Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 6

“Nona Bok, rupanya engkau terlalu menilai rendah orang she Toan ini,” sahut Toan Ki tertawa, “Masa orang she Toan adalah manusia berkualitas demikian?”

Dengan matanya yang jeli si nona memandang termangu-mangu sejenak kepada pemuda itu dengan penuh haru dan pilu, katanya kemudian dengan suara mesra, “Guna apakah kau ikut mati bersama aku? Kau … kau tidak tahu betapa ganasnya orang itu.”

Sejak kenal belum pernah Toan Ki mendengar gadis itu bicara dengan suara sedemikian halus, ia merasa datangnya suara suitan tadi benar-benar telah mengubah Hiang-yok-jeh menjadi seorang manusia lain.

Toan Ki menjadi girang malah, sahutnya dengan tersenyum, “Nona Bok, aku senang sekali mendengar suara ucapanmu ini, dengan demikian, engkau barulah benar-benar seorang nona yang cantik molek.”

“Hm,” mendadak Bok Wan-jing menjengek dan tanya dengan suara bengis, “dari mana kau tahu aku cantik? Jadi benar telah kau lihat wajahku, ya?”

Habis berkata, genggaman tangannya terus diperkeras sehingga tangan Toan Ki seperti terjepit tanggam, saling kesakitan hampir-hampir pemuda itu menjerit.

“Aku tidak melihat wajahmu,” sahut Toan Ki kemudian dengan menghela napas, “tapi ketika memberi air minum padamu, aku memang melihat sebagian mukamu, walaupun hanya sebagian saja, namun sudah jelas engkau pasti cantik molek tiada taranya.”

Betapa pun ganasnya Bok Wan-jing, sekali wanita tetap wanita. Dan wanita mana di dunia ini yang tidak suka akan pujian? Apalagi dipuji berwajah cantik?

Maka sekali hati merasa senang, genggamannya lantas dikendurkan, katanya, “Baiklah, lekas kau cari suatu tempat untuk bersembunyi, tak peduli apa pun yang terjadi, jangan sekali-kali keluar. Sebentar lagi orang itu akan naik ke sini.”

Toan Ki terperanjat, serunya, “Wah, jangan sampai dia naik ke sini!”

Segera ia berlari ke tepi gunung, tapi pandangannya menjadi silau oleh berkelebatnya bayangan seorang berbaju kuning yang lagi melompat-lompat ke atas tebing dengan kecepatan dan kegesitan luar biasa.

Tebing jurang itu sangat curam dan licin, tapi orang itu dapat mendaki bagai di tanah datar saja, jauh lebih gesit daripada bangsa kera.

Diam-diam Toan Ki berkhawatir, segera ia menggembor, “Hai, orang itu! Jangan kau naik lagi! Jika tak menurut, awas akan kutimpuk dengan batu!”

Orang itu menyambutnya dengan terbahak-bahak, lompatannya ke atas menjadi terlebih cepat malah.

Melihat sedemikian lihainya orang itu dan Bok Wan-jing sedemikian takut padanya, Toan Ki pikir betapa pun orang ini harus dirintangi ke atas, tapi ia tidak ingin membunuh orang lagi, segera ia ambil sepotong batu dan ditimpukkan ke samping orang itu.

Walaupun batu itu tidak terlalu besar, tapi ditimpukkan dari atas, suaranya cukup keras menakutkan.

Toan Ki berseru pula, “Hai, kau lihat tidak? Kalau kutimpuk kepalamu, pasti jiwamu akan melayang! Maka lekas kau turun ke bawah saja!”

“Kau bocah ini rupanya sudah bosan hidup, berani kurang ajar padaku!” tiba-tiba orang itu tertawa dingin. Suaranya tidak keras, tapi seucap dan sekata dapat didengar Toan Ki dengan jelas.

Melihat orang sudah melompat naik lebih dekat lagi, keadaan sudah gawat, Toan Ki segera angkat dua potong batu terus ditimpukkan ke atas kepala orang itu sambil pejam mata, ia tidak berani menyaksikan adegan ngeri atas nasib orang yang bakal tergelincir ke bawah jurang.

Ia dengar suara gedebukan batu-batu yang menggelinding ke bawah, menyusul terdengar suara menderu dua kali dibarengi suara tertawa panjang orang itu.

Keruan Toan Ki heran, cepat ia buka mata, ia lihat kedua potong batu tadi lagi melayang ke tengah jurang, sebaliknya orang itu baik-baik saja tak kurang suatu apa pun.

Sekali ini Toan Ki benar-benar khawatir, lekas ia memberondongi orang itu dengan timpukan batu lagi. Tapi setiap batu yang melayang sampai di atas kepalanya, sekali lengan baju orang itu mengebut, batu itu lantas mencelat ke samping dan jatuh ke jurang, terkadang orang itu malah melompat ke atas lagi sehingga timpukan batu itu luput.

Dalam gugupnya, sekaligus Toan Ki telah berondongi orang itu dengan puluhan potong batu. Namun orang itu sedikit pun tidak cedera, bahkan sejengkal pun tak dapat merintangi majunya orang itu ke atas.

Melihat gelagat bakal celaka, lekas Toan Ki berlari kembali ke samping Bok Wan-jing dan berkata dengan suara terputus-putus, “No … nona Bok, orang itu sang … sangat lihai, ma … marilah kita lekas lari!”

“Sudah terlambat!” sahut Bok Wan-jing dengan dingin.

Dan selagi Toan Ki hendak bicara pula, sekonyong-konyong tubuhnya terasa didorong oleh suatu tenaga mahadahsyat hingga mencelat ke depan bagai terbang, “bluk”, akhirnya ia terbanting di dalam semak-semak pohon hingga kepala pusing tujuh keliling dan hampir-hampir jatuh kelengar.

Untung tanah di situ banyak tumbuh pepohonan pendek, hanya mukanya saja lecet sedikit, tapi tidak sampai terluka berat.

Buru-buru ia merangkak bangun, sementara itu tertampak orang berbaju kuning tadi sudah berdiri di depan Bok Wan-jing.

Khawatir orang itu mencelakai Bok Wan-jing, cepat Toan Ki lari maju dan mengadang di tengah-tengah mereka sambil menegur, “Siapakah engkau? Kenapa menganiaya orang dengan cara semena-mena?”

“Le … lekas kau lari, jangan tinggal di sini!” seru Bok Wan-jing khawatir.

Hati Toan Ki berdebar-debar juga, namun ia tenangkan diri sebisanya sambil memerhatikan pendatang itu.

Ternyata buah kepala orang itu besarnya luar biasa, sebaliknya kedua matanya bundar kecil hingga mirip dua biji kacang menyelempit di atas semangka. Namun sinar matanya menyorot tajam ketika menatap Toan Ki, tanpa merasa pemuda itu bergidik.

Perawakan orang itu pun sedang saja, berewoknya pendek kaku seperti sikat kawat, tapi usianya sukar diduga. Kedua tangannya panjang melampaui lutut, sedang jarinya panjang lancip serupa cakar.

Waktu mula-mula Toan Ki melihat orang itu, ia merasa wajah orang sangat jelek. Tapi kini timbul perasaan lain, makin dipandang, semakin terasa perawakan orang itu dan anggota badannya, bahkan dandanannya sangat cocok dengan orangnya.

“Kemarilah sini berdiri di sampingku!” demikian kata Bok Wan-jing pula.

“Tapi dia … dia akan mencelakaimu?” ujar Toan Ki khawatir.

“Hm, melihat lagakmu ini, apakah kau tahan sekali hantam dari ‘Lam-hay-gok-sin’?” jengek Bok Wan-jing. Tapi mau tak mau ia terharu juga melihat pemuda itu ingin melindunginya tanpa pikirkan keselamatan sendiri.

Toan Ki pikir memang benar kalau orang aneh ini hendak mengenyahkan dirinya, memang tidak perlu susah payah, lebih baik jangan membikin marah padanya.

Segera ia berdiri di samping Bok Wan-jing dan berkata pula, “Apakah Anda yang berjuluk ‘Lam-hay-gok-sin’? Dalam beberapa hari ini sudah banyak aku bertemu dengan berbagai Enghiong-hohan (pahlawan dan kesatria), tapi ilmu silat Anda tampaknya adalah yang paling lihai. Telah kutimpuk engkau dengan berpuluh potong batu, tapi tiada sepotong pun yang mengenaimu.”

Dasar watak manusia, siapa yang tidak suka dipuji dan diumpak? Begitu pula dengan Lam-hay-gok-sin atau si malaikat buaya dari laut selatan ini. Sifat Lam-hay-gok-sin ini biasanya kejam tak kenal ampun, tapi demi mendengar Toan Ki memuji ilmu silatnya sangat lihai, ia menjadi senang juga.

Ia terkekek tawa dua kali, lalu berkata, “Kepandaianmu tidak berarti, tapi pandanganmu masih boleh juga. Baiklah, kau enyah saja, kuampuni jiwamu!”

Girang Toan Ki tidak kepalang, sahutnya cepat, “Jika demikian, engkau juga mengampuni Bok-kohnio sekalian!”

Lam-hay-gok-sin itu tidak menjawab, hanya kedua matanya yang bulat kecil itu mendelik, mendadak ia melangkah maju, sekali kebut, lengan bajunya membuat Toan Ki terhuyung-huyung mundur beberapa tindak, lalu katanya dengan suara bengis, “Sekali lagi berani kau melangkah maju, tentu takkan kuampuni jiwamu lagi!”

Toan Ki percaya orang berani berkata tentu berani berbuat, ia pikir lebih selamat biarlah kulihat gelagat dulu. Maka ia tidak berani sembarang bertindak pula.

Dalam pada itu terdengar Lam-hay-gok-sin lagi berkata kepada Bok Wan-jing, “Kau inikah yang bernama Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing?”

“Benar,” sahut si nona. “Sudah lama kudengar nama besar Lam-hay-gok-sin Gak-loyacu, ternyata memang tidak bernama kosong. Siaulicu (aku perempuan kecil) terluka parah, maaf tak dapat memberi hormat kepada engkau orang tua!”

Mendengar itu, diam-diam Toan Ki mendengus di dalam hari, “Hm, terhadap diriku kau garang melebihi setan, tak tahunya kau juga seorang yang cuma berani kepada kaum lemah tapi jeri pada yang jahat. Melihat orang lebih galak daripadamu, lantas kau panggil Loyacu (kakek) segala!”

Sementara itu terdengar Lam-hay-gok-sin lagi menjengek, “Hah, kabarnya kau mempunyai beberapa jurus juga, kenapa bisa terluka parah?”

“Aku dikeroyok Su An, Cin Goan-cun, Sin Si-nio dan Hui-sian berempat, kedua kepalanku tak dapat melawan delapan tangan mereka, maka aku kena dilukai oleh gurdi baja Sin Si-nio,” tutur Bok Wan-jing.

“Berengsek, tak kenal malu, orang begitu banyak mengerubut seorang nona!” kata Lam-hay-gok-sin dengan gusar.

“Benar itu, engkau orang tua ternyata lebih bijaksana!” segera Toan Ki menanggapi. “Jangankan main keroyok, setiap lelaki memangnya juga tidak pantas berkelahi dengan wanita. Tapi mereka justru mengerubuti seorang nona lemah, terhitung orang gagah macam apakah itu? Kalau cerita ini tersiar di kalangan Kangouw, bukankah akan dibuat buah tertawaan orang?”

Lam-hay-gok-sin tidak menjawab, hanya mengangguk sambil mendelik.

Diam-diam Toan Ki bergirang, “Telah kukunci dia dengan kata-kata tadi, lalu mengumpaknya lagi setinggi langit, yang penting semoga dapat terhindar dari kesulitan di depan mata ini.”

Tapi ia dengar Lam-hay-gok-sin sedang tanya pula, “Sun He-khek dibunuh olehmu atau bukan?”

“Benar!” sahut Bok Wan-jing.

“Dia adalah murid kesayanganku, kau tahu tidak?” tanya Lam-hay-gok-sin alias si malaikat buaya dari laut selatan.

Mendengar itu, diam-diam Toan Ki mengeluh, “Wah, celaka! Kiranya Bok-kohnio telah membunuh murid kesayangannya, urusan ini menjadi susah diselesaikan.”

Ia dengar Bok Wan-jing lagi menjawab, “Waktu kubunuh dia tidak tahu, beberapa hari kemudian baru tahu.”

“Kau takut padaku tidak?” tanya Lam-hay-gok-sin.

“Tidak!” sahut si nona tegas.

Lam-hay-gok-sin menjadi murka, ia meraung sekali hingga lembah gunung itu seakan-akan terguncang. “Kau berani tidak takut padaku, besar amat nyalimu, ya? Siapakah yang kau andalkan, hah?”

“Engkaulah yang kuandalkan!” sahut Bok Wan-jing dengan dingin.

Lam-hay-gok-sin melengak oleh jawaban itu, segera ia membentak, “Ngaco belo! Kenapa aku yang kau andalkan?”

“Engkau orang tua diagungkan di dunia persilatan, kepandaianmu tiada bandingannya, mana mungkin engkau bergebrak dengan seorang perempuan yang terluka parah!” sahut Wan-jing.

Ucapan ini setengahnya mengandung umpakan, tapi memaksa Lam-hay-gok-sin tidak bisa berbuat apa-apa.

Benar juga, setelah tertegun sejenak, malaikat buaya lautan selatan itu lantas terbahak-bahak, serunya, “Benar juga ucapanmu.”

Habis ini, mendadak ia tarik muka lagi dan berkata, “Hari ini biarlah aku tidak membunuh kau. Ingin kutanya padamu, kabarnya kau senantiasa memakai kedok, siapa pun dilarang melihat wajahmu. Kalau ada orang yang melihatnya, jika tidak kau bunuh dia, maka kau akan kawin padanya. Apakah betul kabar ini?”

Toan Ki terperanjat oleh pertanyaan itu, ia lihat Bok Wan-jing mengangguk sebagai jawaban, keruan ia tambah sangsi.

“Sebab apa kau pakai peraturan aneh itu?” tanya Lam-hay-gok-sin.

“Itu adalah sumpah yang kuucapkan di hadapan Suhuku.” sahut si nona. “Jika tidak demikian, Suhu takkan mengajarkan ilmu silat padaku.”

“Siapakah gurumu itu?” tanya Gok-sin. “Mengapa begitu aneh dan tidak kenal peradaban orang hidup.”

Sahut Wan-jing dengan angkuh, “Aku menghormatimu sebagai kaum Cianpwe, tapi kau gunakan kata-kata tidak pantas untuk menghina guruku, itulah tidak patut.”

“Praak!” mendadak Lam-hay-gok-sin menghantam sepotong batu padas di sampingnya, seketika batu kerikil berhamburan, muka Toan Ki kesakitan juga terciprat oleh batu kerikil itu.

Diam-diam ia terkesiap, “Sedemikian lihai ilmu silat orang ini, sekali hantam membikin batu hancur lebur, kalau badan manusia yang digenjot, apakah masih bisa hidup?”

Namun ketika dia memandang ke arah Bok Wan-jing, ia lihat gadis itu bersikap dingin-dingin saja, sedikit pun tidak gentar oleh ilmu silat Lam-hay-gok-sin yang tiada taranya itu.

Sementara itu, sesudah memelototi Bok Wan-jing sekejap, lalu Lam-hay-gok-sin berkata lagi, “Baik, anggap ucapanmu tadi memang benar. Sekarang aku ingin tanya, siapakah gelaran gurumu yang terhormat itu?”

“Guruku bernama “Bu-beng-khek” (orang tak bernama)”, sahut Wan-jing.

“Bu-beng-khek?” demikian Lam-hay-gok-sin mengulangi nama itu sambil mengingat-ingat kembali. “Tidak pernah kudengar nama itu!”

“Sudah tentu, rasanya kau pun takkan pernah mengenalnya,” jengek Bok Wan-jing.

Sekonyong-konyong Lam-hay-gok-sin perkeras suaranya dan membentak, “Kematian muridku Sun He-khek itu apakah disebabkan dia ingin melihat wajahmu?”

“Yang paling kenal sang murid tiada lebih daripada sang guru,” sahut Bok Wan-jing dengan dingin. “Baik sekali bila engkau sudah kenal tabiat muridmu itu.”

Memangnya Lam-hay-gok-sin cukup kenal muridnya itu berwatak bajul buntung, kalau mati akibat perbuatannya itu juga tidak perlu heran. Cuma, menurut peraturan “Lam-hay-pay” mereka, selamanya satu guru satu murid. Dengan tewasnya Sun He-khek, itu berarti jerih payahnya mendidik murid selama berpuluh tahun itu ikut hanyut ke laut.

Maka semakin dipikir semakin gusar, sekonyong-konyong ia berteriak, “Baik, aku akan menuntut balas bagi muridku itu!”

Melihat wajah orang mendadak berubah beringas menakutkan, begitu murka hingga air mukanya ikut berubah merah padam, Bok Wan-jing dan Toan Ki menjadi jeri. Sungguh tak tersangka oleh mereka bahwa air muka seorang bisa berubah begitu hebat.

Cepat Toan Ki melangkah maju, tapi segera teringat akan ancaman orang tadi, kembali ia melangkah mundur, lalu berkata, “Gak-locianpwe, bukankah engkau tadi sudah menyatakan takkan membunuh dia?”

Tapi Lam-hay-gok-sin tak menggubrisnya, ia tanya Bok Wan-jing lagi, “Dan muridku itu berhasil melihat wajahmu tidak?”

“Tidak!” sahut si nona.

“Bagus!” seru Lam-hay-gok-sin. “He-khek mati pun tentu tidak rela, biarlah aku mewakili dia melihat wajahmu. Ingin kulihat apakah mukamu seburuk setan atau secantik bidadari!”

Kejut Bok Wan-jing sungguh bukan buatan. Sesuai sumpahnya di hadapan sang guru, kalau sekarang Lam-hay-gok-sin memaksa melihat wajahnya, sedang dirinya tak mampu membunuhnya, lalu apakah harus kawin dengan dia?

Dalam gugupnya, cepat ia berkata, “Engkau adalah tokoh terkemuka kalangan Bu-lim, mana boleh berbuat serendah dan sekotor ini?”

“Hm, di antara ‘Sam-sian-su-ok’ (tiga tokoh bajik dan empat orang jahat), akulah satu di antara ‘Su-ok’ itu, kejahatanku memang sudah terkenal di mana-mana, takut apa lagi?” sahut Lam-hay-gok-sin dengan tertawa dingin. “Selama hidupku hanya kenal suatu aturan, yaitu tidak membunuh orang yang tidak mampu melawan. Kecuali itu, tiada sesuatu kejahatan lain yang tak kulakukan. Maka lebih baik kau menurut dan tanggalkan kedokmu sendiri, agar aku tidak perlu turun tangan lagi.”

“Apakah engkau harus … harus melihat?” sahut Bok Wan-jing dengan suara gemetar.

“Jangan kau banyak cincong lagi, jika rewel lagi, sebentar tidak hanya kedokmu yang kubuka, bahkan antero pakaianmu bisa kulucuti bulat-bulat,” ancam Lam-hay-gok-sin dengan bengis. “Apakah kau tidak mendengar bahwa tahun yang lalu di kota Kayhong, dalam semalam saja aku telah memerkosa dan membunuh sembilan putri keluarga pembesar dan bangsawan?”

Bok Wan-jing sadar urusan hari ini pasti tak dapat dihindarkan lagi, ia coba mengedipi Toan Ki dengan maksud mendesak pemuda itu lekas melarikan diri. Tapi Toan Ki hanya menggeleng kepala saja.

Lam-hay-gok-sin sudah tidak sabar lagi, berewoknya yang mirip sikat kawat itu menjengkit. “Huk!” sekali bersuara, terus saja kelima jarinya yang mirip cakar itu terus mencengkeram kedok Bok Wan-jing.

Tanpa pikir Wan-jing tekan pesawat rahasianya, tiga batang panah kecil sekaligus menyambar ke depan secepat kilat dan semuanya tepat mengenai perut Lam-hay-gok-sin.

Tak terduga hanya terdengar “cret-cret-cret” tiga kali, ketiga panah itu jatuh semua ke tanah. Sedikit Bok Wan-jing bergerak, kembali tiga panah berbisa terbang ke depan, yang dua batang mengarah dada Lam-hay-gok-sin, yang satu mengincar mukanya.

Tapi- kedua batang panah yang mengenai dada Lam-hay-gok-sin tetap seperti membentur papan baja saja, semuanya jatuh ke tanah. Bedanya cuma tidak menerbitkan suara “crang-creng” yang nyaring, tapi hanya bersuara “blak-blek” yang aneh.

Sedang panah ketiga ketika hampir mencapai sasarannya, tiba-tiba Lam-hay-gok-sin ulur dua jarinya dan menyelentik perlahan batang panah kecil itu, kontan panah itu mencelat entah ke mana!

Hendaklah diketahui bahwa panah berbisa yang dibidikkan Bok Wan-jing secepat kilat, banyak jago kelas wahid telah tewas di bawah panahnya itu sebelum melihat bayangan panah, Sekalipun tangkas dan gesit, paling-paling juga cuma melompat berkelit saja.

Tapi kini Lam-hay-gok-sin bukan saja tidak mempan dipanah, bahkan sempat angkat jarinya menyelentik, sungguh selama hidup Bok Wan-jing belum pernah menghadapi tokoh selihai ini, saking jerinya hampir-hampir nyalinya pecah, cepat ia berseru, “Nanti dulu, jangan main kasar!”

Lam-hay-gok-sin tertawa dingin, sahutnya, “Menurut aturanku, aku hanya tidak membunuh orang yang tidak mampu membalas seranganku, tapi kau telah menyerang aku. Maka aku akan melihat macam apa wajahmu, kemudian mencabut nyawamu. Ini adalah salahmu sendiri yang menyerang lebih dulu, jangan kau salahkan aku melanggar aturan.”

“Salah, salah!” tiba-tiba Toan Ki berteriak.

“Ada apa?” tanya Lam-hay-gok-sin sambil menoleh.

“Menurut aturan Locianpwe, engkau ‘tidak membunuh orang yang tidak mampu membalas seranganmu’ bukan?” Toan Ki menegas.

“Benar!” sahut Lam-hay-gok-sin dengan mata mendelik.

“Ketetapan itu bisa diubah atau tidak?” tanya Toan Ki.

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, sahutnya, “Sekali aturan sudah kutetapkan tidak bisa ditawar-tawar lagi!”

“Tapi kalau ada yang mengubahnya, orang macam apakah dia itu?” desak Toan Ki.

“Orang itu adalah anak kura-kura (anak germo) dan keturunan haram!” sahut si malaikat buaya dari laut selatan.

“Bagus, bagus!” seru Toan Ki. “Tadi sebelum kau serang Bok-kohnio, dia yang memanahmu dulu, itu bukan ‘balas menyerang’, tapi harus disebut ‘menyerang lebih dulu’. Jika kau serang dia, dalam keadaan terluka parah, pasti dia tidak mampu membalas sedikit pun. Sebab itulah harus dikatakan dia mampu menyerang, tapi tidak mampu balas menyerang. Bila kau bunuh dia, itu berarti engkau telah mengubah peraturanmu sendiri, dan kalau engkau mengubah aturanmu sendiri, itu berarti engkau anak kura-kura dan keturunan haram!”

Ternyata dalam keadaan kepepet, Toan Ki terus main pokrol bambu. Ia sengaja pancing omongan Lam-hay-gok-sin untuk menjebaknya, lalu berdebat dengan dia secara pokrol-pokrolan.

Keruan Lam-hay-gok-sin meraung murka bagai guntur kerasnya, sekali melompat, segera kedua tangan Toan Ki dipegangnya sambil membentak, “Kurang ajar! Kau berani memaki aku sebagai anak kura-kura dan keturunan haram!”

Berbareng tangan lain diangkat terus hendak menghantam kepala pemuda itu.

Tapi dengan tenang Toan Ki masih menjawab, “Jika kau ganti peraturanmu, tentu engkau harus mengaku sebagai anak kura-kura, kalau tidak, ya bukan. Dan suka atau tidak engkau menjadi anak kura-kura, tergantung padamu akan mengubah peraturanmu atau tidak.”

Melihat anak muda itu sedemikian teguh pendiriannya, biarpun jiwa terancam, tapi sama sekali tidak gentar, bahkan berani memaki orang sebagai “anak kura-kura” terus-menerus, Bok Wan-jing menjadi khawatir Lam-hay-gok-sin akan murka hingga sekali hantam kepala Toan Ki bisa remuk.

Saking takutnya, air matanya bercucuran, ia berpaling ke arah lain dan tidak tega menyaksikannya.

Tak terduga Lam-hay-gok-sin menjadi terkesima oleh karena debat kusir Toan Ki tadi, ia pikir, kalau sekali hantam kubinasakan dia berarti membunuh seorang yang tak mampu membalas seranganku, dan bukankah benar-benar aku akan menjadi anak kura-kura dan keturunan haram?

Karena itulah tangannya yang terangkat tadi perlahan diturunkan kembali, sebaliknya tangan lain yang memegang kedua tangan Toan Ki diperkeras dengan mata mendelik.

Begitu kuat remasannya itu hingga Toan Ki meringis kesakitan tidak kepalang, tulang tangannya sampai berkerutukan seakan-akan patah, hampir ia jatuh pingsan.

Tapi dasar wataknya memang sangat bandel, walaupun meringis, segera ia berseru, “Aku tidak mampu membalas seranganmu, lekas kau bunuh aku saja!”

“Huh, aku justru tidak mau masuk perangkapmu! Kau ingin aku menjadi anak kura-kura dan keturunan haram, ya?” sahut Lam-hay-gok-sin.

Habis berkata, tiba-tiba ia angkat tubuh pemuda itu dan dibanting ke tanah. Keruan mata Toan Ki berkunang-kunang, isi perutnya serasa jungkir balik dan hancur luluh.

“Aku tidak mau terperangkap! Aku takkan membunuh kalian dua setan cilik ini!” demikian Lam-hay-gok-sin berkomat-kamit sendiri.

Mendadak ia membentak kepada Bok Wan-jing, “Buka kain kedokmu!”

Wan-jing merasa air mata sendiri meleleh di kedua pipi, tiba-tiba hatinya tergugah, “Dahulu pernah kunyatakan bahwa selama hidupku ini takkan menikah, kecuali bila aku menangis bagi laki-laki itu!”

Karena urusan sudah mendesak, tanpa pikir lagi segera ia memanggil Toan Ki, “Kemarilah kau!”

Dengan masih meringis kesakitan Toan Ki mendekati si nona dan tanya, “Ada apa?”

“Engkau adalah laki-laki pertama di dunia ini yang melihat wajahku!” demikian Bok Wan-jing berbisik sambil berpaling ke hadapan pemuda itu dan menyingkap kain kedoknya.

Seketika hati Toan Ki terguncang seakan-akan kena aliran listrik.

Ternyata apa yang dilihatnya itu adalah sebuah wajah cantik ayu bagai bidadari, cuma agak putih pucat, tentunya disebabkan selama ini gadis itu menutupi mukanya dengan kedok, jarang terkena cahaya matahari. Kedua bibirnya yang tipis mungil itu pun kepucat-pucatan. Namun bagi Toan Ki, rasanya gadis ini menjadi lebih harus dikasihani, lemah lembut, sama sekali tiada mirip sebagai Hiang-yok-jeh yang membunuh orang tanpa berkedip.

Kemudian Bok Wan-jing menutup kedoknya lagi dan berkata kepada Lam-hay-gok-sin, “Nah, sekarang jika kau ingin melihat mukaku, harus kau minta izin dulu kepada suamiku.”

“Hah, kau sudah bersuami?” Gok-sin menegas dengan heran. “Siapakah suamimu itu?”

“Aku pernah bersumpah bahwa laki-laki mana saja yang pertama kali melihat wajahku, kalau aku tidak membunuh dia, maka aku harus menikah padanya,” sahut Wan-jing sambil menunjuk Toan Ki, “Kini orang ini telah melihat wajahku, aku tidak ingin membunuh dia, terpaksa aku menjadi istrinya.”

Lam-hay-gok-sin tercengang, ia berpaling dan mengamat-amati Toan Ki

Toan Ki merasa kedua mata orang yang kecil mirip kacang kedelai itu sedang memandang dirinya, dimulai dari ujung rambut sampai ke kaki, dan dari jari kaki kembali ke ubun-ubun, keruan Toan Ki menjadi risi dan merinding pula, khawatir kalau orang menjadi kalap dan sekali hantam membinasakan dirinya.

Siapa tahu mendadak mulut Lam-hay-gok-sin tiada hentinya berkecek-kecek memuji, katanya, “Ck-ck-ck-ck, bagus sekali, bagus sekali! Coba kau menghadap ke sini!”

Toan Ki tidak berani membangkang, ia menurut dan berputar ke hadapan orang.

“Ehm, benar-benar hebat, benar-benar cakap! Sangat mirip aku, sangat mirip aku!” demikian kembali Lam-hay-gok-sin memuji.

Mendengar ucapan yang tak jelas ujung pangkalnya itu, Bok Wan-jing dan Toan Ki sama heran, pikir mereka, “Ilmu silatmu memang benar tiada bandingannya, tapi rupamu jelek, bagian manakah yang mirip dengan Toan Ki yang tampan?”

Tiba-tiba Lam-hay-gok-sin melompat ke samping Toan Ki, ia raba-raba tulang kepala belakang pemuda itu, lalu pijat-pijat tangan dan kakinya, kemudian meremas-remas pula pinggangnya.

Keruan Toan Ki merasa geli seakan-akan dikilik-kilik, hampir saja ia berteriak tertawa. Tapi ia dengar Lam-hay-gok-sin sedang terbahak-bahak dan berkata, “Kau sangat mirip aku, ya, sangat mirip aku!”

Berbareng itu tangan Toan Ki digandengnya sambil berkata pula, “Marilah ikut padaku!”

“Locianpwe suruh aku ke mana?” tanya Toan Ki dengan bingung.

“Ke istana Gok-sin-kiong di pulau Gok-to, di lautan selatan,” sahut Gok-sin. “Aku telah menerima dirimu sebagai murid, lekas kau menjura padaku!”

Hal ini sungguh di luar dugaan Toan Ki, keruan ia kelabakan, “Ini … ini ….”

Akan tetapi Lam-hay-gok-sin tidak mau tahu ini itu, saking senangnya ia berjingkrak-jingkrak seakan-akan orang putus lotre hadiah pertama, katanya, “Tangan dan kakimu panjang, tulang kepalamu bagian belakang menonjol keluar, tulang pinggangmu lemas, kau pintar dan cerdik, aku yakin bakatmu sangat baik, umurmu belum banyak lagi, benar-benar suatu bakat pilihan untuk belajar silat. Lihatlah ini, bukankah tulang kepalaku ini sama seperti kau?”

Sembari berkata, ia terus membalik tubuhnya.

Benar juga, Toan Ki melihat tulang kepala belakang orang memang sangat mirip dengan dirinya.

Buset! Jadi apa yang dimaksudkan “sangat mirip aku” tadi tidak lebih disebabkan persamaan sekerat tulang kepala belakang belaka!

Dalam pada itu Lam-hay-gok-sin telah putar tubuh lagi, katanya dengan berseri-seri, “Lam-hay-pay kita selamanya ada suatu peraturan, yaitu setiap turunan hanya satu guru satu murid. Muridku yang sudah mati itu, Sun He-khek, tulang kepalanya tidak sebagus kau punya, kepandaiannya juga tiada dua bagian yang diterimanya dari ajaranku, kini dia sudah mati, biarlah, daripada sekarang aku repot membunuhnya, mendingan aku menerima kau sebagai murid saja.”

Toan Ki bergidik oleh ucapan itu. Pikirnya, sifat orang ini sedemikian biadabnya, bila ada orang yang dipenujui olehnya, murid lantas akan dibunuhnya juga. Jangankan dirinya memang tidak sudi belajar silat, sekalipun mau juga tidak nanti mengangkat orang demikian sebagai guru.

Tapi Toan Ki juga tahu bila secara tegas menolaknya sekarang, seketika malapetaka pasti akan menimpa dirinya.

Tengah ia bingung tak berdaya, sekonyong-konyong terdengar Lam-hay-gok-sin membentak, “Kalian lagi berbuat apa main sembunyi-sembunyi di situ? Ayo, semuanya menggelinding kemari!”

Maka tertampaklah dari semak-semak pohon sana muncul tujuh orang.

Su An, Hui-sian, Cin Goan-cun termasuk di antaranya. Menyusul dari sebelah kiri sana juga menongol dua orang, mereka adalah Co Cu-bok dan Siang-jing dari “Bu-liang-kiam.”

Kiranya sesudah Lam-hay-gok-sin naik ke atas tebing itu, Toan Ki tidak bisa menimpuk batu dan merintangi mereka lagi, maka kesempatan itu telah digunakan orang-orang itu untuk memanjat ke atas. Empat orang lagi di antara rombongan Su An itu adalah para Cecu (gembong-gembong) dari Hok-gu-ceh, semuanya jago terkenal dari kalangan Hek-to (hitam) yang kerjanya merampok dan membegal.

Meski orang-orang itu bersembunyi di tengah semak-semak dengan menahan napas, namun mana bisa mengelabui telinga Lam-hay-gok-sin yang tajam?

Tapi dasar orang aneh ini lagi senang karena memperoleh seorang murid berbakat bagus seperti Toan Ki, seketika ia tidak menjadi marah, dengan masih berseri-seri ia memelototi Co Cu-bok dan lain-lain, lalu membentak, “Ada apa kalian naik ke sini? Apakah hendak mengaturkan selamat padaku karena baru menerima seorang murid bagus?”

Dengan tabahkan diri, Jicecu (gembong kedua) dari Hok-gu-ceh yang bernama Coh Thian-koat menjawab, “Kami ingin menangkap perempuan hina si Hiang-yok-jeh ini untuk membalas sakit hati saudara kami.”

“Tidak, tidak boleh!” seru Gok-sin sambil goyang kepala. “Hiang-yok-jeh adalah istrinya muridku, lekas kalian enyah semua!”

Keruan semua orang sama melongo heran sambil saling pandang.

“Tidak, aku tak mau mengangkatmu sebagai guru, sudah lama aku mempunyai guru,” seru Toan Ki tiba-tiba.

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, bentaknya, “Siapakah gurumu? Apakah kepandaiannya bisa lebih tinggi daripadaku?”

“Kepandaian guruku itu kuyakin sedikit pun tak dapat kau bandingi,” sahut Toan Ki. “Coba, apakah kau paham intisari ‘Kong-yang-thoan’? Apa pernah kau belajar ilmu ‘Ciong-ting-kah-kut’ segala?”

Lam-hay-gok-sin garuk-garuk kepala, sebab dia memang tidak kenal apa itu, “Kong-yang-thoan” segala, bahkan dengar pun belum pernah.

Melihat wajah orang mengunjuk rasa bingung, diam-diam Toan Ki merasa geli, ia pikir ilmu silat orang ini sangat tinggi, tapi otaknya ternyata bebal, segera katanya lagi, “Makanya, kebaikan Locianpwe biarlah kuterima di dalam hati saja, kelak aku akan mengundang guruku untuk coba-coba bertanding dengan Locianpwe, bila Locianpwe dapat mengalahkannya, barulah aku mau mengangkat engkau sebagai Suhu.”

“Siapa Suhumu? Masakan aku jeri padanya? Ayo, tetapkan kapan harus bertanding?” teriak Gok-sin dengan gusar.

Padahal apa yang diucapkan Toan Ki itu hanya sekadar untuk mengulur waktu saja, siapa duga orang benar-benar minta diadakan janji bertanding.

Keruan ia tak bisa menjawab.

Tengah bingung tak berdaya, tiba-tiba dari jauh sana terdengar kumandang suara suitan orang yang panjang bagai auman naga, suara itu bergelombang tak terputus-putus melintasi lereng gunung.

Kalau tadi Toan Ki merasa ngeri dan seram oleh suara suitan Lam-hay-gok-sin yang melengking tajam itu, adalah suara suitan sekarang ini kedengarannya keras tenang dan kuat mengguncangkan lembah gunung, sedikit pun tidak kalah hebatnya daripada suara Lam-hay-gok-sin tadi.

Mendengar suara ini tiba-tiba Gok-sin keplak batok kepala sendiri sambil berseru, “Haya, orang ini sudah tiba, aku tidak sempat banyak bicara lagi denganmu. Nah, kapan gurumu akan Pi-bu (bertanding silat) denganku dan di mana tempatnya? Ayo, lekas katakan, lekas!”

“Wah, aku … aku tidak enak me … mewakili guruku mengadakan perjanjian dengan engkau,” sahut Toan Ki tergegap-gegap. “Apalagi sekali engkau sudah pergi, orang-orang ini tentu akan membunuh kami berdua, lalu cara bagaimana aku akan memberitahukan hal ini pada guruku?”

Sembari berkata, ia tuding-tuding Hui-sian dan lain-lain.

Mendengar itu, tanpa menoleh Lam-hay-gok-sin membaliki tangan kiri meraup ke belakang, seketika tangan Coh Thian-koat, Jicecu dari Hok-gu-ceh itu kena dipegangnya, menyusul tangan kanan Gok-sin menjojoh pula ke belakang, “cret”, kelima jarinya menancap masuk dada Coh Thian-koat, kontan terdengar jeritan ngeri gembong Hok-gu-ceh itu.

Waktu tangan kanan Lam-hay-gok-sin ditarik kembali, di tengah tangannya yang berlumuran darah itu sudah memegang sepotong hati manusia.

Kedua kali gerakan Lam-hay-gok-sin itu cepat bukan main, percuma saja Coh Thian-koat memiliki kepandaian tinggi, sedikit pun ternyata tak mampu dikeluarkan. Keruan semua orang yang menyaksikan itu sama melenggong kesima.

Buah hati manusia tadi oleh Lam-hay-gok-sin terus dimasukkan ke mulutnya, “kruk”, ia gigit sekali dan dikunyah dengan lezatnya bagai makan mentimun saja.

Sungguh pedih dan gusar tidak kepalang ketiga Cecu yang lain dari Hok-gu-ceh. Berbareng mereka meraung murka terus menubruk maju. Akan tetapi sama sekali Lam-hay-gok-sin tidak berpaling, bahkan mulutnya masih terus makan dengan lezatnya, sedang kaki kanan lantas mendepak tiga kali sekaligus ke belakang.

Kontan tertampak tubuh ketiga Cecu dari Hok-gu-ceh itu mencelat ke udara dan jatuh ke dalam jurang semua. Suara jeritan ngeri yang berkumandang di angkasa lembah pegunungan itu dan membuat Toan Ki merinding.

Menampak betapa ganas dan buasnya Lam-hay-gok-sin, ilmu silatnya sedemikian lihai pula, Hui-sian, Co Cu-bok dan lain-lain menjadi jeri dan menyurut mundur ketakutan.

Sambil mulutnya masih mengunyah sisa hati manusia tadi, samar-samar Lam-hay-gok-sin berseru pula, “Locu tidak cukup hanya makan sebuah hati, aku masih … masih inginkan yang kedua, siapa yang larinya paling lambat, dia itulah akan menjadi mangsaku.”

Mendengar itu, takut Co Cu-bok, Siang-jing, Cin Goan-cun dan lain-lain bukan buatan, sukma mereka hampir terbang ke awang-awang, cepat saja mereka berebut melarikan diri, begitu sampai di tepi jurang, tanpa pikir lagi mereka memberosot ke bawah begitu saja.

Hanya Oh-pek-kiam Su An saja yang masih tinggal di situ dengan mata mendelik sambil menghunus pedang, katanya dengan gagah berani, “Di dunia ini ternyata ada manusia sekejam dan seganas ini, sungguh melebihi binatang. Bila aku Su An juga takut mati dan melarikan diri, ke manakah mukaku harus ditaruh kalau berkelana di Kangouw lagi?”

Habis berkata, ia sentil batang pedangnya hingga berbunyi mendengung, bukannya mundur, sebaliknya melangkah maju dan membentak, “Awas pedang!”

Tanpa bicara lagi ia menusuk dada Lam-hay-gok-sin.

Di bawah cahaya matahari yang terang benderang itu, sinar pedang gemerlapan menyilaukan mata, tapi Lam-hay-gok-sin anggap seperti tidak melihatnya saja, ia asyik menikmati penganannya sendiri yang istimewa itu.

Ujung pedang Su An tampaknya sudah akan menembus dadanya, segera Su An kerahkan tenaga lebih kuat. “Kret”, ternyata bukan dada Lam-hay-gok-sin yang tertembus, melainkan pedang Su An yang patah menjadi dua.

Sungguh luar biasa, tubuh Lam-hay-gok-sin itu ternyata kebal, tidak mempan senjata. Meski pedang Su An itu bukan Po-kiam atau pedang pusaka, tapi juga tergolong senjata pilihan yang sangat tajam. Keruan ia kaget, cepat ia melompat mundur sambil melolos pedang yang lain.

“Apakah kau ini Oh-pek-kiam Su An?” tanya Lam-hay-gok-sin.

“Benar,” sahut Su An. “Kalau orang she Su hari ini tewas di tangan manusia buas seperti kau, kelak pasti ada yang menuntut balaskan.”

Ia tahu ilmu sendiri terpaut sangat jauh dengan lawan dan pasti bukan tandingannya. Namun sedikit pun ia tidak gentar, ia sudah ambil keputusan, bila akhirnya tetap kalah, segera ia akan bunuh diri dan terjun ke bawah jurang daripada jatuh di tangan musuh dan dimakan hatinya.

Saat itu Lam-hay-gok-sin baru menjejalkan sisa hati manusia tadi ke dalam mulutnya, lalu berkata, “Oh-pek-kiam Su An, ehm, sudah lama kudengar namamu. Lam-hay-gok-sin justru paling suka makan buah hati Enghiong-hohan (orang gagah dan kaum kesatria), sebab lebih lezat daripada hati manusia pengecut yang tak berguna. Hahaha, tentu boleh juga hati manusia Su An ini!”

Habis berkata, sekonyong-konyong tubuhnya melejit ke depan secepat panah. Segera Su An memapak dengan tusukan pedang ke tenggorokan lawan.

Tapi sedikit Lam-hay-gok-sin egos kepala, tahu-tahu bahu Su An kena dicengkeramnya.

Seketika Su An merasa separuh tubuhnya kaku pegal, sepenuh sisa tenaga ia ketok-ketok batok kepala orang dengan gagang pedangnya, “tak”, bukannya kepala lawan yang pecah, tapi pedangnya yang hitam mulus itu terpental dan tangannya terluka oleh getaran itu.

Dalam kejutnya Su An meronta sebisanya terus hendak terjun ke bawah jurang, namun sekali lengan sudah terpegang oleh Lam-hay-gok-sin, mana bisa terlepas begitu saja.

Dalam keadaan bahaya, tiba-tiba di angkasa raya berkumandang lagi suara suitan macam naga berbunyi, menyusul suara seorang berkata, “Hiong-sin-ok-sat Gak-losam, apa kau takut, maka tidak berani kemari?”

Suara itu berkumandang dari jauh, tapi kedengarannya orangnya seperti berada di dekat situ.

“Huh, selama hidup Gak-losam pernah gentar kepada siapa? Segera kudatang ke situ!” sahut Lam-hay-gok-sin dengan keras. Sembari berkata, tangannya terangkat terus hendak mencakar dada Su An.

Dalam keadaan begitu, Su An hanya pejamkan mata menunggu ajal saja.

Untunglah mendadak Toan Ki berseru, “Locianpwe, hati orang ini berbisa, jangan kau makan!”

Lam-hay-gok-sin tertegun, tanyanya, “Dari mana kau tahu?”

“Kemarin dulu orang ini berani main gila pada Sin-long-pang, maka Sikong-pangcu telah cekoki dia dengan Toan-jiong-san dan Hui-sim-tan (pil pembusuk hati),” demikian Toan Ki sengaja mengibul. “Dan kemarin dia bermusuhan lagi dengan Bok-kohnio hingga kena dipanah sekali oleh nona Bok dengan panahnya yang beracun, mungkin saat ini racun sudah mulai merasuk ke dalam hatinya. Apalagi pagi tadi dia kena digigit pula sekali oleh seekor ular emas kecil ….”

“Apakah Kim-leng-cu?” sela Lam-hay-gok-sin.

“Benar, Kim-leng-cu!” sahut Toan Ki sembari melepaskan Jin-leng-cu dari pinggangnya, lalu menyambung, “Lihat ini, Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu selalu berada bersama. Bisa binatang kecil ini teramat lihainya, sekalipun Lwekang Locianpwe sangat tinggi dan tidak takut terkena racun, tapi hati orang ini tentu sejak tadi sudah membusuk dan tak enak dimakan, jangan-jangan malah akan bikin sakit perut Locianpwe nanti!”

Ada benarnya juga pikir Lam-hay-gok-sin. Segera ia lemparkan Su An ke samping, lalu katanya kepada Toan Ki, “Kau bocah ini meski belum resmi mengangkat guru padaku, tapi kau ternyata sudah baik hati terhadap gurumu.”

Sekonyong-konyong suara raungan aneh tadi berjangkit lagi dengan keras dan sahut-menyahut bagai paduan suara raungan binatang buas dan gesekan logam yang mengilukan perasaan dan memekak telinga.

Cepat Lam-hay-gok-sin mengeluarkan suaranya yang mirip hantu merintih, sekali lompat, tahu-tahu ia terjun ke bawah jurang.

Kejut dan girang Toan Ki, pikirnya, “Mampus kau sekarang melompat ke dalam jurang!”

Cepat ia berlari-lari melongok ke tepi jurang, ia lihat si malaikat buaya dari laut selatan itu lagi berlompatan ke bawah, sekali lompat belasan tombak jauhnya, tangannya digunakan menahan dinding jurang, habis itu tubuhnya menurun pula ke bawah dan begitu seterusnya hingga akhirnya bayangannya lenyap di balik awan yang menutupi jurang itu.

Toan Ki melelet lidah oleh kepandaian Lam-hay-gok-sin yang sukar dibayangkan itu. Ketika berpaling kembali, ia lihat Su An sedang jemput kembali pedang hitamnya dan dimasukkan sarungnya, lalu katanya sambil hormat dengan muka jengah, “Hari ini berkat pertolongan Toan-heng, sungguh aku Su An takkan melupakan budi kebaikan ini.”

“Cayhe telah mengoceh sekenanya, untuk itu masih mengharapkan Su-heng jangan marah,” sahut Toan Ki sambil membalas hormat.

“Lam-hay-gok-sin Gak Jong-liong ini tinggal di Ban-gok-to (pulau berlaksa buaya) di laut selatan, kali ini tiba-tiba datang ke Tionggoan, tentu tidak datang sendirian, mungkin masih banyak begundal yang dibawanya,” kata Su An. “Konon orang ini sekali omong pasti dilaksanakan, maka sekali kalau dia penujui Toan-heng, tentu takkan berhenti begini saja. Kedatanganku merecoki istrimu sebenarnya adalah atas permintaan kawan saja, maka selanjutnya akan kuanggap selesai. Sekarang juga biar kuantar kalian suami istri turun gunung untuk menghindari gangguan begundal Lam-hay-gok-sin.”

Toan Ki menjadi merah jengah mendengar orang berulang kali menyebut “suami istri” antara dia dan Bok Wan-jing, cepat ia goyang tangan dan berkata dengan tak lancar, “Ti … tidak … bu … bukan ….”

Namun Bok Wan-jing lantas bersuara dengan dingin, “Su An, silakan kau pergi saja. Keselamatanmu sendiri saja menjadi persoalan, masih berlagak gagah perwira segala?”

Merah padam Su An oleh olok-olok itu, tanpa bicara ia putar tubuh dan tinggal pergi.

“Nanti dulu, Su-heng!” cepat Toan Ki berseru.

Namun Su An sudah ngambek, ia berlari ke tepi jurang dan memberosot turun.

Sekilas Toan Ki melihat di lereng gunung depan sana ada setitik benda kuning lagi bergerak dengan sangat cepat. Waktu ditegaskan, kiranya adalah Lam-hay-gok-sin, hanya dalam sekejap saja si malaikat buaya dari laut selatan itu sudah merayap sampai di sana.

Toan Ki kembali ke samping Bok Wan-jing dan berkata, “Apa yang dikatakan orang she Su itu bukan tiada beralasan, kenapa kau bikin menyesal dia?”

Bok Wan-jing menjadi gusar, sahutnya, “Baru menjadi suamiku, lantas hendak kau perintah aku, ya? Kalau kubunuhmu, paling-paling aku pun bunuh diri mengiringimu, apanya yang perlu dibuat ribut-ribut?”

Toan Ki tertegun, katanya pula, “Hal ini hanya untuk menipu Lam-hay-gok-sin karena keadaan mendesak tadi, kenapa kau anggap sungguhan? Mana dapat aku menjadi suami nona?”

“Apa katamu?” seru Bok Wan-jing sambil berbangkit dengan terhuyung-huyung memegangi dinding batu. “Jadi kau tidak sudi padaku? Kau cela diriku, bukan?”

Melihat nona itu sedemikian gusarnya, cepat Toan Ki berkata lagi, “Harap nona pikirkan kesehatanmu dulu, soal ucapan main-main tadi buat apa kau pikirkan dalam hati?”

“Plok”, mendadak Bok Wan-jing melangkah maju dan persen Toan Ki dengan sekali tempelengan. Tapi badannya terlalu lemah, sekali sempoyongan, ia jatuh ke pangkuan anak muda itu. Cepat Toan Ki memeluknya agar tidak roboh.

Karena berada dalam pelukan pemuda itu, teringat pula dirinya sudah diakui sebagai istri, Bok Wan-jing merasa badan menjadi hangat, rasa gusarnya ikut berkurang pula beberapa bagian, katanya kemudian, “Lekas lepaskan aku!”

Toan Ki dukung nona itu duduk bersandar dinding batu, pikirnya, “Perangainya memang sangat aneh, setelah terluka parah mungkin akan menjadi lebih ganjil lagi wataknya. Kini terpaksa kuturuti dia, apa pun dia bilang akan kuturuti saja, toh aku ….”

Ia coba menghitung-hitung dengan jari, jarak waktu bekerjanya racun Toan-jiong-san sudah dekat, ia pikir walaupun racun itu tidak jadi kumat, dirinya juga takkan mampu turun dari gunung yang dikelilingi jurang-jurang curam itu dengan hidup.

Maka dengan suara halus kemudian ia menghibur Bok Wan-jing, “Sudahlah, jangan kau marah. Yang benar, marilah kita mencari apa-apa yang dapat kita makan.”

“Di atas bukit tandus begini, apa yang dapat kita makan?” sahut Bok Wan-jing. “Biarlah aku mengaso sebentar, kalau sudah cukup kuat, akan kugendong turun ke bawah gunung saja.”

“Wah, mana … mana boleh,” seru Toan Ki sambil goyang-goyang tangan. “Untuk jalan sendiri saja engkau belum kuat, mana dapat menggendongku pula?”

“Kau lebih suka korbankan jiwa sendiri ketimbang mengingkari aku,” kata Wan-jing. “Karena itu, demi Longkun (suamiku), meskipun aku Bok Wan-jing biasanya membunuh orang tanpa berkedip juga rela berkorban untuk sang suami.”

Kata-kata itu diucapkan dengan tegas, cuma ia tidak biasa mengutarakan perasaan yang haru dan mesra itu, dengan sendirinya nadanya menjadi rada kaku, tidak sesuai dengan rasa hatinya yang penuh cinta kasih itu.

“Banyak terima kasih, biarlah engkau mengaso dulu, nanti kita bicarakan lagi.” Sampai di sini sekonyong-konyong perutnya terasa sakit, tak tertahan lagi ia menjerit, “Aduh!”

Begitu sakit perutnya itu hingga mirip disayat-sayat pisau, usus seakan-akan dipotong-potong. Dengan meringis Toan Ki menahan sakit perutnya, keringat berbutir-butir merembes keluar di jidatnya.

“He, ken … kenapa kau?” tanya Bok Wan-jing khawatir.

“Sikong … Sikong Hian dari Sin-long-pang men … mencekoki aku dengan Toan-jiong-san ….” demikian Toan Ki bertutur dengan terputus-putus.

Keruan kejut Bok Wan-jing tak terkatakan, pikirnya, “Kabarnya Sin-long-pang paling ahli menggunakan obat, jika Pangcu mereka sendiri yang memberi racun, mungkin sukar ditolong lagi.”

Ia lihat Toan Ki kesakitan hingga megap-megap, hatinya tidak tega, ia tarik pemuda itu duduk di sampingnya dan menghiburnya, “Kuatkanlah perasaanmu! Sekarang sudah baikan bukan?”

Tapi saking kesakitan sampai mata Toan Ki seakan-akan berkunang-kunang, maka dengan merintih ia berkata, “Aduh, sakitnya! Ma … makin lama main sakit!”

Si gadis mengusap keringat Toan Ki dengan lengan bajunya, ketika melihat wajah pemuda itu pucat pasi, hatinya menjadi sedih dan air mata pun berlinang-linang, katanya dengan terguguk, “Jang … jangan kau mati begini saja!”

Sembari berkata ia terus tarik kedoknya itu dan menempelkan pipi kanan sendiri ke pipi kiri Toan Ki, “O, Longkun, engkau … engkau jangan mati!”

Selama hidup Toan Ki belum pernah berdekatan dengan gadis jelita, apalagi kini setengah dirangkul Bok Wan-jing, pipi menempel pipi, terdengar pula rayuan “Longkun” yang meresap, keruan sukma Toan Ki seakan-akan terbang ke awang-awang.

Kebetulan juga saat itu sakit perutnya agak reda. Sudah tentu Toan Ki merasa berat untuk berpisah dari rangkulan si gadis, maka katanya, “Selanjutnya jangan lagi kau pakai topeng, ya?”

“Jika kau minta begitu, pasti akan kuturut,” sahut Bok Wan-jing. “Dan sekarang perutmu sudah baikan belum?”

“Sudah agak baik,” sahut Toan Ki. “Tapi ….”

“Tapi apa?” tanya Wan-jing.

“Ta … tapi kalau kau lepaskan aku, tentu akan kesakitan lagi.”

“Cis, jadi kau hanya pura-pura saja,” omel si nona dengan muka merah sambil mendorong Toan Ki.

Sebenarnya Toan Ki adalah seorang pemuda lugu dan polos, keruan ia menjadi malu juga. Ia tidak tahu cara bekerja racun Toan-jiong-san itu mula-mula agak lama baru berjangkit sekali, kemudian berjangkit makin kerap hingga akhirnya akan kesakitan tiada henti-hentinya dan orangnya akan mati.

Tadi ia salah sangka atas rayuan Bok Wan-jing yang penuh kasih manisnya madu, perasaannya terguncang hingga lupa sakit.

Sebaliknya Bok Wan-jing rada kenal sifat bekerjanya racun itu, kalau pemuda itu kesakitan terus-menerus malah masih bisa ditolong, tapi hanya kesakitan sebentar lantas berhenti, umumnya tentu terkena racun jahat yang susah disembuhkan, si penderita pasti akan tersiksa mati tidak hidup pun tidak, jauh lebih mengenaskan daripada mati.

Dan ketika melihat pemuda itu mengunjuk rasa malu, ia menjadi pedih, ia pegang tangan Toan Ki dan berkata pula, “Bila kau mati, Longkun, aku pun tidak ingin hidup sendirian, biarlah kita berdua menjadi suami istri di alam baka nanti.”

Tapi Toan Ki tidak ingin gadis itu mati setia baginya, katanya, “Tidak, tidak! Engkau harus membalaskan sakit hatiku dulu, kemudian setiap tahun sekali engkau berziarah ke kuburanku. Kuminta engkau bersembahyang di kuburanku selama berpuluh tahun, dengan demikian barulah aku dapat tenteram di alam baka.”

“Aneh juga engkau ini,” ujar Wan-jing. “Sesudah mati, apa yang bisa dirasakan lagi? Aku datang berziarah atau tidak ke kuburanmu, apa gunanya bagimu?”

“Jika begitu, bila kau mati bersamaku lebih-lebih tiada berguna,” sahut Toan Ki. “O, betapa cantiknya engkau, bila setiap tahun engkau sudi berziarah sekali ke kuburanku, kalau aku mengetahui di alam baka tentu akan senang juga hatiku melihatmu. Tapi bila engkau ikut mati bersamaku, kita sama-sama akan menjadi tulang belulang belaka, ini kan tidak bagus lagi untuk dilihat.”

Mendengar dirinya dipuji cantik, senang hati Bok Wan-jing. Tapi segera terpikir pula olehnya baru hari ini mendapatkan seorang suami yang diidam-idamkan, sekejap lagi orangnya sudah akan mati, tak tertahan air matanya segera bercucuran.

Toan Ki rangkul pinggang si nona yang ramping itu, hatinya terguncang ketika tangan menyentuh badan yang halus kenyal itu, tak tertahan lagi ia menunduk dan mengecup sekali bibir si gadis.

Mendadak ia mengendus bau harum semerbak. Ia tidak berani lama-lama mencium, cepat ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Orang menyebutmu ‘Hiang-yok-jeh’, wanginya memang nyata benar, kalau di alam halus benar-benar ada setan wangi sedemikian cantiknya, mungkin setiap laki-laki di jagat ini akan membunuh diri dan menjadi setan untuk mencari setan wangi secantikmu.”

Setelah dicium tadi, hati Bok Wan-jing masih dak-dik-duk berdebar-debar, pipi bersemu merah, muka yang tadinya kepucat-pucatan itu menjadi lebih cantik molek. Katanya kemudian, “Engkau adalah laki-laki satu-satunya di dunia ini yang pernah melihat wajahku, setelah kau mati, segera kurusak mukaku agar tak dilihat lagi oleh laki-laki kedua.”

Sebenarnya Toan Ki hendak mencegah maksud orang, tapi aneh juga, timbul semacam rasa cemburu di dalam hatinya, betapa pun ia juga tidak ingin ada laki-laki lain yang melihat lagi wajah cantik si gadis, maka kata-kata yang hampir diucapkan itu urung dikeluarkan, sebaliknya lantas tanya, “Sebab apa dahulu engkau bersumpah sekeji ini.”

“Engkau sudah menjadi suamiku, tiada alangan kuceritakan padamu,” sahut Wan-jing. “Aku yatim piatu, begitu lahir lantas dibuang orang di tepi jalan, beruntung guruku telah menolong diriku, dengan susah payah aku dibesarkan serta diberi pelajaran ilmu silat setinggi sekarang ini. Kata guruku, setiap laki-laki di dunia ini memang berhati palsu, kalau melihat wajahku, pasti aku akan digoda dan dipikat hingga terjerumus. Sebab itulah sejak kecil aku diberi kedok penutup muka. Sampai berumur 16 tahun, kecuali guruku, aku tidak pernah melihat orang lain. Dua tahun yang lalu, Suhu perintahkan aku turun gunung untuk menyelesaikan suatu urusan ….”

“Jadi tahun ini engkau berusia 18 tahun?” sela Toan Ki. “Aku lebih tua dua tahun.”

Wan-jing menganggut-anggut, katanya pula, “Waktu turun gunung, Suhu suruh aku bersumpah, bila ada orang melihat wajahku, kalau aku tidak membunuh dia harus kukawin padanya. Dan bila orang itu tidak mau memperistrikan diriku atau sesudah menikah meninggalkanku, maka aku diharuskan membunuh manusia berhati palsu itu. Kalau aku tidak turut perintah Suhu ini, sekali diketahui Suhu, beliau akan membunuh diri di hadapanku.”

Toan Ki merinding mendengar sumpah aneh itu, pikirnya, “Umumnya orang bersumpah tentu akan menyatakan bersedia dibunuh atau ditimpa malapetaka. Tapi gurunya sebaliknya mengancam hendak membunuh diri. Sumpah demikian sekali-kali tak boleh terjadi.”

“Betapa besar budi kebaikan Suhu padaku, mana boleh kubangkang perintahnya itu?” demikian Wan-jing melanjutkan. “Apalagi pesannya itu adalah demi kebaikanku sendiri. Maka tanpa pikir tatkala itu aku menurut dan bersumpah. Selama dua tahun ini, tugas yang diberikan Suhu padaku masih belum terlaksana, sebaliknya aku telah banyak mengikat permusuhan. Padahal orang-orang yang tewas di bawah pedang dan panahku itu adalah salah mereka sendiri, mereka yang lebih dulu merecoki aku karena hendak menyingkap kedok mukaku.”

Toan Ki menghela napas, baru sekarang ia mengerti duduknya perkara, mengapa seorang gadis jelita begitu bisa mempunyai musuh sedemikian banyak.

“Kenapa kau menghela napas?” tanya Bok Wan-jing.

“Agaknya mereka melihatmu selalu berada sendirian, perawakan ramping menggiurkan, tapi sepanjang tahun memakai kedok muka, saking ingin tahu mereka ingin melihat mukamu sebenarnya cantik atau jelek, padahal belum pasti mereka mempunyai maksud jahat. Siapa tahu, karena sedikit kesalahan itu, jiwa mereka sama melayang.”

“Bagiku, sudah pasti kubunuh mereka,” ujar Wan-jing. “Kalau tidak, bukankah aku harus menjadi istri manusia-manusia yang menjemukan itu? Cuma aku pun tidak pikir bahwa orang-orang itu masih banyak mempunyai sanak kadang. Satu kubunuh, lantas berekor dengan beberapa orang sobat andainya datang mencari perkara padaku. Sampai akhirnya, bahkan Hwesio dan Tosu juga ikut-ikutan menjadi musuhku. Pernah kutinggal beberapa bulan di Ban-jiat-kok, suami istri she Ciong itu cukup menghormati aku, tak terduga Ciong-hujin bisa memalsukan namaku, coba, kan tidak pantas perbuatannya itu?”

Rupanya ia menjadi letih karena banyak bicara, ia pejamkan mata mengumpulkan semangat, sebentar kemudian berkata pula, “Semula aku mengira kau pun serupa laki-laki lainnya, hanya manusia yang tidak kenal budi kebaikan. Siapa duga setelah engkau berangkat meminjam Oh-bi-kui, engkau lari kembali lagi untuk memberi kabar padaku. Hal ini sungguh tidak mudah dilakukan setiap orang. Belakangan ketika Lam-hay-gok-sin mendesak terus, terpaksa kubiarkan engkau melihat wajahku.”

Berkata sampai di sini, ia memandang Toan Ki dengan sorot mata yang penuh kasih mesra.

Keruan Toan Ki berdebar-debar, pikirnya, “Apa benar dia menjadi cinta padaku?”

Segera ia pun berkata, “Sudahlah, keadaan tadi hanya terpaksa, soal sumpahmu itu boleh juga tak perlu ditaati.”

Bok Wan-jing menjadi gusar.

“Sumpah yang pernah kuucapkan mana boleh berubah.” katanya dengan bengis. “Kalau engkau tidak sudi memperistrikan aku, lekas kau katakan terus terang, biar sekali panah kubinasakanmu, agar aku tidak melanggar sumpahku.”

Selagi Toan Ki hendak memberi penjelasan lagi, sekonyong-konyong perutnya kesakitan pula, dengan kedua tangan menahan perut, ia merintih-rintih.

“Lekas katakan, kau mau memperistrikan diriku tidak?” tanya Bok Wan-jing lagi.

“Per … perutku sakit …. Aduh! Sakit sekali!” keluh Toan Ki.

“Sebenarnya kau mau menjadi suamiku tidak?” Wan-jing mendesak pula.

Toan Ki pikir perutnya sedemikian sakit, hidupnya tentu tidak lama lagi, buat apa sebelum mati mesti melukai hati seorang nona. Maka ia pun mengangguk dan berkata, “Aku … aku mau memperistrikanmu!”

Sebenarnya Bok Wan-jing sudah siapkan panah beracun di tangan, demi mendengar jawaban Toan Ki itu, seketika girangnya tak terkatakan, dengan senyum gembira ia rangkul pemuda itu dan berkata, “O, suamiku yang baik, biarlah kupijat perutmu.”

“Tidak, tidak!” jawab Toan Ki cepat. “Kita masih belum menikah, laki-laki dan perempuan ada batasnya, ini … ini tidak boleh.”

Tergerak pikiran Bok Wan-jing tiba-tiba, katanya, “Eh, tentu kau sudah kelaparan, maka sakitnya menjadi tambah hebat. Biarlah kupotong sedikit daging keparat itu untuk kau makan.”

Habis berkata, ia berbangkit dan merayap mendekati mayat Coh Thian-koat untuk memotong dagingnya.

Keruan kejut Toan Ki tidak kepalang, seketika terlupakan sakit perutnya, cepat ia menggembor, “Jangan, jangan! Daging manusia mana boleh dimakan, biarpun mati juga aku tidak mau makan!”

“Aneh, sebab apa tak boleh dimakan?” tanya Wan-jing heran. “Bukankah Lam-hay-gok-sin tadi sudah makan buah hatinya?”

“Lam-hay-gok-sin itu teramat kejam dan buas melebihi binatang, kita mana … mana boleh kita tiru dia?”

“Ketika tinggal bersama dengan Suhu di gunung, sering kami makan daging harimau, daging menjangan. Kalau menurut pendirianmu, tentunya tak boleh dimakan juga?” kata si nona.

“Daging binatang itu dengan sendirinya boleh dimakan, tapi daging manusia tak boleh dimakan!” sahut Toan Ki.

“Apa daging manusia beracun?”

“Bukan beracun,” sahut Toan Ki. “Tapi kita kan sama-sama manusia. Engkau manusia, aku pun manusia, Coh Thian-koat juga manusia. Manusia tak boleh makan manusia.”

“Sebab apa?” tanya si gadis. “Kulihat waktu kawanan serigala kelaparan, mereka lantas makan serigala yang lain.”

“Makanya,” sahut Toan Ki gegetun. “Bila manusia pun makan manusia, bukankah tiada ubahnya seperti serigala?”

Sejak kecil Bok Wan-jing selalu berdampingan dengan sang guru, selamanya tidak pernah bergaul dengan orang ketiga, watak gurunya sangat aneh pula, biasanya tidak pernah bicara tentang urusan keduniawian dengan dia. Sebab itulah, tentang sopan santun dan peradaban manusia sedikit pun ia tidak paham.

Kini mendengar Toan Ki bilang “manusia tidak boleh makan manusia”, ia menjadi heran dan ragu.

“Engkau sembarangan membunuh orang, itu pun tidak boleh,” kata Toan Ki lagi. “Sebaliknya, bila orang lain ada kesukaran, harus kau bantu dia. Dengan demikian barulah sesuai dengan tujuan orang hidup.”

“Jika begitu, kalau aku ada kesukaran, orang lain apakah juga akan membantuku?” tanya si gadis. “Tapi kenapa orang yang kujumpai, kecuali guruku, setiap orang selalu ingin membunuh, mencelakai dan menghina aku, selamanya tiada yang baik padaku? Kalau harimau hendak menerkam dan makan aku, aku lantas membunuhnya. Begitu pula orang-orang itu, bila mereka hendak membunuh aku, dengan sendirinya kubunuh mereka, apa bedanya?”

Pertanyaan ini benar-benar membikin Toan Ki bungkam dan tak bisa menjawab, terpaksa ia berkata, “Kiranya urusan peradaban sedikit pun engkau tidak paham, kenapa gurumu membiarkan engkau turun gunung begini saja?”

“Suhu bilang kedua urusannya itu betapa pun harus diselesaikan dan tidak dapat menunggu lagi,” kata Wan-jing.

“Dua urusan apakah itu, dapatkah kau ceritakan?”

“Engkau adalah suamiku, dengan sendirinya boleh kuceritakan, kalau orang lain tentu tidak,” sahut Wan-jing. “Suhu suruh aku turun gunung untuk membunuh dua orang.”

“Ai, sudahlah!” cepat Toan Ki menyela sambil dekap telinganya. “Bicara ke sana kemari sejak tadi, kalau bukan hal makan manusia, tentu soal membunuh orang, auuuuh … aduh ….”

Kiranya perutnya mendadak terasa kesakitan lagi hingga ia menjerit.

Si gadis coba mengurut perut Toan Ki dari luar baju. Sekonyong-konyong tangannya menyentuh sesuatu yang hangat-hangat, seperti ada sesuatu barang yang bergerak-gerak.

“Apakah ini?” tanyanya terus merogoh keluar benda itu dari baju Toan Ki.

Kiranya itu adalah sebuah kotak kemala kecil. Waktu diperhatikan, di dalam kotak terdengar ada suara “krak-krok.”

Segera Wan-jing bermaksud membuka tutup kotak itu, tapi Toan Ki cepat mencegahnya, “Jangan, nona Ciong bilang tidak boleh membuka kotak ini, Jing-leng-cu sangat takut pada benda ini, begitu dibuka, segera dia akan lari.”

“Ciong Ling bilang jangan dibuka, aku justru ingin membukanya,” ujar Bok Wan-jing.

Segera ia buka tutup kotak perlahan hingga tertampak celah-celah kecil, waktu diintip di bawah sinar matahari, terlihatlah di dalam kotak itu berisi sepasang katak kecil yang antero badannya berwarna merah darah.

Begitu katak merah itu melihat cahaya, mendadak terus bersuara “koak-koak-koak” beberapa kali, suaranya keras bagai menguaknya kerbau hingga telinga orang seakan-akan pekak.

Keruan Toan Ki dan Bok Wan-jing terkejut, dan karena itu, hampir saja kotak yang dipegang Bok Wan-jing itu terjatuh.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa kedua katak sekecil itu bisa bersuara begitu keras, cepat saja ia tutup kembali kotak itu. Dan karena kotak ditutup, suara katak itu lantas berhenti.

“Ah, tahulah aku!” tiba-tiba Bok Wan-jing berseru. “Pernah kudengar cerita guruku, katanya binatang ini bernama … bernama ….” ia mengingat-ingat sejenak, lalu menyambung, “bernama Cu-hap! Ya, benar, inilah ‘Bong-koh-cu-hap’ (katak kerbau merah), adalah binatang antisegala macam ular. Ya, memang benar inilah dia, entah mengapa bisa berada pada Ciong Ling ….”

“He, lihatlah!” tiba-tiba Toan Ki berseru.

Ternyata Jing-leng-cu yang melilit di pinggangnya itu tahu-tahu jatuh ke tanah terus meringkuk dengan lemas, sedikit pun tidak berani bergerak. Kim-leng-cu yang tadi sudah menyusup ke semak-semak rumput itu, kini pun merayap keluar bersama beberapa ekor ular kecil, semuanya meringkuk di situ tanpa bergerak sedikit pun seakan-akan lagi memberi sembah kepada kotak kemala.

Bok Wan-jing menjadi girang, katanya, “Hah, sepasang katak kecil ini ternyata bisa memanggil ular, sungguh menarik sekali, marilah kita coba-coba lagi!”

“Jangan!” cepat Toan Ki mencegah, “demikian banyak ularnya, apakah tidak menjemukan?”

“Kita memegang kedua ekor katak ini, betapa banyak ular berbisa juga kita tidak takut,” ujar Wan-jing. Habis itu, kembali ia buka sedikit kotak kemala dan segera sepasang “Bong-koh-cu-hap” itu menguak lagi dengan ramainya.

“Bagus juga nama binatang ini, suaranya memang mirip banteng menguak,” kata Toan Ki dengan tertawa geli.

“Kau bilang apa?” tanya Bok Wan-jing.

Kiranya suara Toan Ki itu kalah kerasnya daripada suara menguaknya katak-katak itu, biarpun si gadis berada di depannya juga tidak jelas ucapan anak muda itu.

Toan Ki hanya goyang-goyang tangan sambil mendengarkan suara menguak katak-katak itu yang semakin keras, ketika diperhatikan, di antara suara ngorek katak-katak itu terseling pula suara mendesis-desis.

Tiba-tiba Wan-jing menarik baju Toan Ki dan menunjuk ke kiri. Pandangan Toan Ki menjadi silau seketika, belasan ular yang beraneka warnanya gemilapan terkena sinar matahari sedang merayap datang dengan cepat sekali.

Bahwasanya katak-katak merah itu bisa memanggil ular memang sudah diduga oleh Toan Ki, tapi hanya dalam sekejap itu bisa datang ular sebanyak itu, betapa pun ia terkejut.

Cepat ia jemput dua potong batu untuk persiapan bila perlu.

Tidak lama, dari sebelah kanan datang pula segerombol ular dengan macam-macam warnanya, merah, kuning, hitam, putih, loreng dan sebagainya, yang besar sampai 2-3 meter, yang kecil hanya belasan senti saja.

Sudah banyak Toan Ki melihat ular, tapi kalau digabungkan seluruhnya, rasanya tiada satu bagian daripada jumlah yang dilihatnya sekarang.

Beribu ekor ular itu merayap sampai di depan kedua muda-mudi itu, lalu mendekam di tanah tanpa bergerak, kepala menjulai ke bawah dengan jinak, sedikit pun tidak berani menegak sebagaimana biasanya kalau hendak memagut orang.

Menghadapi ular sebanyak itu dengan bau amis yang memuakkan, tanpa terasa Bok Wan-jing menjadi jeri juga, pikirnya, “Katak ini menguak terus, mungkin ular-ular yang lain akan membanjir lagi. Untuk memanggil ular adalah gampang, hendak mengusirnya nanti mungkin susah.”

Maka cepat ia tutup kembali kotak kemala itu.

Walaupun suara menguak katak-katak merah itu sudah berhenti, tapi kawanan ular itu tetap tidak bergerak.

Aneh juga, biarpun sebanyak itu ularnya, namun tiada seekor pun yang berani mendekati Toan Ki berdua dalam jarak lingkaran kira-kira tiga meter.

“Mari kita coba keluar sana!” ajak Wan-jing sambil memayang Toan Ki.

Dan baru mereka melangkah satu tindak ke depan, beratus ekor ular di depan mereka lantas menyingkir ke pinggir, biarpun ular yang paling besar dan menakutkan juga menggeser mundur dengan jeri.

Waktu mereka melangkah maju beberapa tindak lagi, kembali kawanan ular itu menyingkir dan memberi jalan.

Bok Wan-jing menjadi girang, katanya, “Menurut Suhuku, katanya Bong-koh-cu-hap ini adalah makhluk ajaib dari alam semesta ini, beliau juga cuma kenal namanya, tapi belum pernah melihat wujudnya.”

Habis berkata, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia tanya pada Toan Ki, “Benda mestika sedemikian pentingnya, mengapa si anak dara Ciong Ling itu rela memberikannya padamu?”

Melihat sinar mata si gadis menyorot aneh, cepat Toan Ki menjawab, “Ia … ia hanya meminjamkannya padaku. Ia bilang dengan membawa kotak ini, Jing-leng-cu akan turut pada perintahku.”

Baru selesai ia berkata, sekonyong-konyong perutnya kesakitan lagi, begitu melilit sampai batu yang dipegangnya terjatuh di tanah, badan gemetar dan sempoyongan.

Lekas Bok Wan-jing memayangnya duduk di samping batu tadi. Saking kesakitan, bibir Toan Ki sampai pecah digigit sendiri, lengan Wan-jing yang dipegangnya matang biru karena diremas dengan kuat.

Sungguh kasih sayang Bok Wan-jing sukar dilukiskan, tiba-tiba ia ingat sesuatu, katanya, “Longkun, perutmu makin lama makin sakit, melihat gelagatnya lebih banyak celaka daripada selamatnya.”

“Ya, aku … aku tidak … tidak tahan lagi,” demikian Toan Ki merintih-rintih. “Lekas … lekas kau bunuh aku saja.”

“Pernah kudengar dari Suhu, katanya ada racun sangat lihai yang tak dapat ditolong,” kata Wan-jing pula. “Tapi kalau pakai racun lain untuk menggempur racun itu, hasilnya akan sangat mujarab. Sekarang apakah kau berani menelan beberapa buah kepala ular berbisa?”

Saat itu yang diharapkan Toan Ki secepatnya mati saja, maka tanpa pikir lagi ia menjawab, “Segala apa pun boleh, lekas beri makan padaku!”

Segera Bok Wan-jing mengeluarkan sebilah pisau dan memotong leher seekor ular berbisa di depannya.

Walaupun disembelih terang-terangan, namun ular itu sedikit pun tidak berani melawan. Maka dengan mudah saja berturut-turut Bok Wan-jing memotong tiga buah kepala ular berbisa yang berbentuk segitiga, ia siapkan di bibir Toan Ki dan berkata, “Nih, telan lekas!”

Dengan mata terpejam, Toan Ki telan mentah-mentah ketiga kepala ular itu.

Ketiga ular yang dipilih Bok Wan-jing itu semuanya adalah ular loreng yang paling berbisa. Maka dalam sekejap saja Toan Ki merasa perutnya bertambah melilit bagai dipuntir-puntir, ia tidak tahan lagi, ia berguling-guling di tanah, akhirnya hanya berkelojotan saja dengan napas tersengal-sengal.

Keruan Bok Wan-jing sangat terkejut, cepat ia periksa nadi pemuda itu, ia merasa denyutnya semakin lemah, ia tahu cara pengobatannya itu bukan menolong, sebaliknya mempercepat matinya sang suami. Saking pedihnya, air matanya bercucuran, ia rangkul leher Toan Ki dan meratap, “O, Longkun, pasti akan kuiringi kepergianmu!”

Toan Ki hanya goyang kepala saja tak sanggup bersuara lagi.

Tiba-tiba pisau Bok Wan-jing bekerja lagi, tiga buah kepala ular berbisa dipotongnya pula untuk ditelan sendiri. Tapi mulutnya terlalu sempit untuk dimasuki kepala ular, pikirnya, “Racun ular berada pada air liurnya, biarlah kuisap saja.”

Segera ia kecup kepala ular itu dan mengisap liurnya yang berbisa. Tapi baru sebuah kepala ular itu diisapnya sudah terasa mata berkunang-kunang dan kepala pusing, akhirnya jatuh pingsan.

Melihat si nona rela berkorban baginya, seketika tak keruan rasa hati Toan Ki, sungguh tak tersangka olehnya bahwa seorang “iblis wanita” yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip itu bisa jatuh cinta sedalam ini kepadanya.

Segera ia meronta sekuatnya untuk merangkul Bok Wan-jing, ia merasa perut kesakitan pula, akhirnya ia tak sadarkan diri lagi.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: