Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 5

Tak terduga belum lagi setombak mendekati Toan Ki, tahu-tahu lebih 20 orang itu sudah dipapak pula oleh sambaran senjata rahasia, seketika ramai dengan suara mendesir, hujan panah terjadi, sekejap saja orang-orang itu sama menggeletak terbinasa.

Orang-orang itu adalah sisa kawanan Sin-long-pang yang masih kuat, tapi dalam sekejap saja sudah mati semua, keruan Sikong Hian sangat terkejut. Apalagi sebelumnya sudah berpuluh anak buahnya terpagut Kim-leng-cu, sisa anak buahnya sekarang hanya tinggal kelas rendahan saja.

“Hiang … Hiang-yok-jeh, sungguh tak bernama kosong, keji amat cara turun tanganmu!” dengan dendam Sikong Hian berkata.

Mimpi pun Toan Ki tidak menyangka bahwa dalam sekejap saja penyerang sebanyak itu bisa roboh dan mati semua, terang diam-diam ada orang kosen telah menolongnya, tapi sekitarnya sunyi senyap, di mana ada orang kosen?

Ketika melihat kematian orang-orang itu cukup mengenaskan, ia merasa tidak tega, maka katanya, “Sikong-pangcu, engkaulah yang memaksa aku, sungguh aku merasa men … menyesal.”

Sikong Hian menjadi gusar, katanya, “Jiwaku hanya satu ini, hendak kau bunuh atau disembelih boleh silakan. Sin-long-pang hancur di tangan Sikong Hian, memangnya aku pun tidak ingin hidup lagi.”

“Aku tiada bermaksud mencelakaimu,” sahut Toan Ki menyesal. “Le … lekas kau bebaskan nona Ciong saja.”

Dalam keadaan terharu, nada suara Toan Ki menjadi berbeda sekali daripada suara Bok Wan-jing yang dingin.

Tapi Sikong Hian sudah kalap menyaksikan anak buahnya habis terbunuh, tak diperhatikan lagi apakah suara Toan Ki itu suara orang laki-laki atau perempuan, tulen atau palsu, segera ia membentak, “Akhirnya juga mati, Thio-hiati, kau bunuh dulu anak perempuan she Ciong itu!”

Anak buahnya yang she Thio itu mengiakan terus mendekati Ciong Ling, golok terangkat terus membacok kepala Cong Ling. Tapi belum lagi senjata itu diayunkan, sekonyong-konyong suara mendesir berjangkit lagi sekali, di mana panah kecil itu sampai, kontan orang she Thio itu roboh terjengkang, golok membacok di muka sendiri hingga berlumuran darah.

Sebenarnya orang she Thio itu sudah menduga bahwa “Hiang-yok-jeh” pasti akan menimpukkan panahnya untuk merintangi bacokannya itu, maka waktu membacok, ia sudah mencurahkan segenap perhatian ke arah Toan Ki, asal tangan “Hiang-yok-jeh” itu sedikit bergerak, segera ia bermaksud berjongkok untuk menghindar. Siapa duga datangnya panah itu sedikit pun tiada tanda apa pun.

Tadi waktu berpuluh orang mengepung Toan Ki, dalam keadaan hiruk-pikuk hujan anak panah, semua orang juga tidak jelas dari mana datangnya panah berbisa itu. Kini secepat kilat orang she Thio itu jatuh binasa pula, dari mana menyambarnya panah terlebih tiada seorang pun yang tahu. Keruan sisa anak buah Sin-long-pang menjadi ketakutan, beberapa di antaranya yang bernyali kecil menjadi lemas kakinya hingga dan terkulai tak sanggup berdiri.

“Kau lepaskan nona Ciong,” Toan Ki tunjuk seorang laki-laki setengah umur.

Orang itu tahu bila tidak menurut perintah, sekejap saja jiwanya pun akan melayang seperti kawan-kawan lain. Sekalipun disiplin Sin-long-pang cukup keras, tapi demi keselamatan jiwa sendiri, terpaksalah ia mendekati Ciong Ling dengan takut-takut, ia lolos sebilah pisau dan memotong tali pengikat gadis itu.

Setelah bebas, Ciong Ling mendekati Sikong Hian, katanya, “Keluarkan obat di dalam kotak emas itu dan kembalikan kotaknya padaku.”

Meski Sikong Hian sangsikan khasiat obat di dalam kotak itu, tapi toh dikoreknya juga semua isi kotak di telapak tangannya, lalu menyerahkan kotak kosong itu kepada Ciong Ling. Diam-diam ia cari akal cara bagaimana melawan panah berbisa Hiang-yok-jeh.

Setelah terima kotak emas itu, kembali Ciong Ling ulurkan tangan dan berkata, “Serahkan sini!”

“Apa lagi?” tanya Sikong Hian mendongkol.

“Obat pemunah racun Toan-jiong-san,” sahut Ciong Ling. “Toan-kongcu telah mencarikan obat bagimu, harus kau berikan obat penawarnya pula.”

Tergerak pikiran Sikong Hian, ia mendapat akal, serunya lantas, “Ambilkan obatnya!”

Lalu ia sebut beberapa nama ramuan obat.

Cepat dua anak buahnya mengeluarkan ramuan obat yang dimintanya itu dari peti obat. Setelah dicampur dan dibungkus. Sikong Hian berkata pula, “Serahkan pada nona Ciong.”

Setelah terima obat itu, Ciong Ling berkata, “Kalau obat ini tidak manjur, akan kubunuh habis Sin-long-pang kalian!”

“Sudah tentu obat ini tidak bisa menyembuhkan racun Toan-jiong-san,” sahut Sikong Hian dingin.

“Apa katamu?” tanya Ciong Ling dengan kaget.

“Obat ini hanya menunda bekerjanya racun Toan-jiong-san selama tujuh hari, habis itu kalau aku tidak mati, bolehlah kau minta obat penawarnya padaku,” sahut Sikong Hian.

Sungguh gusar Ciong Ling tidak kepalang, ia berpaling pada Toan Ki dan berkata, “Bok-cici, tua bangka ini tidak bisa dipercaya, boleh kau panah mampus dia.”

“Ingar, di dunia ini hanya aku seorang yang sanggup meracik obat penawar Toan-jiong-san,” kata Sikong Hian.

Toan Ki menjadi khawatir, pikirnya, “Obat yang kuberikan padanya memangnya palsu, hanya adukan dari sisa nasi dan tanah, dengan sendirinya tidak manjur, nanti kalau racun Kim-leng-cu dalam tubuhnya bekerja, seketika dia akan mati, lalu bagaimana baiknya?”

Ciong Ling memandang Toan Ki tanpa berdaya, dalam gugupnya tiba-tiba timbul sifat keremajaannya, tangan Sikong Hian terus ditariknya sambil berkata, “Sikong-pangcu, marilah ikut padaku untuk menjenguk Toan-kongcu.”

“Hei, macam apa pakai tarik-tarik begini?” seru Sikong Hian gusar.

“Saat ini Toan-kongcu tentu berada di rumahku, marilah kita pergi melihatnya,” sahut Ciong Ling. “Bila racun Kim-leng-cu bekerja dalam tubuhmu, ayah bisa juga mengobatimu.”

Toan Ki pikir akal si gadis itu bagus sekali, maka ia pun berkata dengan dingin, “Marilah kita berangkat bersama, kau takkan mati!”

Sikong Hian memandangnya sekejap, ia pikir kalau membangkang hingga membikin marah “Hiang-yok-jeh,” bukan mustahil jiwanya akan melayang di bawah panah beracun orang. Tapi dirinya adalah seorang Pangcu, anak buahnya sudah banyak yang jadi korban, kini dirinya kena dibekuk orang pula, apa jadinya kalau kelak jiwanya selamat?

Karena itu ia menjadi serbasalah.

“Sikong-pangcu,” Ciong Ling tak sabar, ia terus menyeretnya, “marilah berangkat lekas! Kau sendiri boleh minum obat penawar itu dulu, sisanya berikan kepada anak buahmu.”

Walaupun ragu, namun Sikong Hian minum juga sebagian “obat penawar” tadi, ia khawatir khasiat obat kurang manjur, maka sebagian besar ia minum sendiri, sisanya tinggal sedikit baru diberikannya kepada anak buahnya.

Tanpa bicara lagi Ciong Ling menyeret pergi Pangcu Sin-long-pang yang sial itu.

Walaupun terluka parah, tapi kalau Sikong Hian mau mengipatkan tangan Ciong Ling, dengan mudah ia dapat bebaskan diri. Cuma, pertama ia jeri pada “Hiang-yok-jeh” yang ganas itu, kedua, khawatir obat penawar yang diminum tadi tidak manjur, biarpun bisa meloloskan diri, akhirnya juga mati, maka lebih baik ikut pergi saja dengan mereka.

“Memangnya aku ingin bertemu dengan ayahmu, ingin kuminta keadilan padanya,” dengan mengucapkan kata-kata yang bersifat menutupi malunya, segera ia melangkah lebih dulu.

Cepat Ciong Ling memegang lengan ketua Sin-long-pang. Ketika lewat di samping Toan Ki, sekalian ia gandeng tangan pemuda itu pula.

Melihat sang Pangcu diseret pergi orang, sisa anak buah Sin-long-pang menjadi ribut dan berisik membicarakannya. Keruan Sikong Hian merasa malu dan menundukkan kepala.

Dengan bungkam Ciong Ling menggandeng tangan kedua orang dan berjalan terus, diam-diam ia pikir, “Kalau kubongkar rahasia Toan-kongcu, tentu si tua Sikong Hian ini akan berontak dan kami berdua jelas bukan tandingannya. Namun Bok-cici terang bersembunyi di sekitar sini, tadi anak buah Sin-long-pang banyak yang terbunuh, dengan sendirinya akibat perbuatannya.”

Berpikir begitu, segera ia berseru dengan suara yang sengaja diperkeras, “Banyak terima kasih atas pertolongan Bok-cici tadi.”

Toan Ki terperanjat ketika mendadak mendengar seruan si nona, sejenak kemudian dengan suara yang dibuat-buat baru ia menjawab, “Ah, orang sendiri, tak perlu sungkan.”

“Huh, masih berani bersandiwara,” pikir Ciong Ling geli.

Tiba-tiba ia puntir tangannya hingga Toan Ki kesakitan, hampir saja ia menjerit. Ketika melirik si gadis, tampak Ciong Ling lagi tersenyum-senyum geli. Berbareng itu, diam-diam gadis itu jejalkan kotak emas dan bungkusan obat penawar yang diterimanya dari Sikong Hian tadi ke tangan Toan Ki.

Toan Ki tahu gadis itu sudah mengetahui rahasianya, maka ia mengangguk tanda terima kasih.

Pada saat itulah, tiba-tiba di jurusan barat sana ada suara suitan orang, menyusul dari sebelah selatan ada suara orang bertepuk tangan pula. Habis itu, sesosok bayangan secepat terbang tampak memapak dari depan.

Kira-kira beberapa meter di depan Toan Ki bertiga, mendadak orang itu berhenti dan membentak dengan suara yang serak, “Hiang-yok-jeh, memangnya kau bisa melarikan diri?”

Dari suaranya, Toan Ki dapat mengenali adalah Sam-ciang-coat-beng Cin Goan-cun, si raja pengaduk sungai.

Pada saat lain, terdengar pula suara seorang tertawa dingin di belakang, waktu Toan Ki menoleh, di bawah sinar bulan yang remang-remang tertampaklah seorang nenek dengan golok terhunus dan tangan lain memegang sebatang gurdi baja bersinar kemilau.

“Celaka!” diam-diam Toan Ki mengeluh. “Semoga nona Bok lekas datang menolong!”

Ia menjadi bingung, apakah harus tetap memalsukan nama Hiang-yok-jeh atau membuka baju hitam menunjuk muka aslinya sendiri?

Sedang ragu-ragu, sementara itu dari kanan-kiri sudah bertambah lagi masing-masing seorang.

Yang sebelah kiri adalah seorang Hwesio tua berjubah kuning, membawa senjata Hong-pian-jan atau sekop serbaguna, suatu alat yang lazim dibawa kaum padri. Dan orang yang di sebelah kanan kurang jelas wajahnya, agaknya seorang laki-laki berusia belum lanjut, punggung menyandang pedang.

Ternyata dalam sekejap saja Toan Ki alias Hiang-yok-jeh palsu sudah terkepung dari empat jurusan. Ia kenal Cin Goan-cun, si nenek dan si Hwesio itu adalah kawanan pengeroyok di rumah Bok Wan-jing, kini mereka mengejar pula sampai di sini, dengan sendirinya laki-laki satunya tentu adalah komplotan mereka juga.

“Kalian hendak cari Bok-cici, bukan?” tanya Ciong Ling tiba-tiba.

“Benar,” sahut si Hwesio. “Siapakah nona ini dan Cianpwe itu? Silakan menyingkir ke samping saja.”

Belum lagi Ciong Ling menjawab, cepat Sikong Hian menimbrung, “Taysu tentu adalah Hui-sian Taysu dari Siau-lim-si, bukan? Dan yang ini tentunya No-kang-ong Cin-loyacu, dan yang itu adalah Sin-sipopo. Cayhe Sikong Hian dari Sin-long-pang. Maafkan kedangkalan pengalamanku, numpang tanya siapa pula nama yang mulia saudara yang ini?”

Laki-laki tak dikenal itu melangkah maju dua tindak hingga wajahnya kini jelas kelihatan, lalu sahutnya, “Cayhe she Su ….”

“Ah, kiranya adalah Oh-pek-kiam Su An, Su-tayhiap!” belum orang selesai memperkenalkan diri, cepat Sikong Hian sudah memotong. “Selamat bertemu, selamat bertemu!”

Su An itu balas hormat orang, sahutnya, “Sudah lama kudengar nama besar Sikong-pangcu dari Sin-long-pang, betapa bahagia hari ini bisa berjumpa di sini.”

Toan Ki kini dapat melihat usia Su An itu kira-kira baru 30-an tahun, perawakannya sedang tapi gagah perkasa, jiwa kesatrianya tampak nyata pada sikapnya yang kereng, berbeda sekali dengan sifat Cin Goan-cun dan Sin-sipopo yang sombong tak mau kalah itu. Diam-diam timbul rasa suka Toan Ki kepada pendekar muda itu.

Sebagai seorang tokoh Bu-lim yang sudah lama menetap di daerah Hunlam, banyak juga jago silat terkemuka yang dikenal Sikong Hian, cuma sedikit yang tak dikenalnya. Di antara empat tokoh itu hanya Cin Goan-cun yang sudah pernah bertemu, ketiga orang yang lain hanya dikenalnya dari senjata serta diterka dari umur mereka, tapi nyatanya tepat juga dugaannya.

Ia tahu betapa lihai ilmu pukulan Cin Goan-cun, sedang Hui-sian Taysu itu adalah satu di antara delapan Hou-hoat atau pembela agama dari Siau-lim-si, ilmu permainan Hong-pian-jan terhitung nomor satu di kalangan murid Buddha.

Adapun Sin-sipopo mempunyai kepandaian khas tunggal juga dengan golok dan gurdi bajanya yang dapat dimainkan sekaligus dengan ganas dan keji.

Su An terkenal dengan julukan Oh-pek-kiam atau pedang hitam putih, paling akhir ini namanya sangat cemerlang di daerah Kanglam. Walaupun ilmu silatnya yang sejati belum diketahui sampai di mana tingkatannya, namun dapat diduga juga pasti bukan jago keroco.

Yang paling kebetulan adalah keempat tokoh ini sekaligus datang mencari Hiang-yok-jeh, tentu saja Sikong Hian tidak sia-siakan kesempatan bagus ini untuk meminjam tangan keempat tokoh itu melenyapkan suatu penyakit bagi dunia persilatan.

Dengan keputusan itulah segera ia pura-pura angkat tangan memberi hormat sambil berkata, “Dan entah ada keperluan apakah kedatangan kalian berempat ke Bu-liang-san sini?”

Berbareng itu, tanpa menunggu jawaban Cin Goan-cun berempat mendadak ia kipatkan tangannya hingga Ciong Ling dan Toan Ki tersentak mundur, bahkan Toan Ki yang tak bisa ilmu silat terus terjungkal roboh.

Sementara itu Sikong Hian sudah lantas melompat ke samping. Tapi karena racun Kim-leng-cu teramat berat mengeram dalam tubuhnya, kakinya masih terasa lemas, ia sempoyongan dan hampir jatuh.

Semula Hui-sian berempat mengira Sikong Hian adalah begundalnya Bok Wan-jing, walaupun tahu ilmu silatnya belum termasuk kelas wahid, tapi Sin-long-pang adalah suatu klik paling berkuasa di daerah Hunlam, orangnya banyak, pengaruhnya besar, suka main obat racun dan asap berbisa, untuk itu agak susah juga untuk dilawan. Kini demi tampak Sikong Hian melompat menyingkir dengan sempoyongan, mereka baru tahu Pangcu Sin-long-pang itu dalam keadaan terluka parah.

Sekali Sikong Hian putar tubuh, sambil bersandar di samping Hui-sian ia berkata dengan pedih, “Teramat keji cara turun tangan Hiang-yok-jeh, sekaligus berpuluh anak buah Sin-long-pang sudah menjadi korban keganasannya, sakit hatiku ini pasti kubalas.”

“Nona cilik,” segera Hui-sian berkata. “Lekas menyingkir ke samping.”

“Kalian takkan mampu melawan Bok-cici, lebih baik lekas pergi saja,” sahut Ciong Ling.

“Dia adalah putrinya ‘Kian-jin-ciu-sat’ Ciong Ban-siu,” Sikong Hian coba mengisiki Hui-sian. “Kabarnya ayahnya masih hidup, paling baik kalau tawan dia saja.”

Nyata ia berharap Hui-sian dapat menawan Ciong Ling sebagai jaminan agar kelak Ciong Ban-siu terpaksa mengobati racun Kim-leng-cu di dalam tubuhnya itu.

Mendengar “Kian-jin-ciu-sat” Ciong Ban-siu masih hidup, Hui-sian rada tercengang. Ia tahu iblis besar itu sangat sukar dilawan, sekali terlibat bermusuhan dengan dia, selanjutnya Siau-lim-pay pasti takkan pernah aman, maka sesungguhnya ia tidak ingin mengikat musuh yang lihai itu.

Mendadak “ser” sekali, Hong-pian-jan atau sekop serbaguna, menyambar ke atas kepala Ciong Ling.

Cepat gadis itu mengegos, tak terduga sekop itu terus ditarik kembali hingga punggung sekop menggantol kuduk si gadis.

Jurus serangan ini disebut “Sui-ong-sit-hoan” atau seperti maju ke depan, tapi sebenarnya putar kembali. Yaitu suatu tipu serangan paling lihai di antara 36 jurus “Hok-mo-jan-hoat” atau permainan sekop penakluk iblis. Gerak tipunya di luar dugaan orang, cepatnya luar biasa pula, maka musuh sukar menghindarkan diri.

Baru saja Ciong Ling menjerit kaget, tahu-tahu punggung sekop sudah menempel tengkuknya. Sekonyong-konyong sinar putih berkelebat, “cring”, Su An telah lolos pedang menyampuk jatuh sebuah panah kecil.

Sementara itu Hui-sian sudah tarik sekopnya hingga Ciong Ling ikut terseret ke sampingnya, sekali pegang, tangan kiri Hui-sian telah pencet pergelangan tangan si nona hingga tak bisa berkutik, lalu katanya, “Terima kasih atas pertolongan Su-tayhiap.”

Bila membayangkan kejadian barusan, tanpa tertahan padri itu berkeringat dingin. Coba kalau Su An tidak awas dan cekatan hingga panah gelap itu tersampuk jatuh, mungkin jiwanya sekarang sudah melayang.

Tampak Su An berpaling ke arah datangnya panah gelap itu sambil membentak, “Silakan keluar saja, Bok-kohnio!”

Diam-diam Cin Goan-cun dan lain-lain sama malu diri, “Kiranya orang berbaju hitam ini bukan Hiang-yok-jeh, untung Su An cukup cerdik dan cekatan.”

Ketika mereka memandang ke sana, namun di situ keadaan sunyi senyap, gelap gulita tiada bayangan seorang pun.

Mendadak, di sebelah kiri terdengar suara “tek” sekali, sepotong batu kelihatan jatuh di tanah, cepat semua orang berpaling, tapi pada saat yang sama, kembali terdengar suara mendesirnya panah menyambar, “cring”, lagi-lagi Su An menyampuk dengan pedang hingga sebatang panah kecil yang mengincar belakang kepala Sin-sipopo dapat dipukul jatuh.

Ternyata sehabis menyerang Hui-sian, dengan cepat penyerang tadi sudah mengisar ke kanan, ia pancing orang memandang ke kiri dengan sepotong batu, berbareng ia membokong Sin-sipopo pula.

Keruan nenek itu terkejut dan gusar, ia putar goloknya dengan kencang hingga tubuhnya seakan-akan terbungkus segulung sinar putih, terus menerjang ke semak-semak rumput di sebelah kanan sana. Rumput alang-alang di situ menjadi bertebaran kena dipapas goloknya, tapi tiada bayangan seorang pun kelihatan.

Tiba-tiba terdengar Su An bersuit nyaring, segera ia melayang ke atas sebatang pohon besar di arah barat sana, menyusul terdengarlah suara “crang-creng” beberapa kali, sekaligus pedang Su An sudah menyerang empat kali.

Selagi Hui-sian pentang mata dan pasang kuping mengikuti pertarungan kawan di atas pohon itu, mendadak dari udara menubruk turun sesosok bayangan hitam ke atas kepalanya. Cepat juga reaksi Hui-sian, sekali tangan kanan terangkat, Hong-pian-jan lantas menyabet ke arah bayangan itu.

Namun bayangan itu sempat mengentak kakinya ke batang sekop, dengan tenaga pantulan itu, tahu-tahu pedangnya menusuk si nenek alias Sin Si-nio.

Sekuat tenaga Sin Si-nio ayun goloknya menangkis, “cret”, tahu-tahu ujung golok putus tertebas pedang musuh, menyusul sinar pedang musuh menyambar mukanya.

Karena tak keburu menolong, cepat Cin Goan-cun menghantam punggung musuh.

Agaknya orang itu pun tahu betapa lihai ilmu pukulan Cin Goan-cun, maka tidak berani menangkis dari depan, cepat pedangnya menepuk pundak Sin Si-nio, sekali tahan, sekali loncat, dengan enteng orangnya sudah melayang pergi.

Kalau orang itu tidak terpaksa karena digencet oleh pukulan Cin Goan-cun dari belakang, tentu pedangnya itu tidak menepuk melainkan menebas, jika begitu tentu tubuh Sin Sin-nio sudah terbelah menjadi dua.

Namun walaupun sudah dua kali jiwanya hampir melayang, Sin Si-nio masih belum kapok, ia menubruk maju pula dengan kalap. Berbareng itu Cin Goan-cun dan Hui-sian pun menyerang dari kanan-kiri.

Tapi biarpun dikeroyok tiga, orang itu masih bisa menyusup kian kemari di antara lawan-lawan itu dengan lincah dan luwes, nyata itulah dia Hiang-yok-jeh tulen alias Bok Wan-jing.

Sementara itu Su An sudah melompat turun dari atas pohon, tapi ia tidak ikut mengeroyok sebaliknya masukkan pedangnya ke sarung, lalu berdiri di samping untuk menonton.

“Su-heng,” kata Toan Ki tiba-tiba mendekati Su An, “harap kau suruh mereka jangan berkelahi.”

Sungguh di luar dugaan Su An ucapan Toan Ki itu. Ia coba melirik “Hiang-yok-jeh” palsu itu lalu bertanya, “Siapakah saudara sebenarnya?”

“Cayhe bernama Toan Ki. Sungguh aku tidak paham percekcokan di antara Bok-kohnio dengan kalian ini,” demikian sahut Toan Ki. “Cuma cara bertempur mati-matian begini rasanya bukanlah jalan yang baik. Salah atau benar, seharusnya bisa diselesaikan secara berunding saja.”

Su An memandang sekejap pada pemuda itu, pikirnya, “Benar juga ucapannya ini. Tapi percekcokan di antara orang Kangouw selamanya diselesaikan dalam ilmu silat, bila pakai berunding segala, buat apa lagi orang belajar silat. Namanya Toan Ki? Siapakah dia ini, belum pernah kudengar nama seorang tokoh demikian.”

Selagi ia hendak tanya Toan Ki pula, tiba-tiba terdengar Ciong Ling sedang memanggil pemuda itu di sebelah sana.

Segera Toan Ki mendekati nona itu dan tanya, “Ada apa?”

“Marilah lekas kita lari, kalau ayal mungkin tak keburu lagi,” ajak si gadis.

“Tapi Bok-cici lagi dikeroyok orang, mana boleh kita tinggal lari?” sahut Toan Ki.

“Kepandaian Bok-cici teramat lihai, dia pasti ada jalan buat meloloskan diri,” ujar Ciong Ling.

Namun Toan Ki masih geleng-geleng kepala, katanya, “Tidak, dia datang kemari untuk menolong jiwa kita, kalau kita tinggal pergi begini saja, hatiku merasa tidak enak.”

“Tolol,” omel si gadis mendongkol. “Kau tinggal di sini, apakah bisa kau bantu Bok-cici?”

Dalam pada itu Cin Goan-cun, Sin Si-nio dan Hui-sian bertiga masih sengit menempur Bok Wan-jing. Kedua telapak tangan Cin Goan-cun sedemikian gencar mengerahkan tenaga pukulannya. Sekop serbaguna Hui-sian menyambar kian kemari dengan hebat, golok Sin Si-nio pun tidak ketinggalan membacok dan membabat di mana ada lubang. Namun Bok Wan-jing tampak sedikit pun tidak kewalahan, bahkan percakapan Toan Ki, Su An dan Ciong Ling barusan dapat diikutinya.

Ia dengar Toan Ki sedang berkata pula, “Ciong-kohnio, bolehlah kau lari dulu. Bukanlah semestinya aku mengingkari kebaikan Bok-cici dengan meninggalkannya di bawah keroyokan orang, Biarlah kutinggal di sini, bila akhirnya ternyata Bok-cici tak bisa melawan mereka, aku akan menasihati mereka dengan baik-baik, boleh jadi keadaan masih bisa dikendalikan.”

“Masih kau berlagak? Paling-paling jiwamu akan ikut melayang nanti!” seru Ciong Ling gusar.

“Memangnya jiwaku ini sejak tadi sudah melayang kalau bukan ditolong oleh Bok-cici, aku orang she Toan kalau lupa pada kebaikan orang, ayah dan pamanku sendiri juga takkan mengampuni aku,” sahut Toan Ki tegas.

“Tolol benar-benar! Percuma banyak bicara denganmu!” kata si gadis. Terus saja ia tarik tangan anak muda itu dan diseret lari.

“Tidak, tidak! Aku tak mau pergi!” teriak Toan Ki.

Tapi tenaga Ciong Ling lebih kuat daripadanya, ia menjadi sempoyongan kena diseret oleh gadis itu.

Melihat itu, diam-diam Su An terheran-heran, pikirnya, “Orang ini terang sedikit pun tak bisa ilmu silat, tapi jiwa setia kawannya sungguh harus dipuji. Lama kudengar bahwa ‘Hiang-yok-jeh’ ganas dan keji, tiada punya seorang teman pun, entah mengapa orang she Toan ini sedemikian berani hendak bicara tentang kebaikan dan setia kawan dengan momok perempuan itu?”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Bok Wan-jing berseru, “Ciong Ling, kau sendiri lekas enyah, dilarang menyeret dia!”

Ciong Ling semakin ketakutan, ia seret Toan Ki terlebih cepat.

Mendadak terdengar suara mendesing sekali, tahu-tahu di atas kundai Ciong Ling menancap sebatang panah kecil. Berbareng terdengar Bok Wan-jing membentak, “Kalau tidak lepaskan dia, awas, akan kupanah biji matamu!”

Ciong Ling kenal watak Bok Wan-jing, sekali berkata tentu bisa dilakukannya juga, tidak pernah omong main-main. Jika dirinya tetap bandel, bukan mustahil biji matanya akan dipanah sungguh-sungguh. Karena itu, terpaksa Ciong Ling lepaskan tangan Toan Ki.

“Lekas kau enyah dan pulang, lekas!” bentak Bok Wan-jing pula.

Ciong Ling tak berani membantah, katanya kepada Toan Ki, “Toan-heng, harap engkau jangan berbuat kejahatan, jagalah dirimu baik-baik.”

Habis bicara, dengan rasa berat ia berlari pergi dan sekejap saja sudah menghilang di tempat gelap.

“Tunggu dulu, Ciong-kohnio!” teriak Sikong Hian. “Obat penawar dari ayahmu tadi manjur atau tidak?”

Mana Ciong Ling mau peduli. Segera Sikong Hian bermaksud mengejar, tapi baru melangkah dua tindak, kaki sendiri terasa lemas dan jatuh tersungkur.

Sambil membentak pergi Ciong Ling, Bok Wan-jing tetap bergerak kian kemari di antara ketiga pengeroyoknya dengan cepat, ia tetap di atas angin.

Menyaksikan itu diam-diam Su An menimbang, “Kegesitan perempuan ini ternyata masih jauh di atas kepandaianku. Hanya dalam hal ilmu pedang belum tentu dia mampu melawan aku.”

Dan karena jaga martabat sendiri, ia tidak sudi ikut mengeroyok seorang perempuan, ia tunggu bila nanti ketiga orang itu dikalahkan baru ia sendiri akan maju.

Tak lama kemudian, mendadak permainan pedang Bok Wan-jing berubah, sinar pedang menyambar ke sana-sini bagai hujan mencurah dari langit dan sukar ditentukan arah serangannya.

Su An terkejut, serunya, “Kiam-hoat bagus!”

Di tengah sorak pujiannya itu, tiba-tiba terdengar Hui-sian menjerit sekali, iganya kena tusukan pedang. Menyusul pedang Bok Wan-jing menyambar pula ke depan beruntun tiga kali hingga Cin Goan-cun terpaksa melompat keluar kalangan untuk menghindar. Ketika arah pedang Bok Wan-jing berganti pula, tanpa ampun lagi Sin Si-nio sudah terkurung di tengah sinar pedangnya.

Tampaknya sekejap pula jiwa Sin Si-nio pasti akan menghadap raja akhirat, Su An tidak bisa tinggal diam lagi, cepat pedangnya bergerak, bagai kilat menyambar, ia menyela di antara lingkaran sinar pedang Bok Wan-jing, terdengarlah suara gemerencing beberapa kali, kedua pedang saling beradu beberapa kali dengan kecepatan luar biasa.

Meski Su An turun tangan tepat pada waktunya, namun tidak urung tubuh Sin Si-nio terluka tiga tempat. Sedikit pun nenek itu tidak menghiraukan lukanya, dengan kalap ia menubruk pula ke arah Bok Wan-jing.

Dalam pada itu pedang Bok Wan-jing sedang bertempelan dengan pedang Su An. Sejak gebrakan di atas pohon tadi ia sudah tahu ilmu pedang orang tidak boleh dibuat mainan, maka begitu Su An terjun ke kalangan pertempuran, antero perhatiannya lantas dicurahkan pada lawan tangguh ini, sedikit pun tidak berani ayal.

Siapa duga cara bertempur Sin Si-nio itu ternyata sedemikian nekatnya, begitu menubruk maju, ia jatuhkan diri terus menggelinding ke samping Bok Wan-jing, gurdi baja di tangan kanan terus menikam betis lawan itu.

Syukur Bok Wan-jing sempat ayun kakinya dan berbalik Sin Si-nio terdepak pergi.

Dan karena sedikit ayal itu, tusukan pedang Su An sudah sampai di depan mukanya. Dalam detik bahaya itu, pedang Bok Wan-jing secepat kilat menangkis ke atas, ia sadar menyusul mana serangan musuh pasti akan lebih gencar, maka ia tidak mau didahului, berbareng 3-4 jurus mematikan sekaligus dilontarkan ke arah Su An.

Cara serangan Bok Wan-jing itu adalah karena dalam keadaan kepepet, musuh dipaksa harus menyelamatkan diri lebih dulu. Maka terpaksa Su An berkelit sambil menarik kembali pedangnya untuk menjaga diri.

Melihat gerakan musuh itu. Bok Wan-jing menarik napas lega. Selagi hendak ganti serangan pula, mendadak “nyes,” pundak kiri terasa kesakitan, ternyata kesempatan tadi telah digunakan Sin Si-nio untuk menikam dengan gurdi bajanya. Tapi Bok Wan-jing pun tidak tinggal diam, kontan tangannya menggaplok ke belakang hingga muka Sin Si-nio seketika hancur luluh dan terbinasa.

Sementara itu Cin Goan-cun dan Hui-sian lantas mengerubut maju lagi hingga keadaan kembali menjadi tiga lawan satu.

“Hai, hai! Tiga laki-laki mengeroyok seorang perempuan, apa kalian tidak merasa malu?” segera Toan Ki bergembar-gembor.

Su An memang ada maksud menarik diri dari pertempuran keroyokan itu, demi mendengar teriakan Toan Ki, seketika ia melompat mundur setombak jauhnya sambil berseru, “Bok Wan-jing, lekas buang pedangmu dan menyerah saja!”

Tapi semakin gencar permainan pedang Bok Wan-jing, ia tidak sempat mencabut gurdi baja yang menancap di pundaknya itu, dengan menahan sakit secepat kilat ia serang Cin Goan-cun dua kali dan menusuk Hui-sian sekali. Betapa lihai ketiga jurus serangan itu, tanpa ampun lagi pipi kanan Cin Goan-cun kontan tersayat suatu garis luka, begitu pula leher Hui-sian lecet keserempet pedang.

Walaupun luka kedua orang hanya ringan saja, tapi tempat yang terluka itu adalah tempat mematikan, sedikit ayal saja jiwa mereka tentu sudah melayang. Saking kagetnya kedua orang, berbareng mereka melompat pergi dengan napas terengah.

“Sayang, sayang!” diam-diam Bok Wan-jing gegetun tak berhasil mampuskan kedua lawan itu.

Tiba-tiba ia bersuit nyaring, segera terdengar suara derap kaki kuda, tahu-tahu Oh-bi-kui muncul dari balik bukit sana. Sekali cemplak, Bok Wan-jing melompat ke atas kuda itu. Ketika lewat di samping Toan Ki, sekali ulur tangan, Bok Wan-jing cengkeram kuduk Toan Ki dan diangkat ke atas kuda pula. Dua orang satu tunggangan terus berlari ke barat dengan cepat.

Tidak jauh, sekonyong-konyong dari dalam hutan di tepi jalan terdengar hiruk-pikuk bentakan, berpuluh orang mendadak melompat keluar mengadang di tengah jalan. Seorang kakek tinggi besar yang berdiri di tengah lantas membentak, “Hiang-yok-jeh! Sudah lama kutunggu di sini!”

Berbareng tali kendali si mawar hitam terus hendak ditariknya.

Namun sedikit Bok Wan-jing kesampingkan kudanya, berbareng tangan lain terayun, tiga panah kecil terus disambitkan. Kontan di antara gerombolan pengadang itu terjungkal tiga orang.

Tengah kakek tadi terkesiap oleh serangan mendadak itu, Bok Wan-jing sudah sendal tali kendalinya hingga Oh-bi-kui sekonyong-konyong melompat ke depan melalui atas kepala gerombolan orang itu. Dan sekali si mawar hitam mencongklang, mana bisa lagi kawanan pengadang itu mengejarnya?

Sebenarnya tidak kurang jago pilihan di antara para pengadang itu, tapi semuanya jeri pada panah berbisa Bok Wan-jing yang lihai, walaupun masih coba mengudak juga, namun sebentar saja mereka sudah ketinggalan jauh.

Toan Ki mendengar gerombolan orang itu mencaci maki kalang kabut di belakang, “Perempuan bangsat, para kesatria Hok-gu-ceh tidak ingin hidup bersamamu!”

“Biarpun kau lari sampai ujung langit juga akan kami bekuk kau!”

“Marilah kejar, kawan-kawan! Bekuk perempuan bangsat itu dan cencang dia untuk membalas sakit hati Co-toako!”

Suara caci maki itu lambat laun menjauh dan tidak terdengar lagi. Tapi rasa dendam kesumat yang terkandung dalam caci maki mereka itu masih terus mengiang di telinga Toan Ki.

Selama beberapa hari ini ia sudah banyak mengalami bahaya, tapi caci maki dengan rasa dendam yang tak terimpas baru sekali ini paling hebat. Karena itu, diam-diam ia mengirik.

Bok Wan-jing membiarkan Oh-bi-kui berlari sesukanya di lereng yang gelap itu. Sampai di suatu bukit, ia lihat di depan sana ada jurang, terpaksa ia turun dari kuda untuk mencari jalan lain.

Jalan pegunungan di Bu-liang-san itu ternyata berliku-liku, mendadak di depan sana ada suara seruan orang pula, “Itu dia, kudanya sudah kelihatan!”

“Awas, cegat sebelah sana!”

“Ya, jangan sampai perempuan hina itu lolos lagi!”

Dalam keadaan terluka, Bok Wan-jing tidak ingin bertempur lagi, cepat ia belokkan kuda ke arah lain. Walaupun bukan lagi jalan pegunungan, syukur si mawar hitam cukup tangkas, di lereng bukit yang penuh batu padas itu ia masih terus berlari secepat terbang.

Setelah berlari tak lama lagi, mendadak kaki depan si mawar tersandung sepotong batu, seketika larinya menjadi lambat, dengan kaki pincang binatang itu mulai tampak payah.

Toan Ki menjadi khawatir, katanya, “Bok-kohnio, harap turunkan aku saja, biar kau sendiri mudah melarikan diri. Aku tiada permusuhan apa-apa dengan mereka, andaikan aku tertangkap juga tidak menjadi soal.”

“Hm, kau tahu apa?” jengek Bok Wan-jing. “Jika kau tertangkap orang Hok-gu-ceh, biarpun sepuluh nyawamu juga akan melayang.”

“Tapi mereka teramat dendam pada nona, ada lebih baik nona menyelamatkan diri lebih dulu,” ujar Toan Ki.

Memangnya pundak Bok Wan-jing lagi kesakitan, Toan Ki masih terus mencerocos saja, keruan nona itu menjadi gusar, “Hendaklah kau tutup mulut, jangan banyak bicara.”

Toan Ki tertawa, sahutnya, “Tempo hari aku tidak suka bicara dan justru kau paksa aku buka mulut. Kini aku ajak bicara padamu, sebaliknya malah kau larang aku bicara. Ai, sungguh nona yang susah diladeni.”

Saking kesakitan, Bok Wan-jing menjadi gemas, sekali cengkeram, pundak Toan Ki diremas hingga berkeriutan, jika keras lagi sedikit, boleh jadi tulang pundak Toan Ki akan remuk.

“Ya, sudahlah, aku takkan buka mulut lagi!” cepat Toan Ki berteriak sambil meringis.

Tiba-tiba si mawar hitam mendaki jalan pegunungan, karena jalanan cukup rata, langkah binatang itu menjadi cepat.

Sementara itu sudah menjelang fajar, cuaca sudah remang-remang, Toan Ki dapat mengenali jalanan itu, katanya, “He, jalan ini menuju ke Kiam-oh-kiong, apakah nona ada permusuhan dengan orang Bu-liang-kiam?”

Ia merasa dengan segala orang Bok Wan-jing suka bermusuhan, andaikan tiada permusuhan dengan Bu-liang-kiam, rasanya nona itu pun takkan bersahabat dengan mereka.

Maka Bok Wan-jing menjawab, “Hm, untuk bermusuhan bukanlah sangat mudah, bunuh saja beberapa orang mereka, bukankah lantas jadi?”

Tengah bicara, Kiam-oh-kiong yang megah sudah tampak dari jauh.

Sudah beberapa hari ini Bu-liang-kiam siap siaga menantikan datangnya serangan Sin-long-pang, tapi sampai kini masih tiada terjadi apa-apa. Maka jago-jago yang diundang itu seperti Be Ngo-tek dan lain-lain sudah sama mohon diri karena tidak ingin terlibat dalam persengketaan itu.

Tapi Bu-liang-kiam sekte barat betapa pun adalah orang sendiri, walaupun di antara mereka sendiri ada perselisihan, namun melihat sesama golongannya terancam bahaya, tak bisa tidak mereka harus tinggal di situ untuk membantu.

Maka waktu itu di sekeliling Kiam-oh-kiong secara bergiliran dijaga oleh anak murid Bu-liang-kiam dari Tang-cong dan Se-cong.

Di depan istana yang megah itu tampak dijaga oleh empat murid Bu-liang-kiam. Menjelang fajar, mereka sama kantuk dan letih, ketika tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda mendatangi dengan cepat, seketika semangat keempat orang itu terbangkit, cepat mereka menghunus pedang dan mengadang ke depan.

Pemimpin keempat orang itu bernama Tong Jin-hong, segera ia membentak, “Siapa itu yang datang? Kawan atau lawan? Lekas beri tahu namamu!”

Melihat demikian garang sambutan orang Bu-liang-kiam itu, Bok Wan-jing jadi mendongkol, kalau turuti wataknya, tentu segera diterjangnya dahulu dan urusan belakang.

Tapi kini ia terluka parah, pundaknya masih menancap sebuah gurdi yang belum berani dicabutnya, sebab khawatir akan keluar darah terlalu banyak.

Ia pun kenal ketua Bu-liang-kiam, Co Cu-bok terkenal lihai dengan ilmu pedangnya, tergolong tokoh terkemuka di daerah Hunlam. Maka dengan sabar ia tahan kudanya dan menjawab, “Ada orang mengejar kami, terpaksa harus menghindari sebentar ke Kiam-oh-kiong, lekas kalian menyingkir!”

Sungguh gusar sekali Tong Jin-hong, pikirnya, “Kurang ajar benar orang ini! Kau diuber musuh, seharusnya kau mohon perlindungan pada kami dengan baik-baik, kenapa bicara sedemikian kasar?”

Maka sekali pedangnya melintang ke depan, segera ia berkata, “Siapa kau ini? Ada hubungan apa dengan golongan kami?”

Pada saat itulah dari jauh sana terdengar suara teriakan orang, nyata Cin Goan-cun dan kawan-kawannya serta orang Hok-gu-ceh sudah menguber datang.

Tanpa bicara lagi, sekali tarik tali kendali kuda, Bok Wan-jing membentak nyaring, sekonyong-konyong si mawar hitam mencongklang ke depan terus melompat lewat di atas kepala Tong Jin-hong berempat dan menerjang ke arah Kiam-oh-kiong.

Walaupun kaki Oh-bi-kui terluka, tapi di bawah keprakan sang majikan, dengan gagah kuat ia masih bisa lari dengan pesat. Keruan Tong Jin-hong berempat terkejut, sambil membentak-bentak mereka terus mengudak.

Tapi Bok Wan-jing tidak ambil pusing lagi, ia bedal si mawar hitam dan menerjang masuk pintu gerbang Kiam-oh-kiong, menerobos ke ruangan tengah dan menembus ke serambi belakang. Seketika Kiam-oh-kiong menjadi panik, ada 7-8 anak murid Bu-liang-kiam hendak maju merintangi, tapi mereka pun kacau-balau, kalau tidak didepak oleh si mawar, tentu kena ditusuk pedang Bok Wan-jing.

Tatkala itu Co Cu-bok baru bangun tidur. Selama beberapa hari ini ia memang tidak pernah hidup tenteram, kini mendengar di dalam istana terjadi ramai-ramai, segera ia memburu keluar dengan pedang terhunus.

Tiba-tiba ia dipapak oleh seekor kuda hitam, ia menyangka Sin-long-pang telah mulai menyerbu, sama sekali tak terduga di tengah istana itu ada kuda berkeliaran, tanpa bicara ia ulur tangan hendak menarik tali kendali kuda.

Tapi mendadak angin tajam menyambar mukanya, ujung pedang musuh sudah berada di depan batok kepalanya. Betapa cepat serangan musuh itu sungguh tak pernah dialaminya selama hidup.

Untung Co Cu-bok adalah jago kawakan, cepat ia menunduk dengan gaya “Hong-tiam-thau” atau burung Hong angguk kepala. Menyusul pedangnya menangkis ke atas, “trang”, kedua pedang saling beradu.

Memang benar dugaannya, serangan lawan datangnya secara beruntun-runtun. Mendadak Co Cu-bok jatuhkan diri ke tanah sambil menangkis lagi sekali, tapi mendadak pergelangan tangan kiri terasa sakit sekali, kiranya kena didepak oleh si mawar.

Sekuatnya Co Cu-bok lompat ke samping, sekilas dapat dikenalnya Toan Ki berada di atas kuda itu.

“He, kiranya kau!” tanpa merasa ia berseru. Tapi segera dilihatnya pula di belakang pemuda itu berduduk lagi seorang yang seantero tubuhnya terbungkus baju hitam mulus, tiba-tiba ia ingat seseorang, tak tertahan ia merinding

“Hiang … Hiang-yok ….” demikian Co Cu-bok berteriak dengan gemetar, dalam pada itu Bok Wan-jing sudah keprak si mawar menuju ke taman bunga di belakang.

Sebenarnya Co Cu-bok masih mempunyai sejurus serangan dengan menimpuk pedang, kalau pedangnya ditimpukkan, tentu dapat menancap di pantat si mawar. Tapi pada saat pedang hampir terlepas dari tangan, ia lihat dandanan Bok Wan-jing maka pedang ditarik kembali mentah-mentah. Dan sedikit ayal itulah Bok Wan-jing sudah keprak kudanya menuju ke belakang.

Di taman belakang itu dijaga delapan anak murid Bu-liang-kiam, Kam Jin-kiat termasuk di antaranya. Ketika mendadak tampak seekor kuda hitam berlari datang dari ruangan depan, mereka menjadi terheran-heran.

Dalam pada itu Bok Wan-jing sudah bedal kudanya sampai di pintu taman, sekali tebas, gembok pintu dikutunginya.

“Hei, hei! Bukit di belakang adalah daerah terlarang, tidak boleh sembarangan terobosan ke sana!” cepat Kam Jin-kiat berseru.

Namun Oh-bi-kui sudah mencongklang keluar dengan dua penunggangnya.

Walaupun Co Cu-bok sangat jeri pada Bok Wan-jing, tapi orang telah menerjang sesukanya di dalam Kiam-oh-kiong, kini berlari ke bagian terlarang pula di gunung belakang, betapa pun ia tak bisa tinggal diam lagi.

Segera ia memberi perintah, kawan-kawan dari Se-cong diminta menjaga Kiam-oh-kiong kalau-kalau diserbu oleh Sin-long-pang, ia sendiri lantas memimpin berpuluh anak muridnya mengudak ke belakang gunung.

Melihat arah yang dituju Oh-bi-kui itu adalah jalan yang pernah didatanginya, segera Toan Ki berkata, “Bok-kohnio, di depan sana ada rintangan jurang, kita harus mengitar ke arah lain.”

“Dari mana kau tahu?” tanya si nona dengan tercengang.

“Jalanan itu pernah kulalui,” sahut Toan Ki.

Bok Wan-jing dapat memercayainya, ia tahan kudanya dan ragu-ragu sejenak, lalu belokkan Oh-bi-kui ke jalan kecil di sebelah kiri.

Tak terduga jalan itu terus menuju ke suatu lereng bukit yang panjang, makin jauh makin tinggi dan berliku-liku, dengan susah payah, akhirnya mereka dapat mencapai suatu tebing di atas bukit.

Waktu Bok Wan-jing menoleh, ia lihat para pengejarnya terbagi dalam tiga kelompok sedang mengurungnya dari kanan kiri dan belakang. Yang sebelah kiri membawa pedang semua, itulah Co Cu-bok dari Bu-liang-kiam dan anak muridnya, Sebelah kanan hanya tiga orang, yaitu Su An, Cin Goan-cun dan Hui-sian. Sedang pengejar di belakang adalah orang-orang Hok-gu-ceh.

Su An tampak gesit sekali, secepat terbang ia melompat dari batu padas yang satu ke batu padas yang lain. Melihat itu, diam-diam Bok Wan-jing terperanjat, tanpa banyak pikir terus ia keprak kudanya ke depan.

Tidak jauh, mendadak di depan terbentang sebuah jurang yang lebarnya belasan meter, dalamnya sukar dijajaki. Oh-bi-kui meringkik kaget dan cepat berhenti serta menyurut mundur beberapa langkah.

Menghadapi jalan buntu, sedang dari belakang pengejar makin dekat, cepat Bok Wan-jing ambil keputusan, segera ia tanya Toan Ki, “Aku akan bedal kuda melompat ke seberang jurang sana. Kau akan ikut aku menghadapi bahaya atau turun di sini saja?”

Toan Ki pikir kalau beban kuda itu berkurang, melompatnya tentu akan lebih mudah, maka sahutnya, “Biarlah nona menyeberang dahulu, nanti menarik aku lagi dengan tali.”

Tapi waktu Bok Wan-jing menoleh, ia lihat Su An sudah menguber datang, jaraknya cuma beberapa puluh meter saja. Maka katanya cepat, “Sudah tidak sempat lagi!”

Ia tarik si mawar mundur beberapa meter jauhnya, perlahan ia tepuk perut kuda itu sambil berseru, “Melompatlah ke sana, kudaku sayang!”

Sekonyong-konyong si mawar membedal secepatnya ke depan, sampai di tepi jurang, binatang itu melompat sekuatnya. Seketika Toan Ki merasa seakan-akan terbang di udara, jantungnya seolah-olah ikut melompat keluar dari rongga dadanya.

Di bawah desakan sang majikan, Oh-bi-kui yang sudah terluka dan terlalu capek itu melompat sepenuh tenaga, tapi hanya kedua kaki depan dapat mencapai tepi jurang sana, kaki belakang tak sanggup lagi menginjak tanah, tubuhnya terjerumus ke bawah.

Syukur Bok Wan-jing dapat bertindak cepat, pada saat berbahaya itu ia melayang sekuatnya ke depan sambil jambret Toan Ki sekenanya. Lebih dulu Toan Ki jatuh di tanah, menyusul Bok Wan-jing ikut terbanting ke dalam pangkuannya. Khawatir gadis itu terluka, cepat Toan Ki merangkulnya erat-erat.

Dalam pada itu terdengar suara ringkik si mawar yang panjang mengerikan, binatang itu sudah tergelincir ke dalam jurang yang tak terkira dalamnya.

Bok Wan-jing sangat berduka, ia meronta lepas dari pelukan Toan Ki dan berlari ke tepi jurang. Namun permukaan jurang itu penuh tertutup kabut tebal, si mawar hitam sudah tak kelihatan lagi.

Saat itu kebetulan Su An juga baru mencapai tepi jurang dan menyaksikan adegan ngeri itu, ia ikut ternganga kesima.

Melihat pengejarnya tidak mampu menyeberangi jurang, hati Bok Wan-jing rada lega. Tapi sekonyong-konyong kepala terasa pening, langit dan bumi seakan-akan berputar, kakinya menjadi lemas pula, seketika robohlah dia tak sadarkan diri.

Keruan Toan Ki kaget, cepat ia memburu maju untuk menyeretnya mundur agar gadis itu tidak tergelincir ke dalam jurang. Ia lihat kedua mata si nona terpejam rapat dan sudah pingsan.

Selagi bingung entah apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba di seberang jurang sana ada orang berteriak, “Lepaskan panah, mampuskan kedua keparat itu!”

Waktu Toan Ki memandang, ia lihat di seberang sana sudah berdiri 7-8 orang, kalau benar-benar mereka melepaskan panah, bisa celakalah dirinya.

Segera ia pondong Bok Wan-jing, dengan susah payah ia membawanya lari mundur. Syukur badan si nona tiada 100 kati beratnya, maka Toan Ki masih sanggup memondongnya lari.

“Serr”, mendadak sebatang panah menyambar lewat di samping telinganya.

Dengan gugup Toan Ki berlari ke depan sambil sedikit berjongkok, “serr”, kembali sebatang panah menyambar lewat di atas kepalanya. Ia lihat di samping kiri sana ada sepotong batu besar, segera ia lari maju untuk sembunyi di belakang batu.

Dalam sekejap itu, anak panah sudah berseliweran dan bermacam-macam Am-gi membentur batu padas dan sama terpental jatuh.

Sedikit pun Toan Ki tidak berani bergerak. “Bluk”, sekonyong-konyong sepotong batu sebesar mangga jatuh di sampingnya. Nyata, penimpuk batu itu sangat besar tenaganya, cuma jaraknya agak jauh, maka incarannya kurang tepat.

Toan Ki pikir kalau sembunyi di situ, akhirnya kepala pasti akan tertimpa batu sambitan itu, segera ia pondong si nona lagi dan berlari ke depan hingga belasan meter jauhnya, ia menduga senjata rahasia musuh takkan mencapainya lagi, lalu berhenti.

Setelah bernapas lega, Toan Ki taruh si gadis di belakang batu karang, ia coba mengintai ke seberang jurang sana. Ternyata jumlah orang sudah bertambah banyak dan kedengaran berisik sekali lagi mencaci maki kalang kabut, tampaknya seketika para pengejar itu tidak mampu menyeberang kemari.

Toan Ki pikir, “Jika mereka mengitar jalan dan mendaki dari sebelah sana, rasanya nasib kami berdua susah juga lolos dengan selamat.”

Ia coba menuju ke tepi jurang sebelah lain, tapi sekali melongok, seketika kakinya ikut lemas saking kejutnya.

Ternyata di bawah jurang itu ombak mendebur dengan hebatnya, suatu sungai dengan airnya yang bergelombang besar tepat berada di bawah jurang itu.

Ternyata di situ termasuk lembah sungai Lanjong. Melihat arus air yang begitu hebat, untuk mendaki dari situ terang tidak mungkin, tapi kalau musuh lebih dulu turun ke jurang, lalu memanjat ke atas, dirinya tak mengerti silat pasti sukar mencegahnya.

Ia menghela napas, ia pikir biarlah untuk sementara terhindar dari bahaya, bagaimana jadinya nanti akan melihat gelagat saja.

Ia kembali ke samping Bok Wan-jing, ia lihat gadis itu masih belum sadar. Selagi Toan Ki hendak berdaya menolongnya, tiba-tiba terlihat pundak si nona masih tertancap sebuah gurdi baja, bajunya basah kuyup oleh darah.

Keruan Toan Ki terkejut, dalam keadaan terburu-buru menyelamatkan diri tadi, ia tidak mengetahui gadis itu terluka, kini melihat darah mengucur cukup banyak, pikiran pertama-tama timbul adalah, “Jangan-jangan dia telah meninggal?”

Maka dengan agak takut-takut ia coba membuka sedikit kerudung muka Bok Wan-jing untuk memeriksa napas di hidungnya, syukur gadis itu masih bernapas perlahan.

Pikir Toan Ki, “Aku harus mencabut gurdi itu untuk mencegah darah mengucur lebih banyak.”

Tapi ia lihat gurdi itu menancap sangat dalam, kalau dicabut hingga dan membikin jiwanya melayang, kan celaka? Namun dalam keadaan begitu, jalan lain tiada lagi, diam-diam ia hanya berdoa, “Bok-kohnio, tujuanku hanya menolongmu, bila karena itu malah mencelakai jiwamu, ya, apa mau dikatakan lagi, toh seumpama aku tidak menolongmu, kau pun akan binasa juga.”

Segera Toan Ki pegang batang gurdi, dengan mengertak gigi segera hendak dicabutnya. Tapi karena tidak biasa, saking kedernya hingga badan sendiri gemetar. Sementara itu di seberang jurang sana terdengar ramai dengan suara caci maki musuh, tanpa pikir lagi Toan Ki terus mencabut sekuatnya, darah yang merembes keluar membikin muka dan kepala Toan Ki penuh darah.

Saking kesakitan, Bok Wan-jing menjerit sekali dan siuman kembali, tapi menyusul lantas pingsan lagi.

Dengan mati-matian Toan Ki berusaha menutupi luka si nona agar darah tidak mengucur, namun darah yang merembes keluar bagai mata air dan sukar dicegah. Toan Ki menjadi kelabakan, ia coba cabut beberapa tumbuhan rumput di sekitarnya dan dikunyah, kemudian dibubuhkan pada luka Bok Wan-jing. Tapi sekali kena diterjang darah, luluhan rumput itu lantas buyar.

Tiba-tiba Toan Ki ingat gadis ini jago silat, boleh jadi ia sendiri membawa obat luka. Ia coba merogoh saku si gadis. Sekonyong-konyong tangannya menyentuh sesuatu yang lunak licin, dalam kagetnya cepat ia tarik tangannya. Kiranya adalah Kim-leng-cu.

“Hei, Kim-leng-cu, jangan kau gigit aku!” seru Toan Ki khawatir.

Menurut juga ular itu. Padahal Kim-leng-cu tidak paham perkataannya. Soalnya pada badan Toan Ki terdapat kotak kemala pemberian Ciong Ling yang berisi barang antiular berbisa. Setiap ular atau serangga beracun, asal mencium bau benda itu, pasti akan tunduk dan ketakutan.

Maka cepat Toan Ki masukkan tangannya ke saku Bok Wan-jing lagi. Kali ini tidak menyentuh benda hidup pula, satu per satu ia keluarkan isi baju si nona. Mula-mula dikeluarkannya sebuah sisir emas, lalu sebuah cermin tembaga kecil dan dua potong saputangan warna jambon, kecuali itu ada pula tiga buah kotak atau dus kecil.

Melihat barang-barang yang biasanya dipakai anak gadis itu, Toan Ki tertegun sejenak, baru teringat olehnya kelakuannya yang tidak sopan. Orang masih perawan suci, masakah tangan sendiri bergerayangan dalam saku orang.

Ia coba membuka kotak-kotak kecil itu. Kotak pertama ternyata Yanci (pemerah bibir) yang berbau harum, Kotak kedua berisi bubuk putih dan kotak ketiga bubuk warna kuning. Ia coba mengendusnya, bubuk putih itu tiada bau apa-apa, tapi bubuk kuning itu berbau pedas keras hingga ia bersin. Pikirnya, “Entah bubuk ini obat luka atau bukan, kalau racun hingga salah pakai, kan bisa celaka malah?”

Segera ia pijat-pijat tengkuk si nona, tidak lama, perlahan nona itu membuka matanya. Toan Ki sangat girang, cepatnya tanyanya, “Bok-kohnio, obat dalam kotak mana yang boleh dibubuhkan pada lukamu?”

“Yang merah,” sahut Bok Wan-jing singkat, lalu pejamkan matanya lagi. Ketika Toan Ki tanya pula, ia tidak mau menjawab.

Toan Ki menjadi heran, sudah terang bubuk merah itu adalah Yanci, mana bisa dipakai mengobati luka? Tapi orang mengatakan demikian, biarlah dicoba dulu daripada menggunakannya secara ngawur.

Segera ia sobek sedikit baju di tempat luka si nona, ia bubuhi sedikit bubukan Yanci itu. Ketika jari Toan Ki menyentuh luka Bok Wan-jing, meski dalam keadaan tak sadar toh nona itu mengejang kesakitan.

“Jangan khawatir, darahmu takkan keluar lebih banyak,” Toan Ki menghiburnya.

Aneh juga, Yanci itu ternyata obat mujarab benar, cespleng, seketika darah berhenti mengucur keluar. Selang sebentar, dari luka itu merembes keluar air kuning.

Melihat keanehan itu Toan Ki menggerundel sendiri, “Obat luka juga dibikin seperti Yanci, sungguh pikiran anak gadis sukar diraba.”

Setelah capek setengah hari, baru sekarang perasaan Toan Ki tenang kembali. Ia dengar suara berisik di seberang jurang sana tadi sudah berhenti. Pikirnya, “Jangan-jangan mereka benar-benar memanjat kemari melalui bawah jurang?”

Cepat ia merayap ke tepi jurang sana dan melongok ke bawah. Astaga celaka 13, dugaannya ternyata benar, belasan orang di seberang jurang itu sedang memberosot ke bawah dengan perlahan. Betapa dalam jurang itu tentu juga ada dasarnya, asal orang-orang itu sudah mencapai dasar jurang, tidak berapa lama pasti akan memanjat ke sebelah sini.

Toan Ki menjadi bingung, pikirnya, “Kalau musuh naik kemari, aku dan Bok-kohnio terpaksa terima ajal saja, lantas bagaimana baiknya sekarang?”

Walaupun tak bisa silat, menghadapi pilihan antara hidup dan mati, terpaksa ia berdaya sebisanya.

Ia coba periksa sekitarnya, lebih dulu ia memondong Bok Wan-jing ke balik sebuah batu padas yang menonjol, lalu sibuk mengumpulkan batu di tepi jurang sana. Memangnya di situ banyak terdapat batu, maka tiada lama, sudah beratus potong batu disiapkan.

Setelah selesai tugasnya, ia duduk di samping Bok Wan-jing untuk memulihkan semangat. Sepanjang malam ia tidak tidur, sesungguhnya ia sangat lelah, sedikit pejamkan mata, rasanya sudah akan pulas. Tapi menyadari kalau musuh tidak lama bakal datang, mana berani ia tidur?

Sayup-sayup ia mencium bau wangi yang teruar dari badan Bok Wan-jing, pikirnya, “Nona Bok ini berjuluk ‘Hiang-yok-jeh’, sungguh janggal juga bau harum demikian dihubung-hubungkan dengan poyokannya sebagai kuntilanak.”

Tadi waktu mencoba pernapasan hidung Bok Wan-jing, ia telah sedikit menyingkap kain kedok mukanya di bawah hidung, tatkala itu ia tidak perhatikan bagaimana bentuk mulut hidungnya, entah pesek, entah mancung. Tapi kini ia tidak berani sembarangan membuka lagi kedok si gadis untuk melihatnya lebih jelas.

Bila diingat-ingat kembali, rasanya kulit muka nona itu sangat putih, ya, paling tidak, pasti tidak menakutkan.

Dalam keadaan tak sadarkan diri, kalau Toan Ki mau membuka kedok Bok Wan-jing pasti takkan diketahui olehnya. Tapi Toan Ki merasa ragu, ingin melihat mukanya, rasanya takut pula, pikirnya, “Tanpa sebab apa-apa aku ikut menempuh bahaya dengan dia, tampaknya 9/10 bagian pasti akan gugur bersama. Bila sampai saat binasa aku masih belum melihat mukanya yang sebenarnya, bukankah penasaran sekali?”

Namun dalam hati kecilnya ia berkhawatir pula kalau-kalau muka si gadis benar-benar sejelek setan, sebab kalau tidak jelek, kenapa sepanjang masa selalu berkedok?

Apalagi orang berjuluk “Hiang-yok-jeh”, si kuntilanak harum, harumnya memang tulen, bermuka sejelek setan mungkin juga tidak palsu. Kalau melihat tindak tanduknya yang ganas keji, rasanya gadis itu pun tidak berjodoh dengan wajah “cantik molek”. Karena itulah ia ambil keputusan takkan melihatnya.

Dalam keadaan ragu-ragu itu, akhirnya Toan Ki terpulas saking letihnya.

Entah sudah berapa lamanya, mendadak ia terjaga bangun dan berlari ke tepi jurang. Ia lihat ada 5-6 laki-laki diam-diam sedang memanjat ke atas jurang. Dinding jurang itu teramat curam, tidak mudah untuk mendaki ke atas, orang-orang itu hanya merayap dengan susah payah dengan berpegangan akar tumbuh-tumbuhan di tepi jurang itu.

Diam-diam Toan Ki bersyukur musuh belum sampai naik ke atas, segera ia ambil sepotong batu dan disambitkan ke bawah sambil berteriak, “Jangan naik, kalau tidak, jangan menyesal bila aku main kasar!”

Jarak orang-orang itu masih berpuluh meter dari Toan Ki, untuk menyerang dengan senjata rahasia terang tak sampai, maka demi mendengar ancaman Toan Ki itu, mereka berhenti sambil mendongak, setelah ragu-ragu sejenak, kembali mereka merayap naik lagi di bawah lindungan batu karang yang menonjol di sana-sini.

Menimpuk batu dari atas ke bawah tidaklah susah, maka beruntun Toan Ki melemparkan beberapa potong batu. Segera terdengar suara jeritan ngeri dua kali, dua orang di antaranya kena tertimpuk batu dan jatuh tergelincir ke bawah jurang, terang mereka pasti akan jatuh hancur lebur.

Sejak kecil Toan Ki rajin menjalankan ibadah agama, ilmu silat saja tidak sudi dilatihnya. Kini untuk pertama kalinya membunuh orang, ia menjadi ketakutan sendiri hingga pucat lesi.

Semula ia hanya bermaksud menggertak saja agar orang-orang itu mau pergi, tak terduga dua orang telah terbinasa oleh batunya itu. Ia merasa tidak tenteram, walaupun tahu juga bila orang berhasil memanjat ke atas, maka dirinya dan Bok Wan-jing yang akan terbunuh oleh mereka.

Dalam pada itu, khawatir kalau diserang lagi dari atas, sebagian orang itu terus merayap balik ke bawah. Ada satu di antaranya agak gugup hingga terpeleset dan jatuh ke jurang lagi.

Toan Ki terkesima sejenak, kemudian ia kembali ke samping Bok Wan-jing, ia lihat gadis itu sudah duduk sambil bersandar di batu. Kejut dan girang sekali Toan Ki, tanyanya, “Kau … kau sudah baik, nona Bok?”

Bok Wan-jing tak menjawabnya, dengan termangu-mangu ia pandang pemuda itu, sinar matanya yang memancar dari balik kedok itu tampak bengis tak kenal ampun.

“Rebahlah, mengaso saja, akan kucarikan air minum untukmu,” demikian Toan Ki menghiburnya.

“Ada orang hendak memanjat kemari, bukan?” tanya sinona.

Tak tertahan lagi air mata Toan Ki berlinang-linang, katanya dengan terguguk-guguk, “Ya, aku … aku telah mem … membunuh dua orang tanpa sengaja … dan … dan seorang pula jatuh binasa ketakutan.”

Bok Wan-jing menjadi heran melihat pemuda itu menangis, tanyanya, “Lalu, kenapa?

“O, Tuhan Maha Pengasih, tan … tanpa sebab aku telah membunuh orang, ti … tidak kecil dosaku ini!” demikian Toan Ki meratap. Ia merandek sejenak, lalu menyambung lagi, “Kalau ketiga orang itu punya anak istri dan orang tua, bila mendengar berita kematian mereka, tentu akan … akan sangat sedih, O, sung … sungguh aku berdosa … aku berdosa!”

Baru sekarang Bok Wan-jing paham sebab apa pemuda itu menangis, katanya dengan tertawa dingin, “Huh, kau sendiri kan juga punya anak istri dan orang tua?”

“Orang tua sih punya, istri belum,” sahut Toan Ki.

Sekilas Bok Wan-jing memancarkan sinar mata yang aneh, tapi sorot mata aneh itu hanya sekejap lantas lenyap, segera kembali pada sinar matanya yang tajam dan dingin itu, katanya, “Dan kalau mereka berhasil memanjat ke sini, mereka akan membunuhmu dan membunuhku atau tidak?”

“Ya, mungkin sekali mereka akan membunuh kita,” sahut Toan Ki.

“Hm, jadi kau lebih suka dibunuh daripada membunuh?” begitu tanya Wan-jing.

Toan Ki berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Jika … jika melulu diriku, aku pasti takkan membunuh orang. Tapi … tapi aku tak dapat membiarkan engkau dibunuh mereka.”

“Sebab apa?” bentak Bok Wan-jing dengan bengis.

“Engkau pernah menolongku, dengan sendirinya aku pun ingin menolongmu,” sahut Toan Ki.

“Ingin kutanya padamu, jika kau berdusta, segera panah dalam bajuku ini akan mencabut nyawamu,” kata si nona pula sambil sedikit angkat tangannya mengincar tenggorokan Toan Ki.

“Eh, sekian banyak orang yang kau bunuh, kiranya panahmu dibidikkan dari dalam lengan baju,” ujar Toan Ki.

“Tolol, kau takut tidak padaku?” tanya si nona

“Engkau toh takkan membunuh aku, kenapa aku takut?”

“Jika kau bikin marah padaku, bukan mustahil kau akan kubunuh,” kata Wan-jing “Sekarang jawablah pertanyaanku, diam-diam kau melihat wajahku atau tidak?”

“Tidak,” sahut Toan Ki menggeleng kepala.

“Benar-benar tidak?” si nona menegas. Suaranya makin lama makin rendah, kedok di jidatnya itu tampak basah sebagian, agaknya terlalu keras memakai tenaga, maka keringat merembes keluar, namun suaranya masih tetap bengis.

“Ya, buat apa aku dusta,” demikian sahut Toan Ki pula.

“Pada waktu aku pingsan, kenapa tidak kau buka kedokku?”

“Yang kupikir hanya mengobati luka pada bahumu itu, tidak kupikirkan hal itu,” ujar Toan Ki.

Mendadak Bok Wan-jing ingat sesuatu, ia menjadi gusar dan gugup, dengan napas tersengal-sengal ia berkata, “Jadi … jadi kau telah melihat … melihat kulit badanku bagian bahu? Kau membubuhkan obat pada lukaku?”

“Ya,” sahut Toan Ki dengan tertawa. “Sungguh tidak nyana bahwa Yancimu itu ternyata begitu manjur.”

“Coba kau kemari, payang aku sebentar,” pinta si nona.

“Baiklah,” sahut Toan Ki. “Memangnya engkau tak perlu banyak bicara, lebih baik mengaso dulu, nanti mencari jalan buat menyelamatkan diri.”

Sembari berkata, terus saja Toan Ki mendekati si nona. Tak tersangka, belum lagi tangannya memegang tangan si nona, “plok”, tahu-tahu pipi kena dipersen sekali gamparan.

Begitu keras tempelengan itu hingga kepala Toan Ki pusing tujuh keliling, tubuh sampai ikut berputar.

“Ken … kenapa kau pukul aku?” tanya Toan Ki sambil memegang pipinya.

“Bangsat kurang ajar, kau berani menyentuh badanku dan … dan melihat bahuku ….” saking gusarnya saja Bok Wan-jing jatuh pingsan lagi.

Dalam kejutnya Toan Ki menjadi lupa orang baru saja menggampar pipinya, cepat ia memburu maju untuk membangunkan si gadis. Ia lihat lukanya mengeluarkan darah lagi, rupanya waktu menampar Toan Ki tadi, nona itu banyak mengeluarkan tenaga, maka lukanya yang mulai rapat itu menjadi pecah pula.

Toan Ki menjadi ragu, si nona telah marah-marah karena kulit badannya dilihat orang, tapi kalau tak ditolong, mungkin jiwanya akan melayang karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Urusan sudah kadung begini, terpaksa berbuat sebisanya, paling-paling dipersen lagi dua kali tamparan. Demikian pikir Toan Ki.

Segera ia robek kain baju sendiri untuk membersihkan darah di sekitar luka si nona. Ia lihat kulit badan nona itu putih bersih laksana salju. Ia tidak berani lama-lama memandangnya, buru-buru ia poles sedikit Yanci tadi pada lukanya.

Sekali ini Bok Wan-jing cepat siuman, dengan sorot mata yang bengis ia pelototi Toan Ki. Takut digampar lagi, Toan Ki tidak berani dekat-dekat dengan gadis itu.

“Kembali kau … kau ….” karena merasa bahunya silir-silir dingin, Bok Wan-jing tahu pemuda itu telah membubuhi obat di atas lukanya lagi.

“Ya, terpaksa, aku … aku tak dapat tinggal diam,” sahut Toan Ki sambil angkat bahu.

Saking gugupnya hingga napas Bok Wan-jing tersengal-sengal, dalam keadaan lemas, ia menjadi susah berbicara.

Toan Ki mendengar di sisi kiri sana ada suara gemerciknya air, segera ia berlari ke sana dan mendapatkan sebuah selokan dengan air pegunungan yang jernih.

Ia cuci bersih kedua tangan sendiri, lalu meraup air gunung itu untuk diminum beberapa ceguk. Kemudian ia meraup air jernih itu kembali ke samping Bok Wan-jing, katanya, “Bukalah mulutmu, minum air ini!”

Setelah banyak mengeluarkan darah, mulut Bok Wan-jing memang terasa kering, segera ia singkap sebagian kain kedoknya sehingga tertampak mulutnya.

Tatkala itu sudah tengah hari, di atas pegunungan itu terang benderang. Toan Ki melihat dagu si gadis agak lonjong, nyata mukanya potongan daun sirih, kulit mukanya putih halus seperti bahunya, mulutnya yang kecil mungil dengan bibir tipis, kedua larik giginya seputih mutiara dan rajin. Hati Toan Ki terguncang, “Dia … sesungguhnya seorang gadis cantik!”

Sementara itu air merembes jatuh dari sela-sela jari tangan Toan Ki, muka Bok Wan-jing terciprat butir-butir air hingga mirip rintik embun di atas bunga teratai pada pagi hari.

Toan Ki terkesima sejenak, ia tidak berani lama-lama memandangnya, cepat ia berpaling ke arah lain.

“Lagi, ambilkan lagi!” pinta si nona sehabis minum air dari tangan Toan Ki itu.

Berturut-turut tiga kali Toan Ki meraupkan air gunung itu baru lenyap rasa dahaga Bok Wan-jing.

Kemudian Toan Ki mengintai pula ke tepi jurang, ia lihat di seberang sana masih tinggal beberapa orang dengan busur dan panah lagi mengawasi seberang sini.

Ketika melongok pula ke bawah jurang, ia tidak melihat ada orang memanjat ke atas. Tapi dapat diduga musuh pasti tak mau berhenti begitu saja, tentu sedang berusaha mencari jalan untuk mengejar kemari.

Tiba-tiba Toan Ki ingat racun Toan-jiong-san yang diminumnya dari Sikong Hian itu dalam beberapa hari ini pasti akan mulai bekerja, andaikan musuh tidak mengejar kemari dan mereka berdua tidak mati oleh luka dan racun masing-masing, akhirnya tentu juga akan mati kelaparan di atas bukit yang tandus ini.

Karena itu, dengan lesu Toan Ki kembali ke samping Bok Wan-jing lagi, katanya, “Sayang di atas gunung tiada tetumbuhan apa pun, kalau ada akan kupetik beberapa biji untuk melenyapkan kelaparanmu.”

“Sudahlah, apa gunanya banyak bicara yang tidak-tidak?” sahut Bok Wan-jing. “Coba ceritakan, bagaimana kau kenal anak dara keluarga Ciong itu? Kenapa kau berani sembarangan memalsukan aku untuk menolongnya?”

Toan Ki menjadi malu oleh pertanyaan itu, sahutnya, “Aku memang tidak pantas menyamar dirimu untuk menolongnya. Soalnya karena terpaksa, maka kuharap engkau jangan marah.”

Bok Wan-jing hanya mendengus saja sekali, tidak menyatakan marah, juga tidak bilang tidak marah.

Maka berceritalah Toan Ki cara bagaimana ia kenal Ciong Ling di Kiam-oh-kiong tempo hari ketika dirinya dianiaya orang dan gadis itu telah menolongnya.

“Hm, kalau tidak paham ilmu silat, kenapa ikut campur urusan Kangouw? Apa barangkali kau sudah bosan hidup?” jengek Bok Wan-jing seusai mendengarkan cerita Toan Ki.

“Urusan sudah telanjur begini, menyesal juga tak berguna,” ujar Toan Ki gegetun. “Cuma membikin nona ikut susah, aku merasa tidak enak sekali”.

“Kau bikin susah aku apa?” kata si nona. “Permusuhanku dengan orang-orang itu adalah karena perbuatanku sendiri. Sekalipun di dunia ini tiada seorang kau, mereka juga tetap akan mengeroyok aku. Tapi, bila tiada dirimu, tentu aku tidak perlu khawatir dan bisa … bisa membunuh sepuas-puasku daripada mati konyol di atas karang tandus ini.”

Ketika mengucapkan kata-kata “tidak perlu khawatir”, ia merandek sejenak, ia merasa ucapan terus terang menyatakan khawatir atas diri pemuda itu rada kurang patut, ia merasa jengah. Untung ia berkedok hingga mimik wajahnya tidak kelihatan.

Toan Ki tidak memerhatikan nada ucapan orang yang agak aneh itu, sebaliknya menyangka nona itu bicara dalam keadaan sedih, maka ia malah menghiburnya, “Sudahlah, asal nona mengaso beberapa hari lagi hingga luka bahumu sembuh, lalu kita terjang keluar, belum tentu musuh mampu menahan nona.”

“Hm, enak saja kau bicara,” kata Bok Wan-jing dengan menjengek, “melulu itu Oh-pek-kiam Su An saja aku hanya sanggup bertempur sama kuat dengan dia, apalagi aku menderita luka ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong dari seberang karang sana berkumandang suara suitan tajam mengerikan hingga udara seluruh lembah gunung ikut mendenging-denging.

Mendengar suara suitan aneh itu, tak tertahan lagi hati Bok Wan-jing tergetar, katanya dengan suara gemetar, “Dia … dia datang!”

Segera tangan Toan Ki dipegangnya erat-erat.

Suara suitan itu masih terus mendengung hingga lama di angkasa pegunungan dan sahut-menyahut, suara kumandangnya juga semakin keras hingga telinga Toan Ki seakan-akan pekak. Ia merasa tangan Bok Wan-jing gemetar tiada hentinya, jelas gadis itu sangat ketakutan.

Sejak Toan Ki kenal dia, biarpun di tengah kerubutan musuh, gadis itu tetap berlaku tenang, musuh dianggap barang sepele saja. Tapi kini, begitu suara suitan itu berbunyi, seketika Hiang-yok-jeh yang biasanya ditakuti orang itu berbalik ketakutan sendiri, maka dapatlah dibayangkan betapa lihai orang yang datang itu.

Sampai lama sekali, perlahan suara suitan tadi barulah berhenti.

“Siapa orang itu?” tanya Toan Ki perlahan.

“Sekali orang ini datang, jiwaku pasti tak bisa selamat lagi,” ujar si nona. “Maka lebih baik kau cari jalan buat lari saja, jangan … jangan urus diriku lagi.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: