Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 14

Di tengah perjamuan itu, hadirin ramai mengobrol ke timur dan ke barat, kemudian sama mengaturkan selamat pula kepada Toan Cing-sun suami-istri dan Ko Sing-thay karena kedua keluarga itu telah berbesanan. Seketika suasana tambah semarak dan beramai-ramai sama mengajak angkat cawan.

Bok Wan-jing coba melirik Toan Ki, ia lihat pemuda itu menunduk dengan lesu, teringat olehnya waktu mereka berduaan tinggal bersama di dalam rumah batu itu, tanpa terasa ia pun ikut muram durja. Ia tahu selama hidup ini terang tiada harapan untuk menjadi istri Toan Ki, tapi demi mendengar pemuda itu sudah melamar putri Ko Sing-thay, tentu saja ia pun berduka dan hancur perasaannya.

Semakin memandang Ko Sing-thay, semakin gemas hatinya, sungguh ia ingin sekali panah binasakan orang itu sebagai hukumannya mengapa melahirkan seorang anak perempuan untuk diperistri oleh kekasihnya itu? Cuma ia tahu kepandaian Ko Sing-thay terlampau lihai, untuk memanahnya tidaklah mudah, maka panah yang sudah disiapkan dalam lengan baju itu tidak lantas dibidikkan.

Ia lihat suasana perjamuan itu semakin memuncak riang gembira, ia khawatir saking tak tahan dirinya bisa menangis, hal mana tentu akan ditertawai orang, maka segera ia berbangkit dan menyatakan kepalanya pusing, ingin kembali ke kamar saja. Habis itu, tanpa permisi lagi pada Toan Cing-sun dan Po-ting-te, ia terus tinggal masuk ke dalam dengan cepat.

Dengan tersenyum Cing-sun minta maaf kepada para tamu atas kelakuan putrinya yang kurang adat itu.

Tiba-tiba datang bergegas seorang penjaga dan menyampaikan secarik kartu nama kepada Cing-sun serta melapor, “Ko Gan-ci, Ko-siauya dari Hou-cut-koan mohon bertemu dengan Ongya.”

Sungguh di luar dugaan Toan Cing-sun atas kunjungan tamu yang tak diundang ini. Ia tahu Ko Gan-ci itu adalah murid pertama dari Kwa Pek-hwe dari Ko-san-pay, di kalangan Kangouw cukup harum namanya sebagai pendekar yang budiman, julukannya adalah “Tui-hun-jiu” atau si Tangan Penguber Nyawa. Konon ilmu silatnya sangat hebat, tapi selamanya tiada hubungan apa-apa dengan keluarga Toan, lantas untuk keperluan apa jauh-jauh dia datang kemari?

Walaupun agak sangsi, namun Cing-sun berbangkit juga dan berkata, “Kiranya Tui-hun-jiu Ko-tayhiap yang datang, aku harus menyambutnya sendiri.”

Para kesatria yang hadir di situ juga pernah mendengar namanya Ko Gan-ci, di antaranya Hui-sian dan Kim Tay-peng malah sudah kenal, maka beramai-ramai mereka lantas ikut menyambut keluar. Hanya Po-ting-te, Ui-bi-ceng, Co Cu-bok dan Cin Goan-cun yang tetap duduk di tempat masing-masing.

Kalau Po-ting-te dan Ui-bi-ceng tidak keluar menyambut adalah mengingat kedudukan mereka di kalangan Bu-lim memang lebih tinggi daripada orang lain, sedang Co Cu-bok dan Cin Goan-cun berdua sengaja berlaku angkuh, anggap diri sendiri adalah tokoh utama suatu aliran tersendiri. Ko Gan-ci dipandang mereka lebih rendah setingkat, betapa pun tenar nama Ko Gan-ci juga masih mempunyai seorang guru, yaitu Kwa Pek-hwe.

Ketika Toan Cing-sun sampai di luar, ia lihat seorang laki-laki setengah umur yang berperawakan tinggi besar sambil menuntun seekor kuda putih yang gagah sedang menunggu di depan pintu. Laki-laki itu memakai baju berkabung, wajah murung, kedua mata merah bendul, terang orang sedang ditimpa kemalangan kematian sanak keluarga.

Melihat orang, segera Kim Tay-peng melangkah maju dan menyapa, “Ko-toako, baik-baikkah engkau!”

Kiranya laki-laki berbaju berkabung inilah Ko Gan-ci. Maka jawabnya, “Kiranya Kim-hiante juga berada di sini.”

“Atas kunjungan Ko-tayhiap, maafkan Siaute tidak menyambut lebih dulu,” demikian Cing-sun memberi hormat.

Cepat Ko Gan-ci membalas hormat sambil merendah diri, diam-diam ia mengagumi keluarga Toan di Tayli yang tersohor bijaksana nyatanya memang tidak omong kosong.

Sesudah saling kagum, lalu Cing-sun membawa tamunya ke dalam serta diperkenalkan kepada Po-ting-te dan lain-lain. Segera Cing-sun memerintahkan pelayan menyediakan pula satu meja untuk menjamu Ko Gan-ci.

Namun Ko Gan-ci menolak, katanya, “Cayhe masih berkabung, pula ada urusan penting lain, cukup menerima suguhan secangkir teh saja!”

Habis itu, ia terus minum habis secangkir teh yang disediakan, lalu katanya pula, “Ongya, sudah lama Susiokku memondok di dalam istana sini, untuk mana Cayhe sangat berterima kasih. Kini Cayhe ada suatu urusan hendak bicara dengan beliau, sudilah Ongya mengundangnya keluar.”

“Susiok Ko-heng?” Cing-sun menegas dengan heran. Dalam hati ia tidak habis mengerti masakah di dalam istananya ada seorang tokoh Ko-san-pay segala?

Namun Ko Gan-ci berkata pula, “Susiokku suka ganti nama dan memondok di sini sekadar menghindari bahaya, hal mana mungkin tak berani dikatakan terus terang kepada Ongya, sungguh perbuatan yang tidak pantas, maka harap Ongya yang bijaksana sukalah memberi maaf.”

Berbareng ia memberi hormat lagi.

Sambil membalas hormat orang, diam-diam Cing-sun berpikir dan tetap tidak ingat siapakah gerangan Susiok orang yang dimaksud itu?

Tiba-tiba Ko Sing-thay berkata kepada seorang pesuruh di sampingnya, “Coba pergi ke kamar tulis, undanglah Ho-siansing kemari, katakan bahwa Tui-hun-jiu Ko-tayhiap sedang menunggu, ada urusan penting yang perlu dibicarakan dengan ‘Kim-sui-poa’ Cui-locianpwe!”

Pesuruh itu mengiakan dan selagi hendak bertindak masuk, tiba-tiba terdengar dari ruangan belakang sana ada suara tindakan orang yang berkeletakan, dengan langkah setengah diseret, orang itu berkata, “Sekali ini kau benar-benar hancurkan periuk nasiku ini.”

Ketika para kesatria mendengar nama “Kim-sui-poa” Cui-locianpwe atau si Swipoa Emas disebut, ada yang merasa bingung tidak paham apa yang dimaksudkan, tetapi ada pula yang terkesiap, mereka ragu apakah benar iblis kawakan Swipoa emas itu bercokol di negeri Tayli?

Tengah mereka heran, tertampaklah seorang kakek berwajah jelek dan berkumis tikus sedang keluar dari belakang dengan tertawa. Setiap orang dalam istana kenal Ho-siansing ini adalah juru tulis rendahan merangkap pekerjaan serabutan, yaitu juru tulis yang tempo hari diseret keluar oleh Toan Ki dan diaku sebagai gurunya untuk menggoda Lam-hay-gok-sin itu.

Keruan Toan Cing-sun terkejut, pikirnya, “Apakah benar Ho-siansing inilah Cui Pek-khe yang dimaksudkan? Ke manakah mukaku ini harus ditaruh bahwa seorang tokoh terkenal setiap hari berada di hadapanku, tapi aku tidak tahu sama sekali.”

Syukurlah dengan segera Ko Sing-thay dapat membuka rahasia itu hingga para hadirin mengira Tin-lam-onghu sudah lama mengetahui beradanya tokoh Ko-san-pay ini, maka Toan Cing-sun tidak sampai kehilangan muka.

Ho-siansing itu tetap lucu tampaknya, setengah mabuk setengah sadar dengan matanya yang keriyep-keriyep. Tapi demi tampak pakaian berkabung Ko Gan-ci, ia menjadi kaget dan bertanya, “He, ken … kenapakah kau?”

Cepat Ko Gan-ci melangkah maju dan menjura ke hadapan sang Susiok sambil menangis, katanya, “Cui-susiok, Su … Suhuku dibin … dibinasakan orang.”

Seketika air muka Ho-siansing itu berubah hebat, muka yang tertawa tadi kontan berubah muram dan waswas. Tanyanya kemudian dengan perlahan, “Siapakah pembunuhnya?”

“Titji (keponakan) tak becus, sampai sekarang belum tahu dengan pasti siapa pembunuh Suhu itu,” demikian tutur Gan-ci dengan menangis. “Tapi menurut taksiran, besar kemungkinan adalah orang keluarga Buyung.”

Sekilas wajah Ho-siansing mengunjuk rasa jeri demi mendengar nama itu, namun cepat ia bisa tenangkan diri dan berkata dengan suara berat, “Urusan ini harus kita bicarakan secara mendalam.”

Semua orang merasa heran melihat sikap Cui Pek-khe itu. Mereka cukup kenal nama-nama Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci, namun paling akhir ini Gan-ci jauh lebih tenar daripada nama sang Susiok. Dan tentang kelihaian keluarga Buyung yang disebut-sebut itu, mereka sama sekali tidak tahu. Hanya Po-ting-te dan Ui-bi-ceng saling pandang sekejap, bahkan perlahan Ui-bi-ceng menghela napas.

Betapa telitinya Cui Pek-khe, ternyata sedikit menghela napas Ui-bi-ceng lantas diketahui olehnya. Tiba-tiba ia memberi hormat kepada padri itu dan berkata, “Dunia Kangouw bakal terancam malapetaka, Taysu mahawelas-asih, sudilah memberi petunjuk jalan yang sempurna.”

Cepat Ui-bi-ceng membalas hormat orang, sahutnya, “Siancay, sudah lama kuasingkan diri dan tidak pernah ikut campur urusan Bu-lim di Tionggoan. Padahal tokoh sakti seperti Cui-sicu ternyata sudah sekian tahun tinggal di Tin-lam-ong, dan sama sekali tidak kuketahui, mana aku berani bicara tentang urusan Kangouw lagi?”

Cui Pek-khe tampak lemas dan sedih oleh jawaban itu, katanya kepada Gan-ci, “Ko-hiantit, cara bagaimana tewasnya Suheng, coba uraikan dengan jelas dari awal sampai akhir.”

“Sakit hati terbunuhnya guru senantiasa mengganggu pikiran Siautit, satu hari sakit hati itu tak terbalas, satu hari pula Siautit akan merasa tidak enak makan dan tidur. Maka mohon Susiok sekarang juga suka berangkat, biarlah di tengah jalan nanti Siautit akan menuturkan secara jelas demi menghemat waktu,” demikian sahut Ko Gan-ci.

Melihat sikap sang Sutit yang ragu-ragu itu, Cui Pek-khe tahu pasti Gan-ci merasa tidak leluasa untuk bicara terus terang karena di depan orang banyak. Namun dalam hati ia sudah ambil keputusan, “Telah sekian lama aku memondok di istana pangeran ini tanpa ketahuan jejakku, siapa duga Ko-houya ini sebenarnya sudah lama mengetahui samaranku. Jika aku tidak minta maaf pada Toan-ongya, itu berarti aku berbuat kurang ajar pada keluarga Toan. Apalagi aku masih perlu membalas sakit hati Suheng terhadap keluarga Buyung, untuk mana melulu tenagaku seorang terang takkan berhasil, kalau bisa mendapat bantuan keluarga Toan ini, pasti kekuatan pihakku akan berbeda, untuk inilah aku tidak boleh berlaku sembrono.”

Karena pikiran itu, mendadak ia menjura ke hadapan Toan Cing-sun sambil menangis.

Hal ini tentu saja di luar dugaan semua orang. Cepat Cing-sun hendak membangunkan orang. Tak terduga tubuh Cui Pek-khe ternyata tak dapat ditarik, sebaliknya seperti terpaku di lantai, sedikit pun tidak bergerak.

Diam-diam Cing-sun membatin, “Bagus kau setan arak ini, begini lihai kepandaianmu, tapi selama ini aku telah kau tipu.”

Segera ia kerahkan tenaga pada kedua tangannya dan diangkat ke atas.

Pek-khe tidak bertahan lagi dengan Lwekangnya, tapi lantas berdiri mengikuti daya tarikan orang. Namun baru saja berdiri tegak, terasalah tulang seluruh tubuhnya seakan-akan retak, sakitnya tak terkatakan.

Ia tahu Toan Cing-sun sengaja hendak menghajarnya sebagai ganjaran perbuatannya itu. Dasar namanya adalah “Pek-khe” atau beratus akal, otaknya memang benar-benar cerdas. Ia pikir bila mengerahkan tenaga untuk melawan, tentu rasa dongkol Tin-lam-ong takkan hilang, boleh jadi malah akan mencurigai dirinya sengaja menyelundup ke dalam istana pangeran dengan muslihat tertentu.

Sebab itulah, ia biarkan dirinya digencet oleh tenaga dalam orang terus menjatuhkan diri duduk di lantai sambil berseru, “Aduh!”

Cing-sun tersenyum puas dan menarik bangun orang, ketika tangan menempel tubuh Cui Pek-khe, sekalian ia hapuskan rasa sesak dada orang dengan Lwekangnya.

“Tin-lam-ong,” kata Pek-khe kemudian, “karena terdesak musuh, tiada jalan lain terpaksa Pek-khe dengan tidak malu-malu berlindung di bawah pengaruh Ongya dan beruntung dapat hidup sampai hari ini. Untuk itu Pek-khe tidak pernah mengaku terus terang pada Ongya, maka sangat mengharapkan kemurahan hati Ongya untuk memaafkan perbuatanku yang lancang ini.”

“Ah, Cui-heng suka merendah diri saja,” tiba-tiba Ko Sing-thay menyela sebelum Toan Cing-sun menjawab. “Sudah lama Ongya mengetahui asal usulmu, cuma Ongya sengaja tidak mau bikin malu Cui-heng. Jangankan Ongya sudah tahu, orang-orang yang lain juga banyak yang tahu. Misalnya tempo hari waktu Toan-kongcu menerima tantangan Lam-hay-gok-sin, bukankah Cui-heng yang diseretnya keluar untuk diaku sebagai gurunya? Sebab Toan-kongcu juga tahu, hanya Cui-heng saja yang mampu menandingi iblis itu.”

Padahal tempo hari hanya secara kebetulan saja Toan Ki telah menyeret keluar Cui Pek-khe untuk diaku sebagai gurunya, sebab di antara penghuni istana itu, hanya wajah Cui Pek-khe yang paling jelek dan lucu, makanya diseret keluar untuk menggoda Lam-hay-gok-sin. Namun kini bagi pendengaran Cui Pek-khe, ia percaya penuh kejadian mana seperti apa yang dikatakan Ko Sing-thay.

Lalu Sing-thay melanjutkan lagi, “Dasar Ongya memang suka bergurau, jangankan Cui-heng memang tiada bermaksud jahat terhadap negeri Tayli kami, sekalipun ada, tentu juga Ongya yang bijaksana akan melayanimu dengan segala kebesaran jiwanya. Maka tidak perlu Cui-heng banyak adat lagi.”

Di balik kata-katanya ini seakan-akan hendak menyatakan bahwa syukurlah selama ini kelakuanmu tidak mengunjuk sesuatu tanda mencurigakan, kalau ada, tentu sudah lama kau dibereskan.

“Namun demikian, apa maksud Pek-khe berlindung di dalam Onghu, pada sebelum mohon diri, adalah pantas kujelaskan dulu, kalau tidak, rasanya terlalu tidak jujur,” demikian kata Cui Pek-khe. “Cuma urusan ini banyak pula menyangkut nama orang lain, maka terpaksa harus kubicara secara terus terang.”

“Ah, rasanya Cui-heng tidak perlu tergesa-gesa, soal sakit hati adalah sangat penting, biarlah dirundingkan nanti setelah selesai perjamuan ini,” ujar Cing-sun.

Mendengar percakapan itu, para hadirin adalah kesatria Kangouw yang kenal adat, maka cepat mereka selesaikan makan-minum itu, lalu sama mohon diri.

Terhadap kawan Kangouw, biasanya Cing-sun sangat terbuka, maka begitu para tamu hendak mohon diri, segera ada pelayan menyediakan hadiah dan Cing-sun sendiri yang menyampaikan kepada masing-masing tetamu itu. Terhadap tamu dari jauh seperti Kim Tay-peng, Su An dan lain-lain malah diberi bekal sangu pula.

Dengan tanpa rikuh para kesatria itu menerima juga pemberian itu serta mengaturkan terima kasih pada tuan rumah.

Tengah bicara, tiba-tiba di luar pintu terdengar suara sabda Buddha yang nyaring, “Omitohud!”

Suara itu tidak keras, tapi terdengar sangat jelas seperti diucapkan berhadapan. Keruan semua orang terkejut.

Harus diketahui bahwa istana pangeran itu sangat luas, dari pintu gerbang sampai ruangan pendopo itu jaraknya ada berpuluh tombak jauhnya, di tengah banyak teraling oleh dinding dan pintu lain. Maka dapat diduga bahwa ilmu “Jian-li-thoan-im” atau mengirim gelombang suara dari jarak ribuan li yang dimiliki orang di luar itu sesungguhnya sudah mencapai tingkatan sangat tinggi.

Cing-sun dapat mendengar bahwa ilmu mengirim suara dari jauh itu adalah dari aliran Siau-lim-pay, maka ia lantas menegur, “Padri sakti Siau-lim manakah yang sudi berkunjung kemari, maafkan kalau Toan Cing-sun tidak menyambut sebelumnya!”

Sembari berkata, segera ia bertindak keluar untuk menyambut.

Sampai di luar, tertampaklah seorang Hwesio kurus kering, berusia antara 50-an, sedang berdiri di situ. Melihat Cing-sun, padri itu lantas merangkap tangan memberi salam dan berkata, “Hui-cin dari Siau-lim-si memberi hormat pada Toan-ongya.”

Tengah Cing-sun membalas hormat orang, dari belakang muncul Hui-sian dan segera menegur dengan heran, “He, Suheng, engkau juga datang ke Tayli sini?”

Melihat sang Sute, tiba-tiba mata Hui-cin lantas merah basah, sahutnya dengan pedih, “Sute, Suhu sudah wafat!”

Meski sudah menjadi murid Buddha, namun sifat Hui-sian masih mudah terguncang, demi mendengar berita buruk itu, terus ia berlari maju dan memegang tangan sang Suheng sambil menegas dengan suara gemetar, “Bet … betulkah katamu?”

Belum lagi Hui-cin menjawab, air matanya sudah lantas bercucuran.

“Tidak beruntung kami dirundung malang, maka kami telah berlaku kurang adat di hadapan Ongya, hendaklah Ongya jangan marah,” demikian pinta Hui-cin.

“Ah, kenapa Taysu berlaku sungkan,” cepat Cing-sun menjawab. Diam-diam ia pun membatin, “Guru Hui-sian dan Hui-cin ini adalah Hian-pi Taysu yang kabarnya amat hebat ilmu silatnya, jika demikian, jago Siau-lim-pay yang terkemuka kini telah hilang satu lagi.”

Lalu terdengar Hui-sian tanya pula dengan suara parau, “Sakit apakah Suhu hingga beliau wafat? Bukankah selama ini kesehatan beliau sangat baik?”

Melihat di depan ramai orang berlalu-lalang, banyak kesatria Bu-lim yang pergi-datang, maka Hui-cin berkata pula, “Ongya, atas perintah Ciangbun Supek hendak menyampaikan surat kepada Ongya sendiri serta Hongya (baginda raja).”

Ia lantas mengeluarkan satu buntelan kertas minyak, ia buka berlapis-lapis kertas itu, akhirnya tertampaklah sepucuk surat dengan sampul warna kuning dan diserahkan kepada Toan Cing-sun.

“Kebetulan Hong-heng berada di sini, marilah kuperkenalkan Taysu kepadanya,” kata Cing-sun. Segera ia membawa Hui-cin dan Hui-sian ke dalam.

Tatkala itu Po-ting-te sudah undurkan diri dan sedang istirahat di ruangan dalam sambil minum dan mengobrol dengan Ui-bi-ceng. Melihat datangnya Hui-cin, segera mereka berbangkit untuk menyambut.

Setelah Cing-sun menyerahkan sampul surat yang diterimanya tadi, Po-ting-te membuka dan membacanya. Ia lihat awal surat itu penuh tertulis kalimat yang menyatakan kekaguman dan pujian atas nama keluarga Toan mereka, kemudian ketika sampai pada soal pokok, surat menyatakan bahwa dunia persilatan bakal tertimpa malapetaka maka diharapkan campur tangan kedua saudara Toan itu demi menyelamatkan dunia persilatan umumnya, tentang hal-hal yang lebih jelas supaya tanya kepada Hui-cin yang membawa surat ini. Penanda tangan surat adalah Ciangbun Hongtiang dari Siau-lim-si, Hian-cu.

Po-ting-te membaca habis surat itu sambil berdiri sebagai tanda hormat kepada Siau-lim-si. Sedang Hui-cin dan Hui-sian juga ikut berdiri di samping dengan sikap sangat hormat.

Kemudian Po-ting-te berkata, “Silakan kedua Taysu duduk. Jika Siau-lim Hongtiang ada panggilan, sebagai sesama orang Bu-lim, asal dapat, tentu aku akan menurut dan berusaha sekuat tenaga.”

Tiba-tiba Hui-cin berlutut ke hadapan Po-ting-te dan menjura sambil menangis sedih sekali. Melihat kelakuan sang Suheng itu, meski bingung, mau tak mau Hui-sian ikut berlutut juga.

Melihat padri Siau-lim-si itu menjalankan penghormatan sebesar itu padanya, diam-diam Po-ting-te merasa urusan agak ganjil, pikirnya, “Jago Siau-lim-si jumlahnya sukar dihitung, urusan besar apakah yang tak dapat diselesaikan mereka hingga perlu minta bantuanku secara sungguh-sungguh begini?”

Segera ia membangunkan Hui-cin berdua dan berkata pula, “Sesama kaum Bu-lim, aku tidak berani menerima penghormatan setinggi ini.”

“Suhuku tewas di tangan orang she Buyung dari Koh-soh, melulu tenaga Siau-lim-pay kami rasanya susah membalas sakit hati itu, maka Hongya dimohon sudi tampil untuk mengamankan situasi gawat dalam Bu-lim ini,” demikian pinta Hui-cin dengan menangis.

Kembali nama “Buyung” disebut, air mula Po-ting-te rada berubah. Sebaliknya, Hui-sian lantas berteriak sambil menangis, “Jadi Suhu telah dibinasakan musuh itu? Suheng, marilah kita adu jiwa dengan mereka!”

“Sute,” sahut Hui-cin dengan menarik muka, “di hadapan Hongya, hendaklah berlaku tenang.”

Perawatan Hui-cin kurus kecil, sebaliknya Hui-sian tinggi kekar, namun takut juga dia terhadap sang Suheng, karena omelan itu, ia tidak berani buka suara lagi, tapi tetap terguguk menangis perlahan.

“Silakan kalian duduk dulu untuk bicara lebih lanjut,” kata Po-ting-te kemudian. “Lebih 20 tahun yang lalu pernah kudengar bahwa di Koh-soh ada seorang tokoh she Buyung, lengkapnya bernama Buyung Bok. Dia pernah mengacau ke Siau-lim-si, apakah sekarang juga orang itu yang berbuat?”

Dengan mengertak gigi saking gemasnya, Hui-cin menjawab, “Siauceng cuma tahu musuh memang she Buyung, namanya apa, itulah kurang jelas.”

“Siau-lim-pay adalah suatu aliran terkemuka di kalangan Bu-lim, di jagat ini siapa yang tidak tunduk pada nama kebesarannya, gurumu Hian-pi Taysu juga sudah mencapai puncaknya melatih Lwekang dan Gwakang, sebagai seorang Cut-keh-lang (penganut agama), biasanya ia tidak pernah bermusuhan dengan siapa pun, mengapa kini bisa dibunuh orang lain?”

Maka bertuturlah Hui-cin dengan air mata berlinang, “Suatu hari, selagi Siauceng duduk semadi di kamar sendiri, tiba-tiba Siauceng dipanggil Hongtiang Supek, ketika sampai di sana, jenazah Suhu sudah tampak tertaruh di situ. Kata Supek jenazah Suhu diketemukan orang kampung di kaki gunung, karena dikenal sebagai padri Siau-lim-si, segera ada yang mengirim kabar ke kuil, sebab itulah, cara bagaimana Suhu ditewaskan musuh dan siapa nama pembunuhnya, sampai sekarang belum jelas diselidiki.”

Sejak tadi Ui-bi-ceng hanya mendengarkan saja, kini tiba-tiba menyela, “Bukankah tewasnya Hian-pi Taysu disebabkan dadanya terkena serangan ‘Kim-kong-co’?”

Hui-cin terkejut, tanyanya, “Dugaan Taysu memang tepat, entah dari … dari mana Taysu mengetahuinya?”

“Sudah lama kudengar ilmu Kim-kong-co Hian-pi Taysu terhitung salah satu ilmu silat khas yang tiada tandingannya di Bu-lim, siapa yang terkena serangannya, semua tulang iganya akan patah. Ilmu silat demikian memang lihai sekali, namun sesungguhnya agak terlalu ganas, tidaklah sesuai untuk dipelajari oleh murid Buddha kita.”

“Ya, benar, kepandaian begitu sesungguhnya terlalu ganas,” tiba-tiba Toan Ki ikut menimbrung.

Mendengar guru mereka dikritik Ui-bi-ceng, Hui-cin dan Hui-sian menjadi kurang senang, tapi betapa pun juga orang terhitung padri saleh angkatan tua, mereka cuma kurang senang karena Toan Ki ikut mengoceh, tanpa terasa mereka sama melototi pemuda itu. Namun Toan Ki anggap tidak lihat dan tak gubris.

“Dari mana Suheng mengetahui Hian-pi Taysu ditewaskan oleh ‘Kim-kong-co’?” tiba-tiba Cing-sun ikut bertanya.

Ui-bi-ceng menghela napas, sahutnya, “Ketua Siau-lim-si, Hian-cu Taysu, begitu melihat jenazah Sutenya lantas menduga pasti pembunuhnya adalah keluarga Buyung dari Koh-soh. Toan-jite, orang-orang she Buyung itu terkenal suka menggunakan istilah ‘dengan kepandaiannya, digunakan di atas dirinya’. Pernah kau dengar tidak ungkapan itu?”

Cing-sun menggeleng kepala tanda tidak tahu.

Ui-bi-ceng mengulangi lagi ungkapan kata-kata tersohor dari keluarga Buyung itu, mendadak terkilas rasa jeri pada wajahnya.

Po-ting-te dan Toan Cing-sun sudah kenal padri itu selama berpuluh tahun lamanya, tapi selama ini tidak pernah melihat dia mengunjuk rasa jeri seperti sekarang. Seperti waktu padri itu melawan Yan-king Taycu secara mati-matian, meski hampir keok, namun dalam keadaan terdesak sedikit pun ia tidak khawatir, bahkan tetap bersikap tenang sewajarnya. Tapi kini belum lihat musuhnya sudah mengunjuk rasa jeri, maka dapat dibayangkan pihak lawan pasti bukan orang sembarangan.

Untuk sejenak keadaan ruangan menjadi hening lelap. Selang sebentar, perlahan Ui-bi-ceng berkata lagi, “Kudengar di dunia ini memang ada seorang tokoh kelas satu bernama Buyung Bok. Ia sengaja memakai nama ‘Bok’ (luas), dengan sendirinya ilmu silatnya pasti sangat luas peyakinannya. Agaknya tidak peduli Kungfu khas lihai dari aliran dan golongan Bu-lim mana pun pasti dipelajarinya dengan baik, bahkan jauh lebih mahir daripada pemiliknya sendiri. Dan yang paling aneh, setiap kali ia hendak membinasakan lawannya, tentu ia gunakan ilmu silat andalan sang korban itu untuk membunuhnya.”

“Ini sungguh sukar dimengerti,” Toan Ki ikut berkata. “Padahal di dunia ini ada sekian banyak ilmu silat yang berbeda, masakah dia dapat mempelajarinya dengan lengkap?”

“Apa yang dikatakan Toan-kongcu ada benarnya juga,” sahut Ui-bi-ceng. “Ilmu adalah sesuatu yang tiada batasnya, cara bagaimana orang bisa lengkap mempelajarinya? Akan tetapi musuh Buyung Bok memang sangat banyak dan untuk membalas dendam, sebelum dia mahir mempelajarinya, dia tidak mau sembarangan turun tangan.”

“Ya, aku pun pernah mendengar ada seorang tokoh aneh seperti itu di Tionggoan,” kata Po-ting-te. “Lok-si-sam-hiong (tiga jago she Lok) dari Hopak mahir menggunakan Hui-cui (gurdi terbang), tapi akhirnya mereka bertiga tewas terkena Hui-cui yang mereka andalkan itu. Ciang-hi Tojin dari Soatang bila membunuh orang suka memotong dulu anggota badan musuh agar merintih-rintih setengah harian baru dibinasakan olehnya. Tapi Ciang-hi Tojin sendiri akhirnya juga mengalami nasib kesukaannya itu. Sebabnya Buyung Bok dikenal suka menggunakan ungkapan memakai kepandaiannya dan digunakan atas dirinya justru tersohor dari mulut Ciang-hi Tojin itu.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Waktu itu, di tengah pasar Celam, entah betapa banyak orang merubung Ciang-hi Tojin yang menggeletak di tanah sambil berteriak merintih kesakitan.”

Bicara sampai di sini, lamat-lamat terbayang olehnya keadaan waktu ajal Ciang-hi Tojin yang mengerikan itu, maka wajahnya menampilkan rasa kurang senang pada orang yang membunuh secara kejam begitu.

Tiba-tiba Cing-sun ingat sesuatu, katanya, “Jika begitu, guru Ko-tayhiap, Kwa Pek-hwe, kabarnya mahir menggunakan cambuk. Pada waktu membunuh musuh ia sering menggunakan cambuknya untuk melilit leher lawan hingga sesat napasnya dan akhirnya mati. Jangan-jangan dia … dia ….” tiba-tiba ia berhenti, ia memanggil seorang pelayan dan memberi perintah, “Pergilah ke belakang dan panggil Cui-siansing dan Ko-tayhiap ke sini, katakan aku ingin berunding dengan mereka.”

Pelayan itu mengiakan, tapi tampak ragu dan tidak lantas bertindak pergi. Maka dengan tertawa Toan Ki berkata, “Cui-siansing itu sama dengan Ho-siansing, si juru tulis kantor itu.”

Mendengar penjelasan itu, si pelayan mengiakan dan segera bertindak ke belakang. Maka tidak lama Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci sudah diundang keluar.

“Ko-tayhiap,” segera Cing-sun bicara, “ada sesuatu pertanyaanku, lebih dulu harap dimaafkan.”

“Ongya tidak perlu sungkan-sungkan, katakanlah,” sahut Gan-ci.

“Tolong tanya, bagaimana gurumu Kwa-locianpwe itu ditewaskan orang? Apakah karena terluka oleh senjata atau terkena pukulan dan tendangan?” tanya Cing-sun.

Mendadak wajah Ko Gan-ci berubah merah jengah, setelah ragu sejenak, akhirnya ia menjawab, “Guruku justru tewas … tewas di bawah serangan cambuk dengan tipu ‘Leng-coa-sian-keng’ (ular gesit melilit leher).”

Mendengar keterangan itu, tanpa terasa Po-ting-te, Toan Cing-sun, Ko Sing-thay dan lain-lain saling pandang dengan terkesiap.

Tiba,-tiba Hui-cin melangkah maju ke depan Cui Pek-khe dan Ko Gan-ci, ia memberi hormat dengan merangkap tangan, lalu berkata, “Ternyata Siauceng berdua mempunyai musuh yang sama dengan kalian berdua, bila musuh she Buyung dari Koh-soh itu tak dihancurkan ….” berkata sampai di sini ia menjadi ragu-ragu apakah yakin pasti dapat membasmi musuh yang lihai itu, namun akhirnya ia kertak gigi dengan penuh dendam, lalu melanjutkan, “Ya, pendek kata Siauceng sudah bertekad mengadu jiwa dengan dia.”

“Jadi … jadi Siau-lim-pay juga mengikat permusuhan dengan orang she Buyung dari Koh-soh itu?” tanya Ko Gan-ci dengan mengembeng air mata.

Hui-ciri mengangguk, lalu ia pun menceritakan dengan ringkas cara bagaimana gurunya tewas di bawah tangan orang she Buyung itu.

Melihat Ko Gan-ci penuh rasa dendam dari berduka, sebaliknya sikap Cui Pek-khe tampak lesu, kepala menunduk dan bungkam seakan-akan sakit hati sang Suheng yang terbunuh itu sama sekali tak terpikir olehnya, diam-diam Po-ting-te merasa heran perbedaan sikap kedua tokoh Ko-san-pay itu.

Watak Hui-sian keras dan jujur, melihat sikap Cui Pek-khe yang acuh tak acuh itu, ia tak tahan lagi, ia lantas menegur, “Cui-siansing, kenapa engkau diam saja? Apakah engkau takut pada manusia she Buyung itu?”

“Sute, jangan kurang sopan?” cepat Hui-cin membentak.

Harus diketahui bahwa sesudah Kwa Pek-hwe meninggal, dengan sendirinya Cui Pek-khe akan menjadi ketua Ko-san-pay yang sekarang. Sedangkan Ko-san-pay adalah tetangga Siau-lim-si. Sebabnya dahulu cikal bakal Ko-san-pay dapat tancap kaki dan mendirikan perguruan di samping Siau-lim-pay, sudah tentu orangnya mempunyai ilmu kepandaian tersendiri yang lain daripada yang lain. Apalagi nama Kwa Pek-hwe dan Ko Gan-ci paling akhir ini sangat menonjol di kalangan Bu-lim, dengan sendirinya derajat Cui Pek-khe dalam dunia persilatan juga tidak boleh dipandang rendah.

Tak tersangka, meski ditegur dengan ucapan yang agak menghina, namun Cui Pek-khe malah celingukan ke sana dan ke sini seperti maling kesiangan, seakan-akan ada yang sedang mengubernya, sikapnya itu penuh mengunjuk rasa ketakutan.

Tiba-tiba Ui-bi-ceng berdehem perlahan, lalu berkata, “Apakah orang itu ….”

Baru tercetus kata-kata “orang itu” dari mulut padri itu, sekonyong-konyong Cui Pek-khe bergemetar dan melompat ke belakang hingga sebuah meja teh di sampingnya tersampuk dan terjungkir balik, mangkuk dan cangkir pun pecah berantakan.

Setelah tenangkan diri dan melihat sorot mata semua orang dipusatkan ke arahnya, wajah Cui Pek-khe menjadi merah jengah, cepat katanya dengan gugup, “O, ma … maaf, maafkan!”

Mau tak mau Ko Gan-ci berkerut kening melihat kelakuan sang Susiok yang tak dapat dipuji itu, segera ia membantu membersihkan pecahan mangkuk dan cangkir itu.

Diam-diam Toan Cing-sun bersungut juga, sungguh tak tersangka olehnya bahwa Cui Pek-khe itu ternyata seorang penakut. Segera ia berkata pada Ui-bi-ceng, “Suheng, apa yang hendak kau katakan?”

“Orang itu …” Ui-bi-ceng menghirup seceguk teh dulu, lalu menyambung dengan kalem, “maksudku Buyung Bok itu, apakah orang itu pernah dilihat oleh Cui-sicu?”

Mendengar nama “Buyung Bok”, mendadak Cui Pek-khe menjerit kaget sambil memegangi meja, sahutnya dengan suara gemetar, “O, ti … tidak … tidak pernah kulihatnya.”

Melihat sikap orang yang pengecut itu, segera Hui-sian ikut berteriak, “Sebenarnya Cui-siansing pernah melihat Buyung Bok atau tidak?”

Cui Pek-khe termangu-mangu memandang jauh ke depan seperti orang linglung. Sampai agak lama baru ia jawab dengan suara gelagapan, “Ti … tidak … eh … seperti ti … tidak pernah melihatnya.”

Cing-sun dan lain-lain menggeleng kepala melihat kelakuan tokoh Ko-san-pay itu. Diam-diam Ko Gan-ci juga merasa malu, sungguh tak tersangka olehnya bahwa sang Susiok yang biasanya sangat dihormati itu ternyata membikin malu saja di depan orang banyak.

“Loceng sendiri pernah juga mengalami suatu kejadian, biarlah kuceritakan agar bisa dibuat bahan pertimbangkan hadirin,” demikian tutur Ui-bi-ceng. “Peristiwa ini terjadi pada 43 tahun yang lalu. Tatkala itu usiaku masih muda, tenaga kuat, belum lama berkelana di Kangouw, namun sedikit-sedikit sudah terkenal. Sungguh waktu itu aku seperti anak banteng yang tidak kenal harimau, belum kenal apa artinya takut. Aku merasa di dunia ini kecuali guruku tiada orang lain lagi yang berkepandaian lebih tinggi daripadaku.

“Tahun itu aku mengawal seorang pembesar yang pensiun pulang ke kampung halamannya bersama keluarganya. Di tengah jalan aku dicegat oleh empat begal besar. Tujuan begal-begal itu ternyata bukan harta, tapi begitu maju lantas hendak menggondol putri kesayangan pembesar itu. Sebagai pemuda yang berdarah muda, sudah tentu aku tidak bisa mengampuni perbuatan mereka, sekali menyerang kugunakan tipu ganas, dengan Kim-kong-ci telah kubinasakan keempat begal itu, setiap orang kututuk ulu hatinya, tanpa bersuara sedikit pun mereka sama menggeletak binasa.

“Dan saat itulah kudengar suara derap kuda berdetak-detak, ada dua penunggang keledai tampak lewat di sampingku. Dasar watak orang muda, waktu itu aku sedang membual di hadapan pembesar yang kukawal itu tentang betapa lihainya Kungfu Kim-kong-ci yang menjadi andalanku itu, kataku biar musuh datang lagi sepuluh atau dua puluh orang juga akan kubinasakan satu per satu dengan Kim-kong-ci.

“Tiba-tiba kudengar salah seorang penunggang keledai itu mendengus sekali, suaranya seperti kaum wanita, tapi nada dengusan itu penuh mengunjuk rasa hina dan memandang rendah. Waktu atau menoleh, kiranya penunggang keledai itu memang benar orang perempuan, yang seorang muda cantik, usianya sekitar 32 atau 33 tahun, seorang lagi adalah anak kecil berumur 12-13 tahun yang bermuka putih bersih menyenangkan. Kedua orang itu sama-sama berpakaian berkabung warna putih. Kudengar si anak sedang berkata pada wanita muda itu, ‘Mak, apanya yang hebat Kim-kong-ci itu, huh, dasar pembual!’

Adapun asal usul Ui-bi-ceng sendiri, kecuali Po-ting-te berdua saudara, orang lain tiada yang tahu. Tapi ketika dia menggunakan tenaga jari Kim-kong-ci untuk menggores batu melawan Yan-king Taycu di Ban-jiat-kok tempo hari, kejadian itu telah disaksikan orang banyak serta sudah menggemparkan kalangan Bu-lim, terutama mengenai Kim-kong-ci-lik yang lihai luar biasa itu.

Maka kini demi mendengar ceritanya tentang ucapan anak kecil itu, mereka sama menganggap anak itu mengoceh tak keruan saja.

Tak tersangka Ui-bi-ceng lantas menghela napas, lalu menyambung ceritanya, “Tatkala itu meski aku mendongkol mendengar ucapan itu, tapi aku pikir ocehan seorang bocah ingusan, buat apa diurus. Maka aku hanya mendelik sekali saja pada anak itu dan tidak menggubrisnya.

“Siapa duga wanita muda berbaju putih itu lantas mengomeli anak itu, ‘Kim-kong-ci orang ini memang ajaran asli Tat-mo-ih Hokkian Siau-lim-si, sedikitnya sudah tiga bagian cukup masak. Anak kecil tahu apa? Biar kau pun tidak sejitu jarinya itu.’

“Sudah tentu aku tambah kaget dan gusar. Padahal asal usul perguruanku jarang diketahui orang Kangouw, tapi nyonya muda ini dengan jitu dapat membuka rahasia diriku. Sedang aku punya Kim-kong-ci dikatakan cuma mencapai tiga bagian masak, sudah tentu aku tidak terima. Ai, sesungguhnya waktu itu aku sendiri memang masih hijau, tiga bagian masak bagiku sebenarnya sudah berlebihan, tapi dalam gusarku segera aku membentak, ‘Siapakah she nyonya yang terhormat ini? Jika merasa Kini-kong-ci-likku masih cetek, marilah coba-coba memberi petunjuk barang sejurus-dua?’

“Nyonya itu tidak menyahut, sebaliknya anak kecil itu segera hentikan keledainya dan hendak menjawab. Namun mata nyonya itu tiba-tiba mengembeng air mata, katanya, ‘Pesan apa yang ditinggalkan ayahmu sebelum wafat? Masa sudah kau lupakan?’ Anak kecil itu menjawab, ‘Ya, anak tidak berani melupakannya.’ Habis itu, keledai mereka lantas dilarikan ke depan dengan cepat.

“Tapi semakin kupikir, aku semakin penasaran karena diolok-olok. Segera kularikan kuda dan menyusul mereka sambil berseru ‘Hai! Kau berani sembarangan mengoceh mencela ilmu silat orang, tanpa coba-coba dulu barang beberapa jurus lantas hendak mengeluyur pergi begini saja?’

“Kuda tungganganku adalah kuda pilihan, maka dalam sekejap aku dapat melampaui dan mengadang di depan mereka. ‘Lihatlah, karena ocehanmu orang telah marah.’, demikian nyonya itu mengomeli anaknya. Rupanya bocah itu sangat penurut dan berbakti pada orang tua, ia tidak berani memandang padaku lagi.

“Dan karena melihat mereka jeri padaku, kupikir tidaklah pantas aku berkelahi dengan anak kecil dan orang perempuan karena urusan sepele. Tapi bila dari nada ucapan nyonya itu tadi agaknya anak itu pun mahir Kim-kong-ci-lik. Padahal ilmu ini sudah 20 tahun kulatih dengan susah payah, masakah anak kecil itu juga bisa? Ah, tentu bualan belaka! Karena pikiran itu, aku membentak pula, ‘Baiklah, hari ini biar kulepaskan kalian, tapi selanjutnya kalau bicara hendaklah hati-hati.’

“Nyonya muda itu masih tetap tidak memandang sekejap pun padaku, katanya pada anaknya, ‘Nah, apa yang dikatakan paman ini memang benar, selanjutnya kalau bicara harus hati-hati!’

“Jika urusan diakhiri sampai di situ saja, bukankah kedua pihak sama-sama tidak kehilangan muka? Tapi waktu itu aku masih berdarah muda, ketika aku menarik kuda ke samping jalan, segera nyonya itu keprak keledainya jalan lebih dulu. Waktu anak itu pun larikan keledainya lewat di depanku, dengan tertawa aku ayun cambuk menyabet bokong keledainya sambil berkata, ‘Cepat sedikit!’

“Sungguh tak terduga, ketika cambukku masih jauh dari bokong keledai orang; tiba-tiba terdengar suara ‘cus’ sekali, tahu-tahu anak itu menoleh dan tenaga jarinya lantas menyambar dari jauh, kontan cambukku patah menjadi dua. Sungguh kagetku bukan buatan. Aku menaksir kalau bicara tentang tenaga jari, sama sekali aku tidak mampu menandingi anak itu.

“Tiba-tiba terdengar nyonya muda tadi berkata, ‘Sekali sudah turun tangan jangan kepalang tanggung lagi!’ Anak itu mengiakan terus melompat turun dari keledainya, tanpa bicara lagi ia acungkan jarinya dan menutuk betis kakiku.

“Perlu diketahui bahwa tubuh anak itu pendek, pula aku menunggang kuda, maka jarinya cuma bisa mencapai betis kakiku saja. Tapi gerak serangannya ternyata sangat bagus dan memang benar-benar Kim-kong-ci tulen. Cepat kulompat turun, sedikit pun aku tidak berani ayal dan menempurnya dengan Kim-kong-ci.

“Dan sesudah bergebrak, semakin lama semakin jeri hatiku. Ilmu jari anak itu belum dapat dikatakan mahir betul, bahkan terkadang tampak salah menggunakannya, namun di mana tenaga jarinya sampai, suaranya sungguh mengejutkan, maka aku tidak berani menangkis berhadapan. Kira-kira sampai jurus kesembilan, ‘cus’, terasa dada kiriku sakit, tenagaku pun hilang seketika.

Bicara sampai di sini Ui-bi-ceng membuka jubahnya hingga tertampak tulang iganya yang berderek-derek kurus itu. Semua orang kaget melihat keadaan dada padri itu. Ternyata tepat di atas jantung di dada kiri terdapat sebuah lubang sedalam dua-tiga senti. Meski lubang bekas luka itu sudah sembuh, tapi dapat dibayangkan betapa parahnya luka itu dahulu. Anehnya, meski luka itu terang begitu dalam dan tepat di tempat jantung tapi toh padri itu tidak tewas dan masih hidup sampai sekarang.

Ui-bi-ceng lantas tunjuk dada sebelah kanan dan berkata, “Coba lihat!”

Ternyata dada kanan padri itu tampak bergerak-gerak. Baru sekarang semua orang tahu bahwa pembawaan tubuh padri itu ternyata berbeda daripada manusia umumnya. Jantungnya justru terletak di dada kanan dan tidak di sebelah kiri. Makanya terluka parah pun tidak mati.

Setelah Ui-bi-ceng mengenakan kembali jubahnya, kemudian katanya pula, “Orang yang jantungnya tumbuh di sebelah kanan memang jarang terdapat. Ketika anak itu melihat aku tidak binasa oleh tutukannya segera ia melompat mundur dengan terheran-heran. Sebaliknya demi melihat darah mengucur dari dada kusangka jiwaku tak bisa diselamatkan, aku menjadi nekat dan memaki. ‘Bangsat cilik, katanya kau mahir Kim-kong-ci, tapi hm, adakah Kim-kong-ci Tat-mo-ih dapat melukai lawannya dan orangnya tidak binasa?’

Segera anak itu melompat maju hendak menyerang pula. Tatkala itu aku sudah lemas dan tak bisa melawannya lagi, terpaksa tinggal menunggu ajal saja. Tak tersangka cambuk si nyonya muda lantas bekerja, dengan perlahan pinggang anak itu dililit dan ditarik kembali dan didudukkan di atas keledainya lagi.

“Dalam keadaan kesima lamat-lamat kudengar nyonya itu mengomeli anaknya, ‘Keluarga Buyung dari Koh-soh masakah mempunyai keturunan tak becus seperti dirimu ini? Jika Kim-kong-cimu belum terlatih sempurna, tidak boleh kau bunuh dia lagi. Biar kuberi hukuman dalam tujuh hari ….’ Hukuman apa dalam tujuh hari itu, karena aku lantas jatuh pingsan, maka tidak kudengar lagi.”

“Taysu,” tiba-tiba Kim-sui-poa Cui Pek-khe bertanya, “kemudian … kemudian engkau pernah berjumpa lagi tidak dengan mereka?”

“Sungguh memalukan, sejak itu aku lantas putus asa, aku merasa hanya seorang anak kecil saja sudah melebihiku, maka sekalipun aku berlatih selama hidup juga takkan mampu melebihinya,” demikian sambung Ui-bi-ceng. “Maka setelah luka dadaku sembuh, aku lantas meninggalkan Tionggoan dan datang ke Tayli sini untuk bernaung di bawah lindungan Toan-hongya, beberapa tahun kemudian, aku lantas cukur rambut menjadi Hwesio. Selama ini Loceng tenggelam dalam ajaran agama Buddha, tidak pernah pikirkan lagi urusan masa lalu itu. Cuma kalau terkadang ingat, sungguh hatiku masih kebat-kebit, nyaliku benar-benar sudah pecah oleh kejadian dahulu.”

Mendengar cerita itu, semua orang terdiam hingga lama. Rasa memandang hina mereka kepada Cui Pek-khe seketika lenyap. Sebab Ui-bi-ceng yang begitu sakti juga takut pada keluarga Buyung di Koh-soh, maka dapatlah dimengerti bila Cui Pek-khe juga sedemikian jerinya.

Cui Pek-khe dapat merasakan pikiran orang banyak itu, maka katanya, “Dengan kedudukan setinggi Ui-bi Taysu toh bersedia menceritakan apa yang dialaminya dahulu, sebaliknya aku Cui Pek-khe orang macam apa hingga mesti takut malu? Biarlah kuceritakan juga sebab musabab bernaung di istana Tin-lam-ong ini, harap pula hadirin sebentar suka memberi pendapat masing-masing.”

Habis ucapkan kata-kata itu, karena guncangan perasaan, tenggorokannya terasa kering, terus saja ia ceguk habis semangkuk teh yang tersedia untuknya, habis itu, ia sambar pula mangkuk teh yang disediakan untuk Ko Gan-ci dan dituang pula ke kerongkongannya, kemudian barulah ia mulai berkata dengan terputus-putus, “Kejadian … kejadian ini sudah … sudah berlangsung 18 tahun yang lalu ….”

Bicara sampai di sini, tanpa terasa ia memandang ke luar jendela dengan rasa jeri. Setelah tenangkan diri, kemudian ia menyambung, “Di kota Bu-oh terdapat seorang buaya darat she Joa yang jahat dan suka menindas rakyat. Ada seorang sobat Suhengku, segenap keluarganya telah dibunuh oleh buaya darat itu.”

“Susiok, apakah engkau maksudkan si jahanam Joa Ging-toh itu?” sela Ko Gan-ci.

“Benar,” sahut Pek-khe. “Dahulu bilamana Suhumu membicarakan jahanam itu, selalu ia geregetan dan ingin membunuhnya. Cuma gurumu adalah seorang yang baik hati dan patuh pada peraturan, beberapa kali ia coba menggugat kejahatan Joa Ging-toh itu kepada pembesar negeri, tapi karena buaya itu pintar menyogok dan banyak hubungannya dengan kalangan atas, maka pengaduan gurumu itu selalu ditahan oleh pembesar yang bersangkutan.

“Kalau mau, sebenarnya tidak susah bagi gurumu untuk membunuh jahanam she Joa itu. Tapi selamanya gurumu memang orang alim, tidak suka berbuat sesuatu di luar hukum. Sebaliknya berbeda dengan aku Cui Pek-khe ini, dalam hal maling, madon, main, pendek kata segala perbuatan ‘M’, bahkan membunuh sekalipun aku tidak pantang, semuanya kulakoni.

“Maka pada suatu malam, tatkala aku sudah gemas, diam-diam aku menggerayangi rumah jahanam she Joa itu dan sekaligus kusapu bersih seluruh isi keluarganya yang lebih 30 jiwa itu. Aku mulai membunuh dari pintu depan terus sampai taman di belakang, dari penjaga pintu sampai tukang kebun, dari kacung-kacung, babu-babu, semuanya kubunuh, tiada satu pun kuampuni. Ketika sampai di tengah taman belakang, kulihat di balik jendela sebuah loteng masih tampak sinar pelita. Segera kupanjat ke atas loteng itu, kutendang pintu kamarnya hingga terpentang.

“Kiranya loteng itu adalah sebuah kamar tulis, di sekeliling kamar penuh terdapat rak buku. Tampak sepasang muda-mudi sedang duduk menyanding sebuah meja, agaknya asyik membaca sesuatu kitab. Pemuda itu kira-kira berumur 27-28 tahun, tampan dan ganteng. Usia yang pemudi lebih muda, cuma mungkur duduknya, maka mukanya tidak kelihatan, tapi dari bajunya yang dipakai serta potongan tubuhnya yang menggiurkan, dapat dipastikan seorang wanita cantik.

“Sekaligus aku sudah membunuh puluhan orang, semangatku masih berkobar-kobar. Tetapi demi tampak kedua muda-mudi itu, buset, aku menjadi rada heran. Sebab setiap orang di rumah jahanam she Joa itu kasar dan bengis, mengapa mendadak bisa muncul sepasang muda-mudi yang gagah dan cantik itu? Seketika aku terkesima hingga tidak lantas turun tangan membunuh mereka.”

Mendengar sampai di sini, diam-diam Toan Ki mencocokkan cerita Ui-bi-ceng tadi dengan Cui Pek-khe ini. Ui-bi-ceng bilang waktu bertemu dengan anak kecil yang berusia belasan tahun itu adalah 43 tahun yang lalu. Sedang pemuda yang dilihat Cui Pek-khe itu berumur hampir 30 tahun dan terjadi pada 18 tahun yang lampau. Jika demikian, usia pemuda itu dan si anak kecil satu sama lain tidak cocok, terang bukan terdiri dari orang yang sama.

Dalam pada itu Cui Pek-khe sedang melanjutkan, “Dan karena aku tertegun, maka terdengarlah pemuda itu berkata, ‘Niocu (istriku), dari sudut Kui-moay menggeser ke tempat Bu-hong apakah demikian caranya?'”

Mendengar istilah “Kui-moay” dan “Bu-hong” segera Toan Ki paham apa yang dikatakan itu adalah istilah yang terdapat dalam Ih-keng.

Sementara itu Pek-khe sedang menyambung, “Maka tertampaklah si wanita merenung sejenak, lalu berkata, ‘Apabila jalannya miring ke sana, masuk dulu ke sudut Beng-ih, dari situ kemudian berputar ke Soan-wi, coba bisa ditembus tidak?'”

Toan Ki bertambah kaget oleh istilah paling akhir itu, apa yang diuraikan wanita itu terang adalah ilmu gerak langkah “Leng-po-wi-poh” yang pernah dipelajarinya di dasar telaga dulu itu. Cuma tempat-tempat yang dikatakan wanita itu tempatnya kurang tepat. Jangan-jangan wanita itu ada hubungannya dengan patung cantik Enci Dewi itu? Demikian Toan Ki menjadi ragu-ragu.

Sudah tentu Cui Pek-khe tidak tahu pikiran Toan Ki itu, ia meneruskan pula, “Dan karena kedua orang itu masih sibuk terus membicarakan entah isi kitab apa, aku menjadi tak sabar lagi segera aku membentak, ‘Hai, kalian berdua anjing laki-perempuan ini lekas enyah semua!’

“Tak terduga mereka seperti orang tuli saja, bentakanku sama sekali tak digubris, pandangan mereka masih tetap dicurahkan ke dalam kitab mereka. Malah terdengar pula si wanita berkata dengan lemah lembut, ‘Tapi dari sini menuju ke sudut Soan-wi seluruhnya ada sembilan langkah, inilah tidak mungkin tercapai.’

“Saking mendongkol aku lantas membentak lebih keras lagi, ‘Hai, lekas enyah, enyah ke akhirat untuk menemui kakek-moyangmu.’. Dan baru aku hendak menerjang maju, sekonyong-konyong si pemuda bertepuk tangan sambil berseru dengan tertawa, ‘Bagus, bagus! Im sama Kun, kakek-moyang 18 keturunan, hah, 9×2 sama dengan 18, jadi mesti berputar ke sudut Kun, ya, benar, jalan ini sangat tepat.’.

“Sambil bicara, tangan pemuda itu pun menyambar sebuah Swipoa di atas meja, dan entah cara bagaimana, tahu-tahu tiga butir biji Swipoa menyambar kencang ke arahku, seketika aku merasa dada sesak dan kesakitan, tubuhku seakan-akan terpaku dan tak bisa berkutik lagi.

“Habis itu, kedua muda-mudi itu masih tetap tidak gubris padaku, mereka masih tetap tukar pikiran tentang isi kitab, perasaanku menjadi sangat ketakutan. Sebab, hendaklah diketahui bahwa julukanku yang jelek adalah Kim-sui-poa, ke mana pun kupergi selalu membawa sebuah Swipoa terbuat dari emas, dan ke-77 biji Swipoa itu setiap saat dapat kugunakan untuk melukai orang.

Cuma caraku membidikkan biji Swipoa adalah berkat pegas yang terpasang di dalam Swipoa, sebaliknya Swipoa yang dipakai pemuda tadi hanya sebuah Swipoa kayu biasa saja. Ketika aku memandang Swipoa kayu itu, tertampak satu ruji bambu di tengahnya sudah patah, jadi pemuda itu menggunakan tenaga dalamnya untuk mematahkan ruji Swipoa, lalu dengan Lwekang yang mahahebat menimpukkan biji Swipoa ke arahku, sungguh ilmu silat hebat yang sukar dibayangkan.

“Percakapan kedua muda-mudi itu ternyata berlangsung terus dan semakin asyik dengan gembiranya, sebaliknya semakin mendengar aku jadi semakin takut. Pikirku, sudah lebih 30 jiwa di rumah ini kubunuh, sekarang aku justru terpaku tak bisa berkutik di situ, tak bisa bergerak dan tak bisa bicara pula, jika aku mesti membayar jiwaku sendiri karena aku sudah utang jiwa begitu banyak, akan tetapi dengan demikian tentu Suhengku juga akan ikut tersangkut.

“Ada lebih dua jam aku terpaku di situ, tapi rasanya seperti disiksa selama 20 tahun. Kira-kira sudah hampir pagi, terdengar pemuda itu berkata dengan tertawa, ‘Niocu, langkah-langkah ini sungguh sukar kita tembus sekarang, biarlah ditunda saja, marilah kita pergi!’

“Wanita itu menjawab, ‘Kim-sui-poa Cui-losu telah membantumu memecahkan satu langkah bagus, sepantasnya engkau memberi apa-apa sebagai tanda terima kasih padanya!’ Terkejut dan girang rasaku, jadi sejak mula mereka sudah kenal namaku. Maka terdengar yang lelaki sedang berkata, ‘Jika begitu, biarlah jiwanya diberi hidup lebih lama beberapa tahun. Lain kali kalau bertemu lagi tentu tidak ada ampun!’

“Habis bicara, mereka menyimpan kembali kitab yang dibaca itu, lalu bergandengan tangan melayang keluar jendela dengan enteng sekali. Wajah wanita itu tetap tidak terlihat olehku, cuma sebelum pergi, tiba-tiba ia ayun tangan kirinya, lengan bajunya mengebut perlahan pada punggungku hingga Hiat-to terbuka seketika. Waktu kuperiksa dadaku, ternyata baju bagian situ berlubang tiga, dua biji Swipoa tepat terjepit di atas buah dadaku dan biji Swipoa ketiga persis berada di tengah-tengah kedua biji yang lain. Nah, inilah, biar hadirin periksa hiasan di dadaku ini.”

Sembari berkata ia terus membuka baju. Melihat itu, hampir semua orang tertawa geli. Kiranya dua biji Swipoa itu tepat sekali menclok di atas pentil teteknya dan di tengah-tengah kedua pentil menclok, pula sebiji Swipoa yang lain. Kejadian itu sudah belasan tahun yang lalu, tapi biji-biji Swipoa itu ternyata tidak dibuang dari dadanya.

Cui Pek-khe goyang-goyang kepala, ia kancing kembali bajunya, lalu berkata pula, “Deritaku sungguh tidak sedikit karena mencloknya tiga biji Swipoa ini di dadaku. Sebenarnya aku bermaksud mengoreknya keluar dengan pisau, tapi asal tersentuh sedikit saja Hiat-to sendiri, seketika aku jatuh pingsan, untuk mana harus 12 jam kemudian baru bisa sadar dengan sendirinya. Bila perlahan aku mengikir atau menggosoknya dengan kertas ampelas, namun sakitnya tetap tidak kepalang, sungguh aku seperti disiksa oleh kakek-moyang ke-18 turunan! Rupanya sudah nasibku mesti disiksa begini, bila hari mendung dan hawa lembap, ketiga tempat di dadaku ini lantas kesakitan seperti disayat-sayat!”

Mendengar cerita Pek-khe yang lucu dan luar biasa itu, semua orang merasa heran dan geli pula.

Maka Pek-khe melanjutkan pula sambil menghela napas, “Orang itu menyatakan bila lain kali ketemukan aku lagi jiwaku takkan diampuni. Maka jiwaku ini harus kujaga baik-baik, jalan yang paling selamat adalah jangan sampai kepergok lagi dengan dia. Untuk mana terpaksa aku harus kabur jauh-jauh dan menyusup ke dalam istana pangeran di Tayli ini. Kupikir daerah ini jauh terpencil di selatan, orang Bu-lim dari Tionggoan jarang datang kemari. Umpama akhirnya disusul juga oleh keparat anak kura-kura itu ke sini, paling tidak di sini ada Ongya dan Ko-houya serta jago lain, masakah mereka tega berpeluk tangan tidak ikut campur dan menyaksikan jiwaku melayang begitu saja? Selama ini, karena siksaan tiga biji Swipoa di dada ini, bila kesakitan, terpaksa aku minum arak sebanyak-banyaknya untuk melupakan rasa derita yang hebat ini.”

Selesai mendengar cerita Cui Pek-khe, semua orang berpendapat apa yang terjadi itu hampir serupa dengan Ui-bi-ceng, bedanya cuma yang seorang akhirnya menjadi Hwesio dan yang lain mengasingkan diri dengan bersembunyi.

“Ho-siansing,” tiba-tiba Toan Ki tanya, karena sudah biasa memanggil demikian, seketika pemuda itu tak bisa ganti panggilan lain, “habis dari mana engkau mengetahui suami-istri yang kau jumpai itu adalah keluarga Buyung dari Koh-soh?”

Pek-khe garuk-garuk kepala dan menjawab, “Hal itu adalah taksiran Suhengku, sebab setelah melihat ketiga biji Swipoa yang bersarang di dadaku ini, Suheng berpendapat di dunia persilatan cuma keluarga Buyung saja yang memakai kepandaian orang untuk digunakan atas diri orang itu. Dan karena kami yakin tak mampu melawan tokoh keluarga setan iblis itu, jalan paling gampang ialah kabur dan mengkeret seperti kura-kura.”

Sampai di sini, ia berpaling dan berkata kepada Toan Cing-sun, “Nah, Toan-ongya, sekianlah penjelasanku, sekarang aku mohon diri untuk segera berangkat ke Koh-soh.”

“Kau hendak pergi ke sana?” hanya Cing-sun heran.

“Ya,” sahut Pek-khe tegas. “Hubunganku dengan Suheng laksana saudara sekandung. Sakit hati membunuh saudara masakah tidak lekas kubalas? Gan-ci, marilah kita berangkat!”

Habis berkata, ia memberi hormat pada hadirin, lalu bertindak keluar diikuti oleh Ko Gan-ci.

Tindakan Cui Pek-khe itu benar-benar di luar dugaan semua orang. Semula tampaknya sangat ketakutan kepada keluarga Buyung itu. Tapi demi bicara membalas sakit hati sang Suheng, walaupun tahu kepergiannya tidak lebih daripada mengantarkan nyawa, tapi sedikit pun ia tidak gentar lagi. Maka diam-diam semua orang merasa kagum dan tidak dapat mencegah keberangkatannya itu.

Kemudian Hui-cin Hwesio berdiri dan berkata dengan hormat, “Ciangbun Supek telah memberi pesan bahwa Sri Baginda Po-ting-te adalah kaum Cianpwe yang diagungkan, dengan sendirinya kami tidak berani bikin repot, tapi kalau Toan-ongya sudi berkunjung ke kuil kami untuk memberi petunjuk cara bagaimana harus menghadapi orang Buyung dari Koh-soh, hal mana berarti Ongya telah menyelamatkan kaum Bu-lim di Tionggoan dari bencana. Kata Ciangbun Supek pula bahwa beliau seharusnya berkunjung sendiri ke sini untuk minta petunjuk Toan-ongya, cuma utusan kuil kami telah banyak dikirim untuk mengundang para tokoh berbagai aliran terkemuka untuk berkumpul di Siau-lim-si, sebagai tuan rumah, Supek tidak dapat tinggal pergi dan terpaksa tinggal di rumah untuk menantikan kedatangan para kesatria.”

“Kiranya Siau-lim-si bakal mengadakan Enghiong-tay-hwe (pertemuan besar para kesatria), itulah kesempatan yang sukar dicari buat menemui tokoh-tokoh Bu-lim dari Tionggoan, kalau bisa hadir, menggembirakan juga hal itu,” ujar Cing-sun sambil memandang kakak bagindanya untuk memberi keputusan.

Namun dengan kereng Po-ting-te berkata, “Keluarga Toan kami berasal juga dari kalangan Bu-lim di Tionggoan, selama ratusan tahun belum pernah lupa pada sumbernya. Setiap kawan Bu-lim yang datang ke wilayah Tayli sini selalu kami sambut dengan hormat. Tapi leluhur kami ada suatu pesan agar anak-cucunya dilarang ikut campur urusan permusuhan dan bunuh-membunuh di kalangan Bu-lim. Terhadap ilmu silat dan pribadi Hian-cu Taysu selama ini Cing-beng sangat kagum, sayang maksud baiknya itu bertentangan dengan pesan tinggalan leluhur, maka terpaksa tak dapat kami penuhi dan harap saja Hian-cu Taysu suka memaafkan.”

Hui-cin sangat kecewa oleh jawaban itu, sebaliknya Hui-sian lantai berlutut pula sambil berseru, “Untuk membalas sakit hati Suhu, Hui-sian mohon Sri Baginda suka memberi izin kepada Tin-lam-ong pergi ke Siau-lim-si.”

Segera Hui-cin menambahi juga, “Kehadiran Tin-lam-ong ke Siau-lim-si bukanlah untuk bertanding dengan orang Buyung, soalnya cuma mengenai ilmu silat musuh terlalu luas dan aneh, maka Supek sengaja mengundang para kesatria sekadar berkumpul untuk memberi prasaran yang berharga guna mengatasi keganasan orang Buyung itu. It-yang-ci keluarga Toan di Tayli sini adalah ilmu yang tiada bandingan dalam Bu-lim, dalam pertemuan besar di Siau-lim-si nanti kalau tiada hadir ahli waris keluarga Toan berarti belum lengkap dan mungkin tak bisa lagi menandingi orang she Buyung itu.”

Tiba-tiba Po-ting-te kebas lengan jubahnya hingga Hui-sian merasa terangkat bangun oleh tenaga mahabesar, sungguh kagumnya tak terkatakan, serunya segera, “Hongya, sungguh kepandaian yang luar biasa ….”

Sahut Po-ting-te, “Jauh-jauh kalian datang kemari, silakan mengaso dan dahar dulu. Mendengar berita duka gurumu, sungguh aku ikut merasa menyesal. Cuma sayang keluarga Toan telah dipesan leluhur agar jangan ikut campur urusan persengketaan dalam Bu-lim, terpaksa tak dapat kuterima undanganmu, harap dimaafkan.”

Mendengar raja Tayli itu tetap menolak, Hui-cin dan Hui-sian tahu takkan berhasil mengubah pendirian orang, terpaksa mereka mohon diri buat keluar.

Kini ruangan dalam itu hanya tinggal anggota keluarga Toan sendiri, maka Cing-sun lantas berkata, “Hong-heng, ilmu kepandaian keluarga Buyung itu sedemikian hebatnya, seharusnya namanya mengguncangkan dunia, tapi mengapa selama ini jarang terdengar namanya di dalam Bu-lim?”

“Mungkin anggota keluarganya itu jarang keluar rumah, jika bertengkar dengan orang juga belum tentu memperkenalkan nama asli mereka, maka Siau-lim-pay dan Ko-san-pay pun tak tahu siapakah sebenarnya musuh mereka,” demikian sahut Po-ting-te.

“Keputusanmu untuk tidak ikut campur persengketaan itu memang sangat tepat,” Ui-bi-ceng ikut bicara. “Kalau sampai urusan ini menjalar menjadi besar, mungkin dunia persilatan akan banjir darah, entah berapa jiwa manusia akan menjadi korban. Tayli selama ini aman tenteram, negeri makmur, rakyat subur, bila Ongya hadir ke Siau-lim, selanjutnya tentu juga takkan terputus-putus orang Bu-lim akan mencari perkara ke Tayli sini.”

Tengah bicara, tiba-tiba seorang pengawal masuk memberi tahu, “Lapor Ongya, di luar ada seorang Totiang (Tosu, imam agama Tao) mohon bertemu. Katanya kawan lama dari Thian-tay-san.”

Cing-sun sangat girang, katanya, “Hong-heng, tentu Ciok-jing-cu Toheng yang datang!”

Segera ia menyambut keluar dengan langkah lebar.

Ui-bi-ceng saling pandang sekejap dengan Po-ting-te. Tiba-tiba padri itu berdiri dan berkata, “Biarlah aku menyingkir saja.”

“Apakah rasa marah Suheng masa lalu sampai kini masih belum lenyap?” ujar Po-ting-te dengan tersenyum.

Ui-bi-ceng hanya membalas tersenyum saja tanpa menjawab, lalu ia bertindak ke ruangan belakang untuk memeriksa keadaan murid-muridnya yang luka parah.

Selang tak lama, terdengarlah suara tertawa panjang nyaring berkumandang dari luar. Segera Po-ting-te berbangkit dan tertampaklah Cing-sun membawa masuk seorang Tojin berumur antara 50 tahun.

Imam itu berjubah kuning dan berkopiah kuning, bermuka putih, sikapnya gagah. Ia memberi hormat kepada Po-ting-te sambil berseru dengan tertawa, “Saudara Cing-beng, selama beberapa tahun ini engkau hidup jaya dan diagungkan, sungguh hidupmu ini aman tenteram penuh rezeki.”

Po-ting-te membalas hormat dan menjawab dengan tertawa, “Dan kau Gu-pi-cu (hidung kerbau, olok-olok pada kaum Tosu) ini selalu sibuk kian kemari di Kangouw, apa belum merasa capek dan bosan?”

“Hahaha, belum bosan, belum bosan!” sahut Ciok-jing-cu terbahak-bahak. Lalu ia berpaling pada hadirin yang lain, “Hai, saudara Sing-thay, baik-baikkah engkau? Dan kau si maling tukang bongkar kuburan, bagaimana rezekimu sekarang? Wah, cahaya muka Hoan-heng tampak berseri-seri, tentu telah bertambah beberapa putra! Tapi Thian-sik kelihatan makin kurus tinggal kulit membungkus tulang, kalau mengandalkan tubuh sekurus ini untuk menangkan gelar Ginkang nomor satu di dunia rasanya juga kurang cerlang-cemerlang. Eh, tukang pancing, engkau dapat mengait seekor kura-kura atau tidak?”

Begitulah Ciok-jing-cu menegur setiap hadirin yang berada di situ sebagai kawan lama tanpa canggung-canggung.

Toan Ki kenal watak sang paman yang ramah tamah, tapi toh tidak pernah melihatnya bergurau dengan orang. Kini dengan datangnya Tojin itu, seketika suasana di situ menjadi riang, bahkan paman pun menyebutnya sebagai “hidung kerbau”, maka dapat diduga Ciok-jing-cu ini sifatnya sangat jenaka dan disukai orang.

Segera Cing-sun berkata, “Ki-ji, lekas maju memberi hormat! Totiang ini adalah ‘Tang-hong-te-it-kiam’ Ciok-jing-cu yang sering kukatakan padamu itu, betapa tinggi ilmu pedangnya di zaman ini tiada bandingannya.”

Toan Ki menjadi heran, sebab selama ini ia tidak pernah mendengar tentang “Tang-hong-te-it-kiam” atau jago pedang nomor satu di wilayah timur. Tapi ia pun tidak enak untuk bertanya, ia menurut dan melangkah maju untuk menjura.

Dengan tertawa Ciok-jing-cu berkata, “Wah, kacang memang tidak meninggalkan lanjarannya, ayahnya gagah, putranya ternyata juga ganteng tampan. Sebagai keturunan keluarga Toan dari Tayli, tentu ilmu silatnya juga hebat.”

Sembari berkata ia terus ulur kedua tangannya untuk membangunkan Toan Ki dengan maksud sekalian menjajal kepandaiannya.

Keruan yang khawatir adalah Toan Cing-sun, cepat ia berseru, “Hati-hati hidung kerbau, putraku ini tidak pernah belajar ilmu silat apa-apa!”

Belum lenyap suaranya, tangan Ciok-jing-cu sudah menyentuh tangan Toan Ki, mendadak perasaannya tergetar, tenaga dalam yang dikerahkannya tahu-tahu lenyap sirna seperti lempung kecemplung ke laut, bahkan tiba-tiba terasa tangan Toan Ki timbul semacam daya sedot yang sangat kuat untuk mengisap tenaga dalamnya dengan paksa.

Ciok-jing-cu sudah menjelajah ke mana pun, pengetahuan dan pengalamannya sangat luas, dalam kejutnya segera ia menduga, “Bukankah ini Hoa-kang-tay-hoat dari aliran Sing-siok-hay di Kun-lun-san? Keluarga Toan dari Tayli adalah Beng-bun-cing-pay (perguruan terkenal dan aliran baik), kenapa mempelajari ilmu sesat yang dikutuk oleh sesama Bu-lim ini?”

Segera ia pun kerahkan tenaga, tangannya membalik terus menggeblak punggung tangan Toan Ki hingga daya lengket tadi terlepas.

Keruan Toan Ki meringis kesakitan, tulang tangan seakan-akan dipatahkan, pikirnya dengan gusar, “Aku memberi hormat dengan baik padamu, kenapa malah kau pukul aku?”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Ciok-jing-cu menyangka dia menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat” atau ilmu melenyapkan kepandaian orang untuk menyerangnya. Siapa pun yang terkena sedotan Hoa-kang-tay-hoat, seketika antero kepandaian yang pernah dilatihnya akan punah.

Cuma Hoa-kang-tay-hoat memang gunanya untuk melenyapkan ilmu orang hingga sang korban akan kembali seperti orang biasa, jadi merugikan orang dan tidak membawa untung bagi diri sendiri.

Sebaliknya “Cu-hap-sin-kang” yang dimiliki Toan Ki tanpa sadar itu mempunyai khasiat menyedot Lwekang orang untuk memupuk tenaga dalam sendiri, setiap kali jatuh korban, setiap kali pula tenaga dalam sendiri akan bertambah kuat Sebab itulah dalam persentuhan tangan Ciok-jing-cu dan Toan Ki tadi kontan ada sebagian kecil tenaga dalam Ciok-jing-cu telah disedot oleh Toan Ki.

Melihat sikap Ciok-jing-cu itu agak aneh, Po-ting-te dan lain-lain menjadi heran. Cing-sun khawatir juga kalau putra kesayangannya dilukai imam itu, cepat ia mengadang maju dan berkata dengan tertawa, “Sudah sekian lama tidak berjumpa, sekali bertemu, si hidung kerbau hendak memberi hadiah apa kepada putraku ini?”

Berbareng ia sudah bersiap-siap kalau imam itu menyerang lagi. Ia tahu Ciok-jing-cu itu sangat lihai, asal Toan Ki terkena serangannya, kalau tidak mati tentu juga terluka parah.

Maka terdengar Ciok-jing-cu menjawab dengan tertawa dingin, “Huh, It-yang-ci keluarga Toan sudah termasyhur di seluruh jagat, buat apa mesti mempelajari lagi ilmu sesat dari iblis tua Sing-siok-hay?”

“Apa katamu? Ilmu sesat iblis tua Sing-siok-hay? Apa kau maksudkan ‘Hoa-kang-tay-hoat’ itu?” tanya Cing-sun heran. “Dan siapa yang kau katakan mempelajari ilmu itu?”

“Hm, putramu ini telah masuk golongan menyesatkan itu, apa tidak khawatir bikin kotor nama baik keluarga Toan di Tayli sini?” jengek Ciok-jing-cu.

Cing-sun bertambah heran dan menyangka orang maksudkan peristiwa Lam-hay-gok-sin itu. Maka dengan tertawa katanya pula, “Tentang Lam-hay-gok-sin, memang benar dia penujui anakku ini dan ingin menerimanya menjadi murid. Tapi kejadiannya justru terbalik hingga dia yang telah mengangkat guru pada anakku. Hal ini hanya main-main saja dan tak bisa dianggap sungguh-sungguh.”

Namun Ciok-jing-cu menggeleng kepala, sahutnya, “Meski ilmu silat Lam-hay-pay cukup hebat, tapi belum tentu mahir ‘Hoa-kang-tay-hoat’ ini.”

“Berulang-ulang hidung kerbau bicara tentang Hoa-kang-tay-hoat segala, sebenarnya apa-apaan maksudmu ini?” tanya Cing-sun bingung.

Keruan Ciok-jing-cu mendongkol. Betapa pun tak tersangka olehnya bahwa “Cu-hap-sin-kang” yang dimiliki Toan Ki itu bukan saja tak diketahui ayah dan pamannya, bahkan pemuda itu sendiri pun tidak tahu-menahu.

Maka mendadak ia berbangkit dan berkata, “Engkau memang tidak tahu atau berlagak pilon? Aku orang she Ciok meski orang pegunungan dan suka kelayapan di Kangouw, tapi kedua kakiku ini pun bukan cetakan dari besi, jauh-jauh dari Kanglam kudatang kemari, kau kira tujuanku melulu hendak minta secangkir teh ini? Jika kalian tidak anggap aku sebagai kawan, biarlah sekarang juga aku akan pamit.”

Habis berkata, terus saja ia bertindak keluar.

“Hek-kin, Thian-sik, rintangi hidung kerbau itu, minta penjelasan padanya,” seru Po-ting-te dengan tersenyum. “Para kawan sudah datang di Tayli, tanpa makan minum lebih dahulu masakan lantas mau angkat kaki begitu saja?”

Hoa Hek-kin dan Thian-sik juga kawan karib Ciok-jing-cu, dengan terbahak-bahak cepat mereka melompat ke ambang pintu untuk merintangi. “Hahaha, Ciok-lauto, kau datang ke Tayli sini tanpa membawa pedang, itu tandanya engkau bermaksud baik serta mengindahkan Hongya kami. Tapi tanpa pedang engkau hendak menerobos keluar rintangan kami, hal ini rasanya tidaklah mudah!”

Melihat sikap semua orang tiada tanda bermusuhan padanya, pikiran Ciok-jing-cu tergerak pula, “Rasanya keluarga Toan tidak mungkin mengizinkan anak-cucunya belajar ilmu siluman dari Sing-siok-hay yang kotor itu. Apa barangkali diam-diam Toan Ki ini mempelajarinya, di luar tahu ayah dan pamannya? Kalau kubongkar rahasianya itu berarti aku akan mengikat permusuhan dengar pemuda ini. Tetapi hubunganku dengan ayah dan pamannya adalah lain daripada yang lain, kalau tahu sesuatu tak boleh kutinggal diam.”

Karena itu, segera ia putar balik dan berkata pula kepada Toan Ki dengan sungguh-sungguh, “Toan-kongcu, jelek-jelek Ciok-jing-cu adalah angkatan lebih tua daripadamu. Sekarang aku mempunyai suatu pertanyaan, mengingat hubunganku dengan ayah dan pamanmu, maka ingin kukatakan terus terang, harap engkau jangan marah.”

“Ciok-totiang mempunyai petunjuk apa, silakan bicara, aku akan terima dengan hormat,” sahut Toan Ki.

Diam-diam Ciok-jing-cu membatin bocah ini masih tetap berlagak pilon. Segera katanya, “Sudah berapa lama Toan-kongcu berhasil mempelajari ‘Hoa-kang-tay-hoat’? Gurumu adalah Cinjin yang mana dari anak murid iblis tua di Sing-siok-hay itu?”

Toan Ki menjadi bingung, ia garuk-garuk kepala, sahutnya, “Hoa-kang-tay-hoat dan iblis tua dari Sing-siok-hay apa? Wanpwe baru sekarang mendengar nama-nama itu.”

Ciok-jing-cu pikir mungkin orang yang mengajar Toan Ki itu sengaja tidak mengatakan asal usul dan nama perguruannya itu. Maka tanyanya pula, “Habis, dari mana engkau belajar ilmu itu, bagaimana wajah orang itu?”

“Wanpwe tidak pernah belajar apa-apa,” sahut Toan Ki.

Dan pada saat itu juga, sekonyong-konyong dari ruangan belakang berlari keluar seorang dan tangan Toan Ki terus dicengkeramnya. Kiranya orang ini adalah Ui-bi-ceng.

Tapi begitu kedua tangan bersentuhan, seketika badan padri itu tergetar, tenaga dalam tubuhnya seakan-akan membanjir keluar tak terhentikan. Tanpa pikir lagi Ui-bi-ceng ayun kakinya hingga Toan Ki didepak terjungkal.

Tentu saja semua orang kaget, beramai-ramai mereka berbangkit dan bertanya ada apa?

“Kedua Toan-heng, bocah ini akan kalian binasakan sendiri atau aku membereskannya?” tanya Ui-bi-ceng tiba-tiba dengan suara gemetar.

Kiranya berturut-turut Boh-tam berenam telah sadar kembali dan menceritakan kejadian tenaga dalam mereka disedot habis oleh Toan Ki. Karena itu timbul pendapat Ui-bi-ceng yang berlainan daripada Ciok-jing-cu. Padri itu menyangka Toan Ki telah membalas air susu dengan air tuba, ditolong malah mentung, dan merusak Lwekang keenam muridnya itu. Apalagi waktu tangannya memegang tangan pemuda itu, seketika tenaga dalam sendiri juga akan diisap, maka ia menjadi lebih yakin lagi akan cerita murid-muridnya itu.

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: