Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 4

Kedua alis kakek itu menegak, sinar matanya menyorot tajam, sikapnya keren, tapi tak menjawab. Sebaliknya seorang laki-laki yang berdiri di sebelahnya lantas membentak, “Bangsat kecil, apa kau sudah bosan hidup, berani sembarang mengoceh! Loyacu ini sudi bicara dengan kau, hal ini sudah untung bagimu, apa kau kenal siapa Loyacu ini? Hm, matamu benar-benar buta!”

Melihat lagak kakek itu benar-benar lain dari yang lain, betapa pun timbul juga sedikit rasa hormat Toan Ki, maka sahutnya, “Aku pun tahu Lotiang ini pasti bukan orang sembarangan. Bolehkah mohon tanya siapakah nama Lotiang yang terhormat?”

Belum lagi si kakek menjawab, lelaki tadi sudah berkata pula, “Baiklah, supaya kau bisa mati dengan merem, dengarlah yang jelas. Loyacu ini adalah No-kang-ong, Sam-ciang-coat-beng Cin-loyacu!”

“Sam-ciang-coat-beng?” Toan Ki menegas, “Seorang tua baik-baik, kenapa pakai gelaran yang tak enak didengar itu? Dan kenapa di sebut No-kang-ong pula, Cin-loyacu.”

Kiranya No-kang-ong, si raja sungai mengamuk, Sam-ciang-coat-beng atau tiga kali pukulan melenyapkan nyawa, nama lengkapnya adalah Cin Goan-cun. Tidak saja namanya mengguncangkan daerah selatan, terhitung tokoh terkemuka dalam dunia persilatan di wilayah Hunlam, bahkan di sekitar lembah Hongho dan kedua tepi sungai Yangcu, setiap jago silat juga segan pada namanya.

Tak terduga, sesudah mendengar nama dan gelar itu, Toan Ki anggap sepele saja, sedikit pun tidak heran.

Tentu saja No-kang-ong, Sam-ciang-coat-beng Cin Goan-cun sangat gusar. Sejak namanya terkenal, jarang ia mendapat tandingan, sekalipun lawan yang berilmu silat lebih tinggi kalau mendengar namanya juga akan tergetar, sedikit pun tidak berani memandang enteng.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa hakikatnya Toan Ki tidak pernah merantau Kangouw, mengenai seluk-beluk kejadian dunia persilatan, sedikit pun tak diketahuinya, Jangankan nama Sam-ciang-coat-beng Cin Goan-cun, sekalipun gelar “Sam-sian-su-ok”, yaitu tokoh-tokoh “tiga orang bajik dan empat manusia jahat” yang diagungkan dunia persilatan, juga takkan membuatnya jeri.

Umumnya jago silat mana pun juga, dalam hal “nama” dipandangnya sangat penting. Maka Cin Goan-cun menyangka perbuatan Toan Ki ini sengaja hendak menghina dirinya, meski dalam hati sangat gusar, namun melihat sikap Toan Ki yang acuh tak acuh, kalau bukan memiliki ilmu silat yang diandalkan, rasanya pasti tidak berani begitu kurang ajar.

Karena menyangka Toan Ki pasti seorang jago sangat lihai, maka Cin Goan-cun cepat mencegah dua orangnya yang hendak maju melabrak pemuda itu, lalu tanyanya, “Saudara dari golongan dan aliran mana? Siapa gurumu?”

“Untuk belajar, kenapa rewel tentang golongan segala?” sahut Toan Ki. “Cayhe tidak masuk golongan dan aliran mana-mana, guruku khusus meyakinkan ‘Kong-yang-ci-hak’, namanya kalau kukatakan juga kau tidak kenal.”

Meski ilmu silat Cin Goan-cun sangat tinggi, tapi dalam hal ilmu sastra tentang “Kong-yang-ci-hak” segala, selama hidupnya tak pernah mendengar, maka ia menyangka apa yang dikatakan Toan Ki itu tentunya semacam ilmu sakti yang belum pernah dilihatnya. Diam-diam ia merasa syukur dirinya tidak gegabah bertindak, maka ia bertambah hati-hati lagi menghadapi pemuda itu, tanyanya pula, “Lalu kedatangan saudara ini ada urusan apa?”

Melihat Cin Goan-cun makin sungkan pada Toan Ki, semua orang yang hadir di situ menyangka juga pemuda itu pasti seorang tokoh silat pendaman.

Maka terdengar Toan Ki menjawab, “Kedatangan Cayhe ke sini adalah ingin menyampaikan sesuatu kabar pada tuan rumah.”

“Kabar apa?” tanya Cin Goan-cun.

Toan Ki menghela napas dulu, lalu sahutnya, “Kedatanganku sudah terlambat, kukatakan atau tidak kabar itu, sama saja.”

“Menyampaikan kabar apa? Lekas katakan!” desak Cin Goan-cun lagi. Nadanya makin bengis.

“Kalau sudah berhadapan dengan tuan rumah, dengan sendirinya akan kukatakan, apa gunanya bicara padamu?” sahut Toan Ki.

Cin Goan-cun tertawa dingin, selang sejenak, ia berkata pula, “Kau ingin bicara berhadapan dengan tuan rumah? Kukira tak perlu kau katakan, biar sebentar lagi kalian boleh bertemu saja di akhirat.”

“Yang manakah tuan rumah?” tanya Toan Ki. “Ingin kusampaikan terima kasih telah diberi pinjam kuda.”

Karena ucapan ini, sorot mata semua orang sama beralih kepada si nona berbaju hitam yang duduk mungkur tadi.

Toan Ki terkesiap, pikirnya, “Apakah nona ini pemilik rumah? Seorang gadis lemah seperti dia telah dikepung musuh sebanyak ini, tampaknya jiwanya sukar diselamatkan.”

Dalam pada itu terdengarlah wanita baju hitam sedang berkata, “Kuberi pinjam kuda adalah karena permintaan orang lain, perlu apa terima kasih segala? Tidak lekas kau pergi menolong orang, buat apa kembali lagi ke sini?”

Sembari bicara mukanya tetap menghadap ke dalam tanpa menoleh.

Maka Toan Ki menjawab, “Cayhe menunggang si mawar hitam, sampai di tengah jalan telah disergap musuh yang salah sangka Cayhe sebagai nona serta dicaci maki. Cayhe rasa kurang enak, maka sengaja balik ke sini untuk memberi kabar pada nona.”

“Kabar apa?” tanya perempuan itu, nadanya nyaring merdu, tapi sedikit pun tidak membawa rasa simpatik, hingga bagi yang mendengarkan rasanya tidak enak, seakan-akan wanita ini sudah terasing dari dunia ramai dan sama sekali tidak peduli terhadap segala apa di dunia ini, seperti setiap orang adalah musuh besarnya, kalau bisa setiap orang akan dibunuhnya.

Tentu saja Toan Ki rada mendongkol oleh jawaban orang. Tapi lantas teringat olehnya bahwa nona itu sudah jatuh di tangan kepungan musuh, keadaannya sangat berbahaya, kalau sikapnya menjadi kasar juga tak boleh salahkan dia. Karena itu, timbul juga rasa solider Toan Ki.

Maka dengan ramah ia menjawab, “Cayhe pikir kedua orang jahat itu akan bikin susah nona, hal itu tentu belum diketahui nona, maka sengaja kukembali ke sini untuk memberi kabar agar sebelumnya nona menyingkir. Tak terduga tetap terlambat juga, musuh sudah tiba lebih dulu, sungguh aku menyesal.”

“Begini baik sengaja kau bela aku, sebenarnya apa maksud tujuanmu?” tanya wanita itu dingin.

Toan Ki menjadi gemas, sahutnya keras, “Selamanya tidak kukenal nona, cuma kutahu ada orang hendak bikin susah padamu, masa aku boleh berpeluk tangan dan diam saja?”

“Apakah kau tahu siapa aku?” tanya wanita itu.

“Tidak” sahut Toan Ki.

“Kudengar cerita Ciong Hok, katanya sama sekali engkau tidak mahir ilmu silat, tapi berani kau damprat terang-terangan di hadapan Ciong-kokcu. nyalimu sungguh tidak kecil, tapi kau sudah terlibat dalam kejadian ini, apa kehendakmu sekarang?”

“Sebenarnya sehabis menyampaikan berita ini, segera akan pulang ke rumah secepatnya,” sahut Toan Ki. Ia menghela napas, lalu menyambung, “Tapi tampaknya nona bakal celaka dan aku pun tak terhindar dari malapetaka. Cuma entah cara bagaimana nona bermusuhan dengan orang-orang ini?”

“Berdasarkan apa kau berani tanya padaku?” nona itu menjengek.

Kembali Toan Ki tercengang, tapi segera katanya, “Urusan pribadi orang memang aku tidak pantas tanya. Baiklah, aku sudah menyampaikan kabar padamu, selesailah kewajibanku.”

“Tentunya kau tidak menduga jiwamu bakal melayang di sini, bukan? Apa engkau menyesal?” tanya si wanita.

Mendengar kata orang bernada menyindir, kontan Toan Ki menjawab, “Perbuatan seorang Taytianghu (laki-laki sejati), asal demi kebaikan sesamanya, kenapa mesti menyesal?”

“Hm, hanya macam kau juga berani mengaku sebagai laki-laki sejati?” jengek wanita baju hitam itu.

“Kesatria atau bukan, masakah ditentukan dalam hal tinggi rendahnya ilmu silat?” sahut Toan Ki dongkol. “Sekalipun ilmu silatnya tiada tandingan di kolong langit, kalau kelakuannya rendah memalukan juga tak bisa disebut sebagai ‘Taytianghu’!”

“Cin-losiangsing,” tiba-tiba wanita baju hitam itu berpaling pada Cin Goan-cun, “kau dengar tidak ucapan Toan-ya ini? Kelakuan kalian ini rasanya tak dapat dikatakan terang-terangan, bukan?”

“Perempuan hina,” mendadak nenek yang duduk di samping Cin Goan-cun itu memaki, “apa kau sengaja mengulur waktu? Bangkitlah untuk bertempur ….”

“Usiamu sudah lanjut begini, ingin mampus juga tidak perlu terburu-buru,” sahut si baju hitam dengan tajam. “Jing-siong Tojin, kau pun datang mencari perkara padaku, apa orang Ban-jiat-kok mengetahuinya?”

Air muka Tosu berjenggot itu rada berubah, sahutnya, “Tujuanku adalah membalas dendam murid, apa sangkut pautnya dengan Ban-jiat-kok?”

“Ingin kutanya, sebelumnya kau minta bantuan Hiang-yok-jeh atau tidak?” tanya si wanita.

Tosu itu menjadi gusar, sahutnya, “Sekian banyak tokoh terkemuka berkumpul di sini, masakah masih tidak bisa memberesi dirimu?”

“Jawabanmu tidak jelas, tentu pernah kau minta bantuan Hiang-yok-jeh,” kata wanita baju hitam. “Dan kau ternyata bisa keluar lagi dari Ban-jiat-kok dengan selamat, boleh dikata rezekimu tidak kecil.”

“Aku tidak masuk ke Ban-jiat-kok, siapa bilang aku pergi ke sana?” sahut Jing-siong Tojin.

“Ehm, jika begitu, tentunya telah kau kirim seorang lain ke sana sebagai pengantar jiwa,” kata wanita itu mengangguk-angguk.

Sekilas wajah Jing-siong Tojin merasa malu, segera ia berteriak, “Marilah kita putuskan dengan senjata, kenapa banyak mulut?”

Menyaksikan percakapan wanita baju hitam dengan orang-orang itu, Toan Ki dapat melihat rombongan Cin Goan-cun itu masih belum pasti di atas angin, kalah atau menang baru bisa diketahui sesudah bertanding. Tapi dari nada Jing-siong Tojin tadi, terang Tosu itu sangat jeri pada si wanita baju hitam. Diam-diam Toan Ki sangat heran, orang-orang itu berulang kali menantang, tapi tetap tiada seorang pun yang berani mulai bergebrak.

Tiba-tiba terdengar si wanita baju hitam berkata kepada Toan Ki, “Hai orang she Toan, sekian banyak orang-orang ini hendak mengeroyok diriku, menurut kau, bagaimana baiknya.”

“Si mawar hitam berada di luar,” ujar Toan Ki. “Kalau engkau bisa terjang keluar dari kepungan, lekas menunggangnya melarikan diri. Teramat cepat lari binatang itu, pasti mereka tak mampu menyusulmu.”

“Lalu bagaimana dengan kau sendiri?” tanya nona itu.

“Selamanya aku tidak kenal mereka, tiada dendam tak ada sakit hati, boleh jadi mereka takkan bikin susah padaku” ujar Toan Ki.

Wanita baju hitam itu tertawa dingin, katanya, “Hm, jika mereka mau pakai aturan, tentunya aku takkan dikeroyok orang sebanyak ini. Jiwamu sudah pasti akan melayang. Bila aku bisa lolos, adakah sesuatu pesan tinggalanmu?”

Toan Ki menjadi sedih, sahutnya, “Ada seorang nona Ciong telah ditawan oleh Sin-long-pang di Bu-liang-san, ibunya memberikan kotak emas ini kepadaku dan minta disampaikan kepada ayahku agar berusaha menolong nona Ciong itu, Ji … jika nona dapat lolos, harapanku adalah sudi melaksanakan tugasku ini, untuk mana aku merasa sangat terima kasih.”

Sembari berkata, ia melangkah maju dan mengangsurkan kotak emas itu.

Kini jaraknya di belakang wanita baju hitam itu hanya setengah meter saja, tiba-tiba hidungnya mengendus semacam bau wangi yang mirip bunga anggrek, tapi bukan anggrek, seperti mawar, tapi bukan mawar. Meski bau harum itu tidak keras, namun membuat orang merasa pusing, tubuh Toan Ki menjadi sempoyongan sedikit.

Wanita itu ternyata tidak menerima kotak itu, tapi bertanya, “Kabarnya nona Ciong itu sangat cantik, apakah ia kekasihmu?”

“Bukan, bukan!” sahut Toan Ki cepat. “Nona Ciong masih terlalu muda, lincah dan kekanak-kanakan, mana … mana bisa timbul maksudku yang tidak senonoh itu?”

Baru sekarang wanita itu ulurkan tangan ke belakang untuk mengambil kotak emas yang diangsurkan Toan Ki. Pemuda itu melihat tangan orang memakai sarung tangan sutera hitam hingga sama sekali tidak kelihatan kulit badannya.

Perlahan wanita itu masukkan kotak emas itu ke dalam bajunya, lalu berkata, “Nah, Jing-siong Tojin, lekas enyah dari sini!”

“Apa … apa katamu?” Tosu itu menegas dengan tergegap.

“Enyah keluar, hari ini aku tidak ingin membunuhmu,” kata si wanita.

Mendadak Jing-siong Tojin angkat pedangnya dan membentak, “Kau mengoceh apa segala?”

Tapi suaranya gemetar, entah saking gusar atau karena ketakutan?

“Kau tahu tidak bahwa mengingat Sumoaymu, maka aku mengampuni jiwamu,” kata si wanita baju hitam lagi. “Nah, lekas enyah!”

Wajah Jing-siong Tojin sepucat mayat, perlahan pedangnya menurun ke bawah.

Melihat wanita baju hitam itu berlaku kasar dan membentak Jing-siong Tojin enyah dari situ, Toan Ki menyangka Tosu itu pasti akan murka, siapa tahu wajah Tosu itu tampak ragu sebentar, lalu tampak jeri pula, sekonyong-konyong pedang jatuh ke lantai, ia tutup mukanya dengan kedua tangan terus lari keluar.

Tapi sial baginya, baru tangan hendak mendorong pintu, si nenek yang duduk di samping Cin Goan-cun telah ayun tangannya, sebilah Hui-to atau pisau terbang melayang cepat dan tepat mengenai punggung Jing-siong Tojin. Tanpa ampun lagi Tosu itu terjungkal, setelah merangkak beberapa kali, akhirnya terkapar binasa.

Toan Ki menjadi gusar, teriaknya, “Hai, Lothaythay (nenek tua), Tosu itu kan kawanmu, kenapa kau serang dia sekeji itu?”

Dengan gaya loyo nenek itu berbangkit, dengan penuh perhatian ia pandang si wanita baju hitam, ucapan Toan Ki itu seperti tak didengarnya.

Serentak kawan-kawannya juga siap siaga untuk mengerubut, asal sekali diberi komando, kontan wanita baju hitam pasti akan dicacah mereka.

Melihat keadaan demikian, sungguh Toan Ki merasa penasaran, “Hai, kalian semua laki-laki hendak mengerubut seorang perempuan lemah, di manakah letaknya keadilan ini?”

Segera ia pun melangkah maju hingga wanita baju hitam teraling di belakangnya, lalu bentuknya pula, “Ayo, kalian masih berani turun tangan?”

Meski sama sekali Toan Ki tidak bisa silat, tapi sikapnya gagah perkasa dengan semangat banteng yang tak gentar pada siapa pun.

“Jadi saudara sudah pasti ingin ikut campur urusan ini?” dengan kalem Cin Goan-cun menegur.

“Ya,” teriak Toan Ki. “Aku melarang kalian main keroyok, menganiaya seorang wanita lemah.”

“Hubungan famili apa antara saudara dengan perempuan hina ini, atas suruhan siapa hingga kau berani ikut campur urusan ini?” tanya Cin Goan-cun lagi.

“Aku dan nona ini bukan sanak bukan kadang, cuma segala apa di dunia ini tidak terlepas dari ‘keadilan’, maka kunasihati kalian supaya sudahi urusan ini, mengeroyok seorang gadis lemah, terhitung orang gagah macam apa?” sahut Toan Ki tegas. Lalu ia berbisik pada si wanita baju hitam, “Lekas nona lari, biar kurintangi mereka.”

Wanita itu pun menjawab dengan suara lirih, “Jiwamu akan melayang demi membela diriku, apa takkan menyesal?”

“Biar mati tidak menyesal,” sahut Toan Ki.

“Kau benar-benar tidak takut mati? Tetapi ….” mendadak suara wanita itu diperkeras, “sedikit pun kau tak bertenaga, masih kau berani berlagak kesatria?”

Sekonyong-konyong ia ayun tangannya, dua tali berwarna tahu-tahu melayang hingga kedua tangan dan kedua kaki Toan Ki terikat dengan erat.

Berbareng pada saat itu juga, sebelah tangan lain si wanita pun mengayun bergerak, Toan Ki hanya mendengar suara gemerencing dan gedubrakan beberapa kali, di sana-sini beberapa orang lantas jatuh terjungkal, menyusul sinar senjata gemerlapan menyilaukan mata, pandangan menjadi gelap, segenap lilin di dalam ruangan telah dipadamkan semua oleh orang. Segera Toan Ki merasa tubuhnya terapung seakan-akan terbang dibawa seseorang.

Semua kejadian itu datangnya terlalu cepat sehingga dalam sekejap itu Toan Ki tidak tahu dirinya sudah berada di mana. Hanya terdengar sekeliling ruangan ramai suara bentakan orang, “Jangan sampai lolos perempuan hina itu!”

“Jangan takut pada panah beracunnya!”

“Sambitkan Hui-to, sambitkan Hui-to!”

Menyusul terdengar pula suara gemerencing yang ramai, banyak senjata rahasia terbentur jatuh.

Ketika Toan Ki merasakan badannya berguncang lagi, menyusul terdengar suara derap kuda berlari, nyata dirinya sudah berada di atas kuda, kaki tangan terikat, sedikit pun tak bisa berkutik. Ia merasa tengkuknya bersandar di badan seseorang, hidung mengendus bau wangi, itulah bau harum dari badan si wanita baju hitam.

Suara derapan kuda berdetak-detak, enteng dan anteng, suara bentak dan kejar musuh makin lama makin ketinggalan jauh di belakang.

Oh-bi-kui berbulu hitam, antero tubuh wanita itu pun hitam, ditambah malam pekat dengan bau harum semerbak, suasana menjadi agak seram.

Sekaligus Oh-bi-kui alias si mawar hitam berlari sampai beberapa li jauhnya.

Akhirnya Toan Ki berseru, “Nona, tidak sangka kepandaianmu begini hebat, harap lepaskan aku.”

Wanita itu mendengus sekali tanpa menjawab.

Karena kaki tangan terikat, setiap kali kuda itu mencongklang, tali pengikat bertambah kencang, makin lama Toan Ki makin kesakitan, ditambah lagi kepalanya terjuntai ke bawah hingga mirip orang tergantung, Toan Ki menjadi pening tak tertahan. Maka serunya lagi, “Nona, lekas lepaskan aku!”

“Plak,” mendadak ia dipersen sekali tempelengan, dengan dingin nona itu berkata, “Jangan cerewet, tahu? Nona tidak tanya, dilarang bicara!”

“Sebab apa?” teriak Toan Ki penasaran.

“Plak, plak,” kembali ia digampar dua kali terlebih keras daripada tadi.

Keruan Toan Ki merah bengap mukanya, telinga pun mendenging hampir-hampir pekak.

Dasar watak Toan Ki memang bandel, segera ia berteriak pula, “Kenapa sedikit-sedikit kau pukul orang? Lekas lepaskan aku, aku tidak sudi bersama kau.”

Mendadak Toan Ki merasa tubuhnya terapung, tahu-tahu sudah terbanting di tanah, tapi anggota badannya masih terikat, bahkan ujung lain dari tali pengikat itu masih dipegang orang hingga badan Toan Ki terseret di tanah oleh Oh-bi-kui.

Wanita itu membentak tertahan menyuruh Oh-bi-kui berjalan perlahan, lalu tanyanya pada Toan Ki, “Kau menyerah tidak sekarang? Mau dengar perintahku tidak?”

“Tidak, tidak!” gembor Toan Ki. “Tadi meski terancam mati saja aku tidak gentar, apalagi sekarang hanya disiksa begini? Aku ….”

Sebenarnya ia ingin bilang, “Aku tidak takut,” tapi kebetulan waktu itu badannya yang terseret di tanah itu membentur jalan yang tidak rata sehingga kata-katanya itu terputus.

“Kau takut, bukan?” kata si nona baju hitam dengan dingin. Segera ia sendal talinya, Toan Ki terangkat ke atas kuda lagi.

“Aku takut apa?” sahut Toan Ki. “Lekas lepaskan aku!”

“Hm, di hadapanku, tiada seorang pun berhak bicara,” kata wanita itu. “Aku justru hendak menyiksa kau, biar mati tidak, hidup pun tidak, apa kau kira hanya sedikit siksaan begini saja?”

Habis berkata, kembali ia lemparkan Toan Ki ke tanah dan diseret pula.

Gusar Toan Ki tidak kepalang, pikirnya, “Semua orang tadi memaki dia sebagai perempuan hina, nyatanya ada benarnya juga”

Segera ia berseru pula, “Lepaskan aku! Kalau tidak, awas, aku akan memaki, lho.”

“Kalau berani, boleh coba memaki,” sahut nona itu. “Selama hidupku ini memang sudah kenyang dicaci maki orang.”

Mendengar kata-kata orang yang terakhir itu diucapkan dengan nada penuh rasa sesal dan derita, caci maki Toan Ki yang sudah hampir dilontarkan itu menjadi urung dikeluarkan, hatinya menjadi lunak.

Menunggu sekian saat tidak terdengar makian Toan Ki, wanita itu berkata pula, “Hm, masakah kau berani memaki!”

“Mengapa tidak berani?” seru Toan Ki mendongkol. “Soalnya aku menjadi kasihan padamu, maka tidak tega memaki. Memangnya kau kira aku takut padamu?”

Wanita itu tidak menggubrisnya lagi, mendadak ia bersuit mempercepat kudanya, segera Oh-bi-kui mencongklang pesat ke depan. Keruan yang payah adalah Toan Ki, badannya tergesek oleh batu pasir yang tajam hingga babak belur dan darah mengucur.

“Kau mau menyerah atau tidak?” seru si wanita.

Dengan suara keras Toan Ki memaki malah, “Kau perempuan galak yang tak kenal aturan!”

“Aku memang perempuan galak, tak perlu kau katakan pun kutahu sendiri.” sahut wanita itu. “Dan di mana aku tidak kenal aturan segala?”

“Aku … aku bermaksud baik padamu ….” mendadak kepala Toan Ki membentur sepotong batu di tepi jalan, hingga seketika ia tak sadarkan diri.

Entah sudah selang berapa lama lagi, ketika mendadak Toan Ki merasa kepalanya dingin segar, ia siuman, menyusul terasa air merembes masuk ke dalam mulut, cepat ia tahan napasnya, namun tak keburu lagi, ia terbatuk-batuk sesak. Dan karena batuknya itu, air masuk lebih banyak lagi ke dalam mulut dan hidung.

Kiranya ia diseret oleh wanita baju hitam di tanah, ketika mengetahui Toan Ki jatuh pingsan, nona itu sengaja menyeberangi sebuah sungai kecil, karena terendam air, Toan Ki lantas sadar. Untung sungai itu kecil dan dangkal, sekali lompat si mawar hitam sudah menyeberanginya.

Dengan baju basah kuyup, perut kembung tercekok air sungai, ditambah badan memang babak belur, keruan antero badan Toan Ki terasa sakit.

“Sekarang menyerah tidak?” kembali wanita baju hitam itu tanya.

“Sungguh sukar dipahami bahwa di dunia ini ada perempuan sewenang-wenang seperti ini,” demikian pikir Toan Ki. “Aku sudah tercengkeram di tangannya, banyak bicara juga tiada gunanya.”

Karena itu, ketika beberapa kali si wanita baju hitam tanya lagi, “Kau mau menyerah tidak? Sudah cukup tahu rasa belum?”

Toan Ki tetap tidak menggubrisnya dan anggap tidak mendengar saja.

Nona itu menjadi gusar, dampratnya, “Apa kau tuli? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?”

Tetap Toan Ki tak gubris padanya.

Mendadak nona itu tahan kudanya, ingin tahu apakah Toan Ki sebenarnya sudah sadar atau belum.

Tatkala itu sang surya sudah menongol di ufuk timur dengan cahayanya yang remang-remang, maka nona itu dapat melihat jelas kedua mata Toan Ki lagi mendelik padanya dengan gusar.

Nona itu menjadi murka, dampratnya pula, “Bagus, jadi kau tidak pingsan, tapi sengaja main gila padaku. Baiklah, mari coba-coba kita adu bandel, apa kau lebih tahan atau aku lebih kejam?”

Ia terus melompat turun dari kudanya, dengan enteng ia melompat ke atas mendapatkan sepotong ranting pohon, “plak,” segera ia sabet sekali di muka Toan Ki.

Baru untuk pertama kali ini Toan Ki berhadapan muka dengan wanita itu, ia lihat muka orang berkerudung selapis kain hitam tebal, hanya dua lubang matanya tertampak sepasang biji matanya yang hitam bersinar tajam.

Toan Ki tersenyum, katanya di dalam hati, “Kau ingin kujawab pertanyaanmu, hm, mungkin lebih sulit daripada naik ke langit.”

“Dalam keadaan begini kau masih bisa tersenyum? Apa yang kau gelikan?” omel nona itu.

Tapi Toan Ki sengaja mengiming-iming dengan muka kocak, lalu tertawa lagi.

“Plak-plok, plak-plok,” kembali nona itu menghujani sabetan beberapa kali. Namun Toan Ki sudah tidak pikirkan jiwanya lagi, ia tetap diam.

Cara menghajar wanita itu sangat keji, setiap kali sabetannya pasti mengenai tempat Toan Ki yang paling sakit. Saking tak tahan, beberapa kali Toan Ki hampir-hampir menjerit, tapi syukur ia masih bisa mengekang diri.

Melihat pemuda itu sedemikian bandel, setelah berpikir sejenak, segera wanita itu berkata, “Baik, kau pura-pura tuli, biar kubikin benar-benar menjadi tuli!”

Terus saja ia keluarkan sebilah belati, dengan sinar gemerlap perlahan ia mendekati Toan Ki. Ia angkat belatinya dan ancam telinga kiri pemuda itu sambil membentak, “Kau dengar kata-kataku tidak? Apa kau tidak ingin daun kupingmu ini?”

Masih tetap Toan Ki tak menggubris, sinar mata nona itu menyorot beringas, selagi belati diangkat hendak menyayat kuping Toan Ki, tiba-tiba di tempat sejauh belasan tombak sana ada orang membentak, “Perempuan hina, kau akan mengganas lagi, ya?”

Suaranya lantang berwibawa.

Cepat wanita itu angkat tali pengikatnya hingga tubuh Toan Ki tergantung di atas dahan pohon. Waktu menoleh, Toan Ki melihat orang yang bersuara itu adalah seorang laki-laki tinggi besar bertangan kosong, pada pinggangnya terselip sebuah golok. Laki-laki itu tidak berlari, tapi tahu-tahu sudah sampai di depan mereka, cepatnya bukan main.

Toan Ki melihat muka orang itu kuning langsat, berbaju pendek warna kuning, bermuka lebar, kedua kaki dan tangan jauh lebih panjang daripada orang biasa, usianya sekitar 30-an tahun, kedua matanya bersinar tajam.

“Tentunya kau inilah Kim Tay-peng?” tegur nona tadi. “Orang bilang Ginkangmu sangat hebat, tapi, hm, kalau sepanjang jalan aku tidak menanyai bocah ini hingga jalanku terlambat, rasanya kau pun tak mampu menyusulku.”

“Dan kalau bukan ada urusan lain hingga jalanku terlambat, rasanya kau pun takkan bisa lolos,” sahut laki-laki itu ketus.

“Dan sekarang sudah dapat kau susul aku,” kata si nona. “Nah, Kim Tay-peng, kau mau apa sekarang?”

“Si tukang obat, Ong-lohan, di kota Sengtoh itu, dibunuh olehmu bukan?” tanya laki-laki itu.

“Kalau benar, mau apa?” sahut si nona.

“Ong-lohan adalah sahabatku, dia suka menolong kaum miskin, selama hidupnya tidak pernah berbuat jahat, sebab apa kau bunuh dia?”

“Sebabnya?” sahut nona itu. “Hm, sebab ada orang terkena panahku yang berbisa, Ong-lohan sengaja tampil untuk mengobatinya, hal ini kau tahu tidak?”

“Menjual obat bertujuan menyembuhkan orang, itu memang kewajiban Ong-lohan” kata orang itu alias Kim Tay-peng.

Sekonyong-konyong terdengar suara mendesir perlahan, menyusul suara “cring” sekali pula, sebatang panah kecil menancap di samping kaki Kim Tay-peng.

Panjang panah itu hanya belasan senti, hampir seluruhnya ambles ke dalam tanah.

Dalam pada itu tampak Kim Tay-peng pun memasukkan goloknya ke dalam sarung yang tergantung di pinggangnya.

Kiranya dalam sekejap itu saja si nona sudah menyerang Kim Tay-peng dengan panah, tapi Kim Tay-peng sempat cabut golok untuk menangkis. Nyata, diam-diam kedua orang sudah saling gebrak sejurus.

“Cepat juga gerakanmu, ya?” kata si nona.

“Kau pun tidak lamban,” sahut Kim Tay-peng. “Nyata, nama Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing memang bukan omong kosong.”

Toan Ki terperanjat mendengar nama itu, cepat ia berteriak, “He, engkau salah, Kim-heng, dia bukan Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing!”

“Dari mana kau tahu?” tanya Kim Tay-peng.

“Kukenal Bok Wan-jing dengan baik, Bok Wan-jing adalah Ciong-hujin, tapi perempuan jahat ini adalah seorang nona lain,” kata Toan Ki.

Sekilas wajah Kim Tay-peng mengunjuk heran, katanya, “Jadi Hiang-yok-jeh sudah kawin? Entah orang she Ciong mana yang sial itu.”

Tiba-tiba terdengar suara mendesir dua kali, dua batang senjata rahasia jatuh di samping Toan Ki, yang satu adalah panah kecil berwarna hitam, yang lain adalah sebuah mata uang. Di tengah mata uang itu berlubang dan tepat panah itu menancap di tengah lubang itu.

Kiranya wanita itu telah menyambit ke belakang hendak memanah Toan Ki, tapi Kim Tay-peng sempat menimpukkan mata uang itu hingga jiwa Toan Ki tertolong.

Melihat itu, barulah Toan Ki sadar barusan jiwanya telah berpiknik ke pintu gerbang akhirat, untung bisa balik lagi. Ia dengar wanita itu bertanya dengan gusar, “Siapa bilang aku Bok Wan-jing sudah kawin? Laki-laki di jagat ini tiada seorang pun yang baik, siapa yang setimpal menjadi suamiku?”

“Ya, agaknya saudara ini salam paham,” ujar Kim Tay-peng.

Mendadak wanita baju hitam itu mengaku sebagai “Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing” atau si kuntilanak berbau harum, Toan Ki pikir di balik ini tentu ada sesuatu yang tak beres, sekalipun nona ini ganas dan jahat, rasanya tidak nanti sudi mengaku sebagai istri orang. Maka katanya, “Betul juga ucapan Kim-heng, yang kutahu ialah istrinya Kian-jin-ciu-sat Ciong Ban-siu yang bernama Bok Wan-jing.”

“Cis, jadi perempuan keparat itu telah memalsukan namaku sebagai Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing?” teriak wanita baju hitam dengan gusar.

“Kim-heng,” kata Toan Ki, “Ciong Ban-siu itu suka membunuh orang tak berdosa, dengan nona baju hitam ini sungguh suatu pasangan yang setimpal.”

Baru selesai ucapannya itu tiba-tiba sinar hijau berkelebat di depan mata, sesuatu senjata telah membacok ke arahnya.

Dalam keadaan terikat dan terjungkir, dengan sendirinya Toan Ki tak dapat menghindar, namun biar dia bisa bergerak dan bersenjata sekalipun tentu juga sukar menghindari serangan kilat itu. Maka dengan pejamkan mata ia sudah pasrah nasib.

Mendadak terdengar suara gemerantang beberapa kali, senjata nona baju hitam itu ternyata tidak sampai di tubuhnya. Ketika membuka mata, ia lihat di depan sana sesosok bayangan hitam dan segulung kabut kuning lagi melayang kian kemari dengan cepat luar biasa, di tengah bayangan hitam dan kabut kuning itu terlihat berkelebatnya sinar putih pula, menyusul riuh ramai dengan suara saling beradunya senjata.

“Tuhan Maha Pengasih, semoga Kim-heng ini diberi kemenangan,” diam-diam Toan Ki berdoa.

Tiba-tiba terdengar si nona baju hitam alias Bok Wan-jing membentak nyaring, kedua orang sama-sama melompat mundur, tampak golok Kim Tay-peng sudah dimasukkan ke sarungnya, dengan tenang berdiri di tempatnya.

Sebaliknya dengan pedang terhunus, Bok Wan-jing lagi memandang lawan dengan penuh perhatian.

“Kalah menang belum terjadi, kenapa nona Bok tidak terus bertempur?” kata Kim Tay-peng.

“Hm, ‘It-hui-ciong-thian Kim Tay-peng’, suatu tokoh gemilang di dunia Kangouw paling akhir ini, huh!” sahut Bok Wan-jing.

“Ada apa maksudmu?” tanya Tay-peng.

“Dalam 500 jurus belum tentu dapat kau menangkan nonamu!” sahut Wan-jing.

“Benar!” kata Tay-peng, “Jika lebih dari 500 jurus?”

“Marilah boleh kita coba-coba,” ujar Bok Wan-jing. Berbareng ujung pedangnya terus mengarah tenggorokan Kim Tay-peng.

“Trang,” Kim Tay-peng melolos golok buat menangkis dan kembalikan golok ke sarungnya pula, lalu membentak, “Kim Tay-peng adalah seorang laki-laki sejati, mana bisa bertempur sampai lebih 500 jurus dengan perempuan siluman kecil macammu? Utang darah penjual jamu Ong-lohan sementara ini biar kutunda dulu. Cuma kau harus berjanji takkan mencelakai jiwa saudara ini.”

“Lalu utang piutang kita sendiri kapan akan diselesaikan?” tanya Bok Wan-jing.

“Nanti kalau dalam 500 jurus aku sudah dapat membereskanmu, dengan sendirinya akan kubikin perhitungan padamu,” sahut Kim Tay-peng. “Jelas belum pesanku tadi?”

“Hm, bilakah pernah kau dengar Hiang-yok-jeh menerima pesan seseorang?” sahut Bok Wan-jing dengan angkuh.

“Baiklah, kuhormati kepandaianmu yang hebat, anggaplah aku yang memohonkan keselamatan saudara ini,” kata Tay-peng.

“Jadi kau sendiri yang memohon padaku?” Bok Wan-jing menegas.

“Ya, kumohon padamu,” sahut Tay-peng dengan suara berat.

Maka terbahaklah senang sekali Bok Wan-jing, selama bertemu dengan dia, untuk pertama kali inilah Toan Ki mendengar suara tertawa nona itu yang penuh gembira ria, tidak saja senang luar biasa, bahkan membawa sifat kekanak-kanakan.

Terdengar ia berseru pula, “Haha, It-hui-ciong-thian Kim Tay-peng ternyata memohon sesuatu pada aku Bok Wan-jing, maksud baik permohonan ini rasanya tidak pantas kalau kutolak. Cuma aku hanya berjanji tidak membunuh orang ini, menghajarnya atau mengutungi kaki tangannya tidak termasuk dalam jaminanku ini.”

Habis berkata, tanpa menunggu jawaban Kim Tay-peng lagi, ia bersuit, dengan cepat si mawar hitam mendekatinya, sekali cemplak Bok Wan-jing sudah berada di atas kuda, berbareng ia sambitkan pedangnya hingga tali gantungan pada dahan pohon itu terpapas putus. Toan Ki bersama pedang itu jatuh ke bawah, dan pada saat itulah dengan tepat Oh-bi-kui atau si mawar hitam berlari sampai di bawah pohon, tangan kanan Bok Wan-jing menyambar kembali pedangnya, tangan kiri mencengkeram kuduk Toan Ki dan ditaruh di atas pelana kuda. Sekali congklang, secepat terbang Oh-bi-kui sudah berlari jauh.

Melihat pertunjukan Bok Wan-jing ketika hendak pergi itu, mau tak mau Kim Tay-peng memuji, “Sungguh lihai perempuan siluman ini.”

Setelah Bok Wan-jing simpan pedangnya, ia berkata di atas kuda, “It-hui-ciong-thian yang namanya terkenal di seluruh jagat ini hari ini juga tak bisa mengapa-apakan diriku. Hm, biarpun dia memperdalam pula ilmu silatnya, memangnya setiap hari aku hanya tidur saja dan ilmu kepandaianku takkan bertambah? Wahai, bocah she Toan, sekarang kau menyerah tidak padaku?”

Toan Ki hanya diam saja tak menggubrisnya, tetap berlagak bisu dan tuli.

Agaknya hati Bok Wan-jing sangat riang, kembali ia berkata, “Orang Kangouw sama bilang It-hui-ciong-thian Kim Tay-peng adalah jago muda yang jarang ada bandingannya, kecuali tokoh-tokoh angkatan tua seperti ‘Sam-sian-su-ok’, dia terhitung jago paling lihai. Tapi hari ini dia toh sudi memohon padaku.”

Toan Ki menjadi dongkol, katanya di dalam hati, “Dia hanya merasa seorang laki-laki tidak pantas melabrak seorang perempuan, makanya mengampunimu, masa engkau sembarangan membual segala?”

Tapi ia sendiri pun menyaksikan sikap Kim Tay-peng, ia tahu meski nama ‘It-hui-ciong-thian’ (sekali terbang menjulang ke langit) terkenal di seluruh jagat, jelas juga tidak berani memandang enteng Bok Wan-jing. Ia pikir perempuan siluman ini meski keji dan ganas, tapi ilmu silatnya memang benar-benar sangat lihai.

Selagi Toan Ki termenung, mendadak pundaknya ditarik Bok Wan-jing hingga mukanya berpaling ke arahnya, demi tampak wajah pemuda itu belum lenyap dari rasa kagum, Bok Wan-jing terbahak-bahak, katanya, “Bocah bandel, di mulut kau tidak bicara, tapi di dalam hati kau menyerah padaku, bukan?”

Dan karena hatinya lagi senang, sepanjang jalan ia tidak siksa Toan Ki lagi.

Tidak lama, si mawar hitam telah membawa mereka ke suatu pekuburan. Segera Toan Ki dapat mengenali tempat itu adalah jalan masuk ke Ban-jiat-kok.

Ia lihat Bok Wan-jing melompat turun dari kudanya terus menarik batu nisan kuburan itu, cara menarik batu nisan itu persis seperti apa yang Ciong Ling ajarkan pada Toan Ki.

Begitu pintu kuburan terpentang, terus saja Bok Wan-jing jinjing Toan Ki melangkah ke dalam.

Perawakan Toan Ki sedikitnya belasan senti lebih tinggi daripada nona itu, bicara tentang bobot badan, sedikitnya juga lebih berat 30-40 kati. Tapi terjinjing olehnya, ternyata enteng saja bagai membawa sebuah keranjang.

Setelah masuk pula ke dalam peti mati, penyambutnya tetap si pelayan kecil yang menerima Toan Ki itu.

Sampai di tempat yang terang, pelayan itu kaget dan bertanya, “Hei, Bok-kohnio, ken … kenapa kau bawa Toan-kongcu ke sini? Di … di manakah Siocia kami?”

“Panggil keluar nyonyamu!” bentak Bok Wan-jing sambil banting Toan Ki ke lantai.

“Loya terluka parah, Hujin tak dapat meninggalkan beliau, silakan nona masuk ke dalam saja,” kata si pelayan.

“Peduli apa dengan Loyamu yang terluka segala, suruh nyonyamu keluar!” bentak Bok Wan-jing bengis. “Sekalipun Loyamu saat ini akan mampus juga harus suruh nyonyamu lekas keluar!”

Pelayan itu tak berani bicara lagi, ia mengiakan dengan ketakutan, lalu cepat masuk ke dalam.

Tidak lama, Ciong-hujin tampak keluar dengan tergesa-gesa, katanya, “Nona Bok, kenapa tidak duduk dan bicara di dalam saja?”

Bok Wan-jing tidak menyahut, ia menengadah ke atas dan tidak menggubris.

Ciong-hujin seperti sangat jeri kepada nona baju hitam itu, dengan sabar ia berkata pula, “Bok-kohnio, apakah aku berbuat sesuatu kesalahan padamu?”

“Kau panggil siapa sebagai ‘Bok-kohnio’?” tanya Bok Wan-jing tiba-tiba.

“Sudah tentu memanggil engkau,” sahut nyonya Ciong.

“Hm, kusangka kau berkata pada dirimu sendiri,” jengek Bok Wan-jing. “Kabarnya kau sekarang sudah ganti nama dan tukar she, kau pun bernama ‘Bok Wan-jing’. Sungguh tidak nyana bahwa nama ‘Bok Wan-jing’ bisa mendapat perhatian orang, tapi julukan ‘Hiang-yok-jeh’ toh bukan nama yang enak di dengar, kalau benar-benar mau, biar kuberikan padamu dengan tangan terbuka.”

Wajah Ciong-hujin sebentar merah sebentar pucat, katanya kemudian dengan suara halus, “Nona Bok, aku memalsukan namamu, hal ini memang tidak pantas. Soalnya karena aku terlalu mengkhawatirkan putriku, dengan harapan menggunakan namamu yang besar dapatlah menakutkan kawanan Sin-long-pang agar Ling-ji bisa dilepaskan mereka.”

Mendengar itu, Bok Wan-jing berkata pula dengan nada agak halus, “Apa benar namaku mempunyai pengaruh begitu besar?”

Ciong-hujin kenal watak si nona yang suka dipuji dan diumpak, maka cepat sahutnya, “Sudah tentu! Nama besar nona di kalangan Kangouw, siapa saja yang tidak takut? Maka kuyakin bila mendengar nama nona, biarpun nyali orang Sin-long-pang sebesar langit juga tak berani mengganggu seujung rambut Ling-ji.”

“Baiklah, tentang memalsukan namaku, tak perlu kuusut lebih jauh,” kata Bok Wan-jing. “Tapi awas, bila lain kali sembarangan kau pakai namaku lagi, tentu urusan takkan berakhir begini saja. Kau adalah istri Ciong Ban-siu, apakah … apakah … huk!” mendadak ia mengentak kaki ke lantai dengan keras.

Lekas-lekas Ciong-hujin menanggapinya dengan tertawa, “Ya, ya, memang akulah yang salah! Karena bingung memikirkan Ling-ji, aku menjadi lupa pada nama baik nona yang masih suci bersih.”

Bok Wan-jing mendengus sekali, lalu tanya pula, “Jing-siong Tojin datang mencari perkara padaku, hal ini sebelumnya sudah kau ketahui, bukan?”

Air muka Ciong-hujin berubah seketika, sahutnya terputus-putus, “Ya, dia … dia pernah datang minta bantuan kami berdua untuk mengeroyok nona. Tapi … coba pikir, mana bisa kami berbuat demikian?”

“Ilmu silat suamimu sangat tinggi, kalau dia ikut mengeroyok, mungkin jiwaku akan melayang,” kata Bok Wan-jing.

“Hubungan kami dengan nona sangat baik sejak dulu, mana bisa kami berbuat begitu?” sahut Ciong-hujin. Dan demi melihat sorot mata Bok Wan-jing di balik topeng hitamnya itu berkilat-kilat menyeramkan, cepat ia berkata pula, “Untuk bicara terus terang, sebenarnya kami pernah berunding tentang urusan itu. Tapi suamiku menduga biarpun No-kang-ong Cin Goan-cun, ditambah It-hui-ciong-thian Kim Tay-peng, Hui-sian Taysu dari Siau-lim-si dan lain-lain ikut mengerubut belum tentu mereka mampu menangkap nona, sebab itulah, meski Jing-siong Tojin memohon dengan sangat, tetap suamiku tak mau.”

“Ucapanmu ini adalah karanganmu belaka atau benar-benar keluar dari mulut suamimu?” tanya Wan-jing.

“Kata-kata ini diucapkan suamiku sendiri kepada Jing-siong Tojin,” sahut Ciong-hujin. “Bila nona tidak percaya, boleh cari Jing-siong Tojin untuk ditanyai.”

Bok Wan-jing mengangguk-angguk, katanya kemudian, “Jika demikian, jadi Ciong-siansing sendiri merasa bukan tandinganku?”

“Kata suamiku, ilmu silat nona sukar dijajaki, apalagi cerdik tiada bandingan, kami berdua hidup aman tenteram mengasingkan diri, buat apa mesti mencari permusuhan lagi.”

“Hah, Ciong-siansing jelas jeri padaku, tapi masih pakai kata-kata begitu untuk menutupi rasa malunya,” jengek Wan-jing.

Wajah Ciong-hujin tampak merasa malu, sahutnya, “Usia suamiku sudah lanjut, kalau lebih muda 20 tahun, boleh jadi masih sanggup melayani nona seratus-dua ratus jurus.”

Kembali Bok Wan-jing tertawa dingin, nyata hatinya sangat senang.

Toan Ki yang terbanting di lantai itu dapat mengikuti percakapan mereka dengan jelas, pikirnya, “Ciong-hujin terus-menerus mengumpak nona ini, sedikit pun tidak kentara, terang ia pun seorang yang sangat lihai. Dasar nona galak suka diumpak orang, tapi aku justru ingin mengolok-oloknya.”

Maka mendadak ia berseru, “Waduh, lagaknya! Melawan Kim Tay-peng seorang saja Bok-kohnio tak bisa menang, sekarang malah omong besar segala? Tadi mereka berdua saling gebrak, jelas Kim Tay-peng lebih unggul, nona Bok dihajar hingga berlutut minta ampun, dan setelah ia dipaksa memanggil sepuluh kali ‘Kim-yaya’ (kakek Kim) baru jiwanya diampuninya ….”

Selagi Toan Ki hendak mencerocos lagi, tiba-tiba Bok Wan-jing melompat datang dan mendepak dua kali pinggangnya sambil membentak, “Siapa bilang aku kalah? Siapa yang menyembah minta ampun padanya?”

“Ciong-hujin, aku bicara padamu,” kata Toan Ki, “Nona Bok beruntun-runtun melepaskan 18 batang panah kecil, tapi semuanya dijatuhkan Kim Tay-peng dengan 18 buah mata uang. Ia dihajar Kim Tay-peng hingga minta ampun dan berjanji takkan membunuh diriku ….”

Keruan Bok Wan-jing sangat murka, sekali tangan kanan terangkat, segera anak muda itu hendak dibunuhnya dengan panah berbisa.

Syukur Ciong-hujin sempat berseru sambil melompat mengadang di depan Toan Ki, “Jangan, nona Bok! Asal usul Toan kongcu ini tidak sembarangan, jangan kau bunuh dia.”

“Huh, hanya seorang pelajar lemah yang tak bisa ilmu silat, asal usulnya bisa hebat apa? Paling-paling calon menantu ‘Kian-jin-ciu-sat’ Ciong Ban-siu saja!” jengek Bok Wan-jing.

Ciong-hujin menjadi jengah, sahutnya, “Kami adalah keluarga Kangouw yang kasar, mana berani mengharapkan menantu seperti Toan-kongcu.”

“Untung dia bukan orang Kangouw, jika dia bisa sedikit ilmu silat saja, tentu sekali tebas sudah kucabut nyawanya.” kata Bok Wan-jing. Segera ia teringat pada janji sendiri pada Kim Tay-peng untuk tidak membunuh Toan Ki, maka katanya pula, “Mending juga bocah ini ada sedikit baiknya, ketika tahu ada orang hendak bikin susah padaku, dengan cepat ia putar kuda kembali memberi kabar. Waktu Cin Goan-cun dan begundalnya mengerubuti diriku, ia pun berusaha melindungi aku. Hehe, cuma sayang, semangat besar, tenaga kurang, jiwa kesatrianya sih boleh dipuji, tapi tiada punya kepandaian sebagai seorang gagah.”

Bicara sampai di sini, nada suaranya menjadi ramah, ia sambung pula, “Ciong-hujin, hati bocah ini jauh lebih baik daripadamu. Kau tahu Jing-siong Tojin dan lain-lain hendak mengeroyok aku, tapi sengaja suruh Ciong Hok minta pinjam kudaku si mawar hitam sehingga aku tidak punya tunggangan dan sukar meloloskan diri. Sungguh hebat akalmu ini, sungguh keji muslihatmu ini!”

“Saking bingung memikirkan keselamatan putriku, sungguh aku tiada maksud membikin susah nona,” sahut Ciong-hujin. “Kami suami istri juga sudah tahu bahwa Cin Goan-cun dan kawan-kawannya tak nanti mampu mengutik seujung rambut nona, pernah juga kami nasihatkan Jing-siong Tojin jangan cari mati sendiri, dan sekarang mungkin jiwanya sudah melayang di bawah pedang nona.”

Padahal kematian Jing-siong Tojin itu hanya dugaannya saja, ia lihat Bok Wan-jing tak kurang suatu apa pun, sedangkan ilmu silat Jing-siong Tojin jauh di bawah Cin Goan-cun dan lain-lain, tentu Tosu itu yang paling dulu menjadi korban.

Maka sahut Bok Wan-jing, “Hm, pandanganmu cukup jitu juga!”

Habis berkata, sekali melesat, tahu-tahu ia sudah sampai di samping Toan Ki, sekali angkat, kembali pemuda itu dijinjingnya terus bertindak pergi.

“Nona Bok, tunggu dulu, aku ingin mohon sesuatu,” seru Ciong-hujin.

“Berdasarkan apa kau hendak memohon padaku?” sahut Bok Wan-jing dengan dingin sambil menoleh. “Apa yang akan kau mohon rasanya aku pun takkan menyanggupi, maka lebih baik jangan kau katakan saja.”

Selagi Ciong-hujin tertegun oleh jawaban itu, sementara itu Bok Wan-jing sudah tinggal pergi sambil menjinjing Toan Ki.

Setelah keluar dari liang kubur dan mengembalikan batu nisan ke tempatnya, Bok Wan-jing bersuit memanggil Oh-bi-kui, ia taruh Toan Ki di atas pelana, lalu ia sendiri mencemplak ke atas.

Sepanjang jalan beberapa kali Bok Wan-jing ajak bicara Toan Ki, tapi pemuda itu tetap bungkam tak menggubris padanya. Namun bila membayangkan betapa keji dirinya disiksa nona itu semalam, diam-diam Toan Ki kebat-kebit juga dan tidak berani membikin marah si nona lagi.

Setengah harian kuda itu dilarikan, kedua orang itu boleh dikatakan sementara itu dapat hidup damai berdampingan.

Sampai tengah hari, wah, celaka, mendadak perut Toan Ki terasa mulas. Pikirnya ingin minta Bok Wan-jing melepaskan dia agar bisa buang hajat, tapi kedua tangannya terikat, tak bisa memberi tanda, andaikan bisa, cara memberi tanda pun rada-rada runyam.

Terpaksa ia buka mulut, “Aku ingin buang air, harap nona lepaskan aku!”

“Bagus, sekarang kau tidak bisu lagi, ya? Kenapa ajak bicara padaku?” olok-olok si nona.

“Ya, terpaksa,” sahut Toan Ki. “Aku tak berani bikin kotor nona. Nona adalah ‘Hiang-yok-jeh’ (kuntilanak berbau wangi), kalau aku berubah menjadi ‘Jau-siau-cu’ (bocah berbau busuk) kan runyam?”

Mau tak mau Bok Wan-jing mengikik geli juga, ia pikir terpaksa harus melepaskan anak muda itu, maka ia potong tali pengikat Toan Ki dengan pedangnya, lalu menyingkir pergi.

Karena sudah sekian lamanya diringkus, tangan dan kaki Toan Ki menjadi kaku dan tak dapat bergerak, ia mengesot sampai sekian lamanya di tanah baru kemudian dapat berdiri.

Selesai buang hajat alias kuras perut, Toan Ki melihat si mawar hitam lagi makan rumput di dekatnya dengan jinak, pikirnya, “Inilah kesempatan bagus untuk melarikan diri!”

Perlahan ia mencemplak ke atas kuda dan si mawar hitam ternyata menurut saja.

Sekali tarik tali kendali, terus saja Toan Ki melarikan Oh-bi-kui ke utara dengan cepat.

Ketika mendengar suara derap kaki kuda, segera Bok Wan-jing mengejar, namun lari si mawar hitam teramat cepat, betapa pun tinggi Ginkang Bok Wan-jing juga tidak mampu menyusulnya.

“Sampai ketemu lagi, Bok-kohnio,” kata Toan Ki sambil memberi salam, sementara itu sudah berpuluh tombak jauhnya si mawar hitam mencongklang. Waktu Toan Ki menoleh pula, ia lihat bayangan Bok Wan-jing sudah teraling-aling pohon tak kelihatan lagi.

Bisa lolos dari cengkeraman hantu perempuan itu, Toan Ki merasa senang sekali, berulang kali ia berseru agar si mawar hitam lari terlebih cepat. Ia pikir saat itu sekalipun Bok Wan-jing menyerangnya dengan Am-gi atau senjata rahasia juga takkan mencapainya lagi.

Setelah berlari satu li jauhnya, selagi Toan Ki termenung ragu entah masih keburu menolong Ciong Ling atau tidak, apakah menuju langsung ke Bu-liang-san atau pulang ke Tayli dulu, sekonyong-konyong dari belakang berkumandang suara suitan yang panjang nyaring.

Mendengar suara itu, seketika si mawar hitam putar haluan dan berlari kembali ke arah tadi.

Toan Ki sangat terkejut, cepat ia berteriak-teriak, “Kuda yang baik, jangan kembali ke sana, jangan kembali ke sana kudaku sayang!”

Sekuatnya ia menarik tali kendali agar si mawar ganti arah lagi.

Namun meski tali kendali sedemikian kencangnya ditarik Toan Ki hingga kepala si mawar ikut miring, namun binatang itu masih lari lurus ke depan, sedikit pun tidak mau lagi menurut perintah Toan Ki.

Hanya sekejap saja, Oh-bi-kui sudah berlari sampai di samping Bok Wan-jing, lalu tak bergerak. Keruan Toan Ki serbarunyam, malu tercampur dongkol.

“Aku pernah berjanji pada Kim Tay-peng dan takkan bunuh kau.” kata Bok Wan-jing.” Tapi sekarang kau bermaksud melarikan diri, bahkan hendak menggondol lari kudaku si mawar. Maka apa yang kujanjikan pada Kim Tay-peng itu selanjutnya kubatalkan!”

Toan Ki melompat turun dari kuda, dengan gagah berani ia menjawab, “Oh-bi-kui sejak mula kau sendiri yang meminjamkan padaku dan sampai kini belum kukembalikan padamu, mana boleh bilang aku mencuri kudamu? Mau bunuh, lekas bunuhlah diriku, seorang laki-laki sejati, tak perlu kuterima budi dari siapa pun.”

“Sret”, Bok Wan-jing lolos pedangnya, katanya dengan dingin, “Hm, nyalimu benar-benar tidak kecil, apa kau sangka aku tidak berani membunuhmu? Kau andalkan pengaruh siapa hingga berulang kali berani padaku?”

“Asal setiap perbuatanku dapat kupertanggungjawabkan, buat apa aku mesti mengandalkan pengaruh orang lain?” sahut Toan Ki.

Sorot mata Bok Wan-jing setajam kilat memandang Toan Ki, tapi anak muda itu pun balas melotot. Setelah saling melotot sekian saat, mendadak Bok Wan-jing masukkan kembali pedangnya dan membentak, “Sudahlah, lekas enyah! Buah kepalamu biar kutitipkan di atas lehermu, kapan-kapan bila nona merasa perlu, setiap saat juga bisa kutagih kepalamu.”

Sebenarnya Toan Ki sudah nekat, sungguh tak tersangka olehnya bahwa si nona akan membebaskannya begitu saja. Untuk sejenak ia tercengang, tapi segera ia pun tinggal pergi.

Sambil memandangi bayangan pemuda itu, diam-diam Bok Wan-jing berkata di dalam hati, “Lelaki bandel seperti ini sungguh jarang ada di dunia ini. Padahal jago silat umumnya kalau melihat aku tentu ketakutan setengah mati, tapi bocah ini sedikit pun ternyata tidak gentar.”

Setelah belasan tombak jauhnya, Toan Ki tidak mendengar suara kuda, waktu menoleh, ia lihat Bok Wan-jing masih berdiri di tempatnya dengan termangu-mangu, pikirnya, “Hm, tentu dia lagi pikirkan sesuatu akal keji, serupa kucing mempermainkan tikus, aku hendak digodanya habis-habisan, kemudian baru aku dibunuhnya. Baiklah, toh aku tidak bisa lari, segala apa terserah dia.”

Tapi makin jauh ia berjalan, tetap tak mendengar suara Bok Wan-jing mengejarnya, setelah melintasi beberapa simpang jalan, barulah ia merasa lega dan percaya nona galak itu takkan mengejarnya.

Dan karena hatinya sedikit lega, ia merasa tubuhnya yang babak belur itu sakit perih, seorang diri ia bergumam, “Ai, perangai nona ini demikian aneh, boleh jadi karena kedua orang tuanya sudah meninggal, selama hidupnya banyak mengalami macam-macam kemalangan. Mungkin juga wajahnya teramat jelek maka tidak sudi memperlihatkan muka aslinya pada orang. Ai, dia boleh dikatakan seorang yang perlu dikasihani juga.”

Kemudian ia pikir pula, “Kalau aku berjalan seperti ini, mungkin sebelum sampai di Tayli aku sudah mati keracunan Toan-jiong-san. Padahal nona Ciong lagi mengharapkan pertolonganku dengan tak sabar, bila aku tidak tampak kembali ke sana dan ayahnya juga tak pergi menolongnya, tentu ia menyangka aku tidak memenuhi kewajiban mengirim berita pada ayahnya. Biarlah, bagaimanapun jadinya, aku harus memburu ke Bu-liang-san sana untuk bersama dengan dia, agar dia tahu aku tidak mengkhianati harapannya.”

Setelah ambil keputusan begitu, segera ia ambil arah yang tepat dan menuju ke Bu-liang-san.

Lembah sungai Lanjong itu sunyi senyap, berpuluh li jauhnya tidak tampak seorang penduduk pun. Hari itu terpaksa ia mencari buah-buahan sekadar tangsel perut, malam harinya tidur meringkuk seadanya di lereng bukit.

Besoknya lewat tengah hari, kembali ia menyeberangi sungai Lanjong. Dekat magrib, sampailah ia di suatu kota kecil.

Uang sangu yang dibawanya sudah terhanyut di danau tempo hari, ia tahu pakaian sendiri sudah compang-camping, ditambah perut sangat lapar, teringat olehnya ada sebentuk hiasan batu giok di kopiahnya yang nilainya tak terkira.

Segera ia tanggalkan batu permata itu dan membawanya ke suatu warung kelontong satu-satunya di kota itu untuk di jual.

Karena tidak kenal benda mestika, pemilik warung itu hanya berani membeli dengan harga tiga tahil perak, apa boleh buat, dengan uang itu Toan Ki masuk ke suatu warung nasi untuk makan.

Pikirnya hendak membeli pakaian pula, tapi di kota sekecil itu tak ada toko kelontong yang menjual pakaian. Selagi sulit, tiba-tiba dilihatnya di samping warung nasi itu, di suatu lapangan ada orang menjemur dua potong kain hitam.

Seketika pikirannya tergerak, teringat olehnya Ciong-hujin sengaja memalsukan nama “Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing” untuk menolong putrinya, pikir Toan Ki, “Kenapa aku tidak menyamar sebagai perempuan galak itu untuk menggertak Sikong Hian? Paling-paling gagal dan mati, tapi kalau berhasil menggertak Sikong Hian, kan hebat!”

Dasar watak orang muda, apa yang dia pikir segera dikerjakan, segera ia membeli sepotong kain hitam, ia pinjam gunting dan jarum serta benang, lalu berlagak sebagai penjahit ulung untuk membuat pakaian di belakang warung nasi itu.

Selama hidup Toan Ki hanya kenal buku, membaca dan menulis, kini memegang jarum, walaupun benda sekecil itu, namun rasanya seberat palu. Untung bukan menjahit pakaian bagus, hanya diperlukan membalut antero tubuh saja asal tidak kelihatan, maka di mana ada bagian renggang, di situ lantas dijahit, kalau ada lubang lantas ditambal.

Begitulah ia sibuk sendiri hingga mandi keringat, pegawai warung nasi menyangka Toan Ki agak kurang waras otaknya, maka tidak urus perbuatannya itu. Sampai malam, orang sudah pergi tidur, Toan Ki masih sibuk menjahit di warung itu.

Hampir tengah malam, baru selesai Toan Ki menunaikan tugas. Ia coba pakai baju baru itu, mending juga badannya bisa tertutup rapat. Sepasang sarung tangannya juga kasar, tapi kesepuluh jarinya dapat masuk dan bergerak dengan bebas.

Senang sekali Toan Ki, sambil mengenakan pakaian serbahitam itu, ia coba ingat-ingat suara Bok Wan-jing yang tajam melengking itu, lalu tekuk suara menirukan beberapa kali.

Ia tidak yakin suaranya mirip orang, tapi bila mengingat Sikong Hian juga belum tentu pernah melihat dan mendengar suara Bok Wan-jing, betapa pun memang sengaja untung-untungan, biarpun rahasianya terbongkar nanti, apa mau dikatakan lagi?

Setelah menyamar, ia coba-coba merancang bagaimana nanti kalau berhadapan dengan Sikong Hian, kemudian meninggalkan warung nasi itu dan menuju Bu-liang-san.

Kota kecil itu letaknya sudah di kaki gunung Bu-liang-san. Di bawah sinar bulan, Toan Ki dapat menempuh arah yang tepat. Setelah dua jam lamanya, dari jauh tertampak di lereng gunung sana sinar api berkelip-kelip, ia tahu di sanalah tempat tinggal Sin-long-pang, segera ia menuju ke tempat sinar api itu.

Kira-kira belasan tombak sebelum sampai di tempat sinar api itu, sekonyong-konyong dari tempat gelap melompat keluar seorang sambil membentak, “Siapa yang datang ini? Ada keperluan apa?”

Toan Ki tertawa dingin sekali, ia tekuk suaranya dan menyahut dengan garang, “Hm, macammu juga ingin tanya siapa diriku? Di mana Sikong Hian? Suruh dia menemui aku!”

Melihat antero tubuh Toan Ki tertutup kain hitam, di bawah sinar bulan hanya tertampak kedua biji matanya, orang itu terkesiap, teringat olehnya dandanan seorang iblis wanita yang mengguncangkan dunia Kangouw, maka tanyanya dengan suara gemetar, “Apakah engkau … engkau Hiang … yok ….”

“Namaku boleh sembarangan kau sebut?” bentak Toan Ki dengan gusar.

Karena terpengaruh oleh nama besar “Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing”, nyali orang itu pecah, dengan gugup ia menjawab, “Sikong-pangcu terluka parah, tak bisa … tak bisa berjalan, harap nona sudi … sudilah ke sana!”

Sial pikir Toan Ki, masakan seorang jejaka ‘ting-ting’ disangka nona segala. Diam-diam ia pun bersyukur orang tak dapat mengenalnya, maka sengaja ia mendengus menirukan lagak angkuh Bok Wan-jing, katanya, “Lekas tunjukkan jalannya!”

Perlahan Toan Ki ikut orang itu ke depan. Ia tahu, semakin lambat jalannya, semakin sulit terbongkar rahasianya.

Sampai di tempat api unggun, ia lihat di sana-sini menggeletak beberapa orang yang terpagut oleh Kim-leng-cu itu. Ciong Ling diringkus kedua tangannya, begitu melihat Toan Ki, ia menjadi girang, terus saja ia berseru, “Bok-cici, engkau telah datang menolong aku!”

Selama tersiksa beberapa hari, keadaan Sikong Hian memang sudah payah, ketika melihat bentuk Toan Ki, ia sudah menduga pasti “Hiang-yok-jeh” yang namanya mengguncangkan Kangouw itu.

Maka ia berusaha bangun, kedua tangannya menahan di pundak kedua anak buahnya, lalu berkata, “Cayhe terkena racun ular, tidak bisa menjalankan peradatan, harap … harap nona suka memaafkan.”

“Nona Ciong adalah sobatku, kau tahu tidak?” tegur Toan Ki dengan suara melengking.

“Sesungguhnya Cayhe tidak tahu, harap maaf,” sahut Sikong Hian.

“Lekas lepaskan dia,” kata Toan Ki lagi.

Walaupun Sikong Hian gentar pada nama Hiang-yok-jeh yang besar itu, ia tahu sekalipun dirinya tidak terluka, untuk bertanding juga bukan lawan orang, bila Ciong Ling dibebaskan, kalau tiada obat penawar racun Kim-leng-cu, tidak lama lagi dirinya bersama anak buahnya tentu mati, dalam keadaan demikian, betapa pun hebat risikonya tak terpikir pula, segera jawabnya, “Apakah nona membawa obat penawar racun ular ini?”

Toan Ki mengeluarkan sebuah kotak emas dari bajunya, itulah barang yang diterimanya dari Ciong-hujin, cuma ketika di warung nasi ia sudah keluarkan surat di dalamnya dan menggantinya dengan adukan nasi dan tanah hingga penuh sekotak. Lalu katanya, “Ini adalah obat khas milik ‘Kian-jin-ciu-sat’ Ciong Ban-siu, dia sudi memberikan padamu, boleh dikatakan nasibmu lagi mujur.”

Sembari berkata, ia lemparkan kotak itu ke tanah.

Memangnya Sikong Hian sudah dapat menerka ayah Ciong Ling adalah “Kian-jin-ciu-sat” Ciong Ban-siu, kini diperkuat oleh keterangan Toan Ki itu, ia tambah percaya lagi. Maka cepat jawabnya, “Banyak terima kasih nona, banyak terima kasih juga kepada Ciong-tayhiap.”

Segera ada bawahannya menjemput kotak itu untuk diserahkan pada Sikong Hian. Ia buka kotak itu dan mengendus isinya, ia mencium isi kotak itu berbau amisnya ikan, rada-rada berbau tanah juga.

Setiap anggota Sin-long-pang adalah ahli obat-obatan, lebih-lebih Sikong Hian, segala macam obat, sekali diciumnya tentu diketahuinya betapa kadar obat yang terkandung di dalamnya. Apalagi sekarang obat itu merupakan penyelamat jiwanya, tentu saja ia periksa lebih cermat.

Ketika diendus lagi dan merasa sedikit pun tiada bau obat, seketika timbul rasa curiganya. Segera ia tanya, “Tolong tanya nona, obat ini bagaimana memakainya?”

“Setiap orang minum setitik saja, lewat 12 jam, racun Kim-leng-cu akan lenyap,” sahut Toan Ki. “Nah, lekas kau bebaskan nona Ciong!”

“Ya,” sahut Sikong Hian sambil berjongkok mengambil sebatang kayu yang terbakar untuk menerangi tubuh Toan Ki.

Kalau di tempat gelap masih mendingan, kini sekali disinari, seketika terbongkarlah borok Toan Ki. Tertampaklah pakaiannya yang hitam mulus itu di sana-sini tidak keruan jahitannya, hakikatnya tidak serupa pakaian.

Keruan Sikong Hian bertambah curiga. Ia melangkah maju lebih dekat dan mencium sekuatnya beberapa kali, tapi sedikit pun tidak mengendus bau harum apa-apa. Pikirnya, “Menurut cerita orang Kangouw, tubuh Hiang-yok-jeh mengeluarkan semacam bau harum yang khas, dari jauh orang sudah menciumnya, sebab itulah diperoleh julukan ‘Hiang-yok-jeh’. Tapi orang ini sama sekali tiada bau wangi apa pun, sebaliknya malah rada-rada bau apak. Apa mungkin orang ini hanya samaran saja?”

Melihat sikap orang, Toan Ki tahu dirinya sudah mulai dicurigai. Keruan hatinya kebat-kebit, tapi ia masih coba membentak, “Kusuruh kau lepaskan nona Ciong, kau dengar tidak?”

Walaupun sudah curiga, namun Sikong Hian masih tidak berani main kasar, dengan merendah ia menjawab, “Harap nona maklum, sekian banyak orang kami telah dipagut ular, jiwa masing-masing tinggal sehari-dua-hari, jika obat pemberian Ciong-tayhiap ini tidak manjur, kan jiwa kami akan melayang semua? Bukanlah Cayhe berani membangkang perintah Bok-kohnio, kami hanya minta nona Ciong bersabar beberapa hari lagi dan tinggal bersama kami, bila racun ular kami sudah disembuhkan, pasti kami akan mengantar nona Ciong ke rumah, sekalian mengaturkan terima kasih juga kepada Bok-kohnio.”

“Kenapa kau berani mengoceh lagi, kukatakan lepaskan dia dan harus kau lakukan!” kata Toan Ki dengan gusar. Segera ia berpaling kepada seorang tua yang berdiri di samping Ciong Ling dan membentaknya, “Lekas buka tali ringkusannya!”

Dan karena gugupnya, suara Toan Ki lupa ditekuk hingga kentara sekali bersuara pria.

Kakek yang dibentak itu cukup cerdik, di bawah sinar api ia lihat pula isyarat sang Pangcu, maka pikirnya, “Orang ini entah tulen atau palsu, kalau Pangcu sendiri segan padanya, aku hanya bawahan, kasar sedikit tentu tidak apalah. Bila dia benar-benar Hiang-yok-jeh, tentu Pangcu akan mintakan maaf bagiku.”

Karena pikiran itu, segera ia menjawab dengan suara keras, “Bok-kohnio, tidaklah sulit untuk melepaskan nona Ciong. Tapi wajah asli nona harus diperlihatkan kepada kami barang sekejap saja.”

“Kau berani minta lihat wajahku, apa barangkali kau sudah bosan hidup?” damprat Toan Ki.

Diam-diam kakek itu berpikir, “Betapa lihai ilmu silatnya, wanita ini hanya seorang diri. Dengan jumlah kami sebanyak ini masakah tak bisa melawan seorang wanita?”

Namun demikian pikirnya, nama “Hiang-yok-jeh” sesungguhnya teramat besar, banyak cerita orang Bu-lim yang memujanya setinggi langit, kalau pakai kekerasan, bisa jadi dirinya akan celaka lebih dulu.

Maka dengan tertawa katanya pula dengan merendah diri, “Sekalipun Siauloji (aku orang tua yang rendah) punya sepuluh nyawa serep juga tidak berani pada nona. Cuma sudah lama kami dengar nama nona yang mahabesar, hati kami kagum tak terhingga, maka sangat berharap dapat menambah pengalaman bila nona sudi memberi petunjuk barang sejurus-dua jurus ilmu sakti.”

Diam-diam Toan Ki mengeluh, cepat sahutnya, “Kemahiran nona adalah kepandaian membunuh orang melulu, tapi di sini agaknya tiada orang yang mau dibunuh.”

Seorang tokoh Sin-long-pang di daerah Kuiciu menjadi tidak sabar, dengan suara keras ia menyela, “Kau minta kami bebaskan orang, paling sedikit harus kau unjuk sejurus-dua dulu.”

Sembari berkata, ia lantas tampil ke muka.

Dalam pada itu rasa curiga Sikong Hian sudah tak tertahankan, segera ia pun berkata, “Baiklah, Ui-hiati, boleh coba-coba kau minta petunjuk nona Bok.”

Tokoh she Ui itu menjadi tabah mendapat dorongan sang Pangcu, segera ia lolos Kim-pwe-to atau golok berpunggung tebal, sekali bergerak, lima gelang baja yang terpasang di atas golok itu berbunyi gemerantang, dengan gagah ia berdiri di depan Toan Ki.

Diam-diam Toan Ki mengeluh, “Celaka, tidak jadi soal kalau rahasiaku terbongkar, tapi nona Ciong bakal menjadi korban juga.”

Dan demi tampak kegarangan lawan, tanpa terasa ia menyurut mundur dua tindak.

Melihat langkah Toan Ki enteng tanpa kuda-kuda, hakikatnya seorang tak bisa ilmu silat, orang she Ui itu menjadi makin berani. Ia mendesak maju lagi dua tindak, goloknya pura-pura membacok ke depan hingga gelang baja menerbitkan suara gemerencing.

Saking ketakutan berulang Toan Ki mundur beberapa tindak, sampai akhirnya punggung sudah menyandar di suatu pohon beringin.

Saat itu, beratus pasang mata orang Sin-long-pang sama tertuju atas diri Toan Ki, dan karena mundur beberapa tindak, walaupun belum kentara samarannya, namun sudah jelas kelihatan kalau dia tak bisa ilmu silat. Banyak di antara orang Sin-long-pang saling berbisik membicarakan hal itu dengan heran.

“Bok-kohnio,” kata Sikong Hian kemudian. “Silakan kau beri ajaran sedikit pada Ui-hiati itu. Cuma sukalah nona berlaku murah hati, asal menyentuh badan, lantas sudahi.”

“Aku tak bisa menyentuh badan saja, sekali turun tangan, pasti bereskan nyawanya,” kata Toan Ki. “Makanya, hai, orang she Ui, lebih baik kau undurkan diri saja.”

Walaupun bicaranya masih angkuh sekali, namun suaranya sudah gemetar hingga kentara perasaannya yang ketakutan.

“Silakan, memang jiwa orang she Ui hidup di ujung senjata,” bentak jago she Ui itu mendadak sambil angkat goloknya.

“Jangan bergerak,” seru Toan Ki berlagak garang. “Sekali aku turun tangan, seketika jiwamu bakal melayang. Maka kunasihatkanmu undurkan diri saja lebih selamat.”

“Silakan nona memberi ajaran,” sahut jago she Ui itu.

Dan demi tampak kedua kaki Toan Ki rada gemetar, tanpa bicara lagi goloknya yang tebal besar itu terus membacok ke dada Toan Ki.

Cuma nama “Hiang-yok-jeh” sesungguhnya teramat disegani, maka serangannya ini masih tetap pura-pura saja, ketika golok itu hampir mengenai dada Toan Ki, mendadak ia belokkan arahnya ke samping, “sret”, baju hitam di bahu kiri Toan Ki yang terpapas sebagian.

Keruan Toan Ki terkejut, sementara itu punggungnya sudah kepepet di batang pohon, untuk mundur lagi terang sudah buntu, diam-diam ia mengeluh, cepat ia berteriak, “Nona Ciong, lekas … lekas melarikan diri!”

Sudah lama Ciong Ling kenal dengan Bok Wan-jing, maka begitu lihat perawakan Toan Ki, tingkah laku dan lagak lagunya yang sangat berbeda daripada Bok Wan-jing, sejak tadi gadis itu sudah tahu Hiang-yok-jeh palsu, cuma tak diketahuinya siapa gerangan pemalsu itu. Kini demi mendengar suara teriakan Toan Ki, seketika ia kenal anak muda itu dan berseru, “Hah, engkau Toan ….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak golok jago she Ui tadi sudah menyambar lagi hingga lengan baju kanan Toan Ki terpapas pula sebagian.

“Haha!” orang she Ui itu terbahak-bahak. “Hiang-yok-jeh, hari ini aku justru ingin melihat wajahmu yang sebenarnya, apakah secantik bidadari, atau jelek seperti Yok-jeh (genderuwo)?”

Dengan tertawa segera seorang kawannya menanggapi dari samping, “Dia bernama Yok-jeh, tentu seorang genderuwo tua bangka, kalau tidak, untuk apa selalu mengerudungi muka sendiri.”

Melihat dua kali bacokan kawannya berhasil tanpa mendapat perlawanan, bahkan Toan Ki tampak kelabakan ketakutan, mereka menjadi berani, banyak sindiran dan olok-olok kasar tercetus dari mulut mereka.

Di tengah sindir ejek orang-orang itu, mendadak golok orang she Ui itu menyambar pula ke muka Toan Ki dengan gerak tipu “Giok-liong-sia-hui” atau naga putih terbang miring, cepat Toan Ki mendoyong ke belakang, karena itu, kedua tangannya seakan-akan terangkat ke atas.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara “bluk,” tahu-tahu tubuh jago she Ui yang besar itu jatuh terjengkang, menyusul “trang” sekali, goloknya terpental juga hingga gelang baja di atasnya menerbitkan suara nyaring.

Ketika memandang orang she Ui itu, tertampak dia sudah roboh telentang, batok kepalanya tertancap sebatang panah kecil warna hitam dan tak berkutik lagi.

Dalam kejutnya, cepat dua orang Sin-long-pang sudah memburu maju dan memeriksa sang kawan, demi mengetahui orang she Ui itu sudah putus nyawanya, kedua orang itu menjadi murka, dengan senjata terhunus mereka menubruk pula ke arah Toan Ki.

Tapi baru saja tubuh mereka bergerak, tiba-tiba terdengar suara mendesir dua kali, tahu-tahu kedua orang itu terbanting hingga meringkuk bagai cacing, setelah kelejetan beberapa kali lalu tak bergerak lagi.

Seketika kawanan Sin-long-pang menjadi panik, segera ada yang menganjurkan mengerubut maju semua. Benar juga, lebih 20 orang sekaligus lantas menerjang ke arah Toan Ki dari berbagai jurusan.

Melihat sekelilingnya penuh musuh bersenjata dan bermuka beringas, saking ketakutan Toan Ki sampai terkesima.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: