Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 9

Benar juga, segera tampak Sian-tan-hou Ko Sing-thay tengkurap di atas kudanya, baju di bagian punggung tampak robek dan jelas kelihatan bekas telapak tangan. Cepat Toan Ki memburu maju dan tanya, “Ko-sioksiok, bagaimana keadaanmu?”

Waktu Ko Sing-thay mendongak dan tampak Yau-toan-siancu berdiri di depan pintu, cepat ia meronta turun dari kuda untuk memberi hormat.

“Ko-houya, engkau terluka, tidak perlu banyak adat lagi,” kata Yau-toan-siancu.

Namun Ko Sing-thay sudah menyembah dari jauh dan berkata, “Sing-thay menyampaikan salam bakti kepada Onghui!”

“Anak Ki, lekas bangunkan Ko-sioksiok!” seru Siancu segera.

Diam-diam Bok Wan-jing bertambah curiga, pikirnya, “Ilmu silat orang she Ko ini sangat lihai, dengan serulingnya yang pendek itu, hanya dalam beberapa gebrak saja sudah mengalahkan Yap Ji-nio, tentu ia sangat terkemuka di dunia persilatan, tapi kenapa melihat ibu Toan-long, ia lantas begitu menghormat dan menyebutnya ‘Onghui’? Apa mungkin Toan-long adalah … adalah Ongcu (pangeran) segala? Tapi, ah, seorang pelajar ketolol-tololan seperti dia masa mirip seorang Ongcu?”

Dalam pada itu terdengar Yau-toan-siancu lagi berkata, “Jika Ko-houya terluka, silakan segera pulang Tayli untuk merawat dirimu.”

Ko Sing-thay mengiakan sambil berbangkit. Tapi segera katanya pula, “Su-tay-ok-jin telah datang ke Tayli, keadaan sangat berbahaya, harap Onghui suka pulang istana untuk menghindarinya sementara.”

Yau-toan-siancu menghela napas, sahutnya, “Selama hidupku ini takkan pulang ke sana lagi.”

“Jika begitu, biarlah kami tinggal dan menjaga di luar Jing-hoa-koan ini,” ujar Sing-thay. Lalu ia berpaling pada Tang Su-kui dan berkata, “Su-kui, pulanglah dan lekas laporkan kepada Hongsiang dan Ongya.”

Su-kui mengiakan terus mencemplak ke atas kudanya. Meski lukanya tidak ringan, tapi gerak-geriknya masih sangat cekatan.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Yau-toan-siancu mencegah. Ia menunduk dan berpikir. Sorot mata semua orang terpusat padanya, tapi dari air muka Siancu yang berubah-ubah itu, terang dia lagi menghadapi pertentangan batin yang serbasulit.

Selang agak lama, mendadak ia menengadah dan berkata, “Baiklah, marilah kita pulang ke Tayli semua, tidaklah patut kalau melulu lantaran diriku mesti bikin susah semua orang tinggal di sini.”

Keruan Toan Ki berjingkrak saking girang, terus saja ia peluk sang ibu dan berkata, “Beginilah ibuku yang baik!”

“Biar kupergi memberi kabar dulu!” seru Su-kui terus melarikan kudanya.

Dalam pada itu Leng Jian-li sudah membawakan kuda untuk Yau-toan-siancu, Toan Ki dan Bok Wan-jing.

Begitulah beramai-ramai mereka lantas berangkat ke Tayli. Yau-toan-siancu, Toan Ki, Bok Wan-jing dan Ko Sing-thay berempat menunggang kuda, sedang Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li, Jay-sin-khek Siau Tiok-sing dan Pit-bak-seng Cu Tan-sin berjalan kaki.

Tidak jauh, dari depan tampak datang seregu pasukan berkuda negeri Tayli, Leng Jian-li memberi tanda kepada komandan pasukan itu serta berkata beberapa patah padanya. Segera komandan pasukan itu memberi perintah, semua prajurit melompat turun dari kudanya serta menyembah di tanah.

Toan Ki memberi tanda dan berkata, “Silakan berdiri, tak perlu banyak adat!”

Segera komandan pasukan itu membawakan tiga ekor kuda lain untuk Leng Jian-li bertiga. Lalu ia pimpin pasukannya mendahului di depan.

Melihat suasana yang luar biasa itu, Bok Wan-jing menduga Toan Ki pasti bukan orang biasa, tiba-tiba ia menjadi khawatir, “Semula kusangka dia hanya seorang pelajar miskin, makanya aku pasrahkan diriku padanya. Tapi melihat gelagatnya sekarang, kalau bukan sanak keluarga kerajaan, tentu dia pembesar negeri, bukan mustahil aku akan dipandang hina olehnya. Suhu pernah berkata bahwa laki-laki itu semakin kaya dan berpangkat, semakin tidak punya Liangsim (perasaan), cari istri juga minta yang sederajat. Hm, syukurlah bila dia tetap memperistrikan aku dengan baik, kalau tidak, bila ragu dan macam-macam, huh, lihat saja kalau tidak kubacok kepalanya, peduli apakah dia anggota keluarga raja atau pembesar negeri!”

Karena berpikir begitu, ia tak tahan perasaannya lagi, segera ia larikan kudanya menjajari Toan Ki dan tanya, “He, sebenarnya siapakah kau? Apa yang kita putuskan di atas gunung itu masih tetap berlaku tidak?”

Melihat di depan umum si gadis terang-terangan menegur padanya tentang urusan perjodohan, keruan Toan Ki menjadi kikuk, sahutnya dengan tersenyum, “Setiba di kota Tayli, tentu akan kujelaskan padamu.”

“Awas kalau kau ingkar janji … aku ….” berkata sampai di sini, suaranya menjadi tersendat dan tak sanggup diteruskan lagi.

Melihat wajah si gadis kemerah-merahan menahan isak tangis, air matanya mengembeng berkilau-kilau hingga makin menambah cantiknya, rasa cinta Toan Ki menjadi berkobar, katanya dengan lirih, “Wan-jing, janganlah khawatir, lihatlah, ibuku juga sangat suka padamu.”

Seketika dari menangis Bok Wan-jing berubah tertawa, sahutnya perlahan, “Ibumu suka atau tidak padaku, aku tidak urus!”

Di balik kata-katanya ini seakan-akan menyatakan, “asal saja kau suka padaku, sudahlah cukup.”

Tentu saja perasaan Toan Ki terguncang, waktu ia berpaling ke arah ibunya, ia lihat Yau-toan-siancu lagi memandang kepada mereka dengan paras yang tertawa tidak tertawa. Keruan muka Toan Ki merah jengah.

Menjelang petang, kira-kira masih 30 li di luar kota Tayli, tiba-tiba kelihatan debu mengepul tinggi di depan sana, sepasukan tentara yang berjumlah beberapa ratus orang mendatangi dengan cepat. Dua buah panji kuning jingga tampak berkibar, yang sebuah tertulis dua huruf sulam “Tin-lam” dan yang lain “Po-kok” (menduduki selatan dan membela negara).

Segera Toan Ki berseru, “Mak, ayah sendiri datang memapak engkau!”

Yau-toan-siancu hanya mendengus saja dan menghentikan kudanya.

Ko Sing-thay dan lain-lain lantas turun dari kuda dan berdiri di pinggir jalan. Sedang Toan Ki segera bedal kudanya ke depan. Bok Wan-jing ragu-ragu sejenak, tapi cepat ia pun larikan kudanya menyusul ke sana.

Tidak lama, pasukan itu sudah dekat, segera Toan Ki berseru, “Tiatia (ayah), ibu sudah pulang!”

Maka tertampaklah dari tengah pasukan itu muncul seorang berjubah kuning menunggang seekor kuda putih yang tinggi besar, begitu datang terus membentak, “Anak Ki, gara-garamu sehingga Ko-sioksiok ikut terluka parah, lihatlah nanti kalau tidak kuhajar patah kedua kakimu!”

Bok Wan-jing menjadi khawatir, pikirnya, “Hm, kedua kaki Toan-long hendak kau patahkan? Tidak bisa, pasti akan kurintangi, biarpun engkau adalah ayahnya!”

Ia lihat orang yang berjubah kuning ini bermuka lebar, sikapnya sangat gagah dan kereng, alis tebal, mata besar, berwibawa sebangsa raja atau pangeran. Meski ucapannya tadi kedengarannya bengis, tapi melihat sang putra telah pulang dengan selamat, air mukanya lebih banyak girangnya daripada gusarnya.

Diam-diam Wan-jing membatin, “Untung paras Toan-long lebih banyak mirip ibunya, kalau macammu yang garang bengis begini, tentu aku takkan suka.”

Ia lihat Toan Ki sudah memapak maju sambil berkata dengan tertawa, “Ayah, engkau baik-baik saja bukan?”

“Baik, hitung-hitung tidak mati gusar oleh perbuatanmu!” sahut orang berjubah kuning itu dengan marah.

“Tapi kalau anak tidak keluar rumah, ibu tentu juga takkan pulang. Jasa anak ini rasanya bolehlah mengimbangi kesalahannya, harap ayah jangan gusar lagi,” demikian kata Toan Ki dengan tertawa.

“Seumpama aku tidak menghajarmu, Empek (paman) pasti juga tidak mau mengampunimu,” ujar si jubah kuning. Dan sekali ia kempit kudanya, secepat terbang kuda putih itu lantas mencongklang ke arah Yau-toan-siancu.

Melihat prajurit pasukan itu semua berbaju perang yang mengilat dengan senjata lengkap, 20 orang di baris depan membawa panji dan papan yang bercat emas bentuk naga dan harimau, di atas salah sebuah papan merah itu tertulis tanda pangkat ayah Toan Ki sebagai Po-kok-tay-ciang-kun atau panglima besar pembela negara, papan lain bertulis gelar kebangsawanannya sebagai Tin-lam-ong she Toan dari negeri Tayli.

Meski biasanya Bok Wan-jing tidak takut langit dan tak gentar bumi, tapi menyaksikan perbawa barisan yang angker itu, mau tak mau ia prihatin juga. Tiba-tiba tanyanya pada Toan Ki, “He, apakah Tin-lam-ong, Po-kok-tay-ciang-kun ini adalah ayahmu?”

Toan Ki mengangguk, sahutnya lirih, “Dan juga ayah mertuamu.”

Sesaat Bok Wan-jing menjadi termangu, di sekitar jalan besar itu penuh dengan orang, tapi ia merasa hampa tak terkatakan, ia menjadi lega setelah berdampingan dengan Toan Ki.

Sementara itu Tin-lam-ong tampak sudah berhadapan dengan Yau-toan-siancu, kedua orang saling pandang kian kemari, tapi tiada satu pun yang mulai bicara.

“Mak, ayah sendiri datang menyambutmu,” seru Toan Ki.

“Kau pergi dan katakan pada Pekbo (bibi) bahwa aku akan tinggal beberapa hari di tempatnya, sesudah menghalau musuh, segera kukembali ke Jing-hoa-koan,” demikian kata Yau-toan-siancu.

Maka dengan tertawa, Tin-lam-ong berkata, “Hujin, apakah engkau masih marah padaku? Marilah pulang dulu, nanti akan kuminta maaf padamu.”

Yau-toan-siancu menarik muka, sahutnya, “Tidak, aku tidak pulang, aku akan ke istana.”

“Bagus,” seru Toan Ki tertawa, “kita ke istana dulu untuk menjumpai paman dan bibi. Mak, anak telah keluyuran keluar tanpa permisi, paman tentu akan marah, ayah jelas tidak mau membelaku, mohon ibu suka mintakan ampun pada paman.”

“Tidak, semakin besar semakin bandel kau, biar paman memberi hajaran setimpal padamu,” sahut Yau-toan-siancu.

“Tapi kalau anak dihajar, yang merasa sakit tentu ibu, maka lebih baik jangan sampai dihajar,” kata Toan Ki dengan manja.

Yau-toan-siancu tertawa, katanya lagi, “Tidak, semakin keras kau dihajar, semakin senang aku.”

Begitulah, suasana pertemuan kembali Tin-lam-ong dengan sang istri itu sebenarnya serbakikuk, tapi karena banyolan Toan Ki itu, perasaan suami istri itu seketika terasa bahagia.

“Ayah,” tiba-tiba Toan Ki berseru pula, “kudamu lebih bagus, kenapa tidak bertukar kuda dengan ibu?”

“Tidak,” kata Yau-toan-siancu terus larikan kudanya ke depan.

Segera Toan Ki memburunya dan menahan kuda sang ibu. Sementara itu Tin-lam-ong sudah turun dari kudanya serta menyusul.

Dengan tertawa Toan Ki terus pondong sang ibu ke atas kuda putih ayahnya dan berkata, “Mak, wanita secantik engkau menjadi lebih ayu bila menunggang kuda putih ini.”

“Nonamu she Bok itu barulah benar-benar cantik tiada bandingannya, kau sengaja menertawai ibumu yang sudah nenek-nenek ini ya?” sahut Siancu tertawa.

Baru sekarang Tin-lam-ong berpaling ke arah Bok Wan-jing, tanyanya pada Toan Ki, “Anak Ki, siapakah nona ini?”

“Ia adalah … nona Bok, ia adalah … adalah kawan baik anak,” sahut Toan Ki gelagapan.

Melihat sikap putranya itu, segera Tin-lam-ong tahu apa artinya. Ia lihat Bok Wan-jing cantik molek, putih halus, diam-diam ia memuji kepandaian putranya yang pintar pilih pasangan.

Tapi demi tampak sifat liar Bok Wan-jing, sama sekali tidak memberi hormat atau menyapa, diam-diam pikirnya dalam hati, “Kiranya dia seorang gadis desa yang tidak kenal peradaban.”

Ia khawatir keadaan luka Ko Sing-thay, segera ia mendekatinya dan memeriksa urat nadinya.

“Hanya terluka sedikit, tidak apa-apa, jangan engkau buang tenaga ….” demikian kata Ko Sing-thay.

Namun Tin-lam-ong sudah lantas ulur jari telunjuk kanan dan menutuk tiga kali di punggung dan tengkuknya, berbareng telapak tangan kiri menahan pinggangnya.

Lambat laun tampak asap putih mengepul dari ubun-ubun Tin-lam-ong, selang sejenak lagi barulah melepaskan tangan kirinya.

“Kakak Sun, kita bakal menghadapi musuh tangguh, buat apa engkau membuang tenaga dalammu?” ujar Ko Sing-thay.

“Lukamu tidak enteng, lebih cepat disembuhkan lebih baik, kalau terlihat Toako, tanpa diminta tentu dia akan turun tangan sendiri,” sahut Tin-lam-ong alias Toan Cing-sun.

Melihat wajah Ko Sing-thay yang tadinya sepucat mayat itu, hanya dalam sekejap saja sudah bersemu merah, lukanya sudah disembuhkan, diam-diam Bok Wan-jing terkejut, “Kiranya ayah Toan-long memiliki Lwekang mahatinggi, tapi ken … kenapa ia sendiri tak bisa ilmu silat?”

Sementara itu Leng Jian-li sudah membawakan seekor kuda lain untuk Tin-lam-ong dan meladeni pangeran itu naik ke atas kuda. Tin-lam-ong larikan kudanya berjajar dengan Ko Sing-thay dan mengajaknya bicara tentang kekuatan musuh.

Toan Ki juga pasang omong dengan senangnya dengan sang ibu, berbondong-bondong pasukan tentara kerajaan Tayli itu berangkat kembali, hanya Bok Wan-jing yang merasa kesepian karena tiada yang mengajak bicara.

Petangnya rombongan sudah memasuki kota Tayli, di mana panji bertuliskan “Tin-lam” dan “Po-kok” tiba, di situ rakyat jelata bersorak-sorai memuji kebesaran panglimanya.

Tin-lam-ong balas memberi tangan kepada rakyat yang mengelu-elukannya itu, tampaknya ia sangat dicintai oleh rakyat.

Bok Wan-jing melihat kota Tayli sangat ramai, gedung berdiri di sana-sini dengan megah, jalan raya yang berlapiskan batu hijau besar rata penuh berjubel orang yang berlalu-lalang.

Setelah melalui sebuah jalan kota, kemudian tampak di depan membentang sebuah jalan batu yang lebar, di ujung jalan itu tampak berdiri beberapa istana berwarna kuning indah dengan kaca yang kemilauan tersorot oleh cahaya matahari waktu senja.

Rombongan sampai di depan sebuah gapura, semuanya lantas turun dari kuda. Bok Wan-jing melihat di atas papan gapura itu tertulis empat huruf “Cip-to-kiong-cu,” artinya jalan menuju istana bijaksana.

Bok Wan-jing pikir, “Tentu inilah istana raja Tayli. Paman Toan-long tinggal di dalam istana, agaknya kedudukannya sangat tinggi, kalau bukan pangeran, tentu sebangsa panglima besar dan sebagainya.”

Setelah lewat gapura itu, sampailah di depan istana raja “Seng-cu-kiong.” Tiba-tiba seorang Thaykam (dayang kebiri) berlari keluar dengan cepat, katanya sambil menyembah, “Lapor Ongya, Hongsiang dan Nionio (baginda raja dan permaisuri) sedang menunggu di Onghu, silakan Ongya dan Onghui pulang ke Tin-lam-onghu untuk menghadap Hongsiang!”

Tin-lam-ong mengiakan dengan girang. Begitu pula Toan Ki lantas berseru, “Aha, bagus, bagus!”

“Apanya yang bagus?” omel Onghui dengan melototi sang putra, “kutunggu Nionio di dalam istana sini.”

“Tapi Nionio pesan agar Onghui diharuskan menghadapnya sekarang juga, beliau ingin berunding sesuatu yang penting dengan Onghui,” demikian Thaykam itu menutur.

“Ada urusan penting apa? Huh, tipu muslihat belaka!” Yau-toan-siancu menggerundel perlahan.

Toan Ki tahu itulah rencana yang sengaja diatur oleh Honghou (permaisuri), sebab diduganya ibu tentu tak mau pulang ke istana pangeran, maka sengaja menunggu di Tin-lam-onghu untuk mempertemukan kembali ayah-bundanya di sana. Maka ia pun tidak mau banyak bicara lagi, cepat ia bawakan kuda untuk sang ibu dan menaikkannya ke atas kuda.

Rombongan segera putar balik ke istana pangeran. Di sana suasana tampak sangat khidmat, pasukan pengawal berdiri dengan rajin memberi hormat atas pulangnya Tin-lam-ong dan permaisuri.

Tin-lam-ong mendahului masuk ke pintu istana, tapi Yau-toan-siancu masih ogah-ogahan, begitu naik ke atas undak-undakan, segera matanya basah. Namun dengan setengah mendorong dan setengah menyeret Toan Ki dapat mengajak sang ibu ke dalam istana, katanya, “Ayah, anak telah mengajak ibu pulang ke rumah, jasa anak sebesar ini, hadiah apa yang akan ayah berikan padaku?”

Saking senangnya, Tin-lam-ong menyahut, “Boleh kau tanya ibumu, ibu bilang hadiah apa, segera kuberikan.”

“Kubilang paling tepat beri hadiah gebukan,” kata Yau-toan-siancu dengan tertawa.

Toan Ki melelet lidah dan tak berani bicara lagi.

Setelah ikut masuk ke ruangan pendopo, Ko Sing-thay dan lain-lain tidak ikut masuk lebih jauh. Kata Toan Ki kepada Wan-jing, “Bok … Bok-kohnio, silakan menunggu sebentar di sini, setelah kuhadap Hongsiang, segera kudatang lagi.”

Terpaksa Wan-jing mengangguk, walaupun dalam hati sangat berat ditinggal pemuda itu. Tanpa peduli lagi ia terus duduk di atas kursi pertama yang tersedia di situ. Sebaliknya Ko Sing-thay dan lain-lain tetap berdiri, setelah Tin-lam-ong bertiga masuk ke ruangan dalam, barulah Ko Sing-thay ambil tempat duduk, yang lain-lain tetap berdiri dengan tangan lurus tegak.

Bok Wan-jing tidak ambil pusing terhadap mereka, ia lihat di dalam pendopo penuh terhias pigura lukisan dan seni tulis, begitu banyak hingga dia bingung melihatnya, apalagi memang banyak juga huruf yang tak dikenalnya. Maklum gadis gunung yang tak banyak “makan” sekolah.

Tidak lama, seorang dayang membawakan teh, dengan berlutut dayang itu angkat nampan tinggi-tinggi menyuguhkan minuman itu kepada Bok Wan-jing dan Ko Sing-thay.

Diam-diam si gadis menjadi heran mengapa hanya dirinya dan Ko Sing-thay yang mendapat minum, sedang Cu Tan-sin dan lain-lain tidak. Padahal jago itu ketika menghadapi musuh di puncak gunung, perbawanya tak terkatakan kerengnya. Tapi berada di dalam Tin-lam-onghu, mereka menjadi begitu prihatin, sampai bernapas pun tak berani keras-keras.

Sesudah lama menunggu, ternyata Toan Ki belum juga keluar. Wan-jing menjadi tak sabar, teriaknya tak peduli, “Toan Ki, Toan Ki, kerja apa kau di dalam, lekas keluar!”

Ruangan itu hening sunyi, bahkan setiap orang berdiam dengan menahan napas, tapi mendadak Bok Wan-jing menggembor, keruan mereka kaget. Tapi segera mereka merasa geli juga. Kata Ko Sing-thay, “Harap nona Bok suka sabar, sebentar Siauongya akan keluar.”

“Siauongya apa katamu?” tanya Wan-jing.

“Toan-kongcu adalah putra Tin-lam-ong, bukankah Siauongya (putra pangeran) namanya?” sahut Sing-thay.

Bok Wan-jing menjadi heran, gumamnya, “Siauongya? Huh, pelajar ketolol-tololan begitu masakah mirip seorang Ongya segala?”

Sejenak kemudian, dari dalam keluarlah seorang Thaykam dan berseru, “Titah baginda, Sian-tan-hou dan Bok Wan-jing diperintahkan masuk menghadap!”

Waktu melihat keluarnya Thaykam itu, Ko Sing-thay sudah lantas berdiri dengan sikap hormat. Tapi Bok Wan-jing sama sekali tak peduli, ia tetap duduk di tempatnya dengan enaknya.

Dan demi mendengar namanya disebut begitu saja, ia menjadi kurang senang, omelnya perlahan, “Masakan menyebut nona juga tidak, apakah namaku boleh sembarangan kau panggil?”

Ko Sing-thay tersenyum, katanya segera, “Marilah nona Bok, kita masuk menghadap Hongsiang.”

Biarpun Bok Wan-jing tidak pernah gentar terhadap siapa dan apa pun, tapi mendengar akan menghadap raja, tanpa terasa ia jadi merinding. Terpaksa ia ikut di belakang Ko Sing-thay, setelah menyusur serambi panjang dan menerobos beberapa ruangan lagi, akhirnya sampailah di sebuah ruangan besar yang indah.

Segera Thaykam tadi berseru sembari menyingkap kerai, “Sian-tan-hou dan Bok Wan-jing datang menghadap Hongsiang dan Nionio.”

Ko Sing-thay mengedipi Bok Wan-jing agar mengikuti caranya, lalu ia mendahului masuk ke ruangan dan berlutut ke hadapan seorang laki-laki dan seorang wanita agung yang berduduk di tengah.

Sebaliknya Wan-jing tidak ikut berlutut, bahkan ia mengamat-amati laki-laki yang berjubah sulam kuning dan berjenggot panjang itu, lalu tanya, “Apakah engkau ini Hongte (kaisar)?”

Memang laki-laki yang duduk di tengah dengan agungnya itu adalah Toan Cing-beng, raja Tayli sekarang yang arif bijaksana dengan gelar Po-ting-te.

Tay-li-kok atau negeri Tayli itu berdiri sejak zaman Ngotay, sudah bersejarah lebih 150 tahun. Po-ting-te sudah belasan tahun naik takhta, tatkala itu seluruh negeri aman sentosa, rakyat hidup sejahtera, negara makmur, rakyat subur.

Melihat Bok Wan-jing tidak berlutut, sebaliknya tanya apakah dirinya kaisar atau bukan, Po-ting-te menjadi geli malah, sahutnya, “Ya, akulah kaisar. Bagaimana, senang tidak pesiar di kota Tayli ini?”

“Begitu masuk kota aku lantas datang kemari, belum ada waktu untuk pesiar,” sahut si nona.

“Biarlah besok anak Ki mengajakmu pesiar menikmati keindahan kota Tayli ini,” ujar Po-ting-te dengan tersenyum.

“Baiklah,” kata Wan-jing. “Dan engkau juga akan mengiringi kami?”

Mendengar itu, semua orang ikut tertawa geli. Namun Po-ting-te menoleh kepada permaisurinya dan tanya, “Honghou, anak dara ini minta kita mengiringi dia, bagaimana pendapatmu?”

Belum lagi permaisuri itu menjawab, Bok Wan-jing sudah lantas buka suara pula, “Apakah engkau Honghou-nionio? Sungguh cantik sekali!”

Po-ting-te terbahak-bahak, serunya, “Anak Ki, nona Bok ini memang polos dan kekanak-kanakan, sungguh menarik.”

“Kenapa kau panggil dia anak Ki?” tiba-tiba Wan-jing tanya lagi. “Empek (paman) yang sering dia sebut itu apakah engkau adanya? Kali ini dia berkeluyuran keluar, dia takut dimarahi olehmu. Harap jangan kau hajar dia, ya?”

“Sebenarnya aku akan persen dia 50 kali rangketan,” sahut Po-ting-te dengan tertawa. “Tapi engkau mintakan ampun baginya, baiklah kuampuni dia. Nah, anak Ki, lekas kau berterima kasih kepada nona Bok?”

Melihat Bok Wan-jing membikin hati sri baginda sangat senang, Toan Ki ikut bergirang juga, ia cukup kenal watak sang paman yang suka turuti permintaan orang, maka cepat ia berkata kepada Wan-jing, “Terima kasih atas kebaikanmu, nona Bok.”

Si gadis membalas hormat serta menyahut dengan perlahan, “Tak perlu berterima kasih, asal kau tak dihajar pamanmu aku sudah merasa lega.”

Lalu ia berkata pula kepada Po-ting-te, “Semula kusangka seorang kaisar tentu sangat bengis menakutkan, siapa tahu engkau … engkau sangat baik!”

Sebagai kaisar, umumnya orang hanya disegani dan dihormati, tapi belum pernah ada orang memujinya “engkau sangat baik”, keruan Po-ting-te sangat senang, terutama lihat sifat si gadis yang polos kekanak-kanakan itu, maka katanya pada permaisurinya, “Honghou, barang apa yang akan kau hadiahkan padanya?”

Segera Honghou tanggalkan sebuah gelang kemala dari pergelangan tangannya dan disodorkan pada Bok Wan-jing dan berkata, “Nih, kuhadiahkan padamu!”

Wan-jing tidak menolak, ia terima hadiah itu dan dipakai di tangan sendiri, katanya kemudian dengan tertawa, “Terima kasih, ya! Lain kali aku pun akan mencari sesuatu barang bagus untuk dipersembahkan padamu.”

Honghou tersenyum dan belum lagi menjawab, sekonyong-konyong di luar rumah sana, terdengar atap rumah berbunyi keresek sekali. Segera Honghou berpaling pada Po-ting-te dan berkata, “Itu dia, ada orang mengantar hadiah untukmu!”

Belum selesai ucapannya, kembali suara keresek berbunyi pula di atas rumah sebelah.

Bok Wan-jing terperanjat, ia tahu musuh yang datang itu berilmu Ginkang yang mahatinggi, entengnya laksana daun jatuh, bahkan cepat luar biasa.

Dalam pada itu segera terdengar juga beberapa orang telah melompat ke atas rumah, menyusul terdengar suara Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li lagi menegur, “Siapakah tuan ini, ada urusan apa malam-malam mengunjungi Onghu?”

“Aku ingin mencari muridku! Di mana muridku sayang itu? Lekas suruh dia keluar!” demikian jawab seorang yang mengerikan mirip logam digesek. Itulah dia suara Lam-hay-gok-sin.

Diam-diam Bok Wan-jing berkhawatir, meski ia pun tahu penjagaan di luar istana itu sangat keras dan kuat, Tin-lam-ong sendiri dan Yau-toan-siancu serta tokoh-tokoh Hi-jiau-keng-dok sangat tinggi ilmu silatnya, tapi Lam-hay-gok-sin itu memang teramat lihai, pula dibantu Yap Ji-nio dan In Tiong-ho, belum lagi “orang jahat nomor satu di dunia” yang belum muncul itu, jika mereka bersatu untuk merampas Toan Ki, mungkin tidak mudah untuk melawannya.

Sementara itu Leng Jian-li lagi tanya, “Siapakah muridmu? Di dalam Tin-lam-onghu dari mana ada seorang muridmu?”

Sekonyong-konyong terdengar “brak” sekali, tahu-tahu dari udara menyelonong turun sebuah tangan besar hingga kerai di depan pintu tersingkap semua, menyusul bayangan orang berkelebat, Lam-hay-gok-sin sudah berdiri di tengah ruangan dengan matanya yang mirip kedelai itu lagi mengamat-amati setiap orang yang hadir di situ.

Ketika melihat Toan Ki, segera ia terbahak-bahak, “Haha, memang benar apa yang dikatakan Losi, muridku sayang ternyata berada di sini, marilah lekas ikut pergi bersamaku untuk belajar.”

Sembari berkata, tangannya yang mirip cakar itu terus mencengkeram badan pemuda itu.

Mendengar sambaran angin cengkeraman Lam-hay-gok-sin itu sangat keras, Tin-lam-ong menjadi khawatir sang putra bisa dilukai. Tanpa pikir ia memapak dengan sebelah telapak tangannya hingga kedua tangan saling beradu dan sama-sama merasakan getaran tenaga dalam masing-masing.

Diam-diam Lam-hay-gok-sin terperanjat, tanyanya, “Siapakah kau? Aku hendak mengambil muridku, peduli apa denganmu?”

“Cayhe Toan Cing-sun,” sahut Tin-lam-ong. “Pemuda ini putraku, bilakah dia mengangkat guru padamu?”

“Dia yang paksa menerimaku sebagai murid,” demikian Toan Ki menyela dengan tertawa. “Sudah kukatakan padanya bahwa aku sudah punya guru, tapi ia tidak percaya.”

Lam-hay-gok-sin memandang Toan Ki, lalu perhatikan Tin-lam-ong Toan Cing-sun pula, kemudian berkata, “Yang tua ilmu silatnya sangat hebat, tapi yang muda sedikit pun tidak becus, aku tidak percaya kalian adalah ayah dan anak. Toan Cing-sun, sekalipun dia benar anakmu, namun cara mengajar ilmu silatmu tidak tepat, anakmu ini terlalu goblok. Sayang, hehe, sungguh sayang.”

“Apanya yang sayang?” tanya Toan Cing-sun.

“Bangun tubuh putramu ini lebih mirip diriku, boleh dikatakan adalah bahan belajar silat yang sukar dicari di dunia ini, asal dia belajar 10 tahun padaku, tanggung dia akan jadi seorang jago muda kelas satu di Bu-lim,” sahut Gok-sin.

Sungguh geli dan mendongkol Toan Cing-sun. Tapi dengan gebrakan tadi ia pun tahu ilmu silat orang sangat hebat.

Selagi hendak buka suara, tiba-tiba Toan Ki telah mendahului, “Gak-losam, ilmu silatmu masih terlalu cetek, tidak sesuai untuk menjadi guruku. Silakan kau pulang ke Ban-gok-to di Lam-hay untuk berlatih lagi 10 tahun, habis itu barulah engkau ada nilainya buat bicara tentang ilmu silat.”

Keruan Gok-sin menjadi gusar, bentaknya, “Kau bocah ingusan ini tahu apa?”

“Kenapa aku tidak tahu?” sahut Toan Ki. “Coba, ingin kutanya padamu, apa artinya, ‘Hong-lui-ek, kun-cu-ih-kian-sian-cek-ih, yu-ko-cek-kay’. Ayo jawab, lekas!”

Lam-hay-gok-sin melongo tak bisa menjawab, tapi segera ia menjadi gusar, bentaknya, “Ngaco-belo! Apakah artinya itu? Artinya kentut!”

“Hahaha!” Toan Ki terbahak-bahak. “Hanya kalimat yang cetek artinya saja engkau tak paham, tapi engkau masih bicara tentang ilmu silat segala?”

Semua orang ikut geli mendengar Toan Ki menggunakan isi kitab “Ih-keng” untuk mempermainkan Lam-hay-gok-sin itu. Meski Bok Wan-jing juga tidak paham apa yang diuraikan Toan Ki itu, tapi ia dapat menduga tentu si pelajar tolol itu lagi putar lidah.

Sebaliknya Lam-hay-gok-sin lantas sadar dirinya lagi dipermainkan demi tampak wajah semua orang menertawai dirinya. Dengan menggerung sekali, segera ia hendak menyerang.

Namun Toan Cing-sun telah melangkah ke depan sang putra.

Dengan tertawa Toan Ki berkata lagi, “Apa yang kukatakan tadi adalah istilah ilmu silat yang mukjizat, engkau terang takkan paham. Haha, katak dalam sumur macammu ini juga ingin menjadi guru orang, sungguh gigi orang bisa copot tertawa geli. Padahal semua guruku, kalau bukan kaum terpelajar, tentu adalah padri saleh. Sebaliknya macam dirimu, biarpun belajar 10 tahun lagi juga belum tentu sesuai untuk menjadi guruku.”

Lam-hay-gok-sin menggerung murka, bentaknya, “Siapa gurumu, ayo suruh dia keluar dan unjukkan beberapa jurus padaku!”

Melihat Lam-hay-gok-sin hanya datang sendirian, untuk melawannya tidaklah sulit, maka Toan Cing-sun tidak mencegah kelakuan Toan Ki, apalagi suami istri bisa berkumpul kembali, ia pikir biar putranya menggoda orang jahat ketiga itu sekadar bikin senang hati sang istri.

Keruan Toan Ki bertambah berani, ia berkata pula, “Baiklah, jika kau berani, tunggulah sebentar, biar kupanggil guruku dulu, kalau jantan sejati, jangan kau lari!”

Gok-sin menjerit murka, “Selama hidup Gak-loji malang melintang di seluruh jagat, pernah kutakut pada siapa? Ayo lekas panggil, lekas!”

Benar juga Toan Ki lantas pergi keluar. Tinggal Lam-hay-gok-sin yang memandangi setiap orang yang hadir di situ dengan sikap menantang, sama sekali ia tidak jeri biarpun seorang diri berada di tengah lawan sebanyak itu.

Tiada lama, terdengarlah suara tindakan orang, dua orang kedengaran mendatangi. Ketika Gok-sin mendengarkan, langkah orang yang datang itu kacau tak bertenaga, terang orang yang tak paham ilmu silat.

Terdengar suara seruan Toan Ki dari luar, “Mana itu Gak-losam, tentu dia sudah lari ketakutan? Ayah, jangan biarkan dia lolos, ini, Suhuku sudah datang!”

“Buat apa aku lari?” bentak Gok-sin dengan gusar. “Kurang ajar, bocah ini bikin gusar padaku melulu.”

Belum selesai ucapannya, tertampak Toan Ki melangkah masuk sambil menyeret satu orang. Melihat itu, seketika semua orang bergelak tertawa.

Ternyata orang yang dibawa datang Toan Ki itu kurus kecil, pakai topi bentuk kulit semangka, berjubah panjang longgar, berkumis tikus, kedua matanya merah sepat seakan-akan kurang tidur selalu, kepalanya mengkeret takut-takut, sikapnya lucu menggelikan.

Segera Yau-toan-siancu dapat mengenal orang ini sebagai juru tulis di kantor Tin-lam-onghu. Juru tulis she Ho ini setiap hari suka mengantuk saja dan kerjanya berjudi dengan para pelayan di dalam istana. Dalam keadaan setengah mabuk, ia diseret Toan Ki ke dalam ruangan, dengan takut cepat juru tulis itu berlutut dan menyembah ke hadapan Po-ting-te dan permaisuri.

Sudah tentu Po-ting-te tidak kenal siapa juru tulis kecil itu, ia perintahkan orang berbangkit. Segera Toan Ki gandeng Ho-sinshe itu ke hadapan Lam-hay-gok-sin, katanya, “Nah, Gak-losam, di antara guru-guruku, Suhuku inilah ilmu silatnya paling rendah. Maka lebih dulu kau perlu mengalahkan dia, baru ada harganya buat menantang guru-guruku yang lain.”

Gok-sin berkaok-kaok murka, teriaknya, “Macam begini gurumu? Haha, dalam tiga jurus saja kalau aku tak bisa bikin dia hancur seperti perkedel, biar aku angkat guru padamu.”

Seketika sinar mata Toan Ki terbeliak mendengar itu, tanyanya cepat, “Ucapanmu ini benar-benar atau tidak? Seorang lelaki sejati, sekali bicara harus bisa pegang janji, kalau ingkar janji, itu berarti anak kura-kura, haram jadah!”

“Baik, mari, mari!” Gok-sin berteriak-teriak.

“Dan kalau cuma tiga jurus saja, tidak usah guruku turun tangan, biarlah aku sendiri sudah lebih dari cukup untuk melayanimu,” ujar Toan Ki.

Mendengar pemuda itu hendak maju sendiri, keruan Lam-hay-gok-sin bergirang. Datangnya ke istana pangeran ini atas berita In Tiong-ho yang menyatakan calon muridnya yang hilang itu diketemukan di dalam istana, maka tujuannya melulu ingin “jemput” Toan Ki untuk menjadi ahli waris Lam-hay-pay.

Tapi ketika bergebrak sekali dengan Toan Cing-sun, ia menjadi kaget oleh kepandaian pangeran itu. Apalagi di samping itu masih banyak juga lainnya, kalau hendak menggondol Toan Ki begitu saja rasanya tidaklah mudah. Ia menjadi girang mendengar pemuda itu sendiri yang akan bergebrak dengan dirinya, sekali ulur tangan ia yakin dapat menawan anak muda itu.

Maka katanya segera, “Bagus, jika kau yang maju aku pasti takkan menggunakan tenaga dalam untuk melukaimu.”

“Kita janji dulu di muka, dalam tiga jurus kalau engkau tak bisa menjatuhkan aku, lantas bagaimana?” tanya Toan Ki.

Lam-hay-gok-sin terbahak-bahak, ia tahu pemuda itu adalah seorang pelajar lemah yang ibaratnya memegang ayam saja tidak kuat, apalagi hendak bertanding tiga jurus dengan dirinya, mungkin setengah jurus saja tidak tahan. Maka sahutnya segera, “Dalam tiga jurus kalau aku tak bisa menang, segera aku angkat guru padamu!”

“Nah, semua hadirin di sini sudah dengar semua, jangan engkau mungkir janji nanti!” seru Toan Ki.

Gok-sin menjadi gusar, teriaknya, “Aku Gak-loji selamanya kalau bilang satu ya satu, bilang dua tetap dua!”

“Gak-losam!” seru Toan Ki.

“Gak-loji!” bentak Gok-sin.

“Gak-losam!” Toan Ki mengulang.

“Sudahlah, cerewet apa lagi, ayo lekas mulai!” teriak Gok-sin tak sabar.

Segera Toan Ki melangkah maju hingga berhadapan dengan tokoh ketiga Su-ok ini.

Di antara hadirin, dimulai Po-ting-te dan permaisuri ke bawah, setiap orang menyaksikan dewasanya Toan Ki, semuanya tahu anak muda itu gemar sastra dan tidak suka ilmu silat, selama hidupnya tidak pernah belajar silat sejurus pun. Malahan ketika dipaksa oleh Po-ting-te dan ayahnya supaya belajar silat, ia lebih suka minggat dari rumah. Jangankan bertanding melawan jago kelas wahid macam Lam-hay-gok-sin, biarpun melawan seorang prajurit biasa juga kalah. Semula semua orang mengira pemuda itu sengaja menggoda Lam-hay-gok-sin, siapa duga benar-benar akan bertanding.

Sebagai seorang ibu yang sangat sayang pada putranya, segera Yau-toan-siancu membuka suara, “Ki-ji, jangan sembrono, orang liar macam begitu jangan kau gubris padanya.”

Cepat Honghou pun memberi perintah, “Sian-tan-hou, lekas kau perintahkan tangkap perusuh ini!”

Sian-tan-hou Ko Sing-thay mengiakan dan segera berseru, “Leng Jian-li, Tang Su-kui, Siau Tiok-sing dan Cu Tan-sin berempat dengarkan perintah, atas titah Nionio, lekas tangkap perusuh kurang ajar ini!”

Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li berempat menerima perintah itu.

Melihat dirinya hendak dikerubut, segera Lam-hay-gok-sin membentak, “Biarpun kalian maju semua juga aku tidak gentar. Ayo, Hongte dan Honghou juga silakan maju sekalian!”

“Nanti dulu, nanti dulu!” demikian cepat Toan Ki mencegah sambil goyang-goyang kedua tangannya. “Biarlah kuselesaikan tiga jurus dahulu denganmu.”

Po-ting-te kenal tindak tanduk keponakannya itu sering di luar dugaan, boleh jadi diam-diam dia sudah atur perangkap untuk menjebak musuh, apalagi dirinya dan saudaranya berjaga di samping, kalau Lam-hay-gok-sin hendak bikin susah pemuda itu, rasanya juga tidak bisa. Maka dengan tersenyum ia berkata, “Mundurlah kalian, biarkan perusuh ini belajar kenal betapa lihainya Ongcu dari Tay-li-kok, supaya dia tahu rasa!”

Mendengar perintah itu, Leng Jian-li berempat yang sudah bersiap-siap mengerubut maju itu lantas mengundurkan diri.

“Gak-losam,” segera Toan Ki berkata, “marilah kita janji sebelumnya secara tegas. Kalau dalam tiga jurus engkau tak bisa merobohkan aku, harus kau angkat guru padaku. Tapi meski aku menjadi gurumu, melihat tampangmu yang tolol begini, rasanya percuma kuajarkan ilmu silat padamu. Jadi aku tak mau ajarkan apa-apa padamu, setuju?”

“Siapa ingin belajar silat padamu?” bentak Gok-sin gusar. “Huh, ilmu silat kentut anjing apa yang kau miliki?”

“Baik, itu artinya sudah kau terima syaratku,” ujar Toan Ki. “Dan sesudah kau angkat guru, segala perintah guru selanjutnya harus kau turuti. Kalau membangkang, itu berarti durhaka dan akan dikutuk oleh setiap orang Bu-lim. Kau terima tidak syarat kedua ini.”

“Hahaha, sudah tentu,” Gok-sin terbahak-bahak. “Dan begitu pula bila kau yang mengangkat guru padaku.”

“Ya, namun kalau kau ingin menerima aku sebagai murid, kau harus kalahkan dulu setiap Suhuku untuk membuktikan bahwa kepandaianmu memang lebih tinggi daripada guru-guruku itu, dengan begitu baru ada harganya mengangkat guru padamu.”

“Baik, baik, tak perlu cerewet, ayo lekas maju!” sahut Gok-sin tak sabar.

“Buat apa buru-buru? Lihatlah seorang guruku sudah berdiri di belakangmu ….” kata Toan Ki dengan tersenyum sambil menuding ke belakang Gok-sin.

Lam-hay-gok-sin tidak merasa kalau di belakangnya ada orang, namun begitu toh dia menoleh juga. Kesempatan itu segera digunakan Toan Ki dengan baik, mendadak ia melangkah miring ke kiri, dengan cepat dan lucu ia terus mencengkeram “To-to-hiat” di punggung Gok-sin.

Gerak-gerik Toan Ki sama sekali tidak mirip seorang pesilat, tapi Hiat-to yang dipegangnya itu adalah salah satu jalan darah penting di tubuh manusia. Begitu tercengkeram, seketika Lam-hay-gok-sin merasa dadanya sesak. Sementara itu tangan Toan Ki yang lain lantas tekan di “Ih-sik-hiat” bagian pinggangnya, jari jempol tepat menekan di tengah Hiat-to itu.

Dalam kagetnya cepat Lam-hay-gok-sin meronta dengan tenaga dalam. Tapi dua Hiat-to penting sudah diatasi orang, sekali tenaga dalam dikerahkan, bukannya terlepas dari cengkeraman Toan Ki, sebaliknya kedua tenaga itu saling terjang hingga seketika ia menjadi lemas tak bisa berkutik. Terus saja Toan Ki angkat tubuh Lam-hay-gok-sin dan dibanting ke lantai. Untung lantai di ruangan pendopo itu digelari permadani hingga kepalanya yang botak itu tidak sampai benjut.

Walaupun begitu, dengan nama besar Lam-hay-gok-sin, dengan begitu saja ia kena dibanting Toan Ki, tentu saja ia malu. Saking murkanya, sekali lompat dengan gerakan “Le-hi-tah-ting” atau ikan lele melejit, begitu berdiri, ia terus balas mencengkeram Toan Ki.

Hadirin yang berada di ruangan itu adalah jago terkemuka semua, tapi tiada seorang pun yang menyangka Toan Ki yang diketahui sama sekali tidak pernah belajar silat dan lemah itu, ternyata bisa membanting Lam-hay-gok-sin dengan begitu mudah. Dalam kaget mereka, sementara itu Lam-hay-gok-sin sudah melancarkan serangan tadi kepada Toan Ki.

Toan Cing-sun menjadi khawatir, tapi belum sempat turun tangan melindungi sang putra, tahu-tahu anak muda itu sudah menggeser miring ke kiri, langkahnya aneh gesit, hanya satu langkah itu saja sudah dapat menghindarkan serangan kilat Lam-hay-gok-sin.

“Bagus!” seru Toan Cing-sun memuji.

Menyusul mana serangan Gok-sin yang kedua sudah dilontarkan lagi. Tapi Toan Ki tetap tidak membalas, hanya melangkah maju dua tindak malah dan kembali serangan itu luput.

Dua kali menyerang tidak kena sasaran, Lam-hay-gok-sin menjadi gusar dan kejut. Ia lihat Toan Ki hanya berdiri satu meter di depannya, sekonyong-konyong ia menggerung keras-keras, kedua tangannya berbareng mencengkeram dada dan perut pemuda itu.

Ini adalah salah satu ilmu silat tunggal mahalihai yang dilatihnya sepuluh tahun ini, namanya “Tok-liong-jiau” atau cakaran naga berbisa. Ilmu ini sebenarnya disiapkan untuk melawan Yap Ji-nio guna merebut gelar dari Thian-he-su-ok atau empat orang mahajahat sedunia.

Tapi kini, setelah dibanting, pula balas menyerang berulang tidak kena, Gok-sin menjadi kalap, tak terpikir lagi olehnya apakah cakarannya itu bakal membinasakan “calon ahli waris” itu atau tidak.

Dalam pada itu Po-ting-te, Honghou, Toan Cing-sun, Yau-toan-siancu dan Ko Sing-thay menjadi khawatir juga, berbareng mereka memperingatkan Toan Ki, “Awas!”

Namun dengan enteng pemuda itu melangkah ke kanan setindak menyusul menggeser pula ke kiri selangkah, tahu-tahu ia sudah berputar sampai ke belakang Lam-hay-gok-sin. “Plok,” ia keplak sekali atas kepala Gok-sin yang botak itu.

Sungguh sedikit pun Gok-sin tidak menduga bahwa anak muda itu bisa menabok kepalanya secara demikian ajaibnya. Ketika merasa tangan orang sudah sampai di atas kepala, diam-diam ia menjerit, “Matilah aku!”

Tapi demi kepala kena dikeplak, segera ia tahu serangan Toan Ki itu sedikit pun tidak bertenaga dalam. Tanpa ayal lagi ia angkat tangan kiri ke atas, “cret,” kontan punggung tangan Toan Ki tercakar lima jalur luka oleh kuku jarinya.

Waktu Toan Ki tarik kembali tangannya dengan cepat, serangan Gok-sin itu masih belum bisa direm, cakarannya masih merosot ke bawah hingga jidatnya juga ikut tercakar.

Sebenarnya sesudah berhasil menghindarkan tiga jurus serangan lawan, Toan Ki sudah menang dan dapat mengakhiri pertandingan itu. Tapi dasar sifat bocahnya masih belum hilang, biarpun dirinya tak bisa Lwekang, namun ketika tampak ada kesempatan untuk menabok kepala orang, terus saja ia keplak sekali kepala Lam-hay-gok-sin yang gundul itu, akibatnya hampir dirinya kena tertawan. Keruan kejutnya bukan buatan, buru-buru ia sembunyi ke belakang sang ayah dengan muka pucat ketakutan.

Yau-toan-siancu melotot sekali ke arah putranya itu, katanya dalam hati, “Bagus, jadi selama ini diam-diam kau belajar Kungfu sehebat itu kepada ayah dan pamanmu, tapi aku sama sekali tak diberi tahu.”

Dalam pada itu Bok Wan-jing telah berseru, “Nah, Gak-losam, sudah tiga jurus tak mampu kau robohkan dia, sebaliknya kau sendiri kena dibanting olehnya. Sekarang lekas menyembah dan panggil Suhu padanya.”

Muka Lam-hay-gok-sin menjadi merah, ia garuk-garuk kepalanya yang tak gatal itu dan menyahut, “Dia toh belum bergebrak sungguh-sungguh denganku, kejadian tadi tak bisa dihitung.”

“He, tidak malu?” seru Bok Wan-jing. “Kau tidak mau mengaku guru padanya, itu berarti kau rela menjadi anak kura-kura. Sebenarnya kau mau mengangkat guru saja atau terima menjadi anak kura-kura?”

“Tidak semua,” sahut Gok-sin. “Aku ingin mengulangi bertanding dengan dia.”

Melihat gerak langkah putranya tadi sangat hebat dan bagus luar biasa, sampai dirinya juga tidak paham di mana rahasia kepandaian itu. Segera Toan Cing-sun membisiki Toan Ki, “Boleh maju lagi, jangan pukul dia, tapi cari kesempatan mencengkeram Hiat-tonya.”

“Tapi anak menjadi takut sekarang, mungkin takkan berhasil,” sahut Toan Ki lirih.

“Jangan khawatir, aku mengawasimu dari samping,” kata Cing-sun.

Nyali Toan Ki menjadi besar lagi karena mendapat dukungan sang ayah. Segera ia melangkah ke depan dan berkata pada Lam-hay-gok-sin, “Sudah tiga jurus tak mampu kau robohkan aku, kau harus menyembah guru padaku!”

Tapi tanpa menjawab lagi, Gok-sin menggerung sekali terus menghantam dengan telapak tangannya.

Lekas Toan Ki melangkah miring ke kiri, dengan enteng saja ia hindarkan serangan itu. “Brak,” pukulan Gok-sin menghancurkan sebuah meja.

Toan Ki pusatkan pikiran sambil mulutnya perlahan mengucapkan istilah, “San-ta-pak, Hwe-te-cin ….” dan seterusnya, yaitu istilah di dalam kitab Ih-keng. Sama sekali ia tidak hiraukan datangnya serangan Lam-hay-gok-sin, ia hanya urus langkah sendiri yang ke kanan, ke kiri, maju dan mundur sesukanya.

Dalam pada itu semakin lama makin cepat dan keras pukulan Lam-hay-gok-sin hingga terdengar suara gedubrakan dan gemerantang yang riuh di dalam ruangan pendopo, meja kursi dan mangkuk cangkir sama pecah berantakan kena pukulan Gok-sin. Tapi dari mulai sampai akhir, sedikit pun ia belum mampu menyenggol ujung baju Toan Ki.

Hanya sekejap saja lebih 30 jurus sudah berlangsung. Selama itu Po-ting-te Toan Cing-beng dan Tin-lam-ong Toan Cing-sun dapat melihat langkah Toan Ki enteng tetapi kaku, memang sedikit pun tak bisa ilmu silat. Cuma entah dari mana pemuda itu mendapatkan ajaran seorang kosen dalam sejenis ilmu gerak langkah yang ajaib dengan mengikuti perhitungan Pat-kwa ciptaan Hok-hi di zaman baheula, yaitu yang mempunyai dasar hitungan 8×8=64 segi.

Padahal kalau dia benar-benar bertempur dengan Lam-hay-gok-sin, mungkin cuma sejurus saja pemuda itu akan dibinasakan orang. Tapi dia justru mengurusi gerak langkah sendiri sambil mulut mengucapkan istilah-istilah yang bersangkutan, dan sebegitu jauh pukulan Lam-hay-gok-sin tetap tak bisa menyenggolnya.

Diam-diam Toan Cing-beng dan Toan Cing-sun saling pandang sekejap, sekilas mereka mengunjuk rasa khawatir juga. Dalam hati mereka sama berpikir, “Bila Lam-hay-gok-sin itu menyerang dengan memejamkan mata misalnya dan tak perlu melihat ke mana anak Ki melangkah, sekenanya ia lontarkan sejurus pukulan saja dan tanpa susah lagi tentu pemuda itu akan dirobohkannya.”

Tapi Lam-hay-gok-sin ternyata tidak mempunyai pikiran seperti mereka. Sebaliknya wajahnya makin lama makin beringas, matanya juga semakin mendelik hingga biji mata yang tadinya sebesar kacang, kini melotot sebesar gundu, ia masih tetap memukul sejurus demi sejurus dan tetap tak bisa mengenai sasaran, biarpun ia telah berganti tipu serangan dengan cepat, Toan Ki selalu dapat menghindar ke tempat yang sama sekali di luar perhitungannya.

Namun pertarungan demikian itu kalau diteruskan, sekalipun Toan Ki tidak sampai dirobohkan, tapi untuk mengalahkan lawan juga tidaklah mungkin.

Setelah melihat sebentar, tiba-tiba Po-ting-te berkata, “Anak Ki, melangkah perlahan sedikit, papak dari depan dan cengkeram Hiat-to di dadanya.”

Toan Ki mengiakan sambil melambatkan langkahnya, segera ia memapak Lam-hay-gok-sin dari depan. Tapi ketika sinar matanya kebentur dengan sorot mata Gok-sin yang beringas itu, ia menjadi jeri, sedikit kakinya merandek, tempat kedudukannya menjadi rada menceng. Sekali cakar Lam-hay-gok-sin menyambar, kebetulan menyerempet samping kuping kirinya hingga berdarah. Bila cakaran itu sedikit geser ke kanan, tentu Toan Ki sudah menjadi mayat di situ.

Dan karena kupingnya terasa kesakitan, Toan Ki semakin jeri, ia percepat langkahnya menyingkir ke samping, terus mundur ke belakang sang ayah sambil berseru dengan menyengir, “Pekhu, aku tak sanggup!”

Cing-sun menjadi gusar, serunya, “Keturunan keluarga Toan dari Tayli tidak ada yang mundur ketakutan di garis depan? Ayo, lekas maju lagi, apa yang dianjurkan Pekhu tadi memang tidak salah!”

Yau-toan-siancu terlalu sayang pada sang putra, cepat ia menyela, “Ki-ji sudah bergebrak hampir 60 jurus dengan dia, keluarga Toan mempunyai keturunan sehebat ini, apakah engkau masih belum puas? Ki-ji, sejak tadi kau sudah menang, tak perlu diteruskan lagi.”

“Tidak,” kata Toan Cing-sun, “tak perlu kau ikut campur putraku, aku tanggung dia takkan mati.”

Sedih dan dongkol rasa Yau-toan-siancu, air matanya berkilau-kilau akan menetes.

Melihat itu, Toan Ki menjadi tak tega, ia beranikan diri, segera ia melangkah maju dengan membusungkan dada, bentaknya, “Marilah kita teruskan bertempur!”

Sekali ini ia sudah nekat, ia berputar kian kemari dengan teratur, makin lama makin lambat, ketika berhadapan dengan Gok-sin, ia tidak mau beradu sinar mata lagi, tapi kedua tangan terus mencengkeram dada lawan.

Melihat tangan Toan Ki yang terulur itu lemas tak bertenaga, Lam-hay-gok-sin terbahak-bahak geli, ia miringkan tubuh terus hendak pegang bahu pemuda itu malah. Tak terduga gerak langkah Toan Ki ternyata bisa berubah dengan sukar diraba, kedua orang berbareng menggeser tubuh hingga kebetulan dada Lam-hay-gok-sin seakan-akan disodorkan pada jari tangan Toan Ki.

Tanpa ayal lagi Toan Ki incar “Tan-tiong-hiat” dan “Gi-ko-hiat” dengan tepat, sekaligus terus mencengkeram.

Sama sekali Toan Ki tidak punya tenaga dalam, meski berhasil memegang kedua tempat Hiat-to di badan lawan, kalau Lam-hay-gok-sin tidak menggunakan tenaga dalam dan perlahan meronta melepaskan diri secara biasa, sebenarnya Toan Ki juga tak bisa mengapa-apakan dia.

Namun karena merasa Hiat-to penting kena dicengkeram lawan, dalam kagetnya tanpa pikir Lam-hay-gok-sin mengerahkan tenaga dalam untuk menutup kedua Hiat-to itu, berbareng kedua tangannya balas menyerang muka Toan Ki.

Serangan Gok-sin ini mengarah kedua mata Toan Ki, sebenarnya sangat tepat pemakaiannya, yaitu sesuai apa yang disebut “menyerang tempat musuh yang terpaksa harus menolong diri sendiri lebih dulu”, betapa pun lihainya musuh, kalau menghadapi serangan demikian, terpaksa harus tarik kembali tangannya untuk melindungi diri sendiri. Dan bagi Lam-hay-gok-sin akan dapatlah terhindar dari malapetaka.

Tak tersangka olehnya bahwa Toan Ki sedikit pun tidak paham tentang menyerang atau diserang segala, ketika jari Gok-sin mencolok ke arah matanya, hakikatnya ia tidak pikir harus cepat tarik kembali tangannya untuk menangkis, sebaliknya kedua tangannya masih tetap mencengkeram kencang di tempat Hiat-to tadi.

Dan kesalahan ini ternyata malah membawa kebetulan baginya. Ketika Lam-hay-gok-sin mengerahkan Lwekang tadi, sekonyong-konyong ketemu rintangan di tempat kedua Hiat-to itu, seketika hawa murni dan darah bergolak hebat dalam tubuh, kedua tangan yang sudah terjulur kira-kira belasan senti di depan mata Toan Ki tahu-tahu terasa lemas tak mau turut perintah lagi. Ia masih belum terima, ia kerahkan tenaga dalam lebih kuat.

Tapi lebih celaka lagi baginya, sekali tenaga dikerahkan, ia merasa dua arus tenaga mahadahsyat saling terjang di dalam tubuh hingga aliran darah ikut kacau dan mogok, seketika matanya berkunang-kunang.

Sebaliknya mendadak Toan Ki juga merasakan dua arus tenaga mahakuat membanjir ke tangannya hingga tubuhnya ikut sempoyongan. Ia sadar keadaan waktu itu, asal kedua tangannya melepaskan Hiat-to lawan, segera jiwanya akan terancam. Sebab itulah meski rasanya menderita sekali, sedapat mungkin ia bertahan.

Jaraknya waktu itu dengan Toan Cing-sun hanya satu meteran saja. Ketika melihat air muka sang putra makin lama makin merah, terang anak muda itu lagi menahan rasa derita, segera Cing-sun ulur jari telunjuknya untuk menahan “Tay-cui-hiat” di punggung Toan Ki.

“It-yang-ci” atau ilmu jari betara surya dari keluarga Toan di negeri Tayli sudah tersohor di seluruh jagat. Maka begitu jari Toan Cing-sun menempel punggung Toan Ki, seketika suatu arus hawa hangat yang halus tersalur ke badan pemuda itu. Kontan badan Lam-hay-gok-sin tergetar, perlahan roboh dengan lemas.

Segera Toan Cing-sun pegang Toan Ki sambil mengerahkan tenaga jarinya lebih kuat. Hanya sebentar saja, lambat laun air muka Toan Ki sudah kembali merah, tapi untuk sejenak ia pun belum sanggup bicara.

Bagaimana diam-diam Toan Cing-sun memakai ilmu “It-yang-ci” untuk membantu sang putra hingga Lam-hay-gok-sin dapat dirobohkan, hal ini dapat diketahui setiap orang di ruangan itu. Namun begitu toh Lam-hay-gok-sin tetap jatuh di bawah tangan Toan Ki, betapa pun hal ini tak bisa dibantah.

Hiong-sat-ok-sin itu benar-benar lihai luar biasa. Begitu tangan Toan Ki melepaskan Hiat-to di badannya, seketika ia melompat bangun. Ia pandang Toan Ki dengan kedua matanya yang bundar kecil itu penuh rasa heran, gemas dan sedih pula.

“Nah, Gak-losam,” demikian Bok Wan-jing lantas berteriak, “sekarang kau sudah kalah lagi, kulihat engkau lebih suka menjadi anak kura-kura daripada mengangkat guru, bukan?”

“Tidak, justru kuingin berbuat di luar dugaanmu,” seru Gok-sin murka. “Angkat guru ya angkat guru, malu-malu apa? Aku Gak-loji sekali-kali tidak sudi menjadi anak kura-kura.”

Habis berkata, benar juga ia terus berlutut dan menyembah empat kali kepada Toan Ki sambil berteriak, “Suhu, Tecu Gak-loji memberi hormat padamu!”

Untuk sejenak Toan Ki terkesima, dan belum lagi sempat menjawab, mendadak Lam-hay-gok-sin sudah melompat bangun terus mencelat ke atas wuwungan rumah. Tiba-tiba terdengar suara jeritan sekali di atas rumah menyusul suara gedebuk sekali, dari atas terbanting ke bawah tubuh seorang.

Waktu semua orang menegasi, kiranya seorang pengawal istana pangeran, dadanya sudah berlumuran darah dan berlubang, buah hatinya telah dikorek oleh Lam-hay-gok-sin untuk dimakan. Wi-su atau pengawal itu masih berkelojotan, keadaannya sangat mengerikan.

Sebenarnya kepandaian pengawal itu pun tidak rendah, walaupun tidak setingkat dengan empat tokoh Hi-jiau-keng-dok, tapi hanya dalam satu gebrakan saja ternyata hatinya sudah kena dikorek orang. Keruan semua orang saling pandang dengan terkejut.

“Longkun, muridmu itu benar-benar kurang ajar, lain kali kalau ketemu, harus kau hajar dia sampai minta ampun,” seru Bok Wan-jing dengan gusar.

“Kemenanganku tadi hanya secara kebetulan saja berkat bantuan Tiatia,” sahut Toan Ki tersenyum. “Tapi lain kali kalau ketemu lagi, mungkin buah hatiku sendiri juga bisa dikorek olehnya, kepandaian apa yang kumiliki untuk hajar dia?”

Waktu bicara itulah, Leng Jian-li dan Siau Tiok-sing sudah gotong keluar mayat pengawal tadi. Toan Cing-sun memberi perintah agar diberi pensiun pada keluarganya dan suruh Ho-sinshe tadi mengundurkan diri.

“Ki-ji,” kata Po-ting-te kemudian. “Poh-hoat (ilmu gerak langkah) yang kau mainkan tadi berasal dari falsafah Pat-kwa ciptaan Hok-hi, kau boleh belajar dari siapa?”

“Anak mempelajarinya secara ngawur dari dalam sebuah gua, entah tepat atau tidak, masih mengharapkan petunjuk dari Pekhu,” sahut Toan Ki.

“Dari sebuah gua bagaimana, coba ceritakan.”

Maka berceritalah Toan Ki tentang pengalamannya.

Kiranya tempo hari waktu dia ditinggal di atas puncak karang, Bok Wan-jing digondol pergi oleh Lam-hay-gok-sin, dalam keadaan bingung Toan Ki terus mengudak. Tapi baru beberapa tindak tiba-tiba ia menginjak badan seekor ular sawah besar. Bundar dan licin badan ular itu penuh lendir yang basah. Toan Ki terpeleset dan tergelincir ke pinggir jurang.

Dalam keadaan bahaya, untung tangannya yang meraih serabutan itu dapat memegang akar pohon hingga badannya tidak terjerumus lebih jauh ke bawah, mati-matian ia pegang erat akar pohon itu tak dilepaskan lagi demi keselamatannya.

Dalam keadaan badan setengah terjuntai, kaki Toan Ki merasa menginjak di atas batu karang, telinganya mendengar pula suara gemuruh, air sungai mendebur-debur hebat di bawah sana.

Ia coba tenangkan diri dan mengawasi sekitarnya, ternyata dirinya berada di tengah tebing yang terjal sekali, untuk merambat ke atas terang tidak mampu, kalau turun ke bawah akan kecebur ke sungai. Terpaksa merembet ke kiri sana, di situ masih ada tempat untuk berpijak. Begitulah segera ia menggeremet ke sana dengan hati-hati.

Setelah merayap sebentar, ia mengaso sejenak. Kalau ketemukan tempat yang curam, terpaksa tabahkan diri dan akhirnya dapat merayap lewat juga dengan selamat.

Sampai hari sudah magrib, ia lihat di depan masih tetap tebing jurang yang terjal, sedikit pun belum ada tanda-tanda akan sampai di tempat datar, diam-diam Toan Ki putus asa. Ia coba merayap lagi sebentar, sekonyong-konyong pikirannya tergerak, pemandangan di depan ini lamat-lamat seperti sudah dikenalnya.

Waktu ia perhatikan lebih jauh, tak tertahan lagi ia berteriak, “Aha, ingatlah aku! Ketika aku keluar dari gua di luar danau itu, pemandangan yang kulihat tak-lain tak-bukan adalah seperti ini!”

Toan Ki senang sekali demi mengenal keadaan tempat itu, ia masih ingat bila dia merayap lewat beberapa tebing curam, ia akan sampai di suatu jalan kecil dan kalau jalan terus belasan li pula, ia akan tiba di jembatan “Sian-jin-toh”.

Jadi mulut gua itu berada tidak jauh dari tempatnya sekarang ini, bila teringat pada patung dewi di dalam gua yang cantik tiada bandingannya itu, perasaannya lantas bergolak, ia tak tahan lagi, betapa pun ia ingin pergi menjenguk patung itu.

Tanpa pikir lagi segera ia merangkak terus. Tiada belasan meter jauhnya, benar juga ia sudah sampai di mulut gua tempat keluarnya dari bawah danau tempo hari. Cepat ia menyusup ke dalam gua, mengikuti jalan lama dan akhirnya mencapai kamar batu yang dulu.

Hari sudah gelap, tapi di dalam kamar batu itu tetap terang benderang oleh cahaya mutiara mestika yang menghias seputar dinding kamar. Toan Ki termangu-mangu memandangi patung dewi itu, pikirnya, “Untung ini hanya patung belaka dan bukan manusia. Bila di dunia benar-benar ada gadis secantik ini, aku Toan Ki bukan mustahil rela mati asal dapat mempersuntingkannya.”

Begitulah ia terkesima di hadapan patung ayu itu sampai kakinya sudah terasa lemas toh dia masih belum merasa capek, nyata saat itu segala Bok Wan-jing, Lam-hay-gok-sin dan lain-lain sudah dibuang olehnya ke awang-awang. Sampai akhirnya ia benar-benar tidak tahan lagi, lalu ia rebah di bawah kaki patung itu dan terpulas.

Dalam mimpi, patung itu bisa bergerak dan memberikan Toan Ki sebilah pisau serta menyuruh dia membunuh 36 orang laki-laki dan wanita yang tak berdosa. Tanpa membantah, Toan Ki terima pisau itu dan membunuh serabutan hingga dalam sekejap lebih dari 50 orang telah dibunuhnya hingga mayat bergelimpangan dan darah berceceran.

Patung itu tersenyum senang seakan-akan memuji perbuatan Toan Ki itu, lalu menyuruh pergi membunuh ayahnya sendiri. Tentu saja Toan Ki tidak mau, patung itu menjadi marah, katanya, “Kau tidak turut perintah, lebih baik kau bunuh diri saja!”

Tanpa ragu Toan Ki terus angkat pisau dan menikam ulu hatinya sendiri. Dalam kagetnya ia menjerit hingga tersadar dari tidurnya dengan berkeringat dingin, hatinya masih berdebar dengan kerasnya. Ia lihat di dalam kamar sudah terang benderang oleh cahaya matahari, nyata ia sudah tertidur semalam.

Ia pandang patung itu pula, macam-macam pikiran berkecamuk, tiba-tiba teringat olehnya, “He, kamar ini berada di dasar danau, dari mana datangnya sinar matahari itu?”

Ia coba pandang ke arah datangnya sinar sang surya, ia lihat di ujung kanan atas kamar itu tergantung sebuah cermin perunggu, sinar matahari itu memantul balik dari cermin itu. Ketika cermin perunggu itu diperhatikannya lebih jelas, lamat-lamat ternyata di atas cermin ada ukirannya.

Tergerak pikiran Toan Ki, “Di dalam kamar ini penuh cermin seperti ini, bukan mustahil ada udang di balik batu?”

Segera ia ambil cermin tadi, ia kebut debu di atasnya dan diusap lebih bersih, maka tertampaklah di atas cermin itu memang terukir banyak sekali garis-garis tegak dan miring, di samping garis-garis itu terukir pula huruf “It-poh”, “Liang-poh”, “Poan-poh” (satu langkah, dua langkah, setengah langkah) dan seterusnya. Dan tiap ujung garis itu terukir pula penjelasan “Tong-jin”, “Tay-yu” dan macam-macam huruf kecil lain.

Toan Ki pernah membaca “Ih-keng,” maka tahu “Tong-jin”, “Tay-yu” dan sebagainya itu adalah nama segi-segi Pat-kwa yang seluruhnya berjumlah 8×8=64 segi itu.

Waktu cermin itu ia balik, di punggung cermin terukir pula empat huruf kuno “Leng-po-wi-poh” atau langkah lembut dewi cantik. Kalimat ini mengingatkan Toan Ki pada syair Co Cu-kian, putra Co Cho di zaman Sam-kok, yaitu syair yang memuja wanita cantik. Tapi bagi Toan Ki, ia merasa syair itu masih belum cukup untuk melukiskan betapa cantiknya patung di depan matanya ini.

Untuk sekian lamanya ia termenung-menung di situ sambil memegangi cermin perunggu. Kemudian teringat pula olehnya tulisan di papan perunggu di bawah kaki patung yang pernah dibacanya itu. Kata tulisan itu, “Sesudah kau genap menjura seribu kali padaku, itu berarti sudah menjadi muridku. Pengalamanmu selanjutnya akan sangat mengenaskan, hendaklah kau jangan menyesal. Ilmu silat perguruan kita yang tiada bandingannya di jagat ini berada di dalam ruangan batu ini, harap melatihnya dengan tekun.”

Malahan tempo hari waktu dia berpisah dari patung itu pernah mengatakan, “Enci Dewi, aku tidak mau menjadi muridmu, ilmu silatmu yang tiada bandingannya itu juga takkan kupelajarinya.”

Tapi kini sesudah memandang lebih mesra terhadap patung itu, pikirannya menjadi kabur tak terkendali, pikirnya sekarang, “Di manakah beradanya ilmu silat tiada bandingannya itu? Apa barangkali terukir di atas cermin-cermin perunggu ini? Enci Dewi suruh aku belajar silat, tak boleh tidak aku harus mempelajarinya sekarang.”

Berpikir begitu, segera ia balik cermin perunggu tadi dan menghafalkan hitungan ke-64 segi Pat-kwa itu lalu setindak demi setindak mulai berlatih.

Semula ia hanya melangkah mengikuti petunjuk yang terukir di atas cermin itu tanpa mengetahui di mana letak keajaibannya, terkadang tulisan di cermin itu sangat aneh, setelah melangkah setindak, langkah selanjutnya menjadi buntu rasanya. Tapi ketika kemudian mesti melompat sambil berputar tubuh, jalan selanjutnya terbuka lagi dengan lancar. Sering pula harus disertai dengan melompat maju atau mundur untuk bisa cocok dengan petunjuk di atas cermin itu.

Dasar Toan Ki memang sudah biasa tekun belajar, maka sekali sudah mau, biarpun menemukan persoalan sulit tentu dipecahkannya dengan peras otak baru mau berhenti. Dan bila kemudian sudah paham, ia lantas berjingkrak girang seperti orang sinting. Pikirnya, “Elok benar! Jadi ilmu silat juga bisa membikin orang senang, bahkan tidak kurang menariknya daripada orang membaca kitab.”

Lalu pikirnya pula, “Aku tidak suka bikin susah atau membunuh orang, makanya selama ini aku tidak sudi belajar silat. Tapi Poh-hoat (ilmu gerak langkah) ini tak bisa dipakai membunuh orang, sebaliknya dapat menghindarkan maksud jahat musuh, kalau dipelajari, ada manfaatnya tiada jeleknya. Sekalipun ilmu silat lainnya kalau digunakan untuk menolong sesamanya, sebenarnya juga tidak jelek.”

Begitulah, sekali dia sudah suka, ia lantas merasa tiada salahnya belajar silat. Dan dengan demikian, ia lantas belajar terlebih giat. Hanya dalam satu hari saja, Poh-hoat yang tertulis di atas cermin itu sudah 2-3 bagian dapat dipahaminya.

Malamnya, ia merasa sangat lapar. Segera ia keluarkan “Bong-koh-cu-hap” agar binatang itu bersuara memanggil ular. Ia pilih seekor ular yang gemuk, lalu menyembelihnya, ia keluar ke tepi sungai itu untuk mencari kayu bakar dan memanggang daging ular untuk dimakan.

Selama beberapa hari, kecuali makan ular dan tidur, senantiasa Toan Ki terbenam dalam pelajaran “Leng-po-wi-poh” yang aneh itu. Terkadang kalau sudah malas, begitu mendongak dan memandang patung dewi itu, ia lantas merasa patung cantik itu lagi mengomeli dia, ia terkesiap dan kembali belajar lagi dengan tekun.

Hari keempat, seluruh pelajaran ilmu langkah itu sudah dapat dihafalkannya. Selama itu sering juga teringat olehnya akan Bok Wan-jing yang tak diketahui bagaimana nasibnya selama digondol Lam-hay-gok-sin itu, tentu gadis itu lagi menunggu pertolongannya, demikian pikirnya.

Tapi bila sinar matanya kebentrok dengan pandangan patung cantik itu, ia menjadi seperti kesurupan dan lupa daratan. Tapi kini ia telah ambil ketetapan yang tegas, “Aku harus pergi menolong nona Bok dahulu, kemudian baru aku kembali lagi ke sini!”

Segera ia kembalikan cermin perunggu itu ke tempat asalnya, sekilas ia dapat melihat pula bahwa di atas cermin perunggu lain yang berada di lantai juga lorang-loreng penuh terukir tulisan dan garis-garis. Ia tahu bila terus melatih ilmu di atas cermin itu, tentu akan makan waktu beberapa hari lagi, padahal nona Bok masih berada di bawah cengkeraman orang jahat dan sedang menanti kedatangannya untuk menolong.

Namun begitu, dalam hati kecilnya timbul juga semacam rasa berat untuk meninggalkan patung cantik itu Kalau dia pergi, jelas dirinya takkan mampu mengalahkan Lam-hay-gok-sin dan terpaksa mengangkat guru padanya baru nona Bok mau dibebaskan. Padahal bila dia disuruh angkat orang sejahat itu menjadi guru, Toan Ki merasa lebih suka mati daripada mesti menurut.

Sebab itulah, pertentangan batinnya menjadi hebat, ia ragu sampai sekian lama. Akhirnya merasa bila dirinya tidak pergi menolong Bok Wan-jing, itu berarti tidak berbudi dan tak bisa dipercaya, seorang laki-laki sejati tidak nanti berbuat demikian, sekalipun akhirnya dirinya mesti celaka, sekali sudah berjanji harus ditepati.

Karena itu, segera ia menjura kepada patung dewi itu, katanya, “Enci Dewi, bila aku bisa meloloskan diri dari Lam-hay-gok-sin yang jahat itu dengan ilmu ‘Leng-po-wi-poh’ ajaranmu, kelak tiap tahun aku pasti akan tinggal bersamamu di sini setengah tahun lamanya.”

Habis itu, segera ia bertindak keluar gua dengan gaya berlenggang menurut gerak langkah Leng-po-wi-poh.

Tak tersangka, baru saja ia menginjak sudut “Tay” dan menggeser ke segi “Koh,” sekonyong-konyong suatu arus hawa panas menerjang ke atas dari dalam perutnya. Seketika badannya terasa lumpuh, kontan ia ambruk ke lantai.

Dalam kagetnya cepat Toan Ki bermaksud menahan lantai dengan tangannya untuk merangkak bangun. Tak terduga semua anggota badannya juga terasa kaku pegal tak mau turut perintah lagi, bahkan untuk menggerakkan sebuah jari saja terasa susah.

Kiranya “Leng-po-wi-poh” yang tertera di atas cermin perunggu itu adalah semacam ilmu silat mahatinggi, kalau orang melatihnya sudah mempunyai dasar ilmu silat yang baik, maka setiap gerak-geriknya akan selalu disertai dengan tenaga dalam yang kuat.

Sebaliknya Toan Ki sedikit pun tidak mempunyai dasar Lwekang, jalannya tergantung ingatannya melulu, melangkah sekali, pikir sekali dulu, lalu berhenti, kemudian melangkah pula, cara demikian tidak menjadi alangan karena pergolakan darah yang disebabkan gerak langkah itu mendapat cukup waktu untuk berhenti.

Tapi kini sesudah dia hafal, lalu sekaligus berjalan begitu saja, seketika darahnya berontak sehingga menerjang balik, seketika ia lumpuh di lantai, hampir darahnya tersesat atau apa yang disebut “Cau-hwe-jip-mo” dalam ilmu silat. Untung dia baru melangkah dua tindak dan tidak terlalu cepat pula, maka urat nadinya tidak sampai pecah atau putus.

Dalam keadaan kaget itulah, Toan Ki coba meronta bangun, tapi semakin bergerak semakin kaku, rasanya ingin tumpah, tapi tidak tumpah. Akhirnya ia menghela napas dan pasrah nasib.

Aneh juga, sesudah dia pasrah masa bodoh, rasa mualnya malah hilang lambat laun.

Dan sekali dia sudah menggeletak tak berkutik, keadaan itu berlangsung hingga esok paginya masih tetap begitu. Diam-diam ia pikir, “Papan perunggu di bawah kaki Enci Dewi itu tertulis bahwa pengalamanku selanjutnya akan sangat mengenaskan, aku diminta jangan menyesal. Kalau aku cuma mati kelaparan begini saja, rasanya masih belum terhitung mengenaskan.”

kira-kira pukul 10 pagi itu, sinar matahari menyorot miring dari luar hingga persis menerangi sebuah cermin perunggu. Mata Toan Ki menjadi silau oleh pantulan cahaya matahari itu. Pikirnya ingin menghindari sinar menyilaukan itu, tapi apa daya, antero badan tak bisa bergerak. Tiba-tiba ia melihat di atas cermin itu samar-samar seperti terukir huruf “Bi-ce”, “Soi-ko” dan lain-lain. Oleh karena kepalanya tak bisa bergerak, ia lantas baca tulisan itu secara cermat, lalu direnungkan dalam-dalam.

Dari cermin pertama tadi ia hanya dapat belajar 32 segi dari 64 segi itu. Kebetulan apa yang terukir di atas cermin sekarang ini adalah sisa 32 segi yang lain. Segera ia mempelajarinya lebih jauh.

Meskipun kakinya tak bisa bergerak, tapi pikirannya bekerja seakan-akan kakinya lagi bergerak menurut langkah yang ditunjukkan di atas cermin itu. Sampai petang, sudah ada belasan langkah dapat dipahaminya, rasa muaknya jauh berkurang.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: