Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 11

Benar juga Wan-jing merasa perut orang naik turun dengan perlahan mengikuti gelombang suara tadi. Ia menjadi geli, “Haha, sungguh aneh!”

Kiranya apa yang dilatih Jing-bau-khek atau orang berbaju hijau itu adalah semacam “Hok-gi-sut” atau ilmu bicara dengan perut.

Ilmu bicara dengan perut itu pada zaman sekarang masih banyak yang mahir, yaitu terutama dalang ‘boneka bicara’. Cuma untuk bicara dengan tegas dan jelas seperti Jing-bau-khek ini tentunya tidak mudah, sebab diperlukan Lwekang yang tinggi.

Dengan keheranan, Bok Wan-jing masih mengitar beberapa kali sambil mengamat-amati orang, kemudian tanyanya, “Mulutmu tak bisa bergerak, lalu cara bagaimana engkau makan?”

“Begini!” sahut orang itu sambil angkat kedua tangannya, ia pentang bibir atas dan tarik rahang bawah hingga mulutnya ternganga, lalu ambil sebutir makanan terus dijejalkan ke dalam mulut, “keruyuk”, makanan itu ditelan sekaligus.

“O, kasihan!” ujar Wan-jing melihat cara makan orang, “Bukankah tiada rasa apa pun?”

Baru sekarang ia tahu kulit daging muka orang kaku beku, kelopak matanya tak bisa terkatup, dengan sendirinya tiada sesuatu tanda perasaan pada mukanya itu, dari itulah maka mula-mula Bok Wan-jing menyangkanya orang mati.

Ia pikir orang aneh ini sendiri tak dapat mengatasi kesulitan sendiri yang luar biasa, mana mampu mengubah kakak sendiri menjadi suami baginya? Agaknya apa yang dikatakannya tadi hanya bualan belaka.

Setelah pikir sejenak, lalu Wan-jing berkata, “Aku akan pergi saja!”

“Ke mana?” tanya si jubah hijau.

“Entah, aku sendiri tidak tahu!” sahut si gadis.

“Aku akan membikin Toan Ki menjadi suamimu, jangan kau tinggalkan aku,” ujar orang itu.

Wan-jing tersenyum tawar sambil berjalan beberapa tindak ke depan, tiba-tiba ia berhenti dan tanya pula sambil putar tubuh, “Selamanya kita tidak kenal, dari mana kau tahu perasaanku? Engkau … engkau kenal Toan-long?”

“Sudah tentu kutahu isi hatimu,” sahut orang itu. Tiba-tiba katanya pula, “Kembalilah sini!”

Berbareng tangan kirinya terjulur dan menarik dari jauh.

Aneh juga, tiba-tiba Bok Wan-jing merasakan suatu tenaga mahakuat yang tak bisa ditahan, tanpa kuasa tubuhnya terseret mentah-mentah oleh tenaga tak kelihatan itu dengan sempoyongan dan tahu-tahu sudah berdiri lagi di depan Jing-bau-khek.

Kejadian itu benar-benar sangat mengejutkan Bok Wan-jing, katanya dengan suara gemetar, “Apakah … apakah kepandaianmu disebut Kim-liong-ciong-ho-kang?”

“Ehm, luas juga pengetahuanmu,” kata Jing-bau-khek. “Tapi ini bukan Kim-liong-ciong-ho-kang (ilmu menangkap naga dan menawan bangau), hanya khasiatnya sama, cara berlatihnya berbeda.”

“Habis apa namanya?” tanya Wan-jing.

“Namanya ‘Kui-gi-lay-hi’!” sahut Jing-bau-khek.

“Kui-gi-lay-hi (kalau sudah pergi, pulanglah)! Hah, nama ini jauh lebih bagus daripada Kim-liong-ciong-ho-kang, bila Toan-long mendengar nama demikian, tentu dia … dia ….” teringat pada Toan Ki, kembali Wan-jing berduka.

“Marilah berangkat!” kata Jing-bau-khek tiba-tiba sambil mengeluarkan dua potong tongkat bambu dari bajunya. Sekali tongkat bambu kiri menutul, tubuhnya terus melayang ke depan dan dengan enteng sudah melangkah setombak lebih jauhnya.

Melihat tubuh orang ketika terapung di udara, kedua kakinya tetap tertekuk seperti waktu duduk bersila, Wan-jing menjadi heran, tanyanya, “He, kedua kakimu ….”

“Ya, sudah lama kedua kakiku buntung,” sahut Jing-bau-khek. “Sudahlah, sejak saat ini, urusanku dilarang kau tanya lagi.”

“Kalau aku tanya lagi?” baru kalimat ini diucapkan Bok Wan-jing, sekonyong-konyong kedua kakinya terasa lemas, tubuhnya terbanting roboh.

Kiranya dengan kecepatan luar biasa si jubah hijau sudah melesat ke tempatnya, tongkat bambu sebelah kanan beruntun-runtun menutuk dua kali di balik lutut, menyusul mengetuknya sekali lagi, keruan Bok Wan-jing kesakitan seakan-akan remuk tulang kakinya, saking tak tahan sampai ia menjerit. Menyusul mana Jing-bau-khek menutuk lagi dua kali untuk membuka Hiat-to si gadis.

Dengan cepat Wan-jing melompat bangun, dampratnya dengan gusar, “Kenapa engkau begini kasar?”

Berbareng panah dalam lengan baju sudah siap dibidikkan.

“Jangan coba-coba main kayu denganku, ya!” demikian kata Jing-bau-khek. “Berani kau panah aku sekali, segera kuhajar bokongmu sekali, kau panah sepuluh kali, aku pun gebuk sepuluh kali bokongmu. Kalau tidak percaya, boleh coba kau lakukan!”

Wan-jing menjadi ragu, pikirnya, “Jika sekali aku dapat memanahmu, seketika jiwamu lantas melayang, mana dapat kau balas hajar diriku? Tapi ilmu orang ini sangat sakti, tampaknya ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripada Lam-hay-gok-sin, rasanya susah kalau hendak memanahnya. Orang ini berani bicara berani berbuat, kalau benar-benar bokongku digaplok olehnya, kan runyam!”

“Nah, jika kau tidak berani memanah aku, kau harus menurut perintahku dengan baik, jangan membangkang!” demikian kata orang itu pula.

“Hm, aku justru tidak mau menurut perintahmu!” sahut Wan-jing. Walaupun begitu katanya, namun panah yang sudah disiapkan tadi disimpan kembali juga.

Segera Jing-bau-khek gunakan kedua tongkatnya sebagai kaki terus bertindak ke depan dengan cepat.

Bok Wan-jing mengikutinya dari belakang. Ia lihat kedua tongkat bambu orang sangat kecil, tapi keras seperti baja, meski digunakan menyangga ketiak, namun sedikit pun tidak bengkok. Tongkat bambu itu panjangnya lebih satu setengah meter, sekali melangkah, jauhnya melebihi langkah orang biasa. Terpaksa Bok Wan-jing harus mengerahkan Ginkang sekuatnya barulah sekadar dapat menyusulnya.

Tangkas sekali cara berjalan Jing-bau-khek ini, biar mendaki gunung atau melintasi bukit, jalannya seperti di tanah datar saja cepatnya. Bahkan yang dia pilih bukan lagi jalan besar yang rata tapi hutan belukar atau jalan pegunungan yang berbatu karang, keruan yang payah adalah Bok Wan-jing, ia megap-megap dan baju sobek oleh duri belukar. Namun dasar wataknya memang keras, biarpun menderita, sedikit pun ia tidak mau unjuk lemah.

Setelah melintasi beberapa lereng bukit, kemudian tertampak dari jauh banyak sekali kuburan, diam-diam Wan-jing heran, “Kenapa mendatangi Ban-jiat-kok ini?”

Benar juga Jing-bau-khek itu terus menuju ke kuburan yang batu nisannya tertulis, “Kuburan Ban Siu Toan”, segera tongkatnya menghantam batu nisan tepat di atas huruf Toan.

Sudah beberapa kali Bok Wan-jing mendatangi Ban-jiat-kok, tiap kali ia gunakan rahasia cara memasuki gerbang lembah maut itu, yaitu mendepak beberapa kali pada huruf “Toan” di batu nisan itu. Tapi kini demi melihat huruf itu lagi, tiba-tiba timbul semacam perasaan aneh yang dahulu tidak pernah ada.

“Untuk apa kita datang ke Ban-jiat-kok ini?” demikian ia coba tanya.

Tapi mendadak Jing-bau-khek membalik tubuh, tongkatnya terus mengetuk sekali ke paha kanannya sambil membentak, “Kau berani ceriwis lagi tidak?”

Kalau menuruti watak Bok Wan-jing yang berangasan itu, betapa pun ia tidak sudi dihina secara demikian, biarpun ia tahu takkan mampu melawan orang. Tapi kini lamat-lamat terasa olehnya bahwa Jing-bau-khek ini tentu memiliki kepandaian di atas orang lain, bukan mustahil akan dapat membantu melaksanakan cita-citanya, yaitu bersuamikan Toan Ki.

Maka omelnya, “Hm, jangan kau sangka nona takut padamu, biarlah sementara ini aku mengalah padamu.”

“Ayo jalan!” seru Jing-bau-khek pula.

Segera Bok Wan-jing mendahului masuk ke liang kubur dan disusul oleh Jing-bau-khek, mereka telah masuk ke Ban-jiat-kok tempat tinggal Ciong Ban-siu.

Agaknya Jing-bau-khek sudah hafal terhadap keadaan di dalam lembah Ban-jiat-kok. Beberapa kali Bok Wan-jing ingin tanya, tapi khawatir digebuk oleh tongkat orang, maka urung buka mulut.

Orang aneh itu membawanya mengitar ke sana dan membelok ke sini terus menuju ke belakang lembah.

Bok Wan-jing pernah juga tinggal beberapa hari di lembah Ban-jiat-kok ini, yaitu ketika ia mengunjungi bibi-gurunya, Ciong-hujin. Cuma sifat mereka berdua berbeda jauh, pada hari pertama juga mereka sudah lantas cekcok mulut. Tapi kini tempat yang didatanginya bersama Jing-bau-khek ini ternyata sebelumnya tidak pernah dikunjunginya. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa di tengah lembah sunyi ini masih ada tempat-tempat yang lebih terpencil.

Setelah beberapa li lagi, mereka masuk ke sebuah rimba raya yang pohonnya tinggi besar menjulang ke langit, biarpun waktu itu siang hari, namun sinar sang surya ternyata tak bisa menembus ke dalam rimba yang rindang itu. Makin jauh tetumbuhan di situ pun semakin lebat hingga sampai akhirnya untuk lewat saja diperlukan miringkan tubuh.

Setelah beberapa puluh meter lagi jauhnya, tertampaklah di depan tumbuh barisan pohon tua yang tinggi rapat bagai pagar yang kukuh, untuk masuk ke dalam sana terang sangat sulit.

Mendadak Jing-bau-khek tancap tongkatnya ke tanah untuk menyangga bahunya, lalu kedua tangannya menjuju dua batang pohon terus dipentang ke samping sekuatnya. Sungguh sangat mengagumkan, kedua pohon besar itu perlahan terbentang lebar ke samping hingga cukup untuk menyelinap tubuh manusia.

“Lekas masuk ke sana!” bentak orang aneh itu.

Tanpa pikir lagi Bok Wan-jing menyusup ke balik pagar pohon itu.

Waktu diperhatikan, ternyata di situ terdapat sebidang tanah kosong yang luas, di tengah tanah lapang sebuah rumah batu yang dibangun dengan bentuk sangat aneh, yaitu terdiri dari tumpukan batu besar hingga mirip piramida. Rumah batu itu hanya terdapat sebuah pintu yang besarnya mirip gua.

“Nah, masuk ke sana!” kata Jing-bau-khek pula.

Wan-jing coba memandang ke dalam rumah batu itu, ia lihat keadaan di dalam gelap gulita, entah tersembunyi makhluk aneh atau tidak, dengan sendirinya ia tidak berani masuk begitu saja.

Sedang Wan-jing sangsi, sekonyong-konyong punggung terasa ditempel oleh sebuah telapak tangan, cepat ia bermaksud mengelak, namun sudah terlambat, tenaga dorongan Jing-bau-khek itu sudah dikerahkan. Tanpa kuasa lagi tubuh Bok Wan-jing mencelat ke depan seakan-akan terbang masuk ke dalam rumah batu itu.

Walaupun terapung, namun Bok Wan-jing segera melindungi badan sendiri dengan sebelah tangan, ia gunakan gaya “Hia-hong-hut-liu” atau angin pagi mengembus pohon, tangan lain dipakai melindungi muka sendiri. Ia khawatir dalam keadaan gelap jangan-jangan akan diserang oleh sesuatu makhluk aneh.

Dalam pada itu, segera terdengar suara gemuruh yang keras, pintu rumah ditutup orang dengan benda keras.

Keruan Wan-jing terkejut, cepat ia lari ke arah pintu dan mendorong, tapi di mana tangannya memegang, rasanya kasap dan keras sekali. Ternyata tutup pintu itu adalah sepotong batu karang raksasa.

Sekuatnya ia coba membukanya, namun sedikit pun batu itu bergeming, bahkan goyang pun tidak. Dalam khawatirnya, ia berteriak-teriak, “Hai, hai! Mengapa engkau mengurung diriku di sini?”

Terdengar suara Jing-bau-khek menjawab, “Apa yang pernah kau mohon padaku, mengapa kau lupakan sendiri?”

Suara orang itu menyusup masuk dari lubang batu tadi, tapi kedengaran cukup jelas.

Wan-jing tenangkan diri sejenak, ia lihat lubang yang ditutup dengan batu karang itu sekitarnya masih banyak celah-celah, cuma untuk diterobos dengan tubuh manusia terang tidak bisa. Terpaksa ia berteriak-teriak lagi, “Lepaskan aku, lepaskan aku ke luar!”

Tapi yang terdengar hanya suara keresekan daun pohon di luar, agaknya Jing-bau-khek itu sudah pergi melintasi pagar pohon itu. Waktu mengintip keluar, yang dilihat Wan-jing hanya rontokan daun pohon yang berhamburan, selain itu tiada sesuatu lagi yang terlihat.

Ketika ia putar tubuh ke dalam dan coba mengawasi keadaan rumah batu itu, ia lihat di pojok sana ada sebuah dipan, di atas dipan duduk satu orang. Keruan ia kaget, tanyanya terputus-putus, “Sia … siapa kau?”

“Jing-moay, kiranya kau masuk ke sini juga!” demikian sahut orang itu. Suaranya penuh rasa girang tercampur heran. Kiranya Toan Ki adanya.

Dalam keadaan putus asa, tiba-tiba Wan-jing ketemukan Toan Ki lagi, saking girangnya jantung serasa mau melompat keluar dari rongga dadanya. Cepat ia menubruk ke pangkuan anak muda itu.

Remang-remang terlihat muka si gadis pucat lesi, kasih sayang Toan Ki sungguh tak terkatakan, ia peluk si gadis dengan erat, melihat bibir si nona yang merah mungil itu, tak tertahan lagi terus dikecupnya.

Tapi demi bibir menempel bibir, segera kedua muda-mudi itu teringat, “Hai, kami adalah kakak beradik, mana boleh berbuat tidak senonoh?”

Cepat kedua orang melepaskan tangan masing-masing dan sama-sama menyurut mundur. Kedua orang berdiri bersandar dinding batu dan saling pandang dengan terkesima.

Bok Wan-jing yang menangis lebih dulu. Namun Toan Ki lantas menghiburnya, “Jing-moay, rupanya nasib kita sudah ditakdirkan begini, hendaklah engkau jangan sedih. Mempunyai seorang adik perempuan seperti engkau, sungguh aku sangat senang.”

“Aku justru tidak senang, aku merasa sedih,” demikian seru Wan-jing sambil membanting-banting kaki sendiri. “Jadi engkau merasa senang? Itu berarti engkau tidak punya perasaan.”

“Apa mau dikatakan lagi, kenyataan memang begini,” ujar Toan Ki sambil menghela napas. “Coba kalau dulu aku tidak bertemu dengan engkau, urusan tentu akan menjadi lain.”

“Toh bukan aku yang ingin bertemu denganmu,” sahut Wan-jing. “Habis, siapa suruh kau cari padaku, dan kalau engkau tidak kembali hendak memberi kabar padaku, belum tentu aku akan kenal engkau. Ya, semuanya adalah salahmu, kau yang mengakibatkan kematian mawar hitamku, bikin hatiku luka, bikin Suhuku berubah menjadi ibuku, bikin ayahmu ikut menjadi ayahku. Tapi aku tidak mau, semuanya itu aku tidak mau, engkau membikin susah aku pula hingga terkurung di sini, aku ingin keluar, aku ingin keluar!”

“Ya, sudah, Jing-moay, memang semuanya salahku,” sahut Toan Ki, “Janganlah engkau marah, marilah kita mencari jalan untuk lari keluar dari sini.”

“Tidak, aku tidak mau keluar, mati di sini atau mati di luar sana sama saja bagiku. Aku tidak mau keluar!” demikian Wan-jing berteriak-teriak.

Sungguh lucu juga, semula minta keluar dari situ, tapi sebentar lagi bilang tidak mau. Toan Ki tahu perasaan si nona terlalu terguncang, seketika juga sukar diberi mengerti. Maka ia tidak bicara lagi.

Dan setelah muring-muring sejenak, melihat Toan Ki diam saja, Wan-jing lantas tanya, “Kenapa kau tidak bicara?”

“Habis, apa yang harus kukatakan?” sahut Toan Ki.

“Coba terangkan, untuk apa engkau berada di sini?” tanya Wan-jing.

“Aku ditawan muridku ke sini ….”

“Muridmu?” Wan-jing memotong dengan heran. Tapi segera teringat olehnya, ia tertawa dan berkata, “Ya, benar, itulah Lam-hay-gok-sin, dia yang menawan dan mengurungmu di sini?”

Toan Ki mengiakan.

“Kenapa tidak kau gunakan pengaruhmu sebagai guru dan menyuruh dia melepaskan dirimu dari sini?” ujar si nona.

“Sudah, entah sudah berapa kali aku suruh dia, tapi ia bilang aku harus ganti mengangkat dia sebagai guru, barulah dia mau melepaskan aku.”

“Ah, mungkin lagakmu sebagai guru kurang berwibawa, maka dia berani membangkang,” kata Wan-jing.

“Ya, mungkin begitulah,” sahut Toan Ki gegetun. “Dan engkau sendiri bagaimana, siapa yang menangkapmu ke sini?”

Maka berceritalah Bok Wan-jing tentang Jing-bau-khek yang dijumpainya itu. Cuma tentang janji orang aneh itu hendak “mengubah kakak menjadi suaminya” itu tak diceritakannya.

Mendengar ada seorang yang bisa bicara dengan perut tanpa gerak mulut, bisa berjalan secepat terbang meski kakinya buntung, Toan Ki menjadi sangat tertarik, berulang-ulang ia berkecek-kecek kagum dan tanya lebih jelas.

Setelah lama mereka berbicara, tiba-tiba terdengar suara keletak di luar, dari celah-celah tampak disodorkan masuk sebuah mangkuk, terdengar suara orang berkata, “Ini, makanlah!”

Segera Toan Ki menyambut mangkuk itu, ternyata isinya adalah Ang-sio-bak yang masih hangat dan berbau sedap.

Menyusul dari luar diangsurkan masuk pula semangkuk ham keluaran Hunlam yang terkenal, semangkuk lagi sayur dan beberapa potong bakpao.

“Kau kira di dalam makanan ini ditaruh racun tidak?” tanya Toan Ki kepada Wan-jing sesudah taruh makanan itu di atas meja.

“Umpama mereka hendak membunuh kita, tentunya tidak perlu susah-susah menaruh racun di dalam makanan,” ujar Wan-jing.

Benar juga pikir Toan Ki, ia memang sudah sangat lapar, maka katanya, “Marilah makan!”

Terus saja ia mendahului serbu Ang-sio-bak yang lezat itu bersama bakpao.

“Habis makan lemparkan keluar mangkuk-mangkuk itu, nanti ada orang yang membereskannya,” demikian terdengar suara orang di luar tadi. Habis berkata, orang itu lantas tinggal pergi.

“Engkau jangan khawatir, Jing-moay!” demikian kata Toan Ki sembari makan. “Paman dan ayah pasti akan datang menolong kita. Biarpun ilmu silat Lam-hay-gok-sin dan kawan-kawannya cukup hebat, tapi mereka belum tentu sanggup melawan ayah. Apalagi kalau paman mau turun tangan sendiri, tentu saja mereka bisa disapu bersih dengan mudah.”

“Hm, dia cuma seorang raja negeri Tayli, masakah ilmu silatnya ada sesuatu yang hebat?” demikian Wan-jing berolok-olok. “Aku tidak percaya dia mampu mengalahkan orang aneh berbaju hijau itu, paling-paling dia hanya bisa mengerahkan pasukannya secara besar-besaran untuk menyerbu ke sini.”

“Tidak, tidak!” berulang-ulang Toan Ki menggoyang kepala. “Leluhur kita adalah tokoh Bu-lim daerah Tionggoan, meski menjadi raja di negeri Tayli ini, selama ini tidak pernah melupakan peraturan Bu-lim yang berlaku. Kalau mengalahkan musuh dengan jumlah lebih banyak, bukankah keluarga Toan kita akan ditertawai orang persilatan di jagat ini?”

“Ehm, kiranya sesudah familimu menjadi raja dan Ongya, mereka tetap tak mau melupakan kedudukan mereka di dunia Kangouw,” ujar Wan-jing.

“Ya, paman dan ayah sering berkata, itu namanya tidak melupakan asal usul,” sahut Toan Ki.

“Huh,” jengek si nona tiba-tiba, “di mulut selalu tentang kebajikan dan kebaikan, tapi yang diperbuat tak lain adalah hal-hal yang rendah memalukan. Coba jawab, ayahmu sudah mempunyai ibumu, kenapa … kenapa mencederai guruku lagi?”

“He! Kenapa kau maki ayahku? Ayahku kan juga ayahmu?” sahut Toan Ki rada tercengang. “Lagi pula setiap pangeran atau orang bangsawan di jagat ini, siapakah yang tidak punya beberapa istri? Sekalipun mempunyai delapan atau sepuluh orang istri kan tidak menjadi soal dan lumrah?”

Tatkala itu zamannya dinasti Song utara. Di bagian utara ada negeri Cidan, di tengah adalah kerajaan Song, di barat laut negeri He, di barat daya ada negeri Turfan, sedang di selatan adalah negeri Tayli, seluruh Tiongkok waktu itu terbagi lima negeri. Dan memang benar, bukan cuma rajanya, pangeran-pangerannya dan bangsawan-bangsawannya, setiap orang mempunyai beberapa istri, bahkan berpuluh selir pula. Hal mana sudah menjadi kelaziman zaman feodal, kalau setiap bangsawan itu hanya memiliki seorang istri melulu, hal mana malah dipandang sebagai luar biasa.

Akan tetapi Bok Wan-jing menjadi gusar demi mendengar pembelaan Toan Ki itu, “plok”, kontan ia tampar pipi pemuda itu.

Keruan Toan Ki kaget hingga separuh bakpao yang masih dipegangnya terjatuh ke tanah. “Ada … ada apa?” tanyanya bingung.

“Tidak, aku tidak mau panggil dia sebagai ayah!” demikian seru Wan-jing. “Kalau lelaki boleh punya beberapa istri, kenapa wanita tidak boleh bersuami dua atau tiga?”

Geli dan dongkol Toan Ki, sambil meraba pipinya yang sakit pedas itu, ia berkata dengan tersenyum getir, “Engkau adalah adikku, kenapa engkau pukul Engkohmu sendiri?”

Namun marah si gadis masih belum reda, tangannya terangkat terus hendak menggampar lagi. Tapi sekali ini Toan Ki sudah berjaga-jaga, sedikit kaki menggeser, cepat ia keluarkan langkah “Leng-po-wi-poh” yang aneh, tahu-tahu ia sudah menyelinap ke belakang Bok Wan-jing. Ketika tangan si nona menghantam ke belakang, kembali Toan Ki dapat menghindar pula.

Meski luas kamar batu itu tidak lebih dua meter, namun “Leng-po-wi-poh” itu benar-benar sangat ajaib, biarpun pukulan Bok Wan-jing makin lama makin cepat, dari awal sampai akhir tetap tak dapat mengenai Toan Ki.

Keruan semakin marah Bok Wan-jing, tiba-tiba ia mendapat akal.

“Auuh!” ia pura-pura menjerit terus menjatuhkan diri ke lantai.

“He, kenapa!” seru Toan Ki khawatir sambil berjongkok untuk memayang si nona.

Dengan lemas saja Wan-jing menyandarkan tubuhnya di pangkuan Toan Ki, tangan kiri terus merangkul leher pemuda itu, mendadak ia merangkul kencang sambil berkata dengan tertawa, “Sekarang engkau bisa menghindar tidak?”

Menyusul tangan kanan diayun lagi, “plok”, lagi-lagi pipi Toan Ki dipersen sekali tamparan.

Dalam sakitnya, Toan Ki menjerit pula, mendadak semacam arus hawa panas memburu ke atas dari dalam perut, seketika denyut nadinya bekerja keras, nafsu berahinya berkobar hingga sukar ditahan.

Bok Wan-jing berjuluk “Hiang-yok-jeh” atau si Hantu Wangi, memang tubuhnya membawa semacam bau harum yang memabukkan orang, kini tubuhnya dirangkul erat oleh Toan Ki, bau harum yang semerbak itu makin mengacaukan pikiran anak muda itu, tanpa terasa ia mencium bibir si gadis.

Dan sekali dicium, seketika Bok Wan-jing lemas lunglai. Segera Toan Ki mengangkat tubuh nona itu dan dibawa ke atas dipan ….

“Engkau … engkau adalah kakakku!” tiba-tiba Wan-jing berbisik.

Meskipun pikiran sehat Toan Ki waktu itu sudah kabur, namun kata-kata Wan-jing itu mirip bunyi geledek siang bolong. Ia tertegun sejenak, sekonyong-konyong ia lepaskan gadis itu dan menyurut mundur beberapa tindak, menyusul “plak-plok” beberapa kali, ia berondongi pipi sendiri dengan tamparan keras sambil memaki, “Mampus kau, mampus kau!”

Melihat kedua mata pemuda itu merah membara menyorotkan cahaya yang aneh, kulit daging mukanya berkerut-kerut, hidungnya berkempas-kempis, Wan-jing menjadi kaget, teriaknya, “He, Toan-long, kita teperdaya, di dalam makanan ada racun!”

Waktu itu Toan Ki merasa antero badan panas bagai dibakar. Demi mendengar si gadis bilang di dalam makanan ada racun, ia menjadi girang malah, pikirnya, “Ah, kiranya racunlah yang telah mengacaukan pikiran suciku hingga timbul maksud tidak senonoh terhadap Jing-moay dan bukan karena jiwaku yang kotor dan mendadak hendak meniru perbuatan binatang yang rendah.”

Akan tetapi panas badan benar-benar sukar ditahan, saking tak tahan satu per satu ia copot bajunya hingga akhirnya melulu tinggal pakaian dalam saja, untunglah pikirannya masih rada jernih hingga tidak mencopot lebih jauh, cepat ia duduk bersila menenangkan diri untuk melawan pikiran jahat tadi.

Bok Wan-jing sendiri juga merasakan badan panas seperti Toan Ki, sampai akhirnya saking tak tahan, ia pun menanggalkan baju luarnya.

Namun Toan Ki lantas berteriak, “Jing-moay, jangan lepas baju lagi! Lekas tempelkan punggungmu ke dinding, tentu terasa segar sedikit!”

Begitulah segera mereka bersandar di dinding batu. Namun racun di dalam badan tetap bekerja dengan hebat, meski punggung terasa sedikit dingin, anggota badan lain malah bertambah panas. Toan Ki melihat kedua pipi Wan-jing merah membara, cantiknya sukar dilukiskan, matanya berkilau-kilau seakan-akan ingin sekali menubruk ke pangkuannya, ia pikir, “Dengan iman teguh kita lawan terus bekerjanya racun. Namun tenaga manusia terbatas juga, kalau akhirnya berbuat hal-hal yang tidak senonoh, ini benar-benar akan menodai habis-habisan nama baik keluarga Toan dan selamanya sukar menebus kesalahan ini.”

Maka cepat ia berkata, “Jing-moay, lemparkanlah sebatang panahmu kepadaku!”

“Untuk apa?” tanya Wan-jing.

“Supaya … supaya kalau aku sudah tak tahan lagi, sekali tikam aku akan membunuh diri dengan panah berbisa itu, agar tidak membikin susah padamu,” sahut Toan Ki.

“Tidak, aku tidak mau memberi,” kata si gadis.

“Jika begitu, janjilah padaku untuk memenuhi sesuatu permohonanku,” pinta Toan Ki.

“Tentang apa?” tanya Wan-jing.

“Bila tanganku sampai menyentuh badanmu, sekali panah boleh kau binasakan aku,” kata Toan Ki.

“Tidak, aku tidak mau!” sahut si gadis.

“Jing-moay, terimalah permintaanku itu,” pinta Toan Ki dengan sangat. “Nama baik keluarga Toan kita yang sudah bersejarah ratusan tahun ini tidak boleh hancur di tanganku. Kalau tidak, mati pun aku tidak bisa mempertanggungjawabkan pada leluhur di alam baka?”

“Huh, apanya yang hebat dari keluarga Toan di Tayli?” tiba-tiba suara jengek seorang di luar rumah batu itu. “Paling-paling di mulut saja selalu bicara tentang kebaikan dan kemanusiaan, tapi apa yang diperbuat lebih rendah daripada binatang. Apanya yang perlu dipuji?”

“Siapa kau? Ngaco-belo belaka!” damprat Toan Ki dengan gusar.

“Dia … dia adalah si baju hijau yang aneh itu,” dengan lirih Wan-jing membisiki Toan Ki.

Maka terdengar Jing-bau-khek itu berkata lagi, “Bok-kohnio, sudah kusanggupi akan menjadikan kakakmu sebagai suamimu, kutanggung pasti akan memenuhi harapanmu.”

“Kau sengaja pakai racun untuk mencelakai kami, apa sangkut pautnya dengan permohonanku padamu?” sahut Wan-jing gusar.

“Di dalam Ang-sio-bak yang sudah kalian makan itu telah dengan banyak kucampur dengan ‘Im-yang-ho-hap-san’ (puyer menjodohkan negatif dan positif), sesudah minum, kalau tidak terjadi pembauran hawa Im dan Yang, kalau laki-laki dan wanita tidak melakukan tugas suami istri, maka antero badannya segera akan membusuk, mata hidung dan telinga akan mengucurkan darah dan akhirnya mati. Bekerjanya obat Ho-hap-san itu makin lihai, sampai hari kedelapan, sekalipun dewa juga takkan mampu menolong,” demikian orang itu menjelaskan.

Toan Ki menjadi gusar, dampratnya, “Selamanya aku tiada permusuhan apa-apa denganmu, kenapa kau perlakukan aku begini keji? Kau sengaja membikin kami berbuat hal-hal yang durhaka, agar ayah dan pamanku malu selama hidup, namun biar seratus kali aku harus mati, tidak nanti aku masuk perangkapmu!”

“Kau memang tiada permusuhan apa-apa denganku, tapi leluhur keluarga Toan kalian justru mempunyai permusuhan sedalam lautan denganku,” demikian sahut Jing-bau-khek. “Hm, bilamana Toan Cing-beng dan Toan Cing-sun dirundung malu selama hidup hingga tiada muka buat bertemu dengan orang luar, itulah paling bagus, paling bagus!”

Rupanya karena mulutnya tak bisa bergerak, maka meski hatinya sangat senang, namun tak dapat bergelak tertawa.

Dan selagi Toan Ki hendak mendebat pula, sekilas dilihatnya paras Bok Wan-jing yang cantik bagai kuntum bunga baru mekar itu, hatinya berdebar-debar keras lagi, seketika benaknya menjadi kacau pula, pikirnya, “Aku memang ada ikatan perjodohan dengan Jing-moay, andaikan kami tidak pulang ke Tayli, siapa lagi yang tahu kami adalah kakak dan adik? Apa yang terjadi ini adalah hukum karma akibat dosa leluhur, peduli apa dengan kami berdua?”

Berpikir begitu, segera Toan Ki bangkit dengan sempoyongan. Terlihat sambil berpegangan dinding, Bok Wan-jing juga sedang berdiri perlahan.

Sekonyong-konyong terkilas pula pikiran sehat dalam benaknya, “Wah, tidak boleh, tidak boleh! Wahai Toan Ki, perbuatan binatang yang hendak kau lakukan ini tergantung pada pikiran sekilas saja, bila hari ini kau terjerumus, bukan saja nama baikmu sendiri akan hancur lebur, bahkan nama baik ayah dan paman serta leluhur juga ikut tercemar.”

Karena itu, mendadak ia membentak, “Jing-moay, aku adalah kakakmu dari satu ayah, dan engkau adalah adikku sendiri, tahu tidak kau? Kau paham Ih-keng tidak?”

Dalam keadaan sadar tak sadar Bok Wan-jing menjawab, “Ih-keng apa? Aku tidak paham.”

“Baiklah, biar kuajarkan padamu,” kata Toan Ki. “Pelajaran Ih-keng ini rada sulit dan sangat dalam, engkau harus mendengarkan dengan cermat.”

“Untuk apa aku mempelajarinya?” tanya Wan-jing.

“Besar manfaatnya sesudah kau belajar,” sahut Toan Ki. “Boleh jadi sesudah belajar kita berdua akan dapat melepaskan diri dari kesulitan ini.”

Kiranya Toan Ki merasa nafsunya semakin menyala-nyala. Dalam pertentangan batin antara kemanusiaan dan kebinatangan itu, sungguh keadaannya sangat berbahaya, asal Bok Wan-jing mendekatinya dan sedikit menggoda, rasanya pertahanannya akan bobol.

Sebab itulah ia bermaksud mengajarkan Ih-keng padanya untuk menyimpangkan pikirannya dari kesesatan. Maka katanya pula, “Dasar Ih-keng terletak pada Thay-kek (asas alamiah) dan Thay-kek melahirkan Liang-gi (langit dan bumi). Liang-gi menciptakan Su-siang (empat musim), Su-siang menimbulkan Pat-kwa (delapan unsur). Kau paham tidak lukisan Pat-kwa?”

“Tidak! Wah, gerah benar! Toan-long, marilah maju ke sini, aku ingin bicara padamu!” demikian kata si gadis.

“Aku adalah kakakmu, jangan panggil aku Toan-long, tapi harus panggil Toako,” sahut Toan Ki. “Coba dengarkan, aku akan menguraikan kalimat-kalimat bentuk Pat-kwa itu, harus kau ingat dengan baik, Kian-sam-thong, Kun-liok-toan dan ….”

“Apa Kian, apa Kun? Entahlah, aku tidak paham!” kata Wan-jing.

“Itu menggambarkan bentuk Pat-kwa,” tutur Toan Ki. “Harus kau tahu, Pat-kwa itu meliputi segala benda di alam semesta ini, dari langit dan bumi sampai semua makhluk di dunia. Misalnya keluarga kita, Kian adalah ayah dan Kun adalah ibu, Cin menyimbolkan putra dan Soan menandakan putri …. Kita berdua adalah kakak-beradik, aku adalah unsur Cin dan engkau adalah unsur Soan.”

“Tidak, engkau unsur Kian dan aku unsur Kun,” demikian sahut Wan-jing dengan kemalas-malasan. “Biarlah kita berdua menikah, kelak melahirkan putra dan putri ….”

Mendengar ucapan si nona yang tak keruan itu, hati Toan Ki terguncang, serunya khawatir, “He, Jing-moay, jangan kau pikir yang tidak-tidak, dengarkanlah uraianku lebih jelas!”

“Kau duduklah di sampingku sini dan aku akan mendengarkan uraianmu,” ujar Wan-jing.

“Bagus, bagus! Sesudah kalian berdua menjadi suami istri dan melahirkan putra-putri, aku lantas melepaskan kalian keluar,” demikian terdengar Jing-bau-khek yang aneh itu berkata di luar rumah batu. “Dan bukan saja aku takkan membunuh kalian, bahkan akan kuajarkan kalian macam-macam kepandaian, biar kalian suami istri malang melintang di seluruh jagat.”

“Ngaco!” seru Toan Ki gusar. “Sampai saat terakhir, akan kubenturkan kepalaku ke dinding. Anak-cucu keluarga Toan lebih suka mati daripada dihina. Kau ingin membalas dendam atas diriku, jangan harap!”

“Kau mau mati atau ingin hidup, aku peduli apa?” sahut Jing-bau-khek. “Bila kalian berdua mencari mati, aku akan belejeti pakaian kalian hingga telanjang bulat, akan kutuliskan keterangan di atas mayat kalian bahwa inilah putra-putri Toan Cing-sun yang telah berbuat maksiat, tapi kepergok orang, saking malu maka lantas membunuh diri. Akan kubawa mayat kalian berkeliling ke setiap kota sesudah aku mengawetkan dulu mayat kalian.”

Sungguh tidak kepalang gusar Toan Ki, bentaknya murka, “Ada permusuhan apakah sebenarnya keluarga Toan kami dengan dirimu sehingga kau balas secara begini keji?”

“Urusanku, buat apa kuceritakan padamu?” sahut Jing-bau-khek. Habis ini, suaranya tak terdengar lagi, mungkin sudah pergi.

Toan Ki tahu, banyak bicara dengan Bok Wan-jing, bahayanya akan bertambah besar pula. Segera ia duduk menghadap dinding untuk memikirkan langkah-langkah “Leng-po-wi-poh” yang ajaib itu. Setelah terdiam agak lama, tiba-tiba teringat olehnya, “Enci Dewi di dalam gua itu berpuluh kali lebih cantik daripada Jing-moay, bila aku bisa memperistrikan dia, rasanya tidak sia-sia hidupku ini.”

Dalam keadaan sadar tak sadar ia berpaling, ia lihat muka Bok Wan-jing samar-samar mulai berubah menjadi patung cantik di dalam gua itu.

“O, Enci Dewi, betapa deritaku ini, tolonglah aku!” demikian Toan Ki berteriak. Mendadak ia menubruk ke depan merangkul betis Bok Wan-jing.

Justru pada saat itu juga, di luar ada suara orang, “Makan malam dulu ini!”

Berbareng sebatang lilin yang sudah dinyalakan diangsurkan. Dengan tertawa orang itu berkata lagi, “Nah, lekas sambut ini, malam pengantin, mana boleh tanpa lilin?”

Dalam kejutnya Toan Ki terus berbangkit, di bawah sinar lilin yang terang itu, ia lihat mata Wan-jing yang jeli itu berkilau-kilau penuh arti, cantiknya sukar dilukiskan. Cepat ia sirap lilin, lalu membentak, “Di dalam nasi ada racun, lekas bawa pergi, kami tidak mau makan!”

“Sudah banyak racun yang masuk perutmu, tidak perlu ditambah lagi,” sahut suara itu sambil tetap menyodorkan makanan.

Tanpa terasa Toan Ki sambut juga dan ditaruh di atas meja. Pikirnya, “Kalau sudah mati, musnahlah segalanya, apa yang terjadi sesudah itu, mana bisa aku mengurusnya lagi?”

Lalu pikirnya pula, “Tapi betapa kasih sayang ayah-bunda dan paman padaku, mana boleh aku menodai nama baik keluarga Toan hingga ditertawai orang?”

Tiba-tiba terdengar Bok Wan-jing berteriak, “Toan-long, aku akan bunuh diri dengan panahku, supaya tidak bikin susah padamu!”

“Nanti dulu!” seru Toan Ki, “Biarpun kita mati, keparat yang mahajahat itu pun takkan mengampuni kita. Orang ini sangat keji dan licik, dibanding Yap Ji-nio yang suka isap darah bayi dan Lam-hay-gok-sin yang suka makan hati manusia, orang ini jauh lebih jahat! Entah siapa dia sebenarnya?”

“Ucapanmu memang tidak salah,” tiba-tiba terdengar suara Jing-bau-khek itu menjawab, “Lohu tak-lain tak-bukan adalah ‘Ok-koan-boan-eng’ (kejahatan sudah melebihi takaran), kepala Su-ok aku adanya!”

*****

Kembali mengenai keadaan di istana Tin-lam-ong.

Si Pek-hong alias Yau-toan-siancu menjadi sangat khawatir atas diri sang putra yang digondol kawanan Su-ok itu, tanyanya pada Po-ting-te, “Hong-heng, di manakah letak Ban-jiat-kok itu, apakah Hong-heng sudah tahu?”

“Nama Ban-jiat-kok juga baru kudengar hari ini,” sahut Po-ting-te Toan Cing-beng. “Tapi rasanya tidak jauh dari Tayli ini.”

“Dari nada ucapan Ciong Ban-siu itu, agaknya tempat itu sangat dirahasiakan,” kata Pek-hong dengan khawatir. “Dan kalau terlalu lama Ki-ji berada dalam cengkeraman musuh, mungkin ….”

“Ki-ji terlalu dimanjakan di rumah, biarkan dia mengalami sedikit gemblengan juga ada baiknya,” demikian sela Po-ting-te dengan tersenyum.

Si Pek-hong tidak berani banyak bicara lagi meski dalam hati khawatir sekali.

Maka Po-ting-te berkata pula kepada Toan Cing-sun, “Sun-te, suruh keluarkan santapan lagi, mari kita menjamu diri sendiri dahulu.”

Cing-sun mengiakan dan memberi perintah, hanya sebentar saja perjamuan lengkap sudah disediakan lagi. Segera Po-ting-te suruh semua orang duduk semeja untuk makan minum.

Meski dia diagungkan sebagai raja, tapi tempatnya bukan di istana, biasanya ia tidak suka banyak adat, maka Toan Cing-sun, Si Pek-hong dan Ko Sing-thay lantas sama duduk mengiringinya tanpa rikuh.

Dalam perjamuan itu, mereka sama sekali tidak bicara tentang kejadian tadi.

Ketika dekat fajar, tiba-tiba seorang pengawal masuk melapor, “Pah-sugong ingin menghadap Hongsiang!”

Maka masuklah seorang laki-laki kehitam-hitaman, bertubuh pendek kurus. Ia memberi hormat kepada Po-ting-te dan berkata, “Lapor Hongsiang, untuk ke tempat itu harus melalui Sian-jin-toh dan jembatan rantai, mulut lembahnya adalah sebuah kuburan.”

“Wah, bila tahu Pah-sugong sudah turun tangan, masakah sarang musuh takkan diketemukan dan aku pun tidak perlu khawatir lagi,” seru Pek-hong dengan tertawa.

“Onghui terlalu memuji, Pah Thian-sik tidak berani terima,” sahut laki-laki hitam itu.

Kiranya Pah Thian-sik ini meski bermuka jelek dan potongannya kecil, tapi dia sangat cerdik dan pintar, sudah banyak berjasa bagi Po-ting-te. Pangkatnya sekarang di negeri Tayli adalah Sugong.

Gelar pangkat Suto, Suma dan Sugong sangat terhormat dalam kerajaan kecil ini. Pah Thian-sik sendiri ilmu silatnya sangat tinggi, lebih-lebih dalam ilmu Ginkang. Kali ini ia ditugaskan Po-ting-te untuk menguntit jejak musuh, dan benar juga ia dapat mengetahui tempat Ban-jiat-kok itu.

“Thian-sik, duduklah dan makan yang kenyang,” kata Po-ting-te kemudian dengan tertawa. “Habis makan, kita lantas berangkat.”

Thian-sik cukup kenal watak sang raja yang biasanya tak suka orang berlutut dan menyembah padanya, kalau terlalu kukuh pada adat-adat kolot itu, sang raja malah kurang senang. Maka ia hanya mengiakan sekali dan ambil tempat duduk, terus saja ia serbu apa yang tersedia di atas meja itu.

Setetes arak pun Pah Thian-sik tidak minum, tapi takarannya makan ternyata sangat mengejutkan, hanya sekejap saja hampir sepuluh mangkuk nasi telah dilangsir ke dalam perutnya.

Toan Cing-sun, Ko Sing-thay dan lain-lain sudah lama bersahabat dengan Pah Thian-sik, maka mereka tidak menjadi heran akan kelakuan orang aneh itu.

Habis makan, segera Thian-sik berbangkit, ia usap mulutnya yang berlepotan minyak itu dengan lengan baju, lalu berkata, “Marilah Hongsiang, biar hamba menunjukkan jalannya.”

Dan segera ia mendahului melangkah keluar.

Berturut-turut Po-ting-te, Toan Cing-sun suami istri dan Ko Sing-thay lantas mengikuti di belakangnya.

Sampai di luar istana, tampak tokoh-tokoh Hi-jiau-keng-dok sudah menanti di situ sambil menuntun kuda, di samping itu ada belasan pengawal lain yang membawakan senjata Po-ting-te.

Nyata, biarpun kedua saudara Toan ini mempunyai kedudukan terpuji, namun mereka tidak pernah meninggalkan etiket sebagai orang persilatan daerah Tionggoan yang diwariskan leluhur mereka. Sering kali mereka pun menyamar sebagai rakyat jelata untuk pesiar keluar, kalau ketemukan orang Bu-lim hendak menuntut balas atau mencari mereka, selalu mereka pun menghadapinya menurut peraturan Bu-lim, selamanya tidak gunakan pengaruh kedudukan mereka untuk menghina orang.

Sebab itulah, maka keluarnya Po-ting-te sekarang ini sedikit pun tidak mengherankan para pengiringnya, mereka anggap sudah biasa.

Melihat di antara beberapa orang pengiring itu ada yang membawa pacul dan sekop, dengan tertawa Si Pek-hong tanya, “Pah-sugong, apakah kita hendak pergi menggali pusaka pendaman?”

“Pergi menggali kuburan!” sahut Pah Thian-sik.

Begitulah segera rombongan mereka berangkat beramai-ramai, kuda yang mereka pakai adalah pilihan, maka tidak sampai tengah hari mereka sudah tiba di tanah pekuburan di luar Ban-jiat-kok itu.

“Gali situ!” kata Pah Thian-sik segera sambil menunjuk kuburan besar yang ketujuh.

Terus saja pengiring-pengiring yang membawa alat-alat galian itu bekerja cepat.

“Wah, penghuni di Ban-jiat-kok ini rupanya dendam tiada tara terhadap keluarga Toan kita!” demikian kata Po-ting-te dengan tertawa sambil menuding batu nisan yang bertuliskan “Kuburan Ban Siu Toan” atau kuburan orang beribu sakit hati pada orang she Toan.

Dalam pada itu Jay-sin-khek Siau Tiok-sing sudah lantas ayun kapaknya dengan cepat pada batu nisan itu hingga batu kerikil bertebaran, hanya sebentar saja batu nisan itu sudah dihancurkan olehnya dan melulu tertinggal huruf “Toan” yang masih tetap utuh.

Sementara itu para pengiring juga sudah meratakan sebagian besar kuburan itu hingga kelihatan jalan masuk ke bawah tanah itu.

Segera Siau Tiok-sing mendahului masuk ke dalam, lalu keempat tokoh Hi-jiau-keng-dok mendahului membuka jalan, di belakangnya adalah Pah Thian-sik dan Ko Sing-thay, menyusul lantas Toan Cing-sun suami istri dan paling akhir Po-ting-te.

Setelah masuk ke dalam lembah itu ternyata keadaan sunyi senyap tiada seorang pun yang menyambut kedatangan mereka.

Pah Thian-sik menuruti peraturan Kangouw, ia bawa kartu nama Toan Cing-beng dan Toan Cing-sun menuju ke depan rumah utama di lembah itu, serunya keras-keras, “Dua saudara she Toan dari negeri Tayli ingin bertemu dengan Ciong-kokcu!”

Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong dari semak-semak pohon sisi kiri sana berkelebat keluar sesosok bayangan orang yang panjang sekali, dengan cepat luar biasa tahu-tahu melayang ke arah Pah Thian-sik terus hendak menyambar kartu nama yang dipegangnya itu.

Namun Thian-sik cukup cepat juga gerakannya, ia menggeser ke samping sambil membentak, “Siapa?”

Kiranya itulah “Kiong-hiong-kek-ok” In Tiong-ho. Sekali sambar tidak kena, ia tidak berhenti tapi terus putar balik dan menubruk ke arah Thian-sik.

Melihat Ginkang orang sangat hebat, timbul keinginan Pah Thian-sik untuk menjajal kepandaian orang yang sesungguhnya, maka cepat ia geser pula ke samping lain. Segera In Tiong-ho mengudak juga.

Maka tertampaklah dua bayangan orang, yang satu jangkung dan yang lain pendek, dalam sekejap saja sudah saling uber kian kemari beberapa kali. Meski langkah In Tiong-ho sangat lebar, namun dengan gesit sambil berlompatan, Pah Thian-sik dapat menyusup pergi datang dengan lincah, jarak kedua orang tetap terpisah lebih satu meter. In Tiong-ho tak bisa menyusul Pah Thian-sik, sebaliknya Thian-sik juga tak mampu melepaskan diri dari kejaran Tiong-ho.

Biasanya kedua orang itu sama-sama sangat mengagulkan Ginkangnya sendiri, tapi kini ketemukan lawan setanding, diam-diam mereka sama terkejut. Makin berlari makin cepat, begitu cepatnya hingga baju mereka berkibaran menjangkitkan angin yang menderu-deru.

Meski hanya dua orang yang kejar-mengejar, namun bagi penglihatan orang menjadi seperti beberapa orang yang sedang saling udak kian kemari. Sampai akhirnya, saking cepatnya lari mereka hingga orang merasa bingung apakah sebenarnya In Tiong-ho yang lagi mengejar Pah Thian-sik atau Thian-sik yang sedang mengudak Tiong-ho?

Tiba-tiba terdengar suara keriut pintu dibuka, Ciong Ban-siu tampak keluar dari rumah itu.

Melihat tuan rumah itu, tanpa berhenti berlari, Pah Thian-sik mengerahkan tenaga dalam terus menyambitkan kartu nama yang enteng dan lemas, tapi Thian-sik ternyata dapat menimpuknya dengan lurus enteng, apalagi dia sedang berlari diuber musuh, angin yang terjangkit karena larinya itu cukup keras, tapi kartu nama itu mampu menembus sambaran angin dan tetap menuju ke arah Ciong Ban-siu, maka dapatlah dibayangkan betapa lihai Lwekang Pah Thian-sik.

Ban-siu lantas tangkap kartu yang terbang ke arahnya itu, serunya dengan gusar, “Orang she Toan, jika kau datang ke lembah ini menurut peraturan Kangouw, mengapa kau rusak peralatan pintu lembahku?”

“Hongsiang mahaagung, mana boleh menerobos liang kuburmu dan peti matimu yang busuk itu?” demikian sahut Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li.

Si Pek-hong sendiri paling khawatir keselamatan putranya, maka segera ia tanya, “Di manakah anakku, kalian mengurungnya di mana?”

Belum lagi Ciong Ban-siu menjawab, sekonyong-konyong dari belakangnya tampil seorang wanita, dengan suara yang tajam ia berseru, “Kedatanganmu sudah terlambat, bocah she Toan itu sudah kami sembelih dadanya dan isi perutnya kami buang sebagai umpan anjing!”

Kedua tangan wanita itu tampak memegangi sepasang golok, batang golok itu sangat ciut bagai daun pohon Liu, tapi bersinar kemilau. Itulah dia Siu-lo-to yang ditakuti orang Kangouw bila melihatnya.

Kedua wanita ini, Si Pek-hong dan Cin Ang-bian, pada masa belasan tahun yang lalu sudah saling bermusuhan. Meski Si Pek-hong tahu apa yang dikatakan Cin Ang-bian tadi tidak benar, namun ucapan orang yang mengerikan atas diri putranya, membuat Si Pek-hong menjadi gusar, dendam lama dan benci baru meledak sekaligus, dengan dingin ia balas berolok-olok, “Huh, aku bicara sendiri dengan Ciong-kokcu, siapa yang sudi omong-omong dengan perempuan rendah tak kenal malu hingga mengotorkan diri sendiri.”

“Creng-creng,” sekonyong-konyong kedua golok Cin Ang-bian membacok secepat kilat ke atas kepala Si Pek-hong. Serangan “Sip-ji-gam” atau bacokan bersilang, yang satu malang ke sana dan yang lain melintang ke sini, jurus ini adalah kepandaian khas Cin Ang-bian yang telah banyak menjungkalkan jago dunia Kangouw.

Maka lekas Si Pek-hong ayun kebut pertapaannya untuk menangkis, berbareng tubuhnya bergeser ke samping, ujung kebut lantas balas menyabet punggung lawan.

Menyaksikan itu, Toan Cing-sun menjadi serbasalah. Yang seorang adalah istri kesayangannya, dan yang lain adalah bekas kekasih. Dalam pertarungan sengit itu, siapa pun terluka, dirinya yang sudah pasti akan menyesal selama hidup. Maka segera ia membentak, “Berhenti, berhenti dulu!”

Ia terus melompat maju dengan pedang terhunus hendak memisah.

Melihat Toan Cing-sun, marah Ciong Ban-siu lantas berkobar, ia lolos golok “Tay-goan-to,” golok tebal yang bergelang hingga menerbitkan suara gemerantang nyaring, tanpa bicara lagi terus membacok kepala Toan Cing-sun.

“Tak usah Ongya maju sendiri, biar hamba membereskan dia saja,” kata Leng Jian-li sambil menjuju dengan senjata pancingnya.

“Haha,” Ban-siu tertawa mengejek. “Memang kutahu orang she Toan hanya besar omong saja, paling-paling cuma pandai main keroyokan.”

“Mundur Jian-li!” seru Cing-sun dengan tertawa, “biar kubelajar kenal sendiri dengan kepandaian Ciong-kokcu yang lihai.”

Berbareng ia lantas menangkis tangkai pancing Leng Jian-li, sekalian pedang terus menempel punggung Tay-goan-to lawan yang dipakai menangkis tangkai pancing Leng Jian-li tadi, untuk memotong jari tangan Ciong Ban-siu.

Ban-siu terkejut oleh tiga gerakan yang dilakukan sekaligus, yaitu menangkis, menempel dan memotong, diam-diam ia harus mengaku orang she Toan ini benar-benar lihai. Maka ia tidak berani marah lagi, tapi ia hadapi lawan dengan sungguh-sungguh. Meski wataknya kasar, namun kalau sudah berhadapan dengan musuh, ia bisa berlaku hati-hati.

“Coba kalian masuk dan geledah sana!” perintah Po-ting-te kepada Leng Jian-li.

Jian-li mengiakan, segera tokoh-tokoh Hi-jiau-keng-dok menyerbu ke dalam rumah orang. Tapi baru sebelah kaki Siau Tiok-sing melangkah masuk, tiba-tiba dari depan menyambar sebatang golok tipis ke mukanya. Untung ia sempat mengkeret kembali dengan cepat, kalau tidak tentu mukanya sudah rata terpotong, paling tidak batang hidungnya pasti terpapas.

Saking kagetnya sampai Siau Tiok-sing berkeringat dingin. Ia coba perhatikan siapa gerangan penyergap itu. Kiranya seorang wanita yang berparas cantik, itulah dia Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio adanya.

Golok yang dipakai Yap Ji-nio itu bentuknya sangat aneh, enteng tipis, senjata tajam luar biasa. Sambil memegangi gagang golok yang pendeknya cuma belasan senti itu, hanya sedikit diputar seketika terjadilah segulung sinar putih.

Kaget Siau Tiok-sing semula memang luar biasa, tapi sesudah tenangkan diri, segera ia membentak, kapak baja diayun, terus saja ia bacok senjata musuh.

Namun Yap Ji-nio lekas putar goloknya yang tipis tajam itu, ia tidak berani adu senjata dengan kapak lawan.

Siau Tiok-sing mainkan 36 jurus “Khay-san-po-hoat” atau ilmu permainan kapak membelah gunung, ia membacok ke atas dan membabat ke bawah. Sebaliknya Yap Ji-nio terus-menerus mengejeknya dengan kata-kata yang menusuk hati.

Melihat perempuan itu sambil bicara seenaknya saja melayani serangan Tiok-sing, Cu Tan-sin menjadi khawatir jangan-jangan kawannya teperdaya musuh. Maka cepat ia pun menerjang maju, kipasnya berputar terus menutuk.

Tatkala itu In Tiong-ho masih tetap main putar kayun dengan Pah Thian-sik. Ginkang kedua orang sama lihainya, mereka tahu juga dalam waktu singkat sukar untuk menentukan kalah menang, tapi yang diuji sekarang adalah tenaga dalam, siapa yang tahan lama, dia akan menang.

Tapi Thian-sik tahu lawan sudah mengerahkan sepenuh tenaga untuk mengejar, berbeda seperti dirinya yang main melompat dan melejit, tenaga dalam masih terpelihara, bila sewaktu-waktu dirinya mendadak berhenti berlari terus menyerang serentak, tentu lawan tak kuat menahannya.

Cuma tujuannya memang ingin menguji Ginkang lawan, maka ia masih terus berlari dan belum ingin menundukkan lawan dengan ilmu pukulan.

“Setan alas, dari mana datangnya kawanan anjing ini, bikin berisik melulu hingga aku tak bisa tidur!” demikian tiba-tiba terdengar suara makian orang. Lalu tertampak Lam-hay-gok-sin melompat datang dengan senjatanya yang istimewa, yaitu Gok-cui-cian atau gunting moncong buaya.

Segera Tiam-jong-san-long menjawabnya dengan suara keras, “Ini dia ayah gurumu yang datang kemari!”

“Apa ayah guruku?” bentak Lam-hay-gok-sin dengan bingung.

“Ini,” sahut Tiam-jong-san-long sambil tunjuk Toan Cing-sun, “Tin-lam-ong adalah ayah Toan-kongcu, dan Toan-kongcu adalah gurumu, masakah kau berani menyangkal, ayo?”

Biarpun perbuatan Lam-hay-gok-sin mahajahat, tapi ada suatu sifatnya yang baik, yaitu apa yang pernah dia ucapkan, tentu ditepatinya.

Maka demi mendengar jawaban itu, mukanya menjadi merah padam saking gusar, tanpa menjawab benar atau tidak, segera ia membentak pula, “Aku angkat guru padanya adalah urusanku sendiri, peduli apa dengan anak kura-kura macam kau ini?”

“Hahaha! Aku toh bukan anakmu, kenapa kau panggil aku anak kura-kura?” sahut San-long bergelak tertawa.

Lam-hay-gok-sin tertegun, ia bingung akan jawaban itu. Tapi kemudian ia menjadi sadar bahwa secara tidak langsung orang telah memaki dia sebagai kura-kura alias germo.

Sadar akan hal itu, keruan ia berjingkrak gusar, senjatanya yang aneh itu menggunting beberapa kali ke arah musuh.

Walaupun otaknya rada bebal, tapi ilmu silat Lam-hay-gok-sin memang sangat lihai. Gok-cui-cian yang dipakai itu penuh dengan gigi buaya yang tajam, baru Tiam-jong-san-long menangkis tiga jurus dengan pacul garuknya, kedua lengannya sudah mulai terasa linu pegal.

Melihat kawannya terdesak, segera pancing Bu-sian-tio-toh Leng Jian-li bergerak, sekali terayun, cepat kait pancingnya melayang ke mata kiri Gok-sin.

“Huh, senjata apaan ini?” jengek Lam-hay-gok-sin.

“Aku berjuluk Lam-hay-tio-toh, kerjaku memancing buaya!” sahut Leng Jian-li dengan tertawa.

“Kau paham kentut, masakah buaya dapat dipancing, sekali gigit sudah putus pancingmu ini,” sahut Gok-sin tak mau kalah.

“Baik, boleh kau coba-coba,” ujar Jian-li tertawa. Kembali tali pancingnya terayun dan kait pancing hendak mencantol mulut Lam-hay-gok-sin.

Namun Gok-sin tidak lengah, mendadak Gok-bwe-pian atau ruyung ekor buaya terus dilolos, sekali sabat, segera tali pancing lawan hendak digulungnya.

Ruyung lawan kasar antap, sedang tali pancingnya halus enteng, maka Leng Jian-li tak berani sembrono, cepat ia tarik pancingnya dan putar sekali di udara, menyusul batok kepala belakang Gok-sin hendak dikait lagi.

Menyaksikan situasi pertarungan itu, Po-ting-te menaksir pihaknya tidak berbahaya, cuma sepasang Siu-lo-to Cin Ang-bian yang dimainkannya dengan cepat luar biasa dengan aneka macam perubahannya, di atas golok-golok tipis itu dilumasi racun pula. Dalam hal ilmu silat sejati tidak nanti Si Pek-hong kalah, tapi kalau tersentuh senjata lawan yang beracun, itulah yang dikhawatirkan.

Segera Po-ting-te berkata pada Ko Sing-thay, “Jaga dan awasi keadaan di sini, kalau perlu boleh kau rampas sebilah golok nyonya itu.”

Ko Sing-thay mengiakan, dengan tenang ia berdiri mengawasi kalangan pertempuran dengan gagahnya.

Po-ting-te lantas masuk ke dalam rumah, serunya keras-keras, “Ki-ji, apakah kau berada di sini?”

Tapi sama sekali tiada jawaban orang. Ia coba membuka pintu kamar sebelah kiri dan berseru pula, “Ki-ji!”

Belum hilang suaranya, sekonyong-konyong sesosok bayangan hijau berkelebat, seutas tali panjang secepat kilat menyambar lehernya.

Walaupun benda hijau itu menyambar dengan terapung di udara, tapi ternyata adalah makhluk hidup. Po-ting-te terkejut, segera ia dapat melihat jelas bahwa benda itu adalah seekor ular hijau yang panjang. Dengan lidahnya yang mulur mengkeret, ular itu hendak menggigit tenggorokannya.

Tanpa pikir lagi Po-ting-te segera menyelentik dengan jarinya hingga tepat kena bawah leher ular itu.

Tenaga selentikan Po-ting-te ini sungguh bukan main hebatnya, biarpun ular hijau itu keras sebagai kawat baja, sekali kena diselentik, seketika patah juga tulang lehernya, ular itu jatuh ke lantai, setelah mengesot beberapa kali, lalu mati.

Maka terdengarlah suara jeritan kaget seorang gadis cilik, “Haya, kau bunuh aku punya Jing-leng-cu!”

Waktu Po-ting-te memerhatikan tertampak seorang nona cilik berusia 15-16 tahun muncul dari balik pintu dengan wajah yang kaget tercampur takut.

“Di mana Toan-kongcu berada?” tanya Po-ting-te.

“Untuk apa kau cari Toan-kongcu?” berbalik gadis itu tanya.

“Aku hendak menolongnya keluar!” sahut Po-ting-te.

“Engkau takkan dapat menolongnya,” ujar gadis itu. “Ia terkurung di dalam sebuah rumah batu, di luar ada yang jaga pula.”

“Harap bawa aku ke sana,” kata Po-ting-te, “akan kurobohkan orang yang jaga, membuka rumah batu itu dan menolong keluar Toan-kongcu.”

“Tidak bisa!” sahut si gadis cilik. “Kalau aku membawa engkau ke sana, tentu ayah akan membunuh aku!”

“Siapa ayahmu?” tanya Po-ting-te.

“Aku she Ciong, ayahku adalah tuan rumah lembah ini,” sahut si gadis cilik yang bukan lain adalah Ciong Ling itu. “Dan engkau sendiri siapa?”

Po-ting-te hanya mengangguk tanpa menjawab. Ia pikir terhadap seorang nona cilik begini, baik memancingnya dengan kata-kata atau mengancam dengan kekerasan, semuanya tidak pantas digunakan atas diri gadis cilik ini. Kalau Toan Ki sudah terang dikurung di dalam lembah itu, tentu tidak sulit untuk mencarinya.

Karena itu, ia lantas keluar lagi dari rumah itu dengan maksud mencari jalan lain untuk menemukan Toan Ki ….

*****

Kembali mengenai Toan Ki dan Bok Wan-jing yang dikurung di dalam kamar batu sebagai “ternak” yang disuruh mengembang biak itu. Ketika mengetahui bahwa Jing-bau-khek yang mengeram mereka dengan muslihat keji itu adalah “Ok-koan-boan-eng” atau kejahatan sudah melampaui takaran, tentu saja mereka bertambah kejut dan khawatir.

Dan karena pikiran kacau, keteguhan iman mereka semakin tipis, sampai akhirnya, entah bagaimana jadinya, tiba-tiba mereka duduk saling berdekapan.

“Jing-moay,” demikian Toan Ki berkata perlahan, “kita sudah jatuh dalam cengkeramannya, mungkin sukar menyelamatkan diri.”

Wan-jing hanya mengiakan sekali, ia merasa pipinya panas bagai dibakar, terus saja ia susupkan kepalanya di pangkuan Toan Ki.

Perlahan Toan Ki membelai rambut si nona, keringat kedua orang sudah membasahi baju masing-masing hingga mirip orang habis kecemplung dalam air. Dan begitu mencium bau badan masing-masing, keruan makin bertambah daya tariknya.

Jangankan mereka adalah muda-mudi yang belum berpengalaman, seumpama tidak terpengaruh oleh racun, tentu mereka pun sukar mengendalikan diri, apalagi racun “Im-yang-ho-hap-san” yang mereka minum itu sangat banyak, biarpun nabi sekalipun kalau sudah minum racun itu juga akan gugur imannya.

Untunglah dalam keadaan lupa daratan itu, dalam benak Toan Ki masih timbul setitik sinar terang yang mengingatkan nama baik dan kehormatan keluarga Toan mereka, maka sekuatnya ia terus bergulat dengan nafsu kebinatangannya.

Yang paling celaka adalah si baju hijau alias “Ok-koan-boan-eng” itu masih terus membakar dari luar, katanya, “Ayolah lekas kalian laksanakan cita-citamu. Lebih cepat kalian mempunyai anak lebih cepat pula kalian akan keluar dari kurungan ini. Nah, aku akan pergi!”

Habis itu, terdengar suara daun pohon berkeresekan, agaknya orangnya sudah pergi jauh.

Toan Ki berteriak-teriak, “Gak-losam! Gak-losam! Gurumu ada kesulitan, lekas menolongnya!”

Namun sampai tenggorokannya bejat tetap tiada seorang pun yang menyahut, pikirnya, “Dalam keadaan begini, biarpun aku harus angkat guru padanya juga tidak soal lagi. Soal salah mengangkat orang jahat sebagai guru adalah urusan pribadiku dan tak ada sangkut paut dengan ayah dan paman.”

Segera ia berteriak-teriak pula, “Gak-losam! Lam-hay-gok-sin! Aku rela mengangkat guru padamu, terima menjadi ahli waris Lam-hay-pay, lekas menolong muridmu ini. Kalau tidak cepat, tentu takkan kau peroleh murid berbakat!”

Tapi sampai ia capek sendiri, tetap tiada suatu bayangan setan pun yang kelihatan.

“Toan-long,” tiba-tiba Wan-jing berkata, “sesudah kita kawin, engkau lebih suka anak pertama kita nanti laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki,” sahut Toan Ki dalam keadaan sadar tak sadar.

“Hai, Toan-kongcu, engkau adalah Engkohnya, tidak boleh kalian kawin!” tiba-tiba suara seorang gadis cilik menyela dari luar.

Toan Ki terperanjat, cepat ia tanya, “Ap … apakah Ciong-kohnio adanya?”

“Ya, benar, memang akulah!” demikian sahut gadis itu yang memang benar adalah Ciong Ling. “Sudah kudengar semua ucapan Jing-bau-khek yang jahat itu, tapi jangan khawatir, aku pasti akan berdaya untuk menolongmu!”

“Bagus!” seru Toan Ki girang. “Nah, lekas kau pergi mencuri obat penawarnya untuk kami.”

“Akan lebih baik kugeser batu besar ini untuk menolong kalian keluar dahulu,” demikian ujar Ciong Ling.

“Tidak, tidak! Lekas kau curikan obat penawar dahulu,” sahut Toan Ki cepat. “Seb … sebab aku tak tahan lagi, aku ham … hampir mati!”

“Mengapa tak tahan? Apakah engkau sakit perut?” tanya Ciong Ling khawatir.

“Bu … bukan,” sahut Toan Ki.

“Habis, apakah sakit kepala?” Ciong Ling menegas pula.

“Juga bukan,” sahut Toan Ki.

“Habis, apamu yang tidak tahan?”

Toan Ki menjadi sulit menjawab, masakah urusan begituan boleh diterangkan pada seorang nona cilik yang masih hijau? Terpaksa ia menjawab, “Seluruh badanku terasa tidak enak, cukup asal kau berusaha mendapatkan obat penawarnya.”

“Tapi engkau tidak terangkan apa penyakitnya, dari mana kutahu obat penawar apa yang diperlukan?” ujar Ciong Ling berkerut kening. “Ayahku pandai mengobati segala macam penyakit, tapi dia harus tahu dulu apakah kau sakit perut, sakit kepala, atau sakit jantung?”

“Ak … aku tidak apa-apa,” sahut Toan Ki sambil menghela napas. “Tapi aku salah … salah minum semacam racun yang disebut ‘Im-yang-ho-hap-san’.”

“Bagus,” seru Ciong Ling, “asal kau tahu namanya, mudahlah urusan diselesaikan.”

Lalu dengan cepat gadis itu pulang ke rumah hendak minta obat penawar “Im-yang-ho-hap-san” pada ayahnya.

Tak tersangka begitu Ciong Ling menyebut tentang “Im-yang-ho-hap-san”, belum lagi ia menerangkan lebih lanjut, kontan Ciong Ban-siu terus menarik muka yang berbentuk muka kuda itu, dampratnya, “Anak perempuan sekecil ini untuk apa tanya ini dan itu, kalau berani sembarangan omong lagi, sebentar kujewer kupingmu.”

Dan sebelum Ciong Ling sempat bicara lebih lanjut, saat itulah Po-ting-te dan rombongannya menyerbu ke dalam lembah Ban-jiat-kok, maka cepat Ban-siu keluar menghadapi musuh sehingga Ciong Ling ditinggal sendirian di dalam kamar.

Ketika mendengar di luar sudah terjadi pertarungan sengit, Ciong Ling tidak ambil pusing sama sekali, ia asyik membongkar lemari obat simpanan sang ayah. Ia ubrak-abrik beratus botol obat Ciong Ban-siu yang tersimpan di dalam lemari, setiap botol obat itu tertempel etiket yang menunjukkan nama obat masing-masing, tapi obat penawar “Im-yang-ho-hap-san” itu justru tidak terdapat.

Dan sedang Ciong Ling bingung entah ke mana harus mencari obat penawar yang dibutuhkan, tiba-tiba terdengar suara orang mendobrak pintu dan melangkah masuk. Tanpa pikir lagi ia lepaskan Jing-leng-cu, siapa tahu badan Jing-leng-cu yang kuat seperti besi itu, sekali diselentik Po-ting-te lantas binasa.

Dalam pada itu, Toan Ki yang menunggu-nunggu kembalinya Ciong Ling hingga lama itu, pikiran tak senonohnya sudah semakin berkobar-kobar, beberapa kali hampir saja ia menubruk maju untuk memeluk Bok Wan-jing. Sampai akhirnya, saking tak tahan, segera ia berteriak, “Jing-moay, aku tidak ingin hidup lagi, lekas berikan panahmu yang berbisa itu!”

“Tidak, aku tak mau memberi,” sahut Wan-jing dengan suara serak dan mata merah.

Toan Ki terus memukul dada dan perut sendiri sambil berteriak pula, “Mati, matilah aku!”

Dan mendadak kepalan yang menghantam dada sendiri itu memukul sebuah benda keras, itulah kotak kemala yang berada dalam bajunya. Seketika pikirannya tergerak, “Hah, biarlah kugunakan Bong-koh-cu-hap ini untuk memanggil ular beracun, biarlah aku digigit mati ular berbisa saja.”

Segera ia keluarkan kotak kemala itu dan membuka tutupnya. Benar juga sepasang katak aneh itu lantas menguak keras-keras.

Namun di lembah Ban-jiat-kok itu berhubung Ciong Ling suka main Kim-leng-cu dan Jing-leng-cu, maka ular berbisa lainnya sudah jauh menyingkir ke tempat lain sehingga tidak mungkin mendengar suara menguaknya katak raja ular ini.

Sampai lama Toan Ki menunggu, namun tiada seekor ular pun yang muncul. Sebaliknya badan semakin panas, mulut terasa kering, keringat membasah kuyup bajunya. Pikirnya, “Sepasang Cu-hap ini bisa mengatasi ular berbisa, agaknya racun pada badan binatang ini pasti jauh lebih lihai daripada ular beracun yang paling jahat.”

Karena dia sudah ambil keputusan hendak membunuh diri, dalam keadaan pikiran gelap, tanpa banyak pikir lagi ia terus comot seekor katak merah itu, ia masukkan binatang itu ke dalam mulut terus dikunyahnya.

Ia merasakan air segar mengalir masuk tenggorokannya, rasanya sangat enak. Ternyata katak-katak itu adalah binatang berdarah dingin. Maka hanya sekejap saja seekor katak merah yang merupakan makhluk mestika yang jarang ada di jagat ini sudah dimakannya habis. Bahkan ia belum lagi puas, segera katak yang kedua dimakannya pula.

Melihat muka Toan Ki sangat beringas sambil makan katak hingga mulutnya penuh berlepotan darah, rambutnya kusut masai pula, Bok Wan-jing menjadi rada takut.

Sementara itu setelah makan dua ekor Cu-hap mestika itu, pernapasan Toan Ki bertambah megap-megap, ia justru berharap racun binatang itu lekas bekerja agar dirinya lekas mati, supaya terhindar daripada siksaan yang sukar ditahan itu ….

*****

Kembali mengenai Po-ting-te. Sesudah tinggalkan Ciong Ling, ia coba mencari pula terkurungnya Toan Ki. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara tindakan orang, cepat ia menoleh, ternyata Ciong Ling yang sedang menyusulnya. Segera ia pun berhenti menanti gadis cilik itu.

Sambil mendekat, Ciong Ling berkata, “Aku tidak menemukan obat penawarnya, marilah kubawa engkau ke sana. Tapi entah batu itu dapat kau geser atau tidak?”

Sudah tentu Po-ting-te tidak tahu tentang obat penawar segala, tanyanya, “Obat penawar apa? Dan batu apa lagi?”

“Marilah ikut padaku, sebentar engkau akan tahu sendiri,” sahut Ciong Ling dan mendahului jalan ke depan.

Meskipun jalanan di Ban-jiat-kok itu berliku-liku penuh rahasia, namun di bawah petunjuk Ciong Ling, sebentar saja ia sudah membawa Po-ting-te sampai di depan pagar pohon yang mengelilingi rumah batu itu.

Dengan enteng Po-ting-te pegang bahu Ciong Ling, sama sekali tidak tampak raja itu bergerak, tahu-tahu ia sudah melintasi pagar pohon itu dengan enteng dan anteng sambil membawa Ciong Ling.

Keruan gadis itu kagum dan kegirangan, ia bertepuk tangan memuji, “Bagus, bagus, engkau seperti bisa terbang saja, sungguh hebat! Wah, celaka!”

Tiba-tiba seruannya ditutup oleh jeritan khawatir.

Kiranya tiba-tiba dilihatnya di depan rumah batu itu berduduk seorang, itulah dia Jing-bau-khek atau si baju hijau yang aneh itu.

Rupanya Ciong Ling sangat takut terhadap manusia yang setengah-mati setengah-hidup itu, ia membisiki Po-ting-te, “Marilah kita pergi dulu, nanti kalau orang itu sudah enyah, barulah kita kembali lagi.”

Po-ting-te sendiri rada heran juga melihat Jing-bau-khek yang luar biasa itu. Ia coba menghibur si gadis, “Jangan khawatir, ada aku di sini. Apakah Toan Ki terkurung di dalam rumah batu ini?”

Ciong Ling mengangguk, lalu sembunyi di belakang Po-ting-te.

Perlahan Po-ting-te mendekati Jing-bau-khek, tegurnya dengan ramah, “Dapatkah saudara menyingkir sedikit?”

Namun Jing-bau-khek itu anggap tidak melihat dan tidak mendengar, ia tetap duduk bersila dengan tenang di tempatnya.

“Jika saudara tidak suka menyingkir, maaf kalau aku berlaku kasar,” kata Po-ting-te pula. Sekali miringkan tubuh, segera ia melayang lewat di samping Jing-bau-khek terus hendak mendorong batu penutup pintu rumah.

Tapi sebelum Po-ting-te mengeluarkan tenaga, sekonyong-konyong Jing-bau-khek menarik keluar sebatang tongkat bambu terus menutuk ke “Koat-bun-hiat” di bawah ketiaknya. Anehnya tongkat bambu itu bergetar terus dan tidak lantas ditutukkan, bila Po-ting-te mengerahkan tenaga untuk mendorong batu, sekali tongkat itu ditusukkan, tentu Po-ting-te sukar menghindarkan diri.

Keruan Po-ting-te terkesiap, pikirnya, “Ilmu Tiam-hiat orang ini sungguh sangat pandai. Di zaman ini, siapakah gerangan tokoh kosen selihai ini?”

Cepat ia ayun tangan yang lain untuk membelah tongkat bambu orang, sedang tangan lain tetap menahan di atas batu untuk sewaktu-waktu mendorongnya. Namun reaksi Jing-bau-khek itu benar-benar sangat cekatan, sekali tongkatnya berputar, kembali ia ancam “Thian-ti-hiat” di dada lawan.

Secepat kilat Po-ting-te berganti serangan sampai beberapa kali, tapi selalu diatasi lebih dulu oleh tongkat bambu si baju hijau yang tetap mengancam sesuatu tempat Hiat-to berbahaya di tubuhnya.

Pertarungan di antara kaum ahli memang tidak perlu setiap serangan mesti mengenai sasarannya dengan telak. Maka sesudah belasan kali berganti tipu serangan, selalu Jing-bau-khek berhasil membuat Po-ting-te tidak sempat mengerahkan tenaga untuk mendorong batu besar itu. Betapa jitu caranya mengincar Hiat-to, Po-ting-te harus mengakui lawan itu tidak kalah daripada dirinya, bahkan masih di atas adiknya, yaitu Toan Cing-sun.

Sekonyong-konyong Po-ting-te memotong miring ke bawah dengan tangan kiri, menyusul mata telapak tangan itu mendadak berubah dengan tutukan jari. “Cus”, ia keluarkan Lwekang It-yang-ci untuk menutuk tongkat lawan. Kalau tutukan ini kena, jangankan hanya tongkat bambu, biarpun tongkat baja juga akan dibuatnya bengkok.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: