha itu, diajak duduk di atas rumput di lereng.

Sampai lama mereka hanya duduk bersanding, saling berpegangan tangan. Kesunyian yang berbicara. Kesunyian yang membisikan seribu satu macam kata-kata yang semuanya hanya mendatangkan gelisah dan duka. Bisikan angin pada pohon-pohon yang biasanya merupakan nyanyian gembira, kini terdengar bagaikan suara tangis memilukan. Kicau-kicau burung yang tadinya terdengar seperti memuji-muji mereka, kini terdengar seakan-akan mereka itu mengumpat caci, mengejek dan memperolok-olokan mereka!

Tiba-tiba sepasang burung rajawali yang sering mereka lihat dan yang mereka anggap sebagai simbol dari keadaan mereka berdua itu, nampak berterbangan di angkasa raya, berputar-putaran, kemudian turun dan hinggap di cabang pohon besar. Melihat betapa lebar dan kuat sayap mereka yang dapat membawa mereka ke mana saja mereka kehendaki, menimbulkan cemburu dan iri hati dalam dada Gwat Kong yang masih direbahkan kepala Cui Giok pada pangkuannya, menangis perlahan-lahan.

Ah, kalau saja aku mempunyai sayap seperti rajawali itu, pikir Gwat Kong. Tiba-tiba ia memandang pundak Cui Giok diangkatnya kepala isterinya itu, dipandang mukanya yang basah air mata, kemudian ia menciumi pipi isterinya bagaikan gila!

Cui Giok terheran-heran melihat suaminya tersenyum-senyum gembira dan tiba-tiba merasa khawatir kalau-kalau suaminya ini telah menjadi gila saking sedihnya.

“Cui Giok …… mengapa kita begitu bodoh? Mengapa tidak terpikirkan olehku akan hal itu? Ah. Memang patut sekali aku terhukum di sini sampai setengah tahun karena kebodohanku ini.

“Apa …. apa maksudmu?”

Gwat Kong menunjuk ke arah sepasang rajawali yang masih bertengger pada cabang itu, matanya bersinar-sinar girang.

“Kau lihat sepasang rajawali itu! Mereka dapat membawa kita keluar dari tempat ini, mereka dapat membawa kita kembali ke dunia ramai.”

Cui Giok masih bingung dan tidak mengerti maksud kata-kata suaminya.

“Kita bisa menangkap mereka dan memaksa mereka terbang keluar dari sini membawa kita! Kita dapat mengikat kaki mereka dengan kain dan kalau kita bergantung kepada ikatan itu, bukankah mereka akan dapat mengantar kita turun?”

“Akan tetapi hal itu amat berbahaya!” seru Cui Giok. “Bagaimana kalau mereka tidak kuat? Bagaimana kalau kita jatuh ke bawah selagi mereka terbang tinggi?” Cui Giok merasa ngeri.

“Lebih baik begitu!” kata Gwat Kong dengan muka muram. “Lebih baik kita berdua, kita mati bersama, membawa anak kita pula bersama-sama, dari pada kelak kita harus meninggalkannya seorang diri di tempat ini!”

Ucapan ini membangunkan semangat Cui Giok. “Baiklah, memang jalan ini yang terbaik. Mari tangkap mereka!” katanya sambil berdiri.

“Nanti dulu, isteriku. Kalau sampai kita gagal menangkapnya, mereka bisa ketakutan dan tidak mau datang lagi. Kita harus menanti sampai malam. Biasanya mereka tidur di pohon itu. Kalau mereka sudah tidur, kita menyergap!”

Demikianlah, sore hari itu, sepasang suami isteri ini telah bersembunyi di balik gerombolan pohon, menanti datangnya sepasang rajawali itu. Menjelang senja terdengar suara mereka di angkasa dan tak lama kemudian mereka terbang dan hinggap di cabang pohon besar di mana kedua suami isteri itu bersembunyi. Gwat Kong dan Cui Giok telah membawa tambang yang amat kuat, yang mereka buat dari semua pakaian mereka, dipintal dan diperkuat dengan kulit dan akar pohon di lereng itu.

Sore tadi mereka telah mempelajari dan merundingkan cara menangkap dua ekor burung besar itu, yakni dengan menyergap, membelitkan tambang pada leher dan kaki binatang itu. Setelah kedua burung akhirnya tertidur, menyembunyikan kepala mereka di dalam pelukan sayap, Gwat Kong lalu memberi isyarat dengan tangannya.

Dengan gerakan yang amat cepat, kedua suami isteri itu naik ke pohon. Pekerjaan ini mereka lakukan dengan mudah, karena pada malam hari itupun bulan bersinar penuh dan terang. Betapapun mereka berlaku hati-hati, namun kedua burung itu mendengar suara mereka dan dengan kaget burung-burung itu mengeluarkan kepala dari sayap.

Akan tetapi pada saat itu, bagaikan dua ekor ular, tambang di tangan Gwat Kong dan Cui Giok meluncur dan membelit kaki kedua burung itu. Ketika kedua burung itu dengan kaget memukulkan sayap dan mengulur leher, tambang-tambang itu cepat pula membelit leher mereka dan kedua suami isteri itu lalu melompat ke bawah sambil menarik tambang dengan kuatnya.

Kedua burung itu meronta-ronta dan alangkah besar tenaga mereka. Kalau saja Gwat Kong dan Cui Giok tidak memiliki tenaga lweekang yang tinggi, tentu mereka takkan dapat menahan pemberontakan kedua burung itu. Mereka menggelepar-gelepar dan memukul-mukul dengan sayap. Akan tetapi Gwat Kong dan Cui Giok menggerak-gerakan tambang, sehingga tambang yang panjang itu akhirnya membelit-belit tubuh burung dan tanpa berdaya lagi kedua burung rajawali itu di seret ke dalam guha.

“Bagaimana dengan harta pusaka itu?” tanya Cui Giok kepada Gwat Kong setelah mereka berkemas untuk berangkat pada keesokan harinya.

“Kita bawa saja secukupnya saja. Benda itu sudah banyak menimbulkan mala petaka.”

Demikianlah, mereka hanya membawa masing-masing belasan butir batu permata yang terbesar. Karena kalau terlalu banyak takut kalau-kalau burung-burung itu takkan kuat terbang. Sedangkan tidak membawa apa-apapun mereka masih ragu-ragu apakah burung itu akan kuat membawah tubuh mereka.

Mereka lalu membawa burung itu keluar dari guha. Matahari telah mulai tampak di ufuk timur, kemerah-merahan dan sinarnya masih belum kuat benar. Mereka mengikatkan kedua ujung tambang pada kedua kaki burung.

Kedua suami isteri itu saling pandang mesra.

“Cui Giok ……”

“Ya, …..”

“Kalau … kalau usaha kita ini gagal …..”

“Ya, …..”

“Kalau burung-burung ini tidak kuat dan jatuh bersama kita, hancur lebur menumbuk karang …..”

“Teruskan suamiku …..” Cui Giok berkata sambil berusaha agar supaya suaranya terdengar tenang, Akan tetapi tetap saja suaranya menggetar tanda bahwa perasaannya tegang sekali.

“Kalau kita tewas dalam usaha keluar dari neraka ini, kau …. kau tunggulah padaku …. kita … kita pergi bersama, ya ….?”

Cui Giok menggigit bibirnya dan menahan keluarnya air mata. Namun tetap saja bulu matanya menjadi basah dan dua titik air mata masih melompat keluar. Sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata karena hatinya amat terharu. Mereka harus memegang tambang menjaga kalau burung itu meronta dan terlepas, maka mereka hanya dapat saling pandang. Cui Giok menganggukkan kepalanya dan menyusut air matanya dengan menundukkan muka pada lengan bajunya, karena kedua tangannya digunakan untuk memegang tambang itu.

“Mari kita berangkat, Cui Giok!”

Mereka lalu berbareng melepaskan tambang yang membelit sayap dan leher burung.

Kedua burung itu menggerak-gerakan sepasang sayapnya. Agaknya terasa kaku sayap-sayap mereka karena terbelenggu semalam suntuk. Mereka mengeluarkan teriakan keras seakan-akan merasa girang terlepas dari belenggu itu. Kemudian mengembangkan sayap dan …… melompatlah mereka dari pinggir jurang yang luar biasa tingginya itu.

“Cui Giok, selamat berpisah, isteriku …. kekasihku …!” Gwat Kong masih sempat berteriak ketika merasa tubuhnya dibawa terbang.

“Selamat sampai bertemu pula, suamiku … aku cinta padamu!” Cui Giok juga berseru keras, karena burung yang membawanya melompat itu berpisah dengan burung yang membawa Gwat Kong.

Kedua burung itu agaknya merasa bingung ketika merasa betapa kaki mereka digantungi tubuh manusia yang amat berat itu. Mereka hendak terbawa oleh berat beban itu turun akan tetapi mereka mengerahkan tenaga pada sayap mereka sehingga masih dapat juga mereka bertahan. Akan tetapi mereka bingung dan ketakutan, memekik-mekik dan terbang tidak karuan jurusannya! Sayap mereka berbunyi ketika dengan kuatnya sayap itu memukul udara, menjaga tubuh mereka terbawa turun oleh beratnya tubuh yang bergantung kepada kakinya.

Gwat Kong melihat betapa burung yang membawa isterinya itu terbang ke lain jurusan, yakni ke arah utara. Sedangkan burung yang menerbangkannya menuju ke timur. Makin lama burung itu terbang makin rendah karena sesungguhnya beban itu terlampau berat baginya.

Hal inilah yang diharapkan oleh Gwat Kong dan yang memang telah diperhitungkannya. Ia tidak memperhatikan sekelilingnya, karena perhatiannya ditujukan kepada burung yang membawa isterinya. Oleh karena tubuh isterinya lebih ringan, maka burung yang menerbangkan isterinya itu lebih cepat gerakannya dan sebentar saja burung itu lenyap di utara.

Tak karuanlah rasa hati Gwat Kong melihat hal itu. Ia terpisah dari Cui Giok, akan tetapi ia masih memperhatikan ke jurusan itu, karena kalau ia dapat selamat mendarat di atas bumi, ia akan menyusul dan mencari isterinya itu.

Ketika memandang ke bawah maka bukan main besar hatinya. Pohon-pohon yang tadinya dari atas lereng itu nampak seperti rumput, kini telah nampak nyata. Makin lama makin besar dan gerakan sayap rajawali itu makin lemah. Tubuhnya makin rendah meluncur ke bawah. Burung ini agaknya maklum bahwa ia tidak kuat melanjutkan penerbangannya dan kini menukik ke bawah dengan mengulur lehernya rendah-rendah, yang tujuannya ialah kelompok pohon-pohon di bawah itu, agaknya sebuah hutan.

Dengan hati berdebar karena tegang, Gwat Kong bersiap sedia. Ia hanya dapat berdoa, mudah-mudahan burung itu cukup mempunyai kekuatan untuk mendarat aman. Ternyata doanya terkabul, burung itu kini berada di atas pohon-pohon yang tadinya nampak kecil.

Ternyata mereka berada di atas sebuah hutan yang amat liar, penuh dengan pohon-pohon besar. Setelah burung itu terbang dekat di atas puncak pohon sehingga daun-daun pohon bergerak-gerak terkena tiupan sayapnya. Gwat Kong lalu melepaskan tambang yang dipegangnya dan melompat ke arah pohon itu. Bagaikan batu dilontarkan, tubuhnya masuk ke dalam daun-daun pohon dan dengan sigap ia dapat menangkap sebatang cabang dan bergantung di situ. Kemudian ia turun dengan perlahan.

Setelah ia menginjak bumi, tak tahan lagi Gwat Kong lalu berlutut dan menciumi tanah dan rumput. Alangkah bahagianya dapat berada dipermukaan bumi lagi, dapat berdiri di atas tanah yang tercinta, seakan-akan kembali kepangkuan ibu yang amat mengasihinya, yang mendatangkan rasa aman sentosa. Ia merasa seakan-akan baru bangkit kembali dari lobang kubur.

Setelah dapat menenangkan hatinya, ia memandang ke arah burung yang kini bertengger di cabang pohon dengan kedua kaki gemetar karena lelah.

“Terima kasih burung yang mulia!” kata Gwat Kong kepada burung itu.

Kemudian ia teringat kepada Cui Giok. Tanpa membuang waktu lagi ia segera berlari cepat menuju ke utara. Sambil berlari cepat, ia berdoa memohon kepada Thian agar supaya isterinya itu dilindungi dan juga mendarat dengan selamat seperti dia. Ia teringat akan ucapan mereka yang terakhir ketika akan berpisah tadi.

“Cui Giok, kalau kau tewas, akupun akan menyusulmu!” demikian ia berbisik sambil berlari terus. Ia keluar dari hutan itu dan ternyata bahwa ia telah mendarat di atas sebuah bukit. Ia terus berlari-lari ke arah utara. Akan tetapi betapapun ia mencari-cari ke atas dan ke bawah, ia tidak melihat burung rajawali yang membawa isterinya. Hatinya mulai gelisah, dan larinya dipercepat

Ia sudah turun dari bukit itu dan kini mendaki bukit lain yang berada di sebelah utara bukit tadi. Kemanakah ia harus mencari? Di manakah burung yang membawa isterinya itu mendarat? Hatinya berdebar cemas.

Tanpa memikirkan apa-apa lagi, Gwat Kong mencari terus. Terus mencari sambil berlari-lari, ke sana ke mari. Bahkan kadang-kadang ia menjerit-jerit dan memanggil nama isterinya.

“Cui Giok ….! Cui Giok …….!”

Akan tetapi tidak ada yang menyahut, hanya burung-burung kecil di pohon-pohon berterbangan karena kaget.

Ia tiba di sebuah dusun. Orang-orang dusun itu heran melihat seorang pemuda yang pakaiannya compang camping berlari-lari cepat bagaikan kijang.

“Adakah kalian melihat seekor burung rajawali terbang di atas kampung ini?” tanya seorang pemuda itu berkali-kali kepada siapa saja yang dijumpainya di jalan.

Orang-orang dusun itu menggeleng kepala. Tidak saja mereka tak melihat burung rajawali bahkan mereka lalu menganggap Gwat Kong seorang yang miring otaknya. Gwat Kong tidak memperdulikan pandangan orang-orang kepadanya, lalu berlari lagi cepat-cepat ke utara, tak memperdulikan sesuatu. Ia harus dapat mencari isterinya yang tercinta.

“Cui Giok ………! Cui Giok ………….!” suara panggilannya ini terdengar sampai jauh malam sehingga orang-orang kampung yang mendengar ini merasa heran dan menggelengkan kepala, kasihan kepada orang muda yang mereka sangka gila itu. Memang Gwat Kong seperti telah menjadi gila. Ia berlari-lari terus ke sana ke mari, mencari-cari Cui Giok sambil memanggil-manggil, kemudian melanjutkan larinya ke utara.

****

Kita tinggalkan dulu Gwat Kong yang mencari isterinya bagaikan gila itu dan marilah kita menengok Tin Eng yang sudah lama kita tinggalkan. Semenjak di bawa turun dari Hong-san oleh ayahnya dan menganggap bahwa Gwat Kong yang terjerumus ke dalam jurang itu sudah tewas, Tin Eng seakan-akan berubah menjadi seorang gadis lain. Kalau dahulu wataknya gembira dan jenaka, kini ia berubah pendiam, tak mau banyak bicara dan wajahnya yang cantik itu selalu muram.

Setibanya di rumah, ia menyembunyikan diri di dalam kamarnya. Jarang sekali mau keluar dan ia lebih suka membaca kitab kuno atau menyulam, atau ….. termenung. Baru sekarang setelah Gwat Kong tewas, ia merasa betapa besar ia menyinta pemuda itu, dan alangkah menyesalnya bahwa ia tidak menyatakan perasaan hatinya kepada pemuda itu dulu-dulu sebelum Gwat Kong tewas. Ia maklum betapa besarnya cinta kasih Gwat Kong kepadanya, sehingga pemuda itu rela menjadi pelayan yang rendah sampai bertahun-tahun, hanya untuk dapat dekat dengan dia.

“Gwat Kong …..!” seringkali ia menyebut nama ini sambil menghela napas dan hatinya terasa makin patah.

Betapapun besar gemas dan marahnya hati Liok Ong Gun karena kebandelan Tin Eng yang sudah berkali-kali membantah kehendak ayahnya dan sudah dua kali melarikan diri dari rumah sehingga setidaknya mendatangkan rasa malu kepadanya, namun sebagai seorang ayah yang hanya mempunyai anak tunggal, Liok-taijin merasa gelisah dan kasihan juga melihat keadaan anaknya itu. Terutama sekali nyonya Liok dengan segala daya upaya ia mencoba untuk menghibur hati anaknya.

“Tin Eng, mengapa kau selalu nampak susah hati sehingga membikin orang tuamu ikut merasa bingung dan susah?” kata Liok-taijin pada suatu hari ketika ia bersama isterinya mengunjungi kamar anaknya. “Gwat Kong sudah tewas dalam kecelakaan, untuk apa kau berkabung untuk seorang yang tidak ada hubungannya dengan kita?”

“Aku cinta kepadanya, ayah,” jawab Tin Eng sambil menundukkan mukanya.

Kalau dulu Tin Eng berani mengucapkan pengakuan seperti ini, tentu Liok-taijin akan menjadi marah sekali. Akan tetapi pemuda itu telah mati, maka ia hanya memandang dengan penasaran dan berkata,

“Sungguh kau memalukan hatiku, Tin Eng! Kau menyinta seorang pemuda bekas pelayan, seorang yatim piatu yang tidak diketahui siapa orang tuanya, seorang pemuda keturunan rendah?”

“Ayah,” kata Tin Eng sambil mengangkat mukanya, memandang ayahnya dengan berani, “aku tidak mengukur kemuliaan hati seseorang dari pangkat dan kedudukannya. Gwat Kong seorang pemuda berhati mulia. Dapatkah ayah menyangkal bahwa selama ia bekerja di sini, ia melakukan sesuatu yang tidak baik? Bukankah ia selalu jujur, sopan-santun dan setia?”

“Betul, … betul ……. akan tetapi ……..”

“Akan tetapi ayah masih menganggap dia seorang rendah! Ayah tahu, bahwa Bun Gwat Kong itu sebenarnya adalah putera tunggal dari mendiang Bun-tihu yang terkenal adil dan jujur di kota Lam-hwat!”

Benar-benar tercengang Liok-taijin mendengar ini. Ia sudah mendengar dan tahu akan nama Bun-tihu. “Mengapa, kau tidak menceritakan hal ini dahulu! Akan tetapi …. ah apa gunanya kita mempercakapkan keadaan Gwat Kong? Dia sudah meninggal dunia, tak perlu dipikirkan lagi. Kau harus dapat menginsafi keadaan dan melihat kenyataan. Kau harus siap pula menghadapi pernikahan dengan Gan-ciangkun.”

“Ayah ……!”

“Tin Eng,” kata ibunya. “Ayah dan ibumu sudah tua, kau sudah cukup dewasa. Bahkan sudah lebih dari cukup usiamu untuk menikah. Aku dan ayahmu ingin sekali melihat kau berumah tangga dan hidup bahagia. Kau hanya sekali ini dapat berlaku bakti dan menyenangkan hati orang tuamu, nak.” Suara nyonya Liok tergetar karena keharuan hatinya sehingga Tin Eng ikut pula terharu. Ia memeluk ibunya dan menangis.

“Ibu, aku tidak ingin menikah biar dengan siapapun juga.”

“Tin Eng, benar-benarkah kau hendak menjadi seorang anak tunggal yang puthauw (tidak berbakti), yang menghancurkan kebahagiaan ayah-ibumu sendiri?” kata Liok Ong Gun.

Mendengar ucapan ini, Tin Eng hanya bisa menangis, kemudian ia memaksakan diri berkata,

“Betapapun juga, ayah. Berilah waktu kepadaku, berilah waktu setahun lagi!”

“Setahun? Terlalu lama, anakku. Kau harus tahu bahwa yang menjadi perantara adalah susiok-couw! Pernikahan dilangsungkan setelah selesai diadakan pibu antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai!”

Tin Eng terkejut. Hampir ia lupa akan hal itu. Telah menjadi cita-citanya dan cita-cita Gwat Kong untuk berusaha mendamaikan antara dua cabang persilatan ini. Kini cita-cita ini harus ia lanjutkan, biarpun kepandaiannya tidak mencukupi. Ia dapat bekerja sama dengan Kui Hwa yang tentu akan datang di tempat itu juga.

“Ayah, bilakah diadakan pibu itu?”

“Apakah kau sudah lupa? Pada permulaan musim Chun, jadi kira-kira sepekan lagi.”

“Apakah ayah juga ikut ke sana?”

“Tentu saja, kita harus kalahkan orang-orang yang sombong.”

“Ayah, aku ikut!”

“Eh??” Liok Ong Gun ragu-ragu karena ia telah melihat betapa puterinya ini bersahabat dengan orang-orang Hoa-san-pai. “Untuk apa kau ikut?”

“Ayah, aku ingin menonton adanya pibu itu. Ayah harus perbolehkan aku ikut kali ini. Kalau tidak, aku akan rewel lagi dan takkan menurut kehendakmu.”

Terpaksa pembesar itu meluluskan permintaan Tin Eng. Diam-diam pihak Go-bi-pai telah bersekutu dengan banyak orang. Tidak saja mendapat bantuan dari Kim-san-pai, yakni Gan Bu Gi dan suhunya, juga suhengnya akan tetapi pihak Go-bi-pai dengan perantaraan dan pengaruh Liok-taijin telah dapat bantuan dari perwira-perwira kota raja termasuk Liok-taijin pun! Bahkan Liok-taijin telah menyanggupi permintaan susiok-couwnya untuk bertemu di puncak Thay-san dan membawa sepasukan perwira Sayap Garuda.

Beberapa hari kemudian, berangkatlah pasukan Liok-taijin dan Tin Eng ikut dalam rombongan yang berkuda itu. Mereka menuju ke utara dan melakukan perjalanan dengan cepat.

Pihak Go-bi-pai dan pihak Hoa-san-pai tidak mengira bahwa tokoh-tokoh besar mereka, yakni ketua Go-bi-pai sendiri, Thay Yang Losu dan ketua Hoa-san-pai, Pek Tho Sianjin akan datang sendiri ke tempat itu bukan untuk mengadu kepandaian, melainkan untuk mendamaikan murid-muridnya. Hanya Sin Seng Cu seorang yang mengetahui akan hal ini, karena ketika Gwat Kong datang menghadap Pek Tho Sianjin, ia hadir pula di puncak Hoa-san-pai.

Demikianlah, setelah kedua rombongan yang bermusuhan itu berkumpul di puncak Thay-san dan keadaan menjadi tegang oleh karena anak murid kedua pihak sudah merasa “panas”. Tiba-tiba berkelebat tiga bayangan dan tahu-tahu tiga orang kakek telah berada di tengah-tengah mereka. Mereka bertiga ini bukan lain ialah Thay Yang Losu ketua Go-bi-pai, Pek Tho Sianjin ketua Hoa-san-pai dan Bok Kwi Sianjin ahli Sin-hong-tung-hoat yang bertindak sebagai pendamai.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: