Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 5

SEMENTARA itu Liok-taijin lalu memanggil kedua orang pelayan yang tadi melayani Seng Le Hosiang. Ia menyuruh kedua pelayan ini menceritakan segala peristiwa yang terjadi pada waktu keributan tadi. Karena takut untuk menyembunyikan sesuatu, kedua pelayan itu lalu menceritakan segala yang mereka dengar dan lihat.

Bukan main marahnya hati Liok Ong Gun mendengar akan kekurang ajaran Gwat Kong dan ia merasa menyesal mengapa tadi ia membiarkan pemuda itu pergi. Kalau ia tahu akan menghukumnya. Dan yang paling menyebalkan hatinya ialah pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan Gwat Kong yang seakan-akan menyindirkan keadaan Tin Eng dan menyatakan cinta kasihnya terhadap anaknya. Puteri tunggalnya seorang dara puteri Kepala daerah, bangsawan dan kaya raya. Orang paling berkuasa dikota Kiangsui, dicinta oleh seorang bujang pelayan yang rendah dan hina? Kurang ajar sekali anak itu!

Dan ketika memikirkan hal ini, teringatlah ia akan penolakan Tin Eng terhadap perjodohan itu, maka ia menduga-duga apakah hubungannya penolakan ini dengan kekurang ajaran Gwat Kong? Makin marahlah ia dan dengan mata terbelalak ia berkata kepada dua orang pelayan itu, “Kalian berdua harus dapat menutup mulut dan jangan diceritakan segala peristiwa yang terjadi tadi kepada siapapun juga! Aku akan mencari dan menjatuhi hukuman kepada Gwat Kong si keparat, dan kalau sampai ada orang luar mendengar tentang peristiwa memalukan itu, tentu kaulah yang bocor mulut dan awas! Aku takkan memberi ampun kepadamu!”

Kedua orang pelayan itu lalu mengundurkan diri dengan ketakutan dan tentu saja mereka tidak berani membuka mulut tentang peristiwa yang terjadi pagi tadi, jangankan kepada orang lain, kepada isteri mereka sendiri mereka tidak berani menceritakan!

Pada malam hari itu, dengan hati penuh harapan, Liok Ong Gun masuk ke dalam kamar puterinya bersama isterinya untuk meminta jawaban dari gadis itu. Mereka mendapatkan Tin Eng masih duduk di atas pembaringan sambil termenung.

“Tin Eng, pikirkan baik-baik bahwa kami berdua hanya ingin menunjukkan jalan kebahagiaan untukmu, maka sebagai seorang anak berbakti kau pun harus mendatangkan kesenangan dalam hati orang tuamu dengan jawaban yang baik,” kata Liok Ong Gun dengan suara halus sungguhpun hatinya masih merasa marah karena teringat akan cerita kedua pelayan tadi.

Sampai lama Tin Eng tidak menjawab, hanya memandang kepada kedua orang tuanya. Kemudian, setelah berkali-kali menarik napas panjang, ia berkata. “Ayah, aku masih belum bersedia untuk terikat oleh perjodohan, harap kau suka maafkan, ayah.”

Timbullah lagi kemarahan dalam hati Liok-taijin, akan tetapi ditahan-tahannya ketika ia bertanya dengan muka merah, “Sudah kau pikirkan baik-baik?”

“Sudah, ayah,” jawab gadis itu sambil menundukkan kepalanya.

“Apakah alasanmu maka kau menampik? Apakah tidak suka kepada Gan-ciangkun?”

Tin Eng menggeleng kepalanya. “Tidak ada alasan apa-apa, ayah. Hanya aku belum ada pikiran untuk menikah. Aku tidak suka mengubah keadaan hidupku dan ingin tinggal seperti biasa saja.”

“Anak bandel!” Liok-taijin membentak dan kini ia tidak dapat menahan marahnya yang tadi ditekan-tekannya. Kemarahannya meluap dan ia berkata, “Kau anak tidak berbakti yang hanya mengecewakan dan membikin malu orang tua! Diatur baik-baik kau tidak menurut, dan membiarkan dirimu dihina oleh cinta seorang pelayan rendah!”

“Ayah!” Tin Eng memandang ayahnya dengan mata terbelalak.

“Hmm, kaukira aku tidak tahu? Anjing she Bun yang hina dina itu telah berani menyatakan di depan pelayan lain dan susiok-couw bahwa ia mencintaimu! Alangkah rendahnya, sungguh memalukan! Dan kau …. kau sekarang menolak pinangan Gan-ciangkun, bukankah ini menimbulkan dugaan seakan-akan kau …. membalas cinta anjing itu …??”

“Ayah ….!!”

“Tutup mulutmu, aku tidak menyangka bahwa kau membalas cintanya karena tadi pun kau hendak membunuhnya. Akan tetapi, kalau kau menolak pinangan ini, tentu akan timbul dugaan seperti itu dalam hatiku. Pendeknya kau harus menerima pinangan ini dan hari pernikahan akan ditetapkan kemudian, dan kau tidak boleh membantah. Aku telah menerima pinangan itu dan tak boleh dibatalkan lagi!”

“Ayah …!” Akan tetapi Liok Ong Gun telah melangkah pergi, diikuti oleh isterinya yang takut kalau-kalau suaminya marah apabila ia tinggal di kamar puterinya.

Tin Eng menangis lagi dengan sedihnya. Ia merasa mendongkol dan gemas sekali kepada Gwat Kong karena pemuda itulah yang menimbulkan gara-gara ini. Kalau saja Gwat Kong tidak bersikap seperti pagi tadi, tentu ia lebih mudah untuk menolak pinangan itu. Apa daya? Ayahnya telah memaksa dan ia cukup maklum akan kekerasan hati ayahnya.

Pada keesokan harinya, ketika pelayan wanita memasuki kamar Tin Eng, ia mendapatkan kamar itu kosong karena Tin Eng telah pergi tak meninggalkan bekas. Gegerlah di dalam gedung itu dan ternyata kemudian bahwa Tin Eng telah minggat dari rumahnya malam tadi, membawa beberapa potong pakaian, tanpa meninggalkan pesan sesuatu!

Liok-taijin merasa marah dan malu sekali maka ia lalu memberi perintah kepada para pelayan dan penjaga di gedung agar hal ini jangan sampai tersiar di luar. Kemudian ia lalu memanggil Gan Bu Gi dan memberi perintah kepada calon menantu ini untuk membawa beberapa orang perwira dan pergi mencari Tin Eng. Juga dipesan kalau bertemu dengan Gwat Kong supaya dibunuh saja pelayan yang menimbulkan kekacauan itu.

****

Bun Gwat Kong yang melarikan diri terus ke selatan tiba di dalam hutan dan ia duduk beristirahat. Setelah berlari dan keluar peluh, pusingnya akibat arak itu lenyap dan ketika duduk di tempat teduh dan mendapat siliran angin lalu, terkenanglah ia akan segala peristiwa yang terjadi dan timbul penyesalan hebat di dalam hatinya. Ia merasa lengannya yang tertusuk ujung pedang Tin Eng, dan tersenyumlah dia. Luka itu telah mengering, tanda bahwa tiap luka tentu lambat laun akan sembuh, sebagaimana juga dengan hatinya yang terluka pada saat itu. Ia maklum bahwa dengan terjadinya peristiwa itu, Tin Eng tentu amat membencinya. Ah, ini lebih baik lagi, agar ia tidak selalu memikirkan gadis itu karena bukankah gadis itu akan menjadi isteri orang lain, isteri Gan-ciangkun?

Mendengar siliran angin dan karena perutnya amat lapar, ia lalu berpindah tempat, mencari tempat yang enak di bawah pohon, tertutup oleh serumpun alang-alang dan sebentar saja ia sudah tidur pulas.

Belum beberapa lama ia tidur, tiba-tiba terdengar suara ribut tak jauh dari tempat itu sehingga Gwat Kong terbangun dengan terkejut. Ketika ia memperhatikan, terdengarlah suara senjata tajam beradu, tanda bahwa di dekat situ terdapat orang-orang sedang bertempur. Dengan heran Gwat Kong mengintai dari balik rumpun alang-alang itu dan terkejutlah ia ketika ia melihat bahwa yang bertempur itu adalah seorang tosu tua yang ia kenal sebagai Bong Bi Sianjin, guru Gan Bu Gi yang dulu datang di gedung Liok-taijin. Tadinya ia menyangka bahwa kakek itu sedang bertempur dengan dua orang pemuda yang gagah perkasa. Gwat Kong belum pernah melihat pemuda-pemuda itu, akan tetapi melihat wajah mereka yang tampan itu membayangkan kegagahan, begitu melihat ia telah merasa suka.

Sebetulnya, pertandingan yang sedang berlangsung itu hebat sekali karena gerakan Bong Bi Sianjin dan kedua orang lawannya yang muda itu benar-benar lihai dan cepat. Kalau orang biasa yang melihatnya tentu ia akan menjadi pening dan pandang matanya menjadi kabur. Akan tetapi, Gwat Kong tanpa menyadari keadaannya sendiri, dapat melihat jalan pertempuran itu dengan jelas. Ia melihat betapa kedua orang muda itu terdesak hebat oleh sepasang tangan Bong Bi Sianjin, sungguhpun keduanya menggunakan senjata pedang.

Kedua pemuda itu bertubuh tegap dan berwajah tampan, seorang di antara mereka berbaju biru dan yang seorang pula berbaju putih. Ilmu pedang mereka gesit dan kuat sehingga pedang yang dimainkan merupakan gulungan sinar yang menyambar-nyambar. Akan tetapi Bong Bi Sianjin yang menghadapi mereka dengan tangan kosong itu dengan tenang dapat menghindarkan semua serangan pedang dengan ginkangnya yang tinggi hingga tubuhnya dapat melayang di antara sinar pedang dan membalas dengan pukulan-pukulan yang digerakan dengan tenaga khikang.

Kadang-kadang tangannya mencengkeram dengan Ilmu Eng-jiauw-kang dan angin pukulannya ternyata kuat sekali. Kini sepasang pemuda itu telah terdesak hebat, dan tibalah tendangan Siauw-cu-twi yang datangnya bertubi-tubi dan berhasil mengenai tangan pemuda baju putih yang memegang pedang sehingga pedang itu terlempar ke atas! Akan tetapi, pemuda itu ternyata hebat juga, karena ia dapat melompat ke atas dan menangkap kembali gagang pedang itu!

“Bagus, anak muda murid Hoa-san tidak mengecewakan!” Tosu itu memuji dan mengirim serangan lagi makin hebat sehingga kedua anak muda itu kini hanya dapat menangkis saja, karena kedua ujung lengan tosu itu kini dugunakan sebagai senjata yang mengirim pukulan dan totokan luar biasa!

Gwat Kong yang melihat guru Gan Bu Gi, merasa tidak senang karena betapapun juga ia menganggap bahwa Gan Bu Gi adalah perusak kebahagiaannya. Ia mengambil tiga buah uang tembaga dari buntalannya dan dari tempat sembunyinya ia menyambit ke arah tubuh Bong Bi Tosu di tiga bagian!

Pada saat itu, Bong Bi Sianjin telah mendesak amat hebatnya dan telah dapat dibayangkan bahwa tak lama kemudian tentu kedua orang muda itu akan roboh ditangannya. Tiba-tiba nampak berkelebat tiga cahaya menuju ke tosu itu yang menjadi amat terkejut oleh karena belum juga benda itu sampai, anginnya telah menyambar tiba terasa olehnya!

Dengan cepat Bong Bi Sianjin melompat ke kiri, akan tetapi sebuah di antara tiga senjata rahasia itu malah melayang ke arah dada sehingga dengan cepat ia menyampoknya dengan ujung lenagn bajunya. “Brett!” dan terkejutlah Bong Bi Sianjin karena biarpun senjata yang ternyata hanya sebuah uang tembaga itu dapat dipukul ke samping akan tetapi ujung lengan bajunya menjadi berlubang.

Padahal ketika menyampoknya tadi, ia telah mengerahkan lweekangnya dan jangankan baru sebuah uang logam, bahkan baja sekalipun tak mungkin dapat membikin ujung baju itu berlubang! Ia maklum bahwa pasti ada seorang sakti yang membela kedua pemuda lawannya itu, maka sambil melompat mundur ia berseru, “Sahabat, terima kasih atas pertunjukkanmu tadi. Harap suka keluar untuk bertemu muka.”

Akan tetapi, Gwat Kong diam saja dan hanya mengintai dari balik alang-alang itu tanpa berani bergerak. Bong Bi Sianjin merasa marah sekali dan menganggap bahwa orang sakti itu tentu memandang rendah kepadanya, maka ia lalu menjura dan berkata, “”Biarlah, kalau ada orang pandai melindungi anak murid Hoa-san, lain kali pasti bertemu lagi!” Setelah berkata demikian, Bong Bi Sianjin melempar pandang mengejek ke arah kedua orang muda itu, lalu tubuhnya berkelebat dan pergi dari tempat itu.

Kedua orang muda itu lalu memandang ke arah rumput alang-alang dan sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat, si baju biru yang lebih tua berkata, “Inkong (tuan penolong), kami menghaturkan terima kasih dan harap inkong sudi memperlihatkan diri.”

Akan tetapi tidak ada jawaban sehingga kedua orang muda itu saling pandang dan mengangkat pundak masing-masing.

“Mungkin dia sudah pergi lagi, ” kata pemuda baju putih.

“Mari kita lihat,” kata yang berbaju biru.

Mereka lalu melangkah maju dan menyingkapkan rumpun alang-alang itu dan bukan main heran hati mereka ketika melihat di situ hanya ada seorang pemuda yang berpakaian pelayan sedang berbaring dengan sebuah buntalan digunakan sebagai bantal!

“Kaukah yang menolong kami tadi?” tanya si baju putih dengan ragu-ragu, karena ia tidak percaya kalau anak muda ini yang berhasil mengusir tosu yang amat lihai itu.

“Siapa yang menolong?” balas Gwat Kong dengan sikap tak acuh. “Aku tidak suka kepada tosu yang mengganggu tidurku itu dan setelah kuberi tiga potong uang tembaga barulah pengemis tua itu pergi.” Setelah berkata demikian, Gwat Kong lalu bangun duduk dan mengambil buntalannya.

“Ah, kalau begitu benar kau yang telah menolong kami. Terima kasih, sahabat, marilah kita bicara di tempat yang lebih enak,” kata pemuda yang berbaju biru sambil mempersilahkan berdiri. Sedangkan si baju putih lalu memegang buntalan Gwat Kong untuk dibawakan.

“Biarlah siauwte membawakan bungkusanmu,” katanya, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa beratnya bungkusan yang dipegang oleh Gwat Kong itu. Ia merasa penasaran dan mengerahkan tenaganya untuk mengambil bungkusan itu, akan tetapi bungkusan yang terpegang oleh pemuda berpakaian pelayan itu sama sekali tak dapat ia gerakan. Ia maklum bahwa pemuda pelayan itu memiliki kepandaian tinggi dan tenaga lweekang yang luar biasa maka ia lalu melepaskan buntalan itu dan membungkuk-bungkuk memberi hormat sambil berkata, “Maaf, maaf!”

Mereka lalu keluar dari tempat itu dan berjalan menuju ke tempat dua ekor kuda yang ditambatkan pada sebatang pohon. Ternyata bahwa kedua pemuda itu datang menunggang kuda.

“Saudara yang gagah perkasa, kami telah berhutang budi kepadamu, karena kalau tidak ada kau yang menolong, tentu tosu tadi tidak mau memberi ampun dan akan membinasakan kami. Bolehkah kami mengetahui namamu yang mulia dan dari perguruan manakah kau datang?”

Gwat Kong merasa bingung karena tidak tahu harus menjawab bagaimana, dan tiba-tiba ia teringat akan rasa lapar yang menyerang perutnya, maka ia bahkan balas bertanya, “Apakah di dekat ini ada yang menjual makanan? Perutku lapar sekali!”

Kedua orang muda itu saling pandang lagi dengan mata terheran karena mereka merasa betapa anehnya sikap Gwat Kong itu.

“Kau lapar? Ah, kebetulan sekali kami membawa arak dan roti kering.”

“Bagus! Kalau begitu biarlah aku akan membeli makananmu itu,” kata Gwat Kong sambil mengeluarkan uang dari buntalannya.

“Ah, mengapa kau berlaku sungkan-sungkan,” kata si baju biru dan si baju putih segera mengambil makanan dan seguci arak dari punggung kuda.

“Marilah, sahabat, makanlah roti dan arak kami ini.”

Gwat Kong menggeleng-geleng kepala. “Tidak, kalau tidak mau menerima uangku, aku tidak berani makan makanan orang lain.”

“Akan tetapi kami bukanlah orang lain lagi, sobat baik!”

Si baju biru berseru, “Kami adalah kakak beradik, namaku Pui Kiat dan ini adikku Pui Hok dan sudilah kau memberi tahukan namamu yang mulia.”

“Namaku Bun Gwat Kong dan aku adalah seorang bekas pelayan biasa saja. Tentang makanan …. kalau kalian menawarkan dengan rela, aku takkan menolaknya!” Dengan girang Pui Kiat dan Pui Hok lalu mengajak Gwat Kong duduk di atas rumput dan makan roti kering bersama arak.

Melihat betapa lahapnya Gwat Kong minum arak, kedua saudara Pui itu menjadi makin kagum.

“Mengapa kalian bertempur dengan tosu itu?” tanya Gwat Kong. Pui Kiat lalu menceritakan sebab-sebab pertempuran tadi. Kedua saudara Pui ini adalah anak murid Hoa-san-pai dan dalam beberapa bulan akhir-akhir ini pihak Hoa-san-pai memang menanam permusuhan dengan pihak Go-bi-pai. Mula-mula hanya terjadi karena perkelahian antara anak murid saja, akan tetapi lama kelamaan menjalar sampai ke tokoh-tokohnya, sehingga bertandinglah Seng Le Hosiang tokoh Go-bi-pai melawan Sin Ceng Cu tokoh Hoa-san-pai yang berakhir dengan kekalahan bagi Seng Le Hosiang.

Hwesio ini merasa penasaran dan mencari sahabat untuk membantunya, yakni Bong Bi Sianjin tokoh Kim-san-pai itu. Oleh karena itulah, maka tiap kali Bong Bi Sianjin bertemu dengan murid-murid Hoa-san-pai, ia selalu menyerang dan membikin malu mereka! Karena kedua pihak tidak ada yang mau mengalah maka permusuhan itu makin menjalar, bahkan sudah ada yang saling bunuh di antara anak murid Hoa-san-pai melawan anak murid Go-bi-pai!

“Ah, tak kusangka sama sekali bahwa tokoh-tokoh persilatan itu tak lain hanya anak-anak kecil yang nakal dan gemar berkelahi saja!” kata Gwat Kong terheran-heran dan menghela napas panjang.

Kedua saudara Pui itu merasa amat heran melihat pemuda yang berkepandaian demikian lihai, akan tetapi yang kelihatannya seperti orang bodoh dan tidak berpengalaman. “Bolehkah kami mengetahui, Bun-taihiap ini anak murid cabang manakah?”

Gwat Kong tersenyum, bangkit berdiri sambil menyambar buntalan pakaiannya dan menjawab, “Aku tidak mempunyai guru!” Dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah lari jauh sekali!

Kedua saudara Pui itu hanya dapat saling pandang dengan bengong dan tiada hentinya mereka membicarakan kehebatan dan keanehan pemuda itu, yang telah menolong mereka dari desakan Bong Bi Sianjin.

“Bukan main!” akhirnya Pui Hok berkata. “Siapakah sebenarnya orang aneh tadi? Ia masih muda, jauh lebih muda dari pada kita, paling banyak baru delapan belas tahun, akan tetapi lweekang dan ginkangnya sudah sehebat itu! Suhu sendiri belum tentu dapat mengatasinya!”

Demikianlah, kedua saudara Pui itu menduga-duga kagum dan heran.

****

Sambil berlari terus menuju kekota Kihong, Gwat Kong mulai merasa tertarik akan penghidupan merantau. Ia kagumi kedua saudara Pui yang gagah perkasa dan merasa gembira telah dapat berkenalan dengan dua orang pemuda itu. Kini ia maklum mengapa Seng Le Hosiang begitu mati-matian membela Bong Bi Sianjin dan muridnya, tidak sedan-segan mempergunakan pengaruhnya terhadap cucu muridnya, yaitu Liok Ong Gun untuk memberi kedudukan baik kepada Gan Bu Gi serta memungut menantu pemuda itu.

Ia dapat menduga bahwa Seng Le Hosiang tentu mengharapkan bantuan Bong Bi Sianjin dalam usahanya menghadapi pihak Hoa-san-pai, sebagaimana terbukti dari penuturan kedua saudara Pui tadi. Karena ia memang tidak suka kepada Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin yang timbul karena tidak sukanya kepada Gan Bu Gi, maka otomatis ia berpihak kepada kedua saudara Pui atau kepada pihak Hoa-san-pai.

Dengan ginkangnya yang di luar pengetahuan sendiri telah mencapai tingkat tinggi itu, Gwat Kong berlari cepat sekali hingga setelah hari mulai menjadi gelap ia tiba dikota Kihong. Ia masih ingat di mana jenazah ibunya dimakamkan, maka ia langsung menuju ke tempat kuburan itu dan ketika melihat betapa makam ibunya kini ditumbuhi rumput alang-alang yang tinggi dan liar sehingga kuburan itu terlantar karena tidak terawat, ia menjadi terharu dan bersedih. Ia merasa berdosa kepada ibunya, teringat akan segala kenakalannya ketika ia masih tinggal bersama ibunya di Kihong. Ia menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan ibunya dan menangis sedih.

Pada keesokan harinya, ia menggulung lengan baju dan mulai membabat dan mencabut rumput alang-alang itu, membersihkan kuburan ibunya. Kemudian ia pergi kekota dan membeli hio-swa dan kembang untuk bersembahyang di depan makam ibunya. Dua hari dua malam ia tinggal di situ dan tidak tidur sedikitpun, hanya duduk bersila di depan kuburan sambil mengenangkan semua peristiwa di waktu ia masih kecil dan yang masih dapat teringat olehnya. Ia teringat akan pesan ibunya untuk membalas dendam kepada Tan-wangwe (hartawan Tan) yang tinggal di Lam-hwat dan yang telah memfitnah ayahnya sehingga orang tuanya itu menerima bencana hebat yang menyebabkan semua keluarganya menderita.

Pada hari kedua, karena lelah dan mengantuk, Gwat Kong tak dapat bertahan lagi dan ia merebahkan tubuhnya di atas tumpukan rumput alang-alang yang dibabatnya. Angin pagi berselir membuat matanya sukar untuk menahan ngantuknya sehingga tak lama kemudian ia tertidur dengan nyenyak.

Ia tidak tahu bahwa belum lama setelah ia jatuh pulas, enam orang yang berpakaian perwira Sayap Garuda datang di tempat itu dan kini keenam orang itu berdiri memandangnya dan dengan lagak mengancam. Mereka ini bukan lain ialah Gan Bu Gi sendiri denganlima orang kepala perwira dari gedung Kepala daerah Kiang-sui yakni Thio Sin, Lie Bong, dan Kiang-sui Sam-eng ketiga jago dari Kiang-sui!

Melihat Gwat Kong tertidur di dekat segunduk tanah kuburan, Gan Bu Gi yang mendapat perintah dari calon mertuanya untuk membunuh Gwat Kong segera mencabut pedangnya dan hendak menikam dada pemuda itu.

“Tahan dulu, ciangkun!” kata Thio Sin yang melihat gerakan ini sehingga perwira muda itu menahan pedangnya dan memandang dengan heran.

“Mengapa, Thio-twako? Liok-taijin telah memberi perintah kepada kita untuk membunuhnya, bukan?”

“Sesungguhnya kurang sempurna kalau kita yang disebut orang-orang gagah dari Kiang-sui harus membunuh seorang pelayan lemah yang sedang tidur pulas! Bagaimana kalau sampai terlihat oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw? Biarpun tidak akan mereka ketahuinya setidaknya kita akan merasa malu terhadap batin sendiri!”

Bu Gi yang muda itu menjadi serba salah dan mengangkat pundak. “Habis, bagaimana baiknya ? Aku hanya hendak memenuhi tugas yang diperintahkan oleh Liok-taijin.”

“Lebih baik kita tangkap padanya, kalau dia melawan, barulah kita mempunyai alasan untuk membunuhnya. Biarpun hendak dibunuh harus dalam keadaan sadar dan tidak sedang tidur seperti ini!” Thio Sin lalu menghampiri Gwat Kong yang sedang tidur dan mengeluarkan sehelai tambang yang kuat. Dengan bantuan Lie Bong dan kawan-kawan lain ia lalu mengikat kedua lengan Gwat Kong yang masih tidur nyenyak itu dengan erat. Ternyata Gwat Kong yang terlampau lelah dan mengantuk itu tidak merasa sama sekali betapa kedua lengannya ditelikung ke belakang dan dibelenggu erat-erat bagaikan kerbau hendak disembelih itu.

“He, Gwat Kong! Bangunlah!” Thio Sin menggoyang-goyang tubuhnya dan ketika pemuda itu belum juga terbangun, timbullah gemasnya. “Dasar orang malas, malas dan tolol!”

Gan Bu Gi tertawa geli, menertawakan Thio Sin yang dianggap mencari kerepotan sendiri. Mengapa harus berlaku sungkan-sungkan terhadap seorang pelayan seperti Gwat Kong? Sekali tusuk dengan pedang dan habis perkara!

“Kau memang terlampau lemah, Thio-twako. Biarlah aku tamatkan saja pelayan malas agar kita tidak pusing-pusing lagi.” Kembali Gan Bu Gi mencabut pedangnya, akan tetapi pada saat itu Lie Bong telah datang membawa tempat air yang dibekalnya dalam perjalanan.

Perwira muka hitam yang tinggi besar ini lalu membuka tutup mulut tempat air itu dan menyiram muka Gwat Kong yang telentang. Usaha ini ternyata berhasil baik karena Gwat Kong segera terjaga dari tidurnya dengan gelagapan! Ia bermimpi naik perahu dengan ibunya dan ketika tiba di tengah-tengah telaga, perahu itu terguling hingga ia dan ibunya tenggelam ke dalam air yang membuatnya gelagapan.

“Tolong …!” teriaknya sambil menggerak-gerakan tangan. Akan tetapi karena kedua tangannya dibelenggu, maka ia membuka mata dan memandang di sekelilingnya dengan terheran-heran. Ia melihat enam orang perwira mengelilingi sambil tertawa bergelak-gelak karena merasa geli melihat ia gelagapan dan minta tolong tadi.

Begitu melihat orang-orang ini, maklumlah Gwat Kong bahwa ia berada dalam bahaya. Kedatangan mereka ini tentu tidak mengandung maksud baik, pikirnya.

“Cuwi-ciangkun, kalian datang mengganggu tidurku dengan maksud apakah?” tanyanya sambil memandang kepada Thio Sin yang sudah dikenalnya baik-baik.

“Gwat Kong, menurut perintah Liok-taijin, kau harus ditangkap,” jawab Thio Sin.

“Bukan hanya ditangkap, bahkan harus dibunuh!” kata Gan Bu Gi dengan gemas karena ia teringat akan Tin Eng yang melarikan diri dari rumah. Dalam kesedihan dan kekecewaannya, panglima muda ini menyalahkan Gwat Kong dalam hal ini, maka timbullah kebenciannya semenjak Gwat Kong membuka rahasia hatinya dalam keadaan mabok itu.

Mendengar ucapan mereka yang hendak menangkap dan membunuhnya, Gwat Kong menjadi terkejut sekali. Tanpa sengaja ia mengerahkan tenaganya dan menggerakkan kedua lengannya yang diikat erat-erat. “Kreekkk!” dengan sekali renggut saja, putuslah semua tali yang mengikatnya dan ia melompat berdiri lalu menyambar buntalan pakaian yang tadi ia gunakan untuk bantal kepala!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: