Pendekar Arak dari Kanglam ~ Jilid 9

Si Dewi Tangan Maut mengangguk-angguk dan berkata, “Memang tadi telah kulihat betapa lihainya ilmu silatmu. Aku ingin memperkenalkan kau kepada kawan-kawanku dan biarlah lain kali kita bertemu pula.”

Kemudian Tin Eng menyewa perahu Layar Hitam yang paling baik dan dua orang anggauta Layar Hitam yang telah berubah amat baik dan menghormati sikapnya, lalu mendayung perahu itu ke tengah sungai. Setelah tiba di sungai, layar dikembangkan dan perahu kecil itu melaju menuju Ki-ciu.

Benar saja, pemandangan alam di kanan kiri sungai itu amat indahnya sehingga Tin Eng merasa gembira sekali. Terutama apabila ia teringat kepada Dewi Tangan Maut yang kini telah menjadi seorang kenalan baik. Ia merasa kagum kepada nona pendekar itu dan hatinya makin gembira apabila ia ingat bahwa di dalam perantauan ini ia tentu akan bertemu dengan orang-orang gagah seperti nona she Tan itu. Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa pada waktu itu Bun Gwat Kong, pelayannya yang menjadi biang keladi perantauannya ini sedang menuju ke Kang-lam untuk mencari Tan Kui Hwa atau Dewi Tangan Maut yang menjadi puteri dari musuh besarnya.

Juga gadis ini tidak pernah menduga bahwa ia sedang berada di dalam bahaya dan bahwa ucapan Dewi Tangan Maut tadi yang menyatakan bahwa penjahat-penjahat itu patut dibasmi karena dasarnya jahat akan tetap jahat! Karena di luar persangkaannya, kedua orang anggauta Layar Hitam yang kini mengemudi perahu yang ditumpanginya ternyata mengandung maksud jahat terhadap dirinya.

Hari telah mulai senja ketika perahu itu tiba di dalam sebuah hutan yang amat luas dan gelap. Juga sungai menjadi lebar ketika tiba di tempat ini, akan tetapi karena tidak ada angin, maka layar digulung dan perahu itu bergerak maju mengandalkan tenaga pendayung dari kedua orang itu. Perahu maju perlahan-lahan dan ketika tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba perahu itu berhenti.

Tin Eng hendak menegur kedua orang yang berhenti mendayung, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara suitan keras dari pinggir sebelah kiri dan kedua orang itu lalu membalas suara itu dengan bersuit keras pula. Sebelum Tin Eng dapat bertanya, kedua orang itu tiba-tiba lalu menyeburkan diri ke dalam air dan berenang ke pantai, meninggalkan perahu yang berhenti di tengah-tengah sungai.

Karena memang mereka tadi sengaja menghentikan perahu di tempat yang terhalang oleh batu-batu karang yang menonjol di tengah-tengah sungai. Tin Eng merasa terkejut dan heran sekali dan hatinya mulai merasa tidak enak.

“Hai! Kalian hendak pergi kemana?” tegurnya kepada dua orang pendayung tadi, akan tetapi kedua orang itu telah mendarat lalu lari ke dalam hutan dan lenyap.

Tin Eng merasa bingung sekali. Untuk mendayung perahu itu ia tidak sanggup karena ia memang tidak pernah mengemudikan perahu. Untuk melompat ke tepi pun tak mungkin karena letaknya kedua tepi di kanan kiri itu sedikitnya ada lima belas tombak dari perahunya. Berenangpun ia tak pandai.

Tak lama kemudian, dari pantai sebelah kiri muncullah banyak sekali orang yang membawa perahu-perahu kecil yang segera diturunkan ke dalam air. Mereka ini ternyata adalah bajak air yang telah mendapat berita dari dua orang anggauta Layar Hitam yang sengaja hendak membalas dendam.

Sebelumnya para anggauta Layar Hitam itu adalah bekas-bekas bajak air yang mengandalkan kekejaman mereka atas pengaruh bajak air ini dan mereka selalu membagi hasil-hasil pemerasan mereka kepada bajak-bajak ini sehingga tentu saja ketika mendengar betapa tiga orang pemimpin Layar Hitam terbunuh dan perkumpulan itu diobrak-abrik oleh Tin Eng dan Dewi Tangan Maut, mereka menjadi marah dan hendak membalas dendam.

Akan tetapi yang menarik perhatian kepala bajak itu adalah cerita kedua orang anggauta Layar Hitam tadi bahwa gadis yang menumpang di dalam perahu mereka dan yang telah ikut menghancurkan perkumpulannya adalah seorang gadis cantik jelita. Kepala bajak ini adalah seorang bajak muda yang rakus akan paras cantik, maka begitu mendengar berita ini ia lalu mengerahkan anak buahnya untuk pergi mengeroyok dan menangkap gadis itu.

Melihat orang banyak itu, Tin Eng maklum bahwa mereka tentulah penjahat-penjahat yang bermaksud jahat, maka ia segera mencabut pedangnya dan bersiap sedia menghadapi serbuan mereka. Diam-diam ia merasa gemas sekali kepada dua orang tukang perahu tadi dan mengakui kebenaran ucapan Dewi Tangan Maut, maka ia mengambil keputusan untuk membasmi orang jahat ini sampai ke akar-akarnya.

Perahu-perahu kecil itu segera di dayung dan sebentar saja perahu yang ditumpangi oleh Tin Eng dikurung dari segala jurusan. Kepala bajak yang mengenakan pakaian biru dan dengan sepasang kampak di tangan berdiri di kepala perahu terdepan dengan sikap gagah. Di sebelahnya berdiri dua orang tukang perahu anggauta Layar Hitam yang melapor tadi.

Tin Eng memandang ke arah mereka dengan mata merah. “He, kalian hendak berbuat apakah?” tanyanya dengan gemas.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: