Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 3

Begitulah ia terus berteriak-teriak sambil menuju ke tempat datangnya suara itu. Tiada lama ia merasa berada di suatu tempat yang luang, tangannya tidak meraba sesuatu lagi.

Tiba-tiba kehilangan sentuhan, Toan Ki merasa takut malah. Setindak demi setindak ia maju terus, kaki merasa tidak mendapat rintangan apa-apa lagi. Sekonyong-konyong tangan menyentuh sesuatu yang dingin. Begitu tersenggol, benda itu terus menerbitkan suara nyaring “cring”, ketika diraba lagi lebih teliti, kiranya sebuah gembok besar.

Kalau ada gembok dengan sendirinya ada pintu.

Maka cepat Toan Ki meraba-raba pula, benar juga dari atas ke bawah ada belasan paku pintu yang besar-besar. Dalam kejut dan girangnya ia heran pula kenapa di tempat seperti ini ada penghuninya?

Segera ia angkat gembok tadi mengetuk pintu beberapa kali. Tapi sampai lama tiada jawaban apa-apa dari dalam. Kembali ia ketuk-ketuk dan tetap tiada suara sahutan. Maka ia coba dorong pintu itu.

Pintu itu sangat antap seperti terbuat dari baja. Tapi tidak dipalang dari dalam, maka perlahan Toan Ki mendorong dan segera pintu itu terbuka. Dengan suara lantang Toan Ki lantas berseru, “Cayhe Toan Ki secara sembrono telah masuk ke sini, mohon tuan rumah suka memaafkan.”

Ia berhenti sejenak dan tidak mendengar sesuatu suara di dalam, lalu ia melangkah masuk.

Meski waktu itu ia sudah berada di dalam pintu, tapi biarpun matanya melotot hingga biji mata seakan-akan melompat keluar tetap tidak melihat sesuatu benda, hanya hidungnya merasakan bau di sini tidak selembap seperti di lorong air tadi. Ia berjalan terus ke depan, mendadak “blang”, sungguh sial, kembali batok kepalanya kebentur sesuatu.

Syukur ia berjalan perlahan, maka benturan itu tidak terlalu sakit. Waktu diraba, kiranya di situ ada sebuah pintu pula. Perlahan Toan Ki mendorongnya hingga terbuka, tapi di dalam tetap gelap gulita.

Dan begitulah seterusnya, beruntun-runtun Toan Ki telah melalui enam buah pintu. Ketika memasuki pintu keenam itu, mendadak pandangannya terbeliak terang, kontan jantung Toan Ki ikut memukul, serunya di dalam hati, “Ah, akhirnya dapatlah kukeluar dengan selamat!”

Waktu ia perhatikan, kiranya tempat itu adalah sebuah kamar batu berbentuk bulat, sinar terang itu tembus dari sudut kiri sana, cuma agak remang-remang, seperti bukan cahaya matahari. Ia coba mendekati lubang yang tembus sinar itu, tiba-tiba dilihatnya ada seekor udang besar berenang lewat. Ia sangat heran, ia maju lebih dekat, terlihat pula beberapa ekor ikan berwarna-warni sedang berenang di luar sana dengan bebasnya. Ketika diawasi lagi, kiranya lubang jendela itu terbuat dari sepotong batu kristal yang dipasang di dinding itu, besarnya kira-kira sama dengan baskom dan sinar tembus dari kaca yang berjumlah tiga buah itu.

Toan Ki coba mengintip keluar melalui kaca itu, ia lihat di luar sana warna air hijau kebiruan bergerak-gerak tak pernah berhenti, banyak jenis ikan dan udang berenang kian kemari dengan bebasnya.

Maka pahamlah Toan Ki bahwa tempat dirinya berada ini pasti berada di dasar air, kalau bukan di dasar danau, tentu di dasar sungai.

Rupanya pembangun rumah ini dahulu telah banyak mengorbankan jerih payah tenaga dan pikiran baru dapat menarik cahaya air itu ke dalam ruangan, dan ketiga potong batu kaca itu jelas adalah batu mestika yang tiada tara nilainya.

Ketika berpaling, Toan Ki melihat di tengah kamar batu itu terdapat sebuah meja batu, di depan meja ada bangku, di atas meja tertaruh sebuah cermin perunggu. Di samping cermin terdapat sebangsa sisir, tusuk kundai dan sebagainya. Agaknya bekas kamar kaum wanita.

Cermin perunggu itu tepinya sudah berlumut, di atas meja juga banyak debunya, entah sudah berapa lama tiada orang menginjak kamar ini.

Melihat keadaan itu, seketika Toan Ki terkesima malah, pikirnya, “Lama berselang, tentu ada seorang wanita tinggal kesepian di sini. Entah sebab apa hingga dia begitu sedih hingga meninggalkan pergaulan ramai untuk mengasingkan diri di sini.”

Setelah termangu-mangu sejenak, ia periksa pula kamar itu, ia lihat di sekitar dinding kamar penuh terpasang cermin perunggu, sekadar dihitung saja sudah lebih dari 30 buah. Toan Ki makin heran, pikirnya, “Tampaknya wanita yang tinggal di sini ini pasti cantik tiada bandingannya, maka setiap hari senantiasa bercermin, suasana begini sungguh memesona.”

Ia mondar-mandir di dalam kamar itu, sebentar berkecek-kecek kagum, lain saat menghela napas gegetun, ia kasihan pada wanita cantik yang belum pernah dikenalnya itu.

Selang agak lama, mendadak ia teringat, “Haya, celaka! Aku hanya memikirkan urusan orang lain tapi lupa pada kepentingan sendiri. Kalau di sini pun tiada jalan keluar, lalu bagaimana nasibku?”

Waktu ia periksa sekitar kamar, terang sekali tiada jalan tembus lain lagi, dalam keadaan putus asa, ia duduk di atas bangku batu sambil mengomel diri sendiri, “Aku Toan Ki sungguh seorang lelaki dungu, kalau mati di sini hanya bikin kotor tempat si cantik saja. Kalau mau mati, sepantasnya mati di lorong sana. Eh, sebelum ajal, biarlah kulihat wajahku sendiri ini macam apa?”

Segera ia gunakan lengan baju untuk menggosok cermin perunggu di atas meja itu hingga gilap, lalu ia duduk di bangku untuk mengaca, tapi letak cermin agak jauh hingga mukanya kurang jelas, maka ia bermaksud menggeser cermin itu lebih dekat.

Tak tersangka cermin itu ternyata menempel erat di atas meja batu, sekali cermin itu ditarik, seketika bangku yang diduduki itu terasa bergoyang.

Dalam kagetnya Toan Ki sangat girang, cepat ia berbangkit dan menarik cermin itu lebih kuat, maka terdengarlah suara keriang-keriut, bangku batu mulai bergeser hingga tertampak sebuah lubang di bawahnya. Ketika dipandang, di bawah lubang itu terdapat undak-undakan batu yang menurun ke bawah.

“Terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya aku Toan Ki mendapatkan jalan keluar,” seru Toan Ki kegirangan. Terus saja ia turun ke bawah mengikuti undak-undakan batu itu.

Kira-kira belasan undakan, kemudian membelok ke atas, berlingkar-lingkar, makin jauh makin tinggi, setelah menikung beberapa kali lagi, akhirnya pandangan Toan Ki terbeliak terang, tapi mendadak ia menjerit kaget pula ketika tahu-tahu di depannya berdiri seorang wanita cantik berpakaian putri istana dengan pedang terhunus lagi mengancam dadanya.

Sekilas Toan Ki merasa wanita ini cantik luar biasa dan sukar dilukiskan, selama hidupnya belum pernah melihat wanita ayu seperti ini. Saking kejutnya sampai mulut Toan Ki ternganga.

Selang agak lama, ia lihat wanita ini tetap tidak bergerak sedikit pun, ketika diawasi ia lihat wanita itu meski cantik dan agung, tapi bukan manusia hidup.

Waktu diperhatikan lagi barulah ia tahu orang hanya sebuah patung yade putih saja. Cuma patung ini besarnya seperti manusia biasa, baju sutera putih yang dipakai juga bisa bergerak-gerak, yang lebih aneh adalah biji matanya seakan-akan bersinar hidup.

Saking terpesona Toan Ki sendiri tidak menyadari sudah berapa lama ia memandang patung itu, akhirnya ia pun tahu biji mata patung itu adalah buatan dari batu permata hitam. Dan sebabnya patung itu mirip benar dengan manusia hidup adalah karena biji matanya yang bersinar yang terbuat dari batu permata itu. Bahkan muka patung jelita yang terukir dari batu kemala putih ini pun bersemu merah hingga tiada ubahnya seperti manusia hidup.

Ketika Toan Ki miringkan kepala memandang patung itu, ia lihat sorot mata patung itu pun ikut mengerling ke sana seakan-akan hidup, keruan Toan Ki terkejut, ia coba memandangnya dari arah lain lagi, dan sorot mata patung itu pun mengerling mengikuti arahnya, dari sudut mana dia memandang, sorot mata patung juga selalu memandang kepadanya, perasaan yang terkandung dalam sinar mata patung itu pun sukar diraba, seperti girang, seakan-akan sedih, entah suka, entah marah, seperti kemalu-maluan, tapi juga seperti lagi murung.

Toan Ki terkesima sejenak, ia kemudian membungkuk tubuh memberi hormat, katanya, “Enci Dewi, hari ini Toan Ki beruntung dapat bertemu dengan engkau, sungguh mati pun aku tidak menyesal. Enci Dewi tinggal seorang diri di sini, apakah tidak merasa kesepian?”

Aneh bin ajaib, sorot mata patung itu seakan-akan berubah lain, agaknya dapat menerima apa yang diucapkan Toan Ki itu. Sebaliknya pemuda itu sendiri seakan-akan kesurupan setan saja, pandangannya tidak pernah lagi meninggalkan patung kemala itu. Katanya pula, “Enci Dewi, entah siapakah namamu?”

Segera ia pikir barangkali di sekitar sini dapat ditemukan sesuatu catatan. Ia coba memandang seputarnya, tapi baru beberapa kejap, tak tahan lagi ia memandang patung itu lagi.

Kini barulah ia tahu bahwa rambut patung itu adalah rambut manusia tulen, gelung yang agak mengendur ke bawah seakan-akan tersampir di pundak, di atas gelungan terdapat sebuah tusuk kundai kemala berhiaskan dua butir mutiara mestika sebesar jari yang bersinar mengilat.

Ia lihat di sekitar dinding ruangan penuh terhias macam-macam batu permata hingga menyilaukan mata. Di dinding sebelah barat sana jelas tertampak ada delapan huruf yang dibentuk dari batu intan kecil. Arti dari kedelapan huruf itu adalah, “Rahasia Bu-liang dapat ditemukan dengan membuka baju.”

Toan Ki terperanjat, gumamnya sendiri, “Membuka baju Enci Dewi? Mana boleh jadi!”

Walaupun patung itu bukan manusia hidup, tapi sekali pandang Toan Ki sudah kesengsem, sedikit pun ia tidak berani berlaku kurang ajar. Pikirnya, “Memangnya aku tidak ingin tahu segala rahasia apa, umpama ingin juga tidak berani berbuat sembrono terhadap Enci Dewi. Untung sebelum ini tiada orang lain mendatangi tempat ini lebih dulu, kalau tidak, wanita cantik tiada bandingannya ini bukankah akan dibikin kotor oleh segala manusia rendah? Ehm, paling baik aku harus hilangkan huruf-huruf itu agar kelak bila ada orang lain datang ke sini tidak akan bikin kotor patung cantik ini.”

Ia lihat di pojok kamar sana banyak tertumpuk cermin perunggu, sedikitnya ada ratusan buah. Segera ia mengambilnya sebuah dan dipakai menggempur batu permata yang membentuk kedelapan huruf tadi. Khawatir masih ada bekasnya, Toan Ki gosok-gosok pula lubang-lubang kecil bekas gigitan batu permata itu hingga rata benar.

Selesai itu, Toan Ki merasa sudah berjasa bagi “patung dewi” itu, betapa senangnya sukar dikatakan.

Kembali di depan patung itu, ia termangu-mangu lagi seperti orang linglung, bahkan hidungnya seakan-akan mencium bau wangi. Dari suka timbul rasa hormatnya, dari hormat ia menjadi kesengsem. Mendadak ia berteriak, “Enci Dewi, jika engkau bisa hidup dan bicara sepatah saja padaku, biarpun aku harus mati seratus kali, bahkan seribu kali bagimu, aku rela dan senang tak terhingga.”

Tiba-tiba ia berlutut dan menyembah pada patung dewi. Dan karena berlututnya inilah baru ia tahu bahwa di depan patung itu memang terdapat dua buah kasuran tikar seperti disediakan untuk orang bersembahyang. Tikar yang dipakai berlutut Toan Ki itu agak besar, di dekat kaki patung masih ada sebuah kasur tikar yang lebih kecil, agaknya disediakan bila yang sembahyang menjura dengan manggutkan kepala ke lantai.

Ketika Toan Ki mulai menyembah, ia lihat di tepi kedua sepatu patung itu seperti tersulam tulisan.

Ketika diperhatikan, ia dapat membaca tulisan di tepi sepatu kiri berbunyi, “Menjura seribu kali, turut segala perintahku.”

Dan di tepi sepatu kanan bertulis, “Pasti mengalami malapetaka, badan celaka nama musnah.”

Tulisan-tulisan yang masing-masing terdiri dari delapan huruf itu kecil bagai lalat, sepatu patung itu berwarna hijau tua, kalau tidak menyembah pasti tak mengetahui di bawah situ ada tulisannya. Sekalipun dapat melihatnya, orang biasa bila membaca kata-kata, “Menjura seribu kali, turut segala perintahku”, tentu akan merasa enggan, bagi yang berwatak keras dan tinggi hati, boleh jadi patung itu akan didepak.

Apalagi tulisan yang berbunyi, “Pasti mengalami malapetaka, badan celaka nama musnah”, lebih-lebih membikin siapa pun marah bila membacanya.

Tapi kini Toan Ki sudah kesengsem benar-benar terhadap patung dewi itu, ia merasa menjura seribu kali juga pantas, malahan kalau bisa menjadi pesuruh sang dewi, itulah melebihi harapannya. Sedang mengenai bakal mengalami malapetaka, badan celaka dan nama musnah demi sang dewi, betapa pun ia rela.

Sebenarnya kalau orang biasa, bila melihat tulisan itu, andaikan tidak marah, paling-paling juga tertawa dan anggap sepele saja. Tapi dasar Toan Ki sudah kesengsem bagai orang linglung, ia benar-benar terus menjura, sekali, dua kali, tiga kali … empat belas, lima belas … dua puluh … tiga puluh ….

Sambil mulutnya menghitung, dengan sangat khidmat ia menjura tiada hentinya.

Kira-kira menjura lebih 500 kali, Toan Ki merasa kaki sakit, boyok pegal, leher cengeng. Tapi demi sang dewi, betapa pun harus bertahan sampai titik penghabisan, ia sudah bertekad menjura sampai selesai 1.000 kali.

Sampai lebih 800 kali, tiba-tiba kasur kecil yang dibuat ganjal anggukan kepala itu perlahan ambles ke bawah. Setiap kali kepalanya mengangguk, kasur kecil itu lantas ambles lagi sedikit.

Setelah berpuluh kali menjura pula, tiba-tiba dilihatnya tempat yang ambles itu menongol tiga buah ujung panah yang mengarah miring ke atas dan tepat mengincar batok kepalanya. Lamat-lamat tertampak ujung panah itu gemerlapan, batang panah terpasang pegas.

Setelah berpikir sejenak, segera Toan Ki paham persoalannya. Katanya di dalam hati, “Wah, hampir celaka! Kiranya di bawah situ ada perangkapnya berupa panah beracun. Untung aku menjura dengan menghormat sungguh-sungguh sehingga kasur itu ambles perlahan dan panah berbisa itu tidak menjeplak keluar. Jika aku berlaku kasar dan mendepak-depak kasuran itu, sekali alat perangkap terguncang, panah berbisa itu mungkin sudah menancap di perutku. Biarlah kuhabiskan menjura seribu kali, ingin kulihat ada perubahan apa lagi.”

Segera ia menjura pula dan selesaikan jumlah 1.000 kali itu. Ketika mendongak, ia lihat tempat yang ambles tadi terdapat sepotong pelat baja, di atasnya ada ukiran tulisan, segera Toan Ki ambil pelat baja itu dan membacanya, “Karena kau sudah menjura seribu kali, kini kau telah menjadi muridku. Nasibmu selanjutnya akan sangat mengenaskan. Ilmu silat golongan kita yang tiada bandingannya di kolong langit ini berada di dalam kamar batu, harap dipelajari dengan tenang.”

Sungguh kecewa Toan Ki. Justru karena tak mau belajar silat, maka ia minggat dari rumah. Dengan sendirinya sekarang ia pun tidak ingin belajar ilmu silat tiada bandingan di kolong langit apa segala.

Dengan hati-hati ia kembalikan pelat baja tadi ke tempatnya. Ketika berdiri lagi, ia merasa kaki kemeng kaku seluruhnya, hampir saja ia jatuh terguling.

Setelah termangu-mangu sejenak, kemudian ia memberi hormat pula dan berkata, “Enci Dewi, aku tidak mau menjadi muridmu, ilmu silatmu yang tiada bandingan di kolong langit pun aku tidak mau belajar. Hari ini aku masih ada urusan penting, sementara ini kumohon diri. Nanti kalau nona Ciong sudah kuselamatkan, tentu aku akan datang kemari untuk berkumpul lagi dengan Enci Dewi.”

Dengan perasaan berat ia melangkah keluar kamar batu itu. Ia lihat undak-undakan batu di luar kamar miring ke atas, ia melangkah naik dengan ragu-ragu, beberapa kali ia ingin menoleh ke belakang untuk memandang patung cantik itu, syukur imannya cukup teguh, akhirnya ia bisa mengekang diri.

Kira-kira ratusan undakan ke atas, ia sudah membelok tiga kali, lamat-lamat terdengar suara gemuruh air. Setelah beratus undakan lagi, suara air semakin keras seakan-akan memekak telinga, lalu tertampak ada cahaya menembus masuk dari depan sana.

Toan Ki percepat langkahnya hingga tibalah di ujung terakhir undak-undakan batu itu. Ternyata di situ ada sebuah lubang yang cukup untuk dilalui tubuh manusia. Ia coba melongok keluar dengan kepala menongol lebih dulu, tapi ia menjadi kaget.

Di luar sana arus mendebur-debur, gulung-gemulung dengan hebatnya, ternyata sebuah sungai besar. Kedua tepi sungai penuh tebing curam, batu padas sungsang timbul di sana-sini, Toan Ki yakin tempat ini pasti lembah sungai Lanjong.

Kejut dan girang rasa hati Toan Ki. Cepat ia merangkak keluar dari lubang gua itu. Ternyata tempat dirinya berada ini kira-kira belasan tombak tingginya di atas permukaan sungai, biarpun air sungai naik pasang melanda juga takkan mencapai mulut gua ini.

Tapi untuk bisa mencapai daratan, ia perlu juga merayap melalui tebing-tebing curam. Namun berkat bantuan Jing-leng-cu, walaupun dengan susah payah, akhirnya dapatlah Toan Ki sampai di tempat yang aman. Ia ingat baik-baik keadaan sekitar tempat ini agar kelak bila urusannya beres, ia ingin datang lagi ke tempat yang maharahasia ini.

Ia melanjutkan perjalanan dengan menyusur tepi sungai yang penuh batu karang, setelah beberapa li jauhnya, Toan Ki melihat sebuah pohon Tho yang lagi berbuah, memangnya sudah sangat lapar, segera Toan Ki panjat ke atas pohon dan petik buah Tho itu untuk tangsel perut. Habis makan, semangatnya dapat dipulihkan.

Setelah belasan li lagi, akhirnya sampailah di suatu jalan kecil. Ia maju terus mengikuti jalan kecil itu. Ketika hampir magrib baru ia menemukan, “jembatan rantai besi” yang melintang terapung di antara kedua tepi sungai. Ia lihat di atas batu ujung jembatan gantung itu terukir tiga huruf “Sian-jin-toh” atau jembatan orang bajik.

Melihat nama jembatan itu, kembali Toan Ki bergirang, memang itulah jembatan yang dicari sesuai dengan petunjuk Ciong Ling. Terus saja ia menyeberangi jembatan.

Jembatan itu terdiri dari empat utas rantai besi yang sambung-menyambung, dua utas bagian bawah diberi papan kayu untuk jalan, dua utas yang lain dipakai pegangan orang menyeberang.

Begitu Toan Ki menginjak jembatan gantung itu, segera rantai jembatan bergontai-gontai. Sampai di tengah sungai, guncangan jembatan itu semakin hebat. Sekilas pandang ke bawah, air sungai tampak mengombak dan berdebur dengan hebatnya, bila terpeleset jatuh ke bawah, betapa pun pandai berenang rasanya juga takkan mampu melawan ombak yang luar biasa itu.

Toan Ki tak berani menengok lagi ke bawah, ia pandang lurus ke depan, dengan berdebar-debar setindak demi setindak ia merambat ke ujung sana.

Ia duduk mengaso sejenak di tepi jembatan, kemudian baru melanjutkan perjalanan menurut petunjuk yang pemberian Ciong Ling itu.

Menurut Ciong Ling, lembah pegunungan kediamannya itu bernama “Ban-jiat-kok” atau lembah berlaksa maut. Jalan masuknya adalah sebuah kuburan.

Setelah berliku-liku melintasi bukit dan menyusur rimba, ketika sampai di tempat kuburan yang dicari itu, hari sudah remang-remang gelap.

Ia hitung dari kiri ke kanan dan mendapatkan kuburan nomor tujuh, ia lihat di depan kuburan itu terdapat sepotong batu nisan yang bertuliskan “Kuburan Ban Siu Toan.”

Toan Ki tercengang, pikirnya: “Aneh benar nama ini? Kenapa bernama ‘Siu Toan’ (dendam pada Toan)?”

Waktu Ciong Ling memberitahukan tempat tinggalnya, gadis itu menjelaskan kalau mesti mencari kuburan ketujuh dihitung dari kiri, tapi tidak menerangkan apa yang tertulis pada batu nisan.

Kini melihat nama “Ban Siu Toan” yang aneh itu, Toan Ki menjadi ragu. Ia lihat sekitarnya sunyi senyap penuh kuburan, hanya terkadang terdengar suara keresek daun pohon yang bergerak terembus angin senja.

Toan Ki tak berani ayal, segera ia menurut petunjuk Ciong Ling dan menarik batu nisan tadi ke kiri, menyusul menarik lagi dua kali ke kanan dan kembali sekali pula ke kiri. Habis itu ia mendepak tiga kali ke tengah-tengah tulisan pada batu nisan itu. Tulisan yang tepat didepaknya itu adalah huruf “Toan”, yaitu nama keluarga Toan Ki sendiri. Diam-diam ia geli sendiri, bila orang lain, tidak sudi mendepak huruf yang menjadi nama keluarga sendiri itu.

Dalam pada itu tiba-tiba dua potong batu di samping kuburan itu mendadak bergerak hingga tertampak sebuah lubang masuk.

Toan Ki coba melongok ke dalam, tapi keadaan gelap gulita, ia tabahkan diri dan melangkah masuk lubang itu, sambil tangan meraba-raba dan membelok suatu tikungan, akhirnya ia melihat di depan sana ada setitik sinar pelita. Segera ia mendekatinya, tapi ia menjadi kaget, ternyata di samping pelita itu terdapat sebuah peti mati.

Sesuai petunjuk Ciong Ling, Toan Ki lantas tiup padam pelita itu hingga keadaan menjadi gelap pekat. Selang tak lama terdengar suara keriang-keriut beberapa kali, tutup peti mati tadi terbuka sendiri, lalu terdengar suara seorang wanita sedang menegur, “Apakah Siocia yang datang?”

“Cayhe bernama Toan Ki,” cepat Toan Ki menyahut, “atas permintaan nona Ciong, kuingin bertemu dengan Kokcu (pemilik lembah).”

Terdengar wanita itu bersuara heran, rupanya agak terkejut atas kedatangan Toan Ki, katanya, “Ja … jadi kau orang luar? Dan di manakah Siocia kami?”

“Nona Ciong terancam bahaya, Cayhe membawa berita kemari,” sahut Toan Ki.

“Tunggu sebentar, biar kulaporkan pada Hujin (nyonya),” kata wanita itu.

Toan Ki menyatakan baik, ia pikir kebetulan, memangnya nona Ciong suruh aku menemui ibunya lebih dulu, tampaknya urusan ini memberi harapan bagus.

Setelah agak lama berdiri menunggu dalam kegelapan, akhirnya Toan Ki mendengar suara tindakan orang mendatangi, terdengar suara wanita itu berkata padanya, “Hujin menyilakan tuan tamu masuk!”

“Aku tidak bisa melihat,” kata Toan Ki, “terlalu gelap!”

Tiba-tiba terasa sebuah tangan terjulur menarik tangan kanannya dan melangkah masuk ke dalam peti mati, lalu menurun melalui undak-undakan batu.

Setelah beberapa ratus tindak, mendadak pandangannya menjadi terang. Rupanya Toan Ki telah dibawa ke suatu tempat yang penuh tumbuh-tumbuhan bunga. Wanita itu lepaskan tangan Toan Ki yang digandengnya dan berkata, “Tuan tamu silakan ikut padaku.”

Di bawah sinar bulan, Toan Ki melihat wanita itu berusia antara 14-15 tahun, berdandan pelayan, mungkin adalah dayang yang melayani Ciong Ling.

Maka Toan Ki coba bertanya, “Siapakah nama Cici?”

“Sssstt!” pelayan itu mendesis sambil menoleh dan menggoyang-goyang tangan tanda jangan bersuara.

Melihat wajah pelayan itu menampilkan rasa takut, maka Toan Ki tidak tanya lebih lanjut.

Dayang itu membawa Toan Ki menyusur rimba dan menuju ke kiri melalui suatu jalan kecil. Sampai di depan sebuah rumah genting, perlahan pelayan itu mengetok pintu tiga kali, dengan perlahan daun pintu lantas terpentang.

Pelayan itu memberi tanda, Toan Ki disilakan masuk dahulu, ia sendiri berdiri ke samping pintu.

Waktu Toan Ki melangkah ke dalam, ia lihat di situ adalah sebuah ruangan tamu, di atas meja tersulut sebatang lilin besar hingga jelas kelihatan perabotan dalam ruangan itu sangat indah, di atas dinding tergantung beberapa lukisan, dekorasi dalam ruangan tamu yang tidak terlalu luas itu ternyata sangat serasi.

Sesudah Toan Ki ambil tempat duduk, pelayan tadi menyuguhkan teh, katanya, “Silakan Kongcu minum, sebentar Hujin akan keluar!”

Sehabis Toan Ki minum, terdengarlah suara tindakan orang perlahan, dari dalam muncul seorang nyonya berbaju sutera hijau muda, usianya sekitar 40-an tahun, wajahnya putih ayu dan rada mirip dengan Ciong Ling.

Menduga tentu inilah ibu Ciong Ling, cepat Toan Ki berbangkit dan memberi hormat, katanya, “Wansing (saya yang muda) Toan Ki menyampaikan salam pada Pekbo (bibi).”

Mendengar itu, nyonya Ciong rada tercengang, dengan sikap yang anggun ia membalas hormat orang. Ketika Toan Ki mendongak hingga mukanya kelihatan jelas, mendadak air muka Ciong-hujin berubah hebat sambil terhuyung-huyung mundur dua tindak, katanya dengan tergegap, “Kau … kau ….”

“Ada apa Pekbo?” tanya Toan Ki heran.

“Kau … kau juga she Toan?” Ciong-hujin menegas.

Barulah sekarang Toan Ki ingat pada pesan Ciong Ling yang pernah minta agar dia jangan mengaku she Toan. Tapi ia pikir orang she Toan di dunia ini sangat banyak, melulu daerah Hunlam saja tidak kurang beratus ribu lelaki she Toan, belum tentu setiap orang she Toan mahir ilmu It-yang-ci, sebab itulah ia tidak perhatikan pesan gadis itu.

Kini demi tampak wajah Ciong-hujin yang terkejut itu, baru Toan Ki paham apa yang dikatakan Ciong Ling itu sebenarnya mengandung maksud mendalam. Tapi urusan sudah terlambat, terpaksa ia menjawab, “Ya, Wansing she Toan.”

“Kongcu berasal dari mana? Dan siapakah nama orang tua Kongcu?” tanya nyonya Ciong lagi.

Toan Ki pikir sekarang harus berdusta agar asal usulku tak diketahui, maka jawabnya, “Wansing berasal dari Li-an-hu di daerah Kanglam, ayah bernama Toan Liong.”

Ciong-hujin menghela napas lega oleh jawaban itu, setelah tenangkan diri, katanya pula, “Silakan Kongcu duduk.”

Setelah kedua orang sama-sama ambil tempat duduk, nyonya Ciong tidak membuka suara lagi, tapi terus mengamat-amati Toan Ki dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan. Keruan Toan Ki menjadi kikuk, akhirnya ia bicara lebih dulu, “Putri nyonya sedang terancam bahaya, Wansing sengaja datang memberi kabar.”

“Ah! Kenapa dengan putriku?” seru Ciong-hujin tersadar dari lamunannya.

Segera Toan Ki melepaskan Jing-leng-cu dari pinggangnya dan diserahkan pada nyonya rumah, katanya, “Harap Pekbo periksa, ini adalah benda pengenal putrimu yang dibawakan pada Wansing.”

Melihat ular hijau itu, Ciong-hujin berkerut kening dan mengunjuk rasa jemu, ia sedikit menghindar ke belakang sambil berkata, “Kiranya Kongcu juga tidak takut pada binatang berbisa ini. Harap letakkan di pojok rumah sana saja.”

Diam-diam Toan Ki heran melihat nyonya rumah itu jeri pada ular. Ia taruh Jing-leng-cu di sudut ruangan yang ditunjuk itu. Lalu menceritakan pertemuannya dengan Ciong Ling di Kiam-oh-kiong di atas Bu-liang-san dan cara bagaimana dirinya menerbitkan gara-gara hingga bikin marah kawanan Sin-long-pang, di mana terpaksa Ciong Ling melepaskan Kim-leng-cu, tapi akhirnya gadis itu tertawan serta dirinya dipaksa datang kemari minta pertolongan. Semuanya Toan Ki ceritakan, hanya pengalamannya melihat patung kemala di dasar danau itu tak disebut-sebut.

Sambil mendengarkan, Ciong-hujin diam saja, air mukanya makin lama makin menampilkan rasa sedih. Setelah Toan Ki menutur, dengan menghela napas barulah ia berkata, “Anak perempuan ini memang terlalu nakal, begitu keluar rumah lantas bikin onar.”

“Peristiwa ini adalah gara-gara perbuatanku, tak boleh menyalahkan nona Ciong,” ujar Toan Ki.

Dengan termangu-mangu Ciong-hujin memandangi anak muda itu, sahutnya dengan lirih, “Ya, memang tak dapat menyalahkan dia. Dahulu aku pun demikian ….”

“Apa itu?” Toan Ki menegas.

Ciong-hujin terkesiap hingga wajah bersemu merah, meski usianya sudah setengah umur, tapi sikap malu-malu kucingnya itu ternyata tiada ubahnya seperti gadis remaja. Dengan likat ia menjawab, “O, aku … aku hanya teringat pada sesuatu kejadian.”

Dan karena berkata “sesuatu kejadian” itu, wajahnya tampak semakin merah jengah, cepat ia membelokkan pokok pembicaraan, “Kukira urusan … urusan ini agak sulit diselesaikan.”

Melihat sikap nyonya rumah yang kemalu-maluan itu, diam-diam Toan Ki pikir sang ibu ternyata lebih pemalu daripada putrinya yang lincah dan binal itu.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara seorang berkata di luar sana dengan nada dingin, “Hm, apakah tidak pernah kau dengar peraturan di Ban-jiat-kok kami ini?”

Cong-hujin terkejut mendengar suara itu, dengan perlahan katanya pada Toan Ki, “Suamiku datang, dia … dia suka mencurigai orang, sementara harap Toan-kongcu bersembunyi dahulu.”

“Tapi akhirnya Wansing toh harus menjumpai Ciong-cianpwe, lebih baik ….” belum selesai ucapan Toan Ki, cepat tangan Ciong-hujin sudah mendekap mulutnya, lalu menyeretnya ke suatu kamar di sebelah timur sana.

“Sembunyi saja di sini, sekali-kali jangan bersuara,” pesan nyonya rumah. “Watak suamiku sangat keras dan pemarah, bila ketahuan jiwamu akan terancam dan aku pun tak bisa menolongmu.”

Jangan sangka nyonya rumah itu tampaknya lemah lembut, ilmu silatnya ternyata sangat lihai, sedikit pun Toan Ki tak bisa berkutik kena dipegang dan diseret tadi, terpaksa ia menurut saja. Hanya dalam hati pemuda itu rada mendongkol, “Jauh-jauh kudatang memberi kabar, jelek-jelek aku adalah tamu, kenapa mesti disuruh main sembunyi seperti pencuri saja?”

Dalam pada itu terdengar pula suara seorang wanita di balik dinding papan sana sedang berkata, “Suciku ini dipagut ular berbisa, jiwanya terancam bahaya, maka mohon Locianpwe suka memberi pertolongan ….”

Sembari berkata, terdengar suara tindakan tiga orang memasuki ruangan sebelah.

Waktu Toan Ki mengintip melalui celah-celah dinding, ia lihat seorang wanita berbaju hijau, menggembol pedang di punggung, tangan memondong seorang wanita lain dan tiada hentinya minta ditolong.

Di samping sana ada seorang laki-laki berbaju hitam bertubuh tinggi kurus, muka menghadap ke luar, maka wajahnya tidak kelihatan, cuma dari kedua tangannya yang lebar terjulur ke bawah itu, jelas bentuknya sangat aneh luar biasa.

Kemudian terdengar suara Ciong-hujin lagi tanya, “Siapakah kedua tamu ini? Ada keperluan apakah datang ke lembah sini?”

Wanita baju hijau tadi menaruh kawan yang dipondongnya itu ke lantai, lalu bertanya, “Nyonya tentulah Ciong-hujin?”

Ciong-hujin mengangguk.

“Siaulicu (aku perempuan yang muda) bernama Hoan He, anak murid Hoa-san-pay dari Siamsay, terimalah hormatku ini,” kata wanita baju hijau sambil memberi hormat.

“Ah, nona Hoan tak perlu banyak adat,” cepat Ciong-hujin membalas hormat sembari membangunkan orang.

Toan Ki melihat Hoan He itu kira-kira berusia 27-28 tahun, beralis tebal dan bermata besar, gagah mirip kaum pria.

Terdengar ia berkata lagi, “Siaulicu bersama Suci, Si Hun, oleh karena ada keperluan berkunjung ke daerah Hunlam sini, ketika lewat Bu-liang-san, Suci yang kurang hati-hati mendadak dipagut oleh seekor ular emas kecil ….”

Mendengar kata-kata “ular emas kecil”, hati Toan Ki tergerak, pikirnya, “Jangan-jangan yang dimaksudkan itu adalah Kim-leng-cu piaraan nona Ciong?”

“Sebab apakah sampai dipagut oleh ular emas itu?” tanya nyonya Ciong.

“Waktu itu kami merasa lelah dan duduk mengaso di tepi jalan,” demikian tutur Hoan He. “Tiba-tiba tertampak seekor ular emas kecil merayap keluar dari semak-semak rumput, karena tertarik oleh warna emas gemerlap ular itu. Suci telah mencukitnya dengan pedang. Tak tersangka ular kecil itu terus melejit ke atas dan menggigit sekali pada pergelangan tangan Suci. Seketika itu juga Suci jatuh pingsan ….”

Tiba-tiba laki-laki berbaju hitam tadi menyela, “Asal kau bunuh ular emas itu dan telan empedunya, jiwa lantas dapat tertolong.”

Jawab Hoan He, “Pergi-datang ular emas itu teramat cepat, sekali melejit lagi lantas menghilang di tengah-tengah semak-semak rumput, pula Siaulicu sibuk menolong Suci, tidak terpikir bahwa ular itu harus dibunuh.”

“Bagus bila kau tahu bahwa pergi-datang Kim-leng-cu itu secepat kilat,” kata laki-laki baju hitam itu dengan terbahak-bahak. “Orang yang berilmu silat sepuluh kali lebih tinggi daripadamu juga takkan mampu mengatasi binatang itu. Dasar cari penyakit, tanpa sebab kenapa mesti mengutik-utik ular itu dengan pedang? Ha, mampus juga pantas.”

“Sudahlah, orang sudah terluka dan jauh-jauh datang ke sini minta tolong padamu, buat apa menyakiti perasaan orang malah?” ujar sang istri.

Mendengar nada ucapan Ciong-hujin itu, barulah Toan Ki tahu bahwa laki-laki berbaju hitam itu tak-lain tak-bukan adalah ayah Ciong Ling, pemilik Ban-jiat-kok ini.

Dalam pada itu lelaki baju hitam itu sedang terbahak-bahak pula sambil berpaling. Melihat mukanya, Toan Ki menjadi kaget. Ternyata muka orang ini berbentuk lonjong mirip muka kuda, kedua mata tumbuh terlalu tinggi, hidungnya yang besar sebaliknya hampir berdesakan dengan mulutnya yang lebar, hingga di tengah muka terluang suatu bagian yang kosong.

Wajah Ciong Ling cantik molek, sungguh tak nyana bahwa ayah kandungnya bisa begini jelek mukanya.

Tadinya wajah Ciong-kokcu itu penuh senyum ejekan, tapi demi berpaling ke arah sang istri, wajahnya yang jelek itu tampak berubah lemah lembut, katanya dengan tertawa, “Baiklah, apa yang Niocu (istriku) katakan, aku hanya menurut saja.”

Diam-diam Toan Ki heran pula, pikirnya, “Aneh! Tadi ketika mendengar sang suami datang, Ciong-hujin tampak sangat takut, tapi kalau melihat sikap Ciong-kokcu sekarang, ia justru sangat cinta dan menghormat kepada sang istri.”

Rupanya Hoan He juga sudah dapat melihat gelagat itu, segera ia berlutut dan berkata pula, “Mohon Ciong-kokcu dan Ciong-hujin sudi menolong jiwa Suciku, bukan saja kami berdua akan sangat berterima kasih, pun guruku akan merasa utang budi.”

“Gurumu tentunya si bopeng Pho Pek-ki, bukan?” tanya Ciong-kokcu. “Hm, dia adalah angkatan muda, perlu apa kuharapkan dia utang budi padaku. Dahulu ketika aku meninggal, kenapa dia tidak datang melawat? Apa dia kira aku tidak tahu? Aku justru tahu jelas biarpun berada di dalam peti mati ini.”

Ucapannya itu tidak hanya membikin Toan Ki tercengang, sekalipun Hoan He juga dibuatnya bingung. Pikirnya, “Engkau masih hidup segar bugar seperti ini, kenapa bilang sudah meninggal dan bicara tentang melawat serta peti mati segala?”

Tiba-tiba Ciong-kokcu tanya lagi dengan suara keras, “Sudah sekian tahun aku meninggal dunia, orang luar tiada yang tahu bahwa aku masih hidup. Lalu siapakah yang memberi petunjuk padamu untuk mencariku ke sini dan dari mana kau kenal jalan masuk Ban-jiat-kok?”

Pertanyaan ini dilakukan dengan nada bengis, alisnya menekuk ke bawah dan mulut merot, sikapnya sangat menakutkan.

Maka jawablah Hoan He, “Waktu Siaulicu merasa bingung ingin menolong jiwa Suci dan lekas-lekas berlari ke kota untuk mencari tabib, tiba-tiba kulihat di tepi jalan ada seorang nona berbaju hitam sedang mengulur tangan hendak menangkap seekor ular kecil. Ular itu berwarna emas mengilat, terang itu ular berbisa yang baru saja memagut Suci. Maka cepat Siaulicu berseru memperingatkan nona baju hitam itu agar jangan main-main dengan ular berbisa jahat itu. Tak tersangka nona itu sama sekali tidak gubris pada peringatanku, ia malah menangkap ular emas itu terus dimasukkan ke dalam bajunya. Melihat itu, Siaulicu menjadi girang, sebab kupikir orang yang dapat mengatasi ular itu tentu dapat pula mengobati pagutan sang ular. Segera Siaulicu memohon dengan sangat, namun nona itu menjawab tak bisa mengobati bisa ular itu, ia bilang di seluruh jagat hanya ada seorang yang mampu menyembuhkan pagutan ular emas itu, maka aku diberi petunjuk untuk datang kemari mohon pertolongan Ciong-kokcu. Ketika Siaulicu minta tanya nama nona baju hitam itu, namun dia tak mau memberi tahu.”

Mendengar uraian itu, Ciong-kokcu dan sang istri saling pandang sekejap, lalu berkata dengan menjengek, “Huh, kiranya dia. Orang ini tidak bermaksud baik, selalu ingin memaksa aku keluar dari lembah ini. Ya, semuanya gara-gara Ling-ji, dia sembarangan membawa Kim-leng-cu keluar lembah hingga menimbulkan onar saja.”

Lalu ia berpaling dan tanya Hoan He, “Lalu, apa yang dikatakan lagi oleh perempuan itu?”

“Tidak ada lagi,” sahut Hoan He.

“Betul tidak ada lagi?” Ciong-kokcu menegas dengan dingin.

Hoan He menyahut dengan gelagapan, “Nona … nona itu seperti berkata bahwa ‘Jalan hidup melulu satu ini, cuma, sekali sudah masuk ke sana, belum tentu dapat keluar lagi dengan selamat. Maka kau pikir masak-masak sebelumnya.”

“Benar!” ujar Ciong-kokcu. “Dan kau sudah pikirkan tidak?”

Cepat Hoan He berlutut menjura pula sambil memohon, “Mohon belas kasihan Ciong-kokcu dan Hujin.”

“Bangunlah,” sahut Ciong-kokcu. “Aku mempunyai dua jalan bagimu dan boleh kau pilih mana suka. Pertama, kau dan Sucimu selama hidup tinggal di lembah ini melayani istriku. Jalan kedua, tangan kalian berdua harus dipotong, lidah diiris, agar sesudah keluar dari sini tidak membocorkan rahasiaku.”

“Tapi … tapi Siaulicu ditugaskan Suhu untuk menyelesaikan suatu urusan penting di Hunlam sini,” sahut Hoan He setengah meratap, “sebelum tugas itu terlaksana, bukankah berarti melanggar perintah guru bila harus tinggal di sini ….”

“Jadi kau pilih jalan kedua saja?” kata Ciong-kokcu.

Tiba-tiba Hoan He merangkak maju dan merangkul kedua kaki Ciong-hujin sambil meratap, “Mohon belas kasihan Hujin, Siaulicu berjanji sesudah keluar lembah ini pasti akan tutup mulut serapatnya, kalau berani bicara satu patah kata saja, biarlah aku mati tercencang tak terkubur.”

“Hm, aku Ciong Ban-siu bila bukan lantaran terlalu percaya pada sumpah orang, rasanya hari ini takkan mengumpet di lembah maut ini sebagai orang mati, mengkeret serupa kura-kura,” tiba-tiba Ciong-kokcu tertawa menjengek, dan tangan kiri terulur, tahu-tahu leher baju Hoan He kena dicengkeramnya terus diangkat ke atas.

Perawakan tubuh Hoan He di kalangan wanita sudah tergolong tinggi, tapi kena diangkat oleh Ciong Ban-siu, kakinya lantas kontal-kantil setinggi hampir satu meter. Saking kaget dan takutnya Hoan He menjerit, berbareng kaki kanan terus menendang ke dada Ciong Ban-siu.

Namun sama sekali Ciong Ban-siu tak menghindar, ia membiarkan dada ditendang orang. Maka terdengarlah suara “krek” sekali, tahu-tahu tulang kaki Hoan He sendiri yang patah malah.

Menyusul tangan kanan Ciong Ban-siu bergerak, sinar tajam berkelebat, agaknya tangannya itu telah menyiapkan semacam senjata pendek sebangsa belati, maka terdengarlah suara “crat-cret” dua kali, kedua tangan Hoan He terkutung sebatas pergelangan.

Ciong-hujin hanya mendengus saja menyaksikan itu.

Segera Ciong Ban-siu memasukkan jarinya pula ke mulut Hoan He, terdengar nona itu berseru tertahan sekali, darah lantas mengucur dari mulutnya, lidah telah diiris putus juga.

Berdebar hati Toan Ki menyaksikan adegan mengerikan itu, ia dekap mulut sendiri, sedikit pun tak berani bersuara, pikirnya, “Meski kau kutungi kedua tangan dan iris lidahnya, dia kan masih punya kaki yang dapat dipakai menggores tulisan di atas tanah, akhirnya dia bisa juga membocorkan rahasia Ban-jiat-kok ini.”

Ia lihat Ciong Ban-siu melemparkan tubuh Hoan He yang sudah pingsan saking kesakitan itu, lalu Si Hun yang menggeletak di tanah tak sadarkan diri itu diseretnya dan diperlakukan seperti Hoan He, kedua tangannya dikutungi dan lidahnya dipotong.

Melihat kekejaman orang, Toan Ki naik darah, tak terpikir lagi olehnya akibat apa yang bakal menimpa dirinya, mendadak ia membentak, “Pengecut yang rendah tak kenal malu, kau benar-benar terlalu keji!”

Bentakan Toan Ki membuat Ciong Ban-siu kaget, lebih-lebih Ciong-hujin, ia ketakutan hingga pucat bagai kertas.

Dengan langkah lebar terus saja Toan Ki keluar dari balik dinding papan itu, ia tuding Ciong Ban-siu dan mendamprat, “Ciong siansing, nyalimu terlalu kecil, caramu ini bukanlah perbuatan seorang laki-laki sejati!”

Melihat wajah Toan Ki, air muka Ciong Ban-siu berubah hebat dan terkesiap, katanya, “Apakah kau … kau … ah, tak mungkin ….”

“Cayhe bernama Toan Ki,” segera pemuda itu perkenalkan diri, “sedikit pun aku tidak paham ilmu silat, maka hendak kau korek atau kau bunuh, boleh kau lakukan sesukamu. Tapi kalau kau lepaskan aku dari sini, perbuatanmu yang kejam tak berperikemanusiaan ini pasti akan kusiarkan di dunia Kangouw, biar setiap orang kenal manusia macam apakah Ciong Ban-siu itu?”

“Hahaha!” tidak gusar Ciong Ban-siu, malah tertawa. “Manusia macam apa Ciong Ban-siu, masakah orang Kangouw tidak tahu? Kau bocah ini apa tidak kenal julukanku dahulu di dunia Kangouw?”

“Tidak tahu,” sahut Toan Ki.

“Aku Ciong Ban-siu, berjuluk ‘Kian-jin-ciu-sat’ (melihat orang lantas membunuh)!” kata Ciong Ban-siu dengan sikap sangat bangga.

Toan Ki tercengang oleh julukan itu, tapi dalam dadanya segera bergolak pula oleh semangat banteng, dengan lantang katanya, “Jadi membunuh secara kejam orang tak berdosa memang dasar watakmu. Cuma umumnya kalau orang suka membunuh, biasanya pasti tidak takut pada langit dan gentar pada bumi, masakan bisa pengecut seperti kau, takut kepala sembunyi buntut, jeri di muka khawatir di belakang.”

Rupanya ucapan Toan Ki itu tepat menusuk perasaan Ciong Ban-siu hingga seketika ia malah tidak gusar.

Toan Ki memang tidak pikirkan mati hidupnya sendiri lagi, segera ia berkata pula, “Kulihat ilmu silatmu sangat tinggi, kusangka engkau tentu seorang laki-laki berjiwa baja, bila tak bisa mengalahkan orang, seharusnya kau labrak dia mati-matian, sekalipun akhirnya harus gugur bersama. Tapi engkau justru main sembunyi, khawatir orang membocorkan tempat mengumpetmu, lantas kau siksa dan menganiaya seorang wanita yang tak mampu melawan kau, apakah … apakah perbuatanmu ini adalah kelakuan seorang jantan tulen?”

Wajah Ciong Ban-siu tampak sebentar pucat sebentar merah padam, seakan-akan apa yang dikatakan Toan Ki itu setiap kalimatnya kena benar menusuk lubuk hatinya, tiba-tiba sinar matanya yang bengis mencorong tajam, tampaknya segera akan membunuh orang.

Tapi setelah tertegun sejenak, mendadak ia menggebrak meja, “blang”, meja di sebelahnya sempal separuh, menyusul sebelah kakinya melayang, dinding papan jebol berlubang, sambil tutup mukanya dengan kedua tangan sendiri segera berseru, “Ya, aku pengecut, aku pengecut!”

Mendadak ia lari keluar.

Dalam keadaan demikian, saking ketakutan Ciong-hujin sampai gemetar dan bersandar di dinding, sama sekali tak tersangka olehnya sekali ini sang suami tidak membunuh Toan Ki.

Ia menoleh dan tanya, “Toan-kongcu, apa be … benar kau tak bisa ilmu silat?”

Sembari berkata, dengan perlahan tangan menabok punggung pemuda itu.

Tempat yang ditabok itu adalah tempat mematikan di tubuh manusia, asal sedikit ia gunakan Lwekang, tidak mati pun Toan Ki akan terluka parah. Namun pemuda itu memang benar-benar tak bisa ilmu silat, maka sedikit pun ia tak kenal bahaya, dengan jujur ia menjawab, “Wansing memang tak pernah belajar silat, kepandaian yang melulu dipakai mencelakai orang ini tiada harganya untuk kupelajari.”

“Be … besar amat nyalimu, ternyata se … serupa benar dengan dia,” kata Ciong-hujin.

“Serupa dengan siapa?” Toan Ki menegas.

Kembali wajah Ciong-hujin bersemu merah, ia tidak menjawab pertanyaan orang, sebaliknya ia tepuk tangan dua kali, maka keluarlah pelayan tadi.

“Bubuhi obat luka pada kedua nona itu untuk mencegah darah mengucur terlampau banyak,” pesan nyonya rumah itu.

Pelayan itu mengiakan dan memondong Si Hun dan Hoan He ke dalam kamar, dari sikapnya yang sedikit pun tidak heran atau kaget, agaknya soal sang suami membunuh dan menganiaya orang sudah biasa dilihatnya.

Sambil bertopang dagu Ciong-hujin terombang-ambing dalam lamunannya, seperti ada sesuatu kesulitan mahabesar yang sukar diputuskan.

Tadi Toan Ki hanya terdorong oleh darah panas yang timbul seketika, maka berani mendamprat Ciong Ban-siu, tatkala itu ia sudah nekat. Tapi kini demi melihat darah berlumuran di lantai, hatinya menjadi takut lagi. Pikirnya, “Aku harus lekas-lekas berusaha melarikan diri, kalau tidak, bukan saja jiwa akan melayang, bahkan akan mati dengan mengenaskan.”

Segera ia menghampiri ambang pintu sambil memberi hormat pada nyonya rumah dan berkata, “Wansing sudah menunaikan tugas menyampaikan berita, kini mohon Hujin lekas berdaya untuk menolong putrimu.”

“Nanti dulu, Kongcu,” sahut Ciong-hujin.

Karena itu Toan Ki tidak jadi tinggal pergi.

“Mungkin Kongcu tidak tahu bahwa suamiku pernah bersumpah selama hidup takkan keluar dari lembah ini,” kata nyonya rumah itu kemudian. “Sebab itulah, meski putriku itu tertawan musuh, rasanya suamiku takkan pergi menolongnya …. Ah, urusan sudah telanjur begini, terpaksa aku saja yang ikut pergi bersama Kongcu.”

Kejut dan girang Toan Ki, sahutnya, “Bila Ciong-hujin sudi pergi bersamaku, itulah paling baik.”

Tiba-tiba ia teringat pada apa yang dikatakan Ciong Ling bahwa satu-satunya orang yang sanggup menyembuhkan racun Kim-leng-cu hanya ayahnya saja, maka cepat ia tanya pula nyonya rumah apakah juga bisa mengobati racun Kim-leng-cu?

Ciong-hujin geleng-geleng kepala, sahutnya, “Aku tak bisa mengobati.”

“Jika … jika begitu ….” namun belum selesai Toan Ki berkata, nyonya rumah itu sudah tinggal masuk ke kamarnya.

Setelah tinggalkan secarik surat singkat dan berbenah seperlunya, segera Ciong-hujin keluar lagi dan berkata, “Marilah kita berangkat!”

Segera ia mendahului jalan di depan.

Tersipu-sipu Toan Ki mengikut di belakang nyonya rumah itu, namun dia masih sempat menjemput pula Jing-leng-cu dan diubet di pinggang.

Jangan sangka Ciong-hujin tampaknya lemah gemulai, jalannya ternyata jauh lebih cepat daripada Toan Ki.

Karena tahu nyonya rumah itu tak bisa mengobati racun Kim-leng-cu, betapa pun Toan Ki masih merasa khawatir. Maka ia coba tanya lagi, “Jika Hujin tak bisa menyembuhkan racun ular, mungkin Sin-long-pang tak mau membebaskan putrimu itu.”

“Siapa yang ingin minta mereka bebaskan Ling-ji?” sahut Ciong-hujin tak acuh. “Kalau Sin-long-pang berani menahan putriku untuk memeras aku, itu berarti mereka sudah bosan hidup. Kalau tak bisa menolong orang, masakan membunuh tak mampu?”

Toan Ki bergidik, ia merasa kata-kata Ciong-hujin yang sederhana itu, maksudnya membunuh orang yang terkandung di dalamnya tidak di bawah perbuatan Ciong Ban-siu yang bengis dan kejam itu. Namun lahirnya Ciong-hujin lemah lembut, kalau dibandingkan, rasanya lebih menakutkan orang.

Sambil bicara, kedua orang sudah berlari beberapa li jauhnya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang di belakang, “Hujin, engkau … engkau hendak ke mana?”

Waktu Toan Ki menoleh, siapa lagi dia kalau bukan Ciong Ban-siu yang sedang mengejar datang secepat terbang.

Sekonyong-konyong Ciong-hujin ulur tangan ke ketiak Toan Ki sambil membentak, “Lekas!”

Segera ia angkat tubuh pemuda itu dan dibawa melesat ke depan.

Seketika Toan Ki merasa kedua kaki terapung di atas tanah, ia dikempit oleh Ciong-hujin dan tak bisa berkutik. Maka kejar-mengejar itu segera berlangsung dengan cepat, dalam sekejap saja mereka sudah berlari sepuluh tombak jauhnya.

Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuh Ciong-hujin ternyata lebih tinggi setingkat daripada sang suami, cuma betapa pun ia membawa beban seorang, yaitu Toan Ki, maka lambat laun dapatlah disusul oleh Ciong Ban-siu.

Diam-diam Toan Ki ikut khawatir, ia tahu asal bisa keluar mulut lembah, Ciong Ban-siu sudah bersumpah itu tentu takkan mengudak lebih jauh.

Dalam saat demikian, terkilas suatu pikiran dalam benaknya, “Meski ilmu silat adalah kepandaian yang suka bikin celaka orang, tapi kalau aku mahir Ginkang, rasanya ada faedahnya juga.”

Nyata, dalam keadaan kepepet begini, ia jadi ingin bisa berlari lebih cepat.

Sementara itu tinggal belasan tombak lagi sudah bisa keluar dari lembah itu. Toan Ki merasa suara napas Ciong Ban-siu sudah terdengar di belakangnya. Mendadak, “bret”, Toan Ki merasa punggungnya silir dingin, bajunya kena dijambret sobek sebagian oleh Ciong Ban-siu.

Tiba-tiba Ciong-hujin angkat tubuh Toan Ki dan dilemparkan sekuatnya ke depan sambil membentak, “Lekas lari!”

Menyusul tangan yang lain sudah lantas lolos pedang terus menusuk ke belakang dengan maksud merintangi kejaran sang suami.

Hakikatnya Ciong-hujin tiada maksud mencelakai suami sendiri. Tak terduga tusukannya itu benar-benar mengenai dada sang suami. Ternyata sama sekali Ciong Ban-siu tidak menghindar atau berkelit, tapi rela ditusuk oleh sang istri.

Keruan Ciong-hujin terkejut, cepat ia menoleh, seketika ia tidak berani tarik pedangnya, ia lihat wajah sang suami penuh rasa sesal dan cemas, kelopak matanya mengembeng air, dadanya berlumuran darah, katanya, “Wan-jing, jadi akhir … akhirnya akan kau tinggalkan daku?”

Melihat tusukannya itu tepat mengenai dada sang suami, meski tidak mengenai ulu hati, tapi ujung pedang juga ambles beberapa senti ke dalam, karena khawatir akan jiwa sang suami, cepat Ciong-hujin mencabut pedang terus menubruk maju untuk menutupi luka tusukan itu, ia lihat darah menyembur keluar melalui celah-celah jarinya.

“Kenapa engkau tidak menghindar?” tegur Ciong-hujin dengan gusar.

“Jika engkau toh akan tinggalkan diriku, lebih baik aku mati saja,” sahut Ciong Ban-siu tersenyum getir.

“Siapa bilang aku hendak meninggalkan kau?” kata Ciong-hujin. “Aku hanya pergi buat beberapa hari saja dan segera kembali. Kepergianku adalah untuk menolong putri kita.”

Segera ia ceritakan secara singkat tentang tertawannya Ciong Ling oleh orang-orang Sin-long-pang.

Menyaksikan itu, Toan Ki terkesima, ia tidak jadi melarikan diri, tapi setelah menenangkan diri, cepat ia sobek lengan baju sendiri dan hendak membalut luka Ciong Ban-siu.

Tak terduga mendadak sebelah kaki Ciong Ban-siu terangkat hingga Toan Ki kena ditendang terjungkal, bentaknya, “Anak haram, aku tidak sudi melihat cecongormu!”

Lalu ia berpaling kepada sang istri dan berkata, “Aku … aku tidak percaya, tentu kau berdusta, sudah terang dia … dia datang ke sini mengundangmu. Anak jadah ini sekalipun menjadi abu juga aku mengenalnya, malah dia … dia tadi telah menghinaku.”

Habis berkata, ia terbatuk-batuk dengan hebat.

Dan karena batuk, darah yang mengucur dari lukanya itu bertambah hebat. Mendadak ia teringat sesuatu, katanya kepada Toan Ki, “Ayolah maju, kenapa tidak maju? Meskipun aku terluka parah, belum tentu kujeri pada kau punya It-yang-ci! Ayolah maju!”

Karena tendangan tadi, jidat Toan Ki membentur sepotong batu kecil yang tajam hingga terluka, cepat ia merangkak bangun sambil memegangi jidatnya yang benjut itu, lalu menjawab, “Cayhe Toan Ki dari daerah Kanglam, sesungguhnya tidak paham tentang It-yang-ci segala!”

Kembali Ciong Ban-siu terbatuk-batuk, bentaknya dengan gusar, “Anak jadah, apa kau berlagak dungu? Pergilah me … memanggil bapakmu kemari!”

Karena gusarnya itu, batuknya makin menjadi-jadi.

“Dalam keadaan demikian, penyakitmu suka curiga tetap tidak berubah,” kata Ciong-hujin. “Kalau engkau tidak percaya padaku, lebih baik aku mati di hadapanmu saja.”

Terus saja ia jemput pedangnya dan hendak menggorok leher sendiri.

Cepat Ciong Ban-siu rebut pedang itu, air mukanya berubah girang, katanya, “Niocu, jadi sungguh engkau bukan hendak ikut minggat dengan anak jadah ini?”

“Orang adalah Toan-kongcu yang terhormat, kenapa kau maki dia anak jadah segala?” omel Ciong-hujin. “Kepergianku ikut Toan-kongcu adalah hendak membunuh habis Sin-long-pang untuk menolong putri mestika kita.”

Walaupun terluka parah, namun demi tampak sikap sang istri yang mengomel dan marah kecil, rasa cinta kasih Ciong Ban-siu semakin berkobar, dengan tersenyum ia menyahut, “Jika demikian halnya, ya, akulah yang salah.”

Ketika Ciong-hujin periksa luka sang suami, ia lihat darah masih merembes keluar dengan deras. “Ba … bagaimana baiknya, ini?” ratapnya khawatir.

Girang Ciong Ban-siu tidak kepalang, ia rangkul pinggang sang istri dan berkata, “Wan-jing, engkau begini memerhatikan diriku, biarpun aku mati seketika juga rela.”

Muka Ciong-hujin menjadi merah, perlahan ia buang tangan sang suami dan menyahut, “Toan-kongcu berada di sini, kenapa main pegang-pegang begini?”

Dan karena melihat keadaan sang suami tampak bertambah payah dan wajah pucat, ia menjadi khawatir, katanya pula, “Sudahlah aku tak pergi menolong Ling-ji, dia berbuat onar sendiri, biar dia terima nasib saja.”

Lalu ia bangunkan sang suami dan berkata kepada Toan Ki, “Toan-kongcu, harap kau sampaikan pada Sikong Hian bahwa suamiku sudah … sudah mati. Jika dia berani mengganggu seujung rambut putriku itu, suruh jangan lupa pada keganasan ‘Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing’!”

Melihat keadaan demikian, Toan Ki pikir Ciong Ban-siu jelas takkan ikut pergi, Ciong-hujin juga tidak tega meninggalkan sang suami untuk menolong putrinya, hanya mengandalkan kata-kata “Hiang-yok-jeh (si kuntilanak) Bok Wan-jing” apakah dapat menggertak Sikong Hian, sungguh masih disangsikan. Tampaknya racun “Toan-jiong-san” yang masih mengeram di dalam perutku sendiri ini pasti tak dapat diobati lagi.

Untuk sejenak ia tertegun, ia pikir urusan sudah demikian, banyak omong juga percuma, maka sahutnya kemudian, “Jika begitu, baiklah Wansing segera berangkat menyampaikan pesan Hujin itu.”

Melihat ketegasan anak muda itu, sekali bilang berangkat lantas berangkat, sedikit pun tidak ragu-ragu, hal ini membuat Ciong-hujin teringat pada seseorang. Segera serunya, “Nanti dulu, Toan-kongcu, masih ada yang hendak kukatakan!”

Perlahan ia taruh sang suami ke tanah, lalu memburu ke dekat Toan Ki, ia mengeluarkan sepotong barang dan diserahkan pada pemuda itu, bisiknya, “Bawalah benda ini kepada Toan Cing-bing, lekas ….”

Mendengar nama “Toan Cing-bing”, air muka Toan Ki berubah.

Dasar nyonya Ciong atau Bok Wan-jing memang cermat, ketika mengucapkan “Toan Cing-bing” tadi, dia memang ingin tahu perubahan wajah Toan Ki. Karena itulah perlahan ia menghela napas, katanya pula, “Apakah sekarang engkau hendak membohongi aku? Lekaslah kau pergi dan semoga bisa tiba di sana tepat pada waktunya, agar jiwa Ling-ji dan kau sendiri tertolong.”

Tanpa menunggu jawaban Toan Ki, segera ia putar balik ke samping sang suami dan membawanya pergi.

Waktu Toan Ki periksa barang yang diterimanya dari Ciong-hujin, ia lihat benda itu adalah sebuah kotak kecil bersepuh emas yang sangat indah.

Ketika tutup kotak ia buka, tertampak isinya hanya secarik kertas melulu yang warnanya sudah menguning, terang karena disimpan terlalu lama, malahan di atas kertas lamat-lamat masih kelihatan ada bekas tetesan darah.

Di atas kertas tertulis, “Tahun Kui-hay, bulan dua, tanggal lima, waktu Niu.”

Gaya tulisannya bagus dan halus, seperti ditulis oleh kaum wanita. Lebih dari itu tiada barang lain lagi.

Diam-diam Toan Ki membatin, “Ini adalah surat lahir (Pek-ji) seseorang, Ciong-hujin menyuruhku menyerahkannya pada ayah, entah apakah maksud tujuannya. Masakah secarik surat lahir begini bisa menolong jiwa nona Ciong dan nyawaku? Tampaknya Ciong-hujin sudah dapat menerka bahwa aku adalah putranya ayah, sebaliknya Ciong Ban-siu berulang-ulang memaki aku, agaknya ia pun kenal wajahku mirip ayah. Apakah barangkali dia ada permusuhan dengan ayah?”

Sedang Toan Ki melamun sambil berjalan, tiba-tiba dari belakang terdengar suara seruan seorang tua, “Tunggu dulu Toan-kongcu!”

Waktu Toan Ki menoleh, ia lihat seorang tua berbaju pendek kasar lagi menyusulnya dengan cepat. Sesudah dekat, orang tua itu memberi hormat dan berkata, “Hamba bersama Ciong Hok. Atas perintah Hujin agar membawa Kongcu keluar lembah ini.”

“Baik,” sahut Toan Ki mengangguk.

Segera Ciong Hok berjalan di depan, akhirnya mereka tiba di mulut lembah, yaitu melalui peti mati dan kuburan yang pernah dimasuki Toan Ki itu. Lalu Ciong Hok membawa Toan Ki melalui suatu jalan kecil lain hingga 6-7 li pula jauhnya, akhirnya sampailah di depan sebuah gedung besar.

“Harap Kongcu tunggu sebentar,” kata Ciong Hok. Tanpa mengetuk pintu lagi, terus saja hamba itu melompat ke dalam gedung dengan melintasi pagar tembok.

Sementara itu hari sudah gelap, memandangi sinar bintang yang berkelip-kelip di tengah cakrawala, tiba-tiba Toan Ki terkenang pada patung dewi cantik yang dijumpainya di dasar danau itu.

Tengah pikiran Toan Ki melayang-layang jauh, tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda di halaman gedung, mendengar suara binatang yang nyaring panjang itu, tak tertahan Toan Ki berseru memuji, “Kuda bagus!”

Kemudian tampak pintu gedung terbuka dan menongol sebuah kepala kuda, di tengah malam gelap, kedua mata binatang itu tampak bersinar, hanya sekali pandang saja sudah kelihatan kuda itu memang lain dari yang lain.

“Prak-prak” dua kali, seekor kuda hitam mulus tampak melangkah keluar. Perlahan sekali suara yang dijangkitkan derap kaki binatang itu, agaknya seekor kuda kecil. Tapi bila melihat perawakan kuda itu, ternyata keempat kakinya panjang, tangkas gagah. Yang menuntun kuda adalah seorang pelayan kecil, dalam kegelapan tidak jelas mukanya, usianya kira-kira belasan tahun dan tentunya wajahnya juga tidak jelek.

Ciong Hok ikut keluar di belakang kuda itu, katanya, “Toan-kongcu, Hujin khawatir engkau tak bisa tepat waktunya tiba di Tayli, maka sengaja pinjam kuda bagus ini pada tuan rumah di sini untuk tunggangan Kongcu.”

Sudah banyak juga kuda bagus yang pernah dilihat Toan Ki, dari suara ringkikan kuda ini tadi, ia tahu pasti seekor kuda bagus pilihan yang jarang terdapat.

Maka sahutnya, “Terima kasih!”

Segera ia hendak menarik tali kendali.

Perlahan kacung tadi mengelus leher kuda itu, katanya dengan suara halus, “Oh-bi-kui, Oh-bi-kui! Siocia meminjamkanmu kepada Kongcuya ini, kau harus menurut perintahnya. Lekas pergi dan cepat kembali!”

Kuda hitam yang diberi nama Oh-bi-kui atau mawar hitam itu berpaling dan menggosok-gosokkan lehernya ke lengan si pelayan, sikapnya sangat manja. Lalu pelayan itu menyerahkan tali kendali kepada Toan Ki dan berpesan, “Kuda ini jangan dipecut, semakin baik kau perlakukan dia, semakin cepat larinya.”

“Baiklah,” sahut Toan Ki. “Nah, Siocia mawar hitam, terimalah hormatku ini!”

Sembari berkata, ia benar-benar membungkukkan tubuh kepada binatang itu.

Pelayan kecil itu mengikik geli, katanya, “Lucu juga engkau ini. Eh, hati-hati, ya! Jangan terperosot jatuh!”

Namun soal menunggang kuda tidaklah asing bagi Toan Ki, sejak kecil ia sudah biasa. Maka dengan enteng saja ia mencemplak ke atas kuda hitam itu dan berkata pada si pelayan, “Sampaikan terima kasihku kepada Siociamu!”

“Dan tidak terima kasih padaku?” ujar si pelayan tertawa.

Toan Ki memberi hormat, katanya, “Terima kasih pada Cici, Nanti kalau datang lagi akan kubawakan banyak permen untukmu.”

“Sudahlah, jiwamu sendiri perlu dijaga baik-baik, bisa datang lagi atau tidak masih disangsikan, siapa ingin pada permen segala?” sahut si pelayan tertawa manis.

Ciong Hok ikut berkata juga, “Harap Kongcu menjaga diri baik-baik, dari sini lurus ke utara akan sampai di jalan raya yang menuju ke Tayli, maafkan hamba tidak mengantar lebih jauh.”

Toan Ki melambaikan tangan sebagai tanda berpisah, lalu melarikan kudanya ke depan.

Oh-bi-kui alias mawar hitam itu ternyata tidak perlu diperintah, di tengah malam buta larinya secepat terbang. Toan Ki hanya merasa tumbuh-tumbuhan di sekitarnya tiada hentinya melesat lewat di sampingnya.

Yang paling hebat adalah anteng sekali menunggang di atas kuda itu, sangat sedikit terasa guncangan-guncangan, pikir Toan Ki, “Demikian cepat lari kuda ini, rasanya lewat tengah hari besok sudah bisa sampai di Tayli. Tapi ayah belum tentu sudi ikut campur urusan tetek bengek di dunia Kangouw ini, apakah aku terpaksa harus memohon Toapek (paman tertua)? Ai, urusan sudah telanjur begini, terpaksa harus kuserahkan pada Toapek dan ayah.”

Tiada sejam lamanya, sudah puluhan li jauhnya, dalam malam gelap terasa angin silir sejuk, hawa malam sangat nyaman. Selagi Toan Ki merasa senang, sekonyong-konyong ada seorang membentak di depan, “Perempuan keparat, lekas berhenti!”

Menyusul sinar tajam berkelebat, sebatang golok lantas membacok.

Namun kuda hitam itu benar-benar teramat cepat, baru golok itu diayunkan, binatang itu sudah melompat lewat sejauh setombak lebih. Waktu Toan Ki menoleh, ia lihat dua laki-laki bersenjata golok dan tombak lagi mengejar dari belakang dengan cepat sambil memaki kalang kabut, “Perempuan keparat! Pakai menyamar segala, apa dikira Locu (bapak) dapat kau kelabui demikian saja?”

Tapi hanya sekejap saja si mawar hitam sudah jauh meninggalkan kedua pengejar itu. Namun kedua laki-laki itu masih belum kapok, mereka masih memburu terus hingga tidak selang lama suara teriakan dan makian mereka pun tidak terdengar lagi.

Diam-diam Toan Ki membatin, “Kedua orang memaki aku sebagai ‘perempuan keparat’ segala dan menuduh aku menyamar sebagai lelaki. Ya, tentu mereka hendak cari setori pada majikan si mawar hitam ini. Kenal kuda tapi tak kenal orangnya, sungguh tolol benar!”

Setelah lebih satu li lagi, tiba-tiba Toan Ki teringat, “Wah, celaka! Berkat kecepatan kuda ini aku bisa lolos dari sergapan kedua orang tadi. Tampaknya ilmu silat kedua orang itu pun tidak lemah, jikalau Siocia yang memberi pinjam kuda ini tidak tahu kejadianku ini dan jalan-jalan keluar, mungkin dia akan disergap musuh. Rasanya aku harus kembali ke sana dulu untuk memberi tahu padanya.”

Segera ia berhentikan kuda, katanya pada binatang itu, “Oh-bi-kui, ada orang hendak membunuh Siociamu, kita harus lekas kembali dan memberi tahu padanya agar dia berjaga-jaga dan jangan keluar rumah.”

Segera ia putar kuda dan lari kembali ke arah tadi. Ketika dekat tempat sergapan kedua laki-laki itu, ia desak si mawar hitam, “Lekas, lekas lari!”

Binatang itu ternyata mengerti maksud orang, di bawah desakan “lekas lari” itu, ia benar-benar mencongklang terlebih pesat.

Namun kedua laki-laki itu ternyata sudah tidak di situ lagi, karena itu Toan Ki menjadi lebih khawatir malah, pikirnya, “Jika mereka berdua sudah menyerbu masuk ke rumah Siocia itu, hal ini pasti lebih celaka lagi!”

Segera ia membentak si mawar hitam agar lari lebih cepat.

Seketika lari si mawar hitam seolah terapung di atas tanah, secepat terbang ia lari pulang.

Ketika hampir sampai di depan gedung besar itu, mendadak dari samping dua batang pentung menyerang kaki kuda. Namun tidak perlu Toan Ki memberi perintah, kontan si mawar hitam melompat menghindarkan diri, menyusul kaki belakang terus mendepak, “bluk”, salah seorang penyerang gelap itu kena didepak mencelat.

Dan sekali melompat lagi, si mawar hitam sudah sampai di depan pintu gedung itu. Dalam kegelapan mendadak tampak 4-5 orang muncul dan serentak hendak menarik tali kendali Oh-bi-kui menyusul Toan Ki merasa lengan sendiri kena dicengkeram orang terus diseret ke tanah. Segera seorang di antaranya membentak, “Siaucu (anak muda), untuk apa kau datang ke sini?”

Diam-diam Toan Ki mengeluh, “Celaka, rumah ini ternyata sudah dikepung musuh, entah tuan rumahnya sudah mengalami nasib malang atau belum?”

Ia merasa lengan kanan yang dicengkeram orang itu seakan-akan terjepit tanggam, separuh tubuhnya merasa kaku, maka cepat katanya, “Ada urusan hendak kucari tuan rumah di sini, kenapa kau begini kasar?”

Lalu terdengar suara seorang tua lain berkata, “Siaucu ini menunggang kuda hitam milik perempuan hina itu, boleh jadi adalah kawan karibnya, biar kita lepaskan dia ke dalam, babat rumput harus sampai ke akar-akarnya, nanti kita bereskan sekalian.”

Hati Toan Ki berdebar tak keruan, pikirnya, “Aku ini benar-benar ular mencari gebuk, seperti ikan masuk jala sendiri. Sudah enak-enak pergi, sekarang datang kembali cari penyakit. Urusan sudah kadung begini, hendak lari juga tidak mungkin lagi, terpaksa masuk ke sana dan melihat gelagat menurut keadaan nanti.”

Ia merasa cengkeram orang telah dikendurkan, segera ia betulkan bajunya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan membusung dada.

Di pekarangan ada suatu jalan batu, kedua samping penuh tanaman bunga mawar yang menyiarkan bau harum.

Jalan batu itu berliku-liku, setelah menembus sebuah pintu bundar, jalanan itu lurus ke depan.

Toan Ki melihat di sekitarnya di sana-sini banyak berdiri orang. Ketika mendengar ada suara dehem di tempat ketinggian, ia mendongak dan melihat di atas pagar tembok sana juga berdiri 7-8 orang dengan senjata terhunus. Di tengah malam gelap, sinar senjata yang gemilapan itu cukup membuat jeri siapa saja yang melihatnya.

Diam-diam Toan Ki membatin, “Gedung ini meski sekian besarnya, tapi belum tentu dapat dihuni orang sekian banyaknya. Tentu mereka ini adalah musuh tuan rumah, apa benar-benar mereka akan membunuh seisi rumah ini habis-habisan?”

Dalam kegelapan remang-remang Toan Ki melihat orang-orang itu sama melotot padanya dan pegang-pegang senjata utj menakuti. Tapi Toan Ki bisa tenangkan diri, akhirnya ia sampai di suatu ruangan besar yang berjendela panjang, di dalam ruangan tampak sinar lampu terang benderang.

Toan Ki mendekati deretan jendela panjang itu, lalu berseru lantang, “Cayhe Toan Ki, ada urusan mohon bertemu dengan tuan rumah!”

“Siapa? Gusur masuk!” suara seorang tua serak membentaknya.

Toan Ki mendongkol, ia dorong daun jendela panjang itu dan melangkah masuk. Tapi ia menjadi kaget melihat di dalam ruangan penuh dengan orang pula, ada yang berdiri, ada yang duduk, sedikitnya 17-18 orang.

Di tengah seorang wanita baju hitam duduk mungkur, muka menghadap ke dalam, maka wajahnya tidak kelihatan. Tapi dari perawakannya yang tampak langsing, rambutnya hitam gilap dan berkundai ciodah, dari dandanannya jelas seorang gadis remaja.

Kecuali itu, di sana-sini ada lagi belasan orang lelaki dan perempuan, ada pula dua Hwesio dan tiga Tosu.

Di antara orang-orang itu kecuali seorang kakek yang duduk di kursi malas di sudut timur sana dan seorang nenek serta kedua Hwesio, yang bertangan kosong, selebihnya sama bersenjata.

Di depan nenek itu menggeletak seorang, lehernya luka terbacok, agaknya sudah mati.

Segera Toan Ki dapat mengenalinya sebagai Ciong Hok, itu hamba tua yang membawanya ke sini untuk pinjam kuda itu.

Meski Toan Ki baru kenal orang tua itu, tapi ia merasa orang sangat sopan dan menghormat padanya. Ia menjadi sedih dan gusar melihat nasib hamba tua yang malang itu, terutama bila teringat dirinya yang menyebabkan kematiannya itu.

“Untuk apa kau datang ke sini?” dengan suara serak si kakek membentak pula. Meski antero rambut kakek ini sudah beruban, tapi janggutnya ternyata halus kelimis.

Sejak melangkah masuk tadi, Toan Ki sudah ambil keputusan, “Sekali sudah masuk sarang harimau, kalau bisa meloloskan diri, itulah baik. Kalau tidak bisa, tiada gunanya juga banyak bicara dengan manusia yang tampak bengis dan jahat ini.”

Tapi sesudah melihat mayat Ciong Hok menggeletak di situ, seketika malah menimbulkan jiwa kesatrianya yang bersemangat banteng, dengan garang ia menjawab, “Aku bernama Toan Ki. Rasanya Lotiang (bapak tua) adalah seorang terhormat, engkau hanya lebih lama hidup beberapa tahun, kenapa kau panggil orang Siaucu segala secara tak sopan?”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: