Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 8

TERINGAT akan hal ini, ia segera berhenti di bawah sebatang pohon besar dan membuka buntalannya untuk mengeluarkan baju tebalnya yang segera dipakai untuk menahan dingin. Ia menunda perjalanannya dan duduk di bawah pohon menanti datangnya fajar. Akhirnya karena berduka dan lelah, ia tertidur juga di bawah pohon itu sampai pagi.

Beberapa hari kemudian, ia menjadi biasa dengan segala penderitaan ini dan dapat melanjutkan perjalanan dengan hati ringan. Ia tidak mau lagi bermalam di udara terbuka dan selalu menunda perjalanannya dalam sebuahkota atau kampung di waktu malam dan bermalam dalam sebuah kamar di rumah penginapan.

Ia mendengar tentang keindahankota Ki-ciu yang telah dikagumi semenjak lama dari buku-buku atau penuturan orang-orang ketika ia masih tinggal di gedung ayahnya, maka ia ingin mengunjungi tempat itu. Ia mendengar keterangan pelayan hotel bahwa untuk menuju ke Ki-ciu lebih baik mengambil jalan air, yakni berlayar sepanjang sungai Liang-ho yang selain cepat, juga mempunyai pemandangan yang indah.

“Memang masih ada bajak air yang suka mengganggu,” kata pelayan tua itu sambil memandang ke arah pedang yang tergantung di pinggang Tin Eng. “Akan tetapi, kurasa nona adalah seorang gagah yang tidak takut akan segala bajak pula. Kalau dibandingkan lebih banyak perampok yang mengganggu jalan darat dari pada bajak yang mengganggu jalan air.”

“Terima kasih, lopeh,” jawab Tin Eng. “Keteranganmu ini penting sekali dan aku akan menurut nasehatmu. Akan tetapi, di manakah adanya sungai Liang-ho itu dan apakah aku bisa mendapat perahu untuk dipakai menyeberang?”

“Dari kota ini, nona pergilah ke barat kurang lebih dua puluh mil jauhnya, nona akan tiba di sebuah dusun kecil di pinggir sungai Liang-ho dan di situ nona akan mendapatkan banyak sekali perahu para nelayan yang dapat disewa. Akan tetapi, lebih baik nona memilih perahu yang berlayar putih dan jangan menyewa perahu berlayar hitam.”

“Mengapakah, lopeh?”

“Aku mendengar bahwa kini ada perkumpulan Layar Hitam yang melakukan banyak pemerasan dan perbuatan jahat.”

Setelah mengucapkan banyak terima kasih dan memberi persen kepada pelayan rumah penginapan itu, Tin Eng lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke barat sebagaimana yang ditunjukkan oleh kakek pelayan itu. Benar saja, setelah berlari cepat sejauh kurang lebih dua puluh li, ia tiba di sebuah dusun yang cukup ramai di dekat sungai yang lebar. Rumah-rumah para nelayan memenuhi dusun-dusun itu dan hampir di setiap rumah tentu terlihat jala yang dijemur atau sedang dijahit dan dibetulkan oleh pemiliknya.

Di pinggir sungai terdapat banyak sekali perahu besar kecil. Benar saja sebagaimana perkiraan pelayan hotel tadi, nampak dua macam layar pada perahu-perahu itu, baik layar yang masih digulung maupun yang sudah dibuka itu.Ada yang berwarna hitam seluruhnya dan ada pula yang berwarna putih. Layar-layar itu sudah penuh tambalan, lebih-lebih yang putih. Beberapa orang nelayan bekerja di perahu masing-masing, ada yang menambal layar, ada yang membetulkan papan perahu, ada pula yang menambal dasar perahu yang bocor.

Tin Eng menghampiri dua orang yang sedang menambal layar putih di pinggir sungai. Kedua orang itu melihat seorang nona muda menghampiri, segera menunda pekerjaan mereka dan bertanya,

“Apakah nona hendak menyewa perahu?”

“Ya, aku ingin pergi ke Ki-ciu, apakah kalian dapat mengantarkan aku ke sana dengan perahumu dan berapakah sewanya?”

Kedua orang itu saling pandang dan yang memakai topi nelayan lebar lalu berkata, “Biasanya kalau hanya menyeberang saja sih tidak mahal, nona, akan tetapi ke Ki-ciu …” ia berhenti sebentar mengingat-ingat. “Dulu pernah ada orang pergi ke sana dan membayar lima tail perak.”

Tiba-tiba datang seorang tinggi besar ke tempat mereka dan orang ini sambil cengar cengir lalu bertanya kepada Tin Eng, “Apakah nona hendak menyewa perahu? Kemanakah?”

Tin Eng memandang tak senang kepada orang itu dan berkata, “Aku tidak ada urusan dengan kamu!”

Kemudian tanpa memperdulikan orang itu, Tin Eng berkata kepada kedua nelayan yang diajaknya bicara tadi. “Begini saja lopeh, aku minta kau mengantar aku ke Ki-ciu dan untuk itu akan kubayar sewanya secukupnya, akupun berani membayar sedemikian.”

“Lima tail perak?” kata orang tinggi besar itu menyela. “Murah amat! Sedikitnya harus lima belas tail perak!” Sambil berkata demikian orang itu menolak pinggang dan memandang kepada kedua orang nelayan itu dengan mata mengancam.

Tin Eng tanpa memperdulikan orang itu lalu berkata kepada dua orang nelayan tadi, “Bagaimana? Berapakah kalian minta?”

Dengan suara berat dan menundukkan kepalanya, nelayan yang lebih tua itu menjawab, “Sedikitnya lima belas tail perak, nona.”

Tin Eng tercengang dan ia mulai mengerling ke arah orang tinggi besar itu dengan penuh perhatian. Ternyata orang itu berwajah kejam dan usianya kurang lebih tiga puluh tahun, matanya lebar dan bertopi nelayan pula, Melihat gerak geriknya, ia tentu seorang yang bertenaga kuat dan mengerti ilmu silat pula. Tin Eng menduga-duga siapakah adanya orang ini, akan tetapi ia tidak mau mencari pertengkaran maka ia lalu menjawab nelayan tua itu, “Baiklah, lopeh aku mau membayar lima belas tail perak.”

Kedua nelayan itu memandang kepada Tin Eng dengan mata mengandung rasa kasihan, akan tetapi tiba-tiba nelayan tinggi besar yang berdiri di belakang Tin Eng itu berkata lagi,

“Harus dibayar di muka sepuluh tail dulu, baru bisa berangkat!”

Kini Tin Eng tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia cepat memutar tubuh menghadapi orang tinggi besar itu sambil membentak,

“Bangsat kasar, tutup mulutmu yang busuk!”

Nelayan tinggi besar itu memandang dengan senyum menyeringai, seakan-akan memandang rendah kepada Tin Eng, lalu berkata, “Aduh, jangan galak-galak, nona. Paling baik kau lekas keluarkan uang muka sepuluh tail perak, kalau tidak jangan harap kau bisa menyewa perahu di sini!”

“Orang liar! Aku tidak berurusan dengan kau dan tidak sudi menyewa perahumu! Mengapa kau harus mencampuri urusanku. Pergilah!” Sambil berkata demikian, Tin Eng gunakan tangan kirinya untuk mendorong orang itu, akan tetapi sambil tertawa cengar cengir orang itu berkata,

“Ah, agaknya kau mau mengenal kelihaianku!” Lalu cepat ia mengulur tangan hendak menangkap lengan Tin Eng yang mendorongnya itu. Akan tetapi, Tin Eng tentu saja tidak mau ditangkap lengannya begitu saja. Ia lalu menarik kembali tangannya dan mengirim tendangan ke arah lambung nelayan kasar itu. Tendangannya tepat mengenai lambung nelayan itu, akan tetapi biarpun nelayan itu terguling-guling sampai beberapa kali, ia tidak menjadi kapok, bahkan dengan amat marahnya ia lalu melompat bangun dan mencabut goloknya.

“Bangsat perempuan, kau mau mampus?” bentaknya sambil menyerang, akan tetapi dengan cepat sekali Tin Eng telah mencabut pedangnya dan sekali saja pedangnya berkelebat dalam gerakan yang aneh, nelayan kasar itu menjerit ngeri, goloknya terlempar dan lengan tangannya berlumuran darah.

“Bajingan kasar, kalau aku mau, lehermu telah putus!” kata Tin Eng dan nelayan itu tanpa berani berkata apa-apa lagi lalu berlari pergi.

“Siapakah dia?” tanya Tin Eng.

Nelayan tua itu menarik napas panjang. “Kau mencari penyakit, nona. Dia adalah seorang anggauta Layar Hitam yang telah lama merajalela di sini, dan kami perkumpulan Layar Putih selalu diperasnya. Kami harus menyerahkan setengah bagian dari pada hasil yang kami peroleh kepada mereka, karena itulah maka mereka yang menetapkan tarif sewa perahu.”

“Bangsat benar! Jangan kuatir, aku akan membasmi mereka!” kata Tin Eng dengan marah sekali.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan keras yang nyaring dari atas sebuah perahu besar, dan ketika Tin Eng dan kedua orang nelayan itu menengok, ternyata di atas perahu besar yang berlayar putih dan masih tergulung, berdiri seorang perempuan muda dengan sikap gagah. Perempuan itu usianya sebaya dengan Tin Eng, tubuhnya tegap langsing dan rambutnya dikuncir panjang, akan tetapi yang pada saat itu diselipkan di dalam punggungnya. Kepalanya memakai sebuah kopiah bulu yang halus, pakaiannya dari sutera mahal. Ia berdiri dengan gagah dan berteriak nyaring,

“Hek-liong-ong (Raja Naga Hitam) ! Keluarlah untuk terima binasa!”

Teriakan ini ia keluarkan berulang-ulang. Beberapa nelayan yang bertopi seperti nelayan tinggi besar yang dikalahkan oleh Tin Eng tadi melompat naik sambil memaki. Akan tetapi beberapa kali saja dua kaki gadis gagah itu bergerak, empat orang nelayan yang mencoba untuk menyerbunya itu kena ditendang dan tercebur ke dalam air.

“Ha ha!” Gadis itu tertawa keras. “Kalian ini anjing-anjing rendah, mengapa tak tahu diri dan berani mendekati Dewi Tangan Maut? Suruh Hek-liong-ong si anjing tua itu keluar. Aku tidak sudi berurusan dengan anjing-anjing kentut sekalian!”

Tin Eng memandang kagum dan ia bertanya kepada nelayan tua yang berdiri dengan wajah pucat. “Lopeh, siapakah Hek-liong-ong yang ia tantang itu?”

“Hek-liong-ong adalah ketua dari perkumpulan Layar Hitam! Kalau nona itu betul-betul Dewi Tangan Maut, akan hebatlah pertempuran nanti!”

“Siapakah Dewi Tangan Maut?” tanya pula Tin Eng dengan hati amat tertarik.

Nelayan tua itu memandang kepada Tin Eng dengan mata heran karena ada orang yang belum mendengar nama ini. “Dia adalah seorang pendekar wanita yang ditakuti orang karena gagah berani dan ganas!”

Tin Eng merasa suka kepada nona pendekar itu, maka ia lalu berjalan lebih dekat untuk melihat apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian, dari dusun itu keluarlah seorang laki-laki berbaju putih bercelana hitam dan yang memakai topi seperti para anggauta Layar Hitam itu. Tindakan kakinya tetap dan kuat, menandakan bahwa ilmu silatnya tinggi. Mukanya hitam dan rambutnya sudah banyak yang putih, akan tetapi mukanya amat kejam dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya liar.

Ia diikuti oleh belasan orang anggauta Layar Hitam. Dengan langkah lebar ia lalu menghampiri perahu di mana Dewi Tangan Maut itu masih berdiri, dan ketika nona itu melihat kedatangan Hek-liong-ong, ia tertawa dan sambil tersenyum manis ia berkata,

“Hek-liong-ong! Aku telah datang untuk menghancurkan kau yang penuh kejahatan itu!”

Marahlah Hek-liong-ong mendengar hinaan ini. Dengan gerakan ringan sekali ia melompat ke atas perahu besar, sedangkan dua orang kawannya pun melompat ke atas perahu kecil yang berada di dekat perahu besar itu, siap untuk membantu Hek-liong-ong. Kedua orang ini adalah dua orang wakil kepala Layar Hitam yang berkepandaian tinggi pula, seorang setengah tua yang menjadi sute (adik seperguruan) Hek-liong-ong dan seorang pula masih muda dan berkopiah putih yang juga memiliki ilmu silat tinggi.

Sementara itu, belasan orang anak buah perkumpulan Layar Hitam berdiri di tepi sungai sambil bertolak pinggang. Agaknya hendak menghadang kalau Dewi Tangan Maut akan melarikan diri ke atas darat! Sikap mereka mengancam dan bengis sekali.

Setelah berada di atas perahu besar dan berdiri menghadapi Dewi Tangan Maut yang memandangnya dengan mengejek dan bertolak pinggang, Hek-liong-ong menunjuk dengan tangan kirinya dan berkata keras,

“Dewi Tangan Maut! Kau mau merajalela di darat mengapa berlancang tangan dan mengotorkan keadaan di sungai? Apa kau kira aku Hek-liong-ong takut kepadamu?”

“Hek-liong-ong,” jawab dara pendekar itu sambil tersenyum tenang. “Tak perlu dipersoalkan darat atau sungai, tak perlu dipersoalkan pula tentang kau takut kepadaku atau pun tidak! Akan tetapi yang penting ialah bahwa kau telah berlaku terlampau kejam dan berbuat sewenang-wenang! Kau telah menyiksa seorang nelayan, menyeretnya di atas tanah dengan berkuda sehingga orang itu hampir mati tersiksa sedangkan kemarin kau telah menyiksa pula seorang nelayan yang kau ikat kaki tangannya dan kau tenggelamkan berkali-kali ke dalam air sehingga ia mati! Perbuatan ini lebih kejam dari pada perbuatan binatang liar, dan setelah aku Dewi Tangan Maut mendengar tentang hal ini, apa kau kira aku bisa mendiamkan saja kekejaman ini merajalela, biar di atas sungai sekalipun?”

“Dewi Tangan Maut! Kau tak perlu mencampuri urusanku! Hal yang terjadi itu adalah urusan dalam perkumpulanku sendiri dan tak seorangpun boleh mencampurinya! Aku menghukum nelayan-nelayan yang berdosa, apakah sangkut pautnya dengan kau?”

Kembali nona pendekar itu tertawa menghina. “Kalau kau menghukum orang-orangmu sendiri yang kesemuanya terdiri dari bajak-bajak dan penjahat-penjahat, aku takkan perduli sama sekali! Akan tetapi justru yang kau siksa itu adalah nelayan-nelayan biasa, orang baik-baik yang tidak mau menurut perintahmu!”

Makin marahlah Hek-liong-ong. Ia mencabut keluar senjatanya, yakni sepasang dayung dan membentak, “Perempuan sombong! Habis kau mau apa?”

“Bagus, bagus sudah kuduga bahwa anjing tua yang mau mampus tentu akan menyalak-nyalak dulu!” jawab nona itu sambil mencabut pedangnya.

Hek-liong-ong menyerbu dengan sepasang dayungnya yang hebat itu, akan tetapi lawannya mengelak dengan mudah dan mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya. Pertempuran hebat itu ditambah pula dengan majunya dua orang wakil ketua Layar Hitam sehingga menjadi makin seru. Gadis yang diberi julukan Dewi Tangan Maut itu benar-benar gagah perkasa, karena biarpun dikeroyok oleh Hek-liong-ong yang mainkan sepasang dayung secara hebat dan oleh dua orang yang mainkan golok secara buas pula.

Namun ia dapat melayani mereka dengan baik bahkan melancarkan serangan-serangan pembalasan yang benar-benar merupakan tangan maut karena sekali saja serangan pedangnya mengenai sasaran, pasti lawannya yang terkena akan tewas di saat itu juga. Tin Eng merasa kagum dan juga bergidik, karena ternyata bahwa ilmu pedang gadis itu benar-benar ganas sekali.

Sementara itu, belasan orang yang menjadi anak buah Layar Hitam itu kini telah bertambah jumlahnya dan menjadi kurang lebih tiga puluh orang. Sikap mereka mengancam sekali dan ketika mereka melihat betapa ketiga orang ketua mereka tak dapat menangkan Dewi Tangan Maut, mereka mulai berteriak-teriak hendak maju mengeroyok.

Tiba-tiba terdengar seorang di antara mereka berseru, “Tenggelamkan perahunya! Biarkan ia tenggelam dalam air, tentu tidak berdaya!”

Tin Eng merasa terkejut mendengar maksud keji ini dan ia telah melihat betapa belasan orang mulai menyeburkan diri ke dalam air untuk menggulingkan perahu di mana ketiga pemimpin Layar Hitam itu sedang mengeroyok Dewi Tangan Maut.

“Cici, kau lompatlah segera ke darat! Mereka hendak menggulingkan perahu!” Tin Eng berteriak keras sambil melompat mendekati pantai dan ketika tiga orang anggauta Layar Hitam dengan marah menyerangnya, ia merobohkan mereka dengan sekali dorong.

Dewi Tangan Maut merasa marah sekali mendengar tentang maksud curang ini. Pedangnya bergerak cepat dan terdengar jerit kesakitan dan darah tersembur keluar dari dada seorang di antara ke tiga pengeroyoknya, yakni sute dari Hek-liong-ong. Korban ini roboh dengan dada tertembus pedang dan tewas pada saat itu juga. Hal ini membuat Hek-liong-ong dan seorang kawannya menjadi jerih.

Pada saat itu perahu sudah mulai bergoyang-goyang dan Dewi Tangan Maut segera melompat ke darat, diikuti oleh Hek-liong-ong dan anak buahnya yang mengejar. Maka terjadilah pertempuran di darat yang lebih hebat dari pada pertempuran di atas perahu tadi. Dewi Tangan Maut dikeroyok oleh puluhan orang.

Akan tetapi sambil putar-putar pedangnya, nona pendekar itu masih sempat memandang kepada Tin Eng dan tersenyum manis sambil berkata, “Adik yang baik, terima kasih.”

Melihat betapa nona pendekar itu dikeroyok oleh demikian banyak orang yang semuanya memegang senjata, Tin Eng menjadi tak tega dan sambil mencabut pedangnya, ia menyerbu dan membentak,

“Kawanan tikus tak tahu malu! Jangan mengandalkan keroyokan menghina orang!”

Hebat sekali permainan pedang Tin Eng ini. Setiap kali pedangnya berkelebat, tentu senjata seorang lawan kena dibikin terlepas dan tangan yang memegang terluka. Terdengar jerit dan pekik karena sakit dan terkejut, bahkan Dewi Tangan Maut itu sendiri merasa kagum dan terkejut melihat kehebatan sepak terjang Tin Eng. Akan tetapi, Tin Eng tidak seganas dia sehingga lawan-lawan yang kena dirobohkan oleh Tin Eng tidak ada yang menderita luka berat, sungguhpun mereka itu tak dapat maju mengeroyok pula.

Sedangkan Dewi Tangan Maut ketika melihat kehebatan Tin Eng, tidak mau kalah. Ia berseru nyaring dan ketika pedangnya berkelebat cepat beberapa kali, robohlah tiga orang anak buah Layar Hitam dengan dada tertembus pedang atau leher terbacok sehingga mereka tewas pada saat itu juga.

Melihat ini Tin Eng mendapat pikiran untuk merobohkan kepala penjahat dulu, karena kalau dilanjutkan semua anak buah Layar Hitam ini bisa mati semua dalam tangan Dewi Tangan Maut yang ganas. Ia melompat dan cepat mengirim serangan kepada Hek-liong-ong yang menjadi terkejut karena menghadapi serangan Dewi Tangan Maut sendiri saja ia sudah merasa sibuk, apalagi kini ditambah oleh seorang lawan lain yang tidak kalah lihainya.

Di dalam kegugupannya, tangan kanannya tersabet oleh pedang Tin Eng sehingga sambil menjerit, ia melepaskan dayungnya dan segera teriakannya itu disambung dengan pekik hebat karena Dewi Tangan Maut telah menggerakkan pedangnya menabas batang lehernya. Pemuda yang menjadi pembantunya itu melihat kejadian ini menjadi terkejut dan kesima, sehingga sebelum ia tahu apa yang terjadi, kembali pedang Dewi Tangan Maut menyambar dan menusuk dadanya sehingga iapun rebah mandi darah dan tewas.

Tin Eng merasa ngeri sekali dan segera ia menahan pedangnya. Akan tetapi dengan wajah gembira, Dewi Tangan Maut mengamuk terus sehingga beberapa orang anak buah Layar Hitam kembali menjadi korban pedangnya.

“Cici, tahan dan ampuni mereka!” kata Tin Eng sambil melompat dan menahan amukan pendekar wanita yang ganas itu. Kemudian Tin Eng berseru kepada semua anggauta Layar Hitam, “Lemparkan senjata dan berlututlah untuk menyerah!”

Memang semua anggauta gerombolan itu telah menjadi ketakutan dan ngeri melihat kehebatan kedua pendekar wanita itu, maka mendengar bentakan ini mereka lalu melempar pedang masing-masing dan berlutut minta ampun.

Dewi Tangan Maut tertawa bergelak dan sambil menggerak-gerakkan pedangnya mengancam, ia berkata, “Untung bahwa hari ini ada bidadari penolong yang mintakan ampun untuk jiwa anjing kalian, kalau tidak, jangan harap ada seorang pun penjahat yang dapat lolos dari ujung pedangku! Mulai sekarang, jangan kalian berani-berani lagi mengganas. Uruslah semua mayat ini baik-baik dan harap kalian dapat bekerja sama dengan para nelayan lain. Kalau lain kali aku mendengar lagi akan kejahatan kalian, aku takkan mau memberi ampun lagi, biarpun kalian berlutut seribu kali!”

Para anggauta Layar Hitam itu lalu mengangkat semua mayat dan mengurusnya baik-baik, dibantu oleh nelayan-nelayan biasa dan anggauta-anggauta Layar Putih yang diam-diam merasa girang sekali karena kejahatan yang selalu menekan dan mengganggu mereka itu akhirnya dapat terbasmi sekali gus. Dewi Tangan Maut menghampiri Tin Eng dan sambil tersenyum bertanya,

“Adik yang gagah perkasa, siapakah kau? Ilmu pedangmu sungguh-sungguh mengagumkan hatiku!”

“Kepandaianku biasa saja, mana dapat dibandingkan dengan cici yang benar-benar merupakan Dewi Penyebar Maut? Aku bernama Liok Tin Eng, tidak tahu cici ini bernama siapakah?”

“Namaku Kui Hwa, she Tan. Aku anak murid Hoa-san-pai dan aku paling benci kepada kejahatan. Adik Eng, kau ternyata berhati lemah dan sebenarnya keliru sekali perbuatanmu tadi yang memberi ampun kepada para penjahat. Orang-orang kejam macam mereka itu harus dibasmi, barulah keadaan menjadi benar-benar aman!”

“Akan tetapi, Tan-cici, mereka juga manusia dan kalau kiranya masih dapat diusahakan, lebih baik mengampuni mereka agar mereka berubah menjadi orang baik-baik.”

Kui Hwa tersenyum, lenyaplah sifat galaknya, bahkan dalam pandangan Tin Eng, dara pendekar ini nampak cantik jelita dan manis sekali, pantas disebut Dewi. “Mungkin kau benar, adikku, akan tetapi, lebih besar kemungkinan kau akan kecele, karena biasanya orang yang mempunyai dasar jahat sukar sekali untuk diperbaiki lagi.”

Tin Eng hanya tersenyum saja mendengar pendapat Dewi Tangan Maut itu, tidak mau membantah sungguhpun di dalam hatinya ia tidak setuju dengan pendapat ini.

“Adik Tin Eng, sebetulnya kau hendak ke manakah maka sampai bisa datang ke tempat ini?” tanya Kui Hwa yang ramah tamah.

“Aku hendak menyewa perahu ke Ki-ciu. Telah lama aku mendengar keindahan Ki-ciu dan ingin merantau ke sana meluaskan pengalaman. Kebetulan sekali aku bertemu dengan gerombolan Layar Hitam sehingga kalau seandainya cici tidak datang turun tangan, tentu aku pun akan bertempur dengan mereka.” Tin Eng lalu menceritakan tentang pertempurannya dengan seorang anggauta Layar Hitam yang kasar tadi.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: