Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 2

“Jangan bodoh!” cepat Ciong Ling mencegah. “Urusan orang Kangouw sedikit pun engkau tidak paham, kalau sampai bikin sirik orang, aku takkan mampu menolongmu.”

“Jangan khawatir bagiku” sahut Toan Ki. “Kau tunggu saja di sini, sebentar aku akan kembali.”

Habis berkata, dengan langkah lebar ia terus bertindak ke arah asap tebal sana.

Ciong Ling berteriak mencegahnya lagi, dan Toan Ki tetap tidak menurut.

Setelah tertegun sejenak, mendadak gadis itu berseru, “Baiklah, engkau pernah menyatakan ‘kuaci kita makan bersama, pedang kita terima serentak’, biar kuikut bersamamu!”

Segera ia berlari menyusul Toan Ki dan berjalan berjajar dengan dia.

Tidak lama, dari depan tertampak memapak dua orang lelaki berbaju kuning. Seorang di antaranya yang lebih tua lantas membentak, “Siapa kalian? Mau apa datang ke sini?”

Dari jauh Toan Ki dapat melihat kedua orang itu sama memanggul sebuah kantong obat dan membawa golok lebar-pendek, segera sahutnya, “Cayhe bernama Toan Ki, ada urusan penting mohon bertemu dengan Sikong-pangcu kalian.”

“Urusan apa?” tanya lelaki tua tadi.

“Setelah bertemu dengan Pangcu kalian, dengan sendirinya akan kututurkan,” kata Toan Ki.

“Saudara tergolong aliran mana, siapa gerangan gurumu?” tanya pula lelaki tua itu.

“Aku tidak termasuk sesuatu golongan dan aliran.” sahut Toan Ki. “Guruku bernama Bing Sut-seng, beliau khusus mempelajari Koh-bun-siang-si, dalam hal ilmu Kong-yang, dia juga mahir.”

Kiranya guru yang dia maksudkan adalah guru yang mengajarkan dia membaca dan menulis. Tapi bagi pendengaran lelaki tua itu, istilah “Koh-bun-siang-si” (sastra kuno dan kitab baru) dan “Kong Yang” (cerita tentang kambing jantan) disangkanya dua macam ilmu silat yang sakti. Apalagi melihat Toan Ki mengipas-kipas dengan sikap dingin, seakan-akan seorang yang memiliki ilmu kosen. Maka ia tidak berani sembrono lagi, walaupun tidak pernah mendengar ada seorang jago silat bernama Bing Sut-seng, tapi orang menegaskan mahir dalam macam-macam ilmu, tentunya bukan membual belaka. Cepat ia berkata, “Jika demikian, harap Toan-siauhiap tunggu sebentar, akan kulaporkan Pangcu.”

Habis itu, buru-buru ia tinggal pergi ke balik lereng gunung sana.

“Kau bohongi dia tentang Kong-yang dan Bo-yang (kambing jantan dan kambing betina) segala, ilmu macam apakah itu?” tanya Ciong Ling. “Sebentar jika Sikong Hian hendak mengujimu, mungkin sukar bagimu menjawabnya.”

“Seluruh isi Kong-yang-toan (kitab cerita tentang kambing jantan) sudah kubaca hingga hafal, kalau Sikong Hian mengujiku, tidak nanti aku kewalahan,” sahut Toan Ki.

Ciong Ling terbelalak bingung oleh jawaban yang tak keruan juntrungannya. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Kong-yang-toan itu adalah nama kitab sastra karya Kong-yang Ko di zaman Chun-chiu.

Sementara itu tertampak lelaki tua tadi telah kembali dengan muka masam, katanya pada Toan Ki, “Tadi kau sembarangan mengoceh apa, sekarang Pangcu memanggilmu.”

Melihat gelagatnya, agaknya dia telah didamprat oleh sang Pangcu, Sikong Hian.

Toan Ki mengangguk dan ikut di belakang orang.

“Mari kutunjukkan jalan,” kata lelaki tua itu sembari menarik tangan Toan Ki. Setelah berjalan beberapa tindak, perlahan ia kerahkan tenaga di tangan.

Keruan Toan Ki kesakitan, sambil merintih tertahan ia berkaok, “Aduh! Perlahan sedikit!”

Akan tetapi genggaman lelaki tua itu semakin kencang hingga mirip tanggam kuatnya. Saking tak tahan, akhirnya Toan Ki menjerit kesakitan.

Kiranya ketika lelaki itu menyampaikan tentang “Koh-bun-siang-si” dan “Kong-yang-toan” yang dikatakan Toan Ki tadi, ia telah didamprat sang Pangcu. Karena mendongkol, ia sengaja hendak mengukur ilmu silat Toan Ki. Di luar dugaan, baru sedikit meremas, pemuda itu sudah gembar-gembor kesakitan.

Segera ia bermaksud meremas patah beberapa tulang jari orang, tapi mendadak pergelangan tangan sendiri terasa “nyes” dingin seperti dibelit oleh sesuatu. “Krek”, tahu-tahu tulang pergelangan tangannya patah.

Saking sakitnya, lelaki tua itu cepat memeriksa tangan sendiri, tapi tidak tampak sesuatu benda apa pun. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa diam-diam Ciong Ling yang telah membantu Toan Ki dengan melepaskan Jing-leng-cu untuk mematahkan tulang tangannya, sebaliknya ia menyangka dari tangan Toan Ki yang telah timbul semacam tenaga getaran lihai. Dalam dongkolnya, timbul juga rasa jerinya, ia pikir Lwekang orang ini sedemikian hebatnya, kalau dirinya tidak kenal gelagat, boleh jadi akan lebih celaka lagi nanti.

Meski menanggung rasa sakit luar biasa hingga keringat dingin menetes dari jidatnya sebesar kedelai, namun lelaki itu masih berlagak kuat, sedikit pun tidak merintih sakit, tetap bertindak dengan langkah lebar seakan-akan tidak terjadi sesuatu.

“Engkau ini sungguh orang kasar,” Toan Ki mengomel, “orang berjabatan tangan kan tidak perlu menggunakan tenaga sebesar itu, kukira engkau tidak bermaksud baik.”

Lelaki itu tidak menggubrisnya, ia percepat langkahnya dan membelok ke balik lereng sana.

Waktu Ciong Ling memandang, ia lihat di tengah gundukan batu padas sana berduduk lebih 20 orang. Ia sadar telah masuk ke sarang harimau, maka ia pun cepat menyusul rapat di belakang Toan Ki.

Setelah dekat, Toan Ki melihat di tengah gerombolan orang itu berduduk seorang kakek kurus kecil di atas batu padas yang paling tinggi, berjenggot macam kambing tua, sikapnya sangat angkuh. Pantas lelaki tadi didamprat ketika melaporkan ucapan Toan Ki tentang “cerita si kambing jantan” segala, sebab ternyata kakek kurus kecil itu berjenggot ala kambing.

Toan Ki tahu pasti kakek inilah Pangcu Sin-long-pang, Sikong Hian. Segera ia memberi hormat dan berkata, “Sikong-pangcu, terimalah hormatku, Toan Ki.”

Sikong Hian hanya sedikit membungkukkan badan, tapi tidak berbangkit, tanyanya, “Ada urusan apa saudara datang ke sini?”

“Kabarnya kalian ada permusuhan dengan Bu-liang-kiam,” tutur Toan Ki. “Cayhe sendiri hari ini telah menyaksikan kematian dua orang Bu-liang-kiam secara mengenaskan, karena tidak tega, maka sengaja datang kemari untuk memberi jasa baik. Hendaklah diketahui bahwa permusuhan lebih baik dilenyapkan daripada diperpanjang. Apalagi bunuh-membunuh dan berkelahi juga melanggar undang-undang negara, kalau diketahui pembesar setempat, pasti sama-sama tidak enak. Maka sudilah Sikong-pangcu membatalkan maksud kurang baik ini sebelum terlambat dan lekas-lekas pergi dari sini, jangan mencari perkara lagi kepada Bu-liang-kiam.”

Dengan sikap dingin dan tak acuh Sikong Hian mendengarkan cerita Toan Ki itu tanpa komentar, ia hanya meliriknya.

Maka Toan Ki berkata lagi, “Apa yang kukatakan ini timbul dari maksud baikku, harap Pangcu suka pikirkan dengan baik.”

Masih dengan sikap aneh Sikong Hian memandangi pemuda itu, mendadak ia terbahak-bahak, katanya, “Siapakah kau bocah ini berani bergurau dengan tuanmu? Siapa yang suruh kau ke sini?”

“Siapa yang suruh aku ke sini?” Toan Ki menegas. “Sudah tentu aku sendiri!”

“Hm,” jengek Sikong Hian mendongkol. “Selama berpuluh tahun aku berkelana di Kangouw dan belum pernah kulihat seorang bocah bernyali sebesar kau ini hingga berani main gila padaku. A Toh, tangkap kedua bocah ini.”

Segera seorang laki-laki tegap mengiakan dan melompat maju hendak mencengkeram lengan Toan Ki.

“Eeh, jangan!” seru Ciong Ling cepat. “Sikong-pangcu. Toan-siangkong ini menasihati engkau dengan maksud baik, jika tidak mau menurut boleh terserah, kenapa main kekerasan?”

Lalu ia berpaling pada Toan Ki dan berkata, “Toan-heng, jika Sin-long-pang tidak mau mendengar nasihatmu, kita juga tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Marilah pergi!”

Akan tetapi lelaki tegap tadi sudah memegangi kedua tangan Toan Ki terus ditelikung ke belakang sambil menunggu perintah sang Pangcu lebih jauh. Keruan Toan Ki meringis kesakitan.

Maka Sikong Hian berkata pula dengan dingin, “Hm, Sin-long-pang justru tidak suka orang lain ikut campur urusannya, kalian berdua bocah ini anak siapa, masa boleh pergi datang sesukamu, ha? Pasti di balik layar ada sesuatu yang mencurigakan. A Hong, tawan sekalian anak perempuan itu!”

Kembali seorang laki-laki kekar lain mengiakan terus hendak menangkap Ciong Ling.

Namun sedikit mengegos mundur, Ciong Ling berkata pula, “Sikong-pangcu, jangan kira aku takut padamu. Soalnya ayahku melarang aku bikin onar di luaran, maka aku tidak suka cari perkara. Lekas suruh orangmu melepaskan Toan-heng itu, jangan kau paksa aku turun tangan, akibatnya pasti tidak enak.”

“Hahaha, anak perempuan omong besar,” Sikong Hian terbahak-bahak. “A Hong, lekas kerjakan!”

Kembali lelaki bernama A Hong mengiakan terus mencengkeram lengan Ciong Ling. Di luar dugaan, sekonyong-konyong telapak tangan kiri si gadis memotong ke kuduk A Hong. Cepat A Hong menunduk, namun celakalah dia, tahu-tahu kepalan kanan Ciong Ling secepat kilat menggenjot dari bawah ke atas, “plok”, janggutnya tepat kena dipukul, tanpa ampun lagi tubuh A Hong segede kerbau itu mencelat dan jatuh terjengkang serta tak bisa berkutik.

“Ehm, tampaknya anak perempuan ini boleh juga,” ujar Sikong Hian tawar, “tapi kalau hendak main gila dengan Sin-long-pang, rasanya belum cukup memadai.”

Segera ia mengedipi seorang tua kurus tinggi di sampingnya.

Orang tua itu tinggi lencir mirip galah bambu, tanpa suara tahu-tahu ia sudah berada di depan Ciong Ling.

Lucu juga tampaknya kedua seteru itu, yang satu teramat tinggi, yang lain pendek, selisih kedua orang hampir setengah badan.

Segera kakek itu ulur kesepuluh jarinya yang mirip cakar burung terus mencengkeram pundak Ciong Ling.

Melihat serangan lawan cukup lihai, cepat Ciong Ling berkelit ke samping, jari kakek itu menyambar lewat di samping pipinya hingga terasa angin serangan itu sangat keras, diam-diam gadis itu terperanjat, serunya cepat, “Sikong-pangcu, lekas kau perintahkan orangmu berhenti. Bila tidak, jangan salahkan aku turun tangan keji, kelak kalau aku diomeli ayah-ibu, kau pun tidak terlepas dari tanggung jawab.”

Sedang Ciong Ling berkata, sementara itu si kakek jangkung beruntun sudah menyerang tiga kali lagi, tapi selalu dapat dihindarkan si gadis pada saat berbahaya.

“Tangkap dia!” bentak Sikong Hian tanpa peduli teriakan Ciong Ling.

Segera si kakek jangkung menyerang pula, tangan kanan pura-pura menghantam, tahu-tahu tangan kiri mencengkeram lengan Ciong Ling.

Gadis itu menjerit kaget, saking kesakitan hingga wajahnya pucat. Namun mendadak si gadis ayun tangan kiri ke depan, tiba-tiba selarik sinar emas menyambar, kakek jangkung itu hanya mendengus tertahan sekali terus melepaskan lengan Ciong Ling dan jatuh duduk di tanah. Kiranya Kim-leng-cu secepat kilat telah menggigit sekali punggung tangan lawan, lalu melompat kembali ke tangan Ciong Ling.

Lekas seorang laki-laki setengah umur berjubah panjang di samping Sikong Hian membangunkan si kakek jangkung, ia merasa sekujur badan sang kawan itu menggigil hebat, punggung tangan tampak bersemu hitam dan menjalar ke bagian tubuh yang lain dengan cepat.

Kembali Ciong Ling bersuit, Kim-leng-cu melejit ke muka lelaki yang menawan Toan Ki. Cepat orang itu hendak menangkis dengan tangan, tapi kebetulan bagi Kim-leng-cu, terus saja dipagutnya tangan itu.

Ilmu silat lelaki itu jauh di bawah si kakek jangkung, keruan ia lebih-lebih tak tahan, seketika ia meringkal di lantai bagai cacing sambil merintih-rintih.

Segera Ciong Ling menarik Toan Ki dan diajak pergi, bisiknya, “Kita sudah bikin onar, lekas lari!”

Orang-orang yang berada di sekitar Sikong Hian itu adalah gembong-gembong Sin-long-pang semua, selama hidup mereka berusaha mencari obat dan menjual jamu, maka segala macam ular atau lebah berbisa pernah dilihatnya, tapi Kim-leng-cu yang bisa melayang pergi datang secepat kilat dan berbisa jahat itu, tiada seorang pun di antara mereka yang kenal jenis ular apakah itu.

Dalam kagetnya, tanpa merasa Sikong Hian berseru, “He, apakah ‘Uh-hiat-su-leng’? Lekas tangkap bocah perempuan itu, jangan sampai lolos!”

Segera empat lelaki di sampingnya melompat maju dan mengepung dari beberapa penjuru. Namun sekali bersuit, Ciong Ling sudah lolos Jing-leng-cu yang melilit di pinggangnya itu, sekali sabet, ia tahan dua musuh yang menubruk maju. Berbareng Kim-leng-cu telah dilepaskan hingga berturut-turut keempat lelaki itu kena dipagutnya. Cukup sekali gigit saja, setiap orang itu lantas terkapar, ada yang berkelejetan, ada pula yang meringkal bagai cacing.

Melihat ular kecil itu terlalu lihai, namun jago-jago Sin-long-pang itu tiada yang berani mundur di hadapan sang Pangcu, kembali 7-8 orang memburu maju pula sambil membentak-bentak.

“Jika ingin selamat, hendaklah jangan maju,” seru Ciong Ling. “Siapa pun yang kena tergigit Kim-leng-cu ini, tiada obat penolongnya.”

Jago-jago Sin-long-pang itu bersenjata semua, ada yang membawa golok, ada yang memakai cangkul pendek dan lain-lain, mereka berharap dengan senjata itu dapat menahan serangan ular emas lawan.

Namun ular kecil itu teramat gesit, lebih cepat daripada segala macam senjata rahasia, setiap kali asal senjata lawan menyerang, cukup sekali tolak ekornya di atas senjata lawan, tahu-tahu ia sudah melejit ke depan dan dapat menggigit musuh. Maka dalam sekejap saja, kembali beberapa orang roboh terjungkal pula.

Sikong Hian tak dapat tinggal diam lagi, ia gulung lengan baju dan cepat mengeluarkan sebotol obat air, ia tuang obat itu dan gosok-gosok telapak tangan dan lengannya, lalu melompat ke depan Ciong Ling dan Toan Ki sambil membentak, “Berhenti!”

Sekonyong-konyong Kim-leng-cu melejit lagi dari tangan Ciong Ling hendak menggigit batang hidung Sikong Hian. Cepat Pangcu Sin-long-pang itu angkat tangannya ke atas dengan rada mengirik sendiri, sebab ia tidak tahu apakah obat ular ciptaan sendiri itu manjur tidak untuk menghadapi ular emas yang gesit dan lihai luar biasa itu, jika tidak manjur, bukan saja nama baiknya selama ini akan hanyut, bahkan Sin-long-pang sejak itu pun akan ludes.

Untung baginya, baru saja Kim-leng-cu pentang mulut hendak pagut tangannya, mendadak binatang itu menikung di atas udara, ekornya menutul telapak tangan Sikong Hian, terus melompat kembali ke tangan Ciong Ling.

Girang Sikong Hian tak terkira, terus saja tangan kirinya memukul, saking hebat angin pukulannya itu, pula tak sempat berkelit, Ciong Ling tergetar sempoyongan, hampir saja terjungkal. Bahkan angin pukulan itu masih terus menyambar ke belakang hingga Toan Ki ikut tergetar dan roboh terjengkang.

Ciong Ling terkejut, berulang-ulang ia bersuit mendesak Kim-leng-cu menyerang musuh.

Kembali ular emas itu memelesat ke depan, namun obat yang terpoles di tangan Sikong Hian itu justru adalah obat jitu anti Kim-leng-cu, binatang itu tidak berani sembarangan memagut lagi, jika hendak menggigit muka atau bagian bawah badan, segera Sikong Hian mainkan kedua telapak tangannya sedemikian cepatnya hingga air pun tak bisa tembus.

Segera Ciong Ling putar Jing-leng-cu mengeroyoknya dari samping. Karena tidak tahu Jing-leng-cu itu tak berbisa, Sikong Hian menjadi waswas, ia menjaga diri dengan rapat sambil membentak-bentak memberi perintah kepada begundalnya.

Maka tertampaklah berpuluh orang anggota Sin-long-pang mengepung maju, setiap orang membawa segebung rumput obat yang dinyalakan, asap rumput itu mengepul tebal sekali.

Baru saja Toan Ki merangkak bangun dari jatuhnya tadi, begitu mencium bau asap rumput itu, seketika ia roboh dan pingsan pula. Lamat-lamat ia lihat Ciong Ling juga mulai sempoyongan menyusul gadis itu pun terjungkal.

Segera dua anggota Sin-long-pang menubruk maju hendak meringkus Ciong Ling, tapi Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu teramat setia membela sang majikan, segera dipagutnya pula kedua orang itu. Kontan yang satu meringkal keracunan bagai ebi dan yang lain tulang kaki patah kena dibelit oleh Jing-leng-cu yang keras bagai kawat baja itu.

Seketika itu jago-jago Sin-long-pang menjadi jeri, beramai-ramai mereka merubung kedua muda-mudi yang menggeletak di tanah itu dan tidak berani sembarangan turun tangan.

Cepat Sikong Hian berseru, “Bakar kunyit di sebelah timur, di sebelah selatan dibakar Sia-hio (semacam bibit wangi dari musang), semua orang menyingkir dari barat-laut!”

Segera anak buahnya mengikuti perintah itu, biasanya segala macam bekal obat-obatan selalu tersedia dalam Sin-long-pang, obat yang dibakar itu baunya sangat keras, begitu dibakar, seketika menyiarkan asap tebal yang berbau menusuk hidung dan tertiup ke arah Ciong Ling.

Tak terduga, meski di bawah embusan asap yang merupakan obat anti mereka, namun Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu masih tetap lincah dan gesit, dalam sekejap saja lagi-lagi beberapa orang Sin-long-pang digigit roboh lagi.

Sikong Hian berkerut kening, cepat ia mendapat akal, serunya, “Lekas gali tanah dan uruk anak perempuan ini hidup-hidup bersama ular-ularnya.”

Gegaman sebangsa cangkul dan sebagainya selalu tersedia di tangan anak buah Sin-long-pang, cepat saja mereka menggali tanah dan diuruk ke atas tubuh Ciong Ling.

Waktu itu pikiran sehat Toan Ki masih belum lenyap sama sekali, ia pikir sebab musabab dari segala peristiwa itu berpangkal atas dirinya, kalau Ciong Ling mengalami nasib mati dikubur hidup-hidup, rasanya dirinya juga tak bisa hidup sendiri. Maka sekuatnya ia melompat ke atas tubuh si gadis dan merangkulnya sambil berseru, “Bagaimanapun biarlah kita gugur bersama!”

Menyusul ia merasa batu pasir beterbangan menjatuhi badannya.

Mendengar kata-kata “bagaimanapun biarlah kita gugur bersama” itu, hati Sikong Hian ikut tergerak, ia lihat di sekitarnya menggeletak lebih 20 anak buahnya, beberapa di antaranya bahkan adalah tokoh penting, termasuk pula dua orang Sutenya, jika anak perempuan ini dibunuh untuk melampiaskan rasa gusar sendiri, namun racun ular emas itu terlalu lihai, tanpa obat penawar si gadis, tentu sukar menolong jiwa orang-orangnya itu. Maka cepat katanya, “Biarkan jiwa kedua bocah itu tetap hidup, jangan uruk bagian kepala mereka!”

Ciong Ling sendiri lemas tak bertenaga, ia merasa badan tertindih Toan Ki dan makin lama makin berat, keduanya sama-sama tak bisa berkutik. Maka dalam sekejap saja, badan kedua muda-mudi itu bersama Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu sudah terpendam di bawah tanah, hanya kepala mereka yang menongol keluar.

“Anak perempuan, coba katakan sekarang, ingin mati atau hidup?” tanya Sikong Hian dengan nada dingin.

“Sudah tentu ingin hidup,” sahut Ciong Ling. “Jika aku dan Toan-heng tewas, kalian rasanya juga takkan bisa hidup.”

“Baik,” ujar Sikong Hian, “lekas serahkan obat penawar racun ular, lantas kuampuni jiwamu.”

“Tidak, hanya jiwaku saja tidak cukup, harus jiwa kami berdua,” kata Ciong Ling.

“Baiklah boleh kuampuni jiwa kalian berdua,” sahut Sikong Hian. “Nah, mana obat penawarnya?”

“Aku tidak membawa obat penawar,” kata si gadis. “Racun Kim-leng-cu ini hanya ayahku saja yang bisa mengobatinya. Bukankah sudah kukatakan padamu, jangan kau paksakan aku turun tangan, sebab ayah pasti akan marah padaku dan bagimu juga tiada gunanya.”

“Bocah cilik, dalam keadaan begini masih berani membual!” sahut Sikong Hian bengis, “kalau kakek kadung murka, bisa kutinggalkan kau di sini hingga mati kelaparan.”

“Eh, apa yang kukatakan adalah sesungguhnya, kenapa engkau tidak percaya,” kata Ciong Ling. “Ai, pendek kata, urusan sudah kadung runyam, mungkin ayah tak dapat dibohongi, lantas bagaimana baiknya?”

“Siapa nama ayahmu?” tanya Sikong Hian.

“Usiamu sudah tua, kenapa engkau tidak kenal aturan?” sahut si gadis. “Nama ayahku mana boleh sembarangan kukatakan padamu?”

Sungguh kewalahan Sikong Hian, meski berpuluh tahun dia malang melintang di dunia Kangouw, tapi menghadapi dua bocah seperti Ciong Ling dan Toan Ki, ia benar-benar tak berdaya. Dengan gemas ia berkata pula, “Ambilkan api, biar kubakar dulu rambut anak perempuan ini, coba lihat dia mau mengaku atau tidak.”

Segera anak buahnya mengangsurkan sebuah obor, Sikong Hian terus mendekati Ciong Ling dengan memegang obor itu.

Keruan Ciong Ling ketakutan melihat wajah orang yang bengis itu, ia berteriak-teriak, “Hei, jangan! Memangnya tidak sakit rambut dibakar? Kenapa tidak coba kau bakar jenggotmu sendiri saja?”

“Sudah tentu kutahu sakit, buat apa kubakar jenggot sendiri?” sahut Sikong Hian dengan tertawa ejek. Terus saja ia angkat obor dan diabat-abitkan di depan hidung Ciong Ling, keruan gadis itu menjerit takut.

Cepat Toan Ki memeluk tubuh si gadis lebih kencang sambil berseru, “He, jenggot kambing, urusan ini berpangkal kesalahanku, biar rambutku saja boleh kau bakar!”

“Jangan, kau pun akan merasa sakit!” ujar Ciong Ling.

“Jika kau takut sakit, lekas keluarkan obat penawarnya untuk menolong saudara kami itu,” desak Sikong Hian.

“Engkau ini orang tua, tapi bodoh melebihi kerbau,” sahut Ciong Ling. “Sejak tadi sudah kukatakan bahwa hanya ayahku yang bisa menyembuhkan keracunan Kim-leng-cu, bahkan ibuku pun tidak bisa. Memangnya kau sangka mudah mengobatinya?”

Mendengar sekitarnya berisik dengan suara merintih orang yang digigit Kim-leng-cu tadi, Sikong Hian menduga pasti racun ular ini sangat menyakitkan, bila tidak, anak buahnya yang tergolong laki-laki gagah itu, biasanya biarpun sebelah kaki atau tangan dikutungi orang juga tidak sudi merengek sedikit pun. Tapi kini meski sudah minum obat penawar racun ular buatan sendiri, namun toh masih merintih tidak tahan, terang obat ular yang biasanya sangat mujarab itu pun tidak berguna, dalam putus asanya, Sikong Hian terus memelototi Ciong Ling sambil membentak, “Siapa bapakmu, lekas katakan namanya!”

“Apa benar engkau ingin tahu, kau tidak takut mendengarnya?” tanya si gadis.

Mendadak hati Sikong Hian tergerak, ia jajarkan istilah “Uh-hiat-su-leng” dengan nama seorang, pikirnya, “Apa mungkin ‘Uh-hiat-su-leng’ ini adalah piaraan orang ini? Jika orang ini belum mati, dan selama ini dia hanya mengasingkan diri, hanya pura-pura mati saja, lalu aku mengungkat namanya, kelak dia pasti akan bikin repot padaku.”

Sekilas Ciong Ling melihat wajah Sikong Hian menampilkan rasa jeri, ia sangat senang, segera katanya pula, “Makanya lekas kau lepaskan kami, supaya ayahku tidak bikin susah padamu.”

Secepat kilat benak Sikong Hian timbul beberapa pikiran, “Bila kulepaskan dia, dan ayahnya benar adalah orang yang kuduga, setelah nona ini ditanya, pasti dia akan tahu aku telah dapat meraba rahasianya, lalu jiwaku pasti takkan dibiarkan hidup oleh orang itu? Tentu dia akan membunuh diriku untuk menutupi rahasianya. Tapi kalau kini kubunuh anak perempuan ini, para saudara yang menderita ini pun susah dipertahankan jiwanya. Hm, sekali sudah berbuat, kepalang bila tidak kuteruskan sampai titik terakhir!”

Setelah ambil keputusan, diam-diam tangan kirinya terus mengerahkan tenaga dan menghantam kepala Ciong Ling.

Melihat sikap orang mendadak berubah, segera Ciong Ling tahu gelagat jelek, ketika melihat pula tangan orang memukul, cepat ia berteriak, “Hai, tahan, jangan pukul dulu!”

Namun Sikong Hian tidak ambil peduli lagi, pukulan tetap diteruskan, tapi baru saja hampir menyentuh kepala si gadis, sekonyong-konyong bagian kuduk terasa sakit seperti digigit sesuatu, karena itu, walaupun pukulannya itu tetap mengenai kepala Ciong Ling, namun tenaga sudah lenyap di tengah jalan hingga mirip mengusap rambut si gadis saja.

Kejut Sikong Hian tak terkira, cepat ia tarik napas panjang untuk melindungi jantungnya, tangan lain melepaskan obor terus berputar ke belakang leher untuk menangkap tapi celaka, lagi-lagi punggung tangan terasa digigit.

Kiranya sesudah Kim-leng-cu terpendam dalam tanah, diam-diam ia telah menyusup keluar, dan pada saat Sikong Hian tidak menduga-duga mendadak binatang itu menyerang. Keruan Sikong Hian sangat cemas dan khawatir, cepat ia duduk bersila di tanah dan mengerahkan tenaga dalam untuk mengusir racun.

Segera anak buahnya menyekop tanah dan menguruk lagi ke atas Kim-leng-cu, namun binatang itu sempat melejit dan menggigit roboh seorang lagi, dalam kegelapan tampak sinar emas gemerlap beberapa kali, tahu-tahu dia sudah lari ke dalam semak-semak rumput.

Lekas anak buah Sikong Hian mengambilkan obat ular untuk sang Pangcu, setelah luar-dalam memakai obat, mulut sang Pangcu dijejal pula sebatang Jin-som untuk memperkuat tenaganya. Berbareng Sikong Hian pun mengerahkan Lwekang untuk melawan racun ular, tapi tiada seberapa lama, ia lemas tak tahan, terpaksa ia ambil keputusan kilat, ia lolos sebatang golok pendek terus menebas lengan kanan sendiri hingga kutung. Namun tengkuknya yang juga digigit ular itu kan tak mungkin kepala mesti ikut dipenggal juga.

Melihat keadaan sang Pangcu yang luar biasa itu, anak buah Sin-long-pang sama ngeri, lekas mereka membubuhi lengan Sikong Hian dengan obat luka, namun darah mengucur bagai sumber air, begitu obat dibubuhkan, segera diterjang buyar oleh air darah. Cepat seorang anak buah sobek lengan baju sendiri untuk membalut lengan kutung sang Pangcu, dengan demikian lambat laun darah dapat dihentikan.

Melihat itu, muka Ciong Ling pun pucat ngeri, ia tidak berani bersuara lagi.

“Apakah ular emas tadi adalah Kim-leng-cu dari Uh-hiat-su-leng?” tiba-tiba Sikong Hian tanya dengan suara geram.

“Ya,” sahut Ciong Ling.

“Kalau kena digigit, setelah linu pegal tujuh hari baru korban akan mati, betul tidak?” tanya Sikong Hian pula.

Kembali si gadis mengiakan.

“Seret anak muda itu,” perintah Sikong Hian pada anak buahnya.

Beramai-ramai anggota Sin-long-pang terus menyeret Toan Ki dari bawah gundukan tanah.

“He, he, urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan dia, jangan bikin susah padanya!” cepat Ciong Ling berteriak sambil meronta-ronta hendak melompat bangun.

Namun anak buah Sin-long-pang itu cepat menguruk pasir batu pula ke tempat yang luang bekas Toan Ki tadi hingga Ciong Ling tak bisa berkutik. Saking khawatir mengira Toan Ki akan dibunuh, gadis itu menangis tergerung-gerung.

Sebenarnya Toan Ki pun ketakutan, tapi sedapatnya ia tenangkan diri, katanya dengan tersenyum, “Nona Ciong, seorang jantan sejati pandang kematian bagai pulang ke rumah, kita tidak boleh takut di hadapan kawanan orang jahat ini.”

“Aku bukan jantan sejati, maka aku tidak mau pandang kematian seperti pulang ke rumah,” sahut Ciong Ling.

Mendadak Sikong Hian memberi perintah, “Beri minum bocah ini dengan Toan-jiong-san, pakai takaran untuk tujuh hari lamanya.”

Segera anak buahnya mengeluarkan sebotol obat bubuk merah dan mencekoki Toan Ki dengan paksa.

Keruan Ciong Ling khawatir setengah mati, ia berteriak-teriak, “He, he, itu racun, jangan mau minum!”

Ketika mendengar nama “Toan-jiong-san” atau obat bubuk perantas usus, segera Toan Ki tahu racun itu sangat lihai, tapi dirinya sudah jatuh di bawah cengkeraman orang, tidak minum terang tidak mungkin, maka dengan ikhlas ia telan obat bubuk itu, malahan mulutnya sengaja berkecek-kecek, lalu katanya dengan tertawa, “Ehm, manis juga rasanya. Eh, Sikong-pangcu, apakah kau pun akan minum barang setengah botol?”

Sikong Hian menjengek gusar tanpa menjawab, sebaliknya Ciong Ling yang sedang menangis itu mendadak tertawa geli, tapi lantas menangis lagi.

“Toan-jiong-san ini baru akan bekerja sesudah tujuh hari nanti hingga usus dan perutnya akan hancur,” kata Sikong Hian kemudian. “Maka selama tujuh hari ini hendaknya lekas kau pergi mengambilkan obat penawar racun ular itu, bila tugas ini kau lakukan dengan baik, nanti aku pun memberi obat penawar racun padamu.”

“Sulit,” sahut Ciong Ling. “Racun Kim-leng-cu itu hanya bisa dipunahkan dengan Lwekang khas ayahku sendiri, selamanya tidak ada obat penawar.”

“Jika begitu, suruh ayahmu datang ke sini untuk menolongmu,” kata Sikong Hian.

“Enak saja kau bicara,” sahut si gadis, “tak mungkin ayahku sembarangan keluar rumah. Sudah pasti dia takkan keluar selangkah pun dari lembah gunung kami.”

Sikong Hian dapat memercayai apa yang dikatakan Ciong Ling itu, seketika ia menjadi ragu-ragu.

“Paling baik begini saja,” tiba-tiba Toan Ki mengusul, “kita beramai-ramai pergi ke rumah nona Ciong dan mohon orang tuanya menyembuhkan racun ular, cara demikian bukankah lebih cepat dan tepat.”

“Tidak, tidak boleh jadi!” kata Ciong Ling. “Ayahku pernah menyatakan, tak peduli siapa pun juga, asal menginjak setindak ke dalam lembah kami, orang itu harus dibinasakan.”

Sementara itu luka gigitan ular di belakang leher Sikong Hian terasa makin pegal dan gatal, dengan gusar ia berteriak, “Aku tak peduli tetek bengek itu, kalau kau tidak mengundang ayahmu kemari, biarlah kita gugur bersama.”

Ciong Ling pikir sejenak, lalu katanya, “Kau lepaskan aku dulu, biar kutulis sepucuk surat kepada ayah untuk memohon kedatangannya. Tapi harus kau suruh seorang yang tidak takut mati untuk menyampaikan surat pada beliau.”

“Bukankah bocah she Toan ini bisa kusuruh ke sana, buat apa suruh orang lain?” kata Sikong Hian gemas.

“Ai, engkau benar-benar pelupa.” ujar si gadis. “Bukankah sudah kukatakan, barang siapa berani menginjak selangkah saja ke lembah kami dia akan binasa. Dan aku tidak ingin Toan-heng ini mati, tahu tidak?”

“Jika dia takut mati, apa anak buahku tidak takut mati?” sahut Sikong Hian. “Sudah, sudah, tak perlu pergi, biarlah kita lihat saja, aku mati kemudian atau dia mampus duluan.”

Kembali Ciong Ling menangis tergerung-gerung lagi, serunya, “Kau kakek jenggot kambing ini sungguh tidak tahu malu, hanya pandai menghina seorang nona cilik! Perbuatanmu ini apakah terhitung seorang kesatria sejati kalau diketahui orang Kangouw?”

Namun Sikong Hian tidak menggubrisnya, ia mengerahkan Lwekang sendiri untuk melawan bisa ular.

“Biarlah aku berangkat saja”, kata Toan Ki tiba-tiba. “Nona Ciong, jika ayahmu tahu kedatanganku ke sana adalah untuk memohon dia datang ke sini menolongmu, kuyakin beliau pasti takkan mengapa-apakan diriku.”

Tiba-tiba Ciong Ling mengunjuk girang, katanya, “Ah, aku mendapat akal. Begini, jangan kau katakan pada ayahku di mana aku berada. Tapi setelah kau bawa beliau ke sini, segera kau melarikan diri, kalau tidak, tentu celaka!”

“Ehm, bagus juga akalmu ini,” ujar Toan Ki sambil manggut-manggut.

Lalu Ciong Ling berkata pula pada Sikong Hian, “He, jenggot kambing, begitu kembali nanti Toan-heng harus segera melarikan diri, lalu cara bagaimana engkau akan memberi obat penawar racun padanya?”

Sikong Hian menunjuk sepotong batu besar jauh di barat-laut sana dan berkata, “Aku akan suruh orang menunggu di sana dengan obat penawar, begitu Toan-kongcu ini lari sampai di sana bisa segera mendapatkan obatnya.”

Ia berharap Toan Ki berhasil mengundang ayah Ciong Ling untuk menolong jiwanya, maka panggilannya kepada Toan Ki sekarang berubah menjadi terhormat.

Segera Sikong Hian memberi perintah agar anak buahnya menggali keluar Ciong Ling, tapi sebagai gantinya kedua tangan si gadis dibelenggu. Dalam pada itu tampak Jing-leng-cu masih kelogat-keloget di dalam tanah, sedang ular kecil lainnya sudah mati terpendam.

“Kau belenggu kedua tanganku, cara bagaimana aku bisa menulis surat?” kata Ciong Ling kemudian.

“Kau dara cilik ini terlalu licin, kau bilang hendak menulis surat, jangan-jangan akan main gila lagi,” ujar Sikong Hian. “Tak perlu pakai surat segala, berikan sepotong barang milikmu kepada Toan-kongcu sebagai tanda pengenal untuk ayahmu.”

“Kebetulan,” sahut Ciong Ling tertawa. “Aku memang tidak suka tulis-menulis. Lalu benda apakah yang berada padaku? Ah, biarlah Jing-leng-cu saja kau bawa kepada ayahku, Toan-heng.”

“He, jang … jangan,” seru Toan Ki cepat. “Dia takkan turut perintahku, kalau di tengah jalan aku digigitnya, kan celaka!”

“Jangan khawatir.” ujar Ciong Ling tersenyum. “Dalam saku bajuku ada sebuah kotak kemala kecil, harap kau keluarkannya.”

Segera Toan Ki masukkan tangan ke saku si nona, tapi baru tangan menyentuh baju, cepat ia tarik kembali tangannya. Ia merasa perbuatannya kurang sopan, masa tangan seorang pemuda gerayangan di dalam baju seorang gadis.

Namun Ciong Ling tidak pikir sampai di situ, desaknya malah, “Ayo, kenapa tidak lekas mengambil? Di saku sebelah kiri!”

Toan Ki pikir urusan sudah telanjur runyam, keadaan sangat mendesak, nona cilik ini pun masih kekanak-kanakan, sedikit pun tiada rasa perbedaan antara lelaki perempuan, maka aku pun tidak perlu pikir yang tidak-tidak.

Segera ia merogoh saku si gadis dan mengeluarkan sepotong benda bundar yang keras dan hangat-hangat.

“Di dalam kotak kemala itu terdapat benda anti Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu,” kata Ciong Ling. “Jika Jing-leng-cu tidak menurut perintah, boleh kau ayun-ayun kotak kemala itu di atas kepalanya, dengan sendirinya dia tak berani main gila lagi.”

Toan Ki menurut, ia angkat kotak kemala di depan kepala Jing-leng-cu, maka terdengarlah suara mendesis aneh beberapa kali di dalam kotak itu, seketika Jing-leng-cu sangat ketakutan hingga mengkeret badannya.

Senang sekali Toan Ki melihat itu, “Benda apakah di dalam kotak ini? Biar kumelihatnya!”

Segera ia hendak membuka tutup kotak itu.

Namun Ciong Ling keburu mencegah, “He, jangan! Tutup kotak sekali-kali tak boleh dibuka!”

“Sebab apa?” tanya Toan Ki.

Ciong Ling melirik sekejap ke arah Sikong Hian, lalu berkata, “Ini rahasia, tidak boleh didengar orang luar. Nanti kalau sudah kembali akan kuberi tahukan padamu.”

“Baiklah,” kata Toan Ki, sebelah tangan memegang kotak kemala, tangan lain melepaskan Jing-leng-cu dari pinggang Ciong Ling dan diikat di pinggang sendiri.

Ternyata Jing-leng-cu membiarkan dirinya diperbuat sesukanya oleh Toan Ki, sedikit pun tidak berani membangkang. Keruan pemuda itu sangat senang, katanya, “Hah, ular ini menarik juga!”

“Bila dia lapar, dia akan mencari makan sendiri, tak perlu khawatir baginya,” kata Ciong Ling pula, “dan bila kau bersuit begini, dia akan menggigit orang, kalau kau mendesis begini, dia lantas kembali ke tanganmu.”

Sembari berkata, ia bersuit memberi contoh.

Dengan rasa tertarik, Toan Ki menirukan ajaran si gadis.

Sebaliknya Sikong Hian tidak sabar, ia pikir anak muda ini benar-benar kurang ajar, sudah dekat ajal, masih main ular segala, segera ia membentak, “Lekas pergi dan cepat kembali! Jiwa semua orang tinggal beberapa hari saja, jika ada alangan dalam perjalanan tentu jiwa masing-masing akan melayang. Nona Ciong, dari sini ke tempat tinggalmu makan waktu berapa lama?”

“Kalau cepat, dua hari bisa sampai, pergi-pulang empat hari pun sudah cukup,” sahut Ciong Ling.

Sikong Hian rada lega oleh jawaban itu, ia mendesak pula, “Baiklah, lekas berangkat, lekas!”

“Tapi belum kuberi tahu jalannya kepada Toan-heng, harap kalian menyingkir dari sini, siapa pun dilarang mendengarkan,” kata si gadis.

Segera Sikong Hian memberi tanda hingga anak buahnya sama menyingkir pergi.

“Kau pun menyingkir,” kata Ciong Ling pada Sikong Hian.

Diam-diam Sikong Hian geregetan, katanya dalam hati, “Kurang ajar! Kelak bila lukaku sudah sembuh, kalau tidak kubalas permainkan kau, percumalah aku menjadi manusia.”

Segera ia berbangkit dan menyingkir pergi juga.

“Toan-heng,” kata Ciong Ling kemudian sambil menghela napas lega, “baru saja kita berkenalan, kini sudah harus berpisah.”

“Tidak apa, paling lama pergi-pulang cuma empat hari,” sahut Toan Ki tertawa.

Sepasang mata bola Ciong Ling termangu memandangi anak muda itu, katanya, “Setiba di sana, harap menemui ibuku lebih dulu untuk menceritakan duduk perkaranya dan biar ibuku yang bicara kepada ayahku. Dengan demikian urusan akan lebih mudah diselesaikan.”

Lalu ia gunakan ujung kaki untuk menggores-gores tanah, untuk menjelaskan jalan ke rumah tinggalnya itu.

Kiranya tempat tinggal Ciong Ling itu terletak di sebuah lembah di tepi barat sungai Lanjong. Meski jaraknya tidak jauh, tapi tempatnya tersembunyi dan sukar ditempuh, kalau tidak diberi petunjuk, orang luar tak nanti menemukannya.

Namun daya ingat Toan Ki sangat baik, apa yang ditunjukkan Ciong Ling biarpun menikung ke sana dan membelok ke sini secara membingungkan, tapi sekali dengar ia lantas ingat.

Setelah Ciong Ling selesai menguraikan, segera katanya, “Baiklah, sekarang aku akan berangkat!”

Terus saja ia putar tubuh dan bertindak pergi.

Tapi baru pemuda itu berjalan belasan tindak, tiba-tiba Ciong Ling teringat sesuatu, serunya, “Hei, kembali!”

“Ada apa?” tanya Toan Ki sambil memutar balik.

“Paling baik engkau jangan mengaku she Toan, lebih-lebih jangan bilang ayahmu mahir menggunakan It-yang-ci,” pesan si gadis. “Sebab … sebab mungkin sekali akan menimbulkan prasangka ayahku.”

“Baiklah,” sahut Toan Ki tertawa. Ia pikir nona ini meski masih sangat muda, tapi pikirannya ternyata amat teliti. Segera ia bertindak pergi sembari bernyanyi-nyanyi kecil.

Tatkala itu hari sudah gelap, sang dewi malam sudah menongol di tengah cakrawala, di bawah cahaya bulan Toan Ki terus menuju ke barat. Meski dia tak bisa ilmu silat, tapi usianya muda, tenaganya kuat, jalannya cukup cepat.

Setelah belasan li jauhnya, ia sudah melintas sampai di belakang gunung Bu-liang-san. Ia dengar suara gemerciknya air, di depan ada sebuah sungai kecil, karena merasa haus, Toan Ki menuju ke tepi sungai itu, ia lihat air sungai sangat bening, segera ia gunakan tangan untuk meraup air. Tapi belum lagi mulutnya mengecup air, tiba-tiba ia dengar suara orang tertawa dingin di belakang.

Dalam kejutnya cepat Toan Ki berpaling, maka tertampaklah gemerdepnya senjata tajam, ujung pedang sudah mengancam di dadanya. Waktu mendongak, ia lihat seorang tersenyum mengejek, kiranya Kam Jin-ho dari Bu-liang-kiam.

“Eh, kiranya kau, bikin kaget aku saja,” kata Toan Ki berlagak tertawa. “Sudah malam begini, ada apa Kam-heng berada di sini?”

“Atas perintah guruku, aku justru lagi menunggumu di sini,” sahut Kam Jin-ho. “Maka silakan Toan-heng ikut ke Kiam-oh-kiong untuk bicara sebentar.”

“Urusan apakah? Harap tunda sampai lain hari saja,” ujar Toan Ki. “Hari ini aku ada urusan penting dan perlu lekas berangkat.”

“Tidak, betapa pun harap Toan-heng ke sana,” kata Jin-ho. “Bila tidak, aku pasti akan didamprat oleh guruku.”

Melihat wajah orang mengunjuk tanda kurang beres, hati Toan Ki tergerak, lamat-lamat ia dapat menebak apa maksud orang, pikirnya, “Celaka, mungkin dia sengaja hendak menahan aku agar penolong yang diundang tidak bisa datang, dengan demikian orang Sin-long-pang akan terbinasa dan Bu-liang-kiam mereka tidak khawatir lagi terhadap musuh utama itu.”

Segera ia tanya pula, “Dari mana Kam-heng mengetahui aku akan datang ke sini?”

“Hm,” jengek Jin-ho. “Perembukanmu dengan nona Ciong terhadap Sin-long-pang sudah kudengar dan lihat semuanya. Bu-liang-kiam tiada dendam permusuhan apa-apa denganmu, engkau pasti takkan dibikin susah. Yang diharap sukalah kau mampir barang beberapa hari ke tempat kami, kemudian engkau akan dibebaskan.”

“Mampir beberapa hari?” Toan Ki menegas. “Kan bisa celaka, padahal aku telah minum Toan-jiong-san pihak Sin-long-pang, kalau racunnya bekerja lantas bagaimana?”

“Boleh jadi setelah minum sedikit obat urus-urus, perutmu takkan sakit lagi,” kata Kam Jin-ho tertawa.

Diam-diam Toan Ki khawatir, seketika ia pun tiada akal untuk meloloskan diri. Kalau ikut pergi ke Kiam-oh-kiong, mungkin dirinya akan menjadi korban, bahkan Ciong Ling, Sikong Hian dan lain-lain juga akan binasa.

Dalam pada itu ujung pedang Kam Jin-ho sudah mengancam di dada Toan Ki hingga terasa sakit.

“Ayo, ikut! Mau atau tidak mau harus ikut ke sana!” kata murid Bu-liang-kiam itu.

“Dengan demikian, bukankah kalian sengaja hendak membunuh aku?” kata Toan Ki.

“Jika sudah berani berkelana di Kangouw, jiwa harus berani dibuat taruhan,” ujar Jin-ho tertawa. “Orang penakut macammu ini sungguh terlalu.”

Habis berkata, “sret”, mendadak pedang terus mengiris ke bawah hingga baju Toan Ki terobek sepanjang puluhan senti.

Kam Jin-ho ini tidak malu sebagai murid pilihan Bu-liang-kiam, biarpun baju Toan Ki terobek disayat, namun badan sedikit pun tidak terluka. Maka tertampaklah perut Toan Ki yang putih itu, cepat pemuda itu memegangi bajunya yang kedodoran.

“Eh, putih juga, seperti perempuan,” goda Jin-ho dengan tertawa. Mendadak ia berubah bengis, bentaknya, “Ayo, lekas jalan, jangan bikin tuanmu kehilangan sabar, sekaligus bisa kusayat mukamu hingga berpuluh jalur merah!”

Terpaksa, Toan Ki menurut, ia pikir nanti di tengah jalan harus mencari akal untuk meloloskan diri.

Segera ia betulkan bajunya, lalu katanya, “Jika sebelumnya kutahu Bu-liang-kiam kalian begini jahat, tentu aku tidak sudi ikut campur urusan kalian ini, biar kalian sekaligus diracun mampus oleh Sin-long-pang.”

“Kau mengomel apa?” bentak Jin-ho. “Bu-liang-kiam kami adalah Eng-hiong-hohan (kesatria dan gagah) semua, masakan jeri terhadap kawanan Sin-long-pang yang tak kenal malu itu.”

“Sret”, kembali pedangnya menggores baju di punggung Toan Ki, ketika sampai pinggang, terdengar suara “krek”, goresan pedang itu teralang sesuatu.

Mendadak barulah Toan Ki ingat bahwa di pinggangnya terlilit Jing-leng-cu, ia merasa dirinya terlalu goblok, kenapa sejak tadi tidak minta bantuan binatang itu? Segera ia bersuit menirukan Ciong Ling.

Begitu kepala Jing-leng-cu menegak, terus saja ia memagut ke muka Kam Jin-ho. Keruan jago Bu-liang-kiam itu kaget, cepat ia menyurut mundur. Sekali pagut tidak kena, Jing-leng-cu membalik ke bawah hendak melilit lengan Jin-ho.

Betapa lihainya ular hijau ini sudah dikenal Jin-ho, bahkan pedang gurunya pernah dililit patah. Maka cepat ia melompat berkelit pula.

Untung baginya, sebab Toan Ki belum pandai mengendalikan Jing-leng-cu, ia tidak melepaskan binatang itu dari pinggangnya, tapi terus bersuit memerintah untuk menyerang musuh, maka sebagian besar badan Jing-leng-cu masih melilit di pinggang, sebab itulah serangannya terbatas hingga dua kali memagut dapat dihindarkan Kam Jin-ho.

Melihat Kam Jin-ho melompat mundur, Toan Ki pikir inilah kesempatan baik, cepat ia angkat langkah seribu, ia berlari-lari ke arah barat.

“Hai, berhenti!” bentak Jin-ho sambil menguber. “Aku membawa obat anti ular, ular hijau itu tidak berani menggigit aku, tak mungkin kau bisa lolos!”

Walaupun begitu katanya, namun ia pun tidak berani mendesak terlalu dekat.

Dasar Toan Ki, belum sampai satu li jauhnya, napasnya sudah megap-megap.

Sebaliknya Kam Jin-ho sangat cekatan larinya, ia mendapatkan sepotong tangkai kayu pula dan digunakan memukul punggung Toan Ki.

Dalam gugupnya tiba-tiba timbul juga kecerdasan Toan Ki, cepat ia lepaskan Jing-leng-cu dari pinggang sambil bersuit, sekuatnya ia ayun ular itu ke belakang. Dengan demikian Kam Jin-ho menjadi jeri dan tertinggal lebih jauh.

Pikir jago Bu-liang-kiam itu, “Kau anak sekolahan ini sedikit pun tak bisa ilmu silat, asal aku terus mengintil di belakangmu, tiada sejam, tentu kau akan mati lelah.”

Maka uber-menguber itu terus berlangsung menuju ke arah barat.

Tiada lama kemudian, napas Toan Ki benar-benar terasa hampir putus, jantung memukul keras seakan-akan meledak. Pikirnya, “Jika aku tertawan dia, jiwa nona Ciong pasti akan ikut menjadi korban.”

Karena gugupnya ia tak bisa pilih jalan lagi, yang ia tuju selalu rimba lebat hutan belukar, ke sanalah dia menyusup terus.

Setelah menguber sebentar pula, mendadak Jin-ho dengar suara gemerujuknya air yang gemuruh. Tergerak pikirannya, waktu mendongak, ia lihat diarah barat-laut sana terdapat sebuah air terjun raksasa dengan airnya yang dituang ke bawah bagai sungai gantung.

Cepat Jin-ho berhenti sambil berteriak, “Hei, di depan adalah tempat larangan golongan kami, jika kau berani maju lagi hingga melanggar larangan, pasti kau akan mati tak terkubur!”

Bukannya Toan Ki berhenti, sebaliknya ia sangat girang dan berlari ke depan malah, pikirnya, Jika di sana adalah tempat larangan Bu-liang-kiam, tentu dia sendiri tidak berani mengejar pula. Jiwaku memang lagi terancam, takut apa?”

“Hai, lekas berhenti!” kembali Jin-ho berteriak. “Apa kau tidak pikirkan nyawamu lagi?”

“Aku justru ingin nyawaku, maka aku lari ….” baru sekian jawaban Toan Ki, sekonyong-konyong kakinya terasa menginjak tempat kosong. Ia tidak mahir ilmu silat, pula sedang berlari, tentu saja ia tidak bisa menahan diri, langsung tubuhnya anjlok ke bawah.

“Haya!” teriak Toan Ki kaget, namun badannya sudah terjerumus ke bawah jurang yang berpuluh tombak dalamnya.

Waktu Jin-ho memburu sampai di tepi jurang, yang terlihat hanya kabut tebal, apa yang terjadi di bawah jurang sedikit pun tidak terlihat. Ia menduga Toan Ki pasti akan terbanting hancur lebur, sedangkan tempat di mana dia berdiri adalah tempat terlarang golongan sendiri, maka ia tidak berani lama-lama di situ, cepat ia putar balik melaporkan kepada sang guru.

Sementara itu tubuh Toan Ki yang terapung di udara itu, kedua tangannya meraup ke sana-sini dengan harapan bisa menangkap sesuatu untuk menahan daya turunnya.

Kebetulan juga mendadak Jing-leng-cu yang masih dipegang olehnya itu dapat melilit pada suatu dahan pohon Siong yang tumbuh di dinding tebing. Beberapa kali badan ular itu membelit dengan kencang dan kuat di atas dahan itu.

Ketika mendadak Toan Ki merasa daya turunnya berhenti, hampir saja ia tidak kuat memegang Jing-leng-cu dan hampir pula terberosot ke bawah. Untung Jing-leng-cu cukup cerdik, cepat ekornya melilit beberapa kali di pergelangan tangan Toan Ki. Maka menjeritlah mendadak anak muda itu kesakitan.

Kiranya daya turunnya tadi sangat keras, sekali ditahan oleh ekor Jing-leng-cu secara mendadak, seketika lengan kanannya keseleo alias terkilir.

Badan Jing-leng-cu ternyata sangat keras dan kuat luar biasa, meski dibuat gantungan Toan Ki yang bobotnya ratusan kati itu sambil membuai-buai, namun masih bisa bertahan dengan baik.

Waktu Toan Ki memandang ke bawah, ia lihat awan terapung mengambang di udara jurang, betapa dalamnya jurang itu tidak terlihat. Untuk mendaki ke atas, terang tidak mungkin, apalagi tangannya keseleo, tenaga habis.

Pada saat itulah, badannya yang terayun terasa menempel dinding tebing, cepat ia ulur tangan kiri untuk meraih pangkal dahan, segera kakinya mendapatkan tempat berpijak pula, baru sekarang ia merasa lega dan tenang.

Ketika jurang itu diamat-amati, ia lihat di tengah jurang merekah sebuah celah panjang, di tengah celah itu banyak terdapat sebangsa batu pasir, kalau mau, mungkin juga bisa dibuat jalan merambat turun ke bawah dengan perlahan.

Setelah mengaso sebentar, Toan Ki merasa serbarunyam kalau tinggal di situ, kalau tidak bisa naik ke atas, terpaksa turun ke bawah jurang untuk mencari jalan keluar lain.

Meski dia hanya seorang sekolahan, namun mempunyai semangat banteng. Ia pikir jiwanya toh sisa temuan, kalau akhirnya mesti melayang lagi, biarlah. Mati ya mati, seorang laki-laki kenapa takut mati?

Segera ia bersuit pula, lalu mendesis-desis sebagai tanda kembalinya Jing-leng-cu.

Mendengar suara suitan, Jing-leng-cu lantas melepas belitannya di atas dahan dan kembali ke tangan Toan Ki. Maka badan binatang itu diikat pula pada dahan tempat berpijak, kemudian sambil memegangi badan ular, ia merosot ke bawah.

Setelah dekat ujung ekor ular, kakinya memperoleh tempat berpijak lagi, lalu menarik kembali Jing-leng-cu untuk dipakai tali memberosot ke bawah pula dan begitu seterusnya. Untung bagian bawah jurang itu tidak terlalu curam, akhirnya ia tidak perlu bantuan Jing-leng-cu sudah dapat turun ke bawah.

Ia dengar suara gemuruh air makin lama makin keras, ia menjadi khawatir lagi, “Jika di bawah sana ada arus air yang dahsyat, celakalah aku.”

Ia merasa butiran air sudah berhamburan dan menciprat mukanya, begitu besar butiran air itu hingga menimbulkan rasa sakit pedas.

Akhirnya sampailah dia di dasar jurang. Waktu memandang ke depan, tanpa tertahan Toan Ki bersorak memuji. Ternyata di tebing kiri sana ada sebuah air terjun raksasa yang menuangkan airnya yang jernih ke sebuah danau besar, begitu luas danau itu hingga tidak kelihatan tepi sebelah sana.

Walaupun dituangi air terjun sekeras itu, namun air danau itu tidak menjadi penuh, tentu ada saluran yang membuang air itu ke tempat lain.

Tempat air terjun menggerujuk itu airnya bergulung-gulung, tapi belasan tombak di luar air terjun itu, air danau tenang bening bagai kaca.

Toan Ki terkesima oleh pemandangan alam yang menakjubkan itu. Karena itu ia sampai lupa pada sakit lengannya yang keseleo itu.

Ketika kemudian ia sadar akan rasa sakit itu, segera ia gulung lengan baju dan berkata pada ruas tulang yang keseleo itu, “Wahai, ruas tulang, jika kudapat membetulkanmu, tentu takkan sakit lagi. Tapi kalau salah sambung biarlah terserah nasib, lebih kesakitan juga masa bodoh.”

Ia kertak gigi dan menarik sekuatnya lengan yang terkilir itu. “Krek”, eh, tulang yang keseleo itu dapat diluruskan kembali, walaupun rasa sakitnya tidak kepalang, tapi lengan itu kini dapat bergerak dengan bebas lagi.

Toan Ki sangat girang, walaupun sudah menderita setengah harian, namun dasar semangat banteng, ia penuh gairah. Ia meraba Jing-leng-cu dan berkata, “Wahai, Jing-leng-cu, hari ini kalau kau tidak menyelamatkan jiwaku, tentu sejak tadi tuanmu ini sudah naik ke surga. Maka kelak pasti akan kusuruh tuan putrimu memiaramu terlebih baik.”

Ia mendekati tepi danau dan meraup air untuk diminum, terasa airnya segar dan rada-rada manis pula.

Setelah tenangkan diri, Toan Ki pikir, “Urusan hari ini sudah sangat mendesak, aku harus lekas mencari jalan keluar, jangan-jangan Kam Jin-ho itu sebentar akan menyusul ke sini, kan bisa celaka.”

Segera ia menyusur tepi danau untuk mencari jalan.

Danau itu ternyata berbentuk lonjong, sebagian besar teraling-aling oleh semak-semak tetumbuhan. Toan Ki mengitar kira-kira tiga li jauhnya, ia lihat tebing curam di sekeliling sana terlebih terjal, hanya tebing yang dia turun tadi lebih mendingan, suasana sunyi senyap, jangankan jejak manusia, jejak binatang pun tidak tampak, hanya kicau burung terkadang terdengar.

Karena itu, Toan Ki sedih lagi, ia pikir tak jadi soal dirinya mati kelaparan di situ, tapi jiwa nona Ciong bagaimana jadinya? Ia duduk di tepi danau dengan rasa cemas dan gelisah, sedikit pun tak berdaya.

Kemudian ia pikir, “Boleh jadi jalanku terlalu buru-buru hingga tidak memerhatikan kalau ada sesuatu jalan kecil yang teraling semak-semak atau tertutup batu-batu gunung?”

Karena itu ia bangkit pula, dengan riang sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia menyusuri tepi danau lagi untuk mencari jalan keluar.

Kali ini ia telah periksa setiap semak pohon di tepi danau, namun di balik semak-semak itu adalah batu karang melulu yang menempel di dinding jurang yang menjulang tinggi ke langit. Jangankan jalan keluar, bahkan liang ular atau lubang jangkrik pun tidak tampak sesuatu.

Makin lama makin perlahan nyanyi Toan Ki, perasaannya semakin lama semakin tertekan. Ketika berputar kembali sampai di depan air terjun tadi, kakinya sudah lemas, ia mendomprok ke tanah.

Dalam putus asa, timbul khayalannya, “Bila aku bisa menjadi seekor ikan, aku akan menyusur air terjun itu dan berenang ke atas jurang sana.”

Sambil berpikir sinar matanya terus mengikuti jalannya air terjun itu dari bawah ke atas. Ia lihat di sebelah kanan air terjun itu mencuat sepotong batu putih gilap bagai kemala. Melihat gelagatnya, boleh jadi air terjun itu pada masa dahulu jauh lebih besar lagi daripada sekarang ini, Entah sudah mengalami gerujukan berapa lama hingga dinding batu itu tergosok rata licin bagai kaca. Kemudian air terjun berubah kecil dan dinding batu sehalus kaca itu pun kelihatan.

Tiba-tiba Toan Ki ingat kata-kata Sin Siang-jing sehabis bertanding di Kiam-oh-kiong, ia telah menyindir ketua sekte timur Bu-liang-kiam, Co Cu-bok, menanyakan selama lima tahun itu apakah sudah banyak meyakinkan pelajaran dinding kemala. Karena itu, Co Cu-bok rada gusar dan menegur sang Sumoay apakah sudah lupa pada pantangan perguruan sendiri, akhirnya Siang-jing bungkam.

Teringat pula olehnya sebabnya Bu-liang-kiam bermusuhan dengan Sin-long-pang adalah karena Sin-long-pang minta mencari obat ke belakang gunung ini. Lereng gunung Bu-liang-san ini penuh dengan hutan belukar, kalau cuma mencari sedikit bahan obat saja apa alangannya?

Dasar otak Toan Ki sangat cerdas, mendadak timbul rasa curiganya. Segera ia menyelami setiap pembicaraan yang pernah didengarnya setelah datang di Kiam-oh-kiong itu, maka teringatlah ketika Ciong Ling bertanya tentang “Bu-liang-giok-bik” apa segala pada Co Cu-bok, seketika ketua Bu-liang-kiam itu tercengang dan pura-pura tidak tahu, sebaliknya Ciong Ling terus menyindir atas sikap orang itu.

Tampaknya apa yang dimaksudkan “Giok-bik” itu adalah dinding gunung kemala dan bukan “Giok-bik” dari batu kemala. Sekarang di hadapannya terdapat suatu dinding gunung yang putih gilap bagai kemala, pula terletak di belakang gunung Bu-liang-san, terang dinding tebing gunung ini banyak hubungannya dengan apa yang terjadi hari ini.

Menyusul teringat pula ketika dirinya terjerumus ke dalam jurang tadi, berulang-ulang Kam Jin-ho membentaknya agar berhenti, katanya tempat itu adalah tempat Bu-liang-kiam yang terlarang didatangi siapa pun juga.

Maka pikirnya pula, “Ketika aku ikut Be Ngo-tek ke Kiam-oh-kiong, pernah kutanya sebab apa ketiga sekte Bu-liang-kiam itu setiap lima tahun harus saling bertanding sekali dan yang menang berhak menghuni Kiam-oh-kiong selama lima tahun? Namun jago tua she Be itu hanya garuk-garuk kepala dan menyatakan itu adalah rahasia golongan Bu-liang-kiam, orang luar tidak mengetahuinya.”

Ia coba menganalisis apa yang telah dilihat dan didengarnya itu, ia menduga di atas Giok-bik itu tentu terukir semacam rahasia pelajaran ilmu pedang yang ditetapkan oleh leluhur Bu-liang-kiam, bahwa sekte mana yang menang dalam pertandingan boleh tinggal di situ untuk mempelajari ilmu pedang itu selama lima tahun.

Berpikir sampai di sini, ia bertambah yakin akan rekaannya itu.

Sejak kecil Toan Ki sangat dipengaruhi oleh ajaran agama Buddha, ia benci terhadap ilmu silat. Ia minggat dari rumah juga disebabkan tidak mau belajar silat. Tapi setelah beruntun-runtun dianiaya, dihina dan diracun orang, yang berbuat itu semuanya adalah orang persilatan pula, maka bencinya terhadap ilmu silat makin mendalam.

Maka demi ingat dinding kemala itu ada sangkut-pautnya dengan ilmu silat, segera ia melengos tidak sudi memandangnya lagi. Pikirnya, “Sebabnya orang suka berkelahi dan bunuh-membunuh di dunia ini, semuanya gara-gara ilmu silat masing-masing. Apabila di atas dinding kemala itu terukir ilmu silat yang tiada tandingannya di seluruh kolong langit, itu berarti akan membawa bencana lebih hebat bagi manusia, akibatnya tentu jauh lebih celaka daripada Kim-leng-cu, Toan-jiong-san dan sebagainya.”

Ia pikir sambil berjalan terus, namun akhirnya rasa ingin tahunya lebih kuat daripada segala pikiran lain, ia pikir pula, “Rahasia ilmu silat yang tertera di atas dinding kemala itu pasti sangat susah diyakinkan, bila tidak, rasanya Co Cu-bok dan saudara-saudara seperguruannya tidak perlu bersusah payah mempelajarinya selama lima tahun dan ternyata tidak banyak hasilnya. Aku justru ingin tahu macam apakah ilmu silat yang aneh itu?”

Segera ia menengadah pula, ia lihat dinding itu halus gilap seperti kaca, dari mana bisa terukir sesuatu rahasia ilmu pedang atau ilmu silat lain? Ia coba mengincar dari samping dan mengamati dari depan pula, namun tetap tiada sesuatu yang menarik, pikirnya pula, “Apa yang dikatakan orang kuno belum tentu sungguh-sungguh. Boleh jadi leluhur Bu-liang-kiam sengaja membohongi anak murid mereka agar bisa lebih giat berlatih. Atau mungkin juga dugaanku yang salah?”

Setelah memandang sekian lama pula, ia merasa letih dan lapar. Tanpa pikir lagi ia rebahkan diri dan tertidur. Ketika mendusin esok paginya, perutnya semakin keroncongan, tapi di tengah lembah itu tiada sesuatu makanan, buah-buahan pun tidak tampak.

Sampai tengah hari, saking lapar Toan Ki terus petik beberapa bunga hutan sekadar tangsel perut. Walaupun pahit getir rasanya bunga itu, terpaksa ia telan mentah-mentah.

Setelah beberapa jam lagi, sang surya sudah doyong ke barat, ia lihat di angkasa danau timbul selarik bianglala yang indah permai. Ia tahu di mana ada air terjun, pantulan sinar matahari sering menimbulkan bayangan bianglala yang berwarna-warni. Menghadapi pemandangan permai itu, ia merasa tidak penasaran biarpun harus terkubur di lembah gunung itu. Setelah termenung-menung agak lama, akhirnya ia rebah dan terpulas lagi.

Tidurnya itu nyenyak benar, ketika mendusin, waktunya sudah tengah malam. Ia lihat sang dewi malam sedang memancarkan cahaya yang tenang lembut. Ketika mendongak memandang ke dinding batu sana, ia lihat di dinding itu jelas terlukis dua benda.

Toan Ki terkesiap, ia kucek-kucek mata dan memandangnya lebih jelas, kiranya kedua benda itu hanya bayangan saja. Yang satu berbentuk melengkung mirip pelangi yang dilihatnya siang tadi, yang lain adalah bayangan sebatang pedang.

Bayangan pedang itu sangat terang, baik batang pedang, tangkainya, ujungnya, semuanya mirip benar.

Setelah pikir sejenak, Toan Ki menarik kesimpulan di depan dinding batu itu pasti ada sebatang pedang, karena sinar bulan yang menyorot miring itu, maka bayangan pedang tercetak di atas dinding itu.

Ia lihat ujung bayangan pedang itu menunjuk ke pucuk bayangan benda melengkung itu. Waktu ditegasi, Toan Ki merasa bayangan itu makin mirip pelangi. Tidak lama, awan tipis yang menutupi sang dewi malam itu tertiup buyar oleh angin hingga bayangan hitam itu tampak lebih jelas lagi. Dari bayangan hitam benda melengkung itu ternyata timbul jalur aneka warna persis seperti warna-warni bianglala.

Toan Ki semakin heran, pikirnya, “Kenapa di tengah bayangan bisa timbul warna-warni?”

Ketika pandangannya beralih ke arah yang berlawanan dengan dinding batu itu, ia lihat di dinding tebing curam sana lamat-lamat ada sinar berwarna yang bergoyang-goyang.

Seketika ia menjadi sadar, kiranya di dinding situ ada terjepit sebatang pedang, di samping itu ada sepotong batu mestika yang mengeluarkan cahaya pelangi.

Batu permata memangnya mempunyai tujuh warna, maka sinar bulan telah memindahkan pantulan warna-warni itu ke dinding batu sana. Pantas begitu indah menarik. Cuma sayang, tempat di mana terdapat benda-benda mestika itu berpuluh tombak tingginya, betapa pun sukar dicapai untuk dilihat dari dekat.

Belum lama ia menikmati pemandangan indah itu, sang bulan sudah berpindah hingga bayangan itu mulai menipis dan akhirnya lenyap tinggal dinding batu yang tetap halus licin itu.

Tanpa sengaja Toan Ki dapat menemukan rahasia itu, ia pikir, “Kiranya rahasia di atas dinding kemala Bu-liang-san ini beginilah adanya. Kalau tidak kebetulan tergelincir ke sini, belum tentu aku bisa melihat bayangan tadi, sedangkan sinar bulan yang menyorot ke atas dinding itu, dalam setahun hanya ada kesempatan beberapa hari saja. Sebaliknya orang-orang Bu-liang-kiam yang sengaja hendak mencari rahasia itu, kebanyakan pasti datang pada waktu siang hari untuk mengamati dinding batu itu secara bodoh, bisa jadi mereka malah menggali dan membongkar batu pegunungan di atas sana untuk mencari rahasia yang tidak pernah diketemukan itu. Sudah tentu hasilnya tetap nihil.”

Berpikir sampai di sini, ia tertawa geli sendiri, “Hihi, seumpama aku memperoleh pedang serta benda mestika yang mengeluarkan cahaya warna-warni itu, bagiku paling-paling hanya mendapatkan dua macam mainan yang menarik saja, perlu apa mesti banyak pikiran untuk itu? Bukankah aku terlalu goblok?”

Setelah termangu-mangu sejenak, kemudian ia tertidur lagi.

Dalam tidurnya itu, sekonyong-konyong ia melonjak bangun, katanya dalam hati, “He, ujung pedang itu menunjuk ke puncak pelangi bagian bawah, jangan-jangan di balik itu ada rahasianya lagi? Padahal untuk menjepit pedang dan batu mestika itu ke dinding tebing tidaklah mudah dilakukan, bukan saja diperlukan ilmu silat yang tinggi, bahkan harus ada orang mengereknya dengan tali yang panjang. Dan kalau secara susah payah berbuat begitu, di dalamnya pasti mengandung maksud tertentu, apakah artinya rahasianya terletak di ujung pelangi! Kalau dilihat dari kedua bayangan itu, kecuali kesimpulan ini, terang tiada arti lain lagi. Tapi ujung pelangi itu yang satu mengarah ke langit, ujung yang lain sebaliknya menunjuk ke tengah danau, biarpun di dalamnya terkandung rahasia mahabesar juga susah untuk memperolehnya.”

Begitulah Toan Ki termangu-mangu sampai lama, akhirnya ia berpendapat, “Cahaya pelangi setiap waktu berubah-ubah, mungkin tempat yang ditunjuk bayangan pedang itu besok akan berlainan.”

Esok paginya, karena memikirkan munculnya pelangi, ia menjadi lupa lapar. Akhirnya tiba juga sang malam. Selarik pelangi panjang tampak menghias langit pula. Tapi begitu melihat, Toan Ki menjadi kecewa. Ternyata kedua ujung pelangi itu sedikit pun tiada ubahnya seperti kemarin, yang sebelah mengarah ke langit, ujung lain menurun ke tengah danau.

Toan Ki coba mendekati tepi danau, suara gemuruh air terjun itu membuat telinga seakan-akan pekak, hanya sekejap saja baju sudah basah kuyup oleh cipratan air terjun. Ia lihat di tengah danau terdapat suatu pusaran air yang sedang berputar dengan keras sekali. Karena didekati, pelangi tadi lantas tidak kelihatan lagi.

Waktu Toan Ki hitung-hitung, sudah hari ketiga sejak ia jatuh ke dalam jurang. Lewat empat hari lagi, seumpama tidak mati kelaparan, kalau racun Toan-jiong-san di dalam perut mulai bekerja, sekalipun dia tidak sampai mati, tentu kawanan Sin-long-pang akan membunuh Ciong Ling.

Ke sana ke sini juga mati, tidakkah lebih baik terjun ke tengah pusaran air saja untuk melihat apakah ada sesuatu di dasar danau itu. Karena menghadapi jalan buntu, terpaksa mati-matian mencari selamat, kedua, dia memang bersemangat banteng, sekali ingin berbuat, segera dilaksanakannya.

Karena itu, tanpa pikir lagi terus saja ia terjun ke tengah pusaran air itu. Seketika tubuhnya digulung oleh suatu tenaga mahadahsyat terus berputar ke bawah. Lekas ia tutup pernapasannya, sebaliknya pasang mata lebar-lebar, ia lihat sekitarnya hanya air buram belaka, ia terhanyut ke dasar danau oleh arus air yang keras berasal dari air terjun di atas itu.

Toan Ki hanya sekadar bisa berenang saja, terhanyut di tengah arus air yang keras itu, ia tak bisa menguasai diri lagi, tubuhnya berputar-putar dan sebentar saja ia sudah megap-megap kemasukan air, seketika pikirannya samar-samar, hanya merasa terhanyut terus oleh arus air dan entah berapa jauhnya.

Sekonyong-konyong tubuh terasa dilemparkan oleh tenaga pusaran ke atas permukaan air. Ketika Toan Ki menggeraki tangannya serabutan, untung dapat menangkap seutas akar rotan, cepat saja ia pegang kencang-kencang.

Setelah tenangkan diri sejenak, ia membuka mata dan melihat sekitarnya gelap gulita. Ia coba ulur kaki kanan ke depan dan terasa masih menginjak tanah, segera kaki yang lain ikut melangkah maju, tapi kedua tangan masih tidak berani melepaskan pegangannya pada akar rotan tadi.

Setelah belasan tindak jauhnya, ia merasa air hanya sebatas betis kaki, arus air pun tidak terlalu keras lagi, segera ia lepaskan rotan tadi dan berdiri tegak.

Tapi mendadak “blang”, batok kepalanya kebentur sesuatu yang menonjol, saking kesakitan hampir saja ia jatuh kelengar. Diam-diam ia memaki diri sendiri yang kurang hati-hati. Waktu meraba ke atas, benda itu terasa dingin keras, kiranya batu padas.

Setelah berpikir sejenak, Toan Ki tahu dirinya tadi telah terbawa ke dasar danau oleh pusaran air yang dahsyat, tapi arus air itu ada jalan buangannya, maka dirinya ikut terbawa pula sampai di tempat buangan air itu.

Meski keadaannya sekarang banyak celaka daripada selamatnya, namun selama masih ada harapan, ia pantang menyerah, segera ia merangkak maju mengikuti lorong buangan air itu. Ia dengar suara gemerujuknya air terkadang cepat dan terkadang lambat mengalir di kanan kirinya.

Setelah merangkak sebentar, lorong itu makin melebar hingga akhirnya dapatlah ia berdiri sambil membungkuk. Ia berjalan terus, akhirnya dapatlah ia berjalan dengan tegak. Cuma sering ia menginjak lubang di bawah air hingga mendadak badan terendam air sebatas pinggang. Lain saat di atas kepala tiba-tiba menonjol batu padas hingga hampir kepalanya benjut lagi kebentur. Untung kedua tangannya terjulur ke depan sebagai pembuka jalan, kalau tidak entah berapa kali kepalanya akan bertambah telur ayam.

Setelah berjalan lagi, tiba-tiba Toan Ki teringat pada Jing-leng-cu, ia coba meraba pinggang, syukurlah binatang itu masih melilit di situ tanpa kurang apa-apa. Ia merasa pengalamannya hari ini benar-benar merupakan pengalaman aneh selama hidup yang susah diperoleh orang lain.

Sudah turun-temurun ahli waris Bu-liang-kiam suka termangu-mangu memandangi dinding batu itu, tapi sekali-kali tidak mereka sangka bahwa orang harus terjun ke dalam jurang, di situlah mereka akan menemukan apa yang diharapkan itu pada malam hari di bawah sinar bulan purnama.

Namun seumpama sudah melihat bayangan pedang dan batu mestika di dinding itu, kalau tiada punya semangat berani mati, rasanya juga takkan berani melompat ke tengah pusaran air yang berarus dahsyat itu.

Semakin dipikir, semakin senang hati Toan Ki. Tanpa tertahan lagi ia terbahak-bahak, lalu ia bergumam sendiri, “Wahai, Toan Ki! Jika hari ini jiwamu jadi melayang, itu berarti tamatlah riwayatmu. Tapi kalau beruntung bisa keluar dengan selamat, bolehlah kau mengejek Co Cu-bok dan murid-muridnya yang sombong tapi tak becus itu.”

Habis berkata, ia terbahak-bahak pula dengan keras.

Tak tersangka, mendadak di sebelah kanan sana juga ada orang menirukan tertawanya yang terbahak-bahak itu. Keruan Toan Ki kaget, ia berhenti tertawa, segera suara tawa itu pun lenyap.

“Siapa itu?” seru Toan Ki.

“Siapa itu?” terdengar pula suara serupa di sana.

“Kau setan atau manusia?” teriak Toan Ki lagi.

“Kau setan atau manusia?” suara itu tetap menirukannya.

Setelah tertegun sejenak, akhirnya Toan Ki sadar dan tertawa geli sendiri, gerutunya, “Kurang ajar, kiranya adalah kumandang suaraku sendiri.”

Tapi segera timbul curiganya lagi, “Hanya lembah gunung atau sebuah ruangan besar yang dapat menimbulkan kumandang suara. Jika begitu, di sebelah kanan sana tentu ada suatu tempat yang luas. Haha, jika bukannya aku kegirangan hingga terbahak-bahak tawa, tentu aku takkan tahu di sini masih ada suatu tempat lain lagi.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: