Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 13

Ciong Ban-siu suami-istri dan Ciong Ling cuma tahu bahwa sepasang katak itu bisa memanggil ular, tapi tidak tahu bila orang memakannya, maka akan timbul reaksi aneh pada tubuh orang yang memakannya itu.

Namun hendaklah maklum juga bahwa secara kebetulan Toan Ki bermaksud membunuh diri hingga secara ngawur pula telah makan katak-katak aneh itu. Kalau tidak, coba siapakah orangnya yang berani makan binatang yang dapat mengalahkan ular-ular berbisa itu?

Sesudah Toan Ki makan sepasang katak merah itu, segera timbul pertentangan dengan racun Im-yang-ho-hap-san yang bekerja di dalam perut itu. Hawa positif atau kelakiannya menjadi luar biasa kerasnya hingga sukar ditahan, bahkan timbul pula semacam sifat istimewa yang bisa menyedot hawa murni orang lain.

Waktu itu hawa murni Boh-tin masih terus-menerus mengalir ke tubuh Toan Ki, seumpama Toan Ki dalam keadaan sadar, pemuda itu pun tidak bisa menggunakan tenaga dalam untuk melepaskan tangan Boh-tin, apalagi ia dalam keadaan tak sadar, hakikatnya ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Boh-tin menjadi kelabakan ketika merasa hawa murninya terus mengalir keluar, terpaksa ia berteriak-teriak, “Tolong, Suhu, tolong!”

Mendengar itu, kelima murid Ui-bi-ceng yang lain cepat berlari mendekati Boh-tin, tapi karena tidak kelihatan apa yang terjadi di dalam rumah batu itu, mereka hanya ribut dan tanya, “Ada apa, Sute?”

“Tang … tanganku!” seru Boh-tin sambil berusaha hendak menarik kembali tangannya sekuatnya. Namun waktu itu hawa murninya sudah hilang 8-9 bagian, untuk bersuara saja hampir tak kuat, apalagi hendak menarik tangan?

Boh-ban Hwesio, itu murid keenam, tanpa pikir terus ikut pegang tangan sang Suheng dengan maksud membantu menarik.

Tak tersangka, begitu tangan menempel, kontan seluruh badannya ikut tergetar seperti terkena aliran listrik, hawa murni dalam tubuhnya juga bergolak mengalir keluar, keruan ia kaget dan berteriak-teriak, “Aduh, celaka!”

Kiranya secara tidak sengaja Toan Ki telah makan sepasang katak ajaib itu hingga timbul semacam “Cu-hap-sin-kang” atau tenaga sakti katak merah dalam badannya yang mempunyai daya sedot yang tak terbatas kuatnya. Siapa yang dipegangnya, lantas diisapnya. Bahkan orang ketiga kalau menempel badan orang yang tersedot itu, secara kontan hawa murninya juga akan ikut disedot seperti kena arus listrik ….

*****

Kembali bercerita tentang ketiga tokoh kerajaan Tayli, yaitu Suto Hoa Hek-kin, Suma Hoan Hua dan Sugong Pah Thian-sik.

Sesudah mereka menyelundup ke dalam Ban-jiat-kok, mereka lantas pilih tempat yang direncanakan dan terus menggangsir liang di bawah tanah.

Sebenarnya Ban-jiat-kok itu ada yang jaga, tapi sejak kuburan yang merupakan pintu masuk itu dibabat rata oleh orang-orang yang dibawa Po-ting-te, tempat itu menjadi bebas untuk keluar-masuk tanpa rintangan.

Setelah menggali semalaman, sudah berpuluh meter terowongan yang mereka gali. Hoa Hek-kin adalah ahli menggangsir, dibantu lagi jago seperti Pah Thian-sik dan Hoan Hua, tentu saja kemajuan mereka sangat pesat, mereka bertiga mengaso bergiliran, apalagi ransum dan air minum sudah tersedia hingga mereka tidak kekurangan perbekalan.

Hari kedua mereka menggali pula sepanjang hari, sampai petangnya, mereka taksir sudah tidak jauh lagi jaraknya dengan rumah batu yang mereka tuju. Mereka tahu ilmu silat Yan-king Taycu sangat tinggi, alat-alat gali mereka harus bekerja perlahan supaya tidak mengeluarkan suara. Sebab bagi orang yang Lwekangnya tinggi, biarpun dalam keadaan tidur pulas juga akan terjaga bangun bila mendengar sedikit suara berisik. Karena kekhawatiran itu, kemajuan mereka lantas banyak dilambatkan.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa saat itu Yan-king Taycu justru lagi pusatkan perhatiannya untuk mengukur kepandaian catur Ui-bi-ceng disertai adu tenaga dalam, maka takkan dapat merasakan suara yang timbul dari bawah tanah.

Kiranya waktu Ui-bi-ceng melihat keenam muridnya berkerumun di luar rumah batu dengan ribut-ribut, tampaknya terjadi sesuatu yang aneh, ia menyangka Yan-king Taycu telah pasang perangkap apa-apa di depan rumah batu itu hingga murid-muridnya itu telah terjebak. Maka katanya segera, “Sicu terlalu banyak bertingkah yang aneh-aneh, Loceng harus pergi ke sana melihatnya dulu.”

Sembari berkata, ia terus berbangkit.

Tak terduga Jing-bau-khek justru tidak mau melepaskannya, tiba-tiba tongkat kiri diangkat terus menutuk ke iga kiri Ui-bi-ceng sambil berkata, “Babak catur ini belum selesai, jika Taysu mau mengaku kalah, boleh silakan pergi.”

Cepat Ui-bi-ceng angkat tangan kiri terus hendak pegang ujung tongkat orang. Namun tongkat Jing-bau-khek lantas ditarik kembali, menyusul ujung tongkat itu bergetar sambil menutuk pula ke bawah dada si padri. Mendadak Ui-bi-ceng memotong ke bawah dengan telapak tangan, tapi tongkat itu sudah ditarik kembali lagi serta berubah pula dengan gerak serangan lain. Hanya sekejap saja kedua orang itu sudah saling gebrak beberapa jurus.

Sungguh celaka bagi keenam murid Ui-bi-ceng itu, seperti terkena aliran listrik saja, satu sama lain telah melengket tersedot oleh Cu-hap-sin-kang yang tiba-tiba timbul dalam tubuh Toan Ki. Sebaliknya Ui-bi-ceng yang sedang mencapai titik menentukan mati-hidup dalam pertandingannya melawan catur dan Lwekang tokoh utama dari Su-ok itu terpaksa tak bisa juga menolong murid-muridnya itu.

Ui-bi-ceng pikir tongkat orang menang panjang, terang lebih leluasa dibuat menyerang. Sementara itu tongkat itu tampak sedang menutuk lagi ke arahnya, tanpa pikir lagi ia pun ulur jari tengah, ia incar ujung tongkat orang dan menutuk juga.

Jing-bau-khek tidak menghindar, ia benturkan ujung tongkatnya pada ujung jari lawan. Keduanya saling mengadu tenaga dalam masing-masing. Dan baru sekarang Ui-bi-ceng mengerti bahwa di tengah tongkat orang itu dipasang pula dengan lonjoran besi, pantas saja begitu keras. Dan meski tongkat itu digencet oleh dua tenaga raksasa dari dua ahli Lwekang yang tinggi toh tidak tampak bengkok sedikit pun.

“Wah, rupanya ini adalah langkah simpanan Taysu yang tidak sembarangan dikeluarkan, lalu, apakah percaturan kita ini Taysu akan mengaku kalah sekarang?” kata Jing-bau-khek.

“Haha, belum tentu aku akan kalah,” sahut Ui-bi-ceng terbahak-bahak, berbareng jari kanan lantas menutul lagi sekali di atas batu hingga menambah lagi satu lekukan.

Tapi Jing-bau-khek tanpa pikir juga balas menggores lagi satu kali. Dengan demikian, di samping mengadu Lwekang, kedua orang sambil bertanding catur pula. Ui-bi-ceng sadar dalam keadaan demikian bila mesti memikirkan pula keselamatan murid-muridnya, mungkin jiwa sendiri akan melayang lebih dulu. Padahal munculnya sekali ini adalah untuk memenuhi undangan Po-ting-te.

Sepuluh tahun yang lalu Ui-bi-ceng pernah memohon kemurahan hati Po-ting-te agar suka menghapuskan pungutan pajak garam rakyat, dan harapan itu baru sekarang diluluskan, meski kedua orang tidak bicara secara terang, namun sebagai timbal baliknya sudah pasti Ui-bi-ceng harus menolong Toan Ki.

Sebab itulah Ui-bi-ceng tidak berani pencarkan perhatiannya untuk mengurus keadaan murid-muridnya itu. Ia sudah bertekad, sekalipun jiwa sendiri harus melayang, Toan Ki harus diselamatkan demi memenuhi janji kepada Toan Cing-beng. Maka ia cuma kerahkan tenaga dalam untuk menandingi musuh di samping asyik memikirkan catur yang tegang itu, sekuat tenaga ia bertahan mati-matian.

Dalam pada itu “Cu-hap-sin-kang” dari Toan Ki yang mempunyai daya sedot luar biasa itu, setelah hampir kering mengisap hawa murni Boh-tin Hwesio, kemudian ditambah lagi menempelnya Boh-ban Hwesio, sekaligus korban kedua lantas disedot pula hawa murninya.

Keruan terjadilah sesuatu yang hebat, sebagai seorang yang sama sekali tidak pernah belajar silat, seketika Toan Ki telah berubah menjadi seorang yang memiliki tenaga dalam berpuluh tahun lamanya.

Murid Ui-bi Hwesio yang pertama bernama Boh-tam dan kedua Boh-ay, kedua orang itu menjadi panik demi melihat gelagat kedua Sutenya tidak benar, cepat mereka pun mendekat, yang satu hendak menarik Boh-tin dan yang lain membetot Boh-ban.

Akan tetapi, dengan sendirinya mereka pun ikut tersedot pula oleh Cu-hap-sin-kang yang lihai.

Boh-tam dan Boh-ay terhitung paling tinggi Lwekangnya di antara murid-murid Ui-bi-ceng itu. Ketika merasa hawa murni dalam tubuh bergolak mengalir keluar, cepat mereka pusatkan tenaga untuk menahan, meski sesaat itu mereka masih bisa bertahan hingga hawa murni tidak membanjir keluar disedot Toan Ki, namun jangan sekali-kali mereka lengah, asal sedikit ayal, segera hawa murni merembes keluar lagi.

Tatkala itu Toan Ki masih tetap tak sadar, badannya panas bagai dibakar penuh hawa murni yang bergolak. Semakin banyak hawa murni dari keempat Hwesio itu mengalir masuk ke tubuhnya, semakin kuat pula daya isap Cu-hap-sin-kang yang hebat itu.

Syukurlah pula dasarnya dia tidak bermaksud menyedot hawa murni korban-korbannya itu, maka Boh-tam dan Boh-ay masih dapat bertahan, tapi karena sedikit demi sedikit masih terasa merembes, sedikit-sedikit akhirnya menjadi banyak juga, itu berarti daya tahan sendiri semakin berkurang, sebaliknya daya sedot lawan bertambah kuat, maka sampai akhirnya perembesan hawa murni mereka pun semakin deras keluarnya.

Murid keempat dan murid kelima masing-masing bernama Boh-ti dan Boh-ek menjadi tertegun menyaksikan Suheng dan Sute mereka yang celaka itu. Maksudnya ingin minta pertolongan sang guru, tapi gurunya sedang bertanding tenaga dalam dengan musuh, saat itu pun sudah mencapai titik menentukan hidup atau mati.

Keruan mereka kelabakan berlari ke sana ke sini tanpa berdaya. Sampai akhirnya, karena dorongan sesama saudara seperguruan, mereka pun tidak pikir panjang lagi dan segera ikut-ikut menarik Boh-tam dan Boh-ay sekuatnya.

Waktu itu Cu-hap-sin-kang sudah bertambah dengan tenaga murni dari Boh-tam, Boh-ay, Boh-tin dan Boh-ban berempat, betapa hebat daya sedotnya, sudah tentu tak mungkin dapat mereka tarik begitu saja. Bahkan kontan mereka berdua pun ikut tersedot dan melengket.

Sungguh sial bagi keenam padri itu, tanpa sengaja mereka ketemu Cu-hap-sin-kang, tenaga latihan selama berpuluh tahun mereka akan hilang dalam sekejap saja. Sambil masih melengket satu sama lain, mereka hanya bisa saling pandang saja dengan cemas. Bahkan saking pedihnya, Boh-ti dan Boh-ek sampai mengucurkan air mata ….

*****

Kembali bercerita tentang ketiga tokoh Suma, Suto dan Sugong.

Menjelang magrib, menurut perhitungan Hoa Hek-kin galian mereka sudah sampai di bawah kamar batu di mana Toan Ki terkurung.

Tempat itu sangat dekat dengan tempat duduk Jing-bau-khek, maka kerja mereka harus lebih hati-hati lagi, sedikit pun tidak boleh menerbitkan suara. Karena itu Hoa Hek-kin lantas taruh sekopnya, ia gunakan jari tangan untuk mencakar tanah.

“Hou-jiau-kang” atau ilmu cakar harimau yang dilatih Hoa Hek-kin sangat lihai, kini dipakai mencakar tanah, mirip benar dengan garuk besi, sekali cakar lantas segumpal tanah kena dikeduknya. Hoan Hua dan Pah Thian-sik mengikut di belakangnya untuk mengusung keluar tanah galian itu.

Kini arah yang digali Hoa Hek-kin tidak lagi menjurus maju, tapi dari bawah ke atas. Maka tahulah Thian-sik dan Hoan Hua bahwa pekerjaan mereka sudah dekat rampung. Dapat tidak menyelamatkan Toan Ki, tidak lama lagi akan ketahuan dengan pasti. Karena itu, hati mereka menjadi berdebar-debar.

Menggali tanah dari bawah ke atas dengan sendirinya jauh lebih mudah. Sedikit tanahnya longgar, segera longsor sendiri. Ketika Hoa Hek-kin sudah dapat berdiri tegak, cara galinya menjadi lebih cepat lagi. Tapi setiap kali mengeruk sepotong tanah, ia lantas berhenti untuk mendengarkan apakah ada sesuatu suara di atas sana.

Tidak lama pula, Hek-kin menaksir tinggal belasan senti saja dengan permukaan tanah, kerjanya lantas dilambatkan lagi dengan hati-hati, perlahan ia korek lapisan tanah dan akhirnya dapat menyentuh sepotong papan kayu yang rata.

Ia menjadi heran bahwa lantai rumah bukan dari batu, tapi papan kayu. Namun dengan begitu menjadi lebih leluasa lagi bagi kerjanya.

Segera Hek-kin kerahkan tenaga pada ujung jarinya, perlahan ia mengorek satu lubang persegi pada papan kayu itu hingga cukup untuk dibuat masuk keluar tubuh orang. Ia memberi tanda siap kepada kedua temannya, lalu mengendurkan tangannya yang menyanggah papan lubang yang sudah dipotong itu, dengan sendirinya potongan papan itu lantas jatuh sendiri ke bawah, segera Hek-kin ulurkan sekopnya ke atas melalui lubang itu sambil diabat-abitkan untuk menjaga kalau diserang musuh dari atas.

Di luar dugaan, bukannya diserang dari atas, tapi lantas terdengar jeritan kaget seorang wanita di atas situ.

“Jangan bersuara, Boh-kohnio, kawan sendiri yang datang untuk menolongmu!” demikian bisik Hek-kin perlahan sambil melompat ke atas melalui lubang papan itu.

Tapi kejutnya sungguh tak terkira ketika mengetahui bahwa kamar itu ternyata bukan rumah batu yang dituju itu.

Kamar itu banyak lemari dan meja yang penuh botol obat. Di pojok sana tampak seorang gadis cilik meringkuk dengan ketakutan.

Maka tahulah Hoa Hek-kin bahwa mereka salah gali. Rumah batu yang dikatakan Pah Thian-sik itu hanya didengarnya dari cerita Po-ting-te, maka rencana mereka itu didasarkan pada taksiran belaka, dan kini ternyata kesasar.

Kiranya kamar yang mereka masuki itu adalah kamar kerjanya Ciong Ban-siu dan gadis cilik itu bukan lain adalah Ciong Ling.

Gadis itu senantiasa berusaha mencari obat penawar di kamar kerja ayahnya guna menolong Toan Ki. Ia tidak tahu “Im-yang-ho-hap-san” itu tidak bisa sembarangan disembuhkan dengan obat penawar, tapi ada cara penyembuhan yang istimewa. Dengan sendirinya biarpun Ciong Ling mengubrak-abrik kamar obat ayahnya tetap tak bisa mendapatkan sesuatu obat penawar yang diharapkan.

Waktu itu ayah-bundanya sedang menjamu tamu di ruangan depan, maka diam-diam Ciong Ling masuk kamar ayahnya untuk mencari lagi. Siapa duga mendadak lantai kamar itu berlubang, menyusul sebatang sekop menyelonong keluar, bahkan terus melompat keluar pula seorang laki-laki tak dikenal, keruan kaget Ciong Ling tak terperikan.

Hoa Hek-kin bisa berpikir cepat, sekali sudah salah gali, terpaksa harus gali pula ke jurusan lain. Jejaknya sudah diketahui, kalau nona cilik ini dibunuh, tentu mayatnya akan diketemukan orang di sini dan segera pasti akan diadakan penggeledahan secara besar-besaran, jika hal itu terjadi, mungkin dirinya akan diketemukan sebelum berhasil menggali sampai di rumah batu itu. Rasanya jalan paling baik harus gondol gadis cilik ini ke dalam lorong di bawah tanah, bila orang lain kalau mencari gadis ini, tentu akan mencarinya di luar sana.

Dan pada saat itulah, tiba-tiba di luar kamar ada suara tindakan orang. Cepat Hek-kin goyang tangan kepada Ciong Ling dengan maksud agar gadis itu jangan bersuara, lalu ia putar tubuh dengan lagak seperti hendak menerobos ke dalam lubang. Tapi mendadak terus melompat ke belakang, segera mulut Ciong Ling didekapnya, menyusul badan gadis itu lantas diangkat ke tepi lubang terus dimasukkan ke bawah. Di situ Hoan Hua lantas menyambutnya.

Setelah ikut melompat ke bawah lubang lagi, cepat Hek-kin jejal mulut Ciong Ling dengan secomot tanah, keruan gadis itu kelabakan. Namun Hek-kin tak urus lagi, ia tutup kembali lubang papan tadi, lalu mendengarkan apa yang terjadi di atas.

Kejadian itu berlangsung dengan cepat luar biasa, dalam keadaan kaget dan takut, Ciong Ling menjadi bingung hingga tidak tahu apa maksud tujuan orang menculiknya. Apalagi mulutnya dijejali tanah, ia menjadi gelagapan tak bisa bersuara lagi.

Sementara itu terdengar ada dua orang telah masuk ke dalam kamar, yang seorang tindakannya berat, yang lain sangat enteng. Lalu suara seorang laki-laki lagi berkata, “Terang cintamu padanya belum lenyap seluruhnya, kalau tidak, sengaja kurusak nama baik keluarga Toan, mengapa kau merintangiku?”

“Belum lenyap apa segala, hakikatnya aku tidak cinta padanya,” sahut seorang perempuan.

“Jika demikian, itulah yang kuharapkan,” kata laki-laki tadi dengan penuh rasa syukur dan girang.

Maka terdengar wanita itu berkata pula, “Tapi nona Bok adalah putri kandung Suciku, meski tabiatnya agak kasar dan bertindak kurang sopan pada kita, namun betapa pun juga adalah orang sendiri. Kau mau bikin susah Toan-kongcu aku tidak urus, tapi nona Bok juga akan kau korbankan nama baiknya sehingga selama hidupnya bakal merana, itulah aku tak bisa tinggal diam.”

Mendengar sampai di sini, tahulah Hek-kin kedua orang yang berbicara itu adalah suami-istri Ciong Ban-siu. Mendengar pembicaraan mereka menyangkut dirinya Toan Ki, segera ia pasang kuping lebih cermat.

Terdengar Ciong Ban-siu lagi berkata, “Sucimu berusaha melepaskan pemuda itu, untung dipergoki Yap Ji-nio dan sekarang dia bermusuhan dengan kita, mengapa kau malah ingin mengurus putrinya itu? A Po, para tamu di depan itu adalah tokoh Bu-lim kenamaan semua, tanpa pamit kau tinggal masuk kemari, bukankah kelakuanmu ini agak kurang sopan?”

“Hm, untuk apa engkau mengundang orang-orang macam begitu?” dengan kurang senang Ciong-hujin menegur. “Huh, Lo-kang-ong Cin Goan-cun, It-hui-ciong-thian Kim Tay-peng, murid utama Tiam-jong-pay Liu Cu-hi, Co Cu-bok dan Siang-jing tokoh dari Bu-liang-kiam dan ada lagi guru silat Be Ngo-tek apa segala, memangnya kau sangka orang-orang macam demikian berani main gila kepada Sri Baginda Raja Tayli sekarang?”

“Aku tidak bermaksud mengundang mereka untuk ikut memberontak pada Toan Cing-beng,” demikian Ciong Ban-siu menjawab. “Hanya secara kebetulan aku melihat mereka berada di sekitar sini, lantas kuundang mereka kemari untuk meramaikan suasana saja agar bisa ikut menjadi saksi bahwa putra-putri Toan Cing-sun tidur sekamar. Malahan di antara hadirin itu terdapat pula Hui-sian dari Siau-lim-si, Kah-yap Siansu dari Tay-kak-si, Oh-pek-kiam Su An. Orang-orang ini adalah tokoh di daerah Tionggoan. Besok beramai-ramai kita pergi membuka rumah batu itu, biar semua orang menyaksikan betapa bagus perbuatan keturunan keluarga Toan yang terpuji itu, bukankah hal ini sangat menarik dan segera akan tersiar luas di dunia Kangouw dengan cepat? Hahahaha!”

“Huh, rendah dan memalukan!” jengek Ciong-hujin.

“Kau maki siapa yang rendah dan memalukan?” tanya Ban-siu.

“Siapa yang berbuat rendah dan tidak kenal malu, dia manusia yang rendah dan memalukan,” sahut Ciong-hujin mendongkol.

“Benar, keparat Toan Cing-sun itu selama hidupnya banyak berbuat dosa, tapi akhirnya putra-putri sendiri berbuat tidak senonoh, haha, memang rendah dan memalukan!”

“Kau sendiri tidak mampu mengalahkan orang she Toan, selama hidup sembunyi di lembah ini dan pura-pura mati, namun maklum, engkau masih tahu diri dan terhitung seorang laki-laki yang kenal malu. Tapi sekarang kau sengaja mempermainkan putra-putri orang yang bukan tandinganmu, bila diketahui kesatria-kesatria seluruh jagat, mungkin orang yang akan ditertawai bukan dia, melainkan engkau sendiri!”

Keruan Ciong Ban-siu berjingkrak, teriaknya gusar, “Jadi … jadi maksudmu aku yang rendah dan memalukan?”

Tiba-tiba Ciong-hujin mengucurkan air mata, sahutnya terguguk-guguk, “Sungguh tidak nyana bahwa suamiku adalah orang sedemikian gagah perwira!”

Sebenarnya Ciong Ban-siu memang sangat cinta pada istrinya ini, sebabnya dia benci dan dendam pada Toan Cing-sun juga disebabkan rasa cemburunya, kini melihat sang istri menangis, ia menjadi kelabakan, sahutnya cepat, “Baiklah, baiklah! Kau suka maki aku, makilah sepuasmu.”

Habis berkata, ia mondar-mandir di dalam kamar, pikirnya hendak mengucapkan sesuatu untuk minta maaf pada sang istri, tapi seketika tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tiba-tiba ia melihat botol obat di lemari pada sudut kamar sana berserakan tak teratur, segera ia mengomel, “Hm, Ling-ji ini benar-benar kurang ajar, masih kecil sudah tanya tentang ‘Im-yang-ho-hap-san’ apa segala, sekarang berani mengubrak-abrik lagi kamarku.”

Sembari berkata, ia terus mendekati lemari obat untuk membetulkan botol-botol obat yang tak keruan itu dan tanpa sengaja sebelah kakinya mendadak menginjak di atas papan yang dilubangi Hoa Hek-kin. Keruan Hek-kin kaget, cepat ia menyanggah dari bawah sekuatnya agar tidak diketahui orang.

“Di mana Ling-ji?” tiba-tiba Ciong-hujin tanya. “Selama beberapa hari ini banyak kedatangan orang jahat, Ling-ji harus diperingatkan jangan sembarang keluar. Aku lihat mata maling In Tiong-ho itu selalu mengincar Ling-ji saja, kukira kau pun harus hati-hati.”

“Aku hanya hati-hati menjaga engkau seorang, wanita cantik seperti engkau, siapa yang tidak menaksir padamu?” demikian sahut Ban-siu dengan tertawa.

“Cis!” semprot nyonya Ciong. Lalu ia berseru memanggil, “Ling-ji!”

Segera seorang pelayan mendekat dan memberi tahu bahwa barusan saja sang Siocia berada di situ.

“Coba cari dan undang kemari,” perintah Ciong-hujin.

Sudah tentu Ciong Ling mendengar semua percakapan ayah-bundanya itu. Tapi apa daya, mulut tersumbat tanah, sama sekali tak dapat bersuara, hanya dalam hati kelabakan setengah mati.

Dalam pada itu terdengar Ciong Ban-siu lagi berkata pada sang istri, “Engkau mengaso saja di sini, aku akan keluar mengawani tamu.”

“Hm, kau berjuluk ‘Kian-jin-ciu-sat’ (melihat orang lantas membunuh), kenapa sesudah tua lantas ‘Kian-jin-ciu-bah’ (melihat orang lantas takut)?” sindir Ciong-hujin.

Ban-siu tidak berani marah, sambil menyengir kuda ia tinggal keluar ke ruangan depan.

Dalam pada itu, di kota Tayli dengan gembira rakyat sedang merayakan dihapuskannya cukai garam.

Hendaklah maklum bahwa produksi garam di wilayah Hunlam sangat terbatas, seluruh negeri hanya ada sembilan sumur garam, yaitu sumber penghasil garam yang terdapat di daratan Tiongkok bagian barat daya. Maka setiap tahun kerajaan Tayli mengimpor sebagian besar garam dari daerah Sucoan dengan cukai garam yang berat, bahkan sebagian besar dari penduduk di pinggiran negeri itu dalam setahun hampir setengah tahun mesti makan secara tawar tanpa garam.

Po-ting-te tahu bila cukai garam sudah dihapuskan, tentu Ui-bi-ceng akan berusaha menyelamatkan Toan Ki untuk membalas kebijaksanaannya itu. Biasanya Po-ting-te sangat kagum terhadap ilmu silat serta kecerdikan Ui-bi-ceng itu, keenam anak muridnya pun memiliki ilmu silat yang tinggi, jika guru dan murid bertujuh orang keluar sekaligus, pasti akan gol usaha mereka.

Tak terduga, sesudah ditunggu sehari semalam, ternyata tiada sedikit pun kabar yang diperoleh, hendak memerintahkan Pah Thian-sik pergi mencari tahu, siapa sangka Pah-sugong dan Hoa-suto serta Hoan-suma juga ikut menghilang tanpa pamit.

Keruan Po-ting-te menjadi khawatir, pikirnya, “Jangan-jangan Yan-king Taycu memang teramat lihai hingga Ui-bi Suheng bersama murid-muridnya dan ketiga pembantuku telah terjungkal semua di Ban-jiat-kok?”

Karena itu, segera ia undang berkumpul adik pangeran Toan Cing-sun dan permaisuri, Sian-tan-hou Ko Sing-thay serta tokoh-tokoh Hi-jiau-keng-dok, lalu diajak berangkat ke Ban-jiat-kok pula.

Karena khawatirkan keselamatan sang putra, Si Pek-hong minta Po-ting-te suka mengerahkan pasukan untuk menyapu bersih Ban-jiat-kok, namun sang raja yang bijaksana itu tidak setuju, ia ingin pertahankan kehormatan dan nama baik keluarga Toan sebagai tokoh utama dunia persilatan, kalau tidak terpaksa, ia tetap bertindak menurut peraturan Kangouw.

Dan baru saja rombongan mereka sampai di mulut lembah yang dituju, tertampaklah In Tiong-ho memapak mereka dengan tertawa, ia memberi hormat lebih dulu, lalu berkata, “Selamat datang! Ciong-kokcu menduga Paduka Yang Mulia hari ini pasti akan berkunjung kemari lagi, maka Cayhe disuruh menanti di sini. Bila kalian datang bersama pasukan secara besar-besaran, kami lantas angkat langkah seribu. Tapi bila kalian datang menurut peraturan Kangouw, maka kalian disilakan masuk untuk minum dulu!”

Melihat pihak lawan sedemikian tenang, terang sudah siap sedia sebelumnya, tidak seperti tempo hari, begitu datang lantas saling labrak, maka diam-diam Po-ting-te tambah khawatir dan lebih prihatin. Segera ia membalas hormat dan berkata, “Terima kasih atas penyambutanmu!”

Segera In Tiong-ho mendahului dan membawa rombongan Po-ting-te ke ruangan tamu. Begitu melangkah masuk ke ruangan pendopo itu, Po-ting-te lantas melihat ruangan itu sudah banyak berkumpul tokoh-tokoh Kangouw, kembali ia tambah waswas.

Segera In Tiong-ho berteriak, “Ciangbunjin Thian-lam Toan-keh Toan-losu tiba!”

Ia tidak bilang “Paduka Yang Mulia Raja Tayli”, tapi menyebutkan gelar keluarga Toan dalam kalangan Bu-lim, suatu tanda ia sengaja menyatakan segala tindak tanduk selanjutnya harus dilakukan menurut peraturan Bu-lim.

Nama Toan Cing-beng sendiri dalam Bu-lim memang terhitung juga seorang tokoh terkemuka dan disegani. Maka begitu mendengar namanya, seketika hadirin berbangkit sebagai tanda menyambut. Hanya Lam-hay-gok-sin yang masih duduk seenaknya di tempatnya sambil berseru, “Kukira siapa, tak tahunya Hongte-loji (si tua raja) yang datang! Baik-baikkah kau?”

Sebaliknya Ciong Ban-siu lantas melangkah maju dan menyapa, “Ciong Ban-siu tidak keluar menyambut, harap Toan-losu suka memaafkan!”

“Ah, jangan sungkan!” sahut Po-ting-te.

Oleh karena pertemuan ini dilakukan secara orang Bu-lim, maka ketika disilakan duduk, Toan Cing-sun dan Ko Sing-thay lantas duduk di sisi Po-ting-te, sedang Leng Jian-li berempat berdiri di belakang Po-ting-te, segera pula pelayan menyuguhkan minuman.

Melihat Ui-bi-ceng dan murid-muridnya serta Pah Thian-sik bertiga tidak tampak di situ, diam-diam Po-ting-te pikir cara bagaimana harus buka mulut untuk menanyakannya.

Sementara itu Ciong Ban-siu lantas buka suara, “Atas kunjungan kedua kalinya dari Toan-ciangbun ini, sungguh aku merasa mendapat kehormatan besar. Mumpung ada sekian banyak kawan Bu-lim berkumpul di sini, biarlah kuperkenalkan satu per satu kepada Toan-ciangbun.”

Habis berkata, segera Ban-siu memperkenalkan Co Cu-bok, Be Ngo-tek, Hui-sian Hwesio dan lain-lain kepada raja Tayli itu. Sebagian besar Po-ting-te tidak kenal, tapi ada juga yang pernah mendengar namanya.

Setiap orang yang diperkenalkan itu lantas saling memberi hormat pula dengan Po-ting-te. Be Ngo-tek, Co Cu-bok dan kawan-kawannya sangat menghormat dan merendah diri terhadap Po-ting-te, sebaliknya Liu Cu-hi, Cin Goan-cun dan begundalnya bersikap sangat angkuh. Sedangkan Kah-yap Siansu, Kim Tay-peng, Su An dan lain-lain memandang Po-ting-te sebagai kaum Cianpwe, mereka tidak terlalu merendahkan derajat sendiri juga tidak menjilat orang.

Lalu Ciong Ban-siu berkata lagi, “Mumpung Toan-ciangbun sempat berkunjung kemari, sudilah kiranya tinggal lebih lama barang beberapa hari di sini, agar para saudara bisa minta petunjuk.”

“Keponakanku Toan Ki berbuat salah pada Ciong-kokcu dan ditahan di sini, kedatanganku hari ini pertama adalah ingin mintakan ampun bagi bocah itu, kedua ingin minta maaf juga. Harap Ciong-kokcu suka memandang diriku, sudilah mengampuni anak yang masih hijau itu, untuk mana aku merasa terima kasih sekali,” demikian jawaban Po-ting-te.

Mendengar itu, diam-diam para kesatria sangat kagum, pikir mereka, “Sudah lama kabarnya Toan-hongya dari Tayli suka menghadapi kaum sesama Bu-lim dengan peraturan Bu-lim pula, dan nyatanya memang tidak omong kosong. Padahal wilayah ini masih di bawah kekuasaan Tayli, bila dia mengirim beberapa ratus prajuritnya sudah cukup untuk membebaskan keponakannya itu, tapi dia justru datang sendiri untuk memohon secara baik-baik.”

Dalam pada itu Ciong Ban-siu sedang terbahak-bahak, belum lagi menjawab, tiba-tiba Su An telah menyela, “Hah, kiranya Toan-kongcu berbuat salah sesuatu kepada Ciong-kokcu, jika demikian, untuk itu kuikut mohon ampun baginya, sebab aku pernah mendapat pertolongan dari Toan-kongcu.”

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar mendadak, bentaknya, “Urusan muridku, buat apa kau ikut cerewet?”

“Toan-kongcu adalah gurumu dan bukan muridmu,” cepat Ko Sing-thay menjawabnya dengan mengejek. “Kau sendiri sudah menyembah dan mengangkat guru padanya, apa sekarang kau hendak menyangkal?”

Muka Lam-hay-gok-sin menjadi merah, ia memaki, “Keparat, Locu takkan menyangkal. Hari ini biar Locu membunuh juga Suhu yang cuma namanya saja, tapi kenyataannya tidak. Hm, masakah Locu mempunyai seorang guru macam begitu, bisa mati kaku aku!”

Karena tidak tahu seluk-beluknya, keruan semua orang merasa bingung oleh tanya jawab itu.

Kemudian Si Pek-hong ikut bicara, “Ciong-kokcu, lepaskan putraku atau tidak, hanya bergantung satu kata ucapanmu saja.”

“Oya, tentu saja kulepaskan dia, tentu kulepaskan!” sahut Ciong Ban-siu dengan tertawa. “Buat apa kutahan putramu itu?”

“Benar,” tiba-tiba In Tiong-ho menimbrung. “Dasar Toan-kongcu tampan dan ganteng, sedangkan nyonya Ciong-kokcu sangat cantik ayu, kalau Toan-kongcu tinggal terus di lembah ini, apakah itu bukannya memiara serigala di kandang kambing dan cari penyakit sendiri? Maka sudah tentu Ciong-kokcu akan melepaskan bocah itu!”

Semua orang menjadi tercengang oleh kata-kata In Tiong-ho yang tidak kenal aturan dan tanpa tedeng aling-aling itu, nyata suami-istri Ciong Ban-siu sama sekali tak terpandang sebelah mata olehnya, sungguh julukan “Kiong-hiong-kek-ok” atau jahat dan buas luar biasa, memang tidak bernama kosong.

Tentu saja Ciong Ban-siu menjadi murka, syukur ia masih bisa menahan diri, katanya sambil berpaling, “In-heng, kalau urusan di sini sudah selesai, pasti akan kubelajar kenal dengan kepandaianmu.”

“Bagus, bagus!” sahut In Tiong-ho tertawa. “Akan justru sudah lama ingin membunuh suaminya untuk mendapatkan istrinya, ingin kurebut hartanya serta mendiami lembahnya ini!”

Keruan para kesatria tambah terkesiap. Segera It-hui-ciong-thian Kim Tay-peng berkata, “Para kesatria Kangouw kan belum mati seluruhnya, sekalipun kepandaian ‘Thian-he-su-ok’ kalian sangat tinggi, betapa pun takkan terhindarkan dari keadilan umum.”

Tiba-tiba Yap Ji-nio terbahak-bahak dengan suaranya yang nyaring, katanya, “Kim-siangkong, aku Yap Ji-nio tiada permusuhan apa-apa denganmu, kenapa aku ikut-ikut disinggung, ha?”

Hati Kim Tay-peng tergetar oleh suara tertawa orang yang mengguncang sukma itu. Begitu juga Co Cu-bok berdebar-debar, terutama bila teringat putra sendiri hampir menjadi korban wanita iblis itu, tanpa terasa ia melirik sekejap pada tokoh kedua Su-ok itu.

Yap Ji-nio sedang terkikik tawa, katanya pula, “He, Co-ciangbun, baik-baikkah putramu itu, tentu kini tambah gemuk dan putih mulus bukan?”

Co Cu-bok tidak berani membantah, sahutnya tak jelas, “Ah, tempo hari ia masuk angin, sampai sekarang masih belum sehat.”

“O, kasihan!” ujar Ji-nio. “Biarlah nanti kujenguk putramu yang baik itu.”

Keruan Co Cu-bok terkejut, cepat ia goyang-goyang tangannya dan berkata, “Jang … jangan, ti … tidak usah!”

Sudah tentu ia khawatir, kalau orang benar-benar bermaksud baik menjenguk anaknya tentu tak mengapa, tapi kalau digondol lari lagi untuk diisap darahnya, kan celaka!

Melihat suasana begitu, diam-diam Po-ting-te membatin, “Rupanya kejahatan ‘Su-ok’ memang sudah keterlaluan dan banyak mengikat permusuhan, nanti kalau Ki-ji sudah diselamatkan, boleh juga sekalian cari kesempatan untuk membasminya. Yan-king Taycu dari Su-ok ini meski terhitung orang keluarga Toan, tapi akhirnya akan tiba juga hari tamatnya sesuai dengan julukannya ‘kejahatan sudah melebihi takaran’.”

Dan karena melihat pembicaraan orang-orang itu telah menyimpang dari persoalan pokok, segera Si Pek-hong berbangkit dan bicara lagi, “Ciong-kokcu, jika engkau sudah menyanggupi akan mengembalikan anakku, baiklah sekarang suruh dia keluar, biar kami ibu dan anak bisa bertemu kembali.”

Cepat Ciong Ban-siu juga berbangkit dan menyahut, “Baik!”

Mendadak ia menoleh dan mendelik pada Toan Cing-sun dengan penuh rasa dendam, katanya pula sambil menghela napas, “Toan Cing-sun, engkau mempunyai istri cantik dan putra tampan, mengapa engkau masih belum puas dan masih sok bangor? Jika hari ini harus menanggung malu di depan umum, itu adalah akibat perbuatanmu sendiri dan jangan menyalahkan aku orang she Ciong.”

Pada waktu mendengar Ciong Ban-siu bersedia membebaskan Toan Ki begitu saja, Toan Cing-sun sudah sangsi urusan pasti takkan terjadi demikian sederhana, tentu musuh sudah mengatur sesuatu muslihat keji, maka demi mendengar ucapan Ban-siu itu, segera ia mendekati Kokcu itu dan menjawab tegas, “Ciong Ban-siu, kau sendiri punya anak-istri, bila kau bermaksud membikin celaka orang, aku Toan Cing-sun pasti akan membikin kau menyesal selama hidup.”

Melihat sikap pangeran Tayli yang gagah perkasa dan agung itu, Ciong Ban-siu merasa dirinya semakin jelek, rasa siriknya bertambah menyala-nyala, segera teriaknya, “Urusan sudah begini, biarpun akhirnya Ciong Ban-siu harus gugur dan rumah tangga hancur, betapa pun aku akan melawan sampai titik darah penghabisan. Ayolah, kau ingin putramu, mari ikut padaku!”

Habis berkata, segera ia mendahului bertindak keluar.

Setelah beramai-ramai semua orang ikut Ciong Ban-siu sampai di depan pagar pohon yang lebat itu, In Tiong-ho sengaja pamer Ginkang, sekali lompat, segera ia melintasi pagar pohon yang tinggi itu.

Toan Cing-sun pikir urusan hari ini terang tak dapat diselesaikan secara damai, akan lebih baik sekarang juga memberi sedikit demonstrasi, agar pihak lawan tahu gelagat dan mundur teratur. Maka katanya segera, “Tiok-sing, penggal beberapa pohon itu, agar mudah dilalui semua orang!”

Jay-sin-khek Siau Tiok-sing, si Pencari Kayu, mengiakan sekali lalu mengayun kapaknya, sekali bacok, bagai pisau mengiris tahu saja, seketika sebatang pohon ditebang putus di dekat pangkalnya. Menyusul Tiam-jong-san-long hantamkan sebelah tangannya ke depan hingga pohon itu mencelat dan tersangkut di antara pohon-pohon yang lain.

Beruntun-runtun tampak kapak bekerja cepat pula hingga dalam sekejap saja sudah ada lima batang pohon yang tumbang, maka berwujudlah sekarang sebuah pintu masuk.

Ciong Ban-siu menanam dan merawat pagar pohon itu selama bertahun-tahun dengan susah payah, tentu saja ia menjadi gusar pohon itu ditebang dan dirusak oleh Siau Tiok-sing. Tapi segera terpikir olehnya, “Orang-orang she Toan dari Tayli hari ini bakal dibikin malu besar, buat apa aku mesti ribut urusan tetek bengek ini.”

Karena itu, tanpa bicara lagi ia lantas mendahului masuk melalui pintu pagar pohon yang bobol itu.

Maka tertampaklah segera di balik pohon sana Ui-bi-ceng dan Jing-bau-khek, yang satu menggunakan tangan kiri menahan ujung tongkat bambu yang lain, ubun-ubun kedua orang kelihatan mengepulkan kabut putih, terang kedua orang sedang mengadu Lwekang.

Mendadak Ui-bi-ceng mengulur tangan dan menekan sekali di atas papan batu di depan situ hingga berwujud suatu lekukan. Menyusul mana, hanya berpikir sejenak, Jing-bau-khek juga ikut menggores satu lingkaran kecil dengan tongkat bambunya.

Melihat itu segera Po-ting-te mengerti duduknya perkara. Kiranya Ui-bi Suheng itu di samping bertanding catur dengan Yan-king Taycu, berbareng juga mengadu Lwekang dengan tokoh utama dari Su-ok itu. Jadi mengadu otak dan tenaga secara berbareng, cara bertanding lain dari yang lain ini sesungguhnya sangat berbahaya. Pantas, makanya sudah ditunggu sehari semalam sang Suheng masih tiada kabar beritanya, rupanya pertandingan demikian itu sudah berlangsung selama sehari semalam dan masih belum ketahuan siapa akan menang atau kalah.

Sepintas lalu Po-ting-te melihat kedudukan di atas papan catur, kedua pihak sama-sama sedang menghadapi satu langkah sulit yang menentukan, rupanya Ui-bi-ceng berada di pihak terdesak, maka mati-matian padri itu sedang mencari jalan keluar bagi biji caturnya itu.

Waktu Po-ting-te menengok pula ke arah rumah batu, ia lihat keenam murid Ui-bi-ceng sedang duduk bersila di depan rumah dengan wajah pucat dan mata merem, mirip orang yang sudah hampir putus napas yang penghabisan. Keruan ia terkejut, pikirnya, “Apa barangkali keenam murid Suheng ini telah bergebrak dulu dengan Yan-king Taycu dan telah terluka parah semua?”

Segera ia mendekati mereka, ia coba periksa denyut nadi Boh-tam Hwesio, ia merasa denyut nadinya sangat lemah, seperti bergerak seperti tidak, seakan-akan setiap waktu bisa berhenti berdenyut.

Cepat Po-ting-te mengeluarkan sebuah botol porselen dan menuang keluar enam biji pil merah serta dijejalkan ke mulut keenam padri itu. Pil itu bernama “Hou-pek-wan,” sangat manjur untuk menyembuhkan luka dalam. Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Boh-tam berenam bukanlah terluka dalam, tapi disebabkan antero hawa murni dalam tubuh mereka telah kering benar-benar tersedot oleh Cu-hap-sin-kang Toan Ki yang mahalihai itu. Pil itu digunakan tidak tepat pada penyakitnya, dengan sendirinya tidak berguna.

Dalam pada itu Cing-sun sedang berseru, “Jian-li, kalian berempat coba dorong batu besar itu, bebaskan Ki-ji dari dalam situ!”

Leng Jian-li berempat mengiakan, berbareng mereka lantas maju.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Ciong Ban-siu mencegah. “Apakah kalian mengetahui siapa-apa saja yang terkurung di dalam rumah itu?”

Toan Cing-sun dan jago-jagonya itu belum tahu bahwa Bok Wan-jing juga sudah ditawan Yan-king Taycu serta dikurung bersama Toan Ki di dalam satu kamar.

Bahkan kedua muda-mudi itu telah dicekoki “Im-yang-ho-hap-san”, maka sama sekali mereka tidak curiga dan serentak hendak membebaskan Toan Ki dari penjara itu tanpa pikirkan apa yang bakal disaksikan orang banyak.

Kini demi mendengar ucapan Ciong Ban-siu itu, Cing-sun menjadi curiga, segera dampratnya, “Ciong-kokcu, bila kau berani bikin cacat sedikit pun atas diri putraku, hendaklah kau ingat bahwa engkau sendiri pun punya anak istri.”

Nyata yang dikhawatirkan adalah jangan-jangan Toan Ki telah disiksa atau dicacatkan sesuatu anggota badannya.

Maka dengan tertawa mengejek Ciong Ban-siu menjawab, “Hehe, memang benar orang she Ciong juga punya anak istri, cuma anakku adalah perempuan, untung aku tidak punya anak laki-laki, andaikan punya, anakku laki-laki takkan melakukan perbuatan binatang dengan anak perempuanku sendiri.”

“Kau sembarangan mengoceh apa?” bentak Cing-sun dengan gusar.

“Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing adalah putrimu dari hubungan gelap dengan wanita lain, bukan?” tanya Ban-siu dengan senyum ejek.

“Asal usul nona Bok pribadi, peduli apa kau ikut campur?” sahut Cing-sun dengan gusar.

“Hahaha, belum tentu bahwa aku yang suka ikut campur urusan,” sahut Ban-siu terbahak-bahak. “Keluarga Toan kalian merajai negeri Tayli, di kalangan Kangouw juga gilang-gemilang pula namanya. Tapi kini biarlah para kesatria seluruh jagat membuka mata lebar-lebar untuk menyaksikan bahwa putra dan putri Toan Cing-sun sendiri telah berbuat maksiat di antara sesama saudara sendiri, sungguh dunia sudah terbalik!”

Mendengar itu, rasa curiga Toan Cing-sun semakin menjadi, pikirnya, “Apa benar Jing-ji juga berada di dalam rumah ini dan bersama Ki-ji sudah …. sudah ….”

Ia tidak berani membayangkan lebih lanjut lagi, ia cocokkan ucapan Ciong Ban-siu dari mula hingga sekarang, agaknya berada bersamanya kedua putra-putrinya di dalam satu kamar itu tak perlu disangsikan lagi.

Keruan seketika badannya serasa dingin bagai kecemplung di sungai es, diam-diam ia mengeluh, “Betapa keji muslihat musuh ini!”

Dalam pada itu Ciong Ban-siu lantas memberi tanda kepada Lam-hay-gok-sin, segera mereka berdua mulai hendak mendorong batu besar yang menutupi pintu rumah itu.

“Nanti dulu!” seru Cing-sun sambil ulur tangan hendak merintangi.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong Yap Ji-nio dan In Tiong-ho berbareng menyerangnya dari samping kanan dan kiri. Terpaksa Cing-sun angkat tangan menangkis, sedang Ko Sing-thay serentak pun menyusup maju untuk menangkis serangan In Tiong-ho.

Tak tersangka serangan kedua tokoh Su-ok itu hanya pancingan belaka, tangan yang satu pura-pura menyerang Toan Cing-sun, tapi tangan yang lain dipakai membantu mendorong batu besar penutup pintu itu.

Meski batu itu beratnya beribu kati, tapi di bawah dorongan tenaga bersama Ciong Ban-siu, Yap Ji-nio, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho berempat, seketika batu itu menggelinding ke samping.

Tindakan mereka itu memang sudah direncanakan, maka sama sekali Toan Cing-sun tak mampu merintanginya. Di samping itu Cing-sun sendiri sebenarnya juga ingin lekas mengetahui keadaan putranya, maka tidak mencegah sekuat tenaga.

Dan begitu batu penutup pintu itu didorong ke pinggir, tertampaklah di dalam rumah batu itu gelap gulita belaka, sedikit pun tidak kelihatan pemandangan di dalam rumah.

“Huh, dua muda-mudi berada sendirian di dalam kamar segelap itu, dapat dibayangkan perbuatan apa yang akan dilakukan mereka!” demikian Ciong Ban-siu menjengek.

Baru lenyap ucapannya, tiba-tiba terlihat dari dalam rumah bertindak keluar seorang pemuda dengan rambut terurai, badan bagian atas telanjang, siapa lagi dia kalau bukan Toan Ki adanya? Bahkan di tangan pemuda itu membawa pula seorang wanita tak berkutik seperti orang yang tak sadarkan diri.

Melihat itu, alangkah malunya rasa Po-ting-te, Toan Cing-sun pun menunduk kepala, sedangkan Si Pek-hong mengembeng air mata sambil berkomat-kamit, “Karma! Hukum karma!”

Lekas Ko Sing-thay menanggalkan bajunya dengan maksud agar dipakai Toan Ki, sedang Oh-pek-kiam Su An mengingat pemuda itu pernah menolong jiwanya, ia merasa tidak tega kalau Toan Ki dibikin malu di depan orang banyak, maka cepat ia melompat maju untuk mengalingkan di depan pemuda itu.

Sebaliknya Ciong Ban-siu terbahak-bahak senang. Tapi mendadak suara tertawanya berubah menjadi jeritan kaget menyeramkan, “He, kau, Ling-ji?”

Mendengar suara teriakan itu, hati semua orang ikut terkesiap. Ketika semua orang memerhatikan apa yang terjadi, tertampak Ciong Ban-siu sedang menubruk ke arah Toan Ki terus hendak merampas wanita yang berada di pondongan pemuda itu.

Maka sekarang dapatlah semua orang melihat jelas wajah wanita yang dipondong Toan Ki itu, tampak umurnya lebih muda daripada Bok Wan-jing, tubuhnya juga lebih kecil mungil, mukanya masih kekanak-kanakan, terang bukan Hiang-yok-jeh yang tersohor itu, tapi Ciong Ling, putri kesayangan Ciong Ban-siu sendiri.

Dalam kaget dan gusarnya, Ciong Ban-siu tidak mengerti sebab apa mendadak putri kesayangannya itu bisa berada di dalam situ, dengan cepat ia sambut putrinya itu dari pondongan Toan Ki. Tak terduga, begitu kedua tangannya menyentuh badan Ciong Ling, sekonyong-konyong tubuhnya tergetar hebat, tenaga murni dalam tubuh sendiri seakan-akan hendak terbang meninggalkan raganya.

Waktu itu Toan Ki sendiri belum lagi sadarkan diri, dalam keadaan samar-samar terasa dirinya dirubung orang banyak, lamat-lamat di antaranya terdapat paman dan kedua orang tua, segera ia lepaskan Ciong Ling dan berseru memanggil, “Mak, Pekhu, Ayah!”

Dan karena dilepaskannya Ciong Ling oleh Toan Ki, maka Cu-hap-sin-kang yang hebat itu tidak jadi menyedot hawa murni Ciong Ban-siu.

Oleh karena sudah lama berdiam di tempat gelap, kini Toan Ki menjadi silau oleh sinar matahari yang terang benderang itu hingga seketika matanya susah dipentang. Sebaliknya antero badannya terasa sangat kuat, semangat berkobar-kobar, tulang anggota badan terasa enteng seakan-akan bisa terbang saja.

Dalam pada itu Si Pek-hong sudah lantas mendekat serta merangkul sang putra dan bertanya, “Ki-ji, ken … kenapakah kau?”

“En … entahlah, aku sendiri tidak tahu. Di … di manakah aku berada?” demikian sahut Toan Ki.

Sungguh sama sekali tak terpikir oleh Ciong Ban-siu bahwa muslihatnya yang hendak bikin malu orang, kini berbalik senjata makan tuan, putri sendiri yang menjadi korban malah. Sedikit pun tidak terpikir olehnya bahwa wanita yang dipondong keluar oleh Toan Ki bukanlah Bok Wan-jing, melainkan putri kesayangannya itu.

Setelah tertegun sejenak, kemudian ia pun lepaskan Ciong Ling ke tanah.

Ketika menyadari dirinya cuma memakai baju dalam melulu, keruan Ciong Ling malu tak terkatakan. Cepat Ban-siu menanggalkan baju sendiri untuk ditutupkan di atas badan sang putri. Menyusul ia lantas persen sekali tamparan di pipi Ciong Ling hingga muka gadis itu merah bengap.

“Tidak malu! Siapa yang menyuruhmu berada bersama binatang cilik itu?” demikian Ban-siu memaki.

Tentu saja Ciong Ling merasa penasaran, katanya dengan menangis, “Aku … aku ….” tapi sukar untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Tiba-tiba terpikir oleh Ciong Ban-siu, “Bukankah Bok Wan-jing juga terkurung di dalam rumah batu ini, betapa pun dia takkan mampu membuka batu penutup pintu ini, jelas dia masih berada di dalam, biar aku memanggilnya keluar, paling tidak dia akan menanggung sebagian dari rasa malu putriku ini.”

Karena itu segera ia berteriak-teriak, “Bok-kohnio, silakan lekas keluar!”

Namun berulang-ulang ia berteriak hingga bejat kerongkongannya sekalipun tetap tiada sesuatu suara jawaban di dalam rumah batu itu.

Dengan tak sabar segera Ciong Ban-siu mendekati pintu dan coba melongok ke dalam, rumah itu tidak luas, maka sekejap saja sudah kentara bahwa di dalam kosong melompong, tiada bayangan seorang pun. Keruan dada Ciong Ban-siu hampir-hampir meledak saking gusarnya, ia putar balik dan segera hendak hajar lagi putrinya itu sambil membentak, “Biar kumampuskan kau budak yang memalukan ini!”

Sekonyong-konyong dari samping ada orang menangkis tamparannya itu, nadi tangannya terasa kesemutan tersentuh oleh jari orang. Lekas Ban-siu tarik kembali tangannya dan baru diketahuinya bahwa yang menyerangnya dari samping itu adalah Toan Cing-sun. Keruan ia tambah gusar, bentaknya, “Aku menghajar anakku sendiri, peduli apa denganmu?”

Cing-sun menjawab dengan tersenyum, “Ciong-kokcu, rupanya engkau telah memberi pelayanan istimewa kepada putraku itu, khawatir dia kesepian di dalam rumah itu, sampai-sampai putri kesayanganmu disuruh mengawaninya, sungguh aku merasa sangat berterima kasih. Dan karena urusan sudah telanjur, nasi sudah menjadi bubur, putrimu sudah terhitung anggota keluarga Toan kami, dengan sendirinya aku tak bisa tinggal diam lagi.”

“Apa? Terhitung anggota keluarga Toan kalian?” sahut Ban-siu dengan gusar.

“Habis, selama beberapa hari putrimu telah melayani anakku si Toan Ki di dalam rumah ini, coba bayangkan, sepasang muda-mudi berada sendirian di tempat segelap ini, kelihatan pula baju mereka terbuka, lalu perbuatan apa yang telah mereka lakukan?” demikian kata Cing-sun dengan tertawa. “Putraku adalah ahli waris Tin-lam-ong, meski sudah melamar putri Sian-tan-hou sebagai istri, tapi sebagai seorang calon pangeran, apa salahnya kalau punya beberapa istri dan selir? Dan dengan demikian, bukankah engkau sudah menjadi Jinkeh (besan) dengan aku? Hahaha, hahaaaaah!”

Sungguh gusar Ciong Ban-siu tak tertahan lagi, ia melompat maju dan beruntun menghantam tiga kali. Namun dengan terbahak-bahak Cing-sun dapat mematahkan setiap serangan orang kalap itu.

Diam-diam para kesatria sangat kagum pada pengaruh keluarga Toan yang ternyata tidak boleh sembarangan dihina itu, Ciong-kokcu hendak menghancurkan nama baik mereka, tapi entah dengan cara bagaimana tahu-tahu malah putri Ciong-kokcu sendiri yang telah ditukar dan dikurung di dalam rumah batu itu.

Kiranya kejadian itu tak-lain tak-bukan adalah hasil karya Hoa Hek-kin bertiga. Waktu mereka menawan Ciong Ling ke dalam lorong, maksud mereka cuma untuk menghindarkan rahasianya dibongkar oleh gadis itu. Tapi kemudian sesudah mendengar percakapan suami-istri Ciong Ban-siu, mereka tahu nama baik keluarga Toan sedang diuji oleh tipu muslihat yang diatur bersama antara Ciong Ban-siu dan Yan-king Taycu.

Segera mereka bertiga berunding di bawah tanah situ dan merasa urusan itu besar sekali sangkut pautnya dengan junjungan mereka, pula waktunya sudah sangat mendesak. Maka begitu Ciong-hujin keluar dari kamar itu, segera Pah Thian-sik menerobos keluar, dengan Ginkang yang tinggi ia menyelidiki lebih pasti di mana letak rumah batu yang dituju itu. Dan sesudah ditentukan pula arah galian baru, segera mereka bertiga mempercepat galian lorong di bawah tanah itu hingga semalam suntuk, baru pagi hari itu mereka menggali sampai di bawah rumah batu yang tepat.

Ketika Hoa Hek-kin menggangsir ke atas lagi dan menerobos ke dalam rumah, ia lihat Toan Ki sedang memegang tangan orang di luar rumah dengan kencang, wajahnya tampak sangat aneh. Sudah tentu tak terpikir oleh Hek-kin bahwa tangan yang terjulur dari luar rumah itu adalah tangan Boh-tin Hwesio, sebaliknya ia menyangka sebagai tangan Yan-king Taycu, maka ia tidak berani mengajak bicara pada Toan Ki, hanya perlahan ia tepuk bahu pemuda itu.

Tak terduga olehnya, begitu tangannya menyentuh badan Toan Ki, seketika tubuh sendiri tergetar seperti menyenggol besi bakar panasnya. Ia menjadi khawatir pula ketika melihat kedua mata pemuda itu merah membara, sekuatnya ia bermaksud menarik Toan Ki terlepas dari genggaman tangan orang di luar itu, untuk kemudian melarikan diri melalui lorong di bawah tanah yang digalinya itu.

Siapa sangka, begitu tangannya memegang tangan Toan Ki, seketika hawa murni dalam tubuh Hoa Hek-kin seakan-akan bocor keluar, saking kagetnya sampai ia menjerit.

Pah Thian-sik dan Hoan Hua adalah orang yang sangat cerdik, begitu melihat gelagat kurang beres, cepat mereka pun melompat ke atas untuk menarik Hoa Hek-kin dan dibetot sekuatnya. Dan berkat tenaga gabungan ketiga orang itulah dapat Hoa Hek-kin terlepas dari sedotan Cu-hap-sin-kang yang lihai itu.

Untunglah tenaga dalam ketiga tokoh kerajaan Tayli itu jauh lebih tinggi daripada Boh-tin berenam, pula dapat bertindak cepat sebelum kasip, namun demikian, toh mereka pun kaget luar biasa hingga mandi keringat dingin. Pikir mereka, “Ilmu sihir Yan-king Taycu ini sungguh sangat lihai.”

Karena itu juga mereka tidak berani menyentuh badan Toan Ki lagi.

Dan pada saat itu juga di luar terdengar suara ramai-ramai datangnya rombongan Po-ting-te, lalu Ciong Ban-siu sedang menyindir dengan terbahak-bahak. Tabiat Hoan Hua sangat jenaka dan banyak akal, tiba-tiba pikirannya tergerak, “Ciong Ban-siu ini benar-benar jahat, biar kita kerjai dia agar malu sendiri.”

Terus saja mereka mencopot baju luar Ciong Ling untuk dipakai Bok Wan-jing, lalu mereka seret Bok Wan-jing ke dalam lorong serta menutup kembali lantai batu yang mereka gali itu hingga tidak kentara sesuatu yang mencurigakan.

Begitulah setelah Toan Ki telah keluar rumah batu itu, oleh karena hawa murni Boh-tin berenam tak dapat dihimpunnya ke dalam perut untuk dijalankan menurut keinginannya, maka enam arus hawa murni yang sangat kuat itu masih terus bergolak dalam tubuh hingga isi perut seakan-akan keterjang jungkir balik, ia menjadi sempoyongan dan tak bisa berdiri tegak.

Melihat itu, Po-ting-te menyangka sang keponakan keracunan jahat, cepat ia tutuk ketiga Hiat-to penting “Jin-yang”, “Thay-yang” dan “Leng-tay-hiat” di badan pemuda itu, walaupun hawa murni itu masih belum bisa disalurkan ke tempat yang semestinya, namun pikiran Toan Ki menjadi rada jernih, ia sudah bisa bicara dengan terang, “Pekhu, aku kena racun Im-yang-ho-hap-san.”

Po-ting-te merasa lega keselamatan Toan Ki tidak berbahaya, tapi segera teringat olehnya pertandingan di antara Ui-bi-ceng dan Yan-king Taycu sedang mencapai klimaksnya, maka ia tak sempat mengurus Toan Ki lebih jauh dan mendekati Ui-bi-ceng untuk mengikuti pertandingan otak dan Lwekang kedua orang itu.

Ia lihat jidat Ui-bi-ceng penuh butiran keringat sebesar kedelai, sebaliknya Yan-king Taycu tampak tenang-tenang saja seperti tidak merasakan apa-apa. Terang kekuatan kedua pihak itu sudah kentara nyata, mati hidup Ui-bi-ceng bergantung dalam sekejap saja.

Dalam pada itu karena pikiran Toan Ki sudah jernih kembali, ia pun memerhatikan lagi situasi percaturan kedua orang itu. Ia lihat jalan mundur Ui-bi-ceng sudah buntu, bila Yan-king Taycu mendesak maju lagi satu biji, maka Ui-bi-ceng pasti akan menyerah kalah.

Benar juga, ia lihat tongkat bambu Yan-king Taycu sedang diangkat dan akan menggores batu pula, tempat yang dituju itu adalah tepat langkah yang mematikan lawannya.

Keruan Toan Ki khawatir, pikirnya, “Biar aku mengacaunya sekali ini!”

Segera ia ulur tangan untuk menahan ujung tongkat orang yang akan digoreskan itu.

Sungguh kejut Yan-king Taycu tak terkatakan ketika mendadak terasa tongkatnya tertahan sesuatu, berbareng lengan tergetar dan tenaga murni seakan-akan membanjir keluar tak tertahankan. Waktu ia lirik, ia lihat Toan Ki sedang menahan tongkat dengan dua jarinya.

Keruan ia tambah kaget dan heran, “Tempo hari waktu menangkap bocah ini, terang sedikit pun ia tak bisa ilmu silat, paling-paling cuma pandai berkelit dengan gerak langkah yang aneh, mengapa dalam waktu cuma beberapa hari mendadak bisa menggunakan ilmu sihir untuk menyedot tenaga murni orang? Apa barangkali tempo hari ia sengaja pura-pura bodoh dan baru sekarang turun tangan?”

Toan Ki sendiri tidak tahu bahwa sesudah makan dua ekor katak merah itu, dalam tubuh telah timbul semacam Cu-hap-sin-kang yang mempunyai daya isap luar biasa lihainya, tentu saja Yan-king Taycu lebih-lebih tidak mengerti mengapa bocah yang masih hijau itu sekonyong-konyong menjadi sedemikian saktinya.

Segera ia tarik napas dalam-dalam, ia kerahkan tenaga sekuatnya dan disalurkan ke tongkatnya, sekali puntir dan betot, seketika terlepaslah tongkat itu dari tangan Toan Ki.

Hendaklah diketahui bahwa Lwekang tokoh utama Su-ok itu tinggi sekali, jarang ada bandingannya di zaman ini. Toan Ki sendiri meski kini terhimpun tenaga murni dari Boh-tam berenam yang disedotnya itu, namun dia tak tahu cara menggunakannya, sedikit pun ia tak bisa mengerahkan tenaga, dengan sendirinya ia tergetar lepas dari puntiran tongkat lawan, segera ia merasa separuh badan kesemutan dan hampir jatuh pingsan.

Sebaliknya tenaga dalam yang dikerahkan Yan-king Taycu itu saking besarnya hingga ada juga sebagian yang tak keburu ditarik kembali lagi, dalam terkejutnya, tanpa sengaja tongkatnya lantas melambai ke bawah dan mencoret di atas batu.

Cepat Yan-king Taycu sadar dan juga mengeluh, namun sudah telanjur, tongkatnya sudah mencoret setengah lingkaran di atas peta catur, cuma bukan tempat yang ditujunya semula, tapi jatuh di sisinya, sehingga gagal bikin buntu jalan lawan. Seketika wajah Yan-king Taycu berubah.

Sebagai seorang tokoh yang menjaga gengsi, meski tahu salah langkah dan itu berarti kekalahan total baginya, namun Yan-king Taycu tidak mau ribut dengan Ui-bi-ceng, segera ia berbangkit sebagai tanda menyerah kalah. Tapi kedua tangan masih menahan di atas papan batu itu sambil memerhatikan papan catur hingga lama sekali.

Sebagian besar di antara hadirin itu belum pernah kenal siapa tokoh Jing-bau-khek, melihat sikapnya yang aneh itu, semua orang ikut memerhatikan juga apa yang dilakukannya.

Sampai lama Yan-king Taycu memandangi papan catur, mendadak ia angkat tongkatnya, tanpa berkata lagi ia putar tubuh dan melangkah pergi.

Pada saat lain, tiba-tiba angin meniup, papan batu tadi tampak bergoyang sedikit, sekonyong-konyong batu besar itu pecah berantakan menjadi belasan potong.

Keruan semua orang ternganga dan saling pandang dengan kesima, sungguh tak terpikir oleh mereka bahwa Jing-bau-khek yang tidak mirip manusia dan tidak serupa setan itu, ilmu silatnya ternyata sudah mencapai taraf yang sukar diukur.

Ui-bi-ceng sendiri meski sudah menangkan babak percaturan itu, namun dia masih duduk merenung di tempatnya dengan rasa syukur dan bingung pula. Syukur karena pertandingan yang berbahaya itu akhirnya dimenangkan olehnya, bingung pula mengapa Yan-king Taycu yang sudah terang memegang kunci kemenangan itu mendadak bisa menyumbat jalan hidup sendiri, bukankah itu sengaja mengalah? Tapi dalam keadaan demikian, tidaklah masuk akal bahwa orang sudi mengalah padanya.

Po-ting-te dan Toan Cing-sun juga merasa tidak mengerti oleh kejadian itu. Akan tetapi mereka tidak ambil pusing lebih jauh, yang terang sekarang Toan Ki sudah diselamatkan dan Yan-king Taycu sudah dikalahkan dan sudah pergi, nama baik keluarga Toan telah dipertahankan, pertarungan ini boleh dikatakan telah menang total.

Maka segera Toan Cing-sun berolok-olok lagi dengan tertawa, “Ciong-kokcu, putraku pasti bukan manusia yang tipis budi, sekali putrimu sudah menjadi selir putraku, dalam waktu singkat tentu akan kami kirim orang untuk memapaknya dan kami sekeluarga akan menyambut baik-baik dan sayang padanya seperti anak sendiri, harap engkau jangan khawatirkan urusan ini.”

Ciong Ban-siu adalah seorang kasar, jiwanya sempit dan berangasan, karena tak tahan diolok-olok dan disindir Toan Cing-sun, ia menjadi naik darah lagi, tanpa tanya apakah Ciong Ling benar-benar telah dinodai Toan Ki atau tidak, terus saja ia cabut golok dari pinggangnya dan membacok kepala Ciong Ling sambil membentak, “Kau bikin aku mati gusar saja, biarlah kumampuskan budak hina dina ini lebih dulu!”

Sekonyong-konyong bayangan orang melayang tiba, dengan cepat luar biasa Ciong Ling telah dirangkul dan dibawa kabur beberapa tombak jauhnya. “Crat,” golok Ban-siu membacok di atas tanah dan ketika ditegasi orang yang menyambar Ciong Ling itu kiranya adalah “Kiong-hiong-kek-ok” In Tiong-ho.

“Kau … kau mau apa?” bentak Ban-siu dengan gusar.

“Kau tidak mau pada putrimu ini, maka hadiahkan saja padaku dan anggap dia sudah mati kau bacok barusan,” sahut In Tiong-ho dengan cengar-cengir, berbareng itu orangnya lantas melesat pergi lagi beberapa tombak jauhnya.

Ia tahu bicara tentang ilmu silat, jangankan dirinya tak mampu menandingi Po-ting-te dan Ui-bi-ceng, sekalipun Toan Cing-sun atau Ko Sing-thay juga sudah lebih unggul daripadanya. Karena itu In Tiong-ho ambil keputusan, bila gelagat jelek, segera Ciong Ling akan digondolnya lari.

Pah Thian-sik yang diseganinya itu tidak tampak hadir di situ, maka dalam hal Ginkang, terang tiada seorang pun di antara hadirin itu mampu mengejarnya.

Ciong Ban-siu juga tahu Ginkang tokoh keempat dari Su-ok itu sangat lihai, untuk mengejar terang tak mampu, saking gemasnya ia cuma bisa berjingkrak sambil memaki kalang kabut.

Po-ting-te tempo hari sudah menyaksikan In Tiong-ho itu main udak-udakan dengan Pah Thian-sik, kini melihat orang menggondol Ciong Ling dan larinya begitu cepat dan enteng, terpaksa ia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Tiba-tiba timbul suatu akal dalam benak Toan Ki, segera ia berseru, “Gak-losam, sebagai gurumu, aku memerintahkanmu lekas rebut kembali nona cilik itu?”

Lam-hay-gok-sin tercengang sekejap, segera ia menjadi gusar dan membentak, “Keparat, apa katamu?”

“Kau telah menyembah aku sebagai guru, apakah kau berani menyangkal?” sahut Toan Ki. “Memangnya apa yang sudah kau katakan sendiri itu kau anggap seperti kentut saja?”

Seperti diketahui, biarpun Lam-hay-gok-sin itu sangat jahat dan buas, tapi ada suatu sifatnya yang terpuji, yaitu apa yang pernah ia janji atau katakan, tidak pernah ia mungkir dan pasti akan ditepati.

Ia mengangkat guru pada Toan Ki, meski hal ini seribu kali hatinya tidak rela, tapi ia juga tidak menyangkal, maka dengan mendelik gusar ia membentak pula, “Apa yang telah kukatakan sudah tentu tetap berlaku. Kau adalah guruku, lantas mau apa? Hm, jika Locu geregetan, guru macammu juga sekalian akan kubunuh.”

“Baiklah jika kau sudah mengaku,” ujar Toan Ki. “Sekarang nona Ciong itu digondol si jahat keempat itu, nona itu adalah istriku, jadi dia ibu-gurumu pula, maka lekas kau rebutnya kembali. Kalau In Tiong-ho menghina nona itu, sama artinya menghina ibu-gurumu, jika kau tak mampu membelanya, bukankah terlalu pengecut?”

Lam-hay-gok-sin tercengang sejenak, ia pikir benar juga teguran sang “guru” itu. Tapi lantas teringat olehnya bahwa Bok Wan-jing juga mengaku sebagai istrinya, kenapa nona cilik she Ciong ini diaku istrinya pula? Segera ia tanya, “Kenapa begitu banyak ibu-guruku? Sebenarnya berapa orang istrimu?”

“Tak perlu kau tanya,” sahut Toan Ki. “Yang penting, lekaslah kau laksanakan perintahku, bila tidak dapat merebut kembali ibu-gurumu, itu berarti kau tiada muka buat bertemu lagi dengan kesatria-kesatria di jagat ini, sekian orang gagah di sini telah menyaksikan, kalau kau tak mampu menangkan In Tiong-ho yang nomor empat, ya, biar urutanmu diturunkan menjadi nomor lima saja, bisa jadi nomor enam malah!”

Mana Lam-hay-gok-sin sudi terima olok-olok demikian? Suruh dia berada di bawah nama In Tiong-ho, hal ini baginya lebih celaka daripada mati. Karena itu, ia menggerung keras-keras sambil berlari mengudak ke arah In Tiong-ho dan membentak, “Lepaskan ibu-guruku!”

Cepat In Tiong-ho melayang beberapa tombak pula ke depan sambil berseru, “Gak-losam, sungguh tolol, ditipu orang masakah tidak tahu!”

Keruan marah Lam-hay-gok-sin semakin berkobar, biasanya ia paling suka mengaku dirinya paling pintar, masakan di hadapan orang banyak dicemooh sebagai orang tolol? Segera ia “tancap gas” lebih kencang untuk mengejar. Maka dengan cepat sekali kedua orang yang saling uber itu telah melintas beberapa lereng bukit.

Ciong Ban-siu yang kehilangan anak perempuan itu, meski dalam kalapnya tadi putrinya hendak dibacok mati, tapi kini demi melihat putrinya digondol lari orang jahat, betapa pun soal darah daging, apalagi nanti kalau ditanya sang istri, bagaimana dia harus memberi tanggung jawab? Maka tanpa pikir lagi ia pun ikut mengejar dengan golok terhunus.

Melihat pelaku utamanya sudah pergi, segera Po-ting-te memberi hormat kepada para kesatria yang hadir itu, katanya, “Mumpung hadirin kebetulan berkunjung ke Tayli sini, marilah silakan mampir ke tempat kami agar aku dapat sekadar memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah.”

Hui-sian dan lain-lain memang berminat untuk berkenalan dengan Toan Cing-beng, raja Tayli yang terkenal sebagai “orang utama di dunia selatan”, demi diundang secara ramah, mereka lantas menerima baik undangan itu dengan tertawa.

Hanya Yap Ji-nio yang berkata dengan tersenyum, “Nyonyamu ini khawatir akan disembelih kalian untuk dimakan, maka lebih baik aku angkat langkah seribu saja lebih selamat!”

Habis berkata, tanpa pamit lagi ia lantas mengeluyur pergi dengan tersenyum.

Po-ting-te pun tidak merintangi kepergian tokoh kedua Su-ok itu, ia ajak para tamu meninggalkan Ban-jiat-kok dan pulang ke Tayli.

Boh-tam berenam sudah terlalu payah dan lemas, untuk berdiri saja tak sanggup, maka Leng Jian-li dan kawan-kawannya lantas menaikkan mereka ke atas kuda dan beramai-ramai kembali ke Tin-lam-onghu.

Sementara itu Pah Thian-sik bertiga sudah menunggu di situ, mereka lantas menyambut keluar bersama seorang gadis jelita yang berdandan mewah, siapa lagi dia kalau bukan Hiang-yok-jeh Bok Wan-jing!

Dalam pada itu Toan Ki yang sejak minum “Im-yang-ho-hap-san”, racun yang masih mengeram dalam tubuh itu belum lagi lenyap. Kini mendadak melihat Bok Wan-jing, tanpa kuasa lagi ia pentang kedua tangan terus berlari maju hendak peluk gadis itu. Syukurlah, betapa khilafnya, dalam benaknya masih timbul setitik pikiran jernih, mendadak ia sadar perbuatannya yang tidak pantas itu, seketika ia menahan diri dan berdiri terpaku di tempatnya.

Ternyata Im-yang-ho-hap-san itu bukan saja sangat lihai karena bekerjanya racun itu sangat awet, tahan lama, bahkan kedua pihak laki-laki dan perempuan yang minum racun itu akan timbul daya tarik yang sangat kuat. Mendingan kalau kedua pihak dipisahkan, tapi bila bertemu kembali, seketika pikiran kedua orang akan kabur dan tenggelam dalam perasaan yang tidak senonoh hingga sukar mengekang diri.

Melihat sikap kedua muda-mudi itu agak kurang beres, pipi merah, begitu pula mata mereka seakan-akan berapi, terang keracunan sangat hebat.

Cepat Po-ting-te bertindak, “cus-cus” dua kali, ia tutuk dari jauh, seketika Toan Ki dan Wan-jing tertutuk roboh pingsan. Segera Cu Tan-sin mengangkat Toan Ki dan Si Pek-hong memondong Wan-jing ke dalam kamar.

Kemudian para tamu disilakan masuk ke istana dan diadakan perjamuan secara meriah. Karena Siau-lim-si dipandang sebagai bintang cemerlang dalam dunia persilatan, maka Hui-sian Hwesio disilakan duduk di tempat tamu utama oleh para kesatria.

Dalam perjamuan itu Hoan Hua lalu menceritakan hasil karya mereka yang telah menggali lorong di bawah tanah hingga menembus ke dalam rumah batu tempat Toan Ki dikurung serta menaruh Ciong Ling yang mereka tawan di dalam rumah itu. Sudah tentu ia tidak menceritakan tentang Bok Wan-jing yang ditolong keluar sebagai ganti Ciong Ling.

Mendengar itu, para kesatria baru tahu duduknya perkara serta menertawakan Ciong Ban-siu yang sial itu, ingin bikin malu orang, siapa duga senjata telah makan tuan malah.

Dan oleh karena putra kesayangannya masih keracunan, Cing-sun menjadi murung dan coba tanya apakah sekiranya di antara hadirin itu ada yang bisa menolong. Namun para kesatria hanya saling pandang dengan bingung tak bisa berbuat apa-apa.

Pada saat itulah dari luar masuk seorang pengawal dan menyerahkan sepucuk surat kepada Toan Cing-sun, katanya yang membawakan surat itu adalah seorang dayang perempuan, di dalam sampul itu katanya ada pula resep obat untuk menyembuhkan putra pangeran yang keracunan itu.

Sungguh kejut dan girang Cing-sun tak terkatakan, cepat ia membuka sampul surat dan melihat di atas secarik kertas kecil yang putih bersih tertulis enam huruf kecil yang indah, “Banyak minum susu manusia dan segera sembuh.”

Cing-sun mengenali tulisan itu adalah buah tangan Ciong-hujin, saking terguncang perasaannya, tanpa merasa secawan arak di atas meja telah tersampuk tumpah oleh lengan bajunya.

“Sun-te, resep apakah itu?” tanya Po-ting-te.

Cing-sun tertegun, jawabnya dengan tergegap, “Apa? O, resep ini bilang banyak minum susu manusia dan Ki-ji akan segera sembuh.”

Po-ting-te mengangguk, katanya, “Tiada alangan untuk dicoba. Banyak minum susu manusia sekalipun tidak manjur juga tidak berbahaya.”

Segera Si Pek-hong berbangkit dan masuk ke dalam istana untuk memberi perintah pada para “abdi dalam” agar lekas mencari susu manusia pada para ibu yang meneteki.

Para pesuruh itu memang sangat cekatan, pula susu manusia juga bukan barang yang susah dicari, maka belum lagi perjamuan bubar, Toan Ki dan Bok Wan-jing sudah sadar kembali dari keracunan mereka serta keluar ke ruangan depan untuk menemui para tamu.

Toan Ki mengaturkan terima kasih kepada Ui-bi-ceng dan Hoa Hek-kin yang telah menyelamatkan jiwanya. Ia menyatakan penyesalannya pula akan terlukanya Boh-tam berenam.

Tatkala itu keenam murid Ui-bi-ceng masih sangat payah dan belum dapat bicara, maka bagaimana mereka menjadi begitu, bukan saja Ui-bi-ceng tidak tahu duduknya perkara, bahkan Toan Ki juga tidak mengerti bahwa dirinya yang menjadi gara-gara atas malapetaka yang menimpa murid-murid padri beralis kuning itu.

Kemudian Toan Cing-sun mengumumkan juga bahwa Bok Wan-jing adalah putri angkatnya. Dalam keadaan begitu, meski Cin Goan-cun, Hui-sian dan lain-lain saling bermusuhan dengan gadis wangi itu, kini mereka menjadi tidak enak untuk bikin onar di situ. Apalagi di hadapan empat tokoh mahasakti seperti Po-ting-te, Ui-bi-ceng, Toan Cing-sun dan Ko Sing-thay, betapa pun besar nyali mereka juga tiada seorang pun berani berkutik.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: