Pendekar Kerajaan Tayli ~ Jilid 16

Tempat yang berkedut-kedut seperti diterobos tikus itu tercatat sebagai “Hwe-cong-hiat” pada lukisan itu. Waktu ia melirik sang paman, terlihat Po-ting-te sedang memerhatikan gambar Siau-yang-keng yang khusus harus dilatihnya dan tergantung di depannya itu, jari manis sang paman tampak sedang bergerak perlahan.

Toan Ki coba mengikuti tanda-tanda yang tercatat di atas gambar itu. Aneh juga, karena pikirannya dicurahkan untuk mengikuti garis-garis yang menghubungkan Hiat-to satu dan lain menurut gambar, sekonyong-konyong hawa murni dalam tubuhnya ikut berjalan menurut perasaannya, mula-mula hawa itu timbul dari lengan naik ke atas bahu dan terus mengalir ke pundak.

Dan meski cuma sedikit hawa murni itu teralir, namun rasa Toan Ki yang mual tadi lantas longgar. Nyata tanpa sengaja ia telah tarik hawa murni itu ke urat nadi Sam-jiu. Tetapi karena cara menjalankan hawa murni itu sebenarnya semacam Lwekang yang sangat tinggi, Toan Ki tidak paham seluk-beluknya secara tepat, baru sebentar ia kerahkan tenaganya, seketika ia menjerit. Untunglah sebelum hawa dalam badan itu tersesat, karena mendengar teriakannya, segera Po-ting-te bertanya, “Kenapa Ki-ji?”

“Dalam badanku terasa penuh terisi hawa yang bergolak dan menerjang kian kemari, rasanya sangat menderita, waktu kuikut garis-garis merah pada lukisanmu itu, hawa lantas mengalir masuk ke dalam perut, tetapi, aduuuuh … tapi hawa dalam perut makin lama makin penuh dan sekarang rasa perutku seakan meledak!” demikian tutur Toan Ki sambil meringis.

Perasaan Toan Ki itu hanya dapat dirasakan oleh si penderita sendiri, ia merasa perutnya melembung dan seakan-akan meledak, tapi bagi penglihatan orang lain toh keadaannya biasa saja tiada sesuatu yang aneh.

Namun Po-ting-te cukup paham tentang segala kemungkinan bagi orang yang melatih Lwekang. Perasaan perut melembung akan meledak itu umumnya cuma bisa terjadi pada orang yang berlatih Lwekang berpuluh tahun lamanya, tapi selamanya Toan Ki tidak pernah belajar silat, dari mana bisa terjadi begitu?

Ia pikir tentu gara-gara racun yang mengeram di dalam tubuhnya itu. Karena itu, Po-ting-te menjadi khawatir kalau-kalau racun akan mengamuk hingga hawa jahat telanjur masuk ke jantung, untuk melenyapkannya tentu akan susah.

Biasanya Po-ting-te dapat bertindak tegas dan cepat ambil keputusan. Tapi kejadian di depan matanya sekarang menyangkut baik buruk selama hidup Toan Ki. Kalau sedikit ayal, mungkin akan membahayakan jiwa anak muda itu. Dalam keadaan kepepet, biarpun akibatnya mungkin celaka, terpaksa harus dicobanya juga. Maka katanya, “Ki-ji, biar kuajarkan padamu tentang memutarkan hawa menuju ke pusat.”

Habis ini, segera ia mengajarkan penuntun ilmu itu kepada Toan Ki sambil tangan sendiri tetap berlatih menurut gambar.

Sambil mendengarkan petunjuk sang paman, satu kata demi kata dituruti Toan Ki untuk melaksanakannya. Inti Lwekang keluarga Toan dari Tayli itu memang sangat hebat, selesai Toan Ki melakukan petunjuk sang paman, hawa yang bergolak tadi juga sudah dapat ditarik masuk ke pusat. Maka terasalah badannya makin segar, rasanya enteng seakan-akan melayang ke udara.

Melihat wajah pemuda itu berseri-seri girang, Po-ting-te malah menyangka sang keponakan terlalu dalam keracunan dan kelak akan sukar disembuhkan lagi. Maka diam-diam ia sangat menyesal.

Meski Koh-eng Taysu sejak tadi tetap duduk menghadap dinding, tapi percakapan kedua orang dapat diikutinya semua. Setelah selesai mendengar Po-ting-te mengajarkan kepandaiannya kepada Toan Ki, segera ia berkata, “Thian-tim, ketahuilah bahwa segala apa sudah takdir Ilahi, maka engkau tidak perlu khawatir bagi orang lain, yang penting sekarang lekas kau latih Siau-yang-kiam saja!”

Po-ting-te mengiakan dan memusatkan kembali perhatiannya untuk melatih Siau-yang-kiam yang diwajibkan di antara Lak-meh-kiam-hoat itu.

Dalam pada itu hawa murni dalam tubuh Toan Ki yang sangat padat itu sudah tentu tak dapat dipusatkan seluruhnya dalam waktu singkat, cuma penuntun dasar yang diterimanya dari Po-ting-te itu dapat berjalan dengan lancar dan semakin cepat.

Begitulah ketujuh orang yang berada di dalam pondok itu masing-masing melatih ilmunya sendiri-sendiri, tanpa terasa hari sudah malam dan subuh sudah tiba pula.

Menjelang pagi itulah Toan Ki merasa kaki-tangannya enteng leluasa tidak tersisa sedikit pun hawa yang akan meledak seperti kemarin itu. Ia coba berdiri dan melemaskan otot.

Ia lihat sang paman dan kelima padri saleh itu masih asyik melatih ilmu pedang masing-masing.

Ia tidak berani membuka pintu untuk keluar, pula tidak berani bersuara mengganggu keenam orang itu, saking iseng ia coba mengikuti gambar di depan sang paman yang melukiskan letak urat nadi dengan ilmu pedang Siau-yang-kiam itu, tatkala perhatiannya terhadap gambar itu terpusat, tiba-tiba terasa suatu arus hawa murni membanjir keluar dari perutnya terus menerjang ke bahu.

Yang paling aneh adalah bila pikiran Toan Ki dicurahkan pada titik urat nadi dalam gambar itu, segera hawa murni yang mengalir dalam tubuh lantas menyusup ke sana, jadi dari bahu ke lengan dan dari lengan ke jari.

Tapi Toan Ki tidak dapat menjalankan Lwekangnya untuk mengatur hawa murni itu, maka ketika hawa murni menerjang ke ujung jari, ia terasa seperti bengkak hendak pecah, maka pikirnya, “Ah, biarkan arus hawa ini putar kembali saja.”

Aneh juga, begitu pikirannya, begitu pula hawa murni itu lantas mengalir kembali ke perut.

Kiranya tanpa terasa Toan Ki telah berhasil memperoleh inti dasar ilmu Lwekang yang tinggi, tapi ia sendiri sama sekali tidak tahu. Ia hanya merasa arus hawa yang mengalir kian kemari di lengan itu dapat dimainkan sesukanya.

Kemudian ia lihat Thian-siang Taysu di antara ketiga padri Bo-ni-tong itu paling ramah tamah, ia coba melongok gambar “Siau-im-keng-meh-toh” yang wajib dilatih padri itu.

Ia lihat titik nadi gambar itu dimulai dari “Kek-coan-hiat” di bawah ketiak terus menurun sampai di “Siau-ciong-hiat” di ujung jari kecil. Kembali satu per satu ia mengikuti garis Hiat-to itu hingga arus hawa murni dalam tubuhnya kembali mengalir lagi seperti tadi menurut perasaannya.

Ternyata dalam waktu singkat saja Toan Ki sudah dapat menembus semua urat nadi lengan. Dan karena Lak-meh atau enam nadi itu dapat ditembus, semangatnya menjadi segar malah.

Dalam isengnya ia terus memeriksa pula gambar lain yang sedang dilatih Thian-in dan lain-lain, namun ia menjadi pusing melihat garis-garis merah, biru, hitam dan lain-lain yang ruwet itu. Pikirnya, “Ah, begini sulit ilmu pedang itu, mana dapat aku ingat seluruhnya?”

Lalu pikirnya pula, “Aneh, kenapa kedua padri kecil itu tidak mengantarkan makanan kemari? Biarlah diam-diam aku mengeluyur keluar untuk mencari makanan.”

Tapi pada saat itu juga hidungnya lantas mencium semacam bau wangi yang halus, menyusul terdengarlah suara orang bernyanyi dalam pujian Buddha, suara itu hanya sayup-sayup saja, sebentar terdengar sebentar tidak.

“Siancay, Siancay! Tay-lun-beng-ong telah tiba, bagaimana dengan latihan kalian?” demikian Koh-eng Taysu berkata dengan gegetun.

“Meski belum masak betul-betul, namun sudah cukup untuk menghadapi musuh,” sahut Thian-som.

“Thian-in,” kata Koh-eng pula, “aku tidak suka bergerak, bolehlah kau undang Beng-ong bicara ke ruang Bo-ni-tong ini.”

Thian-in mengiakan dan keluar.

Segera Thian-koan menyiapkan lima kasuran tikar dan dijajarkan menjadi satu baris. Ia sendiri lantas menduduki kasuran pertama, Thian-siang kedua, Po-ting-te keempat, Thian-som kelima dan ketiga yang luang itu disediakan untuk Thian-in. Toan Ki tidak punya tempat duduk, terpaksa ia berdiri di belakang Po-ting-te.

Tahu musuh tangguh bakal tiba, lekas-lekas Koh-eng dan Thian-koan berlima menghafalkan sekali lagi petunjuk Kiam-hoat dalam gambar, lalu lukisan cepat digulung dan ditaruh di depan Koh-eng.

“Ki-ji,” kata Po-ting-te, “sebentar bila terjadi pertarungan sengit, tentu di ruangan ini akan penuh hawa pedang yang tajam dan bisa jadi akan membahayakan dirimu, sedangkan paman tak dapat melindungimu, maka lebih baik kau keluar saja sana!”

Toan Ki menjadi terharu, pikirnya, “Dari percakapan paman dan lain-lain, agaknya ilmu silat Tay-lun-beng-ong teramat lihai, sedangkan ilmu pedang paman ini baru saja dilatih, entah mampu atau tidak melawan musuh, dan kalau terjadi apa-apa, lantas bagaimana baiknya?”

Maka katanya segera, “Pekhu, aku … aku ingin tinggal di sini, kukha … kukhawatirkan pertempuran nanti ….”

Bicara sampai di sini, suaranya menjadi parau dan tak lancar.

Hati Po-ting-te terharu juga, pikirnya, “Anak ini ternyata sangat berbakti kepada orang tua.”

“Ki-ji,” tiba-tiba Koh-eng buka suara, “boleh kau duduk di depanku sini, betapa lihainya Tay-lun-beng-ong juga takkan mengganggu seujung rambutmu!”

Meski nada Koh-eng Taysu itu tetap dingin saja tanpa perasaan, namun dari kalimat ucapannya itu kentara sekali rasa angkuhnya.

Cepat Toan Ki mengiakan dan mendekati Koh-eng Taysu, ia tidak berani memandang muka padri itu, ia duduk bersila dengan menghadap dinding.

Tubuh Koh-eng jauh lebih tinggi daripada Toan Ki, maka badan pemuda itu hampir teraling seluruhnya.

Po-ting-te menjadi girang dan terima kasih, tadi ketika Koh-eng mencukur rambutnya dengan ilmu sakti, kepandaian itu sudah cukup untuk ditonjolkan dalam dunia persilatan. Sekarang Toan Ki berada di bawah perlindungannya, sudah tentu tidak perlu khawatir lagi.

Selang agak lama, terdengar suara Thian-in Hongtiang lagi berkata di luar, “Atas kunjungan Beng-ong, silakan masuk ruang Bo-ni-tong ini!”

Lalu suara seorang menyahut, “Harap Hongtiang suka menunjukkan jalan!”

Mendengar suara orang yang halus dan ramah tamah itu, Toan Ki yakin Tay-lun-beng-ong itu pasti bukan seorang yang kejam dan buas. Dari suara langkah orang di luar, kedengarannya berjumlah belasan orang banyaknya.

Kemudian terdengar suara pintu didorong oleh Thian-in sambil berkata, “Silakan Beng-ong masuk!”

“Maaf!” sahut Tay-lun-beng-ong sambil melangkah masuk. Lalu ia memberi hormat kepada Koh-eng Taysu dan berkata, “Wanpwe Ciumoti dari negeri Turfan, dengan ini memberi hormat kepada Cianpwe Taysu.”

Diam-diam Toan Ki membatin, “Kiranya nama asli Tay-lun-beng-ong ini adalah Ciumoti.”

Maka menyahutlah Koh-eng Taysu, “Beng-ong datang dari jauh, maafkan tidak kuberi sambutan yang pantas.”

Dan sesudah saling mengucapkan kata-kata merendah pula, kemudian Thian-in menyilakan duduk Tay-lun-beng-ong alias Ciumoti itu.

Diam-diam Toan Ki ingin tahu macam apakah Tay-lun-beng-ong yang disegani itu. Perlahan ia menoleh sedikit dan melirik dari samping Koh-eng Taysu. Ia lihat di sebelah sana duduk seorang padri berjubah kuning, usianya belum ada setengah abad, sederhana dandanannya, tapi mukanya bercahaya bagai permata kemilauan.

Baru sekejap saja lantas timbul rasa suka dan kagum Toan Ki. Waktu memandang pula ke luar pintu, ternyata di luar sana berdiri 8 atau 9 lelaki berperawakan berbeda-beda dan wajah berlainan, tapi kebanyakan bengis menakutkan, tidak seperti orang Tiongkok umumnya. Terang mereka pengiring Tay-lun-beng-ong yang dibawanya dari daerah barat.

Kemudian dengan merangkap tangan dan memberi hormat, Ciumoti berkata, “Buddha berkata, tiada hidup takkan mati, tiada kotor takkan bersih. Bakatku terlalu bodoh dan belum dapat memahami suka duka dan mati hidup manusia. Cuma selama hidupku mempunyai seorang kawan karib, yaitu orang she Buyung dari Koh-soh di negeri Song. Aku berkenalan dengan dia di negeri Thian-tiok, di sana kami bertukar pikiran tentang ilmu silat dan pedang. Buyung-siansing itu ternyata sangat luas pengetahuannya, tiada sesuatu ilmu silat di dunia ini yang tak dipahaminya, berkat petunjuknya dalam beberapa hari, segala pertanyaanku selama hidup yang tak terjawab telah dipecahkannya dalam sekejap. Tak terduga orang pandai itu justru berumur pendek, kini Buyung-siansing telah pulang ke nirwana. Karena itu ada sesuatu permohonanku yang tidak pantas, sukalah para Tianglo menaruh belas kasihan padaku.”

Sudah tentu Thian-in paham apa maksud tujuan di balik ucapan itu. Jawabnya segera, “Beng-ong dapat bersahabat dengan Buyung-siansing, itu berarti ada jodoh, dan bila masa jodoh itu sudah habis, guna apa mesti dipaksakan lagi? Buyung-siansing sudah lama wafat, mengapa terhadap ilmu silat di dunia fana ini mesti disayangkan? Tindakan Beng-ong ini apa tidak berlebihan?”

“Nasihat Hongtiang memang benar juga,” sahut Ciumoti. “Cuma dasar berwatak rada bandel, meskipun sudah sekian lama lalu kebaikan persahabatan dahulu sukar untuk dilupakan. Dahulu ketika Buyung-siansing bicara tentang Kiam-hoat di dunia ini, ia yakin ‘Lak-meh-sin-kiam’ Thian-liong-si ini adalah nomor satu dari segala ilmu pedang, ia menyatakan sangat menyesal karena selama hidupnya tidak sempat melihat ilmu pedang sakti itu.”

“Tempat kami ini terpencil di daerah perbatasan selatan, namun juga mendapat perhatian Buyung-siansing, sungguh kami merasa sangat bangga,” sahut Thian-in. “Tetapi pada waktu hidupnya mengapa Buyung-siansing tidak datang sendiri untuk meminjam lihat Kiam-keng (kitab ilmu pedang) kami ini?”

Tiba-tiba Ciumoti menghela napas panjang dan wajah berubah sedih, sejenak kemudian baru ia berkata, “Buyung-siansing sendiri tahu bahwa kitab itu adalah pusaka kalian, meskipun mohon lihat dengan terus terang juga tak mungkin diizinkan. Ia bilang keluarga Toan dari Tayli diagungkan sebagai raja, namun tidak melupakan setia kawan dunia Kangouw, cinta negeri dan sayang rakyat, maka ia tidak boleh melakukan pencurian atau main ambil secara paksa.”

“Terima kasih atas pujian Buyung-siansing itu,” ujar Thian-in. “Dan bila Buyung-siansing benar menghargai keluarga Toan dari Tayli, Beng-ong adalah sobat karibnya, seharusnya juga dapat memaklumi jiwanya itu.”

“Ya, namun tempo dulu aku sudah telanjur omong besar bahwa aku ini Koksu (imam negara) dari Turfan, bukan sanak dan lain kadang dari keluarga Toan di Tayli, jika Buyung-siansing merasa sungkan untuk memintanya sendiri, biarlah aku akan mewakilinya. Sekali seorang laki-laki sejati sudah buka suara, biarpun mati atau hidup tak boleh menyesal. Dari itulah janjiku kepada Buyung-siansing itu tidak boleh kujilat kembali.”

Habis berkata, ia terus tepuk tangan tiga kali. Maka masuklah dua laki-laki sambil menggotong sebuah peti kayu cendana dan ditaruh di lantai. Waktu lengan baju Ciumoti mengebas, tanpa disentuh tutup peti itu lantas terbuka sendiri. Maka tertampaklah sinar kemilauan, di dalam peti terdapat sebuah kotak emas kecil. Segera Ciumoti ambil kotak emas itu.

“Kita sama-sama orang beragama, masakah masih tamak terhadap benda mestika segala?” diam-diam Thian-in membatin. “Apalagi keluarga Toan diagungkan sebagai raja di negeri Tayli, dengan harta pusaka kumpulannya selama ratusan tahun masakah masih kekurangan?”

Ciumoti lantas membuka tutup kotak emas itu, apa yang dikeluarkan dari kotak itu ternyata tiga jilid kitab lama. Ketika ia balik-balik halaman kitab itu, sekilas Thian-in dan lain-lain dapat melihat isi kitab itu ada gambar juga ada tulisan, semuanya tulisan tangan dengan tinta merah.

Tiba-tiba Ciumoti termangu-mangu memandangi ketiga kitab itu dengan air mata berlinang-linang, sikapnya sangat menyesal dan berduka luar biasa. Keruan Thian-in dan lain-lain menjadi heran.

Koh-eng Taysu lantas berkata, “Beng-ong terkenang kepada sahabat yang sudah meninggal, batin belum bersih dari keduniawian, apa tidak malu disebut sebagai padri saleh?”

“Taysu mahapintar dan mahasakti, sudah tentu tak mampu kusamai,” sahut Tay-lun-beng-ong. “Cuma ketiga jilid kunci ilmu silat ini adalah tulisan tangan Buyung-siansing yang menguraikan tentang titik pokok ke-72 jenis Kungfu khas Siau-lim-pay, diuraikan pula tentang cara melatihnya dan cara mematahkannya.”

Semua orang terkejut oleh keterangan itu, pikir mereka, “Ilmu silat Siau-lim-pay termasyhur di seluruh dunia, konon sejak Siau-lim-pay didirikan, kecuali pada permulaan dinasti Song pernah ada seorang padri sakti yang berhasil melatih ke-36 jenis ilmu itu, selamanya tiada orang kedua lagi yang melebihinya. Tapi Buyung-siansing ini dapat memahami kunci ke-72 jenis ilmu silat Siau-lim-pay yang lihai, bahkan cara bagaimana mematahkan ilmu silat itu pun dapat dipecahkannya, hal ini benar-benar sukar untuk dimengerti.”

Maka berkata pula Tay-lun-beng-ong, “Buyung-siansing telah menghadiahkan ketiga jilid kitab ini kepadaku, sesudah kubaca, sungguh tidak sedikit kuperoleh manfaatnya. Kini aku bersedia menukar ketiga jilid kitab ini dengan Lak-meh-kiam-keng kalian. Bila para Taysu setuju hingga kudapat memenuhi janji kepada sahabat lama, sungguh aku terasa terima kasih tak terhingga.”

Thian-in terdiam, pikirnya dalam hati, “Apa yang tercatat di dalam kitab-kitab itu bila benar ke-72 jenis ilmu tunggal Siau-lim-si, maka sesudah kami memperolehnya bukan saja ilmu silat Thian-liong-si bakal sejajar dengan nama Siau-lim-si, bahkan mungkin lebih tinggi daripada mereka. Sebab Thian-liong-si dapat memahami seluruh Kungfu Siau-lim-si, sebaliknya ilmu silat kami tak diketahui oleh Siau-lim-si.”

Lalu Tay-lun-beng-ong menyambung lagi, “Dan pada waktu kalian menyerahkan kitab pusaka kepadaku, silakan menyalin dulu turunannya, dengan begitu, pertama Taysu berbuat baik kepadaku, untuk budi kebaikan itu takkan kulupakan sampai tua, sebaliknya tidak merugikan pihak Taysu, kedua, sesudah kuterima kitab pusaka kalian, akan kubungkus rapat-rapat, sekali-sekali takkan kuintip isinya dan akan kusampaikan sendiri kitab pusaka ke hadapan makam Buyung-siansing dan kubakar di sana, dengan demikian ilmu sakti kuil kalian ini takkan tersiar di luar. Ketiga, ilmu sakti ke-72 jenis Siau-lim-pay ini, di antaranya seperti ‘Ciam-hoa-ci’, ‘Bu-siang-jiat-ci’ dan ‘To-lo-yap-ci’ sangat berguna juga untuk bahan perbandingan dengan It-yang-ci kalian.”

Cara berkata Ciumoti itu sangat enak didengar dan menarik, masuk di akal pula, maka Po-ting-te dan Thian-siang Taysu sangat tertarik. Cuma di atas mereka masih ada Hongtiang dan sang Susiok, maka mereka pun tidak enak untuk mengutarakan pikiran mereka.

Segera Tay-lun-beng-ong melanjutkan lagi, “Mungkin usiaku masih muda dan pengalaman cetek, apa yang kukatakan barusan belum tentu dapat dipercaya para Taysu. Maka tentang ketiga jenis Ci-hoat (ilmu jari) tadi boleh juga kuberi pertunjukan sekadarnya sekarang.”

Segera ia berbangkit dan berkata pula, “Cuma apa yang kupahami ini masih sangat cetek dan kasar, bila ada kesalahan, mohon para Taysu suka memberi petunjuk. Sekarang aku mulai dengan Ciam-hoa-ci.”

Habis itu, ia menggunakan jari jempol dan telunjuk kanan dengan gaya seakan-akan memetik setangkai bunga, dengan wajah tersenyum kelima jari tangan kiri kemudian menjentik perlahan ke kanan.

Di antara semua orang yang berada di dalam ruangan itu, kecuali Toan Ki, yang lain-lain adalah ahli Ci-hoat kelas wahid. Maka mereka dapat melihat betapa indah dan lemah lembutnya gaya gerakan itu.

Setelah menjentik belasan kali, tiba-tiba Tay-lun-beng-ong mengangkat lengan baju kanan, menyusul ia meniup ke muka lengan baju sendiri, dalam sekejap saja bertebaranlah berpotong-potong kain kecil sebesar mata uang hingga lengan bajunya berwujud belasan lubang bundar.

Kiranya jentikan ilmu “Ciam-hoa-ci” tadi telah mengenai lengan baju sendiri dari jauh, tenaganya lembut, tapi merusak baju, semula tertampak bajunya tiada kurang suatu apa pun, tapi sekali ditiup angin, barulah kentara betapa sakti kepandaian padri itu.

Thian-in, Thian-koan dan Po-ting-te saling pandang sekejap, dalam hati mereka diam-diam terperanjat. Dengan ilmu It-yang-ci untuk melubangi baju seperti itu tidaklah sulit bagi mereka, tapi untuk mencapai tingkatan selihai lawan, mau tak mau mereka harus mengaku masih kalah setingkat.

“Sekianlah,” kata Ciumoti dengan tersenyum. “Tenaga jari Ciam-hoa-ci barusan terang jauh di bawah Hian-toh Taysu dari Siau-lim-si. Dan tentang ‘To-lo-yap-ci’ tentu saja selisih lebih jauh lagi.”

Habis berkata, cepat ia berputar mengitari peti kayu yang berada di lantai tadi dan menutuk beruntun-runtun dengan sepuluh jarinya, maka tertampaklah potongan kayu bertebaran dan dalam sekejap peti itu sudah berwujud seonggok bubuk kayu.

Sebenarnya Po-ting-te dan lain-lain tidak heran oleh kepandaian orang meremukkan peti kayu menjadi bubuk itu, tapi demi tampak engsel dan sebagainya dari logam yang berada di peti itu pun hancur berkeping-keping oleh tenaga jarinya, mau tak mau mereka terkejut juga.

Lalu berkatalah Ciumoti, “Caraku menggunakan To-lo-yap-ci ini masih sangat dangkal, diharap Taysu jangan menertawakannya.”

Sembari berkata kedua tangannya sembari dimasukkan lengan baju sendiri. Mendadak tumpukan bubuk kayu itu menari-nari di udara seakan-akan didalangi orang dengan sesuatu alat yang tak kelihatan.

Waktu Po-ting-te dan lain-lain memandang Tay-lun-beng-ong, padri itu kelihatan tetap bersenyum simpul, jubahnya sedikit pun tidak bergerak, nyata tenaga jarinya dilontarkan dari dalam lengan bajunya hingga tidak kelihatan wujudnya.

“Hah, inilah Bu-siang-jiat-ci (tutukan maut tak kelihatan)! Sungguh hebat, kagum, kagum!” demikian seru Thian-siang Taysu tak tahan.

“Ah, Taysu terlalu memuji,” ujar Ciumoti. “Padahal bubuk kayunya tampak bergerak, itu berarti masih kelihatan wujudnya. Untuk bisa mencapai tingkatan sesuai dengan namanya hingga tanpa kelihatan, rasanya perlu berlatih selama hidup.”

“Apakah di dalam kitab pusaka tinggalan Buyung-siansing terdapat cara-cara mematahkan ‘Bu-siang-jiat-ci’ itu?” tanya Thian-siang.

“Ada,” sahut Ciumoti. “Ilmu pemecahannya memakai nama seperti gelaran Taysu.”

Thian-siang termenung sejenak, katanya kemudian, “Ehm, namanya Thian-siang-ci-hoat, Thian-siang mengalahkan Bu-siang, sungguh pintar sekali.”

Setelah menyaksikan pertunjukan ketiga macam tenaga jari sakti dari Ciumoti itu, Thian-in, Thian-koan, dan Thian-som menjadi tertarik juga. Mereka tahu ketiga jilid kitab pusaka itu benar-benar memuat ke-72 jenis ilmu silat Siau-lim-si yang termasyhur di seluruh dunia, apakah mesti terima tawaran tukar-menukar dengan “Lak-meh-sin-kiam”, sungguh hal ini sangat meragukan.

Maka berkatalah Thian-in, “Susiok, jauh-jauh Beng-ong berkunjung kemari, suatu tanda betapa teguh maksud tujuannya ini. Lantas bagaimana kita harus bertindak, harap Susiok suka memberi petunjuk.”

“Thian-in, apa tujuan kita belajar silat dan berlatih diri?” tanya Koh-eng Taysu tiba-tiba.

Sama sekali Thian-in tidak menduga bakal ditanya demikian oleh sang Susiok, ia terkesiap, tapi segera jawab, “Demi membela agama dan negara.”

“Bila kita kedatangan orang jahat dan kita tidak dapat menginsafkannya dengan jalan Buddha dan terpaksa mesti turun tangan membasminya, untuk mana harus menggunakan ilmu apa?” tanya Koh-eng pula.

“Jika sudah terpaksa, harus menggunakan It-yang-ci,” sahut Thian-in.

“Dan dalam hal It-yang-ci, sampai tingkat ke berapa telah berhasil kau yakinkan?” tanya Koh-eng.

“Tecu terlalu bodoh, pada waktu latihan kurang giat, maka sampai sekarang baru mencapai tingkatan kelima,” jawab Thian-in dengan berkeringat.

“Kalau menurut pendapatmu, It-yang-ci keluarga Toan di Tayli ini bila dibandingkan Ciam-hoa-ci, To-lo-yap-ci dan Bu-siang-jiat-ci dari Siau-lim-si itu, manakah yang lebih bagus dan mana lebih jelek?”

“Ilmu tutukan itu sama-sama bagus dan bergantung keuletan masing-masing,” sahut Thian-in.

“Benar, dan kalau It-yang-ci kita terlatih sampai tingkatan tertinggi, lalu bagaimana?”

“Dalamnya sukar dijajaki, Tecu tidak berani sembarangan omong!”

“Bila misalnya kau dapat hidup seabad lagi, dapat meyakinkannya sampai tingkat ke berapa?”

Keringat dingin di jidat Thian-in mulai berketes-ketes, jawabnya dengan gemetar, “Tecu tak dapat menjawab.”

“Dapatkah mencapai tingkat teratas?” tanya Koh-eng.

“Pasti tak dapat,” sahut Thian-in.

Maka Koh-eng Taysu tidak bicara lagi.

Akhirnya Thian-in berkata pula, “Petunjuk Susiok memang tepat. Sedangkan It-yang-ci sendiri saja kita tak mampu meyakinkannya hingga sempurna, untuk apa mesti mengambil kepandaian orang lain lagi? Beng-ong datang dari jauh, biarlah kami sekadar memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah.”

Dengan ucapannya ini, tegasnya ia telah menolak tawaran Tay-lun-beng-ong tadi.

Ciumoti menghela napas, katanya kemudian, “Ai, semuanya gara-gara mulutku yang usil, kalau tidak, tentunya tidaklah sulit seperti sekarang ini. Tapi ada juga sepatah kataku yang mungkin kurang sopan, bila Lak-meh-sin-kiam itu benar-benar sebagus seperti apa yang dikatakan Buyung-siansing, sekalipun kuil kalian memiliki lukisan pusakanya, namun bukan mustahil belum ada seorang pun yang berhasil meyakinkannya. Dan kalau ada yang dapat meyakinkannya berarti ilmu pedang itu tidak sebagus seperti apa yang dikagumi Buyung-siansing.”

“Sebenarnya ada sesuatu yang kurasakan tidak mengerti, bolehkah Beng-ong memberi penjelasan?” tanya Koh-eng.

“Coba katakan?” sahut Ciumoti.

“Tentang kuil kami memiliki Lak-meh-sin-kiam-keng itu, sekalipun anggota keluarga Toan kami juga tiada yang tahu, tapi dari manakah Buyung-siansing bisa mengetahuinya?” tanya Koh-eng.

“Hal itu dahulu tidak dijelaskan oleh Buyung-siansing,” kata Ciumoti. “Tapi menurut dugaanku, tentu ada hubungannya dengan Yan-king Taycu dari keluarga Toan.”

Thian-in mengangguk-angguk dan ikut bertanya, “Jadi Yan-king Taycu kenal Buyung-siansing?”

“Ya, pernah Buyung-siansing memberi petunjuk beberapa jurus ilmu silat padanya, tapi menolak menerimanya sebagai murid.”

“Sebab apa menolak?” tanya Koh-eng Taysu.

“Itu urusan pribadi Buyung-siansing, tidak enak banyak kutanya,” sahut Ciumoti. Di balik kata-katanya ini seakan-akan juga minta Koh-eng jangan banyak bertanya.

Tapi Koh-eng justru berkata pula, “Yan-king Taycu itu adalah keturunan keluarga Toan-si kami, segala tindak tanduknya di luar, Thian-liong-si dan kepala keluarga Toan berhak mengurusnya.”

“Benar,” sahut Ciumoti dengan tawar.

Segera Thian-in Hongtiang ikut bicara, “Selama belasan tahun Susiok kami tidak menemui orang luar, tapi mengingat Beng-ong adalah padri saleh zaman ini, barulah Susiok mau menemuimu. Sekarang sudah selesai, silakanlah!”

Sembari berkata ia terus berdiri sebagai tanda menyilakan tamunya pergi.

Namun Ciumoti menjawab, “Bila Lak-meh-sin-kiam cuma pujian kosong belaka, mengapa kalian memandangnya begitu penting hingga mesti mengorbankan persahabatan Thian-liong-si dengan Tay-lun-si dan antara negara Tayli dengan Turfan?”

“Apakah Beng-ong maksudkan, bila kami tidak meluluskan permintaanmu, Tayli dan Turfan akan perang?” tanya Thian-in.

Sebagai kepala negara, sudah tentu Po-ting-te paling tertarik oleh tanya jawab terakhir itu.

Perlahan Ciumoti berkata, “Sudah lama Kokcu kami kagum pada negeri Tayli yang makmur, sudah lama beliau ingin mengadakan perburuan ke sini. Tapi kupikir tindakan itu pasti akan banyak ambil korban jiwa dan harta, maka selama beberapa tahun aku selalu berusaha mencegahnya.”

Sudah tentu Thian-in dan lain-lain paham akan kata-kata orang yang bersifat mengancam itu. Sebab Ciumoti adalah Koksu kerajaan Turfan. Seperti juga Tayli, rakyat Turfan juga memeluk agama Buddha dan Ciumoti itu sangat dipercaya rajanya, perang atau damai banyak bergantung kepada kekuasaannya. Kini kalau cuma urusan sejilid kitab hingga kedua negara mesti terlibat dalam peperangan, hal ini benar-benar tidak perlu. Tapi bila sedikit digertak lantas menyerah mentah-mentah, bukankah sangat merosotkan kehormatan Thian-liong-si dan kerajaan Tayli?

Maka berkatalah Koh-eng Taysu, “Jika Beng-ong bertekad harus mendapatkan kitab kami ini, mengapa aku mesti pelit. Beng-ong bersedia menukar dengan ilmu silat Siau-lim-si, kami pun tidak berani menerimanya. Meski sudah berpuluh tahun aku menyepi, namun kutahu juga kepandaian Beng-ong dari Tay-lun-si itu jauh lebih hebat daripada ke-72 jenis ilmu Siau-lim-pay.”

Ciumoti merangkap kedua tangannya dan berkata, “Apakah maksud Taysu supaya kupertunjukkan sedikit kepandaianku yang jelek ini?”

“Beng-ong mengatakan bahwa Lak-meh-sin-kiam-keng kami cuma pujian kosong belaka dan tidak berguna dipraktikkan, maka biarlah kami belajar kenal beberapa jurus dengan Beng-ong,” demikian sahut Koh-eng. “Apakah benar seperti apa yang dikatakan Beng-ong bahwa Lak-meh-kiam-hoat kami ini hanya bernama kosong dan tidak berguna, lalu untuk apa lagi mesti kami sayangkan? Dengan rela akan kami serahkan kitab yang diminta Beng-ong.”

Diam-diam Ciumoti terkesiap oleh jawaban itu, ia pikir dahulu waktu kubicara tentang “Lak-meh-sin-kiam” dengan Buyung-siansing, keduanya berpendapat Kiam-hoat itu memang sangat bagus, tapi mungkin susah diyakinkan oleh tenaga manusia. Kini mendengar ucapan Koh-eng, agaknya bukan Koh-eng saja yang dapat memainkan Kiam-hoat itu, bahkan kelima kawannya yang lain juga bisa.

Segera ia menjawab, “Jika Taysu sekalian sudi memberi petunjuk dengan Kiam-hoat yang hebat itu, sungguh aku merasa sangat beruntung sekali.”

“Senjata apa yang dipakai Beng-ong, silakan mengeluarkannya,” kata Thian-in segera.

Tiba-tiba Ciumoti bertepuk tangan, maka masuklah laki-laki tinggi besar yang menunggu di luar, Ciumoti berkata beberapa patah dalam bahasanya dan laki-laki itu pun mengangguk-angguk, lalu keluar dan membawa masuk seikat dupa kepada Ciumoti, kemudian laki-laki itu undurkan diri pula keluar.

Semua orang terasa heran untuk apakah dupa itu. Dupa itu adalah benda lemah dan mudah patah, masakah dapat digunakan sebagai senjata?

Tertampak Ciumoti lolos sebatang dupa, lalu tangan lain meraup segenggam bubuk kayu terus dikepal hingga mengeras, dupa itu lantas ditancapkan di tengahnya dan ditaruh di lantai. Dengan cara yang sama ia jajarkan enam batang dupa dalam jarak kira-kira belasan senti satu sama lain. Menyusul ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya terus menampar ke depan, serentak ujung keenam batang dupa itu lantas menyala tersulut.

Keruan Thian-in dan lain-lain terkejut, betapa tinggi tenaga dalam padri asing ini sungguh sudah mencapai tingkatan yang susah diukur. Tapi Thian-in dan Po-ting-te lantas mengendus pula bau belerang terbakar, maka tahulah mereka. Kiranya pada pucuk dupa itu terdapat obat bakar, sekali Ciumoti menggosok obat bakar itu dengan tenaga dalamnya, segera dupa-dupa itu menyala. Meski perbuatan itu tidak mudah dilakukan, namun Po-ting-te merasa dirinya masih mampu melakukannya juga.

Sesudah menyala, asap dupa lantas mengepul menjadi enam jalur. Ciumoti duduk sambil kedua tangan terpentang mencakup ke depan, sekali ia kerahkan tenaga dalamnya, keenam jalur asap itu lantas berkisar menuju ke arah Koh-eng dan Po-ting-te berenam.

Kiranya ilmu Ciumoti ini disebut “Hwe-yam-to” atau golok kobaran api. Meski tanpa wujud dan tak dapat diraba, tapi lihainya tidak kepalang untuk membinasakan lawan.

Namun maksud tujuan Ciumoti sekarang cuma ingin mendapat kitab pusaka dan tiada niat membunuh orang, maka hanya enam batang dupa dinyalakan untuk menunjukkan ke mana arah tenaga serangannya tertuju, pertama sebagai tanda ia yakin pasti lebih unggul daripada lawan-lawannya, kedua sebagai tanda rasa welas asihnya yang tidak ingin membunuh orang, melainkan cuma saling ukur kepandaian masing-masing.

Begitulah, ketika enam jalur asap itu sampai di depan Thian-in dan lain-lain, mendadak asap itu lantas berhenti dan tidak menyambar maju lagi.

Sungguh kejut Thian-in dan lain-lain bukan buatan. Menggunakan tenaga dalam untuk mendesak majunya asap tidaklah sulit, tapi memakai tenaga dalam untuk menghentikannya, terang kepandaian ini berpuluh kali lebih sukar daripada yang duluan.

Thian-som tidak mau unjuk lemah, sekali jari kecil kiri terangkat, “cus”, sejalur hawa putih terpancar dari Siau-ciong-hiat ke arah asap yang berada di depannya. Karena tolakan tenaga dalam Thian-som, dengan cepat tali asap itu lantas menyambar kembali ke arah Ciumoti. Tapi ketika mendekat, waktu tenaga “Hwe-yam-to” yang dikerahkan Ciumoti diperkeras lagi, jalur asap itu lantas berhenti dan tidak mampu maju pula.

“Ehm, memang hebat,” kata Ciumoti sambil mengangguk. “Ternyata di dalam Lak-meh-sin-kiam memang ada ‘Siau-ciong-kiam’ seperti ini.”

Setelah kedua orang saling gempur dengan tenaga dalam, Thian-som merasa bila dirinya tetap duduk, daya tekan ilmu pedangnya itu akan sukar dilancarkan. Segera ia berdiri dan melangkah tiga tindak ke kiri, dengan tenaga dalamnya ia serang lebih kuat dari sana.

Segera Ciumoti angkat tangan kiri dan tenaga serangan itu tertahan. Thian-koan ikut bertindak juga, sekali jari tengahnya menegak, “cus”, ia pun menusuk dengan “Tiong-ciong-kiam”.

“Bagus, inilah Tiong-ciong-kiam-hoat!” seru Ciumoti sambil menangkis. Meski satu lawan dua, namun sama sekali tak tampak terdesak.

Toan Ki duduk di depan Koh-eng, ia dapat menoleh ke kanan dan miring ke kiri untuk mengikuti pertarungan hebat yang jarang terlihat dalam Bu-lim itu. Meski dia tidak paham ilmu silat, tapi tahu juga bahwa para Hwesio itu sedang bertanding pedang dengan Lwekang mereka, lihai dan bahaya pertandingan Lwekang ini jauh lebih hebat daripada bertanding dengan senjata tajam.

Ia lihat jurus ilmu pedang dan golok yang dikeluarkan Ciumoti, Thian-som dan Thian-koan itu sangat lambat. Setelah belasan jurus, tiba-tiba pikirannya tergerak, “He, bukankah Tiong-ciong-kiam yang dimainkan Thian-koan Taysu itu tiada ubahnya seperti apa yang kubaca dalam gambar tadi?”

Perlahan ia buka lukisan Tiong-ciong-kiam-hoat yang memang terletak di depannya itu. Ia cocokkan antara gerakan hawa putih yang menyambar kian kemari itu dengan petunjuk dalam gambar, nyata ilmu pedang itu memang sama.

Sungguh girang Toan Ki bukan buatan. Segera ia mengikuti Siau-tik-kiam-hoat yang dimainkan Thian-som itu. Ilmu pedang ini pun sama dengan gambar, cuma Tiong-ciong-kiam-hoat itu lingkupnya lebih luas dan daya tekannya lebih keras, sebaliknya Siau-tik-kiam lebih lincah, menyusup kian kemari dengan macam-macam perubahan yang rumit.

Melihat kedua Sutenya sama sekali tidak lebih unggul mengeroyok Ciumoti, Thian-in menjadi khawatir latihan mereka belum masak, jangan-jangan permainan pedang mereka keburu dipahami Tay-lun-beng-ong yang mahapintar itu. Segera ia berseru, “Thian-siang dan Thian-tim Sute, marilah kita turun tangan!”

Berbareng Thian-in acungkan jari telunjuknya, ia keluarkan Siang-yang-kiam-hoat. Menyusul Thian-siang juga memainkan “Siau-ciong-kiam” dengan jari kecil kanan. Sedang Po-ting-te menyerang dengan “Koan-ciong-kiam”, yaitu dengan jari manis. Tiga arus hawa pedang yang hebat serentak menerjang ketiga jalur asap musuh.

Sudah tentu yang paling untung adalah Toan Ki, melihat “Siang-yang-kiam” yang dilontarkan Thian-in itu lebih kuat daripada Thian-som berdua, cepat ia membuka gambar ilmu pedang itu, tapi ia menjadi heran pula ketika melihat gerak ilmu pedang sang paman sebaliknya sangat lambat dan berat.

Memang di antara jari-jari tangan umumnya, jari telunjuk paling lincah dan hidup, sebaliknya jari manis kaku dan lamban. Maka Siang-yang-kiam mengutamakan kegesitan dan kelincahan, sebaliknya Koan-ciong-kiam lambat dan berat gerak-geriknya.

Saking asyiknya Toan Ki mengikuti ilmu pedang itu sambil berpaling ke sini dan menoleh ke sana, tanpa terasa suatu waktu kepalanya menempel di depan hidung Koh-eng Taysu. Ia merasa risi ketika kuduk seakan-akan ditiup-tiup karena napas orang tua itu. Tanpa sengaja ia mendongak, tapi apa yang dilihatnya membuatnya melongo kaget.

Ternyata wajah yang dilihatnya itu aneh luar biasa, separuh muka sebelah kiri merah bercahaya, daging penuh, kulit gilap, mirip muka anak kecil. Tapi separuh muka yang sebelah kanan kurus kering tinggal kulit membungkus tulang. Kecuali kulitnya yang kuning hangus itu, sedikit pun tiada dagingnya hingga tulang pipinya menonjol mirip tengkorak.

Dalam kagetnya cepat Toan Ki menoleh dan tidak berani memandang lagi, hati terasa berdebar-debar pula. Ia tahu muka Koh-eng Taysu itu pasti akibat meyakinkan “Koh-eng-sin-kang” ilmu Buddha subur dan kering, makanya wajahnya separuh “Koh” (kering) dan separuh “Eng” (subur).

Tiba-tiba Koh-eng Taysu membisikinya, “Kesempatan bagus jangan dibuang, lekas memerhatikan ilmu pedang!”

Toan Ki tersadar, ia mengangguk dan cepat mencurahkan perhatiannya untuk mengikuti ilmu pedang Thian-in, Thian-siang dan Po-ting-te serta dicocokkan dengan gambar Kiam-boh yang bersangkutan.

Setelah ketiga jenis Kiam-hoat itu selesai dipelajarinya, sementara itu permainan ilmu pedang Thian-som dan Thian-koan sudah mengulang kedua kalinya. Kini tanpa membandingkan dengan gambarnya, Toan Ki dapat memahami di mana letak kebagusan Lak-meh-kiam-hoat itu. Ia terasa garis-garis yang terlukis pada gambar itu adalah barang mati, tapi hawa putih yang dipancarkan dengan tenaga dalam itu benar-benar tiada habis-habis perubahannya dan dapat dikerahkan pergi datang dengan hidup, kalau dibandingkan apa yang terlukis dalam gambar, terang lebih ruwet tapi lebih padat.

Setelah mengikuti pula sebentar, terlihat Kiam-hoat yang dimainkan Thian-in, Thian-siang dan Po-ting-te juga sudah selesai. Tiba-tiba jari kecil Thian-siang menjentik pula dengan jurus “Hun-hoa-hut-liu” atau membelai bunga menyingkap daun Liu. Nyata untuk kedua kalinya ia mainkan ilmu pedangnya pula.

Menyusul Thian-in dan Po-ting-te juga mengadakan perubahan pada permainan ilmu pedang mereka yang sudah selesai itu. Tapi mendadak di depan tubuh Ciumoti bersuara mencicit, daya tekan “Hwe-yam-to” ternyata bertambah hebat hingga tenaga dalam dari gerakan pedang kelima lawannya tertolak kembali semua.

Kiranya semula Ciumoti cuma bertahan saja dengan tujuan mengikuti permainan Lak-meh-sin-kiam kelima orang lawan itu hingga selesai, habis itu barulah mengadakan serangan balasan. Dan sekali ia sudah balas menyerang, kelima jalur asap putih segera menari dan beterbangan dengan hidup sekali, sedang jalur asap keenam tetap berhenti kira-kira satu meter di belakang tubuh Koh-eng Taysu.

Koh-eng Taysu sengaja hendak melihat sampai di mana kekuatan bertahan musuh. Namun Ciumoti sadar juga bila terlalu lama menahan jalur asap yang keenam itu, tenaga dalamnya yang terbuang akan terlalu banyak. Maka kini ia mulai pusatkan tekanannya ke jalur asap keenam itu hingga sedikit demi sedikit mulai mendesak maju ke belakang kepala Koh-eng.

Toan Ki menjadi khawatir, cepat katanya, “Thaysuhu, awas jalur asap musuh sedang menyerang padamu.”

Koh-eng mengangguk, ia terus membentang lukisan “Siau-siang-kiam”, yaitu bagian dari Lak-meh-sin-kiam menurut gambar yang harus dimainkannya itu di depan Toan Ki.

Pemuda itu tahu maksud baik Koh-eng Taysu. Maka dengan memusatkan perhatian, segera ia membaca isi gambar itu. Ia lihat ilmu pedang Siau-siang-kiam dalam lukisan itu hanya sederhana saja garis-garis petunjuknya, tapi memiliki tenaga mahakuat yang tiada taranya.

Sambil membaca lukisan itu, Toan Ki tidak lupa jalur asap musuh yang mengancam Koh-eng tadi. Ketika ia menoleh pula, ia lihat jalur asap itu tinggal beberapa senti saja di belakang kepala Koh-eng. Ia menjadi kaget dan berseru, “Awas!”

Mendadak Koh-eng membalik tangan ke belakang, kedua jari jempol menahan ke depan berbareng, dengan suara mencicit dua kali, sekaligus ia serang dada kanan dan pundak kiri Ciumoti.

Kiranya serangan musuh tadi tak ditangkisnya, sebaliknya Koh-eng melakukan serangan kilat di luar dugaan musuh. Ia memperhitungkan Hwe-yam-to musuh agak lambat majunya, untuk bisa mengenai dirinya masih diperlukan sementara waktu lagi, tapi kalau ia mendahului menyerang, tentu musuh akan kerepotan.

Ciumoti sendiri dapat menduga kemungkinan itu, maka sebelumnya ia sudah siap untuk menjaga kalau mendadak diserang oleh Koh-eng Taysu yang merupakan lawan paling kuat. Tapi yang ia duga cuma jurus serangan Siau-yang-kiam yang lihai dan tidak menyangka Koh-eng sekaligus dapat menyerang dengan dua pedang pada sasaran dua tempat.

Cepat ia kerahkan tenaga yang sudah disiapkan itu untuk menangkis tenaga tusukan yang mengarah dadanya, menyusul kakinya mengentak, buru-buru ia melompat mundur. Tapi betapa pun cepatnya tetap kalah cepat daripada hawa pedang yang tak kelihatan itu, “cret”, tahu-tahu jubah bagian pundak terobek dan darah merembes keluar.

Saat lain Koh-eng Taysu menarik kembali jarinya dan hawa pedang ikut mengkeret kembali, maka patahlah keenam batang dupa sekaligus.

Berbareng Thian-in, Po-ting-te dan lain-lain ikut menarik kembali juga hawa pedang mereka, perasaan khawatir mereka baru sekarang dapat terasa longgar.

Ciumoti melangkah maju lagi, katanya, “Ilmu sakti Koh-eng Taysu memang bukan main hebatnya, aku terasa kagum tak terhingga. Tapi tentang Lak-meh-sin-kiam itu, haha, kiranya cuma omong kosong belaka.”

“Kenapa omong kosong, silakan memberi penjelasan,” kata Thian-in.

“Dahulu yang dikagumi Buyung-siansing adalah Kiam-hoat (ilmu permainan pedang) dan bukan Kiam-tin (barisan pedang) dari Lak-meh-sin-kiam,” sahut Ciumoti. “Walaupun benar Kiam-tin Thian-liong-si barusan ini sangat kuat dan hebat, tapi kalau diukur juga tidak lebih daripada Lo-han-kiam-tin dari Siau-lim-si dan Kun-goan-kiam-tin dari Kun-lun-pay. Agaknya belum dapat dikatakan Kiam-tin yang tiada bandingannya di dunia ini.”

Dengan menekankan Kiam-tin dan bukan Kiam-hoat, Ciumoti anggap dirinya sekaligus telah menandingi keenam lawan, sebaliknya pihak lawan tiada seorang pun yang mampu menggunakan Lak-meh-sin-kiam sebagaimana dirinya memainkan Hwe-yam-to itu.

Thian-in terasa apa yang dikatakan orang memang benar, ia menjadi bungkam tak bisa menjawab. Namun Thian-som lantas menjengek, katanya, “Biar Kiam-tin atau Kiam-hoat, namun pertandingan tadi Beng-ong yang menang atau pihak Thian-liong-si kami yang menang?”

Ciumoti tidak menjawab, ia pejamkan mata dan berpikir sejenak, selang agak lama, lalu jawabnya, “Babak pertama kalian memang lebih unggul, tapi babak kedua ini aku pasti akan menang.”

Thian-in terkejut, tanyanya, “Jadi Beng-ong masih ingin bertanding lagi?”

“Apa boleh buat,” sahut Ciumoti. “Seorang laki-laki harus dapat dipercaya. Sekali aku sudah berjanji pada Buyung-siansing, mana boleh mundur setengah jalan?”

“Lalu, dengan andalan apa Beng-ong yakin pasti akan menang?” tanya Thian-in.

Ciumoti tersenyum, sahutnya, “Kalian adalah gembong-gembong persilatan, masakah masih belum dapat menerkanya? Terimalah seranganku!”

Sembari berkata, kedua tangannya terus mendorong ke depan dengan perlahan.

Koh-eng, Thian-in, Po-ting-te dan lain-lain seketika merasa terdesak oleh dua arus tenaga dalam yang kuat dari arah yang berlainan. Thian-in dan lain-lain terasa daya tekan musuh itu tidak dapat ditahan dengan Lak-meh-sin-kiam, maka mereka menggunakan kedua tangan untuk menangkis, hanya Koh-eng Taysu saja tetap pakai kedua jari jempol untuk menyambut tenaga musuh dengan ilmu “Siau-yang-kiam” dari Lak-meh-sin-kiam itu.

Namun setelah melontarkan tenaga serangan itu, segera Ciumoti menarik kembali lagi serangannya dan berkata, “Maaf!”

Thian-in saling pandang sekejap dengan Po-ting-te, keduanya sama-sama paham bahwa ilmu Hwe-yam-to padri asing itu terang lebih unggul daripada Lak-meh-sin-kiam mereka. Sekali bergerak Ciumoti mampu mengeluarkan berbagai tenaga yang berlainan, maka sekalipun Siau-yang-kiam yang dilontarkan Koh-eng Susiok itu mendesak lebih kuat juga tak mampu mengalahkan dia.

Pada saat itu juga, tiba-tiba tertampak asap mengepul di depan Koh-eng Taysu, asap itu mengepul menjadi empat jurusan dan mengepung ke arah Ciumoti.

Terhadap Hwesio yang duduk menghadap dinding itu Ciumoti memang sangat jeri, kini mendadak tampak ada asap hitam menyerang ke arahnya, seketika ia menjadi bingung apa maksud orang, ia pun keluarkan Hwe-yam-to-hoat untuk bertahan dari empat jurusan dan tidak balas menyerang, di samping berjaga-jaga kalau Thian-in dan lain-lain ikut mengerubut, diam-diam ia perhatikan serangan apa yang hendak dilakukan Koh-eng Taysu.

Namun yang kelihatan hanya asap hitam makin lama makin tebal, daya serangan Koh-eng bertambah hebat. Diam-diam Ciumoti menjadi heran, “Cara menyerangnya dengan sekuat tenaga ini apakah dapat bertahan lama? Koh-eng Taysu adalah seorang padri terkemuka di zaman ini, kenapa menggunakan cara keras seperti ini?”

Ia menduga Koh-eng Taysu pasti tidak mungkin bertindak sembrono, tentu di balik serangan itu ada pula muslihat lain, maka dengan waswas ia menantikan segala kemungkinan.

Selang tak lama, mendadak keempat jalur asap itu terpencar lagi, satu menjadi dua dan dua menjadi empat, dalam sekejap saja jalur asap berubah menjadi 16 jalur dan merubung ke arah Ciumoti.

“Hanya kekuatan panah yang sudah hampir jatuh, apa artinya?” demikian pikir Ciumoti sambil mengerahkan Hwe-yam-to-hoat untuk menahan setiap jalur asap lawan.

Dan begitu tenaga kedua pihak saling bentur, tiba-tiba jalur-jalur asap itu bertebaran memenuhi ruangan hingga seperti kabut tebal.

Namun sedikit pun Ciumoti tidak gentar, ia pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk melindungi seluruh tubuhnya. Lambat laun kabut asap itu mulai menipis, Thian-in berlima kelihatan berlutut di lantai dengan sikap sungguh-sungguh, bahkan wajah Thian-koan dan Thian-som tampak mengunjuk rasa sedih.

Ciumoti tertegun sejenak, segera ia menjadi sadar, “Wah, celaka! Kiranya si tua Koh-eng ini merasa tak mampu menandingi aku, maka Lak-meh-sin-kiam-boh lantas dibakar olehnya.”

Ternyata lukisan Lak-meh-sin-kiam-boh itu memang telah terbakar oleh tenaga dalam It-yang-ci yang dipancarkan Koh-eng Taysu itu. Ia khawatir Kiam-boh itu akan direbut Ciumoti, maka untuk mengelabui lawan ia sengaja menyerangnya dengan kabut asap, ketika kabut asap lenyap, sementara itu Lak-meh-sin-kiam-boh juga sudah terbakar habis.

Thian-in dan kawan-kawannya adalah tokoh ahli It-yang-ci, maka begitu melihat asap hitam tadi, mereka lantas tahu sebab musababnya. Mereka tahu sang Susiok lebih suka membakar kitab pusaka sendiri daripada benda itu jatuh di tangan musuh. Dan dengan demikian, permusuhan Thian-liong-si dengan Tay-lun-beng-ong menjadi tak bisa diselesaikan dengan mudah.

Kejut dan gusar Ciumoti tak terkatakan, biasanya ia sangat mengagulkan kecerdasannya, tapi kini telah dua kali kecundang di bawah tangannya Koh-eng Taysu. Dan kalau Lak-meh-sin-kiam-boh sudah terbakar, perjalanannya ini menjadi sia-sia belaka tanpa hasil, sebaliknya malah mengikat permusuhan dengan Thian-liong-si.

Segera ia berkata sambil memberi hormat, “Buat apa Koh-eng Taysu mesti bertindak sekeras ini? Aku merasa tidak enak mengakibatkan musnahnya kitab pusaka kalian, untung kitab itu tak dapat dilatih oleh tenaga seorang saja, musnah atau tidak memang juga sama, sekarang kumohon diri.”

Dan sebelum Koh-eng dan lain-lain memberi jawaban, sedikit ia putar tubuh, sekonyong-konyong pergelangan tangan Po-ting-te dipegangnya, lalu katanya pula, “Kokcu (kepala negara) kami sudah lama mengagumi nama kebesaran Po-ting-te dan sangat ingin berkenalan, maka sekarang juga silakan ikut padaku pergi ke Turfan.”

Kejadian ini benar-benar di luar dugaan dan sangat mengejutkan, sergapan mendadak itu ternyata sama sekali tak dapat dihindari oleh Po-ting-te yang berilmu silat tinggi itu, apalagi Kim-na-jiu-hoat atau ilmu cara menangkap dan memegang Ciumoti itu sangat aneh, sekali Hiat-to pergelangan tangan terpegang, biarpun dengan cepat Po-ting-te mengerahkan tenaga dalam untuk melepaskan diri, namun sama sekali tidak berhasil.

Dalam keadaan begitu, keselamatan Po-ting-te setiap waktu akan terancam, maka orang lain menjadi serbasulit untuk menolongnya. Meski Thian-in dan lain-lain merasa tindakan Ciumoti itu terlalu rendah, sangat merosotkan pamornya sebagai tokoh ternama, tapi mereka cuma marah belaka tanpa berdaya.

Maka tertawalah Koh-eng Taysu dengan terbahak-bahak, katanya kemudian, “Sebelum ini dia memang benar Po-ting-te, tapi kini ia sudah meninggalkan takhta dan menjadi padri, gelarnya Thian-tim. Nah, Thian-tim, jika kepala negara Turfan sudah mengundangmu, tiada alangannya ikut berkunjung ke sana.”

Dalam keadaan terpaksa, mau tak mau Po-ting-te mengiakan. Ia tahu maksud sang Susiok. Kalau dirinya dalam kedudukannya sebagai raja Tayli ditawan musuh, tentu Ciumoti akan pandang dirinya sebagai tawanan penting. Tapi kalau dirinya sudah turun takhta dan kini sudah menjadi Hwesio, maka apa yang ditawan Ciumoti sekarang tidak lebih hanya seorang Hwesio biasa dari Thian-liong-si saja, boleh jadi dirinya akan segera dibebaskan.

Akan tetapi Ciumoti tidak mudah diakali. Sebelumnya ia sudah menyelidiki dan tahu di dalam Thian-liong-si itu kecuali Koh-eng Taysu, di antara padri-padri angkatan “Thian” cuma ada empat orang, tapi kini tiba-tiba bertambah lagi seorang Thian-tim, tenaga dalamnya juga tidak lebih lemah daripada keempat padri yang lain, pula dari wajahnya yang kereng dan sikapnya yang agung, begitu melihat segera Ciumoti menduga dia pastilah Po-ting-te.

Ketika mendengar Koh-eng Taysu bilang Po-ting-te sudah turun takhta dan menjadi Hwesio, diam-diam Ciumoti berpikir pula, “Ya, konon setiap raja Tayli bila sudah lanjut usia tentu mengundurkan diri untuk kemudian menjadi padri, maka kini kalau Po-ting-te juga menyucikan diri ke Thian-liong-si sini, hal ini pun tidak mengherankan. Tapi umumnya bila seorang raja menjadi Hwesio tentu diadakan upacara keagamaan secara besar-besaran, tidak mungkin dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui umum.”

Karena itu, segera katanya, “Baik Po-ting-te sudah menjadi Hwesio atau belum, pendek kata aku ingin mengundangnya berkunjung ke Turfan untuk menemui kepala negara kami.”

Sembari berkata terus saja Po-ting-te diseretnya keluar.

“Nanti dulu!” seru Thian-in mendadak, sekali melompat, bersama Thian-koan mereka mengadang di ambang pintu.

“Tiada maksudku membikin susah Po-ting-te, tapi kalau kalian terlalu mendesak, terpaksa tidak dapat kujamin keselamatannya lagi,” kata Ciumoti. Berbareng tangannya bersiap-siap mengancam di punggung Po-ting-te.

Thian-in cukup kenal betapa lihainya orang, sekali Po-ting-te sudah dicengkeram urat nadinya, pasti tak berdaya lagi untuk melawan. Maka ia menjadi bungkam, tapi tetap mengadang di tempatnya.

“Kedatanganku ke sini tidak membawa hasil apa-apa, sungguh malu terhadap mendiang Buyung-siansing, beruntung sekarang dapat mengundang Po-ting-hongya, tidaklah hilang sama sekali arti perjalananku ini, maka sukalah kalian memberi jalan,” kata Ciumoti pula.

Namun Thian-in dan Thian-koan masih ragu, mereka pikir Po-ting-te adalah kepala negara Tayli, mana boleh digondol lari oleh musuh?

Ciumoti menjadi tidak sabar, serunya, “Kabarnya para padri Thian-liong-si sini sangat bijaksana, kenapa menghadapi urusan kecil ini mesti bingung seperti anak kecil?”

Dalam pada itu yang paling khawatir adalah Toan Ki demi melihat sang paman ditawan musuh. Semula ia menduga sang paman tentu dapat melepaskan diri dari tangan musuh, siapa tahu makin lama Ciumoti makin garang. Thian-in dan lain-lain tampak cemas dan gusar, tapi tak bisa berbuat apa-apa, apalagi setindak demi setindak Ciumoti mulai melangkah keluar lagi.

Tanpa pikir lagi Toan Ki berteriak, “Hai, lepaskan pamanku!”

Segera ia melangkah keluar dari aling-aling Koh-eng Taysu.

Sejak tadi Ciumoti sudah mengetahui juga di depan Koh-eng ada duduk seorang lagi yang tak diketahui siapa, pula tidak paham apa maksud Koh-eng menyuruh seorang duduk di depannya, kini melihat orang itu bertindak keluar, ia menjadi heran, tanyanya segera, “Siapakah engkau?”

“Tak perlu kau tanya siapa aku, lepaskan pamanku,” sahut Toan Ki sambil ulur tangannya hendak menarik tangan Po-ting-te yang lain.

Segera Po-ting-te menjabat juga tangan Toan Ki yang diulurkan sambil berkata, “Ki-ji, jangan urus diriku, lekas pulang dan minta ayahmu segera naik takhta menggantikan aku. Kini aku sudah menjadi seorang Hwesio tua yang tiada artinya, buat apa dipikirkan?”

Dan karena tangan bergandeng tangan, seketika tubuh Po-ting-te bergetar, segera ia merasakan daya sedot “Cu-hap-sin-kang” dari tubuh Toan Ki. Dan pada saat yang sama Ciumoti juga merasakan tenaga murninya terus merembes keluar.

Dalam hal Lwekang Ciumoti lebih tinggi daripada Po-ting-te, ia menyangka Po-ting-te menggunakan semacam ilmu gaib untuk mengisap tenaga dalamnya, cepat ia himpun kekuatan untuk saling berebut hawa murni dengan Po-ting-te.

Kalau Po-ting-te tertawan oleh Ciumoti adalah karena sama sekali tidak menduga padri asing itu bakal bertindak secara pengecut, tapi tenaga dalam dan ilmu silat Po-ting-te sedikit pun tidak berkurang, maka ketika mendadak terasa kedua tangan sendiri berbareng timbul dua arus tenaga mahakuat dan saling betot, segera timbul akalnya untuk “meminjam tenaga orang untuk melawan tenaga yang lain”, ia gunakan ilmu itu untuk mempertemukan kedua arus tenaga yang hebat itu.

Dan begitu kedua tenaga itu saling bentrok, Po-ting-te yang berada di tengah itu jadi bebas dari tekanan tenaga-tenaga itu dan terhindarlah dia dari tawanan Ciumoti. Cepat ia melompat mundur sambil menarik Toan Ki, dalam hati diam-diam ia bersyukur hari ini selamat berkat pertolongan keponakannya itu.

Dalam pada itu kejut Ciumoti sungguh tak terkatakan, pikirnya, “Ternyata dunia persilatan di Tionggoan telah muncul pula seorang jago kelas wahid, mengapa aku sama sekali tidak tahu? Usia orang ini paling banyak cuma 20-an, mengapa sudah setinggi ini kepandaiannya?”

Tadi Ciumoti mendengar Toan Ki memanggil Po-ting-te sebagai paman, ia menjadi lebih ragu lagi, sebab selamanya belum didengarnya bahwa di antara angkatan muda keluarga Toan di Tayli terdapat seorang tokoh kelas satu begini? Sungguh tak tersangka olehnya bahwa sergapannya yang sudah berhasil menawan Po-ting-te itu mendadak digagalkan oleh seorang pemuda tak terkenal, tentu saja membuatnya sangat penasaran.

Maka dengan mengangguk perlahan ia pun berkata, “Selama ini aku menyangka Toan-si di Tayli ini khusus hanya meyakinkan ilmu keturunan leluhur dan tidak mempelajari ilmu kepandaian dari luar, siapa tahu angkatan mudanya yang gagah begini ternyata sudi berkawan dengan iblis dari Sing-siok-hay untuk mempelajari ‘Hoa-kang-tay-hoat’ yang hebat itu. Aneh, sungguh aneh!”

Nyata biarpun Ciumoti seorang cerdik pandai juga telah salah sangka Cu-hap-sin-kang yang dimiliki Toan Ki itu sebagai Hoa-kang-tay-hoat.

Dengan tertawa dingin Po-ting-te menjawab, “Sudah lama kudengar Tay-lun-beng-ong adalah seorang saleh dan mempunyai pengetahuan yang luas, tapi mengapa bisa menarik kesimpulan yang lucu ini? Sing-siok Lomo (iblis tua dari Sing-siok-hay) banyak melakukan kejahatan, mana boleh keturunan keluarga Toan kami mengadakan hubungan dengan dia?”

Selagi Ciumoti tercengang oleh jawaban itu, tiba-tiba Toan Ki ikut berkata, “Engkau adalah tamu, maka Thian-liong-si menyambutmu dengan hormat, tapi secara licik engkau membokong pamanku, mengingat kita sesama murid Buddha, maka kami mengalah sedapat mungkin, sebaliknya engkau semakin garang, seorang alim masakah sekasar seperti engkau ini?”

Diam-diam semua orang ikut senang mendengar Toan Ki mendamprat Ciumoti, berbareng mereka pun waspada kalau-kalau dari malu Ciumoti menjadi gusar dan mendadak melontarkan serangan kepada pemuda itu.

Tak tersangka Ciumoti tetap tenang-tenang saja, katanya, “Sungguh hari ini aku sangat beruntung dapat berkenalan dengan seorang tokoh muda. Sudilah memberi petunjuk barang beberapa jurus agar menambah pengalamanku.”

Tapi dengan terus terang Toan Ki menjawab, “Aku tidak mahir ilmu silat, aku tidak pernah belajar apa-apa.”

Ciumoti terbahak-bahak, sudah tentu ia tidak percaya, katanya, “Pandai, sungguh pandai. Biarlah kumohon diri saja!”

Dan sedikit tubuh bergerak, di mana lengan bajunya mengebas, tahu-tahu tangannya menyusup keluar, sekaligus empat tipu serangan Hwe-yam-to terus dilontarkan ke arah Toan Ki.

Toan Ki sama sekali tidak paham cara bagaimana bertempur dengan ilmu silat mahatinggi itu, maka ketika diserang musuh dengan tipu yang lihai, ia sendiri belum lagi menyadari. Syukur Po-ting-te dan Thian-som segera menolongnya dari samping, berbareng mereka memapak serangan Ciumoti itu dengan jari mereka. Cuma begitu membentur tenaga dalam Ciumoti yang mahakuat itu, tubuh mereka lantas tergeliat, bahkan Thian-som terus tumpah darah segar.

Melihat Thian-som tumpah darah, barulah Toan Ki sadar bahwa barusan Ciumoti telah membokongnya. Ia menjadi gusar, ia tuding padri itu sambil memaki, “Kau Hwesio asing yang tidak kenal aturan ya!”

Dan karena dia menuding sekuatnya, pikirannya bekerja, hawa murni pun mengalir, dengan sendirinya lantas keluar satu jurus Kiam-hoat dari “Siau-yang-kiam.”

Lwekang Toan Ki sekarang sudah tiada bandingannya di dunia ini, sejak ia duduk di depan Koh-eng Taysu dan membaca gambar Lak-meh-sin-kiam-boh serta cara bergeraknya, ketika tanpa sengaja jarinya menuding, tanpa disadarinya gerakan itu tepat seperti apa yang dilihatnya dalam gambar, maka terdengarlah suara “cus”, serangkum tenaga dalam yang mahakuat dengan gaya “Kim-ciam-to-jiat” atau jarum emas menghindarkan maut, langsung menutuk ke arah Ciumoti.

Sama sekali Ciumoti tidak menyangka tenaga dalam pemuda itu bisa sedemikian kuatnya, bahkan jurus tutukan “Kim-ciam-to-jiat” itu tampak sangat cekatan dan merupakan serangan Kiam-hoat yang paling tinggi. Dalam kagetnya cepat ia keluarkan Hwe-yam-to-hoat, ia menangkis dengan tapak tangan.

Serangan Toan Ki itu ternyata tidak melulu mengejutkan Ciumoti saja, bahkan Koh-eng, Thian-in dan lain-lain juga merasa heran, di antaranya yang paling heran sudah tentu adalah Po-ting-te dan Toan Ki sendiri. Pikir Toan Ki, “Sungguh aneh sekali? Aku cuma menuding sekenanya, mengapa Hwesio ini menangkis dengan sungguh-sungguh? Eh, barangkali tudinganku tadi gayanya mirip dengan sesuatu tipu serangan dan Hwesio ini menyangka aku mahir Lak-meh-sin-kiam. Hahaha, jika demikian, biarlah aku menggertaknya lagi.”

Segera Toan Ki berseru, “Siau-yang-kiam barusan masih belum apa-apa! Lihatlah sekarang kumainkan Kiam-hoat dari Tiong-ciong-kiam!”

Berbareng jari tengahnya menuding. Gayanya memang tepat, tapi sekali ini ternyata tidak membawa tenaga dalam yang kuat.

Ketika melihat pemuda itu menutuk lagi, cepat Ciumoti siapkan tenaganya untuk menyambut, tak terduga serangan Toan Ki ternyata tak membawa kekuatan apa-apa. Semula ia terkejut sebab mengira serangan pemuda itu mungkin hanya pancingan belaka, tetapi sesudah tutukan kedua kalinya tetap kosong tak terisi, barulah Ciumoti bergirang, “Memangnya aku tidak percaya di dunia ini ada orang mahir memainkan Siau-yang-kiam dan Tiong-ciong-kiam sekaligus, dan nyatanya bocah ini memang cuma main gertak saja hingga aku ditipu.”

Dasar watak Ciumoti memang tinggi hati, dan orang yang tinggi hati tentu dengki. Kedatangannya ke Thian-liong-si tidak berhasil apa-apa, bahkan telah kecundang beberapa kali, ia pikir kalau tidak balas unjuk gigi sedikit, tentu nama baik Tay-lun-beng-ong akan tercemar.

Segera telapak tangan kirinya memotong ke kanan dan ke kiri beberapa kali, lebih dulu ia tutup jalur bantuan Po-ting-te dan lain-lain dengan tenaga dalamnya, menyusul tangan kanan terus memotong ke pundak kanan Toan Ki. Tipu serangan “Pek-hong-koan-jit” atau pelangi putih menembus sinar matahari, adalah salah satu jurus paling bagus Hwe-yam-to-hoat, ia yakin bahu Toan Ki pasti akan terbelah olehnya.

Melihat itu, Po-ting-te, Thian-in dan Thian-som berseru khawatir, “Awas!”

Berbareng jari mereka terus menutuk serentak ke arah Ciumoti.

Serangan serentak mereka itu adalah serangan yang memaksa musuh harus menolong diri sendiri lebih dulu. Tak tersangka lebih dulu Ciumoti sudah membungkus bagian bahaya tubuhnya dengan tenaga dalam yang kuat, sedang serangannya kepada Toan Ki tetap dilontarkan tanpa menghiraukan ancaman Po-ting-te bertiga.

Ketika mendengar seruan kaget Po-ting-te bertiga tadi, Toan Ki tahu gelagat tentu tidak menguntungkan, tanpa pikir tangan kanan dan kiri terus menutuk ke depan sekuatnya, dalam khawatirnya itu, hawa murni dalam tubuh dengan sendirinya bergolak, maka sekaligus Siau-ciong-kiam di tangan kiri dan Siau-tik-kiam di tangan kanan dilontarkan untuk menangkis Hwe-yam-to-hoat musuh, begitu kuat tenaganya hingga mampu balas menghantam Ciumoti dengan daya tekan yang hebat.

Keruan Ciumoti kelabakan, tanpa pikir ia bertahan sekuatnya.

Setelah beberapa kali menutuk, lamat-lamat Toan Ki bisa merasakan bahwa terlebih dulu harus timbul sesuatu hasrat, habis itu barulah mengerahkan tenaga dan menutuk, dengan demikian tenaga dalam dan hawa murninya baru dapat bekerja serentak. Namun mengapa bisa begitu, dengan sendirinya ia bingung.

Begitulah dalam sekejap saja Toan Ki menutuk berulang-ulang menurut perasaannya yang timbul dari apa yang dilihatnya pada gambar Lak-meh-sin-kiam itu. Jari bekerja dengan cepat dan indah hingga makin lama Ciumoti makin heran dan terkesiap. Sekuatnya ia kerahkan tenaga dalam untuk melawan Lak-meh-sin-kiam yang lihai itu, seketika hawa pedang sambar-menyambar dengan tajamnya.

Selang sebentar, Ciumoti merasakan tenaga dalam lawan makin lama makin kuat, perubahan Kiam-hoatnya juga tiada habis-habisnya dan sukar diraba. Makin lama Ciumoti tambah heran dan menyesal telah gegabah merecoki Thian-liong-si, tahu-tahu kini muncul seorang tokoh muda selihai ini. Sekonyong-konyong ia menyerang tiga kali, lalu berseru, “Berhenti dulu!”

Namun meski Toan Ki mahir Lak-meh-sin-kiam, ia tak dapat menguasai hawa murni dalam tubuhnya, maka ketika lawan berseru minta berhenti, seketika ia menjadi bingung cara menarik kembali tenaga dalamnya, terpaksa jarinya diangkat ke atas hingga menuding ke atap rumah. Berbareng ia berpikir, “Biarlah aku tidak keluarkan tenaga lagi, coba apa yang hendak ia katakan.”

Hanya sekilas saja Ciumoti yang mahapintar itu sudah dapat melihat sikap bingung Toan Ki itu, caranya menarik kembali hawa murninya tampak kerepotan, kentara bingung dan masih hijau. Sedikit tergerak pikirannya, segera Ciumoti melompat maju terus menjotos ke muka Toan Ki.

Bahwa Toan Ki berhasil memperoleh pelajaran Lak-meh-sin-kiam yang hebat itu adalah disebabkan secara kebetulan saja dan ada jodoh, tapi mengenai ilmu silat yang paling umum sekalipun sebenarnya ia tidak paham. Maka ketika jotosan Ciumoti itu tiba, biarpun serangan ini sangat sederhana dan mudah dihindari, namun bagi Toan Ki malah sukar ditangkis.

Segala kepandaian di dunia ini lazimnya dipelajari mulai dari yang cetek, kemudian menuju yang dalam, tidak mungkin hanya memahami yang dalam, tapi malah tidak bisa yang cetek, hanya ilmu silat Toan Ki itulah merupakan suatu kecuali besar.

Ketika melihat dirinya dijotos, walaupun serangan itu sangat sederhana, tapi ia justru kelabakan cara menangkisnya. Keruan kesempatan itu tidak diabaikan Ciumoti, mendadak ia hentikan jotosannya di tengah jalan dan menyampuk tangan Toan Ki ke samping, menyusul dada pemuda itu lantas dijambretnya bagian “Sin-hong-hiat.” Tanpa ampun lagi antero tubuh Toan Ki terasa lemas linu tak bisa berkutik.

Walaupun Ciumoti dapat melihat di antara ilmu silat Toan Ki itu terdapat banyak titik kelemahannya, tapi tak terduga olehnya bahwa secara begitu gampang pemuda itu dapat ditangkapnya. Ia khawatir Toan Ki sengaja tertawan dan masih ada tipu muslihat lain, maka begitu mencengkeram Sin-hong-hiat dada pemuda itu, menyusul ia menutuk pula “Tan-tiong”, “Tay-tui” dan beberapa Hiat-to penting lainnya.

Tapi pada saat yang sama, Ciumoti juga terasa tenaga murni dalam tubuh sendiri terus merembes keluar melalui telapak tangan kanan yang mencengkeram dada Toan Ki itu.

Cepat ia pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri sambil menyurut mundur beberapa tindak, lalu katanya, “Siausicu (tuan kecil) ini sudah hafal benar ilmu Lak-meh-sin-kiam, sedangkan Kiam-boh itu sudah dibakar oleh Koh-eng Taysu ….”

Sambil bicara, ia megap-megap juga, sebab sekali mulutnya mengap, tak tertahan lagi hawa murninya lantas merembes keluar, terpaksa ia bicara dengan cepat dan terputus-putus, “Namun Siausicu ini sama … sama saja seperti Kiam-boh hidup, biarlah kubawa ke … ke kuburan Buyung-siansing untuk dibakar hidup-hidup di sana, bukankah sa … sama juga ….”

Dan karena khawatir kelemahannya diketahui Koh-eng dan kawan-kawannya, cepat Ciumoti keluarkan serangan Hwe-yam-to-hoat lagi beberapa kali, sekali melompat keluarlah dia dari ruang Bo-ni-tong itu. Ketika Po-ting-te, Thian-in dan lain-lain hendak mengejar, namun mereka dipaksa mundur kembali oleh serangan Ciumoti yang hebat itu.

Begitu sampai di luar, segera Ciumoti lemparkan Toan Ki kepada kesembilan laki-laki yang berjaga di luar sambil membentak, “Lekas berangkat!”

Segera dua laki-laki di antaranya berlari maju menyambut tubuh Toan Ki dan digondol lari melalui jalan yang tidak semestinya seperti mereka datang tadi.

Ciumoti sendiri lantas merasa tenaga murninya tidak merembes keluar lagi begitu terpisah dengan tubuh Toan Ki, ia tetap melontarkan serangan Hwe-yam-to-hoat yang hebat ke pintu keluar Bo-ni-tong, seketika Po-ting-te dan lain-lain menjadi tertahan di dalam dan sukar membobol jaringan golok musuh yang tak berwujud itu.

Setelah mendengar derap kuda begundalnya sudah pergi agak jauh dengan menggondol Toan Ki, maka tertawalah Ciumoti, katanya, “Haha, Kiam-boh kertas terbakar, kini dapat Kiam-boh yang hidup malah. Buyung-siansing tentu takkan merasa kesepian lagi di alam baka, beliau segera akan mendapat teman.”

Dan sekali tangannya memotong, terdengarlah suara gemuruh, dua pilar Bo-ni-tong dipatahkan olehnya, menyusul tertampaklah bayangan orang berkelebat, secepat angin ia menghilang dari pandangan mata.

Ketika Po-ting-te dan Thian-som memburu keluar, namun Ciumoti sudah pergi jauh.

“Hayo, lekas kita kejar!” seru Po-ting-te. Segera ia mendahului berlari ke depan. Cepat Thian-som ikut di belakangnya untuk mengejar musuh.

Dalam keadaan tak dapat berkutik karena Hiat-to tertutuk, Toan Ki merasa dirinya ditaruh di atas kuda dengan tengkurap hingga kepala terjulur ke bawah. Karena itu ia dapat melihat sibuknya kaki kuda bekerja, debu bertebaran memenuhi mukanya.

Ia dengar beberapa laki-laki itu sedang membentak-bentak dalam bahasa asing, entah apa yang dipercakapkan. Ia coba menghitung kaki kuda, seluruhnya ada 40, itu berarti ada 10 penunggang kuda.

Setelah belasan li jauhnya, sampailah mereka di suatu simpang jalan. Terdengar Ciumoti berkata beberapa patah, lalu lima penunggang kuda mengambil jalan ke kiri, sedangkan Ciumoti sendiri bersama laki-laki yang menggondol Toan Ki serta tiga orang lain lagi membelok ke kanan.

Beberapa li pula, kembali ada simpang jalan lagi, segera Ciumoti membagi diri mereka menjadi dua rombongan pula.

Toan Ki tahu Ciumoti sengaja hendak memencarkan perhatian pengejarnya agar bingung ke mana harus mengejar mereka.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba Ciumoti melompat turun dari kudanya, ia ambil seutas sabuk kulit untuk mengikat pinggang Toan Ki, lalu tubuh pemuda itu dijinjingnya terus dibawa menuju ke lereng bukit. Sedangkan kedua begundalnya melarikan kuda mereka ke jurusan lain.

Diam-diam Toan Ki mengeluh, “Wah, celaka! Jika demikian, sekalipun Pekhu mengerahkan pasukan besar untuk mengejar, paling banyak cuma kesembilan lelaki itu yang dapat ditangkap kembali, tapi sukar menemukan aku.”

About Lenghou Tiong


Comments are disabled.

%d bloggers like this: