Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 7

“Tidak, kongcu, masih ada yang harus dibalas!” kata Gui A Sam dengan suara keras menyatakan kegemasan hatinya. “Hartawan Tan itu mempunyai seorang turunan, seorang anak perempuan, dan dia ini harus dibinasakan sebagai pengganti ayahnya!”

Bun Gwat Kong memandang A Sam dengan mata heran dan tidak setuju. “Ayahnya yang berbuat salah, mengapa harus mengganggu anaknya yang tidak berdosa?”

“Kau keliru, Bun-kongcu! Ketika hartawan Tan itu mencelakakan ayahmu, maka yang menderita bukan hanya ayahmu, bahkan banyak sekali para pelayan dan pekerja ayahmu ikut pula menderita. Oleh karena setelah ayahmu diganti oleh seorang tihu lain yang curang dan suka makan uang sogokan, maka keadilan boleh dibilang tidak ada arti di Lam-hwat. Siapa beruang dia menang dalam segala perkara. Maka sudah sepatutnya kalau keparat she Tan itu pun dibinasakan seluruh keturunan dan keluarganya agar habislah riwayatnya yang busuk. Orang sejahat dia tentu mempunyai anak yang jahat pula!”

Gwat Kong tersenyum dan berkata, “Aku belum yakin benar tentang kebenaran pendapatmu ini, Gui-pehpeh.”

“Apa? Belum yakin? Akan tetapi sudah ada buktinya, kongcu! Ketahuilah, anak tunggal hartawan Tan itu biarpun seorang wanita akan tetapi telah menjadi iblis wanita yang amat lihai dan jahat! Entah beberapa banyak orang-orang gagah yang menjadi korbannya. Gadis itu kabarnya ganas dan kejam sekali, juga amat sombongnya sehingga tiap kali mendengar adanya seorang gagah di daerah Kang-lam, ia tentu akan mendatangi dan merobohkannya dalam pibu. Karenanya maka ia diberi nama poyokan Dewi Tangan Maut, karena banyak sudah orang-orang kangouw terbunuh olehnya.”

Tertarik hati Gwat Kong mendengar ini, bukan untuk melimpahkan dendamnya kepada gadis itu, akan tetapi ingin bertemu dan mencoba kegagahan gadis yang amat disohorkan oleh Gui A Sam ini.

“Kalau saja kakiku tidak bercacat seperti ini … ah, tentu akan kucari siluman wanita itu untuk mengadu jiwa, biarpun aku pasti akan kalah menghadapinya,” kata A Sam sambil menarik napas panjang dan memandang kakinya.

“Apakah dia selihai itu, sehingga kau takkan dapat menang terhadapnya?” tanya Gwat Kong.

“Dia memang lihai sekali. Tiga orang kawanku yang telah membuat nama besar, masih tak kuat menghadapinya dan biarpun mereka mengeroyoknya, akan tetapi akhirnya ketiga orang kawanku itu tewas di ujung pedangnya. Padahal tiga orang itu apabila dibandingkan dengan kepandaianku mereka jauh lebih lihai.”

Diam-diam Gwat Kong tercengang mendengar ini dan ia pun merasa agak penasaran mendengar betapa gadis itu demikian ganas dan kejam sehingga membunuh orang sedemikian mudahnya.

“Biar aku akan mencarinya,” katanya kepada diri sendiri akan tetapi oleh karena ucapan ini dikeluarkan dengan keras, maka Gui A Sam menjadi gembira sekali dan berkata,

“Kalau kau yang menghadapinya, pasti ia akan mampus, kongcu! Dan dengan membinasakan iblis wanita itu, bukan saja kau berarti telah berbakti kepada mendiang ayahmu, tetapi juga berarti melenyapkan seorang iblis, pengganggu rakyat jelata.”

Kemudian, Gwat Kong dipaksa-paksa oleh A Sam untuk bersama-sama makan minum dan karena A Sam kini telah menjadi seorang pedagang, sehingga ia mempunyai uang cukup, maka ia menjamu Gwat Kong dengan meriah. Dalam kesempatan ini, kembali Gwat Kong minum arak sepuas-puasnya sehingga A Sam menjadi terheran-heran melihat betapa kuatnya pemuda itu minum arak tanpa menjadi mabok sedikitpun.

“Kau betul-betul patut disebut Ciu hiap (Pendekar Arak), Bun-kongcu!” katanya dengan memandang kagum.

Gwat Kong yang merasa gembira mengangguk-anggukan kepala dan berkata, “Sebuah sebutan yang tidak buruk!”

Setelah menghaturkan terima kasih atas sebutan yang amat menggembirakan dari bekas petugas ayahnya itu, Gwat Kong lalu berpamit untuk melanjutkan perjalanannya, kini ia langsung menuju ke Kang-lam yang memerlukan perjalanan sedikitnya setengah bulan. Gui A Sam berpesan agar supaya pemuda itu suka memberi kabar apabila ia telah berhasil menewaskan Dewi Tangan Maut!

****

Kita ikuti perjalanan Liok Tin Eng, dara jelita yang keras hati dan yang telah menggegerkan keadaan gedung Liok-taijin karena diam-diam ia telah minggat dari kamarnya pada malam harinya itu.

Sebelum mengambil tindakan nekad itu, Tin Eng, sepeninggal ayahnya yang mengeluarkan ancaman dan memaksanya untuk menerima pinangan Gan Bu Gi, menangis sedih di dalam kamarnya seorang diri. Ia teringat segala kelakuannya terhadap Gwat Kong dan timbullah perasaan menyesalnya yang amat besar. Memang, kalau ia teringat pula akan segala kata-kata pemuda pelayan itu, ia masih terasa mendongkol dan marah, akan tetapi ia harus tahu bahwa segala ucapan itu dikeluarkan oleh Gwat Kong dalam keadaan mabok! Buktinya, kemudian pemuda itu minta maaf dan merasa demikian menyesal sehingga tidak penasaran kalau dibunuh. Gwat Kong bahkan minta agar supaya ia membunuhnya untuk menebus dosa. Ah, kasihan sekali pemuda itu. Tak pernah diduganya bahwa pemuda pelayan yang jujur, rajin dan setia itu diam-diam menaruh hati cinta kasih kepadanya!

Tin Eng menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya. Alangkah malang nasibnya! Dipaksa menerima pinangan seorang pemuda yang sungguhpun tampan dan gagah, akan tetapi entah mengapa, dalam perasaan hatinya tak tertarik kepada Gan Bu Gi itu, terdapat sesuatu yang membuat ia ragu-ragu. Ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menimbulkan ketidak percayaannya dan yang membuatnya yakin bahwa ia takkan dapat hidup bahagia sebagai isteri Gan Bu Gi.

Adapun tentang Gwat Kong, memang pemuda pelayan itu seorang yang jujur dan baik. Akan tetapi mencintai padanya? Gila benar! Seorang pelayan mencintai puteri Kepala daerah yang kaya raya dan berpengaruh, lagi pula Gwat Kong hanyalah seorang pelayan yang bodoh, tak mengerti ilmu silat dan buta huruf pula. Mengingat akan hal ini merahlah muka Tin Eng karena marah dan malu!

Ia menjadi serba salah. Ia tidak mau dipaksa kawin dengan Gan Bu Gi atau dengan siapapun juga. Ia belum bersedia mengikat diri dengan perkawinan. Akan tetapi, untuk membantah ayahnya pun sukar, karena ia maklum akan kekerasan hati orang tua. Kedua hal inilah yang membuatnya mengambil keputusan untuk merantau dan meluaskan pengalaman, untuk mengumpulkan pakaiannya yang terbaik dan semua perhiasannya untuk bekal di dalam perjalanan. Kemudian setelah membungkus semua itu menjadi sebuah buntalan besar yang ditalikan pada punggungnya. Ia lalu menggunakan kepandaiannya untuk keluar dari jendela kamarnya, melompat naik ke atas genteng, lalu berlari pergi dengan cepat! Beberapa kali ia menengok ke arah gedung di mana ayah dan ibunya tinggal, akan tetapi ia dapat mengeraskan hatinya dan terus lari pergi keluarkota dan menuju ke selatan. Ia tidak lupa untuk membawa kitab pelajaran ilmu pedang Garuda Sakti yang dimasukkan pula kedalam buntalannya. Pedang ia gantung pada pinggang dan sekantong piauw (senjata rahasia yang disambitkan) tergantung pula di dekat pedang.

Biarpun sudah tak bundar lagi, namun bulan masih muncul malam itu sehingga Tin Eng dapat melanjutkan perjalanannya. Ketika berlari di dalam cahaya bulan seorang diri, di atas jalan yang sunyi itu, ia merasa gembira seperti seekor burung yang terlepas terbang bebas di udara. Akan tetapi menjelang tengah malam, ketika ia tiba di pinggir sebuah hutan yang sunyi dan hawa malam yang dingin menyerang tubuhnya, ia mulai merasa tak enak dan takut.

Sebagai puteri seorang bangsawan, belum pernah ia melakukan perjalanan malam seorang diri dan perasaan takut dan menyesal mulai menyerang hatinya. Ia tidak takut segala maling atau perampok, akan tetapi melihat bayang-bayangan pohon dan tetumbuhan yang menghitam dan nampak menyeramkan bagaikan setan-setan di bawah sinar bulan itu, ia benar-benar menjadi takut dan meremanglah bulu tengkuknya. Hawa dingin mengingatkan ia kepada kamarnya yang hangat dan enak. Biasanya pada saat seperti itu ia sudah meringkuk di bawah lindungan selimutnya yang tebal dan halus.

Advertisements

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: