Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 8

“Pagi hari ini aku sudah sarapan, sekarang masih kenyang,” sahut Yap Ji-nio. “Co-tayciangbun, boleh kau pergi saja, kami takkan cabut nyawamu!”

“Jika demikian, Yap … Yap Ji-nio, harap kembalikan putraku itu, biar kucarikan 3-4 anak lain untukmu. Sungguh aku terima kasih tak terhingga.”

“Ehm, baik juga!” seru Yap Ji-nio dengan berseri-seri. “Pergilah kau carikan delapan anak yang lain. Kami berjumlah empat orang, masing-masing membopong dua, cukup untuk makananku selama delapan hari. Nah, Losi, boleh kau lepaskan dia!”

Segera In Tiong-ho kendurkan jari cakarnya melepaskan Co Cu-bok. Dengan menahan sakit, Co Cu-bok berbangkit, lalu memberi hormat kepada Yap Ji-nio sambil ulur tangan hendak terima kembali putranya.

“Eh, sebagai tokoh kalangan Kangouw, kenapa Co-tayciangbun tidak kenal aturan?” ujar Yap Ji-nio dengan tertawa. “Tanpa ditukar delapan orang anak, masakah demikian gampang kuserahkan kembali putramu?”

Melihat putranya berada dalam rangkulan wanita itu, walaupun dalam hati sebenarnya seribu kali tidak rela, tapi apa daya, kepandaian sendiri jauh di bawah orang, terpaksa Co Cu-bok manggut dan menjawab, “Baiklah, biar kupergi mencarikan delapan anak yang putih gemuk untukmu, harap engkau menjaga baik-baik anakku.”

Yap Ji-nio tak mau menggubrisnya lagi, kembali ia bernyanyi-nyanyi kecil menimang anak dalam pangkuannya itu.

“San-san anakku yang baik, sebentar ayah akan datang lagi untuk membawamu pulang ke rumah!” seru Cu-bok kemudian.

Co San-san menangis keras-keras minta ikut sang ayah dan meronta-ronta di pangkuan Yap Ji-nio.

Dengan rasa berat Co Cu-bok pandang beberapa kali pada sang putra, sambil memegangi luka di pundak, segera ia putar tubuh hendak berangkat.

Apa yang terjadi itu dapat diikuti Bok Wan-jing. Ia pikir, Co Cu-bok tentu akan memerintahkan anak muridnya pergi menculik anak kecil keluarga petani di sekitar Bu-liang-san untuk menukar putranya sendiri, hal itu dapat dikatakan demi cinta kasih ayah pada anaknya, soalnya terpaksa.

Tapi betapa pun juga adalah terlalu egoist, terlalu mementingkan diri sendiri, sebaliknya delapan anak keluarga orang lain yang tak berdosa akan menjadi korban.

Tanpa pikir lagi, segera ia melompat keluar dan mengadang di depan Co Cu-bok, bentaknya, “Orang she Co, kau kenal malu tidak, hendak merebut anak orang lain untuk menukar jiwa putramu sendiri? Apakah kau masih ada muka buat menjadi ketua suatu aliran persilatan?”

“Pertanyaan nona memang tepat,” sahut Co Cu-bok dengan kepala menunduk. “Co Cu-bok selanjutnya tiada muka buat tancap kaki di kalangan Bu-lim lagi, segera aku akan simpan pedang dan cuci tangan mengasingkan diri.”

“Aku melarang kau turun gunung!” bentak Wan-jing pula dengan pedang terhunus.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari jauh berkumandang suara suitan orang yang nyaring. Dengan girang Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho berseru, “Itu dia, Lotoa sudah datang!”

Berbareng kedua orang terus melompat pergi sambil bersuit sahut-menyahut ke arah datangnya suara nyaring tadi, hanya sekejap saja keduanya sudah menghilang di balik batu karang sana.

Sebaliknya Yap Ji-nio masih acuh tak acuh sambil menimang-nimang anak di pangkuannya, bahkan ia melirik sekejap kepada Bok Wan-jing, lalu katanya dengan tertawa, “Nona Bok, ternyata kau masih mempunyai jiwa kesatria pula.”

Kontan Wan-jing mengirik ketika sinar matanya kebentrok dengan pandangan Yap Ji-nio yang tajam itu, cepat ia tenangkan diri sambil genggam pedangnya kencang-kencang.

Dengan tersenyum Yap Ji-nio berkata pula, “Sepasang matamu ini sungguh sangat jeli, aku ingin sekali bisa bertukar denganmu. Kemarilah, boleh kau cungkil dulu kedua biji matanya itu!”

Ucapan terakhir itu ditujukan kepada Co Cu-bok.

Sebenarnya Co Cu-bok tidak bermaksud memusuhi Bok Wan-jing, tapi putra sendiri berada di bawah cengkeraman orang, terpaksa ia menurut perintah. Begitu pedang bergerak, segera ia membentak, “Nona Bok, lebih baik kau turut pada perintah Yap Ji-nio saja, supaya tidak lebih banyak menderita siksaan.”

Sambil berkata, segera ia menusuk.

“Manusia hina!” damprat Bok Wan-jing sambil menangkis. “Trang”, kedua pedang saling beradu, tapi ujung pedang si gadis tahu-tahu menyelonong ke bahu musuh.

Tipu serangan ini sebenarnya hanya pura-pura belaka, maka sesudah tiga jurus, ia sengaja geser tubuh sedikit, sekonyong-konyong tiga panah berbisa dibidikkan ke belakang mengarah Yap Ji-nio.

Serangan itu sangat keji dan di luar dugaan, Bok Wan-jing berharap dapat mengenai sasarannya dalam keadaan musuh tidak berjaga-jaga.

“Jangan melukai putraku!” demikian Co Cu-bok menjerit khawatir.

Di luar dugaan, walaupun meluncurnya ketiga panah itu cepat luar biasa, tapi hanya sekali Yap Ji-nio kebas lengan bajunya, semua panah itu sudah disampuk jatuh ke samping. Berbareng itu sekenanya ia copot sebelah sepatu kecil yang dipakai Co San-san, terus ditimpukkan ke punggung Bok Wan-jing.

Mendengar sambaran angin dari belakang, cepat Wan-jing putar pedangnya menangkis ke belakang, namun biarpun menyerempet batang pedang, sepatu kecil itu tetap meluncur ke depan, “plak”, tepat pinggang Bok Wan-jing tertimpuk.

Ternyata Yap Ji-nio telah memakai daya efek dalam sambitannya. Dalam keadaan sudah terluka, cepat Bok Wan-jing mengerahkan tenaga dalam untuk bertahan.

Sementara itu sepatu kedua sudah disambitkan lagi oleh Yap Ji-nio, sekali ini dengan tepat mengenai punggung Bok Wan-jing. Pandangan Wan-jing menjadi gelap, tak tertahan lagi ia jatuh terkulai ke tanah.

Kesempatan itu segera digunakan Co Cu-bok, ujung pedangnya mengancam di dada si gadis, sedang tangan lain diulur hendak mencolok biji mata Bok Wan-jing.

Dalam keadaan tak berdaya, Wan-jing hanya menjerit tertahan sekali, “O, Toan-long!”

Sekonyong-konyong ia menubruk maju memapak ujung pedang lawan. Nyata ia sudah bertekad daripada menderita siksaan dicukil matanya, lebih baik mati di ujung pedang saja.

Syukurlah pada saat itu juga sekonyong-konyong menyambar tiba sinar kilat, tahu-tahu pedang yang dipegang Co Cu-bok itu mencelat ke udara, begitu hebat daya pental itu sampai ketua Bu-liang-kiam itu ikut sempoyongan ke belakang dan hampir-hampir terjungkal.

Keruan ketiga orang di atas puncak itu kaget semua. Berbareng mereka berpaling ke arah pedang yang mencelat ke atas itu.

Kiranya pedang itu terlilit oleh seutas tali pancing ikan yang panjang, ujung tali pancing itu adalah sebatang galah bambu, pemegangnya adalah seorang nelayan yang memakai caping dan bermantel ijuk.

Usia nelayan itu kira-kira 30 tahun, gagah berwibawa dan sedang tertawa dingin.

Segera Yap Ji-nio dapat mengenalnya sebagai orang yang tempo hari bertempur dengan In Tiong-ho, ilmu silatnya tidak lemah, tapi kalau dibanding dirinya masih selisih setingkat, maka ia tidak perlu takut. Cuma tak diketahuinya, apakah seorang kawannya yang lain ikut datang atau tidak?

Ketika ia melirik, benar juga segera tertampak seorang laki-laki berbaju pendek dan bersepatu rumput sudah berdiri di sebelah kiri sana. Pada pinggang laki-laki ini terikat seutas tali rumput yang kasar, di tengah tali itu terselip sebatang kapak pendek.

Sedang Yap Ji-nio hendak buka suara, tiba-tiba terdengar pula ada suara keresek perlahan di belakangnya. Cepat ia berpaling. Maka tertampaklah di sana-sini masing-masing juga sudah berdiri pula seorang.

Yang di sisi sana berdandan sebagai sastrawan, tangan kanan membawa kipas lempit, tangan kiri menggenggam segulung buku. Dan yang berdiri di sebelah sini adalah seorang laki-laki berkaki telanjang, alisnya tebal, matanya besar, pundaknya memanggul cangkul garuk bergigi lima. Keempat orang terbagi pada empat jurusan hingga berbentuk mengepung.

Diam-diam Yap Ji-nio pikir, “Jika ilmu silat keempat orang ini setara, seorang diri mungkin aku tak sanggup melawan mereka. Baiknya Lotoa berada di sekitar sini, kalau mendengar suaraku, tentu segera datang. Biarlah orang-orang ini kubereskan dahulu, agar kelak kalau menyerbu istana Tayli bisa banyak menghemat tenaga.”

Tapi sebelum ia berteriak, tiba-tiba terdengar Co Cu-bok berseru, “Eh, keempat tokoh ‘Hi-jiau-keng-dok’ dari istana telah datang semua, terimalah hormatku Co Cu-bok dari Bu-liang-kiam ini!”

Sembari berkata ia terus memberi hormat kepada keempat laki-laki itu.

Hanya si sastrawan tadi yang membalas hormat dengan sopan, sedang ketiga laki-laki lainnya hanya diam saja tak menggubris.

Tiba-tiba si nelayan tertawa dingin sambil menggoyang-goyangkan alat pancingnya hingga pedang Co Cu-bok yang masih terlilit tali pancing itu berkilat-kilat oleh sinar sang surya, lalu ejeknya, “Huh, ‘Bu-liang-kiam’ kan juga suatu aliran persilatan terkemuka di negeri Tayli ini, sungguh tidak nyana bahwa Ciangbunjinnya justru adalah seorang yang begini rendah memalukan. Bagaimana dengan Toan-kongcu? Di mana dia?”

Dalam keadaan putus asa dan sudah bertekad untuk mati, kini tiba-tiba datang penolong, tentu saja Bok Wan-jing sangat girang, kini mendengar pula orang menanyakan Toan-kongcu, keruan ia tambah menaruh perhatian.

Maka terdengarlah jawaban Co Cu-bok, “Toan-kongcu? Ya, beberapa hari yang lalu memang pernah kulihat Toan-kongcu, dia … dia berada bersama dengan … dengan nona ini.”

Segera pandangan si nelayan beralih kepada Bok Wan-jing dengan penuh tanda tanya.

Maka kata Wan-jing, “Tadinya Toan-kongcu berada di atas puncak karang sana, tapi selama beberapa hari ini ia menghilang, mati-hidupnya tidak diketahui.”

Nelayan itu mengamat-amatinya sejenak, lalu membentak, “Jadi engkau inilah Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing yang terkenal jahat itu? Di manakah Kongcuya kami? Lekas katakan!”

Semula sebenarnya Bok Wan-jing rada suka pada si nelayan karena kata-katanya yang sangat memerhatikan dirinya Toan Ki. Tapi kini mendadak dirinya dibentak dan ditanya seperti pesakitan, seakan-akan dirinya dituduh membikin celaka Toan Ki.

Dasar watak Bok Wan-jing memang juga angkuh, mana ia sudi dihina seperti itu. Kontan ia balas tertawa dingin dan menjawab, “Siapakah kau? Berani kau tanya aku dengan sikap demikian?”

Nelayan itu menjadi gusar, katanya, “Kau malang melintang di wilayah Tayli, membunuh orang dengan semena-mena, memang sudah lama kami ingin mencari kau. Sekarang kebetulan bisa bertemu di sini, jika kau mengaku terus terang di mana beradanya Toan-kongcu, urusan dapat diakhiri dengan mudah, kalau tidak, hm, hm!”

“Toan Ki sudah dibinasakan oleh kawan perempuan itu,” seru Wan-jing tiba-tiba sambil menuding Yap Ji-nio, lalu menyambung, “Orang itu katanya bernama ‘Kiong-hiong-kek-ok’ In Tiong-ho, tubuhnya tinggi kurus bagai galah bambu ….”

Nelayan itu sangat terkejut, bentaknya memotong, “Apa benar katamu ini? Benar-benar orang itu yang membunuh Toan-kongcu?”

Di antara keempat laki-laki itu, si petani yang membawa pacul garuk itu berwatak paling berangasan. Demi mendengar Toan Ki sudah mati, seketika ia menangis keras-keras, serunya, “Toan-kongcu, biarlah kubalaskan sakit hatimu!”

Berbareng garuknya terus menyambar kepala Yap Ji-nio.

Namun sekali mengegos Yap Ji-nio dapat menghindar, tanyanya dengan tertawa, “Apa engkau ini Tiam-jong-san-long di antara ‘Hi-jiau-keng-dok’ itu?”

“Benar! Rasakan dulu garukku ini!” sahut petani itu sambil menyerampang pula dengan senjatanya yang khas itu.

Beberapa hari yang lalu Yap Ji-nio pernah menyaksikan si nelayan dan si tukang kayu menempur In Tiong-ho, kini berhadapan sendiri dengan Tiam-jong-san-long atau si petani dari pegunungan Tiam-jong, nyata memang sangat hebat kedua kali serangan tadi.

Mendadak Yap Ji-nio tertawa terkekeh-kekeh. Tapi hanya beberapa kali tertawa, tiba-tiba suara tawa itu berubah menjadi menangis sambil sesambatan, “Aduh, ‘Hi-jiau-keng-dok’ keempat anakku dari negeri Tayli, kalian telah mati semua dalam usia pendek, sungguh ibumu ini sedih tak terhingga! O, anak-anakku, tunggulah ibumu Yap Ji-nio ini di akhirat!”

Padahal tokoh ‘Hi-jiau-keng-dok’ atau si nelayan, si tukang kayu, si petani dan si sastrawan, semuanya berusia setaraf dengan Yap Ji-nio. Tapi kini ia sendiri menyebut sebagai ibu mereka, sambil sesambatan, “O, anak-anakku sayang” dan sebagainya. Keruan Tiam-jong-san-long menjadi gusar, ia mainkan pacul garuknya terlebih kencang hingga berwujud segulung kabut putih yang mengurung rapat lawannya.

Namun Yap Ji-nio tidak balas menyerang, ia tetap peluk Co San-san sambil berkelit kian kemari, betapa pun kencang Tiam-jong-san-long memutar garuknya, tetap tak bisa menyenggol ujung baju lawannya.

Sebaliknya ratap tangis Yap Ji-nio masih tetap berkumandang dengan sedih memilukan, suaranya makin lama makin keras.

Tiba-tiba hati Bok Wan-jing tergerak, serunya segera, “He, dia sedang memanggil kawan-kawannya. Kalau ‘Thian-he-su-ok’ (empat durjana di dunia) datang semua, mungkin kalian tak sanggup melawannya.”

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari balik gunung sana berkumandang suara seruling yang nyaring merdu hingga suara tangis Yap Ji-nio yang memilukan itu terpengaruh seakan-akan paduan suara dari dua nada yang tinggi dan rendah.

Diam-diam Bok Wan-jing terkejut, “Jangan-jangan orang jahat nomor satu di jagat ini sudah datang sekarang.”

Dalam pada itu si tukang kayu sudah cabut kapak pendek dari pinggangnya terus membentak, “Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio memang tidak bernama kosong, biarlah aku ‘Jay-sin-khek’ (si Tukang Pencari Kayu) belajar kenal dengan kepandaianmu.”

Habis berkata, segera ia membuka serangan dengan cepat.

Ternyata ilmu kepandaian si tukang kayu itu adalah ‘Boan-kin-co-ciat-cap-pek-poh’ atau 18 jurus ilmu permainan kapak pembabat akar, ia mengapak ke sini dan ke sana, yang diincar selalu bagian bawah musuh.

“Hah, bocah ini hanya mengganggu saja. Ini, boleh kau bacok mati dia!” ujar Yap Ji-nio dengan tertawa sambil sodorkan Co San-san ke arah kapak.

Keruan Jay-sin-khek terkejut, lekas ia tarik kembali senjatanya. Tak terduga, sedikit ayal itulah ia sendiri harus telan pil pahit, mendadak Yap Ji-nio ayun kakinya mendepak hingga tepat kena pundaknya. Syukur perawakan Jay-sin-khek kekar kuat, hingga depakan itu hanya membuatnya terhuyung-huyung dan tidak sampai terluka.

Dan dengan memperalat anak itu sebagai tameng, Tiam-jong-san-long dan Jay-sin-khek menjadi rada repot, pada waktu menyerang mereka menjadi ragu-ragu. Apalagi dari samping Co Cu-bok bergembar-gembor, “Awas anakku! Jangan melukai anakku!”

Sedang pertarungan itu berlangsung dengan sengit, terdengar suara seruling tadi semakin mendekat. Dari balik karang sana muncul seorang laki-laki berjubah longgar dan bertali pinggang kendur. Kedua tangan memegang sebuah seruling kemala sedang ditiup dengan asyiknya.

Bok Wan-jing melihat orang ini berjenggot cabang tiga, mukanya tampan, kulit badannya putih bagai salju, jari-jarinya yang memegang suling itu tampak sama putihnya dengan kulit mukanya.

Menampak datangnya orang itu, dengan langkah cepat si sastrawan tadi terus mendekati dan bisik-bisik berbicara dengan dia dengan sangat hormat. Tapi orang itu masih terus meniup serulingnya, hanya sinar matanya yang tampak mengerling ke arah Bok Wan-jing.

“Kiranya orang ini adalah segolongan dengan keempat tokoh Hi-jiau-keng-dok ini,” demikian Bok Wan-jing membatin.

Dalam pada itu, sambil masih meniup seruling, perlahan orang itu lantas mendekati Yap Ji-nio bertiga yang masih bertempur dengan seru itu.

Meski si tukang kayu ayun kapaknya begitu keras dan Tiam-jong-san-long putar garuknya begitu kencang, namun orang itu seakan-akan tidak melihatnya saja, mendadak suara serulingnya meninggi keras hingga anak telinga semua orang serasa pekak.

Dan sekali jari-jari orang itu menutup rapat lubang-lubang serulingnya dan meniupnya dengan keras, tahu-tahu dari ujung seruling menyembur keluar serangkum angin tajam ke muka Yap Ji-nio.

Dalam kagetnya, Yap Ji-nio cepat menghindar, namun pada saat lain, ujung seruling lawan tahu-tahu sudah mengancam tenggorokannya.

Dua kali serangan itu dilakukan dengan kecepatan dan kegesitan yang mengejutkan, biarpun Yap Ji-nio dapat berkelit dengan cepat, tidak urung ia merasa kerepotan juga. Dalam seribu kerepotannya itu, ia paksakan diri mendoyong badan bagian atas ke belakang untuk menghindari tutukan seruling yang mengancam tenggorokan itu.

Tak tersangka, mendadak Koan-bau-khek atau si jubah longgar itu, menggunakan tenaga dalam dengan seruling menimpuk ke ulu hati Yap Ji-nio yang sedang mendoyong itu.

Dalam keadaan demikian, Yap Ji-nio tidak berani sembrono lagi, segera ia lemparkan Co San-san ke tanah dan ulur tangan hendak merampas seruling orang. Namun sekali Koan-bau-khek kebas lengan bajunya yang longgar itu, anak itu kena digulung olehnya, katanya, “Serahkan sini!”

Sambil berkata, ia pun angsurkan tangan kirinya.

Saat itu tepat Yap Ji-nio baru saja dapat memegang seruling yang diluncurkan pemiliknya, seketika ia merasa seruling itu panas seperti dibakar, hal ini benar-benar di luar dugaan Yap Ji-nio, pikirnya, “Jangan-jangan seruling ini dipoles racun?”

Maka cepat ia lepas tangan dan tak jadi merampasnya.

Dalam pada itu tangan kiri Koan-bau-khek yang terulur tadi tepat dapat merebut kembali serulingnya, sekalian ia terus sodokkan senjata itu ke bahu Yap Ji-nio, berbareng lengan bajunya yang menggulung Co San-san itu dikipratkan hingga bocah itu terlempar ke arah Co Cu-bok. Dengan tersipu-sipu cepat Co Cu-bok menangkap putranya itu.

Dua gerakan Koan-bau-khek, merebut anak dan menyerang musuh itu dilakukannya dengan cepat dan sewajarnya tanpa dipaksakan, gayanya indah, sasarannya jitu, sampai Bok Wan-jing pun ternganga saking kagumnya.

Yap Ji-nio sendiri, ketika orang menangkap kembali serulingnya tadi, sekilas dapat melihat telapak tengah Koan-bau-khek itu merah membara, ia menjadi kaget, “Jangan-jangan dia sudah berhasil meyakinkan Cu-se-jiu (tangan pasir merah) yang sudah lama hilang di kalangan Bu-lim itu? Jika demikian, terang di atas serulingnya bukannya dipoles dengan racun, tapi adalah tenaga dalamnya yang lihai itu telah membakar serulingnya hingga panasnya mirip habis dikeluarkan dari tungku.”

Maka cepat ia mundur beberapa tindak, lalu katanya dengan tertawa, “Wah, ilmu silat saudara sungguh hebat. Tidak nyana bahwa di wilayah Tayli ini masih ada tokoh lihai begini. Numpang tanya siapakah namamu yang terhormat?”

Si jubah longgar hanya tersenyum saja, sahutnya, “Atas kunjungan Ji-nio ke wilayah kami ini, harap maaf kami tidak menyambut sebelumnya. Biarpun negeri Tayli ini hanya negeri kecil dan rakyatnya miskin, tapi sepantasnya memenuhi juga sekadar kewajiban sebagai tuan rumah.”

Dalam pada itu Co Cu-bok yang sudah mendapatkan kembali putranya dengan selamat, dalam girang dan herannya itu, tiba-tiba teringat seseorang olehnya, pikirnya, “Dilihat dari wajahnya, orang ini memang mirip benar dengan tokoh yang sering dibuat cerita itu, tapi beliau mengapa bisa berkecimpung di kalangan Kangouw lagi?”

Namun begitu, tak tertahan juga rasa ingin tahunya, segera ia tanya, “Apakah tuan ini adalah … adalah Ko-houya?”

Si jubah longgar itu tidak menjawab benar atau tidak, tapi lantas berkata kepada Yap Ji-nio, “Di manakah Toan-kongcu kami, bagaimana keadaannya, harap suka memberi tahu?”

“Aku tidak tahu,” sahut Ji-nio dengan tertawa dingin. “Andaikan tahu juga takkan kukatakan.”

Habis itu, sekonyong-konyong ia melayang turun ke bawah gunung.

“Nanti dulu!” seru si jubah longgar terus mengudak. Tapi mendadak pandangannya menjadi silau, tahu-tahu senjata rahasia musuh bagai hujan menghambur ke arahnya. Cepat ia putar serulingnya, sebagian senjata gelap itu dapat dihindari, sebagian lagi kena dipukul jatuh dengan seruling. Namun tangannya terasa pegal juga terbentur oleh sambitan senjata gelap yang kuat itu, diam-diam ia membatin, “Sungguh hebat perempuan ini.”

Sementara itu Yap Ji-nio sudah sempat melayang pergi bagai hantu cepatnya, untuk mengejarnya terang tak keburu lagi. Ketika senjata gelap tadi ditegasi, ternyata terdiri dari macam-macam bentuk mainan. Segera Koan-bau-khek teringat, “Ya, barang-barang ini tentu diperolehnya dari anak-anak yang menjadi korbannya. Penyakit ini kalau tak dibasmi, entah betapa banyak anak kecil di negeri Tayli ini akan dicelakai pula!”

Di sebelah sana, si nelayan lantas ayun pancingnya hingga pedang yang terlilit oleh tali pancingnya mendadak mencelat ke arah Co Cu-bok dengan gagang pedang di depan. Dengan gugup, cepat Co Cu-bok menangkap pedangnya sendiri itu dengan wajah merah malu.

Lalu nelayan itu berpaling kepada Bok Wan-jing dan membentaknya dengan bengis, “Sebenarnya bagaimana keadaan Toan-kongcu? Apa benar telah dicelakai oleh In Tiong-ho?”

Walaupun dalam hati Bok Wan-jing rada mendongkol karena dibentak, tapi pikirnya, “Ilmu silat orang-orang ini sangat tinggi, tampaknya mereka adalah kawannya Toan-long. Biarlah kukatakan apa yang sebenarnya kepada mereka agar bersama-sama mereka bisa mencarinya ke sekitar jurang sana.”

Tapi sebelum ia buka suara, tiba-tiba di bawah gunung sana ada suara teriakan seorang, “Bok-kohnio … Bok-kohnio … apakah engkau berada di sini?… Lam-hay-gok-sin, aku sudah datang, jangan engkau bikin susah Bok-kohnio!”

Mendengar suara itu, Koan-bau-khek dan kawan-kawannya itu tampak kegirangan luar biasa. Berbareng mereka berkata, “Itulah Kongcuya!”

Memang benar itulah suara Toan Ki. Dengan susah payah Bok Wan-jing telah menanti tujuh-hari tujuh-malam, kini mendadak mendengar suara orang yang diharapkan itu, saking girang dan kejutnya, sekonyong-konyong pandangannya terasa gelap terus jatuh pingsan ….

Dalam keadaan sadar tak sadar, ia dengar ada suara orang menyebut namanya, “Bok-kohnio! Aku sudah berada di sini, lekas engkau siuman!”

Perlahan Bok Wan-jing siuman kembali, ia merasa dirinya berada di dalam pelukan orang, seketika ia ingin melompat bangun, tapi lantas teringat olehnya, “Ah, ini Toan-long yang memeluk aku.”

Dengan rasa manis madu bercampur masam getir, perlahan ia membuka matanya, segera tertampak sepasang mata jeli yang berkilau-kilau sedang memandang padanya, siapa lagi dia kalau bukan Toan Ki.

“Hura, akhirnya engkau siuman juga!” demikian Toan Ki berseru girang.

Sementara itu Bok Wan-jing tak dapat lagi menahan air matanya yang bercucuran bagai hujan. Mendadak ia baliki tangannya, “plok”, kontan ia persen Toan Ki sekali tamparan. Meski ia menggampar Toan Ki sekali, tapi badannya masih tetap berada dalam pangkuan pemuda itu, seketika ia pun tiada tenaga untuk melompat bangun.

Sejenak Toan Ki melongo sambil meraba-raba pipi yang ditampar itu, kemudian katanya dengan tertawa, “Kenapa engkau selalu suka memukul orang? Sungguh tiada nona sewenang-wenang seperti engkau ini!”

Habis ini, mendadak wajahnya berubah muram dan tanya, “Di manakah Lam-hay-gok-sin? Kenapa dia tidak menungguku di sini?”

“Orang sudah menunggu selama tujuh-hari tujuh-malam, apa masih belum cukup?” sahut Wan-jing. “Dia sudah pergi sekarang!”

Seketika Toan Ki berubah girang, serunya, “Bagus, bagus! Aku justru khawatir setengah mati. Bila dia paksa aku mengangkat guru padanya, kan runyam?”

“Dan kalau engkau tidak suka menjadi muridnya, kenapa kau datang lagi ke sini?” tanya Wan-jing.

“Eh, lalu bagaimana dengan dirimu?” sahut Toan Ki. “Bukankah engkau berada di bawah cengkeramannya. Kalau aku tidak datang kemari, dia tentu akan bikin susah padamu, mana aku tega tinggal diam?”

Hati Wan-jing terasa bahagia, katanya pula, “Hm, engkau ini sungguh jahat, ingin sekali kutusuk membinasakanmu. Coba katakan, sebab apa tidak lambat dan tidak telat engkau justru datang pada saat sudah mendapat bala bantuan dan musuh sudah pergi, lalu berlagak kesatria hendak menolong aku? Kenapa selama tujuh-hari tujuh-malam engkau tidak datang mencariku?”

Toan Ki menghela napas, sahutnya, “Sudah tentu engkau tidak tahu bahwa selama itu aku berada di bawah cengkeraman orang dan tak bisa berkutik. Padahal siang dan malam aku selalu merindukan dirimu, sungguh aku khawatir setengah mati, coba kalau aku bisa melepaskan diri, tentu sejak tadi aku sudah datang. Nona Bok, apakah lukamu sudah sembuh? Orang jahat itu tidak … tidak menganiaya engkau bukan?”

“Pernah apa aku dengan engkau? Kenapa masih panggil nona apa segala terus-menerus?” omel Wan-jing.

Melihat paras si gadis yang kemerah-merahan dan semakin menambah kecantikannya, perasaan Toan Ki terguncang hebat. Sesungguhnya selama tujuh hari ini ia memang sangat merindukan gadis itu. Tak tertahan lagi ia merangkul lebih erat dan berkata, “Baiklah, Wan-jing, Wan-jing! Kupanggil demikian padamu, suka tidak engkau?”

Habis itu, terus saja ia tunduk kepala ke bawah hendak mencium bibir si nona.

Keruan Bok Wan-jing kaget, ia menjerit sekali sambil melompat bangun dengan wajah merah, serunya, “Ada orang luar di sini? Mana boleh engkau …. He, di manakah orang-orang itu?”

Waktu ia perhatikan, ternyata di sekitar situ sudah tidak kelihatan lagi bayangan Koan-bau-khek alias si jubah longgar bersama keempat jago Hi-jiau-keng-dok itu.

“Siapakah yang berada di sini? Apakah Lam-hay-gok-sin?” tanya Toan Ki dengan wajah menampilkan rasa takut pula.

“Sudah berapa lama engkau berada di sini?” tanya Wan-jing.

“Baru saja, belum lama,” sahut Toan Ki. “Begitu aku naik ke sini lantas kulihat engkau rebah tak sadarkan diri di sini, kecuali itu, tiada lagi bayangan orang lain. He, Wan-jing, marilah kita lekas pergi, jangan-jangan nanti akan tertawan pula oleh Lam-hay-gok-sin yang jahat itu!”

“Baiklah!” sahut Wan-jing. Lalu ia bergumam sendiri, “Aneh, hanya sekejap saja mengapa sudah menghilang semua?”

Saat itulah tiba-tiba dari balik batu karang sana terdengar seorang sedang bersenandung, lalu muncul seorang yang membawa kipas dan buku, itulah dia si sastrawan dari empat tokoh “Hi-jiau-keng-dok.”

“Cu-heng!” seru Toan Ki girang.

Cepat sastrawan itu masukkan kitab dan kipasnya ke dalam baju, lalu memburu maju dan menjura kepada Toan Ki sambil berkata dengan girang, “Kongcuya, syukur engkau dalam keadaan selamat, tadi ketika mendengar ucapan nona ini, sungguh kami khawatir tak terhingga!”

Dengan ramah Toan Ki membalas hormat orang, sahutnya, “Jadi kalian sudah bertemu tadi? Ken … kenapa baru sekarang muncul? Sungguh sangat kebetulan!”

“Kami berempat saudara diperintahkan menjemput Kongcuya pulang dan bukannya bertemu secara kebetulan,” ujar si sastrawan. “Kongcuya, engkau juga terlalu gegabah, seorang diri merantau Kangouw, untunglah kami mencari ke rumah Be Ngo-tek, lalu menyusul ke Bu-liang-san sini, selama beberapa hari kami benar-benar teramat khawatir.”

“Banyak juga penderitaan yang kurasakan,” ujar Toan Ki tertawa. “Paman dan ayah tentu marah-marah bukan?”

“Sudah tentu,” sahut si sastrawan. “Cuma pada waktu kami berangkat, kedua junjungan sudah reda marahnya dan sebaliknya merasa khawatir atas diri Kongcuya, kemudian Sian-tan-hou juga mendapat berita kedatangan Su-tay-ok-jin ke Tayli sini, beliau khawatir kalau Kongcuya dipergoki mereka, maka beliau sendiri pun ikut datang mencari engkau.”

“Su-tay-ok-jin apa? Jadi Ko-sioksiok juga ikut datang mencariku? Ah, aku jadi tak enak, di manakah beliau sekarang?”

“Barusan kami berada di sini semua,” sahut si sastrawan. “Ko-houya telah berhasil mengusir seorang wanita jahat, dan ketika mendengar suara datangnya Kongcuya, mereka merasa lega dan suruh aku menunggu engkau di sini, sedang mereka pergi menguber si wanita jahat itu. Kongcuya, marilah sekarang juga kita pulang ke istana agar tidak dibuat beban pikiran lebih lama oleh kedua tuan besar.”

“Kiranya sejak tadi engkau sudah berada di sini,” ujar Toan Ki kikuk. Teringat olehnya apa yang dia bicarakan dengan Bok Wan-jing yang meresap tadi, semua itu tentu telah didengar juga oleh sastrawan ini, tak tertahan lagi wajahnya menjadi merah jengah.

“Tadi aku lagi asyik membaca syair indah gubahan Ong Jiang-ling yang penuh semangat itu, di luar dugaan Kongcuya sudah lama berada di sini,” demikian kata si sastrawan dengan maksud menghilangkan rasa malu Toan Ki.

Maka dengan masih rada kikuk Toan Ki berpaling kepada Bok Wan-jing dan berkata, “Bok … Bok-kohnio, ini adalah Cu Tan-sin, Cu-siko, dia adalah kawanku yang paling karib.”

Segera Cu Tan-sin melangkah maju dan memberi hormat kepada si nona, katanya, “Terimalah hormat Cu Tan-sin, nona!”

Dengan ramah Wan-jing membalas hormat, ia menjadi senang melihat orang begitu merendah padanya, sahutnya, “Cu-siko, engkau sungguh sangat ramah, tidak seperti kawan-kawanmu tadi yang kasar dan bengis itu.”

Cu Tan-sin tertawa, katanya, “Ketiga saudaraku itu tentu khawatir karena mendengar berita buruk atas diri Kongcuya, maka ucapannya rada kurang sopan, harap nona suka memaafkan.”

Dalam hati Cu Tan-sin heran juga, kejahatan “Hiang-yok-jeh” paling akhir ini sering didengar olehnya, tak terduga olehnya bahwa tokoh itu ternyata seorang gadis sedemikian cantiknya. Ia menjadi khawatir atas Kongcuya yang masih muda dan belum berpengalaman itu akan tenggelam dalam pengaruh kecantikan si nona hingga akhirnya merusak nama baik sendiri.

Cu Tan-sin adalah seorang yang lihai, biarpun diam-diam ia sudah waspada kepada Bok Wan-jing, tapi lahirnya ia tidak mengunjuk sesuatu tanda, bahkan dengan tertawa ia berkata, “Kedua tuan besar sangat mengkhawatirkan diri Kongcuya, maka hendaknya Kongcuya lekas pulang saja. Bila Bok-kohnio juga tiada urusan lain, silakan ikut bertamu ke rumah Kongcu barang beberapa hari.”

Ia menduga melulu kekuatan sendiri mungkin tak mampu mengatasi Bok Wan-jing, tapi kalau nona ini juga diajak pulang tentu Toan Ki akan merasa senang.

Dengan ragu Toan Ki menyahut, “Tapi cara bagaimana aku … aku harus berkata pada paman dan ayah?”

Wajah Bok Wan-jing menjadi merah, cepat ia berpaling ke arah lain.

“Kudengar bahwa ilmu silat Su-tay-ok-jin itu sangat tinggi, tadi meski Sian-tan-hou dapat mengenyahkan Yap Ji-nio yang jahat itu pun berkat serangan di luar perhitungan musuh. Demi keselamatan Kongcuya, marilah kita lekas berangkat saja,” demikian kata Cu Tan-sin pula.

Bila ingat betapa buasnya Lam-hay-gok-sin, kembali Toan Ki merinding. Ia manggut dan berkata, “Baiklah, mari kita berangkat. Cu-siko, jika musuh terlalu lihai, lebih baik engkau pergi membantu Ko-sioksiok saja, biar aku pulang sendiri bersama nona Bok.”

“Tidak,” sahut Cu Tan-sin. “Dengan susah payah akhirnya Kongcuya dapat kutemukan, sepantasnya aku mengawal engkau pulang. Betapa tinggi kepandaian nona Bok, memang sudah lama juga kukagumi. Cuma melihat keadaannya, agaknya lukanya masih belum pulih sama sekali, bila di tengah jalan nanti kepergok musuh lagi, tentu akan susah, maka lebih baik Cayhe mengawal pulang saja.”

Sebenarnya Toan Ki tidak ingin langsung pulang, tapi sekali sudah diketemukan Cu Tan-sin, untuk minggat lagi terang tidak gampang. Terpaksa ia menurut dan bertiga lantas turun ke bawah gunung.

Dalam hati Bok Wan-jing ingin sekali tanya Toan Ki ke mana perginya selama tujuh-hari tujuh-malam, cuma Cu Tan-sin berada di samping mereka, untuk bicara rasanya kurang leluasa, terpaksa ia bersabar sebisanya.

Tan-sin membawa ransum kering, di tengah jalan ia keluarkan dan dibagikan kepada Toan Ki dan Wan-jing.

Sampai di bawah gunung, tertampaklah di bawah pohon tertambat lima ekor kuda bagus, itulah kuda tunggangan rombongan Jay-sin-khek.

Segera Tan-sin membawakan tiga ekor di antaranya, ia silakan Toan Ki dan Wan-jing naik dulu, kemudian ia sendiri mencemplak ke atas kuda yang lain terus mengikut dari belakang.

Malamnya mereka bertiga menginap di suatu hotel kecil dan masing-masing mendiami sebuah kamar. Setelah tutup kamar, Bok Wan-jing duduk termangu-mangu bertopang dagu menghadapi api lilin di atas meja, pikirnya, “Tanpa menghiraukan keselamatan sendiri Toan-long sudi datang sendiri mencari aku, suatu tanda cintanya yang mendalam padaku. Sebaliknya selama beberapa hari ini dalam hatiku selalu menyumpahi dia berhati palsu segala, nyata aku telah keliru menyalahkan dia.

“Melihat sikap Cu Tan-sin yang sangat hormat, agaknya Toan-long kalau bukan putra keluarga bangsawan, tentu adalah angkatan muda dari tokoh persilatan terkemuka. Seorang nona seperti aku meski sudah bertunangan dengan dia, tapi begini saja aku lantas ikut pulang ke rumahnya, betapa pun aku merasa kikuk.

“Tampaknya ayah dan pamannya juga sangat bengis padanya, bila nanti aku pun dihina olehnya, lantas bagaimana baiknya? Hm, paling-paling kulepaskan panah beracun untuk membunuh mereka semua, hanya Toan-long seorang yang kubela.”

Selagi berpikir cara bagaimana kelak akan mengganas, tiba-tiba terdengar suara keletakan perlahan dua kali di daun jendela. Cepat Bok Wan-jing ayun tangannya hingga api lilin tersirap.

Maka terdengarlah suara Toan Ki lagi berkata perlahan di luar jendela, “Akulah, nona Bok!”

Mendengar pemuda itu tengah malam datang ke kamarnya, hati Wan-jing menjadi berdebar-debar, dalam kegelapan ia merasa wajahnya merah membara. Dengan berbisik ia coba tanya, “Ada urusan apa?”

“Bukalah jendelamu, biar kukatakan padamu,” sahut Toan Ki.

“Tidak, aku tak mau buka,” ujar si nona. Sungguh aneh, dengan ilmu silatnya yang sangat tinggi itu, biasanya ia tidak gentar pada siapa pun juga, tapi kini ia merasa jeri hanya kepada seorang pelajar yang lemah, sungguh ia sendiri pun tidak tahu apa sebabnya.

Toan Ki heran juga mengapa si gadis tak mau membuka jendela, segera ia membisiki lagi, “Jika begitu, lekas engkau keluar, kita harus segera berangkat.”

Mendengar itu, cepat Wan-jing bertanya lagi, “Sebab apa?”

“Cu-siko sedang tidur nyenyak, jangan kita bikin mendusin dia, aku tidak ingin pulang!” demikian kata Toan Ki.

Wan-jing menjadi girang, ia memang sedang khawatir cara bagaimana nanti kalau bertemu dengan ayah-bunda pemuda itu. Kini diajak minggat, tentu saja ia akur tanpa syarat. Segera ia buka jendela perlahan, lalu melompat keluar.

“Ssst! Perlahan, jangan sampai diketahui Cu-siko!” demikian Toan Ki mendesis. “Kau tunggu di sini, biar kupergi mengambil kuda.”

Tapi Wan-jing lantas menggoyang tangannya, sekali ia rangkul pinggang Toan Ki, ia terus lompat ke atas rumah dan melayang keluar tembok sana. Katanya kemudian, “Jangan kita naik kuda, suara lari kuda akan mengejutkan Cu-sikomu.”

“Benar juga, cermat sekali engkau,” sahut Toan Ki dengan tertawa.

Maka dengan bergandengan tangan mereka cepat berjalan ke arah timur. Setelah beberapa li jauhnya tidak terdengar orang mengejar, mereka merasa lega. Kata Bok Wan-jing, “Sebab apa engkau tidak suka pulang?”

“Begitu pulang, tentu paman dan ayah akan menyekap aku dan dilarang keluar lagi,” sahut Toan Ki. “Dan untuk bertemu lagi dengan engkau tentu susah.”

Senang sekali hati Bok Wan-jing mendengar pernyataan itu, katanya, “Engkau tidak suka pulang, itulah sangat baik, biarlah mulai sekarang kita merantau, bukankah kita bisa hidup bebas tenteram? Dan sekarang kita harus pergi ke mana?”

“Pertama kita harus menghindari pengejaran Cu-siko, Ko-sioksiok dan lain-lain,” sahut Toan Ki. “Lalu kita menghindari Lam-hay-gok-sin yang buas itu.”

“Benar,” kata Wan-jing. “Paling baik kita menuju ke barat-laut, kita memondok dulu di rumah seorang desa untuk menghindari pengejaran, lewat belasan hari kemudian, kalau luka di pundakku sembuh sama sekali, tentu kita takkan khawatir lagi terhadap apa pun.”

Segera mereka berdua membelok ke arah barat-laut dengan cepat, di tengah jalan mereka tak berani berhenti dan banyak bicara, harapan mereka adalah semakin jauh meninggalkan Bu-liang-san, semakin baik.

Sampai fajar menyingsing, sudah sepuluh li mereka tempuh. Kata Wan-jing, “Musuhku terlalu banyak, kalau kita berjalan siang hari tentu akan menarik perhatian orang. Lebih baik kita mencari suatu tempat mengaso, siang hari kita makan-tidur dan malam hari meneruskan perjalanan.”

Terhadap urusan-urusan Kangouw, sedikit pun Toan Ki tidak paham, maka sahutnya, “Baiklah, terserah kepada keputusanmu.”

“Nanti sehabis kita sarapan, harus kau ceritakan ke mana engkau telah pergi selama tujuh-hari tujuh-malam ini,” kata si nona pula. “Tapi kalau kau bohong, hm, awas ….” berkata sampai di sini, mendadak ia berseru heran sambil menuding ke depan.

Ternyata di bawah pohon yang rindang tertambat tiga ekor kuda, di atas sepotong batu besar duduk seorang yang sedang membaca kitab sambil goyang-goyang kepala asyik bersyair. Siapa lagi dia kalau bukan Cu Tan-sin.

“Wah, celaka!” segera Toan Ki tarik tangan si nona dan diajak lari ke jurusan lain.

Namun Wan-jing cukup paham bahwa rencananya melarikan diri semalam tentu sudah didengar semua oleh Cu Tan-sin. Sastrawan itu menduga Toan Ki tak bisa Ginkang, tentu larinya takkan cepat, maka setelah tahu arah lari mereka, lalu ia naik kuda mengitari jalan lain untuk mengadang di depan.

Maka dengan bekernyit kening Wan-jing berkata, “Tolol, sudah diketahui orang, masakan masih bisa lari lagi?”

Terus saja ia mendekati Cu Tan-sin dan menegur, “Wah, pagi-pagi buta sudah asyik membaca di sini, senang benar tampaknya!”

Tan-sin manggut-manggut sambil tertawa, katanya kepada Toan Ki, “Kongcu, coba terka syair apa yang sedang kubaca?”

Lalu ia keraskan suaranya bersenandung sebait syair.

Selesai mendengarkan, segera Toan Ki menjawab, “Bukankah ini ‘bisikan kalbu’ gubahan Gui Tin?”

Tan-sin tertawa, katanya, “Pengetahuan Kongcuya sungguh sangat luas dan dalam, Tan-sin merasa sangat kagum!”

Toan Ki dapat memahami maksud syair orang yang mengatakan sebabnya malam buta mau menyusul dan mencarinya, yaitu karena merasa utang budi pada ayah dan pamanmu, maka tidak berani mengecewakan kepercayaan yang kuterima dari beliau-beliau itu.

Maka Toan Ki menjadi rikuh untuk minggat lagi, segera ia ajak Bok Wan-jing ikut pulang.

“Entah jalan yang kami tempuh ini benar tidak menuju ke Tayli?” dengan kikuk Bok Wan-jing tanya.

“Toh tiada urusan penting yang lain, ke timur atau ke barat serupa saja, akhirnya juga sampai di Tayli,” sahut Tan-sin.

Kalau kemarin ia memberi Toan Ki seekor kuda yang paling bagus, adalah sekarang kuda bagus itu ia tunggangi sendiri untuk berjaga-jaga kalau pemuda itu melarikan diri lagi dan dirinya tentu akan sukar menyusulnya.

Segera Toan Ki mencemplak ke atas kuda dan berangkat ke jurusan timur. Khawatir pemuda itu mendongkol padanya, sepanjang jalan Tan-sin berusaha membikin senang hatinya dengan mengajak bicara tentang syair dan sastra.

Saking asyiknya Toan Ki dibuai oleh syair, hingga Bok Wan-jing yang berada di sampingnya itu tak terurus.

Keruan gadis itu mendongkol, pikirnya, “Pelajar tolol ini bila sudah asyik bicara tentang syair segala menjadi lupa daratan.”

Tidak lama, sampailah mereka di jalan raya. Kemudian mereka berhenti di suatu kedai di tepi jalan untuk sarapan pagi sekadarnya. Baru selesai mereka pesan makanan, tiba-tiba dari luar melangkah masuk pula seorang yang bertubuh tinggi kurus.

Begitu ambil tempat duduk, segera si jangkung itu menggebrak meja sambil membentak, “Lekas bawakan lima kati arak, tiga kati daging rebus, lekas, cepat!”

Mendengar suara orang, tak usah melihat, segera Bok Wan-jing dapat mengenali si jangkung itu pasti In Tiong-ho adanya. Syukur ia menghadap ke dalam hingga tidak dilihat oleh tokoh jahat keempat itu. Segera ia gunakan jarinya mencelup air kuah untuk menulis nama In Tiong-ho di atas meja.

Tan-sin terkejut, segera ia pun menulis di atas meja, “Lekas berangkat, tak perlu menunggu aku!”

Terus saja Wan-jing berbangkit, ia tarik baju Toan Ki dan diajak menuju ke ruangan belakang.

Sejak masuk tadi, In Tiong-ho lantas duduk menghadap ke luar seperti sedang mengintai orang lewat. Tapi dia sangat cerdik, begitu mendengar ada suara orang bergerak di belakangnya, ia lantas menoleh dan masih keburu melihat bayangan Bok Wan-jing menghilang di balik pintu, segera ia membentak, “Siapa itu? Berhenti!”

Berbareng ia terus berbangkit dan memburu ke belakang.

Saat itu Cu Tan-sin sedang memegangi semangkuk bakmi kuah panas, ia sengaja menjerit keras sekali seakan-akan orang kaget, semangkuk bakmi panas itu disiramkan ke muka In Tiong-ho.

Jarak kedua orang memang sangat dekat, gerakan Cu Tan-sin itu sangat cepat pula, ditambah lagi sama sekali In Tiong-ho tak menyangka si sastrawan yang lemah itu mendadak bisa menyerang, pula ruangan kedai itu terlalu sempit untuk menghindar, mendingan juga Ginkangnya sudah mencapai tingkat tiada taranya, dengan cepat ia masih sempat mengegos sedikit hingga semangkuk bakmi panas itu dapat dielakkan sebagian, tinggal isi setengah mangkuk yang tetap mengguyur mukanya hingga pandangannya seketika menjadi kabur.

Dalam gusarnya segera In Tiong-ho mencakar dada Cu Tan-sin dengan niat sekaligus binasakan orang. Tak tersangka, begitu Tan-sin guyurkan bakminya tadi, menyusul ia lantas angkat meja hingga mangkuk piring berhamburan ke arah In Tiong-ho. “Crat,” kelima jari In Tiong-ho yang mencakar itu pun menancap di muka meja.

Betapa tinggi ilmu silat In Tiong-ho, karena mendadak diserang ia menjadi kalang kabut juga dan kerepotan.

Lekas ia kerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuh sendiri hingga mangkuk piring yang berhamburan ke badannya itu semua terpental jatuh dan tak melukainya. Namun begitu, bajunya menjadi basah kuyup juga oleh siraman kuah bakmi itu.

Pada saat lain, terdengarlah derap lari kuda yang ramai di luar kedai, ada dua penunggang kuda telah kabur ke utara.

Cepat In Tiong-ho mengusap mukanya yang tersiram bakmi tadi, tapi pada saat itu juga sekonyong-konyong angin tajam menyambar pula, suatu benda keras telah menutuk ke arah dadanya. Cepat ia tarik napas dalam-dalam hingga dadanya tertarik mundur beberapa senti, berbareng telapak tangan kiri lantas menebas dan dua jari tangan lain dipakai menjepit kipas orang.

Ruji kipas milik Cu Tan-sin itu terbuat dari baja murni dan merupakan senjata ampuh yang diyakinkan sejak kecil, ia dapat memainkannya dengan cepat dan sesuka hati. Maka ia menduga dalam keadaan kelabakan terkena siraman bakmi panas tadi, sekali serang dapatlah merobohkan In Tiong-ho yang lihai itu.

Tak tersangka, bukan saja In Tiong-ho dapat menghindar serangan itu dengan baik, bahkan kipasnya hendak dijepit pula. Keruan Tan-sin terkejut, cepat ia tarik kembali kipasnya.

Bicara tentang tenaga dalam, Cu Tan-sin masih kalah setingkat daripada lawannya, tapi kipas adalah senjata kesayangannya, maka sekuatnya ia tarik, untung juga tangan In Tiong-ho basah oleh kuah bakmi, jarinya menjadi licin hingga kurang kencang jepitannya, maka dapatlah Tan-sin merebut kembali kipasnya itu.

Dalam keadaan demikian, mendadak Tan-sin mendapat akal, cepat ia berteriak-teriak, “Hai, kawan-kawan yang memakai pancing dan kapak, lekas kalian tutup pintu, si jangkung ini takkan mampu lari lagi!”

Kiranya Tan-sin pernah mendengar ceritanya “Bu-sian-tio-to” atau si tukang pancing dari danau Bu-sian, dan Jay-sin-khek, bahwa malam itu mereka pergoki seorang jangkung bagai galah bambu, dengan tenaga mereka berdua barulah sekadar bisa mengalahkan lawan. Sebab itulah sekarang ia sengaja main gertak, ia menggembor pura-pura memanggil kawan untuk menakutkan lawan itu.

In Tiong-ho tidak menyangka itu cuma gertakan belaka, ia pikir bisa celaka kalau benar si nelayan dan tukang kayu itu muncul, tentu dirinya sukar untuk meloloskan diri.

Ia menjadi gugup dan tidak mau bertempur lebih lama, terus saja ia terjang ke ruangan belakang dan melarikan diri melintasi pagar tembok.

“Wah, sudah lari, si jangkung sudah lari! Lekas kejar, lekas kejar!” demikian Tan-sin masih berteriak sambil berlari keluar kedai dan mencemplak ke atas kudanya, tapi bukan mengejar si jangkung, melainkan menyusul Toan Ki berdua.

Saat itu Toan Ki dan Wan-jing sudah melarikan kuda mereka beberapa li jauhnya, lalu melambatkan kudanya perlahan. Tidak lama, terdengar derapan kuda yang cepat dari belakang, waktu menoleh, kiranya Cu Tan-sin sudah menyusul tiba.

Mereka hentikan kuda untuk menunggu, setelah dekat, belum lagi mereka sempat tanya kawan itu, sekonyong-konyong Wan-jing berseru, “Celaka, orang itu mengejar kemari!”

Maka tertampaklah sesosok tubuh yang jangkung sedang memburu datang dengan cepat luar biasa, saking tinggi tubuh orang hingga mirip galah bambu dalam permainan jelangkung yang bergontai-gontai sempoyongan ke kanan dan ke kiri.

Kejut Tan-sin tak terhingga, sungguh tak terduga olehnya bahwa Ginkang si jangkung bisa begini hebat. Cepat ia menyabat beberapa kali bokong kuda tunggangan Toan Ki dan Wan-jing, dalam kagetnya, kuda-kuda itu meringkik sekali terus membedal ke depan dengan kencang. Maka hanya sekejap saja In Tiong-ho sudah jauh ketinggalan di belakang.

Kira-kira beberapa li lagi, Bok Wan-jing mendengar napas kudanya sudah megap-megap, terpaksa ia lambatkan larinya, membiarkan binatang itu bernapas. Tapi karena sedikit ayal itu, kembali In Tiong-ho menyusul datang.

Biarpun kecepatan lari dalam jarak pendek In Tiong-ho tidak bisa memadai kuda, tapi tenaga untuk jangka lama ternyata tidak putus, ia masih mampu mengejar terus.

Cu Tan-sin tahu akal menggertaknya tadi sudah diketahui orang, untuk menakut-nakuti pula terang takkan mempan lagi, tampaknya dalam jarak belasan li tentu akan disusul olehnya.

Padahal asal bisa sampai di kota Tayli, betapa pun besarnya urusan tentu tidak perlu takut. Soalnya cuma ketiga ekor kuda mereka yang sudah payah, makin lama makin lambat, keadaan pun makin lama makin gawat.

Beberapa li lagi, sekonyong-konyong kuda Toan Ki kesandung hingga pemuda itu terbanting jatuh ke bawah. Syukur Bok Wan-jing dapat bertindak cepat, belum lagi tubuh Toan Ki menempel tanah, tangan si nona sudah sempat menjambret kuduk bajunya terus diangkat ke atas kuda sendiri.

Terhadap gadis itu sebenarnya Cu Tan-sin mempunyai kesan jelek, tapi ketika Toan Ki terjungkal dari kudanya, ia sendiri masih ketinggalan di belakang untuk merintangi musuh bila perlu, untuk menolong terang tidak keburu. Syukur gadis itu sempat turun tangan dengan cepat, melihat gerakan Bok Wan-jing yang cekatan itu, mau tak mau ia memuji juga.

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong dari belakang angin tajam menyambar, sepotong senjata rahasia menyerang ke arahnya.

Cepat Tan-sin putar kipasnya untuk menangkis, “trang”, cakar baja In Tiong-ho tersampuk ke samping, tapi senjata aneh itu tidak lantas ditarik kembali oleh In Tiong-ho, sebaliknya terus menggaruk ke bawah hingga pantat kuda tercakar dan terluka.

Saking kesakitan, kuda itu meringkik terus mencongklang terlebih cepat hingga lagi-lagi In Tiong-ho tertinggal di belakang.

Namun demikian, kini Toan Ki dan Wan-jing harus bersatu kuda, sedang kuda Cu Tan-sin terluka pula, dengan sendirinya mereka sangat khawatir. Hanya Toan Ki yang sama sekali tidak kenal bahaya, ia masih tanya, “Wan-jing, apakah orang itu sangat lihai? Dapatkah Cu-siko melawan dia?”

“Tidak, biarpun aku bersama dia mengeroyoknya juga tak bisa menang,” sahut si gadis.

Tiba-tiba timbul suatu akal dalam hatinya, katanya pula, “Eh, aku dapat pura-pura jatuh dari kuda dan rebah di tanah, nanti kalau dia mendekati aku, dalam keadaan tak tersangka-sangka akan kulepaskan panah, tentu dapat kurobohkan dia. Nah, lekas kau larikan kuda sendirian, tak perlu tunggu aku!”

Keruan Toan Ki gugup, tanpa pikir sebelah tangannya memeluk leher si gadis dan tangan lain merangkul pinggangnya sambil berkata, “Jangan, jangan! Aku takkan membiarkan engkau menempuh bahaya itu!”

Wan-jing menjadi jengah, omelnya, “Tolol, kenapa main pegang-pegang? Lekas lepaskan aku! Kalau dilihat Cu-siko, macam apa kelakuanmu ini?”

“O, ya! Maaf, jangan engkau marah!” seru Toan Ki terkejut sambil melepaskan rangkulannya.

“Engkau adalah suamiku, masakah pakai minta maaf segala?” ujar si nona.

Tengah bicara, dari jauh tampak In Tiong-ho memburu tiba lagi dengan gayanya yang gentayangan.

Sekilas Toan Ki melihat wajah Wan-jing mengunjuk rasa khawatir, seketika timbul rasa kasih sayangnya. Saat itulah tiba-tiba si gadis menjerit tertahan, tertampak Cu Tan-sin melompat turun dari kudanya dan sedang memberi tangan menyuruh mereka lari cepat. Lalu ia pentang kipasnya mengadang di tengah jalan hendak menempur In Tiong-ho.

Tak terduga maksud tujuan In Tiong-ho adalah ingin menawan Bok Wan-jing yang cantik itu. Sekonyong-konyong ia membelok ke pinggir hingga Cu Tan-sin dilalui, lalu mengejar terlebih cepat ke arah Toan Ki berdua.

Terus-menerus Bok Wan-jing mencambuk kudanya agar berlari lebih cepat, mulut binatang itu sudah berbusa, napasnya megap-megap, tapi masih tetap lari mati-matian.

“Wan-jing,” ujar Toan Ki dengan menyesal, “coba kalau kuda yang kita tunggangi ini adalah si Mawar Hitam milikmu itu, jangan harap orang jahat itu mampu menyusul kita.”

“Tentu saja,” sahut Wan-jing.

Dan setelah kuda itu membelok ke suatu bukit, tiba-tiba di depan tampak sebuah jalan lapang lurus, di samping jalan juga tanah datar yang luas tanpa sesuatu tempat yang dapat dibuat sembunyi, hanya di ujung barat jalan sana tampak tetumbuhan rindang menghijau mengelilingi sebuah telaga kecil, di sisi telaga sana tampak menongol sebagian dinding berwarna kuning.

Melihat itu, Toan Ki bersorak, “Hura, lekas kita menuju ke sana!”

“Di sana adalah jalan buntu, apa cari mampus menuju ke sana?” sahut Wan-jing.

“Turutlah kataku, tentu kita akan selamat,” ujar Toan Ki sambil bedal kudanya lebih cepat menuju ke semak pohon yang rindang itu.

Sesudah dekat, ketika Bok Wan-jing menegas, ia lihat dinding tembok yang kuning itu kiranya adalah sebuah bangunan kuil, di atas papan kuil itu tertulis “Jing-hoa-koan”, nyata itulah sebuah To-koan atau kuil pemeluk agama To (Tao).

Hanya sepintas saja Wan-jing memandang kuil itu, dalam hati ia sedang berpikir, “Si tolol ini ajak lari ke sini, terang menghadapi jalan buntu, bagaimana baiknya sekarang? Ah, biarlah kusembunyi dulu untuk menyerang In Tiong-ho itu dengan panahku.”

Saat itu kuda mereka sudah berlari sampai di depan kuil dan sedang Wan-jing hendak menoleh ke belakang, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa orang terbahak-bahak di belakang, terang itulah In Tiong-ho adanya.

Tiba-tiba Bok Wan-jing merasa kudanya berhenti serentak sambil menegak dan meringkik keras, hendak melangkah maju setindak lagi juga tak bisa. Dalam keadaan hampir merosot dari pelana kuda, cepat Wan-jing berpaling ke belakang, ia lihat kedua tangan In Tiong-ho memegangi ekor kudanya, pantas binatang itu berjingkrak dan meringkik sebab ekornya diganduli dari belakang.

Tenaga Kiong-hiong-kek-ok ini sungguh mengejutkan, kuda yang lagi membedal dengan cepat begitu ekornya ditarik lantas tak bisa berkutik sama sekali.

Segera terdengar juga Toan Ki lagi berteriak-teriak, “Ibu, Ibu! Lekas kemari, lekas!”

Sungguh mendongkol sekali Bok Wan-jing oleh gembar-gembor Toan Ki yang lucu seperti anak kecil itu, bentaknya gusar, “Tutup mulut, tolol!”

In Tiong-ho menjadi geli juga, ia terbahak-bahak dan mengejek, “Hahaha, biar kau panggil nenek moyangmu juga percuma!”

Mendadak Bok Wan-jing ayun tangan kanan ke belakang, sebatang panah terus menyambar ke tenggorokan In Tiong-ho.

Tapi sedikit mengegos, dapatlah Tiong-ho hindarkan serangan itu. Dari demi tampak Wan-jing hendak melompat pergi dari pelana kudanya, cepat cakar baja di tangan kiri terus mencengkeram pundak gadis itu.

Tapi Bok Wan-jing sangat cerdik dan cekatan, sekonyong-konyong ia merosot ke bawah terus menyelusup ke bawah perut kuda.

Dan selagi Tiong-ho melepaskan ekor kuda yang diganduli tadi dengan maksud hendak melabrak si gadis lebih jauh, ia menjadi tertegun ketika tiba-tiba dilihatnya dari dalam kuil itu berjalan keluar seorang To-koh (imam wanita) setengah umur dan berparas cantik, wajahnya tersenyum simpul, tangan kanan membawa sebuah kebut pertapaan.

Melihat To-koh itu, cepat Toan Ki berlari mendekatinya. Segera To-koh itu merangkul bahu anak muda itu sambil berkata dengan tertawa, “Kembali kau bikin onar lagi, ada apa bergembar-gembor!”

Melihat To-koh secantik itu sedemikian mesranya terhadap Toan Ki, bahkan tampak pemuda itu pun gunakan tangan kanan memeluk pinggang si To-koh dengan kegirangan, seketika timbul rasa cemburu Bok Wan-jing, tak terpikir olehnya bahwa musuh masih berada di situ, ia terus menubruk maju, telapak tangan lantas membacok kepala si To-koh sambil membentak, “Kau … kau apanya?”

“Jangan kurang sopan, Wan-jing!” cepat Toan Ki berseru.

Mendengar pemuda itu membela si To-koh, rasa dongkol Wan-jing semakin berkobar, bacokannya tadi dilontarkan lebih keras lagi.

Tapi dengan tenang To-koh itu angkat kebutnya ke atas, sedikit berputar, tahu-tahu pergelangan tangan Bok Wan-jing terlilit oleh benang kebutnya. Seketika Wan-jing merasa tenaga lilitan kebut itu tidak kepalang kuatnya, tapi lunak pula, sedikit To-koh itu kebas kebutnya, kontan Wan-jing terhuyung-huyung ke samping.

Dalam gugup dan kalapnya, Wan-jing terus memaki, “Engkau adalah Cut-keh-lang (orang beragama), kenapa sedemikian tidak tahu malu!”

Semula, ketika tiba-tiba melihat muncul seorang To-koh yang cantik, diam-diam In Tiong-ho sangat girang, pikirnya hari ini aku benar-benar lagi dirundung dewi amor, sekali tangkap dua wanita cantik, biar nanti kugondol pulang semuanya.

Tapi kemudian demi menyaksikan cara bagaimana To-koh itu mematahkan serangan Bok Wan-jing dengan mudah. Sebagai seorang jago silat berpengalaman, hanya sejurus itu saja lantas diketahuinya ilmu silat si To-koh sangat hebat. Segera ia mencemplak ke atas kuda Toan Ki tadi, tapi tidak lantas turun tangan.

Terdengar To-koh tadi sedang berkata dengan gusar, “Kau sembarangan omong apa, nona cilik? Kau … kau sendiri pernah apanya?”

“Aku … aku istri Toan-long!” demikian Wan-jing menjawab. “Lekas engkau melepaskan dia!”

To-koh itu tercengang sejenak, tiba-tiba air mukanya berubah senang berseri-seri, ia jewer kuping Toan Ki, tanyanya dengan tertawa, “Apa betul perkataannya?”

“Dapat dikata betul, boleh dibilang tidak betul pula,” sahut Toan Ki.

To-koh itu cubit sekali pipi pemuda itu sambil mengomel, “Huh, suruh kau belajar silat tidak mau, tapi lebih suka meniru watak ayahmu yang bangor, ya? Hm, lihatlah kalau aku tidak hajar kau.”

Lalu ia berpaling mengamat-amati Bok Wan-jing, kemudian katanya, “Ehm, nona ini juga sangat cantik, cuma terlalu liar, perlu dididik dulu.”

“Liar atau tidak peduli apa?” semprot Wan-jing dengan gusar. “Jika engkau tidak lekas lepaskan dia, jangan menyesal bila aku menyerang dengan panah.”

“Jika kau suka, boleh kau coba-coba,” ujar si To-koh tertawa.

“Jangan, Wan-jing!” demikian Toan Ki menyela. “Kau tahu tidak siapa beliau?”

Namun Bok Wan-jing sudah kadung minum cuka (cemburu), ia tak tahan lagi, begitu ayun tangan, “ser-ser”, dua panah kecil terus menyambar ke arah si To-koh.

Melihat bidikan panah berbisa gadis itu, wajah si To-koh yang tadinya berseri-seri itu seketika berubah hebat. Sekali kebutnya mengebas, setiap benang perak dari kebut itu seakan-akan bertenaga sembrani, kedua panah itu dibungkus oleh bulu kebut.

“Kau pernah apanya ‘Siu-lo-to’ Cin Ang-bian?” tiba-tiba To-koh itu membentak.

“Apa itu ‘Siu-lo-to’ Cin Ang-bian segala? Aku tak pernah dengar!” sahut Wan-jing.

Melihat wajah si To-koh yang pucat pasi saking marahnya, cepat Toan Ki menghiburnya, “Engkau jangan marah, ibu!”

“Apa katamu, dia ibumu?” jerit Wan-jing terkejut oleh ucapan Toan Ki itu. Sungguh ia tidak percaya akan telinganya sendiri.

“Memang tadi aku sudah memanggil ibu, masakah engkau tidak dengar?” sahut Toan Ki tertawa. Lalu ia berpaling pada si To-koh dan berkata, “Mak, inilah nona Bok Wan-jing, selama beberapa hari ini anak banyak menghadapi bahaya dan kepergok orang jahat, tapi berkat pertolongan nona Bok ini, jiwa anak masih selamat sampai sekarang.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari sana terdengar seorang lagi berteriak-teriak, “Yau-toan-siancu, Yau-toan-siancu! Engkau harus hati-hati, ini dia satu di antara Su-ok!”

Kiranya yang datang ini adalah Cu Tan-sin yang ketinggalan di belakang tadi. Sesudah dekat dan melihat wajah si To-koh rada aneh, ia sangka orang telah dicederai oleh In Tiong-ho, dengan khawatir segera ia tanya, “Yau-toan-siancu, apa engkau … engkau sudah bergebrak dengan dia?”

Tiba-tiba In Tiong-ho bergelak tertawa, serunya, “Dimulai sekarang juga belum terlambat!”

Habis berkata, ia terus berdiri di atas pelana kuda.

Dasar perawakan In Tiong-ho sudah jangkung, berdiri lagi di atas kuda, keruan mirip tiang bendera menegak. Sekonyong-konyong tubuhnya mendoyong ke depan, ia gantol pelana kuda dengan kaki kanan, kedua cakar baja terus menggaruk ke arah si To-koh alias Yau-toan-siancu.

Cepat Yau-toan-siancu mengisar ke sisi kiri kuda, sekali kebutnya menyabat, segera kaki kiri In Tiong-ho diincar.

Sama sekali In Tiong-ho tidak menghindar, sebaliknya ia tetap ulur cakar baja sebelah kiri untuk mencengkeram punggung si To-koh. Tapi cepat sekali To-koh itu mendak tubuh terus menerobos lewat di bawah perut kuda, menyusul kebutnya mengebas, beribu benang perak yang kemilauan terus menancap ke kaki kanan lawan.

Namun kaki kanan In Tiong-ho segera melangkah maju, ia berdiri di atas kepala kuda dengan ringan, dari tempat yang lebih tinggi itu kembali ia menyerang, cakar baja kanan terus menyerampang.

“Turun!” tiba-tiba Cu Tan-sin membentak terus ikut terjun ke kalangan pertempuran. Mendadak ia pun melompat ke atas pinggul kuda, dari situ ia memukul pinggang lawan dengan kepalan kiri, sedangkan kipas di tangan kanan berbareng menutuk kaki.

Senjata yang dipakai Cu Tan-sin sangat pendek dan sangat menguntungkan untuk bertempur dari jarak dekat.

Cepat In Tiong-ho menangkis dengan cakar sebelah kiri, berbareng cakar baja yang lebih panjang itu mencengkeram ke depan. Namun dengan cepat Yau-toan-siancu sudah tarik kembali kebutnya terus menyabat pula kaki lawan.

In Tiong-ho benar-benar sangat lihai, biarpun dikeroyok dua ia masih dapat memainkan sepasang cakar bajanya dengan kencang, sedikit pun tidak terdesak di bawah angin.

Melihat orang berdiri di atas kuda, kedudukannya lebih menguntungkan. Segera Bok Wan-jing membidikkan sebatang panah kecil hingga menancap di mata kiri kuda itu.

Racun panahnya itu sangat lihai, begitu masuk mata, seketika binatang itu roboh binasa.

Pada saat itu juga kebut Yau-toan-siancu dapat melilit sebelah cakar baja lawan, berbareng Cu Tan-sin ikut menubruk maju dan menyerang tiga kali beruntun-runtun.

Karena kedua senjata terlilit menjadi satu, Yau-toan-siancu dan In Tiong-ho saling betot sekuatnya. Meski tenaga dalam In Tiong-ho lebih kuat dari lawannya, karena sebagian tenaganya harus dipakai menangkis serangan kipas baja Cu Tan-sin, pula mesti berjaga-jaga serangan panah beracun dari Bok Wan-jing, maka ia tak kuat lagi memegangi senjatanya itu, cakar baja dan kebut pertapaan mencelat ke udara berbareng.

Namun sekali tangan kiri Yau-toan-siancu terayun, tahu-tahu seutas selendang sutera yang melibat di pinggangnya ditarik dan disabatkan pula.

“Huh, kawanan bangsat negeri Tayli hanya pintar main keroyok saja!” damprat In Tiong-ho. Ia insaf takkan bisa menang lagi, sekali entak kaki di atas pelana kuda, secepat panah orangnya terus melesat ke sana, cakar baja yang masih tertinggal itu menggantol pagar tembok, orangnya terus mengapung ke atas dan sekali berjumpalitan, menghilanglah dia keluar.

Pada waktu yang sama Bok Wan-jing membidikkan pula sebatang panah, tapi tetap kalah cepat, “plok”, panah itu menancap di atas pagar tembok, sedang In Tiong-ho sudah lenyap bayangannya.

Menyusul mana terdengarlah suara gemerantang yang nyaring, kebut dan cakar baja jatuh ke tanah bersama. Diam-diam Yau-toan-siancu saling pandang dengan Cu Tan-sin dan Bok Wan-jing, mereka tercengang oleh kecepatan In Tiong-ho yang luar biasa itu.

Selang sejenak, barulah Cu Tan-sin membuka suara, “Yau-toan-siancu, kalau engkau tidak turun tangan, hari ini Tan-sin pasti tewas di tangan musuh.”

Yau-toan-siancu tersenyum, sahutnya, “Sudah belasan tahun tidak pakai senjata, sudah kaku rasanya. Cu-hiante, siapakah sebenarnya orang tadi?”

“Kabarnya Su-tay-ok-jin (empat orang mahajahat) telah datang ke Tayli, orang tadi adalah nomor empat dari Su-tay-ok-jin itu. Tapi ilmu silatnya sudah begini tinggi, maka tiga orang yang lain tak usah ditanya lagi,” demikian sahut Tan-sin. “Maka lebih baik engkau menghindarinya sementara ke Onghu saja sampai nanti kalau keempat durjana itu sudah dibereskan.”

Wajah Yau-toan-siancu rada berubah, sahutnya kurang senang, “Guna apa aku pulang ke Onghu (istana pangeran)? Kalau Su-tay-ok-jin datang semua dan aku tak bisa melawannya, biarlah aku terima nasib saja.”

Cu Tan-sin ternyata sangat menghormat pada padri wanita itu, ia tidak berani bicara lagi, sebaliknya berulang kali mengedipi Toan Ki agar anak muda itu ikut membujuk.

Maka berkatalah Toan Ki, “Mak, keempat durjana itu benar-benar terlalu jahat dan kejam, jika engkau tidak mau pulang, marilah kita pergi ke tempat Pekhu (paman) saja!”

“Tidak, aku tidak mau!” sahut Yau-toan-siancu sambil menggeleng, matanya lantas merah seakan-akan meneteskan air mata.

“Kalau ibu tidak mau pulang, biarlah aku menemanimu di sini,” ujar Toan Ki. Lalu katanya pada Cu Tan-sin, “Cu-toako, harap engkau suka laporkan pada Empek dan ayahku, katakan bahwa kami ibu dan anak tetap tinggal di sini untuk melawan musuh.”

Yau-toan-siancu tertawa, katanya, “Tidak malu, kepandaian apa yang kau miliki, berani bilang akan melawan musuh bersamaku?”

Walaupun ia tertawa geli karena kelakuan Toan Ki itu, tidak urung air mata yang mengembeng di kelopak mata itu menetes juga, lekas ia berpaling dan mengusap air mata dengan lengan baju.

Diam-diam Bok Wan-jing heran, “Kenapa ibu Toan-long seorang padri? Dan dengan perginya In Tiong-ho, selekasnya akan datang pula bersama ketiga orang kawannya, lalu apa ibunya sanggup melawannya? Tapi dia sudah bertekad tak mau menyingkir pergi. Ah, tahulah aku! Memang laki-laki di dunia ini berhati palsu semua, pasti ayah Toan-long punya kekasih baru lagi, hingga ibunya tirakat menyucikan diri.”

Berpikir demikian, ia menjadi solider pada Yau-toan-siancu, katanya segera, “Yau-toan-siancu, biar aku membantumu melawan musuh.”

Yau-toan-siancu mengamat-amati paras Bok Wan-jing sejenak, mendadak ia tanya dengan suara bengis, “Kau harus mengaku terus terang, sebenarnya ‘Siu-lo-to’ Cin Ang-bian itu pernah apamu?”

Bok Wan-jing mendongkol juga oleh sikap orang, sahutnya, “Bukankah sudah kukatakan bahwa selamanya aku tidak pernah kenal nama itu. Apakah Cin Ang-bian itu laki-laki atau perempuan, manusia atau setan, sama sekali aku tidak tahu.”

Baru sekarang Yau-toan-siancu mau percaya, sebab kalau gadis ini adalah sanak keturunan Siu-lo-to, tidak mungkin berkata tentang “setan” segala. Maka sikapnya berubah ramah kembali, katanya dengan tersenyum, “Nona jangan marah, soalnya karena tadi aku melihat cara kau melepaskan panah sangat mirip seorang wanita yang kukenal, parasmu juga rada mirip, maka timbul rasa curigaku. Nona Bok, siapakah nama kedua orang tuamu? Ilmu silatmu sangat bagus, tentu juga keluaran perguruan ternama!”

Bok Wan-jing menggeleng kepala, sahutnya, “Sejak kecil aku sudah piatu, Suhu yang membesarkan aku. Maka aku tidak tahu siapa ayah-bundaku.”

“Jika begitu, siapakah gerangan gurumu itu?” tanya Yau-toan-siancu lagi.

“Guruku bernama ‘Bu-beng-khek’,” sahut Wan-jing.

“Namanya Bu-beng-khek?” Yau-toan-siancu mengulangi nama itu sambil termenung sejenak, kemudian ia pandang Cu Tan-sin dengan maksud tanya apakah kenal akan nama itu.

Tapi Cu Tan-sin menggeleng kepala, katanya, “Tan-sin tinggal terpencil di daerah selatan, sempit pengalamannya, maka banyak kaum kesatria gagah di Tionggoan tidak dikenalnya. Cianpwe Bu-beng-khek itu tentunya seorang kosen yang mengasingkan diri di pegunungan sunyi.”

Tengah bicara, tiba-tiba di luar sana ramai dengan suara derap lari kuda, dari jauh ada seorang sedang berseru, “Site, Kongcuya baik-baik bukan?”

“Ya, Toako, Kongcuya tidak kurang sesuatu apa!” sahut Tan-sin.

Hanya sebentar saja, empat penunggang kuda sudah berhenti di depan Jing-hoa-koan, Bu-sian-tio-to, Jay-sin-khek dan Tiam-jong-san-long bertiga tampak masuk, terus menyembah kepada Yau-toan-siancu.

Sejak kecil Bok Wan-jing dibesarkan di pegunungan sunyi, ia menjadi heran melihat tata krama yang kolot itu, pikirnya, “Orang-orang ini sangat hebat ilmu silatnya, mengapa melihat seorang wanita lantas menyembah semua?”

Keadaan ketiga orang itu kelihatan rada runyam, muka Tiam-jong-san-long, si petani dari pegunungan Tiam-jong, tampak terluka pula hingga perlu dibalut, Jay-sin-khek, si tukang kayu, badannya juga berlepotan darah, sedang alat pancing Bu-sian-tio-to, si tukang pancing dari danau Bu-sian, sudah terkutung sebagian.

Maka cepat Yau-toan-siancu tanya, “Bagaimana, apa musuh terlalu hebat? Parah tidak luka Su-kui?”

Tang Su-kui adalah nama Tiam-jong-san-long, si petani.

Mendengar pertanyaan itu, matanya seakan-akan berapi saking penasaran, sahutnya keras-keras, “Su-kui percuma belajar, sungguh memalukan hingga Onghui ikut berkhawatir.”

“Kau sebut aku Onghui apa segala?” omel Yau-toan-siancu dengan perlahan. “Masa ingatanmu begitu jelek, ya?”

Seketika Tang Su-kui menunduk, sahutnya, “Ya, harap Onghui memaafkan!”

Walaupun mengaku salah, tapi mulutnya tetap menyebut “Onghui” atau nyonya pangeran. Rupanya panggilan itu sudah terlalu biasa diucapkan hingga sukar berubah.

“Di manakah Ko-houya? Kenapa tidak ikut datang?” demikian tanya Tan-sin.

“Houya berada di luar, ia terluka sedikit, tidak leluasa untuk turun dari kudanya,” sahut Bu-sian-tio-to, si nelayan, yang bernama Leng Jian-li.

“Ah, jadi Houya juga terluka? Apa … apa parah?” seru Yau-toan-siancu terkejut.

“Ko-houya tadi mengadu tenaga dalam dengan keadaan tak terpisahkan, sekonyong-konyong Yap Ji-nio menyerangnya dari belakang hingga punggungnya digaplok sekali,” tutur Leng Jian-li.

Setelah ragu-ragu sejenak, mendadak Yau-toan-siancu menarik Toan Ki dan berkata, “Marilah, anak Ki, kita keluar menjenguk Ko-sioksiok.”

Segera mereka mendahului keluar diikuti empat tokoh “Hi-jiau-keng-dok” atau si nelayan, si tukang kayu, si petani dan si pelajar. Begitu pula Bok Wan-jing ikut keluar.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: