Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 10

Sampai esok paginya lagi, ke-32 langkah itu sudah dapat dipecahkan seluruhnya. Diam-diam ia menghafalkan lagi seluruh ke-64 segi itu dari awal sampai akhir. Dan nyatanya memang berjalan dengan lancar.

Ibaratnya orang yang mogok di tengah jalan karena menghadapi jalan buntu, kini mendadak jalan itu dapat ditembus, keruan Toan Ki sangat girang, terus saja ia meloncat bangun sambil bertepuk tangan dan berseru, “Bagus, bagus!”

Mendadak ia tertegun heran teringat pada dirinya kini sudah dapat bergerak lagi tanpa terasa.

Kejut dan girang Toan Ki tidak terkira, ia khawatir lupa, maka ke-64 gerak langkah itu diulanginya beberapa kali hingga hafal benar-benar, ia melangkah perlahan setindak demi setindak hingga akhirnya tercapai dengan bulat, ia merasa semangatnya tambah kuat dan segar. Meski sudah beberapa hari tidak makan, tapi toh tidak terasa lapar.

Ia memberi hormat ke arah patung dan mengucapkan terima kasih, lalu cepat berlari keluar dari gua itu. Dengan mengikuti jalan yang pernah dilaluinya, ia melintasi “Sian-jin-toh” dan kembali ke Bu-liang-san, akhirnya berjumpa pula dengan Bok Wan-jing.

Demikianlah ia ceritakan pengalamannya itu kepada ayah dan paman, hanya mengenai patung cantik itu tidak ia ceritakan, ia bilang menemukan dua buah cermin perunggu dan dari tulisan ukiran di atas cermin itulah dapat diperoleh ilmu gerak langkah yang ajaib itu.

Ia merasa di hadapan orang sebanyak itu tidak pantas menceritakan dirinya kesengsem atas sebuah patung ayu, apalagi Bok Wan-jing tentu akan marah besar dan bukan mustahil dirinya bisa digampar pula.

Selesai Toan Ki bercerita, Po-ting-te lantas berkata, “Ke-64 gerak langkah itu terang mengandung semacam ilmu Lwekang yang mahatinggi, coba kau lakukan sekali lagi dari awal sampai akhir.”

Toan Ki mengiakan dan segera mulai berjalan selangkah demi selangkah menurut perhitungan Pat-kwa.

Po-ting-te, Toan Cing-sun dan Ko Sing-thay adalah ahli Lwekang, tapi terhadap keajaiban ilmu langkah itu mereka cuma bisa menangkap satu-dua bagian saja, selebihnya mereka pun merasa bingung.

Selesai Toan Ki melangkah ke-64 segi itu, persis ia putar suatu lingkaran besar dan tiba kembali di tempat semula.

Po-ting-te sangat girang, serunya, “Bagus sekali! Poh-hoat ini tiada bandingannya di seluruh jagat, sungguh beruntung sekali Ki-ji dapat memperolehnya, harap Ki-ji melatihnya lebih masak. Sekarang silakan omong dengan ibumu yang baru pulang istana.”

Lalu ia berpaling pada permaisurinya, “Marilah kita pulang!”

Honghou mengiakan sambil berbangkit. Segera Toan Cing-sun dan lain-lain mengantar Hongte dan Honghou keluar istana Tin-lam-ong.

Setelah berada di dalam istana sendiri, segera Toan Cing-sun mengadakan perjamuan untuk menyambut pulangnya sang istri dan datangnya Bok Wan-jing. Satu meja perjamuan hanya empat orang, yaitu Toan Cing-sun suami istri, Toan Ki dan Wan-jing, tapi dayang yang melayani hampir 20 orang banyaknya.

Sudah tentu selama hidup Bok Wan-jing belum pernah melihat kemewahan demikian, begitu pula semua masakan yang disuguhkan di situ jangankan melihat, bahkan mendengar pun tidak pernah. Tapi demi tampak ayah-bunda Toan Ki memandang dirinya sebagai anggota keluarga sendiri, diam-diam ia pun sangat senang.

Melihat sikap ibunya terhadap ayahnya tetap dingin saja, tidak mau minum arak dan tidak makan daging, hanya dahar sedikit sayuran saja, segera Toan Ki menuang satu cawan arak dan berkata, “Mak, marilah anak menghormati engkau secawan!”

“Tidak, aku tidak minum arak,” sahut Yau-toan-siancu.

Tapi Toan Ki menuang lagi secawan dan mengedipi Wan-jing, katanya pula, “Minumlah Mak, nona Bok juga ingin menyuguh engkau secawan!”

Segera Bok Wan-jing mengangkat cawan yang diangsurkan Toan Ki itu dan berdiri. Yau-toan-siancu menjadi tidak enak kalau bersikap dingin terhadap Bok Wan-jing, maka katanya dengan tersenyum, “Nona, putraku ini terlalu nakal, ayah-bundanya sukar mengendalikan dia, selanjutnya perlu kau bantu mengawasi dia lebih keras.”

“Tentu,” sahut Wan-jing, “kalau dia tidak menurut, kontan kujewer dia!”

Yau-toan-siancu mengikik geli oleh jawaban itu sambil melirik sang suami. Dengan kikuk Toan Cing-sun tertawa, ujarnya, “Memang harus begitu!”

Lalu Yau-toan-siancu menerima cawan arak suguhan Bok Wan-jing itu. Di bawah sinar lilin yang terang, Wan-jing melihat lengan nyonya pangeran itu putih halus bagai salju. Tiba-tiba dapat dilihatnya pula di punggung tangan dekat pergelangan terdapat sebuah andeng-andeng (tembong) merah sebesar mata uang. Seketika badan Wan-jing tergetar, cepat ia tanya dengan suara gemetar, “Apa … apakah engkau ber … bernama Si Pek-hong?”

“Dari mana kau tahu namaku?” sahut Yau-toan-siancu dengan tertawa.

“Engkau … benar-benar Si Pek-hong?” Wan-jing menegas pula dengan terputus-putus. “Bukankah dahulu engkau memakai senjata … senjata pecut?”

Melihat sikap gadis itu rada aneh, namun Yau-toan-siancu alias Si Pek-hong masih belum curiga, sahutnya pula dengan tersenyum, “Sungguh Ki-ji sangat baik padamu, sampai nama kecilku juga diberitahukan padamu.”

Mendadak Bok Wan-jing berteriak, “Budi guru mahatinggi, perintah guru tidak boleh dibangkang!”

Berbareng tangannya bergerak, dua batang panah beracun lantas menyambar ke dada Yau-toan-siancu.

Dalam perjamuan yang diliputi suasana riang gembira di antara anggota keluarga sendiri itu, sudah tentu siapa pun tidak menyangka bakal terjadi penyerangan mendadak dari Bok Wan-jing. Biarpun ilmu silat Yau-toan-siancu jauh lebih tinggi daripada Bok Wan-jing, tapi jarak kedua orang sangat dekat, pula terjadinya secara tiba-tiba, tampaknya kedua panah itu segera akan menancap di dada sasarannya.

Toan Cing-sun duduk di sebelah kiri Bok Wan-jing, begitu melihat gelagat jelek, cepat jarinya menutuk, tapi It-yang-ci yang lihai itu juga cuma membikin Bok Wan-jing tak bisa berkutik, sedang kedua panah masih tetap menyambar ke depan.

Sebaliknya Toan Ki duduk di sisi kanan, sudah beberapa kali ia pernah menyaksikan Bok Wan-jing menyerang dengan panahnya yang berbisa maut itu. Maka begitu tampak gadis itu ayun tangannya, segera ia tahu bakal celaka.

Ia tak mahir ilmu silat, tapi dengan “Leng-po-wi-poh” yang cepat luar biasa, tahu-tahu ia menyelinap mengadang di depan sang ibu hingga kedua panah berbisa tepat menancap di dadanya. Berbareng itu Bok Wan-jing sendiri merasa badan kaku dan tak bisa berkutik karena ditutuk Toan Cing-sun.

Betapa cepatnya Tin-lam-ong, menyusul sekaligus ia tutuk pula beberapa kali di sekitar luka Toan Ki yang terpanah itu agar racun tidak menyerang lebih dalam. Habis itu, ia putar balik dan memuntir tangan Bok Wan-jing hingga terlepas dari ruasnya, dengan demikian supaya gadis itu tak bisa melepaskan panah pula. Lalu ia bebaskan Hiat-to yang ditutuknya dan membentak, “Lekas keluarkan obat penawarnya!”

“Aku … aku tidak bermaksud memanah Toan-long, aku ingin … ingin membunuh Si Pek-hong!” demikian jerit Wan-jing setengah meratap. Dengan menahan sakit lengannya yang keseleo, cepat ia keluarkan dua botol kecil obat penawar racun, katanya, “Yang merah diminum, yang putih bubuhkan pada lukanya, lekas, harus lekas! Kalau terlambat tidak keburu tertolong lagi!”

Yau-toan-siancu melotot sekali kepada gadis itu, melihat begitu perhatiannya terhadap putranya yang sungguh-sungguh timbul dari lubuk hatinya, diam-diam ia dapat menduga sebab musabab kejadian ini. Segera ia rebut obat penawar itu dan mengobati Toan Ki menurut petunjuk Bok Wan-jing tadi.

“Terima kasih kepada langit dan bumi bahwa … bahwa jiwanya dapat diselamatkan, kalau … kalau tidak ….” demikian Bok Wan-jing tak sanggup meneruskan lagi ratapannya.

Sementara itu setelah terpanah, Toan Ki lantas jatuh pingsan di pangkuan sang ibu. Suami-istri Toan Cing-sun terus memerhatikan luka Toan Ki, melihat darah yang mengalir keluar dari luka itu dari hitam sudah berubah ungu, lalu menjadi merah kembali, mereka baru merasa lega karena tahu jiwa sang putra sudah dapat diselamatkan.

Segera Yau-toan-siancu pondong putranya ke dalam kamar, lalu keluar lagi ke ruangan makan itu.

“Tidak apa-apa bukan?” tanya Toan Cing-sun pada sang istri.

Tapi Yau-toan-siancu tak menjawabnya, sebaliknya lantas berkata kepada Bok Wan-jing, “Pergilah kau dan katakan pada Siu-lo-to Cin Ang-bian bahwa ….”

Mendengar disebutnya “Siu-lo-to Cin Ang-bian” itu, seketika air muka Toan Cing-sun berubah hebat, tanyanya dengan tergegap, “Kau … kau bilang apa?”

Tapi Yau-toan-siancu tak menggubrisnya, ia tetap berkata kepada Wan-jing, “Katakanlah padanya, jika dia menginginkan jiwaku, pakailah cara terbuka dan terang-terangan, tapi kalau main licik begini, tentu akan dibuat tertawaan orang saja.”

“Aku tidak kenal siapa gerangan Siu-lo-to Cin Ang-bian!” jawab Wan-jing keras-keras.

“Habis, siapa yang menyuruhmu membunuh diriku!” tanya Siancu.

“Guruku,” sahut Wan-jing. “Guruku menyuruhku membunuh dua orang. Yang seorang adalah engkau. Beliau menerangkan padaku bahwa pada tanganmu ada tembong merah besar, namanya Si Pek-hong, parasnya cantik, bersenjata pecut. Tapi dia tidak bilang engkau berdandan sebagai To-koh (imam wanita). Kulihat engkau memakai kebut pertapaan, bernama Yau-toan-siancu pula, sungguh tidak nyana bahwa engkaulah orang yang harus kubunuh menurut perintah guruku, lebih-lebih tak kusangka bahwa engkau adalah ibu Toan-long ….”

Berkata sampai di sini, tak tertahan lagi air matanya bercucuran.

“Dan orang kedua yang ingin dibunuh gurumu bukankah juga seorang wanita cantik, tangan kanannya kehilangan tiga jari?” tanya Si Pek-hong alias Yau-toan-siancu.

“Benar,” seru Wan-jing heran. “Dari mana engkau tahu? Wanita itu katanya she Keng ….”

Tiba-tiba pipi Si Pek-hong basah oleh air mata yang berlinang-linang, ia pikir sejenak, lalu berkata kepada sang suami, “Cing-sun, harap kau rawat Ki-ji baik-baik!”

“Pek-hong,” sahut Tin-lam-ong, “suka duka masa lalu buat apa tetap kau pikir?”

“Kau tidak pikir, tapi aku tetap memikirnya dan orang lain pun tidak pernah melupakannya,” sahut Si Pek-hong dengan rasa pedih. Habis ini, sekonyong-konyong ia melompat keluar melalui jendela.

Cepat Toan Cing-sun hendak menarik lengan bajunya, namun Si Pek-hong sempat angkat tangannya terus dan mengebas ke muka sang suami, untung Tin-lam-ong sempat mengegoskan kepalanya, “bret,” hanya kain lengan baju Si Pek-hong kena dirobeknya.

“Apa kau ajak berkelahi?” seru Si Pek-hong dengan gusar sambil menoleh.

“Pek-hong, kau ….” baru sekian Toan Cing-sun menjawab, segera Si Pek-hong melesat pergi dengan cepat.

Dari jauh terdengar bentakan Leng Jian-li yang keras, “Siapa itu?”

Lalu terdengar Si Pek-hong menjawab, “Aku!”

Terdengar Leng Jian-li berseru gugup, “Ah, kiranya Onghui!”

Habis itu, lalu sunyi senyap tiada suara lagi.

Cing-sun termangu-mangu berdiri di tempatnya, akhirnya ia menghela napas dan memandang Bok Wan-jing yang sementara itu tampak pucat pasi menahan sakit, tapi toh tidak melarikan diri. Ia mendekati gadis itu dan pegang lengannya, “krak,” ia betulkan lagi ruas tulang yang sengaja dipuntir keseleo tadi.

“Aku telah panah istrinya, entah siksaan keji apa yang hendak dilakukannya atas diriku?” demikian Wan-jing membatin.

Tak terduga Toan Cing-sun hanya diam saja, dengan lesu kemudian ia berduduk di atas kursinya, perlahan ia angkat cawan araknya tadi dan diminum habis sekaligus. Pandangannya terpaku ke arah perginya Si Pek-hong tadi dengan termangu-mangu.

Sejenak kemudian, ia menuang arak dan ditenggak habis lagi. Dengan cara menuang sendiri dan minum sendiri, tidak lama sudah 13 cawan dikeringkannya, kalau poci arak yang satu sudah kering, lantas menuang dari poci yang lain. Menuangnya sangat lambat, tapi meneguknya sangat cepat.

Makin lama Bok Wan-jing menjadi semakin kesal, saking tak tahan, akhirnya ia berteriak keras-keras, “Cara bagaimana hendak kau siksa aku, lekas kau lakukan!”

Baru sekarang Toan Cing-sun mendongak ke arahnya serta memandangnya tanpa berkedip. Selang agak lama, ia berkata, “Sungguh mirip! Seharusnya dapat kulihat sejak tadi. Ya, beginilah wajahnya dan beginilah tabiatnya ….”

Mendengar ucapan yang tak keruan tujuannya, Bok Wan-jing berseru pula, “Kau bilang apa? Ngaco-belo!”

Tapi Cing-sun tak menjawabnya, tiba-tiba ia berbangkit, perlahan telapak tangan kiri memotong miring ke belakang dengan perlahan, tahu-tahu sumbu lilin yang berkobar di belakangnya terpadam sebatang. Menyusul telapak tangan kanan memotong pula ke belakang dan lagi-lagi api lilin yang lain disirapkan.

Berturut-turut ia memadamkan lima batang api lilin, tapi pandangannya selalu melihat ke depan, gerak tangannya perlahan, tapi enteng dan indah gayanya.

“He, bukankah ini … ‘Ngo-lo-gin-yan-ciang’? Kenapa engkau juga bisa?” demikian tanya Wan-jing dengan heran dan terkejut.

“Pernahkah gurumu mengajarkan ilmu ini kepadamu?” tanya Cing-sun dengan tersenyum getir.

“Tidak pernah,” sahut si gadis. “Suhu bilang kepandaianku belum cukup masak untuk berlatih ilmu pukulan ini. Pula, Suhu menyatakan ilmu pukulannya ini pasti takkan diturunkan pada orang lain, kelak akan dibawa serta ke liang kubur.”

“O, jadi dia bilang takkan mengajarkannya pada orang lain dan akan dibawa serta ke liang kubur kelak?” Cing-sun menegas.

“Ya,” sahut Wan-jing. “Cuma Suhu masih sering melatihnya di luar tahuku, karena itu diam-diam aku sudah sering melihatnya juga.”

“Dia sering berlatih ilmu pukulan ini seorang diri?” Cing-sun menegas pula.

Wan-jing mengangguk, sahutnya, “Ya, setiap kali Suhu berlatih ilmu pukulan ini, tentu dia uring-uringan dan mendamprat aku. Tapi ken … kenapa kau pun bisa? Eh, malahan engkau seperti lebih pandai memainkannya daripada guruku.”

Toan Cing-sun menghela napas, katanya, “Ilmu ‘Ngo-lo-gin-yan-ciang’ ini akulah yang mengajarkan kepada Suhumu.”

Wan-jing terkejut, tapi ia percaya. Sebab setiap kali gurunya berlatih pukulan ini, sering kali diperlukan dua-tiga kali gerakan baru dapat memadamkan api lilin. Tapi Toan Cing-sun cukup sekali kebas sudah bisa sirapkan api lilin, geraknya indah dan dilakukan seperti seenaknya saja. Maka dengan tak lancar ia tanya pula, “Jadi engkau adalah gurunya Suhuku? Engkau adalah … adalah kakek guruku?”

“Bukan!” sahut Tin-lam-ong dengan menggeleng kepala. Kemudian ia komat-kamit sendiri sambil bertopang dagu, “Setiap kali dia berlatih tentu uring-uringan dan menyatakan ilmu ini takkan diajarkan pada orang lain, tapi akan dibawa ke liang kubur ….”

“Dan bagaimana engkau ….?”

Baru Wan-jing hendak tanya, tiba-tiba Toan Cing-sun menggoyang tangan mencegahnya supaya jangan bersuara. Lewat sebentar, ia tanya pula, “Tahun ini kau berumur 18, kau lahir dalam bulan sembilan, betul tidak?”

“He, dari mana kau tahu? Engkau pernah hubungan apa dengan Suhuku?” tanya Wan-jing heran.

Maka tertampaklah air muka Toan Cing-sun penuh rasa derita, dengan suara parau ia menjawab, “Aku merasa ber … berdosa pada gurumu, berdosa pula … padamu, Wan-jing, kau ….”

“Ada apa?” sahut si nona. “Kulihat engkau ini sangat ramah tamah, sangat baik.”

“Apakah nama gurumu tak pernah diberitahukan padamu?” tanya Cing-sun pula.

“Suhu bilang namanya ‘Bu-beng-khek’, tapi sebenarnya she apa dan namanya siapa, aku tidak mengetahuinya.”

“Bagaimana penghidupan gurumu selama bertahun-tahun ini? Di mana kalian tinggal?” tanya Cing-sun lebih jauh.

“Kami tinggal di balik suatu gunung yang tinggi dan tidak pernah bertemu dengan siapa pun, sejak kecil aku pun demikian.” sahut si gadis.

“Siapakah ayah-bundamu, apakah tak diberi tahu oleh gurumu?”

“Kata Suhu, aku adalah anak piatu yang dibuang oleh orang tua, Suhu menemukan aku di tepi jalan.”

“Kau benci pada ayah-bundamu atau tidak?”

Bok Wan-jing tidak lantas menjawab, ia menggigit-gigit kuku jarinya, berpikir sambil miringkan kepala.

Melihat sikap demikian itu, tak tertahan lagi hati Toan Cing-sun menjadi pilu dan meneteskan air mata.

Wan-jing tambah heran melihat pangeran itu menangis, tanyanya, “He, kenapa engkau menangis?”

Lekas Tin-lam-ong berpaling dan mengusap air matanya, lalu paksakan diri tertawa dan menjawab, “Ah, masakah aku menangis? Karena pengaruh arak, mataku menjadi pedas!”

Sudah tentu si gadis tak percaya, katanya, “Terang kulihat engkau menangis. Biasanya cuma wanita yang menangis, jadi laki-laki juga bisa menangis? Aku tak pernah melihat orang laki-laki menangis, kecuali anak kecil.”

Melihat gadis itu sama sekali tidak mengerti peradaban orang hidup, Tin-lam-ong menjadi lebih terharu, katanya kemudian, “Wan-jing, harus kujaga baik-baik dirimu barulah dapat sekadar mengganti kesalahanku yang lalu, adakah sesuatu cita-citamu, coba katakan padaku, pasti akan kulaksanakan sepenuh tenaga bagimu.”

Sebenarnya hati Bok Wan-jing kebat-kebit karena habis memanah nyonya Toan, tapi demi mendengar ucapan Toan Cing-sun ini, ia menjadi girang, serunya, “Jadi engkau tidak marah lagi karena aku memanah istrimu?”

“Justru seperti apa yang kau katakan tadi, ‘budi guru mahatinggi, perintah guru sukar dibantah’, urusan orang tua masa dahulu tiada sangkut pautnya dengan dirimu, maka aku takkan marah padamu. Cuma lain kali jangan lagi kurang sopan kepada istriku.”

“Tapi kelak bila ditanya Suhuku lantas bagaimana?” kata Wan-jing.

“Bawalah aku menemui gurumu, biar kubicara padanya,” kata Cing-sun.

“Bagus!” seru Wan-jing dengan girang sambil bertepuk tangan. Tapi segera ia berkata pula dengan berkerut kening, “Namun guruku sering bilang bahwa laki-laki di dunia ini semuanya berhati palsu. Selamanya dia tidak sudi menemui orang laki-laki.”

Sekilas Cing-sun mengunjuk rasa heran, tanyanya cepat, “Gurumu selamanya tidak mau bertemu dengan orang laki-laki?”

“Ya, untuk keperluan sehari-hari, Suhu selalu suruh pelayan perempuan tua yang melakukannya,” sahut Wan-jing. “Satu kali, pelayan tua itu sakit dan suruh putranya mewakili belanja keperluan dapur, Suhu menjadi marah dan suruh dia taruh jauh-jauh di luar pintu dan melarangnya masuk ke rumah.”

“Ai, Ang-bian! Buat apa engkau menyiksa diri begitu?” demikian gumam Cing-sun sambil menghela napas.

“Kau sebut ‘Ang-bian’ lagi, sebenarnya siapakah gerangan ‘Ang-bian’ itu?” tanya Wan-jing.

“Urusan ini tak dapat membohongimu selamanya, biarlah kukatakan padamu. Gurumu asalnya bernama Cin Ang-bian, orang memberi julukan Siu-lo-to (si Hantu Ayu) padanya.”

“O, kiranya begitu! Pantas begitu melihat caraku membidikkan panah, nyonyamu lantas tanya aku pernah hubungan apa dengan Siu-lo-to Cin Ang-bian. Tatkala itu aku benar-benar tidak tahu, jadi bukan sengaja berdusta. Kiranya guruku bernama Cin Ang-bian. Ehm, indah benar namanya!”

“Tadi aku telah puntir tanganmu, masih sakit tidak sekarang?” tanya Cing-sun dengan menyesal.

Melihat sikap pangeran itu begitu ramah tamah, dengan tersenyum Wan-jing menjawab, “Sekarang sudah baik. Marilah kita pergi menjenguknya? Kukhawatir racun panahku itu belum lagi bersih dari lukanya.”

“Baiklah.” sahut Cing-sun sambil berbangkit. Lalu katanya pula, “Kau mempunyai keinginan apa, coba katakan padaku.”

Paras Bok Wan-jing menjadi merah jengah, ia menunduk dan menyahut, “Sesudah … sesudah kupanah istrimu, kukhawatir dia … dia akan marah padaku.”

“Kita minta maaf padanya, boleh jadi dia takkan marah lagi,” kata Cing-sun.

“Sebenarnya aku tidak pernah minta maaf pada siapa pun juga. Tapi demi Toan-long, tidak apalah biar kuminta ampun padanya kelak,” habis ini, tiba-tiba Wan-jing memberanikan diri dan berkata pula, “Tin-lam-ong, apabila kukatakan cita-citaku, apa benar engkau akan … akan melaksanakannya bagiku?”

“Sudah tentu, asal tenagaku mampu untuk melakukannya, pasti akan kulaksanakan bagimu,” sahut Cing-sun.

“Apa yang kau katakan ini, jangan kau mungkir janji,” ujar Wan-jing.

Tin-lam-ong tersenyum, ia mendekati si gadis dan membelai rambutnya dengan penuh rasa kasih sayang, jawabnya, “Aku pasti takkan mungkir janji.”

“Baiklah, jika begitu, urusan pernikahan kami harap engkau melaksanakannya, dia tidak boleh mengingkari janji dan berhati palsu,” habis mengucapkan kata-kata ini, wajah Wan-jing tampak berseri-seri.

Sebaliknya air muka Toan Cing-sun berubah guram dan perlahan menyurut mundur, lalu jatuhkan diri di atas kursinya dengan lesu. Sampai lama sekali tetap tidak bicara.

Melihat gelagatnya kurang benar, segera Bok Wan-jing mendesak lebih jauh, “Engkau … engkau menyanggupi tidak?”

“Tidak, kau pasti tidak boleh menikah dengan Ki-ji,” sahut Cing-sun kemudian dengan suara parau berat, tapi tegas.

Seketika hati Bok Wan-jing menjadi dingin, seakan-akan diguyur seember air, tanyanya dengan terputus-putus, “Sebab apa? Se … sebab? Dia … dia sendiri sudah berjanji padaku.”

Tapi Toan Cing-sun hanya menjawab singkat, “Karma, karma!”

Wan-jing semakin gugup, serunya, “Jika dia tidak mau lagi padaku, aku … aku lantas membunuhnya, lalu … lalu membunuh diri. Sebab aku telah … telah bersumpah di hadapan Suhu.”

“Tidak bisa!” sahut Cing-sun sambil geleng kepala perlahan.

“Mengapa tidak? Biar kutanya dia!”

“Ki-ji sendiri pun tidak tahu,” ujar Cing-sun. Dan ketika melihat rasa duka si gadis yang memilukan itu mirip benar dengan kejadian 18 tahun yang lalu, di mana ketika mendadak Cin Ang-bian mendengar berita duka, tidak bisa menahan perasaannya lagi, tercetuslah dari mulutnya, “Kau tak boleh menikah dengan Ki-ji, juga tak boleh membunuhnya!”

“Sebab apa?”

“Sebab … sebab Toan Ki adalah kakakmu sendiri!”

Seketika mata Bok Wan-jing terbelalak lebar, sungguh ia tidak percaya pada telinga sendiri, tanyanya dengan suara gemetar, “Ap … apa katamu? Kau … kau bilang Toan-long adalah kakakku?”

“Ya,” sahut Cing-sun tegas. “Wan-jing, apa kau tidak tahu siapakah sebenarnya gurumu itu? Dia adalah ibu kandungmu dan aku ini ayahmu!”

Terperanjat dan gusar tak terhingga rasa Bok Wan-jing hingga wajahnya pucat pasi, katanya dengan terputus-putus, “Aku tidak … tidak percaya, aku tidak percaya!”

Sekonyong-konyong terdengar seorang menghela napas panjang di luar jendela, lalu suara seorang wanita berkata, “Wan-jing, marilah kita pulang saja!”

“Hei, Suhu!” teriak Wan-jing sambil putar tubuh dengan cepat.

“Srek,” mendadak jendela terbuka, maka tertampaklah di luar berdiri seorang wanita setengah umur, berwajah bulat telur, alis lentik, mata jeli, parasnya sangat cantik, sinar matanya bercahaya bengis menandakan kekerasan hatinya.

Melihat bekas kekasihnya, yaitu Siu-lo-to Cin Ang-bian mendadak muncul di situ, Toan Cing-sun kaget dan girang, serunya keras, “Ang-bian, Ang-bian! Selama beberapa tahun ini, entah betapa aku merindukan dikau!”

Namun Cin Ang-bian tidak menjawab, katanya pula kepada Bok Wan-jing, “Wan-jing, marilah keluar! Rumah manusia yang tipis budi dan berhati palsu, jangan tinggal terlalu lama di sini!”

Melihat sikap sang guru terhadap Toan Cing-sun itu, perasaan Bok Wan-jing menjadi lebih tertekan, serunya tak lancar, “Suhu, dia … dia dusta padaku, katanya engkau adalah … adalah ibuku dan dia … dia ayahku.”

“Ibumu sudah lama meninggal, begitu pula ayahmu,” sahut Cin Ang-bian dengan dingin.

Mendadak Toan Cing-sun berlari ke ambang jendela, serunya dengan suara memohon, “Ang-bian, marilah masuk ke sini, biar kupandang engkau barang sebentar. Jangan lagi engkau tinggalkan daku, marilah selanjutnya kita hidup berdampingan bersama.”

Tiba-tiba sinar mata Cin Ang-bian berkilat-kilat, tanyanya, “Kau bilang kita akan hidup berdampingan untuk selama-lamanya? Benar demikian maksudmu?”

“Ya, benar, benar!” sahut Cing-sun. “O, Ang-bian, selama ini tidak pernah sedetik pun kulupakan dikau.”

“Tapi apa engkau tega meninggalkan Si Pek-hong?” tanya Ang-bian.

Cing-sun tertegun, ia ragu dan tidak bisa menjawab, wajahnya mengunjuk rasa serbasulit.

Maka Cin Ang-bian berkata pula, “Bila engkau masih menaruh kasihan kepada putri kita ini, maka marilah engkau ikut pergi bersamaku dan selanjutnya tidak boleh ingat lagi pada Si Pek-hong, untuk selama-lamanya jangan pulang lagi ke sini.”

Mengikuti percakapan itu, perasaan Bok Wan-jing jadi semakin tenggelam, makin tertekan, air matanya berkilau di kelopak matanya hingga bayangan sang guru dan Toan Cing-sun tampak samar-samar.

Sekarang ia yakin bahwa kedua orang di hadapannya ini memang benar-benar adalah ayah-bunda kandung sendiri. Dan yang lebih memukul perasaannya adalah kekasih yang selama ini dicintainya itu ternyata adalah saudara laki-laki sendiri dari satu ayah lain ibu. Maka segala impian muluk yang pernah dibayangkan olehnya selama ini dalam sekejap saja telah buyar sirna semua!

Terdengar Toan Cing-sun menjawab, “Tapi, Ang-bian, aku adalah … adalah Tin-lam-ong kerajaan Tayli ini, aku memegang kekuasaan militer dan sipil, sebentar … sebentar pun tak boleh meninggalkannya ….”

“Delapan belas tahun yang lalu kau bilang demikian, delapan belas tahun kemudian engkau tetap berkata begini, Toan Cing-sun, wahai Toan Cing-sun, engkau manusia berhati palsu dan tipis budi ini, aku benci … benci padamu ….” demikian mendadak Cin Ang-bian mendamprat dengan suara bengis.

Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar di atas rumah sebelah timur sana ada suara orang bertepuk tangan beberapa kali, lalu dari sebelah barat juga ada orang membalas dengan bertepuk tangan, begitu pula dari kedua jurusan yang lain.

Menyusul mana lantas terdengar suara Ko Sing-thay dan Leng Jian-li sedang berseru, “Ada musuh! Para saudara harap jaga di tempat masing-masing dan jangan sembarangan bergerak.”

Melihat keadaan mulai genting, segera Cin Ang-bian membentak, “Wan-jing, kenapa kau belum keluar?”

Wan-jing mengiakan dan melayang keluar jendela dan menubruk ke pangkuan sang guru merangkap ibunda tercinta.

“Ang-bian, apa benar-benar engkau akan meninggalkan aku begini saja?” tanya Cing-sun. Ketika ia pandang ke atas rumah, ternyata di empat penjuru sudah penuh terjaga dengan orang.

Hendaklah diketahui bahwa di dalam istana pangeran Tin-lam-ong ini banyak berkumpul tamu terhormat, tidak sedikit jago silat kelas tinggi yang mengabdi di bawahnya dan dipimpin oleh Sian-tan-hou Ko Sing-thay bersama tokoh-tokoh Hi-jiau-keng-dok, maka sekali ada tanda bahaya, serentak para jago itu lantas siap siaga di tempatnya masing-masing.

Tiba-tiba Cin Ang-bian menjawab dengan suara rawan, “Sun-ko, sudah berpuluh tahun engkau menjadi Ongya, rasanya juga sudah cukup. Marilah ikut padaku, selanjutnya aku akan menurut pada segala keinginan dan perintahmu, sekecap pun aku takkan memakimu dan sedikit pun aku takkan memukulmu. Lihatlah putri kita yang cantik ini, masakah tidak disayang olehmu?”

Tergerak hati Toan Cing-sun, serunya tanpa pikir, “Baik, aku ikut pergi bersamamu!”

Girang sekali Cin Ang-bian, ia ulurkan tangan kanan menantikan jabatan tangan Toan Cing-sun.

Tapi mendadak terdengar suara seorang wanita sedang berkata dengan dingin di belakang, “Cici, kembali engkau diakali lagi. Paling-paling dia cuma mempermainkan engkau beberapa hari saja, lalu pulang ke sini pula untuk menjadi Ongya!”

Terguncang perasaan Toan Cing-sun demi mengenali suara itu, serunya, “He, A Po, jadi engkau juga datang!”

Waktu Wan-jing berpaling, ia lihat orang yang bicara itu adalah seorang wanita berbaju sutra hijau, ternyata adalah Ciong-hujin dari Ban-jiat-kok. Di belakangnya terdapat pula tiga orang, yaitu Yap Ji-nio dan In Tiong-ho, seorang lagi adalah Lam-hay-gok-sin yang sudah pergi tadi, tahu-tahu kini kembali lagi. Bahkan yang lebih mengejutkan Bok Wan-jing adalah Lam-hay-gok-sin itu memondong pula seorang yang ternyata adalah Toan Ki.

“He, Toan-long, bagaimana engkau?” seru Wan-jing khawatir.

Tadinya Toan Ki rebah di tempat tidurnya dalam keadaan terluka, dalam keadaan sadar tak sadar, tiba-tiba Lam-hay-gok-sin melompat masuk ke kamarnya serta memondongnya lari. Saking kagetnya pikiran Toan Ki menjadi sadar malah, sebab itulah ia dapat mendengar sebagian percakapan antara ayahnya dan Bok Wan-jing serta Cin Ang-bian. Meski tidak seluruhnya dapat didengar, namun ia sudah dapat meraba sebagian besar duduknya perkara.

Kini mendengar gadis itu masih memanggil dirinya sebagai “Toan-long,” ia menjadi pilu, sahutnya dengan rawan, “Moaycu (adikku), selanjutnya asalkan kita kakak beradik selalu kasih sayang, bukankah serupa juga.”

“Tidak, jauh bedanya!” seru Wan-jing dengan gusar, “Engkau adalah lelaki pertama yang telah melihat wajahku.”

Tapi bila dia ingat bahwa pemuda itu adalah saudara satu ayah dengan dirinya, betapa pun kakak dan adik tidak mungkin boleh kawin. Bila dalam hal ini kekuatan manusia yang coba merintangi pernikahan mereka, tentu ia bisa binasakan orang itu dengan panah beracunnya. Tapi kini yang menjadi pengalang mereka adalah takdir Ilahi, biarpun setinggi langit ilmu silatnya atau mempunyai kekuasaan juga tidak mampu menghapusnya.

Seketika itu perasaan Bok Wan-jing serasa hampa. Dalam keadaan putus asa, tanpa pikir ia melompat keluar kamar terus berlari pergi.

“Wan-jing, Wan-jing! Hendak ke mana kau?” seru Cin Ang-bian khawatir.

Namun Wan-jing tidak gubris lagi pada sang guru merangkap ibunda tersayang itu, serunya, “Engkau bikin susah padaku, aku takkan peduli padamu lagi.”

Berbareng itu, larinya bertambah cepat.

“Siapa itu?” tiba-tiba di depan mengadang seorang pengawal istana.

Tanpa menjawab lagi Bok Wan-jing terus bidikkan sebatang panah hingga mengenai tenggorokan pengawal itu dan roboh terjungkal. Si gadis sendiri setindak pun tidak berhenti, hanya dalam sekejap saja bayangan tubuhnya yang ramping itu sudah menghilang dalam kegelapan.

Melihat putranya digondol Lam-hay-gok-sin, Toan Cing-sun menjadi khawatir, ia tidak urus lagi ke mana putrinya lari pergi, tapi jarinya terus bekerja, kontan Lam-hay-gok-sin hendak ditutuk.

Namun dari samping Yap Ji-nio menangkis sambil memotong urat nadi pergelangan Cing-sun. Cepat pangeran itu baliki tangannya untuk menangkap tangan lawan, tapi tahu-tahu Yap Ji-nio malah menjentik punggung tangan Cing-sun dengan jari tengahnya.

Begitulah dengan cepat lawan cepat, hanya sekejap saja kedua orang sudah saling serang beberapa jurus. Diam-diam Toan Cing-sun terkesiap, “Sungguh hebat perempuan ini.”

“Toan Cing-sun!” tiba-tiba Cin Ang-bian berseru sambil ulur tangan mengancam di atas kepala Toan Ki. “Kau masih inginkan jiwa putramu atau tidak?”

Cing-sun terkejut, cepat ia berhenti menyerang lagi. Ia cukup kenal wataknya Cin Ang-bian yang aneh, bencinya kepada Si Pek-hong, yaitu istrinya sendiri sekarang ini boleh dikata merasuk tulang, maka bukan mustahil bila jiwa Toan Ki benar ditamatkan olehnya. Cepat ia menjawab, “Ang-bian, luka anakku sangat parah karena dipanah oleh putrimu.”

“Dia sudah diberi obat penawar, takkan mati, biarlah sementara ini aku membawanya pergi,” demikian kata Cin Ang-bian pula. “Dan kau boleh pilih, inginkan putramu atau lebih suka tetap menjadi Ongya.”

“Hahahaha!” tiba-tiba Lam-hay-gok-sin terbahak-bahak. “Bocah ini akhirnya toh harus juga mengangkat guru padaku!”

“Ang-bian,” sahut Cing-sun kemudian, “biarlah kuterima segala permintaanmu, asal engkau bebaskan putraku.”

Sebenarnya cinta Cin Ang-bian kepada Toan Cing-sun belum pernah tawar biarpun sudah lewat 18 tahun lamanya. Maka demi mendengar ucapan Toan Cing-sun yang penuh rasa khawatir itu, hatinya menjadi lemas, sahutnya, “Apa ben … benar engkau akan menurut segala permintaanku?”

“Ya, ya!” seru Cing-sun tanpa pikir.

“Cici, jangan kau percaya lagi kepada laki-laki yang berhati palsu ini,” tiba-tiba Ciong-hujin menyela, “Gak-siansing, marilah kita pergi!”

Tanpa bicara lagi Lam-hay-gok-sin melompat ke atas, sekali membalik badan di udara, ia tancap kaki di atas rumah seberang sana, menyusul terdengar suara gedebuk dua kali, Yap Ji-nio dan In Tiong-ho masing-masing telah merobohkan dua jago pengawal istana yang berusaha hendak merintangi Lam-hay-gok-sin.

Toan Cing-sun tahu meski mengerahkan antero kekuatan penjaga istana belum tentu kawanan musuh itu bisa dicegat. Namun keselamatan putranya sendiri terancam, betapa pun tidak boleh bertindak gegabah, tindakan kekerasan bukan tindakan yang baik, apalagi dua wanita di hadapannya ini sangat luar biasa hubungannya dengan dirinya. Maka terpaksa ia menyahut dengan halus, “A Po, ken … kenapa engkau juga ikut-ikut memusuhi aku?”

“Aku adalah istri Ciong Ban-siu, jangan sembarangan kau panggil, tahu?” seru Ciong-hujin.

“A Po, selama ini, sungguh aku sangat merindukan dikau,” demikian Toan Cing-sun merayu pula.

Ciong-hujin menjadi terharu, matanya merah basah, sikapnya berubah lunak seketika, sahutnya rawan, “Tempo hari, begitu kulihat Toan-kongcu, segera aku … aku tahu dia adalah anakmu.”

“Sumoay, sekarang kau sendiri kena dibujuk olehnya!” seru Cin Ang-bian.

“Ya, baiklah, mari kita pergi!” sahut Ciong-hujin sambil tarik tangan Ang-bian. Lalu ia berpaling kepada Cing-sun, “Bila engkau menginginkan putramu dengan baik-baik, bawalah Si Pek-hong sambil menyembah tiap langkah pergi ke Ban-jiat-kok.”

“Ban-jiat-kok?” Cing-sun menegas.

Sementara itu dilihatnya Lam-hay-gok-sin sudah makin jauh berlari pergi dengan menggondol Toan Ki. Ko Sing-thay, Leng Jian-li dan lain-lain tampak sedang mengudak dan mencegat dari berbagai jurusan.

Cing-sun menghela napas, serunya kemudian, “Ko-hiante, biarkan mereka pergi!”

Sahut Ko Sing-thay, “Tapi Siauongya ….”

“Biarlah, perlahan kita cari akal lain,” kata Cing-sun. Sembari bicara, ia terus memburu Ko Sing-thay dan berkata pula, “Musuh sudah pergi, semua orang supaya kembali ke tempatnya masing-masing.”

Habis itu, mendadak ia melompat ke samping Ciong-hujin, katanya dengan suara halus, “A Po, baik-baikkah engkau selama ini?”

“Sudah tentu, apa yang kurang baik?” sahut Ciong-hujin ketus.

Sekonyong-konyong jari Toan Cing-sun terus bekerja, secepat kilat ia telah tutuk “Tan-tiong-hiat” di dada nyonya itu. Dalam keadaan tak berjaga-jaga, kontan Ciong-hujin roboh.

Cepat Cing-sun tahan tubuh nyonya itu dengan tangan kiri sambil pura-pura kaget dan berseru, “He, A Po, ken … kenapa engkau?”

Keruan Cin Ang-bian ikut terkejut, tanpa curiga ia lantas mendekat dan tanya dengan khawatir, “Ada apa, Sumoay?”

Dan tatkala Ang-bian berjongkok hendak memeriksa keadaan Ciong-hujin, secepat kilat jari Toan Cing-sun bekerja lagi, tepat Hiat-to Cin Ang-bian kena ditutuknya juga.

Dalam keadaan tertutuk kaku, Cin Ang-bian dan Ciong-hujin dipeluk oleh kedua belah tangan Toan Cing-sun, mereka sama melototi pangeran bangor itu, dalam hati masing-masing sama berpikir, “Ai, kembali aku teperdaya lagi! Kenapa aku begini sembrono, dulu sudah pernah masuk perangkapnya, mengapa sekarang aku tertipu pula?”

Dalam pada itu Toan Cing-sun telah berkata pada Ko Sing-thay, “Ko-hiante, lukamu belum sembuh, harap engkau pulang ke kamarmu untuk mengaso saja. Jian-li, kau pimpin kawan yang lain berjaga di sekitar sini.”

Dengan hormat Ko Sing-thay dan Leng Jian-li mengiakan sambil membungkuk badan. Lalu Cing-sun kempit kedua wanita itu kembali ke ruangan tadi dan suruh koki menyediakan hidangan pula, perjamuan segera diperbarui lagi.

Setelah selesai menyediakan santapan dan para dayang sudah mengundurkan diri, Cing-sun tutuk pula Hiat-to bagian kaki kedua tawanannya supaya mereka tidak bisa berjalan, lalu melepaskan Hiat-to yang ditutuknya semula.

Segera Cin Ang-bian berteriak sesudah bisa bersuara, “Toan Cing-sun, sampai sekarang engkau masih ingin menghina kami berdua?”

Toan Cing-sun berputar ke hadapan kedua wanita itu, ia memberi hormat sambil berkata, “Maafkan aku berbuat kasar, terimalah hormatku ini.”

“Siapa ingin kau beri hormat?” seru Cin Ang-bian dengan gusar. “Lekas lepaskan kami!”

“Kita bertiga sudah belasan tahun tidak berjumpa, kebetulan hari ini bisa berkumpul lagi, banyak sekali ingin kubicarakan pada kalian,” demikian sahut Cing-sun. “Ang-bian, ternyata watakmu masih keras begini. Dan kau, A Po, makin lama engkau makin ayu, kenapa sedikit pun tidak kentara tambah tua?”

“Lekas kau lepaskan aku,” teriak Ang-bian dengan gusar sebelum Ciong-hujin berkata, “Kalau A Po makin tua makin cantik, jadi aku makin tua makin jelek bukan? Ayo lepaskan aku, buat apa kau tahan seorang nenek jelek seperti aku?”

“Ang-bian,” kata Cing-sun dengan gegetun, “cobalah engkau berkaca, bila engkau seorang nenek reyot dan jelek, maka sastrawan yang biasa melukiskan kecantikan wanita perlu ganti ungkapan menjadi sejelek bidadari.”

Karena geli, tak tertahan Cin Ang-bian mengikik tawa, karena kaki tak bisa bergerak, terpaksa ia menggerutu, “Huh, siapa yang ajak berguyon denganmu? Cengar-cengir, masa begitulah kelakuan seorang pangeran?”

Melihat sikap orang yang bersungut tapi menawan hati itu, hati Cing-sun terguncang, terkenang olehnya cinta kasih masa lampau, tak tertahan lagi ia mendekati Cin Ang-bian, “ngok”, ia cium sekali pipi wanita itu.

Meski kakinya tak bisa bergerak, tapi tubuh bagian atas Cin Ang-bian dapat bergerak dengan bebas, “plok”, kontan ia persen sekali tamparan di muka pangeran bangor itu.

Kalau mau menghindar sebenarnya tidak susah bagi Toan Cing-sun, tapi ia sengaja menerima pukulan itu, bahkan ia terus berbisik di telinga orang, “Mati digampar Siu-lo-to, jadi setan juga rela!”

Seketika badan Cin Ang-bian tergetar mendengar itu, air matanya bercucuran, ia menangis keras-keras, ucapnya dengan parau, “Kembali … kembali engkau gunakan kata-kata demikian lagi.”

Kiranya pada masa dulu Cin Ang-bian pernah malang melintang di kalangan Kangouw dengan sepasang senjatanya yang berupa golok Siu-lo-to, karena itu juga ia mendapat julukan dari nama senjatanya itu. Ketika kesuciannya dirusak oleh Toan Cing-sun, kejadian itu adalah mirip seperti sekarang, yaitu dicium dulu, lalu ia tampar pipi pangeran itu, lalu ia lantas dirayu dengan bisikan “mati di bawah Siu-lo-to, jadi setan pun rela”.

Kalimat itu entah sudah beratus ribu kali mengiang di telinganya selama belasan tahun ini. Kini, mendadak didengarnya pula dari mulut Toan Cing-sun, sungguh ia merasa sangat bahagia dengan aneka macam perasaan yang bercampur aduk.

“Suci, orang ini paling pandai merayu, pintar bermulut manis, tapi jangan kau percaya lagi padanya,” tiba-tiba Ciong-hujin memperingatkan sang Suci atau kakak seperguruan.

“Ya, benar, aku tidak mau percaya lagi pada bujukanmu!” demikian kata Ang-bian yang ditujukan kepada Toan Cing-sun.

Tapi dengan cengar-cengir Toan Cing-sun lantas mendekati Ciong-hujin, katanya, “A Po, kalau aku juga ‘ngok’ pipimu, boleh tidak?”

Keruan Ciong-hujin rada kelabakan dan khawatir, dalam keadaan tak bisa berjalan, kalau orang benar-benar berbuat seperti apa yang dikatakan, kan bisa runyam.

Cepat ia berseru, “Tidak, jangan kurang ajar! Aku adalah wanita bersuami, sekali-kali tidak boleh kucemarkan nama baik suamiku, asal kau berani menyentuh badanku, segera akan kugigit lidah sendiri biar mati di hadapanmu.”

Melihat kata-kata itu diucapkan dengan nekat dan sungguh-sungguh, Cing-sun tidak berani sembrono lagi, tanyanya kemudian, “A Po, bagaimanakah macam suamimu itu?”

“Suamiku sangat jelek, tabiatnya juga aneh, ilmu silatnya jauh di bawahmu, orangnya tidak segagah engkau pula, lebih-lebih tiada punya pangkat dan kedudukan seperti dirimu. Namun demikian, dengan hati suci murni ia mencintai aku, maka aku pun membalasnya dengan sama baiknya. Bila aku berbuat sedikit menyeleweng, itu berarti aku berdosa padanya, biarlah aku terkutuk, untuk selama-lamanya tak bisa menjelma kembali.”

Mau tak mau Toan Cing-sun menaruh hormat kepada sikap tegas nyonya Ciong itu, maka ia tidak berani mengungkat-ungkat peristiwa asmara masa lalu lagi. Katanya kemudian, “Kalian telah menculik putraku, sebenarnya apa maksud tujuan kalian? A Po, Ban-jiat-kok yang kau katakan itu letaknya di mana?”

“Jangan katanya padanya!” tiba-tiba seorang berkata di luar jendela dengan suara serak.

Keruan Toan Cing-sun terkejut. Ia sudah perintahkan Leng Jian-li dan kawan-kawannya berjaga di luar, kenapa diam-diam ada orang asing menyusup sampai di luar kamar situ?

Maka terdengar Ciong-hujin buka suara dengan menarik muka, “Lukamu belum sembuh, buat apa engkau menyusul kemari?”

Lalu terdengar pula suara seorang wanita sedang berkata, “Silakan masuk, Ciong-siansing!”

Mendengar suara itu, Toan Cing-sun terlebih kejut hingga air mukanya merah jengah. Dan begitu kerai tersingkap, masuklah seorang wanita yang bukan lain adalah Yau-toan-siancu, di belakangnya menyusul seorang laki-laki bermuka sangat jelek, panjang mukanya itu hingga mirip muka kuda. Itulah dia muka yang istimewa dari Ciong Ban-siu, Kokcu atau pemilik lembah Ban-jiat-kok.

Ciong-hujin menjadi heran demi tampak sang suami mendadak juga datang ke situ, ternyata datangnya bersama nyonya Toan alias Si Pek-hong itu.

Kiranya sesudah lama Bok Wan-jing berkelana dan belum pulang, Cin Ang-bian menjadi khawatir, segera ia keluar mencarinya ke tempat sang Sumoay, yaitu Ciong-hujin dari Ban-jiat-kok, kemudian mereka berdua lantas keluar pula mencari jejak Wan-jing.

Di tengah jalan mereka telah bertemu dengan Yap Ji-nio, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho. Ang-bian sudah kenal dengan Yap Ji-nio, sebab di antara perguruan mereka ada sedikit hubungan, cuma biasanya tidak pernah saling bergaul. Ketika mendengar Bok Wan-jing telah ikut pergi ke Tayli, segera “Sam-ok” itu ikut menyusul ke situ.

Sebaliknya Ciong Ban-siu yang sangat mencintai sang istri itu, rasa cemburunya juga sangat besar, sejak sang istri pergi, ia menjadi tidak enak makan dan sukar tidur, tanpa peduli lagi bahwa lukanya belum sembuh, serta tak pikir bahwa selama ini dirinya pura-pura mati dan mengasingkan diri di lembah sunyi itu, segera ia berangkat menyusul sang istri.

Sampai di luar istana pangeran, kebetulan ia pergoki Si Pek-hong sedang berlari keluar dengan marah-marah, begitu kepergok, segera kedua orang saling gebrak. Tengah sengit pertarungan mereka, tiba-tiba sesosok bayangan orang berbaju hitam melayang lewat di samping mereka, orang itu tampak menutupi mukanya sambil menangis, ternyata Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing.

Melihat gadis itu, Ciong Ban-siu menjadi khawatir atas diri sang istri, katanya segera, “Paling penting harus kucari istriku dulu, aku tiada tempo buat menempurmu lagi.”

“Ke mana hendak kau cari istrimu?” tanya Si Pek-hong.

“Ke rumah si bangsat Toan Cing-sun,” sahut Ciong Ban-siu. “Bila istriku ketemu Toan Cing-sun, wah, bisa runyam!”

“Sebab apa bisa runyam?” tanya Pek-hong pula.

“Toan Cing-sun bermulut manis, pintar membujuk rayu, ia seorang hidung belang ahli pikat wanita, harus kubunuh dia nanti!” sahut Ban-siu gemas.

Diam-diam Si Pek-hong pikir sang suami sudah berumur lebih empat puluh, jenggotnya sudah panjang, masakah disamakan pemuda hidung belang segala? Tapi tentang sifat sang suami yang memang bangor itu, ia percaya kepada apa yang dikatakan orang bermuka kuda itu.

Segera ia coba tanya nama dan asal usul suami-istri Ciong Ban-siu. Dan ketika mengetahui Ciong-hujin adalah salah satu bekas kekasih sang suami, Pek-hong menjadi curiga, segera ia lari kembali ke istana bersama Ciong Ban-siu.

Meski waktu itu penjagaan di sekitar Tin-lam-onghu dilakukan dengan sangat ketat, tapi demi tampak Onghui, para pengawal tidak berani merintangi. Sebab itulah Si Pek-hong dan Ciong Ban-siu dapat mendekati ruangan belakang tanpa sesuatu peringatan dari para penjaga. Dan dengan sendirinya bujuk rayu Toan Cing-sun kepada Cin Ang-bian dan Ciong-hujin yang dilakukan dengan cengar-cengir dapat didengar semua oleh kedua orang di luar jendela itu.

Keruan hampir-hampir meledak dada Si Pek-hong saking gusarnya oleh kelakuan sang suami itu. Sebaliknya Ciong Ban-siu girang tidak kepalang mendengar istrinya sedemikian teguh imannya.

Cepat Ciong Ban-siu lari ke samping sang istri dengan rasa kasih sayang tercampur girang, ia terus mengitar kian kemari mengelilingi sang istri sambil berkata, “Biar, bila dia berani menghina engkau, segera aku adu jiwa dengan dia!”

Dan selang sejenak, baru teringat olehnya bahwa Hiat-to sang istri masih tertutuk, segera ia berpaling kepada Toan Cing-sun dan berkata, “Lekas, lekas lepaskan Hiat-to istriku!”

“Kalian telah menculik putraku, asal putraku itu kalian bebaskan lebih dulu, dengan sendirinya akan kulepaskan istrimu,” demikian sahut Cing-sun.

Saking khawatir cepat Ciong Ban-siu memijat dan menepuk pinggang sang istri, tapi biarpun Lwekangnya sangat tinggi, betapa pun ia tak mampu memunahkan tutukan “It-yang-ci” keluarga Toan yang tiada bandingannya itu.

Sebaliknya karena dipijat dan ditepuk, Ciong-hujin menjadi sakit dan geli, sedang Hiat-to kaki yang tertutuk itu belum lagi bebas, maka omelnya, “Tolol, bikin malu saja!”

Terpaksa Ciong Ban-siu berhenti dengan kikuk, saking dongkolnya, terus saja ia membentak, “Toan Cing-sun, marilah maju, biar kita bertempur 300 jurus dulu!”

Sembari gosok-gosok kepalan segera ia hendak melabrak Toan Cing-sun.

Namun Ciong-hujin telah berkata, “Toan-ongya, putramu diculik oleh Lam-hay-gok-sin dan begundalnya, biarpun suamiku minta mereka bebaskan putramu belum tentu mereka mau menurut. Tapi kalau aku dan Suci sudah pulang dan mencari kesempatan untuk menolong, mungkin ada harapan. Paling sedikit putramu takkan dibikin susah oleh mereka!”

“Tapi aku tidak percaya,” sahut Cing-sun sambil menggeleng kepala. “Ciong-siansing, silakan pulang saja, bawalah putraku kemari untuk ditukar dengan istrimu.”

Ciong Ban-siu menjadi gusar, teriaknya, “Istanamu ini tempat cabul dan kotor, kalau istriku ditinggalkan di sini, wah, berbahaya!”

Muka Toan Cing-sun menjadi merah, bentaknya, “Tutup mulutmu! Berani mengoceh tidak keruan lagi, jangan menyesal bila aku berlaku kasar.”

Sejak masuk tadi Si Pek-hong diam saja, kini mendadak menyela, “Kau ingin menahan kedua wanita di sini, sebenarnya apa maksud tujuanmu? Untuk kepentingan sendiri atau demi keselamatan Ki-ji?”

Cing-sun menghela napas, sahutnya, “Ternyata engkau juga tidak percaya padaku.”

Mendadak ia menutuk pinggang Cin Ang-bian untuk melepaskan jalan darahnya. Menyusul segera hendak menutuk juga pinggang Ciong-hujin.

Tapi cepat Ciong Ban-siu mengadang di depan sang istri sambil goyang kedua tangannya kepada Toan Cing-sun, katanya, “Jangan kau main pegang-pegang badan wanita, orang macam kau suka main cubit, tubuh istriku tidak boleh kau sentuh!”

“Namun istrimu tertutuk, biarpun kepandaianku tidak berarti, tapi cara Tiam-hiat ini tak dapat ditolong oleh orang lain, kalau terlalu lama, mungkin kedua kaki istrimu akan cacat,” ujar Cing-sun tersenyum mendongkol.

Ban-siu menjadi murka, dampratnya, “Bila istriku yang cantik molek ini benar-benar menjadi cacat, pasti akan kucencang juga putramu.”

“Kau ingin kulepaskan Hiat-to istrimu, tapi melarang aku menyentuh tubuhnya pula, lantas bagaimana aku harus berbuat?” ujar Cing-sun tertawa.

Ban-siu bungkam tak bisa menjawab, sekonyong-konyong ia menjadi gusar, bentaknya, “Habis, mengapa kau tutuk dia tadi? He, wah, celaka! Kalau begitu, waktu kau tutuk dia tadi tentu sudah menyentuh tubuhnya. Biar aku pun menutuk sekali tubuh istrimu!”

“Kembali engkau ngaco-belo tak keruan!” omel Ciong-hujin sambil melototi sang suami.

“Habis, aku tidak mau dirugikan!” sahut Ban-siu.

Tengah ribut-ribut, tiba-tiba tirai tersingkap, dengan langkah perlahan masuk seorang berjubah sutra kuning, berjenggot cabang tiga, alis panjang, mata besar, muka putih, itulah dia Toan Cing-beng, raja Po-ting-te dari negeri Tayli.

“Hong-heng (kakak baginda)!” segera Cing-sun menyapa.

Po-ting-te mengangguk tanpa menjawab, tiba-tiba dari jauh ia angkat jarinya menutuk pinggang Ciong-hujin, samar-samar seperti ada seutas benang putih mirip asap terpancar dari ujung jarinya ke samping pinggang nyonya itu. Seketika Ciong-hujin merasa perutnya hangat, dua arus hawa panas terus mengalir ke kaki, cepat darahnya berjalan dengan lancar dan bisa berdiri dengan leluasa.

Melihat raja Tayli itu mengunjukkan ilmu sakti “Keh-kong-kay-hiat” atau membuka jalan darah dari tempat jauh, saking kagum dan kagetnya sampai Ciong Ban-siu ternganga tak bisa bicara, sungguh tak tersangka olehnya bahwa di dunia ini ada orang memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.

“Hong-heng,” kata Cing-sun kemudian, “Ki-ji telah digondol lari oleh mereka!”

Po-ting-te mengangguk, sahutnya, “Ya, Sian-tan-hou sudah lapor padaku. Adik Sun, kalau keturunan keluarga Toan kita ada yang jatuh di tangan musuh, tentu orang tua atau pamannya yang harus pergi menolongnya, kita jangan menahan orang lain sebagai sandera.”

Muka Toan Cing-sun menjadi merah, sahutnya membenarkan ucapan kakak bagindanya itu.

Ucapan Po-ting-te itu sangat gagah penuh harga diri, yaitu merasa merosotkan pamor keluarga Toan bila adik pangeran itu menahan musuh sebagai jaminan keselamatan putranya. Dan sesudah merandek sejenak, kemudian katanya pula, “Sekarang silakan kalian pergi saja. Dalam tiga hari, keluarga Toan tentu ada orang akan mengunjungi Ban-jiat-kok.”

“Tapi tempat Ban-jiat-kok kami itu sangat dirahasiakan, kalian belum tentu mampu menemukannya, untuk mana perlukah kuberi tahukan tempatnya?” tanya Ciong Ban-siu. Dalam hati ia berharap Po-ting-te akan minta diberitahukan tempatnya itu, dan kalau lawan tanya, ia justru tidak mau menerangkan.

Tak tersangka Po-ting-te tidak gubris pertanyaannya itu, sekali mengebas lengan baju, katanya pula, “Antarkan tamu keluar!”

Ciong Ban-siu sendiri berjuluk “Kian-jin-ciu-sat” atau melihat orang lantas membunuh, suatu tanda sifatnya yang kejam tak kenal ampun, dengan sendirinya wataknya sangat keras, terutama pada waktu sebelum dia mengasingkan diri, namanya sangat ditakuti oleh orang Kangouw umumnya, asal mendengar kedatangannya, setiap orang tentu kebat-kebit khawatir dibunuh olehnya.

Sebab itulah, maka Sikong Hian, itu ketua dari Sin-long-pang menjadi sangat ketakutan juga ketika mengetahui bahwa Ciong Ling adalah putri Ciong Ban-siu. Tapi berdiri di depan Po-ting-te yang berwibawa itu, aneh juga, gembong iblis yang tak kenal apa artinya takut itu menjadi jeri dengan sendirinya dan bingung. Begitu mendengar Po-ting-te bilang antar tamu pergi, segera ia berseru, “Baik, marilah kita pergi! Hm, selamanya aku paling benci pada orang she Toan, tiada seorang she Toan pun di dunia ini adalah manusia baik-baik!”

Habis bicara, ia gandeng tangan sang istri terus melangkah keluar dengan marah-marah.

“Cici, marilah kita pergi!” demikian Ciong-hujin menjawil lengan baju Cin Ang-bian.

Sekilas Cin Ang-bian memandang Toan Cing-sun, ia lihat pangeran itu berdiri terpaku dengan bungkam, hatinya menjadi pedih, dengan mata basah dan gemas ia melotot sekali ke arah Si Pek-hong, lalu ikut pergi dengan menunduk.

Begitu keluar ruangan, segera ketiga orang melompat ke atas wuwungan rumah.

Di atas emperan situ sudah berdiri Ko Sing-thay, ia membungkuk tubuh sambil berkata, “Selamat jalan!”

“Cuh!” Ciong Ban-siu meludah dengan sengit. “Huh, munafik, tiada satu pun manusia baik-baik!”

Dengan cepat mereka melompat pergi melintasi rumah sekitar situ, ketika kompleks istana pangeran itu hampir habis dilalui, tinggal melintasi pagar tembok luar saja, segera Ciong Ban-siu genjot tubuh sekuatnya, kaki kiri hendak berpijak di atas pagar tembok kurung istana pangeran itu.

Tak tersangka, mendadak di depan bertambah seorang yang persis berdiri di atas pagar tembok tempat yang akan dipijaknya itu.

Orang itu berjubah longgar, ikat pinggangnya kendur, siapa lagi kalau bukan Ko Sing-thay yang tadi berdiri di emper istana sana, entah dari mana tahu-tahu sudah mendahului berada di hadapan Ciong Ban-siu, bahkan begitu tepat perhitungannya bahwa tempat itulah yang akan dipijak oleh kaki Ciong Ban-siu, maka ia mendahului mengadang di situ.

Dalam keadaan tubuh terapung di udara, untuk mundur lagi terang tidak mungkin, membelok ke jurusan lain juga tak bisa, keruan Ciong Ban-siu kelabakan, terpaksa ia sodok kedua tangannya ke depan sambil membentak, “Minggir!”

Dengan tenaga sodokan kedua tangan yang bisa menghancurkan batu itu, Ban-siu taksir bila lawan menangkis, tentu lawan itu akan terpental ke bawah. Andaikan tenaga lawan sama kuatnya dengan dirinya, paling sedikit juga dapat meminjam tenaga aduan itu untuk bergeser ke atas pagar tembok di sampingnya.

Sungguh tak tersangka, ketika kedua tangan hampir menyodok dada orang, sekonyong-konyong Ko Sing-thay doyongkan tubuh ke belakang, dengan separuh tubuh terapung Ko Sing-thay gunakan gerakan “Tiat-pan-kio” atau jembatan papan baja, hanya kedua kakinya yang menancap di atas tembok. Dan karena tubuhnya mendoyong ke belakang itulah, ia dapat menghindarkan tenaga sodokan Ciong Ban-siu yang hebat itu.

Sekali menyerang tidak kena, diam-diam Ciong Ban-siu mengeluh bisa celaka. Sementara itu tubuhnya sudah melayang lewat di atas tubuh Ko Sing-thay yang mendoyong ke belakang itu. Dalam keadaan begitu, Ciong Ban-siu takkan mampu berbuat apa-apa bila diserang oleh Ko Sing-thay.

Untung baginya sama sekali Ko Sing-thay tidak melontarkan serangan hingga dengan selamat Ciong Ban-siu dapat menancapkan kakinya di tanah. Menyusul mana Cin Ang-bian dan Ciong-hujin juga melompat keluar.

Sementara itu Ko Sing-thay sudah berdiri tegak lagi di atas pagar tembok dengan gagah, katanya, “Maaf tidak mengantar lebih jauh!”

Ban-siu menjengek, mendadak celananya melorot ke bawah, hampir ia kedodoran di depan umum, untung cepat ia sempat menariknya ke atas lagi. Baru sekarang ia tahu bahwa tali kolornya telah putus.

Rupanya tadi waktu melayang lewat di atas tubuh Ko Sing-thay, tali kolor celananya kena diputus orang. Coba bayangkan, bila bukan Ko Sing-thay sengaja murah hati, sekali tutuk di bagian Hiat-to penting, mungkin jiwanya sudah melayang sejak tadi.

Mengingat itu, Ciong Ban-siu tidak berani lama-lama lagi tinggal di situ, cepat ia ajak sang istri dan Cin Ang-bian meninggalkan Tayli ….

*****

Kembali bercerita tentang Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing.

Ketika berlari keluar dari istana Tin-lam-ong sambil mendekap mukanya, meski kepergok dan ditegur oleh Si Pek-hong dan Ciong Ban-siu, namun ia tidak ambil peduli dan berlari terus ke depannya tanpa tujuan.

Ia lari di lereng gunung dan hutan belukar, sampai fajar sudah menyingsing baru merasakan kedua kakinya linu pegal, ia berhenti sambil bersandar pada pohon besar, mulutnya komat-kamit sendiri, “Lebih baik aku mati saja, lebih baik aku mati saja!”

Meski hatinya penuh rasa benci dan sesal, tapi ia tidak tahu siapa yang harus dibencinya.

“Toan-long tidak mengingkari diriku, soalnya karena takdir Ilahi, ia justru adalah saudaraku sendiri satu ayah. Sedang guruku sendiri ternyata adalah ibu kandungku. Selama belasan tahun ini dengan susah payah ibu telah membesarkan aku, budi sebesar itu mana dapat kusalahkan dia?

“Adapun Tin-lam-ong Toan Cing-sun itu adalah ayahku, meski dia berdosa kepada ibu, namun bukan mustahil di dalam persoalannya ada banyak kesulitan yang sukar dijelaskan. Dia sangat ramah dan kasih sayang padaku, katanya kalau aku mempunyai sesuatu cita-cita, beliau pasti akan berusaha untuk memenuhi harapanku.

“Tetapi untuk persoalanku ini beliau justru tak mampu berbuat apa-apa. Sebabnya ibu tak bisa menikah dengan ayah mungkin disebabkan adanya rintangan Si Pek-hong, maka ibu menyuruh aku membunuhnya. Tapi diukur menurut hati nurani, bila aku menikah dengan Toan-long, rasanya sekali-kali aku pun tak mengizinkan dia menyukai wanita lain.

“Apalagi Si Pek-hong sudah menjadi padri, dapat diduga karena ayah juga berbuat salah padanya dan melukai hatinya. Aku telah panah dia dua kali, tapi putra satu-satunya juga terluka, namun dia tidak dendam padaku, tampaknya dia toh bukan seorang wanita yang kejam dan galak ….”

Begitulah makin dipikir hati Bok Wan-jing makin berduka, gumamnya, “Sejak kini aku akan melupakan Toan Ki, aku takkan pikirkan dia lagi!”

Namun omong memang gampang, untuk melupakan begitu saja masakah begitu mudah? Setiap detik bayangan Toan Ki yang tampan itu selalu timbul dalam benaknya.

Kemudian dia coba menghibur diri sendiri, “Biarlah untuk selanjutnya aku anggap dia sebagai kakak. Asalnya aku adalah anak yatim piatu, kini ayah sudah punya, ibu pun sudah ada, malah bertambah pula seorang saudara tua, kurang apa lagi? Bukankah aku sebenarnya harus bergirang, sungguh tolol aku ini!”

Akan tetapi, seorang kalau terlibat dalam jaring asmara, makin meronta semakin ruwet dan sukar melepaskan diri. Kalau dia sabar menanti selama tujuh-hari tujuh-malam di puncak Bu-liang-san, nyata akar cintanya sudah bersemi secara mendalam dan susah dihapus lagi.

Ia dengar suara gemuruh ombak yang mendebur semakin keras, dalam keadaan putus asa, timbul juga maksudnya membunuh diri. Ia mendekati arah suara ombak itu, setelah melintasi sebuah bukit, akhirnya tertampak ombak sungai Lanjong mengalir cepat di bawah tebing sungai itu. Ia menghela napas dan berkata seorang diri, “Ai, bila aku menceburkan diri ke dalam sungai, rasa kesalku tentu takkan terasa lagi.”

Perlahan ia menyusuri tepi sungai. Sang surya yang baru menyingsing itu mulai memancarkan cahayanya yang gemerlapan menyilaukan mata. Ia termangu-mangu berdiri di atas batu karang di tepi sungai dengan perasaan bergolak sehebat ombak yang mendebur.

Sekonyong-konyong sekilas dilihatnya di atas sebuah batu karang sebelah sana duduk seorang. Cuma orang itu sejak tadi tak bergerak sama sekali, bajunya berwarna hijau mirip warna batu karang yang berlumut, maka tak diketahui olehnya sejak tadi.

Waktu Wan-jing memandang lagi lebih jelas, ia terkejut, “Tentu orang ini sudah mati.”

Sudah banyak manusia yang dia bunuh, dengan sendirinya Bok Wan-jing tidak takut pada orang mati. Karena tertarik, segera ia mendekatinya, ia lihat orang berbaju hijau itu adalah seorang kakek, jenggotnya panjang sampai di dada dan hitam gilap, matanya terpentang lebar sedang menatap pusar sungai tanpa berkedip.

“Kiranya bukan orang mati!” ujar Wan-jing sendiri.

Tapi ketika ditegasi pula, ia lihat tubuh orang itu sedikit pun tidak bergerak, bahkan kelopak matanya juga tidak berkedip sama sekali, terang juga bukan orang hidup. Maka gumamnya pula, “Ah, kiranya orang mati!”

Tapi sesudah diamat-amati sebentar lagi, ia merasa kedua mata orang mati itu bersemangat, wajahnya bercahaya merah pula. Ia coba periksa pernapasan hidung orang, terasa napasnya seakan-akan ada dan seperti tak ada, waktu meraba pipinya, tiba-tiba terasa dingin dan lain saat berubah hangat. Dalam herannya terus saja Wan-jing meraba dada orang, kini terasa jantung orang kedat-kedut, seperti berdenyut, seperti juga berhenti.

Keruan Wan-jing bertambah heran, katanya seorang diri, “Orang ini sungguh aneh, katakan dia orang mati, toh seperti orang hidup, bilang dia orang hidup, mirip orang mati pula.”

“Aku adalah orang hidup-mati!” tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

Wan-jing menjadi kaget, cepat ia menoleh, tapi tiada bayangan seorang pun yang dilihatnya. Di sekitar itu adalah batu karang tandus yang tak dapat dibuat sembunyi orang. Sejak tadi dia berhadapan dengan orang aneh itu dan tidak kelihatan bibirnya bergerak ketika terdengar suara tadi.

Dengan penasaran segera Bok Wan-jing berseru, “Siapa berani menggoda nonamu? Apa barangkali kau sudah bosan hidup?”

Sembari berkata ia terus putar tubuh membelakangi sungai, maka ketiga arah lain dapat dilihatnya dengan jelas.

Tapi lantas terdengar suara tadi berkata pula, “Ya, aku memang sudah bosan hidup, sangat bosan hidup!”

Kejut Wan-jing sungguh tak terkatakan, sudah terang, kecuali orang aneh yang berada di depannya ini, dapat dipastikan tiada orang lain lagi. Namun terang gamblang kelihatan bibir orang aneh ini sama sekali tidak bergerak, mengapa bisa bicara?

Segera Wan-jing membentak lagi, “Siapa yang sedang bicara?”

“Kau sendiri sedang bicara?” sahut suara itu.

“Dan siapa yang bicara dengan aku?” seru Wan-jing.

“Tidak ada orang bicara denganmu!” sahut suara itu pula.

Dengan cepat Wan-jing putar tubuhnya tiga kali, tapi selain bayangan sendiri, tiada sesuatu tanda aneh yang kelihatan.

Ia yakin pasti Jing-bau-khek atau orang berbaju hijau di hadapannya ini yang sedang menggoda padanya, dengan tabahkan hati segera ia mendekat lebih rapat, ia coba dekap bibir orang, lalu tanya pula, “Apakah engkau yang bicara denganku?”

“Bukan!” kembali suara itu menjawab.

Sedikit pun tangan Wan-jing tidak merasakan getaran suara, maka tanyanya lagi, “Sudah jelas ada orang sedang bicara padaku, kenapa bilang tidak?”

“Aku bukan orang, aku pun bukan aku, di dunia ini tiada seorang aku lagi!” demikian sahut suara itu.

Seketika Bok Wan-jing mengirik, pikirnya, “Jangan-jangan ada setan?”

Segera ia tanya lagi, “Apakah eng … engkau setan?”

“Kau sendiri tadi bilang tidak ingin hidup lagi, tentu kau akan menjadi setan juga, tapi mengapa kau ketakutan pada setan?” sahut suara itu.

“Siapa bilang aku takut pada setan? Aku tidak takut pada langit juga tidak gentar pada bumi!” seru Wan-jing dengan berani.

“Jika begitu, ada sesuatu yang kau takutkan,” kata suara itu.

“Hm, tidak, segala apa pun aku tidak takut!” sahut Wan-jing tegas.

“Takut, jelas kau takut! Yang kau takutkan ialah seorang calon suami yang mendadak berubah menjadi saudara sendiri!”

Kepala Bok Wan-jing seperti dikemplang oleh ucapan itu, dengan lemas ia duduk terkulai di tanah. Ia termangu-mangu sejenak, lalu katanya dengan komat-kamit, “Engkau adalah setan, engkau setan!”

“Jangan khawatir, aku dapat menolongmu,” demikian kata suara tadi. “Aku dapat menjadikan Toan Ki bukan kakakmu, dapat pula menjadikannya suamimu yang tercinta.”

“Tidak, kau … kau tipu aku,” kata Wan-jing dengan suara gemetar. “Nasibku ini sudah ditakdirkan, tak bisa … tak bisa berubah lagi.”

“Peduli apa dengan takdir segala,” ujar suara itu. “Aku mempunyai akal untuk mengubah kakakmu menjadi suamimu, kau mau tidak?”

Dalam keadaan putus asa dan hilang harapan, ucapan itu benar-benar merupakan suara wahyu yang turun dari langit, meski ragu juga, cepat Wan-jing menjawab, “Ya, mau, aku mau!”

“Sesudah aku selesai membantumu, dengan apa kau berterima kasih padaku?”

“Apa yang kumiliki? Aku tidak punya apa-apa!” sahut Wan-jing dengan pilu.

“Kini kau tak punya, tapi kelak mungkin akan punya.”

“Baiklah, apa yang kau inginkan, akan kuberikan padamu.”

“Tapi sampai saatnya nanti, jangan-jangan kau ingkar janji,” ujar suara itu.

“Aku pasti akan pegang janji!” seru Wan-jing. Dalam hati ia pikir, “Di dunia ini ada barang apakah yang bisa melebihi Toan-long yang akan menjadi suamiku? Seumpama aku menjadi raja, rela juga kuberikan takhtaku kepada orang aneh ini.”

Namun suara itu berkata pula, “Ucapan kaum wanita sukar dipercaya. Bila kelak tidak kau berikan padaku, lantas bagaimana?”

“Kepandaianmu begini sakti, bolehlah kau bunuh aku!” ujar Wan-jing.

“Tidak, aku takkan membunuhmu. Kalau kau tidak pegang janji, suamimu yang akan kubunuh,” kata suara itu.

Diam-diam Wan-jing berpikir, “Kecuali Toan-long, aku pasti takkan menikah. Dan bila Toan-long berubah bukan lagi kakakku tapi menjadi suamiku, maka segala apa aku tidak mau lagi, tidak mungkin aku merasa berat memberi apa pun kepada hantu ini.

Maka segera jawabnya, “Baiklah, aku menerima syaratmu.”

“Dan sampai waktunya nanti, jangan lagi meminta-minta padaku dengan menangis, sebab aku paling benci bila ditangisi wanita,” kata suara itu.

“Aku pasti takkan memohon padamu,” sahut Wan-jing. “Eh, siapakah engkau sebenarnya? Dapatkah engkau unjukkan mukamu padaku?”

“Sudah sekian lamanya kau lihat aku, masakah masih belum cukup?” kata suara itu pula. Sejak mula sampai sekarang nada suara itu selalu sama saja, tidak keras, tidak rendah, datar tanpa irama pula.

“Jadi engkau adalah … adalah engkau ini?” tanya Wan-jing.

“Entahlah, aku pun tidak tahu apakah aku ini aku. Ai ….” demikian suara itu. Helaan napas paling akhir itu telah menandakan rasa masygul hatinya yang tak terkatakan.

Keruan Bok Wan-jing bertambah sangsi, tapi kini ia sudah yakin benar bahwa suara itu memang keluar dari kakek berbaju hijau di depannya ini. Segera ia tanya pula, “Engkau tidak buka mulut, mengapa bisa bicara?”

“Aku adalah orang hidup-mati, bibir tak dapat bergerak, tapi bersuara dari dalam perut,” sahut suara itu.

Dasar sifat kanak-kanak Bok Wan-jing belum hilang sama sekali, kalau tadi ia sangat berduka dan putus asa, adalah sekarang demi mendengar ada orang mampu bicara tanpa buka mulut dan gerak bibirnya, ia menjadi sangat ketarik, segera ia tanya pula, “Engkau bicara dengan perut? Sungguh aneh!”

“Kau tidak percaya?” sahut Jing-bau-khek itu. “Cobalah kau pegang perutku, tentu kau akan percaya nanti.”

Tanpa pikir Wan-jing terus ulur tangan untuk meraba perut orang.

“Kau merasakan getaran perutku atau tidak?” tanya Jing-bau-khek.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: