Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 7

Entah lewat berapa lama, perlahan Toan Ki siuman, waktu membuka mata, ia menjadi silau oleh cahaya matahari, kembali ia pejamkan mata lagi. Tapi segera terasa dirinya dirangkul sesosok tubuh yang lunak hangat. Ia membuka mata lagi untuk melihat, ternyata muka Bok Wan-jing yang putih pucat itu masih bersandar di dadanya.

Ia membatin, “Setelah kami menuju akhirat, ternyata masih berada bersama, suatu tanda bahwa cerita tentang alam halus segala bukanlah dongeng belaka.”

Tiba-tiba ia dengar di tempat agak jauh sana ada suara orang lagi berkata, “Jika binatang melata ini merintangi jalan kita, marilah kita menggunakan Am-gi!”

Tapi seorang telah membentaknya, “Jangan! Sin-kun suruh kita menawannya hidup-hidup, kalau mencelakai dia, apakah tidak takut dimarahi Sin-kun?”

Waktu Toan Ki memandang ke arah datangnya suara itu, ia lihat ada empat laki-laki berbaju kuning lagi berdiri di tepi jurang situ, tangan mereka membawa tangkai kayu sedang menuding dirinya. Tampaknya sangat jeri pada ular yang merayap di situ, maka tidak berani mendekat.

Ketika Toan Ki memandang lagi sekelilingnya, ia lihat dirinya dilingkari kawanan ular yang lagi merayap-rayap, cahaya sang surya terang benderang, suasana demikian tiada ubahnya seperti waktu dirinya “mati” tadi, seketika pikirannya tergerak, “He, jangan-jangan aku tidak jadi mati?”

Segera ia merasa badan Bok Wan-jing yang berada di pangkuannya itu masih lunak-lunak hangat, napasnya mengeluarkan bau harum yang semerbak, nyata, gadis itu pun selamat tak kurang suatu apa pun.

Saking girangnya, terus saja Toan Ki berteriak-teriak, “Hura, aku belum mati, aku tidak mati!”

Keempat laki-laki berbaju kuning itu memang sudah lama menunggu di situ, soalnya karena dirintangi kawanan ular, maka tidak berani mendekat. Ketika mendadak mendengar teriakan Toan Ki, mereka menjadi kaget juga.

Dalam pada itu, dengan bersuara perlahan Bok Wan-jing juga sudah siuman, begitu membuka mata, segera ia tanya perlahan, “Longkun, apa kita sudah sampai di akhirat!”

“Tidak, tidak, engkau belum mati, aku pun tidak mati! Sungguh ajaib sekali bukan?” seru Toan Ki.

“Sekarang belum mati, kalau ingin mati sebentar lagi masih belum telat!” bentak seorang laki-laki berbaju kuning tadi. “Ayo lekas kemari, Sin-kun panggil kau!”

Sudah sekarat, kini dapat hidup kembali, tentu saja girang Toan Ki tidak kepalang. Mana ia mau gubris gemboran orang itu? Segera ia berkata pula kepada Bok Wan-jing, “Sungguh aneh bin ajaib, kita ternyata tidak jadi mati, bahkan sakit perutku juga sudah sembuh. Caramu menyerang racun dengan racun itu ternyata sangat manjur. Eh, lukamu sendiri sudah baik belum?”

Ketika Wan-jing geraki badannya, ia merasa luka di punggungnya kesakitan lagi. Tapi hal mana tidak mengurangi rasa girangnya yang luar biasa, sahutnya dengan tertawa, “Lukaku bukan keracunan, maka racun ular ini tidak bisa menyembuhkan luka luar ini. Ternyata kita berdua tidak mati oleh racun ular, tampaknya kita berdua jauh lebih lihai daripada ular berbisa!”

Nyata Toan Ki dan Bok Wan-jing yang tidak luas pengetahuannya itu tidak tahu bahwa racun ular itu baru bisa mencelakai orang bila masuk ke dalam darah melalui suatu luka. Tapi kalau dimakan ke dalam perut, asal di antara mulut, lidah, tenggorokan dan usus tiada sesuatu luka, racun ular itu tiada berbahaya sama sekali. Sebab itulah, makanya bila orang dipagut ular berbisa, orang berani mengisap racun dari luka pagutan itu tanpa ikut keracunan.

Kini secara ngawur kedua muda-mudi itu sembarangan menelan kepala ular dan mengisap racun ular, sebaliknya malah membawa hasil yang di luar dugaan mereka.

Toan-jiong-san yang lihai itu benar-benar lenyap digempur oleh racun tiga buah kepala ular yang dimakan Toan Ki itu. Cuma mereka sudah tak sadarkan diri selama semalam suntuk, kini sudah menginjak esok pagi hari kedua.

Sementara itu seorang laki-laki baju kuning di antaranya yang berperawakan paling tinggi di sana sedang membentak lagi, “Hai, kedua bocah itu, lekas kalian ke sini!”

Perlahan Bok Wan-jing berbangkit dari pelukan Toan Ki, dengan wajah yang masih tersenyum simpul, mendadak ia sambar seekor ular di tanah terus dilemparkan ke arah laki-laki itu.

Keruan laki-laki itu kaget, cepat ia berkelit. Di luar dugaan, Bok Wan-jing menyambar dan menimpuk lagi berulang-ulang dengan ular berbisa di sekitarnya itu. Tentu saja keempat laki-laki itu kelabakan dihujani ular sebanyak itu, sambil berteriak kaget diseling caci maki, mereka menghindar kian kemari sembari putar tangkai kayu untuk menyampuk.

Begitu terlepas dari pengaruh “Bong-koh-cu-hap”, ular-ular berbisa itu seketika bergerak dengan gesit sekali, dua ekor di antaranya yang berbuntut panjang terus membelit di atas batang kayu yang disabetkan itu, menyusul terus melejit maju untuk memagut. Seketika seorang baju kuning kena gigit mukanya dan tak terlepas lagi.

Sementara itu Bok Wan-jing masih terus melemparkan ular, keruan laki-laki berbaju kuning itu semakin kelabakan, sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri, laki-laki yang bertubuh paling tinggi tadi saking gugupnya telah tergelincir ke dalam jurang.

Seorang lagi menjadi kaget hingga lehernya kena digigit ular berbisa yang lain. Rupanya racun ular ini teramat jahatnya, yang digigit adalah pembuluh darah besar di leher, kontan saja orang itu menggeletak binasa.

Sisa seorang lagi bertubuh pendek kecil, tapi gerak-geriknya sangat lincah dan gesit. Belasan ular yang ditimpukkan Bok Wan-jing dapat dihindarkan. Tapi begitu ular itu jatuh ke tanah, segera merayap dan menggigit pula bagian kakinya.

Laki-laki itu benar-benar hebat juga, ia bisa menghindar kian kemari dengan cekatan sekali, namun keadaannya makin lama juga makin berbahaya.

“Lekas turun ke bawah, jiwamu akan diampuni!” seru Toan Ki.

“Sekali sudah turun tangan, tidak kenal ampun lagi!” ujar Bok Wan-jing. Berbareng empat ular dilemparkan sekaligus.

Saat itu orang berbaju kuning lagi sibuk menghindari pagutan ular di tanah, ia sudah mundur sampai di tepi jurang, maka timpukan keempat ular itu terang tak dapat dihindarkannya.

Mendadak serangkum angin keras menyampuk dari belakang, seketika belasan ular di sekitar laki-laki itu tersapu jauh ke depan, menyusul sesosok bayangan kuning melayang ke atas karang, sekali dorong, laki-laki baju kuning tadi kena disodok ke tempat luang yang ditinggalkan kawanan ular itu.

Orang yang baru melompat ke atas itu mengekek tawa tiga kali dan berdiri di tempatnya dengan mata jelalatan, siapa lagi dia kalau bukan Lam-hay-gok-sin.

Ketika laki-laki baju kuning itu dapat berdiri tegak dan melihat yang datang itu adalah malaikat buaya laut selatan, ia ketakutan setengah mati, ia hanya sanggup menyebut, “Sin-kun!”

Pikirnya hendak berlutut, tapi saking ketakutan, badannya gemetar sedemikian rupa hingga serasa lumpuh, hendak berlutut pun tak bisa lagi.

Melihat Lam-hay-gok-sin datang kembali, seketika wajah Toan Ki dan Wan-jing sama berubah.

“Kusuruh kau tangkap bocah she Toan ini, kenapa sampai sekian lamanya masih belum terlaksana?” kata Lam-hay-gok-sin pada laki-laki baju kuning tadi. “Apa barangkali kau hendak melarikan diri, ya?”

Saking ketakutan, gigi orang itu sampai gemertukan, sahutnya dengan tak lancar, “Hamb … hamba ti … tidak ….” sampai di sini, ia tidak sanggup lagi meneruskan saking gemetarnya.

Tiba-tiba Lam-hay-gok-sin sedikit bergerak, tidak jelas cara bagaimana dia melangkah maju, tahu-tahu dada laki-laki itu sudah dijambretnya terus diangkat, ia terkekeh-kekeh beberapa kali, mendadak tangan yang lain menjambak rambut laki-laki itu, sekali puntir, “kriut”, buah kepala orang itu dipuntir patah mentah-mentah.

Kontan saja darah segar muncrat dengan derasnya hingga membasahi antero tubuh Lam-hay-gok-sin, tapi sedikit pun iblis aneh itu tidak ambil pusing, bahkan tampak sangat senang.

“Kepala anjing!” dampratnya kepada kepala yang patah itu, dan sekali lempar, kedua potong mayat itu dilemparkan ke jurang.

Mendadak ia hantam ke depan lagi, di mana angin pukulannya menyambar, kawanan ular itu terpaksa menyingkir jauh ke pinggir, dengan langkah lebar ia melangkah maju.

Cepat Bok Wan-jing menarik Toan Ki hendak menyingkir, tapi sudah terlambat. Tiba-tiba Lam-hay-gok-sin ulur tangan kiri ke depan, seketika lengannya seakan-akan mulur sekali lipat panjangnya hingga kuduk baju Bok Wan-jing kena dijambretnya terus diangkat ke atas.

Toan Ki menyangka orang juga hendak melemparkan si gadis ke jurang, dengan khawatir ia berteriak, “Jangan, jangan! Boleh kau bunuh diriku saja!”

Terhadap kawanan ular yang masih merayap di sekitar situ, Lam-hay-gok-sin agak jeri juga. Ketika tangannya menghantam pula, di bawah hamburan batu pasir, kembali belasan ular kena dibinasakan olehnya.

Tiba-tiba ia melompat mundur ke tepi jurang sambil mengangkat Bok Wan-jing, kaki kirinya terangkat tinggi-tinggi ke atas, hanya kaki kanan saja yang berdiri di tepi jurang dengan gaya “Kim-khe-tok-lip” atau ayam emas berdiri dengan kaki tunggal, tubuhnya setengah tergontai seakan-akan setiap detik bisa terjerumus ke jurang bersama si gadis.

Toan Ki tidak tahu kalau orang aneh itu lagi pamer kepandaiannya, ia khawatirkan jiwa Bok Wan-jing, cepat ia berteriak-teriak, “Awas, hati-hati, jangan sampai terpeleset!”

Sedikit pun Bok Wan-jing tak bisa berkutik karena dicengkeram oleh Lam-hay-gok-sin. Ia lihat Toan Ki berada di tengah kepungan ular, kawanan ular itu tampak merayap-rayap maju, cepat ia lemparkan kotak kemala kepada pemuda itu sambil berseru, “Awas, terimalah ini!”

Dengan gugup Toan Ki menangkap kotak itu dan syukurlah dapat diterimanya dengan baik walaupun rada kerepotan. Dan begitu, “Bong-koh-cu-hap” itu berada di tangannya, serentak kawanan ular itu mendekam di tanah dan tak berani bergerak lagi.

“Locianpwe, su … sudilah kau lepaskan dia,” demikian Toan Ki memohon.

“Siaucu, kau sangat mirip aku, mau tidak mau harus kuterima kau sebagai murid,” sahut Gok-sin. “Cuma menurut peraturan Lam-hay-pay kita, selamanya hanya murid yang memohon diterima sang guru, tidak pernah sang guru yang memohon pada si murid. Makanya aku akan menunggumu di puncak bukit sana ….” sembari berkata, ia tunjuk ke arah puncak paling tinggi yang penuh tertimbun salju di kejauhan sana, lalu menyambung pula, “bila kau datang memohon aku menerimamu sebagai murid, aku lantas mengampuni nyawa binimu ini. Kalau tidak, ha, ha, kreeekk ….” ia sengaja memberi contoh cara bagaimana akan memuntir patah kepala Bok Wan-jing.

Habis itu, mendadak ia berputar terus melompat ke bawah, tangan kiri menahan dinding jurang terus memberosot turun sambil menggondol Bok Wan-jing dengan cepat luar biasa.

Tiap-tiap kali kalau meluncur ke bawah, bila terlalu cepat, mendadak terasa tubuh kedua orang bisa mengerem sedetik untuk kemudian baru menurun lagi. Agaknya tangan Lam-hay-gok-sin yang menahan di dinding jurang itu yang mengeremnya.

Dalam keadaan begitu, jangankan Bok Wan-jing sama sekali tak bisa berkutik, sekalipun bisa juga tidak berani sembarangan meronta selagi tubuh kedua orang terapung di udara. Sampai akhirnya, gadis itu pejamkan mata dan membiarkan dirinya dibawa turun.

Selang sebentar, terasa tubuhnya mental sekali, nyata mereka sudah sampai di dasar jurang. Begitu menginjak tanah, Lam-hay-gok-sin tidak lantas berhenti, tapi terus berlari lagi sambil menjinjing Bok Wan-jing.

Perawakan Lam-hay-gok-sin hanya sedang saja, sebaliknya perawakan Bok Wan-jing di kalangan wanita boleh dikatakan terhitung jangkung, kalau keduanya berdiri sejajar hampir sama tingginya. Tapi Lam-hay-gok-sin dapat mencengkeram leher baju gadis itu bagai menjinjing anak kecil, sedikit pun tidak membuang tenaga.

Dengan gerakan yang gesit tangkas itu, sebentar saja Lam-hay-gok-sin sudah keluar dari dasar lembah yang penuh batu dan kabut itu. Segera ia mendaki pula ke bukit di depannya, karena lereng bukit itu lebih landai, maka mendakinya lebih mudah.

Berada di bawah jinjingan Lam-hay-gok-sin, diam-diam Bok Wan-jing berpikir, “Aku masih mempunyai sisa lima batang panah berbisa, kalau saat ini aku menyerangnya mungkin bisa gugur bersama. Tapi kemarin aku sudah memanah dia dan tidak mempan semuanya, Entah badannya memang kebal atau karena dia memakai baju lapis baja yang tak tembus senjata?”

Berpikir begitu, ia coba menyentuh perlahan punggung orang, terasa lunak-lunak saja tiada lapisan baja segala, hanya saja kulit dagingnya jauh lebih keras daripada orang biasa, diam-diam Wan-jing membatin pula, “Tampaknya pembawaan orang ini memang luar biasa, ilmu silatnya aneh pula. Kalau aku sembarangan turun tangan, bila sampai dia murka, apa akibatnya susah dibayangkan.”

Tiba-tiba terdengar Lam-hay-gok-sin mengekek tawa dan berkata, “Hehe, apa kau hendak menusuk atau memanah aku? Hm, jangan harap, aku takkan mati dibunuh dan takkan luka diserang. Kau adalah bininya muridku, sementara ini aku takkan bikin susah padamu. Tapi kalau dia tidak datang mengangkat guru padaku, hehe, tatkala mana ia bukan lagi muridku dan kau pun bukan bini muridku lagi. Setiap kali Lam-hay-gok-sin melihat nona cantik, selalu perkosa dulu bunuh belakang, sekali-kali tidak main sungkan lagi.”

Bok Wan-jing mengirik oleh ucapan itu, sahutnya, “Suamiku sedikit pun tak bisa ilmu silat, di atas jurang securam itu, cara bagaimana ia bisa turun? Tapi saking khawatir akan diriku, tentu dia akan mati-matian berusaha datang kemari mengangkat guru padamu, kalau terpeleset, ia akan jatuh hancur lebur ke dalam jurang. Bila begitu, engkau akan kehilangan seorang murid lagi. Bahan bagus, mutu tinggi, ke mana akan kau cari murid pula?”

Seketika Lam-hay-gok-sin berhenti, katanya, “Benar juga katamu. Aku tidak ingat bahwa Siaucu itu tak bisa turun ke bawah gunung.”

Sekonyong-konyong ia bersuit nyaring, segera di atas bukit sebelah timur sana ada orang menyahut, lalu Lam-hay-gok-sin berteriak, “Pergi ke atas karang tandus itu, gendonglah bocah itu ke sini, jangan mencelakai jiwanya!”

Kembali orang di sebelah sana bersuara mengiakan.

Diam-diam Bok Wan-jing tercengang, “Lam-hay-gok-sin ini hanya bicara biasa saja, dan suaranya lantas tersiar ke lereng yang jauh itu, kepandaian setinggi ini biarpun guruku juga tak mampu menandinginya. Sebaliknya begundalnya yang di atas bukit sana harus menggembor baru bisa terdengar dari sini.”

Selesai memberi perintah, Lam-hay-gok-sin menjinjing Bok Wan-jing dan melanjutkan perjalanan lagi. Diam-diam Wan-jing rada lega, ia tahu sebelum Toan Ki datang, dirinya takkan berbahaya. Cuma watak sang “suami” itu sangat kukuh, bila dia dipaksa angkat Lam-hay-gok-sin yang buas dan kejam itu sebagai guru, mungkin biarpun mati juga tidak sudi.

Pikirnya pula, “Terhadapku, rupanya ia cuma ingin membela keadilan saja dan bukan karena cinta kasih suami istri, mungkin dia takkan sudi berkorban bagiku dengan mengangkat guru orang jahat ini. Ai, baik atau jelek aku harus melihatnya sekali lagi, asal dia selamat tak kurang apa pun dan tidak terjatuh ke jurang, barulah aku merasa lega.”

Berpikir sampai di sini, diam-diam ia heran sendiri, “He, kenapa aku sedemikian memerhatikan dia dan mencintainya sedalam ini? Wahai, Bok Wan-jing, tidak pernah begini selama hidupmu!”

Tengah Bok Wan-jing terombang-ambing oleh pikirannya sendiri, sementara itu Lam-hay-gok-sin sudah membawanya ke atas puncak sana. Tenaga Gok-sin ini benar-benar luar biasa, tanpa berhenti sedikit pun ia terus melintasi empat bukit lagi, akhirnya baru mencapai puncak tertinggi yang dikelilingi lereng bukit itu.

Begitu Lam-hay-gok-sin lepaskan Bok Wan-jing, terus saja ia buka celana dan kencing di situ.

Sungguh gusar Bok Wan-jing tidak kepalang. Ia pikir manusia ini sungguh kasar, rendah dan jahat tiada ubahnya seperti binatang. Cepat ia menyingkir agak jauh serta memakai kedoknya lagi. Ia pikir wajah sendiri yang cantik manis ini bila lebih banyak dipandang olehnya, bukan mustahil setiap waktu sifat kebinatangannya akan kambuh, tatkala mana soal bini murid segala tentu tak dipedulikan lagi.

Selesai Lam-hay-gok-sin buang air, segera ia berkata, “Ehm, bagus juga kau pakai kedok lagi. Sebentar ada beberapa orang jahat akan datang, semuanya adalah manusia yang tidak kenal aturan, bila wajahmu yang cantik itu dilihat mereka, mungkin bisa runyam.”

“Aku adalah istri murid kesayanganmu, masakah orang lain berani kurang ajar padaku?” ujar Wan-jing.

“Tapi beberapa keparat anjing ini terlalu jahat, terlalu buas!” sahut Gok-sin sambil geleng kepala dan berkerut kening.

“Aku tidak percaya, masakah di jagat ini masih ada orang yang lebih galak dan jahat daripadamu?” ujar Wan-jing dengan tertawa.

Mendadak Lam-hay-gok-sin menabok paha sendiri, lalu berseru dengan marah-marah, “Ya, memang tidak adil! Di antara Su-ok di jagat ini, urutan Locu adalah nomor tiga. Sungguh tidak adil, aku harus berusaha mencapai nomor satu!”

Diam-diam Bok Wan-jing berpikir, “Nama ‘Sam-sian-su-ok’ pernah kudengar dari Suhu. Ketika aku akan membunuh Sun He-khek, pernah kutanya jelas wajah dan kelakuan gurunya, maka kutahu begitu suara suitannya terdengar, segera Lam-hay-gok-sin akan muncul. Tapi aku tidak tahu kalau menurut urutan Su-ok dia terhitung nomor tiga. Ternyata di dunia ini masih ada yang jauh lebih jahat dari dia, sungguh susah untuk dimengerti.”

Segera Bok Wan-jing tanya, “Lalu, siapakah yang nomor satu dan nomor dua?”

“Buat apa kau tanya?” bentak Gok-sin dengan mata mendelik sebesar kedelai itu. “Apa kau bermaksud mengejek aku? Jika kau anggap Locu kurang jahat, segera kusembelih kau dulu, bisa jadi karena itu akan terus naik tingkat menjadi nomor dua!”

Habis berkata, “brak”, mendadak ia menghantam sebatang pohon di sampingnya. Seketika pohon itu patah bagian tengah dan tumbang dengan gemuruh.

Meski pohon itu tidak terlalu besar, paling sedikit juga ada sebulatan mangkuk besarnya, tapi sekali hantam sudah dipatahkan olehnya, diam-diam Bok Wan-jing melelet lidah, Pikirnya, “Apa gunanya umpama dapat rebut sebutan juara orang jahat di seluruh jagat ini? Tapi oleh orang ini dianggapnya sebagai noda yang memalukan bila tidak bisa menduduki juara, maka sebaiknya aku jangan mengorek-ngorek boroknya itu, supaya aku tidak telan pil pahit.”

Segera ia tidak buka suara lagi, tapi pejamkan mata sambil bersandar di batu padas untuk memulihkan semangat.

“Kenapa bungkam? Dalam hati kau pandang hina padaku bukan?” tiba-tiba Lam-hay-gok-sin berkata pula.

“Tidak,” sahut Wan-jing, “Aku justru lagi berpikir kenapa sebutan orang jahat nomor satu di seluruh jagat ini bukan dimiliki olehmu, padahal soal kejahatan dan kebuasan, sekalipun orang lain mungkin melebihimu, namun ilmu silatnya apa bisa lebih unggul daripadamu?”

Mendadak Lam-hay-gok-sin meludah dengan marah-marah, katanya, “Makanya kami harus mengulangi bertanding lagi untuk mengoreksi urutan masing-masing.”

Melihat gelagatnya, Bok Wan-jing dapat menduga keempat orang mahajahat itu pasti sudah pernah bertanding. Agar tidak membikin marah orang, ia pikir jangan menyinggungnya lagi, maka katanya, “Gak-locianpwe, sebenarnya siapakah nama engkau orang tua? Dapatkah kau beri tahu agar kelak mudah memanggilmu bila suamiku sudah menjadi muridmu?”

“Aku bernama Gak … Gak … ah, keparat!” mendadak Lam-hay-gok-sin memaki sebelum menyebut namanya sendiri. “Namaku adalah pemberian ayahku, tapi namaku ini terlalu jelek, ayahku selamanya tidak berbuat sesuatu yang baik, sungguh anjing keparat!”

Hampir saja Bok Wan-jing tertawa geli, pikirnya, “Orang ini benar-benar lebih durhaka daripada binatang, masakah ayah sendiri juga dicaci maki. Dan kalau ayahmu anjing keparat, lalu engkau sendiri apa?”

Ia lihat Lam-hay-gok-sin lagi mondar-mandir kian kemari, tampaknya merasa gopoh sekali. Tiba-tiba Wan-jing teringat kepada Toan Ki, pikirnya, “Entah sekarang dia sudah turun gunung dengan selamat tidak? Jika dirintangi kawanan ular, apakah orang suruhan Lam-hay-gok-sin itu bisa melintasi kepungan ular itu?”

Pada saat itulah, tiba-tiba di udara tersiar suara tangisan yang perlahan, suaranya sangat memilukan, sayup-sayup seperti seorang wanita lagi meratap, “O, anakku! O, sayangku!”

Hanya dua kalimat itu saja suara tangisan itu sudah membikin perasaan Bok Wan-jing terguncang hebat seakan-akan sukma akan meninggalkan raganya.

“Fui”, mendadak Gok-sin meludah lagi dan berkata, “Hm, si penangis kematian itu sudah datang!” lalu ia menggembor, “Kau menangisi apa? Locu sudah lama menanti di sini!”

Namun suara itu sayup-sayup masih terus menangis dengan pilunya, “O, anakku, betapa ibu mengenangkan engkau!”

Perasaan Bok Wan-jing menjadi kacau oleh pengaruh suara itu, tanyanya, “Apakah ini si jahat nomor empat?”

“Perempuan ini adalah ‘Bu-ok-put-cok’ Yap Ji-nio, gelar ‘Ok’ itu berurut pada tempat kedua, tapi pada suatu ketika aku ‘Hiong-sin-ok-sat’ pasti akan bertukar gelar dengan dia,” demikian sahut Lam-hay-gok-sin.

Baru sekarang Bok Wan-jing mengerti seluk-beluknya urutan “Su-ok” itu. Kiranya yang menjadi ancar-ancar urutan mereka itu adalah pada huruf “Ok” itu.

Yap Ji-nio bergelar “Bu-ok-put-cok” atau tiada kejahatan yang tak dilakukannya, karena huruf “Ok” itu jatuh pada huruf kedua, maka ia adalah orang jahat nomor dua di dunia ini.

Sedang Lam-hay-gok-sin itu berjuluk “Hiong-sin-ok-sat” atau malaikat buas setan jahat, huruf “Ok” adalah huruf ketiga, maka menurut urutan ia menduduki tempat ketiga.

Segera Wan-jing tanya lagi, “Lalu, siapakah julukan orang jahat nomor satu di jagat ini? Dan siapa pula yang nomor empat itu?”

“Buat apa kau tanya? Aku tidak tahu!” seru Lam-hay-gok-sin marah-marah.

Tapi mendadak suara seorang wanita yang halus menyambungnya, “Lotoa kami berjuluk ‘Ok-koan-boan-eng’ dan Losi kami bergelar ‘Kiong-hiong-kek-ok’.”

Sungguh heran sekali Bok Wan-jing oleh nama-nama yang aneh itu. Nyata, sesuai dengan urut-urutan huruf “Ok” itu, Lotoa atau yang tertua, berjuluk Ok-koan-boan-eng atau kejahatan melebihi takaran. Dan Losi, si nomor empat, bergelar Kiong-hiong-kek-ok atau buas dan kejam luar biasa. Ia terkejut pula oleh betapa cepat datangnya Yap Ji-nio itu, kedengarannya tadi masih jauh, tahu-tahu sekarang sudah muncul di situ.

Dalam kejutnya itu ia coba perhatikan wanita itu. Ia lihat orang mengenakan baju panjang warna hijau muda, rambutnya panjang terurai, usianya kurang lebih 40 tahun, air mukanya cukup cantik, cuma kedua pipinya masing-masing terdapat tiga jalur merah darah seperti bekas cakaran. Pada tangannya membopong seorang anak laki-laki berumur kira-kira dua tahun, mungil dan menyenangkan.

Semula Wan-jing sangka “Bu-ok-put-cok” Yap Ji-nio yang menurut urut-urutan masih di atas Lam-hay-gok-sin, tentu orangnya jauh lebih bengis, menakutkan, siapa tahu orangnya ternyata rada cantik juga. Karena itu, tanpa terasa ia pandang orang beberapa kejap.

Tiba-tiba Yap Ji-nio tersenyum padanya, seketika Bok Wan-jing mengirik, ia merasa di antara senyum wanita itu lamat-lamat mengandung rasa sedih dan duka luar biasa hingga bagi siapa yang memandangnya rasanya menjadi terharu seakan-akan ikut menangis. Maka lekas-lekas ia berpaling ke arah lain, ia tidak berani memandangnya lagi.

“Sammoay, kenapa Toako dan Site masih belum datang?” tanya Lam-hay-gok-sin.

Dengan perlahan Yap Ji-nio menjawab, “Sudah terang gamblang kau adalah Losam, tapi kau mati-matian ingin melampaui aku, ya? Coba kau panggil lagi sekali Sammoay, hm, tentu Encimu ini tidak sungkan-sungkan lagi padamu!”

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, teriaknya, “Tidak sungkan-sungkan lagi, lalu mau apa? Apa mau mengajak berkelahi?”

“Untuk berkelahi tentu tidak kekurangan waktu, memangnya aku jeri padamu?” sahut Yap Ji-nio. “Benar tidak, Bok Wan-jing?”

Mendengar nama sendiri disebut, seketika Bok Wan-jing tergetar, sukma seakan-akan melayang-layang terlepas dari raganya. Dalam kejutnya segera ia menjadi sadar juga.

Kiranya Yap Ji-nio itu lagi menggunakan ilmu “Liap-hun-tay-hoat”, yaitu semacam hipnotisme pada zaman kuno yang lihai, bila sinar mata kedua orang kebentrok, seketika orang akan jatuh di bawah pengaruhnya serta menurut segala perintahnya.

Hal ini pernah Bok Wan-jing dengar dari gurunya. Maka ia tidak berani sembrono lagi, lekas ia pusatkan semangat dan kerahkan Lwekang sambil menarik kain kedoknya untuk menutupi mukanya, bahkan kedua mata juga ditutupnya sekalian.

“Bok Wan-jing,” terdengar Yap Ji-nio berkata lagi dengan tertawa, “paling akhir ini nama jahatmu sangat tersohor, kalau kau angkat saudara dengan kami serta menjadi Gomoay (adik kelima) kami, rasanya boleh juga. Betul tidak, Samte?”

“Tidak!” sahut Lam-hay-gok-sin ketus.

“Kenapa tidak?” tanya Yap Ji-nio dengan ramah.

“Dia adalah bininya muridku, mana boleh menjadi Gomoayku? Toh sudah cukup mempunyai seorang Sammoay seperti kau!” demikian sahut Gok-sin. Mendadak ia membentak ke arah lain, “Gelinding kemari! Di mana bocah she Toan itu? Kenapa tidak dibawa kemari?”

Kiranya orang yang tadi disuruhnya mencari Toan Ki itu telah datang. Maka tertampaklah orang itu menjawab dari tempat sejauh belasan tombak dengan gelagapan, “Ham … hamba sampai di atas karang tadi, tapi … tapi orangnya sudah menghilang. Hamba telah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak … tidak ketemu!”

Keruan Bok Wan-jing terkejut, ia menjadi khawatir jangan-jangan Toan Ki mati terjatuh ke dalam jurang.

Segera ia dengar Lam-hay-gok-sin lagi membentak, “Apakah disebabkan kau terlambat datang ke sana, maka bocah itu mati jatuh ke jurang?”

Orang itu tidak berani mendekat, jawabnya bertambah gelagapan, “Tapi hamba … hamba sudah mencari ke seluruh lembah dan tidak menemukan mayatnya, juga tidak melihat sesuatu tanda bekas darah.”

“Mustahil! Apa mungkin dia mampu terbang ke langit? Kau berani dusta padaku, ya?” bentak Gok-sin dengan murka.

Saking ketakutan, orang itu menyembah minta ampun sambil membentur-benturkan kepalanya ke atas batu di depannya.

Mendadak terdengar suara menyambarnya angin, sesuatu benda melayang ke sana, “plok”, seketika orang itu tidak bersuara lagi. Tapi dari suara angin itu, Bok Wan-jing menduga pasti Lam-hay-gok-sin telah menimpukkan sepotong batu hingga membinasakan orang itu.

Sebenarnya Bok Wan-jing sendiri adalah seorang iblis pembunuh orang tanpa berkedip, orang itu tidak mampu menemukan Toan Ki, ia pun gemas tidak kepalang, andaikan Lam-hay-gok-sin tidak membinasakan orang itu, ia sendiri pun tidak mau mengampuninya.

Sesaat itu pikirannya jadi bergolak, “Dia sudah menghilang dari sana, tapi mayatnya tidak kelihatan di dasar jurang, lalu ke mana dia pergi? Apa mungkin ditelan ular besar? Ah, tidak mungkin, dia membawa ‘Bong-koh-cu-hap’, segala jenis ular tidak berani mengganggunya. Ya, tentu dia terjatuh di tempat yang terpencil sehingga orang itu tak bisa menemukannya, atau mungkin mayatnya telah diketemukan orang itu, tapi tidak berani bicara terus terang.”

Semakin dipikir, ia merasa kemungkinan besar Toan Ki sudah meninggal. Waktu berpisah dari pemuda itu, ia sudah ambil keputusan bila Toan Ki mati, pasti dia juga akan menyusulnya. Apalagi sekarang dirinya berada di bawah cengkeraman Lam-hay-gok-sin, kalau tidak mati, entah siksaan keji apa yang akan dirasakannya.

Tapi sebelum melihat mayat Toan Ki, betapa pun toh masih ada harapan bahwa pemuda itu masih hidup? Karena itulah, ia pun tidak rela mati begitu saja.

Sedang pikiran Bok Wan-jing kacau, tiba-tiba terdengar anak kecil yang dipondong Yap Ji-nio itu berteriak-teriak menangis, “Ibu, ibu, mana ibuku?”

“Anak baik, aku inilah ibumu!” demikian Yap Ji-nio membujuknya.

Tapi tangis bocah itu semakin keras malah, “Tidak, engkau bukan ibuku! Aku minta ibu, mana ibuku?”

Perlahan Yap Ji-nio tepuk-tepuk badan anak itu sambil meninabobokannya dengan nyanyi kecil. Namun bukannya diam, sebaliknya tangis anak itu semakin keras. Tapi Yap Ji-nio tetap meninabobokannya dengan sabar sambil melagukan, “O, tidurlah anakku ….”

Lam-hay-gok-sin menjadi geregetan oleh suara orang yang membisingkan itu, dasar wataknya memang kasar, ditambah kehilangan calon murid kesayangannya, ia menjadi lebih gopoh lagi, tiba-tiba ia membentak, “Kau bujuk kentut! Kalau mau isap darahnya, lekas lakukan!”

Namun Yap Ji-nio tidak gubris padanya, ia masih terus meninabobokan bayi itu.

Sampai mengirik Bok Wan-jing mendengarnya, makin dipikir makin takut dia. Semula ketika melihat Yap Ji-nio yang bergelar orang jahat nomor dua di dunia ini ternyata membawa seorang bayi yang mungil, memangnya ia sudah heran. Kini mendengar ucapan Lam-hay-gok-sin itu, jadi Yap Ji-nio bakal mengisap darah anak itu, mau tak mau timbul rasa gusarnya dan takut pula.

Pikirnya, “Cara bagaimanakah supaya aku bisa menyelamatkan anak kecil ini?”

Tapi bila ingat mati hidup Toan Ki masih belum diketahui, terpaksa ia tidak berani pikirkan urusan orang lain. Namun suara timangan Yap Ji-nio yang penuh rasa kasih sayang itu, makin lama makin memuakkan perasaannya.

Dalam pada itu Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, dampratnya, “Setiap hari kau pasti minta korban seorang bayi, tapi kau sengaja berlagak welas asih, sungguh memuakkan dan tidak tahu malu!”

“Janganlah gembar-gembor hingga bikin kaget anakku!” sahut Yap Ji-nio dengan suara halus.

Gok-sin menjadi murka, mendadak anak di pondongan Yap Ji-nio itu hendak dijambretnya untuk dibanting. Tapi betapa pun cepatnya ternyata masih kalah cepat daripada Yap Ji-nio. Hanya sedikit berputar, cengkeraman Gok-sin itu sudah luput.

“Haya, Samte, tanpa sebab apa, kenapa kau ganggu anakku ini?” demikian dengan nada yang penuh rasa kasih sayang seorang ibu, Yap Ji-nio mengomel.

Walaupun kedua mata Bok Wan-jing ditutup sendiri dengan kain kedoknya, namun ia dapat mengikuti kejadian tadi dengan telinganya. Ia pikir, “Urutan Yap Ji-nio ini memang pantas berada di atas Lam-hay-gok-sin. Malaikat buaya ini selama hidup jangan harap akan melampaui wanita itu.”

Benar juga, sekali jambret tidak kena, rupanya Lam-hay-gok-sin tahu juga kalau bergebrak tentu akan sia-sia belaka. Hanya mulutnya yang masih memaki, “Kurang ajar, Lotoa dan Losi kedua anak kura-kura ini kenapa sampai saat kini belum lagi datang, aku tidak sabar menunggunya lagi.”

“Kau tahu tidak bahwa kemarin Losi telah kepergok musuh di tengah jalan dan menelan pil pahit?” tiba-tiba Yap Ji-nio tanya.

“He, Losi kepergok musuh? Siapa dia?” tanya Gok-sin heran.

Tiba-tiba Yap Ji-nio menuding Bok Wan-jing dan berkata, “Budak ini tampaknya tidak beres, kau sembelih dia dahulu baru kemudian kuceritakan.”

Lam-hay-gok-sin menjadi ragu, sahutnya, “Dia adalah bini muridku, kalau kusembelih dia, muridku tentu akan ngambek tak mau mengangkat guru padaku.”

“Jika begitu, biarlah aku yang kerjakan,” ujar Yap Ji-nio dengan tertawa. “Kalau muridmu ngambek, suruh dia mencari balas padaku. Habis, kedua matanya itulah terlalu menggiurkan bagi siapa pun yang melihatnya, aku menjadi iri tak memiliki mata sejeli dia. Biarlah kucolok dulu kedua biji matanya!”

Sungguh kaget Bok Wan-jing tidak kepalang hingga keringat dingin seketika membasahi tubuhnya. Syukurlah ia dengar Lam-hay-gok-sin mencegah pula, “Jangan! Biar kututuk saja Hiat-to pingsannya, biar dia tidur selama sehari dua malam!”

Tanpa menunggu jawaban Yap Ji-nio lagi, sekonyong-konyong ia melompat ke samping Bok Wan-jing dan menutuk dua kali. Seketika Bok Wan-jing merasa kepala pening, lalu tak sadarkan diri lagi ….

Entah sudah berapa lama, ketika perlahan Bok Wan-jing siuman kembali, ia merasa badannya sangat dingin, segera terdengar pula serentetan suara tertawa mengikik. Meski dikatakan tertawa, hakikatnya tiada rasa tawa sedikit pun, tapi lebih mirip dikatakan suara mengilukan dan beradunya benda logam misalnya sebilah golok yang digosok-gosokkan di atas papan baja.

Bok Wan-jing sangat cerdik, ia tahu sekali dirinya bergerak, seketika pasti akan diketahui pihak lawan, boleh jadi akan mengakibatkan dirinya disiksa. Maka meski badan merasa kaku pegal sekali, ia tidak berani sembarangan bergerak.

Dalam pada itu terdengar Lam-hay-gok-sin lagi berkata, “Losi, tidak perlu omong gede! Sammoay telah memberi tahu padaku bahwa kau telan pil pahit dari orang, buat apa masih menyangkal? Sebenarnya kau dikeroyok berapa orang musuh?”

Suara orang yang mirip logam digosok itu segera menjawab, “Huh, apa yang diketahui Jici? Aku dikerubut tujuh orang musuh, semuanya tergolong jago kelas satu, sudah tentu, betapa tinggi kepandaianku juga tak bisa sekaligus membunuh musuh sebanyak itu.”

“Eh, kiranya Losi yang berjuluk ‘Kiong-hiong-kek-ok’ itu juga sudah datang,” demikian pikir Bok Wan-jing. Sebenarnya ia sangat ingin tahu macam apakah Kiong-hiong-kek-ok itu, namun betapa pun ia tidak berani sembarangan menarik kain kedoknya.

Terdengar Yap Ji-nio ikut berkata, “Ah, Losi memang suka omong besar. Sudah terang pihak lawan cuma dua orang, dari mana bisa muncul lima orang lagi? Masakah di dunia ini terdapat jago pilihan sebanyak itu?”

“Hm, dari mana pula kau mengetahuinya? Apa kau menyaksikan dengan mata hidungmu sendiri?” sahut Losi dengan gusar.

“Kalau aku tidak menyaksikan sendiri, dengan sendirinya aku takkan tahu,” kata Yap Ji-nio dengan tersenyum. “Bukankah kedua orang itu masing-masing menggunakan senjata sebatang pancing ikan dan yang lain memakai kapak? Hihihi, kelima orang lain yang kau karang sendiri itu lalu memakai senjata apa, coba katakan?”

Sekonyong-konyong Losi berbangkit, dengan suara keras ia berkata, “Keparat! Jadi waktu itu kau berada di sana, kenapa kau tidak membantuku? Kau ingin aku mati di tangan orang, dan kau senang, ya?”

Tapi Yap Ji-nio tetap menjawabnya dengan senyum tak acuh, “Ah, kenapa kau merendahkan nama ‘Kiong-hiong-kek-ok’ In Tiong-ho? Siapa yang tidak kenal Ginkangmu tiada bandingan di jagat ini? Kalau kau kalah, masa kau tak bisa lari?”

Kiranya si mahajahat keempat ini bernama In Tiong-ho atau bangau terbang di angkasa, suatu tanda Ginkang atau ilmu entengi tubuhnya pasti sangat lihai.

Ia semakin gusar demi mendengar ucapan Yap Ji-nio tadi, teriaknya lebih keras, “Kalau Losi terjungkal di tangan orang, apakah kau ikut bahagia? Hm, apa maksud tujuan kita Su-ok berkumpul di sini? Bukankah hendak berunding cara bagaimana cari perkara ke istana raja di negeri Tayli? Peristiwa ini bukankah berarti beralamat jelek?”

“Site,” demikian Yap Ji-nio berkata pula dengan senyumnya yang tidak berubah, “selamanya aku tidak pernah melihat Ginkang sehebatmu, bangau terbang di angkasa, sungguh tidak bernama kosong. Wah, bagai asap terapung, seperti burung melayang, mana bisa kedua manusia itu menyusulmu?”

“Losi,” tiba-tiba Lam-hay-gok-sin menyela, “sebenarnya siapakah yang mengerubuti dirimu itu? Apakah kaki tangan dari istana Tayli?”

“Ya, pasti dari sana,” sahut In Tiong-ho dengan gusar. “Aku tidak percaya di daerah Tayli ada orang kosen lain lagi kecuali orang mereka.”

“Makanya jangan kalian suka anggap enteng mereka, sekarang kalian percaya tidak pada omonganku?” ujar Ji-nio.

“Jici,” kata In Tiong-ho tiba-tiba, “sampai saat ini Lotoa masih belum tampak batang hidungnya, padahal sudah lewat tiga hari daripada waktu yang kita tetapkan, selamanya ia tidak pernah langgar janji, jangan-jangan ….”

“Jangan-jangan terjadi apa-apa, maksudmu?” potong Yap Ji-nio.

“Fui! Mana bisa jadi,” seru Lam-hay-gok-sin dengan gusar. “Macam apakah Lotoa kita itu, memangnya dia seperti kalian, kalau kalah lantas mengacir?”

“Kalau kalah lantas mengacir, itu namanya bisa lihat gelagat!” sahut Yap Ji-nio. “Aku justru khawatir dia benar-benar dikeroyok musuh, tapi kepala batu tidak mau menyerah kalah, akhirnya tamatlah riwayatnya sesuai dengan julukannya ‘Ok-koan-boan-eng’ (kejahatan sudah melebihi takaran)!”

“Fui! Omong kosong!” semprot Lam-hay-gok-sin. “Selama hidup Lotoa malang melintang, pernah dia jeri pada siapa? Sudah belasan tahun ia menjagoi Tionggoan, masa di negeri Tayli sekecil ini malah dia terjungkal? Wah, kurang ajar, perut lapar lagi!”

Segera ia sambar sepotong daging paha lembu terus dipanggang di atas api unggun di sampingnya.

Tidak lama, bau sedap teruar perlahan.

Pikir Bok Wan-jing, “Dari percakapan mereka tadi, tampaknya aku sudah tak sadarkan diri selama tiga hari di sini. Entah Toan-long sudah ada kabar beritanya tidak?”

Dan karena sudah empat hari tidak makan apa-apa, perutnya terasa amat lapar, ketika dia mengendus bau daging panggang, tak tertahan perutnya berkeruyukan.

“Siaumoaymoay, perutmu lapar bukan?” tiba-tiba Yap Ji-nio berkata dengan tertawa. “Sejak tadi kau sudah sadar, kenapa pura-pura diam saja? Apa kau tidak ingin lihat bagaimana macamnya ‘Kiong-hiong-kek-ok’ In-losi kami?”

Lam-hay-gok-sin kenal watak In Tiong-ho paling gemar paras cantik, bila tahu Bok Wan-jing luar biasa ayunya, biarpun mati juga dia ingin mendapatkannya, berbeda seperti dirinya, kalau perlu barulah memerkosa dan membunuh.

Maka cepat ia sobek sepotong daging panggang dan dilemparkannya kepada Bok Wan-jing sambil membentak, “Nih, makanlah ke sana, jauh sedikit, jangan mencuri dengar pembicaraan kami!”

Bok Wan-jing sengaja bikin kasar suara sendiri hingga kedengarannya lucu, tanyanya, “Suamiku sudah datang belum?”

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, sahutnya, “Keparat, aku sendiri sudah mencari ke sekitar jurang sana, tapi sedikit pun tidak menemukan jejak bocah itu. Dapat dipastikan bocah itu belum mampus, entah telah digondol siapa, aku sudah menunggu di sini tiga hari, biar kutunggu lagi empat hari, dalam tujuh hari kalau bocah itu tidak datang, hm, nanti kupanggang dirimu untuk dimakan!”

Hati Wan-jing sangat terhibur oleh keterangan orang, kalau dia sendiri sudah mencari ke sana dan yakin Toan-long belum mati, rasanya tentu betul. Ai, cuma entah dia masih ingat padaku atau tidak dan apakah akan datang kemari untuk menolong diriku?

Segera ia jemput daging panggang yang dilemparkan padanya tadi, perlahan ia berjalan ke balik karang sana untuk memakannya. Dalam keadaan lapar, ia merasa sangat letih dan lemas karena habis kelaparan empat hari, tapi karena itu, luka di punggungnya malah sudah sembuh.

Ia dengar Yap Ji-nio lagi tanya, “Sebenarnya di mana letak kebagusan bocah itu hingga membikin kau sedemikian suka padanya?”

Lam-hay-gok-sin terbahak-bahak bangga, sahutnya. “Justru karena bocah itu sangat mirip aku, bila belajar silat Lam-hay-pay kami, pasti dia akan berhasil dan melebihi sang guru. Hehe, di antara Su-ok kita, aku Gak-lo … Gak-loji (ia sengaja naikkan diri menjadi “Ji” atau nomor dua dan bukan “Sam” atau nomor tiga) meski tak bisa mencapai nomor satu, tapi bicara tentang murid, rasanya tiada seorang murid orang lain yang mampu menandingi muridku.”

Sementara itu Bok Wan-jing sudah makin jauh menyingkir dari ketiga manusia mahajahat itu, demi mendengar Lam-hay-gok-sin memuji kebagusan bakat Toan Ki jarang ada bandingannya, diam-diam ia merasa senang dan sedih pula, tapi rada geli juga, “Toan-long hanya seorang sekolahan yang ketolol-tololan, ilmu silat apa yang dia miliki? Kecuali nyalinya yang besar, segala apa tidak bisa. Kalau Lam-hay-pay menerima murid mestika semacam itu, rasanya Lam-hay-pay sendiri yang bakal sial!”

Ia cari suatu tempat terpencil dan duduk di atas batu padas, lalu menikmati daging panggang tadi. Meski sangat lapar, namun daging panggang itu masih terlalu banyak baginya, hanya separuh saja dapat dihabiskannya dan perutnya sudah kenyang.

Diam-diam ia membatin pula, “Sampai hari ketujuh nanti kalau Toan-long lupa dan mengingkari aku serta tidak datang kemari, aku lantas cari jalan untuk melarikan diri.”

Berpikir sampai di sini, ia menjadi pedih, “Andaikan aku bisa melarikan diri, lalu akan menjadi manusia apa lagi?”

Begitulah, dengan rasa tidak tenteram, kembali lewat pula dua hari. Namun bagi Bok Wan-jing, dua hari itu rasanya lebih lama daripada dua tahun. Siang malam yang dia harapkan senantiasa adalah semoga terdengar sesuatu suara dari bawah gunung, sekalipun bukan suaranya Toan Ki, paling tidak juga dapat menghibur hatinya yang lara merana.

Lebih-lebih bilamana sang malam tiba, rasa deritanya semakin bertambah, perasaannya bergolak mengombak, selalu terpikir olehnya, “Bila dia benar-benar niat mencari aku, hari pertama atau kedua tentu dia sudah datang kemari. Dan kalau sampai hari ini masih belum datang, rasanya tidak mungkin dia kemari lagi. Meski dia tak mahir silat, tapi mempunyai jiwa kesatria, betapa pun dia pasti tidak sudi mengangkat guru pada Lam-hay-gok-sin ini. Namun terhadap diriku, apa benar dia tak mempunyai rasa kasih sedikit pun?”

Begitulah jalan pikiran Bok Wan-jing, kalau hari-hari pertama dan kedua ia masih menaruh harapan dan menunggu dengan sabar, tapi makin lama makin merana, pesan gurunya bahwa “laki-laki di dunia ini adalah manusia palsu semua” selalu mendenging-denging terus di telinganya. Walaupun perasaannya sendiri selalu menyangkal Toan-long pasti bukan manusia demikian, namun sesungguhnya ia pun tidak berani yakin apakah sangkalan itu bukan menipu pada diri sendiri?

Syukur juga selama beberapa hari ini Lam-hay-gok-sin, Yap Ji-nio dan In Tiong-ho tidak urus dirinya. Ketiga manusia durjana itu hanya tekun menanti datangnya “Ok-koan-boan-eng”, yaitu si juara orang jahat di seluruh jagat ini, meski mereka tidak segopoh Wan-jing, tapi mirip juga semut di tengah kuali panas, mereka kelabakan dan kesal luar biasa. Meski jarak Bok Wan-jing dengan mereka agak jauh, namun suara ribut dan cekcok mulut mereka sayup-sayup dapat terdengar dengan jelas.

Sampai malam hari keenam, pikir Bok Wan-jing, “Besok adalah hari terakhir, rasanya laki-laki palsu itu takkan datang. Biarlah malam nanti aku berusaha melarikan diri, kalau tidak, sampai esok pagi, untuk lari pasti sukar. Jangankan In Tiong-ho yang tersohor Ginkangnya tiada tandingan di seluruh jagat, cukup Lam-hay-gok-sin saja, asal dia sengaja mengejar, pasti aku pun tak bisa lolos.”

Ia coba berdiri untuk melemaskan otot-ototnya, ia merasa semangatnya meski masih lesu, namun tenaga sudah pulih 7-8 bagian. Ia membatin, “Sebaiknya bila ketiga orang itu ribut terus dan diam-diam aku dapat melarikan diri beberapa ratus tombak jauhnya, lalu aku akan mencari suatu tempat sembunyi seperti gua dan sebagainya, dengan demikian mereka tentu menyangka aku sudah kabur jauh dan tidak mengejar lagi, kemudian dengan bebas dapatlah aku keluar lagi dan melarikan diri.”

Di luar dugaan, meski rencananya sudah muluk-muluk, beberapa kali ia bermaksud angkat kaki, tapi hatinya selalu terkenang pada Toan Ki, ia menjadi ragu kalau-kalau pemuda itu akhirnya benar-benar datang mencarinya, lalu bagaimana? Jika besok tidak berjumpa dengan pemuda itu, mungkin untuk seterusnya tak bisa saling bertemu lagi. Padahal dia sengaja datang untuk sehidup semati dengan aku, tapi aku malah kabur pergi. Jelas dia tidak sudi mengangkat guru hingga mungkin dibunuh oleh Lam-hay-gok-sin, bila terjadi demikian, bukankah aku yang berdosa padanya?”

Begitulah bolak-balik ia berpikir, sampai akhirnya fajar pun menyingsing, tetap dia belum dapat ambil keputusan.

Tapi dengan datangnya fajar, maksud larinya menjadi batal juga. Jika sudah terang tak dapat melarikan diri, biarlah aku tetap menunggu, apakah dia datang atau tidak, aku tetap menunggu di sini sampai mati.

Selagi hatinya hampa sedih itulah, sekonyong-konyong terdengar suara gedebukan jatuhnya sesuatu benda ke tengah semak-semak rumput, segera ia merayap ke sana untuk memeriksanya.

Ketika sudah dekat, lebih dulu hidungnya mencium bau darah. Waktu rumput lebat di situ ia singkap ke samping dan melongok, seketika bulu romanya berdiri semua.

Ternyata di tengah semak rumput tergeletak enam sosok mayat bayi dengan tergelimpang tak teratur. Di antaranya terdapat pula bayi yang tempo hari dininabobokan oleh Yap Ji-nio itu.

Seketika Bok Wan-jing terkesima. Bila kemudian ia periksa mayat bayi itu, ia lihat di samping lehernya terdapat dua baris bekas gigitan hingga berwujud suatu lubang kecil dan tepat di atas urat darah leher.

Ia menjadi teringat pada apa yang dikatakan Lam-hay-gok-sin, maka tahulah dia akan duduknya perkara.

Kiranya “Bu-ok-put-cok” Yap Ji-nio itu memang benar setiap hari harus mengisap darah seorang bayi. Sudah enam hari dia berada di atas puncak gunung itu, maka sudah ada enam bayi menjadi korbannya. Kalau melihat baju yang dipakai bayi-bayi itu terdiri dari kain kasar saja, dapat diduga Yap Ji-nio telah menculik dari keluarga pegunungan di sekitar Bu-liang-san.

Satu di antara enam mayat bayi itu terasa masih hangat, tapi kulitnya kisut, darahnya sudah kering terisap. Tentu itulah mayat yang dilemparkan Yap Ji-nio barusan.

Sungguhpun Bok Wan-jing juga banyak membunuh orang, tapi orang Kangouw yang dibunuhnya itu adalah akibat perbuatan sendiri karena ingin melihat mukanya. Sebaliknya perbuatan kejam membunuh anak bayi demikian, betapa pun juga membuatnya gusar dan kejut hingga badan ikut gemetar.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan hijau berkelebat, seorang bagai burung cepatnya telah melayang turun ke bawah gunung. Begitu cepat bayangan itu hingga mirip setan hantu. Itulah “Bu-ok-put-cok” Yap Ji-nio.

Melihat betapa cepat Ginkang wanita iblis itu, sekalipun gurunya juga selisih jauh dengan kepandaian orang, seketika Bok Wan-jing lemas rasanya, ia duduk terkulai terduduk dengan macam-macam perasaan bercampur aduk.

Setelah termangu-mangu sejenak, Bok Wan-jing kumpulkan keenam mayat bayi itu menjadi satu, lalu menguruknya dengan batu pasir seadanya di situ.

Tengah sibuk bekerja, tiba-tiba Wan-jing merasa tengkuk rada silir dingin. Ia dapat bergerak dengan cepat sekali, begitu kaki kanan bergerak, segera tubuhnya melesat ke depan.

Maka terdengarlah suara tertawa seorang yang mirip logam digosok dan berkata, “Nona cilik, suamimu telah meninggalkanmu, ia tidak sudi padamu lagi, marilah ikut aku saja!”

Siapa lagi dia kalau bukan “Kiong-hiong-kek-ok” In Tiong-ho, ia memang mahajahat dan buas luar biasa. Begitu bicara, terus saja tangan meraih hendak memegang Bok Wan-jing.

“Plak” mendadak dari samping menyela sebuah tangan hingga cengkeraman In Tiong-ho tertangkis.

Kiranya penangkis itu adalah Lam-hay-gok-sin, dengan marah-marah ia membentak, “Losi, orang Lam-hay-pay kami dilarang kau ganggu!”

Dalam pada itu In Tiong-ho sudah melompat mundur, sahutnya dengan tertawa, “Muridmu tak jadi kau terima, dengan sendirinya ia bukan orang Lam-hay-pay lagi.”

Baru sekarang Bok Wan-jing dapat melihat jelas perawakan In Tiong-ho itu ternyata sangat tinggi, tapi sangat kurus pula hingga mirip galah bambu, raut mukanya sangat menakutkan juga, bila tertawa, lidahnya seakan-akan bisa mulur mengkeret mirip lidah ular.

“Dari mana kau tahu aku akan gagal menerima murid?” demikian Lam-hay-gok-sin membentak lagi. “Apakah karena bocah itu telah dibunuh olehmu? Ya, tentu demikian halnya! Atau mungkin kau pun menaksir pada calon muridku yang bertulang bagus itu, lalu kau sembunyikan dia hendak mengangkanginya sebagai muridmu. Jadi kau yang mengacaukan rencanaku, biarlah aku cekik mampus kau dahulu dan urusan belakang!”

Si malaikat buaya laut selatan ini benar-benar kasar dan tidak kenal aturan segala, tanpa tanya-tanya lagi apakah benar In Tiong-ho yang menghilangkan calon muridnya atau bukan, terus saja ia menubruk maju dan menyerang bertubi-tubi.

Namun In Tiong-ho dapat berkelit dengan gesit dan cepat sekali sambil menjawab, “He, he! Muridmu itu bundar atau gepeng, lonjong atau cekak, selamanya aku belum kenal, dari mana bisa kau bilang aku yang mengumpetkan dia?”

“Kentut!” damprat Lam-hay-gok-sin. “Siapa yang mau percaya padamu! Pasti lantaran kau habis dihajar orang, lalu rasa dongkolmu kau lampiaskan atas diri muridku itu, begitu bukan?”

“Muridmu itu laki-laki atau perempuan atau banci?” tanya Tiong-ho.

“Sudah tentu laki-laki, guna apa aku menerima murid perempuan?” sahut Gok-sin.

“Nah, itu dia!” seru Tiong-ho. “Bukankah kau tahu, In Tiong-ho selamanya hanya suka pada orang perempuan dan tidak lelaki?’

Saat itu Lam-hay-gok-sin lagi menubruk maju, mendengar ucapan itu, ia pikir masuk di akal juga. Maka mendadak ia mengerem tubuhnya yang lagi terapung itu dan anjlok ke bawah hingga berdiri di atas sebuah batu padas, lalu membentak lagi, “Lantas ke mana perginya muridku itu? Kenapa sampai sekarang belum datang mengangkat guru?”

“Hehe, urusan Lam-hay-pay kalian peduli apa denganku?” kata In Tiong-ho dengan mengekek.

Dasar watak Lam-hay-gok-sin memang kasar, ditambah lagi sudah menunggu selama tujuh hari tanpa hasil, ia menjadi gelisah tak keruan, rasa dongkolnya lagi meluap, maka kembali ia membentak, “Setan alas, kau berani mengejek aku?”

Melihat kedua orang mahajahat itu saling ngotot, Bok Wan-jing tidak mau sia-siakan kesempatan baik itu, segera ia membakar Lam-hay-gok-sin katanya, “Ya, ya, Toan-long pasti dicelakai In Tiong-ho ini, kalau tidak, di atas karang securam itu, mana dapat ia turun? Ginkang In Tiong-ho ini sangat hebat, pasti dia yang memanjat ke atas karang itu untuk menggondolnya pergi dan dibunuh di lain tempat agar Lam-hay-pay tidak mempunyai bibit tokoh yang lihai.”

Mendadak Lam-hay-gok-sin keplak batok kepala sendiri sambil menggembor, “Nah, kau dengar tidak! Bininya muridku juga bilang begitu, masa kau difitnah?”

Segera Bok Wan-jing pura-pura menangis dan berseru, “Suhu, kata suamiku, kalau dia mendapatkan seorang guru seperti engkau, sungguh suatu rezeki besar baginya, dia berjanji pasti akan belajar sepenuh tenaga demi kejayaan Lam-hay-pay, agar nama Lam-hay-gok-sin lebih mengguncangkan dunia, supaya itu ‘Ok-koan-boan-eng’ dan ‘Bu-ok-put-cok’ mengiri setengah mati pada engkau orang tua. Siapa duga In Tiong-ho ini juga cemburu padamu dan sengaja membunuh calon murid kesayanganmu itu, selanjutnya engkau orang tua sukar mendapatkan murid sebagus itu lagi.”

Begitulah, setiap kalimat Bok Wan-jing diucapkan, setiap kali Lam-hay-gok-sin mengeplak batok kepala dan mengepal tangan dengan geregetan.

Maka Bok Wan-jing menyambung pula, “Tulang kepala suamiku terlalu mirip denganmu, kecerdasannya juga serupa. Coba, seorang ahli waris sebagus dan sepintar itu, ke mana akan dicari lagi. Tapi In Tiong-ho ini sengaja memusuhi engkau, mengapa engkau orang tua tidak lekas balaskan sakit hati muridmu?”

Mendengar sampai di sini, sinar mata Gok-sin berubah beringas. Kembali ia menubruk ke arah In Tiong-ho.

In Tiong-ho tahu ilmu silat sendiri setingkat lebih rendah daripada orang, tapi tidak setolol Gok-sin yang mudah diakali. Sudah terang Bok Wan-jing sengaja mengadu domba, tapi untuk menjelaskan padanya tidaklah gampang, ia pun tidak sudi bergebrak dengan dia, maka begitu ditubruk Gok-sin, segera ia angkat kaki melarikan diri.

Sudah tentu Gok-sin tidak tinggal diam, terus saja ia mengudak.

“Nah, dia lari, itu tandanya takut!” demikian Wan-jing menambahi minyak pula. “Dan orang takut, itu tandanya salah!”

Keruan Lam-hay-gok-sin tambah panas hatinya, ia menggerung murka, “Bayar kembali jiwa muridku!”

Dan kejar-mengejar pun terjadi dan dalam sekejap saja sudah menghilang di balik gunung sana.

Diam-diam Bok Wan-jing bergirang. Sekejap kemudian, terdengar suara raungan Lam-hay-gok-sin makin mendekat lagi, kedua orang itu putar kembali dengan saling uber. Ginkang In Tiong-ho ternyata jauh lebih tinggi daripada Lam-hay-gok-sin, badannya yang jangkung bagai galah bambu seakan-seakan bergontai ke kanan dan ke kiri, tapi larinya cepat tidak kepalang, Lam-hay-gok-sin selalu ketinggalan dalam suatu jarak tertentu.

Ketika sampai di depan Bok Wan-jing, sekonyong-konyong In Tiong-ho melesat ke arah gadis itu, terus mencengkeram pundaknya.

Keruan Wan-jing terkejut, sekali bergerak, kontan ia sambut orang dengan sebatang panah berbisa.

Tapi Ginkang In Tiong-ho memang benar tiada taranya, entah cara bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuh bisa menggeser sedikit hingga panah itu luput mengenainya, sebaliknya tangannya masih terus terjulur ke muka si gadis.

Dengan gugup lekas Bok Wan-jing berkelit, namun toh terlambat sedikit, mukanya terasa segar seketika, kain kedoknya telah disambar oleh In Tiong-ho.

Melihat wajah Wan-jing yang cantik molek itu, seketika In Tiong-ho terkesima. Kemudian dengan menyengir ia berkata, “Hebat, sungguh hebat! Cantik sekali anak dara ini. Cuma kurang genit, belum sempurna ….”

Tengah berkata, kembali Lam-hay-gok-sin memburu tiba terus menghantam punggungnya.

Sekuatnya In Tiong-ho tancap kakinya di tanah, ia kerahkan tenaga dalam dan menangkis ke belakang, “plak”, dua telapak tangan saling bentur dengan keras, Bok Wan-jing merasa dada menjadi sesak, hampir tak bisa bernapas oleh gencetan dua tenaga pukulan yang hebat itu, batu pasir pun bertebaran di seputar situ. Dan dengan meminjam tenaga benturan itu, In Tiong-ho mencelat pergi dua tombak jauhnya.

“Nih, rasakan lagi tiga kali pukulanku!” teriak Gok-sin sengit.

Namun In Tiong-ho menjawabnya dengan tertawa, “Kau tak mampu mengejarku, sebaliknya aku tak berdaya berkelahi dengan kau. Biarpun kita bertempur tiga-hari tiga-malam lagi juga tetap begini saja!”

Begitulah kembali kedua orang itu uber-menguber dengan sengitnya.

Diam-diam Bok Wan-jing pikir harus berusaha untuk merintangi In Tiong-ho agar kedua orang jahat itu saling genjot berhadapan. Maka ia tunggu waktu In Tiong-ho berputar kembali lagi, mendadak ia memapak maju sambil geraki tangannya, kontan 6-7 panah berbisa sekaligus dibidikkan sambil berseru, “Bayar kembali jiwa suamiku!”

In Tiong-ho kenal kelihaian panah yang mendenging datang itu, tapi semuanya dapat dihindarinya dengan mengegos atau mendekam ke bawah.

Tiba-tiba Bok Wan-jing melolos pedang, beruntun ia menusuk dua kali. Namun In Tiong-ho tahu maksud gadis itu, ia tidak mau menangkis dan hanya berkelit ke samping.

Dan karena sedikit rintangan itu, dari belakang Lam-hay-gok-sin sudah menyusul tiba terus menghantam dengan kedua tangannya.

“Losam”, seru In Tiong-ho akhirnya dengan gemas, “berulang kali aku mengalah padamu, memangnya kau sangka aku takut?”

Sekali tangannya meraba pinggang, tahu-tahu sepasang cakar baja telah dikeluarkan.

Cakar baja itu panjangnya masing-masing cuma setengah meteran, ujung cakar berbentuk tangan manusia dengan lima jari terpentang seakan-akan hendak mencengkeram. Ia mainkan senjatanya itu dengan rapat, tapi tetap menjaga diri saja tanpa balas menyerang.

Melihat itu, Lam-hay-gok-sin menjadi senang, serunya, “Wah, bagus! Sepuluh tahun tidak berjumpa, kiranya kau berhasil melatih semacam senjata aneh. Nih, lihat juga aku punya!”

Sembari bicara, ia terus buka ransel di punggungnya dan mengeluarkan semacam senjata yang lebih aneh.

Melihat kedua orang jahat itu akan main senjata, Bok Wan-jing pikir akan percuma saja bila dirinya ikut-ikutan bertempur. Segera ia undurkan diri ke pinggir.

Ia lihat senjata yang dikeluarkan Lam-hay-gok-sin itu adalah sebuah gunting aneh yang pakai gagang panjang, bagian mata gunting berbentuk gigi-gigi yang tajam hingga mirip moncong buaya. Sedang tangan lain memegang sebuah pecut yang bergigi juga serupa ekor buaya.

Bila orang kena digigit sekali oleh mulut gunting atau kena disabat sekali oleh pecut ekor buaya itu, kalau tidak mampus tentu juga akan sekarat.

In Tiong-ho melirik heran juga kepada kedua macam senjata aneh itu, tapi mendadak ia geraki cakar baja sebelah kanan terus mencakar ke muka Lam-hay-gok-sin.

“Tring”, kontan Gok-sin angkat gunting buayanya menangkis hingga cakar baja lawan terpental ke samping. Namun In Tiong-ho cepat luar biasa, belum cakar kanan itu ditarik kembali, lagi-lagi cakar sebelah kiri menyambar ke depan pula.

“Krak”, sekonyong-konyong gunting congor buaya Lam-hay-gok-sin memutar dan menggunting jari cakar baja itu, sungguh luar biasa tajamnya gunting yang entah terbuat dari bahan apa, tahu-tahu dua jari dari cakar In Tiong-ho tergunting putus, padahal cakar itu sendiri terbuat dari baja murni yang sangat kuat.

Masih untung bagi In Tiong-ho, ia sempat menarik secepatnya hingga cuma dua jari cakarnya yang terkutung. Namun begitu, berarti juga mengurangi daya gunanya dari kesepuluh jari senjatanya yang hebat itu.

Lam-hay-gok-sin terbahak-bahak, mendadak pecut ekor buaya menyabat pula selagi In Tiong-ho tertegun tadi. Namun tiba-tiba sesosok bayangan hijau menyelinap tiba, itulah dia Yap Ji-nio adanya. Dengan gesit ia menyela ke tengah, sekali tangannya meraih, ujung pecut Gok-sin kena disambarnya terus ditarik ke samping, kesempatan mana telah digunakan In Tiong-ho untuk melompat ke pinggir.

“Losam, Losi, urusan apa hingga kalian saling gebrak dengan senjata?” demikian tanya Yap Ji-nio kemudian.

Ketika sekilas dilihatnya wajah Bok Wan-jing yang cantik itu, seketika air mukanya berubah hebat. Biasanya yang paling dibenci olehnya ialah wanita yang berparas lebih cantik daripada dirinya. Kini melihat kecantikan Bok Wan-jing yang susah dilukiskan itu, seketika ia terkesiap.

Dalam pada itu Wan-jing juga melihat wanita jahat nomor dua di dunia ini sudah menggondol kembali seorang anak kecil kira-kira berumur 3-4 tahun. Tahulah dia sekarang, kiranya wanita jahat itu turun gunung tadi hanya untuk mencari korban bayi lain yang akan diisap darahnya.

Dengan datangnya Yap Ji-nio, terang pertarungan Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho takkan berlangsung terus. Ketika melihat sorot mata wanita jahat itu bersinar aneh, Bok Wan-jing jadi mengirik sendiri dan lekas berpaling, tidak berani memandangnya lagi.

Dalam pada itu terdengar anak yang dipondong Yap Ji-nio itu sedang berteriak-teriak dan menangis, “Ayah! Di mana ayah?”

“Diamlah, San-san sayangku! Ayah sebentar lagi akan datang, diamlah, jangan menangis, manisku!” demikian Yap Ji-nio menimang dengan kasih sayang seperti seorang ibu.

Bila teringat pada mayat bayi yang dilihatnya di tengah semak-semak itu, lalu dibandingkan dengan suara lembut yang penuh rasa kasih sayang Yap Ji-nio ini, bulu roma Bok Wan-jing seketika menegak semua.

Kemudian terdengar In Tiong-ho berkata dengan tertawa, “Jici, Losam telah berhasil meyakinkan ilmu gunting congor buaya dan pecut buntut buaya yang lihai, baru saja aku telah bergebrak beberapa jurus dengan dia dan aku merasa sulit melawannya. Selama sepuluh tahun ini, Jici sendiri berhasil meyakinkan ilmu apa? Dapatlah menandingi kedua macam senjata Losam yang aneh ini?”

Sama sekali ia tidak menyinggung tentang Lam-hay-gok-sin menuduhnya mencelakai calon muridnya, sebaliknya ia sengaja mengucapkan pancingan halus itu untuk mengadu domba Yap Ji-nio bergebrak dengan Lam-hay-gok-sin.

Yap Ji-nio sendiri ketika naik ke atas puncak tadi, dari jauh sudah melihat cara bagaimana kedua kawannya lagi saling hantam, maka dengan tertawa tawar saja ia menjawab, “Ah, selama sepuluh tahun ini aku hanya mengutamakan berlatih Lwekang, soal ilmu pukulan dan main senjata menjadi asing bagiku, tentu aku bukan tandingan Losam dan kau lagi.”

Jawaban sederhana ini membikin Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho terkesiap juga, pikir mereka, “Selamanya dia unggul dalam hal kegesitan dan kelemasan, soal Lwekang hanya biasa saja. Tapi selama 10 tahun ini dia justru giat berlatih Lwekang, apa barangkali dia ketemu guru kosen atau beruntung menemukan sesuatu kitab pusaka ilmu Lwekang dan sebagainya?”

Selagi Lam-hay-gok-sin hendak tanya, tiba-tiba di pinggang gunung sana ada suara bentakan orang, “Perempuan bangsat, untuk apa kau menculik anakku? Lekas kembalikan!”

Baru lenyap suaranya, tahu-tahu orangnya juga sudah melayang naik ke atas puncak dengan cekatan sekali.

Waktu Bok Wan-jing mengawasi, ternyata orang ini tak-lain tak-bukan adalah Co Cu-bok, itu ketua Bu-liang-kiam. Ia terkejut, tapi segera mengerti pula duduknya perkara, “Ya, tentu Yap Ji-nio tidak mendapatkan anak kecil di sekitar Bu-liang-san ini, akhirnya anak ketua Bu-liang-kiam yang ditemukan olehnya terus digondol lari!”

Maka terdengar Yap Ji-nio sedang menjawab, “Co-siansing, putramu ini sungguh lincah dan menyenangkan, aku membawanya ke sini untuk bermain, besok tentu akan kupulangkan padamu, jangan kau khawatir!”

Sembari berkata, ia mencium sekali di pipi San-san yang kecil itu, lalu mengusap-usap kepala anak itu dengan sayangnya.

Co San-san, anak yang bernasib malang itu, segera berteriak-teriak demi tampak datangnya sang ayah dan minta digendong.

Co Cu-bok terharu, ia ulur tangan dan melangkah maju sambil berkata, “Anak kecil yang nakal, tiada apa-apanya yang menarik, silakan engkau kembalikan padaku saja!”

“Haha!” tiba-tiba Lam-hay-gok-sin tertawa. “Sekali anak kecil sudah jatuh di tangan ‘Bu-ok-put-cok’ Yap Sam-nio, biarpun anak raja juga tidak mungkin dikembalikan olehnya.”

Co Cu-bok tergetar mendengar ucapan itu, dengan suara gemetar ia tanya, “Kau … kau bernama Yap Sam-nio? Pernah … pernah hubungan apakah dengan Yap Ji-nio?”

Rupanya sudah lama ia dengar nama jahat Yap Ji-nio yang setiap hari mesti mengisap darah segar seorang bayi, maka ia menjadi khawatir jangan-jangan “Yap Sam-nio” ini adalah saudara Yap Ji-nio dan mempunyai hobi yang sama, kan anaknya itu bisa celaka?

Ia tidak tahu bahwa Lam-hay-gok-sin yang sengaja menurunkan urutan wanita jahat itu dari “Ji” atau kedua menjadi “Sam” atau ketiga, supaya bertukar urutan dengan dia dalam kedudukan “Su-ok” itu.

Namun Yap Ji-nio tidak gusar, sebaliknya ia mengikik tawa, lalu menyahut, “Ah, jangan kau percaya pada ocehannya. Aku sendirilah Yap Ji-nio! Di dunia ini mana ada lagi Yap Ji-nio yang lain atau Yap Sam-nio segala?”

Sekejap itu air muka Co Cu-bok menjadi pucat bagai mayat.

Semula waktu ia tahu anaknya diculik orang, sepenuh tenaga ia terus mengejar, meski di tengah jalan ia sudah merasakan ilmu silat penculik itu masih jauh di atas dirinya, namun ia masih menaruh harapan semoga wanita penculik yang tak dikenal dan tiada punya permusuhan apa-apa dengan dirinya ini mungkin takkan bikin susah putranya.

Siapa duga wanita itu justru adalah “Bu-ok-put-cok” Yap Ji-nio, si wanita mahajahat nomor dua dari dunia ini. Keruan seketika mulut Co Cu-bok ternganga seakan-akan tersumbat.

“Lihatlah betapa mungilnya anakmu ini, kulitnya halus, dagingnya gemuk, warnanya kemerah-merahan, sungguh pintar sekali piaraanmu, tentu banyak kau beri makan jamu kuat padanya. Ya, betapa pun memang lain anak orang terkemuka daripada anak orang desa yang kurus kurang makan!” demikian Yap Ji-nio berkata sembari memegang-megang dan mengangkat tangan si bocah ke arah sinar matahari, mulutnya tiada henti-hentinya berkecek-kecek memuji, seolah-olah seorang nyonya rumah yang lagi memilih sayur atau ayam daging bila sedang belanja di pasar.

Melihat wanita jahat yang itu hampir mengiler oleh karena bakal korbannya yang bermutu pilihan itu, Co Cu-bok menjadi khawatir dan gusar sekali. Walaupun tahu bukan tandingan orang, tapi mengingat sekejap lagi putranya bakal dimakan, tanpa pikir lagi pedangnya terus menusuk ke depan dengan tipu serangan “Yu-hong-tiau-gi” atau ada burung Hong datang menghadap, kontan ia tusuk tenggorokan Yap Ji-nio.

Namun Yap Ji-nio hanya tersenyum saja, ia sodorkan badan Co San-san ke depan, kalau tusukan Co Cu-bok itu diteruskan, pasti akan menembus badan putranya sendiri.

Syukur ilmu pedangnya sudah mencapai puncaknya, belum sepenuhnya pedang ditusukkan cepat ia tarik sedikit, ujung pedang menyendal, sekali putar, segera tipu serangannya sudah berganti dengan “Thian-ma-hing-kong” atau kuda langit terbang di angkasa, tahu-tahu pundak kanan Yap Ji-nio yang diarahnya sekarang.

Tapi Yap Ji-nio tetap tidak berkelit, kembali tubuh Co San-san digeser ke samping untuk dijadikan tameng lagi.

Hanya sekejap saja berturut-turut Co Cu-bok menusuk lima kali, tapi Yap Ji-nio hanya melayani dengan seenaknya saja, selalu ia sodorkan badan Co San-san ke arah tusukan Co Cu-bok, sudah tentu, terpaksa ketua Bu-liang-kiam itu urung menyerang.

Dalam pada itu, sesudah diudak Lam-hay-gok-sin, rasa dongkol In Tiong-ho belum terlampiaskan, melihat kelakuan Co Cu-bok itu, ia menjadi gemas, mendadak ia melompat maju, cakar baja sebelah kiri terus mencengkeram kepala Co Cu-bok.

Namun Cu-bok sempat menangkis dengan pedangnya, “trang”, kedua senjata saling beradu, pikir Co Cu-bok sekalian hendak mendorong ujung pedangnya ke tenggorokan lawan dengan gerakan “Sun-cui-tui-ciu” atau mendorong perahu menurut arus air, tapi mendadak jari cakar baja lawan bisa mencakup hingga batang pedangnya tergenggam dengan kencang.

Kiranya senjata In Tiong-ho itu terpasang alat jeplakan yang sangat praktis, asal tekan pegasnya, segera jari baja mencengkeram menurut keinginan pemakainya, hingga mirip benar dengan jari manusia.

Sebagai seorang ketua sesuatu aliran persilatan, dalam hal ilmu pedang, Co Cu-bok mempunyai latihan yang sangat mendalam, meski kepandaiannya masih kalah tinggi daripada In Tiong-ho, tapi juga tidak sampai keok hanya dalam satu dua gebrakan saja.

Dalam kagetnya tadi, ia tidak rela melepaskan pedangnya begitu saja, cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk menarik sekuatnya. Tapi pada saat itu juga, “cret”, cakar baja In Tiong-ho yang lain telah mencengkeram pula pundaknya.

Masih untung baginya karena jari cakar itu sebelumnya sudah terkutung dua oleh gunting congor buayanya Lam-hay-gok-sin, maka lukanya tidak parah, namun darah segera bercucuran juga, sedang ketiga jari cakar baja itu masih tetap mencengkeram kencang tulang pundaknya. Terus saja In Tiong-ho melangkah maju menambahi sekali depakan hingga Co Cu-bok ditendang roboh.

Hanya sekali dua gebrakan saja ternyata seorang ketua suatu aliran persilatan terkemuka itu sama sekali tak bisa berkutik.

Segera Lam-hay-gok-sin berseru, “Hebat, Losi! Dua jurusmu barusan ini tidak jelek, tidak sampai bikin malu kawanmu ini!”

Sebaliknya Yap Ji-nio berkata dengan tertawa, “Co-tayciangbun, ingin kutanya padamu, apakah kau lihat Lotoa kami atau tidak?”

“Siapakah Lotoa kalian? Aku tidak melihatnya!” sahut Cu-bok dengan meringis menahan sakit karena tulang pundaknya masih dicengkeram oleh cakar baja.

“Kau bilang tidak tahu siapa Lotoa kami, kenapa kau jawab tidak melihatnya?” tiba-tiba Lam-hay-gok-sin menyela. “Hm, Sammoay, lekas kau makan saja anaknya!”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: